Anda di halaman 1dari 12

SEJARAH TURUNNYA AL-QUR’AN

Makalah ini untuk memenuhi tugas Studi Qu’an


Dosen Pengampu
Ahmad Fauzan Mujianto, M. Ag

DISUSUN OLEH:
1. EVY NUR ROHMAWATY (932505319)
2. NUR FAHIMATUR (932503919)
3. TIKA ISLAMIATI A. (932506519)

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB (PBA)


FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) KEDIRI
2019
BAB 1
PENDAHULUAN
Pembahasan mengenai turunnya Al-Qur’an al karim ini sangat penting, sebab bahasan
tersebut dapat menginformasikan proses penurunan al-Qur’an al karim. Yakni al-Qur’an
diturunkan, bagaimana, kepada siapa, bagaimana cara jibril menerima dari Allah, dan
bagaimana situasi dan kondisi Rasulullah SAW. Ketika menerima al-Qur’an dari jibril tidak
diragukan lagi bahwa pengetahuan tentang semua permasalahan diatas tergantung pada
keimanan bahwa al-Qur’an berasal dari Allah dan merupakan mu’jizat paling besar yang
diberikan kepada nabi, sebagaimana halnya kebanyakan kajian yang disebutkan dalam
disiplin ilmu ini tergantung pada pengetahuan terhadap penurunan al-Qur’an itu sendiri yang
merupakan dasar bagi ilmu-ilmu yang lain. Penegetahuan tentang dasar lebih diutamakan dari
pada pengetahuan tentang cabang atau bagaiannya1.

1
Muhammad bin muhammad abu syahbah,studi al-qur’an al karim,(bandung,pustaka setia,1992),75
BAB 11
PEMBAHASAN
1. AL-QUR’AN SEBAGAI WAHYU
a. Pengertian Wahyu
Wahyu terambil dari kata waha-yahi-wahyan (), yang secara harfiah berarti
suara, api, kecepatan, bisikan, rahasia, isyarat, tulisan,dan kitab. Didalam Al_Qur’an
kata wahyu sering disebut sebnyak 77 kali dalam bentuk kata kerja. Salah satu ayat
yang mengandung kata wahyu terdapat dalam QS. Al Nahl ayat 68:

Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah: “ buatlah sarang-sarang di bukit-bukit,


di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibuat manusia”.
Menurut al-sayyid Rasyid Ridha wahyu adalah suatu ilmu pengetahuan yang
mereka peroleh dalam dirinya (untuk para nabi) dengan tidak berijtihad (lebih dahulu)
yang disertai oleh suatu pengetahuan yang timbul dengan sendirinya dan diyakini
bahwa yang mencampakkan wahyu kedalam jiwa mereka ialah Allah yang maha
kuasa. Jadi, wahyu itu bukanlah suatu pengetahuan yang dapat dicari atau direkayasa,
melainkan datang dengan sendirinya sebagai pengetahuan yang Allah berikan kepada
orang-orang tertentu yang kemudian disebut nabi atau rasulnya2.
b. Cara-cara Penyampaian Wahyu kepada Nabi
Dalan QS. Al- Syura’ ayat 51, Allah SWT. Berfirman:

Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan
dia, kecuali dengan perantara wahyu atau dari belakang tabir atau dengan
mengutus seorang utusan atau (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan
seizin-Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha
Bijaksana.

