Anda di halaman 1dari 30
JURNAL BERAJA NITI ISSN : 2337-4608 Volume 3 Nomor 4 (2014) http://e-journal.fhunmul.ac.id/index.php/beraja © Copyright

JURNAL BERAJA NITI ISSN : 2337-4608 Volume 3 Nomor 4 (2014) http://e-journal.fhunmul.ac.id/index.php/beraja © Copyright 2014

PENGELOLAAN LIMBAH CAIR DI RUMAH SAKIT DIRGAHAYU KOTA SAMARINDA

Frederickus Yuga Prassojo 1 (Mastermisterjow@yahoo.com) La Sina 2 (lasina@fhunmul.ac.id) Rika Erawaty 3 (erawaty_rika@yahoo.co.id)

Abstrak

Samarinda sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur memiliki potensi masalah kesehatan masyarakat yang cukup besar pertahunnya sehingga memerlukan fasilitas umum berupa Rumah Sakit yang memadai, salah satunya adalah Rumah Sakit Dirgahayu yangmerupakan Rumah Sakit Swasta besar yang berada di Kota Samarinda. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air dimana dalam Lampiran I nomor 17 mengenai parameter baku mutu limbah cair bai kegiatan Rumah Sakit, sehingga yang menjadi rumusan masalah adalah bagaimana upaya Rumah Sakit Dirgahayu dalam mengelola limbah cair dan bagaimana sistem pengawasan Pemerintah Daerah Kota Samarinda terhadap pengelolaan limbah cair yang di lakukan oleh pihak Rumah Sakit Dirgahayu. Tujuan dari peneletian skripsi ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa upaya pihak Rumah Sakit Dirgahayu kota Samarinda dalam mengelola limbah cair serta untuk mengetahui dan menganalisa sistem pengawasan pemerintah daerah kota Samarinda terhadap pengelolaan limbah cair yang di lakukan oleh pihak Rumah Sakit Dirgahayu. Jenis Penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penulisan hukum ini adalah penelitian deskriptif dengan metode pendekatan yuridis empiris, suatu pendekatan yang bertitik tolak dari ketentuan hukumnya dan kemudian diteliti dengan melihat kenyataan yang ada dilapangan, khususnya berhubungan dengan kajian hukum lingkungan terhadap pengelolaan limbah cair di rumah sakit dirgahayu kota samarinda. Dari hasil penelitian yang diperoleh yaitu pengelolaan limbah cair yang telah dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Dirgahayu sudah cukup baik dengan menghasilkan hasil air olahan yang baik serta dalam hal ini pengawasan yang dilakukan Pemerintah Daerah Kota Samarinda juga sudah cukup baik dan ketat.

Daerah Kota Samarinda juga sudah cukup baik dan ketat. Kata Kunci : Pengelolaan Limbah Cair, Pengolahan,

Kata Kunci : Pengelolaan Limbah Cair, Pengolahan, dan Pengawasan.

1 Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman

2 Dosen Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman

3 Dosen Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman

LIQUID WASTE MANAGEMENT IN DIRGAHAYU HOSPITAL SAMARINDA CITY

Frederickus Yuga Prassojo 4 (Mastermisterjow@yahoo.com) La Sina 5 (lasina@fhunmul.ac.id) Rika Erawaty 6 (erawaty_rika@yahoo.co.id)

Abstract

As the capital Samarinda in East Kalimantan province has the potential public health problem that is large enough to require annual public facilities such as adequate Hospital, one of which is Hospital Private Hospital Long live large in the city of Samarinda. Based on Regional Regulation No. 2 of 2011 concerning Management of Water Quality and Water Pollution Control where the number 17 in Annex I of the effluent quality standard parameters bai Hospital activities, so that the formulation of the problem is how to attempt Hospital Dirgahayu in managing wastewater and how the system Samarinda City Government oversight of the management of liquid waste will be undertaken by the Hospital Dirgahayu. The purpose of this paper is intensive search to identify and analyze the efforts Hospital Long live the city of Samarinda in managing liquid waste as well as to identify and analyze system of local government control of the city of Samarinda wastewater management will be undertaken by the Hospital Dirgahayu. Research the type used by the author in writing this law is a descriptive study with empirical juridical approach, an approach that starts from the provisions of the law and then examined by looking at the reality in the field, particularly related to the study of environmental law on the management of waste in hospitals long live the city Samarinda. From the research results obtained by the management of liquid waste that has been made by the Hospital Long live good enough to produce good results as well as process water in this surveillance conducted Samarinda City Government has also been quite good and tight.

City Government has also been quite good and tight. Keywords : Liquid Waste Management , Treatment

Keywords : Liquid Waste Management , Treatment , and Control

4 Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman

5 Dosen Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman

6 Dosen Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman

Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 4

Pendahuluan

Persoalan lingkungan hidup disebabkan berbagai hal, salah satunya

pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan populasi manusia yang semakin tinggi

menyebabkan

aktifitas

ekonomi

juga

meningkat

pesat.

Kegiatan

ekonomi/pembangunan

yang

semakin

meningkat

mengandung

resiko

pencemaran dan perusakan lingkungan hidup sehingga struktur dan fungsi dasar

ekosistem yang menjadi pendukung kehidupan menjadi rusak. Hal tersebut

merupakan

sosial yang pada akhirnya manusia 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan disebutkan bahwa arah pembangunan
sosial
yang
pada
akhirnya
manusia
32
Tahun
2009
tentang
Perlindungan
disebutkan
bahwa
arah
pembangunan
pembangunan
ekonomi
dengan

beban

Nomor

Hidup

adalah

pula

Dan

yang

akan

menanggung biaya pemulihannya. Penjelasan atas Undang-Undang Republik

Indonesia

Lingkungan

Indonesia

Pengelolaan

panjang

pada

jangka

bertumpukan

pembangunan industri yang diantaranya menggunakan berbagai jenis bahan

kimia dan zat radioaktif. Disamping menghasilkan produk yang bermanfaat bagi

masyarakat, industrialisasi juga menimbulkan ekses, antara lain dihasilkannya

limbah yang apabila dibuang ke lingkungan akan dapat mengancam lingkungan

hidup itu sendiri, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. 7

Kota Samarinda adalah salah satu kota sekaligus merupakan ibu kota

provinsi Kalimantan Timur. Seluruh wilayah kota ini berbatasan langsung dengan

Kabupaten Kutai Kartanegara. Kota Samarinda dapat dicapai dengan perjalanan

darat, laut dan udara. Dengan Sungai Mahakam yang membelah di tengah Kota

Samarinda, yang menjadi "gerbang" menuju pedalaman Kalimantan Timur. Kota

7 Wyuliandari,2008, makalah PELAKSANAAN UKL-UPL (UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN-UPAYA

PEMANTAUAN LINGKUNGAN) untuk sosialisasi pada 29 Oktober 2008, Halaman 1

2

Pengelolaan Limbah Cair (Frederickus Yuga)

