Anda di halaman 1dari 3

Pengaruh Pemilu Pada Ekonomi dan Kesatuan NKRI

Dalam dua tahun ini rakyat Indonesia akan menggelar hajatan pesta demokrasi. Tahun 2018,
misalnya, rakyat di 171 daerah akan memilih calon pemimpin daerah melalui pilkada serentak.
Sementara pada 2019 seluruh rakyat Indonesia akan memilih wakil mereka di DPR/DPD/ DPRD
sekaligus presiden melalui pemilu serentak. Layaknya pesta, tentulah rakyat kembali akan
menyambutnya dengan sukacita. Ekspektasi rakyat adalah pesta demokrasi ini berimbas pada
kehidupan mereka ke arah yang lebih baik.
Namun, di balik optimisme di atas, menyeruak kekhawatiran akan pecahnya persatuan bangsa.
Belakangan ini kita menghadapi persoalan-persoalan serius menyangkut kelangsungan hidup
berbangsa dan bernegara. Mulai dari munculnya aksi kekerasan masif karena kesalahan dalam
menafsirkan demokrasi, euforia kultural karena ketidaktepatan memaknai otonomi, menjamurnya nar-
koba tiada henti, sampai tersebarnya hoaks yang kesemuanya dapat merusak keutuhan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sekiranya kita tidak hati-hati dalam menyikapinya maka
sangat mungkin Indonesia mengalami apa yang disebut oleh Francis Fukuyama dengan the end of
history.

