Anda di halaman 1dari 8

RINGKASAN HASIL ANALISIS

PERKUATAN LERENG
A. Pemodelan Geometri Lereng

Geometri lereng dibuat berdasarkan gambar lokasi lereng seperti yang terdapat
pada Gambar 1.

Gambar 1. Geometri lereng

B. Data Tanah

Data tanah yang digunakan untuk melakukan evaluasi adalah data uji penetrasi
standar (SPT). Dalam analisis, hasil pengujian pada titik BH-2C (22) akan dijadikan
sebagai acuan karena dari tiga data tanah yang ada, titik BH-2C (22) merupakan
tanah dengan kondisi terburuk.

C. Input Parameter Pemodelan

Pemodelan dilakukan menggunakan bantuan program Plaxis. Input parameter yang


dibutuhkan antara lain: parameter tanah, parameter Ground Anchor dan
pembebanan

1
1. Input Parameter Tanah

Lapisan tanah dimodelakan menjadi lima lapisan berdasarkan data N-SPT.


Parameter yang dibutuhkan dalam analisis menggunakan Plaxis adalah berat
volume (γ), kohesi (c), sudut gesek internal (), modulus elastisitas (E) dan rasio
poisson (υ). Parameter berat volume (γ), kohesi (c) dan sudut gesek internal ()
diperoleh berdasarkan korelasi antara nilai N-SPT yang disarankan oleh Bowless
(1984) yang terdapat pada Tabel 1. Nilai modulus elastisitas (E) dihubungkan
dengan nilai N-SPT menggunakan persamaan yang usulkan oleh Mitchel dan
Gardner (1975, dalam Hardiyatmo, 2010)

E  10( N  15) k/ft2 (untuk pasir) (1)


E  6( N  5) k/ft2 (untuk lempung) (2)

Dengan 1 k/ft2 = 4,822 t/m2 dan N adalah jumlah pukulan dalam uji SPT

Nilai poisson rasio (υ) menurut Bowles (1977 dalam Hardiyatmo, 2010) untuk
lempung tak jenuh 0,10-0,30, lempung berpasir 0,20-0,30, lanau 0,30-0,35 dan
pasir 0,20-0,40. Ringkasan hasil korelasi terdapat pada Tabel 2.

Tabel 1 Hubungan nilai N-SPT dengan nilai berat volume dan kuat geser tanah
(Bowles, 1984)

Tanah Tidak Kohesif


N 0-10 11-30 30-50 > 50
Berat isi (γ),
12-16 14-18 16-20 18-23
kN/m3
Sudut gesek
25-32 28-36 30-40 > 35
(φ)
Keadaan Lepas Sedang Padat Sangat padat
Tanah Kohesif
N <4 4-6 6-15 16-25 > 25
Berat isi (γ),
14-18 16-18 16-18 16-18 > 20
kN/m3
Cu (kPa) < 25 20-50 30-60 40-200 > 100
Keadaan Sanga lunak Lunak Sedang Kaku (stiff) Keras

2
Tabel 2. Ringkasan hasil korelasi lapisan tanah
Kedalaman c γsat γunsat
Lapisan N-SPT E (kPa) ν Ket
(m) (kPa) φ( )
o (kN/m ) (kN/m3)
3

1 0 - 5 5 19 3.74 16 15 2893.2 0.3 Lempung berpasir


2 5 - 12 14 5 28 17 16 13983.8 0.3 Pasir berlempung
3 12 - 18 16 60 0 18 17 6075.72 0.3 Lempung berpasir
4 18 - 28 23 5 30 18 17 18323.6 0.3 Pasir berlempung
5 28 - 30 25 80 0 19 18 8679.6 0.3 Lempung

2. Input Parameter Ground Anchor

Ground anchor dimodelkan menggunakan tools node to node ancor untuk


memodelkan free length dan geogrid untuk memodelkan fixed length. Input
parameter Ground Anchor terdapat pada Tabel 3.

Tabel 3 Input parameter Ground Anchor


Fixed Length
Diameter strand(m) D 0.2
Jumlah strand Bh 4
Luas (m2) A 0.0314
Mutu Beton (Mpa) Fc 33
Modulus elastisitas (Kpa) E 2.70E+07
Axial Stiffness (kN/m) EA 8.48E+05
Jarak (m) s 3
Input kekakuan Plaxis (kN/m) EA 2.83E+05
Free Length
Diameter (m) D 0.0127
Luas (m2) A 0.000405
Modulus elastisitas (Kpa) E 2.00E+08
Axial Stiffness (3n/m) EA 8.11E+04

Ground anchor dimodelkan dengan jarak vertikal 3 m serta spasi 3 m. Total panjang
Ground anchor adalah 9 m dengan panjang free length 6 m dan fixed length 3 m.
Gambar konfigurasi pemodelan Ground Anchor terdapat pada Gambar 2 dan
Gambar 3.

3
Gambar 2 Konfigurasi pemodelan Ground Anchor

Gambar 3 Spasi Ground Anchor

4
D. Pembebanan

Beban yang bekerja pada lereng berupa beban tanki minyak sawti dengan kapasitas
8.000 liter. Berat volume minyak sawit adalah 0,9 gr/cm3 atau sama dengan 9
kN/m3. Sehingga beban yang bekerja pada lereng adalah:

 v 98
Beban merata    18  20 kN / m 2
lebar 4

E. Pemodelan Pada Plaxis

Berdasarkan data tanah, serta geometri lereng dibuat model pada plaxis. Ground
Anchor dibuat 2 baris dan spasi 3 m seperti yang terdapat pada Gambar 2 dan
Gambar 3. Hasil pemodelan Ground anchor pada program Plaxis terdapat pada
Gambar 4.

Gambar 4 Pemodelan Ground Anchor pada Plaxis

5
F. Hasil Analisis

1. Kondisi Eksisiting

Hasil analisis kondisi eksisiting diperoleh nilai faktor aman sebesar 1,20. Nilai ini
di anggap mewakili faktor aman kondisi lereng eksisiting disebabkan kondisi saat
ini belum terjadi keruntuhan pada lereng. Hasil analisis faktor aman kondisi
eksisiting terdapat pada Gambar 5.

Gambar 5 Analisis faktor aman kondisi eksisiting

2. Analisis faktor aman setelah pemasangan Ground Anchor

Hasil analisis faktor aman setelah pemasangan ground anchor terdapat pada
Gambar 6. Hasil analisis menunjukkan terjadi peningkatan faktor mana menjadi
1,32. Selain itu pada Gambar 6 terlihat fixed length berada diluar bidang gelincir
lereng.

6
Gambar 6 Hasil analisis faktor aman setelah pemasangan Ground Anchor

G. Kesimpulan

1. Konfigurasi Ground Anchor yang direkomendasikan adalah sebagai


berikut:
a. Digunakan 4 buah strand dengan diameter per strand adalah 0,5 inch.
b. Panjang Ground Anchor adalah 9 m dengan panjang free length 6 m dan
panjang fixed length adalah 3 m. Ground anchor dipasang 30o dari bidang
horizontal.
c. Groung anchor dimdelkan 2 baris dengan jarak vertikal 3 m serta jarak
horizontal (spasi) 3 m.
2. Hasil analisis dengan konfigurasi seperti pada poin 1 diperolah peningkatan
faktor aman dari kondisi eksisting yaitu dari 1,20 pada kondisi eksisting
menjadi 1,32 setelah ditambahkan perkuatan berupa Ground Anchor.