Anda di halaman 1dari 24

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH I

“ Penyakit Paru Obstruktif Kronik”

KELOMPOK 4

1. Oktaghina Jennisya (173110259)

2. Pelia Peltresia (173110260)

3. Putri Prihandini (173110261)

4. Rahmatul Husni (173110262)

5. Raisatul Mahmudah (173110263)

6. Reza Al - Habib (173110264)

7. Rindang Valya Shaqquilla (173110265)

8. Riska Oktaviani (173110266)

II.C

Dosen Pembimbing :

Ns. Netti, S. Kep, M.Pd


POLTEKKES KEMENKES RI PADANG

D - III KEPERAWATAN PADANG

2018

BAB I

A. Latar Belakang

Penyakit Paru Obstruktif Kronik yang biasa dikenal sebagai PPOK merupakan
penyakit kronik yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara dalam saluran napas
yang tidak sepenuhnya reversibel dan biasanya menimbulkan obstruksi. Gangguan
yang bersifat progresif (cepat dan berat) ini disebabkan karena terjadinya Radang
kronik akibat pajanan partikel atau gas beracun yang terjadi dalam kurun waktu yang
cukup lama dengan gejala utama sesak napas, batuk, dan produksi sputum dan
keterbatasan aktifitas.
PPOK merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit
paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai dengan peningkatan resistensi terhadap
aliran udara sebagai gambaran patofisiologi yang utama.
Penyakit paru obstruksi kronik adalah klasifikasi luas dari gangguan yang
mencakup bronkitis kronik, bronkiektasis, emfisema dan asma, yang merupakan
kondisi ireversibel yang berkaitan dengan dispnea saat aktivitas dan penurunan aliran
masuk dan keluar udara paru-paru.

Penyakit paru obstruksi kronik adalah kelainan paru yang ditandai dengan
gangguan fungsi paru berupa memanjangnya periode ekspirasi yang disebabkan oleh
adanya penyempitan saluran napas dan tidak banyak mengalami perubahan dalam
masa observasi beberapa waktu.

B. Tujuan

1) Tujuan Umum
Mengetahui tentang penyakit paru obstruktif kronik

2) Tujuan Khusus

(1) Mengetahui defenisi penyakit paru obstruktif kronik

(2) Mengetahui etiologi penyakit paru obstruktif kronik

(3) Mengetahui manifestasi klinik penyakit paru obstruktif kronik

(4) Mengetahui patofisiologi penyakit paru obstruktif kronik

(5) Mengetahui WOC penyakit paru obstruktif kronik

(6) Mengetahui komplikasi penyakit paru obstruktif kronik

(7) Mengetahui diagnostik penyakit paru obstruktif kronik

(8) Mengetahui penatalaksanaan penyakit paru obstruktif kronik

(9) Mengetahui Asuhan Keperawatan pada penyakit paru obstruktif kronik

BAB II

A. Konsep Dasar Medik

1) Defenisi

Istilah Penyakit Paru Obstruktif kronik (PPOK) atau Chronic Obstructive


Pulmonary (COPD) ditujukan untuk mengelompokan penyakit yang mempunyai
gejala berupa terhambatnya arus udara pernapasan. Istilah ini mulai dikenal pada
akhir 1950-an dan permulaan tahun 1960-an. Masalah yang menyebabkan
terhambatnya arus udara tersebut bisa terletak pada parenkim paru. Kelompok
penyakit yang dimaksud adalah bronkitis kronik (masalah paad saluran pernapasan),
emfisema (masalah pada parenkim). Ada beberapa ahli yang menambahkan kedalam
kelompok ini, yaitu asma bronkial kronik, fibrosis kistik dan bronkiektasis. Secara
logika penyakit asma bronkial seharusnya dapat digolongkan kedalam golongan arus
napas yang terhambat, tetapi pada kenyataannya tidak dimasukan kedalam golongan
PPOK.
Suatu kasus obstruksi aliran udara ekspirasi dapat digolongkan sebagai PPOK
jika obstruksi aliran udara ekspirasi tersebut cenderung progesif. Kedua penyakit tadi
(bronkitis kronik,dan emfisema) hanya dapat dimasukan kedalam kelompok PPOK
jika keparahan penyakitnya akan berkanjut dan obstruksinya bersifat progesif. Pada
fase awal, kedua penyakit ini belum dapat digolongkan kedalam PPOK.
Jika dilakukan pemerikasaan patologik pada pasien yang mengalami obstruksi
saluran napas, diagnosis patologiknya ternyata sering berbeda satu sama lain.
Diagnosis patologik tersebut dapat berupa enfisema sebesar 68%, bronkitis 66%
sedangkan bronkiolitis sebesar 41%. Jadi dapat disimpulkan bahwa kelainan patologik
yang berbeda menghasilkan gejala klinik yang serupa.

