Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Zakat merupakan rukun Islam yang ke empat, zakat merupakan suatu


ibadah yang paling penting kerap kali dalam Al Quran, Allah
menerangkan zakat beriringan dengan sembahyang. Pada delapan puluh
dua tempat di dalam Al Quran Allah menyebut zakat beriringan dengan
urusan shalat ini menunjukkan bahwa zakat dan shalat mempunyai
hubungan yang erat sekali. Dalam hal keutamaannya shalat dipandang
sebagai ibadah badaniyah sedangkan zakat dipandang sebagai ibadah
maliyah. Zakat juga salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat islam.
Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang
telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori
ibadah (seperti shalat, haji, dan puasa) yang telah diatur secara rinci dan
paten berdasarkan Al Quran dan As-Sunnah, sekaligus merupakan amal
sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai
dengan perkembangan umat manusia.
Karena zakat berhubungan dengan masyarakat, maka pengelolaan
zakat, juga membutuhkan konsep-konsep manajemen agar supaya
pengelelolaan zakat bisa efektif dan tepat sasaran. Menurut Dr Yusuf
Qardhawi, salah seorang ulama fiqih menyatakan bahwa salah satu upaya
mendasar dan fudamental untuk mengentaskan atau memperkecil masalah
kemiskinan adalah dengan cara mengoptimalkan masalah zakat. Hal ini
dikarenakan zakat adalah sumber dana yang tidak akan pernah kering dan
habis. Dengan kata lain selama umat islam memiliki kesadaran untuk
berzakat dan selama dana zakat tersebut mampu di kelola dengan baik,
maka dana zakat akan selalu ada serta bermanfaat untuk kepentingan dan
kesejahteraan masyarakat.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan maka dapat dibuat
rumusan masalah sebagai berikut;
1. Apa pengertian zakat ?
2. Apa macam-macam zakat ?
3. Siapa saja kelompok penerima zakat ?
4. Apa hikmah mengeluarkan zakat ?

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian zakat
2. Mengetahui macam-macam zakat
3. Mengetahui kelompok penerima zakat
4. Mengetahui hikmah mengeluarkan zakat
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Zakat
Zakat berasal dari kata zaka yang bermakna al-Numuw (menumbuhkan),
al-Ziyadah (menambah), al-Barakah (memberkahkan), dan al-Tathnir
(menyucikan), maka ia merupakan ibadah dan kewajiban harta benda dalam
mencapai kesejahteraan ekonomi dan mewujudkan keadilan sosial. Allah
SWT berfirman pada surat Asy-Syams ayat 9

Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.” (Qs


As-Syams [91] : 9).
Sedangkan arti zakat menurut istilah adalah kadar harta tertentu yang di
berikan kepada yang berhak menerima dengan syarat tertentu. Dalam
pengertian istilah syara’, zakat mempunyai banyak pemahaman, diantaranya:
a. Menurut Yusuf Al-Qadharwi, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang
diwajibkan oleh Allah diserahkan kepada orang-orang yang berhak.
b. Abdurrahman Al-Jaziri berpendapat bahwa zakat adalah penyerahan
pemilikan tertentu kepada orang yang berhak menerimanya dengan syarat-
syarat tertentu pula.
c. Muhammad Al-Jarjani dalam bukunya al-Ta’rifat mendefinisikan zakat
sebagai suatu kewajiban yang telah ditentukan oleh Allah bagi orang-
orang Islam untuk mengeluarkan sejumlah harta yang dimiliki.
d. Madzhab Maliki, zakat adalah mengeluarkan sebagian yang tertentu dari
harta yang tertentu pula yang sudah mencapai nishab (batas jumlah yang
mewajibkan zakat) kepada orang yang berhak menerimanya, manakala
kepemilikan itu penuh dan sudah mencapai haul (setahun) selain barang
tambang dan pertanian.
e. Madzhab Hanafi, zakat adalah menjadikan kadar tertentu dari harta
tertentu pulasebagai hak milik, yang sudah ditentukan oleh pembuat
syari’at semata-mata karena Allah.
f. Madzhab Syafei, zakat adalah nama untuk kadar yang dikeluarkan dari
harta atau benda dengan cara-cara tertentu.
g. Madzhab Hambali, memberikan definisi zakat sebagai hak (kadar tertentu)
yang diwajibkan untuk dikeluarkan dari harta tertentu untuk golongan
yang tertentu dalam waktu tertentu pula.

