Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH ETIKA PROFESI

ETIKA PROFESI DAN KODE ETIK

DISUSUN
OLEH:

KELOMPOK 1 :

ANISA POU 85AK17002


BESSE VIDIA AMRAN 85AK17003
CINDI AFRIYANI 85AK17005
FATRAWATY BARUADI 85AK170
MOH. SARIF HULOPI 85AK17018
MENTARI AFRILIA BESI 85AK17019
PUPUT TILOME 85AK17023
SITI ISRA NINGSIH 85AK17028
SITI MASITO R. AHMAD 85AK170
ZULYANIE DOMILI 85AK17034

PROGAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN


STIKES BINA MANDIRI GORONTALO
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur tidak henti-hentinya kita panjatkan kehadirat Allah Swt
yang telah memberikan rahmat, nikmat dan anugerah-Nya sehingga Makalah
Etika Profesi ni dapat terselesaikan dengan baik, meski jauh dari kata sempurna.
Harapan kami semoga makalah yang telah tersusun ini dapat bermanfaat
sebagai salah satu rujukan maupun pedoman bagi para pembaca, menambah
wawasan serta pengalaman, sehingga nantinya kami dapat memperbaiki bentuk
ataupun isi makalah ini menjadi lebih baik lagi.
Sebagai penulis, kami mengakui bahwasanya masih banyak kekurangan yang
terkandung di dalamnya. Oleh sebab itu, dengan penuh kerendahan hati kami
berharap kepada para pembaca untuk memberikan kritik dan saran demi lebih
memperbaiki makalah ini. Terima Kasih

Gorontalo, September 2018

Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................ i
DAFTAR ISI...................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Tujuan Makalah ............................................................................... 3
1.3 Manfaat Makalah .............................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................... 4
2.1 Pengertian Profesi ............................................................................. 4
2.2Pengertian Etika ................................................................................ 8
2.3 Pengertian Etika Profesi .................................................................. 11
2.4 Fungsi Etika Profesi ........................................................................ 12
2.5 Perbedaan Etika dan Etiket ............................................................. 13
2.6 Asas-Asas Etika Medis ................................................................... 13
2.7 Sistematika Etika ............................................................................. 16
2.8 Pengertian Kode Etik ...................................................................... 17
2.9 Kode Etik ATLM ............................................................................ 18
BAB III PENUTUP ......................................................................................... 19
3.1 Kesimpulan ..................................................................................... 19
3.2 Saran ................................................................................................ 19
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 20
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kode etik adalah memberi pelayanan khusus dalam masyarakat tanpa

mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok. dengan demikian kode

etik dan tanggung jawab profesi adalah sistem norma atau aturan yang ditulis

secara jelas dan tegas serta terperinci tentang apa yang baik dan tidak baik,

apa yang benar dan apa yang salah dan perbuatan apa yang harus dilakukan

dan tidak boleh dilakukan oleh seorang profesional. Perkataan profesi dan

profesional sudah sering digunakan dan mempunyai beberapa arti.

Dalam percakapan sehari-hari, perkataan profesi diartikan sebagai

pekerjaan (tetap) untuk memperoleh nafkah (Belanda; baan; Inggeris: job atau

occupation), yang legal maupun yang tidak. Jadi, profesi diartikan sebagai

setiap kegiatan tetap tertentu untuk memperoleh nafkah yang dilaksanakan

secara berkeahlian yang berkaitan dengan cara berkarya dan hasil karya yang

bermutu tinggi dengan menerima bayaran yang tinggi. Keahlian tersebut

diperoleh melalui proses pengalaman, belajar pada lembaga pendidikan

(tinggi) tertentu, latihan secara intensif, atau kombinasi dari semuanya itu.

Pengemban profesi adalah orang yang memiliki keahlian yang

berkeilmuan dalam bidang tertentu. Karena itu, ia secara mandiri mampu

memenuhi kebutuhan warga masyarakat yang memerlukan pelayanan dalam

bidang yang memerlukan keahlian berkeilmuan itu. Pengemban profesi yang

bersangkutan sendiri yang memutuskan tentang apa yang harus dilakukannya


dalam melaksanakan tindakan pengembanan profesionalnya. Ia secara pribadi

bertanggung jawab atas mutu pelayanan jasa yang dijalankannya. Karena itu,

hakikat hubungan antara pengemban profesi dan pasien atau kliennya adalah

hubungan personal, yakni hubungan antar subyek pendukung nilai.

