Anda di halaman 1dari 8

Pantai Jatimalang

Suasana Berbeda di
Pesisir Selatan Jawa
Tengah
Kabupaten Purworejo yang berada di Provinsi Jawa Tengah dan berbatasan
langsung dengan Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki beberapa destinasi wisata alam
yang menawan. Pantai Jatimalang merupakan pantai yang cukup terkenal
di Purwerejo dan merupakan pantai teramai kedua setelah pantai ketawang. Pantai ini
terletak di Desa Jatimalang, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Jawa
Tengah. Pantai ini berjarak kurang lebih 17 kilometer dari kota Purworejo dan sekitar
60 kilomter dari Kota Yogyakarta.
Seperti kebanyakan pantai di pesisir selatan Jawa, Jatimalang mempunyai pasir
berwarna hitam yang halus nan eksotis dan berpadu dengan deburan ombak yang
cukup besar. Anda bisa bermain air di pantai ini tetapi tidak diperkenankan untuk
berenang. Jika tidak berminat main air karena takut dengan ombak yang besar jangan
khawatir dulu, tidak jauh dari bibir pantai, berjejer kolam renang air tawar. Kolam ini
termasuk juga unik lantaran terbuat dari terpal -terpal berwarna-warni serta ada di tepi
pantai hingga sembari berenang Anda dapat melihat pantai.
Jika ingin merasakan suasana yang berbeda, Anda bisa bersantai di kawasan tanaman
cemara yang cukup rimbun dan sejuk. Tak jauh dari Pantai Jatimalang ada juga TPI
(Tempat Pelelangan Ikan), ikan-ikan itu datang dari nelayan yang ada juga di Pantai
Jatimalang. Bila Anda menginginkan nikmati keindahan pantai tetapi malas jalan kaki,
Anda dapat menyewa ATV yang disewakan oleh orang-orang sekitaran. Dengan tarif
Rp 20. 000/15menit Anda bisa berkeliling pantai tanpa ada rasa lelah.
Pantai yang satu ini menaruh keunggulan serta keelokan sendiri yang tidak sama
dibanding dengan pantai yang lain. Panorama indah sewaktu sunset juga jadi suatu hal
yang tidak bisa ditinggalkan saja oleh Anda. Selain itu bagi anda yang hobby
memancing, di tempat ini anda bisa hunting lokasi memancing di sepanjang bibir Pantai
Jatimalang, dan di spot tertentu yang biasanya banyak sekali para penghobi mancing
yang menghabiskan waktunya di pantai ini.
Pantai ini pada tahun 1942 pernah dijadikan sebagai tempat pendaratan kapal yang
mengangkut tentara Jepang. Hal ini dapat dimungkinkan karena disamping daerahnya
sepi, Pantai Jatimalang sangat mudah dijangkau dan tidak begitu jauh dari
pemukiman. Pantai Jatimalang sendiri juga telah dilengkapi dengan beragam sarana
serta akomodasi pendukung salah satunya yakni toilet yang bersih, tempat basuh air
tawar, serta beragam tempat penginapan dengan harga yang terjangkau. Di
sekitaran Pantai Jatimalang juga ada banyak warung makan seafood.
Tidak hanya wisata alam, Anda juga bisa berwisata sejarah saat datang ke Pantai
Jatimalang hal ini karena adanya sebuah masjid yang merupakan petilasan Pangeran
Diponegoro. Berdasarkan cerita turun temurun, Pangeran Diponegoro pernah singgah
di tempat ini, dan saat ini lokasi yang dibangun masjid tersebut pernah digunakan salat
oleh beliau. Untuk masuk ke obyek wisata ini setiap Anda dikenakan retribusi sebesar
Rp. 5.000 / orang.