Dari beberapa pendapat diatas dapat dipahami bahwa zakat adalah


penyerahan atau penunaian hak yang wajib yang terdapat di dalam harta untuk
diberikan kepada orang-orang yang berhak seperti yang tertulis dalam surat at-
Taubah ayat 60 yaitu:

Artinya: “Sesungguhnya shadaqah-shadaqah itu, hanyalah untuk orang-orang


fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk
hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan
Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan
yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS.
At-Taubah: 60).
B. Macam-macam Zakat
Macam-macam zakat secara garis besar ada dua macam yaitu zakat harta
benda atau maal dan zakat fitrah. Ulama madzhab sepakat bahwa tidak sah
mengeluarkan zakat kecuali dengan niat:
a. Zakat Mal
Maal sendiri menurut bahasa berarti harta. Jadi, zakat maal yaitu zakat
yang harus dikeluarkan setiap umat muslim terhadap harta yang dimiliki,
yang telah memenuhi syarat, haul, dan nishabnya. Adapun syarat-
syaratnya diantaranya adalah:
1. Menurut Imamiyah, syaratnya adalah baligh dan berakal. Jadi orang
gila dan anak-anak tidak wajibmengeluarkan zakat. Sedangkan dalam
madzhab Syafi’i, berakal dan baligh tidak menjadi syarat. Bahkan
orang gila dan anak-anak, wali mereka harus yang mengeluarkan
zakat atas nama mereka.
2. Menurut madhzab Syafi’i, syarat wajib zakat yang kedua adalah
muslim.
3. Syarat berikutnya yaitu milik penuh. Disini berarti orang yang
mempunyai harta itu menguasai sepenuhnya terhadap harta bendanya,
dan mengeluarkan sekehendaknya. Maka harta yang hilang tidak
wajib dizakati, juga harta yang dirampas – dibajak dari pemiliknya,
sekalipun tetap menjadi miliknya.
4. Cukup satu tahun berdasarkan hitungan tahun qomariyah untuk selain
biji-bijian, buah-buahan, dan barang-barang tambang.
5. Sampai kepada nishab ( ketentuan wajib zakat) ketika harus
mengeluarkan. Setiap harta yang wajib dizakati jumlah yang harus
dikeluarkan berbeda-beda.
6. Orang yang mempumyai hutang, dan dia mempunyai harta yang sudah
mencapai nishab. Menurut Imamiyah dan Syafi’i, jika berhutang maka
harus tetap wajib mengeluarkan zakat. Menurut Hambali harus
melunasi hutangnya terlebih dahulu. Menurut Maliki, jika berhutang
tetapi memiliki emas dan perak maka harus melunasi hutang terlebih
dahulu. Dan jika yang dimiliki selain emas dan perak maka tetap
wajib zakat. Dan menurut Hanafi, jika berhutang dimana hutangnya
itu menjadi hak Allah untuk dilakukan oleh seorang manusia dan
manusia lain tidak menuntutnya seperti haji dan kifarat-kifaratnya,
maka tetap harus berzakat. Tetapi jika berhutangnya itu untuk manusia
dan Allah, serta manusia memiliki tuntutan atau tanggung jawab untuk
melunasinya, maka tidak wajib mengeluarkan zakat kecuali, zakat
tanaman dan buah-buahan.

Dari pendapat diatas,dapat disimpulkan bahwa zakat maal adalah


zakat kekayaan yang harus dikeluarkan dalam jangka waktu satu tahun
sekali yang sudah memenuhi nishab mencakup hasil perniagaan, pertanian,
pertambangan, hasil laut, hasil ternak, harta temuan, emas dan perak, serta
hasil kerja (profesi). Masing-masing tipe ini mempunyai perhitungannya
sendiri.

b. Zakat Fitrah
Zakat ini merupakan zakat yang diwajibkan untuk setiap pribadi
muslim. Menurut Qardhawi (Muhammad 2006:32), disebut zakat fitrah
karena bertujuan untuk menyucikan diri orang yang berpuasa dari ucapan
dan perbuatan yang tidak berguna. Zakat ini diwajibkan setelah
terbenanmnya matahari pada akhir bulan Ramadhan hingga khatib naik
mimbar pada shalat sunnah hari raya idul Fitri. Pelaksanaan zakat fitrah
tidak mensyaratkan kecuali beragama Islam dan adanya kelebihan dari
makanan pada hari dan malam hari raya. Dengan demikian zakat fitrah tidak
mesyaratkan nishab bagi yang mengeluarkannya. Disamping itu, zakat fitrah
didasarkan pada jumlahnya yaitu, 1 sha’ (4 mud/ 2,5 kg/ 3,5 liter), baik
keju, anggur, gandum, beras, kismis atau makanan pokok lainnya. Zakat
fitrah ialah zakat pribadi yang harus dikeluarkan pada hari raya fitri. Seperti
hadits Nabi Saw:
Artinya : “Rasulullah Saw mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang-
orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta
sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin”.

Artinya : “Barang siapa membayar fitrah sebelum shalat, maka itu adalah zakat
yang makbul, akan tetapibarang siapa yang membayarnya sesudah shalat iedul
fitri maka merupakan shadaqah biasa”.

