Anda di halaman 1dari 15

74

4.2 Pembahasan

Asuhan keperawatan yang dilakukan oleh penulis diruang Cendrawasih di

Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung selama 5 hari, penulis menemukan

beberapa kesenjangan antara teori dan pelaksanaan di lapangan. Hal-hal

tersebut antara lain :

1) Pengkajian

Menurut Satrio KS (2015: 34) pengkajian yang dapat ditemukan pada

kasus prilaku kekersan yaitu data subjektif: ungkapan berupa ancaman,

ungkapan kata-kata kasar,ungkapan ingin memukul atau melukai,

sedangkan data objektif wajah merah dan tegang, pandangan tajam,

mengatupkan rahang dengan kuat, menggepalkan tangan dan suara tinggi,

menjerit/berteriak

Klien 1

Pada pengkajian terhadap Tn .E didapatkan data subjektif :

klien mengatakan mengamuk marah-marah saat keinginan nya tidak

dipenuhi, klien mengatakan memukuli orang lain jika marah, klien

mengatakan melukai bahkan membunuh ayah kandungnya, klien

mengatakan seing mendengar suara tanpa ada wujudnya seperti suara tv

yang tidak jelas, klien mengatakan suranya terdengar selama 2 menit, klien

mengatakan suaranya muncul pada saat malam dan pagi hari,klien

mengatakan sampai saat ini suara itu selalu membisikinya, Klien

mengatakan merasa malu dan minder dengan keadaannya, klien

mengatakan merasa tidak berguna karena tidak bisa mencari nafkah, klien
75

mengatakan pernah dipenjara, klien mengatakan ingin cepat pulang, klien

mengatakan jarang gosok gigi dan malas mandi, klien mengatakan

memakai baju longgar dan seadanya, klien mengatakan hanya mandi

sehari sekali, klien mengatakan kurang mengerti tentang obat,klien

mengatakan pernah putus satu tahun minum obat, klien mengatakan

kurang mengerti tentang penyakitnya yang tak kunjung sembuh

Data objektif : sorot mata tajam, klien tampak mengepalkan tangan, klien

terlihat mondar mandir, bicara klien keras dan berulang ulang, Klien

tampak sering menutup telinga, klien tampak sering berbicara sendiri,

klien tampak malas bersosialisasi di ruangan, klien tampak tidak banyak

bicara, gigi klien tampak kotor dan hitam, kuku klien tampak panjang dan

kotor, klien tampak tidak mengerti tentang obat obatan.

Klien 2

Pada pengkajian Tn. S didapatkan data subjektif : klien mengatakan sering

marah-marah apa bila keinginannya tidak dipenuhi, klien mengatakan

apabila marah sering membanting barang, klien mengatakan sering marah

sampai memukuli orang lain bahkan sampai melukai pamannya sendiri

dengan senjata tajam, klien mengatakan sering mendengar suara tidak jelas

tanpa wujudnya seperti suara menangis, klien mengatakan suara terdengar

selama 3 menit, klien mengatakan suaranya muncul pada saat malam hari,

klien mengatakan suara-suara itu selalu membisikinya sehingga dia

menjadi pusing, klien mengatakan sering menyendiri di ruangan, klien

mengatakan malas berbicara dengan orang lain, klien mengatakan tidak


76

mau bergabung dengan yang lain, klien mengatakan merasa malu dan

minder, klien merasa tidak berguna dengan keadaannya sekarang, klien

mengatakan ingin cepat pulang, klien mengatakan memakai baju longgar

dan seadanya, klien mengatakan jarang gosok gigi dan malas mandi, klien

mengatakan jarang gosok gigi, klien mengatakan kurang mengerti tentang

obat-obatan, klien mengatakan kurang mengerti tentang penyakitnya.

Data objektif : sorot mata tajam, klien mengepalkan tangan, klien terlihat

mondar mandir, klien tampak sering menutup telinganya, klien tampak

terkadang berbicara sendiri, klien tampak sering menyendiri, klien tampak

tidak banyak bicara, klien tampak malas bersosialisasi diruangan, klien

tidak mau memulai pembicaraan, rambut klien tampak tidak rapih, gigi

klien tampak kotor, klien tampak tidak mengerti tentang obat obatan, klien

tampak tidak mengerti tentang penyakitnya.

