Anda di halaman 1dari 5

KONSEP HOLISTIC CARE DAN HUBUNGANNYA DENGAN

TEORI HENDERSON

NAMA KELOMPOK:

ALEX (16.0358.693.01)

DINDA ANDINI (16.0364.699.01)

ELVA VERA F. (16.0368.703.01)

LAILA TIFAH (16.0383.718.01)

LISSA MULYANDARI (16.0384.719.01)


HOLISTIC CARE

A. Pengertian
Holistic memiliki arti ’menyeluruh’ yang terdiri dari kata holy and healthy.
Pandangan holistik bermakna membangun manusia yang utuh dan sehat, dan
seimbang terkait dengan seluruh aspek dalam pembelajaran; seperti spiritual, moral,
imajinasi, intelektual, budaya, estetika, emosi, dan fisik. Jadi healthy yang
dimaksud bukan hanya phisically, tetapi lebih pada aspek sinergitas spiritually.
Pengobatan Holistic adalah, Pengobatan dengan menggunakan Konsep
Menyeluruh, yaitu keterpaduan antara Jiwa dan raga, dengan method Alamiah yang
ilmiah, serta ilahia yang mana. Tubuh manusia merupakan keterpaduan system
yang sangat Kompleks, dan saling berinteraksi satu sama lainnya dengan sangat
kompak dan otomatis terganggunya satu fungsi/ elemen / unsure tubuh manusia
dapat mempengaruhi fungsi yang lainnya.
Keterkaitan antara jiwa dan raga tidak terpisahkan, sebagaimana dikenal
bahwa : Didalam raga yang sehat terdapat jiwa yang sehat, dan juga sebaliknya jiwa
yang sehat dapat membentuk raga yang sehat.., Dan Pembentukan Jiwa yang sehat
adalah dengan berserah diri secara penuh dan ikhlas kepada Sang Pencipta dan
Penguasa Jagat Raya, yang memiliki segala sesuatu, dan penentu segala sesuatu,
Allah SWT. Pengobatan Holistic terpadu, memiliki perbedaan konsep yang sangat
nyata dengan Konsep Kedokteran (Konvensional), Konsep Konvensional lebih
lebih menekankan kepada tindakan seperti pemberian obat-obat kimiawi, dan
tindakan rekayasa fisik dengan pembedahan/ operasi, dll, sementara pengobatan
holistic lebih menekankan membangkitkan system imun pasien, dan memperbaiki
secara menyeluruh dari factor pencetus penyakit (akar permasalahan penyakit),
sehingga definisi kesembuhan cenderung Permanen (tidak kambuh lagi),
sedangkan yang konnvensional pada umumnya bersifat tindakan sementara
(kambuhan) sehinnga sampai ada istilah Pasien Langgangan Dokter.

B. Definisi
Holistic care sendiri merupakan Pelayanan kesehatan dengan lebih
memperhatikan keutuhan aspek kehidupan sebagai manusia yang
meliputi kehidupan jasmani, mental, social, spiritual yang saling mempengaruhi.
MODEL DAN HUBUNGAN HOLISTIC CARE DENGAN TEORI KEPERAWATAN
MENURUT TEORI HENDERSON

Virginia henderson memperkenalkan defenition of nursing (defenisi


keperawatan). Defenisinya mengenai keperawatan dipengaruhi oleh latar belakang
pendidikannya.Ia menyatakan bahwa defenisi keperawatan harus menyertakan
prinsip kesetimbangan fisiologis. Henderson sendiri kemudian mengemukakan
sebuah defenisi keperawatan yang ditinjau dari sisi fungsional. Menurutnya, tugas
unik perawat adalah membantu individu, baik dalam keadaan sakit maupun sehat,
melalui upayanya melaksanakan berbagai aktivitas guna mendukung kesehatan dan
penyembuhan individu atau proses meninggal dengan damai, yang dapat dilakukan
secara mandiri oleh individu saat ia memiliki kekuatan, kemampuan, kemauan, atau
pengetahuan untk itu. Di samping itu, Henderson juga mengembangkan sebuah
model keperawatan yang dikenal dengan “The Activities of Living”.Model tersebut
menjelaskan bahwa tugas perawat adalah membantu individu dalam meningkatkan
kemandiriannya secepat mungkin. Perawat menjalankan tugasnya secara mandiri,
tidak tergantung pada dokter.Akan tetapi perawat tetap menyampaikan rencananya
pada dokter sewaktu mengunjungi pasien.

