Anda di halaman 1dari 127

UNIVERSITAS INDONESIA

HUBUNGAN BERAT BAYI LAHIR RENDAH(BBLR)


DENGAN KEJADIAN KEMATIAN NEONATALDINI
DI INDONESIA TAHUN 2010
(Analisis Data Riskesdas 2010)

TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Epidemiologi

NOVIANI
0906611293

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


PROGRAM PASCASARJANA
PEMINATAN EPIDEMIOLOGI LAPANGAN
DEPOK
JUNI 2011

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011
Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011
Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua sehingga dapat
menyelesaikan Tesis ini.
Penyusunan tesis ini merupakan salah satu syarat untuk mencapai gelar
Magister Epidemiologi pada programepidemiologi lapangan (Field Epidemiology
Training Programme) pada ProgramPascasarjana Universitas Indonesia.
Saya menyadari bahwa penyusunan tesis ini tidak terlepas dari bimbingan
pembimbing akademik dan pembingan lapangan serta pihak-pihak lain, oleh
karena itu izinkanlah saya untuk mengucapkan terima kasih kepada :
1. drg. Dwi Gayatri, MPH yang telah memberikan waktu, tenaga dan
fikirannya untuk mengarahkan saya dalammenyusun tesis ini
2. Dr. dr. Ratna Juwita Hatma, MPH selaku kepala departemen epidemiologi
di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
3. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian
Kesehatan RI yang telah memberikan izin kepada penulis untuk
mengggunakan data Riskesdas 2010
4. dr. Tri Yunis Miko Wahyono, MSc, dr. Syahrizal Syarif, MPH, PhD,
dr. Sholah Imari, MSc dan dr. Rinni Yudhi Pratiwi, MPET, selaku penguji
yang telah meluangkan waktunya dan memberikan masukan untuk
kesempurnaan tesis ini
5. Bapak/Ibu dosen beserta staf pengajar Program Pascasarjana Program
studi Epidemiologi Universitas Indonesia
6. Uni Eropa (WHO) yang telah memberikan bantuan pembiayaan selama
proses studi
7. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung yang telah memberikan
kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan strata dua
8. Orang tua dan saudara-saudaraku, cek uwi, yadi dan Ayo yang selalu
memberikan semangat dan doa
9. Sahabat dan teman seperjuangan di FETP angkatan 2009 yang telah
memberikan semangat, dorongan dalam menyelesaikan tesis ini

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


10. Semua pihak yang telah memberikan bantuan baik secara langsung
maupun tidak langsung yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu
Penulis menyadari bahwa proposal ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu dengan kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran dari
semua pihak demi penyempurnaan hasil penelitian ini
Akhir kata saya berharap, semoga Allah SWT berkenan membalas segala
kebaikan kepada semua pihak yang telah membantu saya.
Depok, Juni 2011
Penulis

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011
ABSTRAK

Nama : Noviani
ProgramStudi : Epidemiologi
Judul : Hubungan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) dengan
Kejadian Kematian Neonatal Dini di Indonesia Tahun 2010
(Analisis Data Riskesdas 2010)

BBLR merupakan salah satu kontributor terbesar terhadap morbiditas dan


mortalitas bayi termasuk kematian neonatal. Penelitian ini bertujuan mengetahui
besar hubungan antara BBLR dengan kejadian kematian neonatal dini di
Indonesia setelah dikontrol dengan variabel faktor ibu dan pelayanan kesehatan.
Desain studi penelitian ini kasus kontrol (1:4) dengan menggunakan data sekunder
Riskesdas 2010. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 720. Metode analisis
yang digunakan Regresi Logistik Ganda.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Besar Hubungan BBLR dengan kejadian
Kematian Neonatal Dini setelah dikontrol oleh variabel lain (tingkat pendidikan
ibu, status ekonomi ibu, frekuensi ANC dan komplikasi kehamilan) serta
dikontrol pula oleh BBLR yang berinteraksi dengan tingkat pendidikan ibu
adalah 22,840 (95% CI : 8,671 – 60,162). Diperoleh dua OR dari hasil
perhitungan OR interaksi yaitu OR11 sebesar 23,028 (95% CI : 18,936-27,121)
dan OR11 sebesar 22,851 (95%CI : 18,759 – 26,944)
Untuk menurunkan kejadian kematian neonatal dini adalah menurunkan kejadian
BBLR melalui deteksi dini (pemeriksaan ANC), meningkatkan frekuensi ANC,
ibu yang memiliki komplikasi kehamilan wajib melakukan persalinan di sarana
pelayanan kesehatan yang adekuat, penyuluhan dan konseling pada ibu hamil
berisiko tinggi dan pendidikan rendah, pemberdayaan ekonomi keluarga yang
berstatus ekonomi rendah.

Kata kunci : Kematian neonatal dini, BBLR, Indonesia, Riskesdas 2010, kasus
kontrol

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


ABSTRACT

Nama : Noviani
ProgramStudi : Epidemiology/ Field Epidemiology
Judul : Association of Low Birth Weight (LBW) and
Early Neonatal Mortality in Indonesia
(Data Analyze of Riskesdas 2010)

LBWis a factor which acts as main contributor to infant morbidity and mortality
including neonatal mortality. Aim of this study is to identify the association
between LBW to early neonatal mortality in Indonesia after controlling the
variabel factors of characteristics of the mother and health services.
Design of study is case control (1:4) and utilize secondary Riskesdas 2010 data.
We apply logistic Regression method in this study analyze. Simple size are 720.
Study results indicates the closed association between LBW to early neonatal
mortality even after contolling the variables, education level and economic status
of mother, frequency of ANC visits, complication during related pregnancy and
olso the interaction variables of LBWto education level of mother, OR = 22.840
(95%CI : 8,671 – 60,162). Thera are two OR based on interaction analyze (OR11
= 23,028 (95% CI : 18,936-27,121) and OR11 = 22,851 (95% CI : 18,759 –
26,944)
There are alternative activities that might be implemented in order to decrease
early neonatal mortality such as : decline LBW through early detection (ANC
examination), increasing frequency of ANC visits, mother who experiance
complication during pregnacy are obligated to do delivery in adequat health
services, promotion and conseling to high risk pregnant women whom have low
education, health insurance (Jamkesmas) and family economic empowerment to
mothers who have low income

Key Words : Early Neonatal Mortality, LBW, Indonesia, Riskesdas 2010, case
control

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................. i
HALAMAN PERNYATAAANORISINALITAS.................................... ii
HALAMAN PERNYATAANTIDAK PLAGIAT.................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................... iv
KATA PENGANTAR ............................................................................... v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA
ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS .................................. vii
ABSTRAK................................................................................................. viii
DAFTAR ISI.............................................................................................. x
DAFTAR TABEL...................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR................................................................................. xiii
DAFTAR LAMPIRAN.............................................................................. xiv
1. ..............PENDAHULUAN................................................................... 1
1.1. ...... Latar Belakang........................................................................ 1
1.2. ...... Perumusan Masalah ................................................................ 7
1.3. ...... Pertanyaan Penelitian...................................................... 8
1.4. ........Tujuan Penelitian .............................................................. 8
1.4.1. Tujuan Umum ……………………………………….. 8
1.4.2. Tujuan Khusus ……………………………………….. 8
1.5. …….Manfaat Penelitian ………………………………………. 10
1.6……...Ruang Lingkup ...................................................................... 10

2. ..............TINJAUANPUSTAKA......................................................... 11
2.1. ...... Kematian Neonatal Dini ......................................................... 11
2.2. ...... Determinan Kematian Bayi dan Balita ...............................................
.......15
2.1.1. Model Celester...................................................................... 15
2.1.2. Model Mosley and Chen........................................................ 16
2.1.3. Model Ronsmans ...................................................................... 18
2.3. ......Faktor Risiko Kematian Neonatal Dini .................................... 20
2.3.1. Faktor Bayi............................................................................ 20
2.3.2. Faktor Ibu ............................................................................. 24
2.3.3. Faktor Pelayanan Kesehatan ................................................... 34
2.4. ...... Kerangka Teori ....................................................................... 39

3. ..............KERANGKAKONSEP, DEFINIS OPERASIONAL dan


HIPOTESIS .................................................................................... 40
3.1. ...... Kerangka Konsep.................................................................... 40
3.2. ...... Definisi Operasional................................................................ 42
3.3. ...... Hipotesis Penelitian................................................................. 46

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


4. ..............METODE PENELITIAN....................................................... 47
4.1. ......Desain Penelitian...................................................................... 47
4.2. ...... Lokasi Penelitian..................................................................... 48
4.3. ......Populasi dan Sampel ................................................................ 48
4.4. ......Pengumpulan Data................................................................... 51
4.5. ......Pengolahan Data ...................................................................... 51
4.6. ...... Analisis data ......................................................................................
.......52

5. ..............HASIL PENELITIAN............................................................ 55
5.1. ......Analisis Univariat .................................................................... 55
5.1.1. Variabel dependen................................................................... 55
5.1.2. Variabel Independen ................................................................. 57
5.1.3. Variabel Kovariat ....................................................................... 58
5.2. ...... Analisis Bivariat...................................................................... 60
5.2.1.Hubungan BBLR dengan Kejadian Neonatal Dini ..................... 60
5.2.2.Hubungan variabel Kovariat dengan Kejadian Neonatal Dini..... 61
5.3. ...... Analisis Stratifikasi .............................................................................
.......64
5.4. ...... Analisis Multivariat................................................................. 75
5.4.1.Seleksi Kandidat ..................................................................... 75
5.4.2.Analisis Interaksi ......................................................................... 76
5.4.3.Analisis Perancu ........................................................................... 77

6. ..............PEMBAHASAN..................................................................... 82
6.1. ...... Keterbatasan Penelitian........................................................... 82
6.1.1.Ketersediaan Data ........................................................................ 82
6.1.2.Bias Seleksi .................................................................................. 83
6.1.3.Bias Informasi .............................................................................. 83
6.1.4.Bias misklasifikasi ........................................................................ 83
6.2. ...... Faktor Risiko Kematian Neonatal Dini.................................... 84

7. ..............KESIMPULANDAN SARAN............................................... 92
7.1. ...... Kesimpulan............................................................................. 92
7.2. ...... Saran....................................................................................... 93

8. ..............DAFTAR REFERENSI.......................................................... 94

LAMPIRAN

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


DAFTAR TABEL

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi pada Kasus dan Kontrol 55


Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi dari Bayi Lahir Hidup pada Kasus dan 56
Kontrol di Indonesia Tahun 201
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi dari Variabel Utama Berat Bayi Lahir 57
(BBL) berdasarkan kasus dan kontrol
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi dari Variabel Kovariat berdasarkan 58
kasus dan kontrol
Tabel 5.5 Hubungan Antara Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dengan 60
Kematian Neonatal Dini (0-7hari) di Indonesia Tahun 2010
Tabel 5.6 Hubungan Antara Variabel Kovariat dengan Kejadian 61
Kematian Neonatal Dini (0-7hari) di Indonesia Tahun 2010
Tabel 5.7 Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan 65
Kejadian Kematian Neonatal dini berdasarkan Umur Ibu pada
saat melahirkan
Tabel 5.8 Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan 66
Kejadian Kematian Neonatal dini berdasarkan Paritas
Tabel 5.9 Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan 67
Kejadian Kematian Neonatal dini berdasarkan Jarak Kelahiran
Tabel 5.10 Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan 68
Kejadian Kematian Neonatal dini berdasarkan Komplikasi
Kehamilan
Tabel 5.11 Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan 69
Kejadian Kematian Neonatal dini berdasarkan Komplikasi
Persalinan
Tabel 5.12 Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan 70
Kejadian Kematian Neonatal dini berdasarkan Tingkat
Pendidikan Ibu
Tabel 5.13 Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan 71
Kejadian Kematian Neonatal dini berdasarkan Status
Ekonomi Ibu
Tabel 5.14 Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan 72
Kejadian Kematian Neonatal dini berdasarkan Wilayah
Tempat Tinggal Ibu
Tabel 5.15 Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan 73
Kejadian Kematian Neonatal dini berdasarkan Frekuensi ANC
(K1234)
Tabel 5.16 Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan 74
Kejadian Kematian Neonatal dini berdasarkan Komponen
ANC (9T)
Tabel 5.17 Hasil Seleksi Kandidat Model 75
Tabel 5.18 Hasil Penilaian Interaksi variabel Berat Bayi Lahir dengan 77
kovariat yang berhubungan dengan Kejadian Kematian
Neonatal din di Indonesia Tahun 2010
Tabel 5.19 Proses Penilaian Perancu 78
Tabel 5.20 Model Akhir setelah Penilaian Perancu 79

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Skema Kematian Perinatal, Neonatal dan Bayi 14


Gambar 2.2 Proximate Determinant Framework 15
Gambar 2.3 Determinan Kelangsungan Hidup Anak dari Celester 17
Gambar 2.4 Deterrminan Kematian Perinatal Dari Ronsmans 16
Gambar 2.5 Kerangka Teori 39

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


DAFTAR SINGKATAN

AKI Angka Kematian Ibu


AKB Angka Kematian Bayi
AKABA Angka Kematian Balita
AKN Angka Kematian Neonatal
AKND Angka Kematian Neonatal Dini
BBLR Berat Bayi Lahir Rendah
MDG;s Millenium Development Goals
OR Odd Ratio
SDKI Survei Demografi Kesehatan Indonesia
WHO World Health Organization

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Angka kematian ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan
indikator penting untuk menilai tingkat kesejahteraan suatu negara dan status
kesehatan masyarakat. Pada bulan September 2000, Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) membuat kesepakatan untuk negara-negara anggotanya tentang tujuan
yang ingin dicapai pada tahun 2015. Kesepakatan itu dikenal dengan nama
Millenium Development Goals (MDG’s) dimana pada tujuan yang ke-empat
mencantumkan menurunnya angka kematian anak usia dibawah lima tahun
(balita) sebesar dua per tiga pada tahun 1990 sampai dengan tahun 2015 (The
United Nations Departemen of Public Information, 2002)
Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia termasuk yang tertinggi di
ASEAN. AKB di Indonesia pada tahun 2002 diantara negara-negara ASEAN
menduduki urutan ke-empat, dimana Kamboja menduduki urutan pertama yaitu
sebesar 96 per 1000 kelahiran hidup, disusul Laos 87 per 1000 kelahiran hidup,
Myanmar 77 per 1000 kelahiran hidup dan Indonesia 33 per 1000 kelahiran hidup.
AKB yang terendah diantara negara-negara ASEAN adalah Singapura sebesar 3
per 1000 kelahiran hidup, Brunai Darussalam 6 per 1000 kelahiran hidup dan
Malaysia sebesar 8 per 1000 KH. Sedangkan AKB di negara maju tidak terlalu
jauh berbeda dengan negara Singapura dan Brunai Darussalam yaitu di Amerika
Serikat sebesar 7 per 1000 kelahiran hidup, Australia 6 per 1000 kelahiran hidup
dan Jepang sebesar 3 per 1000 KH (Depkes RI, 2005)
Setiap tahun diperkirakan terjadi 4,3 juta kelahiran mati dan 3,3 juta
kematian neonatal di seluruh dunia. Meskipun angka kematian bayi di berbagai
dunia telah mengalami penurunan namun kontribusi kematian neonatal pada
kematian bayi semakin tinggi (Prameswari, 2007). Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) memperkirakan lebih dari 9 juta bayi setiap tahun meninggal sebelum
lahir atau pada minggu pertama kehidupannya (periode perinatal) dan hampir

1 Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


2

semua kematian perinatal (Perinatal Mortality Rate) terjadi di negara


berkembang.
Angka Kematian Bayi (AKB) menurut WHO (2000) sangat
memprihatinkan yang dikenal dengan fenomena 2/3 yaitu 2/3 kematian bayi (0-1
tahun) terjadi pada masa neonatal (0-28 hari), 2/3 kematian neonatal terjadi pada
masa perinatal (0-7 hari) dan 2/3 kematian perinatal terjadi pada hari pertama
(BKKBN, 2008). Angka kematian perinatal (AKP) di negara maju 10 per 1000
kelahiran sedangkan di negara berkembang 50 per 1000 kelahiran, angkanya lima
kali lebih tinggi daripada negara maju.
Angka Kematian Bayi (AKB) berhasil diturunkan secara tajam dari 68
per 1.000 kelahiran hidup pada 1990an menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup
(SDKI 2007). Namun penurunan kematian neonatal berlangsung lambat yaitu dari
32 per 1.000 kelahiran hidup pada 1990an menjadi 19 per 1.000 kelahiran hidup
(SDKI 2007), dimana 55,8% dari kematian bayi terjadi pada periode neonatal dan
sekitar 78,5% terjadi pada umur 0-6 hari (Riskesdas 2007).
Sebagian besar kematian bayi terjadi pada masa neonatal. Kematian bayi
sebagian besar adalah kematian neonatal yang berkaitan dengan status kesehatan
ibu saat hamil, pengetahuan ibu dan keluarga tentang pentingnya pemeriksaan
kehamilan dan peranan tenaga kesehatan serta ketersediaan fasilitas kesehatan.
Berdasarkan SKRT 2001, pola penyebab kematian menunjukkan bahwa
proporsi penyebab kematian neonatal kelompok 0-7 hari tertinggi disebabkan oleh
prematur dan berat lahir rendah/LBW sebesar 35%, Aspfiksia sebesar 33,6%.
Penyebab kematian neonatal pada kelompok umur 8-28 hari adalah tertinggi
karena infeksi sebesar 57,1% (termasuk tetanus, sepsis, pnemonia, diare)
kemudian feding problem sebesar 14,3% (djaya, 2003)
Mayoritas penyebab langsung kematian neonatal disebabkan karena
infeksi (pnemonia, diare dan tetanus) sebesar 36%, lahir prematur 28%. Penyebab
kematian pada periode neonatal dini dan neonatal lanjut adalah lahir prematur,
asfiksia dan cacat kongenital adalah penyebab utama kematian pada minggu
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


3

pertama setelah lahir sedangkan infeksi adalah penyebab utama kematian pada
minggu-minggu berikutnya (Lawn, 2006)
Penyebab tidak langsung kematian neonatal adalah berat badan lahir
rendah yang berhubungan dengan kelahiran prematur adalah intrauterine growth
retardation (IUGR). Selain itu juga berhubungan dengan kesehatan ibu dan
pelayanan kesehatan juga merupakan determinan untuk kelangsungan hidup anak.
Kematian ibu secara bermakna mempertinggi risiko kematian anak. Greenwood,
et al (1987) melaporkan ibu yang meninggal saat persalinan, kebanyakan bayinya
meninggal dalam waktu satu tahun (Lawn, 2006)
Informasi mengenai kematian perinatal, neonatal, bayi, balita di
Indonesia biasanya didapatkan dari berbagai sumber seperti dari Survei
Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI), rumah sakit, Riset Kesehatan dasar
(Riskesdas) dan berbagai penelitian lainnya.
Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003 di
antara 15.235 kehamilan ditemukan 147 (0,96%) lahir mati dan 224 (1,48%)
kematian neonatal dini sehingga menghasilkan Angka Kematian Perinatal (AKP)
20 per 1000 kelahiran. Kematian perinatal menyumbang sekitar 77% dari
kematian neonatal, dimana kematian neonatal menyumbang 58% dari total
kematian bayi.
Tinggi rendahnya kematian perinatal maupun neonatal tergantung dari
berbagai faktor risiko seperti tingkat sosial ekonomi yang sering berhubungan
dengan kelahiran berat bayi lahir rendah, mutu pelayanan pranatal, usia ibu hamil,
pekerjaan ibu, paritas, ibu hamil merokok, kelainan kehamilan, komplikasi
persalinan serta pola penyakit penyebab kematian pada bayi neonatal seperti
prematuritas, bayi berat lahir rendah (BBLR), asfiksia dan infeksi (Narendra,
2005 dalam Efriza)
Menurut Depkes (2003a) faktor medik yang melatarbelakangi kematian
perinatal maupun neonatal adalah usia ibu pada waktu hamil terlalu muda (kurang
dari 20 tahun) atau terlalu tua (lebih dari 35 tahun), jumlah anak terlalu banyak
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


4

(lebih dari 4 orang) dan jarak antar kehamilan kurang dari 2 tahun. Komplikasi
kehamilan, persalinan dan nifas merupakan penyebab langsung kematian ibu,
perinatal dan neonatal seperti perdarahan pervaginam (kehamilan trisemester
ketiga, persalinan dan pasca persalinan), infeksi, pre-eklamsi/eklamsia,
komplikasi akibat partus lama dan trauma persalinan
Kematian bayi terbanyak adalah karena gangguan perinatal. Dari
seluruh kematian perinatal sekitar 2 – 27% disebabkan karena kelahiran Bayi
Berat Lahir Rendah (BBLR). Sementara itu prevalensi BBLR pada saat ini
diperkirakan 7 – 14% yaitu sekitar 459.200 – 900.000 bayi ( Depkes RI, 2005 ).
Angka Kematian neonatal dini dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko
seperti tingkat sosial ekonomi yang berhubungan dengan kelahiran berat bayi
lahir rendah, mutu pelayanan antenatal care, usia ibu, pekerjaan, paritas, status
merokok ibu hamil, kelainan kehamilan, komplikasi persalinan, serta kondisi bayi
seperti prematuritas, BBLR, asfiksia, infeksi. Faktor medik yang melatar
belakangi kematian perinatal dan neonatal adalah usia ibu, paritas >4, jarak antar
kehamilan < 2 tahun.
Pola utama penyebab kematian neonatal di Indonesia tidak terlalu jauh
berbeda dengan pola penyebab utama kematian neonatal di dunia yaitu
prematuritas/BBLR 27%, asfiksia 23%, sepsis/pnemonia 26%, tetanus 7%, diare
3%, kelainan kongenital 7%. Masa awal kehidupan bayi menjadi masa yang kritis
bagi bayi yang berisiko tinggi. Deteksi dini berbagai faktor risiko tinggi pada ibu
dan neonatus akan membantu pemantauan dan pengobatan yang tepat dan cepat.
Sebagian besar kematian bayi banyak terjadi pada masa neonatal yaitu
masa bayi berumur 0-28 hari. Penelitian Kosen (2004) di Kabupaten Cirebon
menemukan bahwa dari seluruh kematian neonatal 88% terjadi pada bayi
berumur 0-7 hari. Lawn (2005) memperkirakan kematian balita terjadi pada masa
0-28 hari setelah bayi lahir dan 75% dari kematian ini terjadi pada saat bayi
berumur 0-7 hari.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


