Anda di halaman 1dari 28

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Tidur

2.1.1 Definisi tidur

Tidur merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan penurunan

kesadaran, berkurangnya aktivitas pada otot rangka dan penurunan

metabolisme ( Harkreader & Thobaben 2007), menurut potter dan perry

tahun 2010 tidur didefinisikan sebagai waktu dimana terjadinya penurunan

status kesadaran yang terjadi pada periode waktu tertentu, terjadi secara

berulang dan merupakan proses fisiologis tubuh yang normal. Tidur

merupakan suatu keadaan relatif tanpa sadar yang penuh kenangan tanpa

kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan

menyatakan fase kegiatan otak dan badanlah yang berbeda ( Wartonah dan

Tarwoto 2010)

Tidur merupakan kondisi tidak sadar yakni individu dapat

dibangunkan oleh stimulus atau sensoris yang sesuai (Guyton 1986) . Dapat

dikatakan sebagai keadaan tidak disadarkan diri yang relatif, bukan hanya

keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan, tetapi lebih keurutan yang

berulang dengan ciri adanya aktivitas yang minim, memiliki kesadaran yang

bervariasi terdapat perubahan proses fisiologis terjadi penurunan respons

terhadap rangsangan dari luar ( Hidayat & Musrifatul 2015). Tidur

merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang termasuk fisiologis.

Tidur sebagai salah satu kebutuhan dasar yang bersifat universal, yang
dikatakan universal oleh karena pada umumnya semua individu manapun

dia berada membutuhkan tidur dan tidak pernah ada individu yang selama

hidupnya tidak tidur, hal ini mengindikasikan bahwa tidur memiliki peranan

penting bagi manusia ( Kozier,2009).

2.1.2 Fisiologi tidur

Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur oleh adanya

hubungan mekanisme serebral yang secara rutin untuk mengaktifkan dan

menekan pusat otak agar dapat tidur dan bangun. Salah satu aktivitas tidur

ini diatur pengaktivitasan retikulasi yang merupakan sistem yang mengatur

sistem kegiatan susunan saraf pusat termasuk pengaturan kewaspadaan dan

tidur. pusat pengaturan aktivitas kewaspadaan dan tidur terletak dalam

mesensefalon dan bagian atas pons. Selain itu, recticular activiting system

(RAS) dapat memberikan rangsangan visual, pendengaran, nyeri dan

perabaan juga dapat menerima stimulasi dari korteks serebri termasuk

rangsangan emosi dan proses piker. Dalam keadaan sadar, neuron dalam

RAS akan melepaskan katekolamin seperti norepinepfrin. Demikian juga

ada saat tidur, kemungkinan disebabkan adanya pelepasan serum serotonin

dari sel khusus yang berada dipons dan batang otak tengah, yaitu bulbar

synchronizing regional (BSR), sedangkan bangun bergantung pada impuls

yang diterima dipusat otak dan sistem limbik. Demikian, sistem pada batang

otak yang mengatur siklus atau perubahan dalam tidur adalah RAS dan BSR

( Hidayat & Musrifatul 2015). Tidur diatur oleh tiga proses yaitu :

mekanisme homeostasis, irama sirkadian dan irama ultradian ( Harkreader

dkk 2007).
1. Mekanisme hemeotasis

Sebuah mekanisme menyebabkan seseorang terjaga dan yang lain

menyebabkan tertidur ( Potter & Perry 2010). Sistem akivitasi

reticular (SAR) berlokasi pada batang otak teratas. SAR dapat

menerima stimulus sensori visual, auditori, nyeri dan taktil serta

aktivitas korteks serebral seperti rangsangan emosi dan berfikir.

Sleep research society (1993) berpendapat bahwa neuron dalam

SAR akan mengeluarkan katekolamin seperti neropineprin yang

akan membuat kita terjaga ( Potter & Perry 2010).

2. Irama sikardian

Irama sirkadian adalah pola bioritme yang berulang selama

rentang waktu 24 jam. Fluktasi dan perkiraan suhu tubuh, denyut

jantung, tekanan darah, sekresi hormone, kemampuan sensorik dan

suasana hati tergantung pada pemeliharaan siklus sirkadian 24 jam (

Potter & Perry 2010). Irama sirkadian diatur oleh hipotalamus dan

mengkoordinasikan siklus tidur-bangun, sekresi hormone,

pengaturan suhu tubuh, suasana hati dan kemampuan performa (

Kunert & Kolkhors 2007). Pola tidur-bangun dapat menyebabkkan

adanya pelepasan hormone tertentu yaittu melatonin, disintesis

dikelenjar pineal saat waktu gelap, saat siang hari pineal tidak aktif

tetapi jika matahari sudah terbit dan mulai gelap, pineal mulai

memproduksi melatonin, yang akan dilepaskan kedalam darah.

Selain hormone siklus tidur-bangun juga dipengaruhi oleh rutinitas


juga dipengaruhi oleh rutinitas sehari-hari, kegiatan sosial,

kebisingan, alarm jam.

