Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN AKHIR

SURVEI SEISMIK LAUT DI DEPAN DERMAGA 8


PROYEK BOILER PT. PUPUK KALTIM
BONTANG, KALIMANTAN TIMUR

I. PENDAHULUAN

1.1 Umum

Laporan ini adalah merupakan laporan akhir hasil survei pendugaan seismik
dasar laut (offshore seismic prospecting) dalam rangka engineering design
pembangunan di lokasi rencana pengerukan depan Dermaga 8 Proyek Boiler PT.
Pupuk Kaltim, Bontang, Kalimantan Timur dengan fungsi utama yang akan
dimanfaatkan sebagai pelabuhan transit batubara untuk kapal pengangkut
batubara. Kegiatan lapangan telah dilakukan oleh PT. Istana Putra Agung pada
tanggal 4 Mei 2011 sampai dengan tanggal 11 Mei 2011.

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud survei seismik dasar laut ini, yaitu melakukan studi kelayakan dalam
pengumpulan data awal untuk keperluan rencana pengerukan sedimen/ batuan
dasar laut di daerah lokasi tersebut. Adapun tujuan dari kegiatan ini, untuk
mengetahui morfologi permukaan dasar laut, jenis, tebal dan luasan lapisan
sedimen/batuan dengan melakukan kegiatan pekerjaan pendugaan seismik
dasar laut.

1.3 Lingkup Pekerjaan

Secara rinci kegiatan yang dilakukan meliputi:


a. Menetapkan titik-titik referensi untuk keperluan penentuan posisi selama
pelaksanaan survei.
b. Melaksanakan pengamatan pasang surut, selama survei berlangsung.
c. Melaksanakan pemeruman/pemetaan batimetri.

1
d. Melaksanakan survei pendugaan seismik dasar laut (offshore seismic
prospecting) di lokasi yang direncanakan untuk pengerukan.
e. Melaksanakan pengolahan data (interpretasi, hitungan dan analisis data).
f. Menyusun hasil survei dalam laporan buku dan peta.

1.4 Batas Daerah Survei

Area survei meliputi bagian depan Dermaga 8 Proyek Boiler PT. Pupuk Kaltim,
Bontang, Kalimantan Timur seluas sekitar 82.000 m² (8,2 Ha) yang dibatasi oleh
titik-titik koordinat sebagai berikut:

A:X1= 555.458,63 m, Y1= 19.115,63 m; B: X2= 555.779,89 m, Y2= 19.223,04 m;


C:X3= 555.856,44 m, Y3= 18.997,61 m; D: X4= 555.535,57 m ,Y4= 18.884,14 m

Gambar 1. Lokasi situasi daerah survei (Arah panah menunjukkan lokasi survei)

2
Gambar 2. Lokasi Dermaga 8 Boiler Proyek PT. Pupuk Kaltim

Gambar 3. Peta lintasan survei seismik laut

3
II. PERSONIL DAN PERALATAN YANG DIGUNAKAN

2.1 Personil

• Ahli Geofisika/ : G.M. Hermansyah (Team Leader)


Hirografi
• Ahli Geologi : Sri Gozali Abiyoso
• Surveyor : Edi Wahyu Widido
• Teknisi : Dadang Rachman
Sarip
• Pengolah Data: Priatin Hadi W
M. Yusuf

2.2 Peralatan

• GPS Trimble DSM 132 Navigation (1 unit).


• Navigation Software (Hypack V.7.1) Hydrographic (1 unit).
• Reson Navisound Model 210 (200 KHz) Echosounder (1 unit).
• Peralatan ”Bar Check” untuk echosounder ( 1 unit).
• SyQwest Bathy 2010 CHIRP Sub Bottom Profiler and
Bathymetric Echosounder (1 unit).
• Software Sonar Wiz.Map + SBP.
• Software Sonar Web Pro.
• Katamaran (1unit).
• Voltage Regulator 2000 watt (1 unit).
• Rambu/Palem Ukur (Tide Pole)- (1 unit).
• Waterpass (1 unit).
• Komputer Note book ( 1 unit).
• Generator 5 KVA (1 buah).
• Accu 12 volt-40Ah (1 buah)
• Kapal/Perahu Motor (1 buah).

4
III. PROSEDUR KERJA

2.1 Titik Referensi, Sistim koordinat dan Navigasi

Koordinat titik referensi di daerah lokasi survei, mempergunakan titik Bench Mark
(BM) yang terdekat dan referensi untuk kedalaman diperoleh dengan
menggunakanl data dari titik nol MSL (Mean Sea Level) yang sudah ada.

