Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM FISOLOGI HEWAN

PENGUKURAN SECARA TAK LANGSUNG


TEKANAN DARAH ARTERI

Salsabila Hendro Putri

173112620150047

FAKULTAS BIOLOGI
UNIVERSITAS NASIONAL
JAKARTA
2019
Pengukuran Secara Tak Langsung
Tekanan Darah Arteri Pada Orang

I. Acara latihan/ percobaan

Pengukuran Secara Tak Langsung Tekanan Darah Arteri Pada Orang

II. Tujuan latihan

Latihan ini bertujuan untuk :


a. Mempelajari penggunaan sphygmomanometer dalam pengukuran tekanan darah
arteria brakhialis dengan cara auskultasi maupun palpasi, dan menerangkan
perbedaan hasil kedua pengukuran tersebut.
b. Membandingkan hasil pengukuran tekanan darah pada berbagai sikap; berbaring,
duduk dan berdiri, menguraikan berbagai faktor penyebab perubahan hasil
pengukuran tekanan darah pada ketiga sikap tersebut
c. Membandingkan hasil pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah kerja otot,
dan menjelaskan berbagai faktor penyebab perubahan tekanan darah sebelum dan
sesudah kerja otot.

III. Dasar teori

Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding arteri. Tekanan
puncak terjadi saat ventrikel berkontraksi dan disebut tekanan sistolik.Tekanan
diastolik adalah tekanan terendah yang terjadi saat jantung beristirahat.Tekanan
darah biasanya digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap tekanan
diastolik, dengan nilai dewasa normalnya berkisar dari 100/60 sampai 140/90. Rata-
rata tekanan darah normal biasanya 120/80.
Tekanan darah arteri adalah kekuataan tekanan darah ke dinding pembuluh darah
yang memampunya. Tekanan ini berubah – ubah pada setiap tahap siklus jantung.
Selama sistole ventrikel kiri memaksa darah masuk aorta, tekanan naik sampai
puncak, yang disebut tekanan sistolik. Selama diastole tekanan turun, nilai terendah
yang dicapai disebut tekanan diastolik.
Tekanan darah arteri adalah satu kesatuan yang memelihara perfusi jaringan, atau
suplai darah ke kapiler, dalam berbagai kondisi fisiologis, termasuk perubahan posisi
tubuh, aktivitas otot dan sirkulasi volume darah. Tekanan darah arteri di tentukan oleh
curah jantung (volume darah yang dipompa jantung selama 1 menit) dan resistensi
perifer. Kenaikkan satu atau keduanya akan meningkatkan tekanan arteri. Tekanan
arteri rata – rata (MAP), yang merupakan tekanan arteri rata –rata di sepanjang siklus
jantung, tergantung pada sifat drastis dari dinding arteri dan volume rata – rata darah
dalam sistem arteri.

Faktor – faktor yang mempengaruhi tekanan darah :

1. Kekuataan jantung memompa darah, membuat tekanan yang dilakukan jantung


sehingga darah bisa beredar keseluruh tubuh dan di arah dapat kembali ke
jantung.
2. Viskositas (kekentalan) darah, disebabkan oleh protein plasma dan jumlah darah
yang beredar dalam aliran tubuh.
3. Tahanan tepi yaitu tahanan yang dikeluarkan oleh darah mengalir dalam
pembuluh darah dalam sirkulasi darah besar yang berada dalam arterial.

Tekanan darah dapat di ukur dengan dua metode :

1. Metode Langsung (Direct Method)

Metode ini menggunakan jarum atau kanula yang dimasukkan ke dalam


pembuluh darah dan dihubungkan dengan manometer. Metode ini merupakan cara
yang sangat tepat untuk pengukuran tekanan darah tapi butuh peralatan yang
lengkap dan ketrampilan khusus.

2. Metode tidak langsung (Inderct Method)

Metode ini menggunakan Sphygmomanometer (tensi meter). Tekanan darah dapat


diukur dengan tiga cara yaitu :
a. Cara Palpasi

Dengan cara ini hanya dapat diukur tekanan sistolik. Metode palpasi harus di
lakukan sebelum melakukan auskultasi untuk menentukan tinggi tekanan yang
diharapkan. Palpasi juga dilakukan bila tekanan darah sulit di dengarkan. Tetapi,
dengan Palpasi tekanan diastolic tidak dapat ditentukan dengan akurat. (Guyton,
1995)

b. Cara Auskultasi

Dengan cara ini dapat diukur tekanan darah sistolik maupun tekanan distolik,cara
ini memerlukan alat Stethoscope. Dengan Metode ini pertama kali di perkenalkan
oleh seorang dokter Rusia yaitu Korotkoff pada tahun 1905. Kedua tekanan sistolik
dan diastolis dapat diukur dengan metode ini, dengan cara mendengar (auskultasi)
bunyi yang timbul akibat aliran turbulen dalam arteri yang disebabkan oleh
penekanaan manset pada arteri tersebut. Dalam cara auskultasi ini harus di perhatikan
bahwa terdapat suatu jarak yang paling sedikit 5 cm, antar amanset dan tempat
meletakkan stetoskop. Bunyi yang terdengar disebut Bunyi Korotkoff. (Guyton,
1995)