3. Irama ultradian

Irama ultradian merupakan kejadian berulang pada jam

biologis yang kurang dari 24 jam. Siklus ultradian pada tahap tidur

terdapat dua tahapan yaitu rapid eye movement (REM) dan tidur non

rapid eye movement (NREM)

2.1.3 Pola tidur

Pola tidur yang dimiliki setiap orang seperti halnya jam dimana tubuuh

individu dapat memahami kapan waktunya untuk tertidur dan kapan

waktunya untuk bangun, waktu tidur diatur oleh jam biologis/irama

sirkadian yang terletak di kedalaman otak. Ketika jam biologis menentukan

waktu tidur, ini akan bekerja dengan fungsi tubuh lainnya untuk membantu

menyiapkan individu untuk tertidur di malam hari dan berhentinya berbagai

fungsi tubuh yang berkaitan dengan waktu terjaga/bangun. Hal ini juga

terjadi kebalikannya ketika individu terbangun.

Setiap orang memiliki siklus bangun-tidiur yang sudah dilakyukan, ini

menentukan kapan waktu yang tepat untuk seseorang tertidur. Waktu

tersebut dapat didukung oleh cahaya lampu atau matahari disiang hari,

kebiasaan waktu makan dan aktivitas yang dilakukan seperti biasanya dalam

waktu tertentu setiap harinya. Seseorang yang memiliki pola tidur-bangun

yang teratur lebih menunjukkan tidur yang berkualitas dan perfoma yang

lebih baik pada orang yang memiliki pola tidur-bangun yang berubah-ubah (

Harkreader Hogan & Thobaben 2007)


Pola tidur-bangun yang berubah-ubah dan apabila individu belum

beradaptasi dengan perubahan tersebut makan akan mengakibatkan

gangguuan pola tidur. Gangguan pola tidur sebagai kondisi ketika individu

mengalami atau beresiko mengalami perubahan pada kualitas dan kuantitas

pola istirahat yang menimbulkan ketidaknyamanan atau gangguan gaya

hidup yang diinginkan

2.1.4 Tahapan tidur

EEG, EME dan EOG sinyal listrik yang menunjukkan perbedaan

tingkat aktivitas yang berbeda otak, otot dan mata yang berhubungan

dengan tahapan tidur yang ebrbeda (sleep research society,1993). Tidur

yang normal meliputi dua fase pergerakan mata yang tidak cepat (tidur non

rapid eye movement, NREM) dan pergerakan mata yang cepat (tidur rapid

eye movement REM) ( Patricia, P 2006).

Tidur yang dangkal memperoleh karakteristik dari tahap 1 dan 2 seseorang

lebih mudah terbangun. Tahapan 3 dan 4 mellibatkan tidur yang dalam,

disebut tidur gelombang rendah dan seseorang suulit terbangun. Tidur REM

merupakan fase pada akhir tiap siklus tidur atau berusaha mengelimasi

factor yang mengganggu ( Patricia P 2006).

2.1.5 Tahapan siklus tidur

1. Tahap I

Tahap I merupakan tahap transisi antara bangun dan tidur dengan ciri

yaitu rileks, masih sadar dengan lingkungan, merasa mengantuk, bola

mata bergerak dari samping ke samping, frekuensi nadi dan napas


sedikit menurun, dapat bangun segera selama tahap ini berlangsung

selama lima menit.

2. Tahap II

Tahap II merupakan tahap tidur ringan dengan proses tubuh terus

menurun dengan ciri yaitu mata pada umumnya menetap, denyut

jantung dan frekuensi napas menurun, temperature tubuh menurun,

metabolism menurun, berlangsung pendek dan berakhir 10-15 menit.

3. Tahap III

Tahap III merupakan tahapan tidur dengan ciri denyur nadi dan

frekuensi napas dan proses tubuh lainnya lambat, disebabkan oleh

adanya dominasi system saraf parasimpatis dan sulit untuk bangun.

4. Tahap IV

Tahap IV merupakan tahap tidur dalam dengan ciri kecepatan

jantung dan pernapasan nturun, jarak bergerak dan sulit untuk

dibangunkan, gerak bola mata cepat, sekresi lambung menurun, serta

tonus otot menurun.

2.1.6 Fungsi tidur dan tujuan tidur

Periode tidur merupakan bagian dari proses mempertahankan fungsi

fisiologis normal. Tidur juga merupakan waktu yang diperlukan untuk

memperbaiki dan menyiapkan energy yang akan dipergunakan setelah

periode istirahat. Penggunaan energy selama sehari perlu diganti dengan


periode istirahat pada waktu malam hari yang bertujuan untuk mengurangi

pengguanaan energy (David, Parer and Montgomery, 2004 dalam Potter

Perry 2007). Energi tinggi yang digunakan selama beraktivitas disiang hari

diseimbangkan seara pogresif dan tidak adanya kontraksi otot, menyimpan

energy. Menurut NIDS 2005 berpendapat bahwa aktivitas pada bagian otak

yang mengatur emosi, proses membuat keputusan dan interaksi sosial

menurun secara drastic selama tidur, sehingga daoat membantu seseorang

untuk mempertahankan emosionall dan fungsi sosial secara optimal ketika

terbangun ( Harkreader, Hogan & Thobaben 2007).

Pada saat orang tidur, secara umum terjadi proses regenerasi sel, perbaikan

siklus peredaran darah, pertumbuhan dan perkembangan kinerja jaringan,

munculnya zat-zat yang menghilangkan kegelisahan, membuang racun,

memperbaiki kenerja saraf dan banyak proses perbaiki lainnya. Proses

tersebut hanya dapat terjadi pada saat tidur. Apa yang terjadi sepanjang

orang tidur tidak dapat digantikan dengan cara lainnya, apalagi digantikan

dengan obat-obatan tertentu, oleh karena itu orang yang mengalami

ngangguan tidur akan pula mengalami gangguan kesehatan, terlebih mereka

yang mengidap penyakit sulit tidur akan mengalami segala macam

permasalahan kesehatan ( Susilo dan Wulandari 2011).