2
Muhammad Amin,ulumul qur’an,(Depok,rajawali pers,2019),83
Ayat diatas menunjukkan tiga cara penyampaian wahyu Allah kepada Rasul dan
Nabi-Nya, yaitu:
1) Allah menanamkan pengetahuan kedalam jiwa Nabi tanpa melalui
perantara Malaikat.
2) Allah memperdengarkan suara dari balik tabir seperti yang dialami oleh
Nabi Musa a.s. ketika menerima pengangkatan kenabiannya.
3) Melalui seorang utusan, yaitu Malaikat. Dalam hal ini ada dua cara:
a) Nabi dapat melihat malaikat Jibril adakalanya dalam bentuk yang
asli(hal ini jarang terjadi) dan adakalnya Jibril menjelma sebagai
seorang manusia.
b) Nabi tidak melihat Jibril sewaktu menerima wahyu, akan tetapi
beliau mendengar suara seperti suara lebah atau gemrincingnya
suara lonceng pada waktu Jibril datang3.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa cara-cara penyampaian wahyu Allah
SWT. Pada para nabi itu pada hakikatnya melalui dua cara, yaitu:
1) Secara langsung, tidak melalui perantara malaikat.
Dalam hal ini ada dua macam:
a. Allah memberikan suatu pengetahuan kedalam jiwa nabi
b. Allah berbicara kepada nabi dari balik tabir, dengan maksut nabi
tidak melihat Dzat Allah.
2) Tidak secara langsung, yaitu melalui perantara jibril.
Dalam hal ini ada dua macam:
a. Nabi dapat melihat Jibril, dan dalam hal ini ada dua macam pula:
1. Jibril dilihat oleh Nabi dalam bentuk aslinya.
2. Jibril dilihat oleh Nabi dalam bentuk seorang manusia
b. Nabi tidak melihat Jibril sewaktu menerima wahyu4.
c. Kewahyuan Al-Qur’an
Bedasarkan pengertian wahyu berikut, proses cara-cara penurunannya
sebagaimana dijelaskan sebelum ini, maka tanpak jelas bahwa Al-Qur’an adalah
wahyu Allah SWT., baik dari sisi lafal maupun maknanya. Kaum muslimin
terutama para ahli ilmu-ilmu Al-Qur’annya, telah sepakat dalam mengakui dan
menyakini kewahyuan Al-Qur’an, baik lafal maupun maknanya meskipun mereka

3
Muhammad Amin,ulumul qur’an,(Depok,rajawali pers,2019),84
4
Muhammad Amin,ulumul qur’an,(Depok,rajawali pers,2019),85
berbeda-beda tentang tafsir atau penafsirannya terkait dengan beberapa ayat atau
kalimat tertentu. Itulah maksud dari kata-kata lafdzan wa-ma’nan yang hampir
selalu dilekatkan oleh para perumus takrif Al-Qur’an. Dengan kalimat lain,
kewahyuan Al-Qur’an tidak dapat diragukan dengan keraguan sekecil atau
seringan apapun. Sebaliknya, kewahyuan Al-Qur’an telah teruji sepanjang zaman
dan setiap kali mendapat keraguan atau bahkan penolakan dari siapapun. Tidak
sedikit orang atau pihak yang selalu saja mengusili Al-Qur’an dengan berbagai
upaya untuk mengelabuhi ummatan muslimatan supaya menjadi ragu atas
kewahyuan Al-Qur’an, namun semua dan setiap usaha itu tidak ada yang pernah
berhasil sampai kapanpun. Samapi hari ini dan insya Allah pasti sampai kapan
pun, kewahyuan Al=Qur’an akan tetap terjaga dan terpelihara dari gangguan atau
rong-rongan pihak mana pun. Sebaliknya, percetakan Al-Qur’an baik dari sisi
kualitas atau kuantitas kian hari semakin meningkat berlipat ganda5.
2. CARA DAN PROSES TURUNNYA AL-QUR’AN
a. Tahapan-tahapan Turunnya Al-Qur’an
Tahap-tahap turunnya al-Qur’an yang dimaksud adalah tertib dari fase-fase
disampaikan kitab suci Al-Qur’an, mulai dari sisi Allah SWT. Hingga
langsung kepada Nabi Muhammad SAW.
a. Tahapan pertama (al-tanazul al-awwal)
Tahapan pertama, al-Qur’an diturunkan atau ditempatkan ke Lauh al-
Mahfudz. Dalam wujud ini Al-Qur’an memiliki wujud asli yang kemudian
ditransformasikan dalam bahasa arab.
b. Tahapan kedua (al-tazzul al-tsani)
Tahapan ini adalah turunnya Al-Qur’an dari Lauh Mahfuzh ke bayt al-
Izzah di langit dunia.
Hikmah diturunkannya Al-Qur’andari Lauh Mahfuzh ke Bayt al-Izzah ini
setidaknya ada tiga hal, yaitu:
a. Menunjukkan kehebatan dan kemukjizatan Al-Qur’an yang tidak
diturunkan seperti kitab suci yang lain.
b. Menjelaskan kebesaran Nabi Muhammad SAW. Sebagai penerima
wahyu yang tidak sekali terima.