Sebelum pelaksanaan navigasi di lapangan, terlebih dahulu dimasukkan (input)


kedalam perangkat lunak navigasi “Hypack” seluruh data koordinat lintang dan
bujur (sistem proyeksi UTM) yang beracuan pada datum global WGS 84 untuk
titik awal dan akhir dari tiap lajur/lintasan survei yang kemudian dikonversi
menjadi posisi (X,Y) pada bidang proyeksi Mercator dalam meter. Penentuan
posisi dilakukan dengan menggunakan Trimble DSM 132 GPS (Global
Positioning System) Navigation dan dibantu software navigasi Hypack V.7.1.
Posisi kapal dikontrol setiap detik, namun penyimpanan data posisi dilaksanakan
setiap 4 detik sehingga memberikan kemungkinan control posisi fix adalah lebih
kurang 10 meter yang disamakan dengan fix mark pada echogram maupun data
digital yang terekam.

Gambar 4. BM-CP 7 sebagai titik referensi koordinat lokal

5
Gambar 5. Antena Trimble DSM132 GPS di lokasi
titik koordinat BM-CP7

Gambar 6. Trimble DSM 132 GPS Navigation yang


ditempatkan diatas perahu motor

6
2.2 Pengamatan Pasang Surut

Pengamatan pasang surut dilaksanakan selama survei berlangsung secara terus


menerus. Pelaksanaan yang dilakukan dengan pembacaan visual Rambu/Palem
Ukur (Tide Pole) dan pencatatan dilakukan setiap 1 jam.

Gambar 7. Rambu pengukuran pasang surut

2.3 Pemeruman/Pemetaan Batimetri

Luas area pemeruman adalah sekitar 82.000 m² (8,2 Ha) pada kedalaman antara
sekitar 1 hingga lebih kurang 15 meter dibawah MSL. Hasil pemetaan dibuat peta
batimetri dengan sekala penggambaran peta 1:1.000, interval kontur 0,5 meter
dan kedalaman berdasarkan titik nol MSL . Arah lintasan survei tegak lurus
pantai dengan Interval (spasi) lajur utama survei adalah sekitar 10 - 20 meter
dan lintasan sejajar pantai dengan interval (spasi) adalah sekitar 40 meter. Survei
dilakukan dengan menggunakan perahu motor yang dilengkapi dengan
echosounder Reson Navisound 210 (200KHz) dan SyQwest Bathy 2010.

7
Kegiatan kalibrasi alat echosounder atau dikenal sebagai metode “bar check”,
dilakukan setiap hari yaitu sebelum dan sesudah survei berlangsung dengan
menggunakan plat besi yang berdiameter 40 cm dan diikat tali yang ditandai
setiap meter sampai kedalaman 5 meter.

Gambar 8. Perahu motor yang dipergunakan dalam survei


(arah panah)

Gambar 9. Kegiatan “Bar Check”

8
Gambar 10. Echosounder Reson Navisound 210 (200KHz),
digunakan dalam survei batimetri

2.4 Offshore Seismic Prospecting

Survei offshore seismic prospecting dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran


yang menunjukkan kondisi sedimen permukaan maupun sedimen bawah
permukaan dasar laut berdasarkan interpretasi seismik (Seismic stratigrafy dan
fasies). Untuk menghasilkan gambaran detail sedimen bawah permukaan, survei
ini akan dilakukan dengan menggunakan SyQwest Bathy 2010 CHIRP Sub
Bottom Profiler and Bathymetric Echosounder dengan kemampuan penetrasi
kedalaman 20 hingga 30 meter.

Arah lintasan seismik tegak lurus pantai dengan Interval (spasi) lajur utama
survei adalah sekitar 20 meter dan arah lintasan sejajar pantai dengan interval
(spasi) adalah sekitar 40 meter.

Dari hasil survei ini dibuat peta ketebalan perlapisan sedimen permukaan dan
bawah permukaan dasar laut (isopach) dan penampang seismik mengenai
keadaan lapisan sedimen/batuan (korelasi dengan data bor yang ada) serta
struktur geologi (bila ada).

