Anda di halaman 1dari 105

1

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM

AVERTEBRATA AIR

1 LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM AVERTEBRATA AIR Laporan ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Kelulusan Mata

Laporan ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Kelulusan Mata Kuliah Avertebrata Air

OLEH :

ARDANA KURNIAJI I1A2 10 097

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI

2011

2

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Spons adalah hewan dari filum Porifera yang berarti "pembawa pori". Tubuh mereka terdiri dari jelly seperti mesohyl terdapat di antara dua lapisan tipis sel. Sementara semua hewan memiliki sel terspesialisasi yang dapat berubah menjadi sel- sel khusus, spons yang unik dalam memiliki beberapa sel-sel khusus yang dapat berubah menjadi jenis lain. Spons tidak memiliki saraf, pencernaan atau sistem peredaran darah. Sebaliknya, sebagian besar mengandalkan aliran air konstan yang masuk melalui tubuh mereka untuk mendapatkan makanan dan oksigen dan untuk menghilangkan limbah. Bentuk tubuh mereka yang diadaptasi untuk memaksimalkan efisiensi dari aliran air. Semua sessile, meskipun ada spesies yang hidup diair tawar, namun sebagian besar hidup dilaut, mulai dari zona pasang surut sampai kedalaman lebih dari 8.800 meter (5,5 mi). Sementara sebagian besarnya hidup sekitar 5,000-10,000 meter yang biasa dikenal spesies pemakan bakteri dan partikel makanan lainnya di air. Sebagai hewan yang tergolong „purba‟ karena strukturnya yang sederhana, maka cara hidupnya juga relatif simpel karena tidak memiliki organ tubuh. Sponge biasanya mendapatkan suplay makanan dari lingkungan sekitarnya atau organisme yang berasosiasi dengannya. Sebagai hewan berongga, kemampuannya sangat menakjubkan karena mampu menyaring air dalam volume besar dengan struktur tubuh yang terbatas. Hal ini sangat membantu dalam mengatasi jumlah partikel tersuspensi akibat intrusi dari daratan atau lumpur yang terbawa arus sehingga mengurangi tingkat kekeruhan, ini sangat menolong kehidupan karang karena kondisi perairan terjaga baik. Filum ini dapat dibagi menjadi tiga kelas besar, yaitu Calcarea, Demospongiae dan Hexactinellida. Demospongiae adalah yang paling banyak ditemukan, tersebar luas dan merupakan spons yang terdiri dari jenis-jenis yang paling beragam dan telah mendapat perhatian relatif banyak dari ahli kimia dan biokimia. Berdasarkan hal tersebut diatas maka sangat penting untuk dilakukan praktikum Avertebrata air mengenai filum porifera dengan tujuan untuk mengamati dan mengenal lebih jauh mengenai struktur tubuh morfologi dan anatomi filum porifera.

1.2. Tujuan dan Manfaat

Tujuan praktikum untuk mengetahui filum Porifera secara morfologi dan anatomi serta dapat mengamati dan mengklasifikasi filum Porifera. Manfaat praktikum sebagai bahan masukan untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan serta jenis-jenis mengenai filum Porifera.

3

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi

Porifera berasal dari bahasa latin dari kata porus yang berarti lubang kecil dan kata ferre yang berarti mempunyai. Jadi, Porifera merupakan hewan berpori atau hewan yang memiliki lubang-lubang kecil pada tubuhnya (Setiowati, 2007 hal 126) Menurut Firmansyah (2005), spons di klasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom

:

Animalia

Filum

:

Porifera

Kelas

Ordo

:

Demospongia

:

Dictioceratida

Famili

:

Dictioceratidaceaer

Spongilla Spongilla sp.

Genus

:

Species

:

Spongilla Spongilla sp. Genus : Species : Gambar 1. Sponge ( Spongilla sp.) 2.2. Morfologi dan

Gambar 1. Sponge (Spongilla sp.)

2.2. Morfologi dan Anatomi

Tubuh Porifera berbentuk seperti vas bunga yang menempel pada dasar perairan. Tubuhnya lunak dan permukaannya berpori (ostium). Porifera memiliki rongga tubuh (Spongocoel) dan lubang keluar (Oskulum). Air akan mengalir dari ostium masuk ke spongocoel dan akhirnya akan mengalir ke luar melalui oskulum. Porifera memiliki dua lapisan jaringan tubuh (diploblastik). Lapisan luar tersusun oleh sel-sel epidermis yang disebut pinakosit, sedangkan lapisan dalamnya tersusun oleh sel-sel endodermis berbentuk corong. (Setiowati, 2007). Tubuh Porifera dikelompokkan menjadi tiga tipe, yaitu tipe ascon, tipe sycon dan tipe rhagon atau leukon. Walaupun strukturnya berbeda, fungsinya tetap sama, yaitu sebagai saluran air. Ascon merupakan saluran air dengan lubang ostium yang dihubungkan langsung oleh saluran ke spongocoel. Sycon merupakan saluran air yang bercabang-cabang ke rongga-rongga yang berhubungan langsung dengan spongocoel. Rhagon merupakan tipe saluran air yang kompleks. Air mengalir melalui ostium kemudian masuk melalui saluran menuju rongga-rongga yang dibatasi oleh

4

koanosit. Selanjutnya, air mengalir melalui saluran-saluran menuju ke spongocoel dan berakhir dioskulum (Karmana, 2007).

menuju ke spongocoel dan berakhir dioskulum (Karmana, 2007). Gambar 2. Struktur Morfologi Spons Pori-pori yang terdapat

Gambar 2. Struktur Morfologi Spons

Pori-pori yang terdapat pada Porifera membentuk saluran air yang bermuara dirongga tubuh (spongocoel). Pada ujung rongga tubuh terdapat lubang besar yang disebut oskulum. Tubuh Porifera tersusun oleh sel-sel berbentuk pipih dan berdinding tebal yang disebut sel pinakosit. Pada lapisan dalam spongocoel, dilapisi oleh sel yang berbentuk seperti lampu dan berflagel yang disebut sel koanosit (Firmansyah,

2005).

dan berflagel yang disebut sel koanosit (Firmansyah, 2005). Gambar 3. Struktur Anatomi Spons Tubuh diploblastik,

Gambar 3. Struktur Anatomi Spons

Tubuh diploblastik, tersusun atas

a. Lapisan luar (epidermis = epithelium dermal). Terdiri atas pinakosit

b. Lapisan dalam, terdiri atas jajaran sel berleher (koanosit). Sel koanosit berfungsi sebagai organ respirasi dan mengatur pergerakan air. Diantara lapisan luar dan lapisan dalam terdapat mesoglea. Di dalam mesoglea terdapat organel-organel :

5

- Gelatin protein matrik

- Amubosit (sifatnya mobil/mengembara). Sel amebosit berfungsi untuk transportasi O 2 dan zat-zat makanan, ekskresi dan penghasil gelatin

- Arkeosit merupakan sel yang tumpul dan dapat membentuk sel-sel reproduktif

- Porosit/miosit terletak disekitar pori dan berfungsi untuk membuka dan menutup pori.

- Skleroblast berfungsi membentuk spikula

- Spikula merupakan unsure pembentuk tubuh (Rusyana, 2011).

- Spikula merupakan unsure pembentuk tubuh (Rusyana, 2011). Gambar 4. Letak Spikula pada tubuh Spons Filum

Gambar 4. Letak Spikula pada tubuh Spons

Filum Porifera disebut juga hewan spons. Porifera merupakan hewan multiseluler yang paling sederhana, tidak memiliki kepala atau anggota badan lain layaknya hewan. Oleh karena itu, banyak yang keliru mengidentifikasi porifera sebagai tanaman laut. Tubuh porifera dihubungkan oleh saluran-saluran yang terbuka diujungnya dan membentuk pori-pori (Zakrinal, 2008).

2.3. Habitat dan Penyebaran

Filum Porifera disebut juga hewan spons. Kata porifera berasal dari bahasa latin yaitu porus yang berarti pori dan fer berarti membawa. Hewan ini dikatakan juga sebagai hewan berpori. Hewan porifera merupakan hewan multiseluler yang paling sederhana. Hewan ini merupakan hewan sessile (hidup melekat pada substrat). Hewan spons memiliki ukuran bervariasi, yaitu berkisar dari 1 cm hingga 2 m. sebagian besar hewan ini hidup dilaut. Menurut Campbell (1998:594), dari 9.000 spesies hewan spons, hanya 100 spesies saja yang hidup di air tawar, sisanya hidup diperairan laut (Firmansyah, 2005). Porifera hidup di lautan yang airnya tenang dan jernih serta tidak berarus kuat. Selain itu, ada yang hidup di laut dangkal dan ada pula yang hidup di laut dalam. Porifera juga dapat ditemukan di perairan tawar seperti di danau dan aliran sungai yang jernih. Porifera dapat ditemukan perairan laut Sulawesi, NTB, dan NTT (Setiowati, 2007). Porifera memiliki sekitar 10.000 spesies yang kebanyakan hidup di air laut. Hewan ini merupakan hewan sessile (hidup melekat pada substrat). Spesies tersebut

6

bervariasi dalam hal bentuk, ukuran, dan warna. Porifera biasanya dikelompokkan berdasarkan materi yang ditemukan di dalam rangkanya. Porifera yang terkenal adalah bunga karang yang memiliki serta fleksibel dalam mesenkimnya. Serat tersebut dibuat dari protein yang disebut sponging (Zakrinal, 2008). Sekitar 150 jenis porifera hidup di ait tawar, misalnya Haliciona dari kelas Demospongia.Porifera yang telah dewasa tidak dapat berpindah tempat (sesil), hidupnya menempel pada batu atau benda lainya di dasar laut.Karena porifera yang bercirikan tidak dapat berpindah tempat, kadang porifera dianggap sebagai tumbuhan. (Ferdinand, 2008).

2.4. Reproduksi dan Daur Hidup

Porifera bereproduksi secara seksual dan aseksual. Reproduksi aseksual terjadi melalui pembentukan tunas (Budding). Tunas yang dihasilkan dapat memisahkan diri dari induknya yang selanjutnya menjadi individu baru. Akan tetapi, tunas yang dihasilkan dapat juga melekat pada induknya dan membentuk koloni yang cukup besar. Reproduksi aseksual lainnya dengan pembentukan gammule (butir benih). Hal ini terjadi jika kondisi tidak menguntungkan. Misalnya, perubahan suhu atau perubahan lingkungan yang dapat menyebabkan porifera mati. Akan tetapi, gammule akan tetap hidup dan akan keluar jika kondisi menguntungkan untuk menjadi individu baru (Karmana, 2007). Perkembangbiakan seksual belum dilakukan dengan kelamin khusus. Baik ovum maupun spermatozoid berkembang dari sel-sel amobosit khusus yang disebut Arkheosit. Ovum yang belum atau telah dibuahi oleh spermatozoid tetap tinggal didalam tubuh induknya (mesoglea). Setelah terjadi pembuahan, maka zygot akan mengadakan pembelahan berualang kali, akhirnya terbentuk larva berambut getar yang disebut amphiblastula, dan amphiblastula ini kemudian akan keluar dari dalam tubuhnya malalui oskulum. Setelah ia tiba dilingkungan eksternal, dengan rambut getarnya kemudian ia akan berenang-renang mencari lingkungan yang bisa menjamin kelangsungan hidupnya (kaya dengan O 2 dan zat-zat makanan). Larva ini kemudian akan berubah menjadi parenchymula. Bila telah menemukan tempat yang sesuai, maka ia akan melekatkan diri pada suatu obyek tertentu dan selanjutnya tumbuh menjadi porifera baru, sedangkan untuk non seksual dilakukan dengan membentuk tunas atau kuncup kearah luar yang kemudian memisahkan diri dari induknya dan hidup sebagai individu baru (Rusyana, 2011).

memisahkan diri dari induknya dan hidup sebagai individu baru (Rusyana, 2011). Gambar 5. Perkembangbiakan porifera

Gambar 5. Perkembangbiakan porifera

7

Porifera melakukan reproduksi secara aseksual maupun seksual.Reproduksi secara aseksual terjadi dengan pembentukan tunas dan gemmule. Gemmule disebut juga tunas internal. Gemmule dihasilkan hanya menjelang musim dingin di dalam tubuh porifera yang hidup di air tawar.Porifera dapat membentuk individu baru dengan regenerasi. Reproduksi seksual dilakukan dengan pembentukan gamet (antara sperma dan ovum). Ovum dan sperma dihasilkan oleh koanosit.Sebagian besar Porifera menghasilkan ovum dan juga sperma pada individu yang sama sehingga porifera bersifat Hemafrodit (Zakrinal, 2008).

2.5. Makanan dan Kebiasaan Makan

Porifera merupakan hewan heterotrof. Makanan Porifera biasanya berupa plankton yang masuk ke spongocoel. Adapun oksigen diserap oleh sel kollar atau koanosit. Untuk sisa makanan, dibuang melalui oskulum. Ada yang menarik pada porifera ini, yaitu oksigen dan makanan yang digunakan oleh sel koanosit sebagian di transfer ke sel-sel yang bergerak, yaitu sel amoebosit (Firmansyah, 2005). Porifera tidak memiliki sistem saluran pencernaan sehingga makanan (plankton dan bahan organic) langsung masuk dalam sel koanosit dan diedarkan keseluruh bagian tubuh (Zakrinal,2008).

dan diedarkan keseluruh bagian tubuh (Zakrinal,2008). Gambar 6. Struktur Sel Koanosit (Anonim, 2011) Makanan

Gambar 6. Struktur Sel Koanosit (Anonim, 2011)

Makanan bersama air masuk kedalam tubuh Porifera melalui sistem saluran air yang berupa pori (ostia), spongosoel dan oskulu, makanan ditangkap oleh sel koanosit diruang spongosoel. Selanjutnya akan dicerna secara intraseluler oleh koanosit dan selanjutnya hasilnya diedarkan oleh sel-sel amoebosit yang dapat bergerak bebas keseluruh bagian tubuh (Susilowarno, 2010).

8

2.6. Nilai Ekonomis

Porifera belum memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Porifera dimanfaatkan manusia karena sponsnya bersifat elastic yang dapat digunakan untuk alat menggosok tubuh saat mandi. Rangka tubuh Porifera yang sudah mati dapat dimanfaatkan sebagai hiasan (Karmana, 2007).

mati dapat dimanfaatkan sebagai hiasan (Karmana, 2007). Gambar 7. Beberapa prodak spons mandi dari porifera Beberapa

Gambar 7. Beberapa prodak spons mandi dari porifera

Beberapa jenis porifera seperti spongia dan hippospongia dapat digunakan sebagai spons mandi dan alat gosok. Namun, spons mandi yang banyak digunakan umumnya adalah spons buatan, bukan berasal dari kerangka porifera. Zat kimia yang dikeluarkannya memiliki potensi obat penyakit kanker dan penyakit lainnya (Wijaya,

2007).

9

III. METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 4 November 2011, pukul 15.30 17.30 WITA dan bertempat di Laboratorium C Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo Kendari.

3.2. Alat dan Bahan

Alat dan bahan beserta kegunaannya yang digunakan pada praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Alat dan bahan beserta kegunaanya

No

Nama Alat

Kegunaan

A.

Alat

1. Baki

Untuk meletakkan organisme yang akan diamati

2. Pisau Bedah

Untuk membedah organisme yang diamati

3. Alat tulis

Untuk mencatat dan menggambar hasil pengamatan

4. Toples

Untuk menyimpan bahan pengamatan yang diambil dari laut

5. Pinset

Untuk mengambil bahan dari toples

6. Buku

Untuk Mengidentifikasi Struktur Tubuh obyek yang diamati

Identifikasi

B

Bahan

1. Spons

Sebagai obyek yang diamati

(Spongilla sp.)

2. Alkohol 70%

Untuk mengawetkan bahan pengamatan

3.3.

Prosedur Kerja

Langkah-langkah kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Melakukan pengamatan pada organisme yang telah diambil dari perairan

2. Meletakkan orgaisme pada baki kemudian mengidentifikasi bagian-bagian organism tersebut.

3. Menggambar bentuk secara morfologi dan anatomi pada bagian-bagian organisme yang telah diidentifikasi dan diberi keterangan pada buku gambar.

10

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini sebagai berikut:

A. Struktur Morfologi dan Anatomi Sponge (Spongilla sp.)

Keterangan:

1. Lubang keluar (osculum)

2. Pori-pori (ostium)

3. Spikula

Gambar 8. Morfologi Spons (Spongilla.sp.)

Gambar 9. Anatomi Spons (Spongilla sp.)

Keterangan:

1. Lubang keluar (osculum)

2. Spikula

3. Rongga tubuh (spongosol)

4. Pori-pori (ostium)

11

4.2. Pembahasan

Hewan spons yang merupakan hewan menetap, sangat jarang kelihatan bergerak. Semua hewan spons digolongkan ke dalam filum porifera dan hampir semuanya berhabitat di laut, kecuali setidak-tidaknya ada 150 spesies yang hidup di air tawar. Pada masa kini hewan spons dikenal sebagai cabang sendiri dari metazoa dan dinamakan kelompok parazoa. Hewan ini melekat pada karang, pada rangka- rangka kerang laut atau di bawah geladak lantai pelabuhan/dermaga dan di permukaan batu-batuan di laut dan perairan tawar misalnya Spongilla. Porifera berasal dari bahasa Latin yaitu porus adalah pori, dan fer adalah membawa. Maka Porifera dapat diartika sebagai hewan berpori yang termasuk ke dalam filum hewan multiseluler yang paling sederhana. Ahli Botani, mengelompokkan spons (porifera) ini ke dalam Kerajaan Plantae karena bentuknya yang bercabang-cabang dan tidak mampu bergerak secara nyata. Namun Spons dikelompokkan ke dalam Kingdom Animalia pada tahun 1765, setelah dilakukan penelitian dan pengamatan arus air melalui oskulumnya yang bergerak. Berdasarkan tipe saluran air, porifera dibedakan tiga tipe, yakni tipe akson, terdiri atas ostia, spongiosel, oskulum. Contohnya Clathrina blanca, selanjutnya adalah tipe sikon, terdiri atas ostia, saluran radial tidak bercabang, spongiosel, dan oskulum. Contohnya Pheronima sp serta tipe leukon (ragon), terdiri atas ostia, saluran radial bercabang-cabang, spongiosel, dan oskulum. Contohnya Euspongia officinalis.

spongiosel, dan oskulum. Contohnya Euspongia officinalis . Gambar 10. Tipe saluran pada porifera Berdasarkan bentuk

Gambar 10. Tipe saluran pada porifera

Berdasarkan bentuk struktur kanal, anatomi percabangan dari pori-porinya, bentuk spikula yang khas maka Filum Porifera tidak mudah untuk dikelompok- kelompokan dan diklasifikasikan. Klasifikasi yang pernah ada dan masih berkembang tentu saja menarik bagi ilmuwan, utamanya taksonomis hewan. Setidaknya ada 4 kelases yang dicakup oleh filum porifera yaitu Kelas Calcarea yang dikenal sebagai spons calcareous yang khas karena selalu mempunyai spikula yang tersusun atas kalsium karbonat. Hidup di laut, tubuh berukuran tidak lebih dari 10 cm. Spikula

12

umumnya sikonoid dan leukonoid. Tubuh spons kelas calcarea bervariasi warnanya yaitu kuning cerah, merah dan ungu. Contoh dari kelas ini adalah genus Leucosolenia (kanal tipe askonoid), Sycon dan Grantia (kanal tipe sikonoid). Kelas yang kedua adalah Demospongiae, dimana Spons yang termasuk kelas demospongiae mempunyai penyebaran tempat hidup yang luas dari perairan tawar sampai dengan perairan laut. Kelas Demospongiae mencakup 95% dari semua hewan-hewan spons. Struktur kanal kelas demospongiae seluruhnya bersifat leukonoid. Warna tubuh kelas ini kebanyakan berwarna cerah, perbedaan warna dipunyai oleh perbedaan spesies yang disebabkan oleh warna pigmen atau granula pigmen yang terletak di amebosit. Struktur rangka dari kelas demospongiae beraneka ragam. Struktur tersebut disusun oleh spikula atau serat-serat sponging atau gabungan dua struktur tersebut. Spikula dari kkelas ini relatif besar dengan struktur monokson atau tetrakson (cabang runcing satu atau cabang runcing empat). Contoh dari kelas Demospongiae antara lain Haliclona permollis dan Microciona prolifera. Adapun Kelas yang terakhir adalah Kelas Hexatinellida Perwakilan dari kelas ini biasa disebut spons gelas. Nama Hexatinellida berhubungan dengan bentuk spikulanya yang heksason (bercabang enam). Spons kelas ini hidup menyendiri dengan bentuk mangkuk, vas bunga dan piala. Kanal pada kelas ini bertipe sikonoid, dengan ukuran tubuh spons berkisar dari 10 sampai 30 cm. Sebagian besar berwarna pucat. Spons dari hexatinellida terutama hidup di prairan dalm sekitar 450-900 cm di bawah permukaan laut. Spesies atau jenis yang dikenal sebagai contoh anggota kelas ini adalah keranjang bunga “venus” Euplectella, dia bersimbiosis komensalisme dengan jenis udang Spongicola. Berdasarkan hasil pengamatan di atas, Filum Porifera khususnya spesies Spongilla sp. yang diamati berwarna abu-abu kehijauan. Pada pengamatan morfologi dari filum ini nampak adanya lubang keluar (oskulum) dan pori-pori (ostium) ha ini sejalan dengan pernyataan Firmansyah (2005) bahwa pori-pori yang terdapat pada Porifera membentuk saluran air yang bermuara dirongga tubuh (spongocoel). Pada ujung rongga tubuh terdapat lubang besar yang disebut oskulum dan menurut Setiowati (2007) bahwa porifera memiliki rongga tubuh (Spongocoel) dan lubang keluar (Oskulum). Air akan mengalir dari ostium masuk ke spongocoel dan akhirnya akan mengalir ke luar melalui oskulum. Setelah itu untuk pengamatan anatomi, spons dibelah dan terlihat rongga besar dalam tubuhnya yang disebut Spongocoel, rongga ini bukan merupakan rongga tubuh sebenarnya, seperti yang dinyatakan oleh Karmana (2007) bahwa porifera termasuk hewan golongan Aceolomates yakni belum memiliki rongga tubuh yang sebenarnya. Kemudian diamati adanya pori-pori (ostium) yang terlihat jelas dari dalam tubuh, Setiap ostium memiliki saluran yang menghubungkan ke spongosol. Menurut Rusyana (2011) di dalam mesoglea terdapat organel-organel seperti Amubosit, Arkeosit, Porosit/miosit, Skleroblast, dan Spikula. Hanya saja pada pengamatan anatomi, untuk sel pinakosit, koanosit, sel skleroblas, sel arkheosit, sel amuboid, dan spikula tidak nampak karena untuk melihatnya harus diamati di bawah mikroskop.

13

5.1. Kesimpulan

V. PENUTUP

Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pengamatan yang dilakukan dan pembahasan di atas adalah sebagai berikut :

1. Secara Morfologi Sponge (Spongilla sp.) terdiri dari pori-pori kecil (Ostium) dan lubang besar dibagian atasnya sebagai tempat keluarnya air (Oskulum) dan adanya serabut seperti duri (Spikula) dipermukaan tubuhnya. Biasanya bentuk spesies dari filum Porifera beraneka ragam seperti mangkuk, vas bunga, dan yang bercabang-cabang dengan ukuran diameter yaitu 1 mm sampai dengan 2 mm, warna tubuh spons juga beraneka ragam yaitu kelabu, merah, jingga, kuning, biru, hitam dan violet.

2. Secara Anatomi, Sponge (Spongilla sp.) tersusun atas rongga tubuh (Spongocoel) dan lubang keluar (Oskulum). Serta pori-pori tubuh yang disebut ostium. Air akan mengalir dari ostium masuk ke spongocoel dan akhirnya akan mengalir ke luar melalui oskulum.

3. Spons (Spongilla sp.) diklasifikasikan atas Kingdom Animalia, Filum Porifera, Kelas Demospongia, Ordo Dictioceratida, Famili Dictioceratidaceaer Genus Spongilla dan Species Spongilla sp.

5.2. Saran

Saran yang dapat saya ajukan pada praktikum kali ini adalah sebaiknya untuk pelaksanaan respon sebelum praktikum waktunya dipercepat dan sebaliknya untuk waktu praktikum di laboratorium, waktu yang ditentukan diperlama guna menambah dan memperdalam pengetahuan praktikan untuk mencapai tujuan praktikum.