2) Etiologi

Terdapat beberapa faktor risiko yang meningkatkan peluang terkena Penyakit Paru
Obstruktif Kronik ( PPOK) :
1. Polusi udara termasuk bahan bakar biomassa yang digunakan untuk memasak,
atau polutan di tempat kerja, seperti debu dan bahan kimia, dapat juga
menyebabkan semakin parahnya penyakit.
2. Merokok adalah faktor risiko utama dalam mayoritas kasus Penyakit Paru
Obstruktif Kronik (PPOK). Ini menyebabkan kerusakan dan peradangan
lapisan saluran udara paru-paru.
3. Mereka yang kurang protein tertentu (alpha-1 antitrypsin), yang berperan untuk
melindungi paru-paru, memiliki risiko yang lebih besar untuk mengembangkan
emfisema.
4. Mereka yang menderita infeksi respiratori reguler selama masa kanak-kanak,
lebih cenderung mengembangkan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

3) Manifestasi Klinik

Batuk merupakan keluhan pertama yang biasanya terjadi pada pasien


PPOK. Batuk bersifat produktif, yang pada awalnya hilang timbul lalu kemudian
berlangsung lama dan sepanjang hari. Batuk disertai dengan produksi sputum yang
pada awalnya sedikit dan mukoid kemudian berubah menjadi banyak dan purulen
seiring dengan semakin bertambahnya parahnya batuk penderita.
Penderita PPOK juga akan mengeluhkan sesak yang berlangsung lama, sepanjang
hari, tidak hanya pada malam hari, dan tidak pernah hilang sama sekali, hal ini
menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas yang menetap. Keluhan sesak inilah yang
biasanya membawa penderita PPOK berobat ke rumah sakit. Sesak dirasakan
memberat saat melakukan aktifitas dan pada saat mengalami eksaserbasi akut
Gejala-gejala umum PPOK yaitu:
1) Denyut jantung abnormal
2) Sesak napas
3) Henti nafas atau nafas tidak teratur dalam aktivitas sehari-hari.
4) Kulit, bibir atau kku menjadi biru.
5) Batuk menahun, atau disebut juga 'batuk perokok' (smoker cough)
6) Batuk berdahak (batuk produktif)
7) Kelemahan badan
8) Wheezing
9) Ekspirasi memanjangkelemahan badan
10) Produksi sputum bertambah
11) Sputum putih atau mukoid, jika ada infeksi menjadi purulen atau
mukopurulen
PPOK ringan seringkali tidak menimbulkan gejala atau keluhan apapun.PPOK
disebabkan oleh 2 jenis penyakit yaitu Bronkitis Kronik dan Emfisema. Kedua
penyakit ini dapat terjadi bersamaan atau hanya salah satu saja. Gejala dan tanda PPOK
sangat bervariasi, mulai dari tanpa gejala, gejala ringan hingga berat. Pada pemeriksaan
fisis tidak ditemukan kelainan sampai kelainan jelas dan tanda inflasi paru.
1) Riwayat merokok atau bekas perokok dengan atau tanpa gejala pernapasan
2) Riwayat terpajan zat iritan yang bermakna di tempat kerja
3) Riwayat penyakit emfisema pada keluarga
4) Terdapat faktor predisposisi pada masa bayi/anak, mis berat badan lahir
rendah (BBLR), infeksi saluran napas berulang, lingkungan asap rokok dan
polusi udara
5) Batuk berulang dengan atau tanpa dahak
6) Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi (ngik-ngik)

4) Patofisiologi

Saluran napas dan paru berfungsi untuk proses respirasi yaitu pengambilan oksigen
untuk keperluan metabolisme dan pengeluaran karbondioksida dan air sebagai hasil
metabolisme. Proses ini terdiri dari tiga tahap, yaitu ventilasi, difusi dan perfusi.
Ventilasi adalah proses masuk dan keluarnya udara dari dalam paru. Difusi adalah
peristiwa pertukaran gas antara alveolus dan pembuluh darah, sedangkan perfusi adalah
distribusi darah yang sudah teroksigenasi. Gangguan ventilasi terdiri dari gangguan
restriksi yaitu gangguan pengembangan paru serta gangguan obstruksi berupa
perlambatan aliran udara di saluran napas. Parameter yang sering dipakai untuk melihat
gangguan restriksi adalah kapasitas vital (KV), sedangkan untuk gangguan obstruksi
digunakan parameter volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1), dan rasio volume
ekspirasi paksa detik pertama terhadap kapasitas vital paksa (VEP1/KVP) (Sherwood,
2001).
Faktor risiko utama dari PPOK adalah
merokok. Komponen-komponen asap rokok merangsang perubahan pada sel-sel
penghasil mukus bronkus. Selain itu, silia yang melapisi bronkus mengalami
kelumpuhan atau disfungsional serta metaplasia. Perubahan-perubahan pada sel-sel
penghasil mukus dan silia ini mengganggu sistem eskalator mukosiliaris dan
menyebabkan penumpukan mukus kental dalam jumlah besar dan sulit dikeluarkan dari
saluran napas. Mukus berfungsi sebagai tempat persemaian mikroorganisme penyebab
infeksi dan menjadi sangat purulen. Timbul peradangan yang menyebabkan edema
jaringan. Proses ventilasi terutama ekspirasi terhambat. Timbul hiperkapnia akibat dari
ekspirasi yang memanjang dan sulit dilakukan akibat mukus yang kental dan adanya
peradangan (GOLD, 2009).
Komponen-komponen asap rokok juga merangsang terjadinya peradangan kronik
pada paru.Mediator-mediator peradangan secara progresif merusak struktur-struktur
penunjang di paru. Akibat hilangnya elastisitas saluran udara dan kolapsnya alveolus,
maka ventilasi berkurang. Saluran udara kolaps terutama pada ekspirasi karena
ekspirasi normal terjadi akibat pengempisan (recoil) paru secara pasif setelah
inspirasi. Dengan demikian, apabila tidak terjadi recoil pasif, maka
udara akan terperangkap di dalam paru dan saluran udara kolaps.
Berbeda dengan asma yang memiliki sel inflamasi predominan berupa eosinofil,
komposisi seluler pada inflamasi saluran napas pada PPOK predominan dimediasi oleh
neutrofil. Asap rokok menginduksi makrofag untuk melepaskan Neutrophil
Chemotactic Factors dan elastase, yang tidak diimbangi dengan antiprotease, sehingga
terjadi kerusakan jaringan. Selama eksaserbasi akut, terjadi perburukan pertukaran gas
dengan adanya ketidakseimbangan ventilasi perfusi. Kelainan ventilasi berhubungan
dengan adanya inflamasi jalan napas, edema, bronkokonstriksi, dan hipersekresi
mukus.Kelainan perfusi berhubungan dengan konstriksi hipoksik pada arterio.