(Alexandra, 2012)

Makalah ini memuat tentang pentingnya etika profesi, kode etik dan

tanggung jawab profesi. Kode etik di susun oleh organisasi profesi sehingga

masing-masing profesi memiliki kode etik tersendiri. Misalnya kode etik

dokter, guru, pustakawan, pengacara dan pelanggaran kode etik tidak diadili

oleh pengadilan karena melanggar kode etik tidak selalu berarti melanggar

hukum. Bila seorang dokter di anggap melanggar kode etik tersebut, maka dia

akan di periksa oleh majelis kode etik kedokteran indonesia bukannya oleh

pengadilan.

Ketaatan tenaga profesional terhadap kode etik merupakan ketaatan

naluriah yang telah bersatu dengan pikiran, jiwa, dan perilaku tenaga

professional. Dengan membaca makalah ini diharapkan pembaca dapat

memahami dan mengerti tentang yang disebut etika profesi dan juga dapat

memahami faktor dan hal – hal yang berhubungan dengan etika dan

tangguprofesi. Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa sebuah profesi

hanya dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri

para elit professional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika

profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada

masyarakat yang memerlukannya.


1.2. Tujuan Makalah

1. Sebagai wawasan pengetahuan perkembangan kode etik dan tanggung

jawab profesi.

2. Memberikan pengetahuan baru bagi pembaca,khususnya bagi penulis

tentang pentingnya kode etik dan tanggung jawab profesi.

3. Untuk mengetahui akibat yang akan terjadi apabila kode etik profesi

tidak ada

1.3 Manfaat Makalah

1. Berbagi informasi baru tentang pentingnya kode etik.

2. Sebagai tambahan ilmu pengetahuan bagi pembaca dan khusus nya bagi

penulis.

3. Dapat mengetahui dan memahami tujuan dari kode etik dan tanggung

jawab profesi.

1.4 Rumusan Masalah

1. Apa pentingnya kode etik profesi ?

2. Apa fungsi dari kode etik profesi ?

3. Mengapa kode etik profesi sangat penting?

4. Seberapa penting kode etik dan tanggung jawab profesi ?


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Profesi

Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok

untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian

(Rijal, 2017). Perkataan profesi dan profesional sudah sering digunakan dan

mempunyai beberapa arti. Dalam percakapan sehari-hari, perkataan profesi

diartikan sebagai pekerjaan (tetap) untuk memperoleh nafkah (Belanda: baan;

Inggris: job atau occupation), yang legal maupun yang tidak. Jadi, profesi

diartikan sebagai setiap pekerjaan untuk memperoleh uang. Dalam arti yang

lebih teknis, profesi diartikan sebagai setiap kegiatan tetap tertentu untuk

memperoleh nafkah yang dilaksanakan secara berkeakhlian yang berkaitan

dengan cara berkarya dan hasil karya yang bermutu tinggi dengan menerima

bayaran yang tinggi. Keakhlian tersebut diperoleh melalui proses

pengalaman, belajar pada lembaga pendidikan (tinggi) tertentu, latihan secara

intensif, atau kombinasi dari semuanya itu. Dalam kaitan pengertian ini,

sering dibedakan pengertian profesional dan profesionalisme sebagai lawan

dari amatir dan amatirisme, misalnya dalam dunia olah-raga, yang sering juga

dikaitkan pada pengertian pekerjaan tetap sebagai lawan dari pekerjaan

sambilan. Ignas Kleden dalam sebuah artikel berjudul "KAUM

PROFESIONAL DAN PEMBAGIAN KERJA INTELEKTUAL,"3

memberikan arti yang agak berbeda pada istilah "profesional"

(Sidartha,2015). Dalam artikel itu ia mengemukakan:


"... seorang profesional memberikan nilai tukar kepada

pengetahuan (exchange value of knowledge). Di tangan

profesional pengetahuan dan ilmu berubah wujudnya menjadi

komoditi yang bisa dipertukarkan dalam suatu transaksi jual-beli.