14

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Coelenterata berasal dari bahasa Yunani, yaitu coelenterata yang artinya rongga. Jadi, Coelenterata adalah hewan invertebrata yang memiliki rongga tubuh Rongga tersebut digunakan sebagai alat pencernaan (gastrovaskuler) Namun filum Coelenterara lebih dikenal dengan nama Cnidaria. Kata Cnidaria berasal dari bahasa Yunani, cnido yang berarti penyengat karena sesuai dengan cirinya yang memiliki sel penyengat. Sel penyengat tersebut terletak pada tentakel yang terdapat di sekitar mulutnya. Tubuh Coelenterata yang berbentuk polip, terdiri dari bagian kaki, tubuh, dan mulut. Mulut dikelilingi oleh tentakel. Coelenterata yang berbetuk medusa tidak memiliki bagian kaki.Mulut berfungsi untuk menelan makanan dan mengeluarkan sisa makanan karena Coelenterata tidak memiliki anus. Tentakel berfungsi untuk menangkap mangsa dan memasukan makanan ke dalam mulut. Pada permukaan tentakel terdapat sel-sel yang disebut knidosit (knidosista) atau knidoblas. Setiap knidosit mengandung kapsul penyengat yang disebut nematokis (nematosista). Mempunyai rongga besar di tengah-tengah tubuhnya yang berfungsi seperti Usus pada hewan-hewan tingkat tinggi. Rongga itu disebut rongga Gastrovaskuler. Simetri tubuhnya Radial dan terdapat Tentakel disekitar mulutnya yang berfungsi untuk menangkap dan memasukkan makanan ke dalam tubuhnya. Tentakel vang dilengkapi sel Knidoblas yang mengandung racun sengat disebut Nematokis (ciri khas dari hewan berongga). Dan juga Coelenterata termasuk hewan diploblastik karena tubuhnya memiliki dua lapisan sel, yaitu ektoderm (epidermis) dan endoderm (lapisan dalam atau gastrodermis). Ektoderm berfungsi sebagai pelindung sedang endoderm berfungsi untuk pencernaan.Sel-sel gastrodermis berbatasan dengan coelenterata atau gastrosol. Ukuran tubuh Coelenterata beraneka ragam. Ada yang penjangnya beberapa milimeter, misal Hydra dan ada yang mencapai diameter 2 m, misalnya Cyanea. Tubuh Coelenterata simetris radial dengan bentuk berupa medusa atau polip. Medusa berbentuk seperti lonceng atau payung yang dikelilingi oleh “lengan-lengan” (tentakel). Polip berbentuk seperti tabung atau seperti medusa yang memanjang. Dari penjelasan tersebut, maka dilakukanlah suatu praktikum dilaboratorium untuk mengetahui lebih jauh mengenai struktur morfologi dan klasifikasi dari filmu coelenterata.

1.2. Tujuan dan Manfaat

Tujuan praktikum untuk mengetahui filum Coelenterata secara morfologi dan anatomi serta dapat mengamati dan mengklasifikasi filum Coelenterata. Manfaat praktikum sebagai bahan masukan untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan serta jenis-jenis mengenai filum Coelenterata.

15

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi

Coelenterata dibedakan dalam tiga kelas berdasarkan bentuk yang dominan dalam siklus hidupnya, yaitu Hydrozoa, Scypozoa, dan Anthozoa. Menurut Campbell (2003), klasifikasi salah satu spesies dari Filum Coelenterata Kelas Scypozoa sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum

: Colenterata : Invertebrata : Scypozoa

Ordo

Sub filum

Kelas

: Semaeostomeae

Famili

: Semaeostoceae

Genus

: Aurelia

Spesies : Aurelia sp.

: Semaeostoceae Genus : Aurelia Spesies : Aurelia sp. Gambar 11. Ubur-Ubur ( Aurelia sp. )

Gambar 11. Ubur-Ubur (Aurelia sp.)

Scyphozoa (dalam bahasa yunani, scypho = mangkuk, zoa = hewan) memiliki bentuk dominan berupa medusa dalam siklus hidupnya. Medusa Scyphozoa dikenal dengan ubur-ubur. Medusa umumnya berukuran 2 40 cm. Reproduksi dilakukan secara aseksual dan seksual. Polip yang berukuran kecil menghasilkan medusa secara aseksual. Contoh Scyphozoa adalah Cyanea dan Chrysaora fruttescens. Sebagian besar hidup dalam bentuk medusa. Bentuk polip hanya pada tingkat larva. Contoh jenis dari kelas tersebut adalah Aurelia sp. (ubur-ubur kuping) yang sering terdampar di pantai-pantai. Larva disebut Planula, kemudian menjadi polip yang disebut Skifistoma. Dari skifistoma terbentuk medusa yang disebut Efira (Aryulina,

2006).

Ubur-ubur dapat ditemukan disemua samudera dan laut yang ada didunia. Mereka dapat hidup dilaut tropis yang hangat dan juga diperairan yang sangat dingin disekitar kutub utara dan selatan. Ubur-ubur dapat berenang menuju permukaan air

16

yang terdapat banyak makanan. Diperairan terhangat di dunia, kapal selam portugis mengambang dipermukaan gelombang laut. Kapal selam portugis sebenarnya adalah sebutan untuk jenis ubur-ubur. Jenis ubur-ubur ini ada juga yang menyebutnya sebagai ubur-ubur biru. (Fitriana, 2007). Menurut Kadaryanto dkk (2006), klasifikasi anemon laut sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum

: Colenterata : Invertebrata

Sub filum

Sub kelas : Zoantharia

Kelas

: Anthozoa

Ordo : Actiniaria

Famili

: Actiniaceae

Genus

Spesies

: Metridium : Metridium Sp.

: Actiniaceae Genus Spesies : Metridium : Metridium Sp. Gambar 12. Anemon ( Metridium sp.) Anthozoa

Gambar 12. Anemon (Metridium sp.)

Anthozoa (dalam bahasa yunani, anthus = bunga, zoa = hewan) memiliki banyak tentakel yang berwarna-warni seperti bunga. Anthozoa tidak memiliki bentuk medusa, hanya bentuk polip. Polip Anthozoa berukuran lebih besar dari dua kelas Coelenterata lainnya. Hidupnya di laut dangkal secara berkoloni. Anthozoa bereproduksi secara aseksual dengan tunas dan fragmentasi, serta reproduksi seksual menghasilkan gamet. Contoh Anthozoa adalah Tubastrea (koral atau karang), Acropora, Urticina (Anemon laut), dan turbinaria. Koral hidup di air jernih dan dangkal karena koral bersimbiosis dengan ganggang. Ganggang memberikan makanan dan membantu pembentukan rangka pada koral. Sedangkan koral memberikan buangan yang merupakan makanan bagi ganggang serta perlindungan bagi ganggang dari herbivora. Rangka koral tersusun dari zat kapur. Rangka koloni dari polip koral inilah yang membentuk karang pantai (terumbu karang) atau atol (pulau karang) (Aryulina, 2007).

17

Menurut Darmadi (2010), klasifikasi Acropora sp. laut sebagai berikut:

Kingdom

: Animalia

Filum

: Colenterata : Invertebrata : Anthozoa

Ordo

Sub filum

Kelas

: Scleractinia

Famili : Acroporidae

Genus

: Acropora : Acropora Sp.

Spesies

: Acroporidae Genus : Acropora : Acropora Sp. Spesies Gambar 13. Karang ( Acropora Sp.) 2.2.

Gambar 13. Karang (Acropora Sp.)

2.2. Morfologi dan Anatomi

Ukuran tubuh Coelenterata beraneka ragam. Ada yang penjangnya beberapa milimeter, misal Hydra dan ada yang mencapai diameter 2 m, misalnya Cyanea. Tubuh Coelenterata simetris radial dengan bentuk berupa medusa atau polip. Medusa berbentuk seperti lonceng atau payung yang dikelilingi oleh “lengan-lengan” (tentakel). Polip berbentuk seperti tabung atau seperti medusa yang memanjang. Tubuh Coelenterata yang berbentuk polip, terdiri dari bagian kaki, tubuh, dan mulut. Coelenterata yang berbetuk medusa tidak memiliki bagian kaki warna tubuh bervariasi, ada yang berwarna pucat, namun juga ada yang berwarna cerah, seperti merah, kuning, jingga, atau ungu Tubuh Coelenterata simetris radial dengan bentuk berupa medusa atau polip. Medusa berbentuk seperti lonceng atau payung yang dikelilingi oleh “lengan-lengan” (tentakel). Polip berbentuk seperti tabung atau seperti medusa yang memanjang. Tubuh Coelenterata yang berbentuk polip, terdiri dari bagian kaki, tubuh, dan mulut. Coelenterata yang berbetuk medusa tidak memiliki bagian kaki. (Wijaya, 2007). Coelenterata merupakan hewan diploblastik karena tubuhnya memiliki dua lapisan sel, yaitu ektoderm (epidermis) dan endoderm (lapisan dalam atau gastrodermis). Ektoderm berfungsi sebagai pelindung sedang endoderm berfungsi untuk pencernaan. Sel-sel gastrodermis berbatasan dengan coelenterata atau gastrosol. Gastrosol adalah pencernaan yang berbentuk kantong. Makanan yang masuk ke dalam gastrosol akan dicerna dengan bantuan enzim yang dikeluarkan oleh

18

sel-sel gastrodermis. Pencernaan di dalam gastrosol disebut sebagai pencernaan ekstraseluler. Hasil pencernaan dalam gasrosol akan ditelan oleh sel-sel gastrodermis untuk kemudian dicerna lebih lanjut dalam vakuola makanan. Pencernaan di dalam sel gastrodermis disebut pencernaan intraseluler. Sari makanan kemudian diedarkan ke bagian tubuh lainnya secara difusi. Begitu pula untuk pengambilan oksigen dan pembuangan karbondioksida secara difusi. (Aryulina, 2008).

pembuangan karbondioksida secara difusi. (Aryulina, 2008). Gambar 14. Struktur Tubuh Filum Coelenterata 2.3. Habitat

Gambar 14. Struktur Tubuh Filum Coelenterata

2.3. Habitat dan Penyebaran

Coelentera hidup secara heterotrof dengan memangsa plankton dan hewan kecil lainnya yang berada di air. Coelenterata lumpuhkan mangsanya dengan menggunakan tentakelnya yang memiliki sel knidosit. Setelah mangsanya itu lumpuh, tentakel menggulung dan membawa mangsa ke mulut. Coelenterata seluruhnya hidup di air, baik itu air laut ataupun air tawar. Sebagian besar hidup berkoloni atau soliter. Coelenterata yang berbentuk polip hidup soliter atau berkoloni di dasar air. Polip tidak dapat berpindah tempat. Sedangkan coelenterata yang berbentuk medusa dapat melayang bebas di dalam air (Aditya, 2010). Coelenterata umumnya hidup dilaut dan hanya beberapa jenis hidup diair tawar. Ada yang hidup sebagai polip karena melekat pada sebuah obyek atau hidup sebagai medusa karena mampu berenang bebas mengikuti arus. Obelia sp. Merupakan anggota dari kelas Hydrozoa yang hidup dilaut dan hidup berkelompok (koloni). Sebagian besar waktu hidupnya sebagai koloni yang polip. Bagian polip yang berfungsi untuk mencari makanan disebut hidern (Wijaya, 2007).

19

2.4. Reproduksi dan Daur Hidup

Reproduksi pada coelenterata terjadi secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual dilakukan dengan membentuk tunas berupa polip yang hidup berkoloni di dasar air. Sedangkan reproduksi seksual pada coelenterata dilakukan dengan pembentukan gamet. Gamet dihasilkan oleh selurh coelenterata berbentuk medusa dan beberapa berbentuk polip. (Wijaya, 2007).

medusa dan beberapa berbentuk polip. (Wijaya, 2007). Gambar 15. Siklus Hidup Ubur-ubur ( Aurelia sp.) Reproduksi

Gambar 15. Siklus Hidup Ubur-ubur (Aurelia sp.)

Reproduksi Coelenterata terjadi secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual dilakukan dengan pembentukan tunas. Pembentukan tunas selalu terjadi pada Coelenterata yang berbentuk polip. Tunas tumbuh di dekat kaki polip dan akan tetap melekat pada tubuh induknya sehingga membentuk koloni. Reproduksi seksual dilakukan dengan pembentukan gamet (ovum dengan sperma). Gamet dihasilakan oleh seluruh Coelenterata bentuk medusa dan beberapa Coelenterata bentuk polip. Contoh Coelenterata berbentuk polip yang membentuk gamet adalah hydra (Ferdinand, 2008).

2.5. Makanan dan Kebiasaan Makan

Coelenterata hidup di perairan yang jernih yang mengandung partikel- partikel organik, plankton atau hewan-hewan kecil. Jika terdapat hewan kecil, misal jentik nyamuk menempel pada tentakel dan mengenai sel knidoblast, maka sel tersebut mengeluarkan racun. Jentik akan lemas lalu tentakel membawanya ke mulut. Di bawah mulut terdapat kerongkongan pendek lalu masuk ke rongga gastrovaskuler untuk dicerna secara ekstraseluler (luar sel). Sel-sel endodermis menyerap sari-sari makanan. Sisa-sisa makanan akan dimuntahkan melalui mulut. Setiap hewan Coelentarata mempunyai rongga gastrovaskuler. Rongga gastrovaskuler Coelentarata bercabang-cabang yang dipisahkan oleh septum/penyekat dan belum mempunyai anus (Winarni, 2011).

20

20 Gambar 16. Cara Coelenterata Menyengat Coelenterata hidup di perairan yang jernih yang mengandung partikel- pertikel

Gambar 16. Cara Coelenterata Menyengat

Coelenterata hidup di perairan yang jernih yang mengandung partikel- pertikel organik, plankton atau hewan-hewan kecil. Jika terdapat hewan kecil, misal jentik nyamuk menempel pada tentakel dan menge-nai sel knidoblast, maka sel tersebut mengeluarkan racun. Jentik akan lemas lalu tentakel membawanya ke mulut. Di bawah mulut terdapat kerong-kongan pendek lalu masuk ke rongga gastrovaskuler untuk dicerna secara ekstraseluler (luar sel). Sel-sel endoderma menyerap sari-sari makanan. Sisa-sisa makanan akan dimuntahkan melalui mulut (Kuncoro, 2004).

2.6. Nilai Ekonomis

Hewan ubur-ubur yang banyak di perairan Indonesia dapat dimanfaatkan untuk dibuat tepung ubur-ubur, kemudian diolah menjadi bahan kosmetik / kecantikan. Di Jepang selain sebagai bahan kosmetik, ubur-ubur dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Karang atol, karang pantai, dan karang penghalang dapat melindungi pantai dari aberasi air laut. Merupakan tempat persembunyian dan tempat perkembangbiakan ikan. Pantai dengan karang yang indah dapat dijadikan objek wisata. Dijadikan tempat untuk menyalurkan hobi para penggemar snorkeling dan diving (Winarni, 2011).

21

III. METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 4 Desember 2011, pukul 10.00 12.00 WITA dan bertempat di Laboratorium C Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo Kendari.

3.2. Alat dan Bahan

Alat dan bahan beserta kegunaannya yang digunakan pada praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Alat dan bahan beserta kegunaanya

No

Nama Alat

Kegunaan

A.

Alat

1.

Baki

Untuk meletakkan organisme yang akan diamati

2.

Pisau Bedah

Untuk membedah organisme yang diamati

3.

Alat tulis

Untuk mencatat dan menggambar hasil pengamatan

4.

Toples

Untuk menyimpan bahan pengamatan yang diambil dari laut

5.

Pinset

Untuk mengambil bahan dari toples Untuk Mengidentifikasi Struktur Tubuh obyek yang

6.

Buku

diamati

 

Identifikasi

B

Bahan

 

1. Ubur-ubur

Sebagai obyek yang diamati

 

(Aurelia sp.)

 

2. Anemon

Sebagai obyek yang diamati

 

(Metridium sp.)

 

3. Karang

Sebagai obyek yang diamati

 

(Acropoda sp.)

 

4. Alkohol 70%

Untuk mengawetkan bahan pengamatan

3.3.

Prosedur Kerja

 

Langkah-langkah kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Melakukan pengamatan pada organisme yang telah diambil dari perairan

2. Meletakkan orgaisme pada baki kemudian mengidentifikasi bagian-bagian organism tersebut.

3. Menggambar bentuk secara morfologi dan anatomi pada bagian-bagian organisme yang telah diidentifikasi dan diberi keterangan pada buku gambar.

22

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini sebagai berikut:

A. Struktur Morfologi Ubur-ubur (Aurelia sp.)

Keterangan:

1.

Mulut

2.

Tentakel

4.

Saluran sirkular

5.

Lamel endoderm

6.

Lappet tentakel

7.

Lengan mulut

Gambar 17. Morfologi Ubur-Ubur (Aurelia sp.)

B. Struktur Morfologi . Anemon (Metridium sp.)

Keterangan:

1. Mulut

2. Tentakel

3. Otot Melingkar

4. Basal Disc

Gambar 18. Morfologi Anemon (Metridium sp.)

23

C. Struktur Morfologi Karang (Acropora sp.)

Keterangan:

1. Sekat

2. Septal

3. Filament

4. Sekat Kapur

Gambar 19. Morfologi Karang (Acropora sp.)

4.2. Pembahasan

Coelenterata berasal dari bahasa Yunani, yaitu coelenterata yang artinya rongga. Jadi, Coelenterata adalah hewan invertebrata yang memiliki rongga tubuh Rongga tersebut digunakan sebagai alat pencernaan (gastrovaskuler) Namun filum Coelenterata lebih dikenal dengan nama Cnidaria. Kata Cnidaria berasal dari bahasa Yunani, cnido yang berarti penyengat karena sesuai dengan cirinya yang memiliki sel penyengat. Sel penyengat tersebut terletak pada tentakel yang terdapat di sekitar mulutnya. Tubuh Coelenterata yang berbentuk polip, terdiri dari bagian kaki, tubuh, dan mulut. Mulut dikelilingi oleh tentakel. Coelenterata yang berbetuk medusa tidak memiliki bagian kaki. Mulut berfungsi untuk menelan makanan dan mengeluarkan sisa makanan karena Coelenterata tidak memiliki anus. Tentakel berfungsi untuk menangkap mangsa dan memasukan makanan ke dalam mulut. Pada permukaan tentakel terdapat sel-sel yang disebut knidosit (knidosista) atau knidoblas. Setiap knidosit mengandung kapsul penyengat yang disebut nematokis (nematosista). Mempunyai rongga besar di tengah-tengah tubuhnya yang berfungsi seperti Usus pada hewan-hewan tingkat tinggi. Rongga itu disebut rongga Gastrovaskuler. Simetri tubuhnya Radial dan terdapat Tentakel disekitar mulutnya yang berfungsi untuk menangkap dan memasukkan makanan ke dalam tubuhnya. Tentakel vang dilengkapi sel Knidoblas yang mengandung racun sengat disebut Nematokis (ciri khas dari hewan berongga). Dinding tubuhnya terdiri dari 2 lapisan lembaga yaitu Ektoderm bagian luar dan Endoderm bagian dalam. Diantara dua lapisan tersebut terdapat lapisan tipis yang disebut Mesoglea. Karena dinding tubuhnya terdiri dari dua lapisan lembaga maka hewan itu disebut Hewan Diploblastik. Umumnya hidup soliter (sendiri), tapi ada pula yang memben-tuk koloni. Melekat pada dasar perairan, tidak dapat bergerak bebas. Tubuh atas membesar, di

24

alamnya terdapat rongga gastrovaskuler yang fungsinya sebagai usus. Di bagian atas terdapat mulut dan tentakel untuk menangkap mangsa. Polip merupakan fase vegetatif pada coelenterata fase medusa merupakan fase generatif (seksual), dimana pada fase ini mengha-silkan sel telur dan sel sperma. Medusa dapat melepaskan diri dari induk dan berenang bebas di perairan. Bentuknya seperti payung dan punya tentakel yang melambai-lambai. Kita biasa menamakannya dengan ubur-ubur. Pada pengamatan morfologi ubur-ubur, terlihat bentuk mulut dibagian bawah, dimana pada posisi yang sebenarnya, kemudian disekitar mulutnya terdapat tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsanya saat makan. Dibagian dalam tubuhnya pula terdapat saluran sirkular yang apabila diamati akan nampak pula saluran radial. Sedangkan untuk bagian luarnya terdapat lappet tentakel dengan lengan mulut. Menurut Trimaningsih (2008) bahwa ubur-ubur Scyphozoa mempunyai ciri antara lain tubuhnya berbentuk payung atau genta yang disertai dengan umbai-umbai berupa tentakel. Bagian payung sebelah atas berbentuk cembung dan disebut eksumbrella, sedangkan bagian bawah berbentuk cekung dan disebut sumbumbrella. Diantara keduanya terdapat mesoglea yang menyerupai lendir yang sangat kental. Ditengah sumbumbrella terdapat bukaan mulut. Sedangkan menurut Nontji (2008) bahwa ubur- ubur mempunyai bentuk tubuh seperti paying atau genta dengan disertai umbai-umbai berupa tentakel, bagian atas yang cembung disebut eksumbrella dan bagain bawah yang cekung disebut subumbrella. Pada pengamatan morfologi anemon, terlihat mulut, tentakel, otot melingkar, dan basal disc. Bentuk tubuh anemon seperti bunga, sehingga juga disebut mawar laut. Menurut Kuncoro (2004) bahwa lipatan yang bundar di antara badan dan keping mulut membagi binatang ini kedalam kapitulum di bagian atas dan scapus bagian bawah. Di antara lengkungan seperti leher (collar) dan dasar dari kapitulum terdapat "fossa". Keping mulut bentuknya datar, melingkar, kadang-kadang mengkerut, dan dilengkapi dengan tentakel kecuali pada jenis limnactinia, keping mulut tidak dilengkapi dengan tentakel. Beberapa anemon laut dapat bergerak seperti siput, bergerak secara perlahan dengan cara menempel. Sebagian besar anemon laut memiliki sel penyengat yang berguna untuk melindungi dirinya dari predator. Kemudian pada pengamatan morfologi karang (Acropoda sp.) terlihat adanya sekat pada bagian luar tubuhnya kemudian ada bagian tubuh yang disebut septal, filament dan sekat kapur. Menurut Darmadi (2010) bahwa Kedalaman karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter. Ciri-ciri Koloni dapat terhampar sampai beberapa meter, koloni arborescens, tersusun dari cabang-cabang yang silindris. Koralit berbentuk pipa, aksial koralit dapat dibedakan. Warna coklat muda. Kemiripan A. prolifera, A. formosa. Distribusi Perairan Indonesia, Jamaika, dan Kep. Cayman. Habitat Lereng karang bagian tengah dan atas, juga perairan lagun yang jernih.

25

5.1. Kesimpulan

V. PENUTUP

Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pengamatan yang dilakukan dan pembahasan di atas adalah sebagai berikut :

1. Secara morfologi Ubur-ubur (Aurelia sp.), memiliki bentuk mulut dibagian bawah, dimana pada posisi yang sebenarnya, kemudian disekitar mulutnya terdapat Tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsanya saat makan. Dibagian dalam tubuhnya pula terdapat saluran sirkular yang apabila diamati akan nampak pula saluran radial. Sedangkan untuk bagian luarnya terdapat lappet tentakel dengan lengan mulut.

2. Secara morfologi Anemon (Metridium sp.), memiliki mulut, tentakel, otot melingkar, dan basal disc. Bentuk tubuh anemon seperti bunga,sehingga juga disebut mawar laut.

3. Secara morfologi Karang (Acropora sp.) memiliki sekat pada bagian luar tubuhnya kemudian ada bagian tubuh yang disebut septal , filament dan sekat kapur.

5.2. Saran

Saran yang dapat saya ajukan pada praktikum kali ini adalah sebaiknya praktikum dilakukan dengan metode baru, yakni dengan pengadaan buku identifikasi serta gambar dan bentuk morfologi hewan amatan yang telah diawetkan.

26

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Filum Brachiophoda adalah salah satu kelompok hewan invertebrata yang hidup sebagai hewan bentik di laut. Sekilas hewan ini mirip kerang dari filum moluska, namun sebenarnya mereka sangat berbeda. Ditinjau dari asal katanya brachiophoda berasal dari bahasa yunani Brachios yakni tangan, dan Poda yang berarti kaki. Jadi hewan brachiophoda adalah hewan yang mempunyai organ yang berfungsi sebagai tangan dan kaki. Hewan ini lazim disebut kerang lentera (Lamp- Shell), hal ini karena bentuknya yang menyerupai bentuk lampu minyak pada zaman kerajaan Romawi kuno. Di Indonesia, penduduk disekitar kepulauan seribu menyebut hewan ini “Kerang Keco” atau “Kerang kecuk”. Keunikan hewan dari filum brachiophoda ini karena sudah dikenal berjuta- juta tahun yang silam dan sebagian besar merupakan penemuan fosil. Marga Lingula merupakan salah satu marga dari filum brachiophoda yang sekarang masih hidup, dan mendapat sebutan sebagai fosil hidup atau dalam istilahnya “Living Fossil”. beberapa spesies hidup dalam lubang di pasir atau lumpur pantai, umumnya di perairan sedang dan dingin. Cangkang berukuran 5 mm sampai 7,5 cm. Hewan brachiophoda hidup menempel pada substratnya malalui suatu tangkai, dan membuka cangkannya sedikit untuk memungkinkan air mengalir diantara cangkang dan lofofor. Semua anggota filum Brachiophoda adalah hewan laut. Brachiophoda yang masih hidup adalah sisa-sisa dari masa lalu. Sekitar 330 spesies tersebut yang diketahui, tetapi terdapat 30.000 spesies fosil zaman Paleozoikum dan Mesozoikum. Brachiopoda memiliki kemiripan yang berbeda dengan mollusca jenis bivalvia dimana pada bagian tubuhnya dilindungi secara eksternal oleh sepasang convex yang dikelompokkan kedalam cangkang yang dilapisi dengan permukaan yang tipis dari periostracum organik yang berkisar hingga 100 tahun yang lalu (invertebrata palaentologi). Sebagai hewan bentik kerang lentera sebagian besar didapatkan hidup didasar perairan yang umumnya dangkal, tidak berkoloni (soliter) dan menempelkan diri dengan tangkai (pedunkel) pada dasar/substrat yang keras secara permanen seperti karang mati, dan tumpukan cangkang moluska. Lain halnya dengan marga Lingula, dimana jenis ini umumnya hidup didasar yang berlumpur dan dapat berpindah tempat dengan bantuan pedunkel yang berfungsi sebagai tongkat. Gerakan ini diduga juga karena adanya pengaruh pasang surut. Oleh sebab itu, adanya perbedaan antara filum brachiophoda dan bivalvia menjadi landasan untuk diadakannya praktikum agar nantinya kita dapat mengetahui dan memahami bagaimana struktur anatomi dan morfologi filum brachiophoda sehingga kita dapat membedakannya dengan filum bivalvia dan filum-filum lainnya.

