Anda di halaman 1dari 35

STUDENT PROJECT

FIBROADENOMA MAMMAE (FAM)

Disusun oleh:

SGD KU A-04

Diana Putri (1602511175)


Agus Arya Mahottama (1602511219)
I Gusti Ayu Agung Sriska Pradnya Dewi (1602511042)
Wayan Arlis Saputra (1602511078)
Dewa Ayu Agung Maya Gayatri (1602511079)
Tu Bagus Adnan Angga Prawira (1602511151)
Etik Nurhidayati (1602511028)
Luh Putu Putri Sanjiwani (1602511055)
Jourdan Wirasugianto (1602511087)
Trisha Anindya (1602511139)
Gusti Ngurah Prana Jagannatha (1602511202)
Ni Komang Vina Indriyani (1602511017)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2019
STUDENT PROJECT

FIBROADENOMA MAMMAE (FAM)

Disusun oleh:

SGD KU A-04

Diana Putri (1602511175)


Agus Arya Mahottama (1602511219)
I Gusti Ayu Agung Sriska Pradnya Dewi (1602511042)
Wayan Arlis Saputra (1602511078)
Dewa Ayu Agung Maya Gayatri (1602511079)
Tu Bagus Adnan Angga Prawira (1602511151)
Etik Nurhidayati (1602511028)
Luh Putu Putri Sanjiwani (1602511055)
Jourdan Wirasugianto (1602511087)
Trisha Anindya (1602511139)
Gusti Ngurah Prana Jagannatha (1602511202)
Ni Komang Vina Indriyani (1602511017)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan student project yang berjudul
“Fibroadenoma Mammae (FAM)” tepat pada waktunya.

Dalam proses penyusunan student project ini, penulis banyak mendapat


bimbingan, arahan, dukungan, dan saran dari berbagai pihak. Untuk itu, melalui
kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dr. dr. I.B.G. Fajar Manuaba, Sp.OG, MARS selaku ketua blok The
Reproductive System and Disorders.
2. dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked sebagai supervisor dan evaluator Grup
A-04 dalam student project ini.
3. Serta dosen, teman-teman, dan semua pihak yang membantu dalam
menyelesaikan student project ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu.

Jika dalam penyampaian penulis terdapat hal yang kurang berkenan dalam
student project ini, penulis mohon maaf yang sedalam-dalamnya. Dengan segala
kerendahan hati, penulis menyadari bahwa student project ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun tetap penulis
harapkan untuk menyempurnakan student project ini. Semoga student project ini
dapat bermanfaat bagi pembaca.

Denpasar, 19 Mei 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i

KATA PENGANTAR .................................................................................... ii

DAFTAR ISI ................................................................................................... iii

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................. 2
1.3 Tujuan Penulisan ................................................................................ 3
1.4 Manfaat Penulisan ............................................................................. 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Fibroadenoma Mammae ..................................................... 4
2.2 Klasifikasi Fibroadenoma Mammae ................................................. 4
2.3 Epidemiologi Fibroadenoma Mammae.............................................. 5
2.4 Etiologi dan Faktor Risiko Fibroadenoma Mammae ......................... 5
2.5 Patogenesis Fibroadenoma Mammae ................................................ 6
2.6 Manifestasi Klinis Fibroadenoma Mammae ...................................... 8
2.7 Diagnosis Fibroadenoma Mammae ................................................... 9
2.8 Pemeriksaan Penunjang Fibroadenoma Mammae ............................. 11
2.9 Diagnosis ICD X Fibroadenoma Mammae........................................ 15
2.10 Diagnosis Banding Fibroadenoma Mammae .................................... 16
2.11 Penatalaksanaan Fibroadenoma Mammae ........................................ 17
2.12 Komplikasi Fibroadenoma Mammae ................................................ 22
2.13 Prognosis Fibroadenoma Mammae................................................... 22
2.14 Pencegahan Fibroadenoma Mammae ............................................... 23

BAB III PENUTUP


3.1 Ringkasan ............................................................................................ 25
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 26

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Histologi Fibroadenoma Mammae ................................................. 12


Gambar 2. Mammografi Fibroadenoma Mammae........................................... 13
Gambar 3. USG Fibroadenoma Mammae ........................................................ 14
Gambar 4. Cryoablation Procedure ................................................................. 19
Gambar 5. Prosedur Radiofrequency-ablation (RFA) ..................................... 21

iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem reproduksi merupakan salah satu sistem di dalam tubuh yang
berperan sangat penting bagi kehidupan sehari-hari. Sistem reproduksi pada
manusia, baik pada pria dan wanita memiliki struktur internal dan struktur eksternal
yang memiliki fungsi yang berbeda-beda. Namun, sistem tersebut dapat mengalami
gangguan salah satunya adanya fibroadenoma mamma atau yang sering disingkat
sebagai FAM. FAM merupakan neoplasma jinak yang terutama banyak ditemukan
pada wanita muda. Insiden FAM bergerak naik terus sejak 30 tahun terakhir. FAM
teraba sebagai benjolan bulat dengan konsistensi kenyal. Biasanya FAM tidak
disertai dengan rasa nyeri dan disebabkan oleh pertumbuhan berlebihan pada salah
satu lobulus payudara. Fibroadenoma paling sering terdeteksi secara kebetulan
selama pemeriksaan medis atau selama pemeriksaan sendiri (Atkins, Kong, 2013).
Fibroadenoma adalah salah satu jenis tumor jinak payudara yang paling
umum terjadi pada wanita di bawah usia 30 tahun. Pada populasi remaja,
keseluruhan insiden fibroadenoma adalah 2,2%. Fibroadenoma menyumbang 68%
dari semua massa payudara dan sebanyak 44% -94% dari lesi payudara yang telah
dibiopsi (Cerrato F, Labow BI, 2013). Etiologi pasti fibroadenoma tidak diketahui.
Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa estrogen mempengaruhi
perkembangan fibroadenoma. Fibroadenoma biasanya tumbuh selama kehamilan
dan cenderung menyusut selama menopause (Ajmal & Van, 2018).
Patogenesisnya tidak sepenuhnya dipahami karena hingga saat ini masih
terdapat banyak perdebatan mengenai hasil penelitian terkait dengan patogenesis
dari fibroadenoma mammae. Suatu penelitian mengatakan bahwa penyakit ini bisa
berkembang saat seorang wanita sedang hamil, karena tingginya kadar hormon
estrogen dan progesteron (Yu JH dkk., 2013). Hormon lain yang diduga terlibat
dalam terjadinya fibroadenoma mammae adalah hormon prolaktin (PRL), yang
dapat menyebabkan peningkatan sintesis DNA yang diyakini dapat menjadi suatu
stimulan mitogenik pada penderita fibroadenoma (Touraine dkk., 2008). Selain
faktor hormon, faktor genetika juga dipercaya oleh beberapa ahli sebagai salah satu
patogenesis terjadinya fibroadenoma payudara. Gen Mediator Complex Subunit 12
2

(MED12) banyak ditemukan dalam berbagai penelitian ahli berperan penting dalam
patofisiologi fibroadenoma mammae (Kämpjärvi dkk., 2014). Beberapa faktor
genetik yang juga diyakini oleh para ahli terlibat dalam patogenesis fibroadenoma
mammae adalah mutasi pada ras onkogen H-ras, K-ras dan N-ras yang telah lama
diyakini miliki kontribusi dalam perkembangan FAM (Song H dkk., 2007).
Komplikasi yang umum ditemui pada FAM adalah nyeri serta deformitas
pada payudara (Lee & Soltanian, 2015). Nyeri terjadi setiap siklus menstruasi dan
tumor diperkirakan membesar akibat sensitivitas terhadap aktivitas hormon
estrogen (Cerrato & Labow, 2013). Tumor yang berukuran besar tersebut dapat
menyebabkan deformitas yang mengganggu dalam segi kosmetiknya (Bidgoli &
Eftekhari, 2011). Prognosis dari FAM cenderung sangat baik. Tetapi jika terdapat
perubahan yang mengarah ke malignant, maka prognosis FAM bisa ditentukan oleh
ukuran tumor, histopatologi, metastasis, penyakit komorbid, dan keterlibatan
kelenjar getah bening (Miller, 2018; Lee & Soltanian, 2015). Sehingga diperlukan
tinjauan lebih lanjut untuk memahami penyakit ini.
Dalam memahami lebih lanjut mengenai fibroadenoma mammae atau yang
sering disingkat FAM, maka penulis melakukan suatu studi pustaka lebih lanjut
untuk memberikan pengetahuan yang lebih luas mengenai penyakit ini yang akan
dibahas dalam student project ini.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan dari latar belakang di atas, adapun rumusan masalah
yang akan kami bahas dalam student project ini adalah:
1. Apakah definisi dari fibroadenoma mammae?
2. Apa saja klasifikasi dari fibroadenoma mammae?
3. Bagaimana epidemiologi dari fibroadenoma mammae?
4. Bagaimana etiologi dan faktor risiko dari fibroadenoma mammae?
5. Bagaimana patogenesis dari fibroadenoma mammae?
6. Bagaimana manifestasi klinis dari fibroadenoma mammae?
7. Bagaimana diagnosis, pemeriksaan penunjang, dan diagnosis ICD X dari
fibroadenoma mammae?
8. Apa saja diagnosis banding dari fibroadenoma mammae?
9. Bagaimana penatalaksanaan dari fibroadenoma mammae?
3

