Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

LEMBAGA KEUANGAN SYARI’AH


“LEMBAGA KEUANGAN SYARI’AH BANK”

Disusun oleh :

Dimas Putratama 43217210045

Kevin Nauval Bachtiar 43219210027

Lila Wulandari 43219210036

Serlindawati 43219210034

FAKULTAS EKONOMI & BISNIS

JURUSAN AKUNTANSI

UNIVERSITAS MERCU BUANA JATISAMPURNA

2019/2020
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah
ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di
akhirat nanti.

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat


sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis
mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah
Lembaga Keuangan Syari’ah dengan judul “Lembaga Keuangan Syari’ah
Bank”.

Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu,
penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya
makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Kemudian
apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang
sebesar-besarnya.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya


kepada Dosen kami yang telah membimbing dalam menulis makalah ini.

Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................1

DAFTAR ISI ...........................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ..............................................................................................3


B. Rumusan Masalah .........................................................................................3
C. Tujuan ...........................................................................................................4
D. Metode Pengumpulan Data ..........................................................................4

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Landasan Hukum Keuangan Syari’ah .................................5


B. Fungsi Bank Syari’ah ...................................................................................6
C. Jenis dan Usaha Bank Syari’ah ....................................................................6
D. Sistem Prosedur dan Operasional Bank Umum Syari’ah .............................7
E. Perkembangan Perbankan Syari’ah di Indonesia .........................................12

BAB III PENUTUP ................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................15

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dinamika kesadaran umat Islam untuk mengamalkan ajaran dan menerapkan


sistem Islam secara menyeluruh (kaffah) tampaknya sudah mulai menunjukkan adanya
peningkatan, khususnya dalam bidang ekonomi. Ekonomi dan keuangan Islam sudah
mulai memperlihatkan sosoknya sebagai suatu alternatif baru yang diambil dari ajaran
Islam.

Pada dasawarsa 1970 dan 1980-an di Timur Tengah serta negara-negara muslim
lainnya telah dimulai kajian-kajian ilmiah tentang ekonomi dan keuangan Islam yang
berbuah terbentuknya sebuah lembaga keuangan Islam internasional yakni Islamic
Development Bank (IDB) – sejenis bank pembangunan seperti Bank Dunia dan Bank
Pembangunan Asia - pada tahun 1975 yang berkedudukan di Jeddah, yang kemudian
diikuti oleh pendirian bank-bank Islam lainnya di Timur Tengah.

Di Indonesia sendiri, Bank syariah yang pertama baru didirikan sekitar tahun
1991 dan baru beroperasi pada pertengahan tahun 1992 yang tidak lepas dari dukungan
rezim yang berkuasa saat itu.

B. Rumusan Masalah
a) Apakah pengertian dari keuangan syari’ah dan apa landasan hukumnya?
b) Apa sajakah fungsi bank syari’ah?
c) Apa sajakah jenis dan usaha bank syari’ah?
d) Bagaimana sistem prosedur dan operasional Bank Umum Syari’ah?
e) Bagaimana perkembangan perbankan syari’ah di Indonesia?

3
C. Tujuan
a) Memahami dan mengetahui apa itu perbankan Syari’ah
b) Menjelaskan dan memahami bahwasanya perbankan syariah

D. Metode Pengumpulan Data


Dalam penyusunan makalah ini, perlu sekali pengumpulan data serta sejumlah
informasi aktual yang sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas. Sehubungan
dengan masalah tersebut dalam penyusunan makalah ini, penulis tidak hanya
mengandalkan pengetahuan sendiri namun mengambil rujukan dari beberapa literatur
sebagaimana tertuang dalam Daftar Pustaka

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Landasan Keuangan Syari’ah


Bank syari’ah dapat diartikan sebagai proses akuntansi atas transaksi-transaksi
yang sesuai dengan aturan yang telah di tetapkan Allah SWT, sehingga ketika
mempelajari akuntansi syari’ah dibutuhkan pemahaman yang baik, mengenai akuntansi
sekaligus juga tentang syariat islam.

Istilah untuk bank islam itu sendiri yakni :

1. Bank tanpa bunga (interest free bank)


2. Bank tanpa riba (lariba bank)
3. Bank syariah

Landasan hukum Bank Syariah berawal dari UU no.7 tahun 1992 tentang perbankan
yang hanya mengatur tentang perbankan secara konvensional, kemudian Bank Syariah sendiri
dalam sistem operasinya UU tersebut dijadikan landasan hukumnya ditambah peraturan
pemerintah no.72 tahun 1992 tentang Bank berdasarkan bagi hasil. Yang terakhir, Undang-
undang no. 7 telah dilakukan perubahan dan menghasilkan Undang-undang no.10 tahun 1998
sebagai landasan hukum bank syariah.

