Anda di halaman 1dari 22

Makalah

Penghantar Hukum Indonesia

Hukum Positif

Untuk Memenuhi salah satu tugas

Mata Kuliah Penghantar Hukum Indonesia


Dosem Pembimbing : Rommy Pratama

Disusun Oleh :
Agung Satrio Trisnawan

Fakultas Hukum Jurusan Ilmu Hukum


Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang
2017
Daftar Isi

Bab I........................................................................................
A. Latar Belakang...........................................................
B. Studi Kasus................................................................
Bab 2 ......................................................................................
A. Rumusan Masalah.....................................................
Bab 3.......................................................................................
A. Pembahasan..............................................................
Bab 4.......................................................................................
A. Kesimpulan................................................................
B. Saran..........................................................................

Daftar Pustaka.........................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

1.a Latar Belakang Masalah

Seringkali kita bersama menyaksikan fenomena-fenomena nyata yang


terjadi di masyarakat yang cukup mengganggu rasa keadilan kita sebagai insan
manusia. Yakni fenomena-fenomena dalam ruang pengembanan hukum baik mulai
dari pembentukan hingga penegakannya, namun yang ternyata justru dirasa
mencederai rasa keadilan kita bersama, rasa keadilan rakyat.

Dalam sektor pembentukan hukum, seringkali kita menemui suatu substansi


aturan hukum baik berupa undang-undang, peraturan pemerintah, perpres, hingga
perda yang tidak mencerminkan aspirasi rakyat, bahkan justru secara substantif
dirasa merugikan kepentingan rakyat. Demikian juga dalam sektor penegakan
hukum, sudah tak terhitung putusan pengadilan yang justru dinilai banyak kalangan
justru mencederai rasa keadilan masyarakat.

Dari gambaran di atas, ada hal yang perlu dikemukakan, bahwa secara legal
formal mungkin tidak ada yang salah dalam proses pembentukan maupun
penegakan hukum. Suatu undang-undang, apapun materi dan isinya, apakah
menggambarkan aspirasi rakyat atau tidak, selama itu dibentuk dan ditetapkan oleh
lembaga yang berwenang maka dapat dikatakan telah sah menjadi hukum positif.
Begitu pula dengan proses penegakan hukum, apapun isi putusan pengadilan
selama hakim dalam memutuskannya berkeyakinan telah mendasarkan diri pada
hukum positif yang ada maka dapat dikatakan telah sah secara hukum.

Permasalahannya, jika apa yang terjadi dalam gambaran-gambaran


pengembanan hukum sebagaimana di atas dapat dikatakan telah legal atau sah
secara hukumnya, maka pertanyaannya mengapa segala proses pengembanan
hukum baik dari pembentukan maupun penegakannya yang telah dapat dikatakan
sah dan legal secara hukum tersebut masih belum dapat memenuhi rasa keadilan
masyarakat? Mengapa Hukum Indonesia masih belum memenuhi tuntutan rasio,
hati nurani, perasaan, dan rasa keadilan kita bersama sebagai masyarakat? Mengapa
hukum menjadi tidak linier dengan tuntutan keadilan? Dimanakah letak
kesalahannya, tuntutan masyarakat atau hukumnya itu sendiri?

Adanya pertanyaan-pertanyaan substantif terhadap realitas Hukum


Indonesia, yang jelas menunjukkan adanya perbedaan atau gap antara apa yang kita
bersama sebagai masyarakat tuntutkan atau harapkan dalam substansi Hukum
Indonesia dengan fakta substantif obyektif dalam realitas Hukum Indonesia itu
sendiri. Jika lebih dikongkritisasi, telah terjadi suatu legal gap atau perbedaan
kesadaran tentang hukum antara apa yang ada dalam ide atau benak kesadaran
masyarakat dengan apa yang dituangkan dalam substansi hukum positif yang ada.
Studi Kasus

1.b Pendahuluan Kasus


Pelaku : dr. Andri Armando (1) dan Heny Sumiati (2)
Korban : Bayi dalam kandungan pelaku (2)
Perbuatan : Pelaku (2) mendatangi pelaku (1) agar supaya dilakukan operasi aborsi
untuk menggugurkan janin dalam kandungannya yang berusia 2 bulan, selanjutnya
pelaku (1) melakukan operasi aborsi tersebut.
Motif : Pelaku (1) melakukan operasi aborsi setelah mendapat persetujuan dari
pelaku (2)
Waktu : Kamis, 2 Februari 2011
Tempat : Tempat Praktek pelaku (1), Jalan Dukuh Kupang Timur X/4, Surabaya

LANDASAN TEORI
Menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan
istilah “abortus”. Berarti pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel
sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Ini adalah suatu proses
pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh[1].