2.1.7 Kebutuhan normal tidur

Kebutuhan tidur pada manusia bergantung pada tingkat

perkembangan.

Table merangkum kebutuhan tidur manusia berdasarkan usia


Usia Tu=ingkat Jumlah kebutuhan tidur

perkembangan

0-1 bulan Masa neonates 14-18 jam/hari

1 bulan – 18 bulan Masa bayi 12-14 jam/hari

18 bulan – 3 tahun Masa anak 11-12 jam/hari

6 tahun-12 tahun Masa sekolah 10 jam/hari

12 tahun-18 tahun Masa remaja 8,5 jam/hari

18 tahun-40 tahun Masa dewasa muda 7-8 jam/hari

40 tahun – 60 tahun Masa paruh baya 7 jam/hari

60 tahun keatas Masa dewasa tua 6 jam/hari

Table 2.1 Sumber: buku ajar kebutuhan dasar manusia (hidayat dan

musrifatull 2015)

2.1.8 Factor yang mempengaruhi kebutuhan tidur

Kualitas dan kuantitas tidur dapat dipengaruhi beberapa factor.

Kualitas tersebut dapat menunjukkan adanya kemampuan individu untuk

tidur dan memperoleh jumlah istirahat sesuai kebutuhannya ( Hidayat &

Musrifatul 2015). Dalam buku kebutuhan dasar manusia dan proses

keperawatan ( Tarwoto dan Wartonah 2010) menyebutkan factor yang

mempengaruhi tidur diantaranya :

1. Penyakit

Sakit dapat mempengaruhi kebutuhan tidur seseorang. Banyak

penyakit yang memperbesar tidur, misalnya pada pasien dengan

gangguan pernapasan yang akan memerlukan banyak waktu tidur


untuk mentasai keletihan. Banyak juga keadaan sakit yang

menjadikan pasien kurang tidur, bahkan tidak bias tidur.

2. Lingkungan

Keadaan lingkungan yang aman dan nyaman bagi seseorang juga

dapat mempercepat terjadinya proses tidur, namun jika terjadi

perubahan suasana gaduh maka akan menghambat waktu tidurnya.

3. Nutrisi

Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang cukup dapat mempercepat

proses tidur, protein yang tinggi dapat mempercepat terjadinya

proses tidur, karena adanya triptofan yang merupakan asam amino

dari protein yang dicerna. Demikian sebaliknya, kebutuhan gizi yang

kurang dapat juga mempengaruhi proses tidur, bahkan terkadang

sulit untuk memasuki waktu tidur( Hidayat & Musrifatul 2015)

4. Keletihan dan kelelahan

Keletihan akibat aktivitas yang tinggi dapat memerlukan lebih

banyak tidur untuk menjaga keseimmbangan energy yang telah

dikeluarkan. Hal ini terlihat oada seseworang yang telah melakukan

aktivitas dan mencapai kelelahan. Maka, seseorangan tersebut akan

lebih cepat untuk tidur karena tidur gelombang lambatnya

diperpendek (Widodo, 2009)

5. Kecemasan
Pada keadaan cemas seseroang akan meniingkatkann saraf simpatis,

sehingga mengganggu tidur.

6. Obat-obatan

Obat juga dapat mempengaruhi proses terjadinya tidur, berapa jenis

obat yang dapat mempengaruhi proses tidur adalah jenis yang

golongan obat diueritc menyebabkan seseorang menjadi insomnia,

anti depresan dapat menekan REM, kafein dapat meningkatkan saraf

simpatis yang menyebabkan kesulitan untuk tidur, golongan beta

bloker dapat berefek pada timbulnya insomnia dan golongan

narkotik dapat menekan REM sehingga mudah mengantukn (Lina,

2005)

7. Stress psikologis

Kondisi psikologis dapat terjadi pada seseorang akibat ketegangan

jiwa. Hal tersebut terlihat ketika seseorang yang memiliki masalah

psikologis akan mengalami kecemasan sehingga sulit untuk tidur (dr.

Harry,2009)

8. Alcohol

Alcohol menekan REM secara normal, seseorang yang tahan

meminum alcohol dapat mengakibatkan insomnia dan lekas marah.

2.1.9 Kualitas tidur


Kualitas tidur merupakan suatu keadaan dimana tidur yang dijalani

seseorang individu menghasilkan kesegaran dan kebugaran ketika

terbangun. Kualitas tidur mencakup aspek kuantitaif seperti durasi tidur,

latensi tidur, serta aspek subjektif seperti tidur dalam dan istirahat ( Khasa &

Hidayat 2012). Kualitas tidur seseorang dikatakan baik apabila tidak

menunjukkan tanda-tanda kekurangan tidur dan tidak mengalami masalah

dalam tidurnya. Tanda-tanda kekurangan tidur dapat dibedakan menjadi

tanda psikologis. Tanda-tanda fisik akibat kekurangan tidur diantaranya :

ekspresi wajah (area gelap disekitar mata, bengkak kelopak mata,

konjungtiva kemerahan dan mata terlihat cekung, mata perih, sering

menguao atau mengantuk), kantuk yang berlebihan, tidak mampu untuk

berkonsentrasi, terlihat tanda-tanda keletihan. Sedangkan tanda-tanda

psikologis antara lain: merasa tidak enak badan, malas, daya ingat menurun

dan bingung ( Khasana & Hidayat 2012). Memperoleh kuallitas tidur yang

baik adalah meningkatkan kesehatan yang baik dan pemulihan individu

yang sakit. Perawat memperhatikan klien yang sering mengalami masalah

tidur karena penyakit atau hospitalisasi ( Particia,P 2006).