10. Bagaimana komplikasi dari fibroadenoma mammae?


11. Bagaimana prognosis dari fibroadenoma mammae?
12. Bagaimana pencegahan dari fibroadenoma mammae?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan student project ini merupakan:
1. Untuk mengetahui definisi dari fibroadenoma mammae
2. Untuk mengetahui klasifikasi dari fibroadenoma mammae
3. Untuk mengetahui epidemiologi dari fibroadenoma mammae
4. Untuk mengetahui etiologi dan faktor risiko dari fibroadenoma mammae
5. Untuk mengetahui patogenesis dari fibroadenoma mammae
6. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari fibroadenoma mammae
7. Untuk mengetahui bagaimana diagnosis, pemeriksaan penunjang dan
diagnosis ICD X dari fibroadenoma mammae
8. Untuk mengetahui diagnosis banding dari fibroadenoma mammae
9. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari fibroadenoma mammae
10. Untuk mengetahui komplikasi dari fibroadenoma mammae
11. Untuk mengetahui prognosis dari fibroadenoma mammae
12. Untuk mengetahui pencegahan dari fibroadenoma mammae
1.4 Manfaat Penulisan
1. Dapat mengetahui definisi, klasifikasi dan epidemiologi dari fibroadenoma
mammae
2. Dapat mengetahui etiologi, faktor risiko, patogenesis dan manifestasi klinis
dari fibroadenoma mammae
3. Dapat mengetahui diagnosis, pemeriksaan penunjang dan diagnosis ICD X
dari fibroadenoma mammae
4. Dapat mengetahui diagnosis banding, penatalaksanaan dan komplikasi dari
fibroadenoma mammae
5. Dapat mengetahui prognosis dan pencegahan dari fibroadenoma mammae
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Fibroadenoma Mammae
Fibroadenoma Mammae atau yang sering disingkat sebagai FAM
merupakan neoplasma jinak yang terutama banyak ditemukan pada wanita muda.
Insiden FAM bergerak naik terus sejak 30 tahun terakhir. FAM teraba sebagai
benjolan bulat dengan konsistensi kenyal. Tumor ini tidak melekat pada jaringan
sekitarnya dan sangat mudah untuk digerakkan. Biasanya FAM tidak disertai
dengan rasa nyeri dan disebabkan oleh pertumbuhan berlebihan pada salah satu
lobulus payudara. Tumor ini dapat tumbuh di seluruh bagian payudara, namun
tersering pada bagian kuadran atas lateral dari payudara. Neoplasma jinak ini jarang
ditemukan pada masa menopause. Fibroadenoma paling sering terdeteksi secara
kebetulan selama pemeriksaan medis atau selama pemeriksaan sendiri. Giant
Fibroadenoma biasanya ditemui pada perempuan hamil atau menyusui dan
fibroadenoma juga dapat tumbuh secara multiple (Atkins, Kong, 2013)
2.2 Klasifikasi Fibroadenoma Mammae
Secara sederhana fibroadenoma dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam:
1. Common Fibroadenoma
Common fibroadenoma memiliki ukuran 1-3 cm, disebut juga dengan
simpel fibroadenoma. Sering ditemukan pada wanita kelompok umur muda
antara 21-25 tahun. Ketika fibroadenoma dapat dirasakan sebagai benjolan dan
biasanya berbentuk oval atau bulat, halus, tegas, dan bergerak sangat bebas.
Sekitar 80% dari seluruh kasus fibroadenoma yang terjadi adalah fibroadenoma
tunggal (Lichtenfeld J L. 2017).
2. Giant Fibroadenoma
Giant fibroadenoma adalah tumor jinak payudara yang memiliki ukuran
dengan diameter lebih dari 5 cm. Secara keseluruhan insiden giant
fibroadenoma sekitar 4% dari seluruh kasus fibroadenoma. Giant
fibroadenoma biasanya ditemui pada wanita hamil dan menyusui. Giant
fibroadenoma ditandai dengan ukuran yang besar dan pembesaran massa
enkapsulasi payudara yang cepat. Giant fibroadenoma dapat merusak bentuk
payudara dan menyebabkan tidak simetris karena ukurannya yang besar,
5

sehingga perlu dilakukan pemotongan dan pengangkatan terhadap tumor ini


(Sabel M S. 2018).
3. Juvenile Fibroadenoma
Juvenile fibroadenoma biasa terjadi pada remaja perempuan, dengan
insiden 0,5-2% dari seluruh kasus fibroadenoma. Sekitar 10-25% pasien
dengan juvenile fibroadenoma memiliki lesi yang multiple atau bilateral.
Tumor jenis ini lebih banyak ditemukan pada orang Afrika dan India Barat
dibandingkan pada orang Kaukasia (Cerrato FE, dkk. 2015)
2.3 Epidemiologi Fibroadenoma Mammae
Fibroadenoma adalah salah satu jenis tumor jinak payudara yang paling
umum terjadi pada wanita di bawah usia 30 tahun. Pada populasi remaja,
keseluruhan insiden fibroadenoma adalah 2,2%. Fibroadenoma menyumbang 68%
dari semua massa payudara dan sebanyak 44% -94% dari lesi payudara yang telah
dibiopsi (Cerrato F, Labow BI, 2013). 70-90% fibroadenoma adalah jenis common
fibroadenoma dan merupakan jenis fibroadenoma yang paling umum. Juvenile
Fibroadenoma dan Giant Fibroadenoma adalah varian fibroadenoma yang jarang
ditemukan. Insiden Giant Fibroadenoma adalah sekitar 0,5% -2% dari semua
fibroadenoma. Populasi yang rentan terhadap giant fibroadenoma adalah wanita
berusia 10-18 tahun dengan ras Afrika-Amerika (Song BS, dkk., 2014). Meskipun
fibroadenoma adalah massa payudara jinak, wanita dengan fibroadenoma berada
pada risiko 2,17 kali lebih tinggi untuk mengalami kanker payudara. Insiden
keganasan yang timbul dari spesimen fibroadenoma jarang terjadi dan berkisar
antara 0,002% hingga 0,125% (Lee M, Soltanian HT, 2015; Wu YT, dkk., 2014).
2.4 Etiologi dan Faktor Risiko Fibroadenoma Mammae
Etiologi pasti fibroadenoma tidak diketahui. Namun, beberapa penelitian
menunjukkan bahwa estrogen mempengaruhi perkembangan fibroadenoma.
Fibroadenoma biasanya tumbuh selama kehamilan dan cenderung menyusut selama
menopause (Ajmal & Van, 2018).
Risiko fibroadenoma menurun dengan bertambahnya usia dan turun secara
drastis setelah usia menopause yang biasa; dan hampir 90 persen wanita yang
mengembangkan fibroadenoma berada di bawah usia 45 tahun pada saat diagnosis.
Pengamatan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang melaporkan
6

fibroadenoma jarang terjadi pada wanita yang lebih tua atau postmenopause.
Riwayat lesi payudara jinak dikaitkan dengan peningkatan risiko fibroadenoma
berikutnya. Lesi jinak pada wanita muda lebih mungkin adalah fibroadenoma
daripada pada wanita yang lebih tua (Lee & Soltanian, 2015).
Terdapat korelasi antara indeks massa tubuh dan kejadian fibroadenoma.
Dalam sebuah penelitian terhadap 1.717 pasien, insiden fibroadenoma memuncak
pada kelompok indeks massa tubuh 25-29,9 kg / m2 (Lee & Soltanian, 2015).
2.5 Patogenesis Fibroadenoma Mammae
Fibroadenoma adalah tumor jinak payudara yang umum. Patogenesisnya
tidak sepenuhnya dipahami karena hingga saat ini masih terdapat banyak
perdebatan mengenai hasil penelitian terkait dengan patogenesis dari fibroadenoma
mammae. Fibroadenoma adalah proliferasi sel-sel jaringan ikat stroma dan epitel
(bifasik) yang berasal dari unit terminal duktus dan lobular serta secara fungsional
dan mekanik penting pada payudara. Jaringan-jaringan ini mengandung reseptor
untuk estrogen dan progesterone (Cerrato & Labow, 2013). Fibroadenoma
merupakan tumor jinak payudara yang sering ditemukan pada masa reproduksi
akibat beberapa kemungkinan yaitu sensitivitas jaringan setempat yang berlebihan
terhadap hormon estrogen sehingga kelainan ini sering digolongkan dalam mamary
displasia. Suatu penelitian mengatakan bahwa penyakit ini bisa berkembang saat
seorang wanita sedang hamil, karena tingginya kadar hormon estrogen dan
progesteron (Yu JH dkk., 2013).
Fibroadenoma biasanya ditemukan pada kuadran luar atas, dengan batas
jelas, mudah digerakkan/mobile dari jaringan di sekitarnya. Fibroadenoma
mammae biasanya tidak menimbulkan gejala dan ditemukan secara kebetulan.
Penyebab munculnya beberapa fibroadenoma pada payudara belum diketahui
secara jelas dan pasti. Kemungkinan patogenesis yang banyak disetujui hingga kini
oleh para ahli adalah berhubungan dengan hipersensitivitas jaringan payudara lokal
terhadap estrogen, faktor makanan dan faktor riwayat keluarga atau keturunan (Lee
& Soltanian, 2015). Ahli lain menemukan bahwa kadar normal atau fisiologi
hormon estrogen penderita sebeenarnya tidak meningkat tetapi sebaliknya jumlah
reseptor estrogen yang ditemukan meningkat. Peningkatan sensitivitas terhadap
estrogen dapat menyebabkan hiperplasia kelenjar (Song BS dkk., 2014).
7

