Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Risiko merupakan sesuatu yang sering melekat dalam setiap aktivitas. Pada bidang

Keselamatan dan Kesehatan Kerja, risiko yang paling sering diperhatikan adalah risiko

yang berakibat negatif. Risiko tersebut berupa bahaya yang mengancam keselamatan

dan kesehatan kerja karyawan. Untuk menghindari dampak negatif dari risiko tersebut,

perusahaan harus mampu melakukan pengelolaan potensi risiko yang timbul sehingga

peluang terjadi atau akibat yang ditimbulkannya tidak besar.

Dengan kata lain, dengan mengetahui tingkat risiko yang akan terjadi, maka

perusahaan dapat mengetahui bagaimana cara untuk mengurangi dampak yang

ditimbulkannya sehingga risiko tersebut dapat dikendalikan. Oleh karena itu, yang

menjadi fokus utama dalam manajemen risiko keselamatan kerja adalah tindakan

pencegahan atau pengurangan ancaman keselamatan dan kesehatan kerja. Potensi

bahaya (hazard) menjadi problematika bagi perusahaan sebab merupakan sumber

risiko yang potensial mengakibatkan kerugian material, lingkungan, dan manusia.

Salah satu bentuk risiko bahaya yang dapat muncul adalah kecelakaan kerja.

Kecelakaan kerja dapat timbul baik dari lingkungan fisik kerja, perilaku para pekerja,

maupun mesin dan peralatan industri yang digunakan.

Tujuan identifikasi bahaya yaitu untuk menjamin bahwa proses produksi bisa

berjalan secara terus-menerus dengan melindungi pekerja, peralatan dan lingkungan


dari terjadinya kecelakaan kerja. Dengan dilakukannya identifikasi bahaya dan

pencegahannya diharapkan dapat meminimalkan kecelakaan yang terjadi sehingga

dapat dicapai tingkat kecelakaan dengan mendekati 0 (zero accident).

B. Rumusan Masalah

Bagaimana cara memutuskan upaya rantai infeksi pencegahan bahaya fisik, radiasi,

kimia, ergonomic, psikososial.

C. Tujuan

Mengidentifikasi pencegahan yang dapat dilakukan terhadap upaya rantai infeksi

pencegahan bahaya fisik, radiasi, kimia, ergonomic, psikososial.


BAB II

LANDASAN TEORI

A. Upaya memutus Rantai Infeksi Pencegahan Bahaya Fisik, Radiasi, Kimia,

Ergonomic, Psikososial

Ilmu kesehatan kerja mendalami masalah hubungan dua arah antara pekerjaan dan

kesehatan. Pada tahun 1950, satu komisi bersama antara ILO dan WHO menyusun

definisi kesehatan kerja yaitu promosi dan pemeliharaan kesejahteraan fisik, mental,

dan sosial pekerja pada jabatan apapun dengan sebaik-baiknya. Sejumlah kaum

professional yang terlibat dalam bidang ini seperti :

1. Dokter

2. Ahli higiene kerja

3. Ahli toksikologi

4. Ahli mikrobiologi

5. Ahli ergonomi

6. Perawat

7. Sarjana hukum

8. Ahli laboratorium

9. Ahli epidemiologi

10. Insinyur keselamatan

Lingkungan kerja adalah kondisi lingkungan tempat kerja yang meliputi faktor

fisik,
kimia, biologi, ergonomi, dan psikososial yang mempengaruhi pekerjaan dalam

melaksanakan pekerjaannya.

Kesehatan lingkungan kerja adalah ilmu dan seni yang ditunjukkan untuk

mengenal, mengevaluasi dalam mengendalikan semua faktor-faktor dan stres

lingkungan di tempat kerja yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan,

kesejahteraan, kenyamanan dan efisiensi dikalangan pekerjaan dan masyarakat.

a. Tujuan kesehatan lingkungan kerja adalah:

1) Mencegah timbulnya kecelakaan dan penyakit akibat kerja melalui usaha-

usaha pengenalan (recognizion), penilaian (evaluation), dan pengendalian

(control) bahaya lingkungan kerja atau occupational health hazard.

2) Menciptakan kondisi tenpat dan lingkungan kerja yang sehat, aman dan

nyaman, memberikan keuntungan baik kepada perusahaan maupun kepada

karyawan, guna meningkatkan derajat kesehatan, moral dan produktivitas

kerja karyawan.

