Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

CAPITAL RATIONING

Disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah


Manajemen Keuangan Lanjutan

Dosen : Ibu Tetty Lasniroha Sarumpaet, S.E., M.Ak., Ca.

Disusun oleh :
1. Melany Nurhotami (0117103037)
2. Dina Kristiana Natalia(0117103051)
3. Veronika Indriani (0117103053)

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS WIDYATAMA

BANDUNG

OKTOBER 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas makalah ini. Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu
tugas mata kuliah Manajemen Keuangan Lanjutan, yaitu membahas tentang
“Capital RationingPenganggaran Modal Dalam Keadaan Inflasi”.
Dengan dibuatnya makalah ini, kami bersama-sama belajar dan memahami
mengenai Capital Rationing ini berisikan metode-metode, pengertian dan cara
pengaplikasian tentang Penganggaran Modal. Semoga dapat bermanfaat bagi kita
sebagai ilmu dan pengetahuan kita mengenai hal tersebut. Kami menyadari dalam
pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi materi ataupun
penyusunannya. Kiranya menjadi maklum dan mohon maaf apabila ada kesalahan
dalam bahasa ataupun lainnya, semoga kedepannya dapat menjadi pelajaran dan
evaluasi bagi kami.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1


1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan 2
1.4 Manfaat 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Capital Rationing 3


2.2 Profitability Index 3
2.3 Pengaruh Inflasi Terhadap Capital Budgeting 5
2.4 Pengertian Proyeksi Aliran Kas 8
2.5 Pemanfaatan Cashflow Projection 9
2.6 Prinsip-prinsip Penyusunan Cashflow 11
2.7 Format Umum Cashflow 13

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 9

DAFTAR PUSTAKA

2
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam pemilihan usulan investasi, manajemen memerlukan
informasi akuntansi sebagai salah satu dasar penting untuk menentukan
investasi. Informasi akuntansi dimasukkan dalam suatu model
pengambilan keputusan yang berupa kriteria penilaian investasi untuk
memungkinkan manajemen memilih investasi terbaik di antara alternative
investasi yang tersedia. Secara prinsip perusahaan akan melakukan
investasi dalam proyek-proyek independen yang menghasilkan NPV
positif. Dengan demikian, perusahaan ini dalam jangka panjang akan
memperoleh dana yang cukup untuk menutup investasi awal. Dalam
jangka pendek, kadang-kadang perusahaan tidak memiliki cukup dana
untukinvestasi dalam proyek-proyek investasi yang menjanjikan NPV
positif. Dengan kondisi tersebut, perusahaan harus melakukan kajian dan
pemilihan proyek-proyek dengan kendala dana untuk menghasilkan nilai
maksimum bagi perusahaan. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan
disebut capital rationing, yaitu merupakan pendekatan dalam pemilihan
berbagai alternatif proyek investasi apabila perusahaan memiliki dana
terbatas. Oleh karena itu, pencatatan modal (capital rationing) akan
dibahas dalam makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah


a) Apa pengertian dari capital rationing?
b) Apa saja jenis-jenis usulan investasi?
c) Apa saja pertimbangan yang harus diambil dalam pelaksanaan proyek?
d) Bagaimana penganggaran modal dalam keadan inflasi?

1.3 Tujuan Program


1. Untuk mengetahui pengertian dari capital rationing.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis usulan investasi dari capital rationing.
3. Untuk mengetahui pertimbangan dalam pelaksanaan proyek.