Keterangan :

Terdapat kesenjangan antara teori dan pada tinjauan kasus setelah

dilakukan pengkajian yaitu bahwa teori mengatakan ditemukan tanda dan

gejala resiko perilaku kekerasan terdapat data subjektif ungkapan berupa

ancaman, ungkapan kata-kata kasar, ungkapan ingin memukul atau

melukai, sedangkan data objektif wajah merah dan tegang, pandangan

tajam, mengatupkan rahang dengan kuat, menggepalkan tangan dan suara

tinggi, menjerit/berteriak, sedangkan pada kasus yang peneliti dapatkan

pada saat dilakukan pengkajian pada Tn.E dan Tn.S didapatkan data
77

bahwa pada pengkajian terhadap Tn .E didapatkan data subjektif: klien

mengatakan mengamuk marah-marah saat keinginan nya tidak dipenuhi,

klien mengatakan memukuli orang lain jika marah, klien mengatakan

melukai bahkan membunuh ayah kandungnya, Data objektif : sorot mata

tajam, klien tampak mengepalkan tangan, klien terlihat mondar mandir,

bicara klien keras dan berulang ulang sedangkan pada Tn. S, Data

subjektif: klien mengatakan sering marah-marah apa bila keinginannya

tidak dipenuhi, klien mengatakan apabila marah sering membanting

barang, klien mengatakan sering marah sampai memukuli orang lain

bahkan sampai melukai pamannya sendiri dengan senjata tajam. Data

objektif : sorot mata tajam, klien mengepalkan tangan, klien terlihat

mondar mandir,

Jadi peneliti menemukan kesenjangan pada data objektifnya yaitu pada

Tn.E dan Tn.S, klien terlihat mondar-mandir, dan tidak terdapat data klien

tampak mengatupkan rahang dengan kuat, sedangkan pada teori buku

Sartio tidak terdapat data klien terlihat mondar- mandir, dan terdapat klien

tampak mengatupkan rahangnya dengan kuat.

Oleh karena itu menurut teori (Satrio KS, dkk, 2015) bahwa Tn.E dan Tn.S

sudah masuk ke tahapan III resiko perilaku kekerasan yaitu tahap krisis

dimana perasaan nya peningkatan kemarahan dan agitasi, perilakunya

gerakan mengancam menyerang orang disekitarnya dan berdasarkan data

subjektfnya muncul terdapat kalimat verbal ( kalimat acaman dan ingin

membunuh).
78

Rentang respon resiko perilaku kekerasan menurut (Satrio KS, dkk, 2015)

dan asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada Tn.E dan Tn.S yaitu

sesuai dengan teori, Tn.E dan Tn.S sudah masuk ke rentang respon

maladaptif yaiu amuk perasaan marah dan bermusuhan kuat yang disertai

kehilangan kontrol diri sehingga individu dapat merusak diri sendiri,

oranglain dan lingkungan.

Penatalaksanaan medik yang telah diberikan mempunyai kesenjangan

diantanya menurut teori obat yang diberikan CPZ, Amitripyline,

diazepam, pheneobarbital. Sedangkan pada kasus yang ditemukan pada

Tn.E dan Tn.S yaitu pada Tn.E Resperidon, Triheksilpinidil, CPZ

sedangkan pada Tn. S yaitu Resperidon, Triheksilpinidil, CPZ, dan juga

diberikan Depacote oleh karena itu pada Tn.S diberian obat Depacote

karena klien apa bila mengamuk sampai kejang, sedangkan pada Tn.E

tidak diberikan depakot karena apabila klien mengamuk ataupun marah-

marah tidak timbul kejang.

Mekanisme koping yang muncul pada klien resiko perilaku kekerasan

menurut teori (Satrio KS, dkk, 2015) dan asuhan keperawatan yang

dilakukan pada Tn.E dan Tn.S yaitu memiliki kesenjangan bahwa pada

Tn.E dan Tn.S ini apa bila ada masalah mereka berdiam diri saja dan

disimpan dalam hati sedangkan menurut teori bahwa mekanisme koping

yang terjadi yaitu sublimasi: melampiaskan kemarahan pada suatu objek


79

seperti adonan kue dan benda atupun tembok, proyeksi: menyalahkan

orang lain untuk membela dirinya, regresi: melkukan aktivitas kegiatan

sehari-hari, deplacemen:melepaskan perasaan yang tertekan biasanya

dengan bermusuhan, jadi mekanisme koving yang terjadi pada Tn.E dan

Tn.S tidak epektif.