Banyak factor yang mempengaruhi kualitas maumpun kuantitas tidur,

salah satu diantaranya adalah kecemasan, kecemasan yang timbul dapat

dipengaruhi oleh adanya suatu gangguan pada kondisi tubuh yang kurng

sehat, semakin seseorang mengalami kondisi kecemasan yang berat maka

akan mempengaruhi kondisi kualitas dan kuantitas tidur yang baik bagi

seseorangt, itupun sebaliknya semakin baik keadaan kecemasan seseorang

memungkinkan seseorangn tersebut akan mengalammi kondisi kualitas dan


kuantitas tidur yang baik pula ( Chayatin & Mubarak 2007). Hasil penelitian

tentang kualitas tidur pasien yang berada dirumah sakit, menunjukkan

bahwa kualitas tidur pasien yang menjalani perawatan dirumah sakit lebih

buruk dibandingkan dengan individu yang sehat. Tidur yang kurang dapat

memberikan dampak terhadap status kesehatan dan mempengaruhi proses

meningkatkan fatiqu, mod negative dan disorientasi. Tidur merupakan

kebutuhan dasar manusia, sehingga hal tersebut harus menjadi perhatian

perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien (do’gan,

ertekin & dogan 2004) dalam Zainal Arifin (2011).

Alat untuk menilai distribusi tidur pasien, biasa juga digunakan pada pasien

yang mengalami macam gangguan tidur dengan menggunaka kuesioner

SDSC.

2.1.10 Faktor yang dapat mengubah kualitas dan kuantitas tidur

1. Psikologis

Gangguan psikologis meliputi cemas, sulit tidur, depresi dan

paranoia (perasaan seperti orang lain ingin mengejar ) (martonno

2008). Kecemasan tentang masalah pribadi atau situasi dapat

mengganggu tidur, stress emosional menyebabkan seseorang

menjadi tegang dan sering kali mengarah frustasi apabila tidak tidur,

stress juga menyebabkan seseorang mencoba terlalu keras untuk

tidur, sering terbangun selama siklus tidur ( Patricia P 2006)

2. Fisiologis
Ketidaknyamanan fisik oleh akibat penyakit (misalnya : sulit

bernafas, nyeri dll) dapat menyebabkan masalah tidur, medikasi atau

obat-obatan yang diresepkan untuk tidur sering kali memberi banyak

masalah dari pada keuntungannya, orang dewasa muda dan dewasa

tengah dapat tergantung pada obat tidur untuk mengatasi stressor

gaya hidupnya. Lansia sering kali menggunakan variasi untuk

mengatasi penyakit kronik dan efek kombinasi dari beberapa obat

dapat pula mengganggu tidur secara serius, penyakit pernapasan

sering kali mempengaruhi tidur. Pasien yang berpenyakit paru

kronik seperti enfisema dengan nafas pendek dan sering kali tidak

dapat tidur tanpa dua atau tiga bantal untuk meninggikan kepala

mereka. Asma bronchitis dan rhinitis alergi pula dapat merubah

irama pernapasan sehingga mengganggu tidur ( Patricia P 2006)

3. Lingkungan

Lingkungan fisik tempat seorang tidur berpengaruh penting

pada kemampuan untuk tertidur dan tetap tertidur, dirumah sakit dan

fasilitas rawat inap lainnya, suara menciptakan masalah bagi pasien,

suara dirumah sakit baru batau asing, sehingga pasien menjad

terbangun. Masalah ini adalah yang terbesar pada malam pertama

hspitalisasi, suara yang disebabkan orang (misalnya aktifitas

perawat) adalah sumber tingkat suara yang meningkat kedekatan

yang rapat dengan apsien, suara dari pasien yang bingung dan sakit

dan gangguan yang disebabkan oleh kegawatdaruratan membuat

lingkungan menjadi tidak menyenangkan. Tingkat kecahayaan dapat


mempengaruhi kemampuan untuk tidur. Beberapa pasien menyukai

ruangan yang gelap, sementara yang lain, seperti anak-anak atau

lansia, menyukai cahaya yang remang yang tetap menyala selama

tidur. Pasien juga mungkin merasa bermasalah tidur karena suhu

ruangan, ruangan yang terlalu hangat atau dingin sering kali

menyebabkan pasien gelisah ( Patricia P 2006).

