Anda di halaman 1dari 37

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH IV

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN POLIOMYELITIS

Disusun Oleh :

Kelompok

1. Irfan Komaruzaman (88160005)


2. Pierce Ayrthon D Manu (88160029)
3. Nindi Tri Yulianti (88160031)
4. Tri Wahyuningsih (88160040)
5. Anita Bela (88160043)
6. Siti Thalia (88160044)
7. Pipit Fitrah Fadillah (88160058)
8. Jahra Hadi (88160061)
9. Dina Nursamsiah (88160064)

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERISTAS BSI BANDUNG

TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat
dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Keperawatan
Medikal Bedah IV yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Poliomyelitis” tepat pada
waktunya. Tidak lupa kita panjatkan shalawat serta salam kepada junjungan kita Nabi besar
Muhammad SAW karena atas berkat dari beliaulah kita dapat merasakan alam yang penuh
dengan pengetahuan dan teknologi seperti saat ini.

Dengan makalah ini penulis mengharapkan dapat memberikan pengetahuan tambahan


kepada pembacanya, selain itu semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.
Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, baik itu
pada isi makalah, tata bahasa, pengejaan dan penataan tanda baca.
Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bisa menjadi acuan
kedepannnya agar dapat menghasilkan tulisan yang lebih baik lagi. Ucapan terimakasih juga
kami ucapkan kepada semua pihak dan teman-teman yang telah memberikan dukungan atas
terselesaikannya makalah ini.

Bandung, Juni 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................................................................... ii
BAB I .............................................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN ............................................................................................................................................. 1
1.1. Latar Belakang............................................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ......................................................................................................................... 2
1.3. Tujuan ........................................................................................................................................... 2
BAB II ............................................................................................................................................................. 3
TINJAUAN KASUS .......................................................................................................................................... 3
2.1. Kasus Pemicu ................................................................................................................................ 3
2.2. Pengkajian Keperawatan .............................................................................................................. 3
2.2.1. Data Subjektif ........................................................................................................................ 3
2.2.2 Pemeriksaan Fisik .................................................................................................................. 6
 Analisa Data ...................................................................................................................................... 8
2.3. Diagnosa Keperawatan ............................................................................................................... 11
2.4. Perencanaan Keperawatan ......................................................................................................... 12
2.5. Implementasi dan Evaluasi ......................................................................................................... 22
BAB III .......................................................................................................................................................... 33
PENUTUP ..................................................................................................................................................... 33
3.1. Kesimpulan.................................................................................................................................. 33
3.2. Saran ........................................................................................................................................... 33
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................................... 34

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Tahun 1840 Heine untuk pertama kali mengumpulkan beberapa kasus poliomielitis di
Jerman. Tahun 1890 Medin di Stockholm mengemukakan gambaran epidemi poliomielitis. Atas
jasa- jasa penemuan kedua sarjana ini, maka penyakit tersebut juga disebut Heine – Medin.

Paul (1955) mengemukakan bahwa 40-50 tahun yang lalu di Eropa Utara terdapat penderita
poliomielitis terbanyak pada umur 0-4 tahun, kemudian berubah menjadi 5-9 tahun dan kini di
Swedia pada umur 7-15 tahun, bahkan akhir-akhir ini pada usia 15-25 tahun.
Goar (1955) dalam uraiannya tentang poliomyelitis di negeri yang baru berkembang dengan
sanitasi yang buruk berkesimpulan bahwa didaerah-daerah tersebut pada epidemi poliomielitis
ditemukan 90% pada anak dibawah umur 5 tahun ini disebabkan penduduk telah mendapatkan
infeksi atau imunitas pada masa anak.
Di Indonesia banyak dijumpai penyakit poliomielitis terlebih pada anak-anak, hal ini
disebabkan oleh asupan gizi yang kurang. Apalagi dengan kondisi di negeri ini yang masih
banyak dijumpai keluarga kurang mampu sehingga kebutuhan gizi anaknya kurang mendapat
perhatian.

Anak-anak kecil yang terkena poliomielitis seringkali hanya mengalami gejala ringan dan
menjadi kebal terhadap poliomielitis. Karenanya, penduduk di daerah yang memiliki sanitasi
baik justru menjadi lebih rentan terhadap poliomielitis karena tidak menderita poliomielitis
ketika masih kecil. Vaksinasi pada saat balita akan sangat membantu pencegahan polio di masa
depan karena polio menjadi lebih berbahaya jika diderita oleh orang dewasa. Orang yang telah
menderita polio bukan tidak mungkin akan mengalami gejala tambahan di masa depan seperti
layuh otot; gejala ini disebut sindrom post-polio.

