Anda di halaman 1dari 2

Selama ini sikap Pemerintah Indonesia terhadap Gerakan Papua Merdeka atau OPM selalu bersifat

keras dan represif, sebab sudah beberapa kali OPM melalukan aksi teror dan penyerangan terhadap
fasilitas-fasilitas pemerintah. Semenjak era pemerintahan Soeharto tercatat beberpa kali terjadi
serangan besar yang dilakukan oleh OPM seperti serangan terhadap kota Jayapura yang dengan
mudah dibasmi oleh TNI, lengkap dengan aksi-aksi pembersihan oleh BIN.

Dalam beberapa tahun terakhir ini kita mendengar mengenai kejadian-kejadian yang mengejutkan
terjadi di Papua, yaitu kasus pengibaran bendera Bintang Kejora, penguasaan sebuah bandara di
propinsi Wamena, penyerangan terhadap kantor polisi, dan yang terakhir adalah penembakan
terhadap seorang WNA asal Australia dan 2 orang warga Indonesia yang bekerja di PT.Freeport
Indonesia di Tembagapura tanggal 12 Juli lalu. Dimana semuanya ini, dapat dipastikan merupakan
tindakan dari Gerakan Papua Merdeka, hanya saja pada kasus terakhir, yaitu kasus penembakan
terhadap seorang WNA itu masih merupakan suatu kemungkinan dilakukan oleh Gerakan Papua
Merdeka.

Dalam beberapa tahun terakhir ini kita mendengar mengenai kejadian-kejadian yang mengejutkan
terjadi di Papua. Dimana semuanya ini, dapat dipastikan merupakan tindakan dari Gerakan Papua
Merdeka, hanya saja pada kasus terakhir, yaitu kasus penembakan terhadap seorang WNA itu
masih merupakan suatu kemungkinan dilakukan oleh Gerakan Papua Merdeka.

Gerakan Papua Merdeka di Papua ini mendapat tanggapan dari rakyat Papua sendiri. ada mereka
yang berpendidikan tinggi serta berwawasan luas. Mereka ini adalah mahasiswa, kaum terpelajar
dan telah menyaksikan ketimpangan sosial antara Papua dan daerah lain di Indonesia, Jawa
misalnya. Mereka biasanya bersikap mendukung gerakan OPM.

Dari berbagai alasan atau sebab-sebab pemberontakan OPM, di Irian Jaya terjadi karena “Ketidak
puasan terhadap keadaan, kekecewaan, dan telah tumbuh suatu kesadaran Nasionalisme
Papua Barat”. Ketidakpuasan terhadap keadaan ekonomi yang buruk pada awal integrasi dan
terutama pada tahun-tahun 1964 , 1965 dan 1966 dan juga terhadap sikap aparat
pemerintah dan Keamanan yang tidak terpuji. Juga tidak puas terhadap sikap memandang
rendah atau sikap menghina orang Irian yang sering sengaja ataupun tidak sengaja
menggeneralisir keadaan suatu suku dengan suku-suku lainnya seperti: Pakai Koteka`, “masih
biadab”, “Bodoh, Jorok”, dan lain sebagainya dimana pada masa pemerintahan Belanda
ungkapan-ungkapan demikian tidak pernah atau dengan mudah diucapkan kepada orang
Irian.

Selama ini pemerintah Indonesia masih belum dapat memecahkan masalah ini dengan baik, baik
untuk pemerintah Indonesia maupun bagi Papua. Dan kita pun semua setidaknya tetap peduli
dengan negeri ini agar tetap bersatu, jangan sampai terpecah, jangan sampai melakukan tindakan
yang meresahkan semua rakyat Indonesia, karena hal ini mengganggu stabilitas dan keamanan
nasional Indonesia. Berdasarkan sumber-sumber yang ada hanya tersisa 2 pilihan bagi Indonesia,
yaitu: melepaskan Papua agar berdiri sendiri atau mempertahankannya, tapi meningkatkan
kualitas pembangunan di sana.

Dan Tentu adanya Gerakan Papua Merdeka di Papua ini mendapat tanggapan dari rakyat
Papua sendiri. mereka yang berpendidikan tinggi serta berwawasan luas. Mereka ini
adalah kaum terpelajar dan telah menyaksikan ketimpangan sosial antara Papua dan
daerah lain di Indonesia, Jawa misalnya. Mereka biasanya bersikap mendukung gerakan
OPM.