Anda di halaman 1dari 121

MOTTO PANJAT TEBING

- Otak yaitu seorang pemanjat membutuhkan keterampilan khusus dalam penguasan teknik-
teknik pemanjatan dan peralatan.
- Otot yaitu seorang pemanjat membutuhkan kekuatan khusus dalam pemanjatan dengan ini di
butuhkan latihan-latihan seperti latihan fisik, beban dan senam kebugaran panjat tebing.
- Hoki yaitu keberuntungan dalam pemanjatan baik itu keselamatan maupun suksesnya
pemanjatan.
ABA-ABA DALAM PEMANJATAN
- On Belay yaitu Aba-aba yang diucapkan oleh seorang pemanjat bahwa ia telah melakukan
pemanjatan.
- Belay On yaitu Aba-aba yang diucapkan oleh seorang Belayer bahwa ia telah siap melakukan
Pemanjatan.
- Full yaitu Aba-aba yang diucapkan seorang climber kepada Belayer untuk mengencangkan tali
pemanjatan.
- Slag yaitu Aba-aba yang diucapkan seorang climber kepada seorang belayer untuk
mengendurkan Tali pemanjatan.
SISTEM PEMANJATAN

Alpine Tactics yaitu Sistem Pemanjatan yang ditempuh dengan tujuan mencapai puncak dengan
membawa seluruh prlengkapan dan Peralatan pemanjatan biasanya climber bermalam diatas
tebing/Flying Camp, tanpa kembali lagi ke shelter induk. Biasanya pada sistem ini seorang
climber harus mempunyai kemampuan khusus dalam penguasaan tehnik-tenhik pemanjatan
karena resiko pemanjatannya sangat tinggi.

Himalayan Tactics yaitu Sistem pemanjatan yang dilakukan setahap demi setahap hingga
mencapai puncak tanpa membawa seluruh perlengkapannya dan pemanjat kembali ke shelter
induk.

TEHNIK PEMANJATAN
1. Free Climbing yaitu Tehnik memanjat yang hanya menggunakan keterampilan tangan
dan kaki, sedangkan peralatan hanya digunakan untuk mengamankan diri pemanjat itu
sendiri bila jatuh dan tidak digunakan untuk menambah ketinggian. Biasanya digunakan
pada lomba memanjat.
2. Bouldering yaitu Tehnik pemanjatan yang dilakukan pada tebing-tebing pendek secara
rutinitas, biasanya dilakukan untuk melatih kemampuan seorang climber.
3. Soloing yaitu Tehnik pemanjatan yang dilakukan baik tebing pendek ataupun tinggi
dengan sendiri tanpa menggunakan peralatan.
4. Aid (Artificial) Climbing yaitu biasanya pada tehnik pemanjatan ini, pemanjat
menggunakan secara langsung peralatan untuk menambah ketinggian pemanjatannya.
Biasanya digunakan pada pembuatan jalur.

GERAKAN MEMANJAT
Ada beberapa jenis gerakan yang digunakan pada dinding vertikal :

1. Lay Back yaitu diantara dua tebing yang membentuk sudut tegak lurus, sering dijumpai
retakan yang memanjang dari bawah ke atas. Gerakan ke atas untuk kondisi tebing seperti
ini adlah dengan mendorong kaki pada tebing dihadapan kita dan menggeser-geserkan
tangan pada retakan tersebut keatas secara bergantian pada saat yang sama. Gerakan ini
sangat membutuhkan tenaga yang sangat besar.
2. Chimey yaitu bila kita menemui dua tebing berhadapan yang membentuk suatu celah
yang cukup besar untuk memasukkan tubuh, cara yang dilakukan adalah dengan
menyandarkan tubuh pada tebing yang satu dan menekan atau mendorong kaki dan
tangan pada dinding yang lain. Chimey terbagi atas beberapa macam yaitu Wriggling,
Backing Up dan Bridging.
3. Wriggling yaitu dilakukan pada celah yang tidak terlalu luas sehingga hanya cukup untuk
tubuh saja.
4. Backing Up yaitu dilakukan pada celah yang sangat luas, sehingga badan dapat
menyusun dan bergerak lebih bebas.
5. Bridging yaitu dilakukan pada celah yang sangat lebar sehingga hanya dapat dicapai
apabila merentangkan kaki dan tangan selebar-lebarnya.
6. Traversing yaitu gaya pemanjatan yang dilakukan ke kiri ataupun ke kanan pada saat
melakukan perpindahan gerak jalur pemanjatan.
7. Undercling yaitu dilakukan apabila menghadapi pegangan terbalik, dimana tangan
memegangnya secara terbalik dan menarik badan keluar, kemudian kaki naik mendorong
badan keluar. Antara dorongan kaki dan tangan saling berlawanan arah sehingga dapat
menimbulkan gerakan keatas.
8. Cheval yaitu dilakukan pada batu yang yang biasa disebut punggungan (arete), pemanjat
yang menggunakan cara ini mula-mula dudk seperti penunggang kuda pada arete, lalu
dengan kedua tangan menekan bidang batu dibawahnya, ia mengangkat atau
memindahkan tubuhnya keatas atau kedepan.
9. Slab Climbing yaitu pemanjatan yang dilakukan pada tebing licin yang kondisinya tidak
terlalu curam.
10. Mantleshelf yaitu dilakukan apabila menghadapi suatu tonjolan datar (flat) yang luas
sehingga dapat menjadi bidang untuk berdiri.
11.
12. JENIS PIJAKAN
13.
14. Friction step yaitu cara menempatkan kaki pada permukaan tebing dengan menggunakan
bagian bawah sepatu (sol) dan mengandalkan gesekan karet sepatu.
15. Edging yaitu cara kerja kaki dengan menggunakan sisi luar kaki (sepatu). Normalnya
daerah penggunaan edging pada kaki sebelah kiri.
16. Smearing yaitu tehnik berdiri pada seluruh pijakan di tebing.
17. Heel Hooking yaitu tehnik yang digunakan untuk mengatasi pijakan-pijakan yang
menggantung ataupun sulit dijangkau oleh tangan, Dengan kata lain kaki dapat di
gunakan sebagai pengganti tangan.
18.
19.
20. JENIS PEGANGAN
21.
22. Open grip yaitu pegangan biasa yang mengandalkan tonjolan pada tebing, biasanya di
tonjolan tebing yang agak datar dan lebar.
23. Cling grip (I) yaitu jenisnya sama dengan di atas namun pegangannya agak sedikit lebih
kecil dan mirip dengan mencubit.
24. Cling grip (II) yaitu jenisnya sama dengan diatas tetapi ditambah dengan menggunakan
ibu jari untuk menahan kekuatan tangan.
25. Vertikal grip yaitu pegangan veritkal yang menggunakan berat badan untuk menariknya
kebawah.
26. Pocket grip yaitu pegangan yang biasa digunakan pada tebing batuan limestone (kapur)
yang sering banyak lubang.
27. Pinch grip yaitu pegangan yang digunakan untuk memegang tonjolan pada tebing,
bentuknnya seperti mencubit.
http://himmpas-sidoarjo.blogspot.com/p/blog-page_14.html

 About me
 Download
 Paris Van Java
 Quote
 Guest Book

//
you're reading...
Pecinta Alam

Materi Panjat Tebing

Posted by nugrohotech ⋅ 14 Agustus 2007 ⋅ 38 Komentar

Mohon maaf berhubung buru-buru saya belum sempat mengedit materi yang saya publish
ini