27

1.2. Tujuan dan Manfaat

Tujuan praktikum untuk mengetahui filum Brachiophoda secara morfologi dan anatomi serta dapat mengamati dan mengklasifikasi filum Brachiophoda. Manfaat praktikum sebagai bahan masukan untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan serta jenis-jenis mengenai filum Brachiophoda.

28

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi

Menurut Yulia dkk (2011) klasifikasi salah satu spesies dari Filum Brachiopoda sebagai berikut:

Kingdom

: Animalia : Brachiopoda

Filum

Sub filum : Invertebrata

Kelas

: Inarticulata

Ordo

: Lingulida

Famili

: Lingulidae

Genus

: Lingula

Spesies

: Lingula unguis

: Lingulidae Genus : Lingula Spesies : Lingula unguis Gambar 20. Kerang Lentera ( Lingula unguis)

Gambar 20. Kerang Lentera (Lingula unguis)

2.2. Morfologi dan Anatomi

Lingula unguis merupakan spesies yang termasuk pada filum ini yang marganya menjadi marga hewan tertua yang masih hidup. Ia memiliki cangkang dari zat tanduk yang terdiri dari dua tangkup, tetapi tidak berengsel. Kedua tangkup ini tidak seperti kerang yang terdiri dari tangkup kiri dan kanan, terdiri dari bagian atas dan bawah. Tidak seperti kerang yang bukaannya ada di bawah, bukaan cangkang Lingula ada di depan. Bagian utama dari tubuhnya berisi veisera (veicera), yang terletak di separuh belakang dari cangkangnya. Sebuah ruang yang luas tertutup di antara kedua tangkup cangkang di depan tubuh adalah rongga mantel (mantle cavity), yang bagian dalamnya dilapisi oleh mantel, sebuah tutup dari dinding tubuh. Ke dalam rongga ini menjulur kedua lengan ulir dari dinding tubuh depan. Pada pinggiran seriap lengan terdapat dua baris tentakel yang dipenuhi oleh bulu getar (Romimohtarto, 2001).

29

29 Gambar 21. Struktur Tubuh Lingula unguis Pada permukaan dalam dari tangkup atas dekat ujung belakang,

Gambar 21. Struktur Tubuh Lingula unguis

Pada permukaan dalam dari tangkup atas dekat ujung belakang, melekat satu tangkai berotot berbentuk silindrik yang panjang dinamakan pedikel (pedicle) yang berisi perpanjangan berbentuk tabung dari rongga tubuh. Selama air surut, tangkai ini memendek untuk menarik cengkang ke dalam lubang. Dan selama air pasang, tangkai memanjang untuk mendorong cangkang ke permukaan air. Biasanya ujung depan dari cangkang tidak pernah menonjol di atas permukaan pasir atau lumpur (Romimohtarto, 2001). Berikut adalah morfologi dan karakteristik dari Klas Articulata Cangkang dipertautkan oleh gigi dan socket yang diperkuat oleh otot, Cangkang umunya, tersusun oleh material karbonatan, tidak memiliki lubang anus, memiliki keanekaragaman jenis yang besar, Banyak berfungsi sebagai fosil index, Mulai muncul sejak zaman kapur hingga saat ini. Sedangkan untuk kelas Inarticulata Cangkang atas dan bawah (valve) tidak dihubungkan dengan otot dan terdapat socket dan gigi yang dihubungkan dengan selaput pengikat (Yulia, dkk, 2011).

dihubungkan dengan selaput pengikat (Yulia, dkk , 2011). Gambar 22. Bagian dalam tubuh (Anonim, 2011) Morfologi

Gambar 22. Bagian dalam tubuh (Anonim, 2011)

Morfologi kerang lentera, terdiri dari kerangka keras dari bahan kapur sepertihalnya kerang-kerangan. Kedudukan cangkang pada posisi menelungkup (dorso-ventral) dimana cangkang bagian bawah (ventral) pada umumnya lebih besar dari bagian atas (dorsal). Kedudukan tersebut secara taksonomi membedakan hewan brachiophoda dengan kerang-kerangan dari filum moluska yang kedudukan cangkngnya pada umumnya pada posisi miring atau lateral. Ukuran cangkang kerang lentera umunya kecil bervariasi antara 0,5 sampai 8 cm tergantung jenisnya, tetapi yang ditemukan dalam bentuk fosil umumnya mempunyai ukuran cangkang lebih besar (Mudjono dkk, 2000).

30

2.3. Habitat dan Penyebaran

Hewan Brachiophoda hidup menempel pada substratnya melalui suatu tangkai, dan membuka cangkangnya sedikit untuk memungkinkan air mengalir diantara cangkang dan lofofor. Semua anggota brachiopoda adalah hewan laut (Campbell,

2003).

anggota brachiopoda adalah hewan laut (Campbell, 2003). Gambar 23. Posisi tubuh brachiophoda dalam pasir Secara umum

Gambar 23. Posisi tubuh brachiophoda dalam pasir

Secara umum brachiopoda merupakan salah satu fosil hewan yang sangat melimpah keberadaannya pada sedimen yang berasal dari zaman paleozoikum. Salah satu kelasnya, yaitu Inartikulata bahkan menjadi penciri penting (fosil index) zaman Cambrian awal, Hidup di air laut Bentos sesil. Ada yang hidup diair tawar, namun sangat jarang, Mampu hidup pada kedalaman hingga 5.600 meter secara benthos sessil, Genus Lingula hanya hidup pada daerah tropis/hangat dengan kedalaman maksimal 40 meter, Hingga saat ini diketahui memiliki sekitar 300 spesies dari Brachiopoda, Brachiopoda modern memiliki ukuran cangkang rata-rata dari 5mm hingga 8 cm, Kehadiran rekaman kehidupannya sangat terkait dengan proses Bioconose dan Thanathoconose (Mudjono dkk, 2000).

.

2.4.

Reproduksi dan Daur Hidup

Lingula unguis tumbuh lambat, mencapai panjang cangkang 5 cm dalam waktu 12 tahun. Hewannya menjadi matang kelamin pada umur kira-kira 1-1,5 tahun ketika panjang cangkangnya 2,25 cm, seperti yang telah diamati di pantai utara Singapura. Pemijahan terjadi sepanjang tahun. Telur dan spermatozoa disebar di air dimana terjadi pembuahan. Embrio yang terbentuk menjadi larva yang berenang bebas. Larva ini menghanyut di permukaan laut dan makan tumbuh-tumbuhan renik yang terdapat di laut tersebut (Romimohtarto, 2001). Reproduksi seksual, umumnya diocieous, gonad biasanya berupa empat kelompok gamet yang dihasilkan dalam peritoneum, kecuali yang dierami gamet dilepaskan ke air melalui nepridia. Pembuahan di luar tubuh, telur menetas menjadi larva yang berenang bebas dan sudah mulali makan. Larva inarticulate bentuknya mirip brachiophoda dewasa tidak mengalami metamorposa pada akhir sedia larva

31

tumbuh pedicle serta cangkang dan larva turun ke substrat untuk kemudian hidup dalam lubang (Aslan, dkk, 2007)

2.5. Makanan dan Kebiasaan Makan

Pada saat makan, bulu-bulu atau rambut-rumbut yang terdapat di sepanjang pinggirian mantel menjulur di atas permukaan di atas permukaan pasir dari bagian depan hewan. Mereka membentuk tiga tabung bulu berbentuk kerucut, satu tengah dan lateral. Setiap lengan menjulur den tentakel membuka gulungan dan mekar. Tapak-tapak bulu getar tertentu pada tentakel dari lengan memukul-mukul bersamaan menyebabkan arus air berisi makanan dari oksigen masuk ke dalam rongga mantel melalui setiap tabung bulu lateral. Setalah menyaring air berisi partikel reknik dan makanan dan memindahkan sebagian oksigen terlarut, hewan itu membuang air melalui satu-satunya tabung bulu median (Romimohtarto, 2001).

2.6. Nilai Ekonomis

Spesies dari branchiopoda seperti Daphnia dan Artemia merupakan sumber pakan alami yang sangat penting dalam pembenihan ikan laut maupun tawar karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu kandungan nutrisinya tinggi, berukuran kecil yang sesuai dengan ukuran mulut larva, pergerakannya lambat, sehingga mudah ditangkap oleh larva ikan, dan tingkat pencemaran terhadap air kultur lebih rendah apabila dibandingkan dengan penggunaan pakan buatan. Kandungan proteinnya bisa mencapai lebih dari 70% kadar bahan kering. Secara umum, dapat dikatakan terdiri dari 95% air, 4% protein, 0.54 % lemak, 0.67 % karbohidrat dan 0.15 % abu. Dalam bidang pertanian Daphnia biasanya hidup dalam populasi persawahan dan dapat bermanfaat sebagai penghancur dan memindahkan bahan organik serta dapat dimanfaatkan sebagai sumber kitin. Selain itu Daphnia juga dapat digunakan sebagai indikator dari perubahan serta pencemaran lingkungan (Yulia, dkk, 2011).

32

III. METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 18 November 2011, pukul 13.00 15.00 WITA dan bertempat di Laboratorium C Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo Kendari.

3.2. Alat dan Bahan

Alat dan bahan beserta kegunaannya yang digunakan pada praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Alat dan bahan beserta kegunaanya

No

Nama Alat

Kegunaan

A.

Alat

1. Baki

Untuk meletakkan organism yang akan diamati

2. Pisau Bedah

Untuk membedah organism yang diamati

3. Alat tulis

Untuk mencatat dan menggambar hasil pengamatan

4. Toples

Untuk menyimpan bahan pengamatan yang diambil dari laut

5. Pinset

Untuk mengambil bahan dari toples

6. Buku Identifikasi

Untuk Mengidentifikasi Struktur Tubuh obyek yang diamati

B

Bahan

1. Kerang Lentera

Sebagai obyek yang diamati

(Lingula unguis)

2. Alkohol 70%

Untuk mengawetkan bahan pengamatan

3.3.

Prosedur Kerja

Langkah-langkah kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Melakukan pengamatan pada organisme yang telah diambil dari perairan

2. Meletakkan orgaisme pada baki kemudian mengidentifikasi bagian-bagian organism tersebut.

3. Menggambar bentuk secara morfologi dan anatomi pada bagian-bagian organisme yang telah diidentifikasi dan diberi keterangan pada buku gambar.

33

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini sebagai berikut:

A. Struktur Morfologi dan Anatomi Kerang Lentera (Lingula unguis)

Keterangan:

1. Tentakel

2. Cangkang

3. Tangkai

Gambar 24. Struktur Morfologi Kerang Lentera (Lingula unguis)

Keterangan:

1. Tentakel

2. Otot

3. Nephridium gonad

4. Lambung

5. Cangkang

6. Lophophore

Gambar 25. Struktur Anatomi Kerang Lentera (Lingula unguis)

34

4.2. Pembahasan

Brachiopoda adalah Bivalvia yang berevolusi pada zaman awal periode Cambrian yang masih hidup hingga sekarang yang merupakan komponen penting organisme benthos pada zaman Paleozoikum. Brachiopoda berasal dari bahasa latin brachium yang berarti lengan (arm), poda yang berarti kaki (foot). Brachiopoda artinya hewan ini merupakan suatu kesatuan tubuh yang difungsikan sebagai kaki dan lengan atau dengan kata lain binatang yang tangannya berfungsi sebagai kaki. Filum ini merupakan salah satu filum kecil dari bentik invertebrates. Hingga saat ini terdapat sekitar 300 spesies dari filum ini yang mampu bertahan dan sekitar 30.000 fosilnya telah dinamai. Mereka sering kali disebut dengan “lampu cangkang” atau lamp shell. Secara umum brachiopoda merupakan salah satu fosil hewan yang sangat melimpah keberadaannya pada sedimen yang berasal dari zaman paleozoikum. Salah satu kelasnya, yaitu Inartikulata bahkan menjadi penciri penting (fosil index) zaman Cambrian awal. Klasifikasi Fillum Brachiopoda dibagi menjadi 2 kelas yaitu klas Artikulata /Phygocaulina dan klas Inartikulata/Gastrocaulina. Klas Artikulata/Phygocaulina Cangkang atas dan bawah (valve) dihubungkan dengan otot dan terdapat selaput dan gigi. Klas Articulata / Pygocaulina memiliki masa hidup dari zaman Cambrian hingga ada beberapa spesies yang dapat bertahan hidup sampai sekarang seperti anggota dari ordo Rhynchonellida dan ordo Terebratulida.

anggota dari ordo Rhynchonellida dan ordo Terebratulida. Gambar 26. Spesies dari kelas Artikulata (Yulia dkk ,

Gambar 26. Spesies dari kelas Artikulata (Yulia dkk, 2011)

Berikut adalah ciri-ciri dari kelas Articulata cangkang dipertautkan oleh gigi dan socket yang diperkuat oleh otot, cangkang umunya tersusun oleh material karbonatan, Tidak memiliki lubang anus, memiliki keanekaragaman jenis yang besar, banyak berfungsi sebagai fosil index dan mulai muncul sejak zaman kapur hingga saat ini. Klas Inartikulata/Gastrocaulina memiliki cangkang atas dan bawah (valve) tidak dihubungkan dengan otot dan terdapat socket dan gigi yang dihubungkan dengan selaput pengikat. Sedangkan untuk ciri-ciri dari klas Inarticulata tidak memiliki gigi pertautan (hinge teeth) dan garis pertautan (hinge line), Pertautan kedua cangkangnya dilakukan oleh sistem otot, sehingga setelah mati cangkang akan terpisah, cangkang umunya berbentuk membulat atau seperti lidah, tersusun oleh senyawa fosfat atau khitinan, mulai muncul sejak zaman cambrian awal hingga sekarang.

35

35 Gambar 27. Spesies dari kelas Inartikulata (Yulia dkk , 2011) Menurut Romimohtarto (2011) pada permukaan

Gambar 27. Spesies dari kelas Inartikulata (Yulia dkk, 2011)

Menurut Romimohtarto (2011) pada permukaan dalam dari tangkup atas dekat ujung belakang, melekat satu tangkai berotot berbentuk silindrik yang panjang dinamakan pedikel (pedicle) yang berisi perpanjangan berbentuk tabung dari rongga tubuh. Selama air surut, tangkai ini memendek untuk menarik cengkang ke dalam lubang. Dan selama air pasang, tangkai memanjang untuk mendorong cangkang ke permukaan air. Biasanya ujung depan dari cangkang tidak pernah menonjol di atas permukaan pasir atau lumpur. Pada pengamatan morfologi yang kami lakukan untuk Lingula unguis terlihat tentakel, cangkang dan tangkai. Sedangkan anatominya yang nampak yaitu tentakel, nephridium gonad, cangkang, otot, lambung dan lophophore. Hal ini didukung oleh Yulia dkk (2011), yang menyatakan bahwa tubuh bagian dalam (anatomi) kerang lentera terdiri dari atas organ-organ seperti hati, saluran pencernaan (usus dan lambung), kelenjar pancreas, gonad dan otot-otot yang berfungsi sebagai penggerak organ seperti membuka dan menutup cangkang serta gerakan memutar tubuhnya yang disebut pendukel. Bagian depan (anterior) sebelah dalam cangkang terdapat suatu organ yang terlipat-lipat menyerupai bentuk tapak sepatu kuda dan disebut lofofor. Organ ini dilengkapi dengan tentakel bulu (bercillium) sebagai organ respirasi dan alat bantu untuk menangkap makanannya. Di sisi dinding usus terdapat lubang kecil yang disebut nephridium dan merupakan lubang pembuangan zat-zat yang tidak berguna. Nephridium selain sebagai organ eksresi juga sebagai organ reproduksi.

36

5.1. Kesimpulan

V. PENUTUP

Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pengamatan yang dilakukan dan pembahasan di atas adalah sebagai berikut :

1.

Filum Brachiophoda adalah salah satu kelompok hewan invertebrata yang hidup sebagai hewan bentik di laut. Ditinjau dari asal katanya brachiophoda berasal dari bahasa yunani Brachios yakni tangan, dan Poda yang berarti kaki. Jadi hewan brachiophoda adalah hewan yang mempunyai organ yang berfungsi sebagai tangan dan kaki.

2.

Struktur Morfologi dari Kerang Lentera (Linguila unguis) terdiri dari tentakel, cangkang, dan tangkai.

3.

Struktur Anatomi dari Kerang Lentera (Linguila unguis) adanya Nephridium gonad, Lambung dan Lophophore

5.2.

Saran

Saran yang dapat saya ajukan pada praktikum kali ini adalah sebaiknya alat yang digunakan pada praktikum dimaksimalkan penggunaannya, sebagai contoh misalnya toples yang dibawa praktikan tidak pernah digunakan begitu juga dengan kantong dan alat lain yang belum pernah digunakan. Hal ini dimaksudkan agar semua peralatan praktikan akan terpakai untuk kepentingan praktikum.

37

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Mollusca merupakan kelompok hewan terbesar kedua dalam kerajaan binatang, setelah filum Arthropoda dengan anggota yang masih hidup berjumlah sekitar 75 ribu jenis, serta 35 ribu jenis dalam bentuk fosil. Mollusca bersifat kosmopolit, artinya ditemukan di mana-mana, di darat, payau, di laut, di air tawar mulai dari daerah tropis hingga daerah kutub. Dari palung benua di laut sampai pegunungan yang tinggi, bahkan mudah saja ditemukan di sekitar rumah kita. Mollusca (dalam bahasa latin, molluscus = lunak) merupakan hewan yang bertubuh lunak. Tubuhnya lunak dilindungi oleh cangkang, meskipun ada juga yang tidak bercangkang. Hewan ini tergolong triploblastik selomata. Dengan kira-kira 100.000 spesies yang masih hidup, pada waktu ini filum mollusca termasuk filum hewan yang sangat penting. Terdiri atas hewan bertubuh lunak, tidak bersegmen (kecuali satu), banyak di antaranya dilindungi oleh satu atau lebih cangkang yang terbuat dari kapur (kalsium karbonat). Mollusca berasal dari bahasa Romawi molis yang berarti lunak. Jenis molusca yang umum dikenal ialah siput, kerang dan cumi-cumi. Kebanyakan dijumpai di laut dangkal, beberapa pada kedalaman 7.000 m, beberapa di air payau, air tawar dan darat.

Ciri tubuh Mollusca meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh. Ukuran dan bentuk mollusca sangat bervariasi. Misalnya siput yang panjangnya hanya beberapa milimeter dengan bentuk bulat telur. Namun ada yang dengan bentuk torpedo bersayap yang panjangnya lebih dari 18 m seperti cumi-cumi raksasa. Tubuh mollusca terdiri dari tiga bagian utama. Kaki merupakan penjulur bagian ventral tubuhnya yang berotot. Kaki berfungsi untuk bergerak merayap atau yang berfungsi untuk menangkap mangsa. Massa viseral adalah bagian tubuh mollusca yang lunak. Massa viseral merupakan kumpulan sebagaian besar organ tubuh seperti pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Mantel membentuk rongga mantel yang berisi cairan. Cairan tersebut merupakan lubang insang, lubang ekskresi, dan anus. Selain itu, mantel dapat mensekresikan bahan penyusun cangkang pada mollusca bercangkang. Sistem saraf mollusca terdiri dari cincin saraf yang nengelilingi esofagus dengan serabut saraf yang melebar. Sistem pencernaan mollusca lengkap terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus, dan anus. Ada pula yang memiliki rahang dan lidah pada mollusca tertentu.Lidah bergigi yang melengkung kebelakang disebut radula. Radula berfungsi untuk melumat makanan. Mollusca yang hidup di air bernapas dengan insang. Sedangkan yang hidup di darat tidak memiliki insang. Pertukaran udara mollusca dilakukan di rongga mantel berpembuluh darah yang berfungsi sebagai paru-paru. Organ ekskresinya berupa seoasang nefridia yang berperan sebagai ginjal. Sebagian besar moluska hidup di air laut tetapi banyak yang ditemukan di air tawar dan beberapa di darat. Filum ini dibagi atas tiga kelas besar dan beberapa kelas

38

keci. Kelas dari filum moluska yaitu Bivalvia, Gastropoda, Cephalopoda, Scaphoda, Polyplacophora, Monoplacophora. Moluska memiliki beragam struktur tubuh yang sulit untuk dikelompokkan. Khususnya untuk semua jenis yang telah modern. Karakteristik yang paling umum dari moluska adalah bahwa mereka berbentuk bilateral simetris. Oleh sebab itu, untuk mengetahui lebih jauh mengenai struktur tubuh filum moluska baik secara morfologi maupun anatomi, maka dilakukan praktikum guna pengamatan spesies pada setiap kelas dalam filum moluska.

1.2. Tujuan dan Manfaat

Tujuan praktikum untuk mengetahui filum Moluska secara morfologi dan anatomi serta dapat mengamati dan mengklasifikasi filum Moluska. Manfaat praktikum sebagai bahan masukan untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan serta jenis-jenis mengenai filum Moluska.

39

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi

Filum ini dibagi atas tiga kelas besar dan beberapa kelas kecil. Kelas dari filum moluska yaitu Bivalvia, Gastropoda, Cephalopoda, Scaphoda, Polyplacophora, Monoplacophora.Kelas Bivalvia contohnya kijing, kerang, kepah, remis, dan sebagainya, umunya disebut bivalvia karena tubuh dilindungi oleh dua cangkang. Hewan bivalvia mempunyai bentuk simetris bilateral, tetapi dalam hal ini tidak ada kaitannya dengan lokomosi yang cepat. Hewan ini kalaupun bergerak ialah dengan cara menjulurkan satu kaki tebal yang berotot di antara kedua kutub. Kelas Gastropoda, kelas besar moluska yang kedua meliputi semua keong dan kerabatnya yang tidak bercangkang yaitu siput telanjang. Kelas Cephalopoda berbagai jenis spesies gurita dan cumi-cumi dan juga nautilus beruang termasuk dalam kelas Cephalopoda. Kelas Scaphoda merupakan kelas kecil moluska laut yang menghabiskan kehidupan dewasanya terbenam di dalam pasir. Kelas polyplacophora, kinton adalah organisme lamban yang hidup secara tidak menyolok di pantai laut. Kelas Monoplacophora kelas ini disangka telah punah selama berjuta-juta tahun dan barulah didirikan lagi sejak Neopilina ditemukan pada tahun 1952 (Firmansyah,

2005).

Menurut Natadisastra (2005) Burungo (Telescopium telescopium) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum

Sub filum : Invertebrata

Kelas

Sub kelas : Prosobranchia Ordo : Mesogastropoda Famili : Telescodidae

Genus

Spesies

: Telescopium : Telescopium telescopium

: Telescodidae Genus Spesies : Telescopium : Telescopium telescopium Gambar 28. Burungo ( Telescopium telescopium)

Gambar 28. Burungo (Telescopium telescopium)

40

Gastropoda (dalam bahasa latin, gaster berarti perut, podos berarti kaki) adalah kelompok hewan yang menggunakan perut sebagai alat gerak atau kakinya. Misalnya, siput air (Lymnaea sp.), remis (Corbicula javanica), dan bekicot (Achatia fulica). Hewan ini memiliki ciri khas berkaki lebar dan pipih pada bagian ventrel tubuhnya. Gastropoda bergerak lambat menggunakan kakinya. Gastropoda darat terdiri dari sepasang tentakel panjang dan sepasang tentakel pendek. Pada ujung tentakel panjang terdapat mata yang berfungsi untuk mengetahui gelap dan terang. Sedangkan pada tentakel pendek berfungsi sebagai alat peraba dan pembau. Gastropoda akuatik bernapas dengan insang, sedangkan Gastropoda darat bernapas menggunakan rongga mantel (Aryulina, 2006). Menurut Natadisastra (2005) Kalandue (Polymesoda sp.) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum

Sub filum : Invertebrata

Kelas

Sub kelas : Lamellibranchia

Ordo

Famili

: Heterodonta

: Heterodae

Genus

: Polymesoda

Spesies : Polymesoda sp.

: Heterodae Genus : Polymesoda Spesies : Polymesoda sp. Gambar 29. Kalandue ( Polymesoda sp.) Pelecypoda

Gambar 29. Kalandue (Polymesoda sp.)

Pelecypoda memiliki dua buah cangkang pipih yang setangkup sehingga disebut juga Bivalvia. Kedua cangkang pada bagian tengah dorsal dihubungkan oleh jaringan ikat (ligamen) yang berfungsi seperti engsel untuk membuka dan menutup cangkang dengan cara mengencangkan dan mengendurkan otot. Cangkang tersusun dari lapisan periostrakum, prismatik, dan nakreas. Pada tiram mutiara, jika di antara mantel dan cangkangnya masuk benda asing seperti pasir, lama-kelamaan akan terbentuk mutiara. Mutiara terbentuk karena benda asing tersebut terbungkus oleh hasil sekresi palisan cangkang nakreas. Pelecypoda tidak memiliki kepala. Mulutnya terdapat pada rongga mantel, dilengkapi dengan labial palpus (Ferdinand, 2008).

41

Menurut Natadisastra (2005), Cumi-cumi (Loligo Sp.) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom

: Animalia

Filum

Sub filum : Invertebrata

Kelas

Sub kelas : Coleoidea

Ordo

: Teuthoidea

Famili

: Loliginidae

Genus

: Loligo

Spesies

: Loligo sp.

: Loliginidae Genus : Loligo Spesies : Loligo sp. Gambar 30. Cumi-cumi ( Loligo sp). Menurut

Gambar 30. Cumi-cumi (Loligo sp).

