Anda di halaman 1dari 11

REFLEKSI KASUS SEPTEMBER 2019

PRURIGO HEBRA

Disusun Oleh:

Wira Amaz Gahari


N 111 18 023

PEMBIMBING KLINIK
dr. Diani Nurdin, Sp.KK, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA PALU
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2019
STATUS PASIEN
BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
RSUD UNDATA PALU

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. SF
Umur : 17 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Tondo, Palu Sulawesi Tengah
Agama : Islam
Status Pernikahan : Belum Menikah
Pekerjaan : Pelajar
Tanggal pemeriksaan : 9 September 2019
Ruangan : Poliklinik Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD
Undata

II. ANAMNESIS
1) Keluhan utama:
Bintik merah pada telapak tangan dan kaki
2) Riwayat penyakit sekarang:
Pasien perempuan usia 17 tahun datang ke poliklinik kesehatan
kulit dan kelamin RSUD Undata dengan keluhan bintik merah pada
bagian kedua telapak tangan dan kedua kaki. Keluhan bintik disertai
gatal dirasakan sejak 3 minggu yang lalu. Pasien mengatakan awalnya
hanya sedikit pada telapak tangan dan kaki, kecil, kemudian semakin
banyak dan terasa perih karena sering di garuk. Tidak ada bagian tubuh
lain yang mengalami gatal dan kemerahan. Belum dipernah diberikan
obat atau salep, pasien mengaku alergi terhadap telur. Di lingkungan
sekolah dan rumah tidak ada yang terkena penyakit yang sama.

1
3) Riwayat penyakit dahulu:
Pasien belum pernah mengalami hal seperti ini.

4) Riwayat penyakit keluarga:


Tidak ada keluarga pasien yang menderita penyakit yang sama
dengan pasien.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status Generalis
1) Keadaan umum : Sakit sedang
2) Status Gizi : Baik
3) Kesadaran : Komposmentis

Tanda-tanda Vital

Nadi : 84 kali/menit

Respirasi : 20 kali/menit

Suhu : Tidak dilakukan pemeriksaan

Tekanan Darah : 110/70 mmHg

Status Dermatologis
Ujud Kelainan Kulit :

Kepala : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit


Wajah : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Leher : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Perut : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Punggung : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Dada : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Bokong : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Genitalia : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit

2
Ekstremitas atas : Tampakan lesi berbentuk papula tersebar simetris
pada plantar manus dextra et sinistra. Berbatas
tegas, berukuran milier, erosi (+), ekskoriasi (+),
squama (+)
Ekstremitas bawah : Tampakan lesi berbentuk papula tersebar simetris
pada regio antecruris, dorsum pedis, dan digiti.
Berbatas tegas, berukuran milier, erosi (+),
ekskoriasi (+), squama (+)

IV. GAMBAR

Gambar 1.
Tampakan lesi berbentuk papula tersebar simetris pada plantar manus dextra et
sinistra. Berbatas tegas, berukuran milier, erosi (+), ekskoriasi (+), squama (+)

3
Gambar 2.
Tampakan lesi berbentuk papula tersebar simetris pada plantar manus dextra et
sinistra. Berbatas tegas, berukuran milier, erosi (+), ekskoriasi (+), squama (+)

Gambar 3.
Tampakan lesi berbentuk papula tersebar simetris pada regio antecruris, dorsum
pedis, dan digiti. Berbatas tegas, berukuran milier, erosi (+), ekskoriasi (+), squama
(+)

4
Gambar 4.
Tampakan lesi berbentuk papula tersebar simetris pada regio antecruris. Berbatas
tegas, berukuran milier, erosi (+), ekskoriasi (+), squama (+)

Gambar 5.
Tampakan lesi berbentuk papula tersebar simetris pada regio dorsum pedis dan
digiti. Berbatas tegas, berukuran milier, erosi (+), ekskoriasi (+), squama (+)

5
V. RESUME
Nn. SF umur 17 tahun datang ke Poliklinik kulit dan kelamin
RSUD Undata Palu dengan keluhan gatal pada kedua telapak tangan dan
kedua kaki dirasakan sejak 3 minggu yang lalu. Awalnya kecil, gatal dan
semakin banyak. Pasien mengaku sering digaruk pada daerah pruritus.
Tidak ada bagian tubuh lain yang mengalami pruritus dan kemerahan.
Belum pernah diberikan terapi. alergi (+) makanan yaitu telur. Tidak ada
yang terkena penyakit yang sama di lingkungan sekolah dan bermain.
Tidak ada yang mengalami penyakit yang sama pada riwayat keluarga.