Konsep Utama Teori Henderson


Menurut Henderson, kebutuhan dasar manusia terdiri atas 14 komponen
yang merupakan komponen penanganan perawatan. Keempat belas kebutuhan
tersebut adalah sebagai berikut.
1. Bernapas secara normal
2. Makan dan minum dengan cukup
3. Membuang kotoran tubuh
4. Bergerak dan menjaga posisi yang diinginkan
5. Tidur dan istirahat
6. Memilih pakaian yang sesuai
7. Menjaga suhu tubuh tetap dalam batas normal dengan
menyesuaikan pakaian dan mengubah lingkungan
8. Menjaga tubuh tetap bersih dan terawat serta melindungi
integumen
9. Menghindari bahaya lingkungan yang bisa melukai
10. Berkomunikasi dengan orang lain dalam menungkapkan emosi,
kebutuhan, rasa takut, atau pendapat
11. Beribadah sesuai dengan keyakinan
12. Bekerja dengan tata cara yang mengandung prestasi
13. Bermain atau terlibat dalam berbagai kegiatan rekreasi
14. Belajar mengetahui atau memuaskan atau rasa penasaran yang
menuntun pada perkembangan normal dan kesehatan serta
menggunakan fasilitas kesehatan yang tersedia.
Menurut henderson, hubungan perawat-klien terbagi dalam tiga tingkatan, mulai
dari hubungan sangat bergantung hingga hubungan sangat mandiri.
1. Perawat sebagai pengganti (substitute) bagi pasien
2. Perawat sebagai penolong (helper) bagi pasien
3. Perawat sebagai mitra (partner) bagi pasien.
Pada situasi pasien yang gawat, perawat berperan sebagai pengganti di dalam
memenuhi kebutuhan pasien akibat kekuatan fisik, kemampuan, atau kemampuan
pasien yang berkurang.Di sini perawat berfungsi untuk “melengkapinya”.Setelah
kondisi gawat berlalu dan pasien berada fase pemulihan, perawat berperan sebagai
penolong untuk menolong atau membantu pasien mendapatkan kembali
kemandiriannya. Kemandirin ini sifatnya relatif, sebab tidak ada satu pun manusia
yang tidak bergantung pada orang lain. Meskipun demikian, perawat berusaha keras
saling bergantung demi mewujudkan kesehatan pasien.Sebagai mitra, perawat dan
pasien bersama-sama merumuskan rencana perawatan bagi pasien.Meski
diagnosisnya berbeda, setiap pasien tetap memiliki kebutuhan dasar yang harus
dipenuhi. Hanya saja, kebutuhan dasar tersebut dimodifikasi berdasarkan kondisi
patologis dan faktor lainnya, seperti usia, tabiat, kondisi emosional, status sosial
atau budaya, serta kekuatan fisik dan intelektual.
Kaitannya dengan hubungan perawat-dokter, Henderson berpendapat bahwa
perawat tidak boleh selalu tunduk mengikuti perintah dokter. Henderson sendiri
mempertanyakan filosofi yang membolehkan seorang dokter memberi perintah
kepada pasien atau tenaga kesehatan lainnya.

Contoh
Seorang klien yang lama tidak bergerak dan sulit untuk berjalan, pada kondisi ini
maka kebutuhan dasar klien tidak terpenuhi menurut konsep keperawatan teori
Henderson, maka perawat harus merawat dengan holistic care yaitu merupakan
Pelayanan kesehatan dengan lebih memperhatikan keutuhan aspek kehidupan
sebagai manusia yang meliputi kehidupan jasmani, mental, social, spiritual yang
saling mempengaruhi untuk menuju kesembuhan klien agar klien tidak megalami
gangguan kesehatan akibat kebutuhan mobilisasi yang tidak terpenuhi.

Kesimpulan
Hubungan holistic care dengan teori Henderson dapat dikatakan berkaitan
erat karena dalam teori henderson dimana dalam teori Henderson memiliki tujuan
Keperawatan untuk bekerja secara mandiri dengan tenaga pemberi pelayanan
kesehatan (Marriner-Torney, 1994), membantu klien untuk mendapatkan kembali
kemandiriannya secepat mungkin. Kerangka Kerja Praktik: Praktik keperawatan
membentuk klien untuk melakukan 14 kebutuhan dasar Henderson (Henderson,
1966) yang merupakan Pelayanan kesehatan yang memerhatikan 14 kebutuhan
dasar manusia dalam keutuhan aspek kehidupan sebagai manusia.