Peran serta pemerintah disini sangat diharapkan untuk membantu dalam menangani
masalah gizi buruk yang masih banyak ditemui khususnya di daerah terpencil atau yang jauh dari

1
fasilitas pemerintah, sehingga sulit terjangkau oleh masyarakat pinggiran. Kalau hal ini tidak
mendapat perhatian, maka akan lebih banyak lagi anak-anak Indonesia yang menderita penyakit
polio.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana melakukan pengkajian pada klien dengan kasus poliomyelitis ?
2. Bagaimana merumuskan dan menegakkan diagnose keperawatan pada klien dengan
kasus poliomyelitis ?
3. Bagaimana menyusun intervensi keperawatan pada klien dengan kasus poliomyelitis ?
4. Bagaimana melakukan implementasi keperawatan pada klien dengan kasus poliomyelitis
?
5. Bagaimana melakukan evaluasi pada klien dengan kasus poliomyelitis ?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui cara melakukan pengkajian pada klien dengan kasus poliomyelitis
2. Untuk merumuskan dan menegakkan diagnose keperawatan pada klien dengan kasus
poliomyelitis
3. Untuk menyusun intervensi keperawatan pada klien dengan kasus poliomyelitis
4. Untuk mengetahui cara melakukan implementasi keperawatan pada klien dengan kasus
poliomyelitis
5. Untuk mengetahui cara melakukan evaluasi pada klien dengan kasus poliomyelitis

2
BAB II

TINJAUAN KASUS

2.1. Kasus Pemicu


Anak W berumur 3 tahun dibawa oleh kakaknya ke RS. Kakak pasien menyatakan bahwa
adiknya tiba-tiba merasa lemas di sekujur tubuhnya, dan tungkai kanan susah digerakkan. Gejala
awal demam, kemudian mual-mual dan muntah, nafsu makan berkurang, sesak hingga sekarang
tidak mampu berdiri dan berjalan. Kakak pasien merasa cemas karena adiknya belum pernah
mendapatkan vaksin polio sejak kecil. Suhu 38,9 C, Nadi 102x/menit, RR 28x/menit. Pada
pemeriksaan sampel feses ditemukan adanya Poliovirus. Pada pemeriksaan serum ditemukan
adanya peningkatan antibody.

2.2. Pengkajian Keperawatan

2.2.1. Data Subjektif


1. Identitas
 Pasien

Nama : An. W

Umur : 3 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Suku : Jawa

Alamat : Setro BaruUtara Gg.7 No.50, Surabaya

Tanggal masuk : 28 Mei 2017

Tanggal pengkajian : 30 Mei 2017

Sumber Informasi : Keluarga

Diagnosa Medis : Poliomyelitis

3
 Penanggung Jawab

Nama : Tn. P

Umur : 40 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Pendidikan : SLTA

Pekerjaan : Wiraswasta

Hubungan dengan pasien : Ayah klien

2. Status kesehatan
1) Keluhan utama masuk RS :
Pasien merasa lemas di sekujur tubuhnya.
2) Riwayat penyakit sekarang :
Kakak pasien menyatakan bahwa adiknya tiba-tiba merasa lemas di sekujur
tubuhnya, dengan gejala awal demam (Suhu 38,9 C), kemudian disertai mual,
muntah, nafsu makan berkurang, sesak hingga sekarang tidak mampu berdiri dan
berjalan. Imunisasi polio (-).
3) Riwayat penyakit dahulu
- Tidak Ada
4) Riwayat tumbuh kembang anak
- Imunisasi : Hepatitis B-1 diberikan waktu 12 jam setelah lahir, BCG
diberikan saat lahir, Polio oral belum pernah diberikan
- Status Gizi : Baik.
- Tahap perkembangan anak menurut teori psikososial : Klien An. W mencari
kebutuhan dasarnya seperti kehangatan, makanan dan minuman serta kenyamanan
dari orang tua sendiri.

5) Riwayat kesehatan keluarga


- Komposisi keluarga : Keluarga berperan aktif terutama ibu klien An.W dalam
merawat klien.

4
- Lingkungan rumah dan komunitas : Lingkungan sekitar rumah berada di area
pemukiman kumuh.
- Kultur dan kepercayaan : -
- Perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan : -
- Persepsi keluarga tentang penyakit anak : Cobaan Tuhan

3. ADL ( Activity daily life )


 Pola nutrisi
- Sebelum MRS : Nafsu makan klien tidak bermasalah
- Selama MRS : Nafsu makan klien menurun dan disertai mual muntah
 Pola aktivitas
- Sebelum MRS :Sebelum sakit klien terlihat lincah
- Selama MRS : Klien istirahat di tempat tidur, lemas, tungkai kanan tidak bisa
digerakkan
 Pola istirahat tidur
- Sebelum sakit : 10 jam sehari. 2 jam tidur siang, 8 jam tidur malam.
- Selama sakit : Sering terbangun.

 Pola eliminasi
- Sebelum sakit :
BAB : Normal 1x sehari, warna kulit kecoklatan, tekstur lunak, aroma terapik.
BAK : Normal, warna kunimg, aromatik.
- Selama sakit :
BAB : Konstipasi
BAK : Normal, warna kuning, aromatik.
 Pola personal hygiene
Klien sering makan sembarangan karena masih masih berusia 3 tahun
 Pola kognitif-perseptual
Klien belum mampu memaparkan konsep dirinya karena klien masih berusia 3
tahun.

5
 Pola Peran Hubungan
- Sebelum sakit : Interaksi dengan keluarga, teman, dan lingkungan baik.
- Selama sakit : Pasien mengalami perubahan pada interaksi keluarga, teman, dan
lingkungan
 Pola manajemen koping stress
- Sebelum Sakit : Baik.
- Selama sakit : Klien belum mampu memaparkan secara tepat keadaan jiwanya
karena klien masih balita, klien dibantu dengan orang tua (ibu) untuk
menyelesaikan masalahnya.

