Anda di halaman 1dari 8

Gede taruna/6/8C

TUGAS BIOLOGI PENYALAH


GUNAAN ZAT ADITIF
Kuetiaw, Tahu putih, Tahu kuning mengandung boraks

TANGERANG - Badan Pengawasan Obat dan


Makanan (BPOM) Provinsi Banten menggelar
inspeksi mendadak di minimarket Pasar Modern
Town Market, Kota Tangerang. Dalam razia itu,
petugas menyita makanan berbahaya.

Staf Seksi Pemeriksaan dan Sertifikasi serta Layanan Informasi


Konsumen BPOM Provinsi Banten Fikri Nazaruddin mengatakan, saat
dilakukan pemeriksaan uji cepat terhadap 27 sample makanan
ditemukan sejumlah makanan yang mengandung bahan kimia
berbahaya.

"Hasil uji sample ditemukan formalin dan boraks pada tahu kuning,
tahu putih, kuetiaw, dan risol," kata Fikri saat ditemui KORAN SINDO, di
Pasar Modern Town Market Tangerang, Rabu (7/6/2017).

Menurut Fikri, makanan yang mengandung formalin ditemukan di tahu


kuning, tahu putih, serta kuetiaw. Dan yang mengandung boraks di
jajanan risol. Untuk saat ini, tindakan yang diambil oleh tim adalah
memberikan peringatan, pembinaan dan diberikan surat pernyataan
agar tidak mengulanginya kembali, serta tak membeli ke produsen yang
sama.
Takjil mengandung BORAKS

TANGERANG - Badan Pengawas Obat


dan Makanan (BPOM) Banten
mengamankan obat-obatan berbahaya,
dan bahan makanan yang mengandung
boraks, serta formalin dari Pasar
Sentiong, Kabupaten Tangerang.

Kepala BPOM Banten Nurjaya Bangsawan yang memimpin operasi mengatakan,


ada empat jenis obat berbahaya yang berhasil diamankan. Dua obat yang
memiliki izin edar dari BPOM tapi dipalsukan, dan empat jenis obat ilegal.

"Kami menyita dua obat paten yang memiliki izin edar dari Badan POM dan
produksi resmi tapi dipalsukan, dan empat jenis obat yang dikemas secara
renceng tanpa izin edar," ujar Nurjaya saat ditemui di Pasar Sentiong, Rabu
(6/6/2017).

Sedang bahan makanan berbahaya yang mengandung boraks dan formalin adalah
jenis takjil, seperti pacar cina, tahu, dan kecap. Makanan yang disita, diambil acak
di Pasar Sentiong. Diduga, bahan makanan ini masih banyak yang beredar.

"Kami mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dalam melakukan pembelian


kebutuhan pokok. Sebelum dibeli, harap dicek terlebih dahulu dengan cara KLIK
atau cek Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kadaluarsa," terangnya.

Bupati Tangerang Zaki Iskandar berharap pedagang yang menjual makanan dan
obat tanpa izin edar dari BPOM untuk dilakukan tindak pidananya. Agar ada efek
jera, karena merugikan masyarakat.

"Kami meminta pihak kepolisian segera bertindak tegas kepada pengedar agar
memiliki efek jera," ungkap Zaki.
Bakso mengandung BORAKS

EPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Petugas Balai Besar Pengawas Obat


dan Makanan (BBPOM) Medan menggelar inspeksi mendadak (sidak)
terhadap makanan dan minuman yang dijual di Ramadhan Fair di Jl
Masjid Raya, Medan, Senin (13/6) sore. Hasilnya, petugas menemukan
bakso mengandung boraks yang dijual di pusat jajanan musiman
Ramadan tersebut.

Bahan berbahaya itu ditemukan berdasarkan hasil uji sampel pada


Laboratorium Mobil Keliling yang dibawa saat sidak. Kepala BBPOM
Medan Ali Bata Harahap mengatakan, ada sekitar 27 sampel makanan
yang pihaknya ambil dan uji.

"Dari sekitar 27 sampel itu, kami menemukan adanya bakso yang


mengandung boraks. Bakso ini diambil dari dua orang pedagang yang
berjualan di Ramadhan Fair ini," kata Ali di lokasi, Senin (13/6).

Ali mengatakan, pihaknya telah menyita bakso yang mengandung


boraks tersebut agar tidak dijual lagi kepada masyarakat. BBPOM
Medan pun, lanjutnya, juga akan memberikan peringatan kepada
pedagang nakal yang ketahuan tersebut.

Selain itu, Ali mengatakan, pihaknya akan menyurati pengelola


Ramadhan Fair agar memberikan sanksi tegas jika pedagang tersebut
tetap menjual bakso yang sama nanti. Bahkan, tidak menutup
kemungkinan, BBPOM Medan juga akan mengambil langkah hukum
jika pedagang itu masih membandel.