Sensitivitas hormon menyebabkan proliferasi jaringan ikat payudara yang


berlebihan sehingga akhirnya dapat menimbulkan fibroadenoma. Analisis sel
stroma dan epitel menunjukkan bahwa keduanya poliklonal, yang mendukung teori
bahwa fibroadenoma adalah lesi hiperplastik yang terkait dengan penyimpangan
dari pematangan normal sel-sel payudara dan bukan merupakan neoplasma yang
sebenarnya (Cerrato & Labow, 2013).
Pada beberapa pasien, fibroadenoma dapat mengekspresikan reseptor
estrogen dan progesteron. Hormon-hormon ini menstimulasi fibroadenoma melalui
mekanisme reseptor hormon yang mengarah pada proliferasi sel epitel dan stroma
yang berlebihan. Beberapa fibroadenoma dapat mengekspresikan reseptor
epidermal growth factor (EGF). Lebih dari 70% fibroadenoma muncul sebagai
massa tunggal, dan 10% -25% fibroadenoma muncul sebagai massa multipel
dengan beberapa benjolan pada kedua payudara. Meskipun fibroadenoma dapat
tumbuh dan berkembang di regio payudara mana pun, sebagia besar pasien
cenderung mengalami pertumbuhan fibroadenoma pada kuadran luar atas dari
payudara. Massa dapat membesar secara perlahan tanpa disertai rasa sakit atau
perubahan puting dan kulit, tetapi dapat terjadi fluktuasi ukuran yang sejalan
dengan siklus menstruasi (Lee & Soltanian, 2015).
Hormon lain yang diduga terlibat dalam terjadinya fibroadenoma mammae
adalah hormon prolaktin (PRL), yang dapat menyebabkan peningkatan sintesis
DNA yang diyakini dapat menjadi suatu stimulan mitogenik pada penderita
fibroadenoma. Dibandingkan dengan jaringan payudara normal, pada penderita
fibroadenoma mammae, ditemukan memiliki tingkat ekspresi gen reseptor
prolaktin yang lebih tinggi (PRLR) yang berhasil dideteksi dengan berbagai
metode termasuk kuantitatif PCR, imunositokimia, dan imunohistokimia. Mutasi
pada RPRL yang mengkode protein transmembran, salah satunya menghasilkan
mutasi substitusi yang mengubah isoleusin menjadi leusin pada posisi 146 dari
PRLR ekstraseluler domain. Mutasi tunggal menyebabkan aktivasi transduser
sinyal dan pengaktif sinyal 5 transkripsi, aktivitas transkripsi terhadap gen reporter
yang responsif-PRL, proliferasi sel dan perlindungan sel dari kematian. Kondisi
inilah yang selanjutnya menjadi cikal bakal terbentuknya fibroadenom mammae
(Touraine dkk., 2008).
8

Selain faktor hormon, faktor genetika juga dipercaya oleh beberapa ahli
sebagai salah satu patogenesis terjadinya fibroadenoma payudara. Gen Mediator
Complex Subunit 12 (MED12) banyak ditemukan dalam berbagai penelitian ahli
berperan penting dalam patofisiologi fibroadenoma mammae. Mutasi MED12
ditemukan hingga 65% pada pasien fibroadenoma mammae, dengan mayoritas
mutasinya terletak pada kodon 44 dari ekson 2. Gen MED12 membantu dalam
menghasilkan protein MED12 yang dengan protein lain, sangat penting untuk
regulasi transkripsional eukariotik (Kämpjärvi dkk., 2014).
Beberapa faktor genetik yang juga diyakini oleh para ahli terlibat dalam
patogenesis fibroadenoma mammae adalah mutasi pada ras onkogen H-ras, K-ras
dan N-ras yang telah lama diyakini miliki kontribusi terhadap proliferasi sel yang
tidak terkendali sehingga pada akhirnya menyebabkan perkembangan tumor (Tan
J dkk., 2015). Gen lain yang mengalami mutasi adalah TP53. Mutasi sporadis TP53
mungkin mucul, yang dapat mengarah pada defisiensi TP53. Secara normal gen ini
berfungsi sebagai gen supresor untuk mencegah terjadinya proliferasi sel yang
berlebihan. Dengan adanya mutasi TP53, maka kondisi ini akan mempercepat
inisiasi dan pertumbuhan tumor. Tumor yang menunjukkan defisiensi TP53 sering
terjadi yang ditandai dengan karakteristik yang lebih agresif, invasif dan
kemungkinan yang tinggi untuk mengalami metastasis (Song H dkk., 2007).
2.6 Manifestasi Klinis Fibroadenoma Mammae
Gejala klinis yang sering terjadi pada fibroadenoma mammae adalah
adanya bagian yang menonjol pada permukaan payudara, benjolan memiliki batas
yang tegas dengan konsistensi padat dan kenyal. Ukuran diameter benjolan
yang sering terjadi sekitar 1-4 cm, namun kadang dapat tumbuh dan
berkembang dengan cepat dengan ukuran benjolan berdiameter lebih dari 5 cm.
Benjolan yang tumbuh dapat diraba dan digerakkan dengan bebas (Al-Salamah,
2006). Umumnya fibroadenoma tidak menimbulkan rasa nyeri atau tidak sakit
(Al-Thobhani, Raja'a, Al-Romaimah, 2006).
Perubahan fibroadenoma menjadi ganas dalam komponen epitel
fibroadenoma umumnya dianggap langka (Al-Salamah, 2006). Fibroadenoma
secara signifikan tidak meningkatkan risiko berkembang menjadi kanker payudara
(American Cancer Society, 2014). Insiden karsinoma berkembang dalam suatu
9

fibroadenoma dilaporkan hanya 20/10.000 sampai 125/10.000 orang yang


berisiko. Sekitar 50% dari tumor ini adalah lobular carcinoma in situ (LCIS),
20% infiltrasi karsinoma lobular, 20% adalah karsinoma duktal in situ (DCIS),
dan 10% sisanya infiltrasi karsinoma duktal. Berdasarkan pemeriksaan klinis
ultrasonografi dan mammografi biasanya ditemukan fibroadenoma jinak dan
perubahan menjadi ganas ditemukan hanya jika fibroadenoma tersebut dipotong
(Al-Thobhani, Raja'a, Al-Romaimah, 2006). Fibroadenoma yang dibiarkan
selama bertahun-tahun akan berubah menjadi ganas, dikenal dengan istilah
progresi dan persentase kemungkinannya hanya 0,5% - 1% (American Cancer
Society, 2014).
2.7 Diagnosis Fibroadenoma Mammae
Diagnosis Fibroadenoma Mammae digali melalui anamnesis, pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis pasti ditegakkan melalui pemeriksaan
histopatologi (Miller, 2018).
1. Anamnesis
Fibroadenoma Mammae (FAM) pada sebagian besar pasien tidak
menunjukkan gejala, sehingga perlu ditanya lebih lanjut keluhan yang muncul atau
dirasakan oleh pasien seperti lokasi massa, onset pertama kali munculnya massa,
tekstur dan perubahan ukuran massa, cairan yang keluar dari putting susu, retraksi
putting susu, perubahan warna dan struktur kulit di sekitar areola berupa
kemerahan, ulserasi, peau d’orange, serta keluhan pembesaran getah bening aksila.
Data dari hasil anamnesis ini kemudian dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang.
Anamnesis mengenai usia, riwayat adanya massa pada payudara dan
pengobatan sebelumnya, riwayat keluarga dengan keganasan payudara dan riwayat
biopsi payudara, serta riwayat ginekologi seperti umur menarche, jumlah
kehamilan, jumlah kelahiran hidup, umur pasien saat kelahiran anak pertama,
siklus menstruasi, riwayat kehamilan juga perlu ditanyakan. Pada wanita
premenopause ditanyakan pula tanggal menstruasi terakhir, lama dan keteraturan
siklus, serta pada wanita post menopause ditanyakan penggunaan hormonal
replacement therapy dan tanggal menopause. (Roubidoux M. 2015; Lee M, 2015).
2. Pemeriksaan Fisik
10