Menurut Natadisastra (2005), Gurita (Octopus sp.) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom

: Animalia

Filum

Sub filum : Invertebrata

Kelas

Sub kelas : Coleoidea

Ordo

Famili

: Octopoda : Octopodidae

Genus

Spesies

: Octopus : Octopus Sp.

Coleoidea Ordo Famili : Octopoda : Octopodidae Genus Spesies : Octopus : Octopus Sp. Gambar 31.

Gambar 31. Gurita (Octopus sp.)

42

Cephalopoda memiliki organ pertahanan berupa kantong tinta. Kantong tinta berisikan cairan seperti tinta berwarna coklat atau hitam yang terletak di ventral tubuhnya. Tinta ini akan di keluarkan jika hewan ini merasa terancam dengan cara menyemburkannya. Cephalopoda memiliki kaki berupa tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsanya (Ferdinand, 2008). Kelas Aplacophora adalah kelompok kecil Mollusca yang hidup di air dalam yang ditemukan di semua samudra dunia. Kelompok ini terdiri dari dua subkelas, yaitu Solenogastres dan Caudofoveata, di antara mereka mengandung 28 keluarga dan sekitar 320 spesies. Namun, hubungan kelompok ini dengan anggota kelas lain pada Mollusca jelas, dilihat dari sistem pencernaannnya yang memiliki radula. Aplacophora adalah hewan menggali seperti cacing, dengan sedikit kemiripan dengan kebanyakan molusca lainnya. Mereka tidak memiliki kerangka, meskipun kalsifikasi kecil spikula yang tertanam di kulit. Kebanyakan anggota kelas ini tidak memiliki kaki, meskipun beberapa spesies memiliki beberapa tonjolan kecil pada bagian bawah yang mungkin merupakan sisa kaki. Rongga mantel direduksi menjadi sederhana, kloaka yang merupakan anus dan organ ekskretoris kosong, terletak di ujung tubuh. Bagian dasar tubuhnya adalah kepala dan tidak memiliki mata atau tentakel. Beberapa spesies merupakan hermaprodit, namun sebagian besar memiliki dua jenis kelamin, dan berkembang biak dengan pembuahan eksternal. Selama masa pertumbuhan, rongga mantel larva meringkuk dan menutup, menciptakan seperti bentuk cacing dewasa. Kelas Scapophoda Scapophoda memiliki kaki yang berada di daerah mulut, bercangkang seperti kerucut dan tanduk dengan kedua ujung cangkang berlubang, serta memiliki mantel. Contoh anggota kelas ini adalah Dentalium vulgare (Aryulina, 2006).

2.2. Morfologi dan Anatomi

Mollusca memiliki badan lunak diselubungi oleh semacam kantong otot (mantel) yang tidak bersegmen berserta berculum; sebagai tempat organ-organ dalam. Mantel ini mempunyai keunikan lain, yaitu dapat menghasilkan sekresi spikulum (mempunyai jarum) yang berkulit kapur. Gastropoda mempunyai kepala; kaki-kaki otot ventral dan bagian dorsal/punggung yang berubah bentuk diselubungi oleh kulit/cangkang kapur yang keras (Natadisastra, 2005). Ciri-ciri Mollusca yakni bertubuh lunak, multiseluler dan triploblastik. Sebagian besar mempunyai cangkok dari zat kapur dan mantel. Tubuh simetri bilateral dan tidak bersegmen, keciali pada Monoplacophora. Memiliki kepala yang jelas dengan organ reseptor kepala yang bersifat khusus. Memiliki dinding tubuh yang tebal dan kaki yang berotot secara umum digunakan untuk bergerak (Kusnadi dan Muhsinin, 2010). Ciri khas struktur tubuh mollusca adalah adanyan mantel. Mantel merupakan sarung pembungkus bagian-bagian yang lunak dan melapisi rongga mantel. Insang organ respirasi sepertihalnya paru-paru dari siput merupakan hasil perkembangbiakan dari mantel. Bagian mantel gastropoda dan scaphophoda digunakan untuk respirasi. Pada Chephalopoda otot-otot mantel digunakan untuk gerakan, mekanik, dan respirasi (Rusyana, 2011).

43

43 Gambar 32. Struktur Tubuh Mollusca Gastropoda adalah mollusca yang memiliki cangkang dengan bentuk tabung yang

Gambar 32. Struktur Tubuh Mollusca

Gastropoda adalah mollusca yang memiliki cangkang dengan bentuk tabung yang melingkar-lingkar ke kanan searah jarum jam. Namun, ada pula yang memilin ke kiri. Kepala dan kaki menjulur keluar bila sedang merayap, dan masuk bila ada bahaya mengancam. Sedangkan pada kerang/Pelecypoda memiliki sepasang cangkang yang dapat membuka dan menutup. Sebagian besar, hidup dengan cara membenamkan diri ke dalam pasir atau lumpur. Dan pada Chepalopoda merupakan mollusca yang tidak memiliki cangkang diluar seperti pada kerabat lainnya. Jenis yang sering dijumpai adalah cumi-cumi (Kuncoro, 2004) Ukuran dan bentuk mollusca sangat bervariasi. Misalnya siput yang panjangnya hanya beberapa milimeter dengan bentuk bulat telur. Namun ada yang dengan bentuk torpedo bersayap yang panjangnya lebih dari 18 m seperti cumi-cumi raksasa. Struktur tubuh mollusca terdiri dari tiga bagian utama Kaki merupakan penjulur bagian ventral tubuhnya yang berotot. Kaki berfungsi untuk bergerak merayap atau menggali. Pada beberapa molluska kakinya ada yang termodifikasi menjadi tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa. Massa viseral adalah bagian tubuh mollusca yang lunak. Massa viseral merupakan kumpulan sebagian besar organ tubuh seperti pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Mantel membentuk rongga mantel yang berisi cairan. Cairan tersebut merupakan lubang insang, lubang ekskresi, dan anus. selain itu, mantel dapat mensekresikan bahan penyusun cangkang pada mollusca bercangkang (Ayulina, 2006).

2.3. Habitat dan Penyebaran

Mollusca bersifat kosmopolit, artinya ditemukan di mana-mana, di darat, payau, di laut, di air tawar mulai dari daerah tropis hingga daerah kutub. Dari palung benua di laut sampai pegunungan yang tinggi, bahkan mudah saja ditemukan di sekitar rumah kita. Hal ini menunjukkan kemampuan adaptasi Mollusca terhadap lingkungan sangat tinggi. Tapi pada umumnya moluska hidup di laut. Tubuhnya terdiri atas kaki, Mollusca juga mempunyai bagian tubuh yang disebut sebagai kaki muskular yang dipakai dalam beradaptasi untuk bertahan di substrat, menggali membor substrat, atau melakukan pergerakan dan sebagai alat untuk menangkap mangsa. Dengan kepala yang berkembang beragam menurut kelasnya (Fitriana,

2007).

44

Mollusca hidup secara heterotrof dengan memakan ganggang, udang, ikan ataupun sisa-sisa organisme. Habitatnya di air tawar, di laut dan didarat. Beberapa juga ada yang hidup sebagai parasit (Wijaya, 2007).

Beberapa juga ada yang hidup sebagai parasit (Wijaya, 2007). Gambar 33. Habitat Mollusca Umumnya gastropoda yang

Gambar 33. Habitat Mollusca

Umumnya gastropoda yang hidup diperairan tawar termasuk dalam Thiaridae. Hewan ini hidup di air yang tergenang maupun air mengalir dan umumnya di air tawar yang bervegetasi rapat. Gastropoda termasuk hewan yang sangat berhasil menyesuaikan diri untuk hidup dibeberapa tempat dan cuaca. Seperti halnya siput air tawar yang ditemukan di Siberia mampu hidup pada temperature -12 O C sampai mencapai temperature 51 o C pada musim dingin dan kebalikannya pada keadaan ekstrem siput dapat hidup dipadang pasir dengan suhu 43 o C (Natadisastra, 2005).

2.4. Reproduksi dan Daur Hidup

Pada Kelas Amphineura jenis kelaminnya terpisah, larvanya disebut trocophora sedangkan pada kelas Gastropoda memiliki alat reproduksi jantan dan betina yang bergabung atau disebut juga ovotestes. Gastropoda adalah hewan hermaprodit, tetapi tidak mampu melakukan autofertilisasi. Pada spesies Achatina fulica memiliki sifat yang hermafrodit, tetapi untuk fertilisasi diperlukan spermatozoa dari individu lain, karena spermatozoa dari induk yang sama tidak dapat membuahi sel telur. Ova dan spermatozoa dibentuk bersama-sama dengan ovotestis. Ovotestis berupa kelenjar kecil berwarna putih kemerahan, terletak melekat di antara kelenjar pencernaan. Pada kelas Schacopoda memiliki jenis kelamin yang terpisah begitupula dengan kelas Chephalopoda yang jenis kelaminnya terpisah, dimana saluran gonadnya terletak dirongga mantel dekat anus. Pada kebanyakan hewan jantan salah satu tangannya mengalami modifikasi yang berfungsi mentransfer kapsul sperma ke rongga mantel hewan betina (Rusyana, 2011).

45

45 Gambar 34. Siklus Hidup Haliotis iris Mollusca bereproduksi secara seksual dan masing-masing organ seksual saling

Gambar 34. Siklus Hidup Haliotis iris

Mollusca bereproduksi secara seksual dan masing-masing organ seksual saling terpisah pada individu lain. Fertilisasi dilakukan secara internal dan eksternal untuk menghasilkan telur. Telur berkembang menjadi larva dan berkembang lagi menjadi individu dewasa (Mikrajuddin, 2007). Reproduksi Pelecypoda terjadi secara seksual. Organ seksual terpisah pada masing-masing individu. Fertilisasi terjadi secara internal maupun eksternal. Pembuahan menghasilkan zigot yang kemudian akan menjadi larva. Untuk reproduksi hewan ini berlangsung secara seksual. Cephalopoda memiliki organ reproduksi berumah dua (dioseus). Pembuahan berlangsung secra internal dan menghasilkan telur. Pada Amphineura sistem reproduksi reproduksi secara seksual, yaitu dengan pertemuan ovum dan sperma. Terdapat individu jantan dan betina (Fitriana, 2007).

2.5. Makanan dan Kebiasaan Makan

Sistem pencernaan makanan dimulai dari mulut dan berakhir dengan anus. Pada pencernaan makanan terdapat kelenjar ludah dan kelenjar hati. Makanan berupa tumbuh-tumbuhan, dipotong-potong oleh rahang zat tanduk (mandibula/, kemudian dikunyah oleh radula. Zat zat makanan diserap di dalam intestine. Saluran pencernaan makanan terdiri atas rongga mulut-faring (tempat dimana terdapat radula) esophagus tembolok lambung - intestine rectum anus. Kelenjar pencernaan terdiri atas kelenjar ludah, hati, dan pancreas (Rusyana, 2011).

terdiri atas kelenjar ludah, hati, dan pancreas (Rusyana, 2011). Gambar 35. Organ-organ pada sistem pencernaan moluska

Gambar 35. Organ-organ pada sistem pencernaan moluska

46

Alat pencernaan telah berkembang sempurna, terdiri atas mulut, kerongkongan yang pendek, lambung, usus, dan anus. Salurannya memanjang dari mulut hingga anus. Pada mulut telah ditemukan lidah bergerigi atau radula dan hampir semua jenis mollusca memilikinya dalam mulutnya yang digunakan untuk makan, anusnya terbuka ke rongga mantelanus tersebut terletak di bagian anterior tubuh. Kelenjar pencernaan telah berkembang baik (Fitriana, 2007).

2.6. Nilai Ekonomis

Banyak anggota filum Mollusca yang bernilai ekonomi, baik menguntungkan seperti sebagai bahan makanan, perhiasan, indikator pencemaran tapi juga merugikan seperti hama, pembawa penyakit dan sebagai agen biofouling. Mollusca mempunyai data fosil yang tinggi (> 35.000 fosil sp.) dan terpreservasi dengan baik, sehingga data fosil ini dapat menjadi studi mengenai sejarah bumi dan studi iklim di masa lalu. Berbekal ilmu yang didapat dari kursus mengenai pengelolaan koleksi spesimen dan database keanekaragaman Mollusca (Aryasari, 2006). Peran mollusca dalam kehidupan menusia ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan. Peranan moluska yang menguntungkan antara lain sebagai sumber protein hewani, penghasil mutiara, dan sebagai hiasan (Wijaya, 2007).

47

III. METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 18 November 2011, pukul 13.00 15.00 WITA dan bertempat di Laboratorium C Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo Kendari.

3.2. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada

Tabel 4.

Tabel 4. Alat dan bahan yang digunakan beserta fungsinya

No.

Alat dan Bahan

Fungsi

A

Alat

1. Baki

Tempat untuk membedah bahan

2. Pisau bedah

Untuk membedah bahan

3. Alat menggambar

Untuk menggambar morfologi dan anatomi obyek yang diamati

B

Bahan

1. Burungo (Telescopium telescopium)

Sebagai obyek yang diamati Sebagai obyek yang diamati

2. Kalandue (Polymesoda sp.)

Sebagai obyek yang diamati Sebagai obyek yang diamati

3. Cumi-cumi (Loligo sp.)

4. Gurita (Octopus sp.)

3.3.

Prosedur Kerja

Langkah-langkah kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Melakukan pengamatan pada organisme yang telah diambil dari perairan

2. Meletakkan orgaisme pada baki kemudian mengidentifikasi bagian-bagian organism tersebut.

3. Menggambar bentuk secara morfologi dan anatomi pada bagian-bagian organisme yang telah diidentifikasi dan diberi keterangan pada buku gambar.

48

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini sebagai berikut:

A. Struktur Morfologi dan Anatomi Kalandue ( Polymesoda sp.)

Keterangan:

1.

Cangkang

2.

Garis pertumbuhan

3.

Umbo

4.

Kaki

Gambar 36. Morfologi Kalandue ( Polymesoda sp.)

Keterangan:

1. Ctenidia

2. Tepi mantel

3. Metaniphridia

4. Gonad

5. Pedal ganglion

6. Atrium

Gambar 37. Anatomi Kalandue ( Polymesoda sp.)

B. Struktur Morfologi Burungo ( Telescopium telescopium )

Keterangan:

1. Kaki

2. Cangkang

3. Apex

4. Ulir

5. Aperture

Gambar 38. Morfologi Burungo (Telescopium telescopium)

49

C. Struktur Morfologi dan Anatomi Cumi-cumi (Loligo sp.)

Keterangan:

1. Tentakel

2. Mata

3. Tubuh

4. Sucle

5. Mantel

6. Sirip

Gambar 39. Morfologi Cumi-cumi (Loligo sp.)

Keterangan:

1. Mulut

2. Faring

3. Anus

4. Kantung tinta

5. Ginjal

6. Hati

Gambar 40. Anatomi Cumi-cumi (Loligo sp.)

D. Struktur Morfologi dan Anatomi Gurita (Octopus sp.)

Keterangan:

1. Mata

2. Shipon

3. Lengan

4. Mata

5. Sirip

Gambar 41. Morfologi Gurita (Octopus sp.)

50

Keterangan:

1. Tangan ke-1

2. Bintik mata

3. Tangan ke-2

4. Jumbai

5. Tangan ke-3

6. Mata

7. Tangan ke-4

8. Funnel

9. Hectocotylus

10. Insang

11. Alat pengisap

12. Tubuh (mantel)

Gambar 42. Anatomi Gurita (Octopus sp.)

4.2. Pembahasan

Mollusca berasal dari bahasa Latin mallis yang berarti lunak. Jadi mollusca dapat diartikan sebagai hewan bertubuh lunak. Tubuh lunak tersebut tidak bersegmen-segmen dan terbungkus oleh mantel yang terbuat dari jaringan khusus, dan umumnya dilengkapi dengan kelenjar-kelenjar yang dapat menghasilkan cangkang. Di antara mantel dan dinding tubuh terdapat rongga mantel. Beberapa jenis hewan ini, tubuhnya terlindung oleh cangkang dari zat kapur (kalsium karbonat) yang keras tapi ada pula mollusca yang tidak bercangkang, misalnya cumi-cumi. Ciri tubuh Mollusca meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh. Ukuran dan bentuk mollusca sangat bervariasi. Misalnya siput yang panjangnya hanya beberapa milimeter dengan bentuk bulat telur. Namun ada yang dengan bentuk torpedo bersayap yang panjangnya lebih dari 18 m seperti cumi-cumi raksasa. Tubuh mollusca terdiri dari tiga bagian utama. Kaki merupakan penjulur bagian ventral tubuhnya yang berotot. Kaki berfungsi untuk bergerak merayap atau yang berfungsi untuk menangkap mangsa. Massa viseral adalah bagian tubuh mollusca yang lunak. Massa viseral merupakan kumpulan sebagaian besar organ tubuh seperti pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Tubuh mollusca terdiri dari tiga bagian utama yakni kaki merupakan penjulur bagian ventral tubuhnya yang berotot. Kaki berfungsi untuk bergerak merayap atau menggali. Pada beberapa molluska kakinya ada yang termodifikasi menjadi tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa. Massa viseral adalah bagian tubuh mollusca yang lunak. Massa viseral merupakan kumpulan sebagaian besar organ tubuh seperti pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Mantel membentuk rongga mantel yang berisi cairan. Cairan tersebut merupakan lubang insang, lubang ekskresi,

51

dan anus.Selain itu, mantel dapat mensekresikan bahan penyusun cangkang pada mollusca bercangkang.

bahan penyusun cangkang pada mollusca bercangkang. Gambar 43. Struktur Tubuh Loligo sp. Pada Pengamatan yang

Gambar 43. Struktur Tubuh Loligo sp.

Pada Pengamatan yang kami lakukan khususnya untuk kelas Chephalophoda yakni struktur tubuh cumi-cumi secara morfologi terdiri atas tentakel, mata sirip dan badan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Rusyana (2011) bahwa struktur tubuh Loligo sp. Terdiri atas kepala, badan dan dihubungkan oleh leher. Kaki terdiri atas 10 jerait, 8 lengan dan tentakel. Sedangkan menurut anatomi, organ respirasi cumi terdiri atas sepasang insang berbentuk bulu yang terdapat di rongga mantel. Prosesnya, air keluar masuk melalui tepi lingkaran ujung badan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Brotowidjoyo (2000) bahwa chephalopoda merupakan mollusca yang tidak memiliki cangkang luar seperti pada kerabat lainnya. Memiliki sepasang insang dan sirip yang memudahkannya berenang dan melakukan proses respirasi.

yang memudahkannya berenang dan melakukan proses respirasi. Gambar 44. Struktur Tubuh Achatina fulica Pada pengamatan

Gambar 44. Struktur Tubuh Achatina fulica

Pada pengamatan selanjutnya yakni kelas Gastropoda, pengatamatan pada spesies burungo (Telescopium telescopium) secara morfologi terlihat satu cangkang yang membukus seluruh permukaan tubuhnya, memiliki kaki yang lebar dan pipih pada bagian ventrel tubuhnya. Kemudian terdapat apex pada ujung cangkangnya dan memiliki ulir. Hal yang sama dikemukakan oleh Handayani (2009) bahwa gastropoda

52

memiliki cangkang berbentuk kerucut dilengkapi dengan tentakel dan bintik mata serta kaki untuk berjalan. Gastropoda bergerak lambat menggunakan kakinya. Gastropoda darat terdiri dari sepasang tentakel panjang dan sepasang tentakel pendek. Pada ujung tentakel panjang terdapat mata yang berfungsi untuk mengetahui gelap dan terang. Sedangkan pada tentakel pendek berfungsi sebagai alat peraba dan pembau. Gastropoda akuatik bernapas dengan insang, sedangkan Gastropoda darat bernapas menggunakan rongga mantel. Sedangkan secara anatomi, kelas gastropoda memiliki penis, anus mulut dan terdapat hati dibagian dekat mantelnya.

anus mulut dan terdapat hati dibagian dekat mantelnya. Gambar 45. Struktur Tubuh Polymesoda sp. Pada pengamatan

Gambar 45. Struktur Tubuh Polymesoda sp.

Pada pengamatan selanjutnya yakni pada kelas Pelecypoda secara morfologi memiliki ciri khas, yaitu kaki berbentuk pipih seperti kapak. Kaki Pelecypoda dapat dijulurkan dan digunakan untuk melekat atau menggali pasir dan lumpur. Memiliki Umbo dan dua cangkang yang bisa membuka dan menutup. Pada cangkang tersebut terlihat garis pertumbuhan yang menunjukkan umur dari Pelecypoda itu sendiri. Menurut Handayani (2009) bahwa Pelecypoda memiliki bentuk tubuh yang simetri bilateral memiliki insang dengan bentuk helaian dan cangkang satu pasang yang diikat oleh ligament dan disisinya terdapat tonjolan yakni umbo. Sedangkan secara anatomi Pelecypoda memiliki mulut, insang, ginjal, usus dan gonad. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Rusyana (2011) bahwa terdapat mulut yang terletak diantara dua pasang labilal palpus bersilia, silia ini berfungsi untuk menggiring makanan, kemudian lambung, rectum dan usus untuk pencernaannya. Pelecypoda ada yang hidup menetap dan membenamkan diri di dasar perairan. Pelecypoda mampu melekat pada bebatuan, cangkang hewan lain, atau perahu karena mensekresikan zat perekat. Pelecypoda memiliki dua buah cangkang pipih yang setangkup sehingga disebut juga Bivalvia. Kedua cangkang pada bagian tengah dorsal dihubungkan oleh jaringan ikat (ligamen) yang berfungsi seperti engsel untuk membuka dan menutup cangkang dengan cara mengencangkan dan mengendurkan otot. Cangkang tersusun dari lapisan periostrakum, prismatik, dan nakreas. Pada tiram mutiara, jika di antara mantel dan cangkangnya masuk benda asing seperti pasir, lama-kelamaan akan terbentuk mutiara. Mutiara terbentuk karena benda asing tersebut terbungkus oleh hasil sekresi palisan cangkang nakreas. Pelecypoda tidak memiliki kepala. Mulutnya terdapat pada rongga mantel, dilengkapi dengan labial palpus.

53

5.1. Kesimpulan

V. PENUTUP

Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pengamatan yang dilakukan dan pembahasan di atas adalah sebagai berikut :

1.

Mollusca (dalam bahasa latin, molluscus berarti lunak) merupakan hewan yang bertubuh lunak. Tubuhnya lunak dilindungi oleh cangkang, meskipun ada juga yang tidak bercangkang. Hewan ini tergolong triploblastik selomata.

2.

Telescopium telescopium memiliki morfologi yang terdiri dari apex berfungsi sebagai pusat pertumbuhan, ulir sebagai garis tumbuh, cangkang untuk melindungi organ dalam tubuh dari luar dan aperture.

3.

Polymesoda sp. memiliki morfologi yang terdiri dari umbo, cangkang untuk melindungi organ dalam, garis pertumbuhan dan sifon sebagai alat pengisap sedangkan Struktur anatominya terdiri Ctenidia, Tepi mantel, atrium dan gonad.

4.

Loligo sp. memiliki morfologi baik secara dorsal maupun ventral terdiri dari lengan, lengan tentakel yang digunakan untukl menangkap mangsanya, trunk sebagai badan, fin untuk berenang/bergerak, tentacular club sebagai alat penangkap dan lata indra, rostrum, mata, kepala, mantel dan sifon untuk mengisap makanannya sedangkan anatominya terdiri atas kantung tinta, ginjal dan hati.

5.

Octopus sp. tampak morfologinya terdiri dari tangan ke-1, tangan ke-2, tangan ke-3, tangan ke-4, hectocotylus, alat pengisap, bintik mata, jumbai, mata, funnel, insang untuk bernafas dan tubuh (mantel) sedangkan untuk anatominya terdiri atas bintik mata, jumbai, Funnel, dan Insang.

6.

Filum Mollusca dibagi 8 kelas, yaitu Chaetodermomorpha, Neomeniomorpha, Monoplacophora, Polyplacophora, Gastropoda, Pelecypoda/Bivalvia, Scaphopoda dan Cephalopoda. Mollusca yang tidak memiliki cangkok, seperti cumi-cumi, sotong, gurita atau siput telanjang. Mollusca memiliki struktur berotot yang disebut kaki yang bentuk dan fungsinya berbeda untuk setiap kelasnya. Cangkok kerang ini terdiri dari dua belahan, sedangkan cangkok siput berbentuk seperti kerucut yang melingkar. Perbedaan lainnya, kaki siput tipis dan rata. Fungsinya adalah untuk berjalan dengan cara kontraksi otot.

5.2.

