Anda di halaman 1dari 10

JOM Vol. 2 No.

2, Oktober 2015

EFEKTIVITAS YOGA TERHADAP NYERI DISMENORE PADA REMAJA

Melda Friska Manurung1, Sri Utami2, Siti Rahmalia HD3

Program Studi Ilmu Keperawatan


Universitas Riau
Email : meldafriska26@yahoo.com

Abstract
Dysmenorrhea is increasing and excessive pain during menstruation. There is some pain management to overcome the
pain of dysmenorrhea, one of which is with yoga. This study aims to determine the effectiveness of yoga to decrease the
intensity of dysmenorrhea pain. The design of this research study "Quasy experiment" using "non-equivalent kontrol
group" which is divided into an experimental group and a control group. The study was conducted at SMK Negeri 7
Pekanbaru, the number of 30 students were taken using simple random sampling technique. Measuring instruments used
are observasi.Tindakan sheet was conducted for 45 minutes 3x to rest 5 minutes each treatment. The analysis used
univariate and bivariate analysis using the Mann Whitney and Wilcoxon. The study found a decrease in the intensity of
dysmenorrhea pain in the experimental group after given yoga (p value 0,000 < α 0,05) The results of this study that
merekomdasikan yoga can be used for young women, especially women who have dysmenorrhea to reduce the intensity
of pain dysmenorrhoea.

PENDAHULUAN kejadian dismenore merupakan gangguan


Remaja adalah periode perkembangan menstruasi dengan prevalensi terbesar 63,5%,
dimana individu mengalami perubahan dari diikuti oleh ketidak teraturan menstruasi
masa kanak-kanak menuju masa dewasa 31,2% (dalam Sumawati, 2010).
(Potter & Perry, 2005). Masa remaja terbagi atas Dismenore adalah nyeri selama
tiga tahap yaitu masa remaja awal: usia sebelas menstruasi yang disebabkan oleh kejang otot
tahun sampai empat belas tahun, masa remaja uterus (Willson & Price, 2006). Penyebab
pertengahan, usia lima belas tahun sampai tujuh terjadinya dismenore dikarenakan adanya
belas tahun dan masa remaja akhir, usia peningkatan kadar prostaglandin. Peningkatan
delapan belas tahun sampai dua puluh tahun ini akan mengakibatkan kontraksi uterus dan
(Wong, 2008). Masa remaja adalah masa vasokonstriksi pembuluh darah. Aliran darah
peralihan dari masa kanak-kanak ke masa yang menuju uterus menurun sehingga uterus
dewasa yaitu antara usia sebelas tahun sampai tidak mendapat suplai oksingen yang adekuat
empat belas tahun hingga dua puluh tahun yang menyebabkan nyeri intensitas nyeri
(Wong, 2008). dipengaruhi oleh deskripsi individu tentang
Pada fase ini terjadi perubahan-perubahan nyeri atau persepsi pengalaman nyeri (Kelly,
secara biologis, kognitif, maupun psikologis. 2007).
Perubahan-perubahan ini memiliki implikasi Dismenore terjadi karena endometrium
pada remaja yaitu remaja agar dapat dalam fase sekresi memproduksi prostaglandin
memahami hal-hal yang menjadi fakor resiko berlebihan, prostaglandin (PGF-2α) yang
kesehatan, promosi kesehatan, dan perilaku menyebabkan hipertonus dan vasokontriksi
yang dapat beresiko terhadap kesehatan. pada miometrium sehingga mengakibatkan
Perubahan biologis yang mendasar pada iskemia, disintegrasi endometrium,
remaja disebut pubertas, gangguan menstruasi perdarahan, dan nyeri (Morgan & Hamilton,
yang sering dialami perempuan seperti nyeri 2003; Wiknjosastro, 2007; Hillard, 2006).
perut bagian bawah, menstruasi yang tidak Dismenore berdasarkan penyebabnya dapat
teratur, nyeri pinggang, dan salah satunya yaitu dibedakan menjadi dua yaitu: dismenorea
dismenore (Kasdu, 2005). Hasil penelitian sekunder dan dismenorea primer. Dismenorea
Cakir M, et al., (2000) di Amerika presentase sekunder adalah nyeri haid yang disebabkan