Pemeriksaan fisik dilakukan pada posisi duduk dan berbaring secara


terlentang dengan area payudara yang terekspose (bagian pakaian diatas perut
dilepas). Hasil akurasi pemeriksaan fisik payudara terbatas sekitar 60-85% dalam
menentukan suatu lesi jinak atau ganas, sekalipun dilakukan oleh individu yang
sudah ahli di bidangnya. (Bucimazza I, 2010) Selain pada area payudara,
pemeriksaan kelenjar getah bening dan gangguan neurologis pada ekstremitas atas
perlu dilakukan untuk mendeteksi ke arah keganasan (Roubidoux M, 2015; Miller,
2018; Lee M, 2015).
Pada pemeriksaan fisik Fibroadenoma Mammae biasanya didapatkan
gambaran berupa bentuk bulat teratur atau lonjong berukuran 1-3 cm (ukuran ini
dapat bervariasi dan dipengaruhi oleh hormon), permukaan rata, konsistensi kenyal
lunak, batas tegas, mudah digerakkan, dan tidak ada nyeri. Organ payudaran
dipengaruhi oleh faktor hormonal sehingga pemeriksaan fisik payudara sebaiknya
dilakukan kembali saat pengaruh hormonal seminimal mungkin, satu minggu
setelah haid. (Guray dan Sahin, 2006).
a. Inspeksi
Posisi pemeriksaan inspeksi yaitu dengan posisi duduk atau berdiri, serta
posisikan lengan dan tangan pasien dengan santai. Inspeksi dilakukan terhadap
ukuran, warna dan tekstur kulit, lekukan, dan retraksi papilla pada kedua payudara
kemudian dibandingkan. Cekungan kulit (dimpling) lebih terlihat jelas bila pasien
diminta untuk mengangkat lengannya lums keatas. (Sjamsuhidajat, 2013).
b. Palpasi
Pemeriksaan palpasi lebih baik dilakukan pada pasien posisi tegak (duduk
atau berdiri) dan berbaring. Palpasi pada saat pasien tegak dilakukan pada saat
kondisi relaksasi otot pectoral (memfleksikan lengan pasien), lengan pasien diatas,
dan kontraksi otot pectoral (pasien diminta berkacak pinggang). Sedangkan, palpasi
pada saat pasien berbaring dilakukan dengan meletakkan bantal tipis di punggung.
Palpasi dilakukan pada kedua area payudara serta limfonodi axilla dan
supraclavicula.
Pemeriksaan payudara dilakukan dengan perlahan dengan satu tangan
menyangga dan satu tangan mempalpasi pada setiap kuadran payudara dengan alur
sirkular atau radial. Palpasi dapat menilai lokasi, jumlah, ukuran, bentuk,
11

konsistensi, dan terfiksasi atau mobile. Pemeriksaan juga meliputi darerah


clavicula, sternum, daerah costa, dan linea midaxillary. Pemijatan halus puting susu
juga dilakukan, untuk melihat adanya pengeluaran cairan (Sjamsuhidajat, 2013).
2.8 Pemeriksaan Penunjang Fibroadenoma Mammae
Modalitas pemeriksaan radiologi yang digunakan, ditentukan oleh usia
pasien serta kondisi pasien hamil atau tidak.
Pemeriksaan penunjang
1. Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB)
Prosedur pemeriksaan ini dengan cara menyuntikkan jarum
berukuran 22–25 gauge melewati kulit atau secara percutaneous untuk
mengambil contoh cairan dari kista payudara atau mengambil sekelompok
sel dari massa yang solid pada payudara. Setelah dilakukan FNAB, material
sel yang diambil dari payudara akan diperiksa di bawah mikroskop yang
sebelumnya terlebih dahulu dilakukan pengecatan sampel. Apabila benjolan
dapat diraba maka jarum halus tersebut di masukan ke daerah benjolan
Apabila benjolan tidak dapat diraba, prosedur FNAB akan dilakukan
dengan panduan dari sistem pencitraan yang lain seperti mammografi 30
atau USG. Setelah jarum dimasukkan ke dalam bagian payudara yang tidak
normal, maka dilakukan aspirasi melalui jarum tersebut (Mulandari, 2003;
Fadjari, 2012).
Hampir semua tumor dapat dilakukan biopsi aspirasi, baik yang
letaknya superfisial palpable ataupun tumor yang terletak di dalam rongga
tubuh unpalpable. Prosedur FNAB memiliki beberapa keuntungan antara
lain FNAB adalah metode tercepat dan termudah dibandingkan biopsi eksisi
maupun insisi payudara. Hasil dapat diperoleh dengan cepat sehingga
pasien dapat segera mendapatkan terapi selanjutnya. Keuntungan lain dari
metode ini adalah biaya pemeriksaan lebih murah, rasa cemas dan stress
pasien lebih singkat dibandingkan metode biopsi (Abusalem, 2002;
Underwood, 2010).
2. Pemeriksaan Histopatologi
Pemeriksaan ini dapat dilakukan baik dengan menggunakan jarum
yang sangat halus maupun dengan jarum yang cukup besar untuk
12

mengambil jaringan. Kemudian jaringan yang diperoleh menggunakan


metode insisi maupun eksisi dilakukan pewarnaan dengan Hematoxylin dan
Eosin. Metode biopsi eksisi maupun insisi ini merupakan pengambilan
jaringan yang dicurigai patologis disertai pengambilan sebagian jaringan
normal sebagai pembandingnya. Tingkat keakuratan diagnosis metode ini
hampir 100% karena pengambilan sampel jaringan cukup banyak dan
kemungkinan kesalahan diagnosis sangat kecil. Tetapi metode ini memiliki
kekurangan seperti harus melibatkan tenaga ahli anastesi, mahal,
membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama karena harus di insisi,
menimbulkan bekas berupa jaringan parut yang nantinya akan mengganggu
gambaran mammografi, serta dapat terjadi komplikasi berupa perdarahan
dan infeksi (Sabiston, 2011).
Pada pemeriksaan histologi fibroadenoma, dapat ditemukan
peningkatan selularitas. Kelompok sel multipel yang padat dan disosiasi sel
duktus dapat terlihat. Sel-sel tersebut sering menyerupai staghorn dan
biasanya tersusun monolayer. Tiap sel memiliki nukleus bundar
monomorfik dengan kromatin granular dan nukleoli kecil. Mungkin
terdapat banyak kelompok sel stroma yang tertanam dalan jaringan ikat
stroma. Sel-sel stroma memanjang dengan nukleus yang seperti jarum.
Ditemukan pula adenosis dengan sklerosing, metaplasia apokrin papilar,
dan kalsifikasi epitel (Atkins, 2013).

Gambar 1. Histologi Fibroadenoma mammae. (A) Slide Hematoxylin &


Eosin (H&E, 5X) dari biopsi inti yang menunjukkan fibroadenoma klasik
dengan area nekrosis (tanda panah); (B) classical cellular (juvenile)
fibroadenoma (H&E, 10x) (Skenderi F,dkk., 2013).
13

3. Mammografi
Pemeriksaan mammografi terutama berperan pada payudara yang
mempunyai jaringan lemak yang dominan serta jaringan fibroglanduler
yang relatif sedikit, yaitu pada wanita berusia lebih dari 40
tahun.Mammografi memiliki sensitivitas 90% dan spesifitas hingga 88%
dalam mendeteksi lesi pada payudara. Mammografi memiliki keunggulan
dalam menggambarkan karakteristik berupa kalsifikasi dan ekstensi massa
payudara. Mammografi tidak diindikasikan sebagai pemeriksaan pencitraan
primer pada wanita kurang dari 40 tahun kecuali jika pasien berisiko tinggi
kanker (Diananda R, 2010).
Pada pemeriksaan mammografi, fibroadenoma digambarkan
sebagai massa berbentuk bulat atau oval dengan batas tegas. Terkadang
pada lesi dapat ditemukan gambaran kalsifikasi kasar yang menyerupai pop
corn dan gambaran kalsifikasi kasar yang heterogen. Fibrodenoma biasanya
memiliki densitas yang sama dengan jaringan kelenjar sekitarnya, tetapi
pada fibroadenoma yang besar, dapat menunjukkan densitas yang lebih
tinggi. Pada perempuan postmenopause, komponen fibroglandular dari
fibroadenoma akan berkurang dan hanya meninggalkan gambaran
kalsifikasi dengan sedikit atau tanpa komponen jaringan ikat (Hanriko R,
2011).