5

Penelitian yang dilakukan di kecamatan Keruak, NTB memperlihatkan


bahwa kematian neonatal pada bayi dari ibu hamil yang tidak memanfaatkan
layanan antenatal adalah 2 kali lipat dibandingkan dengan bayi dari ibu yang
memamfaatkan layanan antenatal, kematian neonatal pada bayi dari ibu hamil
yang mengalami komplikasi kehamilan atau komplikasi persalinan adalah 4 kali
dibandingkan dengan bayi dari ibu yang tidak mengalami komplikasi kehamilan
dan persalinan dan Kematian neonatal pada bayi berat lahir rendah adalah 6 kali
dibandingkan dengan bayi dari ibu yang melahirkan berat normal (Ronoatmodjo,
1996)
Penelitian Syafrida, 1997 memperlihatkan bahwa pelayanan antenatal
erat hubungannya dengan kejadian perinatal di Dati II Bogor tahun 1996-1997
yaitu pada ibu yang tidak adekuat dalam pelayanan antenatal berisiko 3,40 kali
dibandingkan dengan pelayanan antenatal care yang tidak kuat, kondisi persalinan
abnormal berisiko 2,62 kali untuk terjadi kematian perinatal dibandingkan
dengan kondisi persalinan yang normal, umur ibu yang melahirkan pada usia <20
tahun berisiko 1,07 kali untuk terjadi kematian perinatal dibandingkan dengan
usia ibu yang melahirkan pada usia 21-34 tahun dan usia ibu yang melahirkan
pada usia >35 tahun berisiko 1,46 kali untuk terjadi kematian perinatal
dibandingkan dengan usia ibu yang melahirkan pada usia 21-34
Kematian bayi baru lahir disebabkan oleh kombinasi penyebab medis,
faktor sosial dan kegagalan sistem yang bervariasi karena masalah budaya. Dalam
banyak hal kesehatan bayi baru lahir berhubungan erat dengan kematian ibu,
(Lawn, 2001).
Berbagai studi tentang determinan kematian perinatal, neonatal dan bayi
dengan menggunakan data sekunder SDKI telah banyak dilakukan seperti
Prameswari menggunakan data SDKI 1997-2003, Djaya,et al dan C.R, Titaley
dengan data SDKI 2002-2003 dan Afifah dengan data SDKI 2007.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


6

Prameswari (2006) meneliti tentang faktor ibu, bayi, pelayanan kesehatan


dan lingkungan terhadap kematian perinatal dengan hasil bahwa faktor yang
berhubungan dengan risiko kematian perinatal adalah jarak kelahiran < 24 bulan,
pendidikan ibu yang rendah, BBLR, dan tinggal di wilayah rural dengan GRDP
rendah (OR=2,40). Djaya, et al (2007) menggali faktor sosial ekonomi dan biologi
terhadap kematian neonatal dari data SDKI 2002-2003 dan diperoleh hasil bahwa
ibu yang mengalami komplikasi kehamilan kejang dan pingsan merupakan faktor
yang paling berpengaruh terhadap terjadinya anak meninggal pada usia neonatal
sebesar 12 kali dan pada bayi BBLR berisiko 5 kali. Titaley (2008) melakukan
analisis data SDKI 2002-2003 untuk mencari determinan kematian neonatal
dengan menggunakan teknik analisis multilevel dan menemukan bahwa bayi yang
tidak menerima atau tidak melakukan kontak dengan tenaga kesehatan
(Kunjungan Neonatus) cenderung untuk mengalami kematian neonatal. Afifah
(2009) dengan hasil bahwa determinan dari kematian neonatal dini adalah umur
ibu saat bersalin, status ibu bekerja dan interaksi antara komplikasi kehamilan
dengan BBLR (faktor dominan) dan determinan kematian neonatal lanjut adalah
interaksi komplikasi persalinan dan melahirkan di rumah, BBLR dan jarak
kelahiran yang terlalu dekat (faktor dominan jarak kelahiran) serta determinan
kematian post neonatal adalah staus ibu bekerja, umur ibu saat bersalin dan status
ekonomi (faktor domininan status ekonomi).
Proporsi BBLR berkisar antara 7-14% selama periode 1990-2000. Jika
proporsi ibu hamil yang akan melahirkan bayi sebesar 2,5% dari total penduduk,
maka setiap tahun diperkirakan 355.000 – 710.000 dari 5 juta bayi lahir dengan
kondisi BBLR (Depkes RI, 2000). Berdasarkan data Riskesdas 2010 BBLR di
Indonesia sebesar 11,1% sedikit menurun dibandingkan dengan data Riskesdas
2007 yaitu 11,5%. BBLR juga merupakan masalah yang penting karena dapat
menyebakan kesakitan dan kematian pada masa neonatal, disamping menghambat
pertumbuhan dan perkembangan serta meningkatkan risiko morbiditas dimasa
mendatang.
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


7

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah melakukan suatu Riset


Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang telah dilakukan sejak tahun 2007 yang
direncanakan akan dilaksanakan secara periodik setiap tiga tahun sekali. Pada
Tahun 2010 Riskesdas dilaksanakan kembali dalam rangka memantau pencapai
MDGs, sehingga muatan yang ada dalam Riskesdas 2010 lebih difokuskan kepada
pengukuran pencapaian indikator dari MDGs. Indikator yang dikumpulkan dalam
Riskesdas tersebut mencakup informasi tentang morbiditas (malaria, TB Paru),
status gizi, status kesehatan anak, status kesehatan reproduksi, konsumsi makanan
individu, pengetahuan dan perilaku pencegahan terhadap penyakit.
Menurut hasil laporan Riskesdas 2007 dari hasil autopsi verbal kejadian
kematian diperoleh penyebab kematian bayi adalah 45% kematian neonatal,
dimana secara khusus penyebab kematian neontal dini adalah gangguan
pernafasan 36%, prematuritas 33%, sepsis 12%, hipotermi 6%, kelainan darah
6%, post matur 3% dan kelainan kongenital 1,4%. Sedangkan penyebab kematian
neonatal lanjut adalah sepsis 12%, kelainan kongenital 18%, pnemonia 15%,
prematuritas dan RDS 13%, kuning, defek lahir, tetanus defisiensi masing 22,6%
dan SIDS 2,5% (Sarimawar, 2009a)
Riskesdas 2010 telah berhasil mengumpulkan data tentang kesehatan
reproduksi pada blok D(daftar pertanyaan yang berhubungan dengan kesehatan
reproduksi) dan kesehatan anak pada blok E(daftar pertanyaan yang berhubungan
dengan kesehatan anak). Laporan hasil Riskesdas 2010 yang telah dipublikasikan
menginformasikan tentang gambaran kesehatan ibu dan anak, namun belum ada
yang menginformasikan berhubungan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) dengan
kematian bayi pada anak terakhir pada periode 1 Januari 2005 sampai Agustus
2010.
Sehubungan dengan hal tersebut penulis tertarik untuk melakukan
penelitian tentang besar hubungan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) dengan
kejadian kematian neonatal dini di Indonesia berdasarkan data hasil Riskesdas
2010.
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


8

1.2 Perumusan Masalah


Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia telah dapat diturunkan secara
tajam, namun Angka Kematian Neonatal (AKN) penurunnya berlangsung lambat.
dimana 55,8% dari kematian bayi terjadi pada periode neonatal dan sekitar 78,5%
terjadi pada umur 0-6 hari (Riskesdas 2007).

Berdasarkan beberapa penelitian diketahui bahwa banyak faktor yang


berhubungan dengan kematian neonatal dini seperti faktor ibu (umur, pendidikan,
sosial ekonomi, paritas, jarak keahiran, komplikasi kehamilan, komplikasi
persalinan), faktor bayi (BBLR, berbagai penyakit infeksi pada masa neonatal
khususnya yang berhubungan dengan sindrome gangguan pernafasan, kongenital),
faktor pelayanan kesehatan (Pelayanan ANC, Pelayanan KN, penolong
persalinan)
BBLR merupakan salah satu kontributor terbesar terhadap morbiditas
dan mortalitas bayi di dunia, dimana 70% kematian neonatal disebabkan oleh
BBLR (USAID, 1999).

1.3 Pertanyaan Penelitian


Pertanyaan penelitian adalah “ apakah ada hubungan antara Berat Bayi
Lahir Rendah (BBLR) dengan kejadian kematian neonatal dini di Indonesia
setelah dikontrol dengan faktor ibu dan faktor pelayanan kesehatan”

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


9

1.4 Tujuan
1.4.1 Tujuan Umum
Diketahuinya besar hubungan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) dengan
kejadian kematian Neonatal Dini setelah mengontrol pengaruh faktor ibu (umur
ibu saat melahirkan, Paritas, Jarak, tingkat pendidikan ibu, status ekonomi ibu,
wilayah tempat tinggal ibu, komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan,) dan
faktor pelayanan kesehatan (frekuensi ANC, komponen ANC)”

1.4.2 Tujuan Khusus


Adapun Tujuan khusus dari studi ini adalah :
1. Mengetahui besar hubungan antara BBLR dengan kejadian kematian
Neonatal Dini Di Indonesia tahun 2010
2. Mengetahui besar hubungan BBLR dengan kejadian kematian Neonatal
Dini di Indonesia setelah dikontrol dengan faktor ibu (umur ibu saat
melahirkan, Paritas, Jarak, tingkat pendidikan ibu, status ekonomi ibu,
komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan) dan faktor pelayanan
kesehatan (frekuensi ANC, komponen ANC) di Indonesia
3. Estimasi besarnya hubungan antara BBLR dengan kejadian kematian
neonatal dini di Indonesia tahun 2010 setelah dikontrol dengan faktor ibu
(umur ibu saat melahirkan, Paritas, Jarak, tingkat pendidikan ibu, status
ekonomi ibu, komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan) dan faktor
pelayanan kesehatan (frekuensi ANC, komponen ANC) di Indonesia

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


10

1.5 Manfaat
Adapun manfaat yang dapat diambil dari hasil studi ini adalah sebagai
berikut :
1.5.1 Kementrian Kesehatan RI
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dalam
menentukan kebijakan dan strategi dalam upaya menurunkan kematian
bayi khususnya kematian bayi neonatal dini di indonesia yang
disebabkan oleh Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
1.5.2 Penulis
Hasil penelitian diharapkan dapat berguna sebagai pengalaman belajar
dalam mengolah data hasil survei dan sebagai dasar untuk melakukan
penelitian selanjutnya di masa mendatan

1.6 Ruang Lingkup Penelitian


Penelitian ini dilakukan dalam wilayah Indonesia menggunakan data
hasil Riskesdas 2010 dalam rangka mengetahui hubungan BBLR dengan kejadian
kematian bayi Neonatal Dini di Indonesia setelah dikontrol dengan variabel
kovariat (faktor ibu dan faktor pelayanan kesehatan). Responden dalam penelitian
ini adalah sebagian anak terakhir yang lahir hidup pada periode 1 Januari sampai
bulan Agustus 2010 yang terpilih sebagai Responden Riskesdas 2010. Desain
studi yang dipergunakan adalah kasus kontrol

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kematian Neonatal Dini


Kematian adalah akhir kehidupan, ketiadaan nyawa dalam organisme
biologis. Semua makhluk hidup pada akhirnya mati secara permanen, baik dari
penyebab alami seperti penyakit atau dari penyebab tidak alami seperti
kecelakaan.
Menurut WHO berdasarkan ICD X definisi lahir mati adalah kematian
sebelum dilahirkan atau dikeluarkan hasil konsepsi secara lengkap dari ibunya,
berapaun usia kehamilannya, kematian ditandai dengan kenyataan bahwa setelah
dipisahkan dari ibunya, janin tidak bernafas ataupun menunjukkan tanda-tanda
kehidupan lain seperti detak jantung, denyut tali pusat atau gerakan otot-otot
sadar.
Sedangkan lahir hidup adalah keluarnya hasil konsepsi dari rahim
seorang ibu secara lengkap tampa memandang lamanya kehamilan dan setelah
perpisahan tersebut terjadi. Hasil konsepsi bernafas dan mempunyai tanda-tanda
kehidupan lainnya seperti denyut jantung, denyut tali pusat atau gerakan otot-otot
tampa memandang tali pusat sudah dipotong atau belum. Periode perinatal
dimulai pada umur kehamilan 22 minggu lengkap (154 hari) dimana berat bayi
lahir normalnya telah mencapai 500 gram dan sampai 7 hari pertama telah
dilahirkan (WHO, 2006)
Periode perinatal dibagi menjadi dua yaitu perinatal I dan perinatal II.
Periode perinatal I dimulai dari kehamilan 22 minggu sampai 7 hari pertama
setelah lahir dan digunakan untuk pengumpulan data nasional di negara maju.
Periode perinatal II dimulai dari kehamilan 28 minggu sampai 7 hari pertama
setelah lahir dan direkomendasikan WHO untuk perbandingan data internasional.
Periode neonatal dimulai dari lahir hidup sampai 28 hari. Kematian neonatal dapat
dibagi menjadi kematian neonatal dini yang terjadi pada periode 7 hari pertama
kehidupannya (0-6 hari) dan kematian neonatal lanjut yang terjadi setelah 7 hari
dan berakhir sampai 28 hari (7-28 hari). Periode neonatal dini merupakan bagian
dari periode perinatal (Lawn, 2006)
11 Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


12

Mayoritas penyebab langsung kematian neonatal disebabkan karena


infeksi (pnemonia, diare dan tetanus) sebesar 36%, lahir prematur 28%. Penyebab
kematian pada periode neonatal dini dan neonatal lanjut adalah lahir prematur,
asfiksia dan cacat kongenital adalah penyebab utama kematian pada minggu
pertama setelah lahir sedangkan infeksi adalah penyebab utama kematian pada
minggu-minggu berikutnya (Lawn, 2006)
Penyebab tidak langsung kematian neonatal adalah berat badan lahir
rendah yang berhubungan dengan kelahiran prematur adalah intrauterine growth
retardation (IUGR). Selain itu juga berhubungan dengan kesehatan ibu dan
pelayanan kesehatan juga merupakan determinan untuk kelangsungan hidup anak.
Kematian ibu secara bermakna mempertinggi risiko kematian anak. Greenwood,
et al (1987) melaporkan ibu yang meninggal saat persalinan, kebanyakan bayinya
meninggal dalam waktu satu tahun (Lawn, 2006)
Penyebab tidak langsung yang paling penting yaitu BBLR yang
berhubungan dengan prematur maupun IUGR. Sebanyak 60-80% kematian
neonatal terjadi pada bayi baru lahir yang mempunyai berat lahir rendah.
Penyebab tidak langsung lainnya yaitu kesehatan dan gizi ibu yang buruk, malaria
dan infeksi maternal (USAID, 2006)
Wiknjosastro (1984) menyatakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi kematian perinatal meliputi faktor ibu dan faktor bayi. Faktor ibu
terdiri dari status sosial ekonomi, tingkat pendidikan rendah, usia lebih dari 30
tahun atau kurang dari 20 tahun, paritas pertama dan paritas ke 5 atau lebih,
kehamilan tampa pelayanan ANC, gangguan gizi dan anemia kehamilan, riwayat
kehamilan dan persalinan dengan komplikasi medik atau obstetrik, riwayat
persalinan yang diakhiri dengan tindakan bedah atau persalinan lama. Sedangkan
faktor bayi terdiri dari bayi yang lahir dari kehamilan yang berisiko tinggi, BBLR
< 2500 gram, berat bayi lahir lebih dari 4000 gram, bayi yang dilahirkan pada usia
kehamilan kurang dari 37 minggu atau lebih dari 42 minggu, bayi yang lahir
dengan infeksi intrapartum, trauma kelahiran atau kelainan kongenital.
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


13

Penelitian yang dilakukan di 6 negara berkembang (Argentina, Mesir,


India, Peru, Afrika selatan dan Vietnam) pada 7993 kehamilan yang terdaftar
dalam studi multicenter WHO suplementasi kalsium dalam rangka pencegahan
pre-eklamsi menyimpulkan bahwa prematur dan asfiksia sebagai penyebab utama
(65%) kematian neonatal dini diikuti dengan infeksi dan cacat kongenital
(Ngog,et al, 2006).
Selain faktor-faktor diatas, faktor sosial ekonomi merupakan faktor
penentu mortalitas bayi dan anak, Mosley dan Chen (1983). Namun pengaruh
faktor sosial ekonomi bersifat tidak langsung yaitu harus melalui mekanisme
biologi tertentu (variabel antara) yang kemudian baru akan menimbulkan risiko
terjadinya morbiditas dan selanjutnya bayi atau anak sakit dan bila tidak sembuh
akan cacat atau mati

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


14

Berikut ditampilkan skema kematian perinatal, neonatal dan bayi agar


lebih mudah memahami dalam membedakan periode-periode tersebut.

Konsepsi Lahir 4 minggu 52 minggu

28 (22) 1 minggu
minggu
kehamilan

Abortus

Lahir
mati

Perinatal

Neonatal
Dini

Neonatal

Post Neonatal

Bayi (Infant)

Gambar 2.1 Skema Kematian Perintal, Neonatal dan Bayi


Sumber : Adisasmita, 2005

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


15

2.2 Determinan Kematian Bayi dan Balita


2.2.1 Model Celester
Model dari teori tentang kelangsungan hidup anak dikembangkan oleh
Celester et all (1980) yang dikutip oleh Nugroho (2003), menggambarkan pola
hubungan antara fakttor sosial ekonomi dengan kematian bayi neonatal. Model ini
dikembangkan untuk analisis kematian neonatal tetapi gambaran hubungan tidak
langsung antara faktor sosial ekonomi dan peristiwa kematian neonatal dapat
memperkuat hubungan yang dikembangkan oleh Mosley dan Chen. Selain itu
dalam model ini terlihat ada faktor lain yang mempengaruhi kemugkinan
terjadinya kematian bayi yaitu faktor jenis kelamin dan kelainan genetika.

Status Sosial Paritas


Ekonomi
• Pendidikan
• Pendapatan Umur Ibu

Pelayanan Kesehatan

Jenis Kelamin

Kematian Neonatal

Kesehatan Ibu
Kesehatan
anak saat
lahir
Kesehatan
Lingkungan

Gambar 2.2 Deteminan Kelangsungan Hidup Anak dari Celester


Sumber : Celester M.S, et al.
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


16

2.2.2 Model Mosley dan Chen


Mosley dan Chen (1983) menggambarkan proximate determinant
framework yaitu suatu model kematian bayi dan balita yang disebabkan oleh
berbagai faktor proximate determinant (penyebab langsung) Konsep tersebut
didasari oleh beberapa landasan yaitu :
1. Dalam suatu kondisi optimal, lebih dari 97% bayi baru lahir bisa
bertahan hidup dalam lima tahun pertama kehidupannya.
2. Penurunan angka ketahanan hidup ini dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti sosial, ekonomi, biologi dan lingkungan.
3. Determinan sosio-ekonomi merupakan faktor yang mendasari penyebab
langsung yang akan mempengaruhi risiko sakit tidaknya bayi dan
dampak dari proses penyakit tersebut.
4. Penyakit-penyakit tertentu dan kekurangan gizi dianggap sebagai
indikator biologi dari faktor penyebab langsung tersebut.
5. Growth faltering (gangguan pertumbuhan) dan kematian bayi adalah
konsekuensi kumulatif dari berbagai proses penyakit.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


17

Adapun kerangka konsep determinan kematian balita dan bayi baru lahir
menurut Mosley dan Chen (1983) adalah :

Socio-economic determinants

Maternal Environmental Nutrient Injury


factors Contamination deficiency

Healthy Sick

Prevention
n
Treatment
Personal Growth Mortality
Illness Faltering
Control
Gambar 2.3 Proximate Determinant Framework
Sumber : Mosley and Chen

Kunci dari model tersebut adalah identifikasi satu perangkat penyebab


langsung dan atau variabel antara yang secara langsung mempengaruhi risiko
kesakitan dan kematian bayi. Dalam model tersebut yang dianggap sebagai faktor
penyebab langsung adalah :
1. Faktor ibu yaitu umur, paritas, jarak kelahiran.
2. Kontaminasi lingkungan yaitu air, kulit, tanah, insektisida dan lain-lain.
3. Kekurangan zat gizi yaitu kalori, protein, vitamin dan mineral.
4. Kecelakaan yaitu trauma.
5. Kontrol penyakit individu yaitu pencegahan dan pengobatan penyakit.
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


18

Selain faktor biologis-bayi, sosial dan ekonomi yang telah diuraikan


sebelumnya, terdapat faktor lain yang berdasarkan hasil penelitian berpengaruh
terhadap kematian perinatal yaitu faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang
mempengaruhi kondisi kesehatan tersebut cukup beragam, yang paling sering
diteliti adalah paparan dari ibu, praktek pelayanan kesehatan, asupan gizi dan
kondisi lingkungan rumah. Pada daerah yang terpencil terdapat faktor lain yang
mempengaruhi yaitu kelaparan, kondisi rumah buruk dan kemiskinan
(WHO,2003).

2.2.3 Model Ronsmans


Determinan kematian perinatal juga disampaikan oleh Ronsmans (2001)
dalam bahan presentasinya yang disampaikan dalam suatu pelatihan yang
menampilkan causal pathway kematian perinatal yang didalamnya secara
komprehensif Ronsmans menunjukkan betapa rumitnya hubungan sebab akibat
antara faktor biologis ibu-bayi, demografi ibu, pelayanan kesehatan dan
lingkungan, seperti terlihat pada gambar 2.4

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


19

Status Faktor Biologis Ibu Komplikasi Lahir Hidup


sosial • Demografi Persalinan
ekonomi (umur, paritas, Eklampsia
jarak kelahiran) Distosia
• Nutrisi (Berat Perdarahan • Hipoglikemia
Badan Ibu, antepartum • Hipoterma
Lingkungan Anemia, • Asfiksia
mikronutrien) IUGR • Infeksi
• Riwayat Obstetri persalinan • Tenanus Kematian Perinatal
• Riwayat penyakit preterm Neonatorum
Pelayanan terdahulu kembar
Kesehatan • Penyakit selama
kehamilan
Kelainan
Kongenital Lahir Mati

Tidak
Diketahui

Gambar 2.4 Derterminan Kematian Perinatal Dari Ronsmans


Sumber : Ronsmans, 2001

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


20

Masalah kesehatan neonatal tidak dapat dilepaskan dari masalah kesehatan


perinatal dimana proses kehamilan dan persalinan memegang faktor yang amat
penting. Faktor risiko adalah kondisi pada ibu hamil yang dapat menyebabkan
kemungkinan risiko atau bahaya terjadinya komplikasi pada persalinan yang dapat
menyebabkan kematian atau kesakitan ibu dan bayinya.
Berdasarkan teori yang telah dijabarkan sebelumnya maka faktor-faktor
yang meningkatkan risiko kematian neonatal dini akan dikelompokkan dalam 3
(tiga) faktor utama yaitu faktor bayi, faktor ibu dan faktor pelayanan kesehatan.