2.2.2 Pemeriksaan Fisik


a. Pemeriksaan keadaan umum
1) Kesadaran: compos mentis, GCS : 4-5-6
2) TD : -
3) Nadi: 102 x/mnt
4) RR: 28 x/mnt
5) Suhu : 38,9 C/ axial

b. Pemeriksaan Head To Toe


1) Wajah : Simetris, meringis menahan nyeri, wajah tampak kemerahan karena
demam,
2) Kepala
 Inspeksi : Hitam, nampak simetris, rambut nampak bersih, tidak rontok, tidak ada
ketombe, distribusi merata
 Palpasi : Tidak ada benjolan
3) Mata
4) Inspeksi : konjungtiva anemis ,sklera putih keruh
5) Hidung
 Inspeksi : Hidung klien nampak normal, pernafasan spontan, tidak ada polip
maupun secret, tidak ada perdarahan/mimisan (epsitaksis)
6) Telinga
6
 Inspeksi : Bentuk kedua telinga simetris, kebersihan telinga, tidak terdapat
serumen, tidak ada perdarahan telinga
 Palpasi : Tekstur pina, helix kenyal
7) Mulut
 Inspeksi : Mukosa pada mulut tampak kering, tidak ada perdarahan gusi,
8) Leher
 Inspeksi : Leher terlihat simetris, terlihat tanda kaku kudu, tenggorokan simetris
 Palpasi : Tidak ada pembesaran JVP, tidak ada pembesaran tiroid, tidak ada
pemebesaran limfe, tidak ada nyeri menelan
9) Dada
 Inspeksi : Bentuk dada simetris, tidak terlihat adanya barelchest, funnal atau
pidgeon. Tidak ada tarikan intercostanalis
 Palpasi : Tidak terdapat nyeri sekitar dada
 Perkusi : Terdengar bunyi sonor pada dada bagian kanan, terdengar pekak pada
dada bagian kiri
 Auskultasi : Frekuensi pernafasan 28 kali/menit, tidak terdengar bunyi nafas
tambahan seperti whezing, bronki dan crakless, tidak terdengar bunyi jantung
tambahan seperti gallop, murmur
10) Sistem Kardiovaskuler
TD: - mmHg, N: 102 x/mnt pulsasi lemah, akral hangat, tidak ada sianosis, CRT
< 2 detik,
11) Sistem Persyarafan/ neurologi
Kesadaran compos mentis, pusing, lemas disekujur tubuh, gelisah (rewel),
paralysis
12) Abdomen
 Inspeksi : tidak ada distensi abdomen, tidak terdapat kelainan kulit
 Auskultasi : Peristaltik usus 16x/menit
 Palpasi : Tidak terdapat pembesaran hepar, tidak terdapat pembesaran limpa
 Perkusi : Saat diperkusi terdengar suara tympani di bagian perut kiri atas
13) Sistem Perkemihan
Frekuensi BAK 6-7 kali/hari, warna urine kuning, aromatik

7
14) Sistem Pencernaan/ Gastrointestinal
Selaput mukos kering, mual, muntah, nafsu makan menurun, pembesaran limpa(-
), pembesaran hati (-), melena (-), anoreksia, konstipasi
15) Anus dan genitalia
 Inspeksi : Tidak ada hematuria
16) Sistem Muskuloskeletal
Berdasarkan kasus pasien mengeluh lemas di sekujur tubuh, tungkai kanan susah
digerakkan, tidak mampu berdiri dan berjalan, reflex tendon berkurang
17) Sistem Integumen
Tampak kemerahan pada kulit, kulit teraba panas
18) Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan laboratorium :
Pada pemeriksaan sampel feses ditemukan adanya Poliovirus. Pada pemeriksaan
serum ditemukan adanya peningkatan antibody.

 Analisa Data
No. Data Etiologi Masalah

1. DS : Virus poliomyelitis Ketidakseimbangan


nutrisi kurang dari
- Kakak klien mengatakan
kebutuhan
klien mual-mual, muntah
Masuk melalui mulut (berupa
DO : makanan dan air)

- Klien terlihat mual dan


muntah terus
Menginfeksi saluran usus
- Klien tampak lemas (berkembang biak)

- Nafsu makan klien


berkurang
Menyebabkan mual dan muntah
- Vaksin polio (-)

8
- Pemeriksaan sampel feses Anoreksia
ditemukan adanya poliovirus

Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan

2. DS : Virus polio masuk ke sirkulasi Hipertermia

- Kakak klien mengatakan


klien demam
Masuk & menginfeksi sel fagosit
- Demam sejak beberapa hari
yg lalu sebelum masuk rumah
sakit Pusat pengaturan suhu

DO :

- Suhu tubuh 38,9 C Fase Viremia

- Nadi 102x/menit

- Kulit klien terasa panas saat Demam

disentuh

- Pemeriksaan serum Hipertermia


ditemukan adanya
peningkatan antibody

3. DS : Virus poliomyelitis Ketidakefektifan pola


nafas
- Kakak klien mengatakan
klien sesak
Masuk menginfeksi saluran usus
- Sesak klien muncul setelah
tungkai kanan klien susah
digerakkan Masuk ke aliran darah

