Anda di halaman 1dari 4

TUGAS

PEREKONOMIAN INDONESIA

Disusun Oleh:
Putri Lawati
NIM. BCA 117 338

Dosen Pengampu :
Isra Misra, SE., M.Si

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
AKUNTANSI
2019/2020
Badan Pusat Statistik melalui website resmi merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia naik
4,21 persen dibandingkan kuartal I 2018 (q toq) dan tumbuh 5,27 persen dibandingkan
periode yang sama tahun lalu (yoy). Pertumbuhan ekonomi periode ini menjadi yang tertinggi
sejak 2014. Dalam lima tahun terakhir, sejak kuartal I 2014, pertumbuhan ekonomi berada di
kisaran rata-rata 4,7 hingga tertinggi 5,21 persen. Saat siaran berita resmi statistik Kepala BPS
Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,27 cukup baik
meski belum mencapai target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yakni
5,4 persen. Untuk diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai turun setelah kuartal IV
2013 mencapai 5,72 persen (yoy).
Pertumbuhan ekonomi (yoy) sejak kuartal I 2014 berada diangka 5,21 persen dan terus
mengalami penurunan pada Kuartal II diangka 5,12 persen, Kuartal III 5,01 persen dan Kuartal
IV 5,01 persen.
Tahun 2015 pertumbuhan ekonomi Kuartal I nail diangka 4,71 persen, Kuartal II turun diangka
4,67 persen, mengalami kenaikan pada Kuartal III diangka 4,73 persen dan naik pada di
Kuartal IV diangka 5,04 persen.
Tahun 2016 pada Kuartal I kembali mengalami penurunan 4,92 persen, Kuartal II berada
diangka 5,18 persen, Kuartal II 5,02 persen dan Kuartal IV diangka 4,94 persen.
Pasa tahun 2017 tepatnya Kuartal I pertumbuhan ekonomi mengalami kenaikan diangka 5,01
persen, Kuartal II diangka 5,01 persen, Kuartal III naik diangka 5,06 persen dan terus
mengalami kebaikan di Kuartal IV dengan pertumbuhan ekonomi yang dicatatkan sebesar
5,19 persen.
Kuartal I 2018 angka pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan diangka 5,06 persen dan
mengalami kenaikan pada Kuartal II diangka 5,27 persen.
Kesimpulannya menurut saya,
Hal yang tak kalah penting adalah kemampuan eksekusi proyek infrastruktur. Saya kira,
pembangunan infrastruktur adalah land mark dari pencapaian pemerintahan Jokowi-Jusuf
Kalla. Dengan strategi ini, Indonesia mencoba menjawab tantangan jangka panjang. Dan ini
adalah langkah yang tepat. Perlu diapresiasi. Kedua, namun yang menarik, pembangunan
infrastruktur yang masif, praktis tak berdampak banyak kepada pertumbuhan ekonomi dalam
empat tahun terakhir. Dalam periode 2014-2018, ekonomi hanya tumbuh rata-rata di kisaran
5 persen. Angka ini jelas jauh dari yang ditargetkan pemerintah yaitu 7 persen.
Kita juga melihat bahwa ekspor manufaktur relatif stagnan. Padahal, argumen utama
perlunya pembangunan infrastruktur adalah upaya penurunan biaya logistik, yang pada
akhirnya akan meningkatkan daya saing perekonomian kita. Agaknya kita harus melihat isu
ini dalam rentang waktu yang lebih panjang dan konteks yang lebih luas. Perekonomian
Indonesia amat tergantung kepada Sumber Daya Alam (SDA).
Situasi semakin diperburuk dengan menurunnya harga komoditas dan energi pada 2015.
Akibatnya ekspor, investasi dan juga konsumsi rumah tangga terpukul. Kita mencatat,
pertumbuhan ekonomi mencapai titik terendah pada 2015, yaitu 4.9 persen. Upaya
pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dengan memfokuskan diri pada
infrastruktur tak mampu mendorong pertumbuhan dalam jangka pendek. Pembangunan
infrastruktur, sebagai upaya perbaikan sisi supply sangat diperlukan, namun ia baru akan
menghasilkan pertumbuhan dalam jangka panjang.

Yang harus dilakukan pemerintah untuk memperbaiki perekonomian Indonesia yaitu :


1. Bekerja sama dengan Bank Indonesia untuk meneruskan kebijakan kewajiban
memasukan devisa hasil ekspor ke Indonesia. Upaya ini lebih banyak untuk
memperkuat pasar valas dalam negeri.
2. Merevitalisasi reformasi birokrasi, termasuk modernisasi perpajakan, yang telah
kehilangan dinamika. Perlu penetapan standar dan acuan baku untuk setiap perizinan
dan pelayanan publik. Secara tidak langsung hal ini juga mengurangi tekanan untuk
menambah pinjaman pemerintah.
3. Mendorong dan memberi insentif bagi pemasukkan kembali dana orang Indonesia
yang selama ini ditempatkan di luar negeri. Bisa dalam bentuk kemudahan perizinan
atau konsensi sepanjang dana tersebut diinvestasikan dalam bidang yang beragam
atau untuk pembangunan infrastruktur.
4. Pengurangan subsidi, khususnya subsidi energi. Ini menjadi hal yang tidak bisa
dihindari oleh pemerintah. Meskipun kondisinya tidak tepat pada saat ini, tetapi
langkah ini harus dilakukan guna mengamankan keuangan negara (APBN). Kenaikan
harga BBM akan mengurangi penggunaan dan selanjutnya mengurangi impor BBM
dan mendorong alokasi sumber daya yang lebih sehat.
5. Mendorong pengembangan produksi pertanian, khususnya pangan. Caranya dengan
memulai rehabilitasi dan pemeliharaan jaringan irigasi tersier. Upaya ini juga
mendukung pengendalian inflasi yang memang lebih bersifat supply side.
6. Menyusun paket kebijakan yang mendukung diversifikasi dan hilirisasi serta
pendalaman struktur industri. Hal ini penting untuk memperkuat ekspor dan
mengurangi ketergantungan impor bahan baku dan barang modal.
7. Mendorong kenaikan peran sektor jasa untuk mengurangi biaya, terutama di sektor
transportasi, asuransi, dan travel dalam kegiatan ekspor, impor, dan perjalanan ke luar
negeri.
8. Bekerjasama dan mendukung BI dan OJK mengefektifkan program inklusi keuangan
dan kampanye menabung nasional. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan dana
pihak ketiga sehingga peran pembiayaan lembaga keuangan terhadap perekonomian
meningkat.