Anda di halaman 1dari 15

SAP 4

PEMROSESAN TRANSAKSI DAN PENGENDALIAN INTERNAL

Oleh:

KELOMPOK 4

Muhammad Abyzard Akbar 1707531086

Yorend Fiscienthar 1707531088

Alfredo Samuel N 1707531154

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2018/2019
A. PERLUNYA PENGENDALIAN
1. Pengendalian dan Eksposur

Pengendaian dibutuhkan untuk mengurangi eksposur terhadap risiko. Eksposur tidak


semata mata terjadi karena kurang pengendalian.Pengendalian berguna untuk
mengurangi eksposur,tetapi pengendalian tidak dapat mempengaruhi penyebab
terjadinya eksposur. Eksposur mencakup potensi dampak finansial akibat suatu
kejadian dikalikan dengan resiko terjadinya kejadian tersebut.

a. Eksposur Umum

· Biaya yang Terlalu Tinggi

Setiap pengeluaran yang dibuat oleh suatu organisasi potensial untuk menjadi biaya
yang terlalu tinggi.Harga yang dibayarkan untuk pembelian barang bias saja terlalu
mahal. Produksi bisa saja tidak efisien sehingga menyerap pembelian dan pemakaian
bahan baku dan tenaga kerja yang terlalu banyak. Sehingga biaya yang terlalu tinggi ini
akan mengurangi laba.

· Pendapatan yang Cacat

Biaya piutang tidak tertagih dari penjualan kredit terlalu banyak. Tagihan hilang atau
salah catat sebagai piutang dagang. Penjualan yang telah dibatalkan akibat terlambatnya
pengiriman barang yang dipesan. Sehingga pendapatan yang cacat ini akan menjadi
pendapatan yang terlalu rendah dan tentu akan mengurangi laba.

· Kerugian Akibat Kehilangan Aktiva

Aktiva dapat hilang akbiat pencurian,tindakan kekerasan,atau bencana alam. Kas,


bahan baku, atau peralatan dapat rusak atau salah penempatan, ini bisa terjadi ssebagai
akibat kecerobohan karyawan ataupun tindakan tidak disengaja. Setiap organisasi harus
menjaga setiap aktiva yang dimiliki yang memiliki peluang untuk hilang.

· Akuntansi yang Tidak Akurat

Kebijakan dan prosedur akutansi dapat salah,tidak tepat atau secara signifikan berbeda
dari yang diterima umum. Kesalahan ini dapat mencakup kesalahan penilaian transaksi,
kesalahan waktu pencatatan transaksi, atau kesalahan klasifikasi transaksi. Dampak
kesalahan dapat berakibat pada informasi yang tidak akurat guna pengambilan
keputusan.

· Interupsi Bisnis

Interupsi bisnis bisa mencakup penghentian sementara suatu operasi bisnis,penghentian


permanen atas operasi suatu bisnis, atau penutupan usaha.

· Sanksi Hukum

Sanksi hukum mencakup denda yang dikenakan oleh pengadilan atau badan legal yang
memiliki wewenang atas organisasi dan operasi perusahaan. Penghentian kegiatan
bisnis bisa saja terjadi sebagai hukuman dari lembaga pemerintah jika perusahaan
melakukan perbuatan yang melanggar hukum.

· Ketidakmampuan untuk Bersaing

Ketidakmampuan ini dapat terjadi sebagai akibat kombinasi berbagai eksposur yang
telah dibahas dan bisa juga sebagai akibat ketidakefetifan keputusan manajer.

· Kecurangan dan Pencurian

Kecurangan merupakan kesengajaan untuk memutarbalikkan kebenaran dengan tujuan


untuk mempengaruhi pihak lain untuk menyerahkan sesuatu yang
berharga.Kecurangan dan pencurian dapat dilakukan pihak eksternal maupun pihak
internal.