Goa Seplawan, Keindahan


Panorama Bawah Tanah di
Pegunungan Menoreh
Goa seplawan terletak di pegunungan menoreh yang membentang dari kecamatan
Bagelen Purworrejo hingga kabupaten Magelang. Dan goa seplawan masuk wilayah
kabupaten Purworejo Jawa Tengah dan di sebelah timur berbatasan langsung dengan
kabupaten Kulonprogo Yogyakarta.Lokasi Goa Seplawan Tepatnya berada di desa
Donorejo kecamatan Kaligesing Purworejo Jawa Tengah.

Memasuki kawasan wisata Goa Seplawan, hawa sejuk begitu terasa disini. Lokasi goa
seplawan berada tak jauh dari area parkir, pengunjung cukup berjalan beberapa meter
saja. Sebelum memasuki goa seplawan, pengunjung akan disuguhi patung besar
replika arca emas Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Dulu, Sekitar tahun 1979 bersamaan
ditemukannya goa Seplawan kala itu ditemukan pula patung emas dan berdasarkan
identifikasi ahli sejarah waktu itu merupakan patung Dewa Siwa dan Parwati. Saat ini
patung tersebut disimpan di museum Nasional Jakarta dan sebagai tanda ditemukan
benda bersejarah maka dibuat patung replika. Dengan ditemukannya patung tersebut
menandakan bahwa goa seplawan mempunyai nilai sejarah yang tinggi.

Untuk Selusur goa seplawan bisa dilakukan oleh siapa saja karena sangat aman dan
mudah tanpa peralatan khusus. Di dalam goa sudah tersedia lampu penerangan yang
menerangi sepanjang jalur wisata goa seplawan. Untuk menuju mulut goa harus
melewati jalan paving yang melingkar dan menurun. Untuk menuju goa pengunjung
harus menuruni tangga yang tersedia. Berada di mulut goa anda sudah merasakan
keajaiban alam berupa stalaktit dan stalakmit yang beraneka ragam nan indah.

Berjalan beberapa meter pengunjung akan mendapati sebuah kolam dengan airnya
yang jernih. Perjalanan tidak berhenti disini, karena ini baru awal. Untuk melanjutkan
selusur goa seplawan, pengunjung harus naik tangga kecil dan masuk lorong goa yang
bisa dilalui satu orang saja. Namun setelah melewati lorong tersebut, pengunjung akan
melihat keindahan goa seplawan. Pengunjung akan terkagum-kagum karena ternyata
goa seplawan memiliki diameter yang besar dan memanjang sepanjang lebih dari 700
meter.
Goa seplawan ini memiliki jalur buntu, karena tidak ada tembusan ke titik tertentu. Jadi
untuk keluar goa harus jalan balik dan keluar melalui pintu masuk. Goa ini memiliki
cabang-cabang yang banyak, dan cabang-cabang tersebut tidak disediakan lampu
penerangan karena beberapa jalur tersebut berupa goa vertikal dan ada juga yang
berlumpur sehingga sering disebut istana lumpur. Untuk memasuki cabang goa
tersebut harus membawa alat penerangan sendiri dan harus dengan pemandu.

Selain keindahan goa alam sendiri, pemandangan alam di kawasan juga sangat indah. Anda
bisa melihat kota Jogja dari gardu pandang goa seplawan. Dari gardu Pandang bisa juga
melihat waduk Sermo yang terletak di Kulonprogo. Bahkan jika naik kepuncak sisi kanan dari
gardu Pandang, jika cuaca cerah bisa menyaksikan 5 gunung sekaligus yaitu Gunung Merapi,
Gunung Merbabu, Gunung Slamet, gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
Pengunjung bisa datang kapan saja di goa ini. Untuk jam buka goa seplawan sendiri mulai dari
jam 08.00 pagi hingga pukul 17.00. Goa seplawan biasanya ramai dikunjungi di hari sabtu atau
minggu ataupun hari llibur atau musim liburan. Untuk tarif tiket masuk Goa Seplawan sangat
murah yaitu sekitar Rp.3.000 rupiah dan tarif parkir Rp. 2000 .
Goa Seplawan terletak di Desa Donorejo kecamatan Kaligesing Purworejo berbatasan
langsung dengan kabupaten Kulonprogo. Bila pengunjung dari arah kota Yogyakarta maka bisa
mengambil rute ke arah Samigaluh melalui jalan Godean. Kemudian lurus ke arah Goa
Kiskendo. Setelah sampai goa Kiskendo lihat papan petunjuk arah menuju Goa Seplawan /
Purworejo. Maka anda cukup mengikuti jalan tersebut dan anda akan sampai di Goa Seplawan.
Fasilitas goa seplawan sudah lumayan lengkap mulai dari area parkir, kamar mandi dan WC,
Mushola dan tersedia warung-warung sehingga jika lapar setelah selusur goa bisa memesan
makanan sembari menikmati keindahan dan kesejukan kawasan goa seplawan.

