Anda di halaman 1dari 9

REAKSI PASAR SAHAM INDONESIA TERHADAP KENAIKAN SUKU BUNGA

ACUAN BANK INDONESIA

Melly Nur Kumalasari


Novita Sherla Hariyanto

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ma Chung Malang


Villa Puncak Tidar N-01, Malang, 65151

Abstract
The aim of this paper was to investigate the market reaction of increase in Indonesian
Bank’s benchmark interest rates in Indonesian Stock Exchange on Index LQ45. There were
pro’s and con’s about the increase in Indonesia Bank’s benchmark interest rate. The standar
of event study method had been used for the purpose of studying the increase in Indonesian
Bank’s benchmark interest rates. In this study, the researcher found a not significant
negative abnormal return and it means that the increase in Indonesian Bank’s benchmark
interest rates had negative information content. The study also found that the average of
trading volume activity was insignificantly decreased after increase in Indonesian Bank’s
benchmark interest rates. This empirical study showed that increase in Indonesian Bank’s
benchmark interest indicated a bad and good signal for the Indonesia Market.
Keywords: abnormal return, increase benchmark interest rates, information content, trading
volume activity.

Suku bunga acuan Bank Indonesia jadi 5,25%. Gubernur BI saat itu, Agus
kembali naik pada Rabu, (15/8/2018) Martowardojo mengatakan, kebijakan yang
sebanyak 25 basis points (bps) menjadi ditempuh merupakan bagian dari bauran
5,5%. Keputusan tersebut diambil setelah kebijakan BI untuk menjaga stabilitas
Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan perekonomian Indonesia di tengah kondisi
yang dilaksanakan dua hari, yaitu Selasa ketidakpastian global. Namun, ternyata
(14/8/2018) dan Rabu. BI sudah menaikkan kenaikan suku bunga acuan saat itu tak
suku bunga sebanyak empat kali, dengan cukup untuk mengembalikan nilai tukar
total kenaikan sebesar 125 bps dari awal rupiah. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot
tahun hingga bulan Juli. Dollar Rate (Jisdor) BI menunjukkan rupiah
(www.ekonomi.kompas.com) justru merosot dari posisi sebelumnya, Rp
Kenaikan suku bunga acuan pertama 14.074 pada 17 Mei menjadi Rp 14.107 pada
kali terjadi pada 18 Mei 2018. Rapat Dewan 18 Mei pagi. (www.ekonomi.kompas.com)
Gubernur Bank Indonesia menaikkan suku BI kembali melakukan RDG pada
bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate 28-29 Mei 2018 karena posisi rupiah tidak
sebesar 25 bps menjadi 4,50%. Selain itu kunjung membaik selepas BI7DRRR
Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga dinaikkan 25 bps menjadi 4,50% pada 18
Deposit Facility 25 bps menjadi 3,75% dan Juli 2018. Kenaikan suku bunga acuan pada
suku bunga Lending Facility naik 25 bps 18 Mei ternyata tidak cukup membantu
menjaga stabilitas rupiah. Hasil RDG kedua 0,59% (mtm). Selain itu, neraca
di bulan Mei ini, BI kembali menaikkan perdagangan Indonesia pada Juni 2018
suku bunga 25 bps menjadi 4,75%. Pada mencatat surplus, didukung surplus neraca
RDG saat itu, posisi Gubernur BI telah perdagangan nonmigas dan penurunan
dijabat oleh Perry Warjiyo BI memandang defisit neraca perdagangan migas. Dengan
ada kemungkinan kenaikan suku bunga demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia
acuan Fed Fund Rate yang lebih tinggi dan pada kuartal II 2018 diperkirakan tetap baik
meningkatnya risiko di pasar keuangan didukung oleh permintaan domestik yang
global. Sehari setelah BI menaikkan suku tetap kuat. (www.ekonomi.kompas.com)
bunga acuan, nilai tukar rupiah terhadap Hasil RDG BI pada 14 hingga 15
dollar AS menguat tipis. Berdasarkan data Agustus 2018 memutuskan untuk kembali
nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang menaikkan suku bunga sebesar 25 bps
ditampilkan Bloomberg, rupiah menguat menjadi 5,5%. Pengetatan kebijakan
tipis 12 poin ke level Rp 13.983 per dollar moneter kali ini bertujuan untuk