2.1.11 Alat Ukur Kualitas Tidur

Alat untuk menilai kualitas tidur seseorang yang mengalami gangguan

kualitas tidur atau insomnia dan dapat digunakan dengan seseorang yang

mengalami gangguan tidur lainnya yaitu dengan menggunakan instrumen

PSQI yang terdiri dari 4 pertanyaan terbuka dan 19 pertanyaan tertutup

mengenai tidur yang masing-masing pertanyaan memiliki (score 0-3)

(Edinger, Jack D 2008). Kualitas tidur pada anak yang dirawat diumah sakit

dapat diketahui dengan menggunakan The Pittsburgh Sleep Quality Index

(PSQI) yang terdiri dari beberapa komponen meliputi :

1. Waktu yang diperlukan untuk memulai tidur

2. Lamanya waktu untuk tidur

3. Presentasi waktu yang dihabiskan untuk tidur ditempat tidur

4. Gangguan yang dialami selama tidur dimalam hari

5. Kebiasaan menggunakan obat-obatan untuk tidur

6. Gangguan yang dialami pada siang hari

7. Kualitas tidur yang dialami secara subjektif (Buysse 1989).


Table 2.2 Kuesioner Kualitas Tidur Pitssburgh Sleep Quality Index (PSQI)

Komponen 1 : Jawaban Skor


kualitas tidur
Sangat bagus ( tertidur 0
lelap dan merasa segar
setelah bangun tidur)
Cukup bagus (tertidur 1
lelap dan kurang segar
Bagaimana anda setelah bangun tidur)
mengukur kualitas Cukup buruk (tertidur 2
tidur anda secara kurang lelap dan
keseluruhan ? kurang segar setelah
bangun tidur)
Sangat buruk (tidur 3
tidak lelap dan merasa
tidak segar setelah
bangun tidur)
Komponen 2 : Jawaban Skor
Letensi Tidur
Berapa lama (dalam ≤ 15 menit 0
menit) yang anda 16 – 30 menit 1
butuhkan untuk jatuh 31 – 60 menit 2
tertidur pada setiap >60 menit 3
malamnya ?
Seberapa sering anda Tidak sama sekali 0
mengalami Kurang dari 1 minggu 1
gangguan tidur Sekali atau dua kali 2
karena anda tidak seminggu
bisa tidur dalam 30 Tiga atau lebih dalam 3
menit seminggu
Komponen 3 : Jawaban Skor
Durasi Tidur
Berapa jam anda >7 jam 0
benar-benar tidur 6 – 7 jam 1
pada malam hari? 5 – 6 jam 2
<5 jam 3
Komponen 4 : Jawaban Singkat
efesiensi Kebiasaan
Tidur
Pada pukul berapa
anda biasanya pergi
tidur ?
Pada pukul berapa
anda biasanya
bangun pada pagi
hari ?
Berapa jam yang
anda butuhkan
ditempat tidur ?
Komponen 5 : Tahap Gangguan Tidur
Pertanyaan Skor
Seberapa sering anda Tidak Kurang dari 1 Sekali Tiga atau
mengalami sama minggu atau dua lebih
gangguan tidur sekali kali dalam
karena anda seminggu seminggu
Bangun pada tengan 0 1 2 3
malam atau pagi
sekali
Harus pergi ke 0 1 2 3
kamar kecil
Merasa sesak 0 1 2 3
Batuk atau 0 1 2 3
mendengkur terlalu
keras
Merasa kedinginan 0 1 2 3
Mimpi buruk 0 1 2 3
Merasa nyeri 0 1 2 3
Alasan 0 1 2 3
lainnya,…………….
Silahkan
deskripsikan,
termasuk berapa
sering anda
mengalami
gangguan tidur
karena gangguan ini.
Komponen 6 : Jawaban Skor
penggunaan obat
tidur
Seberapa anda sering Tidak sama sekali 0
minum obat Kurang dari 1 minggu 1
(menggunakan resep Sekali atau dua kali 2
atau tidak) untuk seminggu
membantu anda Tiga atau lebih dalam 3
untuk tidur ? seminggu
Komponen 7 : Jawaban Skor
gangguan fungsi
pada siang hari
Seberapa sering anda Tidak sama sekali 0
mengalami Kurang dari 1 minggu 1
gangguan untuk Sekali atau dua kali 2
tetap terjaga saat seminggu
menyetir, makan Tiga atau lebih dalam 3
atau dalam kegiatan seminggu
sosial ?
Seberapa banyak Tidak ada masalah 0
kegiatan yang Hanya sedikit masalah 1
membuat anda Beberapa masalah 2
sangat antusias Sangat besar 3
untuk masalahnya
menyelesaikannya ?

Table 2.3 Penilaian Kualitas Tidur Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI)

Komponen Penillaian Kualitas Skor


Tidur
Kualitas Tidur Sangat baik : 0
Cukup baik : 1
Cukup buruk : 2
Sangat buruk : 3
Letensi Tidur Letensi tidur 0 : 0
Letensi tidur 1 – 2 : 1
Letensi tidur 3 – 4 : 2
Letensi tidur 5 – 6 : 3
Durasi Tidur Durasi tidur >7 : 1
Durasi tidur 6 – 7 : 1
Durasi tidur 5 – 6 : 2
Durasi tidur <5 : 3
Efesiensi Kebiasaan Tidur Efesiensi kebiasaan tidur >85% : 0
Efesiensi kebiasaan tidur 75-84% :
1
Efesiensi kebiasaan tidur 65 – 74%
:2
Efesiensi kebiasaan tidur < 65% : 3
Gangguan Tidur Gangguan Tidur 0 : 0
Gangguan Tidur 1 – 9 : 1
Gangguan Tidur 10 – 18 : 2
Gangguan Tidur 19 – 27 : 3
Penggunaan Obat Tidur Tidak pernah : 0
>1 kali dalam seminggu : 1
1 atau 2 kali dalam seminggu : 2
3 kali atau lebih dalam seminggu : 3
Disfungsi Siang Hari Disfungsi siang hari 0 : 0
Disfungsi siang hari 1 – 2 : 1
Disfungsi siang hari 3 – 4 : 2
Disfungsi siang hari 5 – 6 : 3