5) WOC

6) Komplikasi

Komplikasi yang biasa muncul akibat Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK)
antara lain ;

1. Gangguan Keseimbangan Asam-Basa

Pasien PPOK dapat mengalami asidosis respiratori yang disebabkan karena


keadaan hipoventilasi dan peningkatan PaCO2. Hal ini berhubungan dengan
kegagalan ventilasi atau gangguan pada pengontrolan ventilasi. Tubuh dapat
mengkompensasi keadaan tersebut yaitu dengan meningkatkan konsentrasi bikarbonat
dengan menurunkan sekresinya oleh ginjal).

Asidosis respiratori yang tidak ditangani dengan tepat, dapat mengakibatkan


kondisi dispnea, psikosis, halusinasi, serta ketidaknormalan tingkah laku bahkan
koma. Hiperkapnia yang berlangsung lama atau kronik pada pasien PPOK akan
menyebabkan gangguan tidur, amnesia, perubahan tingkah laku, gangguan koordinasi
dan tremor.

Respon yang diberikan tubuh pada keadaan asidosis respiratori yaitu dengan
meningkatkan ventilasi alveolar yang ditentukan oleh adanya perubahan konsentrasi
hidrogen di dalam cairan serebrospinal yang kemudian akan mempengaruhi
kemoreseptor di medula. Cairan serebrospinal relatif tidak mengandung buffer
nonbikarbonat sehingga karbondioksida dapat berdifusi menembus Blood Brain
Barrier (BBB) dimana karbondioksida tersebut berkontribusi pada peningkatan
konsentrasi hidrogen. Kenaikan PaCO2 yang signifikan akan meningkatan kadar
bikarbonat serum. Peningkatan 10 mmHg PaCO2, dapat meningkatkan bikarbonat
sebanyak 1 mmol/L. Selain itu, ginjal juga memiliki peran yang penting pada
peningkatan kadar bikarbonat, dimana ginjal melakukan fungsi reabsorbsi bikarbonat
di tubulus proksimal sebagai kompensasi untuk menormalkan pH pada keadaan
asidosis.

2. Polisitemia

Keadaan pasien dengan level oksigen di sirikulasi rendah atau hipoksemia kronik
dapat meningkatkan jumlah sel darah merah. Hal tersebut sebagai kompensasi tubuh
terhadap kondisi hipoksia dan bertujuan untuk memproduksi lebih banyak
hemoglobin untuk membawa oksigen yang terdapat di sirkulasi. Namun, kekurangan
dari mekanisme ini yaitu terjadinya peningkatan viskositas darah. Viskositas darah
yang meningkat juga meningkatkan resiko terjadinya thrombosis pada vena dalam
atau deep vein thrombosis, emboli pada paru maupun vaskular.

Konsistensi darah yang lebih kental dari normal mempersulit proses pemompaan
darah ke dalam jaringan tubuh dan akan mengurangi pengantaran oksigen. Untuk
menghindari keadaan tersebut, tindakan venesection harus dipertimbangkan untuk
dilakukan apabila nilai packed cell volume (PVC) lebih besar dari 60% pada pria dan
55% pada wanita (Barnett, 2006).

3. Cor Pulmonale
Cor pulmonale atau disebut juga gagal jantung bagian kanan merupakan keadaan
yang diakibatkan oleh meningkatnya ketegangan dan tekanan ventrikel bagian kanan
(hipertrofi ventrikel kanan). Peningkatan resistensi vaskular paru dikarenakan
hipoksia yang diinduksi oleh vasokonstriksi pada pembuluh kapiler paru membuat
tegangan yang lebih berat pada ventrikel kanan. Selanjutnya, dalam waktu singkat hal
tersebut dapat menyebabkan hipertrofi dan kegagalan fungsi ventrikel kanan. Hal ini
akan menimbulkan keadaan edema periferal yang berkembang menjadi gagal jantung
kanan, dimana cairan dari kapiler akan merembes ke dalam jaringan dan menyerang
jaringan.

4. Pneumothorax

Pneumothorax dapat terjadi secara spontan pada pasien dengan emfisema. Pada
kondisi emfisema, kerusakan rongga udara pada alveoli disebut bullae. Bullae tersebut
dapat ruptur dengan mudah yang menyebabkan udara di dalam alveoli akan keluar
menuju ke rongga pleura dan menyebabkan syok paru-paru.