1
4. Untuk mengetahui bagaimana penganggaran modal dalam keadan inflasi

1.4 Manfaat
Setelah membaca dan mempelajari makalah ini, diharapkan agar pembaca
dapat lebih mengetahui dan memahami metode apa saja yang terdapat di
capital rationing dan Informasi akuntansi dimasukkan dalam suatu model
pengambilan keputusan yang berupa kriteria penilaian investasi untuk
memungkinkan manajemen memilih investasi terbaik di antara alternative
investasi yang tersediaapabila perusahaan memiliki dana terbatas.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Capital Rationing


Suatu Perusahaan harus melakukan efisiensi dalam penggunaan uang karena
terbatasnya dana atau modal yang dimiliki perusahaan. Dalam manajemen
keuangan yang konservatif (hati-hati), maka investasi aktiva tetap lebih aman
menggunakan modal sendiri. Namun, modal sendiri ini sifatnya terbatas, sehingga
diperlukan prioritas dalam penggunaannya. Karena terbatasnya dana, maka usulan
investasi yangakan dilaksanakan perusahaan perlu dinilai secara rasional dengan
melihat presentvalue tiap-tiap usulan investasi tersebut. Pemilihan usulan

2
investasi dengan melihatterbatasnya modal yang tersedia dinamakan “capital
rationing”. Oleh karena itu, capital rationing terjadi ketika perusahaan
menghadapi pilihan beberapa usulan investasi yang menghasilkan return yang
berbeda-beda, sedangkan perusahaan memiliki keterbatasan dana yang akan
digunakan untuk investasi tersebut.
Ada 2 pendekatan untuk memilih proyek dengan rasionalisasi kapital yaitu:
1. Pendekatan tingkat pengembalian internal (IRR) Pendekatan pada
rasionalisasi kapital yang menggambarkan proyek IRR dalam urutan yang
menurun dibandingkan dengan jumlah uang yang diinvestasikan
2. Pendekatan net present value (NPV )Pendekatan pada rasionalisasi kapital
yang bersarkan penggunaan nilai sekaranguntuk menentukan grup dari
proyek yang akan memaksimalkan kekayaan pemiliknya

2.2 Profitability Index

Profitability Index yaitu suatu metode yang menghitung perbandingan antara nilai
arus kas bersih yang akan dating dengan nilai investasi yang sekarang.

Profitability

index harus lebih besar dari 1 baru dinyatakan layak. Semakin besar profitability
index, maka investasi semakin layak.

Rumus Profitability Index :

PI = Nilai Aliran Kas Masuk : Nilai Investasi

Kelayakan investasi menurut standar analisa adalah :

Jika PI > 1 ; maka investasi tersebut dapat dijalankan.

Jika PI < 1 ; maka investasi tersebut tidak dapat dijalankan.

3
Kelebihan PI ( Profitability Index ) :

 Memberikan percentage future cash flows dengan cash initial. Sudah


mempertimbangkan cost of capital.

 Sudah mempertimbangkan time value of money.

 Mempertimbangkan semua cash flows.

Kekurangan PI ( Profitability Index ) :

 Tidak memberikan informasi mengenai return suatu project.

 Dibutuhkan cost of capital untuk menghitung Profitability Index.

 Tidak memberikan informasi mengenai project risk.

 Susah dimengerti untuk dijadikan indicator apakah suatu project


memberikan value kepada perusahaan.

2.3 Pengaruh Inflasi Terhadap Capital Budgeting

Hubungan spesifik antara inflasi dan biaya modal masih dalam proses
yangditetapkan secara tegas dan dalam ketiadaan model penuh untuk
menjelaskan hubungan ini, maka dalam bagian makalah ini akan memfokuskan
pada hubungan antara perubahan inflasi dan perubahan yang berikutnya dalam
tingkat suku bunga.Secara khusus kita akan menyepakati perbedaan antara tingkat
suku bunga riil dannominal, hubungan antara inflasi dan pergerakan tingkat suku
bunga serta hubungan antara tingkat suku bunga dan biaya modal. Dalam dunia
non inflasioner, dana pinjaman dengan tingkat suku bunga pengembalian
pada tingkat yang setara untuk tingkat suku bunga ditetapkan dan nominal. Jika

