Anda di halaman 1dari 5

TUGAS : Praktikum Akuntansi dan Lembaga Pemerintahan 

Perpajakan 

NOMOR POKOK WAJIB PAJAK (NPWP)  

Amanda Zulaika 
18.09.2019 
XI Akuntansi dan Keuangan Lembaga 
 
 
 

 
 

A. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) 

Pengertian NPWP : 

NPWP adalah nomor identitas wajib pajak sebagai sarana administrasi perpajakan 
yang dipergunakan sebagai tanda pengenal wajib pajak dalam melaksanakan hak dan 
kewajiban perpajakannya.  
NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) adalah nomor yang diberikan kepada Wajib 
Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda 
pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban 
perpajakannya. 

Fungsi NPWP adalah : 


1. Sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang digunakan sebagai tanda 
pengenal diri atau identitas wajib pajak sehingga kepada setiap wajib pajak 
hanya diberikan satu nomor wajib pajak. 
 
2. Untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam pengawasan 
administrasi perpajakan. 
 
3. Untuk keperluan yang berhubungan dengan dokumen perpajakan sehingga 
semua yang berhubungan dengan dokumen perpajakan harus mencantumkan 
NPWP. 
 
4. Untuk memenuhi kewajiban-kewajiban perpajakan, misalnya dalam Surat 
Setoran Pajak. 
 
5. Untuk mendapatkan pelayanan dari instansi-instansi tertentu yang mewajibkan 
mencantumkan NPWP dalam dokumen-dokumen yang diwajibkan, misalnya, 
dokumen impor (PIB) dan dokumen ekspor (PEB), pinjaman kredit bank dan 
lain-lain. 
 
6. Untuk keperluan pelaporan SPT masa dan tahunan. 
 

Pengertian Wajib Pajak : 


Wajib Pajak adalah sekumpulan orang atau badan yang menurut ketentuan 
peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban 
perpajakan termasuk pemungut pajak dan pemotong pajak tertentu (Pasal 1 butir 1 UU 
KUP). 
Yang wajib mempunyai NPWP adalah wajib pajak (penghasilan). Jadi, orang atau badan 
yang bertempat tinggal di Indonesia, yang menerima atau memperoleh penghasilan bagi 

 
 

perorangan yang jumlahnya setahun melampaui batas pajak, yaitu yang mempunyai 
penghasilan melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) wajib mempunyai NPWP 
walaupun kepadanya belum atau tidak dikenakan pajak atau belum atau tidak diberikan 
Surat Ketetapan Pajak (SKP). 
Kewajiban dari wajib pajak yang utama adalah membayar pajak sendiri dan memungut 
atau memotong pajak orang lain dan kemudian menyetorkannya kepada negara melalui 
bank atau kantor pos. 
 

Wajib pajak dikelompokkan menjadi : 


1. Wajib pajak orang pribadi. 
 
2. Wajib pajak badan. 
 
3. Wajib pajak pemungut/ pemotong. 
 

Landasan hukum pemberian NPWP ini berdasarkan : 


➢ Pasal 2 UU KUP. 
 
➢ SK Dirjen Pajak No. Kep. 515/PJ/2000. 
 
➢ SK Dirjen Pajak No. Kep. 161/PJ/2001. 
 
➢ SK Dirjen Pajak No. Kep. 338/PJ/2001. 
 

Yang wajib mendaftarkan diri dan melaporkan usaha : 

➢ Wajib pajak orang pribadi yang menjalankan atau pekerjaan bebas dan 
penghasilan netonya di atas PTKP. 
 
➢ Wajib pajak orang pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas 
apabila sampai dengan satu bulan memperoleh penghasilan yang jumlahnya teah 
melebihi PTKP setahun. 
 
➢ Wajib pajak orang pribadi melakukan kegiatan usaha di beberapa tempat wajib 
mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat-tempat 
kegiatan wajib pajak. 
 
➢ Kewajiban mendaftarkan diri berlaku pula “wanita kawin” yang dikenakan pajak 
secara terpisah karena : 

 
 

a. Hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim. 


b. Dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan 
dan harta. 
 
➢ Wajib pajak badan didirikan seperti PT, CV, Firma, Kongsi, Yayasan, 
Perkumpulan, Lembaga, Koperasi, BUMN, Ormas, Orospol wajib melaporkan 
usahanya adalah setiap pengusaha yang dikenakan pajak pertambahan nilai yang 

a. Menyerahkan barang kena pajak omzetnya diatas 360 juta. 
b. Menyerahkan jasa kena pajak omzetna di atas 180 juta. 
Pengusaha ini wajib melaporkan untuk dikukuhkan sebagai PKP dan kepadanya 
diberikan Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (NPPKP). 

Penghapusan NPWP : 

Dalam Kep. 27/PJ/1995, hal-hal yang menyebabkan NPWP dihapus adalah : 

1. Wajib pajak orang pribadi meninggal dunia dan tidak meninggalkan warisan. 
 
2. Wanita kawin tidak dengan perjanjian pemisahan harta/ penghasilan. 
 
3. Warisan yang belum terbagi dalam kedudukan sebagai subjek pajak selesai 
dibagi. 
 
4. Wajib pajak badan yang dibubarkan secara resmi berdasarkan ketentuan 
peraturan perundang-undangan yang berlaku. 
 
5. Bentuk usaha tetap yang karena sesuatu hal kehilangan statusnya sebagai BUT. 
 
6. Wajib pajak orang pribadi yang memenuhi syarat lagi untuk digolongkan wajib 
pajak. 

Untuk pengukuhan PKP dihapus dalam hal : 

● PKP pindah alamat ke KPP (Kantor Pelayanan Pajak) lain. 


 
● Dibubarkan. 
 
● Tidak memenuhi syarat lagi sebagai PKP. 

 
 

 
Sanksi Yang Diberikan : 
Setiap orang yang dengan sengaja tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor 
Pokok Wajib Pajak, atau menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak NPWP 
sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dipidana dengan 
pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda 
paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan 
paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. 
Pidana tersebut ditambahkan 1 (satu) kali menjadi 2 (dua) kali sanksi pidana 
apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat 1 
(satu) tahun, terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan. 
Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana 
menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak dalam 
rangka mengajukan permohonan restitusi atau melakukan kompensasi pajak atau 
pengkreditan pajak, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan 
paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah restitusi yang 
dimohonkan dan/atau kompensasi atau perkreditan yang dilakukan dan paling banyak 4 
(empat) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau perkreditan 
yang dilakukan. 
Kewajiban mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dibatasi jangka waktunya, 
karena hal ini berkaitan dengan saat pajak terutang dan kewajiban mengenakan pajak 
terutang.  

Jangka waktu pendaftaran NPWP : 

1. Bagi WP orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dan Wajib 
Pajak badan, wajib mendaftarkan diri paling lambat 1 (satu) bulan setelah saat 
usaha mulai dijalankan. 
 
2. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan suatu usaha atau tidak 
melakukan perkerjaan bebas apabila jumlah penghasilannya sampai dengan 
suatu bulan yang disetahunkan telah melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak, 
wajib mendaftarkan diri paling lambat pada akhir bulan berikutnya.