 Kecurangan dan Kejahatan Kerah Putih

Ada tiga bentuk kejahatan kerah putih:

 Karyawan mencuri harta kekayaan perusahan untuk kepentingan


pribadi.
 Pencurian harta kekayaan perusahaan oleh karyawan yang
berkolusi dengan pihak luar.
 Kecurangan manajemen terkait dengan penyalahgunaan aset
atau manajemen salah interpretasi terhadap aset.
 Kecurangan Manajemen
 Kecurangan manajemen meliputi penyalahgunaan atau
kesalahan interpretasi terhadap aset baik oleh karyawan maupun pihak
ketiga diluar perusahaan atau keduanya.Manajemen merupakan pihak
yang bertanggungjawab untuk membangun pengendalian didalam
organisasi. Sehingga manajemen tidak menjadi subjek dari
pengendalian tersebut. Oleh karena itu, kecurangan oleh manajemen
jarang terdeteksi dibandingkan dengan kecurangan oleh karyawan.
 Pelaporan Keuangan yang Menyesatkan
 Adalah tindakan sengaja atau tidak sengaja,sebagai
akibat niat hati atau kekhilafan yang menyebabkan informasi dalam
laporan keuangan secara material menggangu pengambilan keputusan.
 Kejahatan Korporat
 Merupakan kejahatan kerah putih yang menguntungkan
suatu perusahaan atau organisasi dan bukan hanya menguntungkan
individu tertentu yang melakukan kecurangan. Contoh kejahatan
perusahaan adalah pembebanan tagihan yang berlebihan kepada
pemerintah federal oleh pengembang dan perilaku buruk pada saat
penjualan surat berharga pemerintah oleh perusahaan broker
b. Akuntansi Forensik

Merupakan salah satu dari beberapa istilah yang biasa digunakan untuk
menggambarkan aktivitas seseorang yang bertugas mencegah dan mendeteksi
kecurangan.

- Tingkat Keseriusan Kecurangan

Tiga jenis kecurangan yang paling mahal adalah pelanggaran rahasia paten,kecurangan
kartu kredit,dan laporan keuangan palsu.Masing masing kasus dari ketiga kasus
tersebut melibatkan kerugian lebih dari $1 juta.Pada sebagian besar kasus,kecurangan
ditemukan melalui pengendalian internal.Dua metode lain yang paling sering berhasil
untuk mengunggkapkan kecurangan adalah tinjauan auditor internal dan investigasi
oleh manajemen.

- Pemrosesan Komputer dan Eksposur


Sebagian aspek dari pemrosesan kompuer meningkatkan resiko atau potensi kerugian
dalam organisasi,tidak peduli apakah pemrosesan computer digunakan di perusahaan
ataupun tidak. Aspek lain dari pemrosesan komputer memicu lahirnya suatu eksposur
baru.

- Aktiva Pemrosesan Data

Peralatan mainframe computer mrupakan aktiva yg cukup mahal dan membutuhkan


lingukan khusus untuk memastikan mainframe tersebut dapat beroperasi secara efisien.
Akses yang terbatas harus menjadi pertimbangan utama. Pintu akses masuk ke lokasi
sistem komputer seharusnya sedikit saja. Cara untuk membatasi akses ke lokasi
komputer bisa dilakukan dengan cara antara lain pintu yang terkunci dengan program
tertentu, penjaga keamanan, dan cctv

c. Tujuan Pengendalian dan Siklus Transaksi

Pengendalian berguna untuk mengurangi eksposur. Analisis eksposur dalam suatu


organisasi sering berhubungan dengan konsep siklus transaksi. Ada empat siklus
aktivitas transaksi bisnis, yaitu:

· Siklus pendapatan : Kejadian yg terkait dengan distribusi barang dan jasa ke


entitas lain dan penagihan atas pembayaran yg terkait dengan distribusi barang dan jasa.

· Siklus pengeluaran : Kejadian yag terkait dengan akusisi barang dan jasa dari
entitas lain dan pelunasan kewajiban terkait dengan akuisisi tersebut.

· Siklus produksi : Kejadian yang terkait dengan transformasi bahan baku


menjadi barang dan jasa.

· Siklus keuangan : Kejadian yang terkait dengan akuisisi dan pengelolaan dana
dan modal termasuk kas.