9
DO :

- Klien terlihat sesak, Menyerang system syaraf pusat


pernapasan klien cepat

- RR klien 28x/menit
Menyerang sel-sel saraf yang
mengendalikan otot

Menyerang otot saluran


pernafasan

Sesak nafas

Ketidakefektifan pola nafas

4. DS : Virus poliomyelitis Hambatan mobilitas


fisik
- Kakak klien mengatakan
klien lemas disekujur
Menyerang system saraf pusat
tubuhnya

- Kakak klien mengatakan


tungkai kanan klien susah Melemahkan otot

digerakkan

- Kakak klien mengatakan Kelumpuhan


klien tidak mampu berdiri dan
berjalan
Hambatan mobilitas fisik
DO :

- Klien tampak lemas

- Klien tidak bisa

10
menggerakan tungkai kanan

- Klien tidak bisa berdiri dan


berjalan

- Aktivitas klien dibantu


ibunya

- Vaksin polio (-)

- Pemeriksaan sampel feses


ditemukan adanya poliovirus

6. DS : Anak menderita penyakit serius Kecemasan pada anak


dan keluarga
- Kakak klien mengatakan
cemas karena klien belum
Kurang pengetahuan tentang
vaksin polio
penyakit anaknya
DO :

- Kakak klien tampak cemas

- Kakak klien tampak gelisah Perubahan proses keluarga

- Vaksin polio (-)

- Pemeriksaan sampel feses Cemas, khawatir

ditemukan adanya poliovirus

Kecemasan

2.3. Diagnosa Keperawatan


1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual
dan muntah
2. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi
3. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan paralysis otot

11
4. Nyeri akut berhubungan dengan proses infeksi yang menyerang syaraf
5. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan paralysis
6. Kecemasan pada anak dan keluarga berhubungan dengan kondisi penyakit

2.4. Perencanaan Keperawatan


No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

1. Ketidakseimbangan NOC NIC


nutrisi kurang dari Nutrition Management
 Nutrional Status :
kebutuhan - Kaji adanya alergi
 Nutrional Status : food and
berhubungan dengan makanan
Fluid
anoreksia, mual dan - Kolaborasi dengan ahli
 Intake
muntah gizi untuk menentukan
 Nutrional Status : nutrient
intake jumlah kalori dan

 Weight control nutrisi yang dibutuhkan


pasien
Kriteria Hasil :
- Anjurkan pasien untuk
 Adanya peningkatan berat meningkatkan intake Fe
badan sesuai dengan - Anjurkan pasien untuk
tujuan meningkatkan protein
 Berat badan ideal sesuai dan vitamin C
dengan tinggi badan - Berikan substansi gula
 Mampu mengidentifikasi - Yakinkan diet yang
kebutuhan nutrisi dimakan mengandung
 Tidak ada tanda-tanda tinggi serat untuk
malnutrisi mencegah konstipasi
 Menunjukkan peningkatan - Berikan makanan yang
fungsi pengecapan dari terpilih (sudah
menelan dikonsultasikan dengan
 Tidak terjadi penurunan ahli gizi)
berat badan yang berarti - Ajarkan pasien
bagaimana membuat

12
catatan makanan harian
- Monitor jumlah nutrisi
dan kandungan kalori
- Berikan informasi
tentang kebutuhan
nutrisi
- Kaji kemampuan pasien
untuk mendapatkan
nutrisi yang dibutuhkan

Nutrition Monitoring

- BB pasien dalam batas


normal
- Monitor adanya
penurunan berat badan
- Monitor tipe dan jumlah
aktivitas yang biasa
dilakukan
- Monitor interaksi anak
atau orang tua selama
makan
- Monitor lingkungan
selama makan
- Jadwalkan pengobatan
dan tindakan tidak
selama jam makan
- Monitor kulit kering
dan perubahan
pigmentasi
- Monitor turgor kulit
- Monitor kekeringan,

13
rambut kusam, dan
mudah patah
- Monitor mual dan
muntah
- Monitor kadar albumin,
total protein,Hb, dan
kadar Ht
- Monitor pertumbuhan
dan perkembangan
- Monitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
- Monitor kalori dan
intake nutrisi
- Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik
papila lidah dan cavitas
oral
- Catat jika lidah
berwarna magenta,
scarlet

2. Hipertermia NOC NIC


berhubungan dengan Thermoregulation Fever Treatment
proses infeksi Kriteria Hasil : - Monitor suhu sesering
 Suhu tubuh dalam mungkin
rentang normal - Monitor IWL
 Nadi dan RR dalam - Monitor warna dan suhu
rentang normal kulit
 Tidak ada perubahan - Monitor tekanan darah,

14
warna kulit dan tidak ada nadi dan RR
pusing - Monitor penurunan
tingkat ksadaran
- Monitor WBC, Hb, dan
Hct
- Monitor intake dan
output
- Berikan anti piretik
- Berikan pengobatan
untuk mengatasi
penyebab demam
- Selimuti pasien
- Lakukan tapid sponge
- Kolaborasi pemberian
cairan intravena
- Kompres pasien pada
lipat paha dan aksila
- Tingkatkan sirkulasi
udara
- Berikan pengobatan
untuk mencegah
terjadinya menggigil
Temperature regulation
- Monitor suhu minimal
tiap 2 jam
- Rencanakan monitoring
suhu secara kontinyu
- Monitor TD, nadi, dan
RR
- Monitor warna dan suhu
kulit

