Anda di halaman 1dari 46

QUALITY CONTROL AMPAS KEMPA (Palm Press Cake) PADA PROSES PENGOLAHAN CPO (Crude Palm Oil) DI PT STEELINDO WAHANA PERKASA BANGKA BELITUNG

Oleh

Ria Febrianti Sawitri

177335038

(Laporan Tugas Akhir Mahasiswa)

Febrianti Sawitri 177335038 (Laporan Tugas Akhir Mahasiswa) PROGRAM STUDI DI LUAR DOMISILI BANYUASIN POLITEKNIK NEGERI

PROGRAM STUDI DI LUAR DOMISILI BANYUASIN POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG KABUPATEN BANYUASIN BANYUASIN

2019

QUALITY CONTROL AMPAS KEMPA (Palm Press Cake) PADA PROSES PENGOLAHAN CPO (Crude Palm Oil) DI PT. STEELINDO WAHANA PERKASA BANGKA BELITUNG

Oleh

Ria Febrianti Sawitri

177335038

Laporan Tugas Akhir Mahasiswa

Sebagai Salah Satu Syarat Mendapatkan Gelar Ahli Muda Teknologi Pangan (A.Ma.TP) pada Program Studi Teknologi Pangan

Pangan (A.Ma.TP) pada Program Studi Teknologi Pangan PROGRAM STUDI DI LUAR DOMISILI BANYUASIN POLITEKNIK NEGERI

PROGRAM STUDI DI LUAR DOMISILI BANYUASIN POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG KABUPATEN BANYUASIN BANYUASIN

2019

i

HALAMAN PENGESAHAN

1. Judul Tugas Akhir Mahasiswa

: Quality Control Ampas Kempa (Palm Press Cake) pada Proses Pengolahan CPO(Crude Palm Oil) di
:
Quality Control Ampas Kempa
(Palm Press Cake) pada Proses
Pengolahan CPO(Crude Palm Oil) di
PT Steelindo Wahana Perkasa
Bangka Belitung
:
Ria Febrianti Sawitri
:
177335038
: Pertanian
:
Teknologi Pangan
Menyetujui,
Dosen Pembimbing II,
Yuri Amiro Hitosi, S.Pi

Ketua Program Studi Teknologi Pangan,

2. Nama Mahasiswa

3. Nomor Pokok Mahasiswa

4. Jurusan

5. Program Studi

Dosen Pembimbing I,

Yulia Anita, M.Pd

Carly Junicef Vratama, S.Pi., M.Si

Tanggal Pengujian : 24 Juli 2019

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahuwata’ala atas

segala karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan tugas akhir yang

berjudul

Quality

Control

Ampas

Kempa

(Palm

Press

Cake)

pada

Proses

Pengolahan CPO (Crude Palm Oil) di PT Steelindo Wahana Perkasa, Bangka

Belitung”. Tugas akhir ini merupakan salah satu syarat untuk mencapai gelar ahli

muda pada Program Studi Diploma II Teknologi Pangan di PDD-Politeknik

Negeri Lampung, Akademi Komunitas Negeri Banyuasin. Dalam menyelesaikan

penulisan tugas akhir ini, penulis telah memperoleh bantuan, semangat serta

dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, terimakasih yang sebesar-besarnya

penulis ucapkan kepada:

1. Bapak H. Askolani Jasi, S.H., M.H selaku Bupati Kabupaten Banyuasin dan

seluruh staff Pemda atas kepeduliannya terhadap pendidikan.

2. Bapak Dr. Ir. Sarono, M.Si selaku Direktur Politeknik Negeri Lampung.

3.

Bapak

Zulkarnain,

S.H.,

M.Si

selaku

Direktur

PDD-Politeknik

Negeri

Lampung, Akademi Komunitas Negeri Banyuasin.

4. Ibu Yulia Anita, M.Pd dan Bapak Yuri Amiro Hitosi, S.Pi selaku dosen

pembimbing yang selalu dengan sabar memberikan bimbingan dan masukan

sehingga penulisan tugas akhir ini dapat diselesaikan.

5. Bapak Carly Junicef Vratama, S.Pi., M.Si selaku Ketua Program Studi

Teknologi Pangan sekaligus dosen penguji

masukan dan saran yang baik.

iii

yang senantiasa memberikan

6.

Ibu Elzana Moreta, S.TP., M.Si selaku dosen penguji

yang senantiasa

7.

memberikan masukan dan saran yang baik.

Bapak

Eka

Apriyanto

selaku

pembimbing

lapangan

sekaligus

kepala

laboratorium quality control yang telah memberikan bimbingan selama

Praktek Kerja Lapangan (PKL).

8. Dosen-dosen dan staff Teknologi Pangan yang senantiasa memberikan ilmu-

ilmu yang berharga.

9. Ayahanda Muhammad Rusli dan Ibunda Rusnaini serta saudara tercinta

Ardiansyah dan Putri Wulandari yang telah banyak memberikan kasih

sayang, semangat, motivasi, dan doa yang selalu menyertai langkah penulis.

10. Sobat Nasi Goreng Kobe yang kucintai, Nuril Fadillah dan Indri Permata

Sari, saranghae. Seluruh teman-teman Teknologi Pangan angkatan IV serta

si gentong, dhinda dan ncek yang selalu memberikan cinta dan selalu ada

dalam suka maupun duka.

11. Seluruh pihak yang tidak bisa disebutkan satu-persatu baik secara langsung

maupun secara tidak langsung telah membantu menyelesaikan tugas akhir

ini.

Pangkalan Balai, 24 Juli 2019

iv

Penulis

Ria RIWAYAT HIDUP Febrianti Sawitri lahir pada tanggal 22 Februari 1998 di Musi Banyuasin, Sumatera

Ria

RIWAYAT HIDUP

Febrianti

Sawitri

lahir

pada

tanggal

22

Februari 1998 di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dari

pasangan

Ayahanda

Muhammad

Rusli

dan

Ibunda

Rusnaini. Pada tahun 2016, penulis lulus dari SMA

Negeri 1 Babat Supat dan diterima sebagai mahasiswa di PDD-Politeknik Negeri

Lampung, Akademi Komunitas Negeri Banyuasin, di jurusan Teknologi Pangan

pada tahun 2017.

Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif mengikuti kegiatan seminar di

auditorium

Pemerintahan

Kabupaten

Banyuasin.

Selain

itu

penulis

pernah

menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Teknologi Pangan pada tahun 2018.

Penulis

pernah

mengikuti

kegiatan

Praktek

Kerja

Lapangan

(PKL)

di

PT

Steelindo Wahana Perkasa, Bangka Belitung dan menyelesaikan pendidikan

dengan gelar Ahli Muda Teknologi Pangan (A.Ma.TP) dari PDD-Politeknik

Negeri Lampung, Akademi Komunitas Negeri Banyuasin pada tahun 2019.

v

DAFTAR ISI

 

Halaman

HALAMAN DEPAN

i

HALAMAN PENGESAHAN

ii

KATA PENGANTAR

iii

RIWAYAT HIDUP

v

DAFTAR ISI

vi

DAFTAR TABEL

viii

DAFTAR GAMBAR

ix

I. PENDAHULUAN

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Tujuan

2

1.3 Manfaat

2

II. TINJAUAN PUSTAKA

3

2.1 Kelapa Sawit

3

2.2 Pengolahan Kelapa Sawit

5

2.2.1 Penerimaan Buah (Fruit Reception)

5

2.2.2 Perebusan (Sterilizer)

6

2.2.3 Penebahan (Thresher)

7

2.2.4 Pelumatan (Digester)

7

2.2.5 Pengempaan (Pressing)

8

2.2.6 Pemurnian (Clarification)

9

2.2.7 Pengutipan Inti Sawit (Palm Kernel Plant)

10

2.3 Quality Control Ampas Kempa (Palm Press Cake)

12

2.3.1 Broken Nut

13

2.3.2 Oil Losses

13

vi

III.

METODOLOGI PELAKSANAAN

15

3.1 Waktu dan Tempat

15

3.2 Alat dan Bahan

15

3.3 Metode Pengumpulan Data

15

 

3.3.1 Observasi

16

3.3.2 Wawancara

16

3.3.3 Studi Literatur

16

3.3.4 Analisis Data

16

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

17

4.1 Pengambilan Sampel

17

4.2 Analisis

 

17

 

4.2.1

Broken Nut

18

4.2.2Oil Losses

21

V. KESIMPULAN

27

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

vii

DAFTAR TABEL

 

Tabel

Halaman

1.