Ketentuan mengenai tindak pidana aborsi dapat dijumpai dalam BabXIV


Buku Kedua KUHP tentang kejahatan terhadap kesusilaan yaitu
padaPasal 299, Bab XIX Buku Kedua KUHP tentang kejahatan terhadap nyawa
yaitu pada Pasal 346-349 KUHP. Adapun rumusan selengkapnya pasal-
pasal tersebut[2]:

Pasal 299 :
1. Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau
menyuruhnya supaya diobati, dengan memberitahukan atau ditimbulkan
harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan,
diancam pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling
banyak tiga ribu rupiah.
2. Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan atau
menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencaharian atau kebiasaan atau
jika ia seorang tabib, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah
sepertiga.
3. Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan
pencarian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.
Pasal 346
Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam
dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Pasal 347
1. Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan
seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara
paling lama dua belas tahun.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan
pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Pasal 348
1. Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan
seorang wanita dengan persetujuannya diancam dengan pidana penjara
paling lama lima tahun enam bulan.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan
pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Pasal 349
Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukankejahatan yang
tersebut Pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan
salah satu kejahatan yang diterangkan Pasal 347 dan 348, maka pidana yang
ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut
hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan.

Dari pasal-pasal tersebut diatas, dapat dirumuskan bahwa tindak pidana


aborsi itu dilarang dalam hukum pidana Indonesia, dan merupakan tindakan yang
illegal tanpa kecuali, Hal ini tidak terlepas dari pandangan bahwa anak dalam
kandungan merupakan subjek hukum sehingga berhak menerima perlindungan
hukum.
Oleh karena sudah dirumuskan demikian sebagaimana pasal-pasal
diatas, maka dalam kasus aborsi, minimal ada dua orang yang terkena
ancaman pidana, yakni si wanita sendiri yang hamil serta barangsiapa yang
sengaja membantu si perempuan tersebut menggugurkan kandungannya
(pasal 346). Seorang perempuan yang hamil
dapat terkena ancaman pidanakalau ia sengaja menggugurkan kandungan dengan
atau tanpa bantuanorang lain. la juga dapat terkena ancaman pidana kalau ia
minta bantuan orang lain dengan cara menyuruh orang itu untuk menggugurkan
kandungannya. Khusus untuk orang lain yang disuruh untuk menggugurkan
kandungan dan ia benar - benar melakukannya, maka baginya berlaku
rumusan Pasal 347 dan 348 KUHP.
Sebagaimana tercantum dalam pasal 346 dan 348, untuk kasus tindak pidana
aborsi tersebut diatas dapat dirumuskan unsur-unsur sebagai berikut :

Unsur subjektif : 1. Dengan disengaja


2. Dengan menyuruh orang lain
3. Dengan adanya persetujuan
Unsur Objektif : 1. Menggugurkan atau mematikan
2. Kandungan atau janin

ANALISIS
Sebuah tindak pidana dapat dijatuhi pidana apabila telah memenuhi tiga
unsur perbuatan pidana, yaitu;

(1) perbuatan,
(2) unsur melawan hukum obyektif, dan
(3) unsur melawan hukum subyektif.

Dalam kasus tersebut diatas, dapat disimpulkan telah memenuhi tiga unsur
perbuatan pidana dan dengan hal ini dapat dijatuhi pidana. Unsur-unsur tersebut
dapat dijabarkan dalam penjelasan berikut :

1. Unsur perbuatan terpenuhi dengan adanya tindakan dari pelaku (1) yang
melakukan aborsi terhadap kandungan pelaku (2) dengan persetujuan pelaku
(2), dalam hal ini pelaku (2) juga melakukan tindak pidana yaitu dengan
sengaja menggugurkan kandungannya dengan meminta bantuan pelaku (1)
2. Unsur melawan hukum obyektif juga telah terpenuhi. Karena tindakan pelaku
(1) dan pelaku (2) telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang tercantum
dalam pasal 346 dan 348 KUHP, yaitu “sengaja”, “dengan persetujuan”, dan
“menggugurkan kandungan”.