Gejala dari pneumothorax yaitu peningkatan nyeri dada pleuritik yang tiba-tiba
serta peningkatan sesak. Keadaan ini dapat diidentifikasi dengan melakukan
pemeriksaan X-ray rongga dada. Manajemen terapi pneumothorax ditentukan
berdasarkan ukuran pneumothorax.

5. Tekanan darah tinggi


PPOK dapat menyebabkan tekanan darah tinggi pada arteri yang membawa darah
ke paru-paru (hipertensi pulmonal )

6. Depresi
Kesulitan bernafas dapat menjaga anda dari melakukan kegiatan yang anda. Dan
berurusan dengan penyakit serius dapat berkonribuksi untuk perkembangan depresi

7) Diagnostik
Untuk mendiagnosis PPOK, beberapa pemeriksaan harus dilakukan.
Pemeriksaan pernafasan paru yang disebut spirometri atau FEV1 mengukur jumlah
udara yang masuk dan keluar dari paru-paru dan kecepatan pergerakan udara.
Rontgen dada dapat juga dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis penyakit lain
yang memiliki gejala serupa seperti kanker paru atau tuberkulosis. Pemeriksaan gas
darah arteri atau oximetri, untuk mengukur kadar oksigen dan karbondioksida atau
elektrokardiogram untuk menyingkirkan penyakit jantung, juga dapat dilakukan.

Semakin awal PPOK didiagnosis, semakin baik kemungkinan bagi


perawatan penyakit ini. Pemeriksaan kesehatan paru, terutama bagi perokok (atau
mantan perokok) dan yang memiliki risiko tinggi menderita PPOK, sangat
dianjurkan.

8) Penatalaksanaan

Tujuan penatalaksanaan :
1. Mengurangi gejala
2. Mencegah eksaserbasi berulang
3. Memperbaiki dan mencegah penurunan faal paru
4. Meningkatkan kualiti hidup penderita

Penatalaksanaan secara umum PPOK meliputi :


1. Edukasi
Edukasi merupakan hal penting dalam pengelolaan jangka panjang pada PPOK
stabil. Edukasi pada PPOK berbeda dengan edukasi pada asma. Karena PPOK
adalah penyakit kronik yang ireversibel dan progresif, inti dari edukasi adalah
menyesuaikan keterbatasan aktiviti dan mencegah kecepatan perburukan fungsi
paru. Berbeda dengan asma yang masih bersifat reversibel, menghindari pencetus
dan memperbaiki derajat adalah inti dari edukasi atau tujuan pengobatan dari asma.
Tujuan edukasi pada pasien PPOK :
a. Mengenal perjalanan penyakit dan pengobatan
b. Melaksanakan pengobatan yang maksimal
c. Mencapai aktiviti optimal
d. Meningkatkan kualiti hidup
Edukasi PPOK diberikan sejak ditentukan diagnosis dan berlanjut secara
berulang pada setiap kunjungan, baik bagi penderita sendiri maupun bagi
keluarganya. Edukasi dapat diberikan di poliklinik, ruang rawat, bahkan di unit
gawat darurat ataupun di ICU dan di rumah. Secara intensif edukasi diberikan di
klinik rehabilitasi atau klinik konseling, karena memerlukan waktu yang khusus dan
memerlukan alat peraga. Edukasi yang tepat diharapkan dapat mengurangi
kecemasan pasien PPOK, memberikan semangat hidup walaupun dengan
keterbatasan aktivitas. Penyesuaian aktivitas dan pola hidup merupakan salah satu
cara untuk meningkatkan kualiti hidup pasien PPOK.
Bahan dan cara pemberian edukasi harus disesuaikan dengan derajat berat
penyakit, tingkat pendidikan, lingkungan sosial, kultural dan kondisi ekonomi
penderita. Secara umum bahan edukasi yang harus diberikan adalah :
a. Pengetahuan dasar tentang PPOK
b. Obat - obatan, manfaat dan efek sampingnya
c. Cara pencegahan perburukan penyakit
d. Menghindari pencetus (berhenti merokok)
e. Penyesuaian aktivitas
Agar edukasi dapat diterima dengan mudah dan dapat dilaksanakan ditentukan
skala priority bahan edukasi sebagai berikut :
a. Berhenti merokok
Disampaikan pertama kali kepada penderita pada waktu diagnosis PPOK
ditegakkan
b. Pengunaan obat – obatan
(1) Macam obat dan jenisnya
(2) Cara penggunaannya yang benar ( oral, MDI atau nebuliser )
(3) Waktu penggunaan yang tepat ( rutin dengan selang waku tertentu atau
kalau perlu saja )
(4) Dosis obat yang tepat dan efek sampingnya
c. Penggunaan oksigen
(1) Kapan oksigen harus digunakan
(2) Berapa dosisnya
(3) Mengetahui efek samping kelebihan dosis oksigen
d. Mengenal dan mengatasi efek samping obat atau terapi oksigen
e. Penilaian dini eksaserbasi akut dan pengelolaannya
Tanda eksaserbasi :
(1) Batuk atau sesak bertambah
(2) Sputum bertambah
(3) Sputum berubah warna
f. Mendeteksi dan menghindari pencetus eksaserbasi
g. Menyesuaikan kebiasaan hidup dengan keterbatasan aktiviti
Edukasi diberikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah diterima, langsung ke
pokok permasalahan yang ditemukan pada waktu itu. Pemberian edukasi sebaiknya
diberikan berulang dengan bahan edukasi yang tidak terlalu banyak pada setiap kali
pertemuan.
Pemberian edukasi berdasar derajat penyakit :
a. Ringan
(1) Penyebab dan pola penyakit PPOK yang ireversibel
(2) Mencegah penyakit menjadi berat dengan menghindari pencetus, antara lain
berhenti merokok
(3) Segera berobat bila timbul gejala
b. Sedang
(1) Menggunakan obat dengan tepat
(2) Mengenal dan mengatasi eksaserbasi dini
(3) Program latihan fisik dan pernapasan
c. Berat
(1) Informasi tentang komplikasi yang dapat terjadi
(2) Penyesuaian aktiviti dengan keterbatasan
(3) Penggunaan oksigen di rumah