A B

Gambar 2. Mammografi Fibroadenoma Mammae. (A) Pasien 35tahun,


massa tipe jinak teraba halus; (B) pasien 64 tahun, massa teraba dengan
baik dan digambarkan dengan kalsifikasi "pocorn" tidak teratur.
(Meddean.luc.edu, 2019)
14

4. Ultrasonografi (USG)
USG digunakan untuk mendeteksi lesi-lesi pada daerah padat
payudara usia muda karena fibroadenoma pada wanita muda atau yang
berusia kurang dari 40 tahun, sehingga tidak terlihat dengan baik jika
menggunakan mammografi. Pemeriksaan ini hanya membedakan antara lesi
atau tumor yang solid dan kistik. Pemeriksaan gabungan antara USG dan
mammografi memberikan ketepatan diagnosa yang tinggi. Teknik ini
merupakan dasar untuk program skrinning sebagai alat bantu dokter untuk
mengetahui lokasi lesi dan sebagai penuntun FNAB (Hanriko R, 2011).
Dalam mengevaluasi massa payudara, USG memiliki keunggulan
karena sifatnya non invasif, dapat digunakan secara cepat, sangat baik
dalam menilai lesi kistik, dan lebih murah dibandingkan modalitas lain.
USG memiliki sensitivitas lebih tinggi dibandingkan mammografi dalam
mendeteksi lesi solid palpabel pada payudara (97% vs 87%). (Bucimazza I..
2010)
Pada USG, FAM muncul sebagai massa dengan batas tegas, oval,
homogen, hipoekoik, dapat disertai lobulasi, halus, tipis, dengan kapsul
ekogenik. FAM umumnya menunjukkan gambaran tipikal dan dapat
dibedakan secara jelas dari kista atau karsinoma, tetapi pada lesi fibrokistik
dengan kista hipoekoik yang tidak beraturan atau karsinoma yang polos
gambaran USG sulit dibedakan dengan FAM. (Roubidoux,MA, 2015;
Miller,AC, 2018)

Gambar 3. USG Fibroadenoma Mammae. Gambar transversal


menunjukkan transversal tipikal yang lebih besar daripada diameter
anteroposterior, echotexture homogen, dan kapsul tipis (panah). (Gokhale S.
2009).
15

2.9 Diagnosis ICD X Fibroadenoma Mammae


Diagnosis Fibroadenoma Mammae berdasarkan International Statistical
Classification of Diseases (ICD) 10 termasuk dalam D24 Benign neoplasm of
breast. Kode D24 ini adalah kode non-billing atau tidak dapat digunakan untuk
tagihan, sehingga agar dapat menggunakan kode ini sebagai tagihan maka harus
menggunakan subkode D24 yang menjelaskan diagnosis neoplasma payudara jinak
secara lebih rinci yaitu:
D24.1 Benign neoplasm pada payudara kanan.
D24.2 Benign neoplasm pada payudara kiri.
D24.9 Benign neoplasm of unspecified breast. (ICD.code, 2019)
Terdapat catatan pada kode D24 dalam ICD 10 yang menginformasikan
penyakit apa saja yang termasuk (code includes) dalam kode ini yaitu:
a. benign neoplasm of connective tissue of breast
b. benign neoplasm of soft parts of breast
c. fibroadenoma of breast
Selain itu terdapat pula catatan yang tidak termasuk (code excludes) dalam kode
D24, diantaranya
a. Adenofibrosis of breast – sebagai gantinya, digunakan kode N60.2
b. Benign cyst of breast - sebagai gantinya, digunakan kode N60.-
c. Benign mammary dysplasia - sebagai gantinya, digunakan kode N60.-
d. Benign neoplasm of skin of breast (D22.5, D23.5) - sebagai gantinya,
digunakan kode D22.5
e. Fibrocystic disease of breast - sebagai gantinya, digunakan kode N60.- .
(ICD.code, 2019)
Definisi Diagnosis
Berdasarkan kode D24 pada ICD 10, fibroadenoma mammae atau
fibroadenoma payudara adalah tumor jinak yang ditandai dengan campuran stroma
dan jaringan epitel. Karena fibroadenoma dan kanker payudara dapat muncul
sebagai benjolan yang serupa, saat ini direkomendasikan untuk melakukan analisis
ultrasonografi dan kemungkinan pengambilan sampel jaringan dengan analisis
histopatologis berikutnya untuk melakukan diagnosis. Tidak seperti benjolan khas
16

dari kanker payudara, fibroadenoma mudah untuk bergerak, dengan tepi yang jelas
(ICD.code, 2019).
2.10 Diagnosis Banding Fibroadenoma Mammae
Diagnosis banding untuk Fibroadenoma Mammae sebagai berikut;
1. Tumor Filodes
Tumor ini lebih jarang ditemui dibandingkan fibroadenoma dan
dipikirkan berasal dari stroma periduktal dan bukan dari fibroadenoma
sebelumnya. Secara histologi ditandai dengan pertumbuhan intraduktal dari
stroma intralobular dengan gambaran mirip daun yang merupakan
patognomonik dari lesi ini. Gambar USG dari tumor filodes memperlihatkan
lesi bulat hipoekoik berbatas tegas dan sering dijumpai pseudokapsul.
Sedangkan gambaran mamografi dari tumor ini berupa massa berbentuk bulat
dan berbatas tegas. Tumor ini mungkin kecil (berdiameter sekitar 3-4 cm),
tetapi kebanyakan tumbuh membesar, sehingga payudara ikut membesar.
Tumor filodes sangat mirip dengan fibroadenoma intrakanalikular dengan
stroma yang sangat seluler (berbeda dengan fibroadenoma yang selularitasnya
rendah), tumbuh cepat, dapat disertai pembentukan radang pada kulit akibat
desakan, sehingga menimbulkan nekrosis iskemik pada kulit. Berdasarkan
gejala klinik yang ditimbulkan dan insidensi terbanyak yaitu 40 tahun yang
merupakan diagnosis banding karsinoma payudara (Atkins, 2013).
2. Papiloma intraduktal
Papiloma duktus lebih jarang ditemukan dibandingkan fibroadenoma
dan lesi ini banyak ditemukan pada wanita usia pertengahan. Papilloma
intraduktal merupakan tumor papilliform yang tumbuh di dalam duktus
laktiferus. Papilloma memiliki tangkai fibrovaskular sehingga sangat seluler
dan bervaskularisasi baik serta sangat lembut dan rapuh. Kebanyakan lesi
berbentuk soliter dan ditemukan dalam duktus laktiferus prinsipal atau sinus.
Papilloma cenderung melepaskan sekresi yang mengakibatkan perluasan
saluran duktus laktiferus dan seringkali keluarnya sekresi spontan dari puting.
Sekresi ini paling sering bersifat serosa namun dapat juga mengandung darah
karena infark parsial dan nekrosis papiloma. Sebagai akibat dari hipersekresi
dan pertumbuhan massa yang luas, dapat terjadi obstruksi duktus sehingga
17

terjadi dilatasi kistik duktus ekskretorius dan papiloma intrakista Bila areolar
ditekan ringan dapat teraba massa tumor dengan diameter beberapa milimeter,
terkadang juga disertai dengan retraksi papil. Secara histologis tumor ini terdiri
dari papil multiple, masing-masing papil memiliki jaringan ikat yang ditutupi
oleh sel epitel kubus atau sel epitel toraks berlapis. Pada pemeriksaan USG
ditemukan gambaran ektasia duktus yang berbatas tegas yang lumennya
mengandung materi ekoik (Rozentsvayg, dkk., 2011).
3. Kista Payudara
Kita payudara disebabkan oleh distensi berlebih unit lobular duktus
terminal yang disebabkan pengisian progresif oleh cairan, fibrosklerosis
jaringan ikat longgar intralobular dan penyatuan duktus-duktus yang melebar
dalam massa polilobular. Kista terbentuk dari cairan yang berasal dari kelenjar
payudara. Kista payudara dapat berasal dari adenosis, ketika lamina duktus dan
asinus mengalami dilatasi dan dibatasi oleh jaringan epitel. Gambaran
mammografinya berupa massa bulat atau oval yang berbatas tegas. Gambaran
USG pada kista adalah lesi dengan bentuk bulat atau oval, mempunyai batas
tegas dan teratur, anekoik dan adanya penyangatan akustik posterior (Hines
dkk, 2010).
2.11 Penatalaksanaan Fibroadenoma Mammae
Diagnosis adanya fibroadenoma mammae pada remaja dapat menghadirkan
tantangan tersendiri dalam melakukan manajemen terapi dibandingkan dengan
fibroadenoma yang dialami oleh orang dewasa. Pada populasi remaja keganasan
jarang terjadi, namun jika terdapat adanya benjolan pada payudara seorang remaja
maka dapat memicu kecemasan dan kekhawatiran pada pasien dan keluarga pasien.
Walaupun tidak terdapat adanya standar perawatan yang ditetapkan untuk
fibroadenoma pada remaja, namun mempertimbangkan pengobatan fibroadenoma
pada remaja termasuk mengkomunikasikan risiko dan manfaat opsi pengobatan
secara efektif, meyakinkan kepada pasien dan keluarga bahwa massa kemungkinan
besar merupakan massa yang jinak, serta kebutuhan jika dilakukan tindakan eksisi
ataupun observasi yang dilakukan secara berkelanjutan sangatlah diperlukan.
Tatalaksana awal dari adanya suatu massa yang dianggap Fibroadenoma
adalah harus dilakukannya suatu pengamatan setidaknya selama satu siklus lengkap
18