Varietas sawit berdasarkan warna kulit buah

4

2. Varietas sawit berdasarkan ketebalan cangkang dan daging buah

4

3. Standar kematangan tandan buah sawit

5

4. Angka kerja pengoperasian stasiun pengempa pabrik kelapa sawit

8

5. Alat dan bahan yang digunakan dalam analisis

15

6. Standar oil losses dan broken nut

18

viii

DAFTAR GAMBAR

Tabel

Halaman

1. Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq)

3

2. Ekstraksi sokletasi

14

3. Persiapan sampel untuk analisis

17

4. Pemisahan biji (nut) dari ampas serabut (press fibre)

18

5. Grafik hasil analisis broken nut

19

6. Proses penggilingan sampel

21

7. Proses ekstraksi CPO metode sokletasi

22

8. Hasil akhir ekstraksi

23

9. Grafik hasil analisis oil losses

24

ix

ekstraksi CPO metode sokletasi 22 8. Hasil akhir ekstraksi 23 9. Grafik hasil analisis oil losses

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Prospektif

keberlanjutan

bisnis

perkebunan

di

Indonesia

berkembang

dengan pesat terutama pada komoditas kelapa sawit. Hal ini dikarenakan kelapa

sawit merupakan salah satu komoditas unggulan yang memiliki andil signifikan

bagi perekonomian baik dari sektor pangan maupun non pangan. Peluang bisnis

pertanian kelapa sawit sangat menjanjikan untuk pengembangan lahan pertanian

dan pembangunan pabrik kelapa sawit dengan produk akhir berupa minyak kasar

dan inti sawit (palm kernel) sebagai produk utama dari sektor perkebunan

(Tincliffe dan Webber, 2013).

PT Steelindo Wahana Perkasa merupakan salah satu perusahaan swasta di

Indonesia yang turut berperan sebagai industri perkebunan sekaligus pabrik

pengolahan kelapa sawit. Hasil perkebunan yang dipanen adalah tandan buah

segar (TBS) yang akan diolah secara mekanis (Gunstone, 2011). Dari pengolahan

tersebut

dihasilkan

dua

(2)

jenis

produk,

yaitu

minyak

yang

berasal

dari

pengempaan daging buah (mesocarp) atau dikenal sebagai CPO (Crude Palm Oil)

dan inti sawit (palm kernel) yang diperoleh dari pemisahannya dengan cangkang

biji (pericarp) (Basyuni et al., 2017).

Tujuan utama dari pabrik kelapa sawit adalah untuk menghasilkan produk

atau rendemen CPO dan inti sawit dengan efisiensi yang tinggi dan tercapainya

mutu produksi (Suandi et al., 2016). Masalah yang sering dihadapi industri

pengolahan pengolahan kelapa sawit adalah perolehan rendemen produk yang

tidak maksimal, penyebabnya adalah tingginya persentase kehilangan produk

1

2

(losses) yang terjadi pada tahap pengepresan atau pengempaan. Persentase losses

sangat penting untuk diketahui agar kestabilan produksi terjaga dan sebagai tolak

ukur untuk menghindari kerugian akibat losses minyak atau inti sawit yang

melebihi

standar

perusahaan

atau

tidak

terambil

pada

proses

pengempaan

sehingga terbuang ke boiler sebagai bahan bakar (Ferryno et al., 2017)

Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan quality control terhadap sisa

pengolahan yakni ampas kempa (palm press cake). Quality control dilakukan

dengan cara menganalisis biji pecah (broken nut) dan kehilangan minyak (oil

losses) sehingga dapat diketahui persentase losses tersebut. Hal ini merupakan

upaya dalam pengawasan serta pengendalian losses pada tahap pengempaan

dalam

proses

Belitung.

1.2 Tujuan

pengolahan

CPO

di

PT

Steelindo

Wahana

Perkasa,

Bangka

Tujuan dari tugas akhir ini adalah untuk mengetahui bagaimana quality

control pada ampas kempa (palm press cake) pada proses pengolahan CPO di PT

Steelindo Wahana Perkasa, Bangka Belitung.

1.3 Manfaat

Manfaat dari tugas akhir ini adalah dapat mengetahui bagaimana analisis

pada

ampas

kempa

(palm

press

cake)

sehingga

dapat

diketahui

besarnya

persentase

oil

losses

dan

broken

nut

yang

terdapat

pada

ampas

kempa.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) banyak ditemukan di

wilayah Asia Tenggara terutama Indonesia. Kelapa sawit merupakan tanaman

tropis

golongan

plasma

yang

termasuk

tanaman

tahunan

(Elvandra,

2015).

Taksonomi tanaman kelapa sawit dalam sistematika tanaman menurut Agus dan

Widodoro (2013) diklasifikasikan sebagai berikut:

Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Monocotyledonae

Ordo

: Palmales

Famili

: Palmaceae

Genus

: Elaeis

Spesies

: Elaeis guineensis Jacq

Genus : Elaeis Spesies : Elaeis guineensis Jacq Gambar 1. Kelapa sawit ( Elaeis guineensis Jacq)

Gambar 1. Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq)

Kelapa sawit termasuk tanaman berkeping satu yang kaya dengan minyak.

Proses pembentukan minyaknya berlangsung selama 3-4 minggu sampai tingkat

matang

morphologis,

yaitu

keadaan

dimana

tingkat

kematangan

buah

dan

 

3

4

kandungan minyaknya sudah optimal (Suandi et al., 2016). Buah yang dipanen

dalam bentuk tandan yang disebut dengan tandan buah segar (TBS). Bentuk,

susunan dan komposisi tandan sangat ditentukan oleh varietas tanaman (Kassim,

2012 dalam Renta, 2015). Adapun varietas tanaman kelapa sawit dapat dibedakan

berdasarkan warna kulit buah dan ketebalan cangkang serta daging buahnya yang

disajikan pada Tabel 1 dan 2.

Tabel 1. Varietas sawit berdasarkan warna kulit buah

No

Varietas

Warna buah muda

Warna buah masak

1 Nigrecens

Ungu kehitam-hitaman

2 Virescens

Hijau

3 Abescens

Keputih-putihan

Jingga kehitam-hitaman. Jingga kemerahan, tetapi ujung buah tetap hijau. Kekuning-kuningan dan ujungnya ungu kehitaman.

tetap hijau. Kekuning-kuningan dan ujungnya ungu kehitaman. Sumber: Fauzi (2012) Tabel 2. Varietas sawit berdasarkan

Sumber: Fauzi (2012)

Tabel 2. Varietas sawit berdasarkan ketebalan cangkang dan daging buah

No

Varietas

Deskripsi

1 Dura

a. Cangkang tebal (2-8 mm)

b. Tidak terdapat lingkaran serabut pada bagian luar cangkang.

c. Dalam persilangan, dipakai sebagai pohon induk betina.

d. Inti sawit (palm kernel) besar akan tetapi kandungan minyaknya rendah.

2 Psifera

a. Ketebalan cangkang sangat tipis, hampir tidak ada.

b. Daging buah tebal, lebih tebal dari daging buah Dura.

c. Inti sawit (palm kernel) sangat tipis.

d. Tidak dapat diperbanyak tanpa penyilangan dengan jenis lain dan dipakai sebagai pohon induk jantan.

3 Tenera

a. Hasil persilangan dari Dura dengan Psifera.

b. Cangkang tipis (0,5-4 mm)

c. Terdapat lingkaran serabut disekeliling cangkang.

d. Daging buah sangat tebal (60-96 %)

e. Tandan buah lebih banyak, tetapi ukurannya relatif lebih kecil.

Sumber: Fauzi (2012)

Menurut Nurhidayati (2010), tandan sawit yang dipanen terdiri dari 29%

kulit dan tandan, 11% biji atau inti sawit, dan 60% daging buah. Struktur buah

kelapa sawit secara garis besar terdiri atas daging buah (mesocarp), cangkang

5

(pericarp), dan inti (kernel). Minyak yang terkandung dalam sel-sel serabut pada

daging

buah

bervariasi

tergantung

pada

varietas

tanaman

dengan

rata-rata

kadungan minyaknya adalah sekitar 20-22% dari berat tandan sawit, sedangkan

minyak pada inti sawit sekitar 2-3% (Verheye, 2011).

2.2 Pengolahan Kelapa Sawit

Menurut Subekti et al., (2017), salah satu faktor yang menentukan tingkat

keberhasilan

dari

suatu

usaha

perkebunan

kelapa

sawit

dapat

dilihat

dari

pengolahan kelapa sawitnya. Hasil yang diperoleh dari pengolahannya berupa

CPO dan inti sawit sebagai produk utama, serabut (fibre), cangkang, dan tandan

kosong. Adapun proses pengolahan kelapa sawit adalah sebagai berikut:

2.2.1 Penerimaan Buah (Fruit Reception)

Truk

pengangkut

tandan

buah

segar

yang

masuk,

ditimbang

dalam

keadaan berisi (bruto) dan sesudah dibongkar muatannya (tarra). Selisih antara

bruto dan tarra merupakan berat bahan baku yang akan diolah (netto). Tandan

buah segar yang telah ditimbang, dibawa menuju areal sortasi (flat form) untuk

dilakukan proses sortasi sesuai dengan kriteria dan standar yang telah ditentukan

(Saragih et al., 2018).