AS di pasar spot dibandingkan penutupan mempertahankan daya tarik pasar keuangan
sehari sebelumnya pada level Rp 14.025 per domestik di tengah semakin meningkatnya
dollar AS. (www.ekonomi.kompas.com) ketidakpastisan di pasar global yang
BI memutuskan kembali menaikkan ditambah oleh krisis di Turki. Sebagai
suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo informasi, BI mencatat CAD kuartal II 2018
Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25%. mencapai 8 miliar dollar AS atau 3% dari
Sehingga, dalam kurun waktu 2 bulan, BI Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini
telah menaikkan suku bunga acuannya jauh lebih lebih tinggi dibandingkan dengan
hingga 100 bps atau 1%. Pada kenaikan kuartal sebelumnya sebesar 5,7 miliar dollar
suku bunga kali ini pun, Perry mengatakan, AS atau 2,2%. (www.ekonomi.kompas.com)
stance kebijakan moneter BI berubah dari Peristiwa kenaikan suku bunga acuan
netral ke cenderung ketat. Dasar bank Indonesia mengandung informasi yang
pertimbangan keputusan ini adalah sebagai berdasarkan Signaling theory merupakan
langkah pre-emptive BI untuk memperkuat sinyal negatif bagi pelaku pasar modal
stabilitas ekonomi, utamanya stabilitas nilai Indonesia. Sinyal ini diduga dapat
tukar terhadap perkiraan kenaikan suku menimbulkan reaksi dari para pelaku pasar
bunga Amerika (Fed Fund Rate) hingga 4 modal Indonesia.
kali tahun dan meningkatnya risiko di pasar Pasar modal dikatakan efesien
keuangan global. Bank Indonesia meyakini apabila pasar mampu bereaksi dengan cepat
kebijakan yang ditempuh dapat memperkuat dan akurat untuk mencapai harga
stabilitas ekonomi khusunya rupiah. Nilai keseimbangan baru yang sepenuhnya
tukar rupiah terhadap dollar AS pun mencerminkan informasi yang tersedia
bergeser naik ke posisi Rp14.309 setelah (Hartono, 2017). Kemampuan pasar yang
sempat anjlok ke posisi Rp14.357 per dolar efisien dalam menyerap informasi dijelaskan
AS. 4. (www.ekonomi.kompas.com) pada signaling theory, bahwa sinyal yang
Berdasarkan rapat dewan gubernur timbul dari internal maupun eksternal
pada 18-19 Juli 2018, BI mempertahankan perusahaan akan berpengaruh terhadap
suku bunga acuan di angka 5,25%. BI pergerakan harga perusahaan terkait.
melihat belum ada intervensi ekonomi Studi peristiwa (event study) adalah
global yang krusial untuk menaikkan suku metodologi yang tepat digunakan dalam
bunga. Selain itu, Tingkat inflasi hingga Juni pengujian. Menurut Tandelilin (2010), event
2018 dinilai masih aman meski naik menjadi study menggambarkan sebuah teknik riset
keuangan empiris yang memungkinkan secara operasional dengan pasar modal yang
seorang pengamat menilai dampak dari efisien dalam penetapan harga.
suatu peristiwa terhadap harga saham Dalam pasar yang efisien secara
perusahaan. Tolak ukur yang digunakan operasional, para investor dapat memperoleh
untuk membuktikan adanya reaksi pasar kualitas jasa transaksi yang sebanding
modal adalah dengan melihat indikator dengan biaya intrinsik yang dikeluarkannya
abnormal return dan aktivitas volume untuk mendapatkan jasa-jasa tersebut.
perdagangan saham (trading voleme Sedangkan efisiensi penetapan harga
activity). mengacu pada pasar dimana harga-harga
Menurut Bringham dan Houston pada setiap saat sepenuhnya mencerminkan
(2011), signaling theory adalah tindakan semua informasi yang tersedia sesuai dengan
yang diambil manajemen perusahaan yang penilaian sekuritas.
memberikan petunjuk kepada para investor Menurut Fama (1970), efisiensi pasar
mengenai bagaimana cara pandang diklasifikasikan menjadi tiga bentuk
manajemen untuk merealisasikan keinginan informasi, yaitu informasi masa lalu,
pemilik. Sinyal juga dapat berupa promosi informasi sekarang, dan informasi privat.
atau informasi lain yang menyatakan bahwa Pasar dikatakan efisien dalam bentuk lemah
perusahaan tersebut lebih baik daripada jika harga-hargasekuritasnya secara penuh
perusahaan lain. mencerminkan informasi masa lalu.