2.1.12 Kualitas Tidur pada Hospitalisasi Anak Usia Sekolah

Menurut hasil penelitian Yuslian didapatkan sebagian besar responden

dalam penelitian tersebut memiliki kualitas tidur buruk dengan presentase

90% dan prsentase 10% mengalami kualitas tidur baik bagi anak usia

sekolah yang mengalami hospitalisasi (Yuslian 2017). Penelitian tersebut

sejalan dengan penelitian Fany dkk bahwasanya anak yang mengalami

hospitalisasi sebagian besar mengalami kualitas tidur yang kurang baik.

Kualitas tidur anak usia sekolah yang mengalami hospitalisasi ini

disebabkan oleh beberapa hal diantaranya seperti perasaan takut saat proses

perawatan, lingkungan rumah sakit yang tidak nyaman mengakibatkan anak

rewel dan susah untuk tidur, dalam keadaan ini sangat berpengaruh pada

kualitas tidur anak (Fany dkk. 2014)


2.2 Sleep Hygiene

2.2.1 Definisi Sleep Hygiene

Sleep hygiene adalah suatu istilah yang menggambarkan kebiasaan

tidur yang baik yang dapat memberikan kesempatan untuk tidur dengan

rileks (Australian SD, 2006). Perilaku Sleep Hygiene merupakan kebiasaan

yang dapat mengoptimalkan tidur dengan latihan perilaku yang baik

sehingga dapat melakukan aktivitas maksimal di siang hari, tujuan menjaga

sleep hygiene untuk dapat meningkatkan periode REM dan

mempertahankan durasi REM yang cukup. (Nolan H dkk,2009). Perbaikan

dalam sleep hygiene adalah cara yang mudah dan sederhana namun efektif

dalam meningkatkan kualitas tidur (Stanley M, 2006)

2.2.2 Komponen Sleep hygiene

Komponen sleep hygiene dibagi menjadi 4 bagian besar yang terdiri

dari jadwal tidur bangun, lingkungan, diet dan kebiasaan tidur yang dapat

menginduksi tidur seperti aktivitas siang hari (Amir N, 2007)

1. Jadwal tidur – bangun

Jadwal bangun tidur terbagi atas kebiasaan tidur siang, kebiasaan

jam tidur, kebiasaan jam bangun, dan aktivitas latihan sebelum tidur

( Mastin D, 2006).

2. Lingkungan

Lingkungan terdiri dari tempat tidur yang tidak nyaman (seperti

matras dan guling yang tidak nyaman, selimut yang terlalu tebal atau

terlalu tipis), kamar tidur yang tidak nyaman (terlalu terang, suhu

ruangan yang panas, suara berisik), perasaan yang buruk sebelum


tidur (seperti marah, stress, khawatir). Studi menunjukkan bahwa

sinar cahaya dalam ruangan akan mempengaruhi hormone

melatonin. Kamar yang tetap terang saat tidur akan mengurangi

kadar melatonin hingga 50%.

Dari hasil penelitian sebelumnya, tidur dengan tidak menggunakan

lampu akan memberikan kualitas tidur yang baik, jarang terbangun

di malam hari dan merasa bangun dalam keadaan segar. Lampu yang

mati saat tidur akan membuat kinerja hormon melantonin maksimal

sehingga tubuh dan otak beristirahat secara penuh (Suci R, 2015)

3. Diet

Komponen Diet terdiri dari perilaku konsumsi alkohol, merokok dan

konsumsi kafein 4 jam sebelum tidur (Mastin D, 2006). Konsumsi

kafein yang berlebih dapat menyebabkan perburukan jumlah jam

tidur, onset tidur, frekuensi terbangun dimalam hari, kedalaman

tidur, ketidakpuasan tidur dan disfungsi pada pagi hari (Binti N,

2013). Tindakan non-spesifik untuk menginduksi tidur (sleep

hygiene) dapat dilakukan dengan bangun pada waktu yang sama

setiap hari, batasi waktu ditempat tidur, hindari tidur sekejap di siang

hari, aktif berolahraga di sore hari. Merendam dalam air panas

menjelang waktu tidur selama 20 menit, hindari makan banyak

sebelum tidur, makan pada waktu yang teratur, lakukan relaksasi

sebelum tidur dan mempertahankan kondisi tidur yang

menyenangkan merupakan tindakan yang dapat menginduksi tidur

juga ( Prayitno A,2002).