"Tindakan kita, yakni peringatan pertama, kedua dan selanjutnya


menempuh jalur hukum," ujarnya.

Menurut Ali, sidak tersebut untuk mencegah masuknya makanan dan


minuman yang mengandung bahan berbahaya. Sidak, lanjutnya, untuk
memberikan jaminan kepada masyarakat terkait makanan yang dijual
para pedagang.

Kedatangan petugas BBPOM Medan ini pun sempat membuat para


pedagang di Ramadhan Fair terkejut. Namun, setelah mendapatkan
penjelasan dari petugas, mereka kemudian rela menyerahkan barang
dagangan mereka untuk diperiksa.

Alu mengatakan, sidak serupa akan dilakukan BBPOM di kota-kota


lainnya di Sumatra Utara, seperti Lubuk Pakam, Aras Kabum Binjai,
Tebing Tinggi, Kampung Pon dan beberapa tempat lainnya yang
menjadi pusat penjualan makanan berbuka puasa.
Makanan Berformalin

JAKARTA - Polres Jakarta Selatan,


BPOM DKI dan Pemkot Jaksel
menggelar operasi pasar di Pasar
Minggu, Jakarta Selatan. Dalam
operasi itu, ditemukan tiga jenis
makanan yang mengandung pewarna
pakaian atau pengawet formalin.

Wakapolres Jakarta Selatan AKBP


Budi Sartono mengatakan, hasil
sidak ada tiga jenis makanan yang mengandung formalin, yakni tahu mengandung
methanyl yellow, pacar cina dan kerupuk mengandung rodhamin B."Makanan ini
kita ambil dari pedagang tradisional di Pasar Minggu," kata Budi Sartono kepada
wartawan, Selasa (30/5/2017).

Menurut Budi, razia itu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya keracunan


bahan makanan, terutama pada bulan puasa dan menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Pihaknya mengimbau pada pedagang untuk tidak lagi menjual makanan yang
mengandung bahan berbahaya itu.

"Kami sudah minta pada pengelola pasar untuk memusnahkannya dan memberikan
peringatan pada pedagang, jangan sampai menjual makanan yang bisa membuat
orang lain rugi atau keracunan," katanya.

Dia menambahkan, pihaknya akan terus bekerja sama dengan BPOM DKI dan
Pemkot Jaksel dalam mengawasi persoalan pangan menjelang lebaran itu.
Masyarakat juga diminta untuk selalu berhati-hati dalam memilih makanan jangan
sampai mengandung zat-zat berbahaya.
Makanan mengandung boraks di pelabuhan merak

Cilegon - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan uji


laboratorium terhadap 30 jenis makanan yang dijual di sekitar Pelabuhan Merak,
Banten. Hasilnya, 2 jenis makanan terbukti mengandung boraks.

Kedua sampel yang terbukti mengandung boraks tersebut adalah makanan ringan
berupa kerupuk. Direktur Standardisasi Pangan BPOM Tetty H Sihombing
mengatakan kedua sampel yang terbukti mengandung boraks akan ditindaklanjuti
oleh Balai POM Serang untuk tindakan selanjutnya.

"Bahan berbahayanya adalah kerupuk mengandung boraks. Boraks itu salah satu
berbahaya bagi kesehatan, dampaknya jangka panjang bisa ginjal, kanker. Satu lagi
kerupuk juga, mengandung boraks juga," ujar Tetty kepada wartawan di Pelabuhan
Merak, Rabu (21/6/2017).

Direktur Standardisasi Pangan BPOM Tetty H Sihombing. (Muhammad


Iqbal/detikcom)

Setelah penemuan makanan mengandung zat berbahaya tersebut, BPOM akan


menelusuri asal makanan itu dan tempat produksinya.

"Nanti kita akan melakukan penelusuran apakah dia yang memproduksi atau dia
yang membeli atau produknya dari tempat lain, kita akan telusur," tuturnya.
Tetty, yang ditemani pihak kepolisian dan Kepala Balai POM Serang,
mengingatkan para pemudik tetap berberhati-hati dalam memilih makanan.

"Kami juga sempat menyapa ke beberapa penjual, menyapa untuk supaya mereka
tetap memperhatikan jualannya kepada konsumen," katanya.

Selain itu, Tetty mengatakan, angka penggunaan zat berbahaya pada makanan,
seperti pewarna tekstil, turun dari tahun ke tahun. BPOM menganggap masyarakat
semakin sadar akan bahaya bahan pangan tersebut.

"Kita melakukan pengawasan di seluruh Indonesia. Kantor kami di 34 provinsi dan


pospom itu mengambil sampel. Kita perhatikan trennya dari tahun ke tahun
penggunaan bahan berbahaya itu sudah turun," ujarnya.

"Itu artinya, kesadaran masyarakat atau konsumen tidak mau membeli sehingga
produsen juga tidak memproduksinya, itu semakin baik," katanya.
(idh/idh)