Anda di halaman 1dari 6

Muhammad Athullah Abil Khusairy

21901021190

Dinamika Pemilu Tahun 2019

Harapan-harapan ideal bangsa, pada prinsipnya mencoba dijawab oleh pembuat


regulasi dengan menghadirkan UU Nomor 7 tahun 2017 tentang pemilihan umum sebagai
landasan hukum Pemilu serentak Tahun 2019, sekaligus landasan perubahan menuju
terpuaskannya harapan ideal terhadap Pemilu Indonesia. Undang-undang dimaksud, telah
menggabungkan pengaturan tentang penyelenggara Pemilu, Pemilu Presiden dan Wakil
Presiden serta Pemilu DPR, DPD dan DPRD dalam satu kesatuan undang-undang yang
mengatur rezim Pemilu sebagaimana dimaksud Pasal 22 E UUD 1945.
Namun demikian, upaya pemenuhan harapan ideal tersebut menemui berbagai macam
dinamika tantangan kekinian. Tantangan-tantangan tersebut harus mampu diterobos /
ditanggapi oleh setiap komponen anaka bangsa, bukan hanya penyelenggaranya saja, tetapi
juga oleh Partai Politik dan kelompok masyarakat.

Harapan terhadap Pemilu Serentak 2019


Geys sebagaimana dikutip Haris, dkk., (2014) dalam Solihah (2018) menyebutkan
bahwa secara umum, pemilu serentak atau lazim juga disebut sebagai pemilu
konkuren(concurren elections)yaitu pemilu yang diselenggarakan untuk memilih beberapa
lembaga demokrasi sekaligus pada satu waktu secara bersamaan. Jenis-jenis pemilihan tersebut
mencakup pemilihan eksekutif dan legislatif di beragam tingkat di negara yang bersangkutan,
yang terentang dari tingkat nasional, regional, hingga pemilihan di tingkat lokal.
Pemilu serentak Tahun 2019 merupakan konsekwensi logis-yuridis dari adanya
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 14/PUUXI/2013 Perihal Pengujian Undang-Undang
Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. Untuk teknis
pelaksanaanya sekaligus menjadi dasar hukum pelaksanaan Pemilu serentak mulai Tahun 2019
maka telah ditetapkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum sebagai
landasan hukum penyelenggaraan Pemilu Serentak.
Secara prinsipil, Undang-Undang ini dibentuk dengan dasar menyederhanakan dan
menyelaraskan serta menggabungkan pengaturan Pemilu yang termuat dalam tiga Undang-
Undang, yaitu Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2OO8 tentang Pemilihan Umum Presiden
dan Wakil Presiden, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang penyelenggara Pemilihan
Umum dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2Ol2 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat, Dewan perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Selain
itu, juga dimaksudkan untuk menjawab dinamika politik terkait penyelenggara dan peserta
Pemilu, sistem pemilihan, manajemen pemilu, dan penegakan hukum dalam satu Undang-
Undang, yaitu Undang-Undang tentang Pemilihan Umum (penjelasan umum UU Nomor 7
Tahun 2017).
Harapan utama terhadap Pemilu serentak nampak dari tujuan dilaksanakannya Pemilu
serentak dan pengaturan sistem dan tata kelola Pemilu dalam satu Undang-undang. Harapan-
harapan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

Pasal 2 UU 7/2017 mengharapkan penyelenggaraan Pemilu dilaksanakan berdasarkan asas


langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.
Pasal 3 UU 7/2017 mengandung harapan terhadap kinerja dan sikap etis penyelenggara
Pemilu. Disebutkan bawha dalam menyelenggarakan pemilu, penyelenggara pemilu
melaksanakan Pemilu berdasarkan pada -asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil
dan penyelenggaraannya harus memenuhi prinsip: mandiri, jujur, adil berkepastian hukum,
tertib, terbuka, proporsional, professional, akuntabel, efektif dan efisien.
Pasal 4 UU 7/2017 mengandung harapan terhadap penataan kembali sistem
Penyelenggaraan pemilu dalam satu undang-undang, dimana penataan tersebut bertujuan
untuk: memperkuat sistem sistem ketatanegaraan yang demokratis; mewujudkan pemilu yang
adil dan berintegritas;memberikan kepastian hukum dan mencegah duplikasi dalam pengaturan
pemilumenjamin konsistensi pengaturan pemilumewujudkan pemilu yang efektif dan efisien
Secara umum harapan terhadap sebuah penyelenggaraan Pemilu dapat dilihat dalam
Prinsip-prinsip Pemilu Universal, yangmenurut Modul Bridge Project (Building Resources in
Democracy, Governance and Elections)adalah: Sederhana Menjunjung tinggi hak azasi
manusia Tidak memihak Transparan Memastikan terbentuknya pemerintahan yang
sesungguhnya Mendorong keberadaan partai oposisi Hak pilih universal Pemungutan suara
yang rahasia Berdasar pada hukum yang baik dan dapat ditegakkan Memberi kesempatan untuk
naik banding Mencerminkan keadilan sosial politik masyarakat Sistem pemilihan harus dapat
diterima masyarakat Lebih lanjut disebutkanjuga, standar Pemilu Universal adalah:
TPS yang aman; Semua pemilih dapat menggunakan hak pilih; Semua orang bisa mengakses
semua kegiatan Pemilu; Penyelenggara Pemilu yang independen;
Harapan utama terhadap Pemilu di Indonesia sebagaimana maksud Pasal 2 UU 7/2017
sesungguhnya merupakan harapan yang termuat dalam konstitusi negara kita UUD RI 1945.
Sesuai dengan ketentuan Pasal 22E Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, Pemilu untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah,
dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah serta Presiden dan Wakil Presiden diselenggarakan
berlandaskan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil setiap lima tahun sekali.
Pemilu yang terselenggara secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil
merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan wakil rakyat yang berkualitas, dapat dipercaya,
dan dapat menjalankan fungsi kelembagaan legislatif secara optimal. Penyelenggaraan Pemilu
yang baik dan berkualitas akan meningkatkan derajat kompetisi yang sehat, partisipatif, dan
keterwakilan yang makin kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Tantangan Pemilu Serentak 2019 .
Dari perspektif tantangan bagi penyelenggara Pemilu dalam konteks Pemilu serentak,
Solihah (Peluang dan tantangan pemilu serentak 2019 dalam perspektif politik, Jurnal Ilmiah
Ilmu Pemerintahan Vol.3, No. 1, 2018, 73-88) menguraikan tantangan-tantangan tersebut
sebagai berikut:
Peluang adanya pemilu serentak bagi penyelenggara pemilu adalah efisiensi biaya
pemilu itu sendiri. Dalam konteks Indonesia, penyelenggara pemilu meliputi KPU dan Bawaslu
yang dalam pelaksanaan tugasnya secara etis dikontrol oleh Dewan Kehormatan
Penyelenggara Pemiu (DKPP). KPU bertanggung jawab atas penyelenggaraan pemilu mulai
dari pendataan pemilih, menerima dan memvalidasi nominasi kontestan pemilu baik partai
politik maupun kandidat, melaksanakan pemilu, perhitungan suara dan rekapitulasi suara.
Sementara Bawaslu bertugas mengawasi pelaksanaan pemilu agar sesuai dengan asas pemilu
yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Dalam pelaksanaan peran dan fungsi
tersebut tentunya terkait banyak aspek teknis pemilu dan manajemen pemilu yang harus
dilakukan.
Sistem pemilu yang berbeda membutuhkan pengaturan dan persiapan serta manajemen
pemilu yang berbeda. Peluang terbesar dari penyelenggara pemilu dengan dilaksanakannya
pemilu serentak adalah efisiensi anggaran pemilu, karena pemilu tidak lagi dilaksanakan
berkali kali. Sedangkan tantangannya, perubahan sistem pemilu dari pemilu bertahap menjadi
pemilu serentak membawa konsekuensi teknis penyelenggaraan pemilu yang cukup besar.
Pelaksanaan pemilu serentak membutuhkan kapabilitas dan profesionalitas penyelenggara
pemilu yang baik. Meskipun pemilu serentak rentang waktu pelaksanaan pemilu menjadi lebih
pendek dan penggunaan anggaran lebih efisien, namun persiapan penyelenggaraan pemilu
membutuhkan waktu yang cukup panjang. Aspek teknis penyelenggaraan pemilu menjadi lebih
rumit. Logistik pemilu menjadi lebih banyak, sehingga harus dipersiapkan secara matang agar
pelaksanaan pemilu tidak mengalami hambatan.
Masalah kapabitas penyelenggara pemilu ini sangat penting untuk suksesnya pemilu
serentak. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Reynolds, dkk. (2008: 124), bahwa apabila
terdapat permasalahan kapabilitas dalam menangani logistik, pemilu legislatif dan pemilu
presiden secara terpisah merupakan pilihan. Pemilu serentak juga membutuhkan kertas suara
yang lebih banyak, serta waktu yang dibutuhkan pemilih di dalam bilik suara menjadi lebih
banyak. Oleh karena itu penyelenggara pemilu dituntut untuk bisa mendesain surat suara yang
lebih sederhana. Selain itu, sosialisasi kepada pemilih harus dilaksanakan secara lebih luas baik
dari segi kualitas maupun kuantitasnya agar tetap tercipta pemilu yang berkualitas pula.
Selain itu, tantangan terbesar di setiap Pemilu Indonesia adalah untuk mewujudkan
harapan ideal terhadap Pemilu yaitu berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur,
dan adil.