1258
JOM Vol. 2 No. 2, Oktober 2015

oleh kelainan ginekologi misalnya Supta Baddha Konasana, Mudhasana


endometriosis, infeksi rahim, kista/polip, (Pujiastuti & Sindhu, 2014). Frekuensi latihan
tumor sekitar kandungan atau kelainan yoga dapat dilakukan 10-15 menit atau
kedudukan rahim yang dapat menganggu sebanyak dua kali dalam sepuluh hitungan,
organ dan jaringan sekitarnya (Wiknjosatro, sambil mengatur nafas dalam (Senior, 2008).
2008). Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di
Penyebab dismenorea sekunder lainnya SMK Negeri 7 Pekanbaru pada bulan Desember
yaitu karena pemakaian kontrasepsi Intra Uteri 2014. Sekolah ini merupakan sekolah yang
Device (IUD), dismenorea sekunder lebih memiliki jumlah siswi terbanyak didaerah
jarang ditemukan pada remaja, biasanya terjadi Rumbai. Observasi yang didapatkan adalah
pada usia 25 tahun. Dismenorea primer bahwa SMK Negeri 7 Pekanbaru siswi-
merupakan nyeri haid karena aktivitas uterus, siswinya tidak pernah mendapatkan
tanpa adanya kondisi patologis dari pelvis. penyuluhan tentang kesehatan. Observasi yang
Beberapa faktor penyebab dismenorea primer, dilakukan mengenai dismenore pada 12 siswi,
antara lain faktor kejiwaan, faktor konstitusi, keseluruhan siswi tersebut mengalami
faktor obstruksi kanalis servikalis dismenore. Selain itu data penunjang lainnya
(Wiknjosastro, 2009 ). didapatkan dari informasi UKS 8 dari 12 orang
Prevalensi dismenorea di dunia sangat siswi yang mengalami nyeri dismenore mereka
besar yaitu, rata-rata lebih dari 50% mengatasi dengan menggunakan obat anti
perempuan di setiap dunia mengalaminya nyeri menstruasi, 2 dari 12 orang mengatasi
(French, 2005), dalam Ningsih, 2011). dengan minyak kayu putih, beristirahat di
Presentase dismenore di Amerika Serikat UKS dan di kelas. Selain itu 2 orang siswi
diperkirakan hampir 90% wanita mengalami yang mengalami nyeri dismenore dibawa ke
dismenore dan 10-15% diantaranya mengalami puskesmas dengan keluhan nyeri hebat.
dismenore berat (Calis, 2011). Prevalensi di Mengurangi nyeri dismenore dapat
Malaysia prevalensi dismenore pada remaja menggunakan berbangai alternatif salah
sebanyak 62,3% (Liliwati, Vera & Khairani, satunya dengan yoga, yoga merupakan
2007). Prevalensi dismenore di Swedia 72%, alternatif untuk mengurangi nyeri dismenore
dan prevalensi dismenore di Indonesia sebesar dan mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-
64,25% yang terdiri dari 54,88% dismenore hari. Keuntungan yoga adalah salah satunya
primer dan 9,36% dismenore sekunder mudah dilakukan untuk mengurangi nyeri
(Husain, 2013). dismenore. Berdasarkan fenomena diatas dan
Upaya penanganan untuk mengurangi studi pendahuluan yang dilakukan, maka
dismenore adalah dengan pemberian terapi peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
farmakologi seperti obat analgetik, terapi tentang “Efektifitas Yoga Terhadap Nyeri
hormonal terapi dengan obat non steroid anti Dismenore Pada Remaja ”
prostaglandin dan dilatasi kanalis servikanalis Penelitian ini bertujuan untuk melihat
(Mitayani, 2011). Pengaruh nonfarmakologis efektifitas yoga terhadap nyeri dismenore pada
juga diperlukan untuk mengurangi dismenore, remaja. Perbandingan nyeri setelah tindakan
salah satunya dengan menggunakan teknik pada kelompok eksperimen dan kelompok
relaksasi, olah raga dan yoga (Asmadi, 2008). kontrol. Penelitian ini bermanfaat bagi
Yoga merupakan tehnik yang mengajarkan perkembangan ilmu keperawatan, bagi
seperti tehnik relaksasi, pernafasan, dan posisi sekolah, Teknik yoga dapat diaplikasikan oleh
tubuh untuk meningkatkan kekuatan, masyarakat khususnya para remaja putri untuk
keseimbangan dan mengurangi rasa nyeri. mengatasi dismenore sehingga remaja tetap
Beberapa gerakan yoga mampu mengubah merasa nyaman pada saat menstruasi dengan
pola penerimaan rasa sakit ke fase yang lebih demikian konsentrasi belajar tidak terganggu
menenangkan yaitu Pose Upavishta serta meningkatkan kualitas hidup remaja
Konasana, Buddha Kosana, Janu Shirsasana, untuk bersekolah. Bagi peneliti selanjutnya