Saran

Saran yang dapat saya ajukan pada praktikum kali ini adalah sebaiknya alat yang digunakan pada praktikum dimaksimalkan penggunaannya, sebagai contoh misalnya toples yang dibawa praktikan tidak pernah digunakan begitu juga dengan kantong dan alat lain yang belum pernah digunakan. Hal ini dimaksudkan agar semua peralatan praktikan akan terpakai untuk kepentingan praktikum

54

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Annelida (dalam bahasa latin, annulus bararti cincin) atau cacing gelang adalah kelompok cacing dengan tubuh bersegmen. Berbeda dengan Platyhelminthes dan Nemathelminthes, Annelida merupakan hewan tripoblastik yang sudah memiliki rongga tubuh sejati (hewan selomata). Namun Annelida merupakan hewan yang struktur tubuhnya paling sederhana. Cacing-cacing anggota filum ini tubuhnya beruas-ruas. Beberapa organ (misalnya pencernaan) membentang sepanjang tubuh. Organ yang lain seperti saluran pembuangan, ada di setiap ruas. Annelida mempunyai rongga tubuh atau coelem. Rongga ini tidak saja berisi organ-organ yang terbentuk dari mesoderm tetapi juga dilapisi oleh lapisan mesoderm. Annelida merupakan hewan simetris bilateral, mempunyai sistem peredaran darah yang tertutup dan sistem syaraf yang tersusun seperti tangga tali. Pembuluh darah yang utam membujur sepanjang bagian dorsal sedangkan sistem syaraf terdapat pada bagian ventral. Telah diketemukan 7.000 species yang hidup di air tawar, laut dan tanah. Contoh annelida adalah cacing tanah (Pheretima) cacing ini hidup di tanah, makananya berupa sisa tumbuhan dan hewan. Charles Darwin ahli biologi yang termahsur adalah orang yang pertama kali menyatakan bahwa cacing tanah mempunyai peranan yang penting dalam menggemburkan/menyuburkan tanah. Karena hidup di dalam tanah, cacing ini membuat liang-liang sehingga tanah menjadi berpori dan mudah diolah. Cacing tanah juga mencampur dedaunan dengan tanah, jadi menaikan kandungan humus tanah. Sebagian besar anelida hidup dilaut, yaitu diliang-liang atau dibawah karang yang dekat dengan pantai, misalnya neries. Golongan lain dari annelida yang banyak dikenal adalah lintah pengisap darah. Lintah mempunyai balik penghisap dikedua ujung badanya. Batil penghisap posterior dipergunakan untuk melekatkan diri pada inang, sedangkan batil penghisap anterior dipergunakan untuk menghisap darah. Contoh lain Annelida adalah cacing tanah (Lumbricus terrestris), cacing ini hidup di tanah, makanannya berupa sisa tumbuhan dan hewan. Charles Darwin ahli biologi yang termashur adalah orang yang pertama kali menyatakan bahwa cacing tanah mempunyai peranan yang penting dalam menyuburkan/menggemburkan tanah. Karena hidup di dalam tanah, cacing ini membuat liang-liang sehingga tanah menjadi berpori dan mudah di olah. Cacing tanah juga mencampur dedaunan dengan tanah, jadi secara biologis cacing tanah menaikkan kandungan humus tanah. Berdasarkan hal tersebut diatas maka sangat penting untuk dilakukan praktikum avertebrata air mengenai filum Annelida dengan tujuan untuk mengamati dan mengenal lebih jauh mengenai struktur tubuh morfologi dan anatomi filum Annelida.

55

1.2. Tujuan dan Manfaat

Tujuan praktikum untuk mengetahui filum Annelida secara morfologi dan anatomi serta dapat mengamati dan mengklasifikasi filum Annelida. Manfaat praktikum sebagai bahan masukan untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan serta jenis-jenis mengenai filum Annelida.

56

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi

Annelida diklasifikasikan berdasarkan ada atau tidaknya dan banyak atau sedikitnya seta (rambut). Terdapat 3 kelas, yaitu Polychaeta, Oligochaeta, dan Hirudinea. Polychaeta merupakan cacing yang memiliki banyak seta (rambut),dan pada setiap ruas tubuhnya terdapat alat gerak yang disebut parapodia. Sebagai contohnya adalah Eunice viridis (cacing wawo), Lysidice sp. (cacing palolo), Nereis virens (kelabang laut)dan Aranicola. Selanjutnya adalah kelas Oligocaeta,dimana pada kelas ini hanya memilki sedikit seta dan tidak memiliki alat gerak berupa parapodia. Cacingpada kelas ini berfungsi sebagai penyubur tanah, khususnya adalah

sebagai dekomposer untuk proses aerasi. Contoh spesies dari kelas ini adalah Tufibex sp (cacing air), Lumbricus terrestis (cacing tanah), dan Pheretima (cacing tanah asia). Kelas yang terakhir adalah Hirudinea, merupakan golongan cacing yang tidak berambut dan tidak memiliki parapodia. Kelebihan dari cacing pada kelas ini adalah meiliki alat hisap untuk menghisap darah dari tubuh inangnya serta dapat mengeluarkan zat anti beku yang disebut hirudin. Contoh spesies dari kelas ini adalah Hirudinaria javanica (lintah kuning) (Susilowarno, 2010). Menurut Susilowarno (2010), klasifikasi cacing laut sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum

: Annelida

Sub filum : Invertebrata

Kelas

: Polychaeta

Ordo

: Errantia

Famili : Nereidae Genus : Nereis Spesies : Nereis sp.

Famili : Nereidae Genus : Nereis Spesies : Nereis sp. Gambar 46. Cacing Laut (Nereis sp.

Gambar 46. Cacing Laut (Nereis sp.)

Nereis virens Merupakan cacing yang hidup d laut, di dalam liang pasir dan hanya menyembulkan kepala di atas permukaan pasir atau berenang di dalam laut. Tubuhnya jelas mempunyai capuz dan alat-alat tambahan, terbagi menjadi banyak

57

segmen. Segmen pertama disebut peristonium dan pada tiap nagian lateral terdapat 2 pasang tentakel. Termasuk dalam kelas polychaeta yang berarti berambut banyak. Pada bagian anterior terdapat kepala yang dilengkapi dengan mata, tentakel serta mulut berahang. Tubuh berwarna menarik yaitu merah kecoklatan. Cacing jenis ini mempunyai lapisan otot memanjang maupun otot melingkar. Ususnya hampir lurus merentang dari depan ke belakang. Terdapat sistem pembuluh darah, di bagian anterior terdapat ganglion otak yang terletak di sebelah atas saluran pencernaan Panjang tubuh antara 5 10 cm dengan diameter 2 10 mm. Fertislisasi bersifat internal membentuk larva. Bergerak dengan menggunakan parapodia. Sudah memiliki coelom yang sebenarnya, yang sudah di batasi oleh epithelium mesodermal. Masing-masing ruas terdapat sepasang parapodia. Tubuh memiliki banyak rambut pada parapodia. Bersifat karnifora. Dapat dibedakan jantan dan betina. (Wijaya,

2007).

Menurut Rukmana (2006), klasifikasi cacing tanah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum

: Annelida

Sub filum : Invertebrata

Kelas : Clitellata

Ordo

: Haplotaxida

Famili

: Lumbricina

Genus

: Lumbricus

Spesies : Lumbricus terrestris

Genus : Lumbricus Spesies : Lumbricus terrestris Gambar 47. Cacing Tanah (Lumbricus terrestris) Cacing tanah

Gambar 47. Cacing Tanah (Lumbricus terrestris)

Cacing tanah merupakan hewan nokturnal dan fototaksis negatif. Nokturnal artinya aktivitas hidupnya lebih banyak pada malam hari sedangkan pada siang harinya istirahat. Fototaksis negatif artinya cacing tanah selalu menghindar kalau ada cahaya, bersembunyi di dalam tanah. Bernafasnya tidak dengan paru-paru tetapi dengan permukaan tubuhnya. Oleh karena itu permukaan tubuhnya selalu dijaga kelembabannya, agar pertukaran oksigen dan karbondioksida berjalan lancar. Usia cacing tanah bisa mencapai 15 tahun, namun umur produktifnya hanya sekitar 2 tahun. Cacing dewasa yang berumur 3 bulan dapat menghasilkan kokon sebanyak 3

58

kokon per minggu. Di dalam kokon terdapat telur dengan jumlah antara 2 20 butir. Telur tersebut akan menetas menjadi juvenil (bayi cacing) setelah 2 5 minggu. Rata-rata hidup cacing adalah 2 ekor perkokon. Cacing akan menjadi dewasa dan siap kawin wetelah berumur 2 3 bulan (Wijaya, 2007). Cacing tanah sebenarnya berpotensi untuk mensubstitusi bahan baku sumber protein hewani yang umum digunakan khususnya tepung ikan dan tepung daging tulang. Asalkan harga tepung cacing tanah yang dihasilkan dapat kompetitif. Strategi harga ini bisa diwujudkan jika budidaya cacung tanah dalam skala besar dan proses penepungan yang efisien. Tepung cacing tanah merupakan sumber protein asal hewani yang berkualitas tinggi dan tingkat kecernaannya sebanding dengan kualitas bungkil kedele (Kurmana, 2007). Menurut (Astuti, 2007), klasifikasi Lintah sebagai berikut:

Kingdom

: Animalia

Filum

: Annelida

Sub filum : Invertebrata Kelas : Clitellata

Ordo

: Haplotaxida

Sub Kelas

: Hirudinea

Genus

Spesies

: Hirudo : Hirudo sp.

Kelas : Hirudinea Genus Spesies : Hirudo : Hirudo sp. Gambar 48. Lintah ( Hirudo sp.

Gambar 48. Lintah (Hirudo sp.)

Lintah adalah binatang melata yang berdasarkan habitatnya hidup di air untuk menjaga kelembaban dan suhu tubuhnya. Sedangkan pacet (Haemodipsa zeylanica) adalah binatang melata yang hidup melekat pada daun-daun, batang-batang pohon, dan ada di dalam tanah yang lembab atau basah. Lintah dan pacet adalah hewan yang tergabung dalam filum Annelida subkelas Hirudinea. Terdapat jenis lintah yang dapat hidup di daratan, air tawar, dan laut. Seperti halnya kerabatnya, Oligochaeta, mereka memiliki klitelum. Seperti cacing tanah, lintah juga hermaprodit (berkelamin ganda). Lintah obat Eropa, Hirudo medicinalis, telah sejak lama dimanfaatkan untuk pengeluaran darah (plebotomi) secara medis (Wijaya, 2007).

59

2.2. Morfologi dan Anatomi

Annelida biasanya disebut cacing yang bersegmen-segmen atau beruas-ruas, tubuhnya terdiri dari sederetan segmen sama (=metameri), artinya tiap segmen tersebut mempunyai organ tubuh seperti alat reproduksi, otot, pembuluh darah, dan sebagainya yang tersendiri tetapi segmen tersebut tetap berhubungan satu sama lain dan terkoordinasi. Terdapat selom yang besar dan jelas, beberapa sistem organ seperti peredaran darah, sistem syaraf telah berkembang dengan baik (Rusyana, 2011). Annelida memiliki segmen di bagian luar dan dalam tubuhnya.Antara satu segmen dengan segmen lainya terdapat sekat yang disebut septa.Pembuluh darah, sistem ekskresi, dan sistem saraf di antara satu segmen dengan segmen lainnya saling berhubungan menembus septa. Rongga tubuh Annelida berisi cairan yang berperan dalam pergerakkan annelida dan sekaligus melibatkan kontraksi otot. Ototnya terdiri dari otot melingkar (sirkuler) dan otot memanjang atau longitudinal (Astuti, 2007).

dan otot memanjang atau longitudinal (Astuti, 2007). Gamabar 49. Struktur Anatomi Filum Annelida Golongan cacing

Gamabar 49. Struktur Anatomi Filum Annelida

Golongan cacing ini mempunyai tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Jika Anda amati, cacing tersebut sudah mempunyai rongga sejati disebut triplobastik selomata. Bentuk tubuhnya bersegmen-segmen dilapisi oleh kutikula, tersusun oleh gelang kecil yang dibatasi dengan sekat berbentuk seperti cincin atau gelang. Jika cacing ini dipotong menjadi dua bagian yang sama, maka bentuk tubuhnya simetri bilateral (Rusyana, 2011). Polychaeta memiliki sepasang struktur seperti dayung yang disebut parapodia (tunggal = parapodium) pada setiap segmen tubuhnya.Fungsi parapodia adalah sebagai alat gerak dan mengandung pembuluh darah halus sehingga dapat berfungsi juga seperti insang untuk bernapas.Setiap parapodium memiliki rambut kaku yang disebut seta yang tersusun dari kitin. Contoh Polychaeta yang sesil adalah cacing kipas (Sabellastarte indica) yang berwarna cerah. Sedangkan yang bergerak bebas adalah Nereis virens, Marphysa sanguinea, Eunice viridis(cacing palolo), dan Lysidice oele(cacing wawo) (Wijaya, 2007). Bentuk cacing Oligochaeta berkebalikan dari cacing Polychaeta, yaitu mempunyai sedikit seta/rambut, tidak mempunyai mata dan parapodia. Misalnya, cacing tanah (Pheretima sp.) berada di Asia, Lumbricus sp. Berada di Amerika.Anggota jenis cacing ini tidak mempunyai rambut, parapodia, dan seta.

60

Tempat hidup hewan ini ada yang berada di air tawar, air laut, dan di darat. Anda pasti sudah mengetahui bila lintah merupakan hewan pengisap darah, pada tubuhnya terdapat alat pengisap di kedua ujungnya yang digunakan untuk menempel pada tubuh inangnya. Pada saat mengisap, lintah ini mengeluarkan zat penghilang rasa sakit dan mengeluarkan zat antipembekuan darah sehingga darah korban tidak akan membeku. Setelah kenyang mengisap darah, lintah itu akan menjatuhkan dirinya ke dalam air (Aryulina, 2006).

2.3. Habitat dan Penyebaran

Sebagian besar annelida hidup dengan bebas dan ada sebagian yang parasit dengan menempel pada vertebrata, termasuk manusia. Habitat annelida umumnya berada di dasar laut dan perairan tawar, dan juga ada yang segaian hidup di tanah atau tempat-tempat lembap. Annelida hidup diberbagai tempat dengan membuat liang sendiri (Aryulina, 2006). Polychaeta Habitatnya di lautan, tubuhnya terdiri dari banyak rambut (poly = banyak, chaeta = rambut/bulu). Contoh cacing tersebut adalah : Nereis viren, Eunice viridis (cacing wawo) dan Lysidice oele (cacing palolo). Dua jenis terakhir sering dikonsumsi oleh orang-orang di Kepulauan maluku. Oligochaeta Habitatnya di tanah, memiliki sedikit rambut (oligo = sedikit, chaeta = rambut/bulu). Contoh cacing tersebut adalah : Lumbricus terestris dan Pheretima sp. (keduanya disebut cacing tanah). Mempunyai organ KIitellum yang berisi semua kelenjar, termasuk kelenjar kelamin. Pernafasan dilakukan oleh pemukaan tubuhnya. Makanan diedarkan ke seluruh tubuh dengan sistem peredaran darah. Contoh lain Moniligaster houtenii (endemik di Sumatera). Hirudinae Tidak memiliki rambut (chaeta) tetapi menghasilkan zat antikoagulasi (anti pembekuan darah) yang dinarnakan Hirudin (Ferdinand, 2008).

2.4. Reproduksi dan Daur Hidup

Annelida umumnya bereproduksi secara seksual dengan pembantukan gamet.Namun ada juga yang bereproduksi secara fregmentasi, yang kemudian beregenerasi.Organ seksual annelida ada yang menjadi satu dengan individu (hermafrodit) dan ada yang terpisah pada individu lain (gonokoris) (Aryulina, 2006). Pada cacing yang sudah dewasa akan terjadi penebalan epidermis yang disebut klitelum. Alat ini dapat digunakan untuk kopulasi dan akan menghasilkan kelenjar-kelenjar yang membentuk lapisan lendir sangat kuat untuk membentuk kokon, yaitu tempat/wadah telur yang telah dibuahi. Meskipun Annelida ini bersifat hemaprodit, tetapi pada saat terjadinya pembuahan harus dilakukan pada dua individu dengan saling memberikan sperma yang disimpan dalam reseptakulum seminis. Setelah selesai terjadinya perkawinan, maka kokon akan lepas dan berisi butir-butir telur yang telah dibuahi (Kurmana, 2007). Reproduksi aseksual belum diketahui. Hermafrodit. Testis tersusun berpasangan antara 5 10 mulai ruas XI atau XII. Pada Arhynchobdeliida terdapat penis, absen pada rhynchobdeliida. Ovary hanya satu pasang yang memanjang pada

61

beberapa ruas. Oviduct memanjang ke anterior dan menyatu membentuk vagina dan gonopore pada pertengahan ruas XI di belakang spermatopore. Pada beberapa linta terdapat kelenjar di sekitar bagian oviduct dan vagina yang berperan dalam pelekatan telur (Mikrajuddin, 2007).

2.5. Makanan dan Kebiasaan Makan

Sistem pencernaan annelida sudah lengkap, terdiri dari mulut, faring, esofagus (kerongkongan), usus, dan anus. Cacing ini sudah memiliki pembuluh darah sehingga memiliki sistem peredaran darah tertutup. Darahnya mengandung hemoglobin, sehingga berwarna merah. Pembuluh darah yang melingkari esofagus berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh Cacing ini memakan oarganisme hidup yang ada di dalam tanah dengan cara menggali tanah. Kemampuannya yang dapat menggali bermanfaat dalam menggemburkan tanah. Manfaat lain dari cacing ini adalah digunakan untuk bahan kosmetik, obat, dan campuran makan berprotein tinggi bagi hewan. (Aryulina, 2006). Cara makan sesuai dengan kebiasaan hidup Raptorial feeder: avertebrata kecil ditangkap dengan pharink/probosis yang dijulurkan, terdapat rahang kitin Deposit feeder: menelan pasir & lumpur dalam lorong; bahan organik dicerna & partikel mineral dikeluarkan via anus, atau melalui tentakel cilia yang berlendir Filter feeder:

tidak punya probosis tutup kepala dilengkapi radiola untuk menyaring detritus & plankton (Wijaya, 2007)

2.6. Nilai Ekonomis

Cacing Polychaeta merupakan makanan alami yang baik bagi udang windu (Panaeus monodon) di tambak, menjadikan warna udang lebih cemerlang sehingga meningkatkan mutu dan nilai jual dari udang tersebut. Menurut penelitian yang pernah dilakukan bahwa cacing adalah sumber protein yang cukup tinggi. Cacing tanah juga mengandung banyak asam amino dengan kadar yang tinggi sekitar 76% atau 50% (Aslan, dkk, 2006).

62

III. METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 25 November 2011, pukul 13.00 15.00 WITA dan bertempat di Laboratorium C Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo Kendari.

3.2. Alat dan Bahan

Alat dan bahan beserta kegunaannya yang digunakan pada praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Alat dan bahan beserta kegunaanya

No

Nama Alat

Kegunaan

A.

Alat

2.

Baki

Untuk meletakkan organism yang akan diamati

3.

Pisau Bedah

Untuk membedah organism yang diamati

4.

Alat tulis

Untuk mencatat dan menggambar hasil pengamatan

5.

Toples

Untuk menyimpan bahan pengamatan yang diambil dari laut

6.

Pinset

Untuk mengambil bahan dari toples

7.

Buku

Untuk Mengidentifikasi Struktur Tubuh obyek yang diamati

 

Identifikasi

B

Bahan

 

1. Cacing Laut

Sebagai obyek yang diamati

 

(Nereis sp.)

 

2. Cacing

Sebagai obyek yang diamati

 

Tanah

(Lumbricus

Sebagai obyek yang diamati

terrestris)

 

3. Lintah

Sebagai obyek yang diamati

 

(Hirudo sp.)

 

4. Alkohol

Untuk mengawetkan bahan pengamatan

 

70%

3.3.

Prosedur Kerja

 

Langkah-langkah kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Melakukan pengamatan pada organisme yang telah diambil dari perairan

2. Meletakkan orgaisme pada baki kemudian mengidentifikasi bagian-bagian organism tersebut.

63

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini sebagai berikut:

A. Struktur Morfologi Cacing Laut (Nereis sp.)

Keterangan:

1. Antena

2. Mulut

3. Segmen Tubuh

4. Anus

Gambar 50. Morfologi Cacing Laut (Nereis sp.)

B. Struktur Morfologi Cacing Tanah (Lumbricus terrestris)

Keterangan:

1. Mulut

2. Clitelum

3. Segmen tubuh

4. Anus

Gambar 51. Morfologi Cacing Laut (Nereis sp.)

C. Struktur Morfologi Lintah (Hirudo sp.)

Keterangan:

1. Mulut

2. Anus

3. Antena

4. Bintik tubuh

5. Kaki Jalan

Gambar 52. Morfologi Lintah (Hirudo sp.)

64

4.2. Pembahasan

Annelida berasal dari kata annulus yang berarti cincin dan oidos yang berarti bentuk. Dari namanya, Annelida dapat disebut sebagai cacing yang bentuk tubuhnya bergelang-gelang atau disebut juga cacing gelang. Annelida dapat hidup di berbagai tempat, baik di air tawar, air laut, atau daratan. Umumnya hidup bebas, meskipun ada juga yang bersifat parasit. Cacing ini Filum Annelida terdiri dari cacing berbuku- buku seperti cacing tanah. Perkembangan buku-buku badan ini memungkinkan adanya pembentukan fungsi yang berbeda dalam ruas badan (segmentasi) yang berbeda. Annelida memiliki coelom yang besar untuk mengakomodasi organ dalam yang lebih kompleks. Terdapat sekitar 12,000 jenis di laut, air tawar dan daratan, terbagi menjadi tiga kelas. Annelida adalah hewan triploblastik yang sudah mempunyai rongga sejati sehingga disebut triploblastik selomata. Annelida memiliki sistem peredaran darah tertutup, dengan pembuluh darah memanjang sepanjang tubuhnya serta bercabang- cabang di setiap segmen. Annelida mempunyai bentuk tubuh simetri bilateral, dengan tubuh beruas-ruas dan dilapisi lapisan kutikula. Cacing ini terbagi sesuai dengan ruas- ruas tubuhnya dan satu sama lain dibatasi dengan sekat (septum). Meskipun demikian, antara ruas satu dan lainnya tetap berhubungan sehingga terlihat bentuk seperti cincin yang terkoordinasi. Sistem saraf annelid terdiri dari sebuah otak yang terhubunga dengan serabut saraf ventral, dengan sebuah ganglion di setiap segmen. Annelida memiliki sistem pencernaan yang lengkap termasuk faring, lambung, usus, dan kelenjar pencernaan. Pengeluaran dengan nefridia di setiap segmen mengumpulkan zat sampah dari coelom dan mengekskresikannya keluar tubuh. Untuk Pengamatan Cacing Laut (Nereis sp.), hewan ini termasuk dalam kelas Polychaeta hidup di laut serta memiliki parapodia dan setae. Struktur morfologi pada Cacing Laut terdiri dari Mulut, antenna dan segmen tubuh serta anus. Mulut berfungsi sebagai organ pencernaan yang pertama kali digunakan. Dimana saat makanan dimasukkan kedalam mulut terjadi proses pencernaan mekanik. Sedangkan antenna berfungsi sebagai alat indra untuk mendeteksi mangsa dan merasakan kehadiran predator. Begitupula untuk segmen tubuh yang merupakan cirri khas filum annelid, dimana berfungsi sebagai pembentuk struktur tubuh. Menurut Aryulina (2006) bahwa Cacing laut memiliki Parapodia adalah kaki seperti dayung (sirip) digunakan untuk berenang sekaligus bertindak sebagai alat pernafasan. Setae adalah bulu-bulu yang melekat pada parapodia, yang membantu polychaeta melekat pada substrat dan juga membantu mereka bergerak. Cacing kerang, seperti Nereis adalah pemangsa yang aktif. Banyak yang memiliki kepala yang berkembang baik, dengan rahang bagus, mata dan organ peraba lainnya. Untuk Pengamatan Cacing Tanah (Lumbricus terrestris), merupakan hewan yang masuk dalam kelas Oligochaeta contohnya adalah cacing tanah, yang cenderung memiliki sedikit setae yang bergerombol secara langsung dari tubuhnya. Dalam pengamatan cacing tanah memiliki mulut, segmen tubuh dan anus. Menurut Wijaya (2007) Cacing tanah memiliki kepala atau parapodia yang kurang berkembang. Pergerakannya dengan gerak terkoordinasi dari otot-otot tubuh dibantu dengan setae. Cacing tanah tinggal dalam tanah lembab, karena badan yang lemnan digunakan

65

untuk pertukaran udara. Cacing tanah adalah pemakan sampah yang mengekstraks sisa-sisa bahan organic dari tanaha yang dimakan. Faring berotot menarik makanan ke mulut, makanan yang sudah dicerna disimpan di tembolok lalu ke rempela. Sistem pembuangan (ekskresi) berupa tabung nephridia bergelung di setiap segmen dengan dua lubang; satu corong bersilia yang mengumpulkan cairan coelom, dan satu lainnya adalah lubang keluar tubuh. Antar dua lubang itu, tabung nephridia membuang zat sampah dari saluran peredaran darah. Darah merah bergerak ke arah dengan sebuah pembuluh darah dorsal dan dipompa oleh lima pasang jantung (lengkung aorta) menuju pembuluh ventral. Cacing tanah bersifat hermaphrodit, memilliki testis dengan saluran semen, dan ovarium dengan penerima semen. Perkawinan dilakukan dengan melibatkan dua cacing yang saling parallel dalam posisi berlawanan dan saling bertukar sperma. Setiap cacing memiliki klitellum yang mengeluarkan lendir, untuk melindungi sperma dan telur dari kekeringan. Pengamatan Lintah (Hurrudo sp.) masuk dalam Kelas Hirudinea. Kebanyakan tinggal di air tawar, tetapai ada yang di laut atau daratan. Dari pengamatan terlihat Lintah memiliki mulut, anus, antenna dan kaki jalan. Seluruhnya memiliki fungsi yang sama pada Cacing Laut. Menurut Aryulina (2006) bahwa Setiap gelang tubuh memiliki beberapa alur mendatar. Lintah memunculkan pengisap anterior kecil sekitar mulutnya dan pengisap posterior yang besar. Meskipun beberapa diantaranya adalah predator yang hidup bebas, kebanyakan adalah pemakan cairan. Pengisap darah dapat mencegah penggumpalan darah dengan zat hirudin yang dikeluarkan dari ludah.

66

5.1. Kesimpulan

V. PENUTUP

Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pengamatan yang dilakukan dan pembahasan di atas adalah sebagai berikut :

1. Annelida berasal dari kata annulus yang berarti cincin dan oidos yang berarti bentuk. Dari namanya, Annelida dapat disebut sebagai cacing yang bentuk tubuhnya bergelang-gelang atau disebut juga cacing gelang. Annelida dapat hidup di berbagai tempat, baik di air tawar, air laut, atau daratan.