2.3 Konsep anak usia sekolah

2.3.1 Pengertian dan batasan anak usia sekolah

Anak usia sekolah merupakan anak yang berumur 6 sampai 12 tahun

yang duduk di sekolah dasar dari kelas 1 sampai 6 dan perkembangan sesuai

usianya (Wong,2008). Pertumbuhan anak usia sekolah lebih cepat

dibandingkan dengan masa prasekolah, keterampilan dan intelektual

semakin berkembangnya, anak lebih senang bermain berkelompok dengan

jenis kelamin yang sama (Narendra dkk 2008). Usia sekolah dimuali dari

masuknya anak ke lingkungan sekolah yang memiliki signifikan dalam

perkembangan dan hubungan anak dengan orang lain. Anak akan mulai

bergabung dengan teman sebaya saat hubungan dekata pertama dari luar

kelompok keluarga. Periode masa anak-anak di pertengahan antara

pertumbuhan dan perkembangan menjadi bertahap dengan peningkatan

yang lebih besar terhadap aspek fisik dan emonsional (Wong, 2008).

2.3.2 Perkembangan biolgis anak usia sekolah

Pada mmasa anak-anak pertengahan, pertumbuhan dengan tinggi dan

berat badan terjadi sangat lambat akan tetapi pasti jika dibandingkan dengan

masa sebelumnya. Pertumbuhan anak usia sekolah mengalami sekitar 5 cm

pertahun untuk mencapai tinggi badan 30-60 cm pertahun. Rata-rata tinggi

anak usia 6 tahun adalah sekitar 116cm dan berat badannya 21 kg, rata-rata
tinggi anak usia sekolah 12 tahun adalah sekitar 150cm dan berat badannya

mendekati 40kg (Wong,2008) Perubahan proporsi merupakan salah satu

diantara perubahan fisik yang paling diutamakan dalam masa kanak-kanak

tengah dan akhir ( Santrock,2007).Pertumbuhan anak usia sekolah lebih

cepat dibandingkan dengan masa prasekolah, keterampilan dan intelektual

semakin berkembangnya, anak lebih senang bermain berkelompok dengan

jenis kelamin yang sama (Narendra dkk 2008).

2.3.3 Perkembangan psikoseksual anak usia sekolah

Pada masa kanak-kanak pertengahan merupakan periode

perkembangan psikoseksial yang mendeskripksikan sebagai priode laten,

yaitu waktu tenang antara fase odipus fase anak-anak oleh freud. Selama

waktu ini, anak-anak membina hubungan dengan teman sebaya sesama jenis

setelah perkenalan sebelumnya (Wong,2008). Saat tahap laten terjadi antara

sekiar 6 tahun hingga masa puber. Selama periode ini anak akan menekan

seluruh minat seksual dan mengembangkan keterampilan keterampilan

social dan intelektual. Aktivitas ini mengarahkan anak kedalam bidang yang

aman secara emosional dan membantu anak melupakan konflik tahan

phallic yang sangat menekan ( Santrock 2007).

2.3.4 Perkembangan kognitif anak usia sekolah

Tahap operasional konkret yang berlangsung mulai dari sekitar 7

hungga 11 tahun merupsksn tahap perkembangan kognitif menurut J.Piaget.

anak sekarang dapat menalar secara logis mengenai kejadian konkrert dan

menggolongkan benda kedalam kelompok yang berbeda-beda ( Santrock


2007) pada tahan operasional konkret anak mampu menggunakan proses

berpikir untuk mengalami peristiwa dan tindakan.elama tahap ini anak

mengembangkan pemahaman mengenai hubungan antara sesuatu hal

dengan ide. Anak mengalami kemajuan dari membuat penilaian berdasarkan

apa yang mereka lihat (pemikiran perseptual) membuat penilaian

berdasarkan alasn mereka ( Wong 2008)

2.3.5 Perkembangan moral anak usia sekolah

Perkembangan moral menurut Kohlberg anak usia sekolah bergerak

melalui tahap perkembangan kesadaran diri dan standart moral. Walaupun

anak usia 6 sampai 7 tahun mengetahui peraturan dan prilaku yang

diharapkan dari mereka, mereka bertindak dengan memahami alasannya.

Penguatan dan hukuman menginterprestasikan kecelakaan dan ketidak

beruntungan sebagai hukuman, kesalahan atau akibat tindakan buruk yang

dilakukan anak. Anak usia sekolah yang lebih besar lebih mampu menilai

suatu tindakan bersadarkan niat dibandingkan akibat yang dihasilkannya.

Merekka mampu memahami dan menerima konsep memperlakukan orang

lain seperti bagaimana mereka ingin diperlakukan ( Wong 2008).

2.3.6 Perkembangan spiritual anak usia sekolah

Anak-anak pada usia ini berpikir dalam batasan yang sangat konkret

tetapi merupakan pelajar yang baik dan memiliki kemauan besar untuk

mempelajari Tuhan. Mereka sangat tertarik dengan konsep neraka dan surga

dengan perkembangan kesadaran diri dan perhatian terhadap peraturan ,

anak takut akan masuk neraka Karenna kesalahan dan perilaku. Mereka
merasa nyaman dengan berdoa atau melakukan ritual agama lainnya dan

jika aktifitas ini merupakan bagian sehari-hari anak. Hal ini dapat membantu

anak melakukan koping dalam menghadapi situasi yang mengancam.

Permohonan anak kepada Tuhannya dalam beribadah cenderung untuk

mendapat balasan nyata ( Wong 2008).

2.3.7 Perkembangan social anak usia sekolah

Salah satu agen sosialisasi terpenting dalam kehidupan anak usia

sekolah adalah kelompok teman sebaya. Anak usia sekolah senang dengan

perbedaan sudut pandang, menjadi sensitive terhadap norma social dan

membentuk hubungan dengan teman sebaya merupakan hal paling penting

dalam perkembangan sosialn selama masa sekolah. Anak-anak juga

memerlukan orang tua sebagai orang dewasa, bukan berarti sebagai teman.