4
inflasi diperkenalkan dalam sistem, pengembalian sebagaimana yang ditetapkan
secara nominal akan berbeda dari pengembalian riil, ketika arus kas masa yang
akan datang memiliki daya beli lebih rendah. Ini bisa diperdebatkan apakah
tingkat suku bunga akan naik dengan cepat atau tidak dalam jumlah tertentu dari
penggantian kerugian inflasi, dan argumen pada setiap sisi telah disimpulkan oleh
Bernstein [2], tapi apakah ini jelas bahwa pengenalan inflasi menempatkan
tekanan keatas pada tingkat suku bunga. Alasan ini adalah bahwa (1)
peminjam akan meningkatkan permintaan mereka atas dana selama inflasi untuk
memberikan biayatransaksi yang lebih tinggi dan untuk memindahkan dari aktiva
finansial menjadiaktiva non finansial sebagai penghambat terhadap inflasi, dan (2)
kebijakan pihak berwenang akan bergerak untuk mengurangi tingkat pertumbuhan
pasokan dana ketika inflasi melawan alat kebijakan.

Perbedaan antara tingkat nominal dan tingkat riil dinamakan dengan ‘inflasi
premium’ dan banyak teks saat ini menyatakan premium sebagai tambahan
terhadap tingkat suku bunga riil seperti contoh berikut

Persamaan 1

i=k + p

Dimana

i = tingkat suku bunga yang ditetapkan atau tingkat nominal

k = tingkat suku bunga riil

p = tingkat inflasi

5
Hubungan aktual adalah perkalian dan bukan penambahan. Hal dapat ditunjukkan
jikakita mengambil arus kas dan inflasi pada periode ‘t’ yang sama di masa yang
akandatang

Persamaan 2

t
C=C(1+ p)

Dimana :

C = arus kas nominal atau terinflasi

t = periode waktu relatif pada tahun dasar

dan kemudian hitung C nilai saat ini dengan menggunakan tingkat suku bunga
nominal dari persamaan (1), kami telah menyusunnya menjadi :

Persamaan 3

PV =C /(1+ P)t

Kita dapat menyempurnakan pengaruh yang sama dengan mendeflasi C melalui


indeks harga dan kemudian potong dengan menggunakan tingkat suku bunga riil :
sehingga menjadi :

Persamaan 4

C /(1+ p)
¿
PV =¿
¿

Ketika persamaan (3) dan (4) diselesaikan dengan hasil sama, mereka dapat
ditetapkan setara satu sama lain, sehingga :

Persamaan 5

6
1+ p ¿ t C
¿
1+ t ¿t
(1+k )¿
c /¿
¿

Sehingga menghasilkan :

Persamaan 6

1+i¿ t
I + k ¿t =¿
I + p ¿t ¿
¿

Demikian hubungan perkalian tersebut. Rumus penambahan adalah perkiraan


pertama yang masuk akal, tapi tidak harus digunakan dalam kasus anggaran
modal yang sesungguhnya karena hal ini akan menimbulkan bias ke atas. Pada
tahap ini kami memperkenalkan masalah inflasi dalam proses anggaran modal
untuk menentukan secara khusus pengaruhnya pada sejumlah variabel keuangan.

Persamaan 7

Ri=PQ

Dimana :

Ri = pendapatan dalam periode i

P = harga rata-rata per produk sepanjang periode

Q = kuantitas tahunan produk yang terjual

Asumsikan bahwa kuantitas konstan sepanjang waktu, dan bahwa P adalah harga
konstan dalam ketiadaan inflasi. Biaya kita dirancang dengan Ci + Di, dimana Di,
adalah beban penyusutan selama periode i.