ini memiliki luas wilayah 718 kilometer persegi dan berpenduduk 726.223 jiwa 8 ,

menjadikan

kota

ini

berpenduduk

terbesar

di

seluruh

Kalimantan,

hal

ini

menunjukan

bahwa

kota

Samarinda

memiliki

potensi

masalah

kesehatan

masyarakat yang cukup besar pertahunnya sehingga memerlukan fasilitas berupa

Rumah Sakit yang memadai sebagai fasilitas sosial yang tak mungkin dapat

dipisahkan dengan masyarakat, dan keberadaannya sangat diharapkan oleh

masyarakat, karena sebagai manusia atau masyarakat tentu menginginkan agar

keseahatan tetap terjaga. Oleh karena itu rumah sakit mempunyai kaitan yang

terjaga. Oleh karena itu rumah sakit mempunyai kaitan yang erat dengan keberadaan kumpulan manusia atau masyarakat

erat dengan keberadaan kumpulan manusia atau masyarakat tersebut. Di masa

lalu, suatu rumah sakit dibangun di suatu wilayah yang jaraknya cukup jauh dari

dareah pemukiman, dan biasanya dekat dengan sungai dengan pertimbangan

agar pengelolaan limbah baik padat maupun cair tidak berdampak negatif

terhadap penduduk, atau bila ada dampak negatip maka dampak tersebut dapat

diperkecil.

Sejalan dengan perkembangan penduduk yang sangat pesat, lokasi

rumah sakit yang dulunya jauh dari daerah pemukiman penduduk tersebut

sekarang umumnya telah berubah dan berada di tengah pemukiman penduduk

yang cukup padat, sehingga masalah pencemaran akibat limbah rumah sakit baik

limbah padat atau limbah cair sering menjadi pencetus konflik antara pihak rumah

sakit dengan masyarakat yang ada di sekitarnya. 9

8 Hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010

9 Tomi,2012, Makalah Proper Lingkungan Hidup 2012 Kalimantan Timur, 24 Mei 2012, Halaman 2

3

Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 4

Apabila dibanding dengan kegiatan instansi lain, maka dapat dikatakan

bahwa jenis limbah rumah sakit dapat dikategorikan kompleks. Secara umum

limbah rumah sakit dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu limbah klinis dan non

klinis. Limbah klinis sendiri yaitu limbah benda tajam, limbah infeksius, limbah

jaringan tubuh, limbah sitotoksik, limbah farmasi, limbah kimia, limbah radioaktif,

sedangkan limbah non klinis yaitu berasal dari kantor / administrasi kertas, unit

pelayanan (berupa karton, kaleng, botol), sampah dari ruang pasien, sisa

patogen yang dapat menyebabkan kenyamanan dan estetika, kerusakan
patogen
yang
dapat
menyebabkan
kenyamanan
dan
estetika,
kerusakan

gangguan

makanan buangan; sampah dapur (sisa pembungkus, sisa makanan / bahan

makanan, sayur dan lain-lain). Air limbah yang berasal dari limbah rumah sakit

merupakan salah satu sumber pencemaran air yang sangat potensial. Hal ini

disebabkan karena air limbah rumah sakit mengandung senyawa organik yang

cukup tinggi juga kemungkinan mengandung senyawa-senyawa kimia lain serta

terhadap

mikro-organisme

penyakit

masyarakat di sekitarnya limbah rumah sakit harus di kelola dengan baik karena

limbah rumah sakit dapat berpengaruh besar terhadap lingkungan dan kesehatan

diantaranya

harta

benda,

gangguan/kerusakan

terhadan

tanaman

dan

binatang,

gangguan

terhadap

kesehatan manusia serta gangguan genetic dan reproduksi.

Oleh karena potensi dampak air limbah rumah sakit terhadap kesehatan

masyarakat sangat besar, maka setiap rumah sakit diharuskan mengolah air

limbahnya sampai memenuhi persyaratan standar yang berlaku. Air limbah

tersebut perlu diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke saluran umum. Masalah

yang sering muncul dalam hal pengelolaan limbah rumah sakit adalah terbatasnya

4

Pengelolaan Limbah Cair (Frederickus Yuga)

dana yang ada untuk membangun fasilitas pengolahan limbah serta operasinya,

khususnya untuk rumah sakit tipe kecil dan menengah. Untuk mengatasi hal

tersebut maka perlu dikembangkan teknologi pengolahan air limbah rumah sakit

yang murah, mudah operasinya serta harganya terjangkau, khususnya untuk

rumah sakit dengan kapasitas kecil sampai sedang. Selain itu perlu menyebar-

luaskan informasi teknologi khususnya untuk pengolahan air limbah rumah sakit,

sehingga dalam memilih teknologi pihak pengelola rumah sakit mendapatkan hasil

yang optimal. 10

terutama terhadap lingkungan di
terutama
terhadap
lingkungan
di

Rumah Sakit yang tersebar di penjuru kota Samarinda dengan sebagian

besar merupakan Rumah Sakit swasta salah satunya adalah Rumah Sakit

Dirgahayu, Rumah sakit dirgahayu berdiri pada tahun 1975, pada tahun 2013

rumah sakit dirgahayu meiliki kapasitas 255 Tempat tidur dengan fasilitas medis

antara lain spesialis klinik anak, umum, kebidanan dan kandungan, bedah, ICU,

BKIA, gigi dan mulut serta palayanan penunjang seperti laboratorium, farmasi,

fisioterapi dan rontgen. 11 Dalam pengoperasian rumah sakit terkadang terjadi

banyak

proses

permasalahan

karenakan

pembuangan limbah cair yang apabila tidak di kelola dengan baik akan merusak

lingkungan selain itu Rumah Sakit Dirgahayu terletak di daerah padat penduduk

dengan jumlah pedagang makanan yang berdagang di sekitar wilayah rumah

sakit sangat banyak sehingga berpotensi besar dalam menghasilkan limbah

10 Jenis dan Pengaruh Limbah Rumah Sakit Terhadap Lingkungan Dan Kesehatan”,

http://www.smallcrab.com/kesehatan/764-jenis-dan-pengaruh-limbah-rumah-sakit-terhadap-

lingkungan-dan-kesehatan, yang di akses pada hari Selasa 25 Juni 2013, Pukul 23.00

