Anda di halaman 1dari 13

[tutup]

Ikuti Wikipedia bahasa Indonesia di Facebook, Twitter, Instagram, dan Telegram

Dangdut
Loncat ke navigasiLoncat ke pencarian

Dangdut

Sumber India, Melayu, Arab, patrol, gamelan, rock, pop, house

aliran music

Sumber Melayu dan Jawa

kebudayaan

Alat Tabla (dapat diganti dengan ketipung), drum

musik yang set, suling, tamborin, gitar (akustik atau

biasa elektrik), mandolin, bass, saksofon, terompet, meja

digunakan putar, dll.

Popularitas 1970-an-saat ini

arus utama

Subgenre

Dangdut koplo, Dangdut House, rock-dut, pop-dangdut, congdut

Musik dari Indonesia

Gong dari Jawa


Garis waktu • Contoh

Ragam

Klasik • Kecak • Kecapi suling • Tembang Sunda • Pop • Dangdut • Hip

hop • Keroncong • Gambang keromong • Gambus • Jaipongan • Langgam Jawa • Pop

Batak • Pop Minang • Pop Sunda • Tarling • Musik tegalan • Qasidah

modern • Rock • Tapanuli ogong • Tembang Jawa

Bentuk tertentu

Angklung • Beleganjur • Calung • Campursari • Gamelan • Degung • Gambang • Gong

gede • Gong kebyar • Jegog • Joged bumbung • Salendro • Selunding • Semar

pegulingan

Musik daerah

Bali • Kalimantan • Jawa • Kepulauan Maluku • Papua • Sulawesi • Sumatera • Sunda

Dangdut merupakan salah satu dari genre seni musik populer tradisional Indonesia yang khususnya
memiliki unsur-unsur Hindustani (India), Melayu, dan Arab. Dangdut bercirikan dentuman tabla (alat
musik perkusi India) dan gendang. Dangdut juga sangat dipengaruhi dari lagu-lagu musik India
klasik dan Bollywood.
Sejarahnya, dangdut dipengaruhi musik India melalui film Bollywood oleh Ellya Khadam dengan
lagu "Boneka India", dan terakhir lahir sebagai Dangdut tahun 1968 dengan tokoh utama Rhoma
Irama. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer, sekarang masuk pengaruh unsur-unsur
musik India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (pada cengkok dan harmonisasi).
Perubahan arus politik Indonesia pada akhir tahun 1960-an membuka masuknya pengaruh musik
barat yang kuat dengan masuknya penggunaan gitar listrik dan juga bentuk pemasarannya. Sejak
tahun 1970-an dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Sebagai
musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong,
langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music.[1]
Pengaruh India juga sangat kuat didalam genre musik dangdut ini, melainkan dari gaya harmoni dan
instrumen, juga dipopulerkan dengan lagu-lagu dangdut klasik yang bertema India yang dinyanyikan
oleh penyanyi-penyanyi dangdut populer seperti Rhoma Irama dengan lagunya yang berjudul
"Terajana", Mansyur S dengan lagunya yang berjudul "Khana", Ellya Khadam dengan lagu "Boneka
India" dan Via Vallen dengan lagu berjudul Sayang menjadikan musik dangdut lebih dikenal lagi saat
ini.
Daftar isi

 1Asal istilah
 2Pengaruh dan perkembangan
o 2.1Qasidah masuk ke Nusantara tahun 635 - 1600
o 2.2Gambus dan migrasi orang Arab mulai tahun 1870
o 2.3Musik Melayu Deli tahun 1940
o 2.4Irama Amerika Latin tahun 1950
o 2.5Dari musik Melayu Deli tahun 1940 ke Dangdut tahun 1968
o 2.6Interaksi dengan musik lain
 3Bangunan lagu
 4Dangdut dalam budaya kontemporer
 5Dangdut di Era Millenium
 6Tokoh-tokoh
o 6.1Sebelum tahun 2000
o 6.2Era tahun 1990-an
o 6.3Penyanyi Tahun 1970 - 1980
o 6.4Penyanyi era tahun 1970-an
 7Referensi
 8Bacaan lanjutan
 9Pranala luar

Asal istilah[sunting | sunting sumber]


Penyebutan nama "dangdut" merupakan onomatope dari suara permainan tabla (dalam dunia
dangdut disebut gendang saja) musik India. Putu Wijaya awalnya menyebut dalam
majalah Tempo edisi 27 Mei 1972 bahwa lagu Boneka dari India adalah campuran lagu Melayu,
irama padang pasir, dan "dang-ding-dut" India.[2] Sebutan ini selanjutnya diringkas menjadi "dangdut"
saja, dan oleh majalah tersebut digunakan untuk menyebut bentuk lagu Melayu yang terpengaruh
oleh lagu India.[2]

Pengaruh dan perkembangan[sunting | sunting sumber]

Sebuah pertunjukan musik dangdut modern di Plaza Surabaya.

Qasidah masuk ke Nusantara tahun 635 - 1600[sunting | sunting sumber]


Qasidah masuk Nusantara sejak Agama Islam dibawa para saudagar Arab tahun 635, kemudian
juga saudagar Gujarat tahun 900 - 1200, saudagar Persia tahun 1300 - 1600 [3]. Nyanyian Qasidah
biasanya berlangsung di masjid, pesantren dakwah agama Islam.
Gambus dan migrasi orang Arab mulai tahun 1870[sunting | sunting sumber]
Gambus adalah salah satu alat musik Arab seperti gitar, namun mempunyai suara rendah.
Diperkirakan alat musik gambus masuk ke nusantara bersama migrasi Marga Arab
Hadramaut (sekarang Yaman) dan orang Mesir mulai tahun 1870 hingga setelah 1888,[4] yaitu
setelah Terusan Suez dibuka tahun 1870, pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara dibangun tahun
1877, dan Koninklijke Paketvaart Maatschappij berdiri tahun 1888. Para musisi Arab sering
mendendangkan Musik Arab dengan iringan gambus.
Pada awal abad XX penduduk Arab-Indonesia senang mendengarkan lagu gambus, dan sekitar
tahun 1930, Syech Albar (ayah dari Ahmad Albar) mendirikan orkes gambus di Surabaya. Ia juga
membuat rekaman piringan hitam dengan Columbia tahun 1930-an, yang laku di
pasaran Malaysia dan Singapura.
Musik Melayu Deli tahun 1940[sunting | sunting sumber]
Musik Melayu Deli lahir sekitar tahun 1940 di Sumatera Utara bersama Husein
Bawafie dan Muhammad Mashabi, kemudian menjalar ke Batavia dengan berdirinya Orkes Melayu.
Irama Amerika Latin tahun 1950[sunting | sunting sumber]
Pada tahun 1950, musik Amerika Latin masuk ke Indonesia oleh Xavier Cugat dan Edmundo
Ros serta Perez Prado, termasuk Trio Los Panchos atau Los Paraguayos.[butuh rujukan] Irama latin ini
kemudian lekat dengan orang Indonesia. Kemudian berbagai lagu Minang juga muncul
bersama Orkes Gumarang, dan Zainal Combo.
Dangdut kontemporer telah berbeda dari akarnya, musik Melayu, meskipun orang masih dapat
merasakan sentuhannya. Pada tahun 1950-an dan 1960-an banyak berkembang orkes-orkes
Melayu di Jakarta yang memainkan lagu-lagu Melayu Deli dari Sumatera (sekitar Medan).
Dari musik Melayu Deli tahun 1940 ke Dangdut tahun 1968 [sunting | sunting
sumber]

Tabla, salah satu alat musik utama dangdut yang berasal dari India.

Orkes Melayu (biasa disingkat OM, sebutan yang masih sering dipakai untuk suatu grup musik
dangdut) yang asli menggunakan alat musik seperti gitar akustik, akordeon, rebana, gambus,
dan suling, bahkan gong. Musik Melayu Deli awalnya tahun 1940-an lahir di daerah Deli Medan,
kemudian musik melayu deli ini juga berkembang di daerah lain, termasuk Jakarta. Pada masa ini
mulai masuk eksperimen masuknya unsur India dalam musik Melayu. Perkembangan dunia sinema
pada masa itu dan politik anti-Barat dari Presiden Sukarno menjadi pupuk bagi grup-grup ini. Dari
masa ini dapat dicatat nama-nama seperti P. Ramlee (dari Malaya), Said Effendi (dengan
lagu Seroja), Ellya (dengan gaya panggung seperti penari India, sang pencipta Boneka dari
India), Husein Bawafie (salah seorang penulis lagu Ratapan Anak Tiri), Munif
Bahaswan (pencipta Beban Asmara), serta M. Mashabi (pencipta skor film "Ratapan Anak Tiri" yang
sangat populer pada tahun 1970-an). Gaya bermusik masa ini masih terus bertahan hingga 1970-
an, walaupun pada saat itu juga terjadi perubahan besar di kancah musik Melayu yang dimotori
oleh Soneta Group pimpinan Rhoma Irama. Beberapa nama dari masa 1970-an yang dapat disebut
adalah Mansyur S., Ida Laila, A. Rafiq, serta Muchsin Alatas. Populernya musik Melayu dapat dilihat
dari keluarnya beberapa album pop Melayu oleh kelompok musik pop Koes Plus pada masa
jayanya.
Dangdut modern, yang berkembang pada awal tahun 1970-an sejalan dengan politik Indonesia yang
ramah terhadap budaya Barat, memasukkan alat-alat musik modern Barat seperti gitar listrik, organ
elektrik, perkusi, trompet, saksofon, obo, dan lain-lain untuk meningkatkan variasi dan sebagai lahan
kreativitas pemusik-pemusiknya. Mandolin juga masuk sebagai unsur penting. Pengaruh rock
(terutama pada permainan gitar) sangat kental terasa pada musik dangdut. Tahun 1970-an menjadi
ajang 'pertempuran' bagi musik dangdut dan musik rock dalam merebut pasar musik Indonesia,
hingga pernah diadakan konser 'duel' antara Soneta Group dan God Bless. Praktis sejak masa ini
musik Melayu telah berubah, termasuk dalam pola bisnis bermusiknya. Pada paruh
akhir dekade 1970-an juga berkembang variasi "dangdut humor" yang dimotori oleh OM Pancaran
Sinar Petromaks (PSP). Orkes ini, yang berangkat dari gaya musik melayu deli, membantu
diseminasi dangdut di kalangan mahasiswa. Subgenre ini diteruskan, misalnya, oleh OM Pengantar
Minum Racun (PMR) dan, pada awal tahun 2000-an, oleh Orkes Pemuda Harapan Bangsa (PHB).
Interaksi dengan musik lain[sunting | sunting sumber]
Dangdut sangat elastis dalam menghadapi dan memengaruhi bentuk musik yang lain. Lagu-lagu
barat populer pada tahun 1960-an dan 1970-an banyak yang didangdutkan. Genre musik gambus
dan kasidah perlahan-lahan hanyut dalam arus cara bermusik dangdut. Hal yang sama terjadi pada
musik tarling dari Cirebon sehingga yang masih eksis pada saat ini adalah bentuk campurannya:
tarlingdut. Musik rock, pop, disko, house bersenyawa dengan baik dalam musik dangdut. Aliran
campuran antara musik dangdut & rock secara tidak resmi dinamakan Rockdut. Demikian pula yang
terjadi dengan musik-musik daerah seperti jaipongan, degung, tarling, keroncong, langgam
Jawa (dikenal sebagai suatu bentuk musik campur sari yang dinamakan congdut, dengan
tokohnya Didi Kempot), atau zapin. Mudahnya dangdut menerima unsur 'asing' menjadikannya
rentan terhadap bentuk-bentuk pembajakan, seperti yang banyak terjadi terhadap lagu-lagu dari film
ala Bollywood dan lagu-lagu latin. Kopi Dangdut, misalnya, adalah "bajakan" lagu yang populer
dari Venezuela.

Bangunan lagu[sunting | sunting sumber]


Lagu-lagu dangdut dapat menerima berbagai unsur musik lain secara mudah, meskipun demikian
bangunan sebagian besar lagu dangdut sangat konservatif. Sebagian besar lagu dangdut tersusun
dari satuan delapan birama 44. Jarang sekali ditemukan lagu dangdut dengan birama 34, kecuali
pada beberapa lagu masa 1960-an seperti Burung Nuri dan Seroja.
Bentuk bangunan lagu dangdut secara umum adalah: A - A - B - A, namun dalam aplikasi
kebanyakan memiliki urutan menjadi seperti ini [5]:

“ ”
Intro - Eksposisi I - A - A - Eksposisi II - B - A - Eksposisi II - B - A - (coda)

Bentuk bangunan lagu dangdut


Urutan bangunan
Keterangan
lagu
Dapat merupakan pembuka pendek sepanjang 2 - 4 birama berupa permainan instrumental
atau rangkaian akord pembuka, bisa juga sebagai vokal resitatif (setengah deklamasi) yang
Intro
mengungkapkan isi lagu dengan iringan akord terurai (broken chord) atau tanpa iringan,
atau bisa juga berupa permainan seruling, kemudian masuk ke Eksposisi I atau Vokal.
Adalah sajian instrumental yang berlangsung sepanjang 4 - 8 birama, dengan instrumen
suling, organ, gitar, bahkan sitar atau mandolin secara bergantian. Eksposisi adalah
Eksposisi I atau
Tampilan kelompok band, berupa aransemen kebolehan band yang disajikan secara khusus
Tampilan I
untuk memperlihatkan kebolehan. Tampilan I bisa dihilangkan kalau dari Intro langsung
masuk Vokal.
Biasanya berupa melodi dengan nada rendah dan datar sebagai ungkapan pertama isi
Verse A
lagu atau proposta.
Berupa sajian yang kedua instrumental kebolehan band, dan Tampilan II harus ada (tidak
Eksposisi II atau
boleh ditiadakan) dan sebagai penghubung Verse A dengan Verse B, juga instrumental
Tampilan II
bergantian antara organ, suling, gitar, atau sitar dan mandolin.
Biasanya berupa melodi dengan nada tinggi dan berapi-api menjelaskan lebih lanjut isi
lagu, atau juga riposta terhadap Verse A. Lirik bagian kedua biasanya berisi konsekuensi
Verse B
dari situasi yang digambarkan bagian pertama atau tindakan yang diambil si penyanyi
untuk menjawab situasi itu.
Diulang lagi, berupa sajian yang ketiga instrumental kebolehan band, dan Tampilan II
Eksposisi II atau
harus ada (tidak boleh ditiadakan) dan sebagai penghubung Verse A dengan Verse B, juga
Tampilan II
instrumental bergantian antara organ, suling, gitar, atau sitar dan mandolin.
Verse B Mengulang dari Verse B sebelumnya, isinya sama persis dengan Verse B sebelumnya.
Verse A Disajikan sekali lagi untuk menutup lagu, sama persis dengan Verse A sebelumnya.
Coda (optional, Di akhir lagu kadang-kadang terdapat koda sepanjang empat birama, namun juga bisa
boleh dihilangkan) ditiadakan langsung berhenti, atau diakhiri dengan fade away (jarang terjadi).
Lagu dangdut umumnya juga miskin improvisasi, baik melodi maupun harmoni. Sebagai musik
pengiring tarian, dangdut sangat mengandalkan ketukan tabla dan sinkop.

Dangdut dalam budaya kontemporer[sunting | sunting sumber]

Penyanyi dangdut Yan Vellia di Pesta Kesenian Rakyat di Pacitan.

Rhoma Irama menjadikan dangdut sebagai alat berdakwahnya, yang terlihat dari lirik-lirik lagu
ciptaannya serta dari pernyataan yang dikeluarkannya sendiri. Hal ini menjadi salah satu pemicu
polemik di Indonesia pada tahun 2003, akibat protesnya terhadap gaya panggung para penyanyi
dangdut, antara lain Inul Daratista, yang goyang ngebor-nya yang dicap dekaden serta "merusak
moral". Jauh sebelumnya, dangdut juga telah mengundang perdebatan dan berakhir dengan
pelarangan panggung dangdut dalam perayaan Sekaten di Yogyakarta. Perdebatan muncul lagi-lagi
akibat gaya panggung penyanyi (wanita)-nya yang dinilai terlalu "terbuka" dan berselera rendah,
sehingga tidak sesuai dengan misi Sekaten sebagai suatu perayaan keagamaan. Dangdut memang
disepakati banyak kalangan sebagai musik yang membawa aspirasi kalangan masyarakat kelas
bawah dengan segala kesederhanaan dan kelugasannya. Ciri khas ini tercermin dari lirik serta
bangunan lagunya. Gaya pentas yang sensasional tidak terlepas dari napas ini.
Panggung kampanye partai politik juga tidak ketinggalan memanfaatkan kepopuleran dangdut untuk
menarik massa. Isu dangdut sebagai alat politik juga menyeruak ketika Basofi Sudirman, pada saat
itu sebagai fungsionaris Golkar, menyanyi lagu dangdut.[butuh rujukan] Walaupun dangdut diasosiasikan
dengan masyarakat bawah yang miskin, bukan berarti dangdut hanya digemari kelas bawah. Di
setiap acara hiburan, dangdut dapat dipastikan turut serta meramaikan situasi. Panggung dangdut
dapat dengan mudah dijumpai di berbagai tempat. Tempat hiburan dan diskotek yang khusus
memutar lagu-lagu dangdut banyak dijumpai di kota-kota besar. Stasiun radio siaran yang
menyatakan dirinya sebagai "radio dangdut" juga mudah ditemui di berbagai kota.

Dangdut di Era Millenium[sunting | sunting sumber]


Dangdut Koplo lahir di Indonesia lahir sejak tahun 2000 yang dipromotori oleh kelompok-kelompok
musik Jawa Timur. Namun saat itu masih belum menasional seperti sekarang ini. 2 tahun kemudian,
variasi atau cabang baru bagi musik Dangdut ini semakin fenomenal, setelah area 'kekuasaannya'
meluas ke beberapa wilayah seperti di Jogja dan beberapa kota di Jawa Tengah lainnya. Salah satu
hal yang membuat genre ini sukses dalam memperlebar daerah 'kekuasannya' adalah vcd bajakan
yang begitu mudah dan murah didapatkan masyarakat sebagai 'alternatif' hiburan masyarakat dari
vcd/dvd original artis-artis/selebriti nasional yang dinilai mahal. Kesuksesan vcd bajakan tersebut
juga dibarengi dengan fenomena "goyang ngebor" Inul Daratista.
Fenomena itulah yang sebenarnya membuat popularitas Dangdut Koplo semakin meningkat di se-
antero Indonesia. Apalagi setelah goyang ngebor inul itu tercium oleh beberapa media-media
televisi swasta nasional. Oleh karenanya, masyarakat Indonesia semakin mengenal Dangdut Koplo
dan juga Inul itu sendiri.
Tapi, fenomena itu bukan berarti tak ada masalah. Sang Raja Dangdut Indonesia, Rhoma
Irama adalah seniman Dangdut senior pertama yang nyata-nyata menentang Inul karena goyang
ngebornya itu. Munculnya Inul dengan ciri goyangan tersendiri itu ditentang Rhoma karena berbau
pornografi yang mengakibatkan dekadensi moral. Tak hanya itu, sang Raja juga khawatir jika hal ini
dibiarkan saja, akan tumbuh-tumbuh goyangan porno model lain yang dilakukan penyanyi-penyanyi
di daerah untuk ikut-ikutan 'mengekor' si ratu goyang ngebor itu.
Penentangan Rhoma terhadap aksi Inul dan beberapa tokoh dangdut lain ternyata mendapat
'sambutan' dari para pembela Inul. Baik itu masyarakat umum atau seniman-seniman Indonesia lain
(dan bahkan melibatkan pakar hukum). Sejak itulah pro-kontra terhadap Inul menjadi headline news
di media-media di Indonesia dan bahkan beberapa media-media Internasional seperti BBC News.
Pro-kontra dan kontroversi itu ternyata semakin mempopulerkan Inul itu sendiri, Dangdut Koplo dan
artis-artis Dangdut lain. Benar kata sang Raja, karena munculnya Inul tersebut diikuti oleh
munculnya artis-artis pendatang baru yang juga membawa identitas goyangan, seperti goyang
ngecor ala Uut Permatasari dan Goyang patah-patah ala Anisa Bahar. Hal tersebut membuat sang
Raja dan para penentang lain semakin sedih. Munculnya artis atau penyanyi Dangut baru karena
kontroversi itu juga semakin mempopulerkan Dangdut Koplo. Berturut-turut setelah Uut dan Anisa
Bahar, muncul nama lain seperti Dewi Persik, Julia Perez, Shinta Jojo waktu itu.
Di sisi lain, Dangdut sedang berbenah melalui Konggres PAMMI untuk memilih calon ketua baru.
Dalam kesempatan itu, Rhoma kembali terpilih sebagai ketua PAMMI. Salah satu pernyataan yang
cukup menghebohkan juga adalah bahwa Rhoma secara terang-terangan melarang dan
menggunakan embel-embel Dangdut karena telah menyimpang dari pakem Dangdut sehingga
seharusnya aliran tersebut berdiri sendiri. Salah satu alasannya yang populer adalah karena
Dangdut Koplo melahirkan penyanyi Dangdut dengan goyangan erotis dan penampilan vulgar.
Sayang, pernyataan dia seperti tak pernah didengarkan oleh para pelaku Dangdut terutama
penyanyi. Justru hal itu seolah semakin mengeksiskan Dangdut Koplo itu sendiri disamping
produktivitas Dangdut non koplo yang sepi dan kalah bersaing dengan peredaran vcd/dvd bajakan
yang semakin meluas. Di sisi lain, penyanyi pendatang baru juga semakin membludak, baik itu yang
bersifat lokal atau nasional, begitu juga dengan grup-grup Dangdut koplo juga semakin banyak, ata
grup yang tadinya beraliran klasik atau rock Dangdut, berganti haluan menjadi Dangdut koplo.
Mungkin masyarakat Indonesia sudah banyak yang tahu artis-artis pendatang seperti Ayu Ting
Ting, Siti Badriah, Zaskia Gotik, Trio Macan, Wika Salim, Melinda dan sebagainya, atau grup
Dangdut Koplo Jawa timuran yang semakin populer di Indonesia. Itu semua justru terjadi karena
kontroversi-kontroversi tersebut.

Tokoh-tokoh[sunting | sunting sumber]


 Wika Salim
 Siti Rahmawati
 Shreya Maya
 Gitalis Dwi Natarina
 Irwan Krisdiyanto
 Selfi Nafilah
 Wada Syuhada
 Reza Zakarya Mahdami
 Via Vallen
 Siti Badriah
 Shreya Maya
 Fitri Karlina
 Jenita Janet
 Ayu Ting Ting
 Dewi Persik
 Ridho Rhoma
 Vicky Irama
 Trio Macan
 Julia Perez
 Denada
 Cita Citata
 Hesty Aryatura
 Sodik
 Syanel Imelda
 Mahesya KDI
 Lesti Andryani
Sebelum tahun 2000[sunting | sunting sumber]

 Akhsay
 Wika Salim
 Zaskia Gotik
 Siti Badriah
 Via Vallen
 Fitri Karlina
 Ira Swara
 Anisa Bahar
 Uut Permatasari
 Nitha Thalia
 Jenita Janet
 Cici Paramida
 Juwita Bahar
 Alam
 Ayu Ting Ting
 Beniqno Aquino
 Dewi Persik
 Melinda
 Saipul Jamil
 Inul Daratista
 Ira Swara
 Trio Macan
 Julia Perez
 Kristina
 Shamila
Era tahun 1990-an[sunting | sunting sumber]

 Amri Palu
 Anies Fitria
 Asep Irama
 Barakatak
 Chaca Handika
 Deddy Irama
 Erie Suzan
 Evie Tamala
 Fahmi Shahab
 Hamdan ATT
 Herry Irama
 Iis Dahlia
 Irvan Mansyur S
 Ikke Nurjanah
 Imam S Arifin
 Ine Sinthya
 Itje Trisnawati
 Iyeth Bustami
 Jhonny Iskandar
 Kitty Nurbaiti
 Lilis Karlina
 Leo Waldy
 Manis Manja Group
 Mansyur S
 Mega Mustika
 Meggy Z
 Mirnawati
 Minawati Dewi
 Muchsin Alatas
 Dino B. / Dino Baloewel
 Nada Soraya
 Neneng Anjarwati
 Nur Halimah
 Ona Sutra
 Rama Aiphama
 Riza Umami
 Solid AG
 Vetty Vera
 Yulia Citra
 Yus Yunus
 Yopie Latul
 Thomas Djorghi
Penyanyi Tahun 1970 - 1980[sunting | sunting sumber]

 A. Rafiq
 Camelia Malik
 Elvy Sukaesih
 Herlina Effendi
 Ida Laila
 Noer Halimah
 Reynold Panggabean
 Rita Sugiarto
 Soneta Group
Penyanyi era tahun 1970-an[sunting | sunting sumber]

 A. Harris
 Ellya
 Hasnah Tahar
 Husein Bawafie
 Johana Satar
 M. Mashabi
 Munif Bahaswan
 Said Effendi
 Rhoma Irama

Referensi[sunting | sunting sumber]


1. ^ Gehr, Richard (10 December 1991), "Dawn of Dangdut", The Village
Voice, 36, hlm. 86
2. ^ a b Bahasa Tempo, Bahasa Kita, Tempo, edisi 7-13 Maret 2011.
Penerbit PT. Tempo Inti Media, Tbk. Jakarta.
3. ^ Islam di Indonesia
4. ^ Orang Arab-Indonesia
5. ^ Sunaryo Joyopuspito, MUSIK DANGDUT, Suatu kajian sejarah dan
analisis teori musik, Bina Musik Remaja 2011

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]


 Andrew N. Weintraub, Dangdut Stories: A Social and Musical History
of Indonesia's Most Popular Music, Oxford University Press,
2010; ISBN 978-0-19-539567-9

Pranala luar[sunting | sunting sumber]


Wikimedia Commons
memiliki media
mengenai Dangdut.

 (Inggris) Project Pop Makes Dangdut Hip!


 (Indonesia) Majalah Online Musik Dangdut Indonesia
Kategori:
 Artikel musik Juli 2019
 Dangdut
 Musik di Indonesia
Menu navigasi
 Belum masuk log
 Pembicaraan
 Kontribusi
 Buat akun baru
 Masuk log
 Halaman
 Pembicaraan
 Baca
 Perubahan tertunda

Lainnya




Pencarian
Lanjut

 Halaman Utama
 Perubahan terbaru
 Peristiwa terkini
 Halaman baru
 Halaman sembarang
Komunitas
 Warung Kopi
 Portal komunitas
 Bantuan
Wikipedia
 Tentang Wikipedia
 Pancapilar
 Kebijakan
 Menyumbang
 Hubungi kami
 Bak pasir
Bagikan
 Facebook
 Twitter
 Google+
Dalam proyek lain
 Wikimedia Commons
Cetak/ekspor
 Buat buku
 Unduh versi PDF
 Versi cetak
Perkakas
 Pranala balik
 Perubahan terkait
 Halaman istimewa
 Pranala permanen
 Informasi halaman
 Item di Wikidata
 Kutip halaman ini
 Pranala menurut ID
Bahasa lain
 English
 Español
 Français
 Jawa
 Bahasa Melayu
 Русский
 Sunda
5 lagi
Sunting interwiki
 Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons; ketentuan
tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.
 Kebijakan privasi

 Tentang Wikipedia

 Penyangkalan

 Pengembang

 Pernyataan kuki
 Tampilan seluler