3) melindungi pekerja dan masyarakat sekitar suatu RS atau perusahaan dari

bahaya-bahaya yang mungkin timbul. Untuk dapat mengantisipasi dan

mengetahui kemungkinan bahaya lingkungan kerja yang diperkirakan dapat

menimbulkan penyakit akibat kerja, utamanya terhadap pekerja, ditempuh

tiga langkah utama yaitu: pengenalan, penilaian dan pengendalian dari

berbagai bahaya dan resiko kerja.

b. Program kesehatan lingkungan kerja: Program kesehatan lingkungan kerja

membicarakan hal-hal yang menyangkut faktorfaktor yang terdapat atau


muncul di lingkungan kerja yang merupakan hazard kesehatan yaitu: Bahaya

fisik, kimia, biologi, psikososial dan ergonomi.

1) Bahaya fisik

Bahaya fisik yang merupakan hazard kesehatan kerja dapat berupa

kebisingan, getaran. Faktor-faktor ini penting diperhatikan dalam tempat

kerja, karena pengaruhnya terhadap kesehatan pekerja dapat berlangsung

dengan segera maupun secara kumulatif.

a) Noise (kebisingan)

Dapat diartikan sebagai suara yang tidak dikehendaki yaitu

dalam bentuk gelombang yang disalurkan melalui benda padat, cair dan

gas. Bunyi dapat didengar oleh telinga karena ada rangsangan pada

telinga oleh getaran. Kualitas suara dapat ditentukan oleh 2 faktor yaitu

frekuensi dan intensitas suara.

Identifikasi kebisingan di tempat kerja. Kebisingan dapat

muncul di tempat kerja karena penggunaan peralatan produksi yang

mengeluarkan suara (seperti mesin-mesin produksi). Jenis-jenis

kebisingan yang dapat ditemukan di tempat kerja adalah:

- Kebisingan kontinyu, yaitu kebisingan yang ditimbulkan oleh

mesin-mesin yang beroperasi terus menerus misalnya suara

generator.

- Kebisingan intermitten, yaitu jenis kebisingan yang ditimbulkan

oleh mesin-mesin yang tidak beroperasi secara terus menerus

melainkan terputus-putus, misalnya mesin gerenda.


- Kebisingan impulsif, yaitu kebisingan yang ditimbulkan oleh

mesin atau peralatan yang oleh karena penggunaannya terjadi

hentakan-hentakan, misalnya mesin pres dan mesin tumbuk.

b) Pengaruh kebisingan :

Pengaruh kebisingan terhadap karyawan dapat dibagi menjadi 2

golongan yaitu:

- pengaruh terhadap kenyamanan yaitu dapat menimbulkan

gangguan pembicaraan, gangguan konsentrasi berpikir serta dapat

menimbulkan stres.

- pengaruh terhadap kesehatan yaitu dapat menimbulkan tuli pada

telinga.

c) Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah atau mengurangi bahaya

dari kebisingan?

- Identifikasi sumber umum penyebab kebisingan, seperti mesin,

system ventilasi, dan alat-alat listrik. Tanyakan kepada pekerja

apakah mereka memiliki masalah yang terkait dengan kebisingan.

- Melakukan inspeksi tempat kerja untuk pajanan kebisingan.

Inspeksi mungkin harus dilakukan pada waktu yang berbeda untuk

memastikan bahwa semua sumber- sumber kebisingan

teridentifikasi.

- Terapkan 'rule of thumb' sederhana jika sulit untuk melakukan

percakapan, tingkat kebisingan mungkin melebih batas aman.


- Tentukan sumber kebisingan berdasarkan tata letak dan

identifikasi para pekerja yang mungkin terekspos kebisingan

- Identifikasi kontrol kebisingan yang ada dan evaluasi efektivitas

pengendaliannya

- Setelah tingkat kebisingan ditentukan, alat pelindung diri seperti

penutup telinga (earplug dan earmuff) harus disediakan dan

dipakai oleh pekerja di lokasi yang mempunyai tingkat kebisingan

tidak dapat dikurangi.

- Dalam kebanyakan kasus, merotasi pekerjaan juga dapat

membantu mengurangi tingkat paparan kebisingan.

d) Fibrasi (Getaran Mekanik)

- Identifikasi Fibrasi

Terdapat beberapa peralatan yang waktu digunakan menimbulkan

getaran, dimana getaran tersebut berakibat timbulnya resonansi

pada alat-alat tubuh sehingga pengaruhnya bersifat mekanis.