2.4 Pengertian Proyeksi Aliran kas (Cashflow Projection)

7
Cashflow (Aliran Kas) merupakan sejumlah uang kas yang keluar dan
yang masuk sebagai akibat dari aktivitas perusahaan dengan kata lain adalah
aliran kas yang terdiri dari aliran masuk dalam perusahaan dan aliran kas keluar
perusahaan serta berapa saldonya setiap periode. Analisis arus kas (Cashflow)
adalah Laporan yang disusun guna menunjukkan perubahan bertambahnya atau
berkurangnya uang kas selama satu periode. Pengeluaran uang kas suatu
perusahaan dapat bertambah terus, misalnya untuk pengeluaran pembelian bahan
mentah, pembayaran gajki, upah, honor, dan lain sebagainya.
Hal utama yang perlu selalu diperhatikan yang mendasari dalam mengatur
arus kas adalah memahami dengan jelas fungsi dana/uang yang miliki, simpan
atau investasikan. Secara sederhana fungsi itu terbagi menjadi tiga yaitu :
1. Fungsi likuiditas, yaitu dana yang tersedia untuk tujuan memenuhi kebutuhan
sehari-hari dan dapat dicairkan dalam waktu singkat relatif tanpa ada pengurangan
investasi awal.
2. Fungsi Anti Inflasi, dana yang disimpan guna menghindari resiko penurunan
pada daya beli di masa datang yang dapat dicairkan dengan relatif cepat.
3. Capital Growth, dana yang diperuntukkan untuk penambahan/perkembangan
kekayaan dengan jangka waktu relatif panjang.

Aliran kas yang berhubungan dengan suatu proyek dapat di bagi menjadi
tiga kelompok yaitu:
a) Aliran kas awal (Initial Cash Flow) merupakan aliran kas yang berkaitan
dengan pengeluaran untuk kegiatan investasi misalnya; pembelian tanah, gedung,
biaya pendahuluan dsb. Aliran kas awal dapat dikatakan aliran kas keluar (cash
out flow)
b) Aliran kas operasional (Operational Cash Flow) merupakan aliran kas yang
berkaitan dengan operasional proyek seperti; penjualan, biaya umum, dan
administrasi. Oleh sebab itu aliran kas operasional merupakan aliran kas masuk
(cash in flow) dan aliran kas keluar (cash out flow).

8
c) Aliran kas akhir (Terminal Cash Flow) merupakan aliran kas yang berkaitan
dengan nilai sisa proyek (nilai residu) seperti sisa modal kerja, nilai sisa proyek
yaitu penjualan peralatan proyek.

2.5 Pemanfaatan Cashflow Projection


Metode proyeksi aliran kas ini sangat sesuai digunakan dalam situasi
penyaluran kredit sebagai berikut:
1. Penjualan perusahaan yang sangat fluktuatif. Penjualan setiap bulan bergerak
dalam satu interval yang cukup besar. Fluktuasi ini mengakibatkan posisi dana
perusahaan juga bervariasi sangat tinggi. Bisa saja terjadi bahwa pada bulan
tertentu terdapat kelebihan dana yang besar, namun tiba-tiba pada bulan
berikutnya terdapat kekurangan dana yang besar.
2. Penjualan yang bersifat musiman. Misanya, industri payung. Kebutuhan dana
akan meningkat pesat menjelang musim hujan. Karena, menjelang musim hujan
inilah produksi dan distribusi payung terjadi.Penjualan dan penagihan piutang
terjadi pada saat musim hujan tiba. Pada musim kemarau, kebutuhan dana relatif
kecil karena penjualan juga relatif kecil.
3. Pembiayaan proyek (project financing). Misanya pembangunan apartemen,
pendirian pabrik, pembelian mesin besar, dan lain-lain. Kebutuhan dana terhadap
proyek-proyek seperti ini sangat tergantung pada bentuk dan progres proyek.

Melalui proyeksi aliran kas ini, dapat diketahui :


1. Jumlah dana yang dibutuhkan, baik kebutuhan jangka penjang maupun jangka
pendek. Selanjutnya dapat diketahui kapan dana tersebut dibutuhkan.
2. Durasi grace priod yang diperlukan oleh bisnis/proyek sebelum memulai cicilan
pkok.
3. Kemampuan perusahaan dalam melakukan pembayaran kewjiban bulanan.
Dengan demikian dapat diketahui jangka waktu yang dibutuhkan untuk melunasi
kredit.Penting untuk dicatat, bank tidak boleh ‘’memaksa’’ perusahaan menbayar
kewajiban di luar kapasitas Cashflow-nya. Apabila itu dilakukan, perusahaan akan