Museum Tosan Aji


Museum Tosan Aji didirikan pada tanggal 13 April 1987 oleh Ismail (selaku Gubernur
Jawa Tengah) atas prakarsa Suparjo Rustam (selaku Mendagri) dan Surono (selaku
Menkopolkam) bertempat di Pendopo eks Kawedanan Kutoarjo dan merupakan Museum
Tosan Aji Jawa Tengah yang berlokasi di Kabupaten Purworejo.

Pada tanggal 10 Juni 2001, museum dipindahkan di Gedung Pengadilan Negeri Kabupaten
Purworejo yang terletak diJalan Mayjend Sutoyo No. 10 Purworejo Jawa Tengah.
Sedangkan Pendopo eks Kawedan Kutoarjo hingga kini digunakan sebagai rumah dinas
Wakil Bupati Purworejo.

Museum merupakan tempat mengumpulkan, menyimpan, merawat, mengamankan,


melestarikan, dan sekaligus memamerkan benda-benda yang bernilai penting tentang
warisan budaya bangsa maupun warisan alam untuk kepentingan pendidikan,
penelitian/pengkajian ilmu pengetahuan sekaligus rekreasi dalam rangka ikut
mencerdaskan kehidupan bangsa. Tosan Aji diartikan masyarakat sebagai senjata terbuat
dari logam besi yang mempunyai kedudukan terhormat pada pandangan mata masyarakat
terutama pada masa lampau.

Sehingga, Museum Tosan Aji merupakan museum khusus yang hanya menyajikan satu jenis
koleksi yaitu Tosan Aji. Akan tetapi pada perkembangannya, Museum Tosan Aji tidak hanya
menampilkan koleksi Tosan Aji saja, namun juga menampilkan berbagai koleksi
Benda Cagar Budaya yang banyak ditemukan di wilayah Kabupaten Purworejo, baik pada
masa prasejarah maupun masa klasik. Koleksi pusaka yang dimiliki lebih dari 1.000
bilah terdiri dari keris, pedang, tombak, kujang/kudi, cundrik, granggang yang berasal dari
masa Kerajaan Pajajaran, Majapahit hingga sekarang, dan tersimpan pula benda-
benda cagar budaya lainnya seperti gamelan kuno Kyai Cokronegoro, hadiah dari Sri
Susuhunan Paku Buwono VI kepada Bupati Purworejo I (± 1380 M), prasasti, arca, lingga,
yoni, fragmen, lumpang, guci, beliung, batu gong, gerabah, menhir, dan fosil.

Selain itu, museum ini juga menyimpan koleksi kuno berupa pedang
Majapahit, samurai yang tebuat pada tahun 1538 dan 1817. Untuk meningkat mutu
pelayanan kepada masyarakat, Museum Tosan Aji selain mengadakan pameran tetap,
bekerjasama dengan Dinas/Instansi terkait dan Lembaga Swadaya Masyarakat serta
organisasi kemasyarakatan Paseban Risang Aji, mengadakan kegiatan Museum Masuk
Sekolah, workshop, penelitian dan pengkajian koleksi museum, serta lomba-lomba
bertemakan permuseuman dan sebagainya.