2.3 Faktor Risiko Kematian Neonatal Dini


2.3.1 Faktor Bayi
2.3.1.1 Berat Bayi Lahir Rendah
Berat bayi lahir rendah (low) adalah bayi lahir dengan berat kurang dari
2500 gram, berat lahir sangat rendah (very low) adalah berat lahir kurang dari
1500 gram dan berat lahir teralu rendah (extremely low) adalah berat lahir kurang
dari 1000 gram. Definisi low menunjukkan very low dan extremely low,
sedangkan very low termasuk extremely low (WHO, 1993)
Menurut ICD X, berat lahir adalah berat pertama janin setelah bersalin.
Pada bayi yang lahir hidup, berat diukur antara jam pertama kehidupan sebelum
terjadi kehilangan berat postnatal. Berat lahir dibagi menjadi tiga kategori yaitu
berat lahir rendah (<2500 gram), berat lahir sangat rendah (<1500 gram) dan berat
lahir terlalu rendah (<1000 gram). Salah satu penyebab utama kematian perinatal
dan neonatal adalah BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) yaitu berat badan lahir bayi
< 2500 gram.
Sekitar 11,5% bayi lahir dengan berat lahir rendah kurang dari 2.500
gram (Riskesdas 2007). Data SKRT 2001 menunjukkan bahwa bayi berat lahir
rendah (BBLR) merupakan salah satu faktor terpenting kematian neonatal.
Penyumbang utama kematian BBLR adalah prematuritas, infeksi, asfiksia lahir,
hipotermia dan pemberian ASI yang kurang adekuat.
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


21

BBLR merupakan salah satu kontributor terbesar terhadap morbiditas


dan mortalitas bayi di dunia, dimana 70% kematian neonatal disebabkan oleh
BBLR (USAID, 1999). BBLR terjadi karena 2 kondisi yaitu lahir prematur (Lahir
pada saat usia kehamilan kurang dari 37 minggu) atau bayi yang mengalami
IUGR (Intra UterineGrowtg Retardation) yaitu bayi yang lahir cukup bulan
(aterm) tetapi memiliki ukuran kecil, IUGR merupakan penyebab utama BBLR di
negara-negara berkembang (Fall et al, 2003). IUGR merupakan akibat dari
rendahnya berat dan tinggi ibu sebelum hamil, status gizi ibu yang rendah, dan
rendahnya penambahan berat badan selama kehamilan (Kelly A et al dalam
Adisasmita 2002).
Berat bayi rendah merupakan salah satu faktor penting kematian neonatal
dan juga sebagai determinan yang cukup bermakna bagi kematian bayi dan balita.
Ada 19% bayi lahir dengan berat lahir rendah.Berat badan bayi waktu dilahirkan
merupakan karakteristik yang dapat digunakan untuk meprediksi kelangsungan
hidup bayi, ada sekitar 59% dari bayi yang meninggal adalah bayi dengan berat
lahir sangat rendah (very low birth weight) .
Kematian perinatal pada bayi berat lahir rendah 8 kali lebi besar dari bayi
normal pada umur kehamilan yang sama. Prognosis akan lebih buruk lagi bila
berat badan makin rendah. Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan oleh
seringnya dijumpai kelainan adalah komplikasi neonatal seperti asfiksia, pnemoni,
perdarahan intrakranial dan hipoglikemia. Bila bayi ini selamat kadang-kadang
dijumpai pula kerusakan pada syaraf dan akan terjadi gangguan bicara, IQ yang
rendah dan gangguan lainnya (Mochtar, Rustam; Sinopsis obstetri 1992)

2.3.1.2 Jenis Kelamin


Berdasarkan hasil SDKI tahun 2007 angka kematian anak laki-laki selalu
lebih tinggi dari anak perempuan, yaitu angka kematian bayi laki-laki 23% lebih
tinggi dari bayi perempuan dan untuk angka kematian balita untuk anak laki-laki
sebesar 22% lebih tinggi dari anak perempuan
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


22

Bayi laki-laki cenderung lebih rentan terhadap kematian neontal


dibandingkan bayi perempuan, kondisi ini mungkin terjadi karena kombinasi
genetika yang kompleks serta faktor lingkungan yang kurang mendukung (CARE,
1998). Secara biologis bayi perempuan memiliki keunggulan (biological
advantage) dibandingkan bayi laki-laki. Perempuan memiliki kromosom XX
sedangkan laki-laki XY. Sehingga bila salah satu dari kromosom X pada bayi
perempuan kurang baik, maka keberadaan kromosom tersebut dapat digantikan
oleh kromosom X yang lain. Sedangkan pada laki-laki, bila salah satu kromosom
kondisinya kurang baik, tidak ada kromosom pengganti yang dapat menggantikan
kromosom yang rusak (Kraemer, 2000). Keadaan biologis yang tidak
menguntungkan ini menyebabkan laki-laki lebih rentan terhadap kejadian lahir
mati atau kematian neonatal.
Keuntungan biologis yang ada pada bayi perempuan membuat bayi
perempuan lebih tahan terhadap infeksi dan kekurangan gizi, sehingga risiko
kematian bayi perempuan dalam lima tahun kehidupannnya lebih kecil
dibandingkan dengan bayi laki-laki (Royston dan Amstrong, 1989). Namun
demikian bayi laki-laki memiliki keuntungan sosial (social advantage)
dibandingkan bayi perempuan. Pada berbagai studi kesehatan masyarakat
menunjukkan bahwa cukup banyak suku bangsa yang menempatkan bayi laki-laki
lebih berharga dibandingkan perempuan. Akibat dari pandangan budaya ini
menyebabkan bayi perempuan menerima perbedaan (diskriminasi) dalam hal
perawatan kesehatan, pemberian makanan dan fasilitas lainnya yang dapat
menjaga kelangsungan hidupnya (Ahmed W et al, 1981)

2.3.1.3 Inisiasi Menyusu Dini


Untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian anak, United Nation
Childens Fund (UNICEF) dan WHO merekomendasikan agar anak sebaiknya
disusui hanya Air Susu Ibu (ASI) selama paling sedikit 6 (enam) bulan. Makanan
padat seharusnya diberikan sesudah anak berumur 6 (enam) bulan dan pemberian
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


23

ASI seharusnya dilanjutkan sampai anak berumur 2 (dua) tahun (WHO, 2005).
Pemberian ASI dapat menurunkan kematian neonatal hingga 55% - 87% (The
Lancet Neonatal Survival 2005 dalam buku saku pelayanan kesehatan neonatal
esensial)
Pada tahun 2003, Pemerintah Indonesia mengubah rekomendasi lamanya
pemberian ASI ekslusif dari 4 (empat) bulan menjadi 6 (enam) bulan
(Departemen Kesehatan, 2002c).
Pemberian awal Air Susu Ibu (ASI) sangat dianjurkan karena beberapa
alasan yaitu ASI yang keluar pertama kali sangat bergizi dan mengandung
antibodi yang dapat melindungi bayi yang baru lahir dari penyakit. Selain dari itu
menyusui seawal mungkin mempengaruhi kesehatan ibu baru melahirkan yaitu
dengan menimbulkan reaksi uterus, yang membantu mengurangi kehilangan darah
masa nifas dan untuk jangka yang lebih panjang pada ibu yang menyusui
cenderung memperpanjang jarak kelahiran karena efek supresi yang dimiliki
ketika menyusui terhadap kembalinya haid setelah melahirkan. Selang kelahiran
yang lebih panjang memberikan kesempatan kepada tubuh ibu untuk pulih dari
kekurangan fisik yang berhubungan dengan kehamilan. Efek menyusui terhadap
kembalinya kesuburan berhubungan dengan lama dan intensitas menyusui
(Departemen Kesehatan, 2002b).
Sumber makanan dan minuman yang paling baik bagi bayi baru lahir
adalah Air Susu Ibu (ASI). Menurut laporan Departemen Kesehatan meskipun
proporsi bayi yang mendapat asi cukup tinggi, namun saat mulai menyusui dan
lamanya bervariasi. Air susu ibu memegang peranan penting dalam menjaga
kesehatan dan kelangsungan hidup bayi baru lahir, karena ASI terutama
kolostrum dapat meningkatkan pertahanan tubuh. Tidak memberikan kolostrum
merupakan salah satu kebisaan di masyarakat yang tidak baik.
Menyusui segera (immediate breastfeeding) yaitu menyusui dalam waktu
kurang atau sama dengan 30 menit setelah persalinan merupakan salah satu
alternatif yang dapat dilakukan untuk mencegah diberikannya makanan minuman
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


24

pralakteral. Interaksi sedini mungkin antara ibu dan bayi beberapa menit setelah
lahir berhubungan erat dengan keberhasilan menyusui (fikawati dan Syafiq, 2003
dalam setiawati raharjo, 2007)

2.3.2 Faktor Ibu


2.3.2.1 Umur Ibu Saat Melahirkan
Umur berhubungan terhadap proses reproduksi, umur ibu yang dianggap
optimal untuk kehamilan adalah antara 20 sampai 35 tahun. Sedangkan dibawah
atau diatas usia tersebut akan meningkatkan risiko kehamilan dan persalinan
(Martaadisoebrata, 2005 dalam Wahyuni, 2009). Umur ibu <20 tahun belum
cukup matang dalam menghadapi kehidupan sehingga belum siap secara fisik
dan mental dalam menghadapi kehamilan dan persalinan. Pada umur tersebut
rahim dan panggul ibu belum berkembang dengan baik hingga perlu diwaspadai
kemungkinan mengalami persalinan yang sulit dan keracunan kehamilan atau
gangguan lain kerena ketidaksiapan ibu untuk menerima tugas dan tanggung
jawabnya sebagai orang tua. Sebaliknya jika umur ibu >35 tahun cenderung
mengalami perdarahan, hipertensi, obesitas, diabetes, myoma uteri, persalinan
lama dan penyakit-penyakit lainnya (Depkes RI, 2001).
Pertambahan umur akan diikuti oleh perubahan perkembangan dari
organ-organ dalam rongga pelvis. Keadaan ini akan mempengaruhi kehidupan
janin dalam rahim. Pada wanita usia muda dimana organ-organ reproduksi belum
sempurna secara keseluruhan, disertai kejiwaan yang belum bersedia menjadi
seorang ibu. Usia hamil yang ideal bagi seorang wanita adalah antara umur 20-35
tahun karena pada usia tersebut rahim sudah siap menerima kehamilan, mental
juga sudah matang dan sudah mampu merawat bayi dan dirinya.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


25

2.3.2.2 Paritas
Paritas merupakan jumlah persalinan yang dialami oleh ibu. Paritas
terdiri atas 3 kelompok yaitu: (1) Golongan primipara adalah golongan ibu
dengan 0-1 paritas, (2) Golongan multipara adalah golongan ibu dengan paritas 2-
6 dan (3) Golongan grande multipara adalah golongan ibu dengan paritas >6.
Kehamilan yang paling optimal adalah kehamilan kedua sampai keempat.
Kehamilan pertama dan setelah kehamilan keempat mempunyai risiko yang
tinggi.
Grande multi para adalah istilah yang digunakan untuk wanita dengan kehamilan
kelima atau lebih. Kehamilan pada kelompok ini sering disertai penyulit, seperti
kelainan letak, perdarahan antepartum, perdarahan post partum dan lain-lain
(Martaadisoebrata, 2005 dalam Wahyuni, 2009).
Grande multipara, kemunduran daya lentur (elastisitas) jaringan yang
sudah berulang kali direnggangkan oleh kehamilan membatasi kemampuan
berkerut untuk menghentikan perdarahan sesudah persalinan. Disamping itu
banyak pula dijumpai tidak cukupnya tenaga untuk mengeluarkan janin yang
disebut dengan merituteri. Keadaan ini akan lebih buruk lagi pada kasus dengan
jarak kehamilan yang singkat.

2.3.2.3 Jarak Antar Kelahiran


Risiko terhadap kematian ibu dan anak meningkat jika jarak antara dua
kehamilan <2 tahun atau >4 tahun. Jarak kehamilan yang aman ialah antara 2-4
tahun. Jarak antara dua kehamilan yang <2 tahun berarti tubuh ibu belum kembali
ke keadaan normal akibat kehamilan sebelumnya sehingga tubuh ibu akan
memikul beban yang lebih berat. Jarak kelahiran anak sebelumnya kurang dari 2
tahun, rahim dan kesehatan ibu belum pulih dengan baik, kehamilan dalam
keadaan ini perlu diwaspadai karena adanya kemungkinan pertumbuhan janin
yang kurang baik, mengalami persalinan yang lama atau perdarahan. Sebaliknya
jika jarak kehamilan antara dua kehamilan >4 tahun, disamping usia ibu yang
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


26

sudah bertambah juga mengakibatkan persalinan berlangsung seperti kehamilan


dan persalinan pertama (Depkes RI, 2001). Anak yang memiliki jarak kelahiran
terlalu dekat (2 tahun atau kurang), akan berisiko terhadap kematian neonatal
sebesar 4.4 kali dibandingkan dengan jarak kelahiran lebih dari dua tahun.

2.3.2.4 Riwayat Kesehatan Ibu


Kesehatan dan pertumbuhan janin dihubungkan oleh kesehatan ibu. Bila
ibu mempunyai penyakit yang berlangsung lama atau merugikan kehamilannya,
maka kesehatan dan kehidupan janin pun terancam (Depkes RI, 2001).
Penyakit yang diderita oleh ibu selama kehamilan terbagi dua, yaitu
Penyakit akibat komplikasi yang tidak langsung berhubungan dengan kehamilan,
yang terdiri dari:
a. Diabetes Militus;
Diabetes militus pada ibu dapat menyebabkan bayi mengalami berat
badan lahir lebih besar melebihi usia kehamilan karena kadar gula darah dalam
tubuh ibu sangat tinggi sehingga mempengaruhi pertumbuhan janin. Diabetes
mellitus pada bayi mengakibatkan hipoglikemia karena ketika di dalam tubuh ibu,
janin menyesuaikan jumlah insulin dengan tubuh ibunya tetapi setelah lahir
jumlah insulin yang telah terbentuk tidak sesuai dengan kadar gula darah dengan
tubuh bayi (Jumiarni, 1994 )

b. Anemia
Anemia atau kurang darah adalah rendahnya kadar hemoglobin (Hb)
dalam sel-sel darah merah,yaitu kurang dari 11gr%. Prevalensi anemia pada ibu
hamil pada tahun 1995 adalah 51,3% (SKRT 1995).
Anemia dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan
janin baik sel tubuh maupun otaknya. Anemia dapat mengakibatkan kematian
janin didalam kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR. Hal ini menyebabkan
morbiditas dan mortalitas ibu dan kematian perinatal meningkat.
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


27

Kegiatan pencegahan dan penanggulangan masalah anemia secara luas


telah dilaksanakan bagi semua ibu hamil berupa pemberian tablet Fe sebanyak 90
tablet selama masa kehamilan dan bagi ibu hamil yang menderita anemia (Hb <11
gr%) diberikan pengobatan khusus di puskesmas atau rumah sakit ( Depkes RI,
2002).
Tanda tanda ibu menderita anemia seperti perasaan lesu, sering
mengantuk, selaput bagian dalam kelopak mata, bibir dan kuku pucat serta
penglihatan berkunang-kunang (Depkes RI, 2001). Jika wanita hamil mengidap
anemia, pengaruhnya dapat terjadi di awal kehamilan, yaitu terhadap hasil
pembuahan (janin, plasenta, darah). Hasil pembuahan membutuhkan zat besi yang
jumlahnya cukup banyak untuk membentuk butir-butir darah merah dan
pertumbuhan embrio. Pada bulan ke-5 dan ke-6 janin membutuhkan zat besi yang
semakin besar. Jika kandungan zat besi ibu kurang maka dapat terjadi abortus,
kematian janin dalam kandungan atau waktu lahir, lahir premature serta cacat
bawaan tidak dapat dihindari (Huliana, 2001).
Masalah yang ditemui adalah rendahnya cakupan pemberian tablet Fe
yaitu sekitar 64,4% pada tahun 1998, hal ini di sebabkan tidak tercukupinya
persediaan tablet Fe saat pemeriksaan kehamilan. Kegiatan yang saat ini
dilakukan adalah mengganti Fe dengan multivitamin dan pemberian tablet Fe
pada remaja putri sejak usia sekolah menengah (Depkes RI, 2002).
Kehilangan fisilogis basal dari tubuh melalui kulit dan alat pencernaan
diperkirakan 14 mikrogram/kilogram berat badan perhari atau sekitar 0,8
miligram bagi wanita dewasa yang berat badannya 55 kilogram. Wanita selain
kehilangan zat besi melalui fisologis basal juga terjadi kehilangan zat besi melalui
proses menstruasi. Jumlah zat besi yang hilang meliputi 95% wanita menstruasi
adalah 1,6 miligram perhari (Martianto, 1992).
Wanita yang berat badannya 55 kilogram memerlukan tambahan zat besi
untuk pembentukan hemoglobin sejumlah 500 miligram,untuk pembentukan janin
sejumlah 290 miligram dan untuk plasenta sejumlah 25 miligram serta untuk
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


28

darah yang keluar pada saat melahirkan, sehingga diperkirakan total kebutuhan zat
besi wanita hamil selama 9 bulan adalah 1000 miligram ( Martianto, 1992).
Penyakit akibat komplikasi langsung dengan kehamilan, terdiri dari:
a. Pre-eklamsia dan eklamsia
Preeklamsia adalah suatu sindroma yang dijumpai pada ibu hamil diatas
20 minggu yang ditandai dengan hipertensi atau proteinuria dengan atau tanpa
edema. Disebut hipertensi bila tekanan darah ≥ 140/90 mmHg atau terjadi
kenaikan tekanan systolic ≥ 30 mmHg atau kenaikan tekanan diastolic ≥ 15
mmHg dari ukuran tekanan darah normal. Guna menentukan Pre-eklamsia maka
pengukuran tekanan darah harus dilakukan sekurang-kurangnya 2 kali dengan
interval waktu 6 jam atau lebih guna keakuratan hasil pemeriksaan tekanan darah
yang diperoleh (Tanjung, 2004).
Pre-eklamsia dan eklamsia merupakan kesatuan penyakit yang langsung
disebabkan oleh kehamilan. Pada preeklamsia terjadi spasme pembuluh darah
disertai dengan retensi garam dan air. Perubahan pada organ ibu yang mengalami
pre-eklamsia dan eklamsia yaitu terjadinya aliran darah menurun ke plasenta
dan menyebabkan gangguan plasenta sehingga terjadi gangguan pertumbuhan
janin karena kekurangan oksigen (Mochtar, 1995).
Apabila dijumpai tekanan darah ≥140/90 mmHg setelah kehamilan 20
minggu ini dinamakan pre-eklamsia sedangkan jika dijumpai kejang-kejang pada
penderita pre-eklamsi dan sampai koma ini dinamakan eklamsia (Roeshadi,
2006).
Ibu hamil yang mengalami pre-eklampsia berisiko tinggi mengalami
keguguran, gagal ginjal akut, pendarahan otak, pembekuan darah intravaskular,
pembengkakan paru-paru, kolaps pada system pembuluh darah, dan eklampsia ,
yaitu gangguan tahap lanjutan yang ditandai dengan serangan toxemia yang bisa
berakibat sangat serius bagi ibu dan bayinya.
Pada bayi, pre-eklampsia dapat mencegah plasenta (jalur penyaluran
udara dan makanan untuk janin) mendapat asupan darah yang cukup, sehingga
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


29

bayi bisa kekurangan oksigen (hypoxia) dan makanan. Hal ini dapat menimbulkan
rendahnya bobot tubuh bayi ketika lahir dan juga menimbulkan masalah lain pada
bayi, seperti kelahiran prematur sampai dengan kematian pada saat kelahiran
(perinatal death). Tetapi banyak wanita penderita pre-eklampsia tetap
melahirkan bayi yang sehat. Hal ini karena pre-eklampsia dapat dideteksi lebih
awal apabila calon ibu rajin merawat kehamilannya.
Berdasarkan penelitian di 6 negara yaitu Argentina, Mesir, India, Peru,
Afrika Selatan dan Vietnam pada tahun 2001–2003 memperlihatkan bahwa angka
kelahiran mati 12,5 per 1000 kelahiran dan angka kematian neonatal dini adalah
9,0 per 1000 kelahiran pada kejadian preeklamsi dan eklamsi (Ngoc, 2006).

b. Perdarahan antepartum
Perdarahan antepartum biasanya dibatasi pada perdarahan jalan lahir
setelah kehamilan 22 minggu. Perdarahan setelah kehamilan 22 minggu biasanya
lebih banyak dan lebih berbahaya daripada sebelum kehamilan 22 minggu.
Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada
kelainan plasenta. Perdarahan yang terjadi pada ibu hamil sebelum proses
persalinan, dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti placenta previa, solusio
plasenta dan lain-lain (Wiknjosatro, 2007).

c. Ketuban Pecah Dini


Ketuban Pecah Dini adalah suatu keadaan dimana selaput ketuban pecah
sebelum terjadinya persalinan, yang disebabkan oleh kurangnya kekuatan
membran atau meningkatnya tekanan intra uteri. Ketuban pecah dini berkaitan
dengan penyulit kelahiran, prematur dan terjadinya infeksi khorioamnionitis
sampai sepsis. Pecahnya selaput ketuban jauh sebelum aterm merupakan
penyebab morbiditas dan mortalitas perinatal (Wiknjosastro, 2007).

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


30

2.3.2.5 Komplikasi Kehamilan


Komplikasi kehamilan merupakan salah satu bahaya bagi ibu yang
sedang hamil dan dapat mengganggu kelangsungan kehamilan atau janin.
Komplikasi bisa terjadi setiap saat dan perlu penanganan segera.
Kesehatan ibu dan perawatan selama kehamilan akan mempengaruhi
ketahanan hidup neonatal. Komplikasi selama kehamilan dan persalinan
merupakan faktor penting kesehatan dan ketahanan hidup janin dan neonatal
(Lawn,2005). Ibu dengan komplikasi kehamilan dapat mempengaruhi kematian
perinatal dan 58,4% terjadi pada periode neonatal dini (Alisjahbana, 2001).
Pada data Riskesdas 2010, jenis komplikasi kehamilan dikategorikan
menjadi 5 yaitu :
1. Mules hebat sebelum 9 bulan yaitu mengalami mules kandungan pada
usia sebelum 9 (sembilan) bulan
2. Perdarahan yaitu jika mengalami perdarahan dari jalan lahir atau spot
merah
3. Demam tinggi dan suhu badan yang tinggi
4. Kejang-kejang dan pingsan adalah kejang-kejang yang tidak ada
hubungannya dengan demam. Dalam keadaan ini otot wanita menjadi
kaku, wanita tersebut mungkin kejang yang sangat kuat sehingga tidak
terkontrol dan pingsan
5. Lainnya jika keluhan yang berkaitan dengan kehamilan tapi belum
disebutkan dalam pont 1 sampai 4

2.3.2.6 Komplikasi persalinan


Komplikasi yang terjadi pada saat persalinan merupakan penyebab utama
terjadinya kematian pada bayi yang semula hidup pada saat proses persalinan
dmulai tetapi kemudian lahir mati (WHO, 2006). Banyak analisis yang

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


31

menunjukkan bahwa kebanyakan kejadian komplikasi obstetri tidak dapat


diperkirakan sebelumnya atau dicegah (Depkes-FKM UI, 2005)
Pada data Riskesdas 2010, jenis komplikasi persalinan dikategorikan
menjadi 5 yaitu :
1. Mules yang kuat dan teratur lebih dari sehari semalam. Proses persalinan
biasanya diawali dengan mules yng kuat dan timbulnya teratur, mulai
dengan 15 menit sekali, makin lama makin sering menjadi 2 menit sekali
disertai dengan pembukaan leher rahim dan keluar darah bercampur
lendir. Umumnya bayi akan lahir dalam waktu kurang dari 24 jam setelah
tanda-tanda proses persalinan dimulai. Persalinan yang berlangsung lebih
dari 24 jam disebut persalinan lama
2. Perdarahan lebih banyak dibanding biasanya (lebih dari 2 kain) adalah
jika melebihi 500 cc atau membasahi lebih dari 2 potong kain panjang.
Perdarahan ini dapat mengakibatkan ibu banyak kehilangan darah dan
dapat mengalami shock
3. Demam badan tinggi dan atau keluar lendir yang berbau adalah suhu
badan yang tinggi dan keluar cairan yang tidak biasa, baunya tidak sedap,
warna dan kepekatannya berbeda dari biasanya. Kondisi ini merupakan
salah satu ciri puerperal sepsis yaitu infeksi yang terjadi pada jalan lahir
yang terjadi beberapa saat setelah persalinan
4. Kejang-kejang dan pingsan, yang dimaksud disini adalah kejang-kejang
yang tidak ada hubungannya dengan demam. Dalam keadaan ini otot
wanita menjadi kaku, wanita tersebut mungkin kejang yang sangat kuat
sehingga tidak terkontrol dan pingsan. Kondisi ini merupakan salah satu
gejala dari pre-eklamsi/eklamsi.
5. Keluar air ketuban lebih dari 6 (enam) jam sebelum anak lahir adalah
keluarnya air ketuban 6 (enam) jam atau lebih sebelum anak lahir.
6. Ada kesulitan/komplikasi lain yang tidak termasuk dalam kriteria diatas.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


32

2.3.2.7 Status kehamilan


Kespro adalah bagian dari hak azazi manusia. Setiap orang berhak atas
tingkat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan
keluarganya termasuk hak atas kesehatan reproduksi. Deklarasi pertemuan
International Conference Population and Develompment (ICPD) di Kairo
menyatakan bahwa kesehatan reproduksi adalah bagian yang tidak terpisahkan
dari hak azazi manusia (Mohamad). Setiap pasangan atau individu mempunyai
hak untuk menetapkan secara bebas dan bertanggungjawab terhadap jumlah anak,
jarak kelahiran anaknya dan kapan ia ingin atau tidak ingin mempunyai anak.
Idealnya setiap anak dilahirkan karena keinginan, direncanakan dan
dipertanggungjawabkan.
Status kehamilan yang tidak diinginkan dapat mengancam kelangsungan
hidup ibu dan calon bayi karena ibu akan cenderung mengabaikan perawatan
selama kehamilan dan melakukan berbagai cara untuk menghentikan kehamilan
bahkan hingga saat-saat terakhir. Kehamilan yang tidak diinginkan berhubungan
erat dengan meningkatnya risiko kematian dan kesakitan perinatal akibat dari
kelahiran prematur dan kemungkinan ditelantarkan oleh ibu (Bustan dan Coker,
1994).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Columbia, pada wanita
yang menikah dan menerima pemeriksaan ANC pada tiga bulan pertama dan
diketahui tidak menginginkan kehamilannya memiliki risiko dua kali untuk
melahirkan bayi yang kemudian melahirkan meninggal pada 28 hari pertama
kehidupannya dibandingkan dengan wanita yang menerima kehamilannnya
(Bustan dan Coker, 1994).