11 http://indonetwork.co.id/RSDIRGAHAYU/profile, yang di akses pada hari Selasa, tanggal 5 November 2013, Pukul 18.00

5

Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 4

domestik yang berpengaruh terhadap hasil olahan limbah Rumah sakit Dirgahayu

yang berdampak pada lingkungan sekitar.Dalam Keputusan Menteri Lingkungan

Hidup Nomor 58 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan

Rumah Sakit telah di jelaskan bahwa Pemerintah daerah selaku Gubernur untuk

dapat menetapkan parameter

keperluan

di

masing-masing

tambahan di luar baku mutu limbah cair sesuai

daerah

berkitan

dengan

itu

maka

telah

di

terbitkannya Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 2 Tahun 2011

Tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran air mengenai

Rumah Sakit Dirgahayu kota
Rumah
Sakit
Dirgahayu
kota

parameter Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit yang telah di

sesuaikan untuk keperluan di Kalimantan Timur, serta memuat sebagaimana

mestinya pertanggung jawaban pihak rumah sakit dalam pengelolaan limbah cair.

Pembahasan

1. Upaya

dalam

pihak

Samarinda

mengelola limbah cair

Air yang di gunakan di Rumah Sakit Dirgahayu berasal dari 2 sumber

yakni dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan air dari pengolahan

sendiri.

Air

dari

PDAM

hanya

di

gunakan

untuk

keperluan

dapur

umum/instalasi gizi, dan penyediaan air minum. Sedangkan air pengolahan

sendiri di gunakan untuk keperluan operasional lainnya. 12

12 Hasil wawancara dengan Bapak Ir.Velix Gatot Hr selaku PIC.Environment Healthy RS.Dirgahayu

6

Pengelolaan Limbah Cair (Frederickus Yuga)

Gambar 1; Penggunaan air di Rumah Sakit Dirgahayu

PDAM

Dapur

Gambar 1; Penggunaan air di Rumah Sakit Dirgahayu PDAM Dapur Drainase Pengolahan Untuk Air Minum Laundry
Gambar 1; Penggunaan air di Rumah Sakit Dirgahayu PDAM Dapur Drainase Pengolahan Untuk Air Minum Laundry
Drainase
Drainase

Pengolahan Untuk Air Minum

Laundry Perawatan Air Pengolahan IPAL Sendiri Laborat R.Operasi Sumber : Dokumen UKL-UPL Rumah Sakit Dirgahayu
Laundry
Perawatan
Air
Pengolahan
IPAL
Sendiri
Laborat
R.Operasi
Sumber : Dokumen UKL-UPL Rumah Sakit Dirgahayu 2011
Tabel 1; Penggunaan rata-rata air di Rumah Sakit Dirgahayu.
Jenis Kegiatan
Volume
No
(m
3 /hari)
1
Rawat jalan,Laborat,UGD,Apotik,Perkantoran
5
2
Rawat Inap
34
3
Kamar Bedah
3
4
Dapur
10
5
Laundry
20
6
IPAL, Insenerator
2
7
Kamar Jenazah
1
8
Asrama Karyawan
15
Jumlah rata-rata
90

Sumber : Dokumen UKL-UPL Rumah Sakit Dirgahayu 2011

Tabel tersebut merupakan uraian dari setiap keperluan air setiap bagian di Rumah

Sakit Dirgahayu yang di ukur dari presentasi hari dan kubikasi.

7

Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 4

Pengelolaan lingkungan merupakan tanggung jawab semua pihak

yang dianggap berkepentingan dalam pemanfaatan sumber daya alam dan

kelestarian

lingkungan. 13

Kegiatan-kegiatan

yang

berhubungan

dengan

masalah lingkungan hidup di dalam lokasi kegiatan pada dasarnya tercakup

dalam kegiatan yang bersifat intern dari struktur organisasi Rumah Sakit

dirgahayu, sedangkan yang bersifat ekstern yaitu berkaitan dengan instansi

yang berkepentingan atau terkait dengan masalah pengelolaan lingkungan

(TPS)B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) adanya kegiatan Rumah Sakit
(TPS)B3
(Bahan
Berbahaya
dan
Beracun)
adanya
kegiatan
Rumah
Sakit

serta

Dirgahayu,

menjadi tanggung jawab instansi tersebut. Pengelolaan lingkungan di Rumah

Sakit Dirgahayu terbagi dalam masing-masing blok/field yang saling berkaitan

dengan muara pengelolaan lingkungan di bagian lingkungan hidup yakni

Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) dan Instalasi Pengelolaan Limbah

Padat (Insenerator) yang di tampung terlebih dahulu di tempat penyimpanan

sementara

pengelolaan

maka

akan

kualitas udara. 14

Dengan

berpengaruh terhadap kualitas badan air penerima. Namun hal ini dapat di

tanggulangi dengan adanya Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL). Dimana

Ipal merupakan unit pengelolaan air limbah cair dari proses kegiatan di Rumah

Sakit Dirgahayu. Pengujian parameter pencemaran terhadap saluran buangan

dilakukan pada outlet Ipal yang mengalir di saluran pembuangan.

13 Ensiklopedia,Lingkungan http ://pengertiandefinisi.blogspot.com/2011/10/lingkungan.html diakses

Tanggal 31 Maret 2013 Pukul 07.32 Wita 14 Hasil wawancara dengan Bapak Ir.Velix Gatot Hr selaku PIC.Environment Healthy RS.Dirgahayu

8

Pengelolaan Limbah Cair (Frederickus Yuga)

A. Upaya Pengelolaan Limbah Cair Oleh Pihak Rumah Sakit Dirgahayu.

Penurunan kualitas air tanah dan air permukaan disebabkan oleh kualitas air

limbah yang di buang

ke lingkungan kurang baik, limbah cair yang di

timbulkan

dari

kegiatan

pelayanan

pasien

di

terangkum dalam tabel berikut :