Tabel 3. Standar kematangan tandan buah sawit

No

Jenis Buah

No Jenis Buah Kriteria Batas Toleran
No Jenis Buah Kriteria Batas Toleran

Kriteria

No Jenis Buah Kriteria Batas Toleran
No Jenis Buah Kriteria Batas Toleran

Batas Toleran

1 Mentah (unripe)

 

0-4 brondolan lepas/tandan 5-9 brondolan lepas/tandan 10 brondolan lepas/tandan >95% brondolan lepas/tandan Panjang tangkai > 5 cm

 

0%

2 Kurang matang (under ripe)

< 5%

3 Matang (ripe)

> 95%

4 Tandan kosong (empty bunch)

0%

5 Tangkai panjang (long stalk)

0%

6 Restan (old bunch)

6 Restan ( old bunch ) Lebih dari 48 jam 0%

Lebih dari 48 jam

6 Restan ( old bunch ) Lebih dari 48 jam 0%

0%

Sumber: Manual Referensi Agronomi Minamas Plantation Indonesia (2008)

6

Proses sortasi terhadap bahan baku dilakukan setiap hari sebagai evaluasi

proses pemanenan dari kebun. Selain itu, penimbangan dan sortasi terhadap

tandan buah segar yang masuk ke pabrik perlu dilakukan guna mengetahui

efisiensi

rendemen dan

penilaian mutu

terhadap

CPO dan

inti

sawit

yang

dihasilkan (Pahan, 2006 dalam Heryani dan Nugroho, 2017). Setelah dilakukan

sortasi,

selanjutnya

buah

akan

dibawa

menuju

loading

ramp

atau

tempat

penampungan

bagi

tandan

buah

dari

kebun

sebelum

diproses

(Susanti

dan

Rahmadani, 2015).

2.2.2 Perebusan (Sterilizer)

Pengisian tandan buah segar dilakukan melalui pintu-pintu loading ramp

yang digerakkan secara hidraulik sehingga memudahkan pengangkutan tandan

buah segar menggunakan conveyor untuk dimasukkan ke dalam sterilizer hingga

penuh. Sterilizer adalah bejana bertekanan yang digunakan untuk merebus tandan

buah

segar

menggunakan

uap

(steam).

Berdasarkan

hasil

penilitian

yang

dilakukan oleh Juni (2016), waktu yang ideal untuk perebusan adalah pada

temperatur 135 o C dengan tekanan 2,8-2,9 kg/cm 2 selama 90 menit, hal tersebut

efektif untuk meminimalisir losses minyak yang terikut pada pembuangan air uap

perebusan (sterilizer condensate).

Matthaus (2012) menyatakan bahwa tujuan utama dari proses perebusan

adalah adalah untuk menonaktifkan enzim lipase dan oksidase. Hal dikarenakan

kedua enzim tersebut berperan aktif dalam pembentukan asam lemak bebas yang

dapat

menurunkan

mutu

CPO.

Beberapa

fungsi

lain

perebusan

menurut

Noerhidajat et al., (2016) adalah untuk memudahkan pelepasan brondolan dari

7

tandan akibat terjadinya hidrolisa zat pektin pada pangkal brondolan sehingga

melemahkan kekuatan rekat pangkal brondolan dengan tandan dan melunakkan

daging buah untuk mempermudah proses pelumatan dan pengempaan minyak.

2.2.3 Penebahan (Thresher)

Proses penebahan terjadi di stasiun threshing, prinsip kerjanya adalah

memisahkan brondolan dari tandan dengan cara bantingan pada sebuah rotary

drum thresher yang berputar pada 23-25 rpm. Bantingan berulang menyebabkan

brondolan terlepas dari tandannya dan jatuh ke bagian bawah melalui celah-celah

drum dan kemudian diangkut fruit distribution conveyor menuju digester (Suandi

et al., 2016). Tandan kosong yang tidak lolos pada celah-celah drum karena

ukuranya, akan terlempar keluar melalui bagian depan threser yang terbuka dan

jatuh ke conveyor untuk diangkut menuju penimbunan tandan kosong (Susanti

dan Rahmadani, 2015).

2.2.4 Pelumatan (Digester)

Nwankwojike et al., (2011) menyatakan bahwa pelumatan brondolan

bertujuan untuk melepaskan daging buah dari biji (nut) sekaligus menghancurkan

sel-sel minyak yang terikat satu sama lain mengelilingi serabut daging buah.

Proses pelumatan dilakukan disebuah bejana pelumat (digester) yang dilengkapi

pisau pengaduk (stirring arms) yang berputar saling bersilangan antara satu

dengan yang lainnya pada kecepatan putaran 25 rpm. Letak pisau dibuat miring

sehingga brondolan yang diaduk turun naik agar proses pelumatan menjadi lebih

sempurna (Susanti dan Rahmadani, 2015).

8

Dinding digester dipasangi pelat mantel di sekelilingnya dengan tujuan

untuk memanaskan massa adukan. Purba (2009) menyatakan bahwa perlakuan

pemanasan yang ideal adalah pada kisaran suhu 90-95 o C. Hal ini dikarenakan

pada kondisi tersebut umumnya kandungan minyak pada buah sudah mencair

sehingga dapat dengan mudah keluar dari sel-sel minyak yang pecah, sementara

kerusakan minyak seperti oksidasi relatif belum terjadi.

Minyak kasar yang keluar selama proses pengadukan dialirkan keluar

melalui lubang-lubang perforasi (bottom plate) pada dasar digester. Hal tersebut

bertujuan mencegah kemungkinan terjadi emulsi pada pengempaan. Pembentukan

emulsi antara minyak dan air pengencer perlu dihindari karena viskositas atau

derajat kekentalan emulsi yang besar dapat menyebabkan pengeluaran minyak

menjadi sulit (Ilham, 2016).

2.2.5 Pengempaan (Pressing)

Suandi et al., (2016) menyatakan bahwa prinsip dari pengempaan yaitu

pengepresan atau penekanan terhadap massa buah yang telah dilumatkan digester

agar terperas sehingga mengeluarkan minyak kasar. Mesin pengempa (screw

press) yang digunakan memakai sistem hidraulik yang bekerja pada tekanan 40-

50 bar. Selama proses pengempaan berlangsung, air pengencer (dilution) perlu

ditambahkan ke dalam screw press, tujuannya agar massa lumatan tidak terlalu

padat sehingga memudahkan proses pengempaan. Berikut merupakan standar

operasi pada stasiun pengempa yang dapat dilihat pada Tabel 4.

9

Tabel 4. Angka kerja pengoperasian stasiun pengempa di pabrik kelapa sawit

No

Uraian

Standar

Satuan

1 Suhu digester

92

o C

2 Suhu air pengencer (dilution)

92

o C

3 Tekanan screw press

40-50

Bar

Sumber: PT Steelindo Wahana Perkasa (2011)

Proses pemisahan minyak pada screw press terjadi akibat tekanan screw

yang mendesak lumatan brondolan, sedangkan dari arah yang berlawanan tertahan

oleh sliding cone. Screw dan sliding cone berada di dalam sebuah selubung baja

yang

disebut

press

cage,

dimana

diseluruh

permukaan

dindingnya

terdapat

lubang-lubang perforasi. Dengan demikian minyak dari lumatan brondolan yang

terdesak ini akan keluar melalui lubang-lubang press cage, sedangkan ampas sisa

pengempaan keluar melalui corong pengeluaran yang merupakan celah antara

sliding cone dan press cage (Hasballah dan Siahaan, 2018).

2.2.6 Pemurnian (Clarification)

Minyak kasar hasil pengempaan memiliki tiga (3) fase yang terkandung

didalamnya yaitu 66% minyak, 24% air, dan 10% padatan bukan minyak atau

NOS (Non Oily Solids). Keadaan ini menyebabkan minyak mudah mengalami

penurunan mutu akibat adanya reaksi hidrolisis dan oksidasi yang melibatkan air

dan kotoran. Berdasarkan hal tersebut, maka untuk mendapatkan minyak yang

memenuhi standar mutu, perlu dilakukan pemurnian terhadap minyak tersebut

(Ayustaningwarno, 2012).

Dalam proses pemurniannya, minyak kasar disaring di ayakan getar

(vibrating screen) bertipe double deck atau dua kali penyaringan dengan saringan

pertama 20

mesh

dan

saringan

terakhir

40

mesh.

Hal

ini

bertujuan

untuk

10

memisahkan minyak dari NOS (Non Oily Solids) atau padatan bukan minyak

seperti serabut, pasir, tanah, dan zat pengotor lain yang terikut. Minyak kasar

kemudian diendapkan di clarifier tank untuk memisahkan minyak dari zat-zat

yang lolos dari vibrating screen dan tidak larut dalam minyak seperti air dan NOS

berupa lumpur (sludge) (Susanti dan Rahmadani, 2015).