2.3.2.8 Pendidikan Ibu


Pendidikan orang tua yaitu ibu dan pasangan berpengaruh dalam
pengambulan keputusan dalam keluarga. Pendidikan berpengaruh secara tidak
langsung melalui peningkatan satus sosial dan kedudukan wanita dalam keluarga
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


33

dan pengambilan keputusan. Pendidikan ibu berpengaruh terhadap kelangsungan


hidup anak (Royston dan Amstrong, 1989). Di Colombo dan Sudan, wanita yang
telah bersekolah 7 tahun mempunyai peluang dalam pemilihan jumlah anak dan
pengaturan kelahiran
Ibu yang berpendidikan rendah (kurang dari SMP) mempunyai risiko
sebesar 2,2 kali untuk terjadinya kematian perinatal dibanding dengan ibu yang
berpendidikan tinggi. Latar belakang pendidikan ibu mempengaruhi sikapnya
dalam memilih pelayanan kesehatan dan pola konsumsi makan yang berhubungan
juga dengan peningkatan berat badan ibu semasa hamil yang pada saatnya akan
mempengaruhi kondisi perinatal (Sulistiyowati, 2001).

2.3.2.9 Status ekonomi


Tingkat ekonomi mempunyai hubungan yang signifikan dengan kematian
bayi pada bulan pertama. Tingkat ekonomi yang rendah meningkatkan
probabilitas kematian neonatal sebesar 4,2% (Meyer, 2006).
Ekonomi yang rendah merupakan salah satu faktor yang sering
berhubungan dengan kelainan bayi dengan berat lahir rendah (premature) yang
akan berpengaruh terhadap kesakitan dan kematian neonataus yang tinggi dan
juga pada masa bayi.
Kemiskinan merupakan penyebab kematian neonatal, meningkatkan
risiko kejadian infeksi pada ibu, menurunkan akses terhadap perawatan kesehatan.
Ada 99% kematian neonatal yang berasal dari negara dengan tingkat pendapatan
rendah dan sedang. Data DHS dari 20 negara sub sahara Afrika dan 3 negara di
Asia Tenggara memperlihakan kematian neonatal pada keluarga miskin 20% lebih
tinggi dibandingkan dengan keluarga yang kaya (Lawn, 2005). SDKI 2007
menyatakan ada hubungan terbalik antara status kekayaan rumah tangga dan
tingkat kematian anak, anak yang tinggal di dalam rumah tangga yang lebih kaya
mempunyai mortalitas yang lebih rendah daripada anak yang tinggal di rumah
tangga yang lebih miskin.
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


34

Status sosial dan ekonomi berhubungan secara tidak langsung dengan


kematian perinatal. Ukuran kemampuan membayar suatu keluarga dapat ditelusuri
dari pendapatan atau pengeluaran keluarga tersebut.

2.3.2.10 Wilayah Tempat Tinggal


Perbedaan wilayah tempat tinggal antara pedesaan dan perkotaan
biasanya memiliki permasalahan kesehatan yang berbeda. Masalah kesehatan
yang biasanya ditemukan di wilayah pedesaan keterbatasan sarana kesehatan,
akses desa terhadap pelayanan kesehatan karena kondisi geografik yang sulit,
sebaran penduduk yang tidak merata, rawan pangan, kemiskinan dan lain-lain.
Sedangkan masalah kesehatan yang ditemukan pada daerah perkotaan adalah
kepadatan penduduk yang tinggi, urbanisasi, kemiskinan, sanitasi yang buruk dan
lain-lain.
Berdasarkan hasil SDKI 2007, secara umum anak yang lahir dari ibu
yang tinggal di daerah perkotaan mempunyai angka mortalitas yang lebih rendah
daripada yang ibunya tinggal di daerah pedesaan.

2.3.3 Faktor Pelayanan Kesehatan


2.3.3.1 Pelayanan Antenatal Care
Pelayanan antenatal care adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga
profesional untuk ibu selama masa kehamilannya yang dilaksanakan sesuai
dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan. Pelayanan antenatal merupakan
upaya penting untuk menjaga kesehatan ibu pada masa kehamilan sekaligus
merupakan tempat melakukan konseling gizi, pemantauan terhadap kenaikan berat
badan semasa hamil ( Depkes RI, 2000). Hal ini meliputi pemeriksaan kehamilan
dan tindak lanjut terhadap penyimpangan yang ditemukan, pemberian intervensi
dasar seperti pemberian imunisasi Tetanus Toksoid ( TT ) dan tablet Fe serta
mendidik dan memotivasi ibu agar dapat merawat dirinya selama hamil dan
mempersiapkan persalinannya.
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


35

Penerapan praktis pelayanan antenatal care sering dipakai standard


minimal meliputi 5T, yaitu: (1) timbangan berat badan dan pengukuran tinggi
badan yang dapat dimanfaatkan untuk menilai suatu status gizi ibu; (2)
pemeriksaan tekanan darah; (3) pemeriksaan tinggi fundus uteri; (4) pemberian
Tetanus Toksoid (TT) dua kali selama hamil; (5) pemberian tablet zat besi (Fe)
minimal 90 tablet selama hamil, untuk pemeriksaan paripurna meliputi 7 T yaitu
ditambah dengan test terhadap penyakit menular seksual dan temu wicara dalam
rangka persiapan rujukan
Antenatal care merupakan kegiatan pemeriksaan ibu dan janin selama
kehamilan yang dilakukan secara teratur. Pemeriksaan antenatal pertama kali
dilakukan pada bulan pertama kehamilan, selanjutnya periksa ulang 1 kali sebulan
dan periksa ulang 1 kali setiap minggu sesudah kehamilan 9 bulan. Adapun
jadwal pemeriksaan antenatal adalah : Trimester I dan II : (1) dilakukan setiap
bulan; (2) diambil data tentang laboratorium; (3) pemeriksaan Ultrasonografi; (4)
nasehat diet : empat sehat lima sempurna, protein ½ gram/kg berat badan
ditambah satu telor/hari; (5) observasi : penyakit yang dapat berhubungan dengan
kehamilan, komplikasi kehamilan,; (6) rencana : pengobatan penyakit,
menghindari terjadinya komplikasi kehamilan, dan imunisasi TT pertama.
Trimester III : (1) dilakukan setiap seminggu atau dua minggu sampai ada tanda
kelahiran tiba; (2) evaluasi data laboratorium untuk melihat hasil pengobatan; (3)
diet empat sehat lima sempurna; (4) pemeriksaan Ultrasonografi; (5) imunisasi TT
kedua; (6) observasi : penyakit yang menyertai kehamilan, komplikasi hasil
trimester ketiga, berbagai kelainan kehamilan trimester III; (7) nasehat dan
petunjuk tentang tanda inpartus serta kemana harus datang untuk melahirkan.
Frekuensi kunjungan masing-masing ibu hamil berbeda-beda tergantung
pada keadaan masing-masing ibu hamil. Frekuensi pelayanan antenatal care pada
triwulan pertama minimal 1 kali, triwulan kedua minimal 1 kali dan minimal 2
kali pada triwulan ketiga. Standar waktu pelayanan antenatal care tersebut untuk

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


36

menjamin mutu pelayanan, khususnya dalam memberi kesempatan yang cukup


dalam menangani kasus risiko tinggi yang ditemukan (Depkes, RI, 2005).
Tujuan pengawasan antenatal adalah menyiapkan sebaik-baiknya fisik
dan mental ibu hamil serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan,
persalinan dan masa nifas sehingga keadaan ibu pada saat postpartum dalam
keadaan sehat dan normal, tidak hanya fisik akan tetapi juga mental.
Adapun tujuan dari pelayanan antenatal care adalah; (1) Memantau
kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang
janin; (2) meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial
janin; (3) Mengenali secara dini adanya ketidak normalan atau komplikasi yang
mungkin terjadi selama kehamilan, termasuk riwayat penyakit secara umum,
kebidanan dan pembedahan; (4) Mempersiapkan persalinan cukup bulan,
melahirkan dengan selamat baik ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal
mungkin; (5) Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian
ASI ekslusif; (6) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima
kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal (Depkes, RI, 2002).
Penelitian di Brazil yang dikutip oleh Mutiara (1994) melaporkan bahwa
jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan berhasil menurunkan Angka Kematian
Perinatal (AKP) diantara wanita yang tidak melakukan pemeriksaan kehamilan
adalah 56,2 per 1000 kelahiran hidup, sementara untuk wanita yang melaksanakan
pemeriksaan kehamilan sebanyak 10 kali atau lebih mempunyai AKP 26,2 per
1000 kelahiran hidup.
Risiko kejadian kematian perinatal pada ibu hamil yang memperoleh
kualitas pemeriksaan ANC buruk 4,7 (95% CI : 1,59 - 12,86) kali lebih tinggi dari
pada ibu yang memperoleh kualitas pelayanan ANC baik (Hastomo, 1993). Pada
penelitian di Kecamatan Keruak, lombok menemukan bahwa kematian bayi pada
ibu hamil yang tidak memanfaatkan pelayanan antenatal 2 kali dibandingkan
dengan ibu hamil yang tidak memanfaatkan pelayanan antenatal (Ronoatmodjo,
1996).
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


37

2.3.3.2 Penolong Persalinan


Departemen Kesehatan menetapkan target bahwa 90% persalinan
ditolong oleh tenaga kesehatan medis pada tahun 2010 (Depkes, 2000b).
Persalinan oleh tenaga kesehatan diharapkan akan terjamin sebagai persalinan
yang bersih dan aman karena selain pertolongan persalinan dilakukan dengan
bersih, bila terjadi gangguan dalam persalinan akan segera diketahui dan
ditangani atau dirujuk. Pada prinsipnya penolong persalinan harus
memperhatikan sterilisasi/pencegahan penyakit, metode pertolongan persalinan
yang sesuai standar pelayanan serta merujuk kasus yang memerlukan tingkat
pelayanan yang lebih tinggi (Depkes RI, 2005).
Dalam program Kesehatan Ibu dan anak (KIA) dikenal beberapa jenis
tenaga yang memberikan pertolongan persalinan kepada masyarakat. Jenis tenaga
tersebut adalah dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat
(Depkes, RI, 2005).
Penolong persalinan dalam memberikan pertolongan persalinan harus
memperhatikan; (1) Sterilitas/pencegahan infeksi, (2) Metode pertolongan
persalinan yang sesuai standar pelayanan dan (3) Merujuk kasus yang
memerlukan tingkat pelayanan yang lebih tinggi. Dengan program penempatan
bidan di desa diharapkan secara bertahap jangkauan persalinan oleh tenaga
kesehatan terus meningkat dan masyarakat semakin menyadari pentingnya
persalinan yang bersih dan aman.

2.3.3.3 Jenis Tempat persalinan


Sarana pelayanan kesehatan adalah sarana yang menyediakan bentuk
pelayanan yang sifatnya lebih luas di bidang klinik, bersifat preventif, promotif,
dan rehabilitatif. Sarana kesehatan dapat berupa Rumah Sakit, puskesmas, klinik,
praktek dokter, praktek bidan baik pemerintah dan swasta.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


38

Proses persalinan memiliki risiko baik berupa infeksi ataupun komplikasi


persalinan bila tidak dilakukan pada sarana kesehatan. Sarana pelayanan
kesehatan sangat penting dalam proses persalinan agar dapat menghindarkan
terjadinya infeksi dan bila terjadi komplikasi dalam proses persalinan dapat
segera ditanggulangi sehingga tidak berakibat fatal.

2.3.3.4 Pelayanan Kesehatan bayi


Pelayanan Kesehatan diberikan pada setiap bayi mulai dari lahir sampai
usia 1-12 bulan. Ada 2 pelayanan kesehatan yaitu pelayanan kesehatan neonatal
pada usia 0-28 hari sebanyak 2 (dua) kali dan pelayanan kesehatan bayi usia 1-12
bulan sebanyak 4 kali.
Cakupan kunjungan Neonatal (KN) adalah persentase neonatal yang
memperoleh pelayanan kesehatan minimal 2 kali dari tenaga kesehatan; satu kali
pada umur 0-7 hari dan satu kali pada umur 8-28 hari. Pelayanan tersebut meliputi
pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi, pencegahan
hipotermia, pemberian ASI dini dan ekslusif, pencegahan infeksi berupa
perawatan mata, tali pusat, kulit dan pemberian imunisasi), pemberian vitamin K,
Manajemen Terpadu Balita Muda (MTBM) dan penyuluhan perawatan
neonatus di rumah menggunakan buku KIA. Dan ini digunakan untuk
melihat jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan neonatal.
Cakupan kunjungan bayi adalah cakupan kunjungan bayi umur 1-12
bulan di sarana pelayanan kesehatan maupun di rumah, posyandu, tempat
penitipan anak, panti asuhan dan sebagainya, melalui kunjungan petugas.
Setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan minimal 4 kali yaitu 1 kali pada
umur 1 - 3 bulan, 1 kali pada umur 3-6 bulan, 1 kali pada umur 6 – 9 bulan dan 1
kali pada umur 9 - 12 bulan.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


39

2.4 Kerangka Teori

Berdasarkan tinjauan pustaka maka disusunlah kerangka teori sebagai


berikut ini :

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


40

• Penolong • Hipoglikemia • Pelayanan


Persalinan • Hipoterma NICU
• Tempat • Asfiksia • Pelayanan
Tingkat Faktor Biologis Ibu
Persalinan • Infeksi Esensial
pendidikan • Demografi
• Tenanus Neonatus
ibu (umur, paritas,
Neonatorum
jarak kelahiran)
Status • Nutrisi (Berat Komplikasi
sosial Badan Ibu, Persalinan
ekonomi Anemia, Eklampsia Lahir BBLR Kematian
ibu mikronutrien) Distosia Hidup Neonatal Dini
• Riwayat Obstetri Perdarahan
Wilayah • Riwayat penyakit antepartum
tempat ibu terdahulu
tinggal • Penyakit selama
Lingkunga kehamilan

Pelayanan
Kesehatan
ibu

Gambar 2.5 Kerangka teori

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep


Berdasarkan teori yang ada yang telah dijabarkan dalam bab 2, maka
disusunlah kerangka konsep. Kerangka konsep yang disusun tidak mengambil
semua faktor yang ada dalam teori namun disesuaikan dengan data set yang ada
pada data Riskesdas tahu 2010.
Variabel dependen adalah kasus kematian bayi neonatal dini. Sedangkan
variabel independen adalah Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) dan variabel
kovariat adalah faktor ibu terdiri dari umur ibu saat melahirkan, paritas, jarak
kelahiran, komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan, tingkat pendidikan ibu,
status ekonomi ibu, wilayah tempat tinggal ibu serta faktor pelayanan kesehatan
yang terdiri dari frekuensi antenatal dan komponen antenatal. Berdasarkan
kerangka teori yang telah diuraikan, maka kerangka konsep penelitian ini adalah
sebagai berikut :

41 Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


42

BBLR KEMATIAN
(Independen) NEONATAL DINI
(dependen)

KOVARIAT
Faktor Ibu
• Umur ibu melahirkan
• Paritas
• Jarak Kelahiran
• Komplikasi kehamilan
• Komplikasi persalinan
• Tingkat Pendidikan Ibu
• Status Ekonomi Ibu
• Wilayah tempat tinggal ibu

Faktor Pelayanan Kesehatan


• Frekuensi ANC (K1234)
• Komponen ANC (5T plus)

Gambar 3.1
Kerangka Konsep Kematian Bayi Neonatal Dini

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


43

3.2 Devinisi Operasional

DEFINISI SKALA
NO VARIABEL CARA UKUR HASIL UKUR
OPERASIONAL UKUR
Dependen
1 Kematian anak terakhir Jawaban responden 0= Bukan kematian Nominal
Bayi yang lahir hidup perempuan usia 10-59 neonatal dini (lahir
Neonatal Dini tetapi meninggal tahun pernah kawin hidup lebih dari 7
dalam 0-7 hari melahirkan anak terakhir hari
pertama lahir hidup namun
kehidupan yang kemudian mengalami 1= Kematian neonatal
terjadi selama kematian dalam periode dini (lahir hidup
kurun waktu 1 hari 0 hingga 7 hari tetapi mati < 7 hari)
Januari 2005 setelah kelahirannya (hasil
sampai Agustus modifikasi pada
2010 pertanyaan Riskesdas
bagian Dd06 dengan kode
jawaban 1)

Variabel Utama

1 Berat Bayi Berat badan bayi Jawaban responden (ibu) 0 = Bukan BBLR bila Ordinal
Lahir Rendah waktu lahir dalam berdasarkan pertanyaan berat bayi lahir >
gram menurut Dd08 2500 gram
ingatan responden 1= BBLR bila berat
(ibu) atau bayi lahir < 2500
berdasarkan KMS gram
atau buku KIA
dalam gram
Variabel Kovariat
1 Umur Tahun hidup Jawaban responden yang 0 = tidak berisiko Ordinal
responden/ibu responden atau terdapat dalam pertanyaan (20-35 tahun)
saat ibu pada saat Riskesdas 2010 bagian D
melahirkan melahirkan anak pada pertanyaan Dd02a 1= berisiko (< 20
anak terakhir terakhir (modifikasi Dd02a) tahun dan > 35 tahun)
Dikategorikan
berdasarkan buku
pedoman pelaksanaan
program KIA yaitu
kategori umur
berdasarkan risiko
kehamilan dan persalinan
yaitu < 20 tahun, 20-35
tahun dan > 35 tahun

UNIVERSITAS INDONESIA

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


44

DEFINISI SKALA
NO VARIABEL CARA UKUR HASIL UKUR
OPERASIONAL UKUR
2 Paritas Urutan kelahiran Jawaban responden yang 0 = 2-4 anak Ordinal
anak terakhir dari terdapat dalam pertanyaan
semua anak yang Riskesdas 2010 bagian D 1= jprimipara dan
dilahirkan hidup pada pertanyaan Dd03 jumlah anak >4
selama umur ibu Dikategorikan
berdasarkan buku
pedoman pelaksanaan
program KIA yaitu
kategori jumlah anak
dengan risko kehamilan
dan persalinan yaitu
primipara, 2-4 anak, > 4
anak
3 Jarak Jarak kelahiran Jawaban responden yang 0= 24-36 bulan Ordinal
kelahiran antara anak terdapat dalam pertanyaan
terakhir (bungsu) Riskesdas 2010 bagian D 1 = < 24 bulan dan >
dengan anak pada pertanyaan Dd04a 36 bulan
sebelumnya (modifikasi pertanyaan
(kakak bungsu) Dd04a) Dikategorikan
yang lahir hidup berdasarkan USAID da
CARE tahun 1998 yaitu <
24 bulan, 24-36 bulan dan
> 36 bulan
4 Tingkat Status pendidikan Jawaban responden pada 0 = Tingkat Ordinal
Pendidikan tertinggi yang kolom 8 blok IV pendidikan dengan
ibu ditamatkan oleh jawaban 5-7 (Tamat
Anggota Rumah SLTA/MA ,Tamat
Tangga (ART) D1 atau D2 atau D3,
tamat PT)

1 = Tingkat
pendidikan dengan
jawaban 1-4 (Tidak
sekolah, Tidak tamat
SD, Tamat SD, tamat
SLTP)

5 Komplikasi Adanya satu atau Jawaban responden atau 0 = tidak mengalami Nominal
kehamilan lebih keluhan ibu hamil yang mengalami komplikasi
pada saat satu atau lebih keluhan
kehamilan seperti pada saat kehamilan 1= mengalami satu
mules hebat seperti mules hebat atau lebih komplikasi
sebelum 9 bulan, sebelum 9 bulan,
perdarahan, perdarahan, demam
demam tinggi, tinggi, kejang-kejang dan
kejang-kejang pingsan, lainnya.
dan pingsan, Dikategorikan
lainnya berdasarkan hasil jawaban

UNIVERSITAS INDONESIA

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


45

DEFINISI SKALA
NO VARIABEL CARA UKUR HASIL UKUR
OPERASIONAL UKUR
responden pada
pertanyaan Dd29 yaitu
ada komplikasi bila
mengaami slh satu atau
lebih keluhan komplikasi
kehamilan. Tidak ada
kmplikasi kehamilan bila
tidak mengalami salah
satu atau lebih keluhan
komplikasi kehamilan
6 Komplikasi Adanya satu atau Jawaban responden atau 0 = tidak mengalami Nominal
persalinan lebih keluhan ibu hamil yang mengalami komplikasi
pada saat satu atau lebih keluhan
persalinan seperti pada saat persalinan 1= mengalami atau
mules mules yang seperti mules mules yang ada komplikasi
kuat & teratur kuat & teratur lebih dari
lebih dari semalam, perdarahan
semalam, lebih banyak
perdarahan lebih dibandingkan biasanya
banyak (lebih dari 2 kali), Suhu
dibandingkan badan tinggi atau keluar
biasanya (lebih lendir berbau, kejang-
dari 2 kali), Suhu kejang dn atau pingsan,
badan tinggi atau keluar air ketuban lebih
keluar lendir dari 6 jam sebelum anak
berbau, kejang- lahir. Dikategorikan
kejang dan atau berdasarkan hasil jawaban
pingsan, keluar responden pada
air ketuban lebih pertanyaan Dd34 yaitu
dari 6 jam ada komplikasi persalinan
sebelum anak bila mengalami salah satu
lahir atau lebih keluhan. Tidak
ada komplikasi persalinan
bila tidak mengalami
salah satu atau lebih
keluhan
7 Status Penggolongan Modifikasi dari 0 = Tinggi (kuintil 5- Ordinal
ekonomi status ekonomi pertanyaan tentang 4)
keluarga dimana pengeluaran makanan dan 1= Sedang (kuintil 3)
responden atau bukan makanan pada blok 2= Rendah (kuintil
ibu tinggal VII.B rincian 25 (rata- 1-2)
berdasarkan rata pengeluaran
indikator pengeluaran rumah tangga
pengeluaran dalam sebulan).
rumah tangga Dikelompokkan dalam
untuk makanan kuintil 1-5 yaitu kuintil 5
dan bukan sangat kaya, kuintil 4
makanan (rata- kaya, kuintil 3 sedang,