9
jatuh tempo ke dalam kesulitan likuiditas. Akhirnya bank juga yang akan ikut
merasakan akibatnya, yaitu tunggakan pembayaran.
Proyeksi aliran kas ini dapat disusun dengan periode tertentu.Misanya, per
tahun, per bulan, per minggu, atau bahkan, harian. Tentu saja semakin pendek
interval yang dipakai, hasil proyeksi akan lebih presisi. Tetapi, itu membutuhkan
usaha yang lebih besar dan data yang lebih rinci. Bagi bank, periode bulanan dan
tahunan, umumnya, sudah mencukupi.
Pada umumnya, untuk kebutuhan perkreditan, proyeksi yang dilakukan
adalah bulanan. Untuk proyek jangka panjang, misalnya, pembiayaan hotel,
biasanya proyeksi bulanan dilakukan untuk 1-3 tahun pertama.Setelah itu,
dilakukan secara tahunan.Patokan yang dipakai untuk menetukan durasi proyeksi
bulanan adalah mulai dari awal proyek sampai dengan masa stabilitas komersial.
Misalnya, pembangunan sebuah hotel. Mungkin 2 tahun pertama adalah masa
kontruksi.Setelah itu, 1 tahun berikutnya adalah masa peluncuran dan promosi.
Setelah itu, dianggap penjualan akan stabil. Dengan demikian 3 tahun pertama
dilakukan proyeksi bulanan untuk memperoleh gambaran yang lebih rinci.Setelah
itu, tahunan sudah cukup memadai. Untuk proyek lain, mungkin proyeksi bulanan
dibutuhkan cukup untuk 2 tahun pertama. Jadi, tergantung pada jenis dan sifat
proyek yang dibiayai.
Adapun kegunaan dalam menyusun estimasi cash flow dalam perusahaan
sangat berguna bagi beberapa pihak terutama manajement sebagai berikut :
1. Memberikan seluruh rencana penerimaan kas yang berhubungan dengan rencana
keuangan perusahaan dan transaksi yang menyebabkan perubahan kas.
2. Sebagian dasar untuk menaksir kebutuhan dana untuk masa yang akan datang
dan memperkirakan jangka waktu pengembalian kredit.
3. Membantu menager untuk mengambil keputusan kebijakan financial.
4. Untuk kreditur dapat melihat kemampuan perusahaan untuk membayar kredit
yang diberikan kepadanya.

2.6 Prinsip-prinsip Penyususnan Cashflow

10
Dalam penyusunan cashflow, ada beberapa prinsip yang harus diketahui
terlebih dahulu. Yang pertama adalah bahwa, sesuai namanya, cashflow disusun
dengan basis tunai (cash basis). Hal ini berbeda dengan laporan keuangan yang
umumnya menggunakan accrual bisnis (pencatatan dilakukan pada saat transaksi
terjadi). Pada cash basis:
1. Pencatatan dilakukan pada saat uang tunai diterima, bukan pada saat penjualan
terjadi. Misalnya, penjualan pada bulan januari dilakukan dengan cara kredit 2
bulan. Pada saat melakukan proyeksi aliran kas, yang diperhatikan adalah pada
saat tagihan diterima, yaitu 2 bulan kemudian. Pendapatan diakui pada saat uang
tunai diterima. Bukan pada saat penjualan dilakukan.
2. Biaya-biaya juga sama, dicatat pada saat uang tunai di keluarkan, bukan pada
saat biaya timbul. Misalnya, perusahaan membeli barang melalui kredit 3
bulan.Catatan di Cashflow baru muncul pada saat pembayaran dilakukan, bukan
pada saat pembelian.
Sedangkan pada accrual basis, pendapatan dan biaya diakui pada saat
kejadian, dan hal tersebut belum tentu sama dalam waktu terjadi pemindahan uang
tunai. Contoh: PT. A menjual barang secara kredit selama 3 bulan. Pada accrual
basis penjualan dicatat pada saat barang dijual, sedangkan pada cash basis,
penjualan baru dicatat setelah uang diterima (yaitu setelah 3 bulan kemudian).

