Anda di halaman 1dari 12

Tugas dan fungsi Direktorat Jendral Anggaran (DJA)

Direktorat Jenderal Anggaran adalah salah satu unit eselon 1 yang membantu Menteri
Keuangan dalam menjalankan fungsi pengelolaan fiskal khususnya Perencanaan APBN,

 Sekretariat direktorat jenderal = koordinasi, pembinaan, dan dukungan administrasi


o Direktorat Penyusun APBN = Perumusan dan standardisasi kebijakan APBN
o Direktorat Abid Ekonomi dan Kemaritiman = Perumusan dan standardisasi kebijakan
sesuai anggaran bidang teknis
o Direktorat Abid Pembangunan Manusia dan Kebudayaan = Perumusan dan
standardisasi kebijakan sesuai anggaran bidang teknis
o Direktorat Abid Politik, Hukum, Hankam, dan BA BUN = Perumusan dan
standardisasi kebijakan sesuai anggaran bidang teknis
o Direktorat Harmonisasi Peraturan Penganggaran = Merumuskan serta melaksanakan
kebijakan dan standardisasi teknis di bidang harmonisasi peraturan penganggaran
o Direktorat Sistem Penganggaran = Perumusan dan standardisasi kebijakan sistem
penganggaran
o Direktorat PNBP K/L = Perumusan dan standardisasi kebijakan sesuai anggaran
bidang teknis penerimaaan dari K/L termasuk BLU
o Direktorat PNBP SDA dan Kekayaan Negara yang dipisahkan = Perumusan dan
standardisasi kebijakan sesuai bidang teknis penerimaan SDA, subsidi, dan kekayaan
negara yang dipisahkan

Cakupan Tugas dan Stakeholder DJA sangat luas, dibutuhkan Sinergi dengan stakeholder
terkait (internal maupun eksternal)

1. Legislatif (DPR)
Pembahasan bersama DPR terkait KEM dan PPKF, APBN, APBNP, Laporan
Semester I APBN
2. Kementerian/Lembaga
• PNBP pembahasan target-target PNBP

• BelanjaTrileteral Meeting, pagu indikatif, alokasi anggaran


3. BUMN dan Badan Layanan Publik

Pembahasan target PMN maupun dividen, Pembahasan bersama BUMN, KL selaku


KPA, dan Kemenkeu selaku BUN terkait subsidi
4. BPK
Pembahasan rekomendasi atas temuan BPK dalam penganggaran
5. Lembaga Internasional

Pembahasan terkait perkembangan makro fiskal terkait pemeringkatan,Kerjasama


capacity building dan riset dengan World Bank, Prospera dan lainnya
6. Publik
Program transparansi anggaran dan partisipasi publik

Siklus APBN

Satu kali siklus biasanya berlangsung selama 2,5 tahun mulai dari perancangan, pelaksanaan
hingga pertanggung jawaban. Siklus APBN menggambarkan secara singkat tugas dan fungsi
yang berjalan secara estafet sepanjang tahun. masih terdapat dua agenda tersisa dalam
penyelesaian dokumen APBN 2020.

Peran dan Prinsip Dasar Pengelolaan APBN

Kebijakan Fiskal dan APBN adalah Instrumen Pemerintah untuk mewujudkan tujuan
bernegara => Pembukaan UUD 1945 Alinea ke 4, Mayarakat Adil Makmur

 Fungsi APBN
1. Fungsi Alokasi =>anggaran negara harus diarahkan untuk efisiensi dan efektivitas
perekonomian
2. Fungsi distribusi => anggaran pendapatan belanja negara juga sebagai kebijakan
dalam memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan
3. Fungsi Stabilisasi => Memiliki makna bahwa APBN menjadi alat dalam pemeliharaan serta
mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian NKRI
 Tantangan
1. Ketidakpastian perekonomian global
2. Memperluas ruang fiskal
3. Belanja yang lebih berkualitas
4. Pembiayaan anggaran yang produktif dan inovatif
 Proses
1. Teknokratis
2. Politik
3. Administratif

Dalam Penyusunan kebijakan fiskal dan APBN, Segala keputusan mengacu pada Fiscal rule
and Mandatory spending