UNIVERSITAS INDONESIA

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


46

DEFINISI SKALA
NO VARIABEL CARA UKUR HASIL UKUR
OPERASIONAL UKUR
rata pengeluaran kuintil 2 miskin, kuintil 1
per kapita) sangat miskin

8 Wilayah Wilayah atau Modifikasi dari 0= perkotaan Nominal


tempat tempat tinggal pertanyaan blok I rincian 1= pedesaan
tinggal responden atau 6 (kuesioner rumah
ibu tangga/RKD10-RT)
9 Frekuensi akses/kontak ibu Jawaban responden dari 0= jumlah Ordinal
ANC hamil dengan pertanyaan Pertanyaan pemeriksaan minimal
tenaga kesehatan dari Dd20 yaitu Dd20a 4 kali dengan standar
dengan syarat dengan jawaban satu, 1 kali trisemester1, 1
minimal satu Dd20b dengan jawaban kali trisemester 2 dan
kali kontak pada satu, Dd20c dengan 2 kali trisemester 3
triwulan I (usia jawaban satu, Dd20d
kehamilan 0-3 dengan jawaban satu, 1= Jumlah
bulan), minimal Dd20e dengan jawaban pemeriksaan kurang
satu kali kontak satu, dan Dd20f dengan dari 4 kali
pada triwulan II jawaban dari pertanyaan
(usia kehamilan Dd21 dengan jawaban
4-6 bulan) dan satu,, Dd24 dengan
minimal dua kali jawaban satu dan Dd25
kontak pada dengan jawaban satu
triwulan III (usia
kehamilan 7-9
bulan).
10 Komponen minimal meliputi Modifikasi dari 0= lengkap bila Ordinal
ANC 5T plus “5T plus” yaitu pertanyaan Dd20a sampai seseuai dengan 5T
pengukuran DD20e dengan jawaban plus
tinggi badan dan satu, Dd21 dengan 1= tidak lengkap bila
berat badan, jawaban satu, Dd23 tidak 5T plus
pengukuran dengan jawaban satu dan
tekanan darah, Dd25 dengan jawaban
periksa darah, satu.
periksa urin,
pengukuran
tinggi fundus,
pemberian
imunisasi tetanus
toksoid (TT),
pemberian tablet
tambah darah
(Tablet Fe)
selama kehamilan
dan konseling

UNIVERSITAS INDONESIA

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


47

3.3 Hipotesis Penelitian


Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah : Ada hubungan
antara Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) dengan kejadian kematian neonatal dini
di Indonesia tahun 2010 setelah dikontrol dengan variabel kovariat (Variabel
umur ibu melahirkan, paritas, jarak, komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan,
tingkat pendidikan ibu, status ekonomi ibu, wilayah tempat tinggal ibu, frekuensi
ANC, komponen ANC 5T plus)

UNIVERSITAS INDONESIA

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan studi case control (kasus kontrol)


untuk mempelajari hubungan antara paparan BBLR dan outcome kematian
neonatal dini dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol
berdasarkan status paparannya (Bhisma Murti, 1997). Penelitian ini
mempergunakan data sekunder dari hasil survei Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) 2010.
Dipilihnya rancangan kasus kontrol pada penelitian ini dengan
pertimbangan :
1. Rancangan studi kasus kontrol cocok dipergunakan dalam studi analitik
dari penyakit-penyakit yang prevalensinya rendah dan dapat dipakai
untuk eksplorasi hipotesa (Sutrisna, 1990)
2. Rancangan ini memiliki keluasaan untuk rasio ukuran sampel kasus dan
kontrol yang optimal (Murti, 1997)
3. Rancangan kasus kontrol tidak memerlukan waktu yang panjang dan
relatif lebih murah
4. Peneliti telah memiliki data sekunder dari Riskesdas 2010 dan dapat
dipakai untuk eksplorasi hipotesa (Sutrisna, 1990)

48 Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


49

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian


Lokasi Penelitian dilakukan di Jakarta. Waktu pelaksanaan penelitian
pada bulan April sampai dengan Juni 2011

4.3 Populasi dan Sampel


4.3.1 Populasi
Populasi target pada penelitian ini adalah seluruh anak yang lahir hidup
dan terpilih menjadi sampel dalam Riskesdas 2010.
Populasi sumber adalah seluruh anak yang lahir hidup pada periode 1
Januari 2005 sampai Agustus 2010 yang terpilih menjadi sampel dalam Riskesdas
2010.
Populasi studi adalah anak terakhir yang lahir hidup pada periode 1
Januari 2005 sampai Agustus 2010 yang terpilih menjadi sampel dalam Riskesdas
2010.

4.3.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian anak terakhir yang lahir
hidup pada periode 1 Januari 2005 sampai pelaksanaan Riskesdas 2010 yang
terpilih menjadi sampel dalam Riskesdas 2010.
Sampel dalam penelitian ini terbagi atas kelompok kasus dan kelompok
kontrol.
1. Kasus adalah : Anak terakhir yang lahir hidup pada periode 1 januari
2005 sampai Agustus 2010 yang terpilih menjadi sampel dan mengalami
kematian pada periode 0-7 hari yang diambil dari jawaban pertanyaan
Dd06
2. Kontrol adalah Anak terakhir yang lahir hidup pada pada periode 1
januari 2005 sampai Agustus 2010 namun tidak mengalami kematian
pada periode 0-7 hari setelah, yang diambil dari jawaban pertanyaan
Ea03
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


50

Kriteria Inklusi adalah sebagai berikut :


Memiliki data yang lengkap pada variabel Berat Bayi Lahir, umur ibu
melahirkan, paritas, jarak kelahiran, komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan,
tingkat pendidikan ibu, status ekonomi ibu, wilayah tempat tinggal ibu, frekuensi
pelayanan antenatal dan komponen antenatal

Kriteria Eksklusi adalah sebagai berikut :


Tidak memiliki data lengkap pada variabel variabel Berat Bayi Lahir, umur ibu
melahirkan, paritas, jarak kelahiran, komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan,
tingkat pendidikan ibu, status ekonomi ibu, wilayah tempat tinggal ibu, frekuensi
pelayanan antenatal dan komponen antenatal

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


51

4.3.3 Perhitungan Sampel


Perhitungan sampel minimal dalam penelitian ini menggunakan rumus
kasus kontrol dua arah tidak berpadanan.
Adapun rumus dalam perhitungan sampel minimal adalah menggunakan
rumus sampel dua proporsi dari Lemeshow et al, 1997 sebagai berikut :

= jumlah besar sampel minimal

P = ( )/2

= Proporsi kelompok kasus yang terpapar sebesar


0,35

= Proporsi kelompok kontrol terpapar sebesar 0,20

= nilai z berdasarkan tingkat kesalahan 5% = 1,96

= nilai z berdasarkan kekuatan uji 80% = 0,842

Berdasarkan hasil perhitungan diatas maka diperoleh jumlah sampel


minimal sebanyak 138, namun data yang ada di Riskesdas kasus kematian
neonatal dini sebesar 144 kasus dan peneliti memutuskan mengambil semua kasus
tersebut. Seluruh kasus dijadikan subyek dalam penelitian dengan tujuan untuk
meningkatkan kekuatan studi (β), meningkatkan presisi dan mengurangi
kesalahan acak (Murti, 1997). Penelitian ini menggunakan perbandingan kasus
dibandingkan jumlah kontrol 1 : 4 dan tanpa matching, maka besar kelompok
kasus adalah 144 dan kontrol sebanyak 576 kontrol.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


52

Jumlah kelahiran yang tercatat selama periode 1 Januari 2005 sampai


pertengahan Agustus 2010 pada semua anak sebanyak 19.945

Jumlah kelahiran anak terakhir yang ada dalam data hasil Riskesdas 2010 selama
periode 1 Januari 2005 sampai pertengahan Agustus 2010
sebanyak 18.110

Kematian neonatal dini Bukan kematian neonatal dini (tidak


(0-7 hari ) sebesar 144 kasus mengalami kematian pada periode 0-7
hari) sebesar 19,966

Kelompok Kasus : Total Kasus Kelompok Kontrol : dipilih dari


kematian neonatal dini (0-7 hari ) 19.966 dengan menggunakan
sebanyak 144 dipilih sebangai Simpel Random Sampling (SRS)
kasus dengan perbandingan 1 : 4,
sehingga terpilih 576 kontrol

Gambar 4.1 : Alur pengambilan data penelitian dari Riskesdas 2010

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


53

4.4 Pengumpulan data


Data yang diperoleh dari data set Riskesdas 2010 yaitu pada kelompok
kuesioner Rumah Tangga pada blok I rincian 6 untuk wilayah tempat tinggal ibu,
blok IV kolom 8 untuk tingkat pendidikan ibu dan blok VII.B rincian 25 untuk
status ekonomi ibu dan . Sedangkan data yang berasal dari data individu diambil
kuesioner individu pada blok D (kelompok pertanyaan kesehatan reproduksi)
yaitu pada pertanyaan nomor Dd01, Dd02b, Dd04, Dd06, Dd07, Dd08, Dd18a-e,
Dd20a-e, Dd21, Dd23, Dd25, Dd29, Dd34, dan pada blok E (kelompok
pertanyaan kesehatan anak) Ea04a dan Ea05

4.5 Pengolahan data


Pengolahan data menggunakan sistem komputerisasi dengan bantuan
perangkat lunak SPSS versi 13 lisensi dari IMMPACT PUSKA-FKM UI dimana
data Riskesdas 2010 diolah dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Membentuk data set baru dengan cara memilih seluruh responden
perempuan pernah kawin usia 10-59 tahun yang melahirkan anak terakhir
pada periode 1 Januari 2005 sampai Agustus 2010 (Dd06) ditambah dari
data seleksi anak terakhir yang lahir hidup (seleksi Ea04. Setelah data
set terbentuk menyeleksi kembali data bayi yang meninggal pada
pertanyaan Dd06 kemudian dipilah menjadi bayi lahir hidup yang
meninggal pada 0-7 hari (dd06 kode satu) yang dikategorikan dengan
kematian neonatal dini.
2. Setelah mendapatkan data kematian bayi neonatal dini, melakukan
recoding menjadi kematian neonatal dini dan bukan kematian neonatal
dini (tidak mengalami kematian pada periode 0-7 hari setelah kelahiran
hidup)
3. Membuat Data set baru untuk melakukan pemilihan variabel yang akan
diteliti dengan cara mengeluarkan variabel-variabel yang tidak terkait
dalam analisis (cleaning)

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


54

4. Setelah didapatkan data baru berupa variabel yang akan diteliti,


kemudian dilakukan modifikasi terhadap variabel-variabel tersebut sesuai
dengan definisi operasional yang telah dibuat
5. Melakukan pengkodean ulang terhadap variabel-variabel yang akan
diteliti (recoding)

4.6 Analisis Data


Data akan dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak SPSS versi
13 lisensi dari IMMPACT-PUSKA FKM UI. Analisis dilakukan dalam beberapa
tahapan yaitu analisis univariat, bivariat dan multivariat. Adapun tahapan untuk
menganalisis tersebut adalah sebagai berikut :
4.6.1 Analisis Univariat
Analisis ini bertujuan untuk memperoleh gambaran proporsi dari masing-
masing variabel yang diteliti.
4.6.2 Analisis Bivariat
Analisis ini bertujuan untuk menilai kekuatan hubungan antara BBLR
dengan kejadian kematian neonatal dini dan kekuatan hubungan antara variabel
kovariat. Analisis ini menggunakan ukuran asosiasi OR yaitu rasio antara odds
pada kelompok kasus dan odds pada kelompok kontrol.
Melihat keeratan hubungan antar variabel menggunakan perhitungan Odd
Rasio (OR) dengan derajat kepercayaan 95% CI, yaitu :
• Jika OR = 1 maka tidak ada hubungan antara variabel indeenden dengan
variabel dependen
• Jika OR > 1 maka terdapat hubungan positif antara variabel independen
dengan variabel dependen/faktor risiko menaikkan risiko kejadian
• Jika OR > 1 maka terdapat hubungan negatif antara variabel independen
dengan variabel dependen/faktor risiko menurunkan risiko kejadian

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


55

4.6.3 Analisis Stratifikasi


Analisis stratifikasi bertujuan untuk mengetahui adanya interaksi antara
variabel utama dengan masing masing variabrel kovariat dan untuk mengetahui
adanya pengaruh variabel perancu pada masing masing strata dengan cara
menganalisa hubungan variabel utama dengan variabel dependen dalam kelompok
yang lebih homogen berdasarkan tingkat variabel perancunya.
Analisisnya menggunakan uji chi square untuk melihat asosiasi antara
variabel utama dengan variabel dependen tampa dikontrol oleh variabel lainnya,
sehingga didapatkan ukuran kasar (crude). Selanjutnya variabel utama dibagi
dalam beberapa kelompok (Stratum) berdasarkan strata dari variabel kovariat,
kemudian dilakukan uji homogenitas yaitu uji ada tidaknya perbedaan antara
strata tersebut.

4.6.4 Analisis Multivariat


Analisis ini bertujuan untuk menilai kekuatan hubungan antara variabel
utama dengan variabel dependen dengan mengontrol pengaruh variabel
lainnya/kovariat. Analisis yang digunakan adalah Regresi Logistik Ganda
dikarenakan variabel dependennya merupakan variabel kategorik.
Tahapan analisis multivariat ini adalah sebagai berikut :
1. Analisis ini diawali dengan memasukkan semua variabel independen
yang memiliki nilai nilai p < 0,25 ke dalam model. Nilai nilai p tersebut
diperoleh dari analisi bivariat.
2. Selanjutnya melakukan uji interaksi dengan cara menginteraksikan antara
variabel utama dengan variabel independen yang masuk dalam model.
Kemudian dilakukan penilaian dengan menggunakan likehood Ratio Test
(LRT) yaitu dengan membandingkan antara nilai likehood model tampa
interaksi dengan nilai likehood model dengan interaksi, kemudian dilihat
nilai p-nya. Bila diperoleh nilai nilai p > 0,05 maka dikatakan tidak ada
interaksi
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


56

3. Melakukan penilaian variabel perancu, dengan cara mengeluarkan


variabel kovariat satu persatu yang dimulai dengan melihat variabel yang
memiliki nilai nilai p yang terbesar. Penilaian terhadap variabel perancu
tidak didasarkan pada uji statistik tetapi berdasarkan perubahan relatif
rasio odds pada crude model terhadap rasio odds model baku emas (gold
standar adjusted). Perbedaan OR dilihat untuk variabel utama, jika
perbedaan OR cukup besar (> 10%) maka variabel tersebut adalah
perancu dan tetap dipertahankan di dalam model (Kleinbaum, 1994,
Ariawan, 2003)

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


BAB 5
HASIL

5.1 Analisis Univariat


Pada analisis satu variabel dilakukan untuk mengetahui distribusi
frekuensi setiap variabel yang diteliti. Hasil distribusi frekuensi dikelompokkan
menjadi 3 yaitu variabel dependen (Kematian Neonatal Dini), variabel independen
(Berat Bayi Lahir Rendah) dan variabel kovariat

5.1.1 Variabel Dependen


Pengkategorian Kematian pada bayi lahir hidup pada anak terakhir
periode 1 Januari 2005 sampai Agustus 2010 pada penelitian ini dibagi menjadi
dua kelompok. Kematian neonatal dini atau kasus jika kematian neonatal terjadi
pada periode 0-7 hari dan bukan kematian neonatal dini atau kontrol jika
kematian terjadi diluar periode 0-7 hari atau tetap hidup. Perbandingan kasus dan
kotrol adalah 1 berbanding 4. Gambaran distribusi frekuensi dari kasus dan
kontrol adalah sebagai berikut :
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi pada Kasus dan Kontrol

Kategori Kematian pada bayi lahir hidup N %


Kasus (Kematian Neonatal Dini ) 144 20
Kontrol (Bukan Kematian Neonatal Dini) 576 80
Jumlah 720 100

Bila dilihat distribusi kasus dan kontrol berdasarkan 33 provinsi di


Indonesia adalah sebagai berikut :

55 Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


56

Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi dari Bayi Lahir Hidup
pada Kasus dan Kontrol di Indonesia Tahun 2010
Kasus Kontrol Total
No Provinsi
N % n % n %
1 NAD 3 (2,08) 19 (3,30) 22 (3,06)
2 Sumatra Utara
8 (5,56) 29 (5,03) 37 (5,14)
3 Sumatra Barat
3 (2,08) 15 (2,60) 18 (2,50)
4 Riau 1 (0,69) 22 (3,82) 23 (3,19)
5 Jambi 5 (3,47) 14 (2,43) 19 (2,64)
6 Sumatra Selatan
7 (4,86) 15 (2,60) 22 (3,06)
7 Bengkulu 1 (0,69) 6 (1,04) 7 (0,97)
8 Lampung 2 (1,39) 20 (3,47) 22 (3,06)
9 Bangka Belitung
1 (0,69) 5 (0,87) 6 (0,83)
10 Kepulauan Riau
1 (0,69) 5 (0,87) 6 (0,83)
11 DKI Jakarta
4 (2,78) 25 (4,34) 29 (4,03)
12 Jawa Barat
19 (13,19) 104 (18,06) 123 (17,08)
13 Jawa Tengah
12 (8,33) 52 (9,03) 64 (8,89)
14 DI Yogyakarta
2 (1,39) 13 (2,26) 15 (2,08)
15 Jawa Timur
15 (10,42) 51 (8,85) 66 (9,17)
16 Banten 13 (9,03) 20 (3,47) 33 (4,58)
17 Bali 2 (1,39) 6 (1,04) 8 (1,11)
18 Nusa Tenggara Barat
5 (3,47) 22 (3,82) 27 (3,75)
19 Nusa Tenggara Timur
0 (0,00) 13 (2,26) 13 (1,81)
20 Kalimantan Barat 1 (0,69) 6 (1,04) 7 (0,97)
21 Kalimantan Tengah
8 (5,56) 13 (2,26) 21 (2,92)
22 Kalimantan Selatan
1 (0,69) 11 (1,91) 12 (1,67)
23 Kalimantan Timur 3 (2,08) 15 (2,60) 18 (2,50)
24 Sulawesi Utara
1 (0,69) 5 (0,87) 6 (0,83)
25 Sulawesi Tengah
6 (4,17) 11 (1,91) 17 (2,36)
26 Sulawesi Selatan
11 (7,64) 18 (3,13) 29 (4,03)
27 Sulawesi Tenggara
1 (0,69) 12 (2,08) 13 (1,81)
28 Gorontalo
2 (1,39) 2 (0,35) 4 (0,56)
29 Sulawesi Barat
3 (2,08) 5 (0,87) 8 (1,11)
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


57

Kasus Kontrol Total


No Provinsi
N % n % n %
30 Maluku 2 (1,39) 7 (1,22) 9 (1,25)
31 Maluku Utara
1 (0,69) 0 (0,00) 1 (0,14)
32 Irian Jaya Barat
0 (0,00) 4 (0,69) 4 (0,56)
33 Papua 0 (0,00) 11 (1,91) 11 (1,53)
Jumlah 144 (100) 576 (100) 720 (100)

5.1.2 Variabel Independen Utama


Variabel independen utama adalah variabel Berat Bayi Lahir yang
dikategorikan menjadi 2 (dua) yaitu bayi dengan berat bayi lahir normal yaitu bayi
dengan berat lahir lebih dari atau sama dengan 2.500 gram. Bayi dengan berat
lahir rendah (BBLR) yaitu bayi dengan berat lahir kurang dari 2.500 gram.
Gambaran distribusi frekuensi dari berat bayi lahir pada penelitian ini
adalah sebagai berikut :
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi dari Variabel Utama Berat Bayi Lahir (BBL) berdasarkan
kasus dan kontrol

Neonatal Dini
Variabel Kasus Kontrol
n=144 % n=576 %
Berat Bayi Lahir (BBL)
- BBLR 34 23,61 36 6,25
- Tidak BBLR 50 34,72 446 77,43
- Tidak timbang 60 41,67 94 16,32

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa proporsi bayi yang BBLR


(23,61%) lebih tinggi pada kasus dibandingkan kontrol. Proporsi bayi yang
tidak ditimbang pada kelompok kasus (41,67%) lebih tinggi dibandingkan dengan
kontrol.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


58

5.1.3 Variabel Kovariat


Pada penelitian ini ada 10 (sepuluh) variabel kovariat yang diduga sebagai
perancu. Adapun gambaran dari variabel kovariat tersebut adalah sebagai
berikut :
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi dari Variabel Kovariat berdasarkan kasus dan kontrol

Neonatal Dini
Variabel Kasus Kontrol
n=144 % n=576 %
Umur Ibu Melahirkan
- < 20 tahun & > 35 tahun 40 (27,78) 134 (23,26)
- 20 - 35 tahun 104 (72,22) 442 (76,74)
Paritas 4
- 1 dan > 4 anak 75 (52,08) 246 (42,71)
- 2-3 anak 69 (47,92) 330 (57,29)
Jarak Kelahiran
- < 24 bulan & > 36 bulan 61 (42,36) 294 (51,04)
- 24 - 36 bulan 83 (57,64) 282 (48,96)
Komplikasi Kehamilan
- Ada komplikasi kehamilan 1 atau lebih 26 (18,06) 20 (3,47)
- Tidak ada komplikasi kehamilan 118 (81,94) 556 (96,53)
Komplikasi Persalinan
- Ada komplikasi persalinan 1 atau lebih 95 (65,97) 272 (47,22)
- Tidak ada komplikasi persalinan 49 (34,03) 304 (52,78)
Tingkat Pendidikan Ibu
- Rendah 40 54,86 212 43,40
- Tinggi 104 41,67 364 46,88
Status Ekonomi Ibu
- Rendah 53 (36,81) 257 (44,62)
- Sedang 35 (24,31) 112 (19,44)
- Tinggi 56 (38,89) 207 (35,94)
Wilayah Tempat Tinggal Ibu
- Pedesaan 77 (53,47) 289 (50,17)
- Perkotaan 67 (46,53) 287 (49,83)

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


59

Neonatal Dini
Variabel Kasus Kontrol
n=144 % n=576 %
Frekuensi ANC K4
- Tidak sesuai standar (< 4 kali) 76 (52,78) 198 (34,38)
- Sesuai standar (> 4 kali) 68 (47,22) 378 (65,63)
Komponen ANC 5T plus
- Komponen ANC tidak 5T plus 134 (93,06) 538 (93,40)
- Komponen ANC 5T plus 10 (6,94) 38 (6,60)

Proporsi responden berdasarkan umur ibu melahirkan terlihat bahwa umur


ibu melahirkan pada kelompok kasus (27,78%) lebih tinggi dibandingkan dengan
kontrol.Ibu yang memiliki anak pertama dan lebih dari 4 anak untuk kelompok
kasus lebih tinggi (52,08%) dibandingkan dengan kelompok kontrol. Proporsi
ibu dengan jarak kelahiran < 20 bulan dan > 36 bulan lebih rendah (42,36%) pada
kasus dibandingkan dengan kontrol (51,04%).
Proporsi ibu yang memiliki komplikasi kehamilan lebih tinggi pada kasus
(18,06%) dibandingkan dengan kontrol. Sementara itu untuk ibu dengan
komplikasi persalinan juga lebih tinggi pada kasus (65,97%) dibandingkan dengan
kontrol.
Tingkat pendidikan ibu yang rendah juga lebih tinggi pada kasus
(54,86%) dibandingkan kontrol. Kondisi Status ekonomi ibu, proporsi ibu dengan
ekonomi rendah lebih rendah pada kasus (36,81%) dibandingkan kontrol.
Sementara berdasarkan wilayah tempat tinggal ibu, proporsi ibu yang tinggal
dipedesaan tidak terlalu jauh berbeda antara kasus dan kontrol.
Proporsi ibu yang frekuensi pelayanan antenatal care yang kurang dari 4
kali lebih tinggi pada kasus (53,47%) daripada kontrol. Sementara proporsi ibu
yang mendapatkan pelayanan (5 T plus) komponen pemeriksaan yaitu timbang
badan, ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, periksa air seni, periksa darah,
periksa perut, mendapatkan imunisasi TT, mendapatkan tablet tambah darah dan
mendapatkan konseling, tidak terlalu jauh berbeda antara kasus dan kontrol.
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


60

5.2 Analisis Bivariat


Analisis bivariat dilakukan untuk menilai hubungan antara masing-
masing variabel independen terhadap kejadian kematian neonatal dini (0-7 hari)
dan juga untuk mengetahui variabel yang akan masuk ke dalam analisis
multivariat. Bila hasil uji didapatkan nilai p<0,25 maka variabel tersebut dapat
dimasukkan dalam model multivariat. Selain dari melihat nilai nilai p juga
mempertimbangkan adanya kemaknaan secara substansi.