Informasi merupakan untuk penting Pasar dikatakan efisien dalam bentuk
bagi investor dan pelaku bisnis karena setengah kuat jika harga-harga sekuritasnya
informasi menyajikan keterangan, catatan, secara penuh mencerminkan semua
atau gambaran, baik unuk keadaan masa inofmrasi yang dipublikasikan, termasuk
lalu, saat ini, maupun keadaan masa yang informasi yang berada dilaporan keuangan
akan datang bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan emiten. Pasar dikatakan efisien
perusahaan. Informasi yang lengkap, dalam bentuk kuat jika harga-harga
relevan, akurat, dan tepat waktu sangat sekuritasnya secara penuh mencerminkan
diperlukan oleh investor di pasar modal semua informasi yang tersedia, termasuk
sebagai alat analisis untuk mengambil informasi privat.
keputusan investasi.
Menurut Hartono (2017), informasi Pengujian Efisiensi Pasar Modal
yang dipublikasikan sebagai suatu Untuk mengetahui apakah suatu
pengumuman akan memberikan sinyal bagi pasar modal efisien dalam bentuk lemah,
investor dalam pengambilan keputusan setengah kuat, atau kuat, maka perlu
investas. Jika informasi mengandung nilai dilakukan pengujian. Pengujian ini
positif, maka diharapkan pasar akan bereaksi dituangkan dalam suatu hipotesis yang
pada waktu pengumuman tersebut diterima disebut sebagai hipotesis pasar efisien. Fama
oleh pasar. (1970), membagi pengujian efisiensi pasar
menjadi tiga, yaitu:
Pasar Modal Efisien 1. Pengujian bentuk lemah, yaitu menguji
Pasar modal dikatakan efisien seberapa kuat informasi harga-harga masa
apabila harga dipasar telah mencakup lalu dapat memprediksi return di masa yang
seluruh informasi yang tersedia (Fama, akan datang. Pengujiannya dilalukan dengan
1970). Menurut Hartono (2017), terdapat Test for Return Predictability.
perbedaan antara pasar modal yang efisien 2. Pengujian bentuk setengah kuat, yaitu
menguji seberapa cepat informasi yang
dipublikasikan tercermin pada harga Trading volume activity atau
sekuritas. Pengujiannya dilakukan dengan aktivitas voluma perdagangan saham
melakukan studi peristiwa (event study). merupakan indikator yang dapat digunakan
3. Pengujian bentuk kuat, yaitu menguji untuk mengetahui kegiatan perdagangan
apakah investor yang memiliki invormasi saham. Voluma perdagangan saham
privat bisa mendapatkan abnormal return. merupakan jumlah saham yang
Pengujiannya dilakukan dengan diperdagangkan di bursa pada suatu waktu
menggunakan Test for Private Information. tertentu. Aktivitas voluma perdagangan
saham merupakan suatu instrumen yang
Studi Peristiwa (Event Study) dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar
Krizman (1994) menyebutkan bahwa modal terhadap informasi (Natasya dan
tujuan dilakukannya studi peristiwa adalah Suganda, 2013).
untuk mengukur hubungan antara suatu Penelitian ini dilakukan untuk
peristiwa yang memengaruhi sekuritas menginvestigasi reaksi pasar modal terhadap
dengan return dari sekuritas tersebut. Studi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia
peristiwa juga dapat digunakan untuk yang tercermin dalam abnormal return.
