Anda di halaman 1dari 5

PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM

OLEH : ALWI DAHLAN P

ini bermakna bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang
mendidik. Beberapa istilah tentang pendidik mengacu kepada seseorang yang memberikan
pengetahuan, keterampilan atau pengalaman kepada orang lain.

Abdullah Nashih Ulwan (Rahardjo, 1999:56) seorang ulama Mesir pada abad 20 memaknai
pendidik sebagai seorang penyampai ilmu pengetahuan, pemberi nasihat, dan teladan bagi
anak didiknya. Dalam sistem pendidikan faktor pendidik merupakan tolak ukur keberhasilan
peserta didik. Pendidik memiliki tanggung jawab dan memiliki sifat-sifat asasi, yaitu;
keikhlasan, bertaqwa, berilmu, bersikap dan berprilaku santun.

Sedangkan Hasan Langgulung (1986:227) memaknai pendidik sebagai alat untuk


mencapai tujuan. Pendidik memegang peranan penting dalam pendidikan sebab keberhasilan

Abuddin Nata (2005:114) mendefiniskan pendidik secara fungsional menunjukan


kepada seseorang yang melakukan kegiatan dan memberikan pengetahuan, keterampilan,
pendidikan, pengalaman dan sebagainya. Peranan orang tua sangat berpengaruh dalam
mendidik anaknya karena secara moral dan teologis keduanya dibebani tanggungjawab
dalam mendidik anaknya. Sedangkan di sekolah tanggung jawab dibebankan kepada
guru, begitu juga di masyarakat dilakukan oleh organisasi-organisasi kependidikan
dan sebagainya. Oleh karena itu, peranan orang tua, guru dan tokoh masyarakat dapat
dikategorikan sebagai pendidik.
Hakikat pendidik dalam Islam, adalah orang-orang yang bertanggung jawab dalam
perkembangan peserta didik dengan mengupayakan seluruh potensi anak didik, baik
potensi afektif, kognitif maupun potensi psikomotor. Senada dengan ini, Mohammad
Fadhli al-Jamali menyebutkan, bahwa pendidik adalah orang yang mengarahkan manusia
kepada kehidupan yang lebih baik sehingga terangkat derajat manusianya sesuai dengan
kemampuan dasar yang dimiliki oleh manusia (A. Tafsir, 1994:75).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:377), guru adalah manusia yang
tugasnya (profesionalnya) mengajar. Sedangkan menurut St. Vembrianto, dkk., (1994:21)
dalam buku Kamus Pendidikan yang dimaksud dengan guru adalah pendidik profesional di
sekolah dengan tugas utama mengajar. Sementara pada sisi lain, guru diidentikkan dengan
istilah pendidik, karena makna pendidik adalah usaha untuk membimbing, mengarahkan,
mentransfer ilmu dapat dilakukan secara umum. Namun istilah guru biasa dipakai
untuk pendidik pada lembaga formal, seperti sekolah, madrasah, dan dosen dalam dunia
perguruan tinggi (Arianto, 2008:1).
Pendidik juga bermakna orang dewasa yang bertanggung jawab memberi pertolongan
pada peserta didiknya dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat
kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaan, mampu mandiri
dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah Swt dan mampu melakukan
tugas sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk individu mandiri. Demikian pendapat
Suryosubrata yang dikutip oleh Abdul Mujib (2006:87).
Menurut Ikhwa al Shafa pendidik tidak boleh menjejali otak peserta didik dengan ide-ide
atau keinginannya sendiri. Pendidik hendaknya mengangkat potensi laten yang terdapat
dalam diri peserta didik. Pada empat tahun pertama, anak secara tidak sadar menyerap
semua ide dan perasaan dari lingkungan sosialnya. Setelah itu, pada proses selanjutnya ia
mulai meniru sikap dan ide dari orang-orang disekitarnya.

prinsip utama yang perlu diperhatikan pendidik, yaitu :


1. Prinsip pembiasaan;
2. Prinsip tadrij (berangsur-angsur);
3. Prinsip pengenalan umum (generalistik);
4. Prinsip kontinuitas;
5. Memperhatikan bakat dan kemampuan peserta didik;
6. Menghindari kekerasan dalam mengajar.
Menurut Al-Ghazali pendidik adalah orang yang berusaha membimbing, meningkatkan,
menyempurnakan, dan mensucikan hati sehingga menjadi dekat dengan Khaliqnya (Al-
Ghazali, 1939:13). Tugas ini didasarkan pada pandangan bahwa manusia merupakan
makhluk yang mulia. Kesempurnaan manusia terletak pada kesucian hatinya. Untuk itu,
pendidik dalam prespektif Islam melaksanakan proses pendidikan hendaknya diarahkan
pada aspek tazkiyah an-nafs. Dalam mengajarkan ilmu pengetahuan, seorang pendidik
hendaknya memberikan penekanan pada upaya membimbing dan membiasakan agar
ilmu yang diajarkan tidak hanya dipahami, dikuasai atau dimiliki oleh peserta didik, akan
tetapi lebih dari itu perlu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pelaksanaannya,
semua metode pendidikan yang memiliki relevansi terhadap upaya pendidikan hendaknya
dapat dipergunakan pendidik dalam proses belajar mengajar. Penggunaan setiap metode
pendidikan hendaknya diselaraskan dengan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan,
tingkat usia peserta didik, kecerdasan, bakat, dan fitrahnya.