2. Morfologi cacing laut (Nereis sp.) terdiri atas mulut, segmen tubuh seperti cincin yang terdapat dari anterior hingga posterior serta anus.

3. Morfologi cacing tanah (Lumbricus terrestris) terdiri atas clitellum, mulut, segmen tubuh dan anus pada bagian posterior.

4. Morfologi Lintah (Hirudo sp.) terdiri atas antenna, bintik tubuh, mata, anus dan adanya pelekat yang terletak dibawah tubuhnya.

.

5.2. Saran

Saran yang dapat saya ajukan pada praktikum kali ini adalah sebaiknya alat praktikan dilengkapi dengan lup ataupun mikroskop, agar nantinya praktikan dapat mengamati struktur anatomi dari semua organisme yang diamati.

67

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Crustacea adalah suatu kelompok besar dari arthropoda, terdiri dari kurang lebih 52.000 spesies yang terdeskripsikan, dan biasanya dianggap sebagai suatu subfilum. Kelompok ini mencakup hewan-hewan yang cukup dikenal seperti lobster, kepiting, udang, udang karang, serta teritip.Mayoritas merupakan hewan akuatik, hidup di air tawar atau laut, walaupun beberapa kelompok telah beradaptasi dengan kehidupan darat, seperti kepiting darat.Mayoritas dapat bebas bergerak, walaupun beberapa takson bersifat parasit dan hidup dengan menumpang pada inangnya. Tubuh Crustacea bersegmen (beruas) dan terdiri atas sefalotoraks (kepala dan dada menjadi satu) serta abdomen (perut). Bagian anterior (ujung depan) tubuh besar dan lebih lebar, sedangkan posterior (ujung belakang)nya sempit. Tubuh Crustacea terdiri atas dua bagian, yaitu kepala dada yang menyatu (sefalotoraks) dan perut atau badan belakang (abdomen). Bagian sefalotoraks dilindungi oleh kulit keras yang disebut karapas dan 5 pasang kaki yang terdiri dari 1 pasang kaki capit (keliped) dan 4 pasang kaki jalan. Selain itu, di sefalotoraks juga terdapat sepasang antena, rahang atas, dan rahang bawah. Sementara pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan di bagian ujungnya terdapat ekor. Pada udang betina, kaki di bagian abdomen juga berfungsi untuk menyimpan telurnya. Sistem pencernaan Crustacea dimulai dari mulut, kerongkong, lambung, usus, dan anus. Sisa metabolisme akan diekskresikan melalui sel api. Sistem saraf Crustacea disebut sebagai sistem saraf tangga tali, dimana ganglion kepala (otak) terhubung dengan antena (indra peraba), mata (indra penglihatan), dan statosista (indra keseimbangan). Hewan-hewan Crustacea bernapas dengan insang yang melekat pada anggota tubuhnya dan sistem peredaran darah yang dimilikinya adalah sistem peredaran darah terbuka. O2 masuk dari air ke pembuluh insang, sedangkan CO 2 berdifusi dengan arah berlawanan. O 2 ini akan diedarkan ke seluruh tumbuh tanpa melalui pembuluh darah. Golongan hewan ini bersifat diesis (ada jantan dan betina) dan pembuahan berlangsung di dalam tubuh betina (fertilisasi internal). Untuk dapat menjadi dewasa, larva hewan akan mengalami pergantian kulit (ekdisis) berkali-kali. Crustacea dibagi menjadi 2 sub-kelas, yaitu Entomostraca (udang-udangan rendah) dan Malacostrata (udang-udangan besar). Entomostraca umumnya berukuran kecil dan merupakan zooplankton yang banyak ditemukan di perairan laut atau air tawar. Golongan hewan ini biasanya digunakan sebagai makanan ikan, contohnya adalah ordo Copepoda, Cladocera, Ostracoda, dan Amphipoda. Sedangkan, Malacostrata umumnya hidup di laut dan pantai. Yang termasuk ke dalam Malacostrata adalah ordo Decapoda dan Isopoda. Contoh dari spesiesnya adalah udang windu (Panaeus), udang galah (Macrobanchium rosenbergi), rajungan (Neptunus pelagicus), dan kepiting (Portunus sexdentalus). Struktur tubuh crustacea secara philogeny lebih maju dibandingkan dengan filum annelid. Dimana dalam sistem anatomi telah dilengkapi dengan organ-organ

68

yang memiliki fungsi berbeda. Kompleksnya struktur tubuh crustacean, menjadi landasan dilaksanakannya praktikum pengamatan pada filum crustacean itu sendiri. Agar nantinya struktur morfologi dan anatomi dapat diketahui secara keseluruhan serta perbedaan jantan dan betinanya dapat diketahui.

1.2. Tujuan dan Manfaat

Tujuan praktikum untuk mengetahui filum Crustacea secara morfologi dan anatomi serta dapat mengamati dan mengklasifikasi filum Crustacea serta membedakan jantan dan betina. Manfaat praktikum sebagai bahan masukan untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan serta jenis-jenis mengenai filum Crustacea.

69

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi

Berdasarkan ukuran tubuhnya Crustacea dikelompokkan sebagai berikut Entomostraca (udang tingkat rendah). Hewan ini dikelompokkan menjadi empat ordo, yaitu, Branchiopoda, Ostracoda, Copecoda, Cirripedia. dan kelompok Malakostraca (udang tingkat tinggi). Hewan ini dikelompokkan dalam tiga ordo, yaitu: Isopoda, Stomatopoda, Decapoda. Entomostraca (udang tingkat rendah) Kelompok Entomostraca umumnya merupakan penyusun zooplankton, adalah melayang-layang di dalam air dan merupakan makanan ikan. Adapun pembagian Entromostaca antara lain Branchiopoda Contoh: Daphnia pulex dan Asellus aquaticus. Hewan ini sering disebut kutu air dan merupakan salah satu penyusun zooplankton (Isharwanto, 2010). Klasifikasi Kepiting Rajungan (Portunus pelagicus) menurut Suwignyo (2005) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia filum : Crustacea Kelas : Cirripedia Ordo : Rhizochepala Famili : Portunidae Genus : Portunus Spesies : Portunus pelagicus

Portunidae Genus : Portunus Spesies : Portunus pelagicus Gambar 53. Kepiting Rajungan (Portunus pelagicus) Pada

Gambar 53. Kepiting Rajungan (Portunus pelagicus)

Pada Kepiting Rajungan (Portunus Pelagicus) terlihat menyolok perbedaan antara jantan dan betina. Ukuran rajungan antara yang jantan dan betina berbeda pada umur yang sama. Yang jantan lebih besar dan berwarna lebih cerah serta berpigmen biru terang. Sedang yang betina berwarna sedikit lebih coklat. Rajungan jantan mempunyai ukuran tubuh lebih besar dan capitnya lebih panjang daripada betina. Perbedaan lainnya adalah warna dasar, rajungan jantan berwarna kebiru-biruan

70

dengan bercak-bercak putih terang, sedangkan betina berwarna dasar kehijau-hijauan dengan bercak-bercak putih agak suram. Perbedaan warna ini jelas pada individu yang agak besar walaupun belum dewasa (Ferdinand, 2008). Klasifikasi Kepiting Bakau (Scylla serrata), menurut Suprapto (2000), adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Filum : Crustacea Kelas : Malacostraca Ordo : Decapoda Famili : Portunidae Genus : Scylla Spesies : Scylla serrata

: Portunidae Genus : Scylla Spesies : Scylla serrata Gambar 54. Kepiting Bakau (Scylla serrata) Untuk

Gambar 54. Kepiting Bakau (Scylla serrata)

Untuk membedakan kepiting jantan dan betina dapat dilakukan secara eksternal. Pada kepiting bakau jantan tempat, tempat di mana organ kelamin menempel pada bagian perutnya, berbentuk segitiga dan agak meruncing. Sedangkan pada kepiting betina bentuknya cenderung membulat. Membedakan jenis kelamin juga dapat dilakukan dengaan membandingkan pertumbuhan berat capit terhadap berat tubuh. Kepiting jantan dan betina yang lebar karapasnya 3 cm 10 cm berat capitnya sekitar 22 % dari berat tubuh. Setelah ukuran karapasnya mencapai 10 cm - 15 cm, capit kepiting jantan menjadi lebih berat yakni 30% - 35 % dari berat tubuh, sementara capit betina tetap sama 22 %. Membedakan jantan dan betina kepiting dapat dilakukan dengan melihat ruas ruas abdomennya. Pada kepiting jantan, ruas ruas abdomennya sempit, sedangkan pada kepiting betina lebih lebar (Suprapto,

2000).

71

Klasifikasi Udang Putih (Penaeaus marguensis) menurut (Brotowidjoyo, 2004) adalah sebagi berikut:

Kingdom : Animalia Filum : Crustacea Kelas : Malacostraca Ordo : Decapoda Famili : Peneidae Genus : Peneaus Spesies : Penaeus marguensis

: Peneidae Genus : Peneaus Spesies : Penaeus marguensis Gambar 55. Udang Putih ( Penaeus marguensis)

Gambar 55. Udang Putih (Penaeus marguensis)

Bagian kepala Udang Putih menyatu dengan bagian dada disebut cephalothorax yang terdiri dari 13 ruas, yaitu 5 ruas di bagian kepala dan 8 ruas di bagian dada. Bagian badan dan abdomen terdiri dari 6 ruas, tiap-tiap ruas (segmen) mempunyai sepasang anggota badan (kaki renang) yang beruas-ruas pula. Pada ujung ruas keenam terdapat ekor kipas 4 lembar dan satu telson yang berbentuk runcing (Brotowidjoyo, 2004). Klasifikasi Udang Windu (Penaeaus monodon), menurut Amri (2004) adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Filum : Crustacea Kelas : Malacoctraca Ordo : Calanoida Famili : Peneidae Genus : Penaeus Spesies : Penaeus monodon

72

72 Gambar 56. Udang Windu ( Penaeus monodon) Bagian badan tertutup oleh 6 ruas, yang satu

Gambar 56. Udang Windu (Penaeus monodon)

Bagian badan tertutup oleh 6 ruas, yang satu sama lainnya dihubungkan oleh selaput tipis. Ada lima pasang kaki renang (pleopoda) yang melekat pada ruas pertama sampai dengan ruas kelima, sedangkan pada ruas keenam, kaki renang mengalami perubahan bentuk menjadi ekor kipas (uropoda). Di antara ekor kipas terdapat ekor yang meruncing pada bagian ujungnya yang disebut telson (Nurtidjo,

2003).

Menurut Brotowijoyo (2004), klasifikasi dari udang putih (Panulirus sp.) adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Filum: Crustacea Kelas: Malacostraca Ordo: Decapoda Famili: Parasticidae Genus : Panulirus Spesies: Panulirus sp.

Ordo: Decapoda Famili: Parasticidae Genus : Panulirus Spesies: Panulirus sp. Gambar 57. Lobster ( Panulirus Spp.)

Gambar 57.

Lobster (Panulirus Spp.)

73

2.2. Morfologi dan Anatomi

Tubuh Crustacea terdiri atas dua bagian, yaitu kepala dada yang menyatu (sefalotoraks) dan perut atau badan belakang (abdomen). Bagian sefalotoraks dilindungi oleh kulit keras yang disebut karapas dan 5 pasang kaki yang terdiri dari 1 pasang kaki capit (keliped) dan 4 pasang kaki jalan. Selain itu, di sefalotoraks juga terdapat sepasang antena, rahang atas, dan rahang bawah. Sementara pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan di bagian ujungnya terdapat ekor. Pada udang betina, kaki di bagian abdomen juga berfungsi untuk menyimpan telurnya. Sistem pencernaan Crustacea dimulai dari mulut, kerongkong, lambung, usus, dan anus. Sisa metabolisme akan diekskresikan melalui sel api. Sistem saraf Crustacea disebut sebagai sistem saraf tangga tali, dimana ganglion kepala (otak) terhubung dengan antena (indra peraba), mata (indra penglihatan), dan statosista (indra keseimbangan). Hewan-hewan Crustacea bernapas dengan insang yang melekat pada anggota tubuhnya dan sistem peredaran darah yang dimilikinya adalah sistem peredaran darah terbuka. O2 masuk dari air ke pembuluh insang, sedangkan CO2 berdifusi dengan arah berlawanan. O2 ini akan diedarkan ke seluruh tumbuh tanpa melalui pembuluh darah. Golongan hewan ini bersifat diesis (ada jantan dan betina) dan pembuhan berlangsung di dalam tubuh betina (fertilisasi internal). Untuk dapat menjadi dewasa, larva hewan akan mengalami pergantian kulit (ekdisis) berkali-kali (Galih, 2008).

pergantian kulit (ekdisis) berkali-kali (Galih, 2008). Gambar 58. Struktur Morfologi Crustacea Tubuh Crustacea

Gambar 58. Struktur Morfologi Crustacea

Tubuh Crustacea bersegmen (beruas) dan terdiri atas sefalotoraks (kepala dan dada menjadi satu) serta abdomen (perut). Bagian anterior (ujung depan) tubuh besar dan lebih lebar, sedangkan posterior (ujung belakang)nya sempit. Pada bagian kepala terdapat beberapa alat mulut, yaitu, 2 pasang antenna, 1 pasang mandibula, untuk menggigit mangsanya, 1 pasang maksilla, 1 pasang maksilliped. Maksilla dan maksiliped berfungsi untuk menyaring makanan dan menghantarkan makanan ke mulut. Alat gerak berupa kaki (satu pasang setiap ruas pada abdomen) dan berfungsi untuk berenang, merangkak atau menempel di dasar perairan (Ferdinand, 2008).

74

2.3. Habitat dan Penyebaran

Kepiting bakau dalam menjalani kehidupanya beruaya dari perairan pantai ke laut,kemudian induk berusaha kembali ke perairan pantai, muara sungai,atau parairan yang berhutan bakau untuk baerlindung,maecari makanan,dan membesarkan diri.kepiting betina yang telah malakukan perkawinan secara berlahan dan pelan- pelan akan beruaya ke perairan bakau,dan kembalih ke laut untuk melakukan pemijahan,kepiting yang telah kembali kelaut akan mencari perairan yang kondisinya cocok untuk melakukan pemijahan khususnya terhadap suhu dan saliniyas air laut. Peristiwa pemijahan terjadi pada periode bulan-bulan tertentu, terutama awal tahun. Jarak yang ditempuh dalam beruaya untuk memijah biasanya tidak lebih dari satu kilometer kearah laut menjauhi pantai menuju tempat.Pada kondisi lingkungan yang memungkinkan, kepiting dapat bertahan hidup hingga mencapai umur 3-4 tahun. Sementara itu, pada umur 12-14 bulan kepiting sudah dianggap dewasa dan dapat dipijahkan. Sekali memijah, kepiting mampu menghasilkan jutaan telur 2.000.000 - 8.000.000 telur tergantung dari ukuran dan umur kepiting betina yang memijah (Suprapto, 2000). Habitat rajungan adalah pada pantai bersubstrat pasir, pasir berlumpur dan di pulau berkarang, juga berenang dari dekat permukaan laut (sekitar 1 m) sampai kedalaman 65 meter. Rajungan hidup di daerah estuaria kemudian bermigrasi ke perairan yang bersalinitas lebih tinggi untuk menetaskan telurnya, dan setelah mencapai rajungan muda akan kembali ke estuaria. Rajungan banyak menghabiskan hidupnya dengan membenamkan tubuhnya di permukaan pasir dan hanya menonjolkan matanya untuk menunggu ikan dan jenis invertebrata lainnya yang mencoba mendekati untuk diserang atau dimangsa. Perkawinan rajungan terjadi pada musim panas, dan terlihat yang jantan melekatkan diri pada betina kemudian menghabiskan beberapa waktu perkawinan dengan berenang (Zaldi, 2010).

2.4. Reproduksi dan Daur Hidup

Sistem reproduksinya bersifat diesis (berkelamin satu). Pembuahan terjadi secara eksternal. Telur menetas menjadi larva yang sangat kecil, berkaki tiga pasang dan bersilia. Reproduksi aseksual tidak ada. Cladocera dioecious, dalam lingkungan yang baik sepanjang tahun berkembang biak secara partenogenesis, telur dierami dalam kantung pengeraman, anak yang dihasilkan selalu betina. Tidak ada stadia larva. Sekali bertelur antara 2 sampai 40 butir, tetapi umumnya antara 10 sampai 20 butir. Biasanya sekelompok telur masuk ke kantung pengeraman terjadi setiap usai pergantian kulit. Telur dierami sekitar 2 hari. Dengan mengerak-gerakkan post- abdomen ke belakang, induk betina melepaskan anak-anaknya keluar sudah dalam stadia juvenil pertama. Pertumbuhan paling cepat terjadi pada stadium juvernil ini, dimana setiap kali setelah molting, ukuran tubuh menjadi hampir 2 kali lipat. Selama juvernil terdapat sekitar 2 sampai 5 instar, dan dewas 10 sampai 25 instar tergantung jenisnya (Zaldi, 2009). Kepiting bakau jantan dan betina dapat dibedakan dengan mengamati alat kelamin yang terdapat dibagian perut. Pada bagian perut jantan umumnya terdapat

75

organ kelamin berbentuk segi tiga yang sempit dan dapat meruncing di bagian depan. Organ kelamin betina berbentuk segitiga yang relatif lebar dan di bagian depan agak tumpul. Kepiting jantan dan betina dibedakan oleh ruas abdomennya. Ruas abdomen kepiting jantan berbentuk segitiga, sedangkan pada kepiting betina berbentuk agak membulat dan lebih lebar. Dan perkawinan terjadi di saat suhu air mulai naik,biasanya betina akan mengeluarkan cairan kimiawi perangsang,yaitu pheromone kedalam air untuk menarik perhatian kepiting jantan,setela jantan berhasil terpikat maka kepiting jantan akan naik ke atas karapas kepiting betina untuk berganti kulit (molting),selama kepiting betina molting maka kepiting jantan akan melindungi kepiting betina selama 2-4 hari sampai cangkang terlepas,kepiting jantan akan membalikkan tubuh kepiting betina untuk melakukan kopulasi/perkawinan. biasanya,kopulasi berlangsung 7-12 jam dan hanya akan terjadi jika karapas kepiting betina dalam ke adan lunak. spermatofor kepiting jantan akan di simpan di dalam supermateka kepiting betina sampai telur siap di buahi.telur di dalam tubuh kepiting betina yang suda matang akan turun ke oviduk dan akan di buahi oleh sperma (Ferdinand, 2008).

2.5. Makanan dan Kebiasaan Makan

Pencernaan adalah proses penyederhanaan makanan melaului cara fisik dan kimia, sehingga menjadi sari-sari makanan yang mudah diserap di dalam usus, kemudian diedarkan ke seluruh organ tubuh melalui sistem peredaran darah Jenis pakan yang di konsumsi kepiting bakau dapat berupah artemia,ikan rucah,daging kerang-kerangan,hancuran daging siput,dan lumut.pemberian pakan tergantung pada ukuran kepiting bakau,bila masih larva biasanya Brachionus plicatilis,Tetracelmis chuii dan naupli artemia.kepiting bakau juga bersifat kanibalisme biasanya dia akan menyarang kepiting lain yang sedang dalam kondisih lemah atau ganti kulit (molting). Alat pencernaan terbagi menjadi tiga,tembolok,lambung otot,lambung kelenjar.didalam perut kepiting terdapat gigi kalsium yang teratur berderet secara longitudinal,selain gigi kalsium juga terdapat gastrolik yang berfungsi mengeraskan rangka luar (eksoskeleton) setelah terjadi eksdisis (penegelupasan kulit). Urutan pencernaan makanannya dimulai dari mulut,

kerongkongan (esofagus), lambung (ventrikulus), usus dan anus. Hati (hepar) terletak

di dekat lambung. Sisa-sisa metabolisme tubuh diekskresikan lewat kelenjar hijau

(Ferdinand, 2008). Di dalam perut Crustacea terdapat gigi-gigi kalsium yang teratur berderet

secara longitudinal. Selain gigi kalsium ini terdapat pula batu-batu kalsium gastrolik yang berfungsi mengeraskan eksoskeleton (rangka luar) setelah terjadi eksdisis (penegelupasan kulit). Urutan pencernaan makanannya dimulai dari mulut, kerongkongan (esofagus), lambung (ventrikulus), usus dan anus. Hati (hepar) terletak

di dekat lambung. Sisa-sisa metabolisme tubuh diekskresikan lewat kelenjar hijau

(Zaldi, 2009).

76

2.6. Nilai Ekonomis

Jenis Crustacea yang menguntungkan manusia dalam beberapa hal, antara lain Sebagai bahan makanan yang berprotein tinggi, misal udang, lobster dan kepiting Dalam bidang ekologi, hewan yang tergolong zooplankton menjadi sumber makanan ikan, misal anggota Branchiopoda, Ostracoda dan Copepoda (Galih, 2008).

Branchiopoda, Ostracoda dan Copepoda (Galih, 2008). ` Gambar 59. Olahan makanan dari crustacea Sebagian besar

`

Gambar 59. Olahan makanan dari crustacea

Sebagian besar Malacostrata dimanfaatkan manusia sebagai makanan yang kaya protein hewani, contohnya adalah udang, kepiting, dan rajungan. [5] Namun, beberapa jenis Crustacea juga dapat merugikan manusia, contohnya yuyu yang dapat merusak tanaman padi di sawah dan ketam kenari perusak tanaman kelapa di Maluku. [6] Sub-kelas Entomostraca juga dimanfaatkan manusia sebagai pakan ikan untuk industri perikanan (Zaldi, 2009).

77

III. METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 25 November 2011, pukul 13.00 15.00 WITA dan bertempat di Laboratorium C Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo Kendari.

3.2. Alat dan Bahan

Alat dan bahan beserta kegunaannya yang digunakan pada praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Alat dan bahan beserta kegunaanya

No

Nama Alat

Kegunaan

A.

Alat

1. Baki

Untuk meletakkan organism yang akan diamati

2. Pisau Bedah

Untuk membedah organism yang diamati

3. Alat tulis

Untuk mencatat dan menggambar hasil pengamatan

4. Toples

Untuk menyimpan bahan pengamatan yang diambil dari laut

5. Pinset

Untuk mengambil bahan dari toples

6. Buku Identifikasi

Untuk Mengidentifikasi Struktur Tubuh obyek yang diamati

B

Bahan

1. Kepiting Rajungan

(Portunus pelagicus)

2. Kepiting Bakau (Scylla serrata)

3. Udang Putih (Penaeus merguensis)

4. Udang Windu (Penaeus monodon)

5. Lobster Air Laut (Penularis spp.)

6. Alkohol 70%

Sebagai obyek yang diamati

Sebagai obyek yang diamati

Sebagai obyek yang diamati

Sebagai obyek yang diamati

Sebagai obyek yang diamati

Untuk mengawetkan bahan pengamatan

78

3.3. Prosedur Kerja

Langkah-langkah kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Melakukan pengamatan pada organisme yang telah diambil dari perairan

2. Meletakkan orgaisme pada baki kemudian mengidentifikasi bagian-bagian organism tersebut.

3. Menggambar bentuk secara morfologi dan anatomi pada bagian-bagian organisme yang telah diidentifikasi dan diberi keterangan pada buku gambar.

79

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini sebagai berikut:

A. Struktur Morfologi Kepiting Rajungan (Purtunus pelagicus)

Keterangan:

1. Mata

1. Karapaks

2. Kaki jalan 1

3. Kaki Jalan 2

4. Kaki Jalan 3

5. Kaki Renang

Gambar 60. Kepiting Rajungan (Portunus pelagicus)

B. Struktur Morfologi Kepiting Bakau (Scylla serrata)

Keterangan:

1. Mata

2. Karapaks

3. Kaki Jalan 1

4. Kaki jalan 2

5. Kaki Jalan 3

6. Propondus

7. Carpus

8. Merus

9. Kaki Renang

Gambar 61. Kepiting Bakau (Scylla serrata)

80

C. Struktur Morfologi Udang Putih (Panaeus merguensis)

Keterangan:

1. Antena

2. Antenula

3. Kaki Jalan

4. Perut

5. Telson

6. Karapaks

Gambar 62. Udang Putih (Panaeus merguensis)

D. Struktur Morfologi Udang Windu (Panaeus monodon)

Keterangan:

1. Antena

2. Antenula

3. Kaki Jalan

4. Perut

5. Telson

6. Karapaks

Gambar 63. Udang Windu (Panaeus monodon)

E. Struktur Morfologi Lobster Bambo (Penularis spp.)

Keterangan:

1. Antena

2. Karapaks

3. Badan

4. Ekor

5. Kaki Jalan

6. Mata

7. Ruas-Ruas Tubuh

Gambar 64. Lobster Bambo (Penularis spp.)