Biasanya disalurkan melalui lantai, tempat duduk atau melalui alat

tangan yang digunakan. Misalnya pada saat mengendarai mobil,

traktor dan forklif.

- Pengaruh fibrasi

Pengaruh getaran terhadap tubuh karyawan adalah :

 Menimbulkan gangguan kenyamanan sehingga saat bekerja

merasa tidak nyaman karena penggunaan alat yang

menghasilkan getaran
 Menimbulkan kelelahan

 Menimbulkan bahaya kesehatan.

e) Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah atau mengurangi risiko dari

getaran?

- Mengendalikan getaran pada sumbernya dengan mendesain ulang

peralatan untuk memasang penyerap getaran atau peredam kejut.

- Bila getaran disebabkan oleh mesin besar, pasang penutup lantai

yang bersifat menyerap getaran di workstation dan gunakan alas

kaki dan sarung tangan yang menyerap kejutan , meskipun itu

kurang efektif dibanding di atas.

- Ganti peralatan yang lebih tua dengan model bebas getaran baru.

- Batasi tingkat getaran yang dirasakan oleh pengguna dengan

memasang peredam getaran pada pegangan dan kursi kendaraan

atau sistem remote control.

- Menyediakan alat pelindung diri yang sesuai pada pekerja yang

mengoperasikan mesin bergetar, misalnya sarung tangan yang

bersifat menyerap getaran (dan pelindung telinga untuk kebisingan

yang menyertainya.)

2) Bahaya Radiasi

a) Identifikasi radiasi di tempat kerja.

Radiasi adalah hazard kesehatan di lingkungan tempat kerja dan dibagi

menjadi 2 golongan yaitu radiasi mengion dan radiasi tidak mengion


b) Radiasi mengion. Umumnya dapat ditemui di tempat kerja karena

penggunaan alat yang menggunakan bahan radiasi. Atau mempunyai

inti yang tersusun dari proton dan neutron. Proton mempunyai muatan

positif dan neutron bermuatan negatif. Radiasi mengion dibagi menjadi

5 jenis yaitu: radiasi sinar alfa, beta, gamma, sinar X dan neutron.

c) Radiasi tidak mengion Sinar adalah murni energi disebut sebagai energi

elektromagnetik dan keran karakternya barbagai jenis sinar mengacu

pada karasteristik gelombang. Energi sinar berkaitan dengan panjang

gelombang. Panjang gelombang yang lebih pendek energinya lebih

tinggi. Yang termasuk radiasi tidak mengion adalah gelombang mikro

(microwave), sinar laser, sinar inframerah dan sinar ultraviolet.

d) Pengaruh radiasi terhadap kesehatan tergantung dari jenis radiasi yang

terdapat di lingkungan tempat kerja. Efek radiasi umumnya akan

menimbulkan luka bakar pada jaringan tubuh yang terkena.

- Pengaruh gelombang mikro terhadap tubuh terutama adalah

gangguan terhadap faali tubuh

- Sinar inframerah dapat menyebabkan katarak pada mata

- Sinar ultraviolet dapat meyebabkan konjungtivitis, bagi orang

yang kulitnya kurang pigmen yang terpapar dapat menyebabkan

kanker kulit.

- Sinar X dan gamma dapat mnenyebabkan luka bakar, impotensi,

kerusakan pada hipoitik dan leukimia.


- Sinar alfa dan beta dapat menyebabkan kelainan pada daerah yang

terkena /terpapar danmenimbulkan kelainan kronis yang akhirnya

dapat terjadi pada jaringn-jaringan yang lebihpeka.

3) Bahaya kimia

Dalam program kesehatan lingkungan kerja, masalah hazard kimia

mempunyai permasalahan yang sangat kompleks dan memerlukan

perhatian khusus. Hal ini karena hazards kimia disamping jumlahnya yang

beredar di sektor industri sangat banyak, maka pengaruhnya terhadap

kesehatan pun sangat bervariasi. Mulai dari yang dapat menimbulkan

gangguan, luka, alergi sampai menimbulkan penyakit, malah dalam

konsentrasi tertentu bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh dapat

langsung menimbulkan kematian.

a) Identifikasi hazards kimia dan identifikasi bahwa di dalam udara

tempat kerja terdapat hazards kimia, kita harus mengetahui bahan kimia

yang digunakan sebagai raw materials, hasil produksi, dan hasil

sampingannya (by-product). Informasi penting lainnya yang

diperlukan dapat diperoleh dari Material Safety Data Sheet (MSDS),

yaitu yang harus disuplai oleh pabrik atau importir bahan kimia

tersebut.

b) Jenis kontaminan udara

Pembagian bahan kimia yang merupakan kontamina (pencemar) udara

dapat digolongkan menjadi:


- Dust (Debu).