Adapun langkah-langkah dalam penyusunan cash flow, yaitu :


1. Menentukan minimum kas
2. Menyusun estimasi penerimaan dan pengeluaran
3. Menyusun perkiraan kebutuhan dana dari hutang yang dibutuhkan untuk
menutupi deficit kas dan membayar kembali pinjaman dari pihak ketiga.
4. Menyusun kembali keseluruhan penerimaan dan pengeluaran setelah adanya
transaksi financial dan budget kas yang final.

Dalam menyusun Cash Flow kita tidak memperhitungkan biaya-biaya non


kas (Non-cash Charges) seperti depresiasi dan amortisasi.Yang diperhatikan
adalah transaksi tunai saja. Dengan demikian, akibat adanya beberapa perbedaan

11
pencatatan, dalam bentuk jumlah Laba Bersih (Net Profit) yang ditunjukkan
dalam Income Statement sama dengan jumlah uang tunai yang dimiliki
perusahaan tersebut.

Contoh: PT. WAHID memiliki sistem penjualan dan pembelian yang dilakukan
secara tunai. Income Statement per akhir tahun adalah sebagai berikut:
Penjualan Bersih : Rp. 1.000
Harga Pokok Penjualan : Rp. 800 (-)
Laba Kotor : Rp. 200
Biaya Operasional
- Gaji/Bonus : Rp. 50
- Lain-lain : Rp. 20
- Depresiasi : Rp. 40 (+)
Rp. 110 (-)
Laba Bersih Operasional Rp. 90
Pajak Penghasilan 30 % Rp. 30 (-)
Laba Bersih Setelah Pajak Rp. 60
Dalam perhitungan Cash Flow, kita tidak memperhitungkan biaya
depresiasi sebagai biaya karena depresiasi merupakan biaya non-kas. Dengan
demikian, dari perhitungan Rugi/Laba diatas, Cash Flow yang sebenarnya adalah
sebagai berikut:
Laba Bersih : Rp. 60
Depresiasi : Rp. 40 (+)
Cash flow : Rp 100
Cash Flow dapat disusun dengan periode (interval) per tahun, per bulan,
bahkan per hari. Tentu saja semakin pendek interval yang dipakai, hasil
penyusunan akan memiliki ketepatan yang lebih tinggi. Untuk Bank, umumnya
kita menggunakan interval bulanan atau tahunan.

2.7 Format Umum Cashflow

12
Bentuk (format) Cashflow sangatlah bervariasi. Tidak ada satu bentuk
baku yang dipakai secara umum. Walaupun demikian apapun bentuk yang
dipakai, format cashflow terdiri dari komponen-komponen sebagai berikut:
1. Saldo Awal Kas (Begining Cash Balance Sheet), yaitu jumlah uang tunai(kas)
yang dimiliki perusahaan diawal periode.
2. Kas Masuk atau permintaan kas (Cash inflow), yaitu aliran yang diterima oleh
perusahaan selama waktu tertentu sesuai dengan interval perhitungan (sehari,
sebulan, triwulan dan seterusnya). Yang dimaksud dengan cashflow adalah uang
tunai yang benar-benar diterima.

Beberapa contoh komponen yang termasuk dalam cashflow adalah:


Ø Piutang dagang yang tertagih , yaitu piutang dagang yang dibayar oleh pelanggan
sehubungan dengan penjualan kredit yang dilakukan oleh perusahaan.
Ø Pendapatan bunga atau simpanan yang ada di bank, seperti jasa giro, bunga
deposito, dan lain-lain. Pendapatan bunga juga mungkin didapatkan dari
pelanggan perusahaan yang terlambat membayar piutang dagang yang telah jatuh
tempo sehingga memberikan sejumlah kompensasi dengan perusahaan dalam
bentuk bunga. Pendapatan jenis ini dapat ditemukan di post other income.
Ø Konstitusi PPN untuk para eksportir yang menggunakan bahan baku dalam negeri,
yang pada saat mereka membeli bahan baku sudah membayar PPN.
Ø Penerimaan tunai sehubungan dengan penjualan aktiva tetap yang dilakukan oleh
perusahaan
Ø Injeksi dana segar dari pemegang saham. Misalnya adanya penambahan modal
disetor, pemberian pinjaman oleh para pemegang saham, dll.
3. Total Kas yang Tersedia (Total Cash Available), yaitu penjualan antara saldo awal
kas dengan penerimaan tunai periode yang bersangkutan. Saldo ini menunjukkan
total uang tunai yang dimiliki perusahaan untuk perusahaan tersebut. Kas yang
tersedia inilah yang akhirnya akan diberikan untuk membayar keseluruhan
kewajiban tunainya.
4. Kas Keluar atau Pengeluaran Kas (cash outflow), yaitu aliran pembayaran kas
tunai yang diberikan perusahaan.Komponen inilah kebalikan dari cash inflow.

13
Bila pada cash inflow perusahaan menerima uang tunai, maka pada cash outflow
perusahaan mengeluarkan uang tunai. Beberapa contoh cash outflow:
· Pembayaran utang dagang, yaitu utang dagang yang jatuh tempo yang harus
dibayar sehubungan dengan pembelian kredit suatu perusahaan.
· Biaya bunga akibat pemakaian dana pinjaman, seperti pinjaman leasing, dan
lain-lain.
· Upah buruh, misalnya untuk industri manufaktur.
· Biaya operasional tunai seperti biaya gaji dan bonus karyawan, biaya
utilitas(listrik, air, telpon), biaya asuransi, biaya perjalanan, dll.
· Utang PPH yang harus dibayar.
· Biaya-biaya kredit, seperti provisi kredit, biaya adminitrasi, dll.
· Pembelian aktiva tetap seperti pembelian mesin-mesin, peralatan, tanah dll.
· Pembiayaan deviden tunai (cash deviden).
· Pembayaran cicilan pokok uang.
5. Surplus Devisi Kas Perusahaan(net cash surplus) yaitu selisih antara total kas yang
tersedia dengan cash outflow. Ada beberapa indikasi yang ditunjukkan oleh
perusahaan yang memiliki kas surplus yang cukup besar terus menerus:
· Kemampuan mencicil pokok pinjaman(bila ada) masih cukup besar. Dalam
kasus seperti ini kita dapat mempertimbangkan kemungkinan pemberian pinjaman
yang tidak terlalu lama.
· Jika perusahaan memiliki pinjaman jangka pendek kas yang surplus
menunjukkan bahwa pinjaman jangka pendek tersebut dapat dilunasi.
Sebaliknya bila kas adalah devisit, ada beberapa indikasi yang ditunjukkan:
Ø Cicilan pokok pinjaman (bila ada) terlalu besar. Untuk menguji hal ini, kita dapat
mengeluarkan cicilan pokok dari cashflow. Bila ini memang penyebabnya, kita
harus memberi pinjaman yang lebih panjang yang ada didalam cicilan pokoknya
per periode lebih ringan.
Ø Perusahaan membutuhkan tambahan pinjaman untuk menutupi kekurangan kas
tersebut.
Ø Bila defisit hanyalah terjadi pada interval awal, berarti terdapat hubungan dengan
grade period untuk pinjaman jangka panjang yang diberikan. Perusahaan baru