1259
JOM Vol. 2 No. 2, Oktober 2015

hasil penelitian ini dapat menjadi dasar sumber memenuhi kriteria inklusi. Teknik
data bagi peneliti selanjutnya yang ingin pengambilan sampel yang digunakan yaitu
melakukan penelitian, terutama tentang teknik random sampling dengan sistem undian
mengaplikasikan teknik yoga terhadap untuk menetapkan 15 sampel kelompok
penurunan nyeri dismenore. eksperimen dan 15 sampel kelompok kontrol.

METODOLOGI PENELITIAN HASIL PENELITIAN


Desain penelitian adalah bentuk Berdasarkan penelitian didapatkan
rancangan yang digunakan dalam melakukan hasil sebagai berikut:
prosedur penelitian (Hidayat, 2007). Penelitian 1. Analisa univariat
ini merupakan penelitian kuantitatif dengan Tabel 1
rancangan quasy experiment, melakukan Gambaran karakteristik responden

pendekatan rancangan peneliti non-equivalent Total p value

control group design. Non-equivalent control Karakteristik (n=30)

group adalah sebuah rancangan penelitian N %


dengan melibatkan dua kelompok yaitu Umur:
a. 16-17 14 46,7
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol b. 17-18 16 53,3 0,714
(Hidayat, 2008). Pada kelompok eksperimen
dilakukan pengukuran sebelum diberikan Jumlah 30 100
intervensi/perlakuan (pre-test) dan dilakukan Suku
pengukuran setelah diberikan responden

intervensi/perlakukan (post-test). Sedangkan a.Melayu 2 6,7


b.Minang 12 40,0
pada kelompok kontrol tidak dilakukan 0,999
c.Jawa 14 46,7
intervensi namun tetap dilakukan pengukuran d.Batak 2 6,7

pre-test dan pos-test (Tjokonegoro &


Sudarsono, 2007). Jumlah 30 100
Sampel pada penelitian ini adalah pasien Dari tabel 1 diketahui bahwa umur
yang mengalami dismenore sebanyak 30 responden sebagian besar adalah rentang
responden. Desain penelitian yang digunakan 17-18 tahun sebanyak 16 orang (53,3%).
dalam penelitian ini adalah Quasi Sedangkan distribusi responden menurut
experimental dengan rancangan penelitian suku yang terbanyak adalah suku jawa
yaitu non-equivalent kontrol group. Non- dengan jumlah 14 orang (46,7%).
equivalent kontrol group adalah sebuah
rancangan penelitian yang melibatkan dua Tabel 2
kelompok yaitu kelompok eksperimen yang Rata-rata penurunan intensitas nyeri
diberi perlakuan dan kelompok kontrol yang dismenorea sebelum diberikan intervensi
tidak diberi perlakukan (Hidayat, 2008). pada kelompok eksperimen dan kelompok
Kelompok eksperimen dilakukan pengukuran kontrol

sebelum intervensi (pretest), diberikan Intensitas Nyeri Mean SD Min Max


Dismenorea
intervensi kombinasi yoga selama 45 menit sebelum Diberikan
sebanyak 3x dengan istirahat 5 menit dan intensitas nyeri dismenorea menggunakan
setelah intervensi dilakukan pengukuran skala nyeri yaitu Numeric Rating Scale (NRS).
(posttets). Sedangkan kelompok kontrol tidak Sampel dalam penelitian ini adalah 30 siswi
dilakukan intervensi namun tetap dilakukan SMK Negeri 7 Pekanbaru yang telah
pengukuran pretest dan posttest. Pengukuran
1260
JOM Vol. 2 No. 2, Oktober 2015
Intervensi
Eksperimen 5,20 0,41 5 6
Kontrol 5,13 0,64 4 6
Tabel 2 diketahui bahwa rata-rata
intensitas nyeri dismenorea pada kelompok
eksperimen sebelum diberi perlakuan
adalah 5,20 dengan standar deviasi 0,41.
Sedangkan rata-rata intensitas nyeri
dismenorea pada kelompok kontrol