Debu adalah partikel padat yang dihasilkan oleh perlakuan,

penghancuran, pengendaraan, ledakan, dan pemecahan terhadap

material organik dan anorganik, seperti batu, biji besi, metal, batu

bara, kayu, dan biji-bijian. Debu yang mempunyai ukuran 5-10

mikrometer akan tertahan pada saluran pernapasan bagian atas.

Partikel atau debu berukuran 3-5 mikrometer akan tertahan pada

saluran pernapasan bagian tengah, sedangkan debu yang berukuran

1-3 mikrometer akan tertinggal pada permukaan alveoli paru-paru.

Debu yang berukuran kurang dari 0.1 mikrometer akan bergerak

keluar masuk alveoli.

- Fumes (upa cair)

Fumes adalah partikel padat yang terbentuk dari kondensasi tahap

gas, umumnya terjadi karena penguapan setelah benda terlebur dan

diameter kurang dari 1.0 mikrometer. Pengelasan (welbing),

penyolderan yang tidak cukup panas dan pekerjaan lainnya akan

menghasilkan fumes.

- Smoke (asap)

Asap terdiri dari unsur karbon atau partikel jelaga yang ukurannya

kurang dari 0.1 mikrometer. Dihasilkan dari pembakaran tidak

sempurna dari benda yang mengandung karbon seperti batu bara

dan minyak. Asap umumnya mengandung titik-titik (droplets)

partikel kering.
- Mists (Kabut)

Kabut adalah titik-titik cairan halus (liquid droplets) yang

terbentuk dari kondensasi uap kembali menjadi bentuk cair, atau

pemecahan dari bentuk cair menjadi tingkat terdepresi, seperti

proses deburan air (spashing, forming, pemecahan atom

cairan/atomizing).

- Gas

Gas adalah bentuk zat yang tidak mempunyai bangun tersendiri,

melainkan mengisi ruangan tertutup pada kondisi suhu dan tekanan

normal. Bentuknya dapat berubah menjadi cair pada kondisi suhu

dan tekana yang tinggi.

- Vaspors (uap)

Vaspor (uap) adalah bentuk penguapan dari benda yang dalam

keadaan normal dalam bentuk padat atau cair. Penguapan adalah

proses dari sautu bentuk cair ke bentuk uap bercampur dengan

udara sekitarnya. Dengan mengetahui mengetahui bentuk dan

ukuran-ukuran bahan pencemaran udara adalah penting dalam

program kesehatan lingkungan kerja (pengenalan,evaluasi,

pengendalian hazards) dan juga dalam menentukan pemilihan alat

pelindung diri yang tepat.

c) Jalan masuk bahan kimia ke dalam tubuh

Terdapat 2 cara dimana bahan kimia dapat masuk ke dalam tubuh

manusia, yaitu melalui:


- Saluran Pernapasan

Bahan kimia yang merupakan kontaminan udara dapat langsung

terhirup melalui alat pernapasan. Bahan kimia yg masuk melalui

paru- paru dapat langsung masuk ke dalam aliran darah, dan oleh

darah tersebut terbawa ke seluruh tubuh. Kulit juga merupakan

pintu masuk bahan kimia ke dalam tubuh, yaitu melalui car

absorpsi. Beberapa bahan kimia dapat terserap oleh lubang rambut,

terserap pada lemak dan minyak kulit seperti senyawa organik,

pestisida organopirospate. Bahan kimia yg tereabsorpsi melalui

kulit tersebut dapat menimbulkan kercunan secara sistemik.

- Saluran pencernaan

Di tempat kerja orang tidak sadar dan sengaja terminum atau

termakan bahan kimia beracun. Oleh karena itu pekerja tidak

diperkenankan makan, minum, atau merokok ditempat kerja.

