Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan
teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan
memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi
informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di
bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang, dan matematika diskrit.
Karena itu, untuk menguasai dan memanfaatkan teknologi di masa depan
diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.
Seiring dengan perkembangan jaman, literasi matematika di era modern ini
menuntut penambahan kompetensi dari literasi matematika di era lampau.
Kompetensi yang ditambahkan dalam literasi matematika modern yaitu
kemampuan bernalar dan bekerja dengan matematika (Gunawan, 2006:25).
Kemampuan bernalar (Reasoning) dan kemampuan berpikir tingkat tinggi sangat
menentukan kesuksesan di era global ini, oleh karena itu pembelajaran
matematika setidaknya harus melatih dan mengembangkan kemampuan peserta
didik untuk bernalar. Bahkan, Murtiyasa pada salah satu makalahnya menuliskan
“Pada hakekatnya matematika adalah metode berpikir, metode untuk
memecahkan masalah”. Terkait dengan proses pembelajarannya, Sawyer (dalam
Shadiq, 2004) menyatakan bahwa pengetahuan yang diberikan atau
ditransformasikan langsung kepada para siswa akan kurang meningkatkan
kemampuan bernalar mereka. Sehingga, pengintegrasian pemecahan masalah
(Kooperatif example non example )-lah yang menjadi keharusan selama
pembelajaran matematika berlangsung (Shadiq, 2004)
Matematika sebagai ilmu dasar begitu cepat mengalami perkembangan,
hal itu terbukti dengan makin banyaknya kegiatan matematika dalam kehidupan
sehari-hari. Disamping itu, matematika juga sangat diperlukan siswa dalam
mempelajari dan memahami mata pelajaran lain. Akan tetapi pada kenyataannya
banyak siswa merasa takut, enggan dan kurang tertarik terhadap mata pelajaran
matematika.

1
Pemahaman konsep merupakan salah satu bagian dalam proses belajar
mengajar. Pemahaman konsep merupakan usaha untuk meningkatkan daya ingat.
Tujuan Pemahaman konsep adalah membantu mengingat informasi yang
tersimpan dalam memori. Tanpa Pemahaman konsep dan mengulangi informasi,
siswa hanya mampu mengingat sebagian kecil materi yang diajarkan.
Anak-anak sering kesulitan-kesulitan ketika belajar. Mereka dituntut untuk
mempelajari banyak pelajaran dengan cara membaca, menulis dan menghapal.
Metode ini mempu mengantar mereka melewati ujian. Namun, biasanya apa yang
telah dipelajari akan hilang seiring dengan berjalannya waktu. Padahal
kemampuan dalam mendalami materi pelajaran di tingkat selanjutnya sangat
bergantung pada daya ingatnya.
Example non example merupakan salah satu alternatif yang bisa
digunakan dan dikembangkan oleh para guru untuk mengatasi permasalahan
untuk menuntut siswa aktif berfikir, kreatif dengan bantuan gambar diagram, atau
tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi dasar yang ditentukan. Examples
non examples adalah suatu pembelajaran dengan mengunakan gambar, diagram,
atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi dasar (Akhmad, 2008).
Berdasarkan hasil pengamatan yang di lakukan di SDN 006 Loa Janan
pada pembelajaran matematika khususnya pada penyelesaian soal tentang bangun
datar diperoleh 60,87 % siswa kesulitan dalam menyelesaiakan soal tentang
bangun datar terbukti dengan rendahnya hasil belajar matematika yang rata-rata
klasikal hanya 61,52 dengan rincian 9 siswa tuntas dalam belajaranya dan 14
orang siswa tidak tuntas dalam belajar
Berdasarkan uraian di atas maka dalam penelitian ini penulis tertarik untuk
meneliti penggunaan metode Kooperatif example non example sebagai salah satu
alternatif dalam pembelajaran matematika yang membawa siswa belajar dalam
suasana yang lebih nyaman dan menyenangkan. Dengan menetapkan judul
“Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Melalui Model kooperatif
example non example Pada Kelas III SDN 006 Loa Janan Tahun Pembelajaran
2017/2018”.

2
1. Identifikasi masalah:
a. Siswa kurang aktif dalam proses belajar mengajar
b. Pembelajaran matematika dilakukan dikelas yang mengandalkan hafalan
rumus
c. Pembelajaran yang disampaikan tidak mengajarkan konsep pembelajaran.
d. Kurangnya pembelajaran yang bersifat konkrit.
e. Rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika.
2. Analisis masalah:
a. Metode pembelajaran yang berpusat pada guru.
b. Kesesuai metode pembelajaran dengan materi pembelajaran
c. Penanaman konsep belajar matematika yang sering diabaikan guru.
d. Metode pelajaran yang digunakan dalam menyampaikan pesan/materi ajar
masih tradisional dan monoton sehingga kurang menarik perhatian siswa.
2. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah:
Berdasarkan hasil refleksi dan diskusi dengan supervisor 2 maka alternatif
pemecahan masalah yang dipilih adalah : “Penggunaan metode kooperatif
example non example untuk meningkatkan hasil belajar matematika tentang
bangun datar pada Siswa Kelas III SDN 006 Loa Janan Tahun pelajaran
2017/2018"

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah
penelitian ini adalah “ Bagaimana meningkatkan hasil belajar matematika siswa
tentang bangun datar melalui model pembelajaran kooperatif example non
example Pada Kelas III SDN 006 Loa Janan Tahun Pembelajaran
2017/2018?”

C. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran


Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah
Untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa tentang bangun
datar melalui model pembelajaran kooperatif example non example Pada Kelas
III SDN 006 Loa Janan Tahun Pembelajaran 2017/2018

3
D. Manfaat penelitian Perbaikan Pembelajaran
Pada prinsipnya penelitian ini diharapkan dapat berhasil dengan baik,yaitu
dapat mencapai tujuan penelitian secara optimal, menghasilkan laporan yang
sistematis dan data bermanfaat secara umum. Dari hasil penelitian ini diharapkan
dapat memberikan manfaat sebagai berikut
1) Bagi siswa menambah keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika dan
menganggap matematika adalah pelajaran yang menyenangkan
2) Bagi guru menambah kualitas dan wawasan dalam pembelajaran matematika
dengan melaksanakan model pembelajaran kooperatif example non example
3) Bagi sekolah sebagai sumbangan kepada pihak sekolah maupun sekolah
lainnya dalam rangka perbaikan proses pembelajaran matematika.
4) Bagi peneliti sebagai sumbangan pemikiran untuk kemajuan pendidikan ke
depan

4
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pembahasan Tentang Belajar


1. Pengertian Belajar
Banyak teori belajar telah di kemukakan sebagai hasil penelitian. Pada
dasarnya, semua teori sepakat bahwa belajar adalah kegiatan mental dalam diri
siswa yang aktif.
Nasution (2000: 34-35) menjelaskan bahwa : “Belajar adalah perubahan
kelakuan berkat pengalaman dan latihan. Belajar membawa sesuatu perubahan
pada individu yang belajar. Perubahan itu mengenai jumlah pengetahuan,
kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, penghargaan, minat, dan penyesuaian
diri”.
Menurut Hamalik (2002:57) Belajar dalam arti mengubah tingkah laku,
akan membawa suatu perubahan pada individu-individu yang belajar.
Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan,
tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri,
minat, watak, penyesuaian diri.
Menurut Jihad dan Haris (2017:1) belajar adalah kegiatan berproses dan
merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan
jenjang pendidikan, hal ini berarti keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan
sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar siswa di sekolah dan
lingkungan sekitarnya.
Belajar dianggap sebagai proses dan pengalaman dan latihan. Higgard
dan Sanjaya (2007 : 53) mengatakan bahwa belajar adalah proses perubahan
melalui kegiatan atau prosedur, baik latihan di dalam laboratorium maupun di
lingkungan alamiah. Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan.
Sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku.
Berdasarkan beberapa pengertian belajar diatas dapat disimpulkan
bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang relatif konstan dan bertahan

5
lama sebagai hasil dari pengalaman, latihan, dan interaksi dengan
lingkungannya..
2. Ciri- ciri Belajar
Menurut Saiful Sagala ( 2002:53 ) ciri-ciri belajar yakni sebagai
berikut:
a. Belajar menyebabkan perubahan pada aspek-aspek kepribadian yang
berfungsi terus-menerus yang berpengaruh pada proses belajar selanjutnya.
b. Belajar hanya terjadi melalui pengalaman yang bersifat individual.
c. Belajar merupakan kegiatan yang bertujuan, yaitu kearah yang ingin dicapai
melalui proses belajar
d. Belajar mengahsilkan perubahan yang menyeluruh,melibatkan keseluruhan
tingkah laku secara integral.
e. Belajar adalah proses interaksi
f. Belajar berlangsung dari yang paling sederhana sampai pada yang
kompleks.
Dari kesimpulan di atas, dapat penulis sampaikan bahwa ciri-ciri khas
belajar adalah perubahan, yakni belajar menghasilkan perubahan perilaku
dalam diri siswa. Belajar menghasilkan perubahan perilaku secara relatif dalam
berpikir, merasa, dan melakukan pada diri siswa. Perubahan tersebut terjadi
sebagai hasil latihan,pengalaman,dan pengembangan yang hasilnya tidak dapat
diamati secara langsung.

3. Hasil Belajar
Hasil belajar pada dasarnya adalah hasil yang dicapai dalam usaha
penguasaan materi dan ilmu pengetahuan yang merupakan suatu kegiatan yang
menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya. Melalui belajar dapat diperoleh
hasil yang lebih baik.
Leo Sutrisno (2017:25) mengemukakan Hasil belajar merupakan
gambaran tingkat penguasaan siswa terhadap sasaran belajar pada
topik bahasan yang dieksperimenkan, yang diukur dengan berdasarkan jumlah
skor jawaban benar pada soal yang disusun sesuai dengan sasaran belajar”.
Suyono (2009:8) menyatakan ”hasil belajar dapat dijelaskan
denganmemahami dua kata yang membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”.
Pengertian hasil menunjuk kepada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu
aktivitas yang mengakibatnya berubahnya input secara fungsional”.