C. Kelompok Penerima Zakat


Agama Islam telah memberi petunjuk siapa saja orang yang pantas dan
perlu dibantu dan di perhatikan menurut keadaan yang sebenarnya. Berikut
akan dijelaskan orang-orang yang berhak menerima zakat (mutahiqq al-zakat)
sesuai petunjuk Al Quran surat At-Taubah ayat 60 adalah sebagai berikut:
a. Orang Fakir (al-Fuqara’)
Al-Fuqara’ adalah kelompok pertama yang menerima bagian zakat. Al-
Fuqara’ adalah bentuk jama’ dara kata al-faqir. Al-faqir menurut
madhzab Syafi’i dan Hambali adalah orang yang tidak memiliki harta
benda dan pekerjaan yang mampu mencukupi kebutuhannya sehari-
hari.
b. Orang Miskin (al-Masakin)
Al-Masakin adalah bentuk jama’ dari kata al-miskin. Orang miskin
ialah orang yang memilki pekerjaan, tetapi penghasilannya tidak dapat
dipakai untuk memenuhi hajat hidupnya. Orang fakir menurut madzhab
Syafi’i dan Hambali, lebih sengsara dibandingkan dengan orang miskin.
Orang fakir ialah orang yang tidak memilki harta benda dan tidak
memilki pekerjaan sedangkan orang miskin ialah orang yang memilki
pekerjaan atau mampu bekerja tapi penghasilannya hanya mampu
memenuhi lebih dari sebagian hajat kebutuhannya. (QS 18:79)
c. Panitia Zakat (Al-Amil)
Panitia zakat adalah orang yang bekerja memungut zakat. Panitia ini
di syaratkan harus memilki sifat kejujuran dan menguasai hukum
zakat. Yang boleh di kategorikan sebagai panitia zakat ialah orang
yang ditugasi mengambil zakat sepersepuluh (Al-‘asyr); penulis (al-
Katib); pembagi zakat untuk para mustahiqqnya; penjaga harta yang
dikumpulkan; Al-hasyir; yaitu orang yang ditugasi untuk
mengumpulkan pemilik harta atau kekayaan / orang-orang yang
diwajibkan mengeluarkan zakat; al-‘arif (orang yang ditugasi
menaksir orang yang telah memilki kewajiban untuk zakat);
penghitung binatang ternak; tukan takar; tukang tumbang dan
pengembala; dan setiap orang yang menjadi panitia selain ahli hukum
(islam) atau al-qadhi, dan penguasa, karena mereka tidak boleh
mengambil dari Bayit Almal. Upah menakar dan menimbang
dilaksanakan pada saat harta itu hendak di keluarkan zakatnya.
Adapun ongkos pembagiannya kepada penerima zakat di bebankan
kepada panitia atau al’amin. Bagian yang diberikan kepada para
panitia dikategorikan sebagai upah atas kerja yang dilakukannya.
Panitia masih tetap diberi bagian zakat, meskipun dia orang kaya.
Karena jika hal itu dikategorikan sebagai zakat atau sedekah dia tidak
boleh mendapatkannya.
d. Mu’allaf
Yang termasuk dalam kelompok ini antara lain orang-orang yang
lemah niatnya untuk masuk islam. Mereka diberi zakat agar niat
mereka memasuki islam menjadi lebih kuat. Adapun mu’allaf dibagi
menjadi 4 macam yaitu:
1. Orang yang baru masuk islam, sedangkan imannya belum
teguh
2. Orang islam yang berpengaruh dalam kaumnya, dan kita
berpengharapan kalau dia diberi zakat, maka orang lain dari
kaumnya akan masuk islam.
3. Orang islam yang berpengaruh terhadap kafir. Kalau dia diberi
zakat, kita akan terpelihara dari kejahatan kafir yag dibawah
pengaruhnya.
4. Orang yang menolak kejahatan orang yang anti zakat.
e. Para Budak
Para budak yang dimaksud disini, menurut jumhur uama, ialah para
budak muslim yang telah membuat perjanjian dengan tuannya. Oleh
karena itu sangat dianjurkan untuk memberikan zakat kepada para
budak itu agar dapat memerdekakan diri mereka. Syarat pembayaran
zakat budak yang di janjikan untuk memerdekakan adalah budak itu
harus muslim dan memerlukan bantuan seperti itu.
f. Orang yang memiliki hutang
Mereka adalah orang yang memilki hutang, baik hutang itu untuk
dirinya sendiri maupun bukan. Jika hutang itu dilakukannya untuk
kepentingan sendiri, dia tidak berhak untuk mendapatkan bagian dari
zakat kecuali dia adalah seorang yang dianggap fakir. Tetapi, jika
hutang itu untuk kepentingan orang banyak yang berada dibawah
tanggung jawabnya, untuk menebus denda pembunuhan atau
menghilangkan barang orang lain, dia boleh di beri bagian zakat,
meskipun sebenarnya dia itu kaya.
g. Orang berjuang di jalan Allah (Fi Sabilillah)
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah para pejuang yang
berperang di jalan Allah yang tidak digaji oleh markas komando
mereka karena yang mereka lakukan hanyalah berperang.
h. Orang yang sedang dalam perjalanan (Musafir)
Orang yang sedang melakukan perjalanan adalah orang-orang yang
berpergian atau musafir untuk melaksanakan suatu hal yang baik tidak
termasuk maksiat. Dia diperkirakan tidak akan mencapai maksud dan
tujuannya jika tidak dibantu. Sesuatu perbuatan yang baik ini antara
lain ibadah haji, dan ziarah yang di anjurkan.