Tata Kelola Pemilu 2019: Mewujudkan Harapan, Menjawab Tantangan

Bagi KPU sebagai penanggung jawab teknis penyelenggaraan Pemilu, Pemilu serentak
Tahun 2019 merupakanpeluang untuk mewujudkan harapan ideal dan menjawab tantangan-
tantangan dalam perubahan sistem pelaksanaan dari pemilu terpisah ke Pemilu serentak.
Menjawab tantangan tersebut, KPU melaksanakan serangkaian upaya pembenahan teknis tata
kelola Pemilu diantaranya dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Pemenuhan asas langsung.


Dengan asas langsung, rakyat sebagai Pemilih mempunyai hak untuk memberikan
suaranya secara langsung sesuai dengan kehendak hati nuraninya, tanpa perantara. Upaya KPU
diantaranya adalah mengupayakan terwujudnya aksesibilitas atau terwujudnya Pemilu akses,
yaitu tatalaksana Pemilu yang memberikan akses bagi Pemilih untuk memberikan suaranya
tanpa hambatan diantaranya secara teknis dengan mengatur dan melaksanakan pendaftaran
pemilih, sosialisasi dan TPS yang yang aksesabel serta logistik yang aksesebel, dimana hak-
hak kaum disabilitas / difabel.

b. Pemenuhan asas umum.


Pemilihan yang bersifat umum mengandung makna menjamin kesempatan yang
berlaku menyeluruh bagi semua warga negara, tanpa diskriminasi berdasarkan suku, agama,
ras, golongan, jenis kelamin, kedaerahan, pekerjaan, dan status sosial. KPU dalam setiap
tahapan berusaha melayani pemilih sesuai dengan motto/tagline “KPU melayani” di setiap
tahapan mulai dari penyusunan regulasi, pendaftaran pemilih, sosialisasi hingga pemungutan
suara di TPS. Hak konstitusi warga negara untuk memilih berusaha dilindungi karenanya dalam
tahap pemutakhiran data pemilih semangat melindungi hak pilih tergambar dengan adanya
perbaikan DPT menjadi lebih akurat dan mengakomodir pemilih yang belum terdaftar.
Sosialisasi dilakukan sampai pada daerah-daerah yang berkebutuhan khusus terhadap akses
informasi.

c. Pemenuhan asas bebas.


Setiap warga negara yang berhak memilih bebas menentukan pilihannya tanpa tekanan
dan paksaan dari siapa pun. Dalam melaksanakan haknya, setiap warga negara dijamin
keamanannya oleh negara, sehingga dapat memilih sesuai dengan kehendak hati nurani.
Mewujudkan asas ini secara teknis memang terdapat tantangannya dari Pemilu ke Pemilu,
misalnya dengan masih adanya dugaan politik uang dan intimidasi / mobilisasi ASN. Regulasi
kita telah mengatur sedemikian rupa upaya pencegahan dan penegakan hukum untuk mencegah
terjadinya politik uang dan ASN yang tidak netral.

d. Pemenuhan asas rahasia.


Asas rahasia berarti, dalam memberikan suaranya, Pemilih dijamin bahwa pilihannya
tidak akan diketahui oleh pihak mana pun. Pemilih memberikan suaranya pada surat suara
dengan tidak dapat diketahui oleh orang lain. Upaya utama KPU adalah dengan mewajibkan
TPS yang menjamin pilihan pemilih tidak diketahui orang lain. Juga ada larangan
menggunakan kamera dalam bilik TPS.

e. Pemenuhan asas Jujur dan Adil


Dalam penyelenggaraan Pemilu ini, penyelenggara Pemilu, aparat pemerintah, Peserta
Pemilu, pengawas Pemilu, pemantau Pemilu, Pemilih, serta semua pihak yang terkait harus
bersikap dan bertindak jujur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sedangkan asas adil, berarti setiap Pemilih dan Peserta Pemilu mendapat perlakuan yang sama,
serta bebas dari kecurangan pihak mana pun. Untuk mewujudkan hal ini, KPU memberi
Penekanan pada rekrutmen penyelenggara Pemilu serta penguatan pemahaman kode etik
penyelenggara pemilu. Integritas proses dan hasil Pemilu juga menjadi perhatian KPU,
karenanya KPU telah menata sedemikian rupa setiap tahapan ke arah transparansi. Akses
terhadap setiap keputusan lewat konsistensi melaksanakan keterbukaan informasi publik dan
proses scanning upload hasil Pemilu dengan Sistem Informasi penghitungan Suara (Situng)
untuk menutup celah bagi ketidakdilan dan perilaku curang.
Upaya upaya KPU telah maksimal untuk mewujudkan Pemilu yang LUBER dan
JURDIL. Untuk lebih memaksimalkan lagi, KPU butuh peran masyarakat termasuk mahasiswa
untuk secara bersama-sama mewujudkan Pemilu serentak Tahun 2019. Partisipasi masyarakat
di setiap tahapan sangan diharapkan, bukan hanya untuk menggunakan hal pilih, tetapi juga
memberikan masukan, pendapat, saran, kritikan yang konstruktif untuk Pemilu Indonesia yang
lebih baik, untuk demokrasi Indonesia yang makin substansial.