menstruasi, dengan asumsi pola menstruasi yang normal. Jika massa pada payudara
berlanjut , maka dapat dilakukan studi pencitraan untuk menentukan apakah massa
tersebut konsisten terhadap fibroadenoma atau tidak. USG merupakan metode yang
paling umum dilakukan dan digunakan untuk menggambarkan massa yang terdapat
pada payudara (Garcia CJ dkk, 2000). Metode ini dapat menentukan apakah suatu
massa tersebut padat ataupun kistik, namun, USG tidak mampu membedakan antara
massa padat seperti fibroadenoma dan tumor phyllodes yaitu lesi yang mampu
berpotensi menjadi ganas (Yilmaz E dkk, 2002). USG serial mungkin dapat
dilakukan dan berguna untuk mendokumenttasikan secara objektif mengenai
adanya perubahan ukuran dari waktu ke waktu. MRI dan mammography
merupakan teknik alternatif, namun saat ini belum di rekomendasikan untuk
digunakan pada remaja karena jaringan yang padat pada populasi ini (Chung EM
dkk, 2009).
Fibroadenoma dikonfirmasi dengan imaging atau studi pencitraan
merupakan massa yang kecil dan ukurannya tidak bertambah besar dapat dikelola
dengan observasi dan dilakukannya pemantauan secara berkala atau observasi
bedah. Bila dari hasil biopsi menunjukkan adanya lesi adalah FAM maka tindakan
pembedahan dapat dilakukan ataupun tidak dilakukan. Teknik minimal invasif
seperti USG, menjadi pilihan pengobatan yang sangat baik untuk wanita dengan
fibroadenoma yang menghindari operasi, lesi juga dapat diobati dengan observasi
dan ditindaklanjuti secara berkala. Pada fibroadenoma juvenile (>5 cm) operasi
pengangkatan sangat dianjurkan walau lesi sepenuhnya jinak (Guray dan Sahin,
2006).
Pada payudara yang sedang berkembang, risiko terjadinya cedera iatrogenik
mungkin lebih besar dari pada manfaat operasi, terutama dikarena risiko keganasan
yang rendah dan fibroadenoma sendiri sering sembuh dari waktu ke waktu. Fine
needle aspiration atau biopsi jarum inti mungkin dapat dilakukan. Namun, teknik
ini juga mampu memberikan resiko iatrogenik yang serupa pada payudara yang
sedang berkembang (Chung EM dkk, 2009). Tindakan pembedahan harus
dilakukan apabila terdapat tanda – tanda abnormalitas baik itu dari bentuk dan
ukuran dari payudara yang berubah dan curiga lesi tersebut merupakan bentuk
keganasan (Greenberg dkk, 1998). Fibroadenoma mammae dapat dengan aman
19

diobservasi apabila tingkat pertumbuhan volume kurang dari 16% pada perempuan
yang berusia dibawah 50 tahun dan kurang dari 13% per bulan pada mereka yang
berusia 50 tahun atau lebih. Dua pendekatan baru yaitu eksisi perkutan dan in situ
cryoablasi, telah dikembangkan dan kurang invasif dibandingkan eksisi bedah (Niu
L dkk, 2012).
1. Cryoablation
Terdapat studi baru yang menunjukkan bahwa sebagai tatalaksana utama
untuk FAM, yaitu cryoablasi perkutan. Cryoablasi perkutan efektif dan aman
dilakukan dengan hasil yang tahan lama, selain itu dari segi kosmetik cryoablasi
dianggap baik dilakukan, selain itu merupakan cara cepat serta efisien untuk
membekukan fibroadenoma hingga mati. Cryoablasi hanya membekukan
benjolannya saja sehingga jaringan yang sehat dapat mengambil alih tempatnya.
Prosedur ini relatif sederhana dan menghasilkan bekas luka yang kecil.
Setelah posisi lesi diketahui atau terlokalisasi dibawah pengamatan USG,
anestesi local akan disuntikkan ke payudara, setelah anestesi lokal sudah bekerja,
insisi kecil akan dibuat di kulit payudara. Dipandu dengan menggunakan USG,
cryoprobe dimasukkan kedalam payudara yang kemudian diarahkan ke bagian
pusat lesi menggunakan sudut pandang tegak lurus, upaya ini dilakukan untuk
memastikan terapi yang akurat. USG digunakan secara bersamaan untuk memandu
pembentukan bola es, dimana siklus ganda Freeze – thaw selalu digunakan pada
prosedur ini. Pembentukan epi bola es yang sangat echogenic, memungkinkan bagi
USG untuk memantaunya. Tetesan dan suntikan salin steril diantara kulit dan
pembentukan bola es meningkatkan jarak satu sama lain sebagai ruang pelindung
kulit.

Gambar 4. Cryoablation procedure. A,B : Cryoprobe diletakkan di tengah –


tengah lesi dari fibroadenoma dibawah bimbingan USG. C : Penghancuran tumor
fbroadenoam dengan Freezing. Selama prosedur dilakukan, tipikal bola es terlihat
dengan menggunakan USG. D,E : setelah dilakukan prosedur, fibroadenoma mati
dan menjadi semakin mengecil dari waktu ke waktu.
20

Cryoablasi tidak cocok dilakukan untuk semua fibroadenoma karena


beberapa tumor memiliki ukuran yang sangat besar dan sulit untuk dibekukan atau
diagnosis dari massa yang belum pasti.
2. Biopsi eksisi
Eksisi bedah pada fibroadenoma dapat dilakukan jika massa memberikan
gejala dan atau terdapat pertumbuhan yang cepat pada massa. Juvenile
fibroadenoma biasanya dilakukan tatalaksana secara pembedahan karena
pertumbuhan massa yang cepat, dan fibroadenoma giant dilakukan eksisi karena
ukuran massanya yang besar. Eksisi bedah untuk fibroadenoma yang kecil mungkin
akan dilakukan ketika massa non mobile, keras, membesar, lunak, terfiksasi pada
kulit diatasnya, terkait dengan limfadenopati aksila atau supraklavikular, atau
pasien yang mengalami kecemasan yang tidak semestinya karena terdapat masssa
pada payudaranya.
Biopsi eksisi merupakan terapi efektif pada beberapa kasus, dimana terapi
ini mungkin masih dijadikan sebagai pilihan terbaik pada beberapa kasus
berdasarkan besarnya ukuran fibroadenoma. Prosedur eksisi dilakukan sejak dini,
hal ini bertujuan untuk memelihara fungsi dari payudara dan agar menghindari
bekas luka. Eksisi bedah lebih disukai untuk menangani fibroadenoma, eksisi
sederhana dilakukan pada mayoritas kasus dan mastektomi dilakukan pada
fibroadenoma raksasa. Selain estetika, bekas luka di payudara tidak pernah baik,
dimana bekas luka ini merupakan faktor risiko independen untuk keganasan, selain
itu bekas luka seringkali menimbulkan rasa sakit selama periode menyusui.
Eksisi fibroadenoma dapat dilakukan dengan anestesi lokal dan atau
anastesi umum. Melakukan sayatan optimal yaitu sirkumolar atau di lipatan
inframammary untuk meminimalkan jaringan parut yang akan terlihat. Selain itu,
ukuran dan lokasi massa mungkin dapat memandu lokasi insisi dan panjangnya
sayatan. Sayatan yang lengkung atau semilunar merupakan pilihan terbaik jika
fibroadenoma terletak jauh dari perbatasan areolar. Enukleasi total pada massa
harus dilakukan (Chang D.S., McGrath M.H. 2007). Teknik eksisi melalui metode
insisi periareolar lebih dianggap menguntungkan dari segi estetika. Dimana bekas
luka dapat terkamuflase atau tersamarkan oleh warna kulit areolar yang gelap dan
21

kelenjar areolar yang bertekstur kasar. Teknik ini dapat diindikasikan pada pasien
dengan karakteristik: diameter areola kurang atau sama dengan 5 cm, diameter
terbesar fibroadenoma yang dapat teraba kurang atau sama dengan 3 cm dan usia
dibawah atau sama dengan 35 tahun (Chang DS, McGrath MH, 2007).
3. Radiofrequency-ablation (RFA)
Radiofrequency-ablation (RFA) adalah cara lain untuk mengambil benjolan
yang tidak diinginkan keluar dari payudara tanpa operasi terbuka. Tindakan tersebut
menggunakan energy dari panas yang diaplikasikan di lokasi spesifik sehingga
dapat terjadi destruksi jaringan fokal. Kerusakan jaringan ini dapat dicapai melalui
intensitas panas ynag di timbulkan oleh elektroda pada gelombang 460 – 500 kHz.
Arus listrik yang ditimbulkan menyebabkan masuknya gelombang elektromagnetik
yang mengganggu muatan ion pada jaringan yang bersebelahan, membuat gesekan
panas yang menginduksi efek : denaturasi protein seluler dan nekrosis koagulasi
sel. Bersamaan dengan suhu jaringan yang meningkat antara 45 derajat hingga 50
derajat celcius, sel tumor mulai mati dan terbentuk area nekrosis yang terlokaliasasi
di sekitar elektrod. Pada prosedur RFA ini, diperlukan adanya anestesi local dan
panduan USG, infus lokal peritunoral salin steril dan dextrose 5% dilakukan apabila
batas antara tumor dan kulit atau dari tepi tumor ke dinding dada atau otot pektoralis
kurang dari 1 cm sehingga mengakibatkan kulit dan otot dapat terlindung dari panas
yang di timbulkan probe (Cameron JL, Cameron AM, 2014).