1261
JOM Vol. 2 No. 2, Oktober 2015

sebelum tanpa diberikan perlakuan adalah Variabel Mean SD p value N

5,13 dengan deviasi 0,6 Sebelum 5,20 0,41 15


Intervensi
0,000
Setelah 4,20 0,41 15
Tabel 3 Intervensi
Rata-rata penurunan intensitas nyeri
Tabel 5 menunjukkan perbedaan rata-
dismenorea setelah diberikan intervensi
rata (pre-post) kelompok eksperimen dan
pada kelompok eksperimen dan kelompok
kelompok kontrol. p-value 0,000 < α (0,05)
kontrol
dan dapat disimpulkan terdapat perbedaan
Intensitas Nyeri Mean SD Min Max
Dismenorea intensitas nyeri sebelum diberikan
Setelah Diberikan intervensi dan setelah diberikan intervensi
Intervensi pada kelompok eksperimen.
Eksperimen 4,20 0,41 4 5
Kontrol 5,20 0,56 4 6
PEMBAHASAN
Tabel 3 diketahui bahwa rata-rata 1. Karakteristik responden
intensitas nyeri dismenorea pada kelompok Hasil penelitian yang telah dilakukan di
eksperimen setelah diberi perlakuan adalah SMK Negeri 7 Pekanbaru, didapatkan hasil
4,20 dengan standar deviasi 0,41. bahwa umur responden terbanyak berada pada
Sedangkan rata-rata intensitas nyeri
rentang umur 17-18 tahun (53,3%). Hasil
dismenorea pada kelompok kontrol setelah
tanpa diberikan perlakuan adalah 5,20 penelitian ini sesuai dengan penelitian yang
dengan deviasi 0,56. dilakukan oleh Kirana dan Kartini (2013)
dengan hasil bahwa dismenorea pada
2. Analisa bivariat umumnya terjadi pada umur >17 tahun. Serta
Tabel 4 penelitian yang dilakukan oleh Novia dan
Untuk mengidentifikasikan perbedaan Puspitasari (2008) dengan hasil bahwa
penurunan intensitas nyeri dismenorea dismenorea pada umumnya terjadi pada
antara kelompok eksperimen dan kelompok responden berumur 15-25 tahun karena pada
kontrol dengan menggunakan uji t umur tersebut wanita beresiko menderita
independent yaitu uji Mann-Whitney. dismenorea primer.
Penurunan intensitas nyeri dismenorea Dismenorea pada umumnya terjadi 2-3
setelah diberikan intervensi pada kelompok tahun setelah menarche yang ideal adalah 12-
eksperimen dan kelompok kontrol 15 tahun sehingga dismenorea lebih banyak
Variabel Mean SD P N terjadi pada usia 17-18 tahun. Pada umur
tersebut terjadi perkembangan seks sekunder
Kelompok 4,20 0,41 15
Eksperimen dan hormon tubuh tidak stabil sehingga dapat
0,000
Kelompok 5,20 0.,56 15 merangsang hormon prostaglandin yang

Kontrol menyebabkan kontraksi uterus meningkat dan


Tabel 4 menunjukkan penurunan setelah terjadi dismenorea (Manuaba, Manuaba, dan
diberikan yoga. Hasil yang diperoleh p Manuaba, 2009).
value = 0,000 p<α (0,05), maka dapat Hasil penelitian yang telah dilakukan di
disimpulkan ada perbedaan intensitas nyeri SMK Negeri 7 Pekanbaru, didapatkan hasil
dismenore setelah diberikan yoga. bahwa suku responden terbanyak adalah suku
Jawa (46,7%). Hal ini terjadi karena lokasi
Tabel 5 penelitian merupakan daerah yang dominan
Penurunan intensitas nyeri dismenorea masyarakat memiliki suku Jawa sehingga
pada kelompok eksperimen sebelum dan kebanyakan siswi yang ada di SMK N 7
setelah diberikan kombinasi yoga
1262
JOM Vol. 2 No. 2, Oktober 2015
Pekanbaru adalah suku Jawa. Potter dan Perry
(2005), keyakinan dan nilai-nilai budaya
mempengaruhi cara individu mengatasi nyeri.
Karena setiap individu mempelajari apa yang