Pohon masalah yang muncul pada klien resiko perilaku kekerasan menurut

teori (Satrio KS, dkk, 2015) adalah resiko tinggi prilaku kekerasan, resiko

menciderai diri, resiko mencidrai oranglain dan lingkungan, harga diri

rendah. Pada Tn.E pohon masalah yang muncul yaitu Resiko prilaku

kekerasan, resiko mencidrai diri sendiri, resiko mencidrai orang lain dan

lingkungan, halusinasi pendengaran, harga diri rendah, , difisit perawatan

diri, kurang pengetahuan obat-obatan dan penyakit. Sedangkan Pada Tn.E

yaitu Resiko prilaku kekerasan, resiko menciderai diri sendiri, resiko

menciderai orang lain dan lingkungan, halusinasi pendengaran, isolasi

sosial, harga diri rendah, , difisit perawatan diri, kurang pengetahuan obat-

obatan dan penyakit.

keterangan:

Terdapat pohon masalah keperawatan yang muncul tidak sesuai dengan

teori yitu: Isolasi sosial dan halusinasi pendengaran, defisit perawatan diri

kurang pengetahuan obat-obatan dan penyakit, penulis angkat masalah ini

karena terdapat data yang menunjang. Dan perbedaan antara Tn,E dan

Tn.S yaitu pada Tn. E tidak terdapat pohon masalah diagnosa isolasi sosial
80

sedangkan pada Tn. S terdapat pohon masalah diagnose isolasi sosial, jadi

penulis angkat masalah ini. Tetapi penulis menjadikan resiko perilaku

kekerasan sebagai masalah pertama karena hasil pengkajian banyak

ditemukan masalah-masalah keperawatan resiko perilaku kekerasan,

sehingga penulis menjadikan suatu masalah utama yang harus segera

diatasi dengan pertimbangan jika masalah resiko perilaku kekerasan dapat

diatasi maka diharapkan masalah yang lainpun teratasi.

2) Diagnosis

Diagnosis yang muncul pada klien resiko prilaku kekerasan menurut teori

(Satrio KS, dkk, 2015) adalah resiko tinggi prilaku kekerasan, resiko

menciderai diri dan lingkungan, harga diri rendah.

Klien 1

Resiko prilaku kekerasan, harga diri rendah, halusinasi pendengaran,

difisit perawatan diri.

Klien 2

Resiko prilaku kekerasan, isolasi sosisl, harga diri rendah, halusinasi

pendengaran, difisit prawatan diri..

keterangan:

Terdapat masalah keperawatan yang muncul tidak sesuai dengan teori

yaitu: isolasi sosial dan halusinasi pendengaran, defisit perawatan diri

penulis angkat masalah ini karena terdapat data yang menunjang.

Perbedaan antara Tn.E dan Tn.S yaitu pada Tn. E tidak terdapat diagnosa
81

isolasi sosial sedangkan pada Tn. S terdapat diagnose isolasi sosial, jadi

penulis angkat masalah ini. Tetapi penulis menjadikan resiko perilaku

kekerasan sebagai masalah pertama karena hasil pengkajian banyak

ditemukan masalah keperawatan resiko perilaku kekerasan, sehingga

penulis menjadikan suatu masalah utama yang harus segera diatasi dengan

pertimbangan jika masalah resiko perilaku kekerasan dapat diatasi maka

diharapkan masalah yang lainpun teratasi.

3) Perencanaan

Perencanaan menurut Keliat, B.A, (2005) dalam buku Satrio (2015 : 35)

untuk perencanaan resiko prilaku kekerasan adalah sp 1 (membantu pasien

mengenal resiko perilaku kekerasan, menganjurkan klien mengontrol

resiko perilaku kekerasan dengan cara : latihan fisik, tarik nafas dalam dan

pukul bantal), sp 2 (melatih pasien menggunakan obat secara teratur), sp

3(melatih pasien mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan verbal

(meminta, mengungkapkan, dan menolak dengan benar), sp 4 (melatih

pasien mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan cara melakukan

aktifitas spiritual 2 kegiatan terjadwal).

Klien 1

Perencanaan resiko perilaku kekerasan pada Tn. E adalah sp 1 (membantu

pasien mengenal resiko perilaku kekerasan, menganjurkan klien

mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan cara : latihan fisik, tarik

nafas dalam dan pukul bantal), sp 2 (melatih pasien menggunakan obat


82

secara teratur), sp 3(melatih pasien mengontrol resiko perilaku kekerasan

denagan verbal (meminta, mengungkapkan, dan menolak dengan benar),

sp 4 (melatih pasien mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan cara

melakukan aktifitas spiritual 2 kegiatan terjadwal).

Klien 2

Perencanaan resiko perilaku kekerasan pada Tn. E adalah sp 1 (membantu

pasien mengenal resiko perilaku kekerasan, menganjurkan klien

mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan cara : latihan fisik, tarik

nafas dalam dan pukul bantal), sp 2 (melatih pasien menggunakan obat

secara teratur), sp 3(melatih pasien mengontrol resiko perilaku kekerasan

denagan verbal (meminta, mengungkapkan, dan menolak dengan benar),

sp 4 (melatih pasien mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan cara

melakukan aktifitas spiritual 2 kegiatan terjadwal).