Rumah

Sakit

Dirgahayu

Tabel 2; Sumber Dan Volume Limbah Cair

No Sumber Limbah Cair Kegiatan Volume rata- rata (m 3 /hari) 1 UGD (Unit Gawat
No
Sumber Limbah Cair
Kegiatan
Volume rata-
rata (m 3 /hari)
1
UGD (Unit Gawat Darurat)
Pencucian tngan dan luka, urinoir
2
2
Poli umum,Poli anak,BKIA,Poli gigi,Poli
bedah, Fisioterapi Laboratorium.
Pencucian tangan,pencucian instrumen
laboratorium,sisa reagent,pencucian luka,
urinoir
3
3
Ruang Santo yakobus
Pencucian tangan, urinoir
3
4
Ruang Santo Mikael, Radiologi, Hemodilisa
Pencucian tangan,pencucian instrumen
hemodilisa,bekas reagent,urinoir
3
5
Ruang Santo Gabriel
Pencucian tangan, urinoir
2
6
Ruang Santo Theresia
Pencucian tangan, urinoir
3
7
R.Operasi dan ICU-ICCU
Pencucian tangan,pencucian instrumen
bedah,sterilisasi,urinoir
3
8
Dapur
Pencucian bahan makanan dan alat
memasak
8
9
Kamar Jenazah
Pemandian Jenazah,Urinoir
0.5
10
Laundry
Pencucian linen/kain tenun,urinoir
15
Jumlah
42.5

Sumber : Dokumen UKL-UPL Rumah Sakit Dirgahayu 2011

Tabel di atas merupakan uraian setiap kegiatan pelayanan pasien di Rumah

Sakit dirgahayu yang menghasilkan limbah cair yang di ukur dari presentasi

hari dan kubikasi.

9

Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 4

Pengolahan limbah cair di Rumah Sakit Dirgahayu dilakukan dua tahap

yakni pengolahan terpisah dan pengolahan terpusat.

1. Pengolahan terpisah meliputi pengolahan awal yang dilakukan untuk

mengurangi

beban

olah

limbah

di

unit

pengolahan

terpusat. 15

Pengolahan ini dilakukan di masing-masing sumber limbah, yakni;

a.

Limbah cair dari ruang perawatan

Proses yang dilakukan yakni sedimen gravitasi. Sedimentasi

b.

dengan gravitasi berguna untuk menahan jalan. Limbah cair dari dapur/instalasi gizi dengan gravitasi berguna
dengan
gravitasi
berguna
untuk
menahan
jalan.
Limbah cair dari dapur/instalasi gizi
dengan
gravitasi
berguna
untuk
menahan

ikutan

padatan-

padatan terhanyut yang ada pada air limbah dalam suatu bak

kontrol yang ditempatkan pada aliran air buangan menuju IPAL.

Proses ini diterapkan di sepanjang ruas drainase tertutup yang

berasal dari ruang perawatan pasien, rawat inap maupun rawat

Proses yang dilakukan yakni sedimen gravitasi. Sedimentasi

padatan-

ikutan

padatan terhanyut yang ada pada air limbah dalam suatu primary

treatment dengan cara screening dan oil catcher. Screening

berfungsi untuk menyaring padatan yang terikut aliran limbah

cair dari dapur untuk diangkat dan dibuang ke kontainer liimbah

domestik. Sedangkan oil catcher berfungsi sebagai penangkap

minyak dan lemak, selanjutnya minyak dan lemak dibuang ke

15 Hasil wawancara dengan Bapak Ir.Velix Gatot Hr selaku PIC.Environment Healthy RS.Dirgahayu

10

Pengelolaan Limbah Cair (Frederickus Yuga)

kontainer sampah. Primary treatment limbah cair dari dapur

ditempatkan pada aliran air buangan menuju IPAL.

c. Limbah cair dari laundry.

Proses yang dilakukan yakni sedimentasi gravitasi. Sedimentasi

dengan

gravitasi

berguna

untuk

menahan

padatan-padatan

ikutan yang ada pada air limbah dalam suatu primary treatment

dengan cara screening.

d. Pengelolaan limbah tinja.

Limbah tinja berasal dari kamar mandi/WC cukup dilakukan desinfeksi untuk apabila kapasitas septik tank telah
Limbah
tinja
berasal
dari
kamar
mandi/WC
cukup
dilakukan
desinfeksi
untuk
apabila kapasitas septik tank telah terlampaui.

berupa

tinja,

dimasukkan dalam septik tank konvensional dengan konstruksi

kedap air. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya resapan

air ke air tanah yang dapat menurunkan kualitas air tanah dan

selanjutnya menurunkan kualitas air permukaan. Limbah tinja

bakteri

menghilangkan

phatogen. Limbah tinja tidak dialirkan tetapi disedot/dikuras

2. Pengolahan Terpusat

Pengolahan terpusat diartikan sebagai pengolahan limbah di suatu

tempat, yakni limbah yang dihasilkan dari masing-masing sumber

limbah dialirkan ke suatu tempat tertentu dan dilakukan pengolahan

secara bersamaan. 16

16 Hasil wawancara dengan Bapak Ir.Velix Gatot Hr selaku PIC.Environment Healthy RS.Dirgahayu

11

Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 4

Syarat-penggunaan sistem ini adalah :

a.

Pemilihan lokasi

Lokasi berada pada lahan terbuka dan jauh dari lokasi ruangan

lain, sehingga jika timbul bau limbah tidak mengganggu aktivitas

lain.

b.

Penggunaan sistem saluran/drainase

Sistem

drainase

yang

digunakan

adalah

saluran

drainase

atau pelepasan gas-gas terlarut ke udara menurunkan kualitas uadara. Adanya bak pengolahan limbah yang sesuai
atau
pelepasan
gas-gas
terlarut
ke
udara
menurunkan kualitas uadara.
Adanya bak pengolahan
limbah yang sesuai pula.

tertutup, hal ini dilakukan untuk menghindari adanya penguapan

yang

dapat

c.

Bak pengolahan yang digunakan disesuaikan dengan volume

limbah yang dihasilkan dengan penggunaan teknologi pengolahan

Proses pengelolaan limbah cair di Rumah Sakit Dirgahayu dilakukan melalui

tahapan-tahapan pengelolaan dari masing-masing sumber penghasil limbah

cair. Pegelolaan limbah cair dari masing-masing sumber yakni :

a. Limbah cair dari ruang perawatan

Limbah cair dari ruang perawatan baik itu rawat jalan maupun rawat

inap dilakukan mobilisasi melalui wastafel-wastafel yang ada di

masing –masing ruang perawatan. Dari wastafel-wastafel ini dialirkan

melalui pipa-pipa bawah tanah. Dalam perjalanannya menuju IPAL,

limbah

cair

dilakukan

pengolahan

dengan

sistem

sedimentasi

12

Pengelolaan Limbah Cair (Frederickus Yuga)

garavitasi

yang

berguna

untuk

menahan

dan

mengendapkan

padatan-padatan ikutan . Pengelolaan dengan sistem ini dilakukan

dengan cara limbah cair dilewatkan bak kontrol-bak kontrol di titik

aliran menuju IPAL. Tercatat ada 11 (sebelas) bak kontrol yang ada

dari ruang perawatan menuju IPAL dan dapat bertambah lagi apabila

ada penambahan unit baru di Rumah Sakit Dirgahayu.

b. Limbah cair laboratorium

Limbah

cair dari wastafel di dalam
cair
dari
wastafel
di
dalam

laboratorium

selanjutnya

ditampung dalam kolam tertutup kedap air. Pengolahan di tempat

dilakukan dengan cara desinfeksi dengan larutan kalsium hipoklorit.

