Anda di halaman 1dari 2

Nama : Laela Nur Rahmawati

Kelas : Sosiologi B

NIM : F1A018041

REVIEW TEORI SOSIOLOGI MODERN

TEORI INTERAKSIONALISME SIMBOLIK

Ineraksionisme simbolik adalah cara berpikir yang ingin mengembalikan individu atau
manusia sebagai pusat analisis masyarakat. Simbol merupakan esensi dari teori interaksionisme
simbolik. Teori ini menekankan pada hubungan antara simbol dan interaksi. Teori Interaksionisme
Simbolik merupakan sebuah kerangka referensi untuk memahami bagaimana manusia bersama
dengan manusia lainnya menciptakan dunia simbolik dan bagaimana dunia ini, dan bagaimana
nantinya simbol tersebut membentuk perilaku manusia. Teori ini juga membentuk sebuah
jembatan antara teori yang berfokus pada individu-individu dan teori yang berfokus pada kekuatan
sosial. Interaksi simbolik berhutang banyak dari Max Weber, yang menjadi landasannya. Teori ini
memiliki akar keterkaitan dari pemikiran Max Weber yang mengatakan bahwa tindakan sosial
yang dilakukan oleh individu didorong oleh hasil pemaknaan sosial terhadap lingkungan
sekitarnya. Makna sosial diperoleh melalui proses interpretasi dan komunikasi terhadap simbol-
simbol di sekitarnya. Teori interaksionisme simbolik menganalisis masyarakat berdasarkan makna
subjektif yang diciptakan individu sebagai basis perilaku dan tindakan sosialnya. Individu
diasumsikan bertindak lebih berdasarkan apa yang diyakininya, bukan berdasar pada apa yang
secara objektif benar. Menurut Weber, tindakan bersifat subyektif (verstehen atau pemahaman
subyektif) artinya sanggat menempatkan manusia sebagai subyek yang otonom.

George H. Mead, memandang pikiran bukan sebagai satu benda, melainkan sebagai suatu
proses social. Sekali pun ada manusia yang bertindak dengan skema aksi reaksi, namun
kebanyakan tindakan manusia melibatkan suatu proses mental, yang artinya bahwa antara aksi dan
reaksi terdapat suatu proses yang melibatkan pikiran. Pikiran juga dapat menghasilkan suatu
symbol. Symbol-simbol mempunyai arti bisa berbentuk gerak gerik atau gesture tapi juga bisa
dalam bentuk sebuah bahasa. Kemampuan ini lah yang memungkinkan manusia menjadi bisa
melihat dirinya sendiri melalui perspektif orang lain. Menurut Mead perkembangan diri ada 3
tahap : tahap bermain (play stage, tahapan ini, seorang anak bermain atau memainkan peran orang
– orang yang dianggap penting baginya.), tahap permaianan (game stage, proses pengambilan
peran dan sikap orang lain secara umum), terakhir generalized other yaitu harapan-harapan,
kebiasaan-kebiasaan, standar-standar umum dalam masyarakat. Dalam fase ini anak-anak
mengarahkan tingkah lakunya berdasarkan standar-standar umum serta norma-norma yang
berlaku dalam masyarakat.

Konsep looking glass self, Charles H. Cooley. Dasar konseptual looking glass self adalah
evaluasi diri atau penilaian diri melalui pandangan orang lain. Bagi Cooley, salah satu aspek yang
mempengaruhi perilaku dan tindakan individu adalah pendapat, pandangan dan juga penilaian dari
individuu lain. Dalam beberapa hal individu cenderung berperilaku sesuai dengan pandangan atau
harapan individu lain di sekitarnya.

Georg Simmel, konsep Simmel tentang geometri social menekankan pengaruh jumlah
individu terhadap pola dan proses interaksi.