Anda di halaman 1dari 10

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI PADANG
Kampus UNP Air Tawar Padang 25131 Telp.(0751) 7058772 Pes 273

BAHAN AJAR (HAND OUT)


MINGGU VI

Nama matakuliah : Pengantar Fisika Material


No Kode : FIS 213
Jumlah SKS : 3 SKS
Pembina matakuliah : Dra. Yenni Darvina, M.Si

A. Learning Outcomes (Capaian Pembelajaran) terkait KKNI

UMUM: Berfikir kritis dalam menerapkan konsep-konsep dan hukum-hukum dasar Fisika
untuk mendeskripsikan,mengaplikasikan, dan menganalisis berbagai fenomena pada
bahan dalam penelitian, kehidupan dan lingkup pekerjaannya.

KHUSUS: Berfikir kritis dalam menerapkan konsep-konsep dan hukum-hukum dasar Fisika
untuk mendeskripsikan,mengaplikasikan, dan menganalisis bahan bukan kristal
seperti cairan dan gelas, getaran atom, difusi atom dan proses difusi.

Soft skills/Karakter: Berfikir kritis, Teliti, Jujur, Mandiri, Terampil, Bertanggung jawab

B. Materi :
Bahan bukan Kristal
1. Cairan dan gelas.
2. Getaran atom
3. Difusi atom,
4. Proses difusi

BAB VI
BAHAN BUKAN KRISTAL

A. Pendahuluan
Bahan yang memiliki susunan yang tidak memiliki aturan tertentu disebut bukan
Kristal atau amorf. Amorf berasal dari bahasa yunani dengan asal kata amorphous yang
artinya tanpa bentuk. Pada bab ini akan dibahas tentang perbedaan Kristal dengan bukan
Kristal, Cairan dan gelas, Getaran atom, Difusi atom dan proses difusi.

51
B. Perbedaan Kristal dengan Bukan Kristal
Perbedaan antara Kristal dengan bukan Kristal atau amorf dapat dilihat pada table
berikut ini.

Tabel 1. Perbedaan Kristal dengan amorf

Selama terjadi pemanasan, bahan akan mengalami muai volume hal ini disebabkan
oleh semakin cepatnya getaran atom yang terjadi pada bahan. Pemuaian pada beberapa
bahan dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini.

Gambar 6.1. Pemuaian pada besi dan timah hitam

Pada Gambar 1 terlihat bahwa selama suhu naik volume juga naik, sampai pada
suhu titik leleh atau titik cair. Selama logam meleleh atau mencair terjadi perubahan ujud,
dan selama perubahan ujud suhu benda konstan. Pada timah hitam terjadi titik cair pada

52
327oC dan pada besi 912oC. Setelah semua bahan cair maka selanjutnya terjadi pemuaian
berikutnya.

C. Cairan dan Gelas


1. Cairan
Ketidakteraturan selama pencairan menyebabkan volum kebanyakan bahan
bertambah. Setiap bahan membutuhkan sejumlah energi untuk mencair yg disebut panas
pencairan. Pada Tabel 2 dapat dilihat panas pencairan logam dan titik cairnya.
Tabel 2. Panas pencairan logam

2. Gelas
Gelas merupakan bentuk cairan yang mengental dan susunan atom-atom atau
molekulnya tidak beraturan sehingga disebut amorf, seperti bagan berikut ini

Gambar 6.2. Gelas

53
Gelas tidak mempunyai titik cair yang jelas seperti yang dimiliki oleh Kristal, seperti
gambar 3 berikut ini.

Gambar 6.3. Perbedaan Kristal dengan Gelas

Istilah gelas diterapkan pada semua bahan yang mempunya karakteristik muai tidak
linier.

Sifat gelas ada beberapa macam yaitu:


a. bahan yang dapat ditembus oleh cahaya tampak dan sinar infra merah
b. Padatan amorf (short range order).
c. Berwujud padat tapi susunan atom-atomnya seperti pada zat cair.
d. Tidak memiliki titik lebur yang pasti
e. Mempunyai viskositas cukup tinggi
f. Transparan.
g. Efektif sebagai isolator.
h. Mampu menahan vakum tetapi rapuh terhadap benturan.

D. Getaran atom
Atom-atom adalah suatu bahan tidak bergerak pada suhu 0oK (-273oC). Pada
keadaanseperti ini, atom-atom menduduki keadaan dengan energi terendah diantara
tetangga-tetanganya. Bila suhu naik, peningkatan energi memungkinkan atom-atom
bergetar pada jarak antara atom yang lebih besar dan kecil. Tetapi, dari bentuk kurva
energy, terlihat bahwa simpangan dalam dua arah tidak simetris, artinya untuk suatu level
energi tertentu (suhu tertentu), atom-atom dapat saling manjauhi dengan lebih mudah dan
lebih sulit memampatkannya. Hal ini menghasilkan muai panas karena jarak rata-rata
antara atom membesar.

