Anda di halaman 1dari 2

Nama : Wisnu Panganggit Sasmito

NIM : 5160311161
Kelas : Sistem Informasi “C”

Analisis :
1. Telah disebutkan dalam Kasus 3 bahwa, "Polisi menduga para tersangka
kriminal itu menggunakan teknik pemalsuan baru untuk membuat kartu
ATM tiruan yang dipakai dalam tindak kriminal itu. Pihak Kepolisian
Metropolitan Tokyo meyakini kasus pemalsuan ATM ini sebagai ulah
komplotan pemalsu ATM yang besar". Dari sini dapat saya simpulkan
bahwa adanya keterlibatan dengan mantan pegawai bank maupun yang
sedang bekerja di perbankan itu sendiri yang menangani bagian
pembuatan/pencetakan kartu ATM, sehingga tersangka melakukan analisis
dan penelitian untuk mencari tahu dan memahami kelebihan dan
kekurangan sistem dari keamanan yang pihak bank gunakan yang mana
hampir tiap bank memakai keamanan yang sama, hal ini menimbulkan
tindak kriminal mouth-to-mouth atau tersangka menyebarkan
pengetahuannya akan kelebihan dan kekurangan dari perusahaan bank
kepada anggota yang hendak direkrutnya hingga membentuk suatu
organisasi atau komplotan yang cukup besar, yang mana tindak kriminal
tersebut membutuhkan banyak orang agar sistem terlihat mengalami
bug/error/manipulasi dan pada akhirnya aksi tersangka tersebut berjalan
lancar.
Pendapat saya diperkuat dengan “Hal ini menunjukkan bahwa
teknik “skimming” atau “pembacaan sepintas” tidak digunakan untuk
mengakses informasi dalam ATM.” Pada artikel Kasus 3.

2. Untuk menanggapi “Polisi telah berhasil menemukan satu benang merah,


yaitu dimana sebagian besar pemilik rekening yang dibobol itu adalah
anggota satu program yang dijalankan oleh sebuah perusahaan penjual
produk makanan kesehatan yang berbasis di Tokyo.”, saya menduga jika
salah satu pegawai toko dari perusahaan penjual produk makanan dan
kesehatan di Tokyo menggunakan metode rekam digital, di mana korban
ketika akan melakukan transaksi pembayaran dengan cashless atau kartu
kredit/debit saja menggunakan mesin EDC, mesin EDC (Elektronik Data
Capture) yang cara kerjanya untuk menerima pembayaran yang dapat
menghubungkan antar rekening bank atau untuk memindahkan dana secara
realtime. Kemungkinan bahwa tersangka atau pelaku melakukan
modifikasi pada mesin EDC agar dapat menyimpan nomor rekening serta
pin/kata sandi yang telah diinputkan oleh korban saat melakukan
pembayaran. Pelaku atau tersangka mungkin berpikir jika mesin EDC pada
perusahaan makanan dan kesehatan tersebut telah dan dapat dipercaya oleh
konsumen/korban.
Bagaimana cara menangani operasi-operasi perangkat lunaknya agar tidak terjadi
kasus di atas?
Jawab :
Saya mengetahui bahwa orang Jepang menggunakan nomor ponsel untuk
selamanya atau untuk satu perangkat smartphone saja, jadi tidak bisa dengan
senang hati berganti-ganti sim card seperti kebanyakan orang Indonesia, sehingga
menimbulkan banyak kasus penipuan untuk orang Indonesia.

Dengan memanfaatkan konsep simcard semi-permanen pada orang Jepang, maka


dapat diciptakan sistem yang melakukan verifikasi 2 hingga 3 arah, yaitu dengan
cara :
a. Verifikasi Nomor Ponsel
Cara ini dilakukan jika konsumen atau korban hendak melakukan transaksi
pembayaran maupun penggunaan kartu kredit/debit mereka, jadi sistem akan
mengirim SMS kepada nasabah "Apakah mereka benar melakukan
transfer/penarikan uang sekian Yen?". Jika nasabah benar melakukan aktifitas
tersebut, nasabah diminta membalas dengan “YES” atau jika nasabah merasa tidak
melakukan aktifitas tersebut maka membalas “NO”, yang mana akan membekukan
Nomor Rekening nasabah untuk beberapa saat dan nasabah diminta untuk segera
melapor pada pihak bank masing-masing.

b. Verifikasi Aplikasi Bank Smartphone (Android/iOS)


Dengan memanfaatkan aplikasi pada perangkat ponsel pintar nasabah, pada saat
nasabah sedang melakukan penggunaan kartu kredit/debit, sistem akan mengirim
pemberitahuan tentang aktifitas kartu kredit/debit yang sedang digunakan kepada
nasabah, jika benar sedang melakukan aktifitas maka aplikasi segera terbuka dan
nasabah diminta segera memasukkan pin atau fingerprint mereka untuk
persetujuan, namun jika beberapa kali salah dalam memasukkan pin, secara
otomatis Nomor Rekening nasabah akan dibekukan, dan jika tidak merasa
melakukan aktifitas tersebut maka nasabah tak perlu membuka aplikasi untuk
memasukkan pin ataupun fingerprintnya.

Kesimpulan :
Dengan menerapkan dua metode verifikasi di atas, diharapkan pihak bank dan
nasabah tidak perlu khawatir, karena pada saat terjadi aktifitas
penarikan/pengambilan tunai sistem akan mengirim pemberitahuan terlebih dahulu
kepada nasabah. Cara tersebut mungkin cukup rumit namun juga cukup efektif
untuk diterapkan di Jepang maupun negara lainnya. Mengingat kecepatan Internet
di Jepang cukup kencang serta penggunaan simcard semi-permanen (tidak ganti-
ganti). Saya yakin akan berhasil walau tidak menutup kemungkinan terjadinya
tindak kriminal baru penyadapan nomor ponsel maupun aplikasi nasabah bank.