Macam-macam Climbing
Climbing terbagi 5 macam yaitu
1) Bouldering
Pemanjatan tanpa menggunakan alat khusus dengan ketinggian maksimal 5 meter. Pemanjatan
ini dilakukan sebagai pemanasan untuk pemanjatan pada medan yang lebh tinggi.
2)Aid Climbing / Artifical Climbing (Direct Aid Climbing)
Pemanjatan tebing ini dilakukan dengan menggunakan alat yang selengkap-lengkapnya
3) Bigwall Climbing (Indireck Aid Climbing)
Pemanjatan dengan menggunakan alat atau tidak dengan maksimal ketinggian 5 meter.
4) Free Climbing
Pemanjatan dengan menggunakan alat pengaman seadanya.
5) Free Soloing Pemanjatan ini biasanya dilakukan oleh master-master climbing karena
memerlukan pengetahuan tentang climbing lebih jauh dan pemanjatan ini dilakukan tanpa
pengaman sama sekali pada tebing-tebing yang tinggi
2.2 Latihan Fisik
Seorang climber biasanya melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum melakukan
pemanjatan. Latihan fisik yang biasanya dilakukan diantaranya:
1) Push up
(min 100x dalam satu waktu), kegunaannya yaitu untuk melatih jari agar lebih kuat dalam
memegang point.2)
Full up (min 15x dalam satu waktu), kegunaannya yaitu untuk melatih otot tangan .3)
Sit up (min 75x dalam satu waktu),
kegunaannya yaitu untuk melatih otot perut.4) Lari kegunaanya untuk melatih kaki agar tidak
kram saat melakukan pemanjatam
5) Jumping jack2.3 Peralatan Climbing1) TaliTali dibagi 2 macam Tali serat alam (tali dadung)
Tali serat sintetis
Tali serat sintetis menjadi dibagi 2 yaitua. Tali Hau serlaid (terbuat dari nilon)
b. Tali Kern mantel, tali ini dibagi 2 bagian yaitu bagian mantel biasanya bagian ini terbuat dari
kain khusus dan bagian inti yang umumnya bagian ini terbuat dari serabut-serabut nilon.
Tali kern mantel ada 3 jenis yaitu:

a. Dinamis, tali ini lentur dengan daya regang sekitar 30 % biasa digunakan untuk climbimg

b. Statis, tali ini kurang lentur dan daya regang sekitar 15% biasa digunakan untuk rappelling.
c. Semi, daya regang antara dinamis dan statis dapat digunakan untuk climbing maupun
rappelling.
Cara perawatan tali

1. Usahakan tali jangan terlalu banyak terkena sinar matahari


2. Jaga tali jangan sampai tergesek benda tajam
3. Cuci tali kemudian keringkan di tempat yang tidak terlalu panas

4. Bila sudah kering gosok tali dengan menggunakan lilin


Hal yang dapat merusak tali

1.Tergesek benda tajam

2.Terlalu banyak terkena sinar matahari

3.Pemakaian yang tidak selayaknya, missal:tali dinamis dipakai untuk rappeling


2) Carabiner
Carabiner adalah pengaman pemanjat berupa cincin kail yang meyambungkan raner dengan
badan climber yang dipasang pada harness.

Bahan-bahan carabiner:

1. Besi Baja
2. Campuran alumunium Jenis pinti carabiner:

1.Memakai kunci (screw gate,), carabiner jenis ini lebih aman tapi sulit untuk dipasang atau
dilepas
2.Tanpa kunci, carabiner ini lebih mudah untuk dipasang dan dilepas tapi keamanannya tidak
seperti carabiner screw gate.
3) HarnesYaitu pengaman yang dipakai oleh climber
Jenisnya yaitu:-sit harness
-full boby (body harness)4) SlinkSlink yaitu tali penggabung carabiner
Slink ada 2 macam yaitu:

a slink pita dapat digunakan untuk menyambung carabiner

b.slink prusik5) Raner


Raner yaitu gabungan antara carabiner dan slink6)
Sepatu Panjat
Sepatu panjat biasanya terbuat dari karet mentah, bagian depan dari sepatu panjat ini lebih keras
agar kaki climber tidak sakit.7) Webing
Webing biasanya digunakan untuk pengaman badan climber pengganti harness yang umumnya
terbuat dari nilon.
Kapasitas menahannya sekitar 4000 pon dan kekuatan menahannya tergantung dari simpulnya.8)
Piton
Piton biasanya digunakan pada saat memanjat tebing alam fungsinya sebagai pengaman
pemanjatan pengganti raner yang digunakan pada bongkahan-bongkahan batu.9) Cok
Cok bermacam-macam bentuknya, diantaranya bentuk persegi empat dan persegi enam. Bentuk
segi empat panjangnya dari ½ cm-1 ½ cm dipasang pada bongkahan-bongkahan tebing,
segienam ukuran panjangnya 2cm-5cm. Tali cok terbuat dari baja. Keuntungan menggunakan
cok sebagai raner pada bongkahan-bongkahan batu ditebing adalah dapat dilepas kembali dengan
menggunakan alat pembukanya.
10) Figure of eight Digunakan pada biley/ rappelin
11) Glops
Sarung tangan yang biasa dipakai oleh biley/ rappeling untuk menghindari gesekan langsung ke
tali.12) Helmet

Helmet digunakan sebagai pelindung kepala climber


13)Chock Bag
Digunakan sebagai pengemas chock(magnesium) yang fungsinya untuk tangan dan kaki agar
tidak licin ssat memanjat.
14) Stik Plan

Digunakan sebagai duscander untuk menuruni tebing umumnya terbuat dari alumunium
15) Rock Bandering
Pada zaman dahulu sering digunakan untuk mengemas peralatan panjat, tapi sekarang sudah
tidak dipakai karena telah ditemukan harness untuk membawa peralatan panjat.
16)Ascander
Ascander digunakan untuk naik diudara(bukan pada tebing) dapat juga digunakan untuk menaiki
tebing yang posisinya vertical.17)Discander
Discander digunakan untuk turun dengan menggunakan tali bukan pada tebing.
18) Pulley
Pulley digunakan untuk mengangkat peralatan dari bawah kepuncak tebing, bentuknya seperti
katrol kecil dan terbuat dari campuran beton dan alumunium.
2.4 TEKNIK PEMANJATAN
A.
Kategori pemanjatan berdasarkan kondisi permukaan tebing
:Face climbing
Fristion Climbing
Fissure Climbing

B. Tumpuan

Tumpuan tangan
Tumpuan kaki

C. Gerakan

1. pemilihan jalur

2. keseimbangan dan koordinasi


3. penyesuaian tubuh terhadap tumpuan
4. penghematan energi dan istirahat
5. Traversing
6. janning, crack climbing, cinney7. mantlehelp8. ‘ v ‘ dan operhang
9. climbing down 2.5 BILEY
Biley adalah orang yang menentukan keselamatan dari climber oleh karena itu seorang biley
harus berkonsentrasi penuh untuk menghindari kecelakaan pada climber. Maka dari itu
dibutuhkan komunikasi dan kekompakan yang baik antara climber dan biley.
2.6 TEKNIK PEMASANGAN
Dalam pemasangan instalasi climbing, tali tidak boleh terkena / tergesek tebing langsung karena
dapat merusak tali oleh karena itu diperlukan carabiner da slink untuk mengikat tali.
Pemasangannya harus tepat dan benar untuk menghindari kecelakaan dan untuk memberikan
rasa aman, nyaman pada saat pemanjatan.

https://nugrohotech.com/2007/08/14/materi-panjat-tebing/

Panjat Tebing (Rock Climbing) merupakan salah satu olahraga alam bebas dan merupakan salah
satu bagian dari mendaki gunung yang tidak bisa dilakukan dengan cara berjalan kaki melainkan
harus menggunakan peralatan dan teknik-teknik tertentu untuk bisa melewatinya. Pada umumnya
panjat tebing dilakukan pada daerah yang berkontur batuan tebing dengan sudut kemiringan
mencapai lebih dari 45° dan mempunyai tingkat kesulitan tertentu. Beberapa teknik panjat tebing
yang dapat digunakan untuk menyelesaikan seluruh medan tebing, antara lain:

Face Climbing

Yaitu pemanjatan pada permukaan tebing yang memanfaatkan tonjolan batu(point) atau rongga
yang memadai yang digunakan sebagai pijakan kaki, pegangan tangan maupun penjaga
keseimbangan tubuh.