Prinsip

pemisahan

dengan

cara

pengendapan

adalah

berdasarkan

perbedaan berat jenis. Dengan demikian, minyak dengan densitas paling ringan

yaitu 0,8 g/m 3 akan terapung pada lapisan atas sementara sludge pada lapisan

bawah dialirkan ke sludge tank untuk dikutip kembali minyak yang masih

terkandung didalamnya (Mardhiah, 2013). Minyak pada lapisan atas dialirkan

menuju pemurni sentrifugal (purifier) yang diikuti oleh pengering vakum (vacuum

drying) dengan tekanan 75-76 bar, tujuannya adalah memperkecil kadar air pada

minyak sebelum dialirkan ke tangki timbun (storage tank) dengan suhu simpan

45-60 o C (Larasati et al., 2016).

2.2.7 Pengutipan Inti Sawit (Palm Kernel Plant)

Ampas kempa (palm press cake) yang keluar dari mesin pengempa

diproses sedemikian rupa di stasiun kernel (kernel plant). Akhir dari pengolahan

akan menghasilkan inti sawit sebagai hasil produksi yang siap diolah menjadi

PKO (Palm Kernel Oil), serta fibre dan cangkang sebagai bahan bakar boiler

(Heryani dan Nugroho, 2017). Nurhidayati (2010) menyatakan bahwa ampas

kempa terdiri dari campuran serabut dan biji yang masih mengandung air yang

tinggi dan berbentuk gumpalan.

11

Rangkaian

proses

pengolahan

dimulai

dari

pemecahan

gumpalan-

gumpalan ampas kempa dicake breaker conveyor yang terdiri dari pedal-pedal

yang terikat pada poros yang berputar dengan kecepatan 52 rpm. Hal ini bertujuan

untuk mempermudah pemisahan serabut dan biji pada depericarper. Cake breaker

conveyor dilengkapi pemanas dengan suhu 90-95 o C yang berfungsi mengeringkan

kadar air pada serabut sehingga mempermudah kerja blower pengisap.

Ampas yang telah dipecah dikirim ke depericarper, yaitu alat tromol tegak

dan panjang yang ujungnya terdapat blower pengisap serta fibre cylone. Serabut

kering yang fraksinya lebih ringan dari biji akan terhisap oleh blower dan

disalurkan ke fibre cyclone untuk dijadikan bahan bakar boiler. Sedangkan biji

dengan fraksi yang lebih berat akan jatuh ke nut polishing drum yang berputar

dengan kecepatan 26 rpm, fungsinya untuk membersihkan biji dari sisa serabut

yang masih melekat sebelum ditampung sementara di nut silo dan dipecahkan .

Proses

selanjutnya

adalah

pemecahan

biji

menggunakan

ripple

mill.

Pemecahan biji terjadi karena bantingan kuat pada biji akibat perputaran rotor bar

dengan kecepatan 900 rpm. Selanjutnya, hasil pemecahan berupa campuran inti

sawit dan cangkang dipisahkan dengan menggunakancara kering dan cara basah.

Pemisahan

kering

dilakukan

dengan

LTDS

(Light

Tenera

Dust

Separation) dimana fraksi-fraksi yang lebih ringan akan diserap oleh blower

pengisap (separating column fan). Adapun fraksi yang terhisap adalah cangkang

dan serabut yang masih terikut selama proses pengolahan. Cangkang dan serabut

hasil isapan dibawa ke shell bin dan akan bercampur dengan serabut dari fibre

cyclone sebagai bahan bakar boiler, sedangkan kernel yang lebih berat dan tidak

terhisap oleh blower dibawa ke kernel silo melalui kernel conveyor.

12

Pada cara basah, pemisahan dilakukan dengan kernel claybath, dimana

prinsip

pemisahan

antara

inti

sawit

dengan

cangkang

adalah

berdasarkan

perbedaan berat jenisnya melalui proses pengapungan dengan menggunakan

kalsium karbonat (CaCO 3 ) dan air. Berat jenis inti sawit lebih rendah dari pada

berat jenis cangkang sehingga inti sawit akan terapung, sementara cangkang akan

tenggelam (Mardhiah, 2013). Inti sawit dari hasil pemisahan cara kering maupun

cara

basah

di

distribusikan

kedalam

kernel

silo

untuk

dilakukan

proses

pengeringan pada suhu 90-95°C hingga diperoleh inti sawit dengan kadar air yang

sesuai standar yaitu kurang dari 8% (Nurhidayati, 2010).

2.3 Quality Control Ampas Kempa (Palm Press Cake)

Menurut Prasada dan Eska (2015), suatu pengolahan kelapa sawit dapat

dikatakan memiliki efisiensi tinggi jika persentase kehilangan produk atau losses

rendah. Hal ini dikarenakan losses dengan rendemen mempunyai hubungan yang

sangat erat sehingga menimbulkan kesan bahwa apabila losses rendah maka

rendemen produk akan tinggi, begitu pula sebaliknya. Maka sistem manajemen

yang diterapkan untuk mendapatkan jumlah rendemen yang optimal adalah

dengan melakukan quality control dan menekan terjadinya losses minyak dan inti

sawit selama proses produksi (Devani dan Marwiji, 2014).

Tanuwijaya (2017) menyatakan, dengan adanya quality control yang tepat

maka

diharapkan

proses

pengolahan

kelapa

sawit

terutama

pada

tahap

pengempaan bisa dipantau untuk menjaganya tetap terkendali, meskipun tetap

terjadi masalah yang timbul tetapi dapat segera dideteksi dan ditanggulangi

sebelum masalah berlanjut dan merugikan perusahaan. Dalam penerapan quality

13

control pada ampas kempa melibatkan beberapa aktivitas, yaitu membandingkan

hasil aktual analisis losses dengan standar perusahaan serta mengambil tindakan

pengendalian jika terdapat perbedaan antara hasil aktual dengan standar. Menurut

Bachtiyar (2011), parameter

kontrol

losses di stasiun pengempaan adalah

yang harus dijaga

biji

pecah

(broken

minyak dalam serabut (oil losses in fibre).

2.3.1 Broken Nut

untuk mengendalikan

nut)

dan kehilangan

Ampas kempa (palm press cake) dianalisis komposisi bijinya untuk

mengetahui seberapa banyak persentase biji pecah (broken nut), tujuan analisis ini

adalah

untuk

mengontrol

efisiensi

dari

mesin

pengempa

(screw

press).

Berkurangnya efisiensi pada mesin pengempa akan mengakibatkan munculnya

losses

berupa

broken

nut

yang

melebihi

standar

dan

apabila

tidak

segera

ditangani, hal ini dapat menimbulkan persentase losses inti sawit (palm kernel)

meningkat pula sehingga menimbulkan kerugian akibat rendemen produksi yang

tidak tercapai (Wahyudi et al., 2012). Dengan dilakukan analisis persentase

broken nut, maka losses dapat segera dikendalikan dengan cara mengatasi sebab

atau permasalahan teknis yang terjadi di stasiun pengempa (Ilham, 2016).

2.3.2 Oil Losses

Ampas serabut (press fibre) berasal dari daging buah sawit yang telah

mengalami pengempaan di dalam screw press dan ukurannya relatif pendek sesuai

dengan

ukuran

daging

buah

sawit

itu

sendiri.

Analisis

laboratorium

untuk

mengetahui persentase oil losses pada serabut adalah dengan cara ekstraksi

sokletasi

yaitu

pemisahan

minyak

dari

sampel

dengan

cara

penyaringan

14

menggunakan alat soxhlet dan sejumlah kecil pelarut (solvent) (Luque de Castro

dan Priego-capote, 2017). Ekstraksi sokletasi dapat dilihat pada Gambar 2.

2017). Ekstraksi sokletasi dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. Ekstraksi sokletasi Rene (2011) menyatakan bahwa

Gambar 2. Ekstraksi sokletasi

Rene

(2011)

menyatakan

bahwa

prinsip

ekstraksi

sokletasi

yaitu

pemanasan pelarut hingga terjadi penguapan, uap pelarut yang terkondensasi

menjadi molekul-molekul air oleh kondensor akan turun menetesi selongsong

berisi

sampel

dan

melarutkan

minyak.

Larutan

yang

mengandung

minyak

berkumpul di dalam soxhlet dan setelah mencapai tinggi maksimalnya, secara

otomatis larutan mengalir melewati pipa sifon kemudian masuk kembali ke dalam

labu didih. Hal tersebut terjadi secara berulang hingga didapat hasil akhir ekstrak

minyak yang sempurna.

Secara

umum

molekul

minyak

bersifat

nonpolar,

sehingga

untuk

melarutkannya digunakan pelarut yang bersifat nonpolar pula. Hal ini sesuai

dengan prinsip bahwa suatu senyawa akan mudah larut dengan polaritas yang

sama (like dissolves like). Berdasarkan hal tersebut, untuk mengekstrak minyak

pada ampas serabut digunakan pelarut heksana (C 6 H 14 ) (Nilasari, 2004 dalam Sri

et al., 2013).