D. Hikmah Zakat
Kesenjangan penghasilan dan mata pencaharian di kalangan manusia
merupakan kenyataan yang tidak bisa di pungkiri. Kefarduan zakat merupakan
jalan yang paling utama untuk menyelesaikan kesenjangan tersebut. Juga, ia
dapat merealisasikan sifat gotong royong dan tanggung jawab sosial di
kalangan masyarakat islam. Adapun hikmah zakat sebagai berikut:
1. Sebagai perwujudan iman kepada Allah swt, mensyukuri nikamt-
Nya, menumbuhkan akhlak mulia dengan memiliki rasa
kemanusiaan yang tinggi, menghilangkan sifat kikir dan rakus,
menumbuhkan ketenangan hidup sekaligus mengembangkan harta
yang dimiliki.
2. Menolong, membantu, dan membina kaum dhu’afa (orang yang
lemah secara ekonomi) maupun mustahiq lainnya kearah
kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera, sehingga mereka
dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak dan beribadah
kepada Allah.
3. Sebagai sumber dana bagi pembangunan sarana maupun prasarana
yang dibutuhkan umat islam
4. Untuk mewujudkan keseimbangan dalam kepemilkan dan
distribusi harta, sehingga diharapkan akan lahir masyarakat
makmur dan saling mencintai.
5. Menyebarkan dan memasyarakatkan etika bisnis yang baik dan
benar.
6. Menghilangkan kebencian, iri, dengki dari orang-orang sekitarnya
kepada hidup berkecukupan sementara mereka tidak memilki apa-
apa dan tidak ada bantuan dari orang kaya kepadanya.
7. Dapat menyucikan diri dari dosa, memurnikan jiwa, menumbuhkan
akhlak mulia, murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan dan
mengikis sifat bakhil atau kikir serta serakah.
8. Menjadi unsur penting dalam mewujudkan keseimbangan dalam
distribusi harta dan keseimbangan tanggung jawab individu dalam
msyarakat.
9. Sebagai perwujudan solidaritas sosial, rasa kemanusiaan,
pembuktian persaudaraan islam, pengikat persatuan umat dan
bangsa, sebagai pengikat batin antara golongan kaya dan miskin
dan sebagai penimbun jurang pemisah antara golongan kuat dan
lemah.
10. Mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera, dimana hubungan
seseorang dengan yang lainnya menjadi rukun dan harmonis yang
pada akhirnya dapat menciptakan situasi yang aman tentram
lahirbathin.
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Kewajiban zakat merupakan keajaiban Islam. Uraian-uraian diatas adalah


di antara bukti-bukti akan hal itu. Tidak satu pun syariat Islam yang tidak
memberikan kesejahteraan kepada umat, tidak terkecuali zakat, disamping ia
sebagai modal dalam usahamendekatkan diri kepada Allah swt, dan
mendapatkan ridho-Nya, yang selanjutnya mendapatkan rahmat-Nya di surga.

Zakat fitrah adalah ritual maliyah yang dilaksanakan setiap tahun.


Pembayaran zakat fitrah pada umumnya menggunakan beras sebagai bahan
makanan pokok yang lazim dikonsumsi masyarakat. Namun ada pula yang
mebayarkan atau menyelenggarakan pengelolaan zakat dengan uang. Jika
menggunakan beras, zakat fitrah yang dibayarkan sejumlah 2,5 kg beras. Jika
menggunakan uang, zakat fitrah yang dibayarkan menyesuaikan dengan harga
beras yang berlaku di pasaran.

Dari definisi, sejarah, hukum, dan hikmah dan fungsinya, jelas zakat
meyakinkan sebuah janji, akan tegaknya nilai-nilai kemanusiaan, terpupuknya
rasa persatuan, dan wujudnya kesejahteraan dan keberuntungan di dunia dan
akhirat. Sungguh Allah mahakuasa, mahasempurna, dan maha mengetahui
atas keadaan hamba-Nya. Alangkah meruginya mereka yang tidak menyadari
dan tidak mau melihat keajaiban zakat ini.