6
Suharsimi Arikunto ( 2006:2) “ hasil belajar adalah hasil akhir setelah
mengalami proses belajar, dimana tingkah laku itu tampak dalam bentuk
perubahan yang dapat diamati dan diukur ”.
Oemar Hamalik ( 2002 : 30 ) menjelaskan bahwa hasil belajar
merupakan perubahan tingkah laku siswa setelah mengikuti rangkaian
pembelajaran atau pelatihan.
Berdasarkan berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar adalah tingkat pengetahuan yang dicapai siswa terhadap materi yang
diterima ketika mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan pembelajaran di
sekolah.
4. Ciri- Ciri Hasil Belajar
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada
dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah
diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang
telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap
dan keterampilan berikutnya. Hal ini merupakan contoh dari hasil belajar.
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran, hasil belajar memegang
peranan penting. Dimana hasil belajar merupakan gambaran keberhasilan siswa
dalam belajar dalam kaitan ini. Moh Surya (2000) mengemukakan ciri-ciri dari
hasil belajar yaitu dengan adanya perubahan perilaku
Menurut Gagne dalam Abin Syamsuddin Makmun, (2002) ,
mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak ciri-ciri dalam :
a. Kebiasaan; seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari
kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, sehingga
akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar.
b. Keterampilan; seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya
motorik, keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang
teliti dan kesadaran yang tinggi.
c. Pengamatan; yakni proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti
rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga
peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar.
d. Berfikir asosiatif; yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu
dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat.

7
e. Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-
dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana”
(how) dan “mengapa” (why).
f. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara
baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan
pengetahuan dan keyakinan.
g. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir).
h. Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu.
i. Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut,
marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was dan sebagainya.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan ciri-ciri hasil


belajar adalah adanya perubahan kearah yang positif pada semua aspek belajar
yang terdiri dari aspek kognitif,afektif dan psikomotorik.
5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasi Belajar
Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu: faktor dari
dalam siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan.
Menurut Depdiknas, (2000.: 5) Faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap proses dan hasil belajar antara lain, faktor internal mencakup
motivasi, harapan untuk berhasil, intelegensia, penguasaan keterampilan
prasyarat, dan evaluasi kognitif terhadap kewajaran dari hasil belajar antara
lain. Sedangkan dari faktor eksternal yaitu pengaruh lingkungan fisik
berkenaan dengan prasarana dan sarana belajar, kemudian dari lingkungan
psikis mel;iputi iklim atau suasana belajar yang diciptakan oleh guru yang
memungkinkan siswa termotivasi untuk belajar.
Menurut Slamento ( 2002: 54-72 ), faktor yang mempengaruhi belajar
adalah: Faktor-faktor internal. Jasmani, ( kesehatan, cacat tubuh ). Psikolog
(intelegensi, perhatian, minat, bakat, minat, motif, kematangan kesiapan )
Faktor-faktor eksternal. Keluarga ( cara orang tua mendidik, relasi antar
anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian
orangtua, latar belakang kebudayaan ), Sekolah ( metode mengajar, kurikulum,
relasi Guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat
pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran diatas ukuran, keadan gedung,

8
metode belajar, tugas rumah ). Masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat,
mass media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat ).
Menurut caroll dalam R Angkowo dkk (2007: 51) bahwa ’’Hasil belajar
siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor faktor yaitu: bakat belajar waktu yang
tersedia untuk belajar kemampuan individu, kualitas pengajaran’’.
Clark dalam Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2001:39)
mengungkapkan bahwa ’’Hasil belajar siswa disekolah 70% dipengaruhi oleh
kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan’’.
Menurut Sardiman (2007:39-47) faktor yang mempengaruhi belajar
adalah faktor intern (dari dalam) diri siswa dan faktor ekstern (dari luar) siswa.
Bekaitan dengan faktor dari dalam siswa, selain faktor kemampuan, ada juga
faktor lain yaitu: motifasi, perhatian, minat,sikap, kebiasaan belajar,ketekunan,
kondisi sosial ekonomi, kondisi fisik dan psikis. Kehadiran faktor psikologis
dalam belajar akan memberikan andil yang cukup penting. Faktor-faktor
psikologis akan memberikan landasan dan kemudahan dalam mencapai tujuan
belajar yang optimal.
Thomas F Staton dalam Sardiman (2007:39) ’'menguraikan ’’Enam
macam faktor psikologis yaitu: Motifasi, reaksi, konsentrasi, organisasi,
pemahaman ulangan’’.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas,dapat disimpulkan
bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah faktor
internal siswa antara lain kemampuan yang dimiliki tentang materi yang akan
disampaikan, sedangkan faktor eksternal antara lain strategi pembelajaran yang
digunakan guru didalam proses belajar mengajar.

B. Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang
dapat meningkatkan interaksi antara guru dengan siswa. Berikut ini beberapa
pengertian pembelajaran kooperatif menurut para ahli.

9
Slavin, Eggen dan Kauchak dalam Trianto ( 2009 : 56 ) dalam belajar
kooperatif, siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 4 – 5
orang untuk bekerja sama dalam menguasai materi yang diberikan guru.
Artzt & Newmman dalam Trrianto ( 2009 : 56 ) menyatakan bahwa dalam
belajar kooperatif siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan
tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, setiap anggota
kelompok memiliki tanggung jawab yang sama untuk keberhasilan kelompoknya.
Di dalam kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-
kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen,
kemampuan, jenis kelamin, suku/ras. Dan satu sama lain saling membantu. Tujuan
diibentuknya kelompok tersebut adalah untuk memberikan kesempatan kepada
semua siswa untuk dapat terlihat secara aktif dalam proses berfikir dan kegiatan
belajar. Selama bekerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah
mencapai ketuntasan materi yang disajikan oleh guru, dan saling membantu teman
sekelompoknya untuk mebcapai ketuntasan belajar (Trianto, 2009 : 56 ).
Posamentier (dalam Rachmadi, 2004:13) secara sederhana menyebutkan
cooperative learning atau belajar secara kooperatif adalah penempatan beberapa
siswa dalam kelompok kecil dan memberikan mereka sebuah atau beberapa tugas.
Menurut Zainurie Model pembelajaran kooperatif merupakan model
pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap kelompok
mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah)
dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang
berbeda serta memperhatikan kerja kesetaraan jender.
Pembelajaran kooperatif merupakan model pengajaran di mana siswa
belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang
berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling
bekerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Diskusi
belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan
pembelajaran (Wasis, 2003).
Wahyuni (2001) menyebutkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan
strategi pembelajaran dengan cara menempatkan siswa dalam kelompok-
kelompok kecil yang memiliki kemampuan berbeda.

10
Sependapat dengan pernyataan tersebut Setyaningsih (2001)
mengemukakan bahwa metode pembelajaran kooperatif memusatkan aktifitas di
kelas pada siswa dengan cara pengelompokkan siswa untuk bekerja sama dalam
proses pembelajaran.
Berdasarkan beberapa pendapat yang ada pembelajaran kooperatif adalah
pembelajaran yang memandang keberhasilan individu diorientasikan dalam
keberhasilan kelompok. Dalam hal ini, maka siswa bekerja sama dalam mencapai
tujuan dan siswa berusaha keras membantu dan mendorong pada teman-teman
untuk bersama-sama berhasil dalam belajar.
2. Prinsip Dasar dan Ciri Pembelajaran Kooperatif
Nur (2000) menjelaskan adapun prinsip dasar dan ciri-ciri dalam
pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a. Prinsip dasar pembelajaran kooperatif
1) Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu
yang dikerjakan dalam kelompoknya.
2) Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota
kelompok mempunyai tujuan yang sama.
3) Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab
yang sama di antara anggota kelompoknya.
4) Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
5) Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan
membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses
belajarnya.
6) Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan
secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
b. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif
1) Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar
sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-
beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin
anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta
memperhatikan kesetaraan jender.

11
3) Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing
individu.
Menurut Johnson (dalam Isjoni 2007), pembelajaran kooperatif
mempunyai cir-ciri: (1) saling ketergantungan yang positif, (2) dapat
dipertanggungjawabkan secara individu, )3) heterogen, (4) berbagi
kepemimpinan, (5) berbagi tanggungjawab, (6) ditekankan pada tugas dan
kebersamaan, (7) mempunyai ketrampilan dalam berhubungan sosial, (8)guru
mengamati, dan (9) efektivitas tergantung pada kelompok. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
1) Untuk menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara
kooperatif.
2) Kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi,
sedang dan rendah.
3) Jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku,
budaya jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam tiap
kelompok terdiri dari ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda pula.
3. Unsur- Unsur Pembelajaran Kooperatif
Johnson dalam Trianto (2009 : 60) menyebutkan terdapat lima unnsur
penting dalam belajar kooperatif, yaitu
1) Saling ketergantungan yang bersifat positif antara siswa. Dalam belajar
kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang bekarjasama untuk mencapai
satu tujuan dan terikat satu sama lain. Seorang siswa tidak akan sukses
kecuali semua anggota kelompoknya juga sukses
2) Belajar kooperatif akan meningkatkan interaksi antar siswa. Seorang siswa
akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota kelompok, saling
memberikan bantuan ini akan berllangsung secara alamiah karena kegagalan
seseorang dalam kelompok akan mempengaruhi suksesnya kelompok
3) Tanggung jawab individual dalam belajar kelompok dapat berupa tanggung
jawab siswa dalam hal; 1) membantu siswa yang membutuhkan bantuan, 2)
siswa tidak dapat hanya sekedar “membonceng” pada hasil kerja teman,
jawaban siswa dan teman sekelompoknya.

12
4) Keterampilan interpersonal dan kelompok kecil. Dalam belajar kooperatif,
selain dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan seorang siswa
dituntut untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan siswa lain.
5) Proses kelompok. Belajar kooperatif tidak akan berlangsung tanpa proses
kelompok, proses kelompok terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan
bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat
hubungan kerja yang baik.

4. Tujuan pembelajaran kooperatif

Jhonson & Johnson dalam Trianto, (2009 : 57) mangatakan bahwa tujuan
pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan
prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok
Ibrahim, dkk dalam trianto, (2009 : 59) Tujuan- tujuan pembelajaran ini
mencangkup tiga jenis tujuan penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan
terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial.
1) Hasil belajar akademik
Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-
tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang
sulit, dan membantu siswa menumbuhkan kemampuan berfikir kritis.
2) Pengakuan adanya keragaman
Pembelajaran kooperatif bertujuan agar siswa dapat menerima teman-
temannya yang mempunyai berbagai macam perbedaan latar belakang. Perbedaan
tersebut antara lain perbedaan suku agama,kemampuan akademik, dan tingkat
sosial.
3) Pengembangan ketrampilan sosial
Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mengembangkan ketrampilan
sosial siswa. Ketrampilan sosial yang dimaksud dalam pembelajaran koopertif
antara lain adalah : berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain,
memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan idea tau pendapat, bekerja
dalam kelompok dan sebagainya.

13
5. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif

Tabel. 2.1 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

FASE TINGKAH LAKU GURU


Fase-1 Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang
Menyampaikan tujuan dan ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi
memotivasi siswa. siswa belajar.
Fase-2 Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan
Menyajikan informasi. jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase-3 Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya
Mengorganisasikan siswa ke membentuk kelompok belajar dan membantu setiap
dalam kelompok kooperatif kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase-4 Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada
Membimbing kelompok- saat mereka mengerjakan tugas mereka
kelompok bekerja dan
belajar
Fase-5 Guru mmengevaluasi hasil belajar tentang materi yang
Evaluasi telah dippelajari atau masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase-6 Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya
Memberikan penghargaan maupun hasil belajar individu dan kelompok.