Jadi dengan adanya UU no.10 tahun 1998 tersebut, bank umum dibolehkan menjalankan :

1. Sistem konvensional
2. Sistem syariah
3. Sistem konvensiaonal dan cabang syariah

5
B. Fungsi Bank Syari’ah
1. Bank syariah dan UUS (Unit Usaha Syariah) wajib menjalankan fungsi menghimpun dan
menyalurkan dana masyarakat
2. Bank syariah dan UUS (Unit Usaha Syariah) dapat menjalankan fungsi sosial dalam
bentuk lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infaq, sedekah,
hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada organisasi pengelola zakat.
3. Bank syariah dan UUS (Unit Usaha Syariah) dapat menghimpun dana sosial yang berasal
dari wakaf uang dan menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai dengan
kehendak pemberi wakaf (wakif)
4. Pelaksanaan fungsi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) sesuai
dengan ketentuan peraturan

C. Jenis dan Usaha Bank Syari’ah


Menurut prinsip kerjanya, bank syariah dibagi menjadi dua yaitu bank umum
syariah (BUS), Unit usaha syariah (UUS) dan Bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS).

1. Bank Umum Syariah


Bank umum syariah yaitu bank syariah yang dalam aktivitas usahanya
menyediakan jasa lalu lintas pembayaran. Seperti PT. Bank Muamalat Indonesia, PT.
Bank Bri Syariah, PT. Bank Syariah Mandiri, PT. Bank Bni Syariah, dll.

2. Unit Usaha Syariah


Unit Usaha Syariah ialah unit kerja dari kantor pusat bank umum konvensional
yang memounyai fungsi untuk kantor induk, dan unit kantor cabang yang melakukan
aktivitas usaha menurut prinsip syariah. Seperti PT. Bank Tabungan Negara (BTN), PT.
Bank Danamon Indonesia, PT. Bank CIMB Niaga, dll.

3. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah


Bank pembiayaan rakyat ialah bank yang dalam aktifitasnya tidak menghimpun
dana masyarakat berbentuk giro, sehingga tidak bias menerbitkan cek dan bilyet giro.
Seperti PT. BPRS Amanah Rabbaniah, PT. BPRS Buana Mitra Perwira, dll.

Sampai saat ini ada sekitar 11 Bank Umum Syariah, 23 Unit Usaha Syariah, dan juga 163
Bank Pembiayaan Rakyat.

6
D. Sistem Prosedur dan Operasional Bank Umum Syari’ah
Pada umumnya kegiatan operasional yang dilakukan oleh perbankan islam dapat
dibagi menjadi tiga bagian besar. Tiga bagian itu berkaitan dengan produk yang ada dalam
dunia perbankan islam, kegiatan bank umum syariah secara garis besar dapat dibagi menjadi
tiga fungsi utama; yaitu menghimpun dana, penyalur dana kepada pihak yang membutuhkan,
dan pelayanan jasa bank.

1. Produk Penghimpun Dana (funding)


Bank umum syariah menghimpun dana dari masyarakat dengan cara menawarkan
berbagai jenis produk pendanaan antara giro wadiah, tabungan wadiah, tabungan
mudharabah, deposit mudharabah, dan produk pendanaan lainnya yang diperbolehkan sesuai
dengan syariah islam.
a. Wadiah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik individu
ataupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip
menghendaki. Selain itu wadiah dapat juga diartikan akad seseorang kepada pihak lain
dengan menitipkan suatu barang untuk dijaga secara layak. Akad wadiah dipergunakan
untuk simpanan dalam bentuk giro dan tabungan. Dalam islam dapat dibedakan menjadi
dua macam yaitu ;

a) Wadiah Yad Amanah


Yaitu barang titipan sama sekali tidak boleh digunakan oleh pihak yang
menerima titipan, sehingga dengan demikian pihak yang menerima titipan tidak
bertanggung jawab terhadap resiko yang menimpa barang yang dititipkan. Penerima
titipan hanya punya kewajiban mengembalikan barang yang dititipkan pada saat
diminta oleh pihak yang menitipkan secara apa adanya.