BAB III. METODOLOGI PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat

Penulisan tugas akhir ini berdasarkan kegiatan Praktik Kerja Lapangan

(PKL) yang telah dilaksanakan pada tanggal 22 Februari sampai dengan 22 April

2019, bertempat di PT Steelindo Wahana Perkasa, Bangka Belitung.

3.2 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam penentuan broken nut dan oil losses

pada ampas kempa (palm press cake) dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Alat dan bahan yang digunakan dalam analisis

No

Alat dan bahan

Fungsi

1 Desikator

2 Dish

3 Kapas

4 Labu didih

5 Memmert oven

6 Microwave oven

7 Neraca analitik digital

8 Rotary chopper

9 Soxhlet

10 Timbangan duduk

11 Timbel ekstraksi

12 Ampas kempa (press cake)

13 Heksana

Mendinginkan sampel dan menjaga beratnya tetap konstan. Wadah sampel saat dilakukan pengeringan. Mencegah sampel merembes keluar bersama pelarut. Menampung pelarut dan minyak hasil ekstraksi. Menguapkan sisa pelarut. Mengeringkan sampel. Menimbang bobot bahan. Menghaluskan ampas serabut (press fibre). Alat untuk ekstraksi. Menimbang bobot ampas kempa. Wadah berbentuk selongong bagi sampel kering yang akan diekstraksi. Sampel Pelarut

bagi sampel kering yang akan diekstraksi. Sampel Pelarut Sumber : PT Steelindo Wahana Perkasa (2015) 3.3

Sumber : PT Steelindo Wahana Perkasa (2015)

3.3 Metode Pengumpulan Data

Metode yang dilakukan dalam pengumpulan data yaitu berupa observasi,

wawancara, studi literatur, dan analisis data.

15

16

3.3.1 Observasi

Observasi sebagai suatu proses memahami dan mendalami suatu objek

secara detail dengan terjun langsung ke lapangan. Teknik pengumpulan data

dengan cara observasi dalam rangka penyusunan tugas akhir ini dilakukan dalam

bentuk analisis berupa analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif merupakan analisis

yang

ditentukan

berdasarkan

jumlah

atau

kadar

pada

suatu

bahan

dengan

menggunakan rumus perhitungan persentase broken nut dan oil losses.

3.3.2 Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan

cara tanya jawab langsung dengan pihak terkait (perusahaan) dan karyawan

lainnya yang bersangkutan dengan data-data yang dibutuhkan dalam penulisan

laporan.

3.3.3

Studi Literatur

Studi literatur dilakukan untuk mendapatkan data-data serta teori-teori

yang

berhubungan

dengan

produksi

kelapa

sawit

khususnya

mengenai

pengempaan dan quality control terhadap ampas kempa berdasarkan buku, jurnal,

skripsi, laporan, dan tugas akhir.

3.3.4 Analisis Data

Analisis data yang dilakukan berupa analisis deskriptif dengan merangkum

data dalam bentuk grafik sehingga mudah untuk dibaca dan dipahami serta mudah

dalam menarik sebuah kesimpulan.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengambilan Sampel

Sampel ampas kempa (palm press cake) diambil dari mesin pengempa

(screw press) yang berbeda secara acak. Pengambilan sampel dilakukan dari sudut

kanan, kiri, dan tengah corong pengeluaran ampas kempa setiap 1 jam selama

proses berlangsung. Sampel ditampung disebuah karung pengumpul yang diberi

kode, kemudian pada akhir shift, sampel diaduk hingga homogen dan diambil

sebanyak 1 kg untuk dianalisis. Persiapan sampel untuk analisis dapat dilihat pada

Gambar 3.

Persiapan sampel untuk analisis dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Persiapan sampel untuk analisis 4.2

Gambar 3. Persiapan sampel untuk analisis

4.2 Analisis

Analisis quality control pada ampas kempa bertujuan untuk mengetahui

apakah persentase broken nut dan oil losses masih berada pada standar yang

ditetapkan perusahaan atau sebaliknya. Norilia (2008) menyatakan bahwa dengan

diketahuinya

presentase

losses

ampas

17

kempa,

maka

dapat

diketahui

pula

18

keefisienan dan keefektifan kerja dari mesin pengempa (screw press) tersebut.

Berikut standar losses ampas kempa di PT Steelindo Wahana Perkasa yang dapat

dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Standar oil losses dan broken nut

No

Parameter

Maksimum (%)

1 Kehilangan minyak dalam serabut (oil losses in fibre)

8

2 Biji pecah (broken nut)

20

Sumber: PT Steelindo Wahana Perkasa (2011)

4.2.1 Broken nut

Neoh

et

al.,

(2011)

menyatakan

bahwa

ampas

kempa

merupakan

campuran yang terdiri dari serabut daging buah, biji utuh, dan biji pecah (inti

sawit utuh, inti sawit pecah, cangkang, dan serpihannya). Untuk mengetahui

persentase broken nut, sampel ampas kempa dipisahkan terlebih dahulu dari

ampas serabut (press fibre) yang dapat dilihat pada gambar 4. Ampas serabut hasil

pemisahan digunakan untuk analisis oil losses.

hasil pemisahan digunakan untuk analisis oil losses. Gambar 4. Pemisahan biji ( nut ) dari ampas

Gambar 4. Pemisahan biji (nut) dari ampas serabut (press fibre)

19

Tahap selanjutnya adalah menganalisis komposisi biji sampel dengan cara

dipisahkan secara manual dan ditimbang hingga didapatkan berat biji utuh dan biji

pecah (inti sawit utuh, inti sawit pecah, cangkang dan serpihannya). Selanjutnya

dihitung total biji dengan cara menjumlahkan biji utuh dan biji pecah. Dengan

demikian persentase broken nut dapat dihitung dengan mengikuti persamaan:

% broken nut = BN × 100 TN Keterangan;
% broken nut = BN × 100
TN
Keterangan;

BN : Total biji pecah (g)

TN : Total keseluruhan biji (g)

 

23/03/19

 

13.8

Tanggal Analisis

22/03/19

 

9.4

21/03/19

 

14.5

20/03/19

 

13.6

19/03/19

 

8.1

 

18/03/19

 

14.2

 

0

5

10

15

20

  13.6 19/03/19   8.1   18/03/19   14.2   0 5 10 15 20 Broken

Broken nut (%)

Gambar 5. Grafik hasil analisis broken nut

Nwankwojike et al., (2011) menyatakan bahwa dalam proses pengepresan

secara

mekanis

pada

pengesktraksian

minyak

sawit,

masalah

pecahnya

biji

(broken nut) merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Kendati demikian,

masalah tersebut harus tetap dikendalikan guna menghindari rendahnya rendemen

inti sawit (palm kernel) yang dihasilkan. Berdasarkan hal tersebut, umumnya

20

pabrik pengolahan kelapa sawit menetapkan standar maksimal broken nut sebagai

tolak ukur untuk menjaga stabilitas rendemen inti sawit (palm kernel).

Berdasarkan standar losses di PT Steelindo Wahana Perkasa, maksimum

broken nut pada stasiun pengempa adalah 20% dari kapasitas pengolahan kelapa

sawit per harinya. Sedangkan dari analisis yang telah dilakukan, diperoleh hasil

persentase broken nut sebesar 14,2%, 8,1%, 13,6%, 14,5%, 9,4%, dan 13,8%

(Gambar

5). Artinya

persentase

broken

nut

tersebut

sesuai

dengan

standar

perusahaan yaitu <20% meskipun persentase yang didapatkan setiap harinya

terjadi

kenaikan

dan

penurunan.

Hal

ini

disebabkan

oleh

beberapa

faktor,

diantaranya bahan baku yang diolah dan tekanan pada screw press.

Stephen dan Emmanuel (2009) menyatakan bahwa faktor bahan baku yang

berkontribusi

adalah

pada varietas

buah,

dimana buah

dengan

jenis

tenera

mempunyai ketebalan cangkang yang sangat tipis sehingga rentan pecah pada saat

proses pengepresan atau pengempaan. Sementara menurut Nwankwojike et al.,

(2011), persentase broken nut dipengaruhi oleh faktor tekanan pada

mesin

pengempa (screw

press) dimana semakin

tinggi

tekanan

pada

suatu

mesin

pengempa maka akan menyebabkan jumlah biji pecah (broken nut) semakin

meningkat pula. Adapun penambahan tekanan umumnya dilakukan dalam usaha

memperkecil losses minyak.