6. Pembentukan kelompok kooperatif

Dalam menentukan anggota kelompok diusahakan agar kemampuan siswa


dalam kelompok adalah heterogen dan kemampuan antar satu kelompok, bila
memungkinkan kelompok kooperatif ini perlu memperhatikan ras, agama, jenis
kelamin, dan latar belakang sosial. Apabila dalam kelas terdiri atas ras dan latar
belakang yang relatif sama maka pembentukan kelompok dapat didasarkan pada
prestasi akademik, yaitu:
1. Siswa dalam kelas terlebih dahulu dirangking sesuai kepandaian dalam
mata pelajaran matematika . Tujuannya adalah untuk mengurutkan siswa

14
sesuai kemampuan matematika nya dan digunakan untuk mengelompokkan
siswa kedalam kelompoknya.
2. Menentukan tiga kelompok dalam kelas yaitu kelompok atas, kelompok
menengah, dan kelompok bawah. Kelompok atas sebanyak 25% dari seluruh
siswa yang diambil dari siswa ranking satu, kelompok tengah 50% dari
seluruh siswa yang diambil dari urutan setelah diambil kelompok atas, dan
keompok bawah sebanyak 25% dari seluruh siswa yaitu terdiri atas siswa
setelah diambil kelompok atas dan kelompok menengah.

C. Model Pembelajaran Example Non Example


1. Pengertian Example Non Example
Menurut Kirana (2007), examples non examples adalah model belajar yang
menggunakan contoh-contoh dapat dari kasus atau gambar yang relevan dengan
kompetensi dasar.
Sedangkan menurut Akhmad (2008), examples non examples adalah suatu
pembelajaran dengan menggunakan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi
bahan ajar dan kompetensi, sajikan gambar ditempel atau menggunakan Proyektor
(Slide), dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian, diskusi kelompok tentang
sajian gambar, presentasi hasil kelompok, membuat kesimpulan, evaluasi dan
refleksi.
Jadi pembelajaran koorperatif examples non examples adalah
pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi dengan
cara berfikir yang lebih realitas, kritik dan kreatif serta tidak memberikan rasa
bosan dalam diskusi kelas. Dengan penerapan pembelajaran seperti uraikan di
atas, diharapkan guru sebagai pendidik dapat mencapai hasil belajar yang
maksimal dari siswa.

2. Prinsip dan Ciri Metode Example non Example


Metode Example non Example juga merupakan metode yang mengajarkan
pada siswa untuk belajar mengerti dan menganalisis sebuah konsep. Konsep pada
umumnya dipelajari melalui dua cara. Paling banyak konsep yang kita pelajari di
luar sekolah melalui pengamatan dan juga dipelajari melalui definisi konsep itu

15
sendiri. Example and Non example adalah taktik yang dapat digunakan untuk
mengajarkan definisi konsep.
Strategi yang diterapkan dari metode ini bertujuan untuk mempersiapkan
siswa secara cepat dengan menggunakan 2 hal yang terdiri dari example dan non-
example dari suatu definisi konsep yang ada, dan meminta siswa untuk
mengklasifikasikan keduanya sesuai dengan konsep yang ada.
Metode Example non Example penting dilakukan karena suatu definisi
konsep adalah suatu konsep yang diketahui secara primer hanya dari segi
definisinya daripada dari sifat fisiknya. Dengan memusatkan perhatian siswa
terhadap example dan non-example diharapkan akan dapat mendorong siswa
untuk menuju pemahaman yang lebih dalam mengenai materi yang ada.
Tennyson dan Pork (1980) dalam Slavin 1994 menyarankan bahwa jika
guru akan menyajikan contoh dari suatu konsep maka ada tiga hal yang
seharusnya diperhatikan, yaitu:
1. Urutkan dari yang gampang sampai yang ke sulit.
2. Pilih contoh yang berbeda satu sama lainnya.
3. Bandingkan dan bedakan contoh-contoh dan bukan contoh.
Menyiapkan pengalaman dengan contoh dan non contoh akan membantu
siswa untuk membangun pemikiran yang kaya dan lebih mendalam dari sebuah
konsep penting.
Joyce and Weil (1986) dalam Buehl (1996) telah memberikan kerangka
konsep terkait strategi tindakan, yang menggunakan model inkuiri untuk
memperkenalkan konsep yang baru dengan metode example non example.
Kerangka konsep tersebut antara lain:
a. Menggeneralisasikan pasangan antara contoh dan non contoh yang
menjelaskan beberapa dari sebagian esar kareakter atau atribut dari konsep
baru. Menyajikannya dalam satu waktu dan meminta siswa untuk memikirkan
perbedaan apa yang terdapat pada dua daftar tersebut. Selama siswa
memikirkan tentang tiap example dan non example tersebut, tanyakanlah pada
mereka apa yang membuat kedua daftar tersebut berbeda.

16
b. Menyiapkan examples non examples tambahan, mengenai konsep yang lebih
spesifik untuk mendorong siswa mengecek hipotesis yang telah dibuatnya
sehingga mampu memahami konsep yang baru.
c. Meminta siswa untuk bekerja berpasangna untuk menggeneralisasikan konsep
examples non examples mereka. Setelah itu meminta tiap pasangan untuk
menginformasikan di kelas untuk mendiskusikan secara klaikal sehingga tiap
siswa dapat memberikan umpan balik.
d. Sebagai bagian penutup, adalah meminta siswa untuk mendeskripsikan konsep
yang elah diperoleh dengan menggunakan karakter yang telah didapat dari
examples non examples.
3. Langkah-Langkah Penerapan Examples Non Examples
Menurut Akhmad (2008), langkah-langkah penerapan model pembelajaran
examples non examples sebagai berikut :
a. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan
tujuan pembelajaran.
b. Guru menampilkan gambar di papan atau dengan
Proyektor ( Slide ).
c. Guru memberi petunjuk kepada siswa.
d. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menganalisa
gambar.
e. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi
dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.
f. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil
diskusinya.
g. Tiap kelompok mulai memberi komentar dari kelompok
yang membacakan hasil diskusinya.
h. Mulai dari komentar dan hasil diskusi siswa, guru mulai
menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.
i. Kesimpulan.
4. Kelebihan dan kelemahan Examples Non Examples
Menurut Akhmad (2008), kelebihan dan kekurangan dari model
pembelajaran examples non examples sebagai berikut :

17
a. Kebaikan :
1. Siswa lebih kritis dalam menganalisis gambar.
2. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa
contoh gambar.
3. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan
pendapatanya.
b. Kekurangan :
1. Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.
2. Memakan waktu yang lama.

D. Materi Pembelajaran Matematika Bangun Datar

1. Pengerian Bangun Datar

Bangun datar adalah bagian dari bidang datar yang dibatasi oleh garis-
garis lurus atau lengkung (Imam Roji, 1997) Bangun datar dapat didefinisikan
sebagai bangun yang rata yang mempunyai dua demensi yaitu panjang dan lebar,
tetapi tidak mempunyai tinggi atau tebal (Julius Hambali, Siskandar, dan
Mohamad Rohmad, 1996)
Berdasarkan pengertian tersebut dapat ditegaskan bahwa bangun datar
merupakan bangun dua demensi yang hanya memiliki panjang dan lebar, yang
dibatasi oleh garis lurus atau lengkung.

2. Sifat-sifat bangun datar .


1. Sifat-sifat persegi panjang
a. Memiliki 2 pasang sisi yang sama panjang
b. Memiliki 4 sudut yang sama besar
c. Setiap sudutnya merupakan sudut siku-siku
A B

C D

18
d. Pada persegi panjang, diagonal-diagonalnya sama panjang dan saling
berpotongan sehingga membagi dua sama panjang
Rumus Luas = P x L
2. Sifat-sifat Segitiga ( Sama kaki, Sama sisi dan Siku-Siku )
A Jika Segitiga sama kaki ABC dilipat menurut
garis putus-putus OA, maka :
AC berimpit dengan AB
BO berimpit dengan OC
Segitiga AOB berimpit dengan segitiga AOC
B O C Jadi OA merupakan sumbu simetri
a. Segitiga sama kaki memliki 2 buah sisi yang sama panjang
b. Memiliki 2 buah sudut yang sama besar
A Ciri-cirinya :
O O” a. Memiliki 3 buah sisi yang sama panjang
b. Memiliki 3 buah sudut yang sama besar
B O’ C

Segi tiga siku-siku


A Segitiga siku-siku adalah segitiga yang salah satu
Sudutnya siku-siku

B C

Segitiga sembarang adalah segitiga yang ketiga sudutnya dan ketiga sisinya tidak
sama panjang
Segitiga lancip adalah segitiga yang ketiga sudutnya merupakan sudut lancip
Segitiga tumpul adalah segitiga yang salah satu sudutnya merupakan sudut tumpul
Jumlah ketiga sudut pada semua jenis segitiga di atas adalah 180o
Rumus Luas = ½ x Alas x Tinggi
3. Sifat-sifat trapesium

19
D C

A B
Trapesium ada 3 macam
Trapesium Siku-siku, trapesium samakaki, dan trapesium sembarang
a. Trapesium memiliki sepasang sisi yang sejajar
b. Jumlah besar sudut yang berdekatan diantara sisi sejajar pada
trapesium adalah 180o
Rumus Luas = ½ x Jumlah sisi sejajar x Tinggi
4. Sifat-sifat Jajargenjang
A B

C D
a. Sisi – sisi yang berhadapan sejajar dan sama panjang
b. Sudut-sudut yang berhadapan sama besar
c. Jumlah sudut-sudut yang berdekatan 180o
d. Kedua diagonalnya saling membagi dua sama panjang
Rumus Luas = ½ x Diagonal 1 x Diagonal 2
5. Sifat-sifat Belah Ketupat
A

B C

D
a. Semua sisi pada belah ketupat sama panjang
b. Kedua diagonalnya merupakan sumbu simetri

20
c. Sudut-sudut yang berhadapan sama besar
d. Diagonal-diagonalnya saling berpotongan tegak lurus
Rumus Luas = ½ x Diagonal 1 x Diagonal 2

6. Sifat-sifat Layang-Layang
a. Layang-layang mempunyai satu sumbu simetri
b. Terdapat 2 pasang sisi yang sama panjang
c. Terdapat sepasang sudut berhadapan yang sama besar
Rumus Luas = ½ x Diagonal 1 x Diagonal 2
7. Sifat-sifat Lingkaran

O.