5.2.1 Hubungan Antara Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) dengan


Kejadian Kematian Neonatal dini
Pada analisis bivariat ini dalam melihat besar hubungan antara BBLR
dengan kematian neonatal dini, bayi yang tidak ditimbang tidak diikutkan dalam
analisis.
Tabel 5.5
Hubungan Antara Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
dengan Kematian Neonatal Dini (0-7hari) di Indonesia Tahun 2010

Variabel Kasus Kontrol P-value OR 95% CI


N % n %
Berat Bayi Lahir
(BBL)
4,849 -
BBLR 34 23,61 36 6,25 < 0,001* 8,424
- 14,637
- Tidak BBLR 50 34,72 446 77,43
- Tidak timbang 60 41,67 94 16,32
Total 144 100,00 576 100,00
Ket : * signifikan secara statistik nilai p < 0,05
Pada tabel 5.3 terlihat bahwa proporsi bayi BBLR yang mengalami
kematian neonatal dini (0-7hari) sebesar 23,61% dan 6,25% pada bayi yang tidak
mengalami kematian pada periode neonatal dini. Terdapat hubungan yang
bermakna antara berat bayi lahir dan kejadian kematian neonatal dini, dengan OR
sebesar 8,424 (95% CI : 4,849 – 14,637), yang artinya bayi dengan berat lahir
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


61

rendah berisiko 8,424 lebih besar untuk mengalami kejadian kematian neonatal
dini dibandingkan bayi dengan berat normal atau tidak BBLR.

5.2.2 Hubungan Variabel Kovariat dengan Kejadian Kematian Neonatal


dini
Tabel 5.6
Hubungan Antara Variabel Kovariat dengan
Kejadian Kematian Neonatal Dini (0-7hari) di Indonesia Tahun 2010
Kejadian Kematian
Neonatal Dini (0-7 hari)
Variabel Nilai p OR 95% CI
Kasus Kontrol
n=144 % n=576 %
Umur Ibu Melahirkan
- < 20 tahun & > 35
tahun 40 27,78 134 23,26 0,258 1,269 0,840 - 1,917
- 20 - 35 tahun 104 72,22 442 76,74 1 Referensi
Paritas 4
- 1 dan > 4 anak 75 52,08 246 42,71 0,043* 1.458 1,011 - 2,103
- 2-4 anak 69 47,92 330 57,29 1 Referensi
Jarak Kelahiran
- < 24 bulan & > 36
bulan 61 42,36 294 51,04 0,062 0,705 0,488 - 1,019
- 24 - 36 bulan 83 57,64 282 48,96 1 Referensi
Komplikasi Kehamilan
- Ada komplikasi
kehamilan 1 atau
lebih 26 18,06 20 3,47 <0,001* 6,125 3,309 - 11,340
- Tidak ada komplikasi
kehamilan 118 81,94 556 96,53 1 Referensi
Komplikasi Persalinan
- Ada komplikasi
persalinan 1 atau
lebih 95 65,97 272 47,22 <0,001* 2,167 1,480 - 3,174
- Tidak ada komplikasi
persalinan 49 34,03 304 52,78 1 Referensi
Tingkat Pendidikan Ibu
- Rendah 40 54,86 212 43,40 0,042* 1,514 1,013 - 2,264
- Tinggi 104 41,67 364 46,88 1 Referensi

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


62

Kejadian Kematian
Neonatal Dini (0-7 hari)
Variabel Nilai p OR 95% CI
Kasus Kontrol
n=144 % n=576 %
Wilayah Tempat Tinggal
Ibu
- Pedesaan 77 53,47 289 50,17 0,479 1,141 0,792 - 1,646
- Perkotaan 67 46,53 287 49,83 1 Referensi
Frekuensi ANC K4
Tidak sesuai standar
- (<4 kali) 76 52,78 198 34,38 <0,001* 2,134 1,474 - 3,088
Sesuai standar (> 4
- kali) 68 47,22 378 65,63 1 Referensi
Komponen ANC 9T
Komponen ANC
- tidak 5T plus 134 93,06 538 93,4 0,881 0,946 0,460 - 1,948
Komponen ANC 5T
- plus 10 6,94 38 6,6 1 Referensi
Ket : * signifikan secara statistik nilai p < 0,05

Secara statistik tidak ada hubungan yang bermakna antara umur ibu
melahirkan dengan kejadian kematian neonatal dini. Dari hasil analisis diperoleh
nilai OR sebesar 1,269 (95% CI : 0,840-1,917) yang artinya pada ibu yang
melahirkan pada usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun berisiko 1,269
kali untuk mengalami kejadian kematian neonatal dini dibandingkan dengan ibu
yang usia melahirkannnya antara 20 sampai 35 tahun.
Terdapat hubungan yang bermakna antara paritas dengan kejadian
kematian neonatal dini. Hasil analisis diperoleh OR sebesar 1,458 (95% CI :
1,011-2,103) dimana proporsi bayi yang dilahirkan dari ibu dengan paritas 1
(satu) dan lebih dari 4 (empat) berisiko 1,458 kali untuk mengalami kematian
neonatal dini dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan dari ibu dengan paritas
2-4.
Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara jarak
kelahiran dengan kejadian kematian neonatal dini. Hasil analisis diperoleh OR
sebesar 0,705 yang artinya proporsi bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan jarak
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


63

kelahiran < 24 bulan atau > 35 bulan berisiko 0,705 kali untuk mengalami
kematian neonatal dini dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan dari ibu dengan
jarak kelahiran 20 – 36 bulan.
Terdapat hubungan yang bermakna antara komplikasi kehamilan dengan
kejadian kematian neonatal dini. Hasil analisis bivariat diperoleh OR 6,125 yang
artinya bayi yang dilahirkan dari ibu yang memiliki komplikasi selama kehamilan
berisiko 6,125 kali untuk mengalami kematian neonatal dini dibandingkan dengan
bayi yang ibunya tidak mengalami komplikasi selama kehamilan.
Secara statisik terdapat hubungan yang bermakna antara komplikasi
persalinan dengan kejadian kematian neonatal dini. Hasil analisis diperoleh OR
sebesar 2,167 yang artinya bayi yang dilahirkan dari ibu yang memiliki
komplikasi persalinan berisiko 2,167 kali untuk mengalami kematian neonatal
dini dibandingkan dengan bayi yang ibunya tidak mengalami komplikasi
persalinan.
Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa ada hubungan antara
tingkat pendidikan ibu dengan kejadian kematian neonatal dini. Hasil analisis
diperoleh OR yang diperoleh sebesar 1,514 yang artinya proporsi bayi yang
dilahirkan oleh ibu dengan tingkat pendidikan rendah berisiko 1,515 kali untuk
mengalami kejadian neonatal dini dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan oleh
ibu dengan tingkat pendidikan tinggi.
Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara status
ekonomi ibu dengan kejadian kematian neonatal dini. OR yang diperoleh dari
analisis sebesar 0,762 yang artinya bayi yang dilahirkan dari ibu dengan status
ekonomi rendah berisiko 0,762 kali untuk mengalami kematian neonatal dini
dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan dari ibu dengan status ekonomi tinggi.
Demikian juga dengan bayi yangdilahirkan dari ibu dengan status ekonomi
sedang/menengah berisiko 1,155 kali untuk mengalami kematian neonatal dini
dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan dari ibu dengan status ekonomi tinggi.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


64

Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara wilayah tempat tinggal ibu
dengan kejadian kematian neonatal dini. Hasil analisis diperoleh OR sebesar
1,141 yang artinya proporsi bayi yang dilahirkan oleh ibu yang tinggal di
pedesaan berisiko 1,141 kali untuk mengalami kematian neonatal dini
dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan dari ibu yang tinggal diperkotaan.
Terdapat hubungan yang bermakna antara frekuensi kunjungan pelayanan
antenatal care (ANC) dengan kejadian kematian neonatal dini. Hasil analisis
diperoleh OR sebesar 2,134 yang artinya proporsi bayi yang dilahirkan oleh ibu
yang frekuensi pelayanan antenatal care (ANC) tidak lengkap atau kurang dari 4
kali berisiko 2,134 kali untuk mengalami kematian neonatal dini dibandingkan
dengan bayi yang dilahirkan dari ibu yang frekuensi kunjungan pelayanan
antenatal care (ANC) lengkap 4 kali atau lebih.
Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara Komponen ANC 5T plus
dengan kejadian kematian neonatal dini. Hasil analisis diperoleh OR sebesar
0,946 yang artinya proporsi bayi yang dilahirkan oleh ibu yang mendapat
pelayanan komponen ANC kurang dari 5T plus berisiko 0,946 kali untuk
mengalami kematian neonatal dini dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan dari
ibu yang mendapat pelayanan komponen ANC 5T plus.

5.3 Analisis Stratifikasi


Selanjutnya dilakukan analisis stratifikasi untuk melihat kemungkinan
adanya interaksi dan pengaruh faktor perancu pada masing-masing strata. Hasil
dari analisis stratifikasi ini hendaknya perlu diperhatikan pada saat melakukan uji
interaksi dan uji faktor perancu dalam analisis multivariat.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


65

Tabel 5.7
Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan Kejadian Kematian
Neonatal dini berdasarkan Umur Ibu pada saat melahirkan

Umur Ibu
Berat Bayi Lahir Kasus Kontrol OR 95% CI
melahirkan

BBLR 8 9
< 20 tahun dan > 35
tahun tidak BBLR 100 12 9,375 3,044 - 28,876
Jumlah 108 21
BBLR 28 25
20 - 35 tahun tidak BBLR 346 38 8,130 4,309 - 15,339
Jumlah 374 63
OR Crude : 8,424 (4,849-14,637)
OR Adjusted : 8,421 (4,846-14,634)
Perubahan OR : 0,036 %
Homogenity : X2 : 0,047 df=1 nilai p = 0,829

Pada tabel diatas terlihat bahwa perbedaan antara nilai Crude Odds Ratio
(ORc) dengan Adjusted Odds Ratio (ORa) tidak melebihi 10%. Hal ini
menunjukkan kemungkinan variabel umur ibu saat melahirkan bukan merupakan
perancu. Sedangkan Odds Ratio antar stratum berbeda namun secara statistik
tidak bermakna (Nilai p >0,05), OR pada stratum ibu yang melahirkan pada usia
kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun sedikit lebih besar daripada OR
stratum ibu yang melahirkan pada usia 20-35 tahun.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


66

Tabel 5.8
Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan Kejadian Kematian
Neonatal dini berdasarkan Paritas

Paritas Berat Bayi Lahir Kasus Kontrol OR 95% CI

BBLR 11 18
Paritas pertama dan 12,000 5,124-28,106
>4 tidak BBLR 198 27
Jumlah 209 45
BBLR 25 248
6,901 3,230-14,743
Paritas 2-4 tidak BBLR 16 23
Jumlah 41 271
OR Crude : 8,424 (4,849-14,637)
OR Adjusted : 8,880 (5,064-15,573)
Perubahan OR : 5,413 %
Homogenity : X2 : 0,907 df=1 nilai p = 0,341

Tabel 5.8 memperlihatkan bahwa perbedaan antara nilai Crude Odds


Ratio (ORc) dengan Adjusted Odds Ratio (ORa) tidak melebihi 10%. Hal ini
menunjukkan variabel paritas bukan merupakan perancu. Berdasarkan statistik
Odds Ratio antar stratum memiliki perbedaan namun secara statistik tidak
bermakna (Nilai p >0,05). OR pada stratum bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan
paritas pertama dan lebih dari 4 memiliki OR yang lebih besar daripada OR pada
stratum bayi yang di lahirkan oleh ibu dengan paritas 2-4. Adanya perbedaan OR
di dalam stratum tersebut diperkirakan adanya interaksi antara variabel paritas ibu
dengan berat bayi lahir.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


67

Tabel 5.9
Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan Kejadian
Kematian Neonatal dini berdasarkan Jarak Kelahiran

Jarak Kelahiran Berat Bayi Lahir Kasus Kontrol OR 95% CI

BBLR 21 13
<24 bulan & >36 6,387 2,817-14,481
bulan tidak BBLR 227 22
Jumlah 248 35
BBLR 15 21
10,95 5,067-23,663
24-36 bulan tidak BBLR 219 28
Jumlah 234 49
OR Crude : 8,424 (4,849-14,637)
OR Adjusted : 8,560 (4,908-14,930)
Perubahan OR : 1,614 %
Homogenity : X2 : 0,886 df=1 nilai p = 0,347

Perbedaan antara nilai Crude Odds Ratio (ORc) dengan Adjusted Odds
Ratio (ORa) yang diperlihatkan oleh tabel diatas tidak melebihi 10%. Hal ini
menunjukkan variabel jarak kelahiran bukan merupakan perancu. Odds Ratio
antar stratum memiliki perbedaan namun secara statistik tidak bermakna (Nilai p
>0,05) akan tetapi OR pada stratum bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan jarak
yang kurang dari 20 bulan dan lebih dari 36 bulan memiliki OR yang lebih kecil
daripada OR pada stratum bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan jarak 20 bulan
sampai 36 bulan Adanya perbedaan OR di dalam stratum tersebut diperkirakan
adanya interaksi antara variabel paritas ibu dengan berat bayi lahir.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


68

Tabel 5.10
Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan Kejadian
Kematian Neonatal dini berdasarkan Komplikasi Kehamilan

Komplikasi
Berat Bayi Lahir Kasus Kontrol OR 95% CI
Kehamilan

BBLR 2 5
Ada Komlikasi 4,722 0,759-29,381
Kehamilan tidak BBLR 17 9
Jumlah 19 14

Tidak ada BBLR 34 29


8,925 4,947-16,100
komplikasi tidak BBLR 429 41
kehamilan
Jumlah 463 70
OR Crude : 8,424 (4,849-14,637)
OR Adjusted : 8,199 (4,631-14,517)
Perubahan OR : 2,671 %
Homogenity : X2 : 0,435 df=1 nilai p = 0,510

Pada tabel diatas terlihat bahwa perbedaan antara nilai Crude Odds Ratio
(ORc) dengan Adjusted Odds Ratio (ORa) tidak melebihi 10%. Hal ini
menunjukkan variabel Komplikasi kehamilan bukan merupakan perancu.
Sedangkan Odds Ratio antar stratum memiliki perbedaan namun secara statistik
tidak bermakna (Nilai p >0,05). OR pada stratum ibu yang memiliki komplikasi
kehamilan lebih rendah daripada OR stratum ibu yang tidak memiliki komplikasi
kehamilan, sehingga dicurigai akan adanya interaksi antara variabel komplikasi
kehamilan dengan berat bayi lahir.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


69

Tabel 5.11
Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan Kejadian
Kematian Neonatal dini berdasarkan Komplikasi Persalinan

Komplikasi
Berat Bayi Lahir Kasus Kontrol OR 95% CI
persalinan

BBLR 15 21
Ada Komlikasi 9,231 4,318-19,735
persalinan tidak BBLR 211 32
Jumlah 226 53
BBLR 21 13
Tidak ada komplikasi 8,082 3,484-18,750
persalinan tidak BBLR 235 18
Jumlah 256 31
OR Crude : 8,424 (4,849-14,637)
OR Adjusted : 8,733 (4,968-15,352)
Perubahan OR : 3,668 %
Homogenity : X2 : 0,053 df=1 nilai p = 0,818

Tabel 5.12 memperlihatkan bahwa perbedaan antara nilai Crude Odds


Ratio (ORc) dengan Adjusted Odds Ratio (ORa) tidak melebihi 10%. Hal ini
menunjukkan variabel paritas bukan merupakan perancu. Odds Ratio antar
stratum memiliki perbedaan namun secara statistik tidak bermakna (Nilai p
>0,05), OR pada stratum bayi yang dilahirkan oleh ibu yang memiliki komplikasi
kehamilan memiliki OR yang lebih besar daripada OR pada stratum bayi yang di
lahirkan oleh ibu yang tidak memiliki komlikasi kehamilan.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


70

Tabel 5.12
Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan Kejadian
Kematian Neonatal dini berdasarkan Tingkat Pendidikan Ibu

Tingkat Pendidikan Ibu Berat Bayi Lahir Kasus Kontrol OR 95% CI

BBLR 17 25
4,954 2,435-10,079
Rendah tidak BBLR 35 255
Jumlah 52 280
BBLR 11 17
19,679 7,821-49,514
Tinggi tidak BBLR 191 15
Jumlah 202 32
OR Crude : 8,424 (4,849-14,637)
OR Adjusted : 8,062 (4,666-13,932)
Perubahan OR : 4,490 %
Homogenity : X2 : 8,915 df=1 nilai p = 0,019

Nilai Crude Odds Ratio (ORc) dengan Adjusted Odds Ratio (ORa) yang
diperlihatkan oleh tabel diatas terlihat tidak ada perbedaan yang melebihi 10%.
Hal ini menunjukkan kemungkinan variabel Tingkat Pendidikan Ibu bukan
merupakan perancu. Odds Ratio antar stratum memiliki perbedaan dan secara
statistik bermakna (Nilai p <0,05) sehingga ada interaksi antara variabel tingkat
pendidikan ibu dengan berat bayi lahir. OR pada stratum bayi yang dilahirkan
oleh ibu dengan tingkat pendidikan rendah lebih rendah daripada OR pada stratum
bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan tingkat pendidikan tinggi.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


71

Tabel 5.13
Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan Kejadian
Kematian Neonatal dini berdasarkan Status Ekonomi Ibu

Status Ekonomi Ibu Berat Bayi Lahir Kasus Kontrol OR 95% CI

BBLR 16 12
8,297 3,351-20,543
Rendah tidak BBLR 177 16
Jumlah 193 28
BBLR 7 6
5,143 1,519-17,416
Sedang tidak BBLR 90 15
Jumlah 97 21
BBLR 13 16
Tinggi tidak BBLR 179 19 11,595 4,851-27,714
Jumlah 192 35
OR Crude : 8,424 (4,849-14,637)
OR Adjusted : 8,546 (4,904-14,893)
Perubahan OR : 1,488 %
Homogenity : X2 : 1,150 df=1 nilai p = 0,563

Nilai Crude Odds Ratio (ORc) dengan Adjusted Odds Ratio (ORa) yang
diperlihatkan oleh tabel diatas terlihat tidak ada perbedaan yang melebihi 10%.
Hal ini menunjukkan variabel status ekonomi Ibu bukan merupakan perancu.
Odds Ratio antar stratum memiliki perbedaan namun secara statistik tidak
bermakna (Nilai p <0,05). OR pada stratum bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan
status ekonomi rendah memiliki OR yang lebih tinggi dari OR pada stratum bayi
yang dilahirkan oleh ibu dengan status ekonomi sedang. Sedangkan pada stratum
bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan status ekonomi sedang memiliki OR lebih
rendah daripada OR stratum bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan status ekonomi
tinggi. Hal ini diperkirakan ada interaksi antara variabel status ekonomi ibu
dengan berat bayi lahir.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


72

Tabel 5.14
Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir
dengan Kejadian Kematian Neonatal dini
berdasarkan Wilayah Tempat Tinggal Ibu

Wilayah Tempat
Berat Bayi Lahir Kasus Kontrol OR 95% CI
Tinggal ibu

BBLR 19 14
6,531 2,879-14,815
Pedesaan tidak BBLR 195 22
Jumlah 214 36
BBLR 17 20
10,546 4,955-22,446
Perkotaan tidak BBLR 251 28
Jumlah 268 48
OR Crude : 8,424 (4,849-14,637)
OR Adjusted : 8,434 (4,852-14,661)
Perubahan OR : 0,119 %
Homogenity : X2 : 0,712 df=1 nilai p = 0,399

Pada tabel diatas terlihat bahwa perbedaan antara nilai Crude Odds Ratio
(ORc) dengan Adjusted Odds Ratio (ORa) tidak melebihi 10%. Hal ini
menunjukkan variabel Komplikasi kehamilan bukan merupakan perancu.
Sedangkan Odds Ratio antar stratum berbeda namun secara statistik tidak
memiliki perbedaan yang bermakna (Nilai p >0,05). OR pada stratum ibu yang
bertempat tinggal dipedesaan memiliki OR yang lebih rendah daripada OR pada
stratum ibu yang bertempat tinggal di perkotaan, sehingga dicurigai akan adanya
interaksi antara variabel wilayah tempat tinggal ibu dengan berat bayi lahir.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


73

Tabel 5.15
Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan Kejadian Kematian
Neonatal dini berdasarkan Frekuensi ANC (K1234)

Frekuensi ANC Berat Bayi Lahir Kasus Kontrol OR 95% CI

BBLR 16 22
11,884 5,084-27,777
< dari 4 kali tidak BBLR 121 14
Jumlah 137 36
BBLR 20 12
5,417 2,448-11,985
> 4 Kali tidak BBLR 325 36
Jumlah 345 48
OR Crude : 8,424 (4,849-14,637)
OR Adjusted : 8,095 (4,589-14,280)
Perubahan OR : 3,906 %
Homogenity : X2 : 1,779 df=1 nilai p = 0,182

Tabel 5.15 memperlihatkan bahwa perbedaan antara nilai Crude Odds


Ratio (ORc) dengan Adjusted Odds Ratio (ORa) tidak melebihi 10%. Hal ini
menunjukkan variabel paritas bukan merupakan perancu. Odds Ratio antar
stratum memiliki perbedaan namun secara statistik tidak bermakna (Nilai p
>0,05). OR pada stratum bayi yang dilahirkan oleh ibu yang frekuensi pelayanan
antenatal carenya kurang dari 4 kali memiliki OR yang lebih tinggi dari pada
stratum bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan frekuensi pelayanan antenatal care
(ANC) yang lebih dari 4 kali. Adanya perbedaan OR antar stratum tersebut
diperkirakan adanya interaksi antara variabel frekuensi pelayanan antenatal care
(ANC) dengan berat bayi lahir.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