Selain

menyebabkan

penurunan

rendemen

inti

sawit

(palm

kernel),

tingginya persentase broken nut juga akan berpengaruh terhadap CPO yang

dihasilkan. Hal ini berdasarkan penelitian Muthurajah (2002), dimana

pada

kondisi broken nut yang berlebihan maka akan menyebabkan biji yang pecah

tersebut ikut terekstrak pada proses pengepresan atau pengempaan. Keadaan

21

demikian menyebabkan pengaruh negatif terhadap kualitas CPO, dimana biji akan

mengeluarkan minyak inti sawit atau PKO (Palm Kernel Oil) yang kemudian ikut

tercampur bersama CPO.

4.2.2 Oil Losses

Ahmad (2009) menyatakan bahwa salah satu metode

yang biasanya

digunakan untuk ekstraksi minyak adalah sokletasi. Hal ini dikarenakan pelarut

yang digunakan lebih sedikit dan hasil ekstraksi yang dialirkan melalui sifon akan

tertampung dalam labu didih. Langkah pertama yang dilakukan dalam analisis oil

losses adalah menggiling sampel press fibre menggunakan rotary chopper yang

dapat dilihat pada Gambar 6. Al-Sumri et al., (2016) menyatakan bahwa fungsi

dari penggilingan adalah untuk menghancurkan struktur padatan sampel sehingga

mempermudah

penetrasi

ekstraksi yang maksimal.

pelarut

kedalam

sampel

untuk

memperoleh

hasil

yang maksimal. pelarut kedalam sampel untuk memperoleh hasil Gambar 6. Proses penggilingan sampel Sampel yang telah

Gambar 6. Proses penggilingan sampel

Sampel yang telah digiling, ditimbang sebanyak 10 g dan dikeringkan

dalam

microwave

oven

pada

suhu

50 o C

selama

25

menit.

Sampel

kering

22

didinginkan dalam desikator sebelum ditimbang kembali beratnya (W). Sampel

kering yang telah diketahui beratnya dimasukkan kedalam timbel dan ditutup

dengan kapas untuk mencegah sampel merembes keluar bersama pelarut. Menurut

Achrom (2010), pelarut akan tetap menembus timbel dan kapas karena sifatnya

yang cair dan ukuran molekulnya lebih kecil dari pori-pori timbel dan kapas.

Langkah selanjutnya yaitu memasukkan sebanyak 150 ml pelarut ke dalam

labu didih yang telah diketahui berat kosongnya (W1), kemudian dipanaskan.

Pelarut yang digunakan adalah heksana yang mempunyai titik didih rendah

sehingga lebih mudah menguap apabila dipanaskan (Achrom, 2010). Kadji et al.,

(2013)

menyatakan

bahwa

perlakuan

panas

sangat

diperlukan

pada

proses

sokletasi, tujuannya agar dapat mempercepat penguapan dan sirkulasi pelarut

sehingga meningkatkan kemampuan pelarut untuk mengekstraksi minyak yang

tidak larut dalam kondisi suhu kamar. Adapun kontak antara pelarut dengan

sampel yang terjadi secara berulang akibat sirkulasi pelarut,akan memberikan

hasil ekstraksi yang lebih maksimal. Ekstraksi metode sokletasi dapat dilihat pada

Gambar 7.

lebih maksimal. Ekstraksi metode sokletasi dapat dilihat pada Gambar 7. Gambar 7. Proses ekstraksi CPO metode

Gambar 7. Proses ekstraksi CPO metode sokletasi

23

Pengekstraksian metode sokletasi relatif singkat, selesai dalam waktu 1

hingga 2 jam berdasarkan literatur pada umumnya. Nandan dan Meena (2015)

menyatakan bahwa ekstraksi sokletasi menghasilkan 2 fase, yaitu rafinat atau

padatan sampel yang telah diekstrak minyaknya dan hasil akhir ekstraksi berupa

minyak yang tertampung didalam labu didih. Hasil akhir ekstraksi dapat dilihat

pada Gambar 8.

didih. Hasil akhir ekstraksi dapat dilihat pada Gambar 8. Gambar 8. Hasil akhir ekstraksi Hasil ekstraksi

Gambar 8. Hasil akhir ekstraksi

Hasil ekstraksi dikeringkan di dalam oven pada suhu 105 o C selama 1 jam

untuk menguapkan sisa pelarut yang masih tercampur dengan CPO. Selanjutnya

labu didih berisi CPO didinginkan dalam desikator kemudian ditimbang kembali

beratnya (W2). Persentase oil losses dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

% oil losses = W2−W1 × 100 W Keterangan;
% oil losses = W2−W1 × 100
W
Keterangan;

W2

: Labu berisi minyak (g)

W1

: Labu kosong (g)

W

: Sampel kering (g)

24

 

23/03/19

 

7.64

Tanggal Analisis

22/03/19

 

11.45

21/03/19

 

7.96

20/03/19

7.48

19/03/19

 

12.25

 
 

18/03/19

 

7.85

 

0

5

10

15

7.48 19/03/19   12.25     18/03/19   7.85   0 5 10 15 Oil losses

Oil losses (%)

Gambar 9. Grafik hasil analisis oil losses

Setiawan

dan

Syafri

(2017)

menyatakan

bahwa

keefisienan

proses

pengempaan dapat dilihat dari jumlah rendemen CPO yang dihasilkan. Untuk

menjaga

stabilitas

rendemen,

maka

suatu

pabrik

harus

menekan

oil

losses

seminimal mungkin atau sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sedangkan

berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan didapat hasil persentase sebesar

7,85%, 12,25%, 7,48%, 7,96%, 11,45%, dan 7,64% (Gambar 9). Beberapa sampel

telah memenuhi standar oil losses yang telah ditetapkan yaitu < 8%, namun

terdapat pula beberapa yang melebihi standar perusahaan.

Menurut Wahyudi et al., (2012), faktor dominan penyebab oil losses

ampas serabut yang melebihi standar adalah tekanan mesin pengempa yang

digunakan.

Dalam

keadaan

tekanan

yang rendah,

maka

pengutipan

minyak

umumnya sangat rendah pula sehingga menyebabkan tingginya oil losses pada

ampas

serabut.

Dengan

demikian,

terdapat

korelasi

antara

tekanan

mesin

pengempa (screw press) terhadap losses baik minyak maupun biji pada proses

pengempaan.

25

Hubungan

antara

tekanan

mesin

pengempa

(screw

press)

terhadap

persentase losses yaitu semakin tinggi tekanan yang dipakai maka oil losses pada

ampas serabut semakin menurun, namun broken nut justru meningkat. Sebaliknya,

jika tekanan yang dipakai rendah maka oil losses pada ampas serabut akan

semakin meningkat dan persentase broken nut menurun (Hasballah dan Siahaan,

2018). Korelasi antara tekanan alat pengempa dengan losses dapat dilihat dari

hasil analisis pada tanggal 19 dan 22 Maret 2019, dimana diperoleh oil losses

yang melebihi standar perusahaan dengan jumlah sebesar 12,25% dan 11,45%

(Gambar 9) dengan persentase broken nut sebesar 8,1% dan 9,4% (Gambar 5).

Norilia (2008) menyatakan bahwa kisaran persentase broken nut umumnya

adalah sebesar 10-15% dengan oil losses maksimum 8% pada proses pengempaan

minyak kasar dalam kondisi dan tekanan screw press yang optimal. Sedangkan

berdasarkan hasil analisis pada tanggal 19 dan 22 Maret 2019, dapat dikatakan

proses pengempaan pada dua (2) mesin screw press tersebut masih belum efektif

karena persentase oil losses yang lebih dari 8%. Hal tersebut harus segera

dikendalikan dengan cara mengontrol stabilitas tekanan tetap sesuai dengan

standar operasional screw press (Nwankwojike et al., 2011)

Menurut Ilham (2016), disamping menjaga stabilitas tekanan pada mesin

pengempa, pengendalian oil losses pada ampas serabut juga dilakukan dengan

cara

optimalisasi

proses

pelumatan

brondolan

di

digester.

Hal

yang

perlu

diperhatikan yaitu volume dan temperatur digester. Volume digester harus terisi

minimal

terisi

80%

dari

kapasitas

digester.

Volume

isian

yang

kurang

menyebabkan brondolan tidak teraduk dengan sempurna sehingga oil losses dalam

ampas akan tinggi. Selanjutnya temperatur aliran steam dipertahankan agar tidak

26

kurang dari suhu 90 o C agar dapat bekerja secara optimal mengeluarkan minyak

kasar

yang

terdapat

di

memperkecil oil losses.

dalam

sel-sel

minyak

pada

buah

sawit

sehingga

BAB V. KESIMPULAN

Berdasarkan

hasil

sebagai berikut:

dan

pembahasan,

maka

dapat

diambil

kesimpulan

1. Quality control ampas kempa (palm press cake) dilakukan dengan cara

analisis laboratorium terhadap dua parameter kontrol yakni broken nut dan oil

losses.