Selain itu, Museum Tosan Aji pada setiap tanggal 1 Muharam/1 Syuro mengadakan kegiatan
Jamasan Tosan Aji dan Ruwatan Massal yang didahuli dengan kegiatan Kirab Pusaka
Kabupaten Purworejo pada malam 1 Syuro serta melayani jamasan pusaka dari masyarakat
luas.

Pesona Candi Ratu Boko


https://www.nativeindonesia.com/candi-ratu-boko/

Candi Ratu Boko atau juga disebut Situs Ratu Buko ini adalah bukti dari
peninggalan sejarah negeri ini. Mengapa bisa disebuit juga dengan Situs?
Karena, Ratu Boko adalah reruntuhan dari sebuah istana dan bangunannya pun
tidak ada yang menyerupai Candi. Tempat ini pun juga bisa disebut dengan
Keraton Ratu Boko.
Pada abad ke 17, ada seorang warga eropa yang sempat berkunjung ke Jawa,
tepatnya di wilayah Bokoharjo. Hanya saja, orang tersebut tidak menemukan
situs yang dimaksud. Orang eropa yang masih penasaran dengan situs ini pun
bercerita dengan H.J. De Graff orang Belanda yang kemudian dilakukanlah
sebuah penelitian oleh FDX Bosch yang pada akhirnya ditemukanlah reruntuhan
ini.

Menurut Prasati Abhayagiri wihara yang mempunyai angka 792 M Situs Ratu
Baka merupakan tempat Rakai Panangkaran yang mengundurkan diri dari Raja
Mataram karena, membutuhkan sebuah ketenangan. Kemudian, Rakai
Panangkaran membangun sebuah wihara yang disebut Abhayagiri Wihara.
Ada pula sebuah cerita yang berkembang bahwa Ratu Boko ini diambil dari
sebuah nama yang juga mengacu pada Ayah dari legenda Roro Jonggrang.
Cerita ini sudah berkembang pesat di kalangan masyarakat sekitar. Keraton
Ratu Boko sudah digunakan pada masa dinasti Syailendra.

Situs Ratu Boko merupakan peninggalan Agama Budha. Karena, Rakai


Panangkaran diketahui beragama budha. Hal ini diketahui dengan adanya Arca
Dyani Budha Tetapi, Situs ini pun bisa juga disebut dengan situs peninggalan
agama Hindu dengan ditemukannya Arca Durga, Yoni, dan Ganesha

Gerbang situs ini terdiri dari 2 gerbang yaitu, dalam dan juga luar yang terletak di
bagian barat situs. Gerbang luar memiliki ukuran yang lebih kecil daripada
Gerbang dalamnya yang merupakan sebuah gerbang utama keraton. Gerbang
ini disusun dengan gapura paduraksa. Gerbang luar berjumlah 3 dan berjumlah
5 untuk Gerbang utama.

Ada pula tulisan Panabwara. Dimana diketahui Panabwara adalah nama anak
dari Prabu Rakai Panangkaran. Menurut sejarah yang tercatat Prabu Rakai
Panangkaran adalah penguasa dari Kerajaan Ratu Boko.

Kompleks ini ada sebuah bangunan yang menyerupai candi yaitu Batu Kapur
dan Batu Putih di bagian timur laut. Candi ini dinamakan dengan Batu kapur
karena, fondasi dari candi ini adalah Batu Kapur. Hanya saja, bagian atas dari
candi ini sudah hilang.
Komplek Ratu Boko bagian dalam terdapat Candi pembakaran dan sumur suci.
Candi pembakaran ini terletak di bagian depan yang dibuat dari batu andesit.
Bisa disebut dengan Candi Pembakaran karena, ditemukannya abu bekas dari
sebuah pembakaran.