74

Tabel 5.16
Hasil Analisis Stratifikasi Hubungan Berat Bayi Lahir dengan Kejadian Kematian
Neonatal dini berdasarkan Komponen ANC (5T plus)

Komponen ANC Berat Bayi Lahir Kasus Kontrol OR 95% CI

BBLR 33 31
8,455 4,747-15,057
Kurang dari 5T plus tidak BBLR 414 46
Jumlah 447 77
BBLR 3 3
8,000 1,187-53,930
5T plus tidak BBLR 32 4
Jumlah 35 7
OR Crude : 8,424 (4,849-14,637)
OR Adjusted : 8,421 (4,842-14,620)
Perubahan OR : 0,119 %
Homogenity : X2 : 0,003 df=1 nilai p = 0,957

Nilai Crude Odds Ratio (ORc) dengan Adjusted Odds Ratio (ORa) yang
diperlihatkan oleh tabel diatas terlihat tidak ada perbedaan yang melebihi 10%.
Hal ini kemungkinan variabel komponen ANC 5T plus bukan merupakan
perancu. Odds Ratio antar stratum tidak terlalu berbeda dan secara statistik tidak
bermakna (Nilai p <0,05). OR pada stratum bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan
komponen pemeriksaaan ANC < 5T plus lebih tinggi dari OR pada stratum bayi
yang dilahirkan oleh ibu dengan komponen pemeriksaan ANC 5T plus. Hal ini
diperkirakan ada interaksi antara variabel komponen ANC 5T plus dengan berat
bayi lahir.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


75

5.4 Analisis Multivariat


5.4.1 Seleksi Kandidat Model
Pada penelitian ini terdapat 11 variabel independen yang diperkirakan
berhubungan dengan variabel dependen yaitu kejadian kematian neonatal dini
(0-7 hari). Hasil Seleksi Kandidat model dengan cara melihat nilai nilai p variabel
tersebut pada analisis bivariat. Apabila memiliki nilai nilai p kurang dari 0,25 dan
secara substantif akan dipertimbangkan masuk dalam model multivariat.
Berdasarkan hasil penilaian pada variabel tersebut maka variabel yang akan
masuk dalam analisis multivariat dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 5.17
Hasil Seleksi Kandidat Model

Variabel Nilai p OR 95% CI Keterangan

Berat Bayi Lahir <0,001* 8,424 4,849-14,637 Kandidat


Umur Ibu Melahirkan 0,258* 1,269 0,840 - 1,917 Kandidat
Paritas 4 0,043* 1.458 1,011 - 2,103 Kandidat

Jarak Kelahiran 0,062* 0,705 0,488 - 1,019 Kandidat

Tingkat Pendidikan Ibu 0,042* 1,514 1,013-2,264 Kandidat

Komplikasi Kehamilan <0,001* 6,125 3,309 - 11,340 Kandidat


Komplikasi Persalinan <0,001* 2,167 1,480 - 3,174 Kandidat
Status Ekonomi Ibu 0,203* 0,762 0,502 - 1,158 Kandidat
0,557 1,155 0,714 - 1,868

Wilayah Tempat Tinggal Ibu 0,479 1,141 0,792 - 1,646


Frekuensi ANC K1234 <0,001* 2,134 1,474 - 3,088 Kandidat
Komponen ANC 9T 0,881 0,946 0,460 - 1,948
Ket : * Nilai p < 0,25 dan secara substantif

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


76

5.4.2 Analisis Interaksi


Pada analisis multivariat perlu dilakukan penilaian modifikasi
efek/interaksi antar variabel independen yang secara substansi diduga berinteraksi.
Pada penelitian ini ada ada 9 (sembilan) variabel kovariat yang diduga
berinteraksi dengan variabel independen utama (BBLR) yaitu umur ibu
melahirkan, paritas, jarak kelahiran, komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan,
tingkat pendidikan, status ekonomi ibu, frekuensi pelayanan natenatal care
(ANC).
Penilaian interaksi dilakukan terhadap semua variabel independen yang
masuk dalam model lengkap dengan cara membandingkan antara -2 log likehood
pada model lengkap dengan interaksi terhadap -2 log likehood pada model
lengkap yang tanpa interaksi, disebut juga dengan statistik G (rasio Logaritmik = -
2 log likehood Ratio). Interaksi dianggap bermakna bila nilai G lebih besar dari
nilai chi cquare pada df=1 dengan nilai p < 0,05.
Setelah dilakukan seluruh kemungkinan model interaksi satu persatu
secara bergantian, ternyata diperoleh ada interaksi sehingga model lengkap yang
adalah model dengan interaksi. Hasil Uji interaksi tersebut dapat dilihat pada tabel
dibawah ini :

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


77

Tabel 5.18
Hasil Penilaian Interaksi variabel Berat Bayi Lahir dengan kovariat yang
berhubungan dengan Kejadian Kematian Neonatal dini
di Indonesia Tahun 2010
Interaksi 2 LL G Nilai P Keterangan

Model Lengkap 392,645


Model Lengkap + BBL*Umur ibu melahirkan 390,593 -2,052 0,152
Model Lengkap + BBL*Paritas 388,161 -4,484 0,034* interaksi
Model Lengkap + BBL*Jarak Kelahiran 388,236 -4,409 0,036* interaksi
Model Lengkap + BBL* Kompli hamil 390,548 -9,778 0,148
Model Lengkap + BBL* Kompli Salin 390,653 -2,097 0,158
Model Lengkap + BBL*Tingkat Pendidikan
Ibu 382,867 -1,992 0,002* interaksi
Model Lengkap + BBL*Status ekonomi ibu 389,869 -2,776 0,096
Model Lengkan + BBL * K4 388,649 -3,996 0,046* interaksi

Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa ada 4 (empat) variabel yang


berinteraksi yaitu BBLR dengan paritas, BBLR dengan jarak kelahiran, BBLR
dengan tingkat pendidikan ibu dan BBLR dengan frekuensi ANC
Selanjutnya semua kandidat dan ke-empat interaksi tersebut dimasukan
secara bersama-sama ke dalam model. Proses selanjutnya adalah penilaian
variabel interaksi dengan mengeluarkan variabel interaksi yang memiliki nilai p
yang paling besar. Hasil penilaian ini adalah didapatkan satu variabel interaksi
yang memiliki nilai p < 0,05 yaitu variabel interaksi BBLR dengan tingkat
pendidikan ibu.

5.4.3 Analisis Perancu


Langkah selanjutnya adalah penilaian perancu. Penilaian perancu ini
perlu dilakukan karena perancu dapat mengakibatkan distorsi OR faktor utama
yang diteliti. Karena dalam penelitian ini model terdapat interaksi maka penilaian
perancu dilakukan dengan cara melihat perubahan tiga OR yaitu perubahan OR
variabel utama BBLR, OR variabel tingkat pendidikan ibu dan variabel yang

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


78

berinteraksi yaitu BBLR dengan tingkat pendidikan ibu. Bila salah satu dari
ketiga OR tersebut terdapat perubahan lebih dari 10% maka variabel tersebut
merupakan perancu dan tidak dapat dikeluarkan dari model.
Hasil penilaian perancu setelah dikeluarkan satu persatu variabel dengan
melihat nilai nilai p yang terbesar, seperti terlihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 5.19
Proses Penilaian Perancu

tingkat pendidikan BBL*tingkat


BBL
ibu pendidikan ibu
Variabel Ket
% % %
OR perubahan OR perubahan OR perubahan
OR OR OR
Model Lengkap +
BBL* tingkat 23,594 - 2,018 - 0,177 -
pendidikan (Gold)
Variabel umur
dikeluarkan 23,547 -0,200 2,014 -0,200 0,178 0,300
Variabel jarak
dikeluarkan 23,618 0,300 2,010 -0,199 0,177 -0,200
Variabel status
ekonomi ibu 21,933 -7,140 1,702 -15,234 0,198 11,975 perancu
dikeluarkan
Variabel frekuensi
ANC dikeluarkan 26,816 20,695 2,177 23,530 0,169 -16,380 perancu

Variabel paritas
23,196 -15,341 2,042 -6,689 0,172 1,641
dikeluarkan
Variabel komplikasi
persalinan 22,851 -1,464 2,136 4,658 0,177 2,664
dikeluarkan
Variabel komplikasi
kehamilan 19,434 -14,485 1,919 -10,743 0,240 35,527 perancu
dikeluarkan

Hasil akhir dari proses penilaian perancu diketahui bahwa ada 3 perancu
yaitu variabel status ekonomi ibu, frekuensi ANC dan komplikasi kehamilan.
Sehingga model akhir adalah model dengan tiga perancu dan satu variabel

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


79

interaksi (BBLR dengan tingkat pendidikan ibu). Adapun model akhir tersebut
dalam terlihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 5.20
Model Akhir setelah Penilaian Perancu

95,0% C.I
Variabel B S.E. nilai P OR
Bawah Atas
BBL 3,129 0,494 0,000 22,840 8,671 60,162
Pendidikan_ibu 0,759 0,354 0,032 2,135 1,067 4,273
Statusekonomi_ibu_kode* 0,054
Statusekonomi_ibu_kode(1) 0,219 0,340 0,519 1,245 0,639 2,425
Statusekonomi_ibu_kode(2) -0,587 0,325 0,071 0,556 0,294 1,052
K1234* 0,386 0,282 0,172 1,471 0,846 2,558
Kompli_hamill* 1,896 0,419 0,000 6,657 2,929 15,131
BBL by Pendidikan_ibu** -1,731 0,620 0,005 0,177 0,053 0,597
Constant -2,807 0,309 0,000 0,060
Keterangan : * Perancu, ** interaksi

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa hubungan BBLR dengan kejadian
Kematian Neonatal Dini dikontrol oleh variabel lain (tingkat pendidikan ibu,
status ekonomi ibu, frekuensi ANC dan komplikasi kehamilan) serta dikontrol
pula oleh BBLR yang berinteraksi dengan tingkat pendidikan ibu.
Secara matematik model akhir hubungan berat bayi lahir rendah (BBLR)
dengan kejadian kematian neonatal dini dapat dilihat pada persamaan regresi
logistik ganda berikut ini :

β0 + β1(BBLR) + β2(Status ekonomi ibu) + β3(frekuensi ANC) +


Logit P = β4(komplikasi kehamilan) + β5(tingkat pendidikan ibu) +
β5 (BBLR * tingkat pendidikan ibu)

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


80

Pada penelitian ini variabel tingkat pendidikan berinteraksi dengan berat


bayi lahir rendah, sehingga OR yang digunakan merupakan perhitungan
eksponensial β dari persamaa garis regresi logistik dibawah ini :

Formula untuk menghitung OR interaksi :

OR Interaksi = Exp (β + ∑δ jWj)

= Exp (3,129) (BBLR) + (-1,731) +(BBLR* tk.pendidikan)

Formula untuk menghitung 95% CI interaksi :

 
exp lˆ± 1,96 var (lˆ) 
 

Dimana lˆ = βˆ BBLR + δˆBBLR × tk . pendidikan

Dan : Var (lˆ) = Var ( βˆ BBLR) + X 2Var (tk . pendidikan) + 2( X ) cov(βˆ BBLR × tk . pendidikan)

Setelah dilakukan perhitungan diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 5.20
Hasil Perhitungan OR Interaksi

Variabel Perhitungan OR 95% CI

BBLR, Tk.
Pendidikan
rendah Exp ( 3,129 ) ( 1 ) + ( -1,731 ) ( 1 ) 23,028 18,936 27,121
BBLR, Tk.
pendidikan
tinggi Exp ( 3,129 ) ( 1 ) + ( -1,731 ) ( 0 ) 22,851 18,759 26,944
Pengkodean :
BBL ( 1= BBLR, 0 = tidak BBLR), tingkat pendidikan ibu (1= tingkat pendidikan ibu rendah, 0= tingkat
pendidikan ibu tinggi)

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


81

Berdasarkan tabel diatas, maka kita memperoleh 2 (dua) nilai OR yaitu sebagai
berikut :
1. Untuk OR11 diperoleh OR sebesar 23,028 (95% CI : 18,936-27,121) yang
artinya kejadian kematian neonatal dini pada bayi yang BBLR dengan
ibu yang berpendidikan rendah adalah 23,028 kali (95% CI : 18,936-
27,121) dibandingkan dengan bayi yang tidak BBLR dengan ibu yang
berpendidikan tinggi
2. Untuk OR10 diperoleh OR sebesar 22,851 (95% CI : 18,759 – 26,944)
yang artinya kejadian kematian neonatal dini pada bayi yang BBLR
dengan ibu yang berpendidikan tinggi adalah 22,851 (95% CI : 18,759 –
26,944) dibandingkan dengan bayi yang tidak BBLR dengan ibu yang
berpendidikan tinggi.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


82

Untuk mengetahui penurunan kejadian kematian neonatal dini apabila


dilakukan intervensi pada faktor risiko, dihitung dengan menggunakan rumus :

OR - 1
AR = x 100
OR

Tabel 5.21
Hasil Analisis Dampak Kejadian Kematian Neonatal Dini
di Indonesia Tahun 2010

Variabel OR AR (%)

BBLR, Tk. Pendidikan ibu rendah


23,028 95,66
BBLR, Tk. pendidikan ibu tinggi
22,851 95,62

Dari tabel 5.21 diketahui bahwa efek dari BBLR dengan tingkat
pengetahuan ibu yang rendah akan meningkatkan kejadian kematian neonatal dini
sebesar 95,66%. Hal ini tidak terlalu jauh berbeda dengan efek BBLR dengan
tingkat pengetahuan ibu yang tinggi juga akan meningkakan kejadian kematian
neonatal dini sebesar 95,62%.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


BAB 6
PEMBAHASAN

6.1 Keterbatasan Penelitian


Penelitian ini sepenuhnya disadari oleh peneliti banyak memiliki
keterbatasan-keterbatasan yang mungkin akan berpengaruh terhadap hasil
penelitian. Namun demikian peneliti berusaha untuk mengeliminir dampak dari
banyaknya keterbatasan tersebut. Beberapa keterbatasan yang terdapat dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :

6.1.1 Ketersediaan Data


Dalam penelitian ini data sangat penting karena data akan
menggambarkan variabel yang di teliti. Jika suatu penelitian menggunakan data
sekunder maka peneliti tidak memiliki kendali yang maksimal terhadap prosedur
pengambilan data serta kualitas data yang terkumpul. Keterbatasan dalam
menggunakan data sekunder adalah sebagai berikut :
1. Tidak tersedianya data yang sebetulnya cukup relevan tentang informasi
kondisi medis bayi saat dilahirkan seperti Asfiksia, penyakit infeksi dan
lain sebagainya walaupun berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya
memiliki hubungan yang erat dengan kematian neonatal dini.
2. Walaupun data tentang berat bayi lahir dapat ditemukan dalam data set
ini, namun sumber informasi tersebut lebih banyak berasal dari ingatan
responden (ibunya) daripada berdasarkan pada catatan yang ada pada
buku KIA atau KMS. Ada 21,39% dari 720 responden yang tidak
menimbang, dimana ada 41,66% pada kasus kematian neonatal dini
yang tidak ditimbang sehingga tidak dapat dianalisis datanya

84 Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


85

6.1.2 Bias Seleksi


Bias seleksi yang terjadi pada penelitian ini adalah terdapat perbedaan
perlakukan dalam memilih kasus dan kontrol, dimana kontrol dipilih dengan
menggunakan Simpel Random Sampling (SRS) sementara kasus tidak dipilih
secara random namun total populasi.

6.1.3 Bias informasi


Bias potensial yang terjadi dalam penelitian ini adalah bias informasi,
dimana responden diminta mengingat kembali kejadian dalam periode 5 (lima)
tahun ke belakang mengenai kondisi kesehatannya selama kehamilan dan
persalinan, khususnya informasi mengenai umur kehamilan, riwayat kunjungan
pelayanan natenatal care (ANC), riwayat kunjungan neonatus (KN), jenis
penolong persalinan, tempat persalinan dan berat bayi pada waktu dilahirkan.

6.1.4 Bias Klasifikasi


Bias misclasifikasi dapat terjadi pada penelitian ini dimana kategorisasi
adanya tidaknya komplikasi kehamilan dan komplikasi persalinan dilakukan
hanya berdasarkan ingatan dari responden, bukan berasal dari cacatan medis
responden yang dapat mengakibatkan nilai risiko yang didapat dari hasil analisis
terhadap variabel-variabel tersebut menjadi underestimate atau overestimated. Hal
ini merupakan kekurangan yang terjadi dalam suatu survei khususnya yang
mengukur outcome kesehatan yang erat kaitannya dengan kondisi medis.
6.1.5 Kematian Neonatal Dini
Definisi kematian neonatal dini digunakan pada penelitian ini adalah
kematian bayi lahir hidup yang terjadi setelah bayi dilahirkan hingga 7 hari
pertama kehidupannya. Jumlah kasus dalam penelitiannya ini adalah 144 kasus
kematian neonaal dini dengan 4 kontrol yaitu 576 kontrol.
Peristiwa kematian adalah suatu peristiwa yang cukup dapat diingat oleh
responden namun peristiwa kematian juga merupakan peristiwa yang tidak ingin
diingat kembali oleh responden, sehingga terkadang informasi yang diberikan
mejadi bias. Selain itu penentuan kematian neonatal dini juga mengalami masalah
yang sama, dimana masyarakat pada umumnya menghitung hari kelahiran sebagai
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


86

hari pertama yang seharusnya merupakan hari ke-0, sedangkan yang dimaksud
dengan hari pertama adalah umur bayi setelah mencapai 24 jam. Hal ini juga
dapat menimbulkan bias dimana seharusnya yang terbaik adalah dengan
menggunakan cacatan rekam medis yang terdapat di fasilitas kesehatan, tetapi hal
ini akan mengalami hambatan karena belum baiknya sistem pencacatan baik
kesakitan maupun kematian di Indonesia.

6.2 Faktor Risiko Kematian Neonatal Dini

Masalah kematian neonatal dini masih merupakan masalah kesehatan


masyarakat di Indonesia. Adanya fenomena dua pertiga yaitu kematian bayi baru
lahir (0-28 hari) merupakan 2/3 kematian bayi, kematian perinatal (0-7 hari)
merupakan 2/3 kematian bayi baru lahir, dan kematian bayi (0-1 hari) merupakan
2/3 dari kematian perinatal.
Pada penelitian ini proporsi bayi BBLR yang mengalami kematian
neonatal dini (0-7 hari) sebesar 23,61% dan 6,23% pada bayi yang tidak
mengalami kematian pada periode neonatal dini.
Dalam penelitian ini hubungan antara BBLR dengan kejadian kematian
neonatal dini juga dikontrol dengan tingkat pendidikan ibu, Status ekonomi ibu,
komplikasi kehamilan, frekuensi antenatal dan interaksi antara BBLR dengan
tingkat pendidikan ibu.
Model akhir dari penelitian ini adalah model dengan interaksi, sehingga
dalam melihat besar hubungan antara BBLR dengan kejadian kematian neonatal
dini perlu dilakukan perhitungan. Hasil dari perhitungan OR interaksi diperoleh 2
(dua) buah OR. Untuk OR yang pertama diperoleh besar hubungan antara BBLR
pada ibu dengan tingkat pendidikan rendah dengan kejadian kematian neonatal
dini sebesar 23,028 (95% CI : 18,936-27,121) yang artinya pada bayi yang BBLR
dengan ibu yang berpendidikan rendah berisiko 23,028 lebih besar untuk terjadi
kematian neonatal dini dibandingkan dengan bayi yang tidak BBLR dengan ibu
yang berpendidikan tinggi.
Sedangkan OR yang kedua didapatkan bahwa besar hubungan antara
BBLR pada ibu dengan tingkat pendidikan tinggi dengan kejadian neonatal dini

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


87

sebesar 22,851 (95% CI : 18,759-26,944) yang artinya pada bayi yang BBLR
dengan ibu yang berpendidikan tinggi berisiko 22,851 lebih besar untuk terjadi
kejadian kematian neontal dini dibandingkan dengan bayi yang tidak BBLR
dengan ibu yang berpendidikan tinggi
Bila dibandingkan antara OR crude yaitu 8,424 (95% CI : 4,849 –
14,637) dan OR Adjusted baik untuk OR11 pertama sebesar 23,028 (95% CI :
18,936-27,121) maupun untuk OR kedua yaitu 22,851 (95% CI : 18,759-26,944)
terlihat ada perubahan OR10 yang cukup besar, yang artinya faktor perancu dan
interaksi cukup besar berkontribusi dalam hubungan BBLR dengan kejadian
kematian neonatal dini.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian dari Ronoatmodjo, 1996 bahwa
risiko kematian neonatal dengan BBLR adalah 6,5 kali lebih besar bila
dibandingkan dengan berat bayi lahir normal/cukup. Pengamatan epidemiologi
menunjukkan bahwa bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram sekitar 20
kali lebih mungkin meninggal daripada bayi dengan berat lahir lebih berat
(UNICEF dan WHO, 2004). Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa BBLR
berisiko 40 kali untuk terjadi kematian bayi neonatal 40 kali ibandingkan dengan
bayi dengan berat badan cukup (Institut of Medicine 1990). Penelitian dari Efriza
menunjukan bahwa BBLR berisiko 7,04 kali untuk mengalami kematian neonatal
dini dibandingkan dengan bayi yang tidak BBLR. Bayi yang lahir BBLR dengan
Berat Badan 2000-2499 gram berisiko 10 kali untuk terjadi kematian bayi
dibandingkan dengan BBLN 3000-3490 gram (Nutrion Policy Paper no.18 Sep
2000).