Gambar 5. Prosedur Radiofrequency-ablation (RFA) dengan Probe yang


dikelilingi Zona Pembekuan (Gobbi D dkk, 2009).
Pasca dilakukannya operasi, pasien harus menahan diri dari melakukan
aktivitas yang berat selama kurang lebih 6 hingga 8 minggu dan menggunakan
22

rompi kompresi atau bra olahraga selama 4 hingga 6 minggu untuk meminimalkan
pembengkakan dan nyeri. Pasien harus melakukan pemeriksaan sekitar 4 dan 8
minggu pasca operasi, setiap 3 bulan untuk tahun berikutnya, dua kali setahun untuk
tahun kedua, dan kemudian setiap tahun. Pemeriksaan dilakukan untuk menilai
apakah terdapat komplikasi, kekambuhan pada massa, atau adanya massa tambahan
pada payudara. Pasien akan mengalami kelainan kosmetik pasca dilakukannya
operasi, terutama setelah pengangkatan Giant fibroadenoma, namun operasi
rekonstruksi biasanya tidak dipertimbangkan hingga setidaknya satu tahun setealh
prosedur dan pasien telah mencapai kerangka yang matur. Selain itu, parenkim pada
payudara dapat berkembang dan mengisi defek yang terjadi serta menutupi adanya
kelainan selama perkembangan (Gobbi D dkk, 2009).
2.12 Komplikasi Fibroadenoma Mammae
Fibroadenoma mammae (FAM) tidak selalu menyebabkan komplikasi.
Penyakit ini memang ada kemungkinan membuat penderitanya mengalami kanker
payudara hasil dari metastase fibroadenoma tersebut, namun kasus seperti ini sangat
jarang terjadi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, hanya sekitar 0,002 –
0,125% kasus fibroadenoma yang berakhir menjadi kanker (Nwadike, 2019).
Komplikasi yang umum ditemui pada FAM adalah nyeri serta deformitas pada
payudara (Lee & Soltanian, 2015). Nyeri terjadi setiap siklus menstruasi dan tumor
diperkirakan membesar akibat sensitivitas terhadap aktivitas hormon estrogen
(Cerrato & Labow, 2013). Tumor yang berukuran besar tersebut dapat
menyebabkan deformitas yang mengganggu dalam segi kosmetiknya (Bidgoli &
Eftekhari, 2011). Terdapat juga sebuah laporan kasus yang menyatakan bahwa
komplikasi fibroadenoma dapat berupa infark spontan, namun komplikasi ini
sangat jarang terjadi (Salih & Kakamad, 2016).
2.13 Prognosis Fibroadenoma Mammae
Dari seluruh kasus yang tercatat, FAM tidak mengalami perubahan atau bisa
menghilang, dan penyakit ini tidak akan mempengaruhi aktivitas sehari-hari
penderitanya. Akan tetapi, bagi perempuan yang pada payudaranya teraba massa
harus segera melakukan pemeriksaan ke dokter. Mengidentifikasi FAM harus
secara langsung, dan penatalaksanaan FAM tidak selalu diperlukan. Namun,
diagnosis yang tepat dapat setidaknya menenangkan psikologis pasien (Nwadike,
23

2019). Prognosis FAM cenderung sangat baik. Apabila terdapat perubahan yang
mengarah ke malignant, maka prognosis FAM bisa ditentukan oleh ukuran tumor,
histopatologi, metastasis, penyakit komorbid, dan keterlibatan kelenjar getah
bening (Miller, 2018; Lee & Soltanian, 2015).
Hasil studi yang dikerjakan oleh Nassar dkk. mencatat terdapatnya risiko
terjadi keganasan pada penderita FAM yang sedikit meningkat dibandingkan lesi
jinak payudara lainnya (1,6 vs 1,51). Pada penderita FAM kompleks, risiko ini lebih
tinggi dibandingkan dengan simple fibroadenoma (2,27 vs 1,49). Pada analisis
berdasarkan histopatologi, terdapat risiko terjadinya keganasan pada FAM yang
ditentukan dari derajat proliferasi epitel (proliferative disease without atypia atau
atypical hyperplasia di dalam atau di sekitar FAM) dibandingkan dengan
keberadaan dari FAM pada mammae (Nassar dkk, 2015).
2.14 Pencegahan Fibroadenoma Mammae
Pencegahan FAM dapat dilakukan dengan upaya untuk mempertahankan
orang yang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit
sehingga dapat menurunkan insiden penyakit ini. Cara yang dilakukan adalah
dengan menghindari faktor-faktor tertentu yang dapat merangsang pertumbuhan
sel-sel tumor antara lain:
a. Mencegah terpaparnya dengan zat atau bahan yang dapat memicu
berkembangnya sel-sel tumor fibroadenoma, seperti mengkonsumsi
makanan yang terkontaminasi dengan bahan atau zat-zat hormonal,
menghindari pemakaian pil kontrasepsi dengan komponen utama estrogen.
Penggunaan zat tersebut jika dipakai terus menerus akan menyebabkan
terjadinya perubahan jaringan pada payudara yang meningkatkan angka
kejadian FAM. Selain itu menghindari terpapar dengan zat Polycyclic
aromatic hydrocarbons (PAHs) yang bersifat karsinogenik (Cerrato F,
Labow BI, 2013).
b. Menggunakan zat dan bahan yang dapat menurunkan kejadian FAM antara
lain dengan mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran. Penggunaan alat
kontrasepsi oral juga dapat menurunkan risiko terjadinya FAM (Nelson CK,
dkk., 2010).
c. Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)
24

Pemeriksaan terhadap payudara sendiri dapat dilakukan setiap bulan dengan


teratur. Dengan melakukan pemeriksaan secara teratur maka kesempatan
untuk menemukan tumor dalam ukuran kecil lebih besar, sehingga dapat
dengan cepat dilakukan tindakan pengobatan (Irawan E, 2018).
BAB III
PENUTUP
3.1 Ringkasan

Fibroadenoma Mammae atau yang sering disingkat sebagai FAM


merupakan neoplasma jinak yang terutama banyak ditemukan pada wanita muda.
Secara sederhana fibroadenoma dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam yaitu
common fibroadenoma, giant fibroadenoma, dan juvenile fibroadenoma.
Fibroadenoma adalah salah satu jenis tumor jinak payudara yang paling umum
terjadi pada wanita di bawah usia 30 tahun. Pada populasi remaja, keseluruhan
insiden fibroadenoma adalah 2,2%. Fibroadenoma menyumbang 68% dari semua
massa payudara dan sebanyak 44% -94% dari lesi payudara yang telah dibiopsi.
Etiologi pasti fibroadenoma tidak diketahui. Namun, beberapa penelitian
menunjukkan bahwa estrogen mempengaruhi perkembangan fibroadenoma.
Fibroadenoma biasanya tumbuh selama kehamilan dan cenderung menyusut selama
menopause. Gejala klinis yang sering terjadi pada fibroadenoma mammae
adalah adanya bagian yang menonjol pada permukaan payudara. Ukuran diameter
benjolan yang sering terjadi sekitar 1-4 cm. Umumnya fibroadenoma tidak
menimbulkan rasa nyeri atau tidak sakit.
Tatalaksana awal dari adanya suatu massa yang dianggap fibroadenoma
adalah harus dilakukannya suatu pengamatan setidaknya selama satu siklus lengkap
menstruasi, dengan asumsi pola menstruasi yang normal. Fibroadenoma
dikonfirmasi dengan imaging atau studi pencitraan merupakan massa yang kecil
dan ukurannya tidak bertambah besar dapat dikelola dengan observasi dan
dilakukannya pemantauan secara berkala atau observasi bedah. Dua pendekatan
baru yaitu eksisi perkutan dan in situ cryoablasi, telah dikembangkan dan kurang
invasif dibandingkan eksisi bedah. Radiofrequency-ablation (RFA) adalah cara lain
untuk mengambil benjolan yang tidak diinginkan keluar dari payudara tanpa
operasi terbuka.
Prognosis FAM cenderung sangat baik. Apabila terdapat perubahan yang
mengarah ke malignant, maka prognosis FAM bisa ditentukan oleh ukuran tumor,
histopatologi, metastasis, penyakit komorbid, dan keterlibatan kelenjar getah
bening.
26