o “Sengaja” dibuktikan dalam perbuatan tersebut dengan adanya permintaan


dari pelaku (2) kepada pelaku (1) untuk menggugurkan kandungannya
sendiri.
o “dengan persetujuan” dibuktikan dengan adanya persetujuan antara pelaku
(1) dan pelaku (2) untuk menggurkan kandungan pelaku (2)
o “menggugurkan kandungan” maksudnya mematikan janin dalam
kandungan, yang merupakan delik materiil. Dalam hal ini diperlukan
adanya akibat, bukan hanya perbuatan. Dalam kasus ini terdapat tindak
pidana aborsi yang mengakibatkan kematian bagi janin dalam kandungan.
Maka dengan demikian unsur-unsur tersebut telah terpenuhi.
3. Unsur ketiga, yaitu unsur melawan hukum subjektif, dalam hal ini, yaitu
pertanggungjawaban dan kesalahan. Pertanggungjawaban maksudnya adalah
kemampuan para pelaku untuk bertanggungjawab, dan tidak memenuhi pasal
44 KUHP. Dalam kasus ini para pelaku memenuhi unsur pertanggungjawaban
tersebut. Kesalahan dalam hal ini adalah kesengajaan dan kelalaian, dan dalam
kasus ini para pelaku dinilai melakukan kesengajaan.

PENUTUP

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Perbuatan dr. Edward Armando dan Heny Kusumawati, yaitu dengan sengaja
melakukan tindakan aborsi dengan adanya persetujuan, merupakan suatu
perbuatan pidana, karena telah memenuhi tiga unsur perbutan pidana.

2. Bentuk perbuatan pidananya adalah aborsi atau menggugurkan janin


kandungan, karena adanya akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan tersebut,
yaitu gugurnya janin dalam kandungan tersebut.

3. Bagi dr. Edward Armando diancam pidana sebagaimana terdapat pada pasal
348 KUHP, karena bertindak sebagai seseorang yang dengan sengaja
melakukan tindakan aborsi dengan adanya persetujuan.

4. Sedangkan bagi Heny Kusumawati dijerat pasal 346 KUHP, karena


merupakan wanita yang melakukan tindakan aborsi dengan sengaja dan
dengan menyuruh orang lain.
BAB 2
Rumusan Masalah

2.a Rumusan Masalah


1. Apakah pengertian Hukum Positif Indonesia?

2. Apa sajakah yang menjadi komponen substansi hukum?

3. Terdiri dari hukum apa saja substansi hukum positif Indonesia?


BAB 3
Pembahasan

3.a Pembahasan
Pengertian Hukum Positif Indonesia

Hukum Positif adalah kumpulan asas dan kaidah hukum tertulis yang pada
saat ini sedang berlaku dan mengikat secara umum atau khusus dan ditegakkan oleh
atau melalui pemerintah atau pengadilan dalam negara Indonesia. Hukum di
Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum hukum Eropa, hukum Agama
dan hukum Adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun pidana,
berbasis pada hukum Eropa kontinental, khususnya dari Belanda karena aspek
sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan
Hindia Belanda (Nederlandsch-Indie). Hukum Agama, karena sebagian besar
masyarakat Indonesia menganut Islam, maka dominasi hukum atau Syari'at Islam
lebih banyak terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan dan warisan. Selain itu,
di Indonesia juga berlaku sistem hukum Adat yang diserap dalam perundang-
undangan atau yurisprudensi, yang merupakan penerusan dari aturan-aturan
setempat dari masyarakat dan budaya-budaya yang ada di wilayah Nusantara.
Tiap-tiap bangsa memiliki hukumnya sendiri, seperti terhadap bahasa
dikenal tata bahasa, demikian juga terhadap hukum dikenal juga tata hukum. Tiap-
tiap bangsa mempunyai tata hukumnya sendiri.
Hukum merupakan positivasi nilai moral yang berkaitan dengan kebenaran,
keadilan, kesamaan derajat, kebebasan, tanggung jawab, dan hati nurani manusia.
Hukum sebagai positivasi nilai moral adalah legitimasi karena adil bagi semua
orang. Salah satu kesimpulan dari studi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga
dunia, seperti Booz-Allen & Hamilton, McKinsey dan Bank Dunia terhadap kinerja
perekonomian Indonesia adalah rendahnya praktik Good Corporate Governance
(GCG). Secara umum, GCG sendiri berarti suatu proses dan struktur yang
digunakan untuk mengarahkan dan mengelola bisnis dan akuntabilitas perusahaan
dengan tujuan utama mempertinggi nilai saham dalam jangka panjang dengan tetap
memperhatikan kepentingan stakeholders lain. Dari pengertian tersebut,
selanjutnya dapat dijelaskan bahwa GCG tidak lain adalah permasalahan mengenai
proses pengelolaan perusahaan, yang secara konseptual mencakup
diaplikasikannya prinsip-prinsip transparancy, accountability, fairness dan
responsibility.