A. Pengaruh pada kesatuan NKRI


Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih memproses rekapitulasi hasil Pemilu Serentak 2019,
hingga 22 Mei mendatang. Selama proses pemilu ini, penyelenggara pemilu telah bekerja
semaksimal mungkin. Disemua daerah, KPU dan Bawaslu terlihat all out dalam bekerja.
Menanggapi hal itu, Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia
(PB PMII), Agus Mulyono Herlambang memberikan apresiasi kepada penyelenggara pemilu.
Karena bagi PMII, menegakkan demokrasi dan menjalankan semua tahapan dalam pemilu
bukanlah hal yang mudah.
Dalam hal ini terbukti, dalam proses pemilu serentak ini banyak penyelenggra pemilu yang
meninggal dunia dan jatuh sakit. Hingga saat ini tercatat 90 anggota KPPS yang meninggal dunia.
Kemudian 374 lainnya dalam keadaan sakit. Selain itu, Agus juga mengimbau kepada semua pihak
agar tetap menjaga persatuan. Berbeda pilihan dalam pemilu adalah hal yang biasa. Namun sebagai
sesama anak bangsa harus selalu menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan."Dengan menjaga
persatuan, berarti kita telah menjaga NKRI ini. Kita tidak boleh terpecah belah atas dasar
kepentingan apapun," sambungnya. Karena itu, dia meminta kepada aparat penegak hukum untuk
menindak tegas pihak-pihak yang sekiranya ingin memecahbelah bangsa."Aparat pengak hukum
tidak usah ragu-ragu. Jika ada potensi yang mengarah kepada disintgrasi, maka segera ditindak.
Dia juga menyinggung terkait adanya wacana people power. Menurutnya, people power ini
sebaiknya jangan dilakukan. Sebab, hal tersebut justru akan memunculkan potensi chaos sesama
anak bangsa. Jika ada hal yang dianggap janggal selama proses pemilu ini, lebih baik
menggunakan jalur konstitusional.
"Di NKRI ini setiap persoalan ada mekanisme hukum yang mengaturnya. Jadi lebih baik kita
gunakan mekanisme hukum itu. Jangan melakukam hal-hal yang berpotensi membuat situasi
bangsa menjadi tidak kondusif," pungkasnya.
B. Pengaruh Pemilu
Peneliti dari lembaga Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima
Yudhistira menyebut pengaruh Pemilu terhadap perekonomian negara sebagai hal wajar. Dia
menerangkan pengaruh biasa timbul lantaran pelaku usaha cenderung bermain aman agar tak
terdampak dinamika yang terjadi akibat pesta demokrasi itu.
Bhima mengatakan selama Pemilu, pemerintah kerap mengeluarkan kebijakan yang berubah-
ubah dan populis. Tetapi, kebijakan itu bisa saja berubah saat Pemilu sudah selesai. Hal itulah
yang diantisipasi pelaku usaha di dalam negeri.“Sebagai contoh, kebijakan terkait subsidi BBM
dan listrik, jelang Pemilu pemerintah coba menahan harga jual BBM dan listrik subsidi. Tapi usai
Pemilu, karena beban berat APBN dan BUMN penugasan, sangat mungkin subsidi kembali
dipotong. Itu kan kebijakan yang sulit diprediksi, padahal bisa berpengaruh ke daya beli,
permintaan barang, dan instabilitas politik,” tuturnya kepada Bisnis, Senin (1/4/2019). INDEF
mengungkapkan pelaku usaha yang bergerak di sektor-sektor seperti pertambangan, migas, dan
perkebunan cenderung wait and see selama Pemilu. Sektor-sektor usaha itu dianggap sangat
berkepentingan dengan hasil Pemilu dan presiden terpilih nanti.
Pengusaha yang terafiliasi dengan partai politik atau tim sukses kandidat juga kerap menahan
diri untuk bersikap selama Pemilu belum rampung. Hasil Pemilu dipercaya bisa menentukan arah
investasi dan proyek yang feasible untuk digarap para pengusaha terafiliasi itu. “Banyak kebijakan
baru yang perlu diantisipasi, misalnya terkait bea keluar, perizinan tambang, moratorium
perkebunan kelapa sawit, dan sebagainya. Pengusaha yang terafiliasi dengan partai politik juga
memanfaatkan situasi untuk ancang-ancang mendapatkan gambaran proyek pemerintah,” tambah
Bhima.
Selain hasil Pemilu, pelaku usaha juga diprediksi menunggu susunan kabinet yang dibentuk
presiden dan wakil presiden terpilih. INDEF menyampaikan susunan kabinet yang dianggap pro
dunia usaha akan meningkatkan kepercayaan pelaku industri dalam negeri, begitu juga sebaliknya.
“Pengusaha lebih mencermati siapa yang akan jadi menteri teknis bidang ekonomi karena terkait
kebijakan langsung. Menteri yang pro dunia usaha bakal meningkatkan kepercayaan pelaku usaha,
sebaliknya kalau ada menteri yang kurang kompeten, titipan partai tapi ditaruh di pos ekonomi,
bisa merosot kepercayaan. Jadi menteri lebih penting dibanding presidennya,” imbuhnya.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Penelitian CORE Mohammad Faisal. Dia
memprediksi sikap main aman pelaku usaha di Indonesia akan berlanjut hingga pelantikan
presiden terpilih hasil Pilpres 2019, yang dijadwalkan dilakukan pada 20 Oktober 2019. Menurut
Faisal, susunan kabinet yang akan dibentuk presiden terpilih bisa mempengaruhi kepercayaan
pelaku usaha untuk menanamkan investasi atau menjalankan strategi bisnisnya di Indonesia. Selain
itu, mereka juga disebut butuh kepastian soal pemenang Pilpres dari segi hukum, mengingat tak
tertutup kemungkinan adanya sengketa Pilpres yang diajukan setelah 17 April alias hari
pencoblosan. “Pasti masih wait and see hingga Oktober 2019. Jadinya, bisa dibilang perekonomian
Indonesia akan berjalan lambat dan harus ditopang oleh sektor konsumsi rumah tangga tahun ini,”
ujarnya.Tahun ini, Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di
angka 5,3%. Pada 2018, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai angka 5,14% atau yang
tertinggi sejak 2014.CORE yakin pertumbuhan ekonomi sesuai target pemerintah bisa tercapai asal
konsumsi rumah tangga terjaga sepanjang tahun. Pasalnya, selain karena Pemilu, pertumbuhan
ekonomi Indonesia dianggap tak akan banyak berubah dari tahun lalu lantaran masih belum
stabilnya kondisi perekonomian global. Perlambatan juga bisa terjadi karena adanya prediksi
bahwa pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada 2019 akan berjalan lambat.
Berkaca pada pengalaman Pilpres 2009 dan 2014, tutur Faisal, maka perlambatan PMTB selalu
terjadi saat Pemilu berlangsung.
Berdasarkan Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2014 yang dirilis BI, pada 2014
PMTB tumbuh 4,1% secara year-on-year (yoy). Angka itu lebih rendah dibanding pertumbuhan
PMTB 2013 yang sebesar 5,3% dan 2012 yang mencapai 9,1%.Pada 2018, PMTB tumbuh 6,67%
secara yoy. Pertumbuhan itu lebih besar dari tingkat kenaikan PMTB secara tahunan pada 2017
yang mencapai 6,15% dan 2016 sebesar 4,47%.“Jadi ada tantangan dari luar yaitu kondisi perang
dagang global, dan dari internal yaitu Pemilu. Selama tingkat konsumsi rumah tangga masih
tinggi, pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% masih bisa tercapai,” ucapnya.
.