Friction / Slab Climbing

Teknik ini semata-mata hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu. Ini dilakukan
pada permukaan tebing yang tidak terlalu vertical, kekasaran permukaan cukup untuk
menghasilkan gaya gesekan. Gaya gesekan terbesar diperoleh dengan membebani bidang gesek
dengan bidang normal sebesar mungkin. Sol sepatu yang baik dan pembebanan maksimal di atas
kaki akan memberikan gaya gesek yang baik, sehingga pemanjatan dapat dilakukan dengan lebih
mudah.

Fissure Climbing

Teknik pemanjatan dengan fissure climbing ini lebih memanfaatkan celah yang dipergunakan
oleh anggota badan untuk melakukan panjatan.

Dengan cara demikian, maka beberapa pengembangan dari fissure climbing, dikenal teknik-
teknik dengan tehnik sebagai berikut ;

1. Jamming, teknik memanjat dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu besar. Jari-jari
tangan, kaki, ataupun bagian-bagian tangan hingga bahu pemanjat dapat dimanfaatkan
sebagai tehnik untuk memanjat dengan cara memanfaatkan crack/retakan pada tebing
untuk melakukan pemanjatan. Peralatan yang digunakan secara mayoritas adalah
pengaman sisip.
2. Chimneying, teknik memanjat celah vertical yang cukup lebar pada tebing(chimney).
Badan masuk di antara celah, dengan punggung menempel dan mendorong di salah satu
sisi tebing. Sebelah kaki menempel pada sisi tebing depan, dan sebelah lagi menempel ke
tebing yang berrada dibelakang pemanjat. Kedua tangan diletakkan menempel pada
tebing. Kedua tangan membantu mendorong ke atas bersamaan dengan kedua kaki yang
mendorong dan menahan berat badan.
3. Bridging, teknik memanjat pada celah vertical yang cukup besar (gullies).Tehnik ini
menggunakan kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada kedua permukaan tebing.
Posisi badan mengangkang, kaki sebagai tumpuan dibantu oleh tangan yang juga
berfungsi sebagai penjaga keseimbangan.
4. Lay back, teknik memanjat pada celah vertical dengan menggunakan kekuatantangan dan
kaki. Pada teknik ini jari tangan mengait tepi celah tersebut dengan posisi badan
membeban ke belakang dan menempel kesisi tebing, untuk memperkuat pegangan
pemanjatnya. kedua kaki berpijak dan mendorong pada tepi celah yang berlawanan untuk
menghasilkan daya angkat.
5. Hand traverse, Teknik memanjat pada tebing dengan gerak menyamping (horizontal).
Hal ini dilakukan bila pegangan yang ideal sangat minim dan untuk memanjat vertical
sudah tidak memungkinkan lagi. Teknik ini sangat rawan, dan banyak memakan tenaga
karena seluruh berat badan tertumpu pada tangan, sedapat mungkin pegangan tangan
dibantu dengan pijakan kaki (ujung kaki) agar berat badan dapat terbagi lebih rata.
6. Mantelself, Teknik memanjat tonjolan-tonjolan (teras-teras kecil) yang letaknya agak
tinggi, namun cukup besar untuk diandalkan sebagai tempat berdiri selanjutnya. Kedua
tangan digunakan untuk menarik berat badan, dibantu dengan pergerakan kaki. Bila
tonjolan-tonjolan tersebut setinggi paha atau dada maka posisi tangan berubah dari
menarik menjadi menekan untuk mengangkat berat badan yang dibantu dengan dorongan
kaki.

Strategi sangat diperlukan dalam setiap pemanjatan tebing, selalu sensitif membaca keadaan,
baik terhadap kemampuan diri maupun keadaan medan yang ada, sensitif dengan keketerbatasan-
keterbatasan yang mungkin timbul dan selalu dapat mengambil keputusan untuk memnfaatkan
kemampuan diri maupun alat semaksimal mungkin, me-manage semua sumber daya sebaik
mungkin untuk dapat meraih tujuan pemanjatan.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Panjat_tebing

Materi ROCK CLIMBING

ROCK CLIMBING
Rock climbing merupakan salah satu bagian dari kegiatan Mountaineering yang paling
penting, yang sangat memerlukan kecakapan mendaki tebing batu yang terjal, kemampuan dalam
menganalisa yang tinggi, mental baja , serta ketahanan fisik yang besar.
Secara etimologis Rock Climbing terdiri dari dua kata yaitu Rock dan climbing. Rock
berarti batuan dan Climbing berarti pemanjatan. Jadi Rock climbing yaitu teknik memanjat
tebing batu dengan memanfaatkan cacat batuan, baik tonjolan maupun rekahan yang mempunyai
kemiringan tebing lebih dari 70o.
II. Tehnik Penambatan

Suatu tehnik guna memperoleh tambatan (anchor) baik tambatan dari alam ataupun dari
alat penambatan.
Natural anchor : Tambatan/anchor yang dibuat dengan memanfaatkan atau dibuat dari alam.
Artifisial anchor : Tambatan (anchor) yang sengaja dibuat dengan menggunakan alat
penambatan. Sepenuhnya bergantung pada alat penambatan.

III. Jenis-jenis Pemanjatan


A. Panjat tebing menurut system
1. Alphine push : suatu pemanjatan dimana semua personeldan peralatan dibawa keatas dan
menginap di tebing.
2. Himalaya style : suatu pemanjatan dimana semua personel selalu turun pada setiap akhir
hari pemanjatan dan beristirahat dibawah.
B. Panjat tebing menurut penggunaan pengaman
Free Climbing : suatau pemanjatan yang memanfaatkan peralatan hanya sebagai pengaman dan
ranner.
Free soloing : suatu pemanjatan yang dalam pergerakannya tidak memerlukan peralatan pengaman.
Artifisial climbing : suatu pemanjatan yang dalam usahanya untuk menambah ketinggian
menggunakan bantuan peralatan.
IV. Teknik Pemanjatan

1. Free Climbing
Merupakan teknik pemanjatan tebing dengan menggunakan alat-alat bantu yang
digunakan untuk menambah dalam ketinggian, dan tidak langsung mempengaruhi gerak
memanjat itu sendiri. Unsur pertama dalam pemanjatan ini adalah pegangan dan pijakan yang
diperoleh dari cacat batuan dan rekahan/ celah. Teknik memanjat yang khusus merupakan
koordinasi yang serasi antar memegang, menekan, menggenggam, atau menjepit, menginjak, dan
gerak tubuh, yaitu antara lain :
a. Layback yaitu digunakan pada celah vertikal yang memanfaatkan tekanan antar tubuh.
b. Cheval yaitu dilakukan pada batu bagian punggung tebing batu dengan bidang yang sangat
kecil dan tipis.
c. Mantelshelf yaitu digunakan bila menghadapi suatu tonjolan datar atau flat yang luas sehingga
dapat menjadi tempat untuk berdiri.
d. Slab/Friction Climbing yaitu teknik yang dilakukan pada tebing yang licin dan tanpa celah atau
rekahan serta kondisi tidak terlalu curam.
e. Wriggling yaitu teknik yang dilakukan pada celah celah antara dua tebing.
f. Backing up yaitu teknik yang dilakukan pada suatu celah dengan lebar yang cukup.
g. Bridging yaitu teknik yang dilakukan pada lubangtebing yang besar.
h. Traversing yaitu gerakan menyamping atau horisontal dari suatu tempat ketempat yang lain.
Adapun contoh dari cacat batuan :
- Rack : terjadi pada permukaan tebing karena proses alami. Dalam pendakian dikenal adanya tiga creck
yaitu slant, horisontal dan vertikal.
- Hold : tidak jauh berbeda dengan creck, karena bentuknya berbeda-beda, maka untuk melakukan
pemanjata yang baik dibutuhkan tehnik yang berbeda pula.
2. Artificial Climbing ( Aid Climbing)
Pemanjatan Artificial adalah suatu cara untuk menambah ketinggian dengan bertumpu pada alat
sepenuhnya, dan biasanya dilakukan dalam pemanjatan Big wall.
Dalam teknik pemanjatan ini banyak menggunakan peralatan atau alat bantu dalam menambah
ketinggian dalam pemanjatan, dan harus bisa memanajemen semua jenis peralatan. Karena itu
kelancaran dalam seni memakai alat sangat fital untuk bergerak dengan aman dan efisien.