b) Wadiah Yad Doomanah


Yaitu titipan terhadap barang yang dapat dipergunakan untuk dimanfaatkan oleh
penerima titipan. Sehingga pihak penerima titipan bertanggung jawab terhadap resiko
yang menimpa barang sebagai akibat dari penggunaan atas suatu barang, seperti
resiko kerusakan dan sebagainya. Tentu saja penerima titipan wajib mengembalikan
barang yang dititipkan pada saat diminta oleh pihak yang menitipkan.

b. Mudharabah

Akad mudharabah dibedakan menjadi dua, yaitu ;


a) Mudharabah Mutlaqah merupakan akad perjanjian anatara dua pihak yaitu sohibul
maal dan mudharib, yang mana sohibul maal menyerahkan sepenuhnya atas dana
yang di investasian kepada mudharib untuk menglola usahanya sesuai dengn prinsip
syariah.

7
b) Mudharabah muqayyadah merupakan akad kerjasama anatara dua piahak yang mana
pihak pertama sebagai pemilik dana (sohibul maal) dan pihak kedua sebagai
pengelola dana (mudharib). Sohibul maal menginvestasikan dananya kepada
mudharib, dan memberi batasan atas penggunaan dana yang di investasikannya.

2. Produk penyalur dana (Financing)


Bank umum syariah dapat menyalurkan dananya dalam bentuk pembiayaan serta
dalam bentuk penempatan dana lainnya. Dengan aktivitas penyaluran dana ini bank
syariah akan memperoleh pendapatan dalam bentuk margin keuntungan apabila
menggunakan akad kerjasama usaha, dan sewa apabila menggunakan akad sewa-
menyewa.

a. Pembiayaan dengan sistem bagi hasil


a) Mudharabah
b) Musyarakah yaitu merupakan perkongsian antara dua orang atau lebih dengan
memnbagi keuntungan dan kerugian berdasarkan perjanjian yang telah disepakati
oleh para pihak.

b. Pembiayaan dengan sistem jual beli


Implementasi akad jual beli merupakan salah satu cara yang ditempuh bank
syariah dalam rangka menyalurkan dana kepada masyarakat

a) Murabahah yaitu akad jual beli barang sebesar harga pokok barang ditambah
dengan margin keuntungan yang disepakati. Berdasarkan akad jual beli tersebut
bank membeli barang yang dipesan oleh dan menjualnya kepada nasabah. Harga
jual bank adalah harga beli dari supplier ditambah dengan keuntungan yang
disepakati. Bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada
nasabah berikut biaya yang diperlukan. Pembayaran murabahah dapat dilakukan
secara tunai atau cicilan.
b) Salam yaitu suatu jasa pembiayaan yang berkaitan dengan jual beli barang.
Namun, berbeda dengan murabahah yang pembayaran harga barang dilakukan
kemudian setelah barang diserahkan kepada pembeli, jual beli dilakukan bukan
berdasarkan fee, melainkan berdasarkan keuntungan (margin).
c) Istishna adalah pembiayaan berupa talangan dana yang dibutuhkan nasabah untuk
membeli suatu barang atau jasa dengan pembayaran dimuka, dicicil, atau tangguh
bayar.

8
c. Pembiayaan dengan prinsip sewa menyewa (ijarah dan ijarah muntahiya bittamlik)
Transaksi lain yang dilakukan oleh bank syariah adalah sewa menyewa, dalam
bahasa arab diistilahkan dengan Al-Ijarah, berasal dari kata Al Ajru yang berarti (upah),
atau al iwadhu yang berarti ganti, dalam pengertian syariat Al Ijarah adalah suatu jenis
akad untuk mengambil manfaat dengan jalan penggantian. Transaksi ijarah dilandasi
adanya perpindahan manfaat (hak guna) bukan perpindahan kepemilikan(hak milik). Jadi,
pada dasarnya prinsip ijarah sama saja dengan prinsip jual beli, tapi perbedaannya
terletak pada objek transaksinya. Bila jual beli objeknya barang, sedangkan pada ijarah
objeknya manfaat barang atau jasa. Pada perbankan syariah prinsip ijarah ini dibagi
menjadi 2 yaitu:

a) Ijarah atau sewa menyewa murni


b) Ijarah wa iqtina (ijarah muntahiyah bittamlik) yaitu sewa yang di akhiri
dengan kepemilikan objek sewa.
c) Pembiayaan atas dasar Qardh (pinjam meminjam)

Akad yang menitik beratkan pada prinsip tolong menolong tidak mengutamakan
mencari untung, ada pula akad yang bertujuan untuk mencari untung. Akad yang pertama
dikenal dengan akad tabarru, sedangkan akad yang kedua dikenal dengan akad tijarah.
Salah satu akad tabarru adalah akad pinjam meminjam. Pinjam meminjam adalah
memberikan sesuatu yang halal kepada orang lain untuk diambil manfaatnya dengan
tidak merusak zatnya, dan akan mengembalikan barang yang di pinjam dalam keadaan
utuh.