Selanjutnya limbah cair dikirim ke IPAL dengn mesin pompa melalui

pipa pvc.

c. Limbah cair dari dapur

Limbah cair dari dapur dialirkan melalui saluran drainase terbuka dan

tertutup. Dilakukan pengolahan primary/primary treatment limbah

dapur sebelum masuk IPAL, yakni dengan sreening dan sistem oil

catcher.

Screening

berfungsi

untuk

menyaring

padatan-padatan

ikutan berupa sisa bahan makanan, potongan dan serpihan bahan

masakan. Sedangkan oil catcher berfungsi untuk menangkap minyak

yang terikut dalam aliran limbah cair.

d. Limbah cair dari laundry

Limbah cair laundry sebelum masuk IPAL dilakukan pengolahan

pendahuluan (primary treatment), berupa screening dan pengolahan

13

Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 4

biologi .Screening dilakukan untuk menyaring padatan-padatan ikutan

seperti serpihan kain. Sedangkan pengolahan dengan sistem biologi

yakni dengan menumbuhkan bakteri pengurai pada media ijuk yang

terdpat di dalam primary treatment limbah cair tersebut. Bakteri akan

menguraikan zat-zat organik yang terlarut dalam limbah cair.

Pengelolaan limbah cair dilakukan dalam beberapa tahap proses, dimulai dari

pengelolaan

pada

sumber

penghasil

limbah

cair

yang

berasal

dari

ruang/gedung UGD dan ruangan-ruangan perawatan lainnya. Pengelolaan

UGD dan ruangan-ruangan perawatan lainnya. Pengelolaan pada sumber-sumber penghasil limbah cair berupa mobilisasi

pada sumber-sumber penghasil limbah cair berupa mobilisasi limbah cair

melalui saluran tertutup, pipa-pipa pvc yang tertanam di bawah permukaan

tanah. Dalam perjalanan menuju IPAL, limbah cair dilakukan proses sedimen

gravitasi, yakni pengendapan dan penahanan padatan-padatan ikutan yang

akan tertahan dalan bak kontrol. 17

A. Cara Pengelolaan

Limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan Rumah Sakit Dirgahayu diolah di

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Transfer masing-masing limbah cair

dari sumbernya menuju Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dilakukan

dengan sistem konstruksi perpipaan tertutup yang dilengkapi dengan bak

kontrol pada ruas-ruas tertentu. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk

meudahkan pengontrolan dan perbaikan jika sewaktu-waktu terjadi trouble

shooting pada perpipaan tersebut. Sehingga diketahui di titik yang mana

terjadi trouble tersebut.

17 Hasil wawancara dengan Bapak Ir.Velix Gatot Hr selaku PIC.Environment Healthy RS.Dirgahayu

14

Pengelolaan Limbah Cair (Frederickus Yuga)

a.Limbah Cair Dari Ruang Perawatan

Limbah cair dialirkan dengan memanfaatkan perbedaan ketinggian

level air menuju IPAL dengan melalui beberapa bak kontrol. Fungsi

lain dari bak kontrol adalah agar padatan/solid ikutan terendap di bak

tersebut, sehingga kebuntuan pada pipa transfer dapat dihindari. 18

b. Limbah Cair Dari Ruang Masak/Dapur

Limbah

cair

dari

dapur

merupakan

limbah

cair

yang

banyak

mengandung padatan dan minyak/lemak. Padatan tersebut berupa

tertahan dipermukaan limbah cair. pembuangan Akhir (TPA) oleh Dinas
tertahan
dipermukaan
limbah
cair.
pembuangan
Akhir
(TPA)
oleh
Dinas

potongan bahan baku untuk dimasak seperti sayuran, beras, daging,

ikan dan sebagainya. Oleh karena itu limbah cair ini dilakukan

pengolahan pendahuluan di primary treatment dapur. Metode yang

digunakan di primary treatment ini adalah dengan pemasangan

screen dan oil catcher, sehingga padatan tertahan di screen dan

kemudian

minyak

Padatan

diangkat secara manual dan ditampung di kontainer untuk dibuang ke

Kota

Tempat

Kebersihan

Samarinda. Dari primary treatment ini limbah cair dialirkan menuju ke

IPAL.

c. Limbah Cair Dari Laundry

Limbah cair dari ruang cuci juga dilakukan pengolahan pendahuluan

di primary treatment laundry.

18 Hasil wawancara dengan Bapak Yakobus, Selaku Kabid IPSRS RS.Dirgahayu

15

Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 4

Upaya yang digunakan adalah dengan metode filter supernatan untuk

mengurangi padatan ikutan dan busa yang timbul. Padatan ikutan

berupa potongan kain, dan potongan kemasan deterjen. Dari primary

treatment ini limbah cair dialirkan menuju IPAL.

d. Limbah Cair Dari Laboratorium

Limbah cair dari laboratorium merupakan limbah cair campuran dari

berbagai macam jenis bahan kimia, biologi, bahan organik dan bahan

anorganik. Limbah cair ditampung dalam bak kontrol dengan tiga

Limbah cair ditampung dalam bak kontrol dengan tiga sekat ruangan dengan aliran over flow dari sekai

sekat ruangan dengan aliran over flow dari sekai 1 ke sekat 2 dan

terakhir sekat 3. Sebelum diolah di IPAL, limbah ini ditambahkan

kalsium karbonat. Hal ini dilakukan untuk menguragi mengurangi

beban olah di IPAL seperti bau, warna dan kalsium karbonat itu

sendiri bersifat sekundary koagulant. Cara pengangkutan ke IPAL

adalah dengan cara penyedotan dengan pompa dan ditampung

dalam drum. Limbah cair kemudian diangkut ke IPAL secara periodik

atau melihat situasi yang ada.