Fiscal rule

Defisit

Maksimal 3% (Konsolidasi APBN dan APBD)  UU 17 Tahun 2003

Outstanding Utang

60% PDB  UU 17 Tahun 2003

Mandatory spending

Mandatory Spending Mandatory spending adalah belanja atau pengeluaran negara yang
sudah diatur oleh Undang-Undang. Tujuan mandatory spending ini adalah untuk mengurangi
masalah ketimpangan sosial dan ekonomi daerah. Mandatory spending dalam tata kelola
keuangan pemerintah meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN/APBD sesuai amanat
UUD 1945 pasal 31 ayat (4);
2. Alokasi anggaran Dana Alokasi Umum (DAU) minimal 26 persen dari penerimaan
dalam negerineto sesuai dengan ketentuan UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
3. Alokasi anggaran Dana Bagi Hasil (DBH) dengan perhitungan yang telah
ditentukan sesuai dengan ketentuan UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah;
4. Alokasi anggaran kesehatan sebesar 5 persen dari APBN sesuai dengan ketentuan
UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
5. Alokasi anggaran untuk otonomi khusus sesuai dengan Undang-undang Otonomi
Khusus Provinsi Aceh dan Papua masing-masing sebesar 2 persen dari DAU nasional.
Perkembangan Perekonomian Terkini

Perekonomian Dunia saat ini cenderung melemah dengan adanya perang dagang dan
dinamika geopolitik dunia

 Perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok


 Kondsi geopolitik di beberapa wilayah, seperti Timur Tengah
 Perang dagang antara Jepang dan Korea Selatan
 Inggris yang memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa (brexit), dsb

Untuk menghadapi perlambatan ekonomi seperti sekarang ini, dibutuhkan langkah langkah
tepat, agar perekonomian Indonesia tetap stabil dan dampak dari perlambatan ekonomi dapat
terminimalisir.

 Produktivitas dan daya saing harus ditingkatkan untuk mampu mengejar level index
GCI
 Fokus pada aspek: infrastruktur, kualitas SDM (kesehatan, skills, dan pasar tenaga
kerja), kemampuan berinovasi dan adaptasi teknologi, serta sistem keuangan.
 Perbaikan infrastruktur menjadi kunci penting dalam peningkatan daya saing dan
produktivitas, Sebagaimana rilis IMD World Competitiveness Yearbook, peringkat
Indonesia meningkat signifikan dari 43 di tahun 2018 menjadi peringkat 32 pada
tahun 2019.
 Penyederhanaan dan perbaikan regulasi untuk mempermudah usaha dan menarik
investor yang ingin menanamkan modalnya di tanah air

INDONESIA DIPROYEKSIKAN MENJADI SALAH SATU NEGARA MAJU DI


TAHUN 2045

Prasyarat menjadi sebuah negara maju :

1. Infrastruktur yang layak menjadi penyokong mobilitas dan mendorong


pembangunan
2. Pengayaan inovasi dan teknologi berperan dalam menjawab tantangan industri
kedepan
3. Pengelolaan tata ruang yang baik dan didukung oleh sistem yang integratif
4. Penguatan SDM melalui pendidikan dan riset,
program kesehatan, dan perlindungan sosial
5. Perbaikan kualitas pelayanan dan efisiensi proses bisnis diperlukan
6. APBN sehat menjadi kunci kesuksesan target 2045, Tahun 2020 menjadi pondasi
awal tahapan jangka panjang menuju indonesia maju

Pokok-Pokok APBN 2020

Tema Kebijakan Fiskal 2020

APBN untuk Akselerasi Daya Saing melalui Inovasi dan Penguatan Kualitas SDM

mobilisasi pendapatan negara

 mobilisasi pendapatan negara untuk menarik investasi dan mendorong daya saing
 kebijakan belanja negara yang berkualitas
 pembiayaan kreatif dan mitigasi resiko

Postur APBN 2020


RENCANA DAN ALOKASI ANGGARAN

Defisit APBN 2020 dijaga tetap 1,76% PDB

Penerimaan negara dioptimalkan tidak hanya sebagai sumber penerimaan negara


namun juga sebagai instrumen untuk mendorong daya saing.

Penerimaan Perpajakan menjadi Rp1.865,7 T (RAPBN: Rp1.861,8 T)

1. Kenaikan PPh Migas perubahan asumsi dasar ekonomi makro dan parameter migas

2. Kenaikan PBB dan cukai hasil tembakau extra effort

Kebijakan

1. Meningkatkan kepatuhan wajib pajak


2. Perbaikan kualitas pelayanan, penyuluhan, dan pengawasan melalui penguatan
sistem IT dan administrasi perpajakan
3. Implementasi Keterbukaan Informasi Perpajakan (AEoI)
4. Ekstensifikasi barang kena cukai dan Penyesuaian tarif cukai hasil tembakau

Kontribusi PNBP dari sektor Nonmigas terus ditingkatkan disertai peningkatan layanan
kepada masyarakat

Kebijakan
1. Pengelolaan dan Pemanfaatan SDA yang Optimal, Efektif dan Efisien
2. Peningkatan Pelayanan dan Penyesuaian Tarif
3. Peningkatan Efisiensi BUMN dan Kinerja BLU
4. Penyempurnaan Tata Kelola