15
- Monitor tanda-tanda
hipertermi dan
hipotermi
- Tingkatkan intake
cairan dan nutrisi
- Selimuti pasien untuk
mencegah hilangnya
kehangatan tubuh
- Ajarkan pada pasien
cara mencegah
keletihan akibat panas
- Diskusikan tentang
pentingnya pengaturan
suhu dan kemungkinan
efek negative dari
kedinginan
- Beritahukan tentang
indikasi terjadinya
keletihan dan
penanganan emergency
yang diperlukan
- Ajarkan indikasi dari
hipotermi dan
penanganan yang
diperlukan
- Berikan anti piretik jika
perlu
Vital sign monitoring
- Monitor TD, nadi, suhu,
dan RR
- Catat adanya fluktuasi

16
tekanan darah
- Monitoring VS saat
pasien berbaring,
duduk, atau berdiri
- Auskultasi TD pada
kedua lengan dan
bandingkan
- Monitor TD, nadi, RR,
sebelum, selama, dan
setelah aktivitas
- Monitor kualitas dari
nadi
- Monitor frekuensi dan
irama pernapasan
- Monitor suara paru
- Monitor pola
pernapasan abnormal
- Monitor suhu, warna,
dan kelembaban kulit
- Monitor sianosis perifer
- Monitor adanya cushing
triad (tekanan nadi yang
melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
- Identifikasi penyebab
dan peubahan vital sign

3. Ketidakefektifan pola NOC NIC


nafas berhubungan  Respiratory status : Airway Management
dengan paralysis otot Ventilation - Buka jalan nafas,
 Respiratory status : gunakan teknik chin lift

17
Airway patency atau jaw thrust bila
 Vital Sign Status perlu
- Posisikan klien untuk
Kriteria Hasil :
memaksimalkan
 Mendemonstrasikan
ventilasi
batuk efektif dan suara
- Identifikasi pasien
nafas yang bersih, tidak
perlunya pemasangan
ada sianosis dan dipsneu
alat jalan nafas buatan
(mampu mengeluarkan
- Pasang mayo bila perlu
sputum, mampu bernafas
- Lakukan fisioterapi
dengan mudah, tidak ada
dada jika perlu
pursed lips)
- Keluarkan secret
 Menunjukkan jalan nafas
dengan batuk atau
yang paten (klien tidak
suction
merasa tercekik, irama
- Auskultasi suara nafas,
nafas, frekuensi
catat adanya suara nafas
pernafasan dalam rentang
tambahan
normal, tidak ada suara
- Lakukan suction pada
nafas abnormal)
mayo
 Tanda- tanda vital dalam
- Berikan bronkodilator
rentang normal (tekanan
bila perlu
darah, nadi, pernafasan)
- Berikan pelembab udara
kassa basah NaCl
lembab
- Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan
keseimbangan
- Monitor respirasi dan
status O2
Oxygen Therapy
- Bersihkan mulut,

18
hidung dan secret trakea
- Pertahankan jalan nafas
yang paten
- Atur peralatan
oksigenasi
- Monitor aliran oksigen
- Pertahankan posisi
pasien
- Observasi adanya tanda-
tanda hipoventilasi
- Monitor adanya
kecemasan pasien
terhadap oksigenasi
Vital Sign
Monitoring
- Monitor TD, nadi, suhu,
dan RR
- Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
- Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau
berdiri
- Auskultasi TD pada
kedua lengan dan
bandingkan
- Monitor TD, nadi, RR,
sebelum, selama, dan
setelah aktivitas
- Monitor kualitas dari
nadi
- Monitor frekuensi dan

19
irama pernafasan
- Monitor suara paru
- Monitor pola
pernafasan abnormal
- Monitor suhu, warna,
dan kelembaban kulit
- Monitor sianosis perifer
- Monitor adanya cushing
triad (tekanan nadi yang
melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
- Identifikasi penyebab
dari perubahan vital
sign

4. Hambatan mobilitas NOC NIC


fisik berhubungan  Joint Movement : Active Exercise therapy :
 Mobility Level ambulation
dengan paralysis
 Self care : ADLs - Monitoring vital sign
 Transfer performance sebelum /sesudah latihan
Kriteria Hasil : dan lihat respon pasien
saat latihan
 Klien meningkat dalam
- Konsultasikan dengan
aktivitas fisik
terapi fisik tentang
 Mengerti tujuan dari
rencana ambulasi sesuai
peningkatan mobilitas
dengan kebutuhan
 Memverbalisasikan
- Bantu klien untuk
perasaan dalam
menggunakan tongkat
meningkatkan kekuatan
saat berjalan dan cegah
dan kemampuan berpindah
saat berjalan dan cegah
 Memperagakan
terhadap cedera
penggunaan alat
- Ajarkan pasien atau