Sebelum makan dan minum diharuskan mencuci tangan dengan

bersih. Bahan kimia beracun yang terserap melalui cairan alat

pencernaan dapat masuk ke dalam darah melalui sistem

saluran pencernaan tersebut.

d) Pengaruh bahan kimia terhadap kesehatan

Setelah kita mengetahui jalan masuknya bahan kimia beracun dalam

tubuh, penting untuk mengetahui pengaruh yang berbeda- beda

antar`jenisnya. Selain itu, perlu diketahui bahwa masing- masing jenis

bahan kimia beracun mempunyai target organ yang berbeda pula.


Bahan kimia beracun berdasarkan efeknya terhadap kesehtan secara

umum, digolongkan menjadi:

 Iritan

Bahan kimia bersifat iritan adalah yang menyebabkan iritasi

pada jaringan tubuh yang terkena. Efek utama adalah

menimbulkan peradangan oleh karena kontak langsung. Iritan

sekunder bisa mengakibatkan reaksi yang merugikan, tetapi efek

ini kecil dibandingkan efek sistemik pada keseluruhan.

 Systemic poisons

Dalam membedakan bahan yang bersifat iritasi yang bisa

menyebabkan reaksi lokal pada daerah yang terkena, maka

keracunan sistemik adalah terserapnya bahan kimia oleh tubuh

yang bisa menyebabkan kerusakan pada sistem fisiologis internal

tubuh oleh karena aksi langsung/ tak langsung.

 Asphyxiants

Bahan kimi ayang mempunyai sifat asfiksian adalah bahan

kima yang dapat menyebabkan kesulitan bernapas, sehinggga

menimbulkan mati lemas, misalnya nitrogen. Asfiksian dapat

mencegah oksigen dalam darah, menghalangi transportasi oksigen

oleh darah ke jaringan tubuh atau mencegah oksigenasi jaringan.


 Sensitizers

Merupakan bahan kimia yang mempunyai aksi sensitif

terhadap jaringan tubuh yang dapat menyebabkan individu

menjadi laergi. Akibat lain jika kontak dengan kulit dapat

menyebabkan keracunan.

 Narcotics dan anasthetics

Bahan kimia yang bersifat narkotik dan anastetik dalam dosis

rendah dapar berinteraksi dengan sistem saraf pusat, sehingga

menyebabkan perasaan mengantuk. atau perasaan tidak sensitif

(kebal). Dalam dosis tinggi akan menyebabkan reaksi bawah sadar,

lemas, koma, bahkan sampai meningggal.

 Fibrogenic dosis

Debu jenis ini bila terdeposit dalam jaringan dapat

menyebabkan pengerasan pada jaringan tersebut

 Nuisance material

Merupakan bahan- bahan yang dapat menggangu kenyamanan

pada tingkat rendah dan itu menghasilkan efek toksik dan kadang-

kadang tidak dipedulikan sebagai bahan yang menggangu.

4) Bahaya ergonomi

Ergonomi sebagai ilmu, teknologi dan seni berupaya menyerasikan

alat, cara, proses, dan lingkungan kerja terhadap kemampuan, kebolehan

dan batasan manusia untuk terwujudnya kondisi dan lingkungan kerja yang
sehat, aman, nyaman, dan tercapai efisiensi yg setinggitingginya.

Pendekatan ergonomi bersifat konseptual dan kuratif, secara popular kedua

pendekatan tersebut dikenal sebagai To fit the Job to the Man to the Job.

Sebagian besar pekerja diperkantoran atau pelayanan kesehatan

pemerintah, bekerja dalam posisi yang kurang ergonomis, misalnya tnaga

operator peralatan, hal ini disebakan peralatan yang digunakan pada

umumnya barang impor yang desainnya tidak sesuai dengan ukuran pekerja

Indonesia.

Posisi kerja yang salah dan dipaksakan dapat menyebabkan mudah

lelah sehingga kerja menjadi kurang efisien dan dalam jangka panjang dapat

menyebabkan gangguan fisik dan psikologis (stres) dengan keluhan yang

paling sering adalah nyeri pinggang kerja (low back pain). Work station

design adalah bagaimana kita mendesain atau membuat suatu tempat kerja

menjadi nyaman dan tidak menimbulkan kelelahan, termasuk disini adalah

bagaimana mengatur atau meletakkan peralatan kerja yang digunakan.