Anak-anak memerlukan yang stabul dan aman yang disediakan oleh orang

dewasa yang telah matang, sebagai tempat anak dapat berpaling selama ada

masalah dalam hubungan dengan teman sebaya ( Wong 2008)

Setiap kesuksesan kecil akan meningkatkan diri anak. Konsep diri

yang positif membuat anak merasa berharga dan mampu memberikann

konrtibusi dengan baik. Perasaan sepeeti itu menyebabkan penghargaan diri,

kepercayaan diri dan perasaan bahagia secara umum. Anak usia sekolah

memiliki persepsi yang cukup akurat dan positif tentang keadaan fsik diri

mereka sendiri, tetapi umumnya mereka kurang menyukai keadaan fisiknya


seiring dengan pertambahan usia. Citra tubuh dipengaruhi oleh orang lain

yang penting bagi anak. Merupakan hal penyinng bahwa anak mengetahui

fungsi tubuhnya dan orang dewasa mengoreksi pemahaman anak yang salah

tentang tubuhnya ( Wong 2008).

2.3.8 Perkembangan psikososial anak usia sekolah

Pengembangan rasa industry adalah tahap perkembangan erikson yang

keempat, terjadi sekitar tahun sekolah dasar. Inisiatif anak membawa

mereka berhungan dengan banyak pengalaman baru. Mereka mengarahkan

energy mereka menuju penguasaan engetahuan dan keterampilan intelektual

( Santrock 2007). Anak-anak usia sekolah ingin sekali mengembangkan

keterampilan dan berpartisipasi dalam pekerjaan yang berarti dan berguna

bagi social. Meluasnya ketertarikan anak pada tahun-tahun pertengahan dan

dengan tumbuhnya rasa kemandirian, anak ingin dilihat menyelesaikan

tugas yang dapat dilakaukan sampai selesai. Anak usia sekolah tidak

dipersiapkan untuk memikul tanggunng jajwab terkait denfgan

perkemvbangan rasa pencapaian, perasaan kurang berharga dapat timbul

dari anak itu sendiri dan dari lingkkungan sosialnya ( Wong 2008).

2.4 Konsep Hospitalisasi

2.4.1 Pengertian Hospitalisasi

Hospitalisasi merupakan keadaan dimana mengharuskan anak untuk

dirawat diurmah sakit untuk menjalankan perawatan sampai pemulangan ke

rumah (Wong 2009). Anak yang menjalankan hospitalisasi akan mengalami

stres karena lingkungan asing bagi mereka ( Hidayat 2006).


2.4.2 Dampak Hospitalisasi

Anak yang sakit dan dirawat dirumah sakit meupakan krisis yang

utama pada anak, ketika anak dirawat dirumah sakit, anak dengan

mudahnya mengalami stress akibat dari status kesehatannya dengan

lingkungannya dalam kebiasaan sehari – hari dan keterbatan koping bagi

anak dalam mengatasi masalah yang bersifat menekan. Anak yang dirawat

inap juga dapat mengalami gangguan perkembangan dan emosional ( Utami

2014).

Dampak hospitalisasi pada anak salah satunya adalah distress yang

dibagi dua menjadi distress psikoloigi dan distress fisik. Distress psikologi

seperti kecemasan, ketakutan, kekecewaan, malu, rasa bersalah. Distress

fisik seperti kesulitan tidur dan imobilitas anak dalam melakukan sesuatu

(Wong 2009).

2.4.3 Reaksi Anak Terhadap Hospitalisasi

Anak secara umum lebih rentan mengalami sakit dan hospitalisasi

karena kondisi anak merupakan status perubahan kesehatan dan rutinitas

umum untuk mereka. Anak memiliki keterbatasan pemahaman dan

mekanisme koping untuk membantu anak menyelesaikan stressor yang

terjadi pada anak. Hospitalisasi membuat serangkaian peristiwa secaa

traumatik dan stress ketidakpastian bagi anak dan keluarga baik itu prosedur

sebelum dan sesudah rencana efektif ataupu dalam situasi darurat yang

terjadi akibat trauma. Anak akan mengalami stress berlangsung sebelum

masuk, selama hospitalisasi dan setelah pulang, selain itu efek hospitalisasi

mencangkup ansietas serta ketakutan yang berhubungan dengan


kemungkinan cedera tubuh, bahaya fisik dan nyeri. Anak dengan

hospitalisasi dipisahkan dari rumah, keluarga, dan teman mereka serta

berbagai hal yang sudah familiar untuk mereka yang akan mengakibatkan

ansietas perpisahan, kehilangan kontrol pada anak (Utami 2014)

2.4.4 Mengatasi Efek Hospitalisasi sesuai Pekembangan

Anak yang mengalami hospitalisasi pada saat mengatasi ketakutan,

ansietan perpisahan dan kehilangan kontrol perawat harus

mempertimbangkan usia anak dan tingkat kognitif anak atau tingkat

perkembangan anak. Intervensi yang didasai bagi anak yang mengalami

stresso akibat hospitalisasi ini dapat ditinjau dari usia atau tingkat

perkembangan anak tersebut (Utami 2014)