Pemeriksaan dermatologis, pada ekstremitas atas, tampakan lesi


berbentuk papula tersebar simetris pada plantar manus dextra et sinistra.
Berbatas tegas, berukuran milier, erosi (+), ekskoriasi (+), squama (+).
Pada ekstremitas bawah, tampakan lesi berbentuk papula tersebar simetris
pada regio antecruris, dorsum pedis, dan digiti. Berbatas tegas, berukuran
milier, erosi (+), ekskoriasi (+), squama (+).

VI. DIAGNOSIS KERJA


Prurigo Hebra

VII. DIAGNOSIS BANDING


1. Prurigo nodularis
2. Prurigo Actinic
3. Insect bites

VIII. ANJURAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


- Pemeriksaan darah lengkap
- Pemeriksaan histopatologi

6
IX. PENATALAKSANAAN
a. Non-medikamentosa
- Menghindari factor pencetus (Alergi makanan)
- Menjaga kebersihan
- Hindari menggaruk area yang luka
b. Medikamentosa
- Pengobatan sistemik :
1. Cetrizine 1x10 mg, 7 hari
2. Prednisone, 30 mg pada penggunaan awal, kemudian diikuti
1x5 mg pada hari selanjutnya hingga 7 hari
- Pengobatan topical : Desoksimetason 0,25% dioles tipis pada lesi
2 kali perhari, selama 7 hari.

X. PROGNOSIS
Quo ad vitam : bonam
Quo ad Fungtionam : bonam
Quo ad sanationam : bonam
Quo ad cosmeticam : bonam

PEMBAHASAN

Pasien perempuan usia 17 tahun datang ke poliklinik kesehatan kulit dan


kelamin RSUD Undata dengan keluhan gatal-gatal pada bagian kedua telapak
tangan dan kedua kaki. Gatal dirasakan sejak 3 minggu yang lalu. Pasien
mengatakan awalnya hanya sedikit pada telapak tangan dan kaki, kecil, dan gatal,
kemudian semakin banyak dan terasa perih karena sering di garuk. Tidak ada
bagian tubuh lain yang mengalami gatal dan kemerahan. Belum dipernah
diberikan obat atau salep, pasien mengaku alergi terhadap telur. Di lingkungan
sekolah dan rumah tidak ada yang terkena penyakit yang sama.

Pemeriksaan dermatologis, pada ekstremitas atas, tampakan lesi berbentuk


papula tersebar simetris pada plantar manus dextra et sinistra. Berbatas tegas,
berukuran milier, erosi (+), ekskoriasi (+), squama (+). Pada ekstremitas bawah,

7
tampakan lesi berbentuk papula tersebar simetris pada regio antecruris, dorsum
pedis, dan digiti. Berbatas tegas, berukuran milier, erosi (+), ekskoriasi (+),
squama (+).