IV. Metode praktikum

A. Alat dan Bahan


1. Sphygmomanometer
2. Stetoskop

B. Cara kerja

1. Pengukuran tekanan darah arteria brakhialis pada sikap berbaring, duduk dan
berdiri.

Berbaring :
1. Orang Percobaan (OP) berbaring telentang dengan tenang selama 10 menit
2. Selama menunggu pasanglah manset sphygmomanometer pada lengan kanan atas OP
3. Carilah dengan palpasi denyut arteria brakhialis pada fossa cubiti dan denyut arteria
radialis pada pergelangan tangan OP
4. Setelah OP berbaring 10 menit pompakan udara ke dalam manset hingga kira-kira 20-
40 mmHg di atas nilai normal, kemudian secara perlahan-lahan udara dikeluarkan
hingga terdengar fase – fase korotkoff (LUB-DUP). Tetapkanlah nilai-nilai tekanan
sistole atau cara auskultasi maupun palpasi seperti pada gambar 2.3 & gambar 2.4 dan
tekanan diastolenya. Ulangi pengukuran ini sebanyak 3 kali untuk mendapatkan nilai
rata – rata dan catat hasilnya.

Duduk :

Tanpa melepaskan manset OP disuruh duduk. Setelah ditunggu 3 menit ukurlah


lagi tekanan darah arteria brakhialisnya dengan cara yang sama. Ulangi pengukuran
sebanyak 3 kali untuk mendapatkan nilai rata –rata dan catat hasilnya.

Berdiri :

Tanpa melepaskan manset OP disuruh berdiri. Setelah ditunggu 3 menit ukurlah


lagi tekanan darah arteria brakhialisnya dengan cara yang sama. Ulangi pengukuran
sebanyak 3 kali untuk mendapatkan nilai rata – rata dan catat hasilnya.

Gambar 1.0 Pengukuran tekanan darah secara auskultasi


Gambar 2.0 Pengukuran tekanan darah secara palpasi

2. Pengukuran tekanan darah sesudah kerja otot


1. Ukurlah tekanan darah arteria brakhialis OP pada sikap duduk (OP tidak perlu sama
dengan Sub. 1)
2. Tanpa melepaskan manset seluruhnya OP berlari di tempat dengan frekuensi kurang
lebih 20 loncatan/menit selama 2 menit. Segera setelah selesai OP disuruh duduk dan
ukur tekanan darahnya. Ulangi pengukuran tekanan darah ini tiap menit sampai
tekanan darahnya kembali seperti semula. Catat hasil pengukuran tersebut.

V. Hasil percobaan

1. Tekanan darah arteria brachialis pada berbagai sikap


Nama OP : M Arif Wibisomo
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 20 thn
Berat badan : 96 kg
Tinggi badan : 173 cm

Sikap berbaring telentang:


Secara auskultasi:
Sistole : 108 mmHg ; 110 mmHg ; 110 mmHg
Rata- rata: 109 mmHg
Diastole : 98 mmHg ; 98 mmHg ; 94 mmHg
Rata- rata: 96 mmHg
Secara palpasi:
Sistole : 102 mmHg ; 90 mmHg ; 94 mmHg
Rata- rata: 95 mmHg

Sikap duduk:
Secara auskultasi:
Sistole : 114 mmHg ; 118 mmHg ; 118 mmHg
Rata- rata: 116 mmHg
Diastole : 102 mmHg ; 100 mmHg ; 100 mmHg
Rata- rata: 100 mmHg
Secara palpasi:
Sistole : 102 mmHg ; 90 mmHg ; 92 mmHg
Rata- rata: 94 mmHg

Sikap berdiri:
Secara auskultasi:
Sistole : 120 mmHg ; 122 mmHg ; 124 mmHg
Rata- rata: 122 mmHg
Diastole : 100 mmHg ; 102 mmHg ; 102 mmHg
Rata- rata: 101 mmHg
Secara palpasi:
Sistole : 112 mmHg ; 100 mmHg ; 112 mmHg
Rata- rata: 108 mmHg

2. Tekanan darah arteria brachialis sebelum dan sesudah kerja otot


Nama OP : Abdau
Jenis kelamin : Laki-laki
Sebelum kerja otot (duduk) :
Sistole : 90 mmHg
Diastole : 80 mmHg

Sesudah kerja otot selama 2 menit :

Menit ke Sistole Diastole

1 110 100

2 108 96

3 102 90

4 90 82

Pemulihan hingga kembali seperti semula seperti semula dicapai setelah 4 menit.