2. Obat – obatan
a. Bronkodilator
Diberikan secara tunggal atau kombinasi dari ketiga jenis bronkodilator dan
disesuaikan dengan klasifikasi derajat berat penyakit ( lihat tabel 2 ). Pemilihan bentuk
obat diutamakan inhalasi, nebuliser tidak dianjurkan pada penggunaan jangka panjang.
Pada derajat berat diutamakan pemberian obat lepas lambat (slow release ) atau obat
berefek panjang ( long acting ).
Macam - macam bronkodilator :
1) Golongan antikolinergik
Digunakan pada derajat ringan sampai berat, disamping sebagai bronkodilator
juga mengurangi sekresi lendir ( maksimal 4 kali perhari ).
2) Golongan agonis beta – 2
Bentuk inhaler digunakan untuk mengatasi sesak, peningkatan jumlah
penggunaan dapat sebagai monitor timbulnya eksaserbasi. Sebagai obat
pemeliharaan sebaiknya digunakan bentuk tablet yang berefek panjang. Bentuk
nebuliser dapat digunakan untuk mengatasi eksaserbasi akut, tidak dianjurkan
untuk penggunaan jangka panjang. Bentuk injeksi subkutan atau drip untuk
mengatasi eksaserbasi berat.
3) Kombinasi antikolinergik dan agonis beta – 2
Kombinasi kedua golongan obat ini akan memperkuat efek bronkodilatasi,
karena keduanya mempunyai tempat kerja yang berbeda. Disamping itu
penggunaan obat kombinasi lebih sederhana dan mempermudah penderita.
4) Golongan xantin
Dalam bentuk lepas lambat sebagai pengobatan pemeliharaan jangka panjang,
terutama pada derajat sedang dan berat. Bentuk tablet biasa atau puyer untuk
mengatasi sesak ( pelega napas ), bentuk suntikan bolus atau drip untuk mengatasi
eksaserbasi akut. Penggunaan jangka panjang diperlukan pemeriksaan kadar
aminofilin darah.

b. Antiinflamasi
Digunakan bila terjadi eksaserbasi akut dalam bentuk oral atau injeksi intravena,
berfungsi menekan inflamasi yang terjadi, dipilih golongan metilprednisolon atau
prednison. Bentuk inhalasi sebagai terapi jangka panjang diberikan bila terbukti uji
kortikosteroid positif yaitu terdapat perbaikan VEP1 pascabronkodilator meningkat >
20% dan minimal 250 mg

c. Antibiotika
Hanya diberikan bila terdapat infeksi. Antibiotik yang digunakan :
1) Lini I : amoksisilin, makrolid
2) Lini II :amoksisilin dan asam klavulanat, sefalosporin, kuinolon, makrolid
Perawatan di Rumah Sakit dapat dipilih
1) Amoksilin dan klavulanat
2) Sefalosporin generasi II & III /IV injeksi
3) Kuinolon per oral ditambah dengan yang anti pseudomonas
4) Aminoglikose per injeksi
5) Kuinolon per injeksi

d. Antioksidan
Dapat mengurangi eksaserbasi dan memperbaiki kualiti hidup, digunakan N -
asetilsistein. Dapat diberikan pada PPOK dengan eksaserbasi yang sering, tidak
dianjurkan sebagai pemberian yang rutin

e. Mukolitik
Hanya diberikan terutama pada eksaserbasi akut karena akan mempercepat
perbaikan eksaserbasi, terutama pada bronkitis kronik dengan sputum yang
viscous. Mengurangi eksaserbasi pada PPOK bronkitis kronik, tetapi tidak
dianjurkan sebagai pemberian rutin.

f. Antitusif
Diberikan dengan hati – hati

3. Terapi Oksigen
Pada PPOK terjadi hipoksemia progresif dan berkepanjangan yang menyebabkan
kerusakan sel dan jaringan. Pemberian terapi oksigen merupakan hal yang sangat
penting untuk mempertahankan oksigenasi seluler dan mencegah kerusakan sel baik di
otot maupun organ - organ lainnya.
Manfaat oksigen :
a. Mengurangi sesak
b. Memperbaiki aktiviti
c. Mengurangi hipertensi pulmonal
d. Mengurangi vasokonstriksi
e. Mengurangi hematokrit
f. Memperbaiki fungsi neuropsikiatri
g. Meningkatkan kualiti hidup