1263
JOM Vol. 2 No. 2, Oktober 2015

diharapkan dan yang diterima oleh orang responden. Hasil nya menunjukkan
kebudayaan mereka. bahwa responden mengalami penurunan
Hasil penelitian yang telah dilakukan di intensitas nyeri dengan (p-value = 0,000).
SMK Negeri 7 Pekanbaru pada 30 responden Pujiastuti (2014), yoga hanya melibatkan
yang dibagi ke dalam 2 kelompok yaitu sistem otot dan respirasi dan tidak
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. membutuhkan alat lain sehingga mudah
Kelompok eksperimen diberikan yoga selama dilakukan kapan saja atau sewaktu-waktu.
45 menit sedangkan kelompok kontrol tidak Sehingga, latihan seperti dengan
diberikan perlakukan. Pada kedua kelompok menggerakkan panggul, dengan posisi lutut,
dilakukan pengukuran intensitas nyeri dada dan latihan pemanasan dapat bermanfaat
dismenorea menggunakan Numeric Rating untuk mengurangi dismenore.
Scale (NRS). Yoga adalah suatu cara tehnik
Pengukuran intensitas nyeri dismenorea relaksasi, tehnik relaksasi memberikan efek
didapatkan hasil rata-rata penurunan intensitas distraksi yang dapat mengurangkan nyeri kram
nyeri dismenorea sebelum diberikan yoga abdomen akibat dismenorea (Pujiastuti &
yaitu 5,20 pada kelompok eksperimen dan Sindhu, 2014). Efek relaksasi juga
5,13 pada kelompok kontrol. Sedangkan rata- memberikan individu kontrol diri ketika terjadi
rata penurunan intensitas nyeri dismenorea rasa tidak nyaman atau nyeri, stres fisik, emosi
setelah diberikan yoga yaitu 4,20 pada serta menstimulus pelepasan endorfin (Simkin,
kelompok eksperimen dan 5,20 pada Whalley, & Keppler, 2008). Pelepasan
kelompok kontrol. endorfin dapat meningkatkan respons saraf
parasimpatis yang mengakibatkan vasodilatasi
Hasil uji Mann-Whitney untuk pembuluh darah seluruh tubuh dan uterus serta
perbandingan intensitas nyeri sesudah antara meningkatkan aliran darah uterus sehingga
kelompok eksperimen yang diberikan mengurangi intensitas nyeri dismenorea
perlakuan dengan kelompok kontrol yang (Ernawati et al., 2010).
tidak diberikan perlakuan menunjukkan nilai
p-value 0,000 nilai p-value < α (0,05), artinya Setelah yoga didapatkan bahwa intensitas
yoga efektif dalam menurunkan intensitas nyeri dismenorea yang dialami responden
nyeri dismenore. Hasil akhir menunjukkan mengalami penurunan. Menurut Simkin et al
bahwa responden mengalami penurunan (2008) pernapasan lambat bertujuan untuk
tingkat stress dengan p-value 0,000 < α (0,05), memberikan efek rileks serta kontrol diri
maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan ketika terjadi rasa tidak nyaman atau nyeri,
rata-rata penurunan intensitas nyeri stres fisik dan emosi pada nyeri. Selain itu,
dismenorea setelah diberikan yoga pada sesuai pendapat dari Anggriana (2010) lakukan
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pemanasan ringan dengan tarik nafas dalam
yang tidak diberikan intervensi, sehingga Ha dengan menghitung 1,2,3 didalam hati dan
diterima. Bare dan Smeltzer (2002) tingkat hembuskan secara perlahan-lahan, kemudian
stress juga mempengaruhi terhadap kejadian lemaskan otot-otot tangan, kaki, pinggang dan
dismenore karena stress menimbulkan leher. Tujuannya untuk menaikkan suhu tubuh,
penekanan sensasi saraf-saraf pinggul dan meningkatkan deyut nadi dan mengurangi
otot-otot punggung bahwa sehingga kemungkinan cidera.
menyebabkan dismenore. Siswi yang mengalami dismenorea yang
Penelitian lain yang mendukung diberikan yoga merasakan rasa rileks yang
penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan mengurangi kontraksi uterus dan kram
oleh Kartika (2012) tentang penurunan tingkat abdomen. Efek relaksasi menyebabkan
dismenore pada mahasiswa Fakutas Ilmu peningkatan respons saraf parasimpatis yang
Keperawatan UNPAD dengan menggunakan mengakibatkann efek vasodilatasi pembuluh
yoga. Penelitian tersebut dilakukan pada 20 darah uterus sehingga aliran darah uterus