Al-Qardh di bedakan menjadi dua macam yaitu:

a) Qardh Al Hasan, yaitu meminjamkan sesuatu kepada orang lain, dimana pihak
yang dipinjami sebenarnya tidak ada kewajiban mengembalikan. Adanya
Qardh Al Hasan sejalan dengan ketentuan Al-Qur’an surat at-taubah ayat 60
yang memuat tentang sasaran atau orang-orang yang berhak atas zakat, yang
salah satunya adalah Gharim, yaitu pihak yang mempunyai utang di jalan
Allah.
b) Al-Qardh, yaitu meminjamkan sesuatu kepada orang lain dengan kewajiban
mengembalikan pokoknya kepada pihak yang meminjami.

9
3. Pelaksanaan Prinsip Syariah Dalam Kegiatan Pelayanan Jasa (Service)

Bank umum syariah juga menawarkan pelayanan jasa untuk membantu transaksi yang
dibutuhkan oleh pengguna jasa bank syariah. Hasil yang diperoleh bank atas pelayanan jasa
bank syariah yaitu berupa pendapatan fee dan komisi.

a. Hiwalah (Hawalah)
Adapun produk perbankan syariah di bidang jasa di dasarkan pada akad –akad yang
sudah dikenal dalam islam.antara lain hiwalah, wakalah, dan sharf. Kata hiwalah diambil dari
kata tahwil yang berarti intiqol (perpidahan). Yang dimaksud di sini memindahkan utang dari
tanggungan muhalalaih. Muhil adalah sebagai orang yang berhutang: muhal adalah sebagai
orang yang menghutangkan, dan muhalalaih adalah orang yang melakukan pembayaran
utang. Secara legal, hawalah adalah perjanjian dimana debitur dibebaskan dari utang dengan
cara membuat orang lain yang menanggungnya, atau dengan memindahkan tanggung jawab
dari seseorang kepada orang yang lain yang mengakibatkan debitur digantikan dengan
debitur lain.

Rukun hiwalah adalah muhil yakni orang yang berutang dan sekaligus berpiutang, muhal
yakni orang yang berpiutang kepada muhil, muhal alaih yakni orang yang berhutang kepada
kepada muhil dan wajib membayar utang kepada muhtal, muhal bih yakni utang muhil
kepada muhtal dan sighat.

b. Kafalah
Kafalah adalah kesanggupan untuk memenuhi hak yang telah menjadi kewajiban orang
lain, kesanggupan untuk mendatangkan barang yang di tanggung atau menghadirkan orang
yang mempunyai kewajiban terhadap orang lain.

Ada tiga macam kafalah:

1. Kkafalah bil maal, yaitu jaminan pembayaran hutang atau pelunasan hutang.
Aplikasinya dalam perbankan dapat berbentuk uang muka, atau jaminan
pembayaran.
2. Kafalah bi nafs yaitu jaminan dari diri si peminjam
3. Kafalah muallaqoh yaitu jaminan mutlak yang di batasi oleh kurun waktu tertentu
dan untuk tujuan tertentu. Dalam perbankan modern hal ini diterapkan untuk
jaminan pelaksanaan suatu proyek.

10
c. Rahn
Secara terminologi rahn berarti penahanan terhadap suatu barang dengan hak sehingga
dapat dijadikan sebagai pembayaran dari barang tersebut. Rahn menurut syariah adalah
menahan sesuatu dengan cara dibenarkan yang memungkinkan ditarik kembali, yaitu
menjadikan barang yang mempunyai nilai harta menurut pandangan syariah sebagi jaminan
utang sehingga orang yang bersangkutan boleh mengambil utangnya semua atau sebagian.
Kafalah dan rahn keduanya adalah perjanjian jaminan yang bersifat tambahan dari perjanjian
utang piutang.

d. Wakalah
Wakalah adalah pemberian kuasa, Al wakalah atau al wikalah bermakna at
tafwidh/penyerahan/pendelegasian/pemberian mandat. Islam mensyariatkan wakalah karena
manusia membutuhkannya. Tidak semua manusia berkemampuan untuk menekuni segala
urusannya secara pribadi. Ia membutuhkan kepada pendelegasian mandat orang lain untuk
melakukannya sebagai wakil dirinya.