81

4.2. Pembahasan

Filum Crustacea terdapat sekitar 40.000 spesies, mencakup jenis-jenis copepoda, udang dan kepiting. Berukuran kurang dari 0,1 mm sampai 60 cm, dengan berbagai-bagai bentuk tubuh dari panjang sampai bulat. Sebagian besar hidup di laut, 13% di air tawar dan 3% di darat. Kebanyakan jenis Crustacea mendominasi plankton laut maupun air tawar; beberapa jenis merupakan benthos yang penting, baik sebagai spesies interstisial mahupun makroskopis dan tidak sedikit yang hidup sebagai parasit. Copepoda, krill dan rebon sebagai zooplankton laut mempunyai kedudukan sangat penting dalam rantai makanan di laut sebagai penghubung antara fitoplankton dengan predator. Keberhasilan Crustacea hidup di perairan antara lain disebabkan oleh anggota badannya yang bersendi-sendi ( Bahasa Yunani, anthros berarti sambungan atau sendi), sehingga mudah berjalan atau berenang dengan cepat. Di samping itu adanya kulit yang keras ( Bahasa Romawi, crusta berarti kulit keras atau kerak ), ada kalanya berduri dan tebal tidak disukai predator. Perbedaan antara jantan dan betina pada kepiting ini ditandai dengan bentuk abdomen dibagian ventralnya. Dimana pada jantan bentuknya segitiga runcing dan pada bagian abdomen betina terlihat bulat dan besar seperti pada gambar berikut.

betina terlihat bulat dan besar seperti pada gambar berikut. Gambar 65. Perbedaan Kepiting Jantan dan Kepiting
betina terlihat bulat dan besar seperti pada gambar berikut. Gambar 65. Perbedaan Kepiting Jantan dan Kepiting

Gambar 65. Perbedaan Kepiting Jantan dan Kepiting Betina

Pada pengamatan hewan Kepiting Bakau (Scylla serrata) terlihat adanya karapaks sebagai cangkang pelindung tubuhnya, serta berfungsi sebagai tempat melekatnya organ-organ dalam. Kemudian terlihat 3 kaki jalan yang berfungsi sebagai alat gerak. Dimana pada kaki jalan ini memiliki sendi dan ruas-ruas untuk memungkinkannya berjalan cepat. Selain itu terdapat pula kaki renang yang digunakannya saat berada diatas/permukaan air maupun di dalam perairan. Dan pada capitnya tersusun atas beberapa bagian yakni propondus, carpus, merus. Menurut Suprapto (2000) Kepiting bakau memiliki ukuran lebar karapas lebih besar dari pada ukuran panjang tubuhnya dan permukaanya agak licin, pada dahi antara sepasang matanya terdapat enam buah duri dan di samping kanan dan kirinya masing-masing terdapat enambuah duri,kepiting bakau jantan mempunyai sepasang capit yang dapat mencapai panjang hampir dua kali lipat dari panjang

82

karapasnya,sedangkan kepiting bakau betina relative lebih pendek.selain itu,kepiting bakau juga mempunyai tiga pasang kaki jalan dan sepasang kaki renang,dan juga bagian kepala dan dada menjadi satu serta abdomen (perut). Bagian anterior (ujung depan) tubuh lebih besar dan lebih lebar,dapat hidup dan bertahan lama di darat . Pada bagian kepala terdapat beberapa alat mulut, yaitu 2 pasang antenna, 1 pasang mandibula, untuk menggigit mangsanya, 1 pasang maksilla, 1 pasang maksilliped, Maksilla dan maksiliped berfungsi untuk menyaring makanan dan menghantarkan makanan ke mulut. Pengamatan pada kepiting rajungan. Secara umum morfologi rajungan berbeda dengan kepiting bakau, di mana rajungan (Portunus pelagicus) memiliki bentuk tubuh yang lebih ramping dengan capit yang lebih panjang dan memiliki berbagai warna yang menarik pada karapasnya. Duri akhir pada kedua sisi karapas relatif lebih panjang dan lebih runcing. Rajungan hanya hidup pada lingkungan air laut dan tidak dapat hidup pada kondisi tanpa air. Bila kepiting hidup di perairan payau, seperti di hutan bakau atau di pematang tambak, rajungan hidup di dalam laut. Rajungan memang tergolong hewan yang bermukim di dasar laut, tapi malam hari suka naik ke permukaan untuk cari makan. Makanya rajungan disebut juga “swimming crab” alias kepiting yang bisa berenang. Menurut Zaldi (2009) bahwa dengan melihat warna dari karapas dan jumlah duri pada karapasnya, maka dengan mudah dapat dibedakan dengan kepiting bakau. Rajungan (P. pelagicus) memiliki karapas berbentuk bulat pipih, sebelah kiri-kanan mata terdapat duri sembilan buah, di mana duri yang terakhir berukuran lebih panjang. Rajungan mempunyai 5 pasang kaki, yang terdiri atas 1 pasang kaki (capit) berfungsi sebagai pemegang dan memasukkan makanan kedalam mulutnya, 3 pasang kaki sebagai kaki jalan dan sepasang kaki terakhir mengalami modifikasi menjadi alat renang yang ujungnya menjadi pipih dan membundar seperti dayung. Oleh sebab itu rajungan digolongkan kedalam kepiting berenang (swimming crab). Kaki jalan pertama tersusun atas daktilus yang berfungsi sebagai capit, propodos, karpus, dan merus.

Sedangkan untuk perbedaan jantan dan betina pada udang yakni pada udang jantan bentuk tubuh bagian perut lebih ramping dan ukuran pleuron-nya lebih pendek serta bentuk dan ukuran kaki jalan kedua sangat mencolok besar dan panjang. Sedangkan untuk udang betina bagian tubuh melebar dan pleuron-nya agak memanjang, memiliki pasangan kaki jalan kedua lebih kecil dan tidak mencolok. Kemudian untuk Lobster pada Jantannya Mempunyai tanda merah pada kedua capitnya. Pada usia yang sama, lobster berkelamin jantan cenderung mempunyai ukuran yang lebih besar dari lobster berkelamin betina. Pada betina tidak mempunyai tanda merah pada kedua capitnya. Pada usia yang sama, lobster air tawar berkelamin betina cenderung mempunyai ukuran yang lebih kecil dari lobster air tawar berkelamin jantan. Pengamatan pada using windu (Panaeus monodon) dimana terlihat adanya antenna yang berfungsi sebagai organ sensorik, dan pendeteksi. Serta antenula yang panjangnya lebih pendek dari antenna. Dibagian ventralnya terdapat 3-5 kaki jalan, dibagian bawahnya terdapat perut dengan bentuk melengkung. Kemudian dibagian ekor terdapat telson sebagai organ untuk bergerak dalam air. Dan dibagian

83

kepala/anterior terdapat karapak yang keras. Menurut Murtidjo (2003) bahwa Tubuh udang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepala dan bagian badan. Bagian kepala menyatu dengan bagian dada disebut cephalothorax yang terdiri dari 13 ruas, yaitu 5 ruas di bagian kepala dan 8 ruas di bagian dada. Bagian badan dan abdomen terdiri dari 6 ruas, tiap-tiap ruas (segmen) mempunyai sepasang anggota badan (kaki renang) yang beruas-ruas pula. Pada ujung ruas keenam terdapat ekor kipas 4 lembar dan satu telson yang berbentuk runcing. Bagian Kepala Bagian kepala dilindungi oleh cangkang kepala atau Carapace. Bagian depan meruncing dan melengkung membentuk huruf S yang disebut cucuk kepala atau rostrum. Pada bagian atas rostrum terdapat 7 gerigi dan bagian bawahnya 3 gerigi untuk P. monodon. Bagian kepala lainnya adalah, Sepasang mata majemuk (mata facet) bertangkai dan dapat digerakkan. Mulut terletak pada bagian bawah kepala dengan rahang (mandibula) yang kuat. Sepasang sungut besar atau antena. Dua pasang sungut kecil atau antennula. Sepasang sirip kepala (Scophocerit). Sepasang alat pembantu rahang (Maxilliped). Lima pasang kaki jalan (pereopoda), kaki jalan pertama, kedua dan ketiga bercapit yang dinamakan chela. Pada bagian dalam terdapat hepatopankreas, jantung dan insang. Bagian Badan dan Perut (Abdomen) Bagian badan tertutup oleh 6 ruas, yang satu sama lainnya dihubungkan oleh selaput tipis. Ada lima pasang kaki renang (pleopoda) yang melekat pada ruas pertama sampai dengan ruas kelima, sedangkan pada ruas keenam, kaki renang mengalami perubahan bentuk menjadi ekor kipas (uropoda). Di antara ekor kipas terdapat ekor yang meruncing pada bagian ujungnya yang disebut telson. Organ dalam yang bisa diamati adalah usus (intestine) yang bermuara pada anus yang terletak pada ujung ruas keenam. Pengamatan untuk udang putih memiliki kesamaan dengan udang windu, hanya saja dibedakan atas ukuran tubuh dan warna keduanya. Pada udang windu struktur tubuhnya terlihat lebih jelas dikarenakan ukuran organ tubuhnya lebih besar dibandingkan dengan udang putih. Kemudian untuk pengamatan Lobster (Penularis spp.) Hampir sama dengan struktur morfologi udang, hanya saja ukuran antenanya lebih panjang dan besar dibagian anteriornya terdapat sepasang mata, memiliki karapaks yang berduri, dibawahnya terdapat kaki-kaki jalan dan pada bagian badanya memiliki ruas-ruas tubuh yang keras sama dengan karapaksnya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Murtidjo (2003) bahwa Tubuh lobster terbagi dua bagian, yaitu bagian depan dan bagian belakang. Bagian depan terdiri dari bagian kepala dan dada. Kedua bagian itu disebut chepaalotorax. Kepala udang ditutupi oleh cangkang kepala, yang disebut karapas. Kelopak kepala bagian depan disebut rostrum atau cucuk kepala. Bentuknya runcing dan bergerigi. Kepala lobster terdiri dari enan ruas. Pada bagian itu terdapat beberapa organ lain. Sepasang mata berada pada ruas pertama. Kedua mata itu memiliki tangkai dan bisa bergerak. Pada ruas kedua dan ketiga terdapat sungut kecil, yang disebut antenula, dan sungut besar yang disebut antena. Bagian belakang terdiri dari badan dan ekor. Kedua bagian itu disebut abdomen. Pada bagian atas abdomen ditutupi dengan enam buah kelopak. Sedangkan bagian bawahnya tidak tertutu, tetapi berisi kaki enam kaki renang. Ekor terdiri dari bagian tengah yang disebut telson, dan

84

bagian samping yang disebut uropda. Bagian depanBagian depan terdiri dari bagian kepala dan dada. Kedua bagian itu disebut chepaalotorax. Kepala udang ditutupi oleh cangkang kepala, yang disebut karapas. terdiri dari bagian kepala dan dada. Kedua bagian itu disebut chepaalotorax. Kepala udang ditutupi oleh cangkang kepala, yang disebut carapace atau karapaks.

85

5.1. Kesimpulan

V. PENUTUP

Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pengamatan yang dilakukan dan pembahasan di atas adalah sebagai berikut :

1. Crustacea Dalam bahasa Latin, crusta berarti cangkang. Crustacea disebut juga hewan bercangkang. Telah dikenal kurang lebih 26.000 jenis Crustacea yang paling umum adalah udang dan kepiting. Habitat Crustacea sebagian besar di air tawar dan air laut, hanya sedikit yang hidup di darat.

2. Morfologi Kepiting Bakau (Scylla serrata) terdiri dari Karapaks, 3 kaki jalan, sepasang kaki renang, mata pada bagian anterior dan propundus, carpus dan merus pada capitnya.

3. Morfologi Kepiting Rajungan (Portunus pelagicus) memiliki karapaks, 3 kaki jalan, sepasang kaki renang, mata pada bagian anterior dan propundus, carpus dan merus pada capitnya.

4. Morfologi Udang Windu (Panaeus monodon) terdiri dari antenna, antenula, kaki jalan, perut dan telson

5. Morfologi Udang Putih (Panaeus merguensis) karapaks, antenna, antenula, telson, ruas tubuh dan memiliki kaki jalan.

6. Morfologi Lobster (Panulirus sp.) memiliki antenna yang panjang, karapaks, badan, mata, kaki jalan, ekor dan ruas-ruas tubuh.

7. Perbedaan antara jantan dan betina pada kepiting ini ditandai dengan bentuk abdomen dibagian ventralnya. Dimana pada jantan bentuknya segitiga runcing dan pada bagian abdomen betina terlihat bulat dan besar seperti pada gambar berikut.

8. Perbedaan jantan dan betina pada udang yakni pada udang jantan bentuk tubuh bagian perut lebih ramping dan ukuran pleuron-nya lebih pendek serta bentuk dan ukuran kaki jalan kedua sangat mencolok besar dan panjang. Sedangkan untuk udang betina bagian tubuh melebar dan pleuron-nya agak memanjang, memiliki pasangan kaki jalan kedua lebih kecil dan tidak mencolok.

9. Untuk Lobster pada Jantannya Mempunyai tanda merah pada kedua capitnya. Pada usia yang sama, lobster berkelamin jantan cenderung mempunyai ukuran yang lebih besar dari lobster berkelamin betina. Pada betina tidak mempunyai tanda merah pada kedua capitnya.

5.2. Saran

Saran yang dapat saya ajukan pada praktikum kali ini adalah sebaiknya praktikan dilengkapi dengan alat pembuka cangkang dan capit dari kepiting, agar nantinya praktikan dapat mengamati struktur anatomi dari organism yang dipraktekkan.

86

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Filum Echinodermata (dari bahasa Yunani untuk kulit berduri) adalah sebuah filum hewan laut yang mencakup bintang laut, Teripang, dan beberapa kerabatnya. Kelompok hewan ini ditemukan di hampir semua kedalaman laut. Filum ini muncul di periode Kambrium awal dan terdiri dari 7.000 spesies yang masih hidup dan 13.000 spesies yang sudah punah. Lima atau enam kelas (enam bila Concentricycloidea dihitung) yang masih hidup sekarang mencakup Asteroidea bintang laut: sekitar 1.500 spesies yang menangkap mangsa untuk makanan mereka sendiri Concentricycloidea, dikenal karena sistem pembuluh air mereka yang unik dan terdiri dari hanya dua spesies yang baru-baru ini digabungkan ke dalam Asteroidea. Crinoidea (lili laut): sekitar 600 spesies merupakan predator yang menunggu mangsa. Echinoidea (bulu babi dan dolar pasir): dikenal karena duri mereka yang mampu digerakkan; sekitar 1.000 spesies. Holothuroidea (teripang atau ketimun laut): hewan panjang menyerupai siput; sekitar 1.000 spesies. Dan Ophiuroidea (bintang ular dan bintang getas), secara fisik merupakan ekinodermata terbesar; sekitar 1.500 spesies. Semua echinodermata hidup di laut. Sebagian besar spesies mampu bergerak dengan merangkak dan sangat lambat. Kelompok echinodermata yang sessil hanyalah lilia laut. Nama echinodermata sendiri berarti berkulit duri, tampilan khusus anggota filum ini. Tepat dibawah kulitnya, duri dan lempeng kapurnya membentuk kerangka. Ciri lain echinodermata adalah simetri pentaradial: tubuhnya berkembang dalam bidang lima antimere yang memancar dari sebuah cakram pusat dimana mulutnya berada di tengah. Sistem pencernaannya lengkap, walaupun anus tidak berfungsi. Echinodermata tidak memiliki kepala dan tidak memiliki sistem pembuangan dan pernapasan. Mereka memiliki sistem peredaran air yang terdiri dari sederet tabung berisi cairan yang dipakai dalam pergerakan. Perubahan tekanan di sistem ini memungkinkan seekor echinodermata merenggangkan dan menarik kaki tabung. Kaki tabung dipakai untuk bergerak dan pada beberapa spesies dipakai untuk menangkap mangsa. Pada echinodermata, jenis kelamin terpisah. Echinodermata mempunyai jenis kelamin terpisah, sehingga ada yang jantan dan betina. Fertilisasi terjadi di luar tubuh, yaitu di dalam air laut. Sistem pencernaan makanan hewan ini sudah sempurna. Sistem pencernaan dimulai dari mulut yang posisinya berada di bawah permukaan tubuh. Kemudian diteruskan melalui faring, ke kerongkongan, ke lambung, lalu ke usus, dan terakhir di anus. Echinodermata bernafas menggunakan paru-paru kulit atau dermal branchiae (Papulae) yaitu penonjolan dinding rongga tubuh (selom) yang tipis. Sistem peredaran darah terdiri dari pembuluh darah yang mengelilingi mulut dan dihubungkan dengan lima buah pembuluh radial ke setiap bagian lengan Sistem saraf terdiri dari cincin saraf dan tali saraf pada bagian lengan-lengannya. Hubungan kekerabatan dengan filum lain Echinodermata memiliki hubungan kekerabatan dengan Mollusca hal ini dapat dilihat dari habitatnya yaitu di laut, dan beberapa hewan anggota kelas echinodermata

87

bertubuh lunak. Contoh Hewan : Ophiuroidea brevispinum, Thyone briareus. Dari penjelasan tersebut maka dilakukanlah pengamatan untuk mengamati dan mengidentifikasi bagian-bagian morfologi dari spesies-spesies yang terdapat di filum echinodermata. Serta mengetahui klasifikasi dan sebarannya diperairan.

1.2. Tujuan dan Manfaat

Tujuan praktikum untuk mengetahui filum Echinodermata secara morfologi dan anatomi serta dapat mengamati dan mengklasifikasi filum Echinodermata. Manfaat praktikum sebagai bahan masukan untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan serta jenis-jenis mengenai filum Echinodermata.

88

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi

Dalam klasifikasi berdasarkan kekerabatannya, echinodermata terletak pada urutan terakhir dalam kelompok hewan invertebrata. Hal ini disebabkan karena echinodermata tidak menampakan ciri-ciri yang mirip dengan invertebrata. Menurut para ahli taksonomi, echinodermata lebih dekat dengan hewan avertebrata. Echinodermata berasal dari bahasa yunani eichinos yang artinya duri dan derma yang artinya kulit. Jadi Echinodermata berarti hewan yang kulitnya berduri. Hewan ini dibagi dalam 5 kelas yaitu, Holothuridea (Teripang), Asteroidea (Bintang Laut), Ophiuroidea (Bintang Ular), Echinoidea (Bulu Babi) dan Crinoidea (Lili laut) (Kurmana, 2007). Menurut Martoyo dkk (2006), Teripang (Holothuria scabra) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Filum : Echinodermata Sub filum : Invertebrata

Kelas

Ordo

: Holothuroidea : Aspidochirotida

Famili

: Aspidochirotea

Genus

: Holothuria

Spesies : Holothuria scabra

Genus : Holothuria Spesies : Holothuria scabra Gambar 66. Teripang ( Holothuria scabra) Teripang atau

Gambar 66. Teripang (Holothuria scabra)

Teripang atau trepang adalah istilah yang diberikan untuk hewan invertebrata timun laut (Holothuroidea) yang dapat dimakan. Ia tersebar luas di lingkungan laut diseluruh dunia, mulai dari zona pasang surut sampai laut dalam terutama di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Barat. Di dalam jurnal-jurnal internasional, istilah trepang atau beche-de-mer tidak pernah dipakai dalam topik-topik keanegaragaman, biologi, ekologi maupun taksonomi. Dalam subyek-subyek ini, terminologi yang dipakai untuk menggambarkan kelompok hewan ini adalah sea cucumbers atau holothurians (disebut holothurians karena hewan ini dimasukkan dalam kelas

89

Holothuroidea). Kelompok timun laut yang ada di dunia ini lebih dari 1200 jenis, dan sekitar 30 jenis di antaranya adalah kelompok teripang (Martoyo dkk, 2006). Menurut Astuti (2007), Bintang Laut (Protoreaster nodosus) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Filum : Echinodermata Sub filum : Invertebrata

Kelas

Ordo

: Valvatida

Famili

: Presteridae : Protoreaster

Genus

Spesies : Protoreaster nodosus

: Protoreaster Genus Spesies : Protoreaster nodosus Gambar 67. Bintang Laut ( Protoreaster nodosus) Asteroidea

Gambar 67. Bintang Laut (Protoreaster nodosus)

Asteroidea sering disebut sebagai bintang laut, sesuai dengan namanya itu, hewan ini memiliki bentuk seperti bintang dengan lima lengan pada tubuhnya. Pada permukaan tubuhnya dilengkapi dengan duri. Organ tubuh yang dimiliki bercabang kelima buah lengannya. Hewan ini banyak sekali dijumpai di daerah pantai. Pada permukaan bawah tubuhnya terdapat mulut dan kaki tabung yang digunakan untuk bergerak. Pada bagian atas atau aboral terdapat anus dan madreporit yang merupakan saluran penghubung air laut dengan sistem pembuluh air yang ada dalam tubuh. Contoh: Astropecten irregularis, Culeitin (Ferdinand, 2008).

90

Menurut Brotowidjoyo (2000), Bintang Ular Laut (Ophiutrichodea hereidines) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom

: Animalia

Filum : Echinodermata Sub filum : Invertebrata

Kelas

Ordo

: Ophiuroidea : Ophiuroidae

Famili

: Ophiutricoidea : Ophiutrichodea

Genus

Spesies : Ophiutrichodea hereidines

Ophiutrichodea Genus Spesies : Ophiutrichodea hereidine s Gambar 68. Bintang Ular Laut ( Ophiutrichodea nereidina)

Gambar 68. Bintang Ular Laut (Ophiutrichodea nereidina)

Hewan ini disebut juga sebagai bintang ular laut karena tubuhnya memiliki lima lengan yang apabila digerak-gerakkan menyerupai gerakan ular. Selain itu, hewan ini tidak memiliki anus sehingga sisa pencernaannya dikeluarkan lewat mulutnya. Hewan ini biasa hidup di laut yang dalam ataupun laut dangkal. Banyak dijumpai di balik batu karang ataupun mengubur dirinya dalam pasir. Hewan ini makanannya adalah udang, kerang, ataupun sampah dari organisme lain, contohnya adalah Ophioplocus (Kurmana, 2007). Menurut Kuncoro (2004), Bulu Babi (Deadema setosum) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Filum : Echinodermata Sub filum : Invertebrata

Kelas

Ordo

: Deadematoidea

Famili

: Deadematodaci

: Deadema

Genus

Spesies : Deadema setosum

91

91 Gambar 69. Bulu Babi ( Deadema setosum) Hewan ini termasuk dalam kelas Echinoidea, Bentuk tubuh

Gambar 69. Bulu Babi (Deadema setosum)

Hewan ini termasuk dalam kelas Echinoidea, Bentuk tubuh bulat dan diliputi duri yang banyak, contoh Diadema (bulu babi) dan Echinus (landak laut). Mulut terletak di bagian oral dan dilengkapi dengan 5 buah gigi, sedangkan madreporit, anus, dan lubang kelamin terletak di bagian aboral (Kurmana, 2007). Tubuh binatang ini dipenuhi duri tajam yang tersusun dari zat kapur. Ada duri yang pendek dan ada pula yang panjang seperti landak sehingga jenis hewan ini sering disebut landak laut. Jenis hewan ini biasanya hidup di sela-sela pasir atau sela- sela bebatuan sekitar pantai atau di dasar laut. Tubuhnya tanpa lengan hampir bulat atau gepeng, mulutnya yang terdapat di permukaan oral dilengkapi dengan 5 buah gigi sebagai alat untuk mengambil makanan. Hewan ini memakan bermacam-macam makanan di aut, misalnya hewan lain yang telah mati, atau organisme kecil lainnya. Alat pengambil makanan digerakkan oleh otot yang disebut lentera arisoteteles. Sedangkan anus, madreporit, dan lubang kelamin terdapat di permukaan atas (Aryulina, 2006).