1264
JOM Vol. 2 No. 2, Oktober 2015

meningkat dan kontraksi uterus berkurang. menangani nyeri dismenorea dan


Serta stimulus mekanoresptor pada kulit menghindari penggunaan teknik
abdomen memberikan efek relaksasi otot farmakologi untuk penanganan nyeri
abdomen dan distraksi sehingga kram dismenorea.
abdomen yang dirasakan menjadi berkurang. 3. Bagi peneliti selanjutnya
Maka dapat disimpulkan bahwa yoga Peneliti berikutnya menyarankan untuk
mengurangi intensitas nyeri dismenorea dilakukan penelitian lebih lanjut yang
dengan menstimulus mekanoresptor abdomen, berhubungan dengan dismenore seperti
memberikan efek relaksasi, dan distraksi. pengaruh kombinasi yoga & aroma teh/
aroma terapi terhadap tingkat nyeri
PENUTUP dismenore.
Kesimpulan
Penelitian tentang “Efektivitas yoga UCAPAN TERIMAKASIH
terhadap nyeri dismenore pada remaja” yang
telah dilakukan maka dapat disimpulkan usia Terimakasih kepada Universitas Riau melalui
responden yang banyak mengalami dismenore Lembaga Penelitian Universitas Riau serta
adalah remaja yang umur 17-18 yaitu Program Studi Ilmu Keperawatan yang telah
sebanyak 16 orang (53,3%), sedangkan suku memberikan kesempatan untuk dapat
responden yang mengalami dismenore yang mempublikasikan skripsi ini dan responden.
sering terjadi adalah Jawa sebanyak 14 orang
1
(46,7%). Rata-rata intensitas nyeri setelah Melda Friska Manurung: Mahasiswa
diberikan perlakuan pada kelompok Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas
eksperimen adalah 4,20 dengan p value < α Riau, Indonesia
(0,05), sehingga dapat disimpulkan ada 2
Ns. Sri Utami, M.Med: Dosen Bidang
perbedaan sebelum diberikan perlakukan dan Keilmuan Keperawatan Martenitas Program
sesudah perlakuan pada kelompok eksperimen. Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau,
Rata-rata intensitas nyeri pada sebelum pada Indonesia
kelompok kontrol adalah (5,13%) dan sesudah 3
Siti Rahmalia HD, SKp., MNS: Dosen
(5,20%) dengan p value < α (0,05), sehingga Bidang Keperawatan Medikal Bedah Program
dapat disimpulkan tidak ada perbedaan Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau,
sebelum dan sesudah pada kelompok kontrol. Indonesia
Sedangkan perbandingan sesudah antara
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol p DAFTAR PUSTAKA
value < α (0,05) sehingga dapat disimpulkan Asmadi. (2008). Teknik procedural
Ho ditolak. Hal ini berarti yoga efektif dalam keperawatan: Konsep dan aplikasi
menurunkan nyeri dismenore. kebutuhan dasar klien. Jakarta: Salemba
medika
Saran
1. Bagi Insitusi Pendidikan
Calis, A. K. (2011). Dysmenorhea. Diperoleh
Insitusi pendidikan diharapkan dapat
dari: http// emedicine.medscape.com.
meningkatkan perkembangan ilmu
Diakses tanggal 10 Februari 2015
pengetahuan dan menjadikan penelitian ini
sebagai evidence based practice dalam
Ernawati, Hartiti, T., & Idris, H. (2010). Terapi
penanganan nyeri seperti dismenorea atau
relaksasi terhadap nyeri dismenore pada
masalah kesehatan lain untuk masa yang
mahasiswi universitas muhammadiyah
akan datang.
semarang. Prosiding Seminar Nasional
2. Bagi masyarakat
UNIMUS, 106-113. Diperoleh pada
Masyarakat khususnya remaja putri
tanggal 23 Januari 2015 di
diharapkan dapat menggunakan yoga untuk
http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/psn1
2012010/article/view/54/28