Pada penelitian ini tingkat pendidikan ibu berinteraksi secara positif


dengan BBLR, dengan kata lain variabel tingkat pendidikan ibu meningkatkan
efek dari BBLR untuk menyebabkan kejadian kematian neonatal dini. Risiko
BBLR terhadap kejadian kematian neonatal dini berbeda pada tiap-tiap kelompok.
Dalam efek interaksi, faktor risiko yang satu dapat memodifikasi atau berinteraksi
dengan variabel lainnya secara timbal balik (reciprocal..) Tingkat pendidikan ibu
secara tidak langsung menyebabkan kematian neonatal dini, dimana tingkat
pendidikan ibu secara tidak langsung akan mempengaruhi pengetahuan ibu
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


88

tentang kesehatan selama kehamilan misalnya pengetahuan tentang masalah


intake makanan selama kehamilan, tanda-tanda komplikasi selama kehamilan,
pentingnya pelayanan pemeriksaan. Faktor-faktor tersebut akan meningkatkan
terjadinya BBLR dan bila kondisi bayi yang BBLR tidak ditatalaksana dengan
standar maka akan meningkatkan kejadian kematian neonatal dini.
Tingkat pendidikan ibu memiliki hubungan yang terhadap terjadinya
BBLR, khususnya pada tingkat pendidikan ibu yang rendah, sehingga perlu
perhatian yang lebih besar terhadap ibu hamil yang memiliki pendidikan rendah
agar ketidaktahuan ibu terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan ibu
dan bayi tidak berakhir dengan terjadinya kematian neonatal dini pada bayi yang
dilahirkannnya. Oleh sebab itu karena kejadian kematian neonatal dini lebih
berisiko pada tingkat pendidikan ibu yang rendah maka penanganan faktor risiko
harus diawali dengan kegiatan deteksi dini pada kelompok ibu hamil dengan
tingkat pendidikan yang rendah. Sehingga pada kunjungan pertama (K1) dimana
pada K1 merupakan indikator akses pertama ibu terhadap pelayanan kesehatan
tersebut akan segera dapat dideteksi dan diberikan konseling atau pendidikan
kesehatan tentang kesehatan ibu selama kehamilan, termasuk tentang gizi ibu
hamil serta kesehatan anak sesegera mungkin.
Ibu yang berpendidikan rendah ( < SMP) memiliki risiko 2,135 (95% CI :
1,067-4,273) lebih besar untuk terjadinya kematian neonatal dini dibandingkan
ibu dengan pendidikan tinggi. Hasil ini sejalan dengan penelitian dari
(sulistyawati,2002) yaitu tingkat pendidikan rendah berisiko 2,22 kali untuk
terjadi kematian perinatal dibandingkan ibu dengan tingkat pendidikan tinggi.
Pada penelitian (Elsi,2000) juga menemukan bahwa ibu yang memiliki
pendidikan yang rendah ( < SMP) memiliki risiko 3,5 kali untuk bayinya
mengalami kematian neonatal dini (0-7 hari). Penelitian Luo juga menunjukan
bahwa hubungan antara rendahnya pendidikan ibu dengan peningkatan risiko
kelahiran prematur, kelahiran mati serta kematian neonatal dan postneonatal
(Luo,2006).
Latar belakang pendidikan ibu mempengaruhi ibu dalam sikapnya untuk
memilih pelayanan kesehatan dan pola konsumsi makanan (pengetahuan tentang
makanan yang bergizi) yang akan berhubungan dengan juga dengan peningkatan
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


89

berat badan ibu selama kehamilan sehingga pada gilirannya akan mempengaruhi
kondisi perinatal (WHO, 1993). Pemberian makanan tambahan pada kehamilan
trisemester ke-3 pada ibu yang memiliki status gizi marginal , berdampak
terhadap penurunan kejadian BBLR yang memberikan kontribusi pada kematian
perinatal (Kardjati,1995)
Rosemary (1997) dalam penelitian di Bogor menemukan informasi bahwa
ibu yang berpendidikan kurang dari enam tahun mempunyai risiko 1,61 kali lebih
besar untuk melahirkan BBLR dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan lebih
dari enam tahun. Studi longitudinal di Rumah Sakit Kastuba, India terhadap 256
wanita hamil didapatkan hasil bahwa semakin rendah pendidikan makin tinggi
kejadian BBLR.
Berdasarkan data Riskesdas 2011 ada 11,1% bayi baru lahir dengan
BBLR kurang dari 2500 gram (Riskesdas 2010). Data SKRT 2001 menunjukkan
bahwa BBLR merupakan salah satu faktor penting kematian neonatal.
Penyumbang utama kematian BBLR adalah prematuritas, infeksi, asfiksia lahir,
hipotermi dan pemberian ASI yang kurang adekuat. Beberapa penelitian telah
menunjukkan bahwa kematian karena hipotermi pada BBLR dan bayi prematur
jumlahnya cukup bermakna.
BBLR merupakan salah satu faktor penting kematian neonatal dini dan
juga sebagai determinan yang bermakna bagi kematian bayi dan balita.
Berdasarkan penelitian di RS Hasan Sadikin tahun 1991, BBLR kurang dari 1500
gram paling erat hubungannnya dengan kematian neonatal dini (63,82%). Pada
penelitian yang dilakukan di 3 RS Ujung pandang dengan BBLR 1000-1500 gram
paling banyak memberikan kotribusi pada kematian (54,84%).
BBLR sangat peka terhadap perubahan suhu lingkungan, kekurangan
oksigen, infeksi, komponen makanan yang sesuai serta trauma. Bulan pertama
pasca persalinan merupakan masa transisi bagi bayi baru lahir dengan waktu yang
paling kritis adalah minggu pertama setelah lahir. Sehingga pada waktu tersebut
diperlukan perhatian khusus dan asuhan yang intensif pada bayi baru lahir pada
periode tersebut.
Strategi pencegahan dan peningkatan perawatan bagi BBLR khususnya
di negara-negara berkembang sangat diperlukan, karena BBLR merupakan salah
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


90

satu penyebab utama terjadinya kematian perinatal dan neonatal (CARE, 1998).
Strategi tersebut adalah mengurangi kelahiran prematur dan bayi IUGR dengan
cara meningkatkan status gizi maternal dan deteksi dini serta perawatan infeksi
maternal melalui asuhan antenatal yang berkualitas (Ronoatmodjo, 1996). Pada
penelitiannya Ronoatmodjo menyatakan bahwa untuk menurunkan BBLR perlu
diupayakan melalui gizi kepada ibu hamil yang dilaksanakan di layanan antenatal
baik di Puskesmas, Puskesmas Pembantu atau Posyandu. Pelayanan antenatal
sekaligus juga akan memonitoring terhadap hal-hal yang dapat berpengaruh
terhadap BBLR seperti kenaikan berat ibu hamil, kondisi Hb dan penapisan ibu
hamil yang memiliki risiko yang dapat dijadikan perkiraan berat lahir bayi yang
hendak dilahirkan
Mencegah kematian pada BBLR pada saat persalinan yaitu
melaksanakan standar pelayanan yang bermutu dengan mengoperasionalkan
NICU (Neonatal Intensif Care Unit), perawatan neonatal esensial pada saat lahir
dan perawatan setelah lahir. Perawatan neonatal esensial pada saat lahir berupa
kewaspadaan umum, penilaian awal, pencegahan kehilangan panas, pemotongan
dan perawatan tali pusat, inisiasi menyusu dini, pencegahan pendarahan,
pencegahan infeksi mata, pemberian imunisasi, pemberian identitas, anamnesis
dan pemeriksaa fisik. Sedangkan perawatan setelah lahir berupa menjaga bayi
tetap hangat dengan metode kangguru yaitu metode transfer kehangatan dari kulit
ibu ke kulit bayi yang telah banyak dikembangkan seperti metode kangguru yaitu
bayi diletakkan pada badan ibu (diantara kedua payudara ibu) dan kemudian
diberi kain atau selimut atau baju ibu untuk menjaga kehangatan tubuh bayi
dengan menggunakan suhu tubuh ibu dan pemeriksaan dengan menggunakan
Manajemen Terpadu Bayi Muda/MTBM
Strategi yang digunakan oleh Kementrian Kesehatan dalam rangka
percepatan penurunan kematian neonatal, bayi dan balita terbagi menjadi 5 yaitu
peningkatan akses dan kualitas pelayanan, Pemberdayaan masyarakat, Penguatan
manajemen, Peningkatan pembiayaan kesehatan dan kemitraan.
Ibu dengan status ekonomi rendah memiliki risiko 0,556 (0,294-1,052)
lebih besar untuk mengalami kematian neonatal dini pada bayinya dibandingkan
dengan ibu dengan status ekonomi tinggi. Demikian pula ibu dengan status
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


91

ekonomi sedang memiliki risiko 1,245 (95% CI : 0,639 – 2,425) lebih besar untuk
mengalami kematian neonatal dini pada bayi dibandingkan dengan ibu dengan
status ekonomi tinggi, namun secara statistik hubungan ini tidak bermakna karena
melewati angka satu.
Tingkat ekonomi mempunyai hubungan yang signifikan dengan kematian
bayi pada bulan pertama. Tingkat ekonomi yang rendah meningkatkan probalitas
kematian neonatal sebesar 4,2% (Meyer, 2006).
Ekonomi yang rendah merupakan salah satu faktor yang sering
berhubungan dengan kelainan bayi dengan berat lahir rendah (premature) yang
akan berpengaruh terhadap kesakitan dan kematian neonataus yang tinggi dan
juga pada masa bayi
Status ekonomi tidak secara langsung menyebabkan kematian neonatal
dini. Bakketeig (1984) menyebutkan bahwa status ekonomi yang rendah
ditambah dengan keadaan fisik yang buruk, tingkat pendidikan yang rendah dan
pekerjaan ibu yang berat akan meningkatkan risiko kematian perinatal.
Dari berbagai penelitian dilaporkan bahwa ibu-ibu dari keluarga dengan
sosial ekonomi rendah melahirkan BLLR lebih tinggi dibandingkan dengan ibu-
ibu dengan sosial ekonomi yang lebih tinggi (Institut of Medicine, 1990 dalam
kartika, 2001). Studi kasus kontrol di Shaheed Shohrawardy Medical Collage
Rumah Sakit, Dhaka, Banglades terhadap 135 BBLR didapatkan hasil 79,2% ibu
berasal dari status ekonomi ke bawah.
Bayi yang dilahirkan dari ibu yang memiliki komplikasi selama kehamilan
mempunyai risiko 6,657 (95% CI : 2,929-15,131) lebih besar untuk mengalami
kematian neonatal dini dibandingkan dengan ibu yang tidak memiliki komplikasi
selama kehamilan dan secara statistik bermakna karena tidak melewati angka satu.
Pada penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya telah
menggambarkan hal tersebut (Alisjahbana, 1983; Hastono, 1993; Syafrida 1996;
Setyowati,2002). Penelitian dari (Ronoatmodjo, 1996) juga menyatakan bahwa
bayi-bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengalami komplikasi pada saat
kehamilan dan saat persalinan berisiko 3,72 kali untuk mengalami kematian
neontal dibandingkan dengan ibu yang tidak mengalami komplikasi. Penelitian
(Efriza, 2006) menyatakan bahwa bayi yang dilahirkan dari ibu yang memiliki
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


92

komplikasi kehamilan berisiko 4,30 (95% CI : 2,48-7,46) lebih besar untuk


mengalami kejadian kematian neonatal dini dibandingkan dengan bayi yang
dilahirkan dari ibu yang tidak memiliki komplikasi kehamilan.
Bakketeig (1984) dan Thiery M (1986) mengemukakan bahwa penyakit
selama kehamilan mempengaruhi kematian perinatal di Swedia 1977-1978
terutama adalah diabetes militus, penyakit ginjal, kelainan darah, infeksi saluran
kemih dan hipertensi.
Komplikasi kehamilan sebenarnya dapat dideteksi atau dicegah sejak dini,
walaupun ada 15%-20% kehamilan normal dapat menjadi komplikasi pada saat
persalinan, sehinga pemeriksaan kehamilan yang teratur dan berkualitas
hendaknya dilakukan baik pada kehamilan yang tidak ada komplikasi maupun
kehamilan normal.
Kunjungan antenatal adalah kunjungan ibu hamil ke tenaga kesehatan
sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan
pelayanan/asuhan antenatal (Saifuddin, 2002). Suatu tinjauan pada intervensi
untuk kelangsungan hidup neonatal menunjukkan bahwa sampai dengan 12% dari
kematian bayi dapat dicegah dengan pemberian pelayanan perawatan antenatal
dengan cakupan 90% (Titaley, Dibley dan Roberts, 2010).
Frekuensi pemeriksaan kehamilannya kurang dari 4 kali sebesar 1,471
(95% CI : 0,846 – 2,558) kali yang artinya ibu yang pemeriksaan selama
kehamilan kurang dari 4 kali berisiko 1,471 lebih besar untuk mengalami
kejadian kematian neonatal dini pada bayinya dibandingkan dengan ibu yang
melakukan pemeriksaan selama kehamilan 4 kali atau lebih.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ronoatmodjo,
1996 menyatakan bahwa ibu yang memanfaatkan pelayanan antenatal buruk
memiliki risiko 1,960 kali untuk mengalami kematian neonatal dibandingkan
dengan ibu yang memanfaatkan pelayanan antenatal baik. Hastono (1993),
menyatakan bahwa ibu yang memperoleh layanan natenatal buruk berisiko 5 kali
untuk mengalami kematian perinatal dibandingkan dengan ibu yang memperoleh
layanan antenatal care yang baik. Demikian juga dengan penelitian yang
dilakukan Syafrida (1997) menyatakan bahwa ibu yang memperoleh pelayanan
antenatal yang tidak adekuat mempunyai risiko 3,54 kaliuntuk mengalami
Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


93

kematian perinatal dibandingkan dengan ibu yang memperoleh pelayanan


antenatal yang adekuat.. Penelitian Setyowati, 2002 menyatakan bahwa praktik
kesehatan ibu hamil yang tidak adekuat berisiko 3,44 kali utuk terjadi kematian
perinatal dibandingkan dengan praktik kesehatan ibu yang adekuat.
Bila dilihat berdasarkan proporsi frekuensi pemeriksaan selama kehamilan
disarana pelayanan kesehatan maka ada 52,78% ibu hamil pada kelompok kasus
yang tidak melakukan pemeriksaan minimal 4 kali selama kehamilan
dibandingkan dengan kelompok kontrol (34,38%). Cakupan ini masih dibawah
standar yang diharapkan yaitu cakupan K4 adalah > 90%. Dimana cakupan
kunjungan 4 kali selama kehamilan atau K4 merupakan indikator untuk melihat
tingkat perlindungan ibu hamil.

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


BAB 7
KESIMPULAN
7.1 Kesimpulan
1. Besar Hubungan antara BBLR dengan kejadian kematian neonatal dini di
Indonesia tahun 2010 adalah 8,424 (95% CI 4,849 -14,637)
2. Besar Hubungan BBLR dengan kejadian Kematian Neonatal Dini
dikontrol oleh variabel lain (tingkat pendidikan ibu, status ekonomi ibu,
frekuensi ANC dan komplikasi kehamilan) serta dikontrol pula oleh
BBLR yang berinteraksi dengan tingkat pendidikan ibu adalah 22,840
(95% CI : 8,671 – 60,162)
3. Estimasi besarnya hubungan antara BBLR dengan kejadian kematian
neonatal dini di Indonesia tahun 2010 setelah dikontrol dengan variabel
tingkat pendidikan, status ekonomi ibu, frekuensi ANC dan komplikasi
kehamilan dan adanya interaksi antara variabel BBLR dengan tingkat
pendidikan sebesar :
a. Untuk OR11 diperoleh OR sebesar 23,028 (95% CI : 18,936-
27,121) yang artinya Kejadian kematian neonatal dini pada bayi
yang BBLR dengan ibu yang berpendidikan rendah adalah 23,028
kali (95% CI : 18,936-27,121) dibandingkan dengan bayi yang
tidak BBLR dengan ibu yang berpendidikan tinggi

b. Untuk OR10 diperoleh OR sebesar 22,851 (95% CI : 18,759 –


26,944) yang artinya Kejadian kematian neonatal dini pada bayi
yang BBLR dengan ibu yang berpendidikan tinggi adalah 22,851
(95% CI : 18,759 – 26,944) dibandingkan dengan bayi yang tidak
BBLR dengan ibu yang berpendidikan tinggi

95 Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


96

7.2 Saran
Pada penelitian ini selain BBLR ada beberapa variabel ikut berperan
dalam kejadian kematian neonatal dini yaitu tingkat pendidikan ibu, frekuensi
ANC, status ekonomi dan komplikasi kehamilan dan interaksi antara variabel
BBLR dan tingkat pendidikan ibu. Berdasarkan hal tersebut maka saran yang
disampaikan adalah sebagai berikut :
1. Pada bayi yang BBLR dengan ibu berpendidikan rendah lebih difokuskan
untuk ditingkatkan pengetahuannya melalui kegiatan kelas ibu,
penyuluhan kesehatan pada saat di posyandu atau kegiatan pendidikan
kesehatan saat dilakukan konseling pada pelayanan antenatal atau
pelayanan neonatal esensial.
2. Frekuensi pelayanan antenatal yang sesuai standar yaitu 1 kali pada
trisemester pertama, 1 kali pada trisemester kedua dan 2 kali pada
trisemester pertama akan mengurangi kejadian BBLR
3. Memberikan jaminan kesehatan (jamkesmas) pada ibu dengan status
ekonomi yang rendah karena akan berpeluang untuk melahirkan BBLR
dan berisiko untuk mengalami kematian neonatal dini
4. Bagi Ibu yang memiliki komplikasi kehamilan wajib untuk melakukan
pemeriksaan antenatal sesuai standar dan wajib melakukan persalinan
pada sarana pelayanan kesehatan yang adekuat seperti pada puskesmas
dengan pelayanan PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi
Dasar) dan RS dengan pelayanan PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal
Emergensi Komprehensif)
5. Kerjasama dengan lintas sektor seperti dinas pendidikan dalam hal
pentingnya kesehatan reproduksi dalam kurikulum pendidikan sekolah,
Dinas Koperasi dan perdagangan dalam hal pemberdayaan ekonomi
keluarga

Universitas Indonesia

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


94

DAFTAR REFERENSI

Alisyahbana,A, 1985, Kematian Perinatal dan Faktor-Faktor yang berhubungan


dengan masalah ini, dalam Sri Kardjati dkk. Aspek kesehatan dan gizi anak
balita. Yayasan obor Indonesia

Ariawan, Iwan, 1998, Besar dan Metode sampel pada penelitian kesehatan,
Jurusan Biostatistik da Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia, Depok.

Ariawan, Iwan, Analisis Data Kategori, Jurusan Biostatistik da Kependudukan


Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Depok.

Bakkteig Leiv, 1987, Perinatal mortality in southhern : a population based study


of 7392 birth. Buletin of world Health Organization 65 (1) : 95-104 (1987)

Bakkteig LS & Foffman HJ & Oakley RT, 1984, Perinatal mortality dalam :
Bracken MB (eds). Perinatal epidemiologi. New York. Oxford University
Press : 99-151

Biro Pusat Statistik, 2002-2003, Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)


2007, Biro Pusat Statistik, Jakarta, 2007

Depkes RI, 2001, Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan
Indikator Propinsi Sehat dan Kabupaten/ Kota Sehat, Kabupaten Menkes
Nomor : 1202/Menkes/9K/VIII/2003, Depkes RI, Jakarta

Depkes RI, 2009, Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan
Anak (PWS-KIA), Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat, Direktorat
Bina Kesehatan Ibu, Depkes Ri, Jakarta,

Depkes RI, 2001, Rencana Strategis Making Pregnancy Safer (MPS) di


Indonesia 2001-2010, Jakarta, Depkes RI dan WHO, 2001

Depkes RI dan FKM UI, Materi ajar upaya penurunan kematian ibu dan bayi
baru lahir, Jakarta, Depkes RI, 2006

Depkes RI, 2007, Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Jakarta, 2007

Depkes, RI 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008. Jakarta

Depkes RI, Djaya Sarimawar, 2004, Survei kematian neonatal ( Studi Autopsi
Verbal) di Kabupaten Cirebon, 2004, Buletin Penelitian Kesehatan, Vol. 33,
No.I, 2005 : 41-52

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


95

Dahlan, M.S, 2009. Langkah-langkah Membuat Proposal Bidang Kedokteran dan


kesehatan. Sagung Seto. Jakarta

Elsi, Elsa dkk, 2000, Kematian perinatal bayi yang lahir atau rawat inap di tiga
RS di DKI Jakarta, Depkes RI, Badan Litbangkes, Jakarta

Efriza, 2005, Penelitian kasus kontrol, Determinan kematian neonatal dini di


RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2001-2005, Tesis Ilmu
Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia, Depok

Hastomo, SP, 1993, Hubungan antara pelayanan antenatal dengan kematian


perinatal di Kecamatan Gabus Wetan dan Sliyeg Kabupaten Indramayu,
Jawa Barat. Tesis Ilmu Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia, Depok

Hastomo, SP, 2007, Analisis Data Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat


Universitas Indonesia, Depok

JNPKKR-POGI-JHPIEGO.MNH Depkes (2002), Buku Panduan Praktis


Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal Pedoman Pemantauan
Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA), Direktorat Jendral
Bina Kesehatan Masyarakat, Direktorat Bina Kesehatan Ibu, Depkes RI,
Jakarta

Kardjati, S, dkk, 1985, Maternal Nutrition Profile and Birthweight in Rural


Village in Sampang (Indonesia), Tesis Doktor, Universitas Indonesia xxiii +
221

Kleinbaum, D.G, Klein.M, 2010 Logistic Regression, A Self Learning Text, Third
Edition, Statistic for Biology and Health, DOI 10.1007/978-1-4419-1742-
3_1,. Springer Science Media, LLC 2010

Kleinbaum, D.G, Kupper, L.L, Morgenstern, H, 1982, Epidemiology Research:


Principles and Quantitative Methods. New York: Van Nortrand Reinhold

Kustijadi, A, 2002, Hubungan pelayanan antenatal dengan kejadian kematian


perinatal di Kabupaten Bandung tahun 2001, Tesis bidang ilmu kesehatan
masyarakat. Program pascasarjana Universitas Indonesia, Depok

Kemenkes RI, 2007, Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Jakarta, 2010

Lameshow, et.al, 1997, Besar Sampel dalam penelitian Kesehatan, Gajah Mada
University Press, Yogyakarta

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


96

David.W. Hosmer, Stanley Lameshow, 1997, Applied Logistic Regression,


sekond edition, A Wiley-Interscience Publication, John Wiley & Sons, Inc,
New York, 2000

Monintja, H.E, 1998, Perinatalogi dan hubungannnya dengan kualitas manusia.


Pidato pengukuhan guru besar tetap ilmu kesehatan anak Universitas
Indonesia. Dalam : Indonesian journal of Obstettics and Gynecology, 15(2) :
90-105 (1990)

Murti, B, 1997, Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi, Gajah Mada University
Press, Yogyakarta

Mutahar, R, 2007, Pengaruh berat badan lahir terhadap survival neonatal dini di
Indonesia tahun 1997-2002, Tesis bidang ilmu kesehatan masyarakat.
Program pascasarjana Universitas Indonesia, Depok

Prameswari, M.F, 2006, Kematian Perinatal di Indonesia dan Faktor-Faktor yang


berhubungan tahun 1997-2003, Tesis bidang ilmu kesehatan masyarakat.
Program pascasarjana Universitas Indonesia, Depok

Ronoatmodjo, S, 1996, Faktor risiko kematian neonatal di Kecamatan Kruak,


Nusa Tenggara Barat. Disertasi bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat, Program
Pascasarjana Universitas Indonesia, Depok

Ridwan, S, 1990, Hubungan antara pelayanan kesehatan ibu hamil dan kematian
perinatal di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Tesis bidang ilmu kesehatan
masyarakat. Program pascasarjana Universitas Indonesia, Depok

Rothman. KJ,Greenland.S, Lash.TL, 2008, Modern Epidemiology (third Edition),


Liippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, PA 19106 USA Modern
epidemiologi

Syafrida, E, 1997, Hubungan pelayanan antenatal dengan kematian perinatal di


Dati II Bogor. Tesis bidang ilmu kesehatan masyarakat. Program
pascasarjana Universitas Indonesia, Depok

Sulistiyowati, ning, 2002, Hubungan faktor praktik kesehatan ibu selama


kehamilan dengan kematian perinatal di Kota Bekasi tahun 2001, Tesis
bidang ilmu kesehatan masyarakat. Program pascasarjana Universitas
Indonesia, Depok

Wibowo, A, 1992, Pemanfaatan pelayanan antenatal : Faktor-faktor yang


berhubungan dengan bayi berat lahir rendah. Disertasi bidang ilmu
kesehatan masyarakat. Program pascasarjana Universitas Indonesia, Depok

Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011


Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011
Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011
Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011
Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011
Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011
Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011
Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011
Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011
Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011
Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011
Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011
Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011
Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011
Hubungan berat ..., Noviani, FKM UI, 2011