2.2. Morfologi dan Anatomi

Tubuh Echinodermata tidak bersegment atau beruas-ruas. Pada waktu larva, simetri tubuhnya bilateral, tetapi setelah dewasa simetrinya radial. Hewan ini mempunyai kaki ambulakral (kaki buluh), tidak berkepala, dan tidak mempunyai otak, epidermisnya halus dan diperkuat oleh kepingan kapur yang disebut laminae (Ossikula). Epidermis ini mudah digerakan dengan pola tetap , tetapi ada pula yang tidak mudah digerakan. Epidermis dilengkapi dengan tonjolan duri-duri halus dari kapur. Mesodermis mengandung eksoskeleton yang dapat digerakan dan terikat lempengan kalkareus yang biasanya terdapat duri-duri (Pratiwi, 2004). Bulu babi merupakan hewan dari filum Echinodermata. Bulu babi mempunyai struktur tubuh dengan sistem vaskular air, kaki berbentuk pipa, dan kerangka luar yang ditutupi lapisan kulit tipis. Bulu babi adalah binatang berongga dan sebagian kecil rongganya ditempati oleh organ inernal. Tubuh bulu babi dikelilingi duri yang tersusun secara radial dan beracun. Mulut bulu babi berada di bawah di bagian tengah

92

tubuhnya dan tidak mempunyai otak. Lubang pengeluaran dan pori genitalnya berada di bagian atas tubuhnya. Bulu babi berkembangbiak secara fertilisasi eksternal. Bulu babi merupakan binatang invertebrata berkulit keras yang nokturnal dan bergerak lambat (Fitriana, 2007).

keras yang nokturnal dan bergerak lambat (Fitriana, 2007). Gambar 70. Morfologi dan Anatomi Bulu Babi Bentuk

Gambar 70. Morfologi dan Anatomi Bulu Babi

Bentuk tubuh bintang ular mirip dengan Asteroidea. Kelima lengan ophiuroidea menempel pada cakram pusat yang disebut calyx.Ophiuroidea memiliki lima rahang. Di belakang rahang ada kerongkongan pendek dan perut besar, serta buntu yang menempati setengah cakram. Ophiuroidea tidak memiliki usus maupun anus. Pencernaan terjadi di perut. Pertukaran udara dan ekskresi terjadi pada kantong yang disebut bursae. Umumnya ada 10 bursae.Kelamin terpisah pada kebanyakan spesies. Ophiuroidea memiliki gonad. Gamet disebar oleh bursal sacs. Baik Ophiurida maupun Euryalida memiliki lima lengan yang panjang, langsing, fleksibel, dan berbentuk seperti cambuk. Mereka dibantu dengan rangka internal yang terbuat dari kalsium karbonat.Pembuluh dari sistem vaskular air berakhir di kaki tabung. Sistem vaskular air umumnya memiliki satu madreporit. Kaki tabung tidak memiliki penghisap dan ampulla.Ophiuroidea memiliki kemampuan untuk meregenerasi kaki yang putus. Ophiuroidea menggunakan kemampuan ini untuk melarikan diri dari predator, seperti kadal, yang mampu memutuskan ekor mereka untuk membingungkan pengganggu (Susilowarno, 2007)

ekor mereka untuk membingungkan pengganggu (Susilowarno, 2007) Gambar 71. Morfologi dan Anatomi Bintang Ular Laut

Gambar 71. Morfologi dan Anatomi Bintang Ular Laut

93

Bintang Laut (Asteropecten irregularis) tergolong dalam Echinodermata. Bintang laut biasanya hidup di pantai dan di dalam laut sampai kedalaman sekitar 366 m. Sebagian hidup bebas, hanya gerakannya lamban cenderung berifat Bentos kecuali Crinoidea Madreporit merupakan lubang tempat masuknya air dari luar tubuh letaknya di sisi aboral , ini berbeda dengan Ophiuroidea yang berada di sisi oral, Saluran batu saluran penghubung antara madreporit dengan salurang cincin. Saluran cincin saluran yang melingkar yang bisa mengakses ke semua lengan Saluran radial saluran yang berasal dari saluran cincin meluas ke seluruh lengan , saluran ini dari saluran cincin berpencar ke tentakel masing masing. Saluran lateral saluran yang berasal dari saluran radial yang mengalirkan air ke ampula. Ampula : suatu wadah menyerupai balon yang elastis , ketika terisi air akan membentuk tonjolan seperti kaki yang menyerupai tabung disebut kaki tabung. Kaki tabung, kaki yang terbentuk karena tekanan air di ampula sehingga kak bisa dipijakkan ke obyek sehingga bisa menggerakkan tubuhnya. Sistem ambulakral ini berfungsi untuk bergerak, bernafas atau membuka mangsa (Isharwanto, 2010).

bergerak, bernafas atau membuka mangsa (Isharwanto, 2010). Gambar 72. Morfologi dan Anatomi Bintang Laut Teripang kulit

Gambar 72. Morfologi dan Anatomi Bintang Laut

Teripang kulit durinya halus, sehingga sekilas tidak tampak sebagai jenis Echinodermata. Tubuhnya seperti mentimun dan disebut mentimun laut atau disebut juga teripang. Hewan ini sering ditemukan di tepi pantai. Gerakannya tidak kaku, fleksibel, lembut dan tidak mempunyai lengan. Rangkanya direduksi berupa butir- butir kapur di dalam kulit. Mulut terletak pada ujung anterior dan anus pada ujung posterior (aboral). Di sekeliling mulut terdapat tentakel yang bercabang sebanyak 10 sampai 30 buah. Tentakel dapat disamakan dengan kaki tabung bagian oral pada Echinodermata lainnya. Tiga baris kaki tabung di bagian ventral digunakan untuk bergerak dan dua baris di bagian dorsal berguna untuk melakukan pernafasan. Kebiasaan hewan ini meletakkan diri di atas dasar laut atau mengubur diri di dalam lumpur/pasir dan bagian akhir tubuhnya diperlihatkan. Memiliki banyak endoskeleton yang tereduksi. Tubuhnya juga memanjang tertutup oleh kulit yang berkutila dan tidak bersilia dibawah kulit terdapat dermis yang mengandung osikula, selapis otot

94

melingkar, dan 5 otot ganda yang memanjang. Dengan adanya lengan otot ini, timun laut dapat bergerak memanjang memendek seperti cacing (Suwignyo, 2005).

bergerak memanjang memendek seperti cacing (Suwignyo, 2005). Gambr 73. Morfologi dan Anatomi Teripang Pasir 2.3. Habitat

Gambr 73. Morfologi dan Anatomi Teripang Pasir

2.3. Habitat dan Penyebaran

Habitat bintang laut ini adalah di terumbu karang, terutama di lereng terumbu pada kedalaman 2 sampai 6 m. Ada yang ditemukan di paparan terumbu yang terbuka pada saat air surut dan ada yang ditemukan di terumbu karang hidup pada kedalaman 33 m. Di Great Barrier Reef, Australia, hewan ini dijumpai di semua kedalaman yang tidakmelebihi 60 m (Aryulina, 2006). Teripang dapat ditemukan hampir di seluruh perairan pantai. Teripang lebih menyukai perairan jernih dan air yang relatif tenang. Namun, setiap jenis teripang memiliki habitat yang spesifik. Sumber makanan utama teripang di alam adalah kandungan organik dalam lumpur, detritus (sisa pembusukan bahan organik), dan plankton. Sumber makanan lainnya diantaranya adalah organisme-organisme kecil, protozoa, nematoda, algafilamen, rumput laut, partikel-partikel pasir (Muliandari,

2008).

2.4. Reproduksi dan Daur Hidup

Reproduksi seksual pada anggota filum ini umumnya melibatkan hewan jantan dan betina yang terpisah (dioecious) dan pembebasan gamet dilakukan di air. Hewan dewasa yang radial berkembang dari larva bilateral melalui proses metamorfosis. Filum Echinodermata umumnya terbagi menjadi 5 kelas, antara lain asteroidea (bintang laut0 ophiuroidea (bintang mengular), echinoidea (bulu babi dan dolar pasir), crinoidea (lili laut dan bintang berbulu), serta holothuroidea (timun laut atau teripang) (Aryulina, 2006). Echinodermata mempunyai jenis kelamin terpisah, sehingga ada yang jantan dan betina. Fertilisasi terjadi di luar tubuh, yaitu di dalam air laut. Telur yang telah dibuahi akan membelah secara cepat menghasilkan blastula, dan selanjutnya berkembang menjadi gastrula. Gastrula ini berkembang menjadi larva. Larva atau disebut juga bipinnaria berbentuk bilateral simetri. Larva ini berenang bebas di dalam

95

air mencari tempat yang cocok hingga menjadi branchidaria, lalu mengalami metamorfosis dan akhirnya menjadi dewasa (Susilowarno, 2007).

dan akhirnya menjadi dewasa (Susilowarno, 2007). Gambar 74. Tahapan pertumbuhan larva Bintang Laut 2.5.

Gambar 74. Tahapan pertumbuhan larva Bintang Laut

2.5. Makanan dan Kebiasaan Makan

Sistem pencernaan makanan hewan ini sudah sempurna. Sistem pencernaan dimulai dari mulut yang posisinya berada di bawah permukaan tubuh. Kemudian makanan diteruskan melalui faring, ke kerongkongan dari kerongkongan kemudian ke lambung, lalu ke usus, dan terakhir di anus. Anus ini letaknya ada di permukaan atas tubuh dan pada sebagian Echinodermata tidak berfungsi. Pada hewan ini lambung memiliki cabang lima yang masing-masing cabang menuju ke lengan. Di masing-masing lengan ini lambungnya bercabang dua, tetapi ujungnya buntu (Isharwanto, 2010). Sistem peredaran darah Echinodermata umumnya tereduksi, sukar diamati. Sistem peredaran darah terdiri dari pembuluh darah yang mengelilingi mulut dan dihubungkan dengan lima buah pembuluh radial ke setiap bagian lengan (Aryulina, 2006). Bintang laut memasukan apaun ke dalam perutnya. Bintang laut mengeluarkan enzim perut untuk mencerna mangsanya yang dipecah kecil-kecil untuk dimasukkan ke dalam perut berpilorus. Sebuah usus pendek keluar menuju sebuh anus di sisi aboral. Setiap lengan memiliki coelom yang telah berkembang dengan baik dan berisi sepasang kelenjar pencernaan dan kelenjar kelamin jantan atau betina (Kadaryanto, 2006). Alat-alat pencernaan makanan terdapat dalam bola cakram, dimulai dari mulut yang terletak di pusat tubuh kemudian lambung yang berbentuk kantong. Hewan ini tidak memiliki anus. Di sekeliling mulut terdapat rahang yang berupa 5 kelompok lempeng kapur.Makanan dipegang dengan satu atau lebih lengannya, kemudian dihentakkan dan dengan bantuan tentakel dimasukkan ke mulut. Sesudah dicerna, bahan-bahan yang tidak tercerna dibuang ke luar melalui mulutnya (Wijaya, 2007).

96

2.6. Nilai Ekonomis

Echinodermata dimanfaatkan oleh manusia misalnya telur landak laut yang banyak dikonsumsi di Jepang dan keripik timun laut yang banyak dijual di Sidoarjo. Jawa Timur. Bahan penelitian mengenai fertilisasi dan perkembangan awal.Para ilmuwan biologi sering mengggunakan gamet dan embrio landak laut. Namun, bintang laut sering dianggap merugikan oleh pembudidaya tiram mutiara dan kerang laut karena merupakan predator hewan-hewan budidaya tersebut (Susilowarno,

2007).

Pasaran Teripang di dalam negeri juga potensial. Namun, konsumen komoditas ini masih terbatas di kalangan menengah ke atas. Teripang kering banyak dijumpai di pasar swalayan di kota-kota besar. Sementara dalam bentuk masakan teripang, banyak dijumpai direstoran yang menyajikan hidangan laut (Martoyo dkk,

2006).

97

III. METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 2 Desember 2011, pukul 13.00 15.00 WITA dan bertempat di Laboratorium C Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo Kendari.

3.2. Alat dan Bahan

Alat dan bahan beserta kegunaannya yang digunakan pada praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Alat dan bahan beserta kegunaanya

No

Nama Alat

Kegunaan

A.

Alat

1. Baki

Untuk meletakkan organism yang akan diamati

2. Pisau Bedah

Untuk membedah organism yang diamati

3. Alat tulis

Untuk mencatat dan menggambar hasil pengamatan

4. Toples

Untuk menyimpan bahan pengamatan yang diambil dari laut

5. Pinset

Untuk mengambil bahan dari toples

6. Buku Identifikasi

Untuk Mengidentifikasi Struktur Tubuh obyek yang diamati

B

Bahan

1. Teripang (Holothuria scabra)

Sebagai obyek yang diamati

2. Bintang Laut (Protoreaster nodosus)

3. Bulu babi (Diadema sitosum)

4. Bintang Ular Laut (Ophiutricodea nereidina)

5. Alkohol 70%

Sebagai obyek yang diamati

Sebagai obyek yang diamati

Sebagai obyek yang diamati

Untuk mengawetkan bahan pengamatan

98

3.3. Prosedur Kerja

Langkah-langkah kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Melakukan pengamatan pada organisme yang telah diambil dari perairan

2. Meletakkan orgaisme pada baki kemudian mengidentifikasi bagian-bagian organism tersebut.

3. Menggambar bentuk secara morfologi dan anatomi pada bagian-bagian organisme yang telah diidentifikasi dan diberi keterangan pada buku gambar.

99

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini sebagai berikut:

A. Struktur Morfologi Teripang (Holothuria scabra)

Keterangan:

1. Duri tubuh

2. Anus

3. Kepala/mahkota

Gambar 75. Teripang (Holothuria scabra)

B. Struktur Morfologi Bintang Laut (Protoreaster nodosus)

Keterangan:

1. Madreporit

2. Anus

3. Duri

4. Lengan

5. Kaki Tabung

Gambar 76. Bintang Laut (Protoreaster nodosus)

100

C. Struktur Morfologi Bulu babi (Diadema sitosum)

Keterangan:

1. Duri

2. Mata

3. Mulut

Gambar 77. Bulu babi (Diadema sitosum)

D. Struktur Morfologi Bintang Ular Laut (Ophiutricodea nereidina)

Keterangan:

1. Mulut

2. Lengan atas

3. Lengan

4. Duri

Gambar 78. Bintang Ular Laut (Ophiutricodea nereidina)

101

4.2. Pembahasan

Echinodermata adalah invertebrata berkulit duri yang memuat bintang laut, bintang ular, bulu babi, teripang dan lilia laut. Walaupun mereka tidak mirip banyak dengan hewan vertebrata, perkembangan embrio echinodermata sangat mirip dengan chordata pada tahap awalnya. Tahap larvanya adalah perenang bebas dan menunjukkan simetri bilateral. Echinodermata merupakan hewan yang memiliki habitat di laut, serta tubuhnya memiliki simetri radial. Hewan ini sudah memiliki sistem pencernaan yang sempurna di mana mulut sebagai jalan masuknya makanan berada di bagian bawah dan anus sebagai jalan keluarnya sisa pencernaan berada di sebelah atas. Sistem gerak dengan menggunakan kaki ambulakral, selain itu kaki juga digunakan untuk menangkap mangsa. Secara umum Echinodermata memiliki 5 lengan, hewan ini memiliki kemampuan autotomi, yaitu kemampuan untuk membentuk kembali organ tubuhnya yang terputus. Seperti halnya dengan hewan akuatik yang lain, Echinodermata juga bernapas dengan insang. Sistem saraf berupa cincin saraf yang mengelilingi mulut, lalu bercabang 5 menuju masing-masing lengan yang dimiliki. Reproduksi secara generatif, yaitu dengan peleburan antara sperma dan ovum sehingga akan dihasilkan zigot. Mekanisme gerak melalui sistem kaki ambulakral adalah sebagai berikut: air masuk melalui madreporit kemudian turun ke saluran cincin lalu masuk ke dalam saluran radial, setelah itu air masuk ke kaki-kaki tabung, air disemprotkan sehingga dalam kaki tabung muncul tekanan hidrolik dari air dan akhirnya kaki tabung menjulur ke luar, akibatnya ampula melekat pada benda lain sehingga bisa berpindah tempat. Permukaan Echinodermata umumnya berduri, baik itu pendek tumpul atau runcing panjang.Duri berpangkal pada suatu lempeng kalsium karbonat yang disebut testa.Sistem saluran air dalam rongga tubuhnya disebut ambulakral.Ambulakral berfungsi untuk mengatur pergerakan bagian yang menjulur keluar tubuh, yaitu kaki ambulakral atau kaki tabung ambulakral.Kaki ambulakral memiliki alat isap.sistem pencernaan terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus, dan anus.Sistem ekskresi tidak ada.Pertukaran gas terjadi melalui insang kecil yang merupakan pemanjangan kulit.Sistem sirkulasi belum berkembang baik.Echinodermata melakukan respirasi dan makan pada selom.Sistem saraf Echinodermata terdiri dari cincin pusat saraf dan cabang saraf.Echinodermata tidak memiliki otak.Untuk reproduksi Echinodermata ada yang bersifat hermafrodit dan dioseus. Pada pengamatan yang kami lakukan untuk teripang terlihat tubuhnya terdiri atas duri-duri kecil dibagian permukaannya dan pada bagian anterior terdapat mulut yang berfungsi sebagai tempat masuknya makanan didalam tubuhnya. Kemudian dibagian posteriornya terdapat anus sebagai tempat keluarnya sisa makanan dalam bentuk pasir. Menurut Muliandari (2008) Tubuh teripang bertekstur lunak, berdaging, berbentuk silindris memanjang seperti ketimun. Ukuran tubuh teripang berbeda-beda untuk setiap jenisnya. Sebagai hewan dioecious (individu berkelamin jantan terpisah dengan individu berkelamin betina), teripang jantan dan betina sulit dibedakan secara morfologis. Perbedaan akan tampak jelas bila dilihat di bawah mikroskop dengan menyayat bagian organ kelamin jantan dan betina. Organ kelamin betina berwarna

102

kekuningan dan berubah menjadi kecoklatan bila sudah matang. Sementara organ kelamin jantan berwarna bening keputihan. Pengamatan selanjutnya adalah mengamati bentuk dan struktur tubuh bintang laut. Terlihat tubuhnya membujur 5 bagian. Diantara duri-duri tubuhnya terdapat pori-pori yang berwarna cokelat/hitam keabuan membentuk bulatan kecil yang disebut madreporit berfungsi sebagai tempat masuknya air kedalam tubuh. Sedangkan dibagian bawahnya terdapat kaki tabung yang digunakannya untuk berjalan. Menurut Aryulina (2006) bahwa Bentuk seperti bintang laut atau segi lima, permukaan bawah (oral) terdapat mulut,permukaan atas (adoral) terdapat anus. Kaki pembuluh terdapat pada permukaan oral, pada permukaan adoral selain terdapat anus juga terdapat madreporit yaitu lobang yang mempunyai saringan yang menghubungkan air laut dengan sistem pembuluh air dan lobang kelamin. Pengamatan selanjutnya adalah pengamatan pada bintang ular laut, tubuhnya memiliki 5 lengan yang panjang-panjang. Kelima tangan ini juga bisa digerak- gerakkan sehingga menyerupai ular. Oleh karena itu hewan jenis ini sering disebut bintang ular laut (Ophiuroidea nereidina). Menurut Aryulina (2006) bahwa Mulut dan madreporitnya terdapat di permukaan oral. Hewan ini tidak mempunyai anus, sehingga sisa makanan atau kotorannya dikeluarkan dengan cara dimuntahkan melalui mulutnya. Hewan ini hidup di laut yang dangkal atau dalam. Biasanya bersembunyi di sekitar batu karang, rumput laut, atau mengubur diri di lumpur/pasir. Ia sangat aktif di malam hari. Makanannya adalah udang, kerang atau serpihan organisme lain (sampah). Pengamatan selanjutnya adalah pengamatan struktur tubuh bulu babi, terlihat tubuhnya dipenuhi dengan duri-duri yang panjang layaknya landak. Diantara duri- duri ini terdapat duri halus dibagian bawah tubuhnya yang berfungsi untuk melekatkan tubuhnya saat berjalan disubstrat/mendaki. Memiliki mata dan mulut. Menurut Fitriana (2007) bahwa untuk struktur bulu babi, tubuhnya dipenuhi duri tajam. Duri ini tersusun dari zat kapur. Duri ini ada yang pendek dan ada pula yang panjang seperti landak. Itulah sebabnya jenis hewan ini sering disebut landak laut. Jenis hewan ini biasanya hidup di sela-sela pasir atau sela-sela bebatuan sekitar pantai atau di dasar laut. Tubuhnya tanpa lengan hampir bulat atau gepeng.

103

5.1. Kesimpulan

V. PENUTUP

Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pengamatan yang dilakukan dan pembahasan di atas adalah sebagai berikut :

1. Echinodermata adalah invertebrata berkulit duri yang memuat bintang laut, bintang ular, bulu babi, teripang dan lilia laut. Walaupun mereka tidak mirip banyak dengan hewan vertebrata, perkembangan embrio echinodermata sangat mirip dengan chordata pada tahap awalnya.

2. Morfologi teripang (Holothuria scabra) tubuhnya terdiri atas duri-duri kecil dibagian permukaannya dan pada bagian anterior terdapat mulut yang berfungsi sebagai tempat masuknya makanan didalam tubuhnya. Kemudian dibagian posteriornya terdapat anus sebagai tempat keluarnya sisa makanan dalam bentuk pasir.

3. Morfologi Bintang laut (Protoreaster nodosus) Terlihat tubuhnya membujur 5 bagian. Diantara duri-duri tubuhnya terdapat pori-pori yang berwarna cokelat/hitam keabuan membentuk bulatan kecil yang disebut madreporit berfungsi sebagai tempat masuknya air kedalam tubuh

4. Morfologi Bintang Ular Laut (Ophiutricodea nereidina) tubuhnya memiliki 5 lengan yang panjang-panjang. Kelima tangan ini juga bisa digerak-gerakkan sehingga menyerupai ular. Hewan ini tidak mempunyai anus, sehingga sisa makanan atau kotorannya dikeluarkan dengan cara dimuntahkan melalui mulutnya.

5. Morfologi Bulu babi (Diadema sitosum) terlihat tubuhnya dipenuhi dengan duri-duri yang panjang layaknya landak. Diantara duri-duri ini terdapat duri halus dibagian bawah tubuhnya yang berfungsi untuk melekatkan tubuhnya saat berjalan disubstrat/mendaki. Memiliki mata dan mulut.

5.2. Saran

Saran yang dapat saya ajukan pada praktikum kali ini adalah sebaiknya hewa- hewan yang telah diamati, diawetkan dan diberikan keterangan berdasarkan hasil identifikasi praktikan untuk kepentingan praktikum selanjutnya, kemudian untuk penyusunan laporan lengkap sebaiknya seluruh asisten memiliki cara pengoreksian laporan yang sama, agar kami praktikan tidak terus-menerus mengulangi perbaikan laporan karena perbedaan cara pengoreksian asisten, selain menghabiskan biaya, juga menghabiskan waktu dan tenaga.

104

DAFTAR PUSTAKA

Amri, K. 2004. Budidaya Udang Windu. Agromedia Pustaka. Bogor. 70 hal. Aryasari, R. 2006. Sistematika dan taksonomi invertebrata (karang, moluska, spons); biodiversitas pada ekosistem terumbu karang; biospeleologi. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. 113 hal. Aslan, M., Wa Iba., Kamri, S., Irawati., Subhan., Purnama, F. M., Jaya, I. M., Rahmansyah., Sputra, R., Tiar, S., Mulyani, T., Kasendri, R. A., Zhuhuriani, Riana, A. 2011. Penuntun Praktikum Avertebrata Air. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo. Kendari. 25 hal. Astuti, L., S. 2007. Klasifikasi Hewan. PT Kawan Pustaka. Jakarta Selatan. 112 hal. Aryulina, D. 2006. Biologi 1. Esis. Jakarta. 340 hal. Brotowidjoyo. 2000. Zoologi Dasar. Erlangga. Jakarta. 439 hal. Campbell, N. 2003. Biologi edisi 5 Jilid 2. Erlangga. Jakarta. 366 hal. Darmadi. 2010. Ekosistem Terumbu Karang Di Indonesia. Pustaka Media. Surabaya. 22 hal. Ferdinand, F. P., Ariwibowo, M. 2008. Biologi 1. Grafindo. Jakarta. 178 hal. Fitriana, P., Rahmatiyah, D. 2007. Hewan Laut. JP Books. Jakarta. 52 hal. Firmansyah, R. 2005. Mudah dan Aktif Belajar Biologi. Grafindo Media Pratama. Jakarta. 209 hal. Galih, P. 2008. Mengnal Filum Crustacea. IPB Press. Bogor. 46 hal. Isharwanto, H. 2010. Biologi. Grafindo. Jakarta. 213 hal. Kadaryanto, Jati, W., Mukido, Chalsum, U., Sarmini, S., Harsono. 2006. Biologi I. Yudistira. Jakarta. 238 hal. Kuncoro, E. 2004. Akuarium Laut. Kanasius. Yogyakarta. 160 hal. Kurmana, O. 2007. Cerdas Belajar Biologi. Grafindo Media Pratama. Jakarta. 338 hal. Kusnadi, Muhsinin S., Yayan S. 2010. Buku saku biologi SMA. Kawan Pustaka. Jakarta. 561 hal. Martoyo, J., Aji, N., Winanto, T., 2006. Budidaya Teripang. Penebar Swadaya. Depok. 77 hal. Mikrajuddin, Saktiyono, Lutfi. 2007. Ipa Terpadu. Erlangga. Jakart. 280 hal. Mudjiono, Suparman, M., 2000. Sekilas tentang Kerang Lentera. Lipi. Jakarta. Vol. XVII, hal 159-166. Muliandari, N. 2008. Teknik Budidaya Teripang. Bioteknologi Hewan. Jakarta. Natadisastra, D., dan Agoes R., 2005. Kedokteran ditinjau dari organ tubuh yang diserang. Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 328 hal. Nurtidjo, B., A. 2003. Benih Udang Windu Skala Kecil. Kanisius. Yogyakarta. 18 hal. Nontji, A. 2008. Plankton Laut. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Lipi Press. Jakarta. 331 hal. Nuri, H. 2009. Buku Kantong Biologi. Pustaka Widyatama. Yogyakarta. Pratiwi. D.A. 2004. Biologi SMA Kelas XI. Gramedia. Jakarta. 132 hal. Regia. 2008. Keanekaragaman Moluska. Kendi Mas Media. Yogyakarta. 85 hal.

105

Romimohtarto, K. Dan Juana S., 2001, Biologi Laut. Jambatan. Jakarta. 256 hal. Rukmana, R. 2006 Budidaya Cacing Tanah. Kanisius. Yogyakarta. 20 hal. Rusyana, A. 2011. Zoologi Invertebrata (Teori dan Parktik). Alfabeta. Bandung. 282 hal. Setiowati, Tety dan Deswaty Furqonita. 2007. Biologi Interaktif. Azka Press. Jakarta.

217 hal.

Susilowarno, G., Sapto H., Mulyadi, Murtianingsih, Umiyari, Enik M. 2007. Biologi. Grafindo. Jakarta. 343 hal. Suprapto, D. 2000. Budidaya Kepiting Bakau. Undip Press. Yogyakarta. 114 hal. Suwignyo, S., Bambang, W., Yusli, W., dan Majariana, K. 2005. Avertebrata Air

Jilid I. Swadaya. Jakarta. 227 hal. Trimaningsih. 2008. Mengenal Ubur-Ubur. Pulsit Oseanografi LIPI. Jakarta. 7 hal.

Winarni, I. 2010. Filum Coelenterata. Belajar Biologi. Pustaka Widyatama. Surabaya

124 hal.

Wijaya, J. 2007. Biologi Interaktif. Azka Press. Jakarta Timur. 217 hal. Yulia k., Dias N., Siti N., Ilhanul H., Izzuddin A., Radiyta A., Annisa P., Ulin D., Anggarawati, Nugraha R., Chandra E. 2011. the biology of brachiopods

biologi brachiopoda. Zakrinal & Sinta Purnama S. 2008. Jago Biologi SMA. Media Pusindo, Group Puspa Swara. Depok. 247 hal. Zaldi, 2009. Filum Crustacea. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Univeritas Muhammadiyah. Pontianak. 38 hal