Komponen Substansi Hukum

Substansi hukum adalah peraturan-peraturan yang dipakai oleh para pelaku


hukum pada waktu melaksanakan perbuatan-perbuatan serta hubungan-hubungan
hukum. Contoh: pada saat pedagang melaksanakan perjanjian antar sesamanya,
pada saat itu ia mendasarkan hubungannya pada peraturan perdagangan, dan inilah
yang disebut dengan substansi hukum. Komponen dalam substansi hukum itu
sendiri, diantaranya:

1. Sistem Hukum Adat dan Hukum Perdata

 Hukum Adat
Hukum Adat merupakan hukum tidak tertulis yang dibentuk dan dipelihara
oleh masyarakat hukum adat tanpa campur tangan dari penguasa, yang dilengkapi
dengan sanksi sebagai upaya pemaksa. Hukum adat merupakan hukum yang
bersifat lokal, dan karena dibentuk oleh masyarakat hukum adat yang tata
susunannya sangat tergantung pada faktor pembentuknya, mengakibatkan hukum
adat menjadi plural dan berbeda diantara tiap daerah dan tiap masyarakat.
Sesuai dengan faktor genealogis maka ada 3 masyarakat hukum adat, yaitu
masyarakat matrilineal, patrilineal dan parental. Sedangkan berdasar pada faktor
teritorial terbentuk 3 macam masyarakat, yaitu: persekutuan desa, persekutuan
daerah dan perserikatan kampung.
 Hukum Perdata
Hukum perdata adalah ketentuan-ketentuan yang mengatur dan membatasi
tingkah laku manusia dalam memenuhi kepentingan (kebutuhannya).[1] Hukum
perdata disebut pula hukum privat atau hukum sipil sebagai lawan dari hukum
publik. Jika hukum publik mengatur hal-hal yang berkaitan dengan negara serta
kepentingan umum (misalnya politik dan pemilu (hukum tata negara), kegiatan
pemerintahan sehari-hari (hukum administrasi atau tata usaha negara), kejahatan
(hukum pidana), maka hukum perdata mengatur hubungan antara penduduk atau
warga negara sehari-hari, seperti misalnya kedewasaan seseorang, perkawinan,
perceraian, kematian, pewarisan, harta benda, kegiatan usaha dan tindakan-
tindakan yang bersifat perdata lainnya.
Ada beberapa sistem hukum yang berlaku di dunia dan perbedaan sistem
hukum tersebut juga mempengaruhi bidang hukum perdata, antara lain sistem
hukum Anglo-Saxon (yaitu sistem hukum yang berlaku di Kerajaan Inggris Raya
dan negara-negara persemakmuran atau negara-negara yang terpengaruh oleh
Inggris, misalnya Amerika Serikat), sistem hukum Eropa kontinental, sistem
hukum komunis, sistem hukum Islam dan sistem-sistem hukum lainnya. Hukum
perdata di Indonesia didasarkan pada hukum perdata di Belanda, khususnya hukum
perdata Belanda pada masa penjajahan.
Wikisource memiliki naskah sumber yang berkaitan dengan The Civil
Code. Bahkan Kitab Undang-undang Hukum Perdata (dikenal KUHPer) yang
berlaku di Indonesia tidak lain adalah terjemahan yang kurang tepat dari Burgerlijk
Wetboek (atau dikenal dengan BW) yang berlaku di kerajaan Belanda dan
diberlakukan di Indonesia (dan wilayah jajahan Belanda) berdasarkan azas
konkordansi. Untuk Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda, BW
diberlakukan mulai 1859. Hukum perdata Belanda sendiri diadopsi dari hukum
perdata yang berlaku di Perancis dengan beberapa penyesuaian. Kitab undang-
undang hukum perdata (disingkat KUHPer) terdiri dari empat bagian, yaitu: Buku
I tentang Orang, Buku II tentang Benda, Buku III tentang Perikatan, Buku IV
tentang Pembuktian dan Daluwarsa.
2. Sistem Hukum Acara Perdata Indonesia
Dalam rangka menegakan hukum perdata materil diperlukan hukum perdata
formil (hukum acara perdata), yakni aturan hukum yang mengatur bagaimana
menegakkan hukum perdata materil dengan perantaraan hakim di pengadilan sejak
pemajuan gugatan sampai pada pelaksanaan putusan. Asas-asas yang perlu
diperhatikan dalam bercara perdata, antara lain: Hakim bersifat menunggu; Hakim
bersikap pasif; Sidang terbuka untuk umum; mendengar kedua belah pihak;
beracara itu dikenakan biaya, terikatnya hakim pada alat bukti; dan putusan hakim
harus disertai alasan-alasan. Beracara perdata itu melalui 3 (tiga) tahap, yaitu
pendahuluan, penentuan, dan pelaksanaan.
3. Sistem Hukum Pidana dan Hukum Acara Pidana Indonesia
Berdasarkan isinya, hukum dapat dibagi menjadi 2, yaitu hukum privat dan
hukum publik (C.S.T Kansil). Hukum privat adalah hukum yang mengatur
hubungan orang perorang, sedangkan hukum publik adalah hukum yang mengatur
hubungan antara negara dengan warga negaranya. Hukum pidana merupakan
bagian dari hukum publik yang mengatur hubungan antara negara dengan warga
negara. Hukum Pidana dalam pengertian sempit hanya mencakup hukum pidana
materiil saja, sedangkan Hukum Pidana dalam arti luas mencakup hukum pidana
materil dan hukum pidana formil atau Hukum Acara Pidana.
Hukum Pidana materil diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP), sedang Hukum Acara Pidana diatur dalam UU No. 8 Tahun 1981 tentang
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan peraturan perundang-
undangan lainnya. Hukum Acara Pidana atau hukum formil merupakan ketentuan
tentang tata cara proses perkara pidana sejak adanya sangkaan seseorang telah
melakukan tindak pidana hingga pelaksanaan keputusan sampai pelaksanaan
putusan pengadilan, mengatur hak dan kewajiban bagi mereka yang bersangkut
paut dengan proses perkara pidana berdasarkan undang-undang, serta diciptakan
untuk penegakan hukum dan keadilan. Fungsi dan tujuan Hukum Acara Pidana
adalah melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum pidana untuk mencari kebenaran
materil.
Hak dan kewajiban bagi pihak yang bersangkut paut dengan proses perkara
pidana mengacu pada asas hukum Acara Pidana, antara lain: perlakuan di muka
sidang; perintah tertulis dari yang berwenang, memperoleh bantuan hukum seluas-
luasnya; hadirnya terdakwa, sidang terbuka untuk umum dll.
Selanjutnya dalam proses berita acara pidana meliputi beberapa tahap,
yaitu:
1. Penyidikan oleh penyidik (penyidik polisi dan penyidik PNS).
2. Penuntutan yang dilakukan oleh jaksa atau penuntut umum.
3. Pemeriksaan di depan sidang oleh hakim.
4. Pelaksanaan putusan pengadilan oleh jaksa dan lembaga pemasyarakatan.
Substansi Hukum Positif Indonesia

1. Sistem Hukum Tata Negara Indonesia


a. Pengertian Hukum Tata Negara
Hukum tata negara adalah hukum yang mengatur bentuk negara, (dan bentuk
pemerintahan), mengkaji hierarki peraturan perundang-undangan dalam
penyelenggaraan negara, membicarakan sistem pemerintahan, pemerintahan
sentralistik maupun desentralistik, peraturan pemerintah, peraturan daerah,
peraturan presiden, dan kekuasaan dengan tingkatan-tingkatannya, serta wilayah
dengan kedaulatan negara dengan masyarakatnya.[2]
Warga negara merupakan salah satu unsur yang penting bagi berdirinya
suatu negara. Karena itu, dalam hukum tata negara perlu dibahas tentang asas-asas
dan syarat-syarat kewarganegaraan serta perlindungan yang diberikan kepadanya,
yang lazim disebut sebagai perlindungan terhadap hak-hak asasi. Dengan demikian,
hukum tata negara tidak hanya mengatur wewenang dan kewajiban alat-alat
negaranya saja. Menurut hukum tata negara, seorang warga negara pun mempunyai
wewenang dan kewajiban serta pelindungan terhadap hak asasinya.
Dengan pemahaman tersebut, dapat diartikan bahwa hukum tata negara
adalah seluruh peraturan perundang-undangan yang bersifat legal formal maupun
nonformal yang mengatur penyelenggaraan negara kaitannya dengan bentuk
negara, asas-asas hukum negara, sistem pemerintahan, kekuasaan pemerintah,
pembagian kekuasaan, peralihan kepemimpinan suatu negara, pemilihan umum,
prinsip-prinsip demokrasi, ideologi negara, hak dan kewajiban pemerintah dan
masyarakat, serta semua hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara
lainnya.
Negara jika dipandang sebagai tatanan hukum, memiliki legalitas normative
yang membentuk suatu kekuasaan politik tersangkut dengan semua unsur
ketatanegaraan, misalnya unsur hukum positif, unsur penegak hukum, unsur warga
negara, unsur wilayah, unsur kedaulatan rakyat, pergantian kepemimpinan atau
pemerintahan suatu negara, dan sebagainya yang menempatkan negara sebagai
kerangka acuan kehidupan manusia di dalamnya.

b. Ruang Lingkup Hukum Tata Negara


Negara adalah organisasi yang ada dalam suatu wilayah yang dengan
kekuasaan konstitusionalnya dapat mengatur kehidupan masyarakat secara
berdaulat untuk mencapai tujuan bersama. Di dalam negara terdapat batas-batas
kekuasaan, peraturan hubungan antar masyarakat serta tata cara memperoleh tujuan
kehidupan bersama dalam suatu negara.
Kekuasaan negara adalah kekuasaan yang diorganisasikan oleh hukum
positif, yakni kekuasaan hukum, yaitu efektivitas dari hukum positif. Pandangan ini
menjelaskan bahwa kekuatan dari kekuasaan dan negara adalah perpaduan dari
kekuatan sosial yang dibentuk oleh kekuatan normatif. Misalnya seorang Presiden
diusung oleh organisasi partai politik, sedangkan partai politik pun dipilih oleh
rakyat sehingga sama dengan rakyat memilih calon presiden. Dengan demikian,
kedudukan calon presiden terpilih dan fraksi-fraksi partai politik yang menjabat
legislator merupakan perwujudan kehendak rakyat sebagai pemegang hak pilih
yang dilindungi oleh hukum suatu negara.
Dari definisi negara di atas, ruang lingkup hukum tata negara adalah sebagai
berikut:[3]
1. Wilayah suatu negara,
2. Sistem penyelenggaraan pemerintahan suatu negara,
3. Konstitusi dan peraturan perundang-undangan suatu negara,
4. Sistem pembagian atau pemisahan kekuasaan,
5. Tugas dan fungsi kekuasaan mekanisme peralihan kekuasaan yang ada dalam
suatu negara,
6. Lembaga-lembaga negara beserta kekuasaan dan batasan-batasannya,
7. Prinsip-prinsip bernegara kaitannya dengan bentuk negara,
8. Kedudukan masyarakat dalam negara,
9. Demokrasi dan penerapannya dalam sistem penyelenggaraan negara,
10. Asas hukum tata negara,
11. Sejarah ketatanegaraan Indonesia.
c. Sumber-sumber Hukum Tata Negara
Dalam UUD 1945 1 ayat (3) dikatakan bahwa “Negara Indonesia adalah
negara hukum.”. Dengan demikian, setiap kekuasan dibentuk oleh hukum, dan
hukum (rechtsstaat) tidak berdasarkan atas semata-mata kekuasaan (Machtstaat).
Artinya, penyelenggaraan pemerintahan dan keberadaan lembaga-lembaga negara
dengan seperangkat kekuasaan dan wewenangnya dilandasi oleh hukum dan
bertanggung jawab sepenuhnya atas nama hukum. 3
Negara Indonesia adalah negara yang menganut sistem konstitusional,
artinya penyelenggaraan negara diatur sedemikian rupa oleh konstitusi yang
berlaku, sebagai hukum dasar dan dasar hukum yang menafikan kekuasaan yang
bersifat absolut. Sistem ini memberikan ketegasan bahwa cara pengendalian
pemerintahan dibatasi oleh ketentuan-ketentuan konstitusi, yang dengan sendirinya
juga dibatasi oleh ketentuan-ketentuan dan hukum lain yang merupakan produk
konstitusional.[4]
Sumber-sumber hukum tata negara Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Undang-Undang Dasar 1945
2. Ketetapan MPR
3. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
4. Peraturan Pemerintah
5. Keputusan Presiden
6. Peraturan Pelaksana Lainnya
7. Convention (Konvensi Ketatanegaraan)
8. Traktat
Sistem Hukum Administrasi Negara

a. Pengertian dan Ruang Lingkup Hukum Administrasi Negara

Hukum Administrasi Negara adalah seperangkat peraturan yang


memungkinkan administrasi negara menjalankan fungsinya, yang sekaligus juga
melindungi warga terhadap sikap tindak administrasi negara, dan melindungi
administrasi negara itu sendiri.
Utrecht menyebutkan bahwa HAN adalah hukum yang mengatur sebagian
lapangan pekerjaan administrasi negara. Bagian lain diatur oleh Hukum Tata
Negara (hukum negara dalam arti sempit), Hukum Privat, dan sebagainya.[5]
Berdasarkan definisi tersebut, tampak bahwa dalam hukum administrasi
negara terkandung dua aspek, yaitu, pertama, aturan-aturan hukum yang mengatur
dengan cara bagaimana alat-alat perlengkapan negara itu melakukan
tugasnya; kedua, aturan-aturan hukum yang mengatur hubungan hukum
(rechtbetrekking) antara alat perlengkapan administrasi negara atau pemerintah
dengan para warga negaranya.
Seiring dengan perkembangan tugas-tugas pemerintahan, khususnya dalam
ajaran welfare state, yang memberikan kewenangan yang luas kepada administrasi
negara termasuk kewenangan dalam bidang legislasi, maka peraturan-peraturan
hukum dalam hukum administrasi negara, disamping dibuat oleh lembaga legislatif,
juga ada peraturan-peraturan yang dibuat secara mandiri oleh administrasi negara.
Dengan demikian, bahwa hukum administrasi negara adalah hukum dan peraturan-
peraturan yang berkenaan dengan pemerintah dalam arti sempit atau administrasi
negara, peraturan-peraturan tersebut dibentuk oleh lembaga legislatif untuk
mengatur tindakan pemerintahan dalam hubungannya dengan warga negara dan
sebagian peraturan-peraturan itu dibentuk pula oleh administrasi negara.
Istilah Hukum Administrasi Negara dalam kepustakaan Belanda disebut
dengan istilah bestuurscrecht, dengan unsur utama “bestuur”. Menurut Philipus M.
Hadjon[6], istilah bestuur berkenaan dengan “sturen” dan
“sturing”. Bestuur dirumuskan sebagai lingkungan kekuasaan negara di luar
lingkungan kekuasaan legislatif dan kekuasaan yudisial. Dengan rumus itu,
kekuasaan pemerintahan tidaklah sekedar melaksanakan undang-undang.
Kekuasaan pemerintahan merupakan kekuasaan yang aktif. Sifat aktif tersebut
dalam konsep Hukum Administrasi secara instrinsik merupakan unsur utama dari
“sturen” (besturen).
Hukum administrasi Negara merupakan fenomena kenegaraan dan
pemerintahan yang keberadaannya setua dengan konsepsi Negara hukum atau
muncul bersamaan dengan diselenggarakannya kekuasaan Negara dan
pemerintahan. Berdasarkan aturan hukum tertentu. Telah diakui bahwa istilah
hukum administrasi Negara lebih luas dari pada istilah-istilah lainnya karena dalam
istilah administrasi Negara tercakup tata usaha Negara.
Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum administrasi negara adalah
hukum dan peraturan-peraturan yang berkenaan dengan pemerintah dalam arti
sempit atau administrasi negara, peraturan-peraturan tersebut dibentuk oleh
lembaga legislatif untuk mengatur tindakan pemerintahan dalam hubungannya
dengan warga negara dan sebagian peraturan-peraturan itu dibentuk pula oleh
administrasi negara.

b. Sumber-sumber Hukum Administrasi Negara

Secara sederhana sumber hukum adalah segala sesuatu yang dapat


menimbulkan aturan hukum serta tempat ditemukannya aturan-aturan hukum.
Sumber-sumber hukum administrasi negara diantaranya:

1. Sumber Hukum Materiil


Sumber hukum materiil adalah faktor-faktor masyarakat yang
mempengaruhi pembentukan hukum (pengaruh terhadap pembuatan undang-
undang, pengaruh terhadap keputusan hakim, dan sebagainya, atau factor yang
diikuti memengaruhi materi (isi) dari aturan-aturan hukum, atau tempat darimana
hukum itu diambil. Sumber hukum materi ini merupakan factor yang membantu
pembentukan hukum. Sumber hukum materil terdiri dari :
 Sumber hukum historis
 Sumber hukum sosiologis
 Sumber hukum filosofis