mengkur dampak suatu peristiwa ekonomi Penelitian ini juga menguji reaksi pasar
terhadap nilai perusahaan (MacKinlay, modal terhadap kenaikan suku bunga acuan
1997). Hartono (2017) menyatakan bahwa bank Indonesia yang tercermin dalam
studi peristiwa dapat digunakan untuk aktivitas perdagangan saham (menguji ada
menguji dua hal, yaitu menguji kandungan tidaknya perbedaan yang signifikan dari
informasi dari suatu pengumuman dan adanya kenaikan suku bunga acuan Bank
menguji efisiensi pasar bentuk setengah Indonesia). Penelitian ini diharapkan mampu
kuat. memberikan bukti empiris dan sumbangsih
Pengujian kandungan informasi dari bagi keilmuan dalam bidang pasar modal.
pengumuman suatu peristiwa ditujukan
untuk melihat reaksi investor di pasar modal PENGEMBANGAN HIPOTESIS
terhadap suatu pengumuman. Jika Berdasarkan signaling theory,
pengumuman tersebut mengandung pengumuman kenaikan suku bunga acuan
informasi, maka diharapkan investor di bank Indonesia merupakan sinyal positif
pasar akan bereaksi pada saat pengumuman karena kenaikan suku bunga acuan bank
tersebut diterima. Reaksi investor ini Indonesia untuk mempertahankan daya tarik
ditunjukkan dengan adanya perubahan harga pasar keuangan domestik di tengah semakin
dari sekuritas yang bersangkutan. meningkatnya ketidakpastisan di pasar
Menurut Hartono (2017), abnormal global, sehingga penulis menarik hipotesis
return adalah selisih antara tingkat dalam penelitian ini sebagai berikut.
keuntungan sebenarnya (actual return) H1:Terdapat reaksi pasar yang tercermin
dengan tingkat keuntungan yang diharapkan dalam abnormal return yang signifikan
(expected return). Abnormal return negatif di sekitar perioda pengumuman
merupakan kelebihan dari return yang kenaikan suku bunga acuan bank
sesungguhnya terjadi dari return normalnya. Indonesia
Return normal adalah return yang H2: Terdapat reaksi pasar yang tercermin
diharapkan investor dengan dari perbedaan aktivitas voluma
mempertimbangkan tingkat risikonya. perdagangan yang signifikan negatif
sebelum dan setelah pengumuman
Trading Volume Activity
kenaikan suku bunga acuan bank 22 INDY Indika Energy Tbk
Indonesia Indah Kiat Pulp and Paper
23 INKP Tbk
METODE PENELITIAN Indocement Tunggal
Sampel dalam penelitian ini adalah 24 INTP Prakarsa Tbk
perusahaan yang termasuk ke dalam indeks Indo Tambangraya Megah
LQ45 pada periode penelitian, sehingga 25 ITMG Tbk
diperoleh 45 perusahaan yang digunakan 26 JSMR Jasa Marga (Persero) Tbk
sebagai sampel dalam penelitian ini. Sampel 27 KLBF Kalbe Farma Tbk
dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 28 LPKR Lippo Karawaci Tbk
1. Matahari Department
29 LPPF Store Tbk
Tabel 1. Sampel Penelitian Medco Energi
Kode 30 MEDC Internasional Tbk
No. Saham Keterangan Media Nusantara Citra
1 ADHI Adhi Karya (Persero) Tbk 31 MNCN Tbk
2 ADRO Adaro Energy tbk Perusahaan Gas Negara
3 AKRA AKR Corporindo Tbk 32 PGAS (Persero) Tbk
4 ANTM Aneka Tambang Tbk Tambang Batubara Bukit
5 ASII Astra International Tbk 33 PTBA Asam Tbk
6 ASRI Alam Sutera Realty Tbk Pembangunan Perumahan
7 BBCA PT Bank Central Asia Tbk 34 PTPP (Persero) Tbk
Bank Negara Indonesia 35 SCMA Surya Citra Media Tbk
8 BBNI Tbk Semen Indonesia (Persero)
PT bank Rakyat Indonesia 36 SMGR Tbk
9 BBRI (Persero) Tbk 37 SRIL Sri Rejeki Isman Tbk
Bank Tabungan Negara Sawit Sumbermas Sarana
10 BBTN (Persero) Tbk 38 SSMS Tbk
11 BKSL Sentul City Tbk Telekomunikasi Indonesia
PT Bank Mandiri 39 TLKM (Persero) Tbk
12 BMRI (Persero) Tbk Chandra Asri
PT Bumi Serpong Damai 40 TPIA Petrochemical Tbk
13 BSDE Tbk 41 UNTR United Tractors Tbk
PT Charoen Pokphand 42 UNVR Unilever Indonesia Tbk
14 CPIN Indonesia Tbk Wijaya Karya )Persero)
15 ELSA PT Elnusa Tbk 43 WIKA Tbk
16 EXCL PT XL Axiata Tbk Waskita Beton Precast
17 GGRM PT Gudang Garam Tbk 44 WSBP Tbk
PT Hanjaya Mandala Waskita Karya (Persero)
18 HMSP Sampoerna Tbk 45 WSKT Tbk
PT Indofood CBP Sukses
19 ICBP Makmur Tbk
20 INCO PT Vale Indonesia Tbk Jenis data yang digunakan dalam
PT Indofood Sukses penelitian ini adalah data kuantitatif. Sumber
21 INDF Makmur Tbk data dalam penelitian ini adalah data
sekunder. Data kuantitatif yang digunakan
adalah harga saham saat penutupan (closing Langkah-langkah pengujian hipotesis
price) harian, Indeks Harga Saham 2 adalah sebagai berikut (Sugama, 2018).