... seorang profesional menerjemahkan pengetahuan ... menjadi

unsur pasar ... menjadi penguasaan komersial terhadap

pengetahuan... membuat pengetahuan menjadi jasa yang dapat

dipertukarkan. ... yang menyibukkan seorang profesional adalah

terjual-tidaknya suatu pengetahuan.... Masalah yang muncul

dalam profesionalisme adalah masalah yang juga muncul dalam

setiap tukar menukar, yaitu, apakah "barang" yang diperjual-

belikan itu cukup terjamin mutunya atau tidak. Dalam hal seorang

profesional, apakah jasa yang dijualnya itu betul merupakan

pengetahuan yang sudah cukup teruji secara ilmiah..... Seorang

profesional yang baik dan berhasil adalah orang yang sanggup

menjual dengan harga tinggi suatu pengetahuan yang teruji

mutunya. Seorang profesional yang gagal hanya sanggup menjual

dengan harga rendah suatu pengetahuan yang teruji mutunya.

Tetapi “the betrayal of the professionals” akan terjadi kalau dia

menjual dengan harga tinggi suatu pengetahuan yang sama sekali

belum teruji secara ilmiah, atau bahkan sudah terbukti sebagai

pengetahuan yang tak terjamin mutunya. ..."


Demikianlah kutipan yang agak "in extenso" dari artikel Ignas Kleden

untuk menghindari tafsiran subjektif. Dalam uraian Ignas Kleden tentang

pengertian profesional tersirat (atau dapat disimpulkan) pengertian profesi

sebagai pekerjaan tetap dalam bidang tertentu yang dijalankan secara

berkeahlian berdasarkan penguasaan ilmu, jadi dengan menerapkan ilmu,

tertentu sehingga mampu menawarkan dan memberikan jasa yang bermutu

tinggi yang sudah teruji secara ilmiah, dengan bayaran tinggi sesuai dengan

mutu karya dan hasilnya yang ditawarkan itu. Pandangan ini tampaknya

cocok untuk masyarakat yang tatanan ekonominya menganut kapitalisme.

Berbeda dengan pandangan Ignas Kleden tadi, Roscoe Pound, filsuf hukum

tokoh aliran Sociological Jurisprudence yang terkenal dengan gagasannya

tentang hukum sebagai "a tool for social engineering", dalam bukunya

mengatakan bahwa perkataan profesi "refers to a group of men pursuing a

learned art as a common calling in the spirit of a public service, no less a

public service because it may incidentally be a means of livelihood."

Pandangan Roscoe Pound tentang pengertian profesi pada dasarnya

sejalan dengan pandangan Talcott Parsons. Berdasarkan artikel yang telah

disebut di atas, dan artikel (entri) berjudul "PROFESSIONS" yang dimuat

dalam "INTERNATIONAL ENCYCLOPEDIA OF THE SOSCIAL

SCIENCES" Vol. 12 (1972),5 pandangan Talcott Parsons tentang pengertian

profesi dapat dikemukakan sebagai berikut ini. Di dalam "PROFESSIONS",

Parsons mengemukakan bahwa "profesional" bukanlah kapitalis, pekerja

(buruh), administrator pemerintah, birokrat, ataupun petani pemilik tanah.


Batas lingkup profesi sebagai institusi sosial tidaklah jelas dan juga tidak

tegar. Dalam kenyataan terdapat kelompok-kelompok marginal yang status

keprofesionalannya ekuivokal. Namun, kriteria inti untuk mengkualifikasi

suatu okupasi sebagai suatu profesi cukup jelas. Pertama, profesi

mensyaratkan pendidikan teknis yang formal dilengkapi dengan cara

pengujian yang terinstitusionalisasikan, baik mengenai adekuasi dari

pendidikannya maupun mengenai kompetensi dari orang-orang hasil

didikkannya. Pengujian para calon pengemban profesi terutama diarahkan

pada unsur intelektual, jadi sangat mengutamakan valuasi rasionalitas

kognitif yang diterapkan pada bidang khusus tertentu. Ini berarti bahwa

profesi adalah aplikasi ilmu tertentu pada bidang kehidupan yang

perwujudannya akan terjamin lebih baik jika menerapkan ilmu tersebut.

