Anda di halaman 1dari 4

Pengertian Konsolidasi

Kondolidasi dapat dikatakan juga sebagai peleburan, yaitu dimana ada dua atau lebih
perusahaan yang melebur menjadi satu dengan nama perusahaan yang baru. Berdasarkan Pasal 1
angka 10 UU RI Nomor 40 Tahun 2007, peleburan (konsolidasi) adalah perbuatan hukum yang
dilakukan oleh dua perseroan terbatas atau lebih, untuk meleburkan diri dengan cara mendirikan
satu perseroan tebatas yang baru yang karena hukum memperoleh akitva dan pasiva dari perseroan
terbatas yang meleburkan diri dan status badan hukum perseroan tebatas yang meleburkan diri
berakhir karena hukum. Dari definisi peleburan Perseroan Terbatas di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa Perseroan yang meleburkan diri berakhir karena hukum, dan menurut Pasal
122 ayat (2) UUPT bahwa berakhirnya Perseroan tersebut terjadi tanpa dilakukan likuidasi terlebih
dahulu. Waktu pengakhiran Perseroan yang meleburkan diri terhitung bubar sejak tanggal akta
pendirian Perseroan hasil peleburan disahkan oleh menteri. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
konsolidasi adalah peleburan perseroan yang dilakukan oleh dua perseroan terbatas atau lebih
dengan cara membentuk satu perseroan terbatas baru dan masing-masing perseroan terbatas yang
meleburkan diri tersebut berhenti beroperasi tanpa adanya likuidasi.

Model/Macam Konsolidasi

Konsolidasi sebenarnya banyak ditemui pada kehidupan, misalnya; konsolidasi sosial,


bisnis, akuntansi, dan lainnya. Berikut merupakan penggunaan istilah konsolidasi pada beberapa
bidang;

1. Konsolidasi dalam bisnis, yaitu peleburan dua atau lebih perusahaan menjadi perusahaan
baru, dimana perusahaan baru tersebut mengambil alih semua hak dan kewajiban dari setiap
perusahaan yang disatukan tersebut.
2. Konsolidasi dalam akuntasi, yaitu penggabungan laporan semua aset, ekuitas, kewajiban,
dan akun operasional dari suatu perusahaan induk dan perusahaan anak ke dalam satu bentuk
laporan keuangan.
3. Konsolidasi dalam sosiologi, yaitu suatu bentuk penguatan keanggotaan masyarakat dalam
kelompok sosial yang terdiri dari berbagai elemen, seperti agama, suku, status sosial, gender,
dan lainnya.
Tata Cara Konsolidasi

Suatu perseroan yang akan melakukan konsolidasi atau peleburan, harus mengikuti
beberapa tahapan yang telah ditetapkan. Berikut ini adalah tahapan yang harus dilaksanakan
Perseroan yang akan melakukan konsolidasi:

1. Rancangan peleburan.

Direksi Perseroan yang akan meleburkan diri harus menyusun rancangan peleburan. Hal
tersebut sesuai dengan Pasal 123 ayat (1) UUPT. Berdasarkan Pasal 124 UUPT, ketentuan yang
terdapat dalam Pasal 123 UUPT tentang rancangan penggabungan, berlaku juga bagi Perseroan
yang akan meleburkan diri.

2. Persetujuan RUPS

Rancangan peleburan tersebut setelah mendapat persetujuan Dewan Komisaris dari setiap
Perseroan diajukan kepada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) masing-masing untuk
mendapat persetujuan. Keputusan RUPS mengenai peleburan sah apabila diambil sesuai dengan
ketentuan Pasal 87 ayat (1) dan Pasal 89 UUPT yaitu berdasarkan musyawarah untuk mufakat dan
disetujui paling sedikit ¾ (tiga perempat) bagian dari jumlah suara yang dikeluarkan, kecuali
anggaran dasar menentukan kuorum kehadiran dan/atau ketentuan RUPS yang lebih besar. Bagi
Perseroan tertentu yang akan melakukan peleburan selain berlaku ketentuan dalam UUPT, perlu
mendapat persetujuan terlebih dahulu dari instansi terkait sesuai dengan Peraturan perundang-
undangan.