11
E. PERKEMBANGAN PERKEMBANGAN PERBANKAN SYARIAH DI
INDONESIA

Indonesia adalah Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Mayoritas penduduk
yang beragama Islam menjadikan Indonesia sebagai pasar yang potensial dalam pengembangan
keuangan syariah. Salah satu yang saat ini sudah mulai berkembang dengan pesat yaitu adalah
dengan adanya bank-bank yang kegiatan operasionalnya menggunakan prinsip syariah. Institusi
perbankan syariah ini mulai merata dan menampakkan jati dirinya ditengah-tengah banyaknya
bank-bank konvensional yang ada. Perbankan syariah di Indonesia diproyeksikan akan
meningkat pesat seiring dengan meningkatnya laju ekspansi kelembagaan dan akselerasi
pertumbuhan aset perbankan syariah yang sangat tinggi dan ditambah lagi dengan volume
penerbitan sukuk yang terus meningkat berdasarkan data yang diperoleh dari Islamic Finance
Country Index (IFCI).

Di Indonesia memiliki keunggulan struktur pengembangan keuangan syariah adalah


regulasinya dimana kewenangan mengeluarkan fatwa keuangan syariah terpusat pada satu
lembaga independen yaitu Dewan Syariah Nasional dari Majelis Ulama Indonesia (MUI)
berbeda dengan di negara lain fatwa dapat dikeluarkan oleh perorangan ulama sehingga
kemungkinan terjadinya perbedaan regulasi satu sama lain lebih besar. Dewan Syariah Nasional-
Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) dibentuk dalam rangka mewujudkan aspirasi umat Islam
mengenai masalah perekonomian dan mendorong penerapan ajaran Islam dalam bidang
perekonomian/keuangan yang dilaksanakan sesuai dengan tuntunan syariat Islam.

Pembentukan DSN-MUI ini sendiri adalah langkah efisiensi dan koordinasi para ulama
dalam menanggapi isu-isu yang berhubungan dengan masalah ekonomi/keuangan. Selain Dewan
Syariah Naional-MUI lembaga independen lain yang turut andil dalam kegiatan perbankan
syariah adalah Dewan Pengawas Syariah (DPS). Dewan pengawas syariah merupakan institusi
independen dalam bank syariah yang fungsi utamanya adalah melakukan pengawasan kepatuhan
syariah dalam operasional bank syariah. Tugas dan fungsi serta keberadaan dewan pengawas
syariah dalam bank syariah memiliki landasan hukum baik dari sisi fiqih maupun undang -
undang perbankan di Indonesia.

Bank Indonesia selaku regulator dari perbankan di Indonesia sangat mendukung


berkembangnya perbankan syariah ini, karena secara makro perkembangan Bank Syariah dapat
meberikan daya dukung terciptanya stabilitas sistem keuangan dan perekonomian nasional.
Disini peran dari semua instrumen dalam operasional sebuah perbankan, terutama pihak
regulator, yaitu Bank Indonesia(BI), kontroler (syariah advisor) yang ada di Dewan Syariah
Nasional (DSN) dan Dewan Pengawas Syariah (DPS) Majelis Ulama Indonesia dan manajemen
operasional perbankan sendiri menjadi penting untuk meningkatkan perkembangan dan kinerja
dari perbankan syariah di Indonesia. Sinergi semua instrumen tersebut akan menghasilkan
sebuah sistem yang memberikan nilai terhadap sistem perbankan nasional., bahkan ekonomi
nasional di kemudian hari. Dan pada saatnya akan berdampak kepada terwujudnya keadilan
ekonomi dan masyarakat yang sejahtera.

12
Saat ini sedang gencar dilakukan edukasi dan sosialisasi mengenai sistem perbankan syariah
sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat terhadap perbankan
syariah dengan prinsip keadilan yang menjadi keunggulan dari sistem perbankan syariah. Aspek
yang paling membedakan sistem konvensional dan syariah adalah pemenuhan kepatuhan
terhadap nilai-nilai syariah (shariah compliance). Aspek inilah yang menjadikan perbankan
syariah memiliki kelebihan dari operasional perbankan konvensional, sebab menjamin penerapan
nilai-nilai keadilan bagi pelaku-pelaku ekonomi, dan tentu saja terpenuhinya nilai-nilai syariah
yang lebih utuh.