Gabungan (IHSG) harian, dan volume 1. Menghitung aktivitas voluma
perdagangan. Metode data dalam perdagangan masing-masing saham
pengumpulan ini yaitu menggunakan dengan menggunakan formula
metode dokumentasi atau kutipan langsng sebagai berikut.
terhadap data sekunder.
Market adjusted model adalah model
perhitungan expected return yang dipilih
untuk digunakan dalam penelitian ini.
Perioda dalam penelitian ini adalah perioda 2. Mengklasifikasikan TVA masing-
jendela, yaitu 7 hari bursa. Perioda jendela masing saham untuk 3 hari sebelum
menggunakan 3 hari sebelum pengumuman pengumuman dan 3 hari setelah
(t-3), hari saat pengumuman (t0), dan 3 hari pengumuman.
setelah pengumuman (t+3). Tanggal 3. Mencari rata-rata TVA (average
pengumuman kenaikan suku bunga acuan TVA/ATVA) sebelum pengumuman
bank Indonesia dalam penelitian ini adalah dan setelah pengumuman dengan
tanggal 18 Mei 2018. Adapun penggunaan rumus sebagai berikut.
perioda jendela 7 hari yaitu untuk ATVA =
memperkecil terjadinya confounding effect Setelah data average TVA diperoleh,
atau terjadinya perubahan harga saham maka pengujian dilakukan dengan
karena faktor lain di luar perisiwa yang melakukan uji normalitas terlebih dahulu.
diamati. Apabila data terdistribusi normal, maka
Langkah-langkah pengujian hipotesis pengujian hipotesis dilakukan dengan
1 adalah sebagai berikut (Sugama, 2018). menggunakan uji statistik Paired Sample t-
1. Menentukan return realisasian Test. Tetapi, apabila data tidak terdistribusi
Rit = Pit−Pit−1Pit−1 normal, maka uji hipotesis dilakukan
2. Menentukan return ekspektasian menggunakan uji non-parametrik, yaitu uji
dengan menggunakan market Wilcoxon.
adjusted model, dengan rumus
sebagai berikut. HASIL
E(Ri,t) = (IHSGt – IHSGt-1) / Hipotesis pertama diuji dengan
IHSGt-1 menggunakan perhitungan abnormal return
3. Menentukan return tidak normal dengan menggunakan market model.
(abnormal return), dengan rumus Perhitungan abnormal return digunakan
berikut. AR = Rit - E(Ri,t) untuk menguji ada tidaknya kandungan
4. Menentukan nilai AAR (Average informasi yang menyebabkan pasar lebih
Abnormal Return), dengan rumus dari keadaan normal. Reaksi pasar akan
sebagai berikut. tercermin pada abnormal return dari
AARt = perusahaan yang termasuk dalam indeks
Setelah data average abnormal return LQ45. H1 akan diterima jika tingkat
diperoleh, maka pengujian dilakukan dengan signifikansi kurang dari 0,05.
uji statistik One-Sample t-Test. Jika p-value Tabel 2 menunjukkan bahwa pada
lebih besar dari α, maka hipotesis ditolak, periode pengamatan t+2 nilai signifikansi
dan sebaliknya jika p-value lebih kecil dari kurang dari 0.05 bermakna bahwa hipotesis
α, maka hipotesis diterima. pertama diterima.
Tabel 3. Pengujian Normalitas Data
ATVA Hari ATVA
AAR Hari ke- Sebelum ke- Setelah
0,040 -3 0,00912 1 0,01043
0,030 -2 0,00104 2 0,00954
0,020 -1 0,01017 3 0,01004
0,010 Rata-rata 0,00677 0,01000
- Deviasi Std. 0,00499 0,00044
1 2 3 4 5 6 7 Asym.sig(2-
(0,010)
tailed) 0,863 1,000
Gambar1. Average Abnormal Return dengan
Market Model Pada tabel 3 menunjukkan bahwa nilai
asym.sig (2-tailed) adalah 0,863 dan 1,000
Pada Gambar 1, terlihat bahwa rata- dimana kedua nilai tersebut berada diatas
rata abnormal return bergerak pada posisi 5%. Hal tersebut bermakna bahwa data
positif. Average abnormal return terendah terdistribusi secara normal. Oleh karena itu,
terjadi pada t+2 kenaikan suku bunga acuan pengujian dapat langsung dilanjutkan pada
Bank Indonesia yang menunjukkan bahwa pengujian average trading volume activity
kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dengan uji paired sample.
direaksi negatif oleh pasar pada hari kedua
setelah kenaikan suku bunga acuan Bank Tabel 4. Pengujian Average Trading Volume
indonesia. Activity
ATVA Hari ATVA
Tabel 2. Uji Hipotesis Abnormal return Hari ke- Sebelum ke- Setelah
dengan Market Model -3 0,00912 1 0,01043
T- Sig(2- -2 0,00104 2 0,00954
Hari hitung tailed) AAR Keterangan -1 0,01017 3 0,01004
-3 4,354 0,000 0,008 signifikan Rata-rata 0,00677 0,01000
-2 4,423 0,000 0,000 signifikan Deviasi
-1 3,546 0,001 0,011 signifikan Std. 0,00499 0,00044
0 4,235 0,000 0,000 signifikan t hitung -1,211
1 5,426 0,000 0,007 signifikan Sig(2-
tidak tailed) 0,357
2 1,288 0,204 0,029 signifikan
3 3,276 0,002 0,003 signifikan Pada tabel 4, menunjukkan tingkat
signifikansi yang lebih dari 0,05 yaitu
Hipotesis kedua dilakukan dengan sebesar 0,357 dan juga menunjukkan adanya
menguji aktivitas volume perdagangan peningkatan rata-rata volume perdagangan
dari sebelum dan setelah peristiwa kenaikan
saham terhadap peristiwa kenaikan suku
suku bunga acuan Bank Indonesia (0,00677
bunga acuan bank Indonesia. Pengujian
ke 0,1000). Ini mengindikasikan bahwa
dilakukan dengan menguji normalitas. Dari pasar bereaksi secara tidak signifikan namun
data dibawah diketahui bahwa nilai reaksinya positif terhadap peristiwa
signifikansi dibawah 0,05 yang kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia.
menyebabkan data tidak normal. Hasil penelitian ini tidak sesuai
dengan hipotesis yang menyatakan bahwa
terdapat reaksi yang signifikan positif kerugian, dan sebagian pelaku pasar
sebelum dan setelah kenaikan suku bunga mengambil momentum turunnya harga
acuan Bank Indonesia, sehingga hipotesis 2 saham untuk membeli saham tersebut
ditolak. sehingga jumlah aktivitas perdagangan
meningkat.
PEMBAHASAN
Berdasarkan penelitian yang KESIMPULAN DAN SARAN
dilakukan ini, maka diperoleh hasil bahwa
peristiwa kenaikan suku bunga acuan Bank Kesimpulan
Indonesia direspon negatif oleh pasar Kesimpulan dari penelitian ini adalah
(hipotesis pertama). Hasil pada hipotesis 1 berdasarkan kedua indikator yang digunakan
ini sesuai dengan signaling theory yang untuk menguji reaksi pasar terhadap
mengemukakan bahwa kenaikan suku bunga peristiwa kenaikan suku bunga acuan Bank
acuan BI memiliki reaksi yang signifikan Indonesia, hanya ditemukan satu indikator
berupa sinyal negatif. Temuan ini yang mampu membuktikan reaksi pasar
memberikan anggapan bahwa kenaikan suku sesuai dengan signaling theory. Kenaikan
bunga acuan Bank Indonesia menyebabkan suku bunga acuan Bank Indonesia dianggap
indeks pada LQ45 menjadi turun. sebagai sinyal buruk bagi investor yang
Pada hasil pengujian hipotesis kedua, ditunjukkan dari abnormal return yang
diperoleh hasil bahwa aktivitas voluma negatif. Namun, indikator kedua
perdagangan saham memiliki nilai yang menunjukkan hasil yang sebaliknya, yaitu
tidak signifikan atas adanya kenaikan suku terjadi peningkatan aktivitas voluma
bunga acuan Bank Indonesia. Hasil perdagangan saham setelah peristiwa
penelitian ini diperoleh menunjukkan pengumuman kenaikan suku bunga acuan
adanya kenaikan rata-rata aktivitas voluma Bank Indonesia.
perdagangan dari sebelum ke setelah
peristiwa kenaikan suku bunga acuan Bank Saran
Indonesia. Kenaikan rata-rata aktivitas Bagi para pelaku pasar modal yaitu
voluma perdagangan saham ini investor maupun calon investor, peristiwa
menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia
acuan Bank Indonesia tidak sesuai dengan merupakan salah satu sinyal yang diberikan
teori penyinalan yang pada awalnya oleh pemerintah kepada perusahaan publik
menyatakan bahwa kenaikan suku bunga untuk menekan perdagangan saham. Pelaku
acuan Bank Indonesia mengandung pasar dituntut memiliki analisis yang tajam
informasi negatif. agar keputusan berinvestasi yang diambil
Dari pengujian hipotesis kedua, dilandasi dengan alasan yang cermat.
dapat diketahui bahwa pelaku pasar bereaksi
positif terhadap peristiwa kenaikan suku DAFTAR PUSTAKA
bunga acuan Bank Indonesia. Hal ini dapat Brigham, E. F. dan Houston, J. F. (2011).
terjadi karena peristiwa kenaikan suku Dasar Dasar Manajemen Keuangan.
bunga acuan Bank Indonesia menyebabkan Edisi 11, buku 1. Jakarta: Salemba
harga saham turun yang ditunjukkan dari Empat.
abnormal return yang negatif sehingga
menyebabkan sebagian pelaku pasar Brown, S. J. dan Warner, J. B. (1985). Using
mereaksi secara negatif dengan menjual Daily Stock Return: The Case of
saham miliknya untuk meminimalisir Event Studies. Journal of Financial
economics, Vol. 14, 3- 31.
Fama. E. F. (1970). Efficient Capital
Markets: A Review of Theory and
Empirical Works. Journal of
Finance, 383-417.
Harahap. (2016). Reaksi Pasar Saham
Indoensia Terhadap Pengumuman
Kenaikan Suku Bunga The Federal
Reserve Bank. Tesis Magister
Manajemen. Universitas Gadjah
Mada.
Hartono. (2017). Teori Portofolio dan
Analisis Investasi. Yogyakarta:
BPFE.
Hossain. (2010). Bank Sentral dan
Kebijakan Moneter di Asia Pasifik.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Krizman, M. P. (1994). What Practitioners
Need To Know About Event Studies.
Financial Analyst Journal, 17-20.
MacKinlay, A. C. (1997). Event Studies in
Economics and Finance. Journal of
Economic Literature.
Mankew, N. G. (2002). Principle of
Economis. Jakarta: Salemba Empat
Natasya L. A., & Suganda, T. R. (2013).
Kandungan Informasi Pengumuman
Saham Bonus: Studi Empiris di
Bursa Efek Indonesia. Jurnal
Keuangan dan Perbankan, Vol.17,
389-399.
Tandelilin. (2010). Portofolio dan Investasi:
Teori dan Aplikasi. Yogyakarta:
Kanisius
https://ekonomi.kompas.com/. diakses
tanggal 15 November 2018.