5
Muhammad Amin,ulumul qur’an,(Depok,rajawali pers,2019),91
c. Memberitahukan kepada para malikat dan para nabi serta rasul
terdahulu mengenai kemuliaan dan ketinggian Nabi Muhammad SAW
sebagai rasul terakhir.
c. Tahapan ketiga
Tahapan diturunkannya Al-Qur’an dari Bayt al-Izzah di langit dunia,
kemudian disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Secara langsung
melalui malaikat Jibril.
Firman Allah dalam QS. Asy-Syu’ara’ Ayat 192-195 menunjukkan bahwa
Al-Qur’an diturunkan pada suatu hari yang penuh berkah, padahal al-
Qur’an diturunkan kepada Rasulullah selama 23 tahun. Hal ini tidak
bertentangan, namun para ulama mempunyai beberapa madhab, yaitu:
a. Madhab pertama, pendapat ibnu Abbas dan ula lain, bahwa turunnya
al-Qur’an dalam kedua ayat diatas maksudnya ialah turunnya al-
Qur’an sekaligus ke bayt al-Izzah di langit dunia agar para mailat
menghormati kebesarannya. Kemudian al-Qur’an diturunkan kepada
Nabi Muhammad secara bertahap lewat Maikat Jibril.
b. Madhab kedua yang diriwayatkan oleh Asy-Sya’bi, menurut beliau
kedua ayat diatas ialah permulaan turunnya al-Qur’an yaitu dimulai
pada malam Lailatul Qadr di bulan Ramadhan. Kemudian turunnya
berlanjut secra bertahap sesuai dengan kejadian peristiwa 23 tahun.
c. Madhab ketiga, sebagian ulama mengatakan bahwa al-Qur’an itu
diturunkan ke langit duinia itu selama 23 tahun malam Lailatul Qadr
yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Dan jumlah wahyu yang
diturunkan kelangit dunia dimalam Lailatul Qadr untuk masa satu
tahun penuh itu kemudian diturunkan secara berangsur-angsur.
Dari ketiga hal ini, pendapat yang paling kuat adalah Al-Qur’an diturunkan
sekaligus pada malam Lailatul Qadr ke Bayt al-Izzah di langit dunia, kemudian
diturunkan dari langit dunia ke bumi secara berangsur-angsur selama 23 tahun.
Hal tersebut menunjukkan tidak adanya pertentangan terkait ayat-ayat al-Qur’an
tentang turunnya al-Qur’an6.