5 Fokus Belanja Pemerintah Pusat Tahun 2020 untuk mendukung pelaksanaan


prioritas pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan yang efektif dan efisien

1. SDM Beerkualitas
 Peningkatan produktivitas/daya saing SDM (39 T)
1. APBN untuk mempersiapkan generasi muda untuk peningkatan kualitas SDM
2. APBN untuk mempersiapkan generasi muda juga untuk pelatihan kerja
 Bidang Pendidikan  perluasan akses pendidikan, peningkatan skillenterpreneurship,
penguasaan ICT, dukungan kegiatan penelitian Anggaran Pendidikan Rp508,1 T

 Bidang Kesehatan  percepatan pengurangan stunting, penguatan promotif preventif,


melanjutkan program jaminan kesehatan nasional, Anggaran Kesehatan Rp132,2 T
2. Penguatan perlindungan sosial
Mengakseleras pengentasan kemiskinan, Peningkatan akurasi data dan perbaikan
mekanisme penyaluran, Sinergi/sinkronisasi antar program, Subsidi yang tepat
sasaran dan efektif, Anggran Perlindungan Sosial Rp372,5 T

3. Akselesrasi pembangunan infrastruktur


 Meningkatkan daya saing investasi dan ekspor
 Mendukung tranformasi industrialisasi (konektivitas, pangan, energi, dan air) dan
antisipasi masalah sosial perkotaan (air bersih, sanitasi, pengelolaan sampah, &
transportasi massal)
 Mendorong K/L menggunakan skema pembiayaan kreatif (KPBU: VGF atau AP)
Anggaran Infrastruktur Rp423,3 T
4. Birokrasi yang efisien, melayani dan bebas korupsi
birokrasi  produktivitas, integritas & pelayanan publik
Menjaga tingkat kesejahteraan aparatur dan pensiunan (antisipasi reformasi pensiun)
Birokrasi yang berbasis kemajuan ICT, Anggaran Birokrasi Rp261,3 T
5. Antisipasi ketidakpastian
Stabilitas ekonomi, keamanan dan politik
Mitigasi risiko bencana, pelestarian lingkungan, dan pengembangan EBT
Penguatan fiscal buffer
Percepatan Pengembangan 4 Destinasi Super Prioritas dilakukan melalui sinergi lintas
K/L dan Pemda

1. Danau Toba
2. Labuan Bajo
3. Borobudur
4. Mandalika (1) (2) (3) (4)

Hal tersebut dilakukan dengan :

 Pembangunan Kawasan Pariwisata Strategis Nasional (KSPN), fasilitasi event,


geosite.
 Pembangunan embung dan jaringan air minum.
 Pembangunan jalan pelabuhan.
 Pembangunan TPA, IPAM, Geopark Dermaga.
 Pembangunan/rehab pelabuhan danau, runway/taxiway, bandara.
 Pengembangan & revitalisasi desa adat.
 Pemberdayaan desa wisata.
 Penyediaan sarana ruang kreatif.

Subsidi diarahkan untuk peningkatan efektivitas dan efisiensi melalui upaya perbaikan
ketepatan sasaran

Transfer ke Daerah dan Dana Desa => Rp 856,9 T


Meningkat Rp42,5 triliun dari Outlook 2019 diarahkan untuk :
• Mempercepat penyediaan infrastruktur publik dan penguatan kualitas SDM, terutama
melalui bidang pendidikan, kesehatan, air minum, perlindungan sosial, dan
konektivitas antarwilayah.

• Meningkatkan daya saing melalui inovasi, kemudahan berusaha, tata kelola


pemerintahan, dan kebijakan insentif yang mendukung iklim investasi.

• Meningkatkan produktivitas terutama berorientasi ekspor melalui pengembangan


potensi ekonomi daerah.

Tujuan : Menunjang aktivitas ekonomi masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup


masyarakat di desa
Program Subsidi
Subsidi diarahkan untuk peningkatan efektivitas dan efisiensi melalui upaya perbaikan
ketepatan sasaran

 Energi, APBN 2020 125,3 T


 Non Energi, APBN 2020 62,3 T

Pembiayaan Utang
1. Arah Kebijakan Pembiayaan Utang
 pengendalian rasio utang dalam batas aman berkisar 29,4 – 30,1 persen PDB
untuk mendukung kesinambungan fiskal
 Menjaga keseimbangan makro dengan menjaga komposisi utang domestik
dan valas dalam batas terkendali serta pendalaman pasar keuangan
2. Strategi Pembiayaan Utang
 Mengoptimalkan peran serta masyarakat dalam pasar obligasi domestik
(financial deepening)
 Pengelolaan utang secara aktif melalui manajemen kewajiban dan aset