Workplace design adalah menyangkut masalah berapa kebutuhan

minimal ruangan yang diperlukan sehingga seseorang dapat melakukan

pekerjaannya dengan cukup leluasa.

a) Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah atau meminimalkan bahaya

organisasi kerja dan ergonomis?

- Menyediakan posisi kerja atau duduk yang sesuai, meliputi

sandaran, kursi / bangku dan / atau tikar bantalan untuk berdiri.


- Desain workstation sehingga alat-alat mudah dijangkau dan bahu

pada posisi netral, rileks dan lengan lurus ke depan ketika bekerja.

- Jika memungkinkan, pertimbangkan rotasi pekerjaan dan

memberikan istirahat yang teratur dari pekerjaan intensif. Hal ini

dapat mengurangi risiko kram berulang dan tingkat kecelakaan dan

kesalahan.

5) Bahaya psikososial

Yang berkaitan aspek sosial psikologis maupun organisasi pada pekerjaan

dan lingkungan kerja yang dapat memberi dampak pada aspek fisik dan

mental pekerja. Seperti misalnya pola kerja yang tak beraturan, waktu kerja

yang diluar waktu normal, beban kerja yang melebihi kapasitas mental,

tugas yang tidak bervariasi , suasana lingkungan kerja yang terpisah atau

terlalu ramai dll sebagainya.

Beberapa contoh faktor psikososial di laboratorium kesehatan yang dapat

menyebabkan stres :

a) Pelayanan kesehatan seringkali bersifat emergensi dan menyangkut

hidup mati seseorang. Untuk itu pekerja di lab. Kesehatan dituntut

untuk memberikan pelayanan yang tepat dan cepat disertai dengan

kewibawaan dan keramah tamahan.

b) Pekerjaan pada unit2 tertentu yg sangat monoton.

c) Hubungan kerja yang kurang serasi antara pimpinan dan bawahan atau

sesama teman kerja


d) Beban mental karena menjadi panutan bagi mitra kerja di nsektor

formal ataupun informal.

6) Upaya / pengendalian bahaya

- Eliminasi/penghilangan

- Substansi/mengganti material yang lebih aman

- Minimalisasi/pengurangan jumlah material yang digunakan

- Enginering/disain/baik pada sumber, pemajanan, pemisahan jarak

waktu, pemisahan lokasi pekerja dengan pekerjaan

- Administrasi : perubahan proses, rotasi kerja

- Pelatihan

- Pemberian alat pelindung diri/ APD


BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dengan melaksanakan K3 akan terwujud perlindungan terhadap tenaga kerja

dari risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang dapat terjadi pada waktu

melakukan pekerjaan di tempat kerja. Dengan dilaksanakannya perlindungan K3,

diharapkan akan tercipta tempat kerja yang aman, nyaman, sehat dan tenaga kerja

yang produktif, sehingga akan meningkatkan produktivitas kerja dan produktivitas

perusahaan. K3 sangat besar peranannya dalam upaya meningkatkan produktivitas

perusahaan, terutama dapat mencegah korban manusia.

Dengan demikian untuk mewujudkan K3 perlu dilaksanakan dengan

perencanaan dan pertimbangan yang tepat, dan salah satu kunci keberhasilannya

terletak pada peran serta pekerja sendiri baik sebagai subyek maupun obyek

perlindungan dimaksud dengan memperhatikan banyaknya risiko yang diperoleh.

B. SARAN

Jagalah keselamatan anda dalam kondisi yang aman dan patuhilah pada

peraturan rambu lalu lintas agar tidak terjadi kecelakaan dan mengurangi risiko

kecelakaan.
DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang No. 1 Tahun 2007 Tntang Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Harrington, J.M.2003. Buku Saku Kesehatan Kerja-Ed. 3. Jakarta: EGC

sistemmanajemenkeselamatankerja.blogspot.com

http://www.updatenya.com/2012/12/sejarah-perkembangan-k3-di-dunia.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_risiko

http://www.lontar.ui.ac.id/file?file=digital/124267-S-5668-Studi%20terhadap-

Literatur.pdf

healthsafetyprotection.com/…dasar-keselamatan-kerja

http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-12483-Chapter1.pdf

http://s2informatics.files.wordpress.com/2007/11/introduction.pdf

http://id.wikipedia.org/wiki/Kesehatan_dan_keselamatan_kerja