Indikasi :
a. Pao2 < 60mmHg atau Sat O2 < 90%
b. Pao2 diantara 55 - 59 mmHg atau Sat O2 > 89% disertai Kor Pulmonal,
perubahan P pullmonal, Ht >55% dan tanda - tanda gagal jantung kanan, sleep
apnea, penyakit paru lain

Macam terapi oksigen :


a. Pemberian oksigen jangka panjang
b. Pemberian oksigen pada waktu aktiviti
c. Pemberian oksigen pada waktu timbul sesak mendadak
d. Pemberian oksigen secara intensif pada waktu gagal napas

4. Nutrisi
Malnutrisi sering terjadi pada PPOK, kemungkinan karena bertambahnya
kebutuhan energy akibat kerja muskulus respirasi yang meningkat karena
hipoksemia kronik dan hiperkapni menyebabkan terjadi hipermetabolisme.
Kondisi malnutrisi akan menambah mortaliti PPOK karena berkolerasi dengan
derajat penurunan fungsi paru dan perubahan analisis gas darah
Malnutrisi dapat dievaluasi dengan :
a. Penurunan berat badan
b. Kadar albumin darah
c. Antropometri
d. Pengukuran kekuatan otot (MVV, tekanan diafragma, kekuatan otot pipi)
e. Hasil metabolisme (hiperkapni dan hipoksia)
Mengatasi malnutrisi dengan pemberian makanan yang agresis tidak akan
mengatasi masalah, karena gangguan ventilasi pada PPOK tidak dapat mengeluarkan
CO2 yang terjadi akibat metabolisme karbohidrat. Diperlukan keseimbangan antara
kalori yang masuk denagn kalori yang dibutuhkan, bila perlu nutrisi dapat diberikan
secara terus menerus (nocturnal feedings) dengan pipa nasogaster.
Komposisi nutrisi yang seimbang dapat berupa tinggi lemak rendah karbohidrat.
Kebutuhan protein seperti pada umumnya, protein dapat meningkatkan ventilasi
semenitoxygen comsumption dan respons ventilasi terhadap hipoksia dan hiperkapni.
Tetapi pada PPOK dengan gagal napas kelebihan pemasukan protein dapat
menyebabkan kelelahan.Gangguan keseimbangan elektrolit sering terjadi pada PPOK
karena berkurangnya fungsi muskulus respirasi sebagai akibat sekunder dari gangguan
ventilasi.
Gangguan elektrolit yang terjadi adalah :
a. Hipofosfatemi
b. Hiperkalemi
c. Hipokalsemi
d. Hipomagnesia
Gangguan ini dapat mengurangi fungsi diafragma. Dianjurkan pemberian nutrisi
dengan komposisi seimbang, yakni porsi kecil dengan waktu pemberian yang lebih
sering.

5. Rehabilitasi PPOK
Tujuan program rehabilitasi untuk meningkatkan toleransi latihan dan
memperbaiki kualiti hidup penderita PPOK. Penderita yang dimasukkan ke dalam
program rehabilitasi adalah mereka yang telah mendapatkan pengobatan optimal yang
disertai :
a. Simptom pernapasan berat
b. Beberapa kali masuk ruang gawat darurat
c. Kualiti hidup yang menurun
Program dilaksanakan di dalam maupun diluar rumah sakit oleh suatu tim
multidisiplin yang terdiri dari dokter, ahli gizi, respiratori terapis dan psikolog.
Program rehabilitiasi terdiri dari 3 komponen yaitu : latihan fisis, psikososial dan
latihan pernapasan. Ditujukan untuk memperbaiki efisiensi dan kapasiti sistem
transportasi oksigen. Latihan fisis yang baik akan menghasilkan :
a. Peningkatan VO2 max
b. Perbaikan kapasiti kerja aerobik maupun anaerobik
c. Peningkatan cardiac output dan meningkatan efisiensi distribusi darah
d. Pemendekkan waktu yang diperlukan untuk recovery

Endurance exercise
Latihan untuk meningkatkan kemampuan otot pernapasan. Latihan ini
diprogramkan bagi penderita PPOK yang mengalami kelelahan pada otot
pernapasannya sehingga tidak dapat menghasilkan tekanan insipirasi yang cukup untuk
melakukan ventilasi maksimum yang dibutuhkan. Latihan khusus pada otot
pernapasam akan mengakibatkan bertambahnya kemampuan ventilasi maksimum,
memperbaiki kualiti hidup dan mengurangi sesak napas. Pada penderita yang tidak
mampu melakukan latihan endurance, latihan otot pernapasan ini akan besar
manfaatnya. Apabila ke dua bentuk latihan tersebut bisa dilaksanakan oleh penderita,
hasilnya akan lebih baik. Oleh karena itu bentuk latihan pada penderita PPOK bersifat
individual. Apabila ditemukan kelelahan pada otot pernapasan, maka porsi latihan otot
pernapasan diperbesar, sebaliknya apabila didapatkan CO2 darah tinggi dan
peningkatan ventilasi pada waktu latihan maka latihan endurance yang
diutamakan. Endurance exercise
Respons kardiovaskuler tidak seluruhnya dapat terjadi pada penderita PPOK.
Bertambahnya cardiac output maksimal dan transportasi oksigen tidak sebesar pada
orang sehat.
Latihan jasmani pada penderita PPOK akan berakibat meningkatnya toleransi
latihan karena meningkatnya toleransi karena meningkatnya kapasiti kerja maksimal
dengan rendahnya konsumsi oksigen. Perbaikan toleransi latihan merupakan resultante
dari efisiensinya pemakaian oksigen di jaringan dari toleransi terhadap asam laktat.
Sesak napas bukan satu-satunya keluhan yang menyebabkan penderita PPOMJ
menghenikan latihannya, faktor lain yang mempengaruhi ialah kelelahan otot kaki.
Pada penderita PPOK berat, kelelahan kaki mungkin merupakan faktor yang dominan
untuk menghentikan latihannya.
Berkurangnya aktiviti kegiatan sehari-hari akan menyebabkan penurunan
fungsi otot skeletal. Imobilitasasi selama 4 - 6 minggu akan menyebabkan penurunan
kekuatan otot, diameter serat otot, penyimpangan energi dan activiti enzim metabolik.
Berbaring ditempat tidur dalam jangka waktu yang lama menyebabkan
menurunnya oxygen uptake dan control kardiovaskuler.
Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum latihan :
a. Tidak boleh makan 2-3 jam sebelum latihan
b. Berhenti merokok 2-3 jam sebelum latihan
c. Apabila selama latihan dijumpai angina, gangguan mental, gangguan
koordinasi atau pusing latihan segera dihentikan
d. Pakaian longgar dan ringan

