Anda di halaman 1dari 12

i

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT, shalawat dan salam juga
disampaikan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW. Serta sahabat dan keluarganya,
seayun langkah dan seiring bahu dalam menegakkan agama Allah. Dengan kebaikan beliau telah
membawa kita dari alam kebodohan ke alam yang berilmu pengetahuan.
Dalam rangka melengkapi tugas dari mata kuliah “ Sistem Hukum Indonesia “ pada Program
Studi Ilmu Pemerintah dengan ini penulis mengangkat judul “Tragedi Kasus Petrus (Penembakan
Misterius)”.
Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, baik dari cara penulisan, maupun isinya.
Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran-saran yang dapat
membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Wassalam
Penulis,
ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................... i

DAFTAR ISI ....................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................... 1

Latar Belakang ................................................ 1

Identifikasi Masalah .............................................................................................................. 1

Rumusan Masalah ................................................................................................................. 2

BAB II KAJIAN PUSTAKA .............................................................................................. 3

Landasan Hukum .................................................................................................................. 3

Teori tentang HAM ............................................................................................................... 3

BAB III ANALISIS KASUS .............................................................................................. 5

Kronologis Kasus .................................................................................................................. 5

Analisis Kasus ....................................................................................................................... 7

BAB IV PENUTUP ............................................................................................................ 9

Kesimpulan ........................................................................................................................... 9

Rekomendasi .......................................................................................................................... 9

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................10


BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Hak Asasi Manusia (HAM) mempunyai arti penting bagi kehidupan manusia karena persoalannya
berkaitan langsung dengan hak dasar yang dimiliki manusia yang berasal dari Tuhan Yang Maha
Esa, karena itu pada dasarnya setiap manusia memiliki martabat yang sama maka, dalam hal hak
asasi mereka harus mendapat perlakuan yang sama, walaupun kondisi mereka berbeda-beda.
Martabat manusia, sebagai substansi sentral hak-hak asasi manusia di dalamnya mengandung
aspek bahwa manusia memiliki hubungan secara eksistensial dengan Tuhannya (Al-Hakim,dkk,
2012 : 60).

Berlatar dari pengertian HAM diatas maka dapat disimpulkan bahwa setiap manusia memiliki
martabat yang sama tanpa ada pembeda baik itu dari kondisi maupun status sosial mereka di
masyarakat. Pemerintah sebagai institusi yang diamanati kekuasaan oleh rakyat bertugas dalam
penjaminan hak-hak warga negaranya. Tujuan nasional dalam menegakkan HAM tercantum dalam
pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang berbunyi,
“Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan , perdamaian abadi dan keadilan sosial”

Namun jaminan atas hak-hak dasar tersebut harus tercoreng oleh peristiwa PETRUS (Penembakan
Misterius) yang dianggap sebagai pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh pemerintah yang
berkuasa pada saat itu. Korban yang tewas dalam peristiwa tersebut sebagian besar merupakan
preman atau mereka yang melawan kekuasaan Orde Baru, residivis atau mantan narapidana, dan
orang yang diadukan sebagai penjahat.

B. IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis dapat menarik beberapa permasasalahan yang
menimbulkan peristiwa Petrus :

1. Perintah Presiden Soeharto yang meminta Polisi dan ABRI untuk megambil tindakan efektif
dalam rangka menekan angka kriminalitas yang terjadi di Indonesia.
2. Presiden Soeharto beranggapan bahwa penembakan yang dilakukan terhadap para korban
yang sebagian besar merupakan preman atau mereka yang melawan kekuasaan Orde Baru,
residivis atau mantan narapidana telah mengancam keamanan nasional dengan tindakan-
tindakan kriminal yang mereka lakukan dan tindakan penembakan tanpa adanya proses hukum
yang berlaku seolah-olah dianggap legal.
3. Selain ditembak dan ditikam, mayat para korban juga dibiarkan tergeletak di pinggir jalan atau
di tempat-tempat umum yang berpotensi keramaian guna memberikan efek psikologis pada
masyarakat untuk tidak melakukan tindakan kriminal.

1
C. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana kronologis terjadinya peristiwa PETRUS (Penembakan Misterius)?


2. Apa yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa PETRUS (Penembakan Misterius)?
3. Pasal apa saja yang dilanggar oleh pemerintah selama terjadinya peristiwa PETRUS
(Penembakan Misterius)?

2
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. LANDASAN HUKUM

Pasal-pasal yang dilanggar dalam peristiwa Petrus :

1. Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan : “Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang
lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.”
2. Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan: “Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana
terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana,
dengan pidana rnati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama
dua puluh tahun.”
3. Pasal 344 KUHP tentang pembunuhan: “Barang siapa merampas nyawa orang lain atas
permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan
pidana penjara paling lama dua belas tahun.”
4. Pasal 9 UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, penyiksaan diartikan sebagai
tindakan yang dengan sengaja dan melawan hukum menimbulkan kesakitan atau penderitaan
yang berat, baik fisik maupun mental, terhadap seorang tahanan atau seseorang yang berada di
bawah pengawasan.
5. Pasal 354 KUHP tentang Penganiayaan :

(1) Barang siapa sengaja melukai berat orang lain, diancam karena melakukan penganiayaan berat
dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam dengan pidana penjara
paling lama sepuluh tahun.

6. Pasal 355 KUHP tentang Penganiayaan :

(1) Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana terlebih dahulu, diancam dengan pidana
penjara paling lama dua belas tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam dengan pidana penjara
paling lams lima belas tahun.

B. TEORI TENTANG HAM


Menurut Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pasal (1),
bahwa hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat keberadaan manusia
sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Hak itu merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati,
dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi
kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

Dalam bagian Pendekatan dan Substansi TAP MPR No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi
Manusia dijelaskan bahwa hak asasi manusia adalah hak dasar yang melekat pada diri manusia
yang sifatnya kodrati dan universal sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa, dan berfungsi untuk
3
menjamin kelangsungan hidup, kemerdekaan, perkembangan manusia, dan masyarakat yang tidak
boleh diabaikan, dirampas, atau diganggu gugat oleh siapapun.

Dalam konteks HAM, peristiwa Petrus (Penembakan Misterius) ini masuk ke dalam kategori
pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Sebagaimana yang dimaksud dalam penjelasan dalam
UU No. 39 Th 1999 Tentang Hak Asasi Manusia dalam pasal 104 ayat (1) Yang dimaksud dengan
“pelanggaran hak asasi manusia yang berat” adalah pembunuhan massal (genocide), pembunuhan
sewenang-wenang atau di luar putusan pengadilan (arbitrary/extra judicial killing), penyiksaan,
penghilangan orang secara paksa, perbudakan, atau diskriminasi yang dilakukan secara sistematis
(systematic diserimination).

4
BAB III

ANALISIS KASUS

A. KRONOLOGIS KASUS

Penembakan misterius atau sering disingkat Petrus (operasi clurit) adalah suatu operasi rahasia
dari Pemerintahan Suharto pada tahun 1980-an untuk menanggulangi tingkat kejahatan yang
begitu tinggi pada saat itu. Operasi ini secara umum adalah operasi penangkapan dan pembunuhan
terhadap orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat
khususnya di Jakarta dan Jawa Tengah. Pelakunya tak jelas dan tak pernah tertangkap, karena itu
muncul istilah “petrus” (penembakan misterius).

Petrus berawal dari operasi penanggulangan kejahatan di Jakarta. Pada tahun 1982, Soeharto
memberikan penghargaan kepada Kapolda Metro Jaya, Mayjen Pol Anton Soedjarwo atas keber-
hasilan membongkar perampokan yang meresahkan masyarakat. Pada Maret tahun yang sama, di
hadapan Rapim ABRI, Soeharto meminta polisi dan ABRI mengambil langkah pemberantasan
yang efektif menekan angka kriminalitas. Hal yang sama diulangi Soeharto dalam pidatonya
tanggal 16 Agustus 1982. Permintaannya ini disambut oleh Pangopkamtib
Laksamana Soedomo dalam rapat koordinasi dengan Pangdam Jaya, Kapolri, Kapolda Metro
Jaya dan Wagub DKI Jakarta di Markas Kodam Metro Jaya tanggal 19 Januari 1983. Dalam rapat
itu diputuskan untuk melakukan Operasi Clurit di Jakarta, langkah ini kemudian diikuti oleh
kepolisian dan ABRI di masing-masing kota dan provinsi lainnya.

Pada tahun 1983 tercatat 532 orang tewas, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan.
Pada Tahun 1984 ada 107 orang tewas, di antaranya 15 orang tewas ditembak. Tahun 1985 tercatat
74 orang tewas, 28 di antaranya tewas ditembak. Para korban Petrus sendiri saat ditemukan
masyarakat dalam kondisi tangan dan lehernya terikat. Kebanyakan korban juga dimasukkan ke
dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, laut, hutan dan
kebun. Pola pengambilan para korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal dan dijemput
aparat keamanan. Petrus pertama kali dilancarkan di Yogyakarta dan diakui terus terang M Hasbi
yang pada saat itu menjabat sebagai Komandan Kodim 0734 sebagai operasi pembersihan para
gali (Kompas, 6 April 1983). Panglima Kowilhan II Jawa-Madura Letjen TNI Yogie S.
Memet yang punya rencana mengembangkannya. (Kompas, 30 April 1983). Akhirnya gebrakan
itu dilanjutkan di berbagai kota lain, hanya saja dilaksanakan secara tertutup.

Menurut Bhati salah seorang target yang selamat, mereka yang melawan langsung ditembak di
tempat. Di berbagai tempat, orang menemukan mayat dengan luka tembak pada pagi hari—
sebagian besar bertato. Ketakutan pun menyebar hingga 1985.

Dari para tentara dan polisi yang ia kenal akrab, Bathi Moelyono tahu ia masuk sasaran tembak.
Sejak itu, ia tak lagi tidur di rumah sendiri. Ia menghabiskan malam di langit-langit rumah
tetangga. Belakangan, dari kota kediamannya, Semarang, Bathi ke Jakarta, menghadap orang yang
ia sebut sebagai “Number One”, yakni Ali Moertopo.

5
Tokoh “Operasi Khusus” ini ketika itu telah menjadi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung.
Bathi menganggap Ali Moertopo “patron” para preman yang ia pimpin. Ali Moertopo memberinya
selembar “surat jaminan” tak akan ditembak. Tapi tetap saja Bathi tak merasa aman. “Mungkin
penguasa saat itu menganggap tugas saya sudah selesai dan tiba saatnya untuk dihabisi,” Bathi
mengenang.

Selama sepuluh tahun Bhati berpindah-pindah, awalnya ke lereng Gunung Lawu di wilayah
Magetan, Jawa Timur, lalu ke Jakarta, Bogor, dan sejumlah tempat lain. Ia setidaknya tujuh kali
berganti nama: Edi, Hari, Budi, Agus, dan berbagai nama pasaran lain.

Bathi lahir di Semarang, 1947, tanpa catatan tanggal dan bulan akibat buruknya administrasi. Ia
mandek di kelas dua Sekolah Menengah Pertama Taman Siswa, Semarang. Pada 1968, ia terlibat
pembunuhan di Semarang, katanya bukan bermotif perampokan. Bathi diganjar hukuman penjara
hingga 1970.

Keluar dari penjara, ia direkrut Golongan Karya menjadi anggota Tim Penggalangan
Monoloyalitas Serikat Buruh Terminal dan Parkir Kota Madya Semarang. Ketika itu, Orde Baru
gencar melembagakan monoloyalitas pada semua elemen masyarakat. Intinya: setia hanya kepada
Golkar.

Dalam tim itu, Bathi bertugas mengajak preman dan wong cilik Semarang memilih Golkar dalam
Pemilu 1971. Pada 1975-1980, ia mengetuai serikat buruh terminal dan parkir Semarang, lalu
diangkat menjadi kader Golkar Jawa Tengah pada 1976. Pada Pemilu 1977, Bathi kembali menjadi
motor penggalang suara preman dan masyarakat jelata agar mencoblos Golkar. “Istilahnya kami
bina,” katanya. “Kalau tidak mau kami bina… ya kami binasakan.”

Sukses menggarap preman Semarang, pada 1981 Bathi mendapat tugas dari orang yang ia sebut
“bos besar” untuk mengetuai Yayasan Fajar Menyingsing. Ini adalah organisasi bekas narapidana
di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Anggotanya ribuan, semuanya preman. Pada 1982, Golkar
bertekad merebut Jakarta—pada Pemilu 1977 kalah dari Partai Persatuan Pembangunan.

Kelompok preman pimpinan Bathi terlibat operasi menghancurkan citra PPP di Jakarta. Pada
Pemilu 1982, Bathi mengkoordinasi pengawalan dan pengamanan Badan Pemenangan Pemilu
Golkar Jawa Tengah. Tapi ia dan anak buahnya dikirim ke Jakarta untuk memenangkan Golkar.
Ketika lautan manusia memenuhi kampanye Golkar di lapangan Banteng, Jakarta, menjelang
Pemilu 1982, Bathi dan anak buahnya menyamar sebagai pendukung PPP.

Mereka menyerang pendukung Golkar dan merobohkan panggung sambi berteriak, “Hidup
Ka’bah!” Sejumlah kendaraan dibakar. Mereka berangkat naik bus berkaus PPP, tapi terbungkus
rapat jaket Golkar. Sesampai di lapangan, mereka melepas jaket sehingga tinggal kaus PPP yang
tampak. “Sudah kami siapkan mana mobil yang dibakar, mana yang tidak,” kata Bathi. Alhasil,
pada Pemilu 1982, suara PPP di Jakarta tumbang oleh Golkar.

6
Kontras pernah menginvestigasi kasus ini pada 2002 dengan menghadirkan sejumlah saksi dan
korban selamat. Setahun kemudian, Komnas HAM meneliti kasus ini, tapi mandek di tengah jalan.
Kini tragedi petrus kembali menjadi target Komnas HAM untuk diungkap dengan membentuk
tim ad hoc pada akhir Februari lalu.

Tim itu telah mengundang sejumlah keluarga korban. Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim
mengatakan petrus adalah kejahatan kemanusiaan. Penjahat pun harus tetap dihormati hak
hukumnya. “Mereka tidak boleh asal ditembak,”katanya.

Kontras mencatat korban tewas petrus di seluruh Indonesia pada 1983 berjumlah 532 orang, pada
1984 sebanyak 107 orang, dan pada 1985 sebanyak 74 orang.

B. ANALISIS KASUS

Dilihat dari pemaparan kronologis diatas, dapat disimpulkan bahwa petrus adalah gagasan
Soeharto. Hal ini merujuk pengakuan Soeharto dalam otobiografi Soeharto: Pikiran, Ucapan dan
Tindakan Saya.

Tindakan tegas bagaimana? Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi, kekerasan itu
bukan lantas dengan tembakan.. dor.. dor.. begitu saja, bukan! Yang melawan,
mau tidak mau, harus ditembak. Karena melawan, mereka ditembak. Lalu, ada
yang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock therapy, terapi
goncangan. Ini supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat
masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya. Tindakan itu dilakukan supaya
bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampaui batas perikemanusiaan
itu. Maka, kemudian meredalah kejahatan-kejahatan yang menjijikkan itu.

—Suharto (Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989), yang ditulis Ramadhan K.H.)

Selain Soeharto, orang yang harus bertanggung jawab adalah Sudomo dan mantan Panglima
ABRI/Pangkopkamtib Jenderal L.B. Moerdani.

Dalam kasus Petrus terdapat tiga pedoman pokok mengenai pelanggaran HAM atau kejahatan
terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh Presiden Soeharto, yaitu :

Pertama, UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM pada Pasal 42 ayat (2) huruf a dan b
juncto Pasal 9 haruf a, menjabarkan beberapa unsur-unsur penting bahwa (1) Seorang atasan Polisi,
mampu bertanggung jawab secara pidana, yang mempunyai bawahan, mempunyai kekuasaan
untuk melakukan pengendalian efektif; (2) Tidak melakukan pengendalian terhadap bawahannya
secara patut dan benar; (3) Mengetahui atau secara sadar mengabaikan informasi yang jelas
menunjukan bahwa bawahan sedang melakukan atau baru saja melakukan pelanggaran HAM yang
berat; (4) Tidak mengambil tindakan yang layak dan diperlukan dalam ruang lingkup

7
kewenangannya, untuk mencegah atau menghentikan perbuatan tersebut atau menyerahkan
pelakunya kepada pejabat yang berwenang untuk dilakukan penyelidikan, penyidikan dan
penuntutan; (5) Kejahatan terthadap kemanusiaan dalam bentuk serangan yang meluas atau
sistemik, yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap
penduduk sipil dengan cara pembunuhan.

Kedua, Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana, bahwa “Barangsiapa dengan sengaja
dan dengan direncanakan terlebih dahulu merampas nyawa orang lain.” Sehingga unsur perbuatan
yang memenuhi rumusan delik dari pasal ini adalah perbuatan dengan sengaja, direncanakan
terlebih dahulu, merampas nyawa orang lain.

Ketiga, Ketentuan Pasal 42 ayat (2) huruf a dan b jis Pasal 7 huruf b, pasal 9 huruf e UU No. 26
Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM juga pasal 354 dan 355 KUHP tentang penganiayaan berat
dan perencanaan penganiayaan berat yang berakhir pada kematian. Hal ini didasarkan pada
keterangan saksi bahwa pada mayat korban yang ditemukan terdapat bekas jeratan di leher seperti
dijeran oleh plat besi, dan tindak penganiayaan lainnya. Substansi tuntutan yang ada pada kedua
pasal ini adalah tindakan kekerasan, penyiksaan keji, pembunuhan dan perampasan kemerdekan
terhadap korban.

Dengan demikian, uraian pasal-pasal ini bermuara pada satu definisi bahwa secara kontekstual
tindakan aparat kepolisian dalam kasus ini merupakan bentuk “kejahatan terhadap kemanusiaan”.
Definisi ini selaras dengan Pasal 9 huruf e bahwa adanya tindakan dengan sengaja perampasan
kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik secara sewenang-wenang.

8
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Penembakan misterius atau petrus merupakan sebuah kasus yang terjadi pada zaman orde
baru atau era Soeharto berkuasa. Kasus ini digolongkan sebagai kasus pelanggaran Hak Asasi
Manusia, karena mengadili seseorang tanpa melalui proses hukum dengan cara dibunuh. Akibat
kasus ini, ketakutan para preman pada zaman itu sangat besar, karena mereka menjadi “sasaran
tembak” pelaku petrus. Sistem dari penembakan misterius adalah menghakimi siapa saja yang
dinilai sebagai pelaku kriminal atau kejahatan, seperti preman, perampok, , anak jalanan, dan
sejenisnya. Awalnya, program ini dijalankan sebagai Operasi Clurit yang diimplementasikan oleh
Polda Metro Jaya, Jakarta untuk mereduksi angka kriminalitas yang dinilai berada di ambang
kritis. Namun karena hasilnya cukup efektif, maka operasi ini diadopsi oleh daerah-daerah lain
seperti Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Penyebab utama dari peristiwa ini adalah terlalu kuatnya rezim pemerintahan Soeharto,
sehingga segala macam cara dilakukan untuk mencapai tujuan pribadinya. Kasus ini juga
mencerminkan sikap pemerintah yang represif. Orang-orang yang menjadi buruan petrus adalah
oknum yang melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Soeharto. Ironisnya, salah satu saksi
hidup menyebutkan bahwa oknum tersebut dulunya pernah dimanfaatkan Soeharto selama
kampanye pemilu tahun 1982. Banyak yang mengindikasikan kasus ini dilakukan oleh aparat
keamanan. Banyak yang berpendapat bahwa Soeharto melakukan strategi ini untuk meneror siapa
saja yang menentang kekuasaannya. Di samping itu, peran lembaga yudikatif seolah berada di
bawah kontrol penguasa, sehingga kasus ini belum tuntas sampai sekarang.

B. REKOMENDASI

1. Bagi aparat keamanan penulis sarankan untuk menerapkan hukum secara tegas dan sesuai
dengan hukum yang berlaku, tanpa adanya intervensi dari pihak lain.
2. Bagi Komnas HAM penulis sarankan untuk segera membentuk tim khusus pencari fakta
sejarah serta segera pula mengembangkan jaringan komuniskasi. Hal ini berdasarkan pada
pengalaman penulis sendiri dalam penulisan analisis kasus mengenai kasus petrus. Penulis
cukup kesulitan dalam mencari sumber sejarah yang akurat. Langkah ini dimaksudkan agar
para penerus bangsa mengetahui detail peristiwa yang sebenarnya terjadi dan kelak kasus
seperti petrus tidak terulang kembali dalam sejarah bangsa Indonesia.

9
DAFTAR PUSTAKA

Wikipedia. (2013) Penembakan Misterius. Tersedia


: http://id.wikipedia.org/wiki/Penembakan_misterius[2 April 2015]

Litabm. (2008) Kidung Gugat Sasaran Tembak. [Online] Tersedia


: https://litabm.wordpress.com/ [2 April 2015]

D’Jeantackque, Ollenk (2013) Tentang Pengadilan HAM Abepura. [Online] Tersedia


: http://hukum.kompasiana.com/2013/08/07/tentang-pengadilan-ham-abepura–582205.html
[2 April 2015]

Hamzah, Andi. (2007) KUHP & KUHAP. Jakarta : Rineka Cipta.

Janan, Malik.(2011) Pengertian dan Pelanggaran HAM Berat. [Online] Tersedia : http://malik-
janan.blogspot.com/2011/05/pengertian-dan-jenis-pelanggaran-ham.html [2 April 2015]

Mohammad, Achor. (2011) Penembakan Misterius : Bukti Sikap Represif Rezim Soeharto.
[Online] Tersedia : http://sejarah.kompasiana.com/2011/12/02/penembakan-misterius-bukti-
sikap-represif-rezim-soeharto-418312.html [2 April 2015]

10