HAKIKAT PESERTA DIDIKI

Secara bahasa peserta didik adalah orang yang sedang berada pada fase pertumbuhan
dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan
merupakan ciri dari seseorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik.
Pertumbuhan yang menyangkut fisik, perkembangan menyangkut psikis.
Abdul Mujib (2006:103) mengatakan berpijak pada paradigma “belajar sepanjang
masa”, maka istilah yang lebih tepat untuk menyebut individu yang menuntut ilmu adalah
peserta didik bukan anak didik.
Lebih lanjut Abdul Mujib mengatakan peserta didik cakupannya sangat luas, tidak
hanya melibatkan anak-anak tetapi mencakup orang dewasa. Sementara istilah anak didik
hanya mengkhususkan bagi individu yang berusia kanak-kanak. Penyebutan peserta didik
mengisyaratkan tidak hanya dalam pendidikan formal seperti sekolah, madrasah dan
sebagainya tetapi penyebutan peserta didik dapat mencakup pendidikan non formal seperti
pendidikan di masyarakat, majlis taklim atau lembaga-lembaga kemasyarakatan lainya.

Lain halnya dengan Ahmad Tafsir (2006:164-165) berpendapat bahwa istilah untuk
peserta didik adalah murid bukan pelajar, anak didik atau peserta didik. Beliau berpendapat
bahwa pemakaian murid dalam pendidikan mengandung kesungguhan belajar, memuliakan
guru, keprihatinan guru terhadap murid. Dalam konsep murid ini terkandung keyakinan
bahwa mengajar dan belajar itu wajib, dalam perbuatan mengajar dan belajar terdapat
keberkahan tersendiri. Pendidikan yang dilakukan oleh murid dianggap mengandung
muatan profane dan transcendental.

Syamsul Nizar sebagaimana dikutip oleh Ramayulis (2006:77) mendeskripsikan enam


kriteria peserta didik adalah sebagai berikut:
1. Peserta didik bukanlah miniatur orang dewasa tetapi ia memiliki dunianya sendiri.
Peserta didik memiliki metode belajar mengajar tersendiri, ia tidak boleh dieksploitasi
oleh orang dewasa dengan memaksakan anak didik untuk mengikuti metode belajar
mengajar orang dewasa, sehingga peserta didik kehilangan dunianya;
2. Peserta didik memiliki masa atau priodisasi perkembangan dan pertumbuhannya.
Menurut Abraham Maslow, terdapat lima hierarki kebutuhan yang dikelompokan
menjadi dua kategori. Pertama, kebutuhan taraf dasar (basic needs) yang meliputi
kebutuhan fisik, rasa aman, dan terjamin, cinta dan ikut memiliki (sosial) dan harga diri.
Kedua, metakebutuhan (meta needs) meliputi aktualisasi diri seperti keadilan, kebaikan,
keindahan, keteraturan, kesatuan dan lain sebagainya;
3. Peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan antara individu yang satu
dengan individu yang lain baik disebabkan oleh faktor bawaan maupun lingkungan
dimana ia berada. Perbedaan ini dipengaruhi oleh faktor endogen (fitrah) seperti
jasmani, inteligensi, sosial, bakat dan minat sedangkan faktor eksogen (lingkungan)
dipengaruhi oleh pergaulan dan pengajaran yang di dapatkan di lingkungan ia berada;
4. Peserta didik merupakan dua unsur utama jasmani dan rohani, unsur jasmani memiliki
daya fisik dan unsur rohani memiliki daya akal hati nurani dan nafsu;
5. Peserta didik dipandang sebagai kesatuan sistem manusia. Sesuai dengan hakikat
manusia, peserta didik sebagai makhluk monopluralis, maka pribadi peserta didik
walaupun terdiri dari banyak segi, merupakan satu kesatuan jiwa raga (cipta, rasa dan
karsa);
6. Peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi atau fitrah yang dapat dikembangkan
dan berkembang secara dinamis (fleksibel).

Etika peserta didik merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan baik secara langsung
maupun tidak langsung, al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh Fhatiyah Hasan Sulaeman
(1986:39-43) merumuskan sepuluh kewajiban peserta didik diantaranya sebagai berikut:
1. Belajar dengan niat ibadah untuk selalu mendekatkan kepada Allah Swt dengan niat
ikhlas. Faktor terpenting yang harus dimiliki peserta didik adalah kesucian jiwa karena
hal ini akan menghindari murid dari sifat-sifat tercela yang bertentangan dengan ajaran
agama;
2. Mengurangi kecendrungan pada urusan dunia tetapi lebih mengutamakan pada urusan
akhirat. Karena kecintaan terhadap urusan dunia akan menyebabkan mental-mental
materialism;
3. Memiliki keperibadian tawadhu (rendah hati) dengan lebih mengutamakan kepentingan
pendidikan daripada kepentingan pribadi. Peserta didik haruslah memiliki ilmu seperti
padi ‘semakin berisi semakin merunduk’;
4. Menghindari pikiran-pikiran yang dapat mempengaruhi kebimbangan peserta didik
yang timbul dari berbagai aliran;