9
Gambar 11. SyQwest Bathy 2010 Tranducer (arah panah)
dan Katamaran (pelampung tranducer)

Gambar 12. SyQwest bathy 2010 PC CHIRP Sub Bottom


Profiler, digunakan dalam survei seismik laut

10
IV. GEOLOGI REGIONAL

Secara regional, satuan batuan yang ditemukan di daerah Bontang dan


sekitarnya terdiri dari Aluvium Kuarter dan Sedimen Tersier (Gambar 2).
Endapan Aluvium Kuarter terdapat hampir di sepanjang pantai daerah ini, kecuali
di beberapa tempat dibentuk oleh batuan Sedimen Tersier. Umumnya satuan
endapan Aluvium Kuarter ini terdiri dari lempung, lanau, pasir dan kerikil, koral
dan lumpur. Selain itu pada satuan endapan ini juga dijumpai fragmen biota
yang jumlahnya berlimpah. Fragmen biota ini terdiri dari sisa-sisa tumbuhan,
fragmen cangkang foraminifera yang biasanya diendapkan pada lingkungan
sungai, rawa dan delta. Satuan sedimen Tersier yang dijumpai di daerah Bontang
dapat dikelompokkan dalam 5 (lima) Formasi yaitu:

Formasi Tendehhantu: Formasi ini umumnya tersusun oleh batugamping


terumbu muka, batugamping koral, batugamping terumbu belakang dengan ciri
berlapis, berwarna kuning muda, pejal dan berongga. Formasi Tendehhantu ini
berumur Miosen Tengah bagian atas dan banyak ditemukan didaerah Lubuk
Tutung dan sekitarnya. Lingkungan pengendapan formasi ini diduga pada
lingkungan laut dangkal dengan ketebalan lebih kurang 300 meter berhubungan
menjari dengan Formasi Menumbar.
Formasi Menumbar: Formasi ini tersusun oleh perselingan batulumpur
gampingan dengan batugamping di bagian bawah, batupasir masif mengandung
glukonit dan kaya akan foram, moluska serta koral dan memperlihatkan struktur
sedimen silang-siur di bagian atas. Batulumpur gampingan berwarna kelabu,
agak lunak menunjukkan umur Miosen Tengah bagian atas-Miosen Akhir bagian
bawah. Formasi ini terdapat di daerah Kariorang, sekitar Tanjung Pamirikan dan
Pulau Japang. Secara stratigrafi formasi ini memperlihatkan hubungan struktur
sedimen menjari dengan Formasi Tendehhantu.
Formasi Golok: Formasi Golok tersusun oleh napal bersisipan lempung,
batugamping napalan, kadang-kadang mengandung cangkang moluska dan
fragmen batubara yang berwarna abu-abu kekuningan sampai coklat, dan

11
setempat-setempat bersifat pasiran, lunak berbutir halus sampai sedang.
Dijumpai di daerah Teluk Bakong dan Pulau Miang Besar, berumur Miosen
Akhir-Pliosen dan dicirikan oleh adanya fosil globigerina yang biasanya
diendapkan pada lingkungan pengendapan neritik-bathial.
Formasi Karangan: Formasi ini tersusun oleh batuan konglomerat, batupasir,
batulempung bersisipan batugamping dan lignit berumur Eosen yang diendapkan
pada lingkungan laut dalam-litoral. Formasi ini dijumpai di bagian timur Teluk
Bakong.
Formasi Kampungbaru: Formasi ini tersusun oleh lempung pasiran, napal dan
pasir dengan perselingan batubara dan tufa terdapat di berapa tempat. Formasi
ini berumur Pliosen Awal dengan lingkungan pengendapan regresi delta dan laut
dangkal, dan dapat dijumpai di bagian timur Teluk Sandaran. Ketebalan
mencapai lebih kurang 250 meter.

Gambar 2. Peta geologi Lembar 1996 (Sangatta), Kalimantan Timur

12
V. HASIL SURVEI

Dari hasil analisa menunjukkan bahwa sisa tanah yang belum bisa dikeruk,
merupakan Aluvium Kuarter ini terdiri dari lempung, lanau, pasir dan kerikil, koral
dan karang, yang terkonsolidasi dengan sangat padat dan mengeras, yang
berada pada kedalaman variatif mulai minus 3.0 sampai minus 7.0 dari air
terendah. Mempunyai ketebalan variatip pula, mulai dari 2 meter sampai 4 meter.

Dibawahnya merupakan tanah yang cukup lunak, berupa campuran lanau dan
pasir sampai pada kedalaman minus 20 meter. Disini tanah kembali mengeras
lagi.

13
14
15
16
17
18