V. Klasifikasi Panjat Tebing

A. Menurut Lama Pemanjatan Dan Ketinggian


1. Bouldering
Pemanjatan yang dilakukan pada tebing yang tidak terlalu tinggi, dengan menggunakan
gerakan vertikal kanan–kiri dan naik turun. Dalam bouldering ini gerakan dilakukan berulang-
ulang dan hanya memerlukan peralatan yang berupa pakaian, sepatu, dan chalk bag.
Adapun tujuan bouldering adalah :
a. Sebagai pemanasan bagi pemanjat .
b. Sangat bagus untuk melatih gerakan yang sulit
c. Bouldering juga digunakan untuk melatih endurance

2. Crag climbing
Merupakan panjat bebas, dan dalam pelaksanaanya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :

a. Single pitch Climbing

Dalam pemanjatan ini tidak diperlukan dengan berhenti ditengah untuk mengamankan orang
kedua.

b. Multi pitch climbing

Pemanjatan ini dilakukan pada tebing yang lebih tinggi dan dperlukan pergantian leader. Tiap
pemanjat memulai dan mengakiri pada teras memadai untuk mengamankan diri dan untuk
mengamankan orang kedua (second man).
3. Big wall climbing
Jenis pemanjatan ditempat yang lebih tinggi dari crag climbing dan membutuhkan waktu
berhari-hari, peralatan yang cukup dan juga memerlukan pengaturan tentang jadwal pengaturan.
Ada dua sistem dalam pemanjatan bigwall yaitu:

a. Alpine push atau siege taktik

Dalam artian yaitu pemanjat selalu ditebing dan tidur ditebing. Jadi segala peralatan dan
perlengkaan serta kebutuhan untuk pemanjatan dibawa keatas. Pemanjatan tidak perlu turun
sebelum pemanjatan sampai titik terakir.

b. Himalaya tactik

Pemanjatan big wall yang dilakukan pada sore hari. Setelah itu pemanjat boleh turun base camp
untuk istirahat dan pemanjatan dilakukan keesokan harinya. Sebagian alat masih menempel
ditebing untuk memudahkan pemanjatan selanjutnya. Ini dilakukan sampai puncak.
Perbedaan antara keduanya adalah :
# Alpine push
Waktu pemanjatan lebih singkat
Alat yang digunakan lebih sedikit
Perlu load carry
# Himalayan tactik
Waktu pemanjatan lebih lama
Alat yang dibutuhkan lebih banyak
Tidak memerlukan load carry

B. Menurut kondisi medan


1. Klas I : Berjalan tegak tanpa peralatan
2. Klas II : Medan agak sulit perlu bantuan kaki dan tangan
3. Klas III : Medan agak curam perlu teknik tertentu
4. Klas IV : Kesulitan bertambah, tali dan pengaman sudah digunakan
5. Klas V : Rute semakin sulit perlu banyak pengaman
6. Klas VI : Pemanjatan sudah sepenuhnya bergantung pada pengaman karena celah
maupun pegangan tidak ada.

C. Menurut Tingkat Kesulitan


Klasifikasi pemanjatan menurut Yosemite Descimal Sistem
a. 5.0 s/d 5.4 : Terdapat tumpuan dua tangan dan dua kaki.
b. pemula 5.5 s/d5.6 : Terdapat tumpuan dua tangan bagi yang berpengalaman, untuk sulit
menemukan tumpuan dua tangan.
c. 5.7 : Gerakan kehilangan satu pegangan/tumpuan/pijakan kaki.
d. 5.8 : Kehilangan dua tumpuan dari keempat tumpuan atau kehilanan satu tumpuan tapi cukup
berat.
e. 5.9 : Hanya ada satu tumpuan yang pasti untuk kaki dan tangan.
f. 5.10 : Tak ada tumpuan tangan atau kaki, pilihanya adalah anda pura pura ada pegangan,
berdoa atau pulang kerumah.
g. 5.11 : Setelah diperiksa, disimpulkan, gerakan ini tidak memungkinkan mesti ada beberapa
orang yang biasa.
i. 5.12 : Permukaan vertikal dan licin seperti gelas, belum ada orang yang pernah naik meski
ada yang mengaku ngaku.
j. 5.13 : Sama seperti 5.12, Cuma terletak dibawah overhang.
Di Inggris, penggolongan tingkat kesulitan dinyatakan dengan hurup, yaitu :
1. E (easy = mudah)
2. M (moderate = sedang)
3. D (difficult = sulit)
4. VD (very difficult = dangat sulit)
5. S (severe = berat)
6. VS (very severe = sangat beraat)
7.HVS (hard very severe = sangat berat sekali)
8.EXS (exstreme severe = paling berat)
Di pegunungan Alpin di Eropa, penggolongan itu dinyatakan dengan angka romawi I sampai IV.
Dibandingkan dengan standar Inggris, penggolongan tingkat kesulitan di Eropa daratan itu
adalah sebagai berikut :
EROPA INGGRIS
I E
II M
III D
IV VD/S
V S/VS
VI VS ke atas
Untuk tingkat kesulitan dalam teknik pemanjatan ini tidaklah mutlak, standar ini masih
bergantung oleh beberapa hal.

VI. Langkah-langkah Pemanjatan


A. Penentuan jalur.
Dalam pemilihan jalur harus berdasar pada data yang telah ada, baik melalui literatur, imformasi,
serta pengamatan langsung atau orientasi jalur. Dimana hal-hal dalam orientasi jaluryang
berguna dalam pemanjatan antara lain:
Mengetahui tinggi medan,jenis batuan, macam pitch yang akan dipanjat.
Menentukan posisi awal pemanjatan.
Menentukan jenis alat pengaman yang akan digunakan.
Mengatur penempatan ancor, pergantian leader untuk hanging belay dan hanging bivaak.
B. Pembagian personel.
Pembagian personel harus berdasarkan pada :
a. Jumlah personelnya
b. Kemampuan personel
c. Jalur yang ditentukan
d. Sistem pemanjatan
e. Ketersediaan peralatan
C. Persiapan peralatan
Macam-macam peralatan yang digunakan harus disesuaikan dengan jalur yang dipilih,
dan disusun rapi dan sistematis.
Faktor yang mempengaruhi pemakaian alat :
Jenis batuan
Kemampuan batuan
Cacat batuan
Pengaman yang tersedia
Adapun peralatan yang sering dipakai setiap pemanjat meliputi :
 Tali karmantle
 Harnes atau tali tubuh
 Sling
 Webing
 Piton
 Carabiner, menurut bentuknya terdiri dari Oval dan Delta dan D
 Pengaman sisip/choke stone
 Hammer
 Handrill
 Chalk bag dan magnesium
 Sepatu
 Helm
 Etrier/stirup
 Pulley
 Ascender
 Descender
 Sticht plate
 Driver