2. Berdasarkan hasil analisis broken nut, diperoleh persentase sebesar 14,2%,

8,1%, 13,6%, 14,5%, 9,4%, dan 13,8%. Persentase broken nut telah memenuhi

standar perusahaan yaitu < 20%.

3. Berdasarkan hasil analisis oil losses, diperoleh persentase sebesar 7,85%,

12,25%,

7,48%,

7,96%,

11,45%,

dan

7,64%.

Beberapa

sampel

telah

memenuhi standar oil losses yang telah ditetapkan yaitu < 8%, namun terdapat

pula beberapa yang melebihi standar perusahaan.

27

Achrom,

M.

DAFTAR PUSTAKA

2010. Kajian

Potensi

Irradiasi

Sinar

Gamma

Sebagai

Metode

Perlakuan Karantina Tumbuhan. Kementrian Pertanian: Bekasi.

Agus, A. dan Widodoro. 2013. Berkebun Kelapa Sawit si Emas Cair. Agro Media Pustaka: Jakarta.

Ahmad,

A.

2009.

Extraction,

Separation

and

Identification

of

Chemical

Ingredients of

Elephantopus

Scaber

L.

Using

Factorial

Design

of

Experiment. International journal of chemistry. 1(10): 37-49.

Al-Sumri, A., N. Al-Siyabi, R. Al-Saadi, S. Al-Rasbi, dan A. Al-Dallal. 2017. Study on the Extraction of Date Palm Seed Oil using Soxhlet Apparatus. International Journal of Scientific & Engineering Research. 7 (12): 1266-

1270.

Ayustaningwarno, F. 2012. Proses Pengolahan dan Aplikasi Minyak Sawit Merah pada Industri Pangan. Vitasphere. vol. 2: 1-11.

Bachtiyar, C. 2011. Setting Parameter Mesin Press dengan Metode Respon Permukaan Pada Pabrik Kelapa Sawit. Jurnal Riset Industri 5(2) : 153-160.

Basyuni, M., N. Amri., L.A.P. Putri., I. Syahputra., dan D. Arifiyanto. 2017. Characteristics of Fresh Fruit Bunch Yield and the Physicochemical Qualities of Palm Oil during Storage in North Sumatra, Indonesia. Indones. J. Chem. 17 (2): 182-190.

Deviani, V. dan Marwiji. 2014. Analisis Kehilangan Minyak pada Crude Palm Oil (CPO) dengan Menggunakan Metode Statistical Process Control. Jurnal Ilmiah Teknik Industri. 23 (1): 28-42.

Elvandra, A.R. 2015. Pengaruh Sumber Tandan Buah Segar Terhadap Oil Loss dan Kualitas Ekstrak Sawit. [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Fauzi, Y. 2012. Kelapa Sawit: Budidaya, Pemanfaatan Hasil & Limbah, Analisis Usaha & Pemasaran. Penebar Swadaya: Jakarta.

Ferryno, R., A. Mulyadi, dan Nursyirwani. 2017. Analisis Hubungan Kehilangan Produk (Losses) Dengan Opasitas Boiler dan Dampak Kualitas Udara Ambien Terhadap Kapasitas Fungsi Paru Karyawan PKS (Studi Komparatif Pada PT AIP dan PT BNS). Jurnal Ilmu Lingkungan. 11 (1):

1-13.

Gunstone, F. 2011. Vegetable Oils in Food Technology: Composition, Properties and Uses. Electronic book: Blackwell Publishing.

Hasballah, T. dan E.W.B. Siahaan. 2018. Pengaruh Tekanan Screw Press Pada Proses Pengepresan Daging Buah Menjadi Crude Palm Oil. Jurnal Darma Agung. 26 (1): 722-729

Heryani, H. dan A. Nugroho. 2017. CCP dan CP Pada Proses Pengolahan CPO dan CPKO. Deepublish: Yogyakarta.

Ilham, M. 2016. Pengaruh Proses Pelumatan (Digester) dan Pengepresan (Screw Press) Terhadap Kehilangan Minyak Sawit pada Ampas Press di Unit Usaha PSB 1 Pinang Tinggi PT Perkebunan Nusantara VI (PERSERO). [Laporan Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan]. Teknologi Hasil Pertanian. Jambi.

Instruksi Kerja Untuk Pengujian Laboratorium di PT Steelindo Wahana Perkasa. 2015. SWP POM: Belitung Timur.

Juni, S. 2016. Pengaruh Waktu Dan Tekanan Uap Perebusan Tandan Buah Segar (TBS) Terhadap Kehilangan Minyak (Oil Losses) di PT Murini Sam-Sam Ii Pelintung Dumai. Prosiding Celscitech. Vol 1: 12-19.

Kadji, M.H., M.R.J. Runtuwene., dan G. Citraningtyas. 2013. Uji Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan dari Ekstrak Etanol Daun Soyogik (Saurauia bracteosa DC). FMIPAUNSRAT. Manado.

Kassim, M.S., W. Ishak., R.R Abdul, dan K.B. Siti. 2012. Oil Palm Fresh Fruit Bunches (FFB) Growth Determination System to Support Harvesting Operation. Journal of Food, Agriculture & Environment. 10(2): 620-625.

Larasati, N., S. Chasanah., S. Machmudah, dan S. Winardi. 2016. Studi Analisis Ekonomi Pabrik CPO (Crude Palm Oil) dan PKO (Palm Kernel Oil) Dari Buah Kelapa Sawit. Jurnal Teknik ITS (5) 2: 212-215.

Luque de Castro, M.D. dan F. Priego-capote. 2017. Soxhlet Extraction. Journal of Chromatpgraphy A. 1217. Hlm. 2383-2389.

Majid, R.A., A.W. Mohamad, dan Y.C. May. 2012. Properties of Residual Palm Pressed Fibre Oil. Oil Palm Research Journal. 24: 1310-1317.

Manual Referensi Agronomi. 2008. Buku Pedoman Teknis Kelapa Sawit (Standar Operating Procedure Manual Agronomic Practice). Minamas Plantation:

Jakarta.

Mardhiah, A. 2013. Laporan Kerja Praktek di Pabrik Kelapa Sawit PT Perkebunan Nusantara-1 Tanjung Seumantoh Aceh Tamiang Menghitung Losses Inti Pada Fibre cyclone. Universitas Malikussaleh. Aceh.

Matthaus, B. 2012. Technological Innovations in Major World Oil Crops. Oil Technology. vol. 2.

Palm Oil Factory Hand Book, Palm Oil Res. Institute

Muthurajah, R.N. 2002.

Nandan, M.P. dan V. Meena. 2015. Extraction, Modelling and Purification of Flavonoids From Citrus Medica Peel. Int J Appl Sci Biotechnol. 3(4): 588-

591.

Neoh, B.K., Y.M. Thang, M.Z.M. Zain, dan A. Junaidi. 2011. Palm Pressed Fibre Oil: a New Opportunity For Premium Hardstock. International Food Research Journal. 18: 769-773.

Nilasari. 2004. Studi Aktifitas Asam Lemak Omega-3 Ikan Laut pada Mencit Sebagai Model Hewan Percobaan. Bandung: Buletin Teknologi Hasil Perikanan 7(1): 6877.

Noerhidajat., R. Yunus., Z.A. Zurina., S. Syafiie., V. Ramanaidu, dan U. Rashid. 2016. Effect of High Pressurized Sterilization on Oil Palm Fruit Digestion Operation. International Food Research Journal. 23(1): 129-134.

Norilia, A.B.N. 2008. Report of Industrial Training at Felda Palm Industries Mempaga Palm Oil Mill Karak, Pahang Darul Makmur, Malaysia. Hlm.

18-19.

Nurhidayati, R. 2010.Analisis Mutu Kernel Palm Dengan Parameter Kadar ALB (Asam Lemak Bebas), Kadar Air Dan Kadar Zat Pengotor Di Pabrik Kelapa Sawit PT Perkebunan Nusantara V Tandun Kabupaten Kampar. [Skripsi]. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Pekanbaru.

Nwankwojike

B.N.,

A.O.

Odukwe,

dan

J.C.

Agunwamba.

Modification

of

Sequence of Unit Operations in Mechanized Palm Fruit Processing.

Nigerian Journal of Technology. 30 (3): 41-49.

Pahan I. 2008. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Edisi Keenam. Penerbit Swadaya:

Jakarta.

Prasada M.T.E. dan N. Eska. 2015. Analisis Kehilangan Minyak (Oil Losses) di Stasiun Press Pabrik Kelapa Sawit. 12 (2).

Purba, T.R. 2009. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Losses Minyak Ampas Press pada Pabrik Kelapa Sawit Palm Oil Mill Kisaran PT Bakrie Sumatera Plantation (BSP) Kapasitas 45 Ton TBS/jam. [Tugas Akhir]. Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agribisnis Pertanian. Medan.

Rene,

Kulit

N.M.L.

2011.