20
 Bantu untuk mobilisasi tenaga kesehatan lain
tentang teknik ambulasi
- Kaji kemampuan pasien
dalam ambulasi
- Kaji kemampuan pasien
dalam mobilisasi
- Latih pasien dalam
pemenuhan kebutuhan
ADLs secara mandiri
sesuai kemampuan
- Dampingi dan bantu
pasien saat mobilisasi
dan bantu penuhi
kebutuhan ADLs ps
- Berikan alat bantu jika
klien memerlukan
- Ajarkan pasien
bagaimana merubah
posisi dan berikan
bantuan jika diperlukan
6. Kecemasan pada anak NOC : NIC
dan keluarga Anxiety Reduction
 Anxiety self-control
berhubungan dengan (penurunan kecemasan)
 Anxiety level
kondisi penyakit - Gunakan pendekatan
 Coping
yang menenangkan
Kriteria Hasil :
- Nyatakan dengan jelas
 Klien mampu harapan terhadap pelaku
mengidentifikasi dan pasien
mengungkapkan gejala - Jelaskan semua prosedur
cemas dan apa yang dirasakan
 Mengidentifikasi, selama prosedur

21
mengungkapkan dan - Pahami perspektif pasien
menunjukan tekhik untuk terhadap situasi stres
mengontrol cemas - Temani pasien untuk
 Vital sign dalam batas memberikan keamanan
normal dan mengurangi takut
 Postur tubuh, ekspresi - Dorong keluarga untuk
wajah, bahasa tubuh dan menemani anak
tingkat aktivitas - Lakukan back / neck rub
menunjukkan - Dengarkan dengan
berkurangnya kecemasan penuh perhatian
- Identifikasi tingkat
kecemasan
- Bantu pasien mengenal
situasi yang
menimbulkan kecemasan
- Dorong pasien untuk
mengungkapkan
perasaan, ketakutan,
persepsi
- Instruksikan pasien
menggunakan tekhnik
relaksasi
- Berikan obat untuk
mengurangi kecemasan

2.5. Implementasi dan Evaluasi


No. Diagnosa Implementasi Evaluasi

1. Ketidakseimbangan Tanggal 1 Juni 2017 jam 08.30 – S : Kakak klien


09.00
nutrisi kurang dari mengatakan klien
kebutuhan berhubungan Nutrition Management masih mual-mual,

22
dengan anoreksia, mual - Mengkaji adanya alergi muntah dan tidak
dan muntah makanan menghabiskan makan
- Berkolaborasi dengan ahli
DS : O : - Klien terlihat
gizi untuk menentukan
masih mual, muntah
- Kakak klien mengatakan jumlah kalori dan nutrisi yang
dan makanannya tidak
klien mual-mual, muntah dibutuhkan pasien
dihabiskan
DO : - Menganjurkan pasien untuk
meningkatkan intake Fe A : Masalah belum
- Klien terlihat mual dan teratasi
- Menganjurkan pasien untuk
muntah terus
meningkatkan protein dan P : - Kaji kembali
- Klien tampak lemas vitamin C keluhan mual dan
- Memberikan substansi gula muntah yang dialami
- Nafsu makan klien
- Meyakinkan diet yang klien
berkurang
dimakan mengandung tinggi
- Vaksin polio (-) - Berikan makanan
serat untuk mencegah
yang mudah ditelan
- Pemeriksaan sampel feses konstipasi
seperti bubur
ditemukan adanya - Memberikan makanan yang
poliovirus terpilih (sudah - Berikan makanan
dikonsultasikan dengan ahli dalam porsi kecil dan
gizi) frekuensi sering
- Mengajarkan pasien
bagaimana membuat catatan
makanan harian
- Memonitor jumlah nutrisi dan
kandungan kalori
- Memberikan informasi
tentang kebutuhan nutrisi
- Mengkaji kemampuan pasien
untuk mendapatkan nutrisi
yang dibutuhkan

23
Nutrition Monitoring

- BB pasien dalam batas


normal
- Memonitor adanya penurunan
berat badan
- Memonitor tipe dan jumlah
aktivitas yang biasa dilakukan
- Memonitor interaksi anak
atau orang tua selama makan
- Memonitor lingkungan
selama makan
- Menjadwalkan pengobatan
dan tindakan tidak selama
jam makan
- Memonitor kulit kering dan
perubahan pigmentasi
- Memonitor turgor kulit
- Memonitor kekeringan,
rambut kusam, dan mudah
patah
- Memonitor mual dan muntah
- Memonitor kadar albumin,
total protein,Hb, dan kadar Ht
- Memonitor pertumbuhan dan
perkembangan
- Memonitor pucat, kemerahan,
dan kekeringan jaringan
konjungtiva
- Memonitor kalori dan intake
nutrisi

24
- Mencatat adanya edema,
hiperemik, hipertonik papila
lidah dan cavitas oral
- Mencatat jika lidah berwarna
magenta, scarlet

2. Hipertermia Fever Treatment S : - Kakak klien


berhubungan dengan - Memonitor suhu sesering mengatakan demam
proses infeksi mungkin klien turun
- Memonitor IWL
DS : O : - Suhu tubuh 37,5
- Memonitor warna dan suhu
C
- Kakak klien mengatakan kulit
klien demam - Memonitor tekanan darah, - Kulit klien tidak

nadi dan RR terlalu panas ketika


- Demam sejak beberapa hari
- Memonitor penurunan tingkat disentuh
yg lalu sebelum masuk
rumah sakit ksadaran A : Peningkatan suhu
- Memonitor WBC, Hb, dan tubuh teratasi
DO :
Hct sebagian
- Suhu tubuh 38,9 C - Memonitor intake dan output P : - Pantau ketat