VI. Pembahasan

Pada metode tidak langsung (Indirect Methods), pengukuran tekanan darah dapat
diukur dengan dua cara yaitu dengan metode palpasi dan metode auskultasi. Cara
Palpasi dapat mengukur tekanan sistolik. Metode palpasi harus di lakukan sebelum
melakukan auskultasi untuk menentukan tinggi tekanan yang diharapkan. Cara
Auskultasi dapat mengukur tekanan darah sistolik maupun tekanan diastolik, cara ini
memerlukan alat Stethoscope dan Sphygmomanometer. Kedua tekanan sistolik dan
diastolis dapat diukur dengan metode ini, dengan cara mendengar (auskultasi) bunyi
yang timbul akibat aliran turbulen dalam arteri yang disebabkan oleh penekanaan
manset sphygmomanometer pada arteri orang percobaan.
Hasil yang didapat dari percobaan penentuan tekanan darah secara tidak langsung
adalah pada penentuan tekanan darah arteria brachialis pada berbagai sikap, sikap
berbaring dengan metode auskultasi menghasilkan tekanan darah sebesar 109/96
mmHg, dan untuk metode palpasi mendapatkan tekanan sistole sebesar 95 mmHg.
Sikap duduk dengan metode auskultasi menghasilkan tekanan darah sebesar 116/100
mmHg, dan untuk metode palpasi mendapatkan tekanan sistole sebesar 94 mmHg.
Sikap berdiri dengan metode auskultasi menghasilkan tekanan darah sebesar 124/102
mmHg, dan untuk metode palpasi mendapatkan tekanan sistole sebesar 108 mmHg.
Dari hasil yang didapat, dapat disimpulkan bahwa tekanan darah OP lama kelamaan
naik dari sikap berbaring yang menghasilkan tekanan basal sampai sikap berdiri, yang
menghasilkan tekanan tertinggi.
Untuk percobaan tekanan darah arteria brachialis sebelum dan sesudah kerja otot,
OP sebelumnya duduk untuk ditentukan tekanan darahnya, tekanan darah OP
sebelum kerja otot adalah sebesar 90/80 mmHg. Setelah itu OP melakukan kerja otot
selama 2 menit. 1 menit setelah kerja otot, OP diukur tekanan darahnya,
menghasilkan tekanan sebesar 110/100 mmHg. 2 menit setelah kerja otot, OP diukur
tekanan darahnya, menghasilkan tekanan sebesar 108/96 mmHg. 3 menit setelah kerja
otot, OP diukur tekanan darahnya, menghasilkan tekanan sebesar 102/96 mmHg. 4
menit setelah kerja otot, OP diukur tekanan darahnya, menghasilkan tekanan sebesar
90/82 mmHg. Dari hasil yang didapat, diketahui bahwa OP memerlukan waktu
selama 4 menit untuk mengembalikan tekanan darahnya menjadi semula setelah
dilakukannya kerja otot.

VII. Kesimpulan dan saran

Berdasarkan dari percobaan yang telah dilakukan, dari percobaan penentuan


tekanan darah arteria brachialis pada berbagai sikap, hasil yang didapat dapat
disimpulkan bahwa tekanan darah OP lama kelamaan naik dari sikap berbaring yang
menghasilkan tekanan basal sampai sikap berdiri, yang menghasilkan tekanan
tertinggi. Dan pada percobaan tekanan darah arteria brachialis sebelum dan sesudah
kerja otot, dapat disimpulkan bahwa setelah dilakukannya kerja otot selama 2 menit,
OP memerlukan waktu selama 4 menit untuk mengembalikan tekanan darahnya
menjadi semula.
Daftar pustaka

Brata, D.D. dkk. 2013. Tekanan Darah pada Manusia. Universitas Muhammadiyah
Prof. Dr. Hamka. Jakarta
Ganong, W.F. 2002. Fisiologi kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Guyton. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran ed.7 bag.1. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Helmi, M. dkk. 2014. Laporan Denyut Nadi dan Tekanan Darah. Universitas
Surabaya. Surabaya
Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 2.Jakarta : EGC.
Sitorus, M.A. 2015. Pengukuran Secara Tak Langsung Tekanan Darah Arteri Pada
Orang. Universitas nasional. Jakarta