14
dapat melakukan cicilan pokok pinjaman bila saldo telah menunjukan angka
positif (surplus).
6. Saldo Kas Minimum (minimum cash balance) yaitu, suatu jumlah uang tunai yang
ingin terus dipegang perusahaan sepanjang waktu, misalnya untuk keperluan kas
kecil. Untuk pelanggan mobil bekas (used car), setiap saat harus memiliki uang
tunai agar dapat langsung melakukan pembelian bila ada mobil yang ingin dibeli.
7. Kebutuhan dana tambahan (Additional Financial Needs) yaitu jumlah dana yang
dibutuhkan untuk menutupi devisit kas.
Jumlah dana yang dibutuhkan ini tergantung pada kondisi devisit kas dan saldo
minimum perusahaan:
· Bila tidak ada saldo minimum yang ingin dipelihara perusahaan, saldo defisit
kas sama dengan kebutuhannya,
· Bila ada saldo kas minimum yang harus dijaga dan saldo kas adalah defisit,
kebutuhan kas tambahan merupakan saldo kas minimum tersebut ditambah saldo
defisit.
· Bila ada saldo kas minimum yang harus dijaga, dan saldo kas adalah surplus,
tetapi lebih kecil dari pada saldo minimum yang disyaratkan, kebutuhan dana
tambahan adalah sebesar selisih antara saldo kas minimum dengan saldo surplus.
· Bila ada saldo kas minimum yang harus dijaga, dan posisi kas adalah surplus,
dimana nilai surplus diatas saldo kas minimum tidak dibutuhkan dana tambahan.
8. Saldo Kas Akhir (Ending Cash Balance), yaitu posisi kas tunai diakhir periode
(interval) setelah memperhitungkan kebutuhan dana tambahan. Secara matematis,
suatu Format Cash Flow secara umum dapat ditulis sebagai berikut:
BEGINNING CASH BALANCE : A
CASH INFLOW : B
TOTAL CASH AVAILABLE : C (A+ B )
CASH OUTFLOW : D

NET CASH SURPLUS : E(C–D)


MINIMUM CASH BALANCE : F
ADDITIONAL FINANCIAL NEEDS : G

15
ENDING CASH BALANCE : H(F+G)

Jika E < 0 maka G = E (Nilai Absolut)


F = 0 Jika E > = 0 maka G = 0
F > 0 Jika E < 0 maka G = F + E (Nilai Absolut)
Jika E = 0 maka G = F
Jika E < E < E maka G = F - E
Jika E >= F maka G = 0

Keterangan : Jika F = 0 (tidak dibutuhkan saldo kas minimum)


Jika F > 0 (terdapat saldo kas minimum)

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam pennganggaran modal disitu kita membahas materi mengenai


penjatahan modal (capital rationing) dimana penjatahan modal itu

16
memiliki fungsi untuk memilih grup/proyek yang akan perusahaan ambil,
dengan tujuan bahwa proyek tersebut dapatmemberikan keuntungan atau
nilai lebih bagi perusahaan tersebut maka dari itulah fungsi dari penjatahan
modang pula agar modal yang perusaahaan miliki itu terstruktur dengan
baik dan teralokasikan dengan baik pula.Selain itu pula dalam
penganggaran modal kitu membahas materi mengenai profitability
index dimana memiliki tujuan untuk suatu metode yang
menghitung perbandingan antara nilai arus kas bersih yang akan dating
dengan nilai investasi yang sekarang. Profitability index harus lebih besar
dari 1 baru dinyatakan layak. Semakin besar profitability index, maka
investasi semakin layak. Materi selanjutnya membahas mengenai pengaruh
penganggaran modal dalam capital budgeting yaitu dana pinjaman dengan
tingkat suku bunga pengembalian pada tingkat yang setara untuk tingkat
suku bunga ditetapkan dan nominal. Jika inflasi diperkenalkan
dalam sistem, pengembalian sebagaimana yang ditetapkan secara
nominal akan berbeda dari pengembalian riil, ketika arus kas masa yang
akan datang memiliki daya beli lebih rendah. Ini bisa diperdebatkan
apakah tingkat suku bunga akan naik dengan cepat atau tidak dalam
jumlah tertentu dari penggantian kerugian inflasi, dan argumen pada setiap
sisi telah disimpulkan oleh Bernstein.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.academia.edu/6270407/Makalah_mkl_2
http://feuh-kel11.blogspot.com/2013/10/penganggaranmodal.html
http://www.academia.edu/7290716/Penganggaran_Modal
http://catatanwawan92.blogspot.com/2014/05/makalah-penganggaran-modal.htm

17
18