- Nadi 102x/menit - Memberikan anti piretik TTV


- Memberikan pengobatan
- Kulit klien terasa panas - Pantau suhu tubuh
untuk mengatasi penyebab
saat disentuh klien minimal tiap
demam
satu shift
- Pemeriksaan serum - Menyelimuti pasien
ditemukan adanya - Melakukan tapid sponge - Laporkan bila suhu

peningkatan antibody - Berkolaborasi pemberian tuhu tubuh kembali


cairan intravena meningkat
- Mengompres pasien pada
lipat paha dan aksila
- Meningkatkan sirkulasi udara
- Memberikan pengobatan

25
untuk mencegah terjadinya
menggigil
Temperature regulation
- Memonitor suhu minimal tiap
2 jam
- Merencanakan monitoring
suhu secara kontinyu
- Memonitor TD, nadi, dan RR
- Memonitor warna dan suhu
kulit
- Memonitor tanda-tanda
hipertermi dan hipotermi
- Meningkatkan intake cairan
dan nutrisi
- Menyelimuti pasien untuk
mencegah hilangnya
kehangatan tubuh
- Mengajarkan pada pasien
cara mencegah keletihan
akibat panas
- Mendiskusikan tentang
pentingnya pengaturan suhu
dan kemungkinan efek
negative dari kedinginan
- Memberitahukan tentang
indikasi terjadinya keletihan
dan penanganan emergency
yang diperlukan
- Mengajarkan indikasi dari
hipotermi dan penanganan
yang diperlukan

26
- Memberikan anti piretik jika
perlu
Vital sign monitoring
- Memonitor TD, nadi, suhu,
dan RR
- Mencatat adanya fluktuasi
tekanan darah
- Memonitoring VS saat pasien
berbaring, duduk, atau berdiri
- Mengauskultasi TD pada
kedua lengan dan bandingkan
- Memonitor TD, nadi, RR,
sebelum, selama, dan setelah
aktivitas
- Memonitor kualitas dari nadi
- Memonitor frekuensi dan
irama pernapasan
- Memonitor suara paru
- Memonitor pola pernapasan
abnormal
- Memonitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit
- Memonitor sianosis perifer
- Memonitor adanya cushing
triad (tekanan nadi yang
melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
- Mengidentifikasi penyebab
dan peubahan vital sign

3. Ketidakefektifan pola Airway Management S : - Kakak klien

27
nafas berhubungan - Membuka jalan nafas, mengatakan klien
dengan paralysis otot gunakan teknik chin lift atau masih sesak
jaw thrust bila perlu
DS : O : - Klien masih
- Memposisikan klien untuk
terlihat sesak, dan
- Kakak klien mengatakan memaksimalkan ventilasi
pernapasan klien
klien sesak - Mengidentifikasi pasien
masih cepat
- Sesak klien muncul setelah perlunya pemasangan alat
jalan nafas buatan - RR klien 28x/menit
tungkai kanan klien susah
digerakkan - Memasang mayo bila perlu A : Masalah belum
- Melakukan fisioterapi dada teratasi
DO :
jika perlu
P : - Pantau TTV
- Klien terlihat sesak, - Mengeluarkan secret dengan
klien
pernapasan klien cepat batuk atau suction
- Mengauskultasi suara nafas, - Monitor aliran
- RR klien 28x/menit
catat adanya suara nafas oksigen
- Vaksin polio (-) tambahan
- Buka jalan nafas
- Pemeriksaan sampel feses - Melakukan suction pada
klien dengan teknik
ditemukan adanya poliovirus mayo
chin lift atau jaw
- Memberikan bronkodilator
thrust
bila perlu
- Memberikan pelembab udara
kassa basah NaCl lembab
- Mengatur intake untuk cairan
mengoptimalkan
keseimbangan
- Memonitor respirasi dan
status O2
Oxygen Therapy
- Membersihkan mulut, hidung
dan secret trakea
- Mempertahankan jalan nafas

28
yang paten
- Mengatur peralatan
oksigenasi
- Memonitor aliran oksigen
- Mempertahankan posisi
pasien
- Mengobservasi adanya tanda-
tanda hipoventilasi
- Memonitor adanya
kecemasan pasien terhadap
oksigenasi
Vital Sign Monitoring
- Memonitor TD, nadi, suhu,
dan RR
- Mencatat adanya fluktuasi
tekanan darah
- Memonitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau berdiri
- Mengauskultasi TD pada
kedua lengan dan bandingkan
- Memonitor TD, nadi, RR,
sebelum, selama, dan setelah
aktivitas
- Memonitor kualitas dari nadi
- Memonitor frekuensi dan
irama pernafasan
- Memonitor suara paru
- Memonitor pola pernafasan
abnormal
- Memonitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit

29
- Memonitor sianosis perifer
- Memonitor adanya cushing
triad (tekanan nadi yang
melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
- Mengidentifikasi penyebab
dari perubahan vital sign