Pada suhu ruang, kapasitas panas dari bahan padat biasanya tetap. Oleh karena
itu,kita dapat membagi lengkungan energi (lihat gambar 4) dalam interval suhu yang sama.

54
Dengan pertambahan energi, jarak rata-rata antar atom menjadi meningkat, demikian pula
muai panas. Perlu diperhatikan dua hal yaitu perubahan dimensi dengan perubahan suhu
∆T dalam bahan padat dengan ikatan yang kuat (titik cair tinggi) yangditandai dengan
lengkung energi yang dalam, agak kurang. Pada bahan dengan ikatanlemah, perubahan
dimensi ini lebih besar. Gejala ini digambarkan pada gambar 4. Hal kedua yang lebih
menonjol adalah bahwa bila suhu naik, perubahan dimensimenjadi lebih nyata. Kurva
median cenderung kekanan hal ini menggambarkan bahwa koefisien tembaga dan besi
naik dengan naiknya suhu

Gambar 6.4. Energi dan Pemuaian

Muai panas bersifat isotropik untuk bahan kubik dan amorf. Pada kristal lainnya, besar
muai berubah dengan orientasi. Grafit dengan struktur yang anisotropik,
mempunyaikoefisien muai yang lebih besar dalam arah vertikal bila dibandingkan dengan
arahmendatar. Hal ini wajar karena ikatan antar lapisan lebih lemah bila
dibandingkandengan ikatan dalam lapisan itu sendiri.

Gambar 6.5. Titik cair dan koefesien muai (20oC)

Distribusi energi thermal.


Energi kinetik total, E.K, dari suatu molekul gas naiksebanding dengan naiknya suhu
sehingga berlaku persamaan.
EK = 3/2 RT
4,3 R adalah konstanta gas, sering dijumpai dalam buku-buku kimia dasar dan
besarnyasma dengan 1,987 kal/mol K. Dalam satuan SI nilainya untuk satuan adalah 13,8
x 10-24J/K. besaran ini biasanya dituliskan sebagaikonstanta Boltzmann. Jadi E.K rata-
rataadalah :

55
E.K. = 3/2 k T

Gambar 6.6 Distribusi energy

Tetapi sesuai dengan pembahasan yang lalu, hal ini tidak berarti bahwa semua
molekuludara dalam ruang ini mempunyai energi sama. Akan dijumpai suatu distribusi
energistatistik seperti gambar 4.12. Pada saat akan mempunyai energi mendekati nol,
banyakmolekul akan mempunyai energi rata-
rata, dan beberapa molekul lainnya akanmempunyai energi yang tinggi. Bila suhu naik
maka ada (1) peningkatan energi rata-ratadari molekul, dan (2) peningkatan jumlah
molekul dengan energi melebihi nilai tertentu.Hal tersebut diatas berlaku untuk distribusi
energi kinetik molekul-molekul gas. Prinsipyang sama berlaku untuk distribusi energi
getaran atom dalam cairan atau bahan padat.Khususnya, pada suatu waktu tertentu,
sejumlah kecil atom mempunyai energi samadengan nol, sejumlah atom akan mempunyai
energi mendekati energi rata-rata, sertabeberapa atom lainnya akan mempunyai energi
yang tinggi.Marilah kita lihat atom-
atom yang memiliki energi yang tinggi. Sering kita perlu mengetahui kemungkinan atom-
atom memiliki energi besar dari E (lihat gambar 4.13)Penyelesaian
statistik terhadap permasalahan akan diberikan oleh Boltzmann, sebagaiberikut

dimana k adalah konstanta Boltzmann, jumlah atom n dengan besar energi dari E,
dari jumlah atom N, merupakan fungsi dari suhu T

Gambar 6.7. Energi. Perbandingan jumlah atom dengan energi tinggi terhadap jumlah
atom keseluruhannya merupakan fungsi eksponensial (-E/kT) bila E >> E rata-rata.

56
Bila E jauh lebih besar dari sata-rata E, persamaan menjadi

Dimana:
M adalah konstanta perbadingan. Nilai E biasanya dinyatakan dalam joule/atom, jadi k
= 13,8 x 10 -24 J/atom.K.

E. Difusi atom
Bila suhu naik, atom-atom akan bergetar dengan energi yang lebih besar, dan sejumlah
kecil atom akan berpindah dalam kisi. Dengan sendirinya fraksi ini tidak hanya tergantung
pada suhu, juga pada ikatan atom. Energi yang diperlukan oleh sebuah atom untuk
pindah tempat disebut energi aktivasi. Energi ini dapat dinyatakan dalam kalor/mol, Q,
sebagai J/atom, E, atau sebagai eV/atom.
Pada gambar 4.15 kita gunakan untuk menjelaskan energi aktivasi secara skematis. Atom
karbon sangat kecil (r = 0,07 nm) dan menduduki letak intertisi diantara atom besi kps.
Bila energinya cukup, atom ini dapat bergerak diantara atom besi menuju letak intertisi
berikutnya, bila ia bergetar dalam arah itu. Pada 20oC kecil kemingkinannya bahwa atom
karbon akan memiliki cukup energi.