6
Nur Efendi, studi al-qur’an,(Yogyakarta,kalimedia,2016),62-65
3. KRONOLOGI TURUNNYA AL-QUR’AN
Kronologi adalah istilah yang diambil dari bahasa Yunani, Chronos yang
artinya waktu dan logos yang artinya ilmu. Maka disimpulkan Kronologi Al-Qur’an
adalah ilmu yang mempelajari tentang urutan turunnya surat atau ayat-ayat Al-Qur’an
atau sebuah kejadian yang terjadi pada waktu turunnya Al-Qur’an. Allah pertama kali
menurunkan Al-Qur”an pada malam senin tanggal 17 Ramadhan pada tahun ke-41
dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang bertepatan dengan tanggal 6 agustus 610
M, dengan ayat yang pertama kali turun yaitu surat Al-Alaq ayat 1-5. Dilihat dari segi
kondisi masyarakat serta tuntunan Al-Qur’an terhadap mereka, maka turunnya Al-
Qur’an dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
a. Turun tanpa adanya suatu sebab yang melatarbelakanginya. Dalam hal ini
ayat itu turun sebagai wahyu Allah SWT yang merupakan hidayah bagi
umat manusia.
b. Turun dengan suatu sebab tertentu, baik berupa pertanyaan ataupun
peristiwa yang memerlukan pemecahan yang mendesak.
Dengan cara tersebut Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur. Subhi ash-Shalih
menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an dengan cara berangsur-angsur itu mempunyai
hikmah, yaitu:
1. Sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat.
2. Memberikan jawaban dan penyelesaian masalah yang tepat pada saat yang
diperlukan.
3. Penerapan hokum dan pemberian baban kewajiban secara bertahap.
Berdasarkan tempat penurunan ayat-ayat Al-Qur’an dibedakan menjadi dua yaitu
Makiyyah dan Madaniyah. Makiyyah adalah ayat-ayat yang diturunkan kepada
Rasulullah sebelum hijrah ke madinah, sedangkan Madaniyah adalah ayat-ayat yang
turun sesudah hijrah ke Madinah.
Ciri-ciri ayat Makiyyah
a. Memiliki ayat atau suku kata yang pendek-pendek
b. Kata-kata yang dipergunakan dalam ayat tersebut sangat mengesankan
(bersajak/penuhdengan syair serta ungkapan perasaan)
c. Kalimat yang dipergunakan juga tergolong fasih dan baligh
d. Banyak qasam tasbiyah dan amtsal
e. Gaya bahasa yang dipergunakan jarang sekali bersifat kongkrit maupun realistis
materialis
f. Didalam setiap surat terdapat lafadz ‫يايهاالنااس‬
g. Ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan di Mekkah berisikan tentang ajakan untuk
bertauhid, beribadah kepada Allah SWT, serta meninggalkan segala bentuk
peribadatan kepada yang selain Allah SWT
h. Ayat-ayat Al-Makiyyah juga mengisahkan tentang para nabi dan kehidupan umat-
umat terdahulu
i. Pembuktian tentang risalah Allah SWT
j. Kebenaran akan adanya hari kebangkitan dan hari pembalasan
k. Kedatangan hari kiamat
l. Penjelasan tentang surga dan segala kenikmatannya, serta neraka dan segala
siksaannya
m. Argumentasi yang ditujukan untuk orang-orang musyrik yaitu dengan
mempergunakan bukti-bukti rasional serta ayat-ayat kauniyah
Ciri-ciri ayat Madaniyyah
a. Ayat atau surat-surat yang tergolong Al-Madaniyyah mempergunakan kata-kata
atau kalimat yang bermakna kuat dan juga kokoh
b. Mempergunakan kalimat-kalimat ushul serta ungkapan syariah
c. Terkandung seruan “ya ayyuhalladzina aamanuu”
d. Ayatnya panjang-panjang dan menggunakan gaya bahasa yang dapat menjelaskan
tujuan dari ayat tersebut serta dapat memantapkan syariat
e. Didalmnya beerisikan tentang kewajiban bagi setiap makhluk serta sanksi-
sanksinya, seperti perintah untuk beribadah serta beramal sholeh, perintah untuk
berjihad, perintah kepada ahli kitab untuk masuk islam, perintah untuk
berdakwah, dan lain sebagainya
f. Didalam setiap surat yang tergolong Al-Madaniyyah disebutkan tentang orang-
orang munafik kecuali dalam QS. Al-Ankabut
g. Didalam surat yang tergolong Al-Madaniyyah terdapat dialog yang terjadi dengan
para ahli kitab
h. Berisi tentang hukum dan perundang-undangan
Perbedaan ayat Makiyyah dan Madaniyyah
Penting bagi kita sebagai umat muslim untuk mengetahui perbedaan antar ayat-ayat Al-
Qur’an yang diturunkan di Mekkah dan ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah
SWT di Madinah. Ada beberapa alasan, diantaranya:
a. Agar kita dapat lebih memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan dapat mentafsirkan dengan
tafsiran yang benar, meskipun pada dasarnya yang menjadi pegangan adalah
pengertian umum dari lafdz tersebut
b. Membantu kita untuk bisa lebih meresapi gaya bahasa dalam Al-Qur’an serta dapat
mempergunakannya didalam berbagai metode berdakwah untuk menuju jalan yang
diridhoi Allah SWT
c. Membantu kita untuk mengetahui mana saja ayat Al-Qur’an yang turun lebih dulu dan
yang turun selanjutnya
d. Dapat membantu kita untuk mengetahui dan lebih memahami tentang sejarah
persyariatan hukum-hukum islam
e. Dapat meningkatkan keyakinan kita kepada Allah SWT, khususnya terhadap
kesucian, kemurnian, serta keaslian Al-Qur’an
Dengan memahami hal-hal diatas, maka tentu saja dapat diambil manfaat dari mengatahui
perbedaan, ciri-ciri dari ayat Makiyyah dan Madaniyyah yaitu:
1. Mengetahui tempat dan waktu diturunkannya ayat Al-Qur’an, untuk membantu
memahami penafsiran yang benar serta analisa nasikhmansukhnya
2. Meresapi gaya bahasa Al-Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode dan tahapan
dakwah
3. Memahami sirah nabawiyah dan periode-periodenya
4. NUZULUL QUR’AN
a. Pengertian turun (An Nuzul)
Arti kata nuzul diambil dari kata (naza yanzulu nazalan) yang artinya
turun.akan tetapi para ulama’ berbeda pendapat mengartikan kata nuzul tersebut.
Secara istilah, ulama juga berbeda pendapat mengartikan nuzul. Perbedaan
pendapat mereka terletak pada penggunaan arti hakikidan majazi dalam
mengartikan kata nuzul ini jika dikaitkan dengan nuzul Al-Qur’an, yakni al-izhar
(menampakkan/menjelaskan), atau al-i’lam (memberitahuakn/menerangkan), serta
al-ifham (memahamkan/menerangkan).
Namun demikian, dalam konteks ketauhidan dan pemahaman, lebih tepat
andai kata mengartikan kata nuzul itu dengan makna majazi. Sebab Al-Qur’an itu
adalah kalam Allah yang tidak sama dengan mahlu, maka tidak relevan jika
dikatakan Al-Qur’an meluncur dari atas kebawah. Hal ini karena Allah tidak
bertempat di langit sehingga wahyunya harus turun dari atas kebawah.
Dari pengertian diatas, pengertian nuzulum Qur’an di kalangan ulama juga
berbeda pendapat. Jumhur Ulama seperti al-Razi, Imam al-Suyuti, al-Zarkasyi
memberikan pengertian kalau secara hakiki tidak cocok untuk arti nuzul aaAl-
Qur’an. Sehingga nuzul al-Qur’an adalah menetapkan/memantapkan atau
memberitahukan atau memahamkan atau menyampaikan al-Qur’an baik dari
laukhil mahfudz atau ke dunia., maupun kepada Nabi Muhammad. Sedangkan
sebagian ulama lain tetap berpendapat kalau nuzul al-Qur’an itu tetap diartika
secara hakiki, yaitu turunnya al-Qur’an. Namun kebanyakan umat islam
kebanyakan umat Islam memahami nuzul al-Qur’an itu dengan arti hakiki yaitu
turunnya al-Qur’an7.
b. Waktu turunya al-Qur’an
Secara tradisi, umat Islam memperingati dan menyambut peristiwa nuzul al-
Qur’an pada 17 Ramadhan, padahal dalam sejarahnya yang sepatutnya dibuat
sambutan pada setiap 24 Ramadhan. Peristiwa nuzul al-Qur’an yang dikatakan
berlaku pada malam jum’at, 17 Ramdhan, tahun ke-41 dari keputraan nabi
Muhammad SAW. Bersamaan dengan tanggal ogos 610 M, ketika baginda sedang
beribada di gua hira. Namun sesungguhnya pendapat yang lebih tepat tentang