O = Pusat lingkaran
OA = OB = jari-jari lingkaran
AB = diameter atau garis tengah lingkaran, panjangnya 2 kali jari-jari
a. Lingkaran memiliki sebuah titik pusat
b. Lingkaran memiliki garis tengah yang panjangnya 2 kali jari-jari
c. Banyak sumbu simetri pada lingkaran tidak terhingga
d. Jumlah sudut lingkaran adalah 360o

21
BAB III

PELAKSANAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Subjek , Tempat, Waktu Penelitian dan Pihak Terkait

1. Subjek dan Objek Penelitian


Subjek penelitian adalah siswa kelas III SDN 006 Loa Janan yang
berjumlah 23 orang yang terdiri dari 13 siswa perempuan dan 10 siswa laki-
laki Sedangkan yang menjadi objek penelitian adalah pembelajaran
matematika dengan model kooperatif example non example .

2. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada semester 2 tahun pembelajaran
2017/2018. Tempat penelitian adalah di SDN 006 Loa Janan dikelas III
pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada bulan April 2018 dengan rincian
kegiatan pada tabel sebagai berikut

3. Pihak yang Terkait

Yang membantu di dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran diantaranya :


a) Sabran, S.Pd , M.Psi Supervisor 1
b) Riduansyah, S.Pd supervisor 2
c) Dahlan, S.Pd , M.Pd kepala SDN 006 Loa Janan
d) Teman sejawat
e) Rekan-rekan Guru SDN 006 Loa Janan

B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran

Depdiknas, (2004:2) Adapun rancangan (desain) PTK yang digunakan


dalam penelitian ini adalah menggunakan model Kemmis dan McTaggart,
Pelaksanaan tindakan dalam PTK meliputi empat alur (langkah): (1)

22
perencanaan tindakan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) Pengamatan; (4) refleksi.
Alur (langkah) pelaksanaan tindakan yang dimaksud dapat dilihat pada
gambar berikut.
Alur Penelitian Tindakan Kelas

Pelaksanaan

Perencanaan Siklus I Pengamatan

Refleksi

Perencanaan

Refleksi Pelaksanaan
Siklus
II
Pengamatan

Terselesaikan

Gambar tersebut di atas menunjukkan bahwa pertama, sebelum


melaksanakan tindakan, terlebih dahulu peneliti merencanakan secara seksama
jenis tindakan yang akan dilakukan. Kedua, setelah rencana disusun secara
matang, barulah tindakan itu dilakukan. Ketiga, bersamaan dengan
dilaksanakan tindakan, peneliti mengamati proses pelaksanaan tindakan itu
sendiri dan akibat yang ditimbulkannya. Keempat, berdasarkan hasil
pengamatan tersebut, peneliti kemudian melakukan refleksi atas tindakan yang
telah dilakukan. Jika hasil refleksi menunjukkan perlunya dilakukan
perbaikan atas tindakan yang telah dilakukan, maka rencana tindakan perlu
disempurnakan lagi agar tindakan yang dilaksanakan berikutnya tidak sekedar
mengulang apa yang telah diperbuat sebelumnya. Demikian seterusnya sampai
masalah yang diteliti dapat mengalami kemajuan.
Adapun rancangan penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam
beberapa siklus. Dengan catatan: Apabila siklus I berhasil sesuai kriteria yang

23
diinginkan, maka tetap dilakukan siklus II untuk pemantapan, tetapi kalau
siklus I tidak berhasil, maka dilakukan siklus II dengan cara menyederhanakan
materi dan menambah media pembelajaran. Apabila pada siklus II belum
terjadi peningkatan, maka siklus III harus dipersiapkan untuk mengatasi
kesulitan yang dialami siswa.
Secara rinci prosedur pelaksanaan rancangan penelitian tindakan kelas untuk
setiap siklus dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Siklus I
a. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti merumuskan dan mempersiapkan: rencana
jadwal pelaksanaan tindakan, rencana pelaksanaan pembelajaran,
materi/bahan pelajaran sesuai dengan pokok bahasan, lembar tugas siswa,
lembar penilaian hasil belajar, instrumen lembar observasi, dan
mempersiapkan kelengkapan lain yang diperlukan dalam rangka analisis
data.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada dasarnya disesuaikan dengan setting
tindakan yang telah ditetapkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP). Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini dilakukan sesuai dengan
langkah-langkah pembelajaran pada pola model kooperatif example non
example
c. Pengamatan
Pengamatan saat proses pembelajaran berlangsung dilakukan
pengamatan terhadap perilaku siswa. Pengamatan dilakukan untuk
mengetahui sikap dan perilaku siswa terhadap pembelajaran Sumber daya
alam dengan model kooperatif example non example . Pelaksanaan
pengamatan mulai awal pembelajaran ketika guru melakukan apersepsi
sampai akhir pembelajaran.
Sejalan dengan hal tersebut, tim UPT PPL UM menyatakan bahwa
jenis instrumen yang diperlukan dalam penilaian belajar afektif dalam hal
ini bisa berupa pengamatan, dokumentasi, atau kuesioner sikap. Langkah
penyusunannya adalah dengan cara (1) menentukan aspek afektif yang
akan dinilai, (2) menentukan instrumen yang akan digunakan, (3)

24
mengidentifikasi ciri/indikator aspek afektif yang dapat diamati dan cukup
mewakili indikator, (4) menyusun pedoman pengamatan, skala sikap, atau
kuesioner yang berisi deskriptor dari suatu indikator, dan (5) menentukan
skor/kategori yang dicapai siswa berdasarkan hasil pengamatan.Dalam hal
ini penilaian terhadap aspek belajar pembiasaan yang pada umumnya
berkait dengan aspek afektif dan psikomotor dapat dihidupkan dan
digunakan untuk mengamati unjuk kerja siswa.
d. Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan menganalisis semua data atau
informasi yang dikumpulkan dari penelitian tindakan yang dilaksanakan,
sehingga dapat diketahui berhasil atau tidaknya tindakan yang telah
dilaksanakan dengan tujuan yang diharapkan.
3. Siklus II

Berdasarkan refleksi pada siklus I, diadakan kegiatan-kegiatan untuk


memperbaiki rencana dan tindakan yang telah dilakukan. Langkah-langkah
kegiatan pada siklus II pada dasarnya sama seperti langkah-langkah pada siklus
I, tetapi ada beberapa perbedaan kegiatan pembelajaran pada siklus II.
1. Perencanaan
Sebagai tindak lanjut siklus I, dalam siklus II dilakukan perbaikan.
Penulis mencari kekurangan dan kelebihan pada pembelajaran membuat
ringkasan wacana pada siklus I. Kelebihan yang ada pada siklus I
dipertahankan pada siklus II, sedangkan kekurangannya diperbaiki.
Peneliti memperbaiki rencana pelaksanaan pembelajaran berdasarkan
siklus I. penulis juga menyiapkan pedoman wawancara, lembar observasi
untuk mengetahui kemampuan siswa memahami soal cerita dengan model
kooperatif example non example
b. Pelaksanaan Tindakan
Proses tindakan pada siklus II dengan melaksanakan proses
pembelajaran berdasarkan pada pengalaman hasil dari siklus I. Dalam
tahap ini peneliti melaksanakan proses pembelajaran berdasarkan
Tindakan pada siklus I, perbedaannya adalah pada siklus II dilaksanakan

25
dengan cara menyederhanakan materi pembelajaran dan menambahkan
media pengajaran
c. Pengamatan
Adapun yang diobservasi pada siklus II sama seperti siklus I,
meliputi: hasil tes dan nontes . Pedoman pengamatan pada siklus II
memperhatikan instrumen serta kriteria seperti yang terdapat pada siklus I.
d. Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan menganalisis semua data atau informasi
yang dikumpulkan dari penelitian tindakan yang dilaksanakan, sehingga
dapat diketahui berhasil atau tidaknya tindakan yang telah dilaksanakan
pada siklus II dengan tujuan yang diharapkan dan apabila diperlukan untuk
pemantapan dilanjutkan ke siklus III yang di lakukan hanya satu kali
pertemuan.

C. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
1. Dokumentasi nilai, adalah data berupa nilai ulangan harian matematika pada
kompetensi dasar sebelumnya yang dijadikan sebagai nilai pra siklus untuk
digunakan sebagai acuan hasil tes pada siklus I.
2. Tugas, nilai rata-rata hasil latihan soal dan tugas rumah yang diberikan guru
sebagai latihan siswa.
3. Observasi, menggunakan tabel pedoman observasi untuk mengetahui tingkat
aktivitas siswa dan aktivitas guru pada saat pembelajaran berlangsung.
4. Teknik tes, tes akhir siklus digunakan untuk mengetahui skor akhir siswa
setiap siklusnya. Tes ini dibuat oleh peneliti sesuai dengan materi yang
diajarkan kepada siswa.

D. Teknik Analisis Data


Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara kuantitatif dan
kualitatif. Berikut dijelaskan paparan kedua teknik tersebut.

1. Teknik Kuantitatif

26
Teknik kuantitatif digunakan untuk menganalisis data kuantitatif. Data
kuantitatif ini diperoleh dari hasil tes pembelajaran matematika operasi
penjumlahan dan pengurangan dengan model kooperatif example non example
pada siklus I dan siklus II. Nilai hasil tiap-tiap tes dihitung jumlahnya dalam
persentase dengan menggunakan rata-rata, prosentase dan diagram
a. Rata – rata
Rata – rata digunakan untuk mengetahui peningkatn hasil belajar siswa
dengan menggunakn rata – rata skor hasil belajar masing – masing siklus.
Adapun rumus mencari rata – rata adalah sebagai berikut.
n

x i
x1  x2  x3  ....  xn (Sudjana 2005)
x i 1

n n
Keterangan :
x : Nilai rata –rata hasil belajar siswa pada setiap siklus
n

x
i 1
i : Jumlah nilai seluruh siswa

n : Banyaknya siswa

Untuk mengetahui hasil belajar siswa dapat dilakukan dengan


menganalisis data berupa nilai tes pada setiap siklus (tes formatif) yaitu nilai
rata-rata tes tiap pertemuan
b. Persentase
Persentasi digunakan untuk menggambarkan peningkatan hasil belajar
siswa dari siklus I ke siklus II dengan menggunakan rumus:
a
Presentasi = x100 %
b
Keterangan :
1) Selisih skor rata-rata prestasi siswa pada dua siklus
2) Skor rata-rata prestasi siswa pada siklus sebelummnya.

c. Diagram
Diagram digunakan untuk menggambarkan peningkatan hasil belajar
siswa dalam materi pembelajaran soal cerita .
2. Teknik Kualitatif

27
Teknik kualitatif digunakan untuk menganalisis data kualitatif. Data
kualitatif ini diperoleh siswa dari data nontes yaitu data observasi aktivitas siswa
selama proses pembelajaran
Adapun langkah penganalisisan data kualitatif adalah dengan menganalisis
lembar observasi yang telah diisi saat pembelajaran.. Hasil analisis analisis
tersebut untuk mengetahui siswa yang mengalami kesulitan dalam proses
pembelajaran, untuk mengetahui kelebihan, kekurangan pembelajaran dengan
model kooperatif example non example , dan untuk dasar mengetahui
peningkatan aktifitas belajar siswa dalam menggunakan model kooperatif
example non example
3. Conclusion Data ( Kesimpulan )
Data yang telah di analisis kemudian dibuat suatu kesimpulan.