2. Sumber Hukum Formal


Sumber hukum formal yaitu berbagai bentuk aturan hukum yang ada, dapat
diartikan juga sebagai tempat atau sumber dari mana suatu peraturan memperoleh
kekuatan hukum. Arti formal ini terdiri dari :

 Peraturan perundang-undangan
 Praktik administrasi Negara atau hukum tidak tertulis
 Yurisprudensi
 Doktrin.
Bab 4

4.a Kesimpulan

Hukum positif itu identik dengan hukum tertulis, yang menjadi hukum
negara. Tujuannya adalah menciptakan kepastian hukum di Indonesia, sebagaimana
didalam UUD 1945 naskah asli yang menyatakan bahwa Indonesia adalah negara
berdasarkan hukum/rechtstaat.

Dalam Substansi Hukum Positif Indonesia HTN dan HAN mempunyai


hubungan erat. HAN meliputi semua aturan hukum yang bersifat teknis (negara
dalam keadaan bergerak), sedang HTN meliputi semua aturan hukum yang bersifat
fundamental (negara dalam keadaan diam/tidak bergerak).
Hukum Tata Negara adalah negara dalam keadaan diam (Strats in rust),
dimana Hukum Tata Negara membentuk alat-alat perlengkapan Negara dan
memberikan kepadanya wewenang serta membagi-bagikan tugas pekerjaan kepada
alat-alat perlengkapan negara ditingkat tinggi dan tingkat rendah. Sedangkan
Hukum Administrasi Negara adalah Negara dalam keadaan bergerak (Staats ini
beveging) dimana Hukum Administrasi Negara melaksanakan aturan-aturan yang
sudah ditetapkan oleh Hukum Tata Negara baik ditingkat tinggi maupun ditingkat
rendah.

4.b Saran

1. Terciptanya hukum positif yang tertulis di Indonesia diharapkan dapat


menciptakan pula kepastian hukum. karena di Indonesia sendiri setidaknya
berlaku/mengadopsi tiga sistem hukum, yaitu, Hukum Agama, Hukum Adat, dan
Hukum Eropa Kontinental yang menjadi basis hukum nasional Indonesia dan itu
membuat hukum di Indonesia mendekati hukum yang dipandang baik secara sistem
hukumnya.
2. Unifikasi hukum diharapkan bisa menciptakan kepastian hukum dan kepastian
hukum tersebut diharapkan menciptakan keteraturan di masyarakat dan negara,
khususnya yaitu Negara Indonesia
Daftar Pustaka

1. Buku

Ridwan HR. 2006. Hukum Administrasi Negara. Jakarta. PT Raja Grafindo


Persada.

H. Dedi Ismatullah, M.Hum., Dr., Prof., 2009. Hukum Tata Negara. Bandung. CV
Pustaka Setia.

Abdoel Djamali, R., S.H., 2005. Pengantar Hukum Indonesia. Jakarta. PT. Raja
Grafindo Persada.

Moh. Kusnadi, S.H, Harmaily Ibrahim, S.H. 1980. Pengantar Hukum Tata Negara
Indonesia. Jakarta. Fakultas Studi Hukum Tata Negara Universitas Indonesia dan
C.V. “Sinar Bakti”

Bachsan Mustafa .(2003) Sistem Hukum Indonesia Terpadu. Bandung: Citra Adiyta
Bakti.

2. Internet
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090925002406AATlEnp

1. Abdoel Djamali, R., S.H., 2005. Pengantar Hukum Indonesia. Jakarta. PT. Raja Grafindo
Persada. hal.147

2. H. Dedi Ismatullah, M.Hum., Dr., Prof., 2009. Hukum Tata Negara. Bandung. CV
Pustaka Setia. hal.14

3. H. Dedi Ismatullah, M.Hum., Dr., Prof., 2009. Hukum Tata Negara. Bandung. CV
Pustaka Setia. hal.27

4. H. Dedi Ismatullah, M.Hum., Dr., Prof., 2009. Hukum Tata Negara. Bandung. CV
Pustaka Setia. hal.208

5. Ridwan HR. 2006. Hukum Administrasi Negara. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.
hal.35

6. Philipus M. Hadjon, Pemerintahan Menurut Hukum (wet-en rechtmatigheid can bestuur)