Dalam perbankan syariah sistem bagi hasil akan membawa manfaat keadilan bagi semua
pihak pelaku perbankan syariah baik bagi pemilik dana selaku deposan, pengusaha selaku
debitur maupun dari pihak bank sebagai pengelola dana. Kegiatan sosialisasi dan edukasi
perbankan syariah mendapat dukungan dari Bank Indonesia melalui program ”iB campaign”.
Namun saat ini peran Bank Indonesia menjadi berkurang dengan adanya pengalihan kewenangan
pengaturan dan pengawasan perbankan (termasuk perbankan syariah) kepada Otoritas Jasa
Keuangan (OJK).

Bank-bank syariah di Indonesia mulai mengupayakan peningkatan kualitas layanan agar


dapat sejajar dengan bank-bank konvensional. Akses teknologi informasi seperti ATM, mobile
banking maupun internet banking menjadi fokus bagi pengembangan kualitas layanan dari bank-
bank syariah. Inovasi pengembangan produk dan layanan juga harus menjadi fokus penting bagi
bank-bank syariah agar dapat bersaing dengan bank konvensional. Saat ini industri perbankan
sangatlah ketat, bank-bank syariah tidak bisa jika hanya mengandalkan produk-produk standar
untuk menarik nasabah.

Keunggulan lain yang dimiliki pada Bank Syariah adalah produk-produk perbankan yang
ditawarkan tidak ada yang bersifat spekulatif sehingga tidak akan terpengaruh oleh krisis
ekonomi global. Bank Syariah di Indonesia dalam pembiayaan lebih kepada sektor riil sehingga
memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Ke depan bank-bank
syariah yang ada di Indonesia diharapkan mampu meningkatkan kemandirian agar dapat berdiri
secara independen dan bank induknya kegiatan operasionalnya dapat dikelola secara profesional
dan mandiri menggunakan prinsip yang benar-benar syariah.

13
BAB III
PENUTUP

Bank Syari’ah adalah bank yang mengurus proses akuntansi atas transaksi-transaksi yang
sesuai dengan syari’at agama Islam. Bank Syari’ah memiliki landasan hukum yang berawal dari
Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 dan kemudian dilakukan perubahan dan menghasilkan
Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998. Bank ini memiliki 3 fungsi utama yaitu, menghimpun
dan menyalurkan dana masyarakat, menerima dana yang berasal dari zakat, infaq, sedekah, dan
menghimpun dana sosial dari uang wakaf.

Bank syariah dibagi menjadi 3 jenis yaitu BUS (Bank Umum Syari’ah), UUS (Usaha
Umum Syari’ah), dan BPRS (Bank Pembiayaan Umum Syari’ah). Sampai saat ini, ada sekitar 11
Bank Umum Syari’ah, 23 Usaha Umum Syari’ah, dan juga 163 Bank Pembiayaan Rakyat
Syari’ah. Pada umumnya, sistem prosedur dan operasional Bank Syari’ah dibagi menjad 3
bagian besar yaitu, produk penghimpun dana (Funding), produk penyalur dana (Financing), dan
pelaksanaan prinsip syariah dalam kegiatan pelayanan jasa (Service). Sistem prosedur dan
operasional terdapat kegiatan-kegiatan keuangan yaitu, Wadi’ah, Mudharabah, Murabahah,
Musyarakah, DLL. Perkembangan perbankan syari’ah di Indonesia bisa dikatakan sudah sangat
meluas dan banyak bank konvensional yang menjadi bank syari’ah seperti, BRI Syari’ah, BNI
Syari’ah, dan Bank Mandiri Syari’ah

14
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Nurhayati, Sri. 2014. Akuntansi Syari’ah di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Perbankan_syariah

https://www.ojk.go.id/id/kanal/syariah/tentang-syariah/Pages/PBS-dan-Kelembagaan.aspx

https://www.seputarpengetahuan.co.id/2017/09/pengertian-bank-syariah-sejarah-fungsi-tujuan-
ciri-jenis-produk.html#Jenis-Jenis_Bank_Syariah

http://mustakimistigfar.blogspot.com/2017/10/sistem-prosedur-dan-operasional-bank.html?m=1

https://www.kompasiana.com/ikayulip/572ac4d3f1927349059f6b6f/perkembangan-bank-
syariah-di-indonesia

15