Prurigo adalah peradangan kronis di kulit ditandai dengan papul dengan


vesikel kecil di atasnya, disertai rasa gatal. Prurigo papul sebagai papul yang
berbentuk kubah dengan vesikel pada puncaknya. Vesikel hanya terdapat dalam
waktu yang singkat saja, karena segera menhilang akibat garukan sehingga yang
tertinggal hanya papul berkrusta. Likenifikasi hanya terjadi sekunder akibat proses
kronik. Ia membagi prurigo menjadi 2 kelompok, yaitu:1,2
1. prurigo simpleks.
2. dematosis pruriginosa.
Papul prurigo tampak dalam macam-macam tingkat perkembangan dan
ditemukan paling sering pada usia pertengahan. Tempat yang sering terkena ialah
badan dan bagian ekstensor ekstremitas. Wajah dan bagian kepala yang berambut
juga terkena tersendiri atau bersama-sama dengan tempat lainnya. Lesi biasanya
muncul dalam kelompoknya sehingga papul, vesikel dan jaringan parut dapat
terlihat pada saat bersamaan.3 Pada kelompok penyakit dermatosis pruriginosa,
papul prurigo terdapat bersama-sama dengan urtika, infeksi piogenik, tanda-tanda
garukan, likenifikasi, dan eksematisasi. Termasuk dalam kelompok penyakit ini
antara lain ialah strofulus, prurigo kronik multiformis lutz dan prurigo hebra.4
Prurigo hebra ialah penyakit kulit kronik dengan gejala subyektif sangat
gatal, terdiri atas papul-papul miliar berbentuk kubah disertai vesikel kecil di
puncaknya, lebih mudah diraba dari pada dilihat, terutama di daerah ekstremitas
bagian ekstensor serta bagian tubuh yang tidak tertutup pakaian (misalnya wajah).
Penyebab pasti belum diketahui. Sebagian para ahli berpendapat bahwa kulit
penderita peka terhadap gigitan serangga, misalnya nyamuk. Mungkin antigen
atau toksin yang ada dalam ludah serangga menyebabkan alergi. Disamping itu
juga terdapat beberapa factor yang berperan, antara lain suhu dan investasi parasit
(misalnya Ascaris atau Oxyruris). Selain itu juga infeksi fokal, misalnya tonsil

8
atau saluran cerna, endokrin, alergi makanan. Pendapat lain mengatakan penyakit
ini didasari factor atopi.5
Awitan penyakit sering pada wanita dibanding pria. Kelainan yang khas
ialah adanya papul-papul miliar eritem, berbentuk kubah. Rasa gatal yang hebat
menyebabkan garukan terus-menerus dan menimbulkan erosi, ekskoriasi, krusta,
hiperpigmentasi, serta likenifikasi. Sering pula terjadi infeksi sekunder. Jika telah
kronik tampak kulit yang sakit lebih gelap kecokelatan dan likenifikasi. Tempat
predileksi di ekstremitas bagian ekstensor dan simetrik, dapat pula meluas ke
bokong dan perut, wajah dapat pula terkena. Biasanya bagian distal lengan dan
tungkai lebih parah dibandingkan bagian proksimal. Demikian pula umumnya
tungkai lebih para dibandingkan lengan.4
Diagnosis prurigo hebra ditegakkan berdasarkan anamnesis dan gejala klinis
yang khas. Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk mencari penyebab dari
prurigo hebra pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu:
1. Pemeriksaan darah
2. pemeriksaan tinja
3. pemeriksaan radiograf
4. imunofluoresen darah
5. tes tusuk berbagai allergen, parasit usus dan serangga.4

Penatalaksanaan pada prurigo hebra secara non-medikamentosa adalah


dengan cara menghindari gigitan nyamuk atau serangga, menghindari garukan,
mencari dan mengobati infeksi local dan memperbaiki perseorangan maupun
lingkungan. Terapi yang diberikan adalah sulfur 5-10% dapat diberikan dalam
bentuk salep. Untuk mengurangi gatalnya dapat diberikan mentol 0,25% -1 %.
Diberikan antibiotic topical bila terdapat infeksi sekunder. Terapi sistemik
diberikan antihistamin untuk menghilangkan rasa gatal. Pada pasien ini sesuai
diberikan terapi dengan kepustakaan.5

9
DAFTAR PUSTAKA

1. Menaldi, S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed. 7. Jakarta : FKUI.2017.


2. Harapan, M. Ilmu Penyakit kulit. Jakarta. Hipokrates. 2015.
3. Sjamsoe S, Daili, Menaldi Sri L, dkk, Prurigo, Penyakit Kulit Yang Umum Di
Indonesia, sebuah Panduan Bergambar, Jakarta. Hal: 102.
4. Burns T, Breathnach S, Rook’s Text Book of Dermatology 8th Ed. Australia:
Blackwell Publishing Ltd; 2010
5. Goldsmith LA, Katz IS. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 8th
ed. USA: The McGaw-Hill Medical Co; 2011. P. 93-169.

10