Dengan perkataan lain, pengemban profesi dituntut menguasai ilmu yang

bersangkutan. Kedua, penguasaan tradisi kultural dalam menggunakan

keahlian tertentu serta keterampilan dalam penggunaan tradisi tersebut. Ini

berarti bahwa dalam lingkungan suatu profesi berlaku suatu sistem nilai yang

berfungsi sebagai standar normatif yang harus menjadi kerangka orientasi

dalam pengembanan profesi yang bersangkutan. Ketiga, kompleks okupasi

(sistem sosial pekerjaan) tersebut memiliki sejumlah sarana institusional

untuk menjamin bahwa kompetensi tersebut akan digunakan dengan cara-cara

yang secara sosial bertanggung-jawab (Sidartha,2015).


2.2 Pengertian Etika

Menurut Amin (2017) menyebutkan bahwa setidaknya ada 4 alasan

mengapa mempelajari etika sangat penting: (1) etika memandu manusia

dalam memilih berbagai keputusan yang dihadapi dalam kehidupan, (2) etika

merupakan pola perilaku yang di-dasarkan pada kesepakatan nilai-nilai

sehingga kehidupan yang harmonis dapat tercapai, (3) dinamika dalam

kehidupan manusia menyebabkan perubahan nilai-nilai moral sehingga perlu

dilakukan analisa dan ditinjau ulang (4) etika mendorong tumbuhnya naluri

moralitas dan mengilhami manusia untuk sama-sama mencari, menemukan

dan menerapkan nilai-nilai hidup yang hakiki. Pelajaran mengenai etika tidak

dapat dilepaskan dari usaha untuk pencarian/penguasaan ilmu. Etika menurut

penjelasan Bartens berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu ethos, sedangkan

dalam bentuk tunggal yang berarti adat kebiasaan, adat istiadat, akhlak yang

baik. Bentuk jamak dari ethos adalah to ether artinya adat kebiasaan. Secara

etimologi, ada dua pendapat mengenai asal-usul kata etika yakni pertama,

etika berasal dari bahasa Inggris, yang disebut dengan ethic (singular) yang

berarti suatu sistem, prinsip moral, aturan atau cara berperilaku. Akan tetapi,

terkadang ethics (dengan tambahan huruf s) dapat berarti singular. Jika ini

yang dimaksud maka ethics berarti suatu cabang filsafat yang memberikan

batasan prinsip-prinsip moral. Jika ethics dengan maksud plural (jamak)

berarti prinsip-prinsip moral yang dipengaruhi oleh perilaku pribadiKedua,

etika berasal dari bahasa Yunani, yang berarti ethikos yang mengandung arti

penggunaan, karakter, kebiasaan, kecenderungan, dan sikap yang


mengandung analisis konsep-konsep seperti harus, mesti benar-salah,

mengandung pencarian ke dalam watak moralitas atau tindakan-tindakan

moral, serta mengandung pencarian kehidupan yang baik secara

moral.Sedangkan dalam bahasa Yunani kuno, etika berarti ethos, yang

apabila dalam bentuk tunggal mempunyai arti tempat tinggal yang biasa,

padang rumput, kandang, adat akhlak, watak perasaan, sikap, cara berpikir.

Dalam bentuk jamak artinya adalah adat kebiasaan. Jadi, jika kita membatasi

diri pada asal-usul kata ini, maka “etika” berarti ilmu tentang apa yang biasa

dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Arti inilah yang menjadi latar

belakang bagi terbentuknya etika yang oleh Aristoteles (384-322 SM) sudah

dipakai untuk menunjukkan filsafat moral (Amina, 2017).

Amina, 2017. Etika dibagai 2 yaitu menyangkut “tindakan” dan “baik-

buruk”. Apabila permasalahan jatuh pada “tindakan” maka etika disebut

sebagai filsafat praktis, sedangkan jatuh pada “baik-buruk” maka etika

disebut “filsafat normatif”.Surahwardi K. Lubis, dalam istilah Latin, ethos

atau ethikos selalu disebut dengan mos, sehingga dari perkataan tersebut

lahirlah moralitas atau yang sering diistilahkan dengan perkataan moral.

Namun demikian, apabila dibandingkan dalam pemakaian yang lebih luas,

perkataan etika dipandang sebagai lebih luas dari perkataan moral, sebab

terkadang istilah moral sering dipergunakan hanya untuk menerangkan sikap

lahiriah seseorang yang biasa dinilai dari wujud tingkah laku atau perbuatan

nyata. Menurut Bertens dalam Abdulkadir Muhammad, arti etika dapat

dirumuskan sebagai berikut:a.Etika dipakai dalam arti: nilai-nilai dan norma-


norma moral yang menjadi pegangana bagi seseorang atau sekelompok dalam

mengatur tingkah lakunya. Arti ini dapat juga disebut sebagai “sistem nilai”

dalam hidup manusia perseorangan atau hidup bermasyarakat. Misalnya Etika

orang jawa, etika agama Budha, dll.Etika dipakai dalam arti: kumpulan asas

atau nilai moral. Yang dimaksud disini adalah kode etik.c.Etika dipakai

dalam arti: ilmu tentang yang baik atau yang buruk. Arti etika disini sebagai

filsafat moral.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia etika dirumuskan

dalam:1.Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk dan tentang hak

kewajiban moral (akhlak)2.Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan

akhlak3.Nilai mengenai yang benar atau salah yang dianut suatu golongan

atau masyarakat.Etika adalah masalah sifat pribadi yang meliputi apa yang

kita sebut “menjadi orang baik”, tetapi juga merupakan masalah sifat

keseluruhan segenap masyarakat yang tepatnya disebut "ethos"nya. Jadi etika

adalah bagian dan pengertian dari ethos, usaha untuk mengerti tata aturan

sosial yang menentukan dan membatasi tingkah laku kita, khususnya tata

aturan yangfundamental seperti larangan membunuh dan mencuri dan

perintah bahwa orang harus "menghormati orang tuanya" dan menghormati

hak-hak orang lain yang kita sebut moralitas.Hubungan erat antara etika dan

adat sosial ("adat-istiadat" yang mempunyai akar etimologis yang sama

dengan kata "moralitas") mau tidak mau menimbulkan pertanyaan apakah

moralitas adalah adat istiadat masyarakat tertentu, dan apakah etika adalah

suatu hukum tertentu. Jelaslah bahwa etika dan moralitas berkaitan erat sekali

dengan hukum dan adat istiadat/kebiasaan masyarakat.Misalnyadi Indonesia


pada umumnya berpelukan di depan umum ataumencari untung dengan

berlipat-lipat dalam transaksi bisnis dianggap tak bermoral dalam masyarakar

tertentu (Amin, 2017).

Dalam perkembangannya, etika dapat dibagi menjadi dua, etika

perangai dan etika moral. Etika perangai adalah adat istiadat atau kebiasaan

yang menggambarkan perangai (sifat batin manusia yang mempengaruhi

pikiran dan perilaku manusia) manusia dalam hidup bermasyarakat di daerah

dan waktu tertentu. Etika perangai tersebut diakui dan berlaku karena

disepakati masyarakat berdasarkan hasil penilaian perilaku. Contoh etika

perangai adalah1.Berbusana sesuai dengan adat2.Pergaulan remaja didalam

masyarakat tertentu3.Upacara adat.Sementara untuk etika moral berkenaan

dengan kebiasaan berperilaku baik dan benar berdasarkan kodrat manusia.

Apabila etika ini dilanggar, timbullah kejahatan, yaitu perbuatan yang tidak

baik dan tidak benar. Kebiasaan ini berasal dari kodrat manusia yang disebut

moral. Contoh moral adalah berkata dan berbuat jujur; menghormati orang

tua atau guru; menghargai orang lain (Amin, 2017).

2.3 Pengertian Etika Profesi

etika profesi dalah keterampilan seseorang dalam suatu pekerjaan

utama yang diperoleh dari jalur pendidikan atau pengalaman dan

dilaksanakan secara kontinu yang merupakan sumber utama untuk mencari

nafkah. Etika profesi adalah sikap hidup berupa keadilan untuk memberikan

pelayanan profesional terhadap masyarakat dengan ketertiban penuh dan

keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas berupa


kewajiban terhadap masyarakat. profesi tidak dapat dipegang oleh sembarang

orang, akan tetepi memerlukan suatu persiapan melelui pendidikan dan

pelatihan yang dikembangkan khusus untuk itu (Rijal, 2017)

2.4 Fungsi Etika Profesi

Etika profesi sagatlah dibutuhkan dalam berbegai bidang khususnya

bidang teknologi inormasi.kode etik sagat dibutuhkan dalam bidang teknologi

informasi karena kode etik tersebutdapat menentukan apa yang baik dan tidak

baik serta apakah suatu kegiatan yang dilakukan oleh teknologi informasi

tersebutdapat bertanggung jawab atau tidak.pada jaman sekarang banyak

sekali orang di bidang IT menyalah gunakan propesinya untuk merugian

orang lain, contohnya hecker yang sering mencuri uang, password leat

koputer dengan mengukan keahlian mereka. Contoh seperti itu harus di beri

hukuman yang berlaku sesuai dengan kode etik yang telah di sepakati. Dan

banayakpula tindakan kejahatan di internet selain hecker yaitu cracker, dan

lainya oleh sebab itu penguna internet sagat di butuhkan saat ini (Rijal, 2017).

Adapun fungsi dari kode etik profesi adalah :

1. Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip

profesionalitas yang digariskan.

2. Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang

bersangkutan.

3. Mencegah campur tangan pihak diluar organisasi profesi tentang

hubungan etika dalam keanggotaan profesi.


2.5 Perbedaan Etika dan Etiket

Menurut (Amin, 2017) Perbedaan etika dan etiket adalah sebagai berikut :

1. Etika

 Etika menyangkut cara dilakukannya suatu perbuatan sekaligus

memberi norma dari perbuatan itu sendiri

 Etika selalu berlaku, baik kita sedang sendiri atau bersama orang lain

 Etika bersifat absolute

 Etika memandang manusia dari segi dalam

 Orang yang etis tidak mungkin bersifat munafik, sebab orang yang

bersikap etis pasti orang yang sungguh-sungguh baik.

2. Etiket

 Etiket menyangkut cara (tata acara) suatu perbuatan harus dilakukan

manusia

 Etiket hanya berlaku dalam situasi dimana kita tidak seorang diri

(ada orang lain di sekitar kita)

 Etiket bersifat relative

 Etiket memandang manusia dari segi lahiriah saja

 Orang yang berpegang pada etiket bisa juga bersifat munafik

2.6 Asas-Asas Etika Medis

Asas-asas etika medis seperti yang ditemukan dalam Sumpah

Hippokrates dinamakan tradisional. Asas-asas itu sudah berumur lebih dari

pada 24 abad. Asas-asas tradisional ini masih dihormati, namun dalam paruh

kedua abad ini telah hadir sebagai tambahan asas-asas etika medis baru
(kontemporer).Kehadiran asas-asas etika medis baru ini adalah akibat dari

perubahan luar biasa dalam banyak aspek kehidupan manusia di seluruh

dunia setelah Perang Dunia Kedua usai dalam tahun 1945. Perubahan besar

terjadi dalam bidang-bidang politik dan ketatanegaraan, sosial, budaya,

ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, teknologi informasi hak-

hak asasi manusia, gaya hidup, dsb (Amin, 2017). Perubahan-perubahan ini

telah melahirkan asas-asas etika medis kontemporer (masa kini) sebagai

berikut.

1. Asas Menghormati Otonomi Pasien

Otonomi secara umum adalah hak untuk memutuskan sendiri

dalam hal-hal yang menyangkut diri sendiri. Hak otonomi pasien adalah

hak pasien untuk mengambil keputusan dan menentukan sendiri tentang

kesehatan, kehidupan, dan malahan secara ekstrim tentang kematiannya.

Ini berlawanan dengan budaya tradisional Hippokrates, di mana umumnya

dokterlah yang menentukan apa yang dianggapnya paling baik untuk

pasien.Perkembangan hak-hak otonomi sebagai manusia (juga hak-hak

otonomi sebagai pasien) secara berarti baru terjadi sejak paruh kedua abad

kedua puluh.

Beberapa faktor yang memicu dan mempengaruhi perkembangan

itu adalah:

a Deklarasi Universal Tentang Hak-Hak Asasi Manusia yang disahkan

oleh PBB tahun 1948.


b Keberhasilan perjuangan golongan minoritas kulit hitam di Amerika

Serikat menuntut hak-hak sipil yang sama dengan warga negara, kulit

putih.

c Pengakuan hukum atas hak-hak konsumen di negara-negara industri.

d Perkembangan sosial-ekonomi dan tingkat pendidikan masyarakat.

e Perkembangan demokrasi.

f Perkernbangan media masa dan teknologi informasi, yang

mengakibatkan informasi tentang kesehatan, penyakit, dan pengobatan

tidak lagi hanya menjadi monopoli para dokter saja.

g Di negara-negara industri makin marak terjadi tuntutan malpraktik

oleh pasien terhadap dokter dan rumah sakit. Di Amerika, dalam tahun

1970-an orang sampai berbicara tentang krisis malpraktik, karena

seringnya kasus hubungan dokter-pasien berlanjut menjadi sengketa

hukum. Di negara kita sendiri, pasien makin 'berani' menuntut dokter

ke pengadilan, didukung dan mungkin juga didorong oleh para ahli

hukum. Bahkan akhir-akhir ini dunia kedokteran (kesehatan)

digemparkan dengan kasus dokter X dkk yang diduga melakukan

malpraktik tetapi dari hasil keputusan terakhir memutuskan tidak

bersalah.

h Di Indonesia, sejak krisis nasional tahun 1997 terjadi gerakan

reformasi yang menuntut demokratisasi dan diberlakukannya HAM

dalam kehidupan sehari-hari, termasuk hak asasi sebagai pasien.


Dalam perkembangan ilmu kesehatan dalam beberapa decade

terakhir ini hubungan teraupetik sudah mulai muncul kembali hubungan

antara tenaga kesehatan dan pasien seimbang atau sejajar yaitu hubungan

paternalistik. Tidak ada superior dan inferior karena tanpa adanya pasien

atau pasien tidak dapat bekerja sama seorang dokter atau perawat tidak

bisa memaksimalkan pelayanannya.

2. Asas Keadilan (Justice)

Keadilan adalah salah satu pilar utama dalam kehidupan

demokrasi. Asas keadilan lahir dari hak asasi manusia; setiap orang berhak

untuk mendapat pelayanan kesehatan yang adil, karena kesehatan adalah

hak yang sama bagi setiap warga negara. Hak ini dijamin dalam

amendemen UUD tahun 1945.

3. Asas Berkata Benar (Truth Telling, Veracity)

Salah satu ciri hubungan tenaga kesehatan/paramedik dengan

pasien merupakan hubungan kepercayaan. Tenaga kesehatan harus selalu

berkata benar tentang keadaan pasiennya begitu juga pasien salah satu hak

pasien adalah memberikan informasi tentang keadaaan dirinya dengan

sebenar-benarnya. Jangan sampai adanya dalil merahasiakan keadaan

pasien karena untuk menjaga perasaan atau takut terjadi sesuatu yang tidak

diinginkan tentang keadaan pasien.

2.7 Sistematika Etika

Etika secara umum dapat dibagi menjadi etika umum dan etika

khusus. Etika umum berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana


manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan

secara etis, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi

pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolok ukur dalam menilai

baik atau buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat dianalogikan

dengan ilmu pengetahuan, yang membahas, mengenai pengertian umum

dan teori-teori. Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip moral dalam

bidang kehidupan khusus. Penerapan ini bisa berwujud: bagaimana saya

mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan

khusus yang saya lakukan, yang disadari oleh cara, teori dan prinsip-

prinsip moral dasar. Namun, penerapan itu dapat berwujud; bagaimana

saya menilai perilaku pribadi saya dan orang lain dalam suatu bidang

kegiatan dan kehidupan khusus yang dlatarbelakangi oleh kondisi yang

memungkinkan manusia bertindak etis; cara bagaimana manusia

mengambil suatu keputusan atau tindakan, dan teori serta prinsip moral

dasar yang ada di baliknya. Etika khusus dibagi lagi menjadi dua etika

yaitu etika individual dan etika sosial. Etika individual menyangkut

kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. Etika sosial

berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai

anggota umat manusia. Etika sosial menyangkut hubungan manusia

dengan manusia, baik secara perorangan maupun secara bersama dan

dalam bentuk kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), sikap kritis

terhadap pandangan-pandangan dunia dan ideologi, sikap dan pola

perilaku dalam bidang kegiatan masing-masing, maupun tentang


tanggungjawab manusia terhdapa makhluk hidup lainnya, serta alam

semesta pada umumnya (Amin, 2017).