E. Indikator Keberhasilan
Indikator yang menyatakan bahwa pembelajaran ini dinyatakan berhasil
yaitu jika pembelajaran yang dilaksanakan sudah berjalan dengan baik sesuai
dengan skenario pembelajaran, hasil observasi dari pelaksanaan pembelajaran
berkategori baik, dan rata-rata nilai akhir dari setiap siklusnya terjadi peningkatan
sehingga persentase skor rata-rata siswa secara klasikal yang mencapai skor lebih
dari atau sama dengan 65 adalah mencapai 85% hal ini sesuai dengan KKM SDN
006 Loa Janan .

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

28
A. Deskripsi Hasil Penelitian Persiklus
Penelitian ini dilaksanakan di SDN 006 Loa Janan yang terletak di
Jalan Gerbang Dayaku desa Loa Duri kecamatan Loa Janan Kabupaten
Kutai Kartanegara. Siswa yang dikenakan tindakan adalah siswa Kelas III
yang berjumlah 23 orang. Penelitian ini dilaksanakan pada semester 2 Tahun
pembelajaran 2017/2018 sesuai dengan jadwal pembelajaran matematika di
kelas III SDN 006 Loa Janan. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas
yang dilakukan dalam 2 siklus yaitu pada siklus I dilaksanakan sebanyak dari
2 x pertemuan dimana pertemuan 1 adalah pelaksanaan proses pembelajaran
selama 2 x 35 menit (sesuai dengan alokasi waktu pembelajaran matematika
pada jadwal pelajaran) dan pada pertemuan 2 adalah pelaksanaan
pembelajaran 2 x 35 menit dan dilanjutkan pelaksanaan tes hasil belajar
pada akhir siklus selama 2 x 35 menit
Penelitian ini dilaksanakan karena hasil belajar matematika siswa
yang rendah, Jenis penelitian adalah peneltian tindakan kelas menggunakan
model penelitian dari Kemmis dan Taggart yang terdiri dari empat tahap yaitu
: Planning (Perencanaan), dilakukan untuk memperbaiki peningkatan atau
perubahan prilaku dan sikap sebagai solusi, Action (Tindakan) dilakukan oleh
peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang
diinginkan, Observation (Observasi), dilakukan untuk mengamati atas hasil
atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa,
Reflection (Refleksi), dilakukan untuk mengkaji, melihat dan
mempertimbangkan hasil / dampak tindakan dari berbagai aspek. Berdasarkan
hasil refleksi, peneliti dapat melakukan revisi atau melanjutkan pada tindakan
lanjutan. Tahap-tahap tersebut diatas dilaksanakan peneliti melalui tiga siklus
secara berkesinambungan. Setiap tindakan yang direncanakan dan
dilaksanakan berdasarkan hasil refleksi atau tindakan sebelumnya.

1. Deskripsi Hasil Siklus I


Pada Siklus I dimulai dengan tahapan perencanaan adapun yang
dilaksanakan dalam pertemuan 1 adalah peneliti membuat rencana persiapan
pembelajaran, media pembelajaran, lembar kerja siswa dan lembar pengamatan

29
siswa yang sesuai dengan materi pembelajaran untuk pertemuan pertama, materi
yang disajikan pada rencana pelaksanaan pembelajaran pada lampiran
a. Tahap Perencanaan
Pada Siklus I dimulai dengan tahapan perencanaan adapun yang
dilaksanakan dalam pertemuan 1 adalah peneliti membuat rencana persiapan
pembelajaran, media pembelajaran, lembar kerja siswa dan lembar pengamatan
siswa yang sesuai dengan materi yang disajikan pada rencana pelaksanaan
pembelajaran pada lampiran
b. Tahap Tindakan

Siklus I dilaksanakan pada Jumat, 6 April 2018 di kelas III dengan jumlah
siswa yang mengikuti pembelajaran adalah 23 siswa. Pokok bahasan pada siklus I
yaitu bangun datar dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Pelaksanaan siklus ini
merupakan penggunaan model kooperatif example non example yang meliputi
pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup.
Dalam tahap ini guru menerapkan pembelajaran dengan menggunakan
model kooperatif example non example adapun tindakan yang dilakukan pada
siklus I adalah sebagai berikut:
a) Pendahuluan
Guru meminta siswa untuk berdoa, guru melakukan absensi, guru
melakukan apersepsi, memberikan motivasi dan mengecek kesiapan siswa
menerima pelajaran, guru menyampaikan indikator pencapaian
b) Kegiatan Inti
1) Guru mempersiapkan gambar-gambar bangun datar sesuai dengan tujuan
pembelajaran. Gambar yang digunakan tentunya merupakan gambar yang
relevan dengan materi yang dibahas sesuai dengan Kompetensi Dasar.
2) Guru menempelkan gambar di papan. Pada tahapan ini guru juga dapat
meminta bantuan siswa untuk mempersiapkan gambar yang telah dibuat
dan sekaligus pembentukan kelompok siswa.
3) Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada peserta didik
untuk memperhatikan/menganalisis gambar. Biarkan siswa melihat dan
menelaah gambar yang disajikan secara seksama, agar detil gambar dapat

30
difahami oleh siswa. Selain itu, guru juga memberikan deskripsi jelas
tentang gambar yang sedang diamati siswa.
4) Melalui diskusi kelompok 2-3 orang peserta didik, hasil diskusi dari
analisis gambar tersebut dicatat pada kertas. Kertas yang digunakan
disediakan oleh guru.
5) Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya. Siswa
dilatih untuk menjelaskan hasil diskusi mereka melalui perwakilan
kelompok masing-masing.
6) Mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan
materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. Setelah memahami hasil dari
analisa yang dilakukan siswa, maka guru mulai menjelaskan materi sesuai
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
7) Guru dan peserta didik menyimpulkan materi sesuai dengan tujuan
pembelajaran
8) Guru melakukan elaborasi dengan melaksanakan kegiatan memberi
kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan
bertindak tanpa rasa takut; Memfasilitasi peserta didik membuat laporan
eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual
maupun kelompok; Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil
kerja individual maupun kelompok;
Guru dalam kegiatan konfirmasi, melakukan kegiatan; Guru bertanya
jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa. Guru bersama siswa bertanya
jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan
penyimpulan

c) Penutup
Memberikan kesimpulan dari kegiatan demonstrasi tentang sifat dan luas
bangun datar
c. Tahap Observasi

Dalam melaksanakan pengamatan peneliti menggunakan format lembar


observasi. Observasi di tekankan pada kegiatan guru dalam melaksanakan

31
pembelajaran menggunakan model kooperatif example non example, dan partisipasi
siswa selama proses pembelajaran. Adapun hasil pengamatannya sebagai berikut :
1) Hasil Observasi Kegiatan Guru
Data Hasil Observasi Keterampilan Guru Siklus I yang dilakukan oleh teman
sejawat dapat diuraikan sebagai berikut : Saat pendahuluan sudah mempersiapkan
alat dan media yang diperlukan dalam pembelajaran, termasuk memeriksa kesiapan
siswa. Pada waktu membuka pelajaran guru kurang memberikan motivasi terkait
dengan materi ajar, menyampaikan tujuan pembelajaran/ kompetensi yang hendak
dicapai. Pada kegiatan inti, guru menunjukkan penguasaan materi pembelajaran
sehingga dapat mengaitkan antara materi dengan pengetahuan lain yang relevan dan
realitas kehidupan, dan disampaikan dengan jelas, sesuai dengan hirarki belajar dan
karakteristik siswa.
Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan tahapan model kooperatif
example non example sesuai dengan langkah kegiatan yang direncanakan, sesuai
dengan tujuan/kompetensi yang hendak dicapai, menumbuhkan partisipasi aktif
siswa, memfasilitasi terjadinya interaksi antara siswa dengan sumber belajar,
menggunakan bahasa lisan dan tertulis dengan baik. Dalam hal penilaian proses dan
hasil belajar, guru sudah cukup baik memantau kemajuan belajar siswa selama
proses pembelajaran dan melakukan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi
(tujuan) yang telah dibuat.
2) Hasil Observasi Kegiatan Siswa
Data hasil observasi aktivitas siswa siklus I diperoleh data sebagai berikut
Pada kegiatan pendahuluan siswa menerima pembelajaran, dan mendengarkan secara
seksama saat dijelaskan kompetensi yang akan dicapai. Pada waktu kegiatan inti,
siswa memperhatikan dengan serius ketika dijelaskan materi pelajaran, aktif bertanya
saat proses penjelasan materi, terjadi interaksi positif antara siswa-siswa-guru saat
pelaksanaan pembelajaran
c) Hasil Belajar Ranah Kognitif Siswa
Hasil belajar ranah kognitif siswa pada siklus I merupakan hasil tes individu
pada pembelajaran matematika tentang sifat beberapa bangun datar melalui model
kooperatif example non example Nilai dari setiap siswa dapat diketahui dari hasil

32
pengerjaan tes tertulis. Jumlah siswa yang mengikuti tes siklus I adalah 23 siswa.
Adapun nilai hasil belajar matematika siklus I adalah sebagai berikut:
Tabel. 4.1 Nilai Tes Siswa Siklus I
Keterangan
No Nama Siswa KKM Nilai
Tuntas Tidak Tuntas
1 Ahmad Aglis 65 65 Tuntas
2 Aji Putra 65 65 Tuntas
3 Akbar Kelana 65 70 Tuntas
4 Alif Raihandi 65 75 Tuntas
5 Almaydah 65 65 Tuntas
6 Ardi Anur 65 65 Tuntas
7 Aviola 65 70 Tuntas
8 Daniel M 65 65 Tuntas
9 Erlangga 65 55 Tidak Tuntas
10 Fawas A 65 70 Tuntas
11 Heni hariyanti 65 65 Tuntas
12 Liara Putri 65 80 Tuntas
13 M. Fathir 65 65 Tuntas
14 Maulana Jiran 65 65 Tuntas
15 M. Ramadhan 65 75 Tuntas
16 M. Sultan A 65 70 Tuntas
17 Nasud Bayu 65 60 Tidak Tuntas
18 Nur Ikhsan 65 60 Tidak Tuntas
19 Putri 65 70 Tuntas
20 Reyhan 65 55 Tidak Tuntas
21 Sari Ramadan 65 65 Tuntas
22 Syifa Faliza 65 70 Tuntas
23 Sammur Andika 65 65 Tuntas
Jumlah 1530 19 4
Rata-rata 66,52
Prosentase Ketuntasan (%) 82,61 17,39
Nilai Tertinggi 80
Nilai Terendah 55