Dari tempat ini, Sobat Traveller semua bisa melihat sumur suci ini.

Kedalaman sumur suci ini bisa mencapai 2 meter pada saat musim kemarau.
Dalam sejarah Keraton Boko, sumur suci ini digunakan untuk upacara
keagamaan yang dilangsungkan di Candi Pembakaran.

Situs ini berada di atas bukit dengan ketinggian 200 mdpl. Bisa dibilang kawasan
ini adalah sebuah kawasan keraton yang cukup lengkap diantara keraton jawa
lainnya. Dimana kompleks bangunan ini cukup lengkap tediri dari pintu gerbang
masuk, pendopo, tempat tinggal, kolam pemandian, dan juga pagar pelindung.
Terlihat hamparan sawah, candi dan terkadang kereta api yang sedang melintas
menjadi pesona yang cukup menarik. Apalagi, udaranya yang sejuk karena,
banyaknya pepohonan dan rumput-rumput yang serba hijau.
Untuk menikmati pemandangan ini bisa dengan duduk di kursi-kursi yang sudah
disediakan oleh pihak pengelola. Dari sinilah, wisatawan semua bisa melihat
keindahan dari atas ketinggian ini. Kursi-kursi ini sangat menarik untuk dijadikan
sebagai spot foto Sobat Traveller semua.

Dari sekian banyak daya tarik yang dimiliki oleh situs ini ada satu hal yang
membuat siapa pun Traveller rela untuk menunggu. Apa itu? Pesona Matahari
Terbenam yang begitu cantik dan tidak ada tempat yang bisa menyuguhkan
pemandangan seindah ini.

Warna oranye matahari tepat berada di tengah-tengah pintu gerbang situs.


Berpadu dengan warna langit yang menggemaskan.

Bisa dipastikan, tempat ini mampu menghasikan Foto Siluet terbaik dengan
landscape yang terbaik pula. Semuanya seakan terasa tepat dan pas. Tetapi,
sekali lagi yang namanya pesona Matahari terbenam adalah sebuah pesona
keberuntungan. Jika, Sobat Traveller mendapati keadaan seperti ini berarti Sobat
Traveller termasuk dari orang-orang beruntung.

Situs Ratu Boko atau Candi Ratu boko adalah peninggalam sejarah negeri ini
yang paling berharga. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari sini.
Lagipula, keindahannya pun juga tak kalah menggiurkan dengan yang lain.