D. Persiapan pemanjatan
Setelah semua siap, baik peralatan, leder, belayer maka pemanjatan dapat dimulai. Hal
yang penting dalam pemanjatan beregu yaitu komunikasi antar pemanjat baik leader maupun
belayer yang menggunakan bentuk komunikasi. Ada dua bentuk yaitu melalui bahasa dan
isyarat. Komunikasi bahasa digunakana apabila antara leader dan belayer masih dalam jangkauan
teriakan. Komunikasi isyarat banyak digunakan bila antara leader dan bilayer sudah tidak dalam
jangkauan teriakan. Dalam kenyataanya dilapangan komunikasi isyarat lebih menguntungkan
sebab irit energi dan mudah pemakaiannya.
1. Pemanjatan
Dalam pemanjatan ini, leader melakukan pitch 1 dengan membawa dua rol tali sekaligus.
Satu sebagai tali utama (yang akan diikatkan pada raner) dan tali tambat (fixet rope). Dalam fixet
rope inidapat juga sebagai transport antara leader dan personil yang ada dibawahnya.
2. Cleaning
Setelah leader menyelesaikan pitch 1 dan memberitahu bahwa pemanjat kedua siap dan
boleh naik. Personel kedua melakukan jumaring dan sekaligus menyapu runner yang telah
dipasang leader.
Keuntungan jumaring pada fixet rope yaitu :

 Tali dalam keadaan lurus vertikal sehingga tidak terjadi pendulum


 Tali tidak tertambat pada runner yang akan diambil sehingga memudahkan pengambilan
 Gerakan lebih bebas

Agar cleaner tidak terlalu jauh dengan runner yang akan dilepas, maka antara tali utama dengan
fixet rope harus dihubungkan.
Macam tugas cleaner :
a. Membersihkan jalur dan menyapu runner
b. Mencatat pengaman yang digunakan berikutnya

c. Sebagai leader untuk pitc berikutnya


d. Membawa tali untuk pemanjatan

3. Pemanjatan untuk pitch 2 dan selanjutnya


Pemanjatan berikutnya dilakukan apabila setelah cleaner sampai di pitch 1. Pada pitch 2 ini
cleaner menjadi leader dan yang tadi sebagai leader berganti sebagai belayer. Sementara itu
personel yang ada dibawah naik dengan jummaring, bila kondisi memungkinkan gerakan
personil dibawah dapat dilakukan dalam waktu yang bersamaan dengan leader pada pitch 2, yang
hanya perlu diwaspadai adanya runtuhan batuan, terutama pada gerakan leader. Untuk
pemanjatan selanjutya pada pitch selanjutnya prosedurnya sama seperti diatas.
4. Turun tebing
Turun tebing dilakukan apabila pemanjat sudah sampai puncak dan menyelesaikan target
yang telah ditentukan. Cara yang digunakan yaitu dengan reppeling. Untuk reppling perlu dibuat
ancor sebagai penambat tali. Setelah tali terpasang maka reppling siap dilakukan. Reppling dapat
dilakukan dengan tali tunggal atau ganda (doubel). Biasanya personel yang paling akhir
menggunakan doubel rope dan tali hanya dikalungkan pada anchor, agar tali tersebut dapat
ditarik ke bawah, begitu seterusnya untuk setiap pitch.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam reppling :

 Ujung bawah tali harus disimpul


 Tali antar pitc harus selalu dihubungkan
 Waspada terhadap runtuhan batuan

5. Dasar tebing
Setelah semuanya pemanjat turun, maka yang harus dilakukan adalah pendataan dan
pengecekan semua peralatan yang dipakai.
6. Pembuatan topo atau data
Topo adalah merupakan gambar atau sket jalur yang berhasil dipanjat. Dalam pembuatan
sket ini dilengkapi dengan data sebagai berikut :

a. Nama jalur yang dipanjat


b. Lokasi tebing
c. Jenis batuan
d. Tinggi tebing
e. Sistem pemanjatan
f. Teknik pemanjatan yang diterapkan
g. Waktu pemanjatan
h. Tingkat kesulitan ( grade )
i. Data peralatan yang digunakan
j. Sketsa jalur pada tebing
k. Operasional dan kondisis cuaca
l. Daftar pemanjat
VII. Belaying

Dalam pemanjatan tebing, orang yang pertama kali manjat disebut “leader”, sedangkan
orang kedua yang melakukan pengamanan terhadap pemanjatan pertama disebut “Belayer”.
Leader pemanjat pertama ini, memajat dengan pengamanan dari orang kedua (belayer) dengan
system belaying yang terdiri dari tali dan ranner(raning bilay). Runner atau ranning belay adalah
pengaman untuk mengurangi bahaya jatuh. Sedangkan untuk Belaying adalah suatu cara
pengamanan untuk mengurangi bahaya jatuh pada waktu melakukan pemanjatan.

Yang harus diperhatikan dalam melakukan belay atau pengamanan :


- Belayer harus melihat gerakan leader sedapat mungkin. Hal ini dilakukan untuk memperlancar
gerakan leader dalam menambah ketinggian dan dapat secepat mungkin mengantisipasi keadaan
apabila leader terjatuh pada pemanjatan.
- Belayer harus memasang pengaman untuk dirinya dirinya sendiri sebelum melakukan belaying.
Hal ini sangat penting apabila belayer mengantisipasi jatuhnya leader, dimana ia mendapat beban
tambahan dan sentakan darin leader yang terjatuh. Sedangkan pengaman untuk belayer sendiri
minimal dua buah.
Sebagai penutup dari uraian singkat mengenai systim belaying ini, maka perlu dijelaskan
secara internasional yang memakai istilah bahasa inggris untuk menghindari kemungkinan salah
paham antara belayer dengan pemanjat atau leadernya, yaitu :
Pemanjat : “On belay” (Saya akan memanjat, Apakah belaying sudah siap?)
- Belayer : “Belay on” (Saya sudah siap)
- Pemanjat : “Climbing” ( Saya mulai memanjat )
- Belayer : “Climb” (Silahkan memanjat)
Pemanjat : “Slack” (Kendorkan talinya. Saya tidak bias bergerak tali terlalu kencang)
Pemanjat : “Up rope” (tali terlalu kendur. Mohon tali dikencangkan sedikit), belayer mengencangkan
tali tanpa menyahut.
Pemanjat : “Off belay” ( saya dalam posisi yang baik, tidak perlu belaying)
Belayer : “Belay off” (belayer coba menyakinkan bahwa pemanjat betul-betul tidak tidak
membutuhkan belaying lagi)
Pemanjat : “Tension” (tahan tali dengan erat) belayer menahan dengan mengunci tali belaying.
Pemanjat : “Falling” (saya jatuh, tali mohon dikunci)
Pemanjat : “Rock” (ada benda keras yang jatuh, hati-hati)
Belayer : “Rock” (belayer meneriakkan kembali kata-kata pemanjat sebagai tanda bahwa dia sudah
mengetahui).
VIII. Ascending

a. Suatu tehnik yang memanfaatkan tali dan atau ascendeur fungsinya untuk memudahkan kita
dalam menambah ketinggian dimana faktor keamanan lebih terjamin
b. Jenis-jenisnya :
Prusiking : suatu tehnik naik dengan menggunakan tali prusik.
Jummaring : suatu tehnik naik dengan menggunakan jumar.
SRT( Singgle Rope Tehnic) : Suatu tehnik dimana kita bisa naik dan turun
dengan menggunakan SRT set.
IX. Descending