7
Nur Efendi, studi al-qur’an,(Yogyakarta,kalimedia,2016),58-61
turunnya al-Qur’an ialah pada malam isnin, tanggal 24 Ramadhan bersamaan 13
Ogos 610 M.
Pendapat yang mengatakna berlakunya pada tanggal 17 Ramadhan adalah bedasarkan
ayat 41 dari surah al-Anfal. Padahal, surah ini hanyalah difokuskan kepada peristiwa
perang Badar bukan turunnya al-Qur’an. Secara tafsir, menurut riwayat dari Ibn Abbas,
ayat tersebut hanya penjelasan tentang hukum permbagian harta rampasan perang
seperti yang terdapat pada ayat awal tersebut.justru yang lebih tepat tentang Nuzul al-
Qur’an adalah 24 Ramadhan karena didasarkan ayat 1 surah al-Qadr dan ayat 1-4 surah
al-Dukhan.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, muhammad.(2019). Ulumul Qur’an. Depok: Rajawali Pers.
Muhammad.(2002). Studi Al-Qur’an Al-Karim. Bandung: Pustaka setia.
Anwar, rosihon.(2015). Ulum Al-Qur’an. Bandung: Pustaka setia.
Fahd.(1996). Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Titian ilahi Pers.
Fawzi, fathi. (2011). Kisah nyata dibalik turunnya ayat-ayat suci Al-Qur’an. Jakarta selatan:
zaman.
Efendi, nur dan muhammad fathur rahman.(2016). Studi Al-Qur’an. Yogyakarta: kalimedia.