5. Hambatan mobilitas fisik Exercise therapy : ambulation S : - Kakak klien


berhubungan dengan - Memonitoring vital sign mengatakan klien
paralysis sebelum /sesudah latihan dan masih belum bisa
lihat respon pasien saat latihan menggerakkan
DS :
- Mengkonsultasikan dengan tungkai kanan
- Kakak klien mengatakan terapi fisik tentang rencana
- Kakak klien
klien lemas disekujur ambulasi sesuai dengan
mengatakan klien
tubuhnya kebutuhan
masih tidak mampu
- Kakak klien mengatakan - Membantu klien untuk
berdiri dan berjalan
tungkai kanan klien susah menggunakan tongkat saat
berjalan dan cegah saat O : - Klien tampak
digerakkan
berjalan dan cegah terhadap lemas
- Kakak klien mengatakan
cedera - Klien masih belum
klien tidak mampu berdiri
- Mengajarkan pasien atau bisa menggerakan
dan berjalan
tenaga kesehatan lain tentang tungkai kanan
DO : teknik ambulasi
- Klien tidak bisa
- Klien tampak lemas - Mengkaji kemampuan pasien
berdiri dan berjalan
dalam ambulasi
- Klien tidak bisa - Aktivitas klien
- Mengkaji kemampuan pasien
menggerakan tungkai kanan dibantu ibunya
dalam mobilisasi
- Klien tidak bisa berdiri dan - Melatih pasien dalam A : Masalah belum
berjalan pemenuhan kebutuhan ADLs teratasi
secara mandiri sesuai
- Aktivitas klien dibantu P : - Kaji tingkat

30
ibunya kemampuan kelemahan otot klien
- Mendampingi dan bantu
- Vaksin polio (-) - Melatih gerakan
pasien saat mobilisasi dan
klien
- Pemeriksaan sampel bantu penuhi kebutuhan ADLs
feses ditemukan adanya ps - Konsultasikan
poliovirus - Memberikan alat bantu jika dengan terapi fisik

klien memerlukan
- Mengajarkan pasien
bagaimana merubah posisi dan
berikan bantuan jika
diperlukan
6. Ansietas berhubungan Anxiety Reduction (penurunan S : - Kakak klien
kecemasan)
dengan kondisi penyakit mengatakan masih
- Menggunakan pendekatan cemas dengan kondisi
DS :
yang menenangkan klien
- Kakak klien mengatakan - Menyatakan dengan jelas
O : - Kakak klien
cemas karena klien belum harapan terhadap pelaku
tampak cemas
vaksin polio pasien
- Menjelaskan semua prosedur A : Masalah belum
DO :
dan apa yang dirasakan selama teratasi
- Kakak klien tampak cemas prosedur
P : - Pantau tanda-
- Kakak klien tampak - Memahami perspektif pasien
tanda kecemasan
gelisah terhadap situasi stres
keluarga klien
- Menemani pasien untuk
- Vaksin polio (-) - Berikan pengetahuan
memberikan keamanan dan
- Pemeriksaan sampel feses mengurangi takut tentang polio pada

ditemukan adanya poliovirus - Mendorong keluarga untuk keluarga klien

menemani anak
- Melakukan back / neck rub
- Mendengarkan dengan penuh
perhatian

31
- Mengidentifikasi tingkat
kecemasan
- Membantu pasien mengenal
situasi yang menimbulkan
kecemasan
- Mendorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
- Menginstruksikan pasien
menggunakan tekhnik
relaksasi
- Memberikan obat untuk
mengurangi kecemasan

32
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan
oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV),
masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki
aliran darah dan mengalir ke sytem syaraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan
kadang kelumpuhan (paralisis).

Poliomielitis adalah penyakit menular yang dikategorikan sebagai penyakit


peradaban. Polio menular melalui kontak antarmanusia. Virus masuk ke dalam tubuh
melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi
feses.

3.2. Saran
Saran yang dapat saya berikan kepada masyarakat agar terhindar dari
penginfeksian penyakit poliomeilitis yang disebabkan oleh virus yang disebut dengan
poliovirus ini adalah:
1. Jagalah sanitasi lingkungan anda, sanitasi lingkungan merupakan hal yang sepele namun
sangat penting. Apabila sanitasi lingkungan kita tidak dijaga, maka dapat menimbulkan
berbagai macam penyakit tidak hanya penyakit poliomielitis.
2. Jagalah makanan ataupun minuman yang akan dikonsumsi karena hal ini sangat penting
dimana makanan atau minuman menjadi tempat perantara penyebaran penyakit
poliomielitis.
3. Untuk pencegahannya yaitu diberikan vaksin polio idealnya pada anak-anak agar dapat
diantisipasi penyakit poliomielitis ini.

33
DAFTAR PUSTAKA

1. Doctherman, Joanne McCloskey dan Bulecheck, Gloria N. 2008. Nursing


Interventions Classification (NIC). USA : Mosby
2. Hasan, Rusepno. DKK. 1985. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI
3. Herdman, Heater. 2012. Nanda International : Diagnosis Keperawatan : Definisi
dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC
4. Smeltzer, Suzanne. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah vol 3. Jakarta :
EGC
5. Huda, Amin dan Kusuma, Hardhi. 2015. Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis Nanda NIC NOC. Yogyakarta : MediAction

34