B. Waktu Pengelolaan

Pengolahan limbah cair dilakukan setiap hari selama Rumah Sakit beroperasi.

C. Lokasi Pengelolaan

Lokasi

pengolahan

limbah

cair

dilakukan

di

dalam

area

Rumah

Sakit

Dirgahayu, tepatnya di bagian belakang RS Dirgahayu. 19

19 Data dan Gambar diperoleh langsung dari Ipal Rumah Sakit Dirgahayu.

16

Pengelolaan Limbah Cair (Frederickus Yuga)

Gambar 2 Lokasi Pengelolaan Limbah Cair RS.Dirgahayu

Pengelolaan Limbah Cair ( Frederickus Yuga ) Gambar 2 Lokasi Pengelolaan Limbah Cair RS.Dirgahayu 17
Pengelolaan Limbah Cair ( Frederickus Yuga ) Gambar 2 Lokasi Pengelolaan Limbah Cair RS.Dirgahayu 17

17

Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 4

D. Pelaksana Pengelolaan

Pengelolaan dilakukan oleh Bidang Umum bagian Lingkungan Hidup Rumah

Sakit Dirgahayu.

E. Upaya Pemantauan Lingkungan

Upaya

pemantauan

lingkungan

dilakukan

untuk

mengetahui

dampak/pengaruh kegiatan Rumah Sakit Dirgahayu terhadap lingkungan. Hali

ini dilakukan untuk usaha mencegah dan meminimalkan dampak negatif dan

pemantauan dilakukan dengan
pemantauan
dilakukan
dengan

swapantau

memaksimalkan dampak positif terhadap lingkungan. Dampak yang dipantau

berdasarkan prakiraan dampak yang mungkin timbul dari kegiatan Rumah

Sakit adalah lokasi pemantauan lingkungan secara keseluruhan dilakukan di

dalam dan luar area rumah sakit yang berpotensi terkena dampak.

Pemantauan kualitas limbah cair di lakukan minimal 1 kali dalam sebulan

dengan

bekerjasama

metode

dengan mengguakan jasa pihak ketiga, yaitu dari laboratorium yang menjadi

laboratorium rujukan pemerintah yaitu Balai Riset dan Standarisasi Industri

Provinsi Kalimantan Timur. Tolok ukur dampak adalah parameter kualitas air

yang ditunjukkan dengan kandungan kadar polutan pada air buangan setelah

adanya upaya pengelolaan limbah dan dibandingkan dengan tolok ukur

parameter khusus untuk kegiatan rumah sakit yang ditetapkan oleh instansi

terkait, dalam hal ini adalah Peraturan Daerah Propinsi Kalimantan Timur

Nomor 2 Tahun 2011 Lampiran I.17 Tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan

Pengendalian Pencemaran air.

18

Pengelolaan Limbah Cair (Frederickus Yuga)

Adapun laporan swapantau lingkungan hidup Rumah Sakit Dirgahayu pada

bulan September 2013 sebagai berikut :

Tabel 5 Laporan Swapantau Rumah Sakit Dirgahayu

No Parameter Satuan IPAL Kadar Maksimum Perda Kaltim No 2 Tahun 2011 Metode Uji 1
No
Parameter
Satuan
IPAL
Kadar Maksimum
Perda Kaltim No 2
Tahun 2011
Metode Uji
1
pH
-
6.40
6-9
SNI 06-6989.11-2004
2
BOD
Mg/L
106.7
30
SNI 6989.72.2009
3
COD
Mg/L
299.43
80
SNI 06-6989.2-2004
4
Zat Padat
Mg/L
60.8
30
SNI 06-6989.3-2004
Tersuspensi
(TSS)
5
Amoniak
Mg/L
21.2494
0.1
SNI 06-6989.30-2004
Bebas(NH3-N)
6
Total Phospat
Mg/L
0.9955
2
SNI 06-6989.31-2004
7
Bakteri Bentuk
MPN/10
>16 x 10 5
10000
SNI 19 2897-1992.2.2
Koli
0ml
Sumber : Laporan Swapantau Rumah Sakit Dirgahayu September 2013
Sesuai dengan apa yang telah di uraikan di atas yang menyatakan bahwa Rumah
sakit dirgahayu dalam penggunaannya airnya menggunakan 2 sumber air yaitu

sumber dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan air dari hasil olahan

sendiri. 20 Air dari hasil olahan sendiri tersebut merupakan hasil yang di peroleh

dari proses pengelolaan limbah cair yang sangat baik dengan menggunakan Ipal

yang dimana sebelum diolah berupa air yang memiliki pH 6.40 sesuai dengan

isi swapantau pada bulan September 2013.

20 Hasil wawancara dengan Bapak Ir.Velix Gatot Hr selaku PIC.Environment Healthy RS.Dirgahayu

19

Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 4

F. Pelaporan

Pelaporan terhadap hasil upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan Upaya

Pemantauan Lingkungan (UPL) ditujukan kepada instansi pembina dan

pengawas, yakni : 21

1. Badan Lingkungan Hidup Kota Samarinda

2. Badan Lingkungan Hidup Propinsi Kalimantan Timur

Pelaporan juga ditujukan kepada BLH Provinsi Kalimantan Timur sebagai

dasar dalam memberikan nilai dalam Program Penilaian Peringkat Kinerja

yang di

(setiap bulan)
(setiap bulan)

Perusahaan (PROPER) dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup

laksanakan setahun 2 kali. Pelaporan berisikan perkembangan upaya

pengelolaan dan pemantauan yang dilakukan secara rutin dan periodik.

Laporan tersebut antara lain :

1. Laporan swapantau

2. Laporan Limbah padat (setiap tiga bulan)

3. Rangkuman Laporan Kegiatan (setiap enam bulan)

2. Sistem Pengawasan Pemerintah Daerah Kota Samarinda terhadap

pengelolaan limbah cair yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit

Dirgahayu

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki fungsi

sangat penting bagi kehidupan dan prikehidupan manusia, serta memajukan

kesejahtraan umum, sehingga merupakan modal dasar dan factor utama

pembangunan. Untuk mencegah terjadinya dampak yang dapat merusak

21 Hasil wawancara dengan Ibu Kitti Sandrawardi, Selaku Direktur SDM dan Finance RS.Dirgahayu

20

Pengelolaan Limbah Cair (Frederickus Yuga)

lingkungan hidup, kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya diperlukan

pengawasan yang intensif dari pemerintah dalam ijin pembuangan air limbah

dan retribusi air limbah sejalan dengan pengawasan dan pengendalian sarana

pembuangannya. 22

Dalam

rangka

pengawasan dan pengendalian

pencemaran dan

kerusakan lingkungan media air yang di sebabkan oleh kegiatan Rumah Sakit

perlu untuk melaksanakan program pengendalian kerusakan lingkungan hidup

dengan pengawasan dan Pemerintah Daerah Kota
dengan
pengawasan
dan
Pemerintah
Daerah
Kota

sejalan

dan penilaian peringkat perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Untuk mencegah terjadinya dampak yang dapat merusak lingkungan hidup,

kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya diperlukan pengawasan yang

intensif dari pemerintah dalam ijin pembuangan air limbah dan retribusi air

limbah

sarana

pengendalian

pembuangannya.