MUSEUM DIRGANTARA YOGYAKARTA

Jogjakarta tidak hanya memiliki obyek wisata alam dan budaya yang memesona. Wisata edukasi
dan sejarahnya pun tak bisa disepelekan. Nggak percaya ? Tengok saja Museum Dirgantara
Mandala Jogjakarta. Di tempat ini, rangkaian peran sejarah perang kemerdekaan hingga
perjalanan tentara matra udara republik ini terangkum.
Biasanya, museum adalah tempat wisata paling tidak menarik bagi banyak orang. Tempatnya
monoton, kadang kurang terawat dan terkesan membosankan. Belum lagi, tidak ada
pemandangan yang menyejukkan di museum. Namun, segeralah hilangkan apriori itu ketika
mengunjungi Museum Dirgantara Mandala di Jogjakarta. Dijamin deh, bakalan betah di museum
ini. Terlebih, jika mengajak anak-anak usai TK hingga SMP. Mereka bisa jadi enggan diajak
pulang karena bisa langsung melihat pesawat-pesawat terbang milik TNI AU yang sudah tak lagi
digunakan.
Lokasi Museum Dirgantara
Museum ini terletak di ujung utara Kabupaten Bantul berbatasan dengan Kabupaten Sleman.
Tepatnya di Komplek Pangkalan Udara (Lanud) TNI-AU Adisucipto Jogjakarta. Kalau dari arah
Kota Surakarta, setelah sampai di pertigaan Janti, belok ke kiri. Mulut masuk museum tersebut
ada di sisi kiri jalan dari arah utara, tepat setelah fly over Janti habis persis di turunan.
Terpampang tulisan besar nama museum di tempat ini, sehingga memudahkan pengunjung.
Dari pos penjagaan POM TNI AU, jalan masuk ke museum tidak terlalu jauh. Kalaupun harus
jalan kaki, tidak akan membuat capek atau napas terengah. Lumayan lah untuk olahraga. Nah,
begitu sampai di ruang utama, pemandangan sudah sangat mengasyikkan. Hamparan rumput
hijau di depan museum, dipadu dengan pepohonan besar rindang. Hawa terasa sejuk meski
berada tak jauh dari pusat kota Jogjakarta. Sesekali, suasana museum dipecahkan oleh suara
berbagai jenis pesawat komersial yang akan take off maupun landing di Bandara Adisucipto.
Jam Operasional & Harga Tiket Masuk Museum Dirgantara
Museum Dirgantara ini dibuka untuk umum setiap hari mulai dari pukul 08.30 sampai dengan
pukul 15.00 WIB. Tetapi pada hari Senin dan hari libur nasional Museum Dirgantara ini tutup.
Di Museum Dirgantara harga tiket masuknya tidaklah mahal karena hanya Rp. 3000,- saja per
orang. Para pengunjung yang datang dalam rombongan yang terdiri dari 30 orang atau lebih
tentunya akan mendapatkan potongan harga , menjadi Rp. 2000,- saja per orang.
Apa saja yang bisa dipelajari anak-anak di Museum Dirgantara?
Museum Dirgantara Mandala ini banyak menampilkan sejarah kedirgantaraan bangsa Indonesia
serta sejarah perkembangan angkatan udara RI pada khususnya. Selain terdapat diorama juga
terdapat bermacam-macam jenis pesawat yang dipergunakan pada masa perjuangan. Beberapa
model dari pesawat tersebut adalah milik tentara Jepang yang digunakan oleh Angkatan Udara
Indonesia (AURI), saat kemerdekaan.
Museum Dirgantara gedungnya di bagi menjadi beberapa ruangan yaitu:
1. Ruang Utama
Ruang Utama ini berisi pajangan foto-foto mantan petinggi-petinggi angkatan udara.
2. Ruang Kronologi I dan II (DIORAMA)
Disini pengunjung dapat melihat-lihat diorama sejarah dan dokumen-dokumen semasa
proklamasi kemerdekaan RI 1945.
Museum ini pun banyak menceritakan sejarah keterlibatan TNI AU untuk menegakkan Merah
Putih. Mulai dari sejarah Agresi Militer Belanda II yang menyerangkan Lanud Adisucipto
(waktu itu masih bernama Maguwo).
Di sekuel ini, dalam sebuah diorama diceritakan bagaimana perjuangan penghabisan para
anggota Pasukan Pertahanan Pangkalan Udara Maguwo. Di sisi ini, museum menyimpan
potongan C-47 VTCLA yang ditumpangi para perwira TNI AU, Adisucito, Adisumarmo dan
Abdulrahman Saleh. Pesawat itu jatuh karena ditembak Belanda dan para perwira ini gugur.