1265
JOM Vol. 2 No. 2, Oktober 2015

Novia, I., & Puspitasari, N. (2008). Faktor


Husain, O. (2013). Hubungan pengetahuan resiko yang mempengaruhi kejadian
tentang dismenore dengan upaya dismenore primer, 96-103. Diunduh
penanganan pada siswi kelas X di pada tanggal 28 November di
SMKN 1 Batudaa. Di peroleh pada http://eprints.undip.ac.id/16077/1/Sri_P
tanggal 3 Desember 2014 di urwanti.pdf
http://kim.ung.ac.id/index.php/KIMFIK
K/article/download/2841/2817 Potter, P. A., & Perry, A. G. (2005).
Fundamental keperawatan: Konsep,
Hillard, P. A. J. (2006). Dysmenorrhea: proses, dan praktik. (Ed. 4). Jakarta:
Pediatrics in Review. 27: 64-71. Holder EGC
Simkin, P., Whalley, J., & Keppler, A. (2008).
Hidayat, A. A. A. (2008). Riset keperawatan Panduan lengkap kehamilan,
dan teknik penulisan ilmiah. Jakarta: melahirkan, dan bayi. Jakarta: ARCAN
Salemba Medika
Sindhu, Pujiastuti. (2014). Panduan lengkap
Hidayat, A. A. (2007). Metode penelitian yoga untuk hidup sehat dan seimbang.
keperawatan dan teknik analisis data. Bandung: Qanita
Jakarta: Salemba Medika Senior. (2008). Latihan perengangan.
Diperoleh 26 januari 2015 dari
Kasdu, D. (2005). Solusi problem wanita http://www.ciberned.cbn.net.id
dewasa. Jakarta: Puspa Swara
Siahaan, K., Ermiati., & Maryati, I. (2012).
Kelly, Tracey. (2007). 50 Rahasia alami Penurunan tingkat dismenore pada
meringankan sindrom pramenstruasi. mahasiswa fakultas ilmu keperawatan
Jakarta: Erlangga UNPAD dengan menggunakan yoga.
Diunduh pada tanggal 11 januari 2015
Kirana, D. P., & Kartini, A. (2013). Hubungan dari
asupan gizi dan polamenstruasi dengan http;//jurnal.Unpad.ac.id/ejournal/articl
kejadian anemia pada remaja putri di e/viewfile/709/755
SMAN 2 Semarang. Diperoleh pada
tanggal 11 Mei 2015 di Tjokronegoro, A., & Sudarsono, S. (2007).
http://eprints.undip.ac.id Metode penelitian bidang kedokteran.
Jakarta: Fakultas Kedokteran
Mitayani. (2011). Asuhan keperawatan Universitas Indonesia
martenitas. Jakarta: Salemba Medika Wong, dkk. (ed.). (2008). Buku ajar
keperawatan pediatrik. (Vol 1).
Manuaba, I. A. C,. Manuaba, I. B. G. F., & Jakarta: EGC
Manuaba, I. B. G. (2009). Memahami
kesehatan reproduksi wanita. Jakarta: Wilson, L. M. & Price, S.A. (2006).
EGC Patofisiologi: Konsep klinis proses-
proses penyakit. Jakarta: penerbit Buku
Ningsih, R. (2011). Efektifitas paket pereda Kedokteran EGC
terhadap intensitas nyeri pada remaja
dengan dismenore di SMAN
Kecamatan Curup. Diperoleh tanggal Winkjosastro, Syaifudin. A. B., &
11 januari 2015 dari Rachimmadhi, T. (2008). Ilmu
http;//www.lontar.ui.ac.id kandungan. Jakarta: PT. Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo

1266
JOM Vol. 2 No. 2, Oktober 2015

Wiknjosastro, H. (ed.). (2009). Ilmu


kandungan. Jakarta: Pustaka Sarwono
Prawirohardjo

1267