Anda di halaman 1dari 3

Syifa Maulani Fadhilah

17/409725/PS/07354

RANGKUMAN MATERI KULIAH BERSAMA PSIKOLOGI PENDIDIKAN


ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Dosen tamu: Dr. Purboyo Solek, Sp.A(K)

Rabu, 16 Oktober 2019

 Diagnosis perkembangan dan perilaku anak ditegakkan oleh dokter spesialis anak,
psikolog perkembangan anak, psikiatri anak, orthopedagog, dll. Akan tetapi, di
Indonesia sering ditemui diagnosis yang ditegakkan oleh terapis, padahal terapis
tidak dapat menegakkan diagnosis perkembangan dan perilaku anak.

 Penilaian perkembangan anak meliputi aspek perkembangan motorik (kasar dan


halus), bahasa, sosial, kognitif (kepandaian). Selain itu, berdasarkan konsep
klasik, juga meliputi aspek perilaku dan executive function.

 Saat melakukan pemeriksaan pada anak, seorang pediatrician (dokter spesialis


anak) harus melihat proses perkembangan anak tersebut. Hasil pemeriksaan
perkembangan anak ialah normal atau tidak normal. Perkembangan anak normal
dan tidak normal paling sederhana dapat dilihat melalui “milestone”
perkembangan anak.

 Diperlukannya deteksi dini dalam menilai perkembangan anak. Deteksi dini


dilakukan tergantung kasus gangguan perkembangannya. Beberapa dapat dilihat
pada saat anak lahir. Deteksi dini dilalukukan agar gangguan yang terjadi pada
anak lebih cepat ditangani. Deteksi yang lambat dapat menyebabkan gangguan
menjadi kompleks dan membutuhkan biaya yang lebih besar. Deteksi dini dapat
dilakukan oleh dokter umum, dokter spesialis anak, psikolog perkembangan anak,
guru, dan orang tua.
 Gangguan/keluhan yang sering ditemui ialah pada perkembangan bahasa (autism
spectrum disorder dan disleksia), motorik (cerebral palsy), dan perilaku (ADHD
dan gifted).

Autistic Spectrum Disorders (ASD)

 Area perkembangan yang terganggu pada anak dengan ASD ialah interaksi sosial,
komunikasi/bahasa, perilaku, kognisi, persepsi, sensori, emosi, dan perilaku.

 Autistic ditandai dengan perilaku yang kaku (rigid), seperti membawa benda
tertentu (kadang tidak berfungsi), perilaku yang stereotip (repetitif), dan flapping.

 Tipe-tipe autis:

1. Aloof: kontak sangat minim, tidak mampu memulai dan mempertahankan


interaksi.

2. Passive: mampu berinteraksi sesaat, tidak mampu mempertahankan interaksi.

3. Active but odd: tidak mampu berinteraksi karena selalu bergerak tidak
bertujuan dan disertai perilaku aneh.

 Gangguan kognisi pada ASD:

1. Low Funtioning (IQ<45): keterbelakangan mental berat dan kompleksitas


gejala sangat hebat.

2. Middle Functioning: keterbelakangan mental sedang dan kompleksitas gejala


cukup berat.

3. High Functioning (IQ kisaran 60): keterbelakangan mental ringan dan


kompleksitas gejala minim.

Disleksia

 Deteksi dini diperlukan untuk mengetahui disleksia.

 Perbedaan waktu dalam mengetahui kondisi disleksia dapat mempengaruhi


kompleksitasnya.
 Disleksia dapat komorbid dengan ADHD, IQ superior, gifted, dll.

 Milestone dyslexia:

1. 7-9 tahun: bullying, kecemasan, dan harga diri rendah.

2. 10-12 tahun: harga diri sangat rendah, conduct disorder, dan oppositional
defiant disorder.

3. >12 tahun: kecemasan, gangguan bipolar, dan bunuh diri.