a. Suatu tehnik turun yang memanfaatkan tali dan gesekan tali itu sendiri fungsinya untuk
memudahkan kita dalam turun/menuruni tebing dimana faktor keamanan lebih terjamin.
b. Jenis-jenisnya :
o Body Rappel
o Tehnik Dufler : Tehnik ini merupakan cara paling lama (klasik), caranya sangat mudah,
geserannya cukup baik, dan tidak membutuhkan alat apa-apa kecuali tali luncur. Tali luncur
diselipkan diantara dua kaki, melingkarari pinggang kiri, menyilangi dada melalui bahu kanan
dan ditahan tangan kiri yang fungsinya sebagai pengontrol. Tehnik ini seringkali berguna pada
saat-saat darurat, misalnya pada saat karabiner atau descendeur mendadakmacet.
o Hasty : Hasty hanya berguna untuk tebing yang pendek dan tidak terlampau curam. Geseran
pada tehnik ini dibentuk melalui tali yang melingkari tangan dan bahu, kontrol gerakan pada
genggaman tangan, keseimbangan diperoleh dari posisi badan yang mirimg kearah bawah
dengan kedua kaki mengkangkang secukupnya. Tapi segi keamanan kurang pada tehnik ini.
o Komando : Di sebut tehnik komando karena sering dipakai oleh Para Komando dan di
Indonesia tehnik ini paling banyak digunakan. Caranya yaitu melilitkan tali pada karabiner
sebanyak duakali lalu melewati selangkangan atau samping paha dan digenggam tangan sebagai
penahan dari belakang. Tehnik ini banyak mempunyai kelemahan sehingga tidak terlalu disukai
oleh kebanyakan pemanjat.
o Brake Bar Rappel : Dua karabiner, dengan kunci terletak berlawanan, dikaitkan pada harness
atau seat harness atau sling. Pada dua karabiner ini dipalangkan dua karabiner lagi dengan kunci
menghadap ke bawah. Tali yang menjulur ke bawah ditahan oleh salah satu tangan, dapat juga
dibuat variasi dengan menggandakan sistem geserannya. Sistem geseran ini kemudian
dikembangkan dengan pembuatan descendeur khusus.

VIII. Penutup
Rock climbing merupakan kegiatan yang memerlukan kekuatan, pikiran, skil dan
keberuntungan, sehingga dibutuhkan latihan yang harus mencukupi sebelum melakukan
pemanjatan yang sebenarnya. Bagi pecandu High Risk Sport, Rock climbing merupakan
kegiatan di alam bebas yang sangat mengasyikkan.
http://rockclim.blogspot.com/

1. asan singkat tentang divisi PANJAT

Pada awalnya panjat tebing merupakan salah satu bagian dari mountenering. Misalnya saja
dilakukan oleh manusia jaman kuno dalam upaya bertahan hidup (survival) seperti untuk
mencari telur pada sarang yang berada pada suatu celah tebing. Atau pada manusia modern
panjat tebing diaplikasikan dalam pendakian gunung yang memiliki jalur bertebing, jadi pendaki
harus memanjat tebing tersebut untuk dapat melanjutkan perjalanan. Namun sesuai dengan
perkembangan jaman, panjat tebing menjadi satu cabang sendiri sebagai kelengkapan suatu
kegiatan kepecintaalaman.perkembangan di Indonesia sendiri dimulai sekitar tahun 1960 dengan
dipelopori oleh Angkatan Darat, yaitu ketika memanjat tebing Citatah Bandung. Panjat tebing
modern di Indonesia dimulai sekitar tahun 1977 dengan berdirinya sekolah panjat tebing amatir
waktu itu (Skyger Amateur Rock Climbing). Di Yogyakarta sendiri mulai digemari mulai tahun
1980-an. Seiring dengan perkembangan jaman dan semakin maraknya panjat tebing, maka
dibuatlah tebing-tebing tiruan (wall climbing) yang saat ini bahkan sudah sering dilombakan.

Dewasa ini Panjat Tebing sudah menjadi suatu olahraga yang cukup digemari di kalangan
pemuda, bahkan anak-anak di Indonesia. Sebagai salah satu olahraga, panjat tebing memiliki
prinsip-prinsip tersendiri, misalnya saja pemanjat harus punya prosedur keamanannya sendiri
ketika melakukan pemanjatan (hal ini terkait juga dengan peralatan panjat tebing),
pengembangan kemampuan (skill) meliputi kelenturan dan kekuatan otot yang dapat
dikembangkan dengan latihan rutin dan terstruktur, teknik-teknik pemanjatan, kecerdikan
pemanjat dalam menyelesaikan rute pemanjatan, serta pengetahuan tentang kondisi tebing yang
akan dipanjat, selain itu pemanjat harus memiliki mental yang baik, artinya bahwa mental yang
baik disini meliputi sikap tidak mudah menyerah, semangat, dan siap menghadapi segala
tantangan.

1. Etika Panjat Tebing


2. Untuk persiapan dan pemanjatan
3. Dapatkan informasi yang up-to-date sebanyak mungkin mengenai tebing dan lokasi
pemanjatan.
4. Jika ada penutupan akses ke tebing panjat, jangan dilanggar.
5. Gunakan jalan setapak yang sudah ada meskipun lebih jauh dan lebih lama untuk dicapai.
6. Berkemahlah ditempat yang telah disediakan atau yang biasa digunakan.
7. Buang air di WC, minimal harus 10 meter dari sumber air/ sungai.
8. Usahakan jangan mengganggu komunitas hidup sekitar.
9. Gunakan kapur magnesium seperlunya.
10. Jangan rapel langsung melingkarkan tali kernmantel ke pohon melainkan gunakan sling
webbing atau sejenis yang didikatkan ke pohon.
11. Ikuti aturan, tradisi, etika yang berlaku di lingkungan sekitar dimana kamu memanjat.
Hormati kuncen/ kepala desa, dan ramah tamahlah dengan penduduk sekitar.
12. Tetaplah berpenampilan low profile.
13. Hormati dan hargailah sesama pemanjat

2. Untuk pembuatan jalur baru


3. Jangan merubah permukaan tebing:
4. Dilarang memahat bebatuan untuk alasan apapun
5. Dilarang mengelem batu di muka tebing
6. Tidak diperkenankan menggosok permukaan tebing secara agresif dan berlebihan
7. Pemasangan proteksi permanen (bolts hanger) dilakukan apabila rute tsb tidak bisa
dipanjat secara tradisional dengan menggunakan alat pengaman yang bisa dipasang-lepas.

1. Klasifikasi Panjat Tebing

Klasifikasi dalam panjat tebing tidak mempunyai ketetapan maupun ketentuan yang pasti, hal ini
disebabkan adanya perbedaan tradisi setiap daerah pemanjatan dan kelompok pemanjat tertentu,
sehingga setiap daerah pemanjatan memiliki kultur sendiri-sendiri.

1. Berdasarkan teknik memanjat, panjat tebing dibagi menjadi dua, yaitu:


2. Free climbing, adalah pemajatan yang menggunakan peralatan hanya untuk menahan
jatuh dan saat berhenti menambat. Pemasangan pengaman tidak digunakan untuk
pegangan atau pijakan untuk menambah tinggi.
3. Artificial cimbing, adalah pemanjatan yang menggunakan peralatan selain untuk
menahan jatuh, juga digunakan untuk menambah ketinggian dengan cara dijadikan
pegangan atau pijakan.
4. Berdasarkan tujuan pemanjatan, panjat tebing dibagi menjadi 2, yaitu :
5. Pemanjatan Sport, adalah pemanjatan yang dilakukan dengan tujuan olahraga dan untuk
melatih dan mengembangkan kemampuan pemanjat.

Pemanjatan sport dapat dibagi lagi menjadi :

1. Bouldering, yaitu Tehnik pemanjatan yang dilakukan pada tebing-tebing pendek (tidak
terlalu tinggi), biasanya pemanjat melakukan gerakan secara horisontal (kiri-kanan) dan
vertikal (naik turun). Gerakan ini dilakukan berulang-ulang. Untuk bouldering peralatan
yang digunakan ditekan sedikit mungkin, jadi pemanjat hanya memerlukan pakaian,
sepatu dan chalk bag. Adapun tujuan bouldering adalah untuk melatih kemampuan
seorang pemanjat (melartih gerakan yang sulit, melatih endurance / ketahanan) dan
sebagai pemanasan sebelum melakukan pemanjatan di dinding tinggi.
2. Lead, pemanjatan lead menggunakan bantuan hanger dan runner untuk mengamankan
pemanjat, biasanya hanger sudah terpasang pada tebing sehingga pemanjat hanya harus
memasang runner pada hanger tersebut sebagai pengaman apabila jatuh, top pada jenis
pemanjatan ini adalah top hanger.
3. Speed, teknik pemanjatan ini biasanya dilakukan untuk tujuan kompetisi, yaitu dengan
memanjat secepat mungkin, penilaian panjat tebing ini adalah waktu. Pengaman yang
digunakan adalah Top Anchor.
4. Pemanjatan dengan tujuan pembukaan jalur atau Ekspedisi :

Menurut tujuannya, pemanjatan ini dilakukan dengan cara artificial. Peralatan yang digunakan
dalam jenis pemanjatan ini tidaklah sederhana, mengiingat resiko yang mungkin terjadi sangatlah
besar, sehingga pemanjata dikonsdisikan seaman mungkin. Inti dari jenis pemanjatan ini adalah
memasang hanger pada tebing dengan mempertimbangkan kekuatan tebing itu sendiri. Hal-hal
yang harus diperhatikan adalah tidak boleh merusak ataupun mengganggu lingkungan dan
komunitas hidup yang sudah ada di tempat tersebut.