Manajemen harus mengembangan secara detail tujuan pengendalian untuk setiap siklus
transaksi. Tujuan pengendalian ini menjadi dasar untuk analisis.
TUJUAN PENGENDALIAN

Siklus Pelanggan harus diotorsisasi sesuai dengan kriteria yang ditetapkan


Pendapatan manajemen.

Harga dan termin barang dan jasa yang dijual harus diotorisasi sesuai
dengan kriteria yang ditetapkan manajemen

Semua pengiriman barang dan jasa harus diikuti dengan penagihan ke


pelanggan.

Tagihan ke pelanggan harus akurat dan dengan cepat diklasifikasikan,


diringkas, dan dilaporkan

Siklus Vendor harus diotorisasi sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh
Pengeluaran manajemen.

Karyawan yang direkrut harus sesuai dengan kriteria manajemen.

Akses terhadap catatan personalia, catatan penggajian, dan catatan


potongan gaji hanya diberikan pada pihak tertentu sesuai dengan
kritria manajemen.

Tarif kompensasi&potongan gaji harus diotorisasi sesuai dgn kriteria


manajemen.

Jumlah terutang ke vendor harus akurat dan harus segera


dikelompokkan, diringkas, dan dilaporkan.

Siklus Rencana produksi harus diotorisasi sesuai dengan kriteria


Produksi manajemen.

Harga pokok produksi harus akurat dan harus segera dikelompokkan,


diringkas, dan dilaporkan.

Siklus Jumlah dan waktu transaksi utang harus diotorisasi sesuai dg kriteria
Keuangan manajemen.
Akses atas kas dan surat berharga hanya diberikan pada pihak tertentu
sesuai dengan kritria manajemen.

B. KOMPONEN PROSES PENGENDALIAN INTERNAL

Pengendalian internal merupakan satu proses yang dipengaruhi oleh dewan direksi
perusahaan, manajemen, dan personel lain yang dirancang untuk memberikan jaminan
yang masuk akal terkait dengan tercapainya tujuan berikut:

1. Reliabilitas pelaporan keuangan,


2. efektivitas dan efisiensi operasi, dan
3. kesesuaian dengan peraturan dan regulasi yang berlaku

Proses pengendalian internal suatu organisasi terdiri dari lima elemen, yaitu:

1. Lingkungan Pengendalian
2. Penaksiran Resiko
3. Aktivitas Pengendalian
4. Informasi dan Komunikasi
5. Pengawasan

Konsep pengendalian internal didasarkan pada dua premis utama, yaitu:

1. Tanggung Jawab, terkait dengan tanggung jawab manajemen dan dewan direksi
untuk membangun dan memelihara proses pengendalian internal.
2. Jaminan yang Masuk Akal, terkait dengan relativitas biaya dan manfaat suatu
pengendalian.

Pengaruh Eksternal yang Terkait dengan Entitas dan Pengendalian Internal

FCPA ( Federal Foreign Corrupt Practices Act) tahun 1977 merupakan satu persyaratan
legal yang menjadi pertimbangan banyak organisasi. Pelanggaran terhadap peraturan
ini dapat mengakibatkan hukuman denda dan kurungan. Bagian 102 dari FCPA
mensyaratkan semua perusahaan yang menjadi subjek dari Securities Exchange Act
tahun 1934 untuk:
A. Membuat dan memelihara buku catatan, dan rekening yang cukup detail dan
merefleksikan transaksi dan karakteristik aktiva secara akurat dan wajar.
B. Mengembangkan dan memelihara sistem pengendalian akuntansi internal yang
dapat memberikan jaminan yang masuk akal bahwa:
1. Transaksi dilaksanakan sesuai dengan otorisasi manajemen, khusus maupun
umum
2. Transaksi dicatat guna (i) memudahkan penyajian laporan keuangan agar sesuai
dengan prinsip akuntansi yang diterima umum atau kriteria lain yang dapat diterapkan
dan (ii) memelihara akuntabilitas aktiva.
3. Akses terhadap aktiva hanya diizinkan sesuai dengan otorisasi manajemen, baik
otorisasi khusus maupun umum
4. Akuntabilitas aktiva yang tercatat dibandingkan dengan aktiva yang saat ini ada
pada rentang yang cukup rasional, dan tindakan yang tepat perlu diambil terkait dengan
perbedaan nilai yang ditemukan.