Psikososial
Status psikososial penderita perlu diamati dengan cermat dan apabila diperlukan
dapat diberikan obat
Latihan Pernapasan
Tujuan latihan ini adalah untuk mengurangi dan mengontrol sesak napas. Teknik
latihan meliputi pernapasan diafragma dan pursed lips guna memperbaiki ventilasi dan
menyinkronkan kerja otot abdomen dan toraks. Serta berguna juga untuk melatih
ekspektorasi dan memperkuat otot ekstrimiti.

B. Asuhan Keperawatan

1) Pengkajian

Pengkajian mencakup pengumpulan informasi tentang gejala-gejala terakhir juga


manifestasi penyakit sebelumnya. Berupa daftar pertanyaan yang bisa digunakan
sebagai pedoman untuk mendapatkan riwayat kesehatan yang jelas dari proses
penyakit. Berupa identitas klien dan riwayat penyakit.

1. Identitas Klien

Nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, alamat, nama penanggung jawab, hubungan
dengan pasien.

2. Riwayat penyakit
(a) Riwayat penyakit sekarang
Batuk dan sesak nafas, sesak bertambah berat , Sesak nafas dan batuk tidak
berhubungan dengan aktivitas dan sesak nafas dan batuk pada waktu setelah berbaring
atau tiduran, duduk, berdiri maupun berjalan. Beberapa bulan yang lalu batuk
berdahak, kental berwarna putih kekuningan serta agak berbau.

(b) Riwayat penyakit dahulu


Sesak nafas sebelumnya, mempunyai riwayat Asthma Bronkiale. Klien mempunyai
riwayat perokok.

(c) Riwayat penyakit keluarga


Apakah ada keluarga yang mengindap penyakit yang sama dengan klien.
3. Pemeriksaan Fisik
(a) Tanda - tanda vital : Tekanan darah (terjadi peningkatan tekanan darah), pernafasan
(sesak nafas), nadi, dan suhu
(b) Body system
1. Sistem pernafasan
Gejala : Dispnea, rasa dada tertekan, ketidakmampuan untuk bernafas (asma), batuk
menetap dengan produksi sputum setiap hari minimal 3 bulan berturut-turut tiap tahun
sedikitnya 2 tahun. Produksi sputum banyak sekali (bronkitis kronis). Episode batuk
hilang timbul biasanya tidak produktif pada tahap dini meskipun bisa menjadi produktif
(emfisema).

Tanda : Fase ekspirasi memanjang, penggunaan otot bantu pernafasan, dada bentuk
barrel chest. Hiperesonan pada emfisema, krekels pada bronkitis kronis, ronki dan
wheezing pada asma, sianosis, clubbing finger pada emfisema.

2. Sistem sirkulasi
Tanda : Peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi jantung, takikardia, distensi
ven aleher, edema, sianosis, clubbing finger.

3. Sistem persepsi sensori


1. Pendengaran klien pada telinga kiri maupun kanan.
2. Penciuman: Klien dapat membedakan rasa yang kurang sedap seperti rasa bau
dari dahak yang dikeluarkan pada saat batuk.
3. Pengecapan: Klien dapat membedakan rasa pahit, manis, serta asin.
4. Penglihatan: Mata kiri maupun kanan dalam batas normal. Apakah ditemukan
adanya katarak maupun gangguan mata lainnya.
5. Perabaan : Klien dapat membedakan rasa panas, dingin maupun tekanan.

4. Aktivitas
Gejala : Keletihan, kelelahan, malaise, ketidakmampuan melakukan aktifitas
sehari-hari, dispnea saat istirahat atau tidur, ketidakmampuan dalam tidur.

Tanda : Keletihan, kelemahan umum, gelisah, insomnia.


5. Nutirsi/ hidrasi
Gejala : Mual, muntah, nafsu makan kurang, penurunan berat badan atau peningkatan
berat badan karena edema.

Tanda : Turgor kulit jelek, edema, penurunan/ peningkatan BB.