1. Teknik-teknik pemanjatan
1. Panjat Tebing
1. Teknik pemanjatan

Pada teknik pemanjatan dikelompokkan sesuai bagian dengan tebing yang dimanfaatkan untuk
memperoleh gaya tumpuan dan pegangan, yaitu :

1. Face Climbing, yaitu memanjat pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan
atau rongga yang memadai sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan.
2. Friction / Slab Climbing, adalah teknik yang mengandalkan gaya gesek sebagai gaya
penumpu yang biasa dilakukan pada tebing tidak terlalu vertikal.
3. Fissure Climbing, merupakan teknik yang memanfaatkan celah rekah batuan dengan
mempergunakan anggota badan sebagai pasak .

1. Taktik pemanjatan

Berdasarkan tingkat kesulitan, Trad Climbing/Adventure Climbing dibagi dalam 3 kategori :

1. Crag Climbing

merupakan panjat bebas, dan dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dengan dua cara :

 Single pitch climbing: dalam Pemanjatan ini tidak diperlukan dengan berhenti di tengah
untuk mengamankan orang kedua.
 Multipitch climbing: Pemanjatan ini dilakukan pada tebing yang lebih tinggi dan
diperlukan pergantian Leader. Tiap Pemanjat memulai dan mengakhiri pada teras
memadai untuk mengamankan diri dan untuk mengamankan orang kedua(second man).

2. Big Wall Climbing

merupakan jenis Pemanjatan di tempat yang lebih tinggi dari Crag Climbing dan membutuhkan
waktu berhari-hari, peralatan yang cukup dan memerlukan pengaturan tentang jadwal
Pemanjatan, makanan, perlengkapan tidur, dll.

Terdapat 2 sistem yang digunakan dalam Pemanjatan Big Wall yaitu:

 Alpine System / Alpine Push

Dalam alpine push, Pemanjat selalu ada di tebing dan tidur di tebing. Jadi segala peralatan dan
perlengkapan serta kebutuhan untuk Pemanjatan dibawa ke atas. Pemanjat tidak perlu turun
sebelum pemanjatan berakhir. Pemanjatan ini baru dianggap berhasil apabila semua Pemanjat
telah mencapai puncak.
 Himalayan System / Himalayan Tactic

Sistem pemanjatan yang biasanya dengan rute yang panjang sehingga untuk mencapai
sasaran(puncak) diperlukan waktu yang lama. Pemanjatan Big Wall yang dilakukan sampai sore
hari, setelah itu Pemanjat boleh turun ke base camp untuk istirahat dan pemanjatan dilanjutkan
keesokan harinya. Sebagian alat masih menempel ditebing untuk memudahkan pemanjatan
selanjutnya. Pemanjatan tipe ini biasanya terdiri atas beberapa kelompok dan tempat-tempat
peristirahatan. Sehingga dengan berhasilnya satu orang dari seluruh tim, berarti pemanjatan ini
sudah berhasil untuk seluruh tim.

2. Panjat Dinding
1. Teknik memegang poin :
1. Crimp / Half Crimp

Teknik ini adalah cara memgang hand hold ( Point ) yang ekstrim, dengan 4 jari dan dibantu ibu
jari diatasnya yang berfungsi sebagai pengunci, teknik ini dipakai pada saat arah hand hold (
Point ) normal (Menghadap keatas)

2. Open

Teknik ini hampir sama dengan Crimp / Half Crimp diatas perbedaannya hanya pada ibu jari,
pada teknik ini tidak memakai ibu jari sebagai pengunci, ini teknik adalah dasar dari teknik
pegangan yang ada dan dapat dilakukan pada semua jenis hand hold ( Point ) selama hand hold (
Point ) yang terpasang normal (Menghadap keatas).

3. Palm

Teknik ini adalah cara memegang hand hold ( Point ) dengan menggunakan telapak tangan
bagian dalam ( dekat dengan ibu jari ) bukan pada jari sebagai tumpuannya, teknik ini dapat
dilakukan dengan posisi lengan lurus dalam usaha menambah ketinggian
4. Lying / Block

Teknik ini adalah memegang satu hand hold ( Point ) dengan kedua tangan kita atau dapat juga
disebut 1 titik dua tumpuan.

5. Two Finger

Teknik ini adalah cara memegang hand hold dengan dua jari saja, untuk memgang memakai dua
jari sebaiknya menggunakan jari tengah dan jari manis karena akan menghasilkan cengkraman
yang optimal.

1. Teknik pijakan poin :


1. Edging

Teknik ini adalah teknik dasar dalam pemanjatan untuk pijakan, pengertiannya teknik ini
menggunakan ujung sepatu / ujung kaki dari mulai sisi luar, tangah, dan sisi dalam teknik ini
mutlak berfungsi apabila pemanjat memakai sepatu.

2. Smearing

Teknik ini adalah cara memijak hand hold di sepatu bagian tengah / telapak atas dibawah jari
kaki, teknik ini dapat berfungsi dengan baik apabila kita menemukan tebing smearing kurang
dari 90 derajat akan tetapi dapat juga digunakan apabila kita menemukan hold yang berjenis slap.

3. Hooking

Teknik ini adalah cara memijak hold dengan menggunakan tumit pada teknik ini dapat dilakukan
pada saat menemukan contur dinding roof / pada saat akan melewati roof. Satu kaki bertumpuan
memakai tumit.

1. Jenis – jenis tebing


Secara umum yang dinamakan tebing adalah suatu permukaan bumi yang tersusun oleh suatu
jenis batuan yang memiliki kemiringan minimal 65°. Berdasarkan jenis batuan penyusun
terdapat jenis batuan kapur (lime stone) yang berwarna putih kecoklat-coklatan, serta tebingt
andesit yang tersusun oleh batuan yang berwarna hitam.

Berdasarkan besar sudut kemiringan terdapat beberapa jenis bagian tebing, yaitu :

1. Slab, mempunyai kemiringan 65°-90°.


2. Face, yaitu Permukaan tebing yang berbentuk datar.
3. Vertikal, mempunyai kemiringan sekitar 90°.
4. Overhang, mempunya kemiringan 90°-180°.
5. Roof, mempunyai kemiringan 180°.

1. Karakteristik TEBING

Tebing merupakan prasarana dalam kegiatan panjat tebing. Pengetahuan dasar tentang
karakteristik tebing yang harus diketahui antara lain:

1. Bentuk :
2. Blank : Bentuk tebing yang mempunyai sudut 90 derajat atau biasa disebut vertical
3. Overhang : Bentuk tebing yang mempunyai sudut kemiringan antara 10-80 derajat
4. Roof : Bentuk tebing yang mempunyai sudut 0 atau 180 derajat, terletak menggantung
5. Teras : Bentuk tebing yang mempunyai sudut 0 atau 180 derajat, terletak menjorok ke
dalam tebing
6. Top : Bagian tebing paling atas yang merupakan tujuan akhir suatu pemanjatan.
7. Permukaan Tebing :
1. Face
Adalah permukaan tebing yang mempunyai tonjolan. Beberapa model dari bentukan face :

 Jug/Bucket/Thank-God hold
 Crimper
 Edge
 Pocket
 Sloper
 Pinch
1. Slap/Friction : Adalah permukaan tebing yang tidak mempunyai tonjolan atau
celah, rata, dan mulus tidak ada cacat batuan.
2. Fissure : Permukaan tebing yang tidak mempunyai celah(crack).