C. PENGENDALIAN PEMROSESAN TRANSAKSI

Pengendalian yang berkaitan langsung dengan siklus transaksi disebut pengendalian transaksi
(transection control) atau pengendalian aplikasi/penerapan (application control). Tujuan
menyeluruh dari pengendalian transaksi adalah untuk memberi jaminan yang memadai bahwa
semua transaksi diotorisasi dengan tepat dan dicatat, diklasifikasikan, diproses, dan dilaporkan
secara akurat. Dalam pembagian lebih rinci selanjutnya, setiap siklus transaksi mempunyai
“sub-tujuan” pengendaliannya sendiri. Misalnya, sub-tujuan siklus transaksi pendapatan adalah
untuk memberikan jaminan yang memadai bahwa pelanggan, harga, dan persyaratan kredit
telah mendapat otorisasi; bahwa pesanan khusus disetujui dan dikirimkan pada waktunya;
bahwa pengiriman dicatat pada rekening, diklasifikasikan secara tepat; bahwa penerimaan kas
dicatat, diklasifikasikan, disetorkan, dan diperlihatkan dalam perkiraan pelanggan
sebagaimana mestinya; bahwa semua rekening dan penerimaan kas diikhtisarkan dengan tepat
dalam perkiraan buku besar dan tercermin dalam laporan keuangan; dan bahwa prosedur
penagihan piutang yang efektif telah dilaksanakan.

1. Pengendalian Masukan
Transaksi harus dicatat secara akurat, lengkap, dan segera sesudah transaksi terjadi; artinya,
jumlah yang tepat harus tertera pada perkiraan yang bersesuaian dan dalam periode akuntansi
pada saat mana transaksi tersebut terjadi. Pengendalian khusus yang diterapkan guna mencapai
tujuan yang berupa masukan :

a. Pemeriksaan visual (visual check) merupakan tinjauan ulang atau edit yang dilakukan
oleh karyawan klerikal terhadap data yang masuk. Misalnya, klerk pesanan penjualan
biasanya meninjau kembali pesanan yang diterima dari para pelanggan guna memeriksa
semua data yang diperlukan dan keabsahan kode barang dagang atau produk
b. Dokumen sumber yang dirancang dengan baik memberikan dorongan untuk mencatat
data transaksi secara lengkap dan akurat dengan tersedianya instruksi dan label yang
jelas, ruang pencatatan yang memadai, dan sebagainya. Salah satu aspeknya adalah
penomoran terlebih dahulu secara berurutan (sequential prenumbering). Dokumen
yang telah dinomori, seperti faktur penjualan yang telah dinomori, memungkinkan
identifikasi transaksi secara cepat. Karena itu penomoran terlebih dahulu membantu
penempatan jejak audit yang jelas. Pemeriksaan semua nomor secara berurutan juga
memungkinkan penemuan atas dokumen transaksi tertentu yang hilang atau tertunda
dalam pemrosesan. Aspek penting lainnya dari banyak dokumen sumber adalah
tersedianya tempat untuk tanda tangan pengotorisasian.
c. Register dokumen merupakan daftar untuk dokumen sumber yang masuk yang
selanjutnya akan digunakan sebagai bahan acuan pemeriksaan setelah dokumen selesai
diproses. Register ini memperkuat aspek dokumen sumber yaitu penomoran terlebih
dahulu. Contohnya : register jurnal penerimaan kas dan register faktur pemasok
d. Pita yang terkendali (controlled tapes), seperti yang terdapat dalam register kas,
merupakan catatan semua transaksi yang tahan/terlindung terhadap pengrusakan.
Karena pita ini biasanya dibandingkan dengan penerimaan kas yang sesungguhnya,
maka hal ini mendorong penanganan transaksi kas secara teliti oleh klerk penjualan
atau kasir.
e. Kode perkiraan, yang ditentukan dalam bagan perkiraan, menyederhanakan pencatatan
transaksi dan mengalirkan data ke dalam prosedur pemrosesan yang semestinya.

2. Pengendalian Pemrosesan (Processing Control)


Data transaksi harus dimasukkan ke dalam prosedur pemrosesan dan diproses secara
akurat dan lengkap. Pengendalian khusus untuk pemrosesan meliputi “tindakan
berdokumentasi”, verifikasi, batch total, dan rekonsiliasi.
a. Tindakan berdokumentasi (documented action) merupakan tindakan yang mengakui
tanggung gugat atas pelaksanaan. Misalnya, prosedur pesanan penjualan mungkin akan
mengharuskan klerk bagian pengiriman untuk menyiapkan nota pengiriman setiap kali
barang dikirimkan. Dengan menandatangani nota tersebut, klerk yang bersangkutan
mengakui tanggung gugat atas setiap ketidakwajaran dalam pengiriman. Contoh
lainnya adalah prosedur siklus pengeluaran yang mungkin menetapkan bahwa kotak
Vouching harus diparaf untuk setiap faktur pemasok yang diterima. Setelah memeriksa
faktur, klerk akuntansi diharapkan mencatat inisial namanya pada kotak tersebut.
Dengan demikian, klerk tersebut mengakui tanggung gugat atas penyimpangan atau
kekeliruan yang mungkin akan ditemukan.
b. Verifikasi, merupakan pemeriksaan yang dilakukan oleh seorang karyawan atau lebih
terhadap pekerjaan karyawan lainnya. Misalnya, seorang klerk departemen rekening
dapat memeriksa perhitungan pada faktur penjualan sebelum faktur tersebut dikirim
kepada para langganan. Penyelia departemen buku besar umum dapat memeriksa
pemrosesan yang dilaksanakan selama satu hari oleh klerk buku besar umum. Verifikasi
biasa juga dilakukan oleh peralatan otomatis. Misalnya, mesin hitung diperlengkapi
sedemikian rupa sehingga dapat memeriksa keakuratan pemrosesan transaksi.
c. Total tumpuk (batch totals) merupakan kendali yang sangat diperlukan apabila
transaksi diproses dalam numpuk (sekumpulan transaksi atau tumpukan dokumen
diproses serentak). Sebelum pemrosesan dilakukan, pertama dilakukan akumulasi atas
data-data penting dari kumpulan dokumen transaksi yang baru dicatat. Kemudian,
selama atau setiap tahap pemrosesan numpuk selesai, nilai atau data yang sejenis
dijumlahkan. Jika jumlahnya sama, maka ada jaminan yang cukup kuat bahwa semua
transaksi telah diproses secara akurat dan bahwa tidak ada catatan transaksi yang hilang.
Misalnya, klerk rekening dapat mengakumulasi jumlah rekening yang dapat tercantum
pada sekumpulan faktur penjualan yang baru disiapkan, jumlah ini kemudian
dibandingkan dengan jumlah keseluruhan nilai rekening yang diposisikan ke catatan
masing-masing pelanggan pada dapartemen piutang usaha. Jika kedua jumlah tersebut
sama, maka kita bisa berkeyakinan kuat bahwa jumlah rekening rekening telah
diposisikan secara lengkap dan akurat. Sebaliknya, selisih di antara keduanya akan
menunjukkan bahwa, (1) telah terjadi kesalahan dalam pemosan, (2) ada transaksi yang
belum diposkan, dan (3) ada kesalahan dalam menghitung penjumlahan yang terdahulu
(batch total). Mekanisme yang sama dapat diterapkan dalam mengendalikan pemosan
sekumpulan penerimaan kas.
d. Rekonsiliasi merupakan perbandingan antara data yang diperoleh dari beberapa sumber
yang independen. Hal ini dilakukan untuk menemukan kesalahan atau kekeliruan dalam
pemrosesan. Salah satu jenis rekonsiliasi yang diperlihatkan dalam prosedur batch total
di atas, menyangkut pembandingan antara dua jumlah yang dihitung secara terpisah.
Contoh lain dalam kategori ini meliputi, (1) penggunaan neraca saldo untuk
membandingkan saldo debet dan saldo kredit perkiraan yang ada dan (2) rekonsiliasi
antara jumlah keseluruhan saldo perkiraan pembantu dengan saldo yang terdapat
perbendaraan pengendali.
Contoh : rekonsiliasi bank dimana semua pemegang rekening koran bank harus
merekonsiliasi pembukuannya terhadap saldo perkiraan bank. Format yang paling
efektif yang memungkinkan pengendalian atas transaksi kas dan saldo pembukuan
secara serentak, terdiri dari empat kolom dengan kegunaan sebagai berikut:
1. Rekonsiliasi antara saldo perkiraan bank dengan saldo kas dalam perkiraan buku
besar umum untuk awal periode akuntansi
2. Rekonsiliasi antara semua deposito atau setoran yang disampaikan ke bank selama
periode tersebut dengan jumlah penerimaan yang sama juga
(3) Menjamin bahwa prosedur akan diikuti dengan lebih cermat, konsisten, dan efisien.
Dokumentasi yang memadai meliputi hal-hal berikut :
(1) Pernyataan kebijakan
(2) Bagan organisasi dan uraian pekerjaan yang merinci jalur kewenangan serta
tugas dan tanggungjawab yang diemban
(3) Buku pedoman tentang prosedur yang berisikan bagan aruss serta uraian
penjelasan mengenai semua tipe prosedur transaksi akuntansi yang diantisipasi;
dalam buku pedoman tersebut juga harus dicantumkan salinan dari semua
dokumen sumber dan catatan yang digunakan dalam prosedur, dengan perintah
agar diarsip dalam dokumen dan catatan
(4) Bagan perkiraan yang menentukan perkiraan yang diperlukan untuk mencatat
dan mengklasifikasikan semua transaksi yang diantisipasi.
(5) Jejak audit (audit trail) yang terdiri dari kode referensi dan bukti documenter
lainnya yang terdapat dalam jurnal dan buku besar; jejak audit tersebut harus
lengkap dan jelas, memungkinkan akuntan dan pihak lain untuk melacak
transaksi sampai ke laporan keuangan atau dari laporan keuangan kembali ke
dokumen sumber.
Cara pengamanan. Aktiva seperti kas dan data harus dilindungi secara fisis
dengan membatasi akses agar aktiva tersebut tidak hilang atau dicuri. Cara
pengamanan yang ikut membatasi akses meliputi satuan pengamanan, register
kas yang terkunci, kotak terkunci, pagar, alarm tanda pencurian, dan pantauan
televisi pada sirkit tertutup. Penyeliaan (supervision) yang intim dan dilakukan
oleh penyelia yang bertanggungjawab juga merupakan cara yang efektif.
Misalnya, petugas surat pos mempunyai akses untuk menguangkan bukti
penerimaan kas selama jam tugas. Apabila penyelia surat pos mengamati secara
cermat pembukaan tercatat dalam jurnal penerimaan kas.
3. Rekonsiliasi antara semua pengambilan uang dari bank selama periode tersebut
dengan jumlah keseluruhan cek yang tercatat dalam jurnal pengeluaran kas
4. Rekonsiliasi antara saldo perkiraan bank dengan saldo kas dalam buku besar umum
untuk akhir periode akuntansi
3. Pengendalian Keluaran (Output Controls).
Keluaran yang dihasilkan oleh system informasi harus lengkap, terpercaya/dapat
diandalkan, dan disampaikan kepada pemakai yang berkepentingan. Kendali keluaran
yang terutama terdiri dari tinjauan ulang (riview) dan daftar pemakai (distributorlogs).
I. Tinjauan ulang mirip dengan verifikasi kecepatan dalam hal personel yang
melakukannya. Tinjauan ulang biasanya dilakukan oleh pegawai yang terlibat
dalam pemrosesan transaksi. Auditor internal dapat meninjau kembali laporan cek
dan bank apabila telah dikembalikan oleh bank (di Indonesia cek tidak
dikembalikan oleh bank). Para kreditur meninjau laporan keuangan dan perkiraan-
perkiraan penting sebelum memberikan kredit. Auditor eksternal juga mengkaji
laporan keuangan serta semua aspek system pengendalian internal sebelum
mengemukakan pendapat professional mereka secara tertulis.
II. Daftar distribusi (distribution logs) merupakan daftar dari orang-orang yang telah
ditetapkan akan menerima laporan. Karena itu, daftar tersebut berguna sebagai
pedoman dalam menyampaikan laporan kepada orang yang berkepentingan.
Pembagian laporan yang sesungguhnya akan dicatat dalam daftar tersebut.
D. ANALISIS PROSES PENGENDALIAN INTERNAL