Keterangan :

Perbedaan perencanaan antara Tn. E dan Tn. S hanya berbeda waktu

dalam perencanaan nya saja dikarenakan perencanan antara Tn. E dan

Tn.S yaitu sama sesuai dengan sp nya yang telah ditetapkan.

4) Pelaksanaan

Klien 1

Pelaksanaan dari semua perencanaan pada Tn.E dengan masalah utama

dapat dilakukan akan tetapi sp 1 (membantu pasien mengenal resiko

perilaku kekerasan menjelaskan cara-cara mengontrol resiko perilaku


83

kekerasan, dan menganjurkan klien mengontrol resiko perilaku kekerasan

dengan cara; latihan fisik tarik nafas dalam dan pukul bantal) dapat

dilakukan meskipun dengan bantuan prawat, sp 2 (melatih pasien

mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan mengenal obat 6 benar)

klien dapat melakukannya meskipun dengan bantuan perawat, sp 3

(melatih pasien mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan cara verbal)

klien dapat melakukan nya meskipun dengan bantuan perawat, sp 4

(melatih pasien dengan cara sepiritual 2 kegiatan) klien dapat

melakukannya meskipun dengan bantuan perawat. Untuk sp keluarga tidak

dapat dilakukan karena selama melakukan asuhan keperawatan terhada Tn.

E diruangan Cendrawasih Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung,

keluarga klien tidak ada yang menjenguk klien.

Klien 2

Pelaksanaan dari semua perencanaan pada Tn.S dengan masalah utama

dapat dilakukan akan tetapi sp 1 (membantu pasien mengenal resiko

perilaku kekerasan menjelaskan cara-cara mengontrol resiko perilaku

kekerasan, dan menganjurkan klien mengontrol resiko perilaku kekerasan

dengan cara; latihan fisik tarik nafas dalam dan pukul bantal) dapat

dilakukan meskipun dengan bantuan prawat, sp 2 (melatih pasien

mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan mengenal obat 6 benar)

klien dapat melakukannya meskipun dengan bantuan perawat, sp 3

(melatih pasien mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan cara verbal)


84

klien dapat melakukannya meskipun dengan bantuan prawat, sp 4 (melatih

pasien dengan cara sepiritual 2 kegiatan) klien dapat melakukannya

meskipun dengan bantuan perawat. Untuk sp keluarga tidak dapat

dilakukan karena selama melakukan asuhan keperawatan terhada Tn. E

diruangan Cendrawasih Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung,

keluarga klien tidak ada yang menjenguk klien.

Keterangan :

Perbedaan pada saat melakukan pelaksanaan perencanaan yaitu antara Tn.

E Lebih cepat dalam melakukan yang diajarkan dan lebih kooperatif

sedangkan pada Tn. S sedikit lambat dalam melakukan latihan yang

diajarkan dan klien juga sudah kooperatif dan menurut teori klien sudah

cukup dapat melakukan apa yang diajarkan meskipun dengan bantuan

perawat.

5) Evaluasi

Klien 1

Evaluasi keperawatan yang penulis lakukan pada Tn. E, dapat

dilaksanakan sesuai dengan teori yaitu sp 1 klien dapat membina

hubungan saling percaya dan dapat mengenali resiko perilaku kekerasan,

klien dapat mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan dengan cara

latihan fisik.

Sp 2 klien dapat menggunakan obat secara teratur dan mengetahui sedikit

manfaat obat yang diminum oleh klien.


85

Sp 3 melatih pasien mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan cara

verbal mampu melakukannya dengan bantuan perawat

Sp 4 melatih pasien dengan cara sepiritual 2 kegiatan klien dapat

melakukannya meskipun dengan bantuan perawat dan mau melaksanakan

sholat. Sedangkan hasil yang telah tercapai adalah sistem pendukung dari

keluarga karena selama dirawat abang dan istri klien menjenguk klien ke

Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi lampung.

Klien 1

Evaluasi keperawatan yang penulis lakukan pada Tn. S, dapat

dilaksanakan sesuai dengan teori yaitu sp 1 klien dapat membina

hubungan saling percaya dan dapat mengenali resiko perilaku kekerasan,

klien dapat mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan cara latihan fisik.

Sp 2 klien dapat menggunakan obat secara teratur dan mengetahui sedikit

manfaat obat yang diminum oleh klien.