3. Macam-macam batuan :

Beberapa batuan yang sering dijumpai yang terutama lokasi dimana sering dijadikan ajang
pemanjatan di Indonesia.

1. Batuan Beku
2. Batuan Sedimen
3. Batuan Metamorf

BAB II

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR KEGIATAN PANJAT TEBING

1. Pengetahuan pengaman alam (natural anchor)

Pengaman Alam ( natural anchor ) adalah pengaman yang disediakan oleh alam, macamnya :
1. Tumbuhan

Bila tumbuhan tersebut kuat dan akarnya menghujam ke dalam dinding tebing dan dalam
pemasangannya diupayakan harus dekat dengan pangkalnya dengan dijerat tali pita atau
webbing.

1. Batu sisip

Batu yang tersisip disela vertikal tebing.

1. Batu tanduk.

Batu yang menonjol. Menyerupai poin di papan panjat dinding.

4. Lubang tembus.

Lubang yang menembus tebing.

Berdasarkan tingkat keamanannya pengaman alam :

1. Pengaman emas : Pengaman yang berfungsi sangat baik digunakan untuk

tambatan dan beban jatuh

2. Pengaman perak : Pengaman yang berfungsi kurang baik, biasanya

bisa terlepas jika dipakai jatuh.

3. Pengaman perunggu : Pengaman yang berfungsi jelek dan pasti terlepas

jika terkena beban jatuh

4. Pengaman pengunci : Pengaman yang berfungsi sangat baik, tidak

terlepas jika ditarik ke segala arah dan pasti bersifat emas.


1. Pengetahuan peralatan panjat tebing

No Nama alat Fungsi Alat

Tali carmantel

Fungsi utama dalam pemanjatan adalah sebagai pengaman apabila jatuh. Tali yang dipakai
dalam panjat tebing terbuat dari nylon ( kern ) untuk menahan gerakan friksi juga sebagai
penguatan digunakan pembungkus ( mantle ) sehingga tali ini bisa disebut ” kermnantle “. Yang
biasa digunakan ketika dalam divisi panjat adalah Tali Kermantel Dinamik yang
Memiliki kelenturan bagus sehingga dapat berfungsi sebagai peredam kejut. Kelenturannya
mencapai 5- 15 % dari berat maksimum yang diberikan. Biasanya memakai warna yang
mencolok seperti merah, hijau dan ungu.

Webbing (tali pita)

 Harness (tali tubuh), swami belt, chest harness, atau


 Alat bantu peralatan lain, sebagai runners (titik pengaman), tangga (etrier) atau untuk
membawa peralatan.
 Dapat digunakan sebagai instalasi anchor utama

3
Carabinner

1. Carabiner Screw ( menggunakan kunci pengaman )


2. Carabiner Snap (tidak berkunci )
3. Carabiner automatic, merupakan gabungan dari carabiner snap dan screw

Secara prinsip, carabiner digunakan untuk menghubungkan tali dengan runners (titik pengaman),
sehingga carabiner dibuat kuat untuk menahan bobot pemanjat yang terjatuh.

Kekuatan carabiner terletak pada pen yang ada sehingga jika pen yang ada pada carabinber sudah
longgar sebaiknya jangan dipakai.

Harness

Harness sangat menolong untuk menahan tubuh, bila pendaki terjatuh,. Harness yang baik tidak
akan mengganggu gerak tubuh dari pendaki. Akan tetapi sangat terasa gunanya bila pendaki
dalam posisi istirahat.
5

Helm

Bagian tubuh yang paling lemah adalah kepala, sehingga perlu mengenakan helm untuk
melindungi dari benturan tebing saat pemanjat terjatuh atau bila ada batu yang berjatuhan.

Helm yang baik digunakan adalah helm yang memiliki karakteristik ringan tapi keras.

Sepatu panjat
Sebagai pelindung kaki dan mempunyai daya friksi yg tinggi sehingga dapat melekat di tebing.
Jenisnya sendiri yang sering digunakan adalah soft (lentur/fleksibel) dan hard (keras).

Chalk bag

Tempat untuk menyimpan magnesium carbonat ( MgCO3 ) yang dipergunakan untuk


menghilangkan keringat yang terdapat pada ujung jari.

Prussik
Merupakan jenis tali carmentel yg berdiameter 5-6 mm, biasanya digunakan sebagai penghubung
anchor dengan runner/carabiner, juga dapat digunakan untuk meniti tali keatas dengan
menggunakan simpul prusik dan cowstail.

Sling

Suatu tali yang dibentuk menjadi loop dengan cara menyambungkan kedua ujungnya.
Berdasarkan jenis tali yang digunakan terdapat dua jenis sling yaitu :

 Sling Webbing
 Sling Prussik

10

Herolop

Mempunyai kegunaan hampir sama dengan sling dan biasanya dibuat oleh pabrik. Atau kalau
tidak bisa menggunakan webbing. Fungsi dari heroloop biasanya digunakan untuk
menggabungkan 2 carabiner menjadi satu unit yang disebut Runner.

11

Runner
Digunakan sebagai pengaman jalan, dibentuk dari 2 carabinner yang disatukan dengan sebuah
herolop. Pemasangan carabiner sebaiknya berarah buka berlawanan, karena dimaksudkan untuk
pembagian beban dan keamanan yang lebih.

12

Figure of 8

Terbuat dari bahan yang sama dengan Carabiner. Fungsinya sebagai pengaman pemanjatan yang
digunakan oleh belayer. Dapat juga digunakan sebagai autostop ketika descender / turun dengan
tali.

13

Etrier / Stirrup

Tangga untuk membantu menambah ketinggian tanpa menjejakkan kaki pada tebing. Bila rute
yang akan dilalui ternyata sulit, karena tipisnya pijakan dan pegangan, maka etrier ini sangat
membantu untuk menambah ketinggian. Pada Atrificial Climbing, etrier menjadi sangat vital,
sehingga tanpa alat ini seorang pendaki akan sulit sekali untuk menambah ketinggian.

14

Grigri
Alat ini digunakan untuk membelay, alat ini mempunyai tingkat keamanan yang tinggi karena
dapat membelay dengan sendirinya

15

Piton (Paku tebing)

Terbuat dari bahan metal dalam berbagai bentuk. Berfungsi sebagai pengaman, piton ini
ditancapkan pada rekahan tebing. Sebagai kelengkapan untuk memasang atau melepas piton
digunakan hammer.sesuai dengan bentuknya piton terbagi menjadi 2 :

1. Piton blade (pisau)


2. Piton angel (memiliki sudut)

16

Hammer (Palu tebing)

Berfungsi untuk menanamkan pengaman dan melepaskan kembali, biasanya yg diapakai


jenisnya ringan dan mempunyai kekuatan tinggi dan ujungnya berfungsi mengencangkan mur
pada saat memasang hanger.
17

Chock

Chock adalah alat dalam pendakian tebing yang dimasukkan ke celah batu sehingga terjepit dan
dapat menahan berat badan dari arah tertentu.

Chock mempunyai tiga bentuk :

1. Hexa (berbentuk segi enam)

b.Stopper (berbentuk simetris)

c.Trieams (berbentuk paruh burung)

Disamping itu chock juga berfungsi sebagai alat pengaman (runners).

18

Friend
Friend adalah pengaman yg diselipkan pada celah batu dengan bermacam ukuran yang bisa
menyesuaikan bentuk dengan celah tebing. Biasanya ukurannya lebih besar dari chok, memