Anda di halaman 1dari 22

FARMAKOTERAPI TERAPAN

“INFEKSI SALURAN PERNAPASAN BAWAH”

KELOMPOK VII

INDAR DEWI (O1B1 19 018)

LA ODE NOVIAL ASHAR (O1B1 19 022)

PUTRI CANDRA SARI (O1B1 19 027)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami masih diberikan kesehatan

dan kekuataan untuk dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Infeksi

Saluran Pernapasan Bawah” ini dapat terselesaikan dalam waktu yang telah

ditentukan.

Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari mata

kuliah “Farmakoterapi Terapan”. Dengan adanya makalah ini kami berharap dapat

membantu meningkatkan pengetahuan kita tentang Penyakit Infeksi Saluran

Pernapasan Bawah serta dapat memahami dan menyelesaikan permasalahan

terkait penyakit yang dimaksud dalam rangka meningkatkan kualitas hidup

dibidang kesehatan serta meningkatkan mutu individu itu sendiri.

Kami sangat menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh

dari kesempurnaan, sehingga saran dan kritik yang membangun dari dosen

pengajar maupun berbagai pihak sangat kami harapkan dalam rangka perbaikan

makalah ini ke depannya.

Kendari, September 2019

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Infeksi pada saluran napas merupakan penyakit yang umum terjadi pada

masyarakat. Infeksi saluran napas berdasarkan wilayah infeksinya terbagi menjadi

infeksi saluran napas atas dan infeksi saluran napas bawah. Umumnya, penyebab

dari infeksi saluran napas adalah berbagai mikroorganisme, namun yang

terbanyak yakni oleh karena infeksi virus dan bakteri (Amelinda, 2014).

Penyakit ISPA merupakan salah satu penyakit pernafasan terberat dan

terbanyak menimbulkan akibat dan kematian (Gouzali, 2011). ISPA merupakan

salah satu penyakit pernafasan terberat dimana penderita yang terkena serangan

infeksi ini sangat menderita, apa lagi bila udara lembab, dingin atau cuaca terlalu

panas. (Saydam, 2011). B

Secara umum penyebab dari infeksisa luran napas adalah berbagai

mikroorganisme, namun yang terbanyak akibat infeksi virus dan bakteri. Infeksi

saluran nafas dapat terjadi sepanjang tahun, meskipun beberapa infeksi lebih

mudahterjadi pada musim hujan. Faktor–faktor yang mempengaruhi penyebaran

infeksi saluran nafas antara lain faktor lingkungan, perilaku masyarakat yang kur

ang baik terhadap kesehatan diri maupun publik, sertarendahnya gizi. Faktor

lingkungan meliputibelum terpenuhinya sanitasi dasar seperti air bersih, jamban,

pengelolaan sampah, limbah, pemukiman sehat hingga pencemaran air dan udara.

(Depkes RI., 2001).


B. Rumusan Masalah

1. Apa itu Infeksi Saluran Pernapasan bawah

2. Apa penyebab Infeksi Saluran Pernapasan Bawah

3. Bagaimana penatalaksanaan terapi Infeksi Saluran Pernapasan Bawah?

C. Tujuan

Untuk mengetahui tanda, gejala, penyebab dan penatalaksanaan Infeksi

Saluran Pernapasan Bawah.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Defensi

ISPA didefinisikan sebagai penyakit saluran pernapasan akut yang

disebabkan oleh agen infeksius yang ditularkan dari manusia ke manusia.

Timbulnya gejala biasanya cepat, yaitu dalam waktu beberapa jam sampai

beberapa hari. Gejalanya meliputi demam, batuk, dan sering juga nyeri tenggorok,

coryza (pilek), sesak napas, mengi, atau kesulitan bernapas. Contoh patogen yang

menyebabkan ISPA yang dimasukkan dalam pedoman ini adalah rhinovirus,

respiratory syncytial virus, paraininfluenzaenza virus, severe acute respiratory

syndrome-associated coronavirus (SARS-CoV), dan virus Influenza.

ISPA adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular

di dunia. Hampir empat juta orang meninggal akibat ISPA setiap tahun, 98%-nya

disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan bawah.

Infeksi saluran napas bawah meliputi infeksi pada bronchus, alveoli seperti

bronchitis, bronkhiolitis,pneumonia (Ratna, 2008).

B. Infeksi Saluran Pernapasan Bawah

1. BRONKITIS

Bronkitis adalah salah satu kondisi teratas yang pasien mencari perawatan

medis. Hal ini ditandai dengan peradangan Berdasarkansaluran bronkial (atau

bronkus), saluran udara yang membentang dari trakea ke dalam saluran udara

kecil dan alveoli. Bronkitis ada 2 macam menurut terminologi lamanya penyakit
berdiam didalam tubuh penderita yaitu bronkitis akut dan bronkitis kronik (Togap,

2015).

Bronkitis akut merupakan peradangan akut membran mukosa bronkus

yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme. Penyakit ini sering melibatkan

trakea sehingga lebih tepat jika disebut trakeobronkitis akut. Sedangkan, Bronkitis

kronis didefinisikan sebagai adanya sekresi mukus yang berlebihan pada saluran

pernapasan (bronchial tree) secara terus-menerus (kronik) dengan disertai batuk.

Pengertian terus-menerus (kronik) adalah terjadi sepanjang hari selama tidak

kurang dari tiga bulan dalam setahun dan telah berlangsung selama dua tahun

berturut-turut (Djojodibroto, 2009).

a. Tanda, Diagnosis & Penyebab

Bronkhitis memiliki manifestasi klinik sebagai berikut :

•Batuk yang menetap yang bertambah parah pada malam hari serta biasanya

disertai sputum. Rhinorrhea sering pula menyertai batuk dan ini biasanya

disebabkan oleh rhinovirus.

• Sesak napas bila harus melakukan gerakan eksersi (naik tangga, mengangkat

beban berat)

•Lemah, lelah, lesu

• Nyeri telan (faringitis)

• Laringitis, biasanya bila penyebab adalah chlamydia

• Nyeri kepala

• Demam pada suhu tubuh yang rendah yang dapat disebabkan oleh virus

influenza, adenovirus ataupun infeksi bakteri.


• Adanya ronchii

• Skin rash dijumpai pada sekitar 25% kasus.

Diagnosis bronkhitis dilakukan dengan cara: Tes C- reactive protein

(CRP) dengan sensitifitas sebesar 80-100%, namun hanya menunjukkan 60-70%

spesifisitas dalam mengidentifikasi infeksi bakteri. Metode diagnosis lainnya

adalah pemeriksaan sel darah putih, dimana dijumpai peningkatan pada sekitar

25% kasus. Pulse oksimetri, gas darah arteri dan tes fungsi paru digunakan untuk

mengevaluasi saturasi oksigen di udara kamar. Pewarnaan Gram pada sputum

tidak efektif dalam menentukan etiologi maupun respon terhadap terapi

antibiotika.

Bronkitis akut biasanya mengikuti gejala-gejala infeksi saluran respiratori

seperti rinitis dan faringitis. Batuk biasanya muncul 3–4 hari setelah rinitis. Batuk

pada mulanya keras dan kering, kemudian seringkali berkembang menjadi batuk

lepas yang ringan dan produktif. Bronkitis kronik adalah kelainan saluran napas

yang ditandai oleh batuk kronik berdahak minimal 3 bulan dalam setahun,

sekurang-kurangnya dua tahun berturutturut,tidak disebabkan oleh penyakit

lainnya sedangkan emfisema adalah suatu kelainan anatomis paru yang ditandai

oleh pelebaran rongga udara distal bronchiolus terminalis, disertai kerusakan

dinding alveoli (Dwi, 2017).

Penyebab bronkhitis akut umumnya virus seperti rhinovirus, influenza A

dan B, coronavirus, parainfluenza, dan respiratory synctial virus (RSV).Ada pula

bakteri atypical yang menjadi penyebab bronkhitis yaitu Chlamydia pneumoniae

ataupun Mycoplasma pneumoniae yang sering dijumpai pada anak-anak, remaja


dan dewasa. Bakteri atypical sulit terdiagnosis, tetapi mungkin menginvasi pada

sindroma yang lama yaitu lebih dari 10 hari. Penyebab bronkhitis kronik berkaitan

dengan penyakit paru obstruktif, merokok, paparan terhadap debu,polusi udara,

infeksi bakteri.

b. Faktor Risiko

Penularan bronkhitis melalui droplet. Faktor risiko terjadinya bronkhitis

adalah sebagai berikut:

• Merokok

• Infeksi sinus dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan atas dan

menimbulkan batuk kronik

• Bronkhiektasi

• Anomali saluran pernapasan

• Foreign bodies

• Aspirasi berulang.

c. Terapi

1. Outcome terapi

Tanpa adanya komplikasi yang berupa superinfeksi bakteri, bronkhitis

akut akan sembuh dengan sendirinya, sehingga tujuan penatalaksanaan hanya

memberikan kenyamanan pasien, terapi dehidrasi dan gangguan paru yang

ditimbulkannya. Namun pada bronkhitis kronik ada dua tujuan terapi yaitu:

pertama, mengurangi keganasan gejala kemudian yang kedua menghilangkan

eksaserbasi dan untuk mencapai interval bebas infeksi yang panjang.


2. Terapi Pokok

Terapi antibiotika pada bronkhitis akut tidak dianjurkan kecuali bila

disertai demam dan batuk yang menetap lebih dari 6 hari, karena dicurigai adanya

keterlibatan bakteri saluran napas seperti S. pneumoniae, H. Influenzae. Untuk

batuk yang menetap > 10 hari diduga adanya keterlibatan Mycobacterium

pneumoniae sehingga penggunaan antibiotika disarankan. Untuk anak dengan

batuk > 4 minggu harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut terhadap

kemungkinan TBC, pertusis atau sinusitis.

Tabel 1. Terapi Awal Pada Bronkhitis

Antibiotika yang dapat digunakan lihat tabel 5.1, dengan lama terapi 5-14

hari sedangkan pada bronkhitis kronik optimalnya selama 14 hariPemberian

antiviral amantadine dapat berdampak memperpendek lama sakit bila diberikan

dalam 48 jam setelah terinfeksi virus influenza A.

d. Terapi Pendukung
•Stop rokok, karena rokok dapat menggagalkan mekanisme pertahanan tubuh

• Bronkhodilasi menggunakan salbutamol, albuterol.

• Analgesik atau antipiretik menggunakan parasetamol, NSAID.

•Antitusiv, codein atau dextrometorfan untuk menekan batuk.

• Vaporizer.

2. PNEUMONIA

Penyakit pneumonia merupakan salah satu penyakit yang dianggap serius

di Indonesia. Sebab, dari tahun ke tahun penyakit pneumonia selalu berada di

peringkat atas dalam daftar penyakit penyebab kematian bayi dan balita. Bahkan

berdasarkan hasil Riskesdas 2007, pneumonia menduduki peringkat kedua pada

proporsi penyebab kematian anak umur 1-4 tahun dan berada di bawah penyakit

diare yang menempati peringkat pertama. Oleh karena itu terlihat bahwa penyakit

pneumonia menjadi masalah kesehatan yang utama di Indonesia (Kemenkes RI,

2014).

Menurut Erlien (2008), pneumonia dapat diartikan sebagai infeksi akut

pada jaringan paru. Namun secara umum, pneumonia lebih dikenal sebagai radang

paru.

Pneumonia adalah peradangan paru yang menyebabkan nyeri saat

bernafas dan keterbatasan intake oksigen. Pneumonia dapat disebarkan dengan

berbagai cara antara lain pada saat batuk dan bersin (WHO, 2014).

Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari

bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli serta

menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan pertukaran gas setempat. Ditinjau dari
asal patogen, maka pneumonia dibagi menjadi tiga macam yang berbeda

penatalaksanaannya. Community acquired pneumonia (CAP) merupakan

pneumonia yang didapat di luar rumah sakit. Nosokomial pneumonia merupakan

pneumonia yang didapat selama pasien di rawat di rumah sakit. Pneumonia

aspirasi merupakan pneumonia yang diakibatkan aspirasi secret oropharyngeal

dan cairan lambung (Virgo, 2017).

a. Tanda, Diagnosis & Penyebab

Tanda serta gejala yang lazim dijumpai pada pneumonia adalah demam,

tachypnea, takikardia, batuk yang produktif, serta perubahan sputum baik dari

jumlah maupun karakteristiknya. Selain itu pasien akan merasa nyeri dada seperti

ditusuk pisau, inspirasi yang tertinggal pada pengamatan naik-turunnya dada

sebelah kanan pada saat bernafas. Mikroorganisme penyebab pneumonia meliputi:

bakteri, virus, mycoplasma, chlamydia dan jamur. Pneumonia oleh karena virus

banyak dijumpai pada pasien immunocompromised, bayi dan anak. Virus-virus

yang menginfeksi adalah virus saluran napas seperti RSV, Influenza type A,

parainfluenza, adenovirus.

Ditinjau dari asal patogen, maka pneumonia dibagi menjadi tiga macam

yang berbeda penatalaksanaannya.

1. Community acquired pneumonia (CAP) Merupakan pneumonia yang didapat

di luar rumah sakit atau panti jompo. Patogen umum yang biasa menginfeksi

adalah Streptococcus pneumonia, H. influenzae, bakteri atypical, virus

influenza, respiratory syncytial virus (RSV). Pada anak-anak patogen yang

biasa dijumpai sedikit berbeda yaitu adanya keterlibatan


Mycoplasmapneumoniae, Chlamydia pneumoniae, di samping bakteri pada

pasien dewasa.

2. Nosokomial Pneumonia Merupakan pneumonia yang didapat selama pasien di

rawat di rumah sakit. Patogen yang umum terlibat adalah bakteri nosokomial

yang resisten terhadap antibiotika yang beredar di rumah sakit. Biasanya

adalah bakteri enterik golongan gram negatif batang seperti E.coli, Klebsiella

sp, Proteus sp. Pada pasien yang sudah lebih dulu mendapat terapi cefalosporin

generasi ke-tiga, biasanya dijumpai bakteri enterik yang lebih bandel seperti

Citrobacter sp., Serratia sp., Enterobacter sp., Pseudomonas aeruginosa

merupakan pathogen yang kurang umum dijumpai, namun sering dijumpai

pada pneumonia yang fulminan. Staphylococcus aureus khususnya yang

resisten terhadap methicilin seringkali dijumpai pada pasien yang dirawat di

ICU.

3. Pneumonia Aspirasi Merupakan pneumonia yang diakibatkan aspirasi sekret

oropharyngeal dan cairan lambung. Pneumonia jenis ini biasa didapat pada

pasien dengan status mental terdepresi, maupun pasien dengan gangguan

refleks menelan. Patogen yang menginfeksi pada Community Acquired

Aspiration Pneumoniae adalah kombinasi dari flora mulut dan flora saluran

napas atas, yakni meliputi Streptococci anaerob. Sedangkan pada Nosocomial

Aspiration Pneumoniae bakteri yang lazim dijumpai campuran antara Gram

negatif batang + S. aureus+ anaerob.

Pneumonia didiagnosis berdasarkan tanda klinik dan gejala, hasil

pemeriksaan laboratorium dan mikrobiologis, evaluasi foto x-ray dada. Gambaran


adanya infiltrate dari foto x-ray merupakan standar yang memastikan diagnosis.

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya leukositosis dengan “shift

to the left”. Sedangkan evaluasi mikrobiologis dilaksanakan dengan memeriksa

kultur sputum (hati-hati menginterpretasikan hasil kultur, karena ada

kemungkinan terkontaminasi dengan koloni saluran pernapasan bagian atas).

Pemeriksaan mikrobiologis lainnya yang lazim dipakai adalah kultur darah,

khususnya pada pasien dengan pneumonia yang fulminan, serta pemeriksaan Gas

Darah Arteri (Blood Gas Arterial) yang akan menentukan keparahan dari

pneumonia dan apakah perlu-tidaknya dirawat di ICU.

b. Faktor Risiko

•Usia tua atau anak-anak

• Merokok

• Adanya penyakit paru yang menyertai

•Infeksi Saluran Pernapasan yang disebabkan oleh virus

• Splenektomi (Pneumococcal Pneumonia)

• Obstruksi Bronkhial

• Immunocompromise atau mendapat obat Immunosupressive seperti -

kortikosteroid

• Perubahan kesadaran (predisposisi untuk pneumonia aspirasi)

c. Terapi

1. Outcome Terapi Eradikasi mikroorganisme penyebab pneumonia,

penyembuhan klinis yang paripurna.


2. Terapi Pokok

Penatalaksanaan pneumonia yang disebabkan oleh bakteri sama seperti

infeksi pada umumnya yaitu dengan pemberian antibiotika yang dimulai

secara empiris dengan antibiotika spektrum luas sambil menunggu hasil

kultur. Setelah bakteri pathogen diketahui, antibiotika diubah menjadi

antibiotika yang berspektrum sempit sesuai patogen.

Community-Acquired Pneumonia (CAP) Terapi CAP dapat dilaksanakan

secara rawat jalan. Namun pada kasus yang berat pasien dirawat di rumah sakit

dan mendapat antibiotika parenteral. Pilihan antibiotika yang disarankan pada

pasien dewasa adalah golongan makrolida atau doksisiklin atau fluoroquinolon

terbaru.1,19 Namun untuk dewasa muda yang berusia antara 17-40 tahun pilihan

doksisiklin lebih dianjurkan karena mencakup mikroorganisme atypical yang

mungkin menginfeksi. Untuk bakteri Streptococcus pneumoniae yang resisten

terhadap penicillin direkomendasikan untuk terapi beralih ke derivat

fluoroquinolon terbaru. Sedangkan untuk CAP yang disebabkan oleh aspirasi

cairan lambung pilihan jatuh pada amoksisilin-klavulanat. Golongan makrolida

yang dapat dipilih mulai dari eritromisin, claritromisin serta azitromisin.

Eritromisin merupakan agen yang paling ekonomis, namun harus diberikan 4 kali

sehari. Azitromisin ditoleransi dengan baik, efektif dan hanya diminum satu kali

sehari selama 5 hari, memberikan keuntungan bagi pasien. Sedangkan

klaritromisin merupakan alternatif lain bila pasien tidak dapat menggunakan

eritromisin, namun harus diberikan dua kali sehari selama 10-14.


Tabel 2. Antibiotika pada terapi Pneumonia

Ket :
*) Aminoglikosida atau Ciprofloksasin dikombinasi dengan salah satu
antibiotika yang terletak di bawahnya dalam kolom yang sama
**) Pneumonia berat bila disertai gagal napas, penggunaan ventilasi,
sepsis berat, gagal ginjal
Untuk terapi yang gagal dan tidak disebabkan oleh masalah kepatuhan

pasien, maka disarankan untuk memilih antibiotika dengan spektrum yang lebih

luas. Kegagalan terapi dimungkinkan oleh bakteri yang resisten khususnya

terhadap derivat penicillin, atau gagal mengidentifikasi bakteri penyebab

pneumonia. Sebagai contoh, pneumonia atypical melibatkan Mycoplasma

pneumoniae yang tidak dapat dicakup oleh penicillin. Beberapa pneumonia masih

menunjukkan demam dan konsistensi gambaran x-ray dada karena telah

terkomplikasi oleh adanya efusi pleura, empyema ataupun abses paru yang

kesemuanya memerlukan penanganan infasif yaitu dengan aspirasi. Pneumonia

Nosokomial Pemilihan antibiotika untuk pneumonia nosokomial memerlukan

kejelian, karena sangat dipengaruhi pola resistensi antibiotika baik in vitromaupun

in vivo di rumah sakit. Sehingga antibiotika yang dapat digunakan tidak heran bila

berbeda antara satu rumah sakit dengan rumah sakit lain. Namun secara umum

antibiotika yang dapat dipilih sesuai tabel.

d. Terapi Pendukung

Terapi pendukung pada pneumonia meliputi :

• Pemberian oksigen yang dilembabkan pada pasien yang menunjukkan tanda

sesak, hipoksemia.

• Bronkhodilator pada pasien dengan tanda bronkhospasme

• Fisioterapi dada untuk membantu pengeluaran sputum

• Nutrisi

• Hidrasi yang cukup, bila perlu secara parenteral

• Pemberian antipiretik pada pasien dengan demam


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah :

1. ISPA didefinisikan sebagai penyakit saluran pernapasan akut yang

disebabkan oleh agen infeksius yang ditularkan dari manusia ke manusia.

Timbulnya gejala biasanya cepat, yaitu dalam waktu beberapa jam sampai

beberapa hari. Gejalanya meliputi demam, batuk, dan sering juga nyeri

tenggorok, coryza (pilek), sesak napas, mengi, atau kesulitan bernapas.

2. Secara umum penyebab dari infeksisa luran napas adalah berbagai

mikroorganisme, namun yang terbanyak akibat infeksi virus dan bakteri.

Infeksi saluran nafas dapat terjadi sepanjang tahun, meskipun beberapa

infeksi lebih mudahterjadi pada musim hujan.

3. Penatalaksanaan ISPB dilakukan dengan terapi farmakologi dan terapi non

farmakologi serta edukasi yang tepat bagi pasien.


Kasus

M.R. adalah seorang pria berusia 33 tahun mengalami demam, kedinginan,


dan nyeri dada. Gejala-gejalanya bertahan selama 3 hari, dan ia menderita
batuk produktif dahak berwarna gelap dan dispnea dengan aktivitas. Dia
tidak memiliki penyakit baru-baru ini dan tidak ada kontak sakit yang
diketahui, tetapi dia baru-baru ini dibebaskan dari masa penahanan 2
tahun. Tanda-tanda vital menunjukkan suhu 40.1◦C, detak jantung 128
detak / menit, tekanan darah 130/76 mm Hg, dan kecepatan pernapasan 32
napas / menit, hasil laboratorium berikut:
Jumlah WBC, 15.500 sel / μL
BUN, 23 mg / dL
SCr, 0,8 mg / dL
Tes untuk human immunodeficiency virus adalah negatif. Radiografi
thoraks memperlihatkan infiltrat lobus kanan bawah.

1. Identifikasi permasalahan pasien


Nama : Tn. MR
Usia : 33 tahun
Keluhan pasien : Demam, kedinginan, nyeri dada, batuk berdahak.
Tanda dan Gejala Pneumonia
Tanda dan gejalah adalah sebagai berikut :
 Batuk berdahak
 Dada nyeri
 Takikardia
 Takipnea
 Demam
 Jumlah WBC yang abnormal
Data laboratorium
Jumlah WBC, 15.500 sel / μL, Hematokrit, 29,3%, , BUN, 23 mg / dL,
SCr, 0,8 mg / dL,
Tanda-tanda Vital
menunjukkan suhu 40.1◦C, detak jantung 128 detak / menit, tekanan darah
130/76 mm Hg, dan kecepatan pernapasan 32 napas / menit.
Tujuan terapi
 Untuk menghilangkan gejalah pasien
 Memenimalkan atau mencegah kompliksi
 Menurunkan resika kematian
2. Tata Laksana Terapi
a. Non Farmakologi
 Penerapan fisioterapi dada
 Perbaikan nutrisi bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh
dan memperbaiki fungsi sistem imun agar tubuh mampu
mengeradikasi infektor penyebab patologi tersebut.
b. Farmakologi
1. Ceftriaxone
Indikasi : Infeksi yang disebabkan oleh patogen yang sensitif
terhadap ceftriaxone dalam kondisi sepsis, meningitis,
infeksi abdomen peritonitis, infeksi kandung empedu,
dan saluran pencernaan, infeksi tulang, persendian
dan jaringan lunak, pencegahan infeksi prabedah,
infeksi ginjal dan saluran kemih, infeksi saluran
pernapasan, terutam pneumonia, infeksi THT, infeksi
kelamin (termasuk gonorea).
Dosis : Dosis umum dewasa dan anak-anak > 12 tahun 1-2
gram/hari. Pada infeksi berat dosis dapat ditingkatkan
hingga 4 gram/hari. Cefriaxone dapat diberikan secara
injeksi I.V dan I.M
Kontra Indikasi: Hipersensitif terhadap sepalosporin
Perhatian :
 Pada penderita yang hipersensitif terhadap penicillin
kemungkinan dapat terjadi reaksi alergi silang.
 Hati-hati penggunaan pada wanita hamil dan menyusui.
 Hati pemberian pada penderita yang pernah mengalami syok
anafilaktik.
 Sebaiknya jangan diberikan pada neonatus karena dapat
menimbulkan resiko terbentuknya bilirubin ensefalopati.
Efek samping: Reaksi hematologi, gangguan saluran cerna (mual,
muntah, tinjah lunak, stomatitis, glositis), reaksi
kulit. Efek samping lain sakit kepala, pusing,
demam, gejalah pengendapan garam kalsium
ceftriaxone pada kandung empedu meningkatkan
enzim hati, dapat menimbulkan reaksi flebitis
setelah pemberian i.v sehingga harus disuntikan
perlahan selama 2-4 menit.
2. Azitromizin
Indikasi : Infeksi-infeksi yang disebabkan oleh organisme yang
peka, infeksi saluran naapas atas (tonsilitis, pharingitis),
infeksi saluran napas bawah (bronchitis, pneumonia),
infeksi kulit dan jaringan lunak, penyakit menular
seksual, urethritis, servistis yang berkaitan dengan
chlamydia trachmatis, ureaplasma urealyticum dan
neisseria gonorrhoe.
Dosis : untuk infeksi ringan – sedang, community Acquired
Pneumonia : Dewasa 1 x 500 mg/hari selama 3 hari
Kontra Indikasi: Hipersensitif terhadap azitromycin atau antibiotik
makrolida lain.
Perhatian : Hati-hati penggunaan pada gangguan ginjal atau hati
sedang-beat. Hamil laktasi. Anak <18 tahun.
Efek samping: Mual rasa tidak enak pada perut, muntah kembung,
diare, gangguan pendengaran, nefritis intestinal,
gagal ginjal akut, fungsi hati abnormal,
pusing/vertigo, kebingungan mental sakit kepala
somnolen.
3. Paracetamol
Indikasi : nyeri ringan samapai sedang, demam
Dosis : Dewasa 500 mg – 1000 mg per kali, diberikan tiap 4-6 jam,
maksimal 4 g perhari.
Kontra Indikasi: Hipersensitif dan gangguan hati.
Perhatian : Gangguan fungsi hati, ginjal, ketergantungan alkohol.
Efek samping: reaksi alergi, ruam kulit berupa eritema atau
urikaria, kelainan darah, hipotensi, keruskan hati.
4. Acetylcysteine
Indikasi : Terapi hepersekresi mukus kental dan tebal pada saluran
pernapasan.
Dosis : Dewasa 3 kalia sehari 1 kapsul
Kontra Indikasi: Hipersensitif terhadap acytylcysteine
Perhatian : Hati-hati pada pasien yang sulit mengelurkan
sekret,penderita asma bronkial, berbahaya untuk pasien
asma brokial akut.
Efek samping: pada penggunaan sistemik menimbulkan reaksi
hipersensitivitas seperti urtikaria dan bronkospasme (jarang
terjadi). Psoriasis mual muntah, diare, stomatitis, pusing, tinits.
c. Evaluasi terapi
Pedoman IDSA/ATS merekomenasikan perawatan selama
minimal 5 hari dan pasien harus afebrile selama 48 jam hingga 72 jam
sebelum terapi di hentikan. Pasien tidak harus menghentikan terapi jika
suhu tubuh lebih dari 37,8o C, detak jantung lebih besar dari 100
deyut/menit, laju pernapasan 24 napas/menit, tekanan darah sistol
kurang dari 90 mmHg.
d. KIE
 Pemberian antibiotik harus secara rutin dan teratur.
 Pemberian paracetamol dapat dihentikan jika pasien sudah tidak
demam dan acetylsteine dapat dihentikan jika pasien tidak batuk.
DAFTAR PUSTAKA

Dian Eka Puspitasari, Fariani Syahrul. 2015. Faktor Risiko Pneumonia Pada
Balita Berdasarkan Status Imunisasi Campak Dan Status Asi
Eksklusif. Jurnal Berkala Epidemiologi, Vol. 3, No. 1.
Kemenkes RI/ Pneumonia Balita, Buletin Jendela Epidemiologi, September. http://www.
depkes.go.id/downloads/publikasi/buletin/BULETIN%20PNEUMONIA.p
df (sitasi 30 Agustus 2014).

WHO. 2009.Guidelines on Hand Hygiene in Health Care. Library Cataloguing-


in-Publication Data.