A.

Pengawasan

Samarinda

terhadap

pengelolaan limbah cair yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit

Dirgahayu

Yang berwenang dalam melakukan pengawasan adalah

Badan

lingkungan

Hidup

kota

Samarinda

yang

dalam

hal

ini

menunjuk

pengawas lingkungan hidup daerah atau membentuk tim pengawasan

dan pengendalian lingkungan hidup berdasarkan Keputusan Walikota

Samarinda Nomor 824/2087.-SK/BKD-II.1/2014 Tentang Pengangkatan

(Inpassing) PNS Dalam Jabatan Fungsional Pengawasan lingkungan hidup

22 Moh. Soerjani, Rofiq Ahmad dan Rozy Munir, 1987, Lingkungan : Sumber Daya Alam, UI Press, Jakarta, Halaman 60

21

Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 4

Di Lingkungan Pemerintah Kota Samarinda. Pengawasan yang di lakukan

oleh pemerintah kota Samarinda di bagi dalam tiga bentuk pengawasan

yaitu : 23

1. Pengawasan rutin tiga bulan sekali.

Pengawasan yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat

ketaatan Rumah sakit Dirgahayu terhadap pemenuhan peraturan

lingkungan. Pengawasan secara rutin dapat dilakukan dengan dua

cara yaitu dengan pengawasan langsung dilapangan dan evaluasi

terhadap laporan swapantau Rumah Sakit Dirgahayu.

perijinan

yang dilakukan oleh karena
yang
dilakukan
oleh
karena

adanya

2. Pengawasan Berkala enam bulan sekali.

Pengawasan yang dilakukan dengan mengevaluasi aspek

yang dimiliki Rumah sakit Dirgahayu dalam ijin pembuangan air

limbah dan retribusi air limbah sejalan dengan pengawasan dan

pengendalian sarana pembuangannya.

pengaduan

3. Pengawasan Kasuistis

Pengawasan

masyarakat (kasus pencemaran lingkungan).

Dalam melakukan pengawasan pemerintah Kota Samarinda memiliki

dasar hukum yang sesuai dengan parameter pengawasan yang berlaku

yaitu :

1. Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 13 tahun 2006 Tentang

Pengelolaan Limbah Cair Dalam wilayah kota Samarinda. Yang di

23 Hasil wawancara dengan Bapak Tukiran, BLH Kota Samarinda

22

Pengelolaan Limbah Cair (Frederickus Yuga)

dalamnya tertuang dengan jelas mengenai pembinaan, pengawasan,

dan pengendalian yang di lakukan Pemerintah Kota Samarinda.

2. Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 30 tahun 2003 Tentang

Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air Dalam

Wilayah Kota Samarinda. Yang di dalamnya tertuang dengan jelas

hak dan kewajiban masyarakat kota Samarinda dalam memperoleh

kualitas air yang baik, ruang lingkup dan tujuan dari pengelolaan

kualitas air, pengawasan, pelaporan, ganti kerugian apabila terjadinya

pengawasan, pelaporan, ganti kerugian apabila terjadinya pencemaran lingkungan. Dalam melakukan tugasnya pengawas

pencemaran lingkungan.

Dalam melakukan tugasnya pengawas lingkungan hidup daerah atau tim

pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup yang telah di bentuk

melakukan pengawasan dengan berdasarkan landasan hukum yaitu: 24

1. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor

7 Tahun 2001

Tentang Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup Dan Pejabat Pengawas

Lingkungan Hidup Daerah.

2. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 56 Tahun 2002

Tentang Pedoman Umum Pemgawasan Penataan Lingkungan Hidup

Bagi Pejabat Pengawas Lingkungan.

3. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 57 Tahun 2002

Tentang

Tata

Kerja

Pejabat

Pengawas

Kementerian Lingkungan Hidup.

Lingkungan

hidup

Di

24 Hasil wawancara dengan Ibu Ernestina Loda, BLH Kota Samarinda

23

Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 4

4. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 58 Tahun 2002

B.

Tentang

Tata

Kerja

Pejabat

Pengawas

Provinsi/Kabupaten/Kota.

Lingkungan

hidup

Di

Kerja Sama Pengawasan Antara Pemerintah Kota Samarinda

dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur Dalam Pengawasan

terhadap Lingkungan Hidup

Pengawasan yang dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Kota

Samarinda

dilakukan sekaligus dengan Program Timur,Khususnya Badan Lingkungan
dilakukan
sekaligus
dengan
Program
Timur,Khususnya
Badan
Lingkungan

Penilaian

Peringkat

Kinerja Perusahaan (PROPER) dalam pengelolaan Lingkungan Hidup yang

di laksanakan setahun 2 kali. 25 PROPER merupakan kegiatan rutin

tahunan dari pengawasan yang dilakukan oleh oleh Pemerintah Provinsi

Provinsi

Kalimantan

Hidup

Kalimantan Timur. Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur

dalam hal ini bidang pengendalian pencemaran, sub bidang pengendalian

pencemaran air dan laut bertugas melakukan pengawasan dan penilaian

terhadap kinerja Rumah Sakit Dirgahayu dalam mengelola lingkungan

hidup sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Nomor 660.2/k.84/2014

Tentang Pembentukan Tim Pengawas Dan Pengendalian Serta Penilaian

Program Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengeloaan Lingkungan

Hidup. Dalam hal PROPER Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan

Timur bekerja sama dengan Badan Lingkungan Hidup Kota Samarinda di

karenakan kegiatan usaha yang di lakukan oleh Rumah Sakit Dirgahayu

25 Hasil wawancara dengan Ibu Zahratuista Rahmi, BLH Provinsi Kalimantan Timur

24

Pengelolaan Limbah Cair (Frederickus Yuga)

berada di dalam lingkungan Kota Samarinda. 26 Pada tahun 2013 hasil dari

Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) yang di

lakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur dan

Badan Lingkungan Hidup Kota Samarinda yang di umumkan pada bulan

Mei 2013 Rumah Sakit Dirgahayu mendapatkan Peringkat Biru atau yang

sering di sebut Bendera Biru. Bendera biru adalah penilaian yang di

berikan kepada perusahaan yaitu Rumah Sakit Dirgahayu yang telah

melakukan upaya pengelolaan lingkungan yang dipersyaratkan sesuai

dengan

yang

ketentuan dan/atau peraturan limbah cair yang dilakukan oleh pihak
ketentuan
dan/atau
peraturan
limbah
cair
yang
dilakukan
oleh
pihak

perundang-undangan

berlaku. 27

Penutup

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai

berikut :

1.