Setiap perbuatan hukum peleburan wajib memperhatikan kepentingan:

a. Perseroan, pemegang saham minoritas, karyawan Perseroan;

b. kreditor dan mitra usaha lainnya dari Perseroan; dan

c. masyarakat dan persaingan sehat dalam melakukan usaha

Menurut Pasal 126 ayat (2) UUPT beserta penjelasannya, pemegang saham yang tidak
setuju terhadap keputusan RUPS mengenai peleburan hanya boleh menggunakan haknya
sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 62 UUPT. Pemegang saham yang tidak menyetujui
peleburan berhak meminta kepada Perseroan agar sahamnya dibeli sesuai harga wajar saham dari
Perseroan sebagaimana yang dimaksud dalam penjelasan Pasal 123 ayat (2) huruf c dan Pasal 125
ayat (6) huruf d UUPT. Adapun pelaksanaan hak sebagaimana dimaksud diatas tidak
menghentikan proses pelaksanaan peleburan.

3. Pengumuman ringkasan rancangan

Selanjutnya Pasal 127 ayat (2) UUPT mengatur bahwa, Direksi wajib mengumumkan
ringkasan rancangan paling sedikit dalam 1 (satu) Surat Kabar dan mengumumkan secara tertulis
kepada karyawan dari Perseroan yang akan melakukan peleburan dalam jangka waktu paling
lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum pemanggilan RUPS. Pengumuman sebagaimana dimaksud
tersebut memuat juga pemberitahuan bahwa pihak yang berkepentingan dapat memperoleh
rancangan peleburan tersebut di kantor Perseroan terhitung sejak tanggal pengumuman sampai
tanggal RUPS diselenggarakan.

Pasal 33 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1998 tentang Penggabungan, Peleburan
dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas (PP 27/1998) mengatur juga bahwa, Dewan Direksi yang
akan melakukan peleburan wajib untuk menyampaikan rancangan peleburan kepada seluruh
kreditor dengan surat tercatat paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum pemanggilan RUPS.

4. Pengajuan keberatan kreditor

Kreditor dapat mengajukan keberatan kepada Perseroan dalam jangka waktu paling lambat
14 (empat belas) hari setelah pengumuman mengenai peleburan sesuai dengan rancangan tersebut
(Pasal 127 ayat (4) UUPT). Apabila dalam jangka waktu tersebut kreditor tidak mengajukan
keberatan, kreditor dianggap menyetujui peleburan tersebut. Jika, keberatan kreditor sampai
dengan tanggal diselenggarakan RUPS tidak dapat diselesaikan oleh Direksi, keberatan tersebut
harus disampaikan dalam RUPS guna mendapat penyelesaian. Selama masa penyelesaian belum
tercapai, peleburan tidak dapat dilaksanakan.

5. Pembuatan akta peleburan di hadapan notaris

Menurut Pasal 128 ayat (1) menyatakan, Rancangan Peleburan yang telah disetujui RUPS
dituangkan ke dalam akta peleburan yang dibuat dihadapan notaris dalam Bahasa Indonesia. Akta
peleburan tersebut menjadi dasar pembuatan akta pendirian Perseroan hasil peleburan.

6. Permohonan kepada menteri


Salinan akta peleburan dilampirkan pada pengajuan permohonan untuk mendapatkan
keputusan menteri mengenai pengesahan badan hukum Perseroan hasil peleburan.

7. Pengumuman hasil peleburan

Menurut Pasal 133 ayat (1) UUPT, direksi Perseroan yang menerima Perseroan hasil
peleburan wajib mengumumkan hasil peleburan dalam 1 (satu) Surat Kabar atau lebih dalam
jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal berlakunya peleburan.