Gambar 6.8 Pergerakan Atom

Difusitas. Bila atom mengisi kekosongan, maka terjadi lobang atau kekosongan
baru. Kesongan baru ini dapat diisi oleh atom lain yang berasal dari tetangganya mana
saja. Sebagai hasil akhir dapat dikatakan bahwa atom melakukan gerak acak dalam kristal.
Fluks atom, J, (dinyatakan dakam atom/m2.sek) sebanding dengan gradien konsentrasi (C2
– C1)/(X2 – X1)
Rumus matematiknya adalah :

57
Konstanta D disebut difusitas atau koefisien difusi. Tanda negatif berarti bahwa fluks
berlawanan dengan arah gradien. Satuannya adalah :
Atom/(m2)(sek)= [m2/sec]{atom/m3/m]
Difusitas tergatung dari jenis atom yang larut, struktur bahan padat dan perubahan suhu.
Seringkali dijumpai dalam kenyataanya yang menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh
berbeda dengan tabel diatas, hal ini disebabkan oleh :
1. Suhu yang lebih tinggi menghasilkan difusitas yang lebih tinggi pula. Atom-atom
memiliki energi thermal yang lebih tinggi.
2. Karbon memiliki difusitas yang lebih tinggi dari pada nikel dalam besi karena atom
karbon kecil.
3. Tembaga lebih muda berdifusi dalam aluminium.
4. Atom-atom mempunyai difusitas yang lebih tinggi dalam besi kpr.
5. Difusi berjalan lebih cepat dalam batas butir.

Difusitas dan suhu. Pada bab terdahulu telah dibahas hubungan antara distribusi energi
termal dengan suhu, dimana Boltzmann berhasil merumuskan hal tersebut. Namun disini
akan diperlihatkan bahwa jumlah atom dengan energi besar dari suatu jumlah tertentu,
meningkat sebanding dengan fungsi eksponensial yang mencakup energi tadi dan
kebalikan dari suhu. Pada difusi, energi aktivasi pergerakan atom sebanding dengan energi
E dalam persamaan Baltzmann.

dimana D0 adalah konstanta yang tidak tergantung pada suhu dan mencakup M. Antara
logaritma difusivitas dan T terdapat hubungan sebagai berikut :
Ln D = ln D0 – E/Kt 4.9
K adalah konstanta Boltzmann, besarnya sama dengan 13,8 x 10-24 J/atom.K.
Harga D0 dan energi aktivasi untuk sejumlah reaksi difusi telah disusun dalam bentuk
tabulasi, karena ahli kimia lebih mengutamakan satuan mol dari pada kalori, sehingga
persamaan diatas dapat ditulis sebagai berikut :
Ln D = ln D0 – Q/RT 4.10
Energi dinayatakan dalam Q (kal/mol), Konstanta gas, R = 1,987 kal/mol. K. .

Gambar 6.9 Hubungan difusifitas dengan suhu

58
F. Proses Difusi
Dalam proses-proses teknik banyak diterapkan difusi. Karburasi dari baja adalah suatu
contoh. Pada proses ini, baja karbon rendah (yang tangguh lagi lunak) dipanaskan dalam
lingkungan yang mengandung karbon, sehingga karbon berdifusi dalam baja, dan
menghasilkan selubung luar yang kaya akan karbon dan keras. Contoh dari proses difusi
diterapkan secara komersiil pada pembuatan semikonduktor, Boron berdifusi kedalam
silikon menghasilkan daerah tipe-p pada junction.
Proses ini tidak akan dibahas lebih lanjut akan tetapi perlu dicatat bahwa disamping
difusivitas perlu pula dicatat waktu prosesnya.

Gambar 6.10. Mekanisme difusi

Evaluasi
1. Deskripsikan perbedaan antara bahan Kristal dengan bukan Kristal dari segi
susunan atom atau molekulnya
2. Kenapa pada bahan gelas tidak mempunyai titik cair tertentu.
3. Jelaskan pengaruh dari suhu terhadap energy termal, getaran atom dan volume
pada bahan
4. Jelaskan pengertian difusi pada atom beserta contohnya
5. Jelaskan bagaimana cara terjadinya difusi pada atom
Daftar Pustaka :
1. Van Vlack, 1992, Ilmu dan Teknologi Bahan, Jakarta: Erlangga (W1)
2. William F. Smith, 1993, Foundations of materials science and engineering,
Mcgraw-Hill,Inc, Singapore (W2)

59
60