2.8 Pengertian Kode Etik

Kode etik yaitu prinsip-prinsip yang merupakan kesatuan moral yang

melekat pada suatu profesi sesuai kesepakatan organisasi profesi yang

disusun secara sistematis (Sandra Asaolei, 2018),


2.9 Kode Etik ATLM

Dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi/kewajibannya. Ahli teknologi

Laboratorium Kesehatan harus mempunyai sikap dan kepribadian sebagai

berikut :

1. Teliti dan cekatan

2. Jujur dan dapat dipercaya

3. Rasa tanggungjawab yang tinggi

4. Mampu berkomunikasi secara efektif

5. Disiplin

6. Berjiwa melayani

Uraian lengkap mengenai Kode Etik Ahli Teknologi Laboratorium

Kesehatan tercantumkan dalam Ketetapan Munas V PATELKI Nomor

06/MUNAS-V/05-2006 tentang penetapan Kode Etik PATELKI tanggal 22

mei 2006.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Etika profesi atau kode etik sangat berhubungan dengan bidang

pekerjaan tertentu yang berhubungan langsung dengan masyarakat atau

konsumen. Konsep etika tersebut harus disepakati bersama oleh pihak-pihak

yang berada di lingkup kerja tertentu, Misalnya ; Dokter, Jurnalistik, guru dan

profesi lainnya.

Kode etik profesi ini berperan sebagai sistem norma, nilai, dan aturan

professional secara tertulis yang dengan tegas menyatakan apa yang benar

atau baik dan apa yang tidak benar atau tidak baik bagi seorang professional.

Dengan kata lai, kode etik profesi di buat aagar seorang professional

bertindak sesuai dengan aturan dan menghindari tindakan yang tidak sesui

dengan kode etik profesi.


DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Rijal dan Al Imran. 2017. Etika Profesi Programmer Yang Bekerja
Di Bidang Informatika. https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esr
c=s&source=web&cd=5&ved=2ahUKEwirne7hit_kAhWNeisKHSsFC6c
QFjAEegQIBBAC&url=http%3A%2F%2Fwww.unhas.ac.id%2Frhiza%
2Farsip%2Fkuliah%2FETIKA_PROFESI%2FMAKALAH_2017%2F%2
55BETIKA%2520PROFESI%255D%2520Etika%2520Profesi%2520yan
g%2520bekerja%2520dibidang%2520Informatika_ImranRijal.docx&usg
=AOvVaw0lipO3FCyrRwBdvD9cYsH1. Diakses pada tanggal 20
September 2019.
Arief Sidharta. 2015. ETIKA DAN KODE ETIK PROFESI HUKUM.
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=
3&ved=2ahUKEwirne7hit_kAhWNeisKHSsFC6cQFjACegQIAxAC&ur
l=http%3A%2F%2Fjournal.unpar.ac.id%2Findex.php%2Fveritas%2Farti
cle%2Fdownload%2F1423%2F1369&usg=AOvVaw3snsrZbctaPrhEkU4
gPZ2. Diakses pada tanggal 20 September 2019.
Yanuar Amin. 2017. Etika Profesi dan Hukum Kesehatan.
http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wpcontent/uploads/2017/11/Et
ika-Profesi-dan-Hukes-SC.pdf. Diakses pada tanggal 20 September 2019.
Ide, Alexandra, 2012, Etika dan Hukum dalam Pelayanan Kesehatan, Grasia
Publisher, Yogyakarta. Ismani, Nila, 2001, Etika Keperawatan, Widya
Medika, Jakarta.
Sandra Asaolei, 2018. Persepsi Karyawan Tentang Kode Etik Perusahaan (Studi
Kasus Pada PT Astra Internasional Tbk, Daihatsu Cabang Malalayang
Manado). Jurnal Admistrasi Bisnis. Vol. 6 No. 2 Tahun 2018.