DAFTAR PUSTAKA
Abusalem, OT. 2002. Fine needle aspiration biopsy (FNAB) of breast lumps:
comparison study between pre– and post–operative histological diagnosis.
Arch Inst Pasteur Tunis; 79(1): 59–63.
Ajmal M, Van FK. 2018. Breast Fibroadenoma. StatPearls Publishing. [Diakses
pada tanggal 20 Mei 2019]. Tersedia di: https://www.ncbi.
nlm.nih.gov/books/NBK535345/.
Al-Salamah S.M. 2006. Do All Fibroadenomas Needs Surgical Excision.
JKPractitioner; 13 (2): 75-76, (http://medirid.nicArVjab/t06/i2/jabt06i
2p75.pd^^ Diakses 18 Mei 2019)
Al-Thobhani A.K., Raja'a M.A, Al-Romaimah. 2006. Profile of Breast Lesions
Among Women with Positive Biopsy Findings in Yemea Eastern
Mediterranean Health Journal. 12 (5) : 599-604.
American Cancer Society. 2014. Fibroadenomas, (http://www.
cancer,org/healthy/flnd cancerearly/womeshealt/non-cancerbreast-
conditions-flbroadenomas, Diakses 20 Juli 2014)
Atkins KA, Kong CS. 2013. Practical breast pathology: A diagnostic approach.
Philadhelpia: Elseviers Saunders; 93-5.
Bidgoli SA, Eftekhari T. 2011. Role of Exogenous and Endogenous Sources of
Estrogen on the Incidence of Breast Fibroadenoma: Case-Control Study in
Iran. In: Asian Pacific J Cancer Prev. Vol. 12:1289-93. [online] Asian
Pacific Journal of Cancer Prevention. Tersedia di : http://journal.waocp.
org/article_25696_73f2966dae27dcc6640b5a8487 508623.pdf [Diakses
pada tanggal 19 Mei 2019].
Bucimazza I. 2010. Approach to the Diagnosis of Breast Lump. In: CME.
;28(11):515-8. Available from: https://www.ajol.info/index.php/cme
/article/viewFile/71881/60838
th
Cameron JL, Cameron AM. 2014. Current surgical therapy. 11 ed. Philadelphia:
Elseviers Saunders.p.587-9.
Cerrato F., Labow B.I. 2013. Diagnosis and management of fibroadenomas in the
adolescent breast". Semin Plast Surg. 27 (1): 23–5.
27

Cerrato FE, dkk. 2015. Intermediate and long-term outcomes of giant fibroadenoma
excision in adolescent and young adult patients. Breast J; 21:254.
Chang DS, McGrath MH. . 2007. Management of benign tumors of the adolescent
breast. Plast Reconstr SurgJul; 120(1):13e-19e.
Chung EM, Cube R, Hall GJ, González C, Stocker JT, Glassman LM. 2009. From
the archives of the AFIP: breast masses in children and adolescents:
radiologic-pathologic correlation. Radiographics ; 29(3):907-31.
Diananda R. 2010. Mengenal Seluk Beluk Kanker. Yogyakarta: Katahati
Fadjari H, 2012. Pendekatan diagnosis benjolan di payudara. CDK, 39(4): 308– 10.
García CJ, Espinoza A, Dinamarca V, Navarro O, Daneman A, García H, Cattani
A. 2000. Breast US in children and adolescents. Radiographics; 20(6):1605-
12.).
Gobbi D, Dall'Igna P, Alaggio R, Nitti D, Cecchetto G. 2009. Giant fibroadenoma
of the breast in adolescents: report of 2 cases. J Pediatr Surg; 44(2):e39-41.
Gokhale S. 2009. Ultrasound characterization of breast masses. The Indian journal
of radiology & imaging; 19(3), 242–247. doi:10.4103/0971-3026.54878
Guray M, Sahin A.A. 2006. The Oncologist : "Benign Breast Diseases:
Classification, Diagnosis, and Management". Alpha Med Press, Durham;
11:435-449.
Hanriko R, Mustofa S. 2011. Deteksi dini karsinoma payudara. Jurnal Kedokteran
dan Kesehatan Unila; 1(2): 165–74.
Hines N, Slanetz PJ, Eisenberg RL. 2010. Cystic masses of the breast. AJR;
194:122-33.
ICD.codes. 2019. ICD-10-CM Code D24 - Benign neoplasm of breast. [online]
Available at: https://icd.codes/icd10cm/D24 [Accessed 20 May 2019].
Irawan E. 2018. Faktor-faktor Pelaksanaan Sadari/ Breast Self Examination (BSE)
Kanker Payudara. Jurnal Keperawatan BSI; 6(1); 44-50.
Kämpjärvi K., Park M.J., Mehine M., dkk. 2014. Mutations in exon 1 highlight the
role of MED12 in uterine leiomyomas. Hum Mutat; 35: 1136–41.
Lee M, Soltanian HT. 2015. Breast Fibroadenomas in Adolescent: Current
Perspectives. In: Adolesc Health Med Ther 6:159-63. [online] Elsevier.
28

Tersedia di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4562655/


[Diakses pada tanggal 19 Mei 2019].
Lichtenfeld J L. 2017. Fibroadenomas of the breast. American Cancer Society.
[diakses 20 mei 2019]. Available from: https://www.cancer.
org/cancer/breast-cancer/non-cancerous-breastconditions/fibroadenomas-
of-the-breast.html.
Meddean.luc.edu. 2019. [online] Available at: http://www.meddean.luc.edu/
lumen/meded/radio/curriculum/surgery/mammography1.htm [Accessed 20
May 2019].
Miller, AC. 2018. Breast Abscesses and Masses. In: Taylor JP, editors. [online]
Medscape. Tersedia di: https://emedicine.medscape.com/article/781116-
overview [Diakses pada tanggal 19 Mei 2019].
Mulandari D, 2003. Perbandingan akurasi diagnostik antara biopsi aspirasi jarum
besar dengan potongan beku pada tumor payudara (tesis). Semarang:
Universitas Diponegoro.
Nassar, A, Visscher, D, Degnim, AC, dkk. 2015. Complex Fibroadenoma and
Breast Cancer Risk: a Mayo Clinic Benign Breast Disease Cohort Study. In:
Breast Cancer Res Treat. 153(2):397-405. [online] Elsevier. Tersedia di:
https: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4561026/ [Diakses
pada tanggal 19 Mei 2019].
Nelson CK, Ray RM, Wu C, Stalsberg H, Porter P, Johanna W, dkk. 2010. Fruit
and Vegetables intakes are associated with lower risk of Breast
Fibroadenomas in Chinese Women. J Nutr; 140(7): 1294-1301.
Niu L, Wu B, Xu K. 2012. Cryosurgery for breast fibroadenomas. Gland Surgery.
1(2):129-31.
Nwadike, V. 2019. Fibroadenoma of the breast: Symptoms, treatment, and
complications. [online] Medical News Today. Tersedia di:
https://www.medicalnewstoday.com/articles/323951.php [Diakses pada
tanggal 19 Mei 2019].
Putri, N.P.Y., Hudyono Johannes. 2014. Diagnosis dan penatalaksanaan
Fibroadenoma Payudara. Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida
Wacana, Jakarta. J. Kedokt Meditek; 20 (53).
29

Roubidoux MA. 2015. Breast Fibroadenoma Imaging. In: Lin EC, editors.
Medscape. Available from: https://emedicine.medscape.com/article
/345779-overview
Rozentsvayg E, Carver K, Borkar S, Mathew M, Enis S, Friedman P. 2011. Surgical
excision of benign papillomas diadnosed with core biopsy: A community
hospital approach. Radiology Research and Practice ;10:11-4.
Sabel M S. 2018. Overview of benign breast disease. [diakses 20 mei 2019].
Available from: http://www.uptodate.com/home.
Sabiston, David C. 2011. Buku ajar bedah. Jakarta: EGC. hlm. 322–47
Salih AM, Kakamad FH. 2016. Spontaneous infarction of fibroadenoma of breast—
A case report with literature review. Int J Surgery Case Report. Elsevier.
Sjamsuhidajat R. 2013. Buku ajar ilmu bedah. 3rd ed. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran ECG.
Skenderi F., Krakonja F., Vranic S. 2013. Infarcted fibroadenoma of the breast:
report of two new cases with review of the literature. Diagnostic
pathology, 8, 38. doi:10.1186/1746-1596-8-38
Song BS, Kim EK, Seol H, Seo JH, Lee JA, Kim DH, Lim JS. 2014. Giant juvenile
fibroadenoma of the breast: a case report and brief literature review. Ann
Pediatr Endocrinol Metab; 19(1):45-8.
Song H., Hollstein M., Xu Y. 2007. p53 gain-of-function cancer mutants induce
genetic instability by inactivating ATM. Nat Cell Biol;9:573–80.
Tan J., Ong C.K., Lim W.K., dkk. 2015. Genomic landscapes of breast
fibroepithelial tumors. Nat Genet; 47: 1341–5.
Touraine P., Martini J.F., Zafrani B., dkk. 2008. Increased expression of prolactin
receptor gene assessed by quantitative polymerase chain reaction in human
breast tumors versus normal breast tissues. J Clin Endocrinol Metab; 83:
667–74.
Underwood JCE, Cross SS. 2010. Patologi umum dan sistemik. Edisi ke–2. Jakarta:
EGC. hlm. 543–66.
Wu YT, Chen ST, Chen CJ, Kuo YL, Tseng LM, Chen DR, Kuo SJ, Lai HW. 2014.
Breast cancer arising within fibroadenoma: collective analysis of case
30

reports in the literature and hints on treatment policy. World J Surg Oncol;
12(1):335.
Yu J.H., Kim M.J., Cho H., dkk. 2013. Breast diseases during pregnancy and
lactation. Obstet Gynecol Sci; 56: 143–59
Yilmaz E, Sal S, Lebe B. 200Differentiation of phyllodes tumors versus
fibroadenomas. Acta Radiol; 43(1):34-9.