Rumah

Sakit

Pengelolaan

Dirgahayu Kota Samarinda telah dilaksanakan dengan cara yang baik dan

dengan menggunakan teknologi yang modern sehingga menghasilkan

kualitas hasil air olahan yang baik dan sesuai dengan baku mutu limbah

cair bagi kegiatan Rumah Sakit sebagaimana di atur dalam Peraturan

Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 2 Tahun 2011.

2. Sistem pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah khususnya

Badan Lingkungan Hidup Kota Samarinda terhadap tindakan upaya

26 Hasil wawancara dengan Ibu Ika Wirani, BLH Provinsi Kalimantan Timur 27 Hasil wawancara dengan Ibu Kitti Sandrawardi, Selaku Direktur SDM dan Finance RS.Dirgahayu

25

Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 4

pengelolaan lingkungan hidup khususnya limbah cair yang di lakukan oleh

Rumah

Sakit

Dirgahayu

sudah

cukup

baik

yaitu

dengan

adanya

pengawasan rutin tiga bulan sekali dan pengawasan berkala enam bulan

sekali, serta bekerja sama dengan Badan Lingkungan Hidup Provinsi

Kalimantan Timur untuk bersama-sama melakukan pengawasan dan

menjalankan program PROPER.

Saran

Dari hasil kesimpulan maka penulis dapat memberikan beberapa saran

kesimpulan maka penulis dapat memberikan beberapa saran sebagai berikut : 1. Dalam hal pengelolaan limbah cair

sebagai berikut :

1. Dalam hal pengelolaan limbah cair pihak Rumah Sakit Dirgahayu harus

bisa lebih mengembangkan upaya terhadap pengolahan limbah cair

sehingga akan mendapatkan hasil yang lebih baik lagi dari yang telah

ada.

2. Pihak Rumah Sakit Dirgahayu harus terus lebih memperhatikan kondisi

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sebagai wadah pengelolaan

limbah cair agar terus menghasilkan hasil olahan yang lebih baik lagi agar

tidak menurunkan kualitas air olahan yang nantinya bisa melampaui baku

mutu yang telah di atur dalam peraturan perundang-undangan.

3. Pemerintah Kota Samarinda khususnya Badan Lingkungan Hidup Kota

Samarinda untuk lebih di harapkan proaktif dan lebih ketat dalam

melakukan pengawasan agar dapat meminimalisir terjadinya pencemaran

lingkungan.

26

Pengelolaan Limbah Cair (Frederickus Yuga)

Daftar Pustaka

A. Buku

Arya, Wisnu, edisi revisi 1995, Dampak Pencemaran Lingkungan, Yogyakarta, Yogyakarta.

Ayu, Kesuma, Riana, 2007, Hukum Lingkungan Dalam Bidang Ilmu Hukum, Erlangga, Jakarta. Andi, Hamzah, 2005, Penegakkan Hukum Lingkungan, Sinar Grafika,

Jakarta. Abdulkadir, Muhammad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung. Pujiharto, 2003, Ekosistem Lingkungan Hidup, Jendela Ilmu, Yogyakarta. Rahmadi, Takdir, Hukum Lingkungan Indonesia, 2011, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Andi

22 Bahan Berbahaya Dan Beracun.
22
Bahan Berbahaya Dan Beracun.

Siahaan, N.H.T, 2004, Hukum Lingkungan Dan Ekologi Pembangunan,

Erlangga, Jakarta. Supriadi, 2010, Hukum Lingkungan Di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta. Sunggono, Bambang, 1997, Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

B. Peraturan Perundang-undangan

Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembar Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 140).

Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2001 Tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya Dan Beracun. Republik Indonesia, Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor

Tahun 2009 Tentang Tata Cara Perizinan Pengelolaan Limbah

Republik Indonesia, Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor

58 Tahun 1995 Tentang Bakumutu Lingkungan Limbah Cair Bagi

Kegiatan Rumah Sakit. Republik Indonesia, Keputusan Menteri Kesehatan Negara Republik Indonesia Nomor 1024/Menkes/SK/X/2004. Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran air.

C. Dokumen Hukum, Hasil Penelitian, Tesis, dan Disertasi Dokumen Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006. Dokumen UKL-UPL Rumah Sakit Dirgahayu Kota Samarinda Tahun 2011

27

Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 4

D. Artikel

Jurnal

Ilimiah,

Makalah Seminar

Artikel

Koran,

Artikel

Internet,

dan

Artikel,

Teknologi

pengolahan

air

limbah

rumah

sakit”,

http://www.kelair.bppt.go.id/Sitpa/Artikel/Limbahrs/limbahrs.h tml, yang di akses pada hari Rabu 26 Juni 2013

Artikel,

macam-macam

pencemaran

lingkungan

dan

upaya

pencegahannya”,http://www.sentraedukasi.com/2010/04/mac

am-macam-pencemaran-lingkungan-upaya.html yang di akses pada hari Senin 24 Juni 2013 Pukul 15.00

Artikel,

Pengertian

Limbah

rumah

sakit

,

http://www.psychologymania.com/2012/09/pengertian-

limbah-rumah-sakit.html, yang di akses pada hari Minggu 23

Juni 2013, Pukul 15.00

Makalah, Tomi,2012, Propert Lingkungan Hidup 2012 Kalimantan Timur,

24 Mei 2012 Sosialisasi pada 30 Oktober 2008
24 Mei 2012
Sosialisasi pada 30 Oktober 2008

Makalah,

Wyuliandari,2008, PELAKSANAAN UKL-UPL (UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN-UPAYA PEMANTAUAN

LINGKUNGAN) Dibuat untuk sosialisasi pada 29 Oktober 2008

Makalah, Sartono, 2008, Makalah berjudul Son Earth Zone, Untuk

28