Mempelajari

Ekstraksi

Pigmen

Antosianin

dari

Manggis dengan Berbagai Jenis Pelarut. Bandung: Universitas Pasundan.

Renta, 2015. Analisis Optimalisasi Pengadaan Tandan Buah Segar (TBS) Sebagai Bahan Baku Produksi Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel (PK) DI PMKS Sei kandang PT Asiatic Persada-AMS Group. Jurnal MIX, 5(3):

347-367.

Saragih, V.D., K.M. Melaca, R. Darmawan, dan N. Hendrianie. 2018. Pra Desain Pabrik CPO (Crude Palm Oil) dan PKO (Palm Kernel Oil) Dari Buah Kelapa Sawit. Jurnal Teknik ITS 7(1): 181-183.

Sasaran Mutu, Standar Losses dan Temperatur Pengoperasian Mesin di PT Steelindo Wahana Perkasa. 2011. SWP POM: Belitung Timur.

Setiawan, A. dan Syafri. 2017. Pengaruh Perubahan Dimensi dan Jenis Material Terhadap Umur Worm Screw Press type AP-17 pada PTPN V Sei. Garo. Jom FTEKNIK 4(2): 1-6.

Sri, S.H., E.R. Gunawan, L. Kurniawati, Murniati, dan L.H. Budiarto. 2013. Analisis Asam Lemak Omega-3 dari Minyak Kepala Ikan Sunglir (Elagatis bipinnulata) melalui Esterifikasi Enzimatik. Jurnal Natur Indonesia 15(2): 75-83.

Stephen, K.A. dan S. Emmanuel. 2009. Modification in the design of already existing Palm nut-Fibre Separator. African Journal of Environmental Science and Technology. 3 (11): 387-398.

Suandi, A., N.I. Supardi, dan A. Puspawan. 2016. Analisis Pengolahan Kelapa Sawit dengan Kapasitas Olah 30 ton/jam Di PT BIO Nusantara Teknologi. Teknosia 2 (17): 12-19.

Subekti, P., E. Elfiano., L. Hakim., A, Rizki, dan S, Anwar. 2017. Identifying Initial Damage of Palm Oil Screw Press of Drive Shaft. Jurnal Fakultas Teknik Universitas Pasir Pengaraian. 9(2): 134-138.

Susanti, D. dan Rahmadani. 2015. Penganalisisan Standar Industri CPO Dan Kernel di PT Sinar Sawit Lestari Damuli. [Laporan Praktik Kerja Lapang]. Universitas Negeri Medan. Medan.

Tanuwijaya, Y. 2017. Analisis Quality Control di Bagian Produksi pada PT Galaxy Perkasa. AGORA 5 (3).

Tincliffe, H. dan D. Webber. 2013. Orangutans, Deforestation and the Problem of Palm Oil. Journal of Chemical Engineer. 858: 24-25.

Verheye, W. 2011. Growth and Production of Oil Palm. Soils, Plant Growth and Crop Production Journal. Vol. 2.

Wahyudi, J., R.A. Renjani, dan Hermentoro. 2012. Analisis Oil Losses pada Fiber dan Broken Nut di Unit Screw Press dengan Variasi Tekanan. Prosiding Seminar Nasional Perteta. Manajemen Teknik Pertanian. Hlm. 399-404.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Diagram alir pengolahan kelapa sawit dan titik pengambilan sampel

TBSPerebusan

Perebusan

Penebahan
Penebahan

Penebahan

Penebahan
Penebahan
Penebahan
Penebahan
Penebahan
Tandan kosong
Tandan
kosong
Brondolan
Brondolan

Pelumatan

TBS Perebusan Penebahan Tandan kosong Brondolan Pelumatan Pengempaan Minyak kasar Ampas kempa Pengutipan inti
Pengempaan

Pengempaan

Pengempaan
Pengempaan
Penebahan Tandan kosong Brondolan Pelumatan Pengempaan Minyak kasar Ampas kempa Pengutipan inti sawit Titik
Penebahan Tandan kosong Brondolan Pelumatan Pengempaan Minyak kasar Ampas kempa Pengutipan inti sawit Titik
Minyak kasar
Minyak
kasar
Ampas kempa
Ampas
kempa

Pengutipan inti

sawit

Titik

pengambilan

sampel

Inti sawit
Inti
sawit

Lampiran 2. Data analisis broken nut

No

Tanggal Analisis/Nomor Screw Press 18/03/1 9 19/03/19 20/03/19 21/03/19 22/03/19 23/03/19 Subject Line Line Line
Tanggal Analisis/Nomor Screw Press
18/03/1
9 19/03/19
20/03/19
21/03/19
22/03/19
23/03/19
Subject
Line
Line
Line
Line
Line
Line
6B
3A
4A
1B
5B
6A

1 Berat sampel (g)

2 Biji utuh (g)

3 Broken nut (g) Biji pecah Kernel utuh Kernel pecah Cangkang

4 Total broken nut (BN)

5 Total nut (TN)

6 % Broken nut=

(BN/TN)×100

7 Fibre (g)

1000

1000

1000

1000

1000

1000

356

450

355

358

441

360

26

20

35

34

20

32

12

10

6

6

10

10

10

5

11

16

7

9

11

5

4

5

9

7

59

40

56

61

46

58

415

490

411

419

487

418

14,2%

8,1%

13,6%

14,5%

9,4%

13,8%

585

510

589

581

513

582

Lampiran 3. Data analisis oil losses

Tanggal Analisis/Nomor Screw Press

18/03/19

19/03/19

20/03/19

21/03/19

22/03/19

23/03/19

No

Subject

Line

Line

Line

Line

Line

Line

 

6B

3A

4A

4A

1B

5B

6A

1 Berat sampel (g)

2 Sampel kering

(DS)

3 Berat labu

kosong (g)

4 Labu+ minyak

(g)

5 Oil content (OC)

6 % Oil losses=

(OC/DS) ×100

10,1505

10,0980

10,0208

10,1957

10,0229

10,1120

6,6285

6,1194

6,3155

6,4655

6,2627

6,3609

98,2514

101,8485

120,6189

121,4136

99,1249

101,4714

98,7717

102,5982

121,0916

121,9285

99,8376

101,9576

0,5203

0,7497

0,4727

0,5149

0,7127

0,4862

7,85%

12,25%

7,48%

7,96%

11,38%

7,64%

Lampiran 4. Foto tata cara pengambilan sampel

Lampiran 4. Foto tata cara pengambilan sampel 1. Mesin Screw Press 2. Pengambilan sampel 3. Pengumpulan

1. Mesin Screw Press

4. Foto tata cara pengambilan sampel 1. Mesin Screw Press 2. Pengambilan sampel 3. Pengumpulan sampel

2. Pengambilan sampel

sampel 1. Mesin Screw Press 2. Pengambilan sampel 3. Pengumpulan sampel Lampiran 5. Foto analisis broken

3. Pengumpulan sampel

Lampiran 5. Foto analisis broken nut

Screw Press 2. Pengambilan sampel 3. Pengumpulan sampel Lampiran 5. Foto analisis broken nut 1. Biji

1. Biji

Screw Press 2. Pengambilan sampel 3. Pengumpulan sampel Lampiran 5. Foto analisis broken nut 1. Biji

2. Biji utuh

3. Biji pecah 5. Kernel pecah Lampiran 6. Foto analisis oil losses 1. Sampel sebelum

3. Biji pecah

3. Biji pecah 5. Kernel pecah Lampiran 6. Foto analisis oil losses 1. Sampel sebelum dan

5. Kernel pecah

Lampiran 6. Foto analisis oil losses

pecah 5. Kernel pecah Lampiran 6. Foto analisis oil losses 1. Sampel sebelum dan sesudah digiling

1. Sampel sebelum dan sesudah digiling

6. Foto analisis oil losses 1. Sampel sebelum dan sesudah digiling 4. Kernel utuh 6. Cangkang

4. Kernel utuh

6. Foto analisis oil losses 1. Sampel sebelum dan sesudah digiling 4. Kernel utuh 6. Cangkang

6. Cangkang

6. Foto analisis oil losses 1. Sampel sebelum dan sesudah digiling 4. Kernel utuh 6. Cangkang

2. Pengeringan sampel

3. Sampel dimasukkan ke dalam timbel 5. Proses ekstraksi 4. Pengisian solvent 6. Penimbangan labu

3. Sampel dimasukkan ke dalam timbel

3. Sampel dimasukkan ke dalam timbel 5. Proses ekstraksi 4. Pengisian solvent 6. Penimbangan labu +

5. Proses ekstraksi

3. Sampel dimasukkan ke dalam timbel 5. Proses ekstraksi 4. Pengisian solvent 6. Penimbangan labu +

4. Pengisian solvent

3. Sampel dimasukkan ke dalam timbel 5. Proses ekstraksi 4. Pengisian solvent 6. Penimbangan labu +

6. Penimbangan labu + minyak