Analisis proses pengendalian internal memerlukan pemahaman mengenai proses pada saat
proses tersebut dirancang serta pada saat proses tersebut telah dijalankan. Proses aktual bisa
sesuai atau tidak sesuai dengan ekspektasi. Dokumentasi bisa saja tidak lagi sesuai, dan
struktur bisa saja menurut prosesdur yang baru. Prosedur bisa saja diubah secara informal untuk
disesuaikan dengan kondisi yang tidak diketahui pada saat sistem dirancang dan
didokumentasikan.

Proses pengendalian internal secara rutin mengumpulkan informasi mengenai pelaksanaan


tugas-tugas, transfer otoritas, persetujuan, dan verifikasi. Dokumentasi tugas pengendalian
internal ini harus dievaluasi untuk menentukan reliabilitas operasi sistem.

Realibilitas tergantung pada orang yang mengadministrasi prosedur pengendalian internal.


Merancang proses pengendalian internal hanya satu bagian dari masalah, tugas pengendalian
internal perlu dijalankan sesuai dengan apa yang telah dirancang sejak semula.

Ada beberapa alasan mengapa pengendalian internal tidak teradministrasi. Karyawan baru atau
karyawan yang berpengalaman tidak memahami tugas mereka. Lalu akibatnya pengendalian
internal tidak dilakukan (seperti menghitung dokumen) dengan tujuan meningkatkan
produktivitas kerja.

a. Teknik Analitik

Kuisioner pengendalian internal merupakan salah satu teknik analitik yang biasa digunakan
dalam pengendalian internal. Kuisioner pengendalian internal menjadi elemen utama dalam
suatu program audit. Kuisioner ini sering menjadi formulir standar di kantor akuntan publik,
departemen audit internal, dan organisasi lain yang terlibat pengendalian internal. Kuisioner
tersedia untuk meninjau ulang area aplikasi tertentu dan juga untuk meninjau bagian tertentu ,
seperti audit pusat komputer. Analisis bisa saja merancang suatu kuisioner khusus untuk audit
tertentu, atau bisa juga memodifikasi kuesioner standar supaya cocok dengan kebutuhan audit.

Flowchart analitik juga bisa digunakan dalam analisis pengendalian internal, khususnya jika
analisis tersebut melibatkan aplikasi sistem komputer. Pembuatan flowchart bukan suatu
bentuk analisis terstruktur, tetapi flowchart lebih merupakan alat bantu untuk mengorganisasi
data untuk menjalankan analitis
Matriks pengendalian aplikasi berguna sebagai formulir analisis yang relevan dengan tinjauan
pengendalian internal internal suatu sistem informasi. Matriks pengendalian aplikasi
merupakan sebuah formulir terstruktur untuk analisis yang berhubungan dengan pengendalian
aplikasi dari sistem informasi
DAFTAR PUSTAKA
A. Hall, James. 2009. Sistem Informasi Akuntansi. Jakarta : Salemba Empat
https://www.academia.edu/29430022/Pemrosesan_Transaksi_dan_Proses_Pengendalian_inter
nal