6. Hiegiene
Gejala : Penurunan kemampuan.

Tanda : Kebersihan kurang, bau badan.

2) Diagnosa Keperawatan

Dari hasil pengkajian, didapat beberapa diagnosa. Diagnosa keperawatan utama


pasien mencakup berikut ini:

(1) Ketidakefetifan pola napas berhubungan dengan hiperventilasi

(2) Ketidakefetifan bersihan jalan napas berhubungan dengan produksi sekret

(3) Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai


kebutuhan dan oksigen

(4) Gangguan pola tidur berhubungan dengan faktor fisiologis (batuk)

3) Intervensi

Setelah didapatkan diagnosa yang sesuai, maka dapat dibuat intervensi sebelum
melakukan implementasi kepada pasien. Intervensi dilakukan sesuai dengan diagnosa.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT PARU


OBSTRUKTIF KRONIK

Pengkajian Diagnosa Keperawatan Intervensi

DS: Ketidakefetifan pola napas 1. Memonitor


a. Biasanya klien berhubungan dengan kecepatan, irama,
kedalaman dan
mengatakan bahwa hiperventilasi kesulitan bernafas
dadanya rasa tertekan. 2. Memonitor suara
nafas seperti
ngorok dan mengi
b. Biasanya klien 3. Memonitor
kemampuan batuk
mengatakan bahwa ia tidak
efektif pasien
mampu untuk bernafas 4. Memonitor sekret
(asma). pernafasan pasien
5. Memonitor keluhan
sesak nafas pasien,
c. Biasanya klien termasuk kegiatan
mengatakan batuknya yang meningkatkan
atau memperburuk
menetap dengan produksi sesak nafas
sputum setiap hari tersebut
minimal 3 bulan
berturut-turut tiap tahun
sedikitnya 2 tahun.

DO:

a. Biasanya produksi
sputum banyak sekali
(bronkitis kronis).

b. Biasanya klien
tampak sesak nafas

c. Biasanya RR klien
lebih dari 24x permenit

DS: Ketidakefetifan bersihan 1. Buka jalan nafas


a. Biasanya klien jalan napas berhubungan dengan teknik chin
lift atau jaw thrust
mengatakan bahwa dengan produksi sekret sebagaimana
semestinya
2. Identifikasi
dadanya rasa tertekan. kebutuhan aktual/
pontensial pasien
untuk memasukan
b. Biasanya klien alat membukakan
mengatakan bahwa ia tidak jalan nafas
3. Gunakan teknik
mampu untuk bernafas
yang
(asma). menyenangkan
untuk memotivasi
bernafas ( misalnya
c. Biasanya klien meniup
mengatakan batuknya gelembung,meniup
menetap dengan produksi kincir, peluit,
harmonika, balon
sputum setiap hari dll)
minimal 3 bulan 4. Instruksikan
bagaimana agar
berturut-turut tiap tahun
bisa melakukan
sedikitnya 2 tahun. batuk efektif

DO:

a. Biasanya produksi
sputum banyak sekali
(bronkitis kronis).

DS : Intoleran aktivitas 1. Berkolaborasi


berhubungan dengan dengan ahli terapi
a. Biasanya klien fisik, okupasi dan
ketidakseimbangan antara terapi rekreasional
mengatakan ia sering
suplai kebutuhan dalam perencanaan
kelelahan dan pemantauan
dan oksigen
program aktivitas
jika memang di
perlukan
b. Biasanya klien
2. Bantu klien untuk
mengatakan tidak mampu mengeksplori
melakukan aktiitas sehari - tujuan personal
dari
hari aktivitas-aktivitas
yang bisa dilkukan
(misalnya
berkerja ) aktivitas
DO : yang disukai
3. Intruksikan klien
a. Klien terlihat lemah dan dan keluarga untuk
mudah lelah mempertahankan
fungsi dan
kesehatan yang
terkait peran dan
b. Klien setelah berktifitas secara
fisik, sosial,
melakukan aktifitas
spritual
terlihat sesak nafas 4. Batuk dengan
aktivitas fisik
secara teratur
(misalnya
kebersihan
dirisesuai dengan
kebutuhan
5. Bantu klien untuk
meningkatkan
motivasi diri dan
penguatan

DS : Gangguan pola tidur 1. Tentukan pola tidur


berhubungan dengan / aktivitas pasien
a. Klien sering mengeluh 2. Tentukan dari efek
faktor fisiologis (batuk) obat yang
susah tidur
dikonsumsi pasien
terhadap pola tidur
3. Memonitor pola
b. Klien mengatakan saat tidur pasien dan
jumlah jam tidur
tidur sering terbatuk
pasien, dan catat
kondisi fisik
(misalnya apnea
tisur, sumbatan
DO:
jalan nafas,
a. Klien terlihat tidak nyeri/ketidaknyam
anan, dan frekuensi
tidur dengan nyenyak buang air kecil )
dan psikologis
(misalnya
ketakutan dan
b. Klien sering terbatuk
kecemasan )
saat tidur keadaan yang
mengganggu tidur
4. Bantu pasien untuk
membatasi tidur
siang dengan
menyediakan
aktivitas yang
meningkatkan
kondisi terjaga
dengan cepat
5. Anjurkan pasien
untuk tidur siang
hari, jika
diindikasikan untuk
memenuhi
kebutuhan hidup