Sp 3 melatih pasien mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan cara

verbal mampu melakukannya dengan bantuan perawat

Sp 4 melatih pasien dengan cara sepiritual 2 kegiatan klien dapat

melakukannya meskipun dengan bantuan perawat dan mau melaksanakan

sholat. Sedangkan hasil yang belum tercapai adalah sistem pendukung dari

keluarga karena selama dirawat tidak ada keluarga menjenguk klien ke

Rumah Sakit Jiwa daerah Provinsi lampung


86

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Setelah dilakukan asuhan keperawatan pada Tn. E dan Tn.S dengan masalah

utama resiko perilaku kekerasan di ruangan Cendrawasih Rumah Sakit Jiwa

Provinsi Lampung pada tanggal 05-09 Juni 2017 dapat diambil kesimpulan

antara lain:

Klien 1

a) Hasil pengkajian pada Tn.E di dapatkan masalah utama resiko perilaku

kekerasan, dan klien sudah memasuki tahap III yaitu tahap krisis, rentang

respon perilaku kekerasan yang tejadi yaitu respon maladaptif,

mekanisme koving yang terjadi pada Tn.E yaitu mekanisme koping tidak

epektip, penatalaksanaan medik yang di berikan sesuai dengan kebutuhan

klien, dan permasalahan yang harus segera diselesaikan yaitu resiko

perilaku kekerasannya dikarenakan menurut peneliti apabila resiko

perilku kekerasannya bisa teratasi, maka mudah-mudahan masalah yang

lain pun teratasi.

b) Diagnosa yang ditemukan pada Tn. E adalah resiko perilaku kekerasan,

halusinasi pendengaran, harga diri rendah, defisit prawatan diri dan harga

diri rendah

c) Intervensi yang tidak dilakukan adalah sp keluarga, karena selama

perawat melakukan asuhan keperawatan pada tanggal 05-09 Juni 2017

87
87

keluarga hanya mampir sebentar untuk menjengguk klien dan peneliti

tidak bertemu dengan keluarga klien.

d) Evaluasi yang diharapkan belum sesuai dengan tujuan karena klien masih

belum mampu mengulang kembali apa yang sudah diajarkan selama

prawat melakukan asuhan keperawatan pada tanggal 05-09 Juni 2017

Klien 2

a) Hasil pengkajian pada Tn.S di dapatkan masalah utama resiko perilaku

kekerasan, dan klien sudah memasuki tahap III yaitu tahap krisis, rentang

respon perilaku kekerasan yang tejadi yaitu respon maladaptif, mekanisme

koving yang terjadi pada Tn.E yaitu mekanisme koping tidak epektif,

penatalaksanaan medik yang di berikan sesuai dengan kebutuhan klien

hanya berbeda satu macam obat saja dari klien 1 yaitu diberikan obat

depacote dikarnakan klien sering kejang apabila marah, dan permasalahan

yang harus segera diselesaikan yaitu resiko perilaku kekerasannya

dikarenakan menurut peneliti apabila resiko perilku kekersannya bisa

teratasi maka mudah-mudahan masalah yang lain pun teratasi.

b) Diagnosa yang ditemukan pada Tn. S adalah resiko perilaku kekerasan,

halusinasi pendengaran, isolasi sosial harga diri rendah, defisit perawatan

diri dan harga diri rendah

c) Intervensi yang tidak dilakukan adalah sp keluarga, karena selama

perawat melakukan asuhan keperawatan pada tanggal 05-09 Juni 2017

tidak bertemu dengan keluarga klien.


88

d) Evaluasi yang diharapkan belum sesuai dengan tujuan karena klien masih

belum mampu mengulang kembali apa yang sudah di ajarkan selama

perawat melakukan asuhan keperawatan pada tanggal 05-09 Juni 2017

5.2 Saran

a) Pengkajian diharapkan lebih teliti agar dalam melakukan suatu penelitian

yang akurat dan sesuai dengan faktanya sehingga dapat menentukan

diagnose keperawatan yang tepat sesuai dengan kondisi klien.

b) Dalam menentukan diagnosa keperawatan harus tepat dengan kondisi

klien agar dapat dilakukan tindakan keperawatan yang sesuai dengan

diagnosa dan sesuai apa yang dibutuhkan klien.

c) Pada saat berkomunikasi dengan klien, diharapkan perawat dapat

mempersiapkan diri dengan baik agar berkomunikasi dengan lancar.

d) Dalam melakukan tindakan keperawatan harus dilakukan beberapa kali

interaksi agar klien dapat mengulangi apa yang di ajarkan.

e) Pada saat membuat evaluasi keperawatan, perawat harus benar-benar

sesuai dengan situasi klien pada saat dilakukan tindakan keperawatan.