Selain kisah ini, masih banyak diorama lain di museum. diantaranya yaitu diorama penerbangan
pertama pesawat merah putih, diorama peristiwa 29 juli 1947, diorama setelah penerbangan
pertama, diorama Trikora, Diorama Satelit (SKSD) Palapa.
3. Ruang ALUTSISTA
Ruang Alutsista di ruangan ini para penelusur dapat melihat-lihat peralatan tempur TNI-AU yang
digunakan sewaktu tempur melawan penjajah pada jaman dahulu.
Di ruangan Alutsista ini, berbagai jenis pesawat menyambut dan memberi pandangan dan kesan
luar biasa. Di dalam ruangan ini, pesawat-pesawat yang dipakai untuk perang kemerdekaan
hingga mempertahankan kedaulatan RI di udara dipamerkan. Mulai dari Zero, C-47 Dakota, P-
51 Mustang, F-86 Sabre hingga sederet pesawat buatan Rusia dari jenis Mig dipamerkan.
Lengkap dengan nama pesawat, jenis, tahun pembuatan dan negara produsennya. Kondisinya,
meski jelas sudah tidak bisa terbang, masih terbilang bagus. Bahkan ada juga helikopter pertama
produksi Indonesia yang pernah dinaiki oleh first lady Fatmawati, istri Presiden RI pertama Ir
Soekarno.
Di sisi lain museum, ditempati berbagai alutsista (alat utama sistem senjata) milik TNI AU.
Beberapa di antaranya adalah rudal antipesawat, senjata PSU (penangkis serangan udara) dan
beberapa senapan yang dipakai oleh pasukan Indonesia yang melawan Belanda waktu itu.
Beberapa pesawat, dirancang bisa dinaiki oleh pengungjung. Tentu saja secara statis, tidak
diterbangkan. Jadi siapapun bisa langsung tahu keadaan di dalam pesawat, dan teknologi yang
sudah ada saat itu.
Studio Foto "Pilot Pesawat Tempur"
Ketika berkunjung ke museum ini bersama anak-anak , jangan lupa ajak mereka berfoto a la
Pilor Jet Pesawat Tempur! Mereka pasti difoto dengan bangganya dan hasil foto akan menjadi
kenangan manis saat berkunjung ke museum Dirgantara.
Tempat Penjualan Souvenir Museum Dirgantara
Mendekati pintu keluar museum terdapat sebuah toko souvenir yang menjual berbagai benda
aksesoris kedirgantaraan Indonesia, mulai dari topi bergambar pesawat tempur, t-shirt, bros atau
pin pesawat tempur, jaket pilot pesawat tempur sampai miniatur pesawat tempur yang dibuat
secara rapih. Benda-benda di toko souvenir Museum Dirgantara ini bisa dijadikan sebagai oleh-
oleh alternative para turis local maupun mancanegara yang berkunjung ke Jogja.
Halaman Museum
Di halaman museum, ada beberapa koleksi pesawat legendaris milik TNI AU yang dipajang. Di
antaranya, A-4 Skyhawk dan PBY Catalina. Yang disebut terakhir ini adalah pesawat amphibi
yang bisa take off maupun landing dari air. Kemudian, di satu sudut halaman museum, terdapat
sebuah alut sista buatan bekas Uni Sovyet. Nama pesawatnya TU-16. Indonesia pernah memiliki
belasan dengan beberapa tipe jenis pesawat yang dijuluki Badger oleh Amerika itu. Salah
satunya yang terkenal adalah TU-16 KS. Karena kekuatan deterrence pesawat inilah, Belanda
angkat kaki dari Papua, sehingga Trikora berakhir dan Pulau Cenderawasih itu kembali ke
pangkuan RI.
Perasaan Bangga setelah mengunjungi Museum Dirgantara
Dengan mengunjungi ini, pengunjung khususnya anak-anak bisa bangga denga pencapaian
angkatan udara Indonesia yang mulai dari zaman perang kemerdekaan sudah memiliki
kemampuan mendidik kadet penerbang. Bahkan, bisa menyerang Belanda di Semarang dan
Ambarawa dengan pesawat. Meski bukan pesawat baru pada saat itu, namun hal tersebut tetap
sangat membanggakan.
Setelah berkunjung ke museum ini, diharapkan pengunjung menyadari bahwa negara kita pernah
memiliki kekuatan luar biasa di Asia. Ya, jadi kalau berkunjung ke Museum Dirgantara Mandala
Jogjakarta, tak hanya hati dan pikiran yang fresh. Di dada kita, nasionalisme bakal semakin kuat
tertanam.