Pada siklus I hasil belajar siswa dengan rata-rata 66,52 dengan nilai
tertinggi 80 dan nilai terendah 55. Berdasarkan tabel 4.1 ketuntasan belajar siswa
pada siklus I dapat digambarkan pada grafik sebagai berikut:
Grafik 4.1 Porsentase Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I

33
Setelah dilaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus 1 selesai maka
dapat diketahui adanya kenaikan hasil belajar siswa dari perolehan nilai sebelum
dilakukan pembelajaran model kooperatif example non example
Dari hasi nilai pra siklus , masih banyak siswa yang nilainya belum
mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), KKM yang ditargetkan adalah 65.
Dari 23 orang siswa terdapat 14 orang siswa yang nilainya belum mencapai
KKM, jika dipersentasikan jumlah siswa yang nilainya mencapai KKM adalah
hanya 39,13%. Setelah diadakan perbaikan pembelajaran pada siklus 1, ternyata
ada terjadi peningkatan ketuntasan belajar pada siklus I menjadi 82,61 % siswa
yang tuntas maka kenaikan persentase dari nilai pra siklus ke siklus 1 yaitu 43,48
%. Ini membuktikan ada peningkatan nilai siswa antar nilai pra siklus dan
Siklus1.
Dalam tahap ini peneliti bersama teman sejawat menilai keberhasilan
tindakan pembelajaran terhadap guru dan siswa pada siklus I. Mengevaluasi
tahap-tahap kegiatan melakukan aktivitas terhadap hasil-hasil yang telah dicapai.
Hasil refleksi ini selanjutnya digunakan oleh peneliti bersama teman sejawat
sebagai dasar bagi upaya perbaikan pembelajaran pada siklus II diteruskan dengan
mengulangi tahapan yang benar. Pengumpulan data dilaksanakan oleh peneliti
yang sekaligus guru kelas bersama teman sejawat guru sebagai pengamat selama
proses perbaikan pembelajaran.
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan penggunaan metode pembelajaran
yang digunakan pada siklus I maka dilakukan perbandingan hasil tes siklus I dan
nilai pra siklus yang nantinya dapat dipergunakan untuk melaksanakan tindakan
perbaikan pada siklus selanjutnya.
Adapun hasil perolehan nilai hasil evaluasi pada nilai pra siklus dan
Siklus 1 adalah sebagai berikut :
Tabel 4.2 Perbandingan Nilai Dasar dan Siklus 1
No Nama Siswa Nilai

34
Pra siklus Siklus I
1 Ahmad Aglis 60 65
2 Aji Putra 60 65
3 Akbar Kelana 65 70
4 Alif Raihandi 70 75
5 Almaydah 60 65
6 Ardi Anur 60 65
7 Aviola 65 70
8 Daniel M 60 65
9 Erlangga 50 55
10 Fawas A 65 70
11 Heni hariyanti 60 65
12 Liara Putri 75 80
13 M. Fathir 60 65
14 Maulana Jiran 60 65
15 M. Ramadhan 70 75
16 M. Sultan A 65 70
17 Nasud Bayu 55 60
18 Nur Ikhsan 55 60
19 Putri 65 70
20 Reyhan 50 55
21 Sari Ramadan 60 65
22 Syifa Faliza 65 70
23 Sammur Andika 60 65
Jumlah 1415 1530
Rata-rata 61,52 66,52
Prosentase Ketuntasan (%) 39,13 82,61
Nilai Tertinggi 75 80
Nilai Terendah 50 55

Berdasarkan tabel 4.2 perbandingan perolehan nilai pra siklus dan siklus I
secara terperinci dapat digambarkan pada grafik sebagai berikut:

Grafik 4.2 Grafik Perolehan Nilai pra siklus dan Siklus 1

35
d. Refleksi Siklus I
Berdasarkan kumpulan data yang diperoleh dari kolaborasi dengan teman
sejawat serta hasil observasi, tugas dan tes yang ada pada peneliti, ternyata
presentase nilai hasil belajar siswa belum memenuhi standar hasil belajar minimal
yang ditetapkan oleh SDN 006 Loa Janan yaitu dilihat dari nilai siswa yang
mencapai 65 atau lebih presentase siswa belum mencapai 85 % seperti yang
terlihat pada table 4.2 . Hal ini menunjukkan bahwa tujuan yang hendak dicapai
sehubungan dengan pelaksanaan tindakan ini belum tercapai.
Refleksi dilaksanakan oleh peneliti, dan supervisor I . Hasil analisis data
pada pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif example
non example pada siklus 1, secara umum telah menunjukkan perubahan yang
cukup baik. Guru dalam melaksanakan pembelajaran semakin mantap dan luwes
dengan memahami kekurangan-kekurangan kecil diantaranya kurang kontrol
waktu dan belum memberikan tindak lanjut. Presentase hasil belajar dan
partisipasi siswa dalam pembelajaran terlihat meningkat. Para siswa lebih banyak
memperhatikan dan menjawab pertanyaan guru, lebih bersemangat, dan kreatif.
hasil belajar matematika siswa dalam pembelajaran meningkat, Dengan partisipasi
siswa dalam pembelajaran yang semakin meningkat, suasana kelas pun menjadi
hidup dan lebih menyenangkan.

Pada tahan refleksi, peneliti bekerja sama dengan teman sejawat


berkonsultasi pada pembimbing untuk mencatat semua tujuan dalam perbaikan
pembelajaran, yang meliputi kelebihan dan kelemahan pada perbaikan siklus I.
Tujuan dari refleksi penelitian tindakan adalah untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran pada siklus II agar pembelajaran berikutnya semakin baik. Adapun
kekurangan dan kelebihan pada siklus I adalah sebagai berikut.
1. Keberhasilan

36
a. Motivasi dan minat belajar siswa sudah meningkat.
b. Secara keseluruhan guru telah melaksanakan kegiatan belajar mengajar
dengan baik dalam proses perbaikan pembelajaran.
c. Adanya peningkatan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran .
d. Hasil belajar ada peningkatan dari sebelum diadakan perbaikan pembelajaran.
2. Kekurangan
a. Masih ada siswa yang kurang memahami materi.
b. Ketrampilan siswa dalam menjawab soal masih kurang.
c. Hasil belajar perlu ditingkatkan lagi.
d. Siswa perlu bimbingan guru dalam melakukan demonstrasi
2. Deskripsi Hasil Siklus II
Pelaksanaan kegiatan siklus II peneliti berusaha menyempurnakan cara
mengajar dengan model kooperatif example non example berdasarkan hasil
refleksi Siklus I. Berdasarkan hasil refleksi siklus satu, maka tindakan tambahan
yang direncanakan pada siklus dua ini adalah: arahan kembali tentang langkah-
langkah pelaksanan model kooperatif example non example kepada siswa,
diinformasikan topik pelajaran yang akan pertemuan berikutnya dengan tujuan
agar siswa lebih siap lagi melakukan kegiatan pembelajaran.
a. Perencanaan Tindakan
Berdasarkan hasil refleksi dan evaluasi pelaksanaan tindakan pada siklus I
diketahui bahwa belum menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yang
memuaskan. Karena dari tiga indikator yang ditetapkan baru indikator nomor 1
dan 2 yang berhasil, belum menunjukkan peningkatan hasil belajar yang
diinginkan. Oleh karena itu peneliti dengan arahan dari supervisor 2 dan kepala
sekolah serta pertimbangan masukan dari guru-guru kelas yang lain
Adapun indikator yang dibuat sebagai dasar penyusunan rencana
pembelajaran pada siklus 2 adalah sebagai berikut :
1. Menemukan rumus keliling bangun datar persegi panjang.
2. Menentukan/menghitung keliling persegi panjang dengan melibatkan satuan
baku.
3. Memecahkan masalah yang berhubungan dengan keliling persegi panjang.
4. Menemukan rumus keliling bangun datar persegi.
5. Menentukan/menghitung keliling persegi dengan melibatkan satuan baku.

37
Mengingat hasil analisis siklus I, belum tercapai tujuan penelitian , maka
rencana penelitian pada siklus 2 ini adalah peneliti memberikan penjelasan secara
detail saat pelaksanan model kooperatif example non example dan siswa
diharuskan untuk tampil didepan kelas melaksanakan demonstrasi.
b. Tahap Tindakan
Siklus I dilaksanakan pada Jumat, 13 April 2018 di kelas III dengan
jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran adalah 23 siswa. Pokok bahasan pada
siklus I yaitu rumus keliling bangun datar persegi dengan alokasi waktu 2 x 35
menit. Pelaksanaan siklus ini merupakan penggunaan model kooperatif example
non example yang meliputi pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup.
Peneliti bertindak sebagai guru yang melaksanakan kegiatan belajar
mengajar sesuai dengan rencana persiapan pembelajaran pada lampiran selain
sesuai dengan rencana persiapan pembelajaran yang telah disusun, peneliti juga
menjalankan hasil refleksi siklus I, hal ini dilaksanakan untuk mengadakan
perbaikan dalam proses belajar mengajar. Berikut ini dipaparkan kondisi riil yang
dialami selama proses belajar mengajar berlangsung selama 2 x 35 menit adalah
sebagai berikut
Pembelajaran matematika dengan model kooperatif example non example
sesuai dengan rencana pembelajaran 1 kali pertemuan. Guru mengawali
pembelajaran dengan berdoa bersama, mengabsen siswa, kemudian untuk
memusatkan konsentrasi, siswa diajak tanya jawab tentang pelajaran yang lalu.
Pada penelitian siklus 2 ini, guru memilih indikator tentang keliling dan luas
bangun datar. Tindakan pada siklus II dengan melaksanakan proses pembelajaran
berdasarkan pada pengalaman hasil dari siklus I. Dalam tahap ini peneliti
melaksanakan proses pembelajaran berdasarkan tindakan pada siklus I,
perbedaannya adalah pada siklus II dilaksanakan dengan cara menyederhanakan
materi pembelajaran dan menambahkan media pengajaran serta mengarahkan cara
melakukan langkah kooperatif example non example yang diperagakan oleh guru
dan siswa secara benar, Adapun yang kegiatan yang dilaksanakan pada siklus II
adalah sebagai berikut:.
1) Pendahuluan

38
Guru meminta siswa untuk berdoa, guru melakukan absensi, guru melakukan
apersepsi, memberikan motivasi dan mengecek kesiapan siswa menerima
pelajaran, guru menyampaikan indikator pencapaian
2) Kegiatan Inti
Adapun kegiatanya dalam eksplorasi, guru melakukakn kegiatan agar
siswa siswa dapat memahami peta konsep tentang luas dan keliling bangun
datar Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan
pembelajaran; Memfasilitasi peserta didik melakukan tahapan example non
example dengan menggunakan beberapa gambar di ruang kelas
Dalam kegiatan elaborasi, Guru menulis topik pembelajaran Guru
menulis tujuan pembelajaran, Guru membagi peserta didik dalam kelompok,
Guru menempelkan gambar di papan tulis, Guru meminta kepada masing-
masing kelompok untuk membuat rangkuman tentang macam-macam gambar
yang ditunjukkan oleh guru, Guru meminta salah satu kelompok
mempresentasikan hasil rangkumannya, sementara kelompok lain sebagai
penyangga dan penanya, Peserta didik melakukan diskusi, Guru memberikan
penguatan pada hasil diskusi.
Pada kegiatan konfirmasi guru bertanya jawab tentang hal-hal yang
belum diketahui siswa Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan
kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan
3) Penutup
Memberikan kesimpulan dari kegiatan tentang luas dan keliling bangun datar

c. Tahap Observasi
Pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan yaitu
dengan mengamati setiap tindakan yang dilaksanakan meliputi aktifitas yang
dilakukan guru dengan siswa , interaksi guru dengan siswa , interaksi siswa
dengan siswa selama kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Observasi
ini dilakukan untuk merekam aktivitas belajar anak pada saat pembelajaran
Dalam melaksanakan pengamatan peneliti menggunakan format lembar
observasi. Observasi di tekankan pada kegiatan guru dalam melaksanakan

39
pembelajaran menggunakan model kooperatif example non example serta
partisipasi siswa selama proses pembelajaran. Adapun hasil pengamatannya
sebagai berikut :
a) Hasil Observasi Kegiatan Guru
Data hasil observasi keterampilan guru siklus II yang dilakukan oleh
teman sejawat dapat diuraikan sebagai berikut :
Sebelum memulai pembelajaran guru sudah mempersiapkan alat dan
media yang diperlukan dalam pembelajaran, termasuk memeriksa kesiapan siswa.
Pada waktu membuka pelajaran guru memberi pertanyaan apersepsi terkait
dengan materi ajar, menyampaikan tujuan pembelajaran/ kompetensi yang hendak
dicapai.
Pada kegiatan inti, guru menunjukkan penguasaan materi pembelajaran
sehingga dapat mengaitkan antara materi dengan pengetahuan lain yang relevan
dan realitas kehidupan, dan disampaikan dengan jelas, sesuai dengan hirarki
belajar dan karakteristik siswa pada model kooperatif example non example, guru
melaksanakan pembelajaran demonstrasi sesuai dengan langkah kegiatan yang
direncanakan, sesuai dengan tujuan/kompetensi yang hendak dicapai,
menumbuhkan partisipasi aktif siswa, memfasilitasi terjadinya interaksi antara
siswa dengan sumber belajar, menggunakan bahasa lisan dan tertulis dengan baik.
Dalam hal penilaian proses dan hasil belajar, guru sudah cukup baik memantau
kemajuan belajar siswa selama proses pembelajaran dan melakukan penilaian
akhir sesuai dengan kompetensi (tujuan) yang telah dibuat, penyampaian pesan
pembelajaran dengan bahasa lisan dan tulis secara jelas, baik, dan benar.
Kegiatan akhir, guru melakukan refleksi dan merangkum materi bersama
siswa, melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan dan tugas
pekerjaan rumah.
b) Hasil Observasi Kegiatan Siswa
Data Hasil Observasi aktivitas siswa siklus II diperoleh hasil observasi
ketika proses pembelajaran berlangsung, sebagai berikut :
Pada kegiatan pra pembelajaran siswa menerima pembelajaran, dan
mendengarkan secara seksama saat dijelaskan kompetensi yang akan dicapai.

40
Pada waktu kegiatan inti, siswa memperhatikan dengan serius ketika dijelaskan
materi pelajaran, aktif bertanya saat proses penjelasan materi, terjadi interaksi
positif antara siswa-siswa-guru, siswa-materi pelajaran. Siswa mengerjakan tugas
kerja kelompok dengan tenang. Kegiatan akhir, siswa turut aktif merangkum
kesimpulan dari materi pelajaran, dan siap menerima tugas pekerjaan rumah.
Siswa berangkat dari satu definisi yang selanjutnya digunakan untuk memperluas
pemahaman konsepnya dengan lebih mendalam dan lebih komplek. Siswa terlibat
dalam satu proses penemuan, yang mendorong mereka untuk membangun konsep
secara progresif melalui pengalaman dari examples dan non examples. Siswa
diberi sesuatu yang berlawanan untuk mengeksplorasi karakteristik dari suatu
konsep dengan mempertimbangkan bagian non example yang dimungkinkan
masih terdapat beberapa bagian yang merupakan suatu karakter dari konsep yang
telah dipaparkan pada bagian examples.

c) Hasil Belajar Ranah Kognitif Siswa


Hasil belajar ranah kognitif siswa pada siklus II merupakan hasil tes
individu pada pembelajaran tentang materi bangun datar melalui model kooperatif
example non example. Nilai dari setiap siswa dapat diketahui dari hasil
pengerjaan tes tertulis. Jumlah siswa yang mengikuti tes siklus II adalah 21 siswa.
Hasil tes siklus II menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar ranah kognitif siswa
dalam pembelajaran matematika dapat dilihat pada tabel nilai hasil belajar siswa
siklus II sebagai berikut:

Tabel. 4.4 Nilai Tes Siswa Siklus II


Keterangan
No Nama Siswa KKM Nilai
Tuntas Tidak Tuntas
1 Ahmad Aglis 65 70 Tuntas
2 Aji Putra 65 70 Tuntas
3 Akbar Kelana 65 75 Tuntas
4 Alif Raihandi 65 80 Tuntas
5 Almaydah 65 70 Tuntas
6 Ardi Anur 65 70 Tuntas
7 Aviola 65 75 Tuntas
8 Daniel M 65 70 Tuntas
9 Erlangga 65 60 Tidak Tuntas

41
10 Fawas A 65 75 Tuntas
11 Heni hariyanti 65 70 Tuntas
12 Liara Putri 65 85 Tuntas
13 M. Fathir 65 70 Tuntas
14 Maulana Jiran 65 70 Tuntas
15 M. Ramadhan 65 80 Tuntas
16 M. Sultan A 65 75 Tuntas
17 Nasud Bayu 65 65 Tuntas
18 Nur Ikhsan 65 65 Tuntas
19 Putri 65 75 Tuntas
20 Reyhan 65 60 Tidak Tuntas
21 Sari Ramadan 65 70 Tuntas
22 Syifa Faliza 65 75 Tuntas
23 Sammur Andika 65 70 Tuntas
Jumlah 1645 21 2
Rata-rata 71,52
Prosentase Ketuntasan (%) 91,30 8,70
Nilai Tertinggi 85
Nilai Terendah 60

Berdasarkan tabel 4.4 tentang hasil penelitian siklus II, ketuntasan


belajar siswa pada siklus I dapat digambarkan pada grafik sebagai berikut:
Grafik 4. 3 Grafik ketuntasan Belajar Siswa Siklus II

Perolehan nilai tes akhir siswa diperoleh nilai siswa yang tuntas dalam
pembelajaran sebesar 91,30 % siswa atau 21 siswa tuntas dalam pembelajaran
matematika hal ini menunjukan keberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran
yang dilakukan dan nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 71,52. Setelah
memperbaiki kegiatan pembelajaran yang ada di siklus 1 maka pelaksanaan pada
siklus 2 sudah membuat rancangan yang lebih baik sehingga mengalami kemajuan
dan peningkatan. Adapun perolehan nilai evaluasi pada siklus 1 yang
dibandingkan dengan perolehan nilai evaluasi siklus 2, dapat dilihat pada tabel

42
Tabel 4.5 Perolehan Nilai Evaluasi Siklus 1 dan Siklus 2
Nilai
No Nama Siswa
Siklus I Siklus II
1 Ahmad Aglis 65 70
2 Aji Putra 65 70
3 Akbar Kelana 70 75
4 Alif Raihandi 75 80
5 Almaydah 65 70
6 Ardi Anur 65 70
7 Aviola 70 75
8 Daniel M 65 70
9 Erlangga 55 60
10 Fawas A 70 75
11 Heni hariyanti 65 70
12 Liara Putri 80 85
13 M. Fathir 65 70
14 Maulana Jiran 65 70
15 M. Ramadhan 75 80
16 M. Sultan A 70 75
17 Nasud Bayu 60 65
18 Nur Ikhsan 60 65
19 Putri 70 75
20 Reyhan 55 60
21 Sari Ramadan 65 70
22 Syifa Faliza 70 75
23 Sammur Andika 65 70
Jumlah 1530 1645
Rata-rata 66,52 71,52
Prosentase Ketuntasan (%) 82,61 91,30
Nilai Tertinggi 80 85
Nilai Terendah 55 60
Berdasarkan tabel 4.5 perbandingan peroleh nilai siswa siklus I dan siklus
II dapat digambarkan pada grafik sebagai berikut
Grafik 4.4 Perolehan Nilai Evaluasi pada Siklus 1 dan 2

43
Berdasarkan grafik batang diatas terlihat peningkatan hasil belajar siswa
baik dari rata-rata klasikal maupun porsentase ketuntasan belajar terlihat nilai
rata-rata pada siklus I 66,52 meningkat menjadi 71,52 pada siklus II begitupun
dengan porsentase ketuntasan belajar terlihat pada grafik siswa yang tuntas pada
siklus I 82,61 meningkat menjadi 91,3 pada siklus II .
Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan menunjukan terjadi
peningkatan hasil belajar siswa dari sebelum dilaksanakan tindakan perbaikan
pembelajaran ke siklus I sampai dengan siklus II, Hal ini dapat diketahui pada
tabel perolehan nilai siswa sebelum tindakan perbaikan pembelajaran nilai pra
siklus, siklus 1, dan siklus 2
Adapun perbandingan perolehan nilai evaluasi mulai dari sebelum
tindakan perbaikan, siklus 1, siklus 2 dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

Tabel 4.5 Rekapitulasi Perolehan Nilai Nilai pra siklus, Siklus 1 dan Siklus 2

Nilai
No Nama Siswa
Pra Siklus Siklus I Siklus II
1 Ahmad Aglis 60 65 70
2 Aji Putra 60 65 70
3 Akbar Kelana 65 70 75
4 Alif Raihandi 70 75 80
5 Almaydah 60 65 70
6 Ardi Anur 60 65 70
7 Aviola 65 70 75
8 Daniel M 60 65 70
9 Erlangga 50 55 60
10 Fawas A 65 70 75

44
11 Heni hariyanti 60 65 70
12 Liara Putri 75 80 85
13 M. Fathir 60 65 70
14 Maulana Jiran 60 65 70
15 M. Ramadhan 70 75 80
16 M. Sultan A 65 70 75
17 Nasud Bayu 55 60 65
18 Nur Ikhsan 55 60 65
19 Putri 65 70 75
20 Reyhan 50 55 60
21 Sari Ramadan 60 65 70
22 Syifa Faliza 65 70 75
23 Sammur Andika 60 65 70
Jumlah 1415 1530 1645
Rata-rata 61,52 66,52 71,52
Prosentase Ketuntasan (%) 39,13 82,61 91,30
Nilai Tertinggi 75 80 80
Nilai Terendah 50 55 55

Secara keseluruhan nilai rata-rata siklus 1 dan 2 sudah menunjukan


keberhasilan dari penggunaan model kooperatif example non example dalam
meningkatkan hasil belajar siswa dengan ketuntasan belajar mencapai 91,30 %
atau hanya 2 siswa yang belum tuntas dari 23 orang siswa, walaupun masih
terdapat 2 siswa yang tidak tuntas pada penelitian ini dianggap sudah mencapai
kriteria keberhasilan yaitu secara klasikal 85 % siswa tuntas dalam pembelajaran ,
secara terperinci tergambar pada grafik-grafik sebagai berikut

Grafik 4.5 Grafik Perolehan Nilai Evaluasi Nilai pra siklus , Siklus 1, dan Siklus 2

45
Ketuntasan Hasil belajar siswa secara keseluruhan selama melaksanakan
tindakan penelitian perbaikan hasil belajar matematika pada pokok bahasan luas
dan keliling bangun datar pada siswa kelas III SDN 006 Loa Janan dapat terlihat
pada gambar grafik sebagai berikut
Grafik 4.6
Grafik Persentase Pencapaian KKM Nilai pra siklus , Siklus 1, dan Siklus 2

Berdasarkan grafik 4.5 dan 4.6 maka peneliti menyimpulkan tindakan


perbaikan pembelajaran pada penelitian ini sudah memenuhi indikator keberhasilan
tindakan maka peneliti memutuskan untuk tidak melanjutkan pada siklus berikutnya
dan siklus II sebagai siklus akhir dalam penelitan ini, adapun temuan-temuan dan
kajian teori yang berhubungan dalam penelitian ini akan dibahas lebih lanjut pada
pembahasan

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil pelaksanaan pada siklus I, dan siklus II dapat dinyatakan

bahwa pembelajaran matematika pada pokok bahasan luas dan keliling bangun

datar melalui model kooperatif example non example, baik hasil belajar afektif

maupun kognitif mengalami peningkatan. Adapaun temuan-temuan yang

diperoleh pada penelitian perbaikan pembelajaran yang berlangsung selama 2

siklus adalag sebagai berikut

1. Perkembangan hasil belajar afektif ( Aktivitas Siswa)


Perkembangan hasil belajar afektif siswa sebagai berikut :

46
a. Siswa memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh.
b. Kemauan untuk menerima pelajaran dari guru meningkat.
c. Perhatian, minat, dan motivasi terhadap penjelasan guru meningkat.
d. Siswa aktif dalam pembelajaran.
Dari hasil perkembangan belajar siswa dari segi afektif maupun
psikomotorik, partisipasi siswa dalam pembelajaran meningkat. Terjadi
Peningkatan pada keempat aspek tersebut karena model kooperatif example non
example dapat menarik minat dan motivasi belajar siswa serta keingin tauan
siswa menjadi besar hal ini sejalan dengan pendapat menurut Mulyani Sumantri
( 2000: 114 ) yang menyatakan metode adalah cara – cara yang ditempuh guru
untuk menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan dan
mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar anak
yang memuaskan.
Berdasarkan temuan pada siklus I dan II aktivitas siswa dan motivasi
belajar siswa yang membaik maka hasil belajar siswa ikut meningkat hal ini
sejalan dengan pernyataan menurut Depdiknas, (2000: 5) Faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar antara lain, faktor internal
mencakup motivasi, harapan untuk berhasil, intelegensia, penguasaan
keterampilan prasyarat, dan evaluasi kognitif terhadap kewajaran dari hasil belajar
antara lain. Sedangkan dari faktor eksternal yaitu pengaruh lingkungan fisik
berkenaan dengan prasarana dan sarana belajar, kemudian dari lingkungan psikis
meliputi iklim atau suasana belajar yang diciptakan oleh guru yang
memungkinkan siswa termotivasi untuk belajar.
Berdasarkan temuan pada siklus I dan II dapat disimpulkan bahwa melalui
model kooperatif example non example aktivitas belajar siswa meningkat seiring
dengan meningkatnya hasil belajar
2. Perkembangan hasil belajar kognitif siswa.
Proses pembelajaran disampaikan dengan model kooperatif example non
example dan terencana dimulai dari kegiatan awal, inti dan penutup. Kegiatan ini
terfokus mengaktifkan siswa mulai dari memperhatikan penjelasan, melakukan
pengamatan untuk memperoleh kesimpulan. Setelah dilaksanakan siklus I dan
dievaluasi dapat dilihat adanya peningkatan hasil belajar siswa. Pembelajaran

47
pada siklus II merupakan lanjutan dari siklus sebelumnya untuk memantapkan dan
mencapai tujuan penelitian. Pembelajaran yang disampaikan tentang luas dan
keliling bangun datar, namun diadakan peningkatan penggunaan model kooperatif
example non example yang digunakan. Hal ini bertujuan agar siswa lebih aktif
dan antusias dalam pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar disampaikan dengan
strategi terencana sebagaimana siklus I dan kegiatan pembelajaran dilaksanakan
lebih optimal. Hasil siklus II menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa yaitu
nilai rata-rata siswa meningkat secara signifikan dan ketuntasan belajar siswa
meningkat secara signifikan dari sikus I sampai siklus II Terjadi peningkatan nilai
rata-rata pada siklus II di karenakan peneliti melakukan tindakan refleksi dengan
mengarahkan siswa agar melakukan sendiri demonstrasi didepan kelas dan
peneliti menjelaskan lebih detail tahapan demonstrasi. Adapun temuan yang
diperoleh sehubungan dengan hasil belajar siswa adalah sebagai berikut:
a. Peningkatan hasil belajar siswa berdasarkan perolehan nilai arat-rata hasil
belajar adalah nilai rata-rata siswa sebelum adanya tindakan perbaikan
pembelajaran dengan rata-rata 61,52 meningkat menjadi 66,52 pada siklus I
dan pada siklus II meningkat menjadi 71,52
b. Peningkatan ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan secara
signifikan yaitu ketuntasan sebelum adanya tindakan perbaikan pembelajaran
yaitu siswa yang tuntas hanya 39,13 % meningkat menjadi 82,61 % pada
siklus I kemudian pada siklus II meningkat menjadi 91,30.
c. Peningkatan nilai tertinggi yang diperoleh siswa yaitu nilai 70 sebelum
tindakan perbaikan pembelajaran meningkat menjadi 80 pada siklus I
kemudian
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa terjadi
peningkatan hasil belajar matematika pokok bahasan luas dan keliling bangun
datar yang peningkatan hasil belajarnya karena siswa tertarik dengan model
kooperatif example non example dan peran aktif siswa dalam pembelajaran sangat
baik serta kualitas pengajar yang baik. Hal ini sejalan dengan pendapat menurut
caroll (2007: 51) bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor
faktor yaitu: bakat belajar, waktu yang tersedia untuk belajar, kemampuan
individu, kualitas pengajaran

48
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian perbaikan pembelajaran yang telah
dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan mengunakan
model kooperatif example non example dapat meningkatkan hasil belajar
matematika pokok bahasan bangun datar pada siswa kelas III SDN 006 Loa
Janan tahun pelajaran 2017/2018. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada
setiap siklusnya, yaitu nilai rata-rata sebelum tindakan perbaikan pembelajaran

49
dengan rata-rata 61,52 meningkat menjadi 66,52 pada siklus I dan pada siklus
II meningkat menjadi 71,52 sedangkan peningkatan ketuntasan belajar siswa
mengalami peningkatan secara signifikan yaitu ketuntasan sebelum adanya
tindakan perbaikan pembelajaran yaitu siswa yang tuntas hanya 39,13 %
meningkat menjadi 82,61 % pada siklus I kemudian pada siklus II meningkat
menjadi 91,30 %

B. Saran dan Tindak Lanjut


Berdasarkan hasil penelitian dalam perbaikan pembelajaran, maka
peneliti dapat memberikan saran bagi:
a. Siswa
Siswa harus lebih percaya diri dalam bertanya, menjawab, maupun
memberi tanggapan pada saat pembelajaran. Selain itu, siswa harus lebih
memperhatikan materi yang disampaikan guru juga partisipasif aktif
dalam penarikan kesimpulan dan pengajuan pendapat sehingga kegiatan
pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat
tercapai dengan optimal.
b. Guru
Guru hendaknya menggunakan model kooperatif example non example
dalam pembelajaran matematika dan mengembangkan metode yang
bervariasi dan inovatif . Selain itu, guru perlu meningkatkan keterampilan
dasar mengajarnya sehingga dapat membantu siswa untuk mencapai
tingkat perkembangannya secara optimal serta mengembangkan model
pembelajaran inovatif yang dipadukan dengan media yang menarik sesuai
karakteristik siswa dan materi pembelajaran.
c. Sekolah
Penelitian dengan model kooperatif example non example dapat menjadi
alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah sehingga
kualitas pembelajaran tersebut dapat dipertahankan secara terus-menerus
dan pelaksanaan metode pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil
belajar siswa hendaknya mendapat dukungan secara moral maupun

50
material dari sekolah sehingga proses pembelajaran dapat terlaksana
secara efektif dan efesien .

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S.2002. Prosedur Penelitian suatu pendekatan Praktek. Jakarta :


Rineka Cipta

Beni,S.2008. Model Model Pembelajaran Kreatif. Bandung: Tinta Emas


Publishing .

Depdiknas 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta

Ismail, 2003. Media Pembelajaran (Model-Model Pembelajaran). Jakarta


Direktorat Pendidikan Nasional.

51
Muklas. 1999. Dasar-dasar dan Strategi Pembelajaran. Jakarta. Gramedia

Purwanto . 2004. Psikologi Pendidikan . Bandung : Remaja Rosda Karya.


Soejadi 2000. Belajar dan Pembelajaran . Jakarta : Rineka Karya.

Sujana 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung Remaja Rusda
Karya.

Susilo, 2007.Penelitian Tindakan Kelas Yokyakarta: Pustaka book publisher


Tim Bina Karya Guru 2007 , Matematika Terpadu Untuk SD Kelas III, Jakarta :
Erlangga

Beni,S.2008. Teknik Teknik Peniaian Kelas .Bandung: Tinta Emas Publishing .

Trianto 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif . Jakarta :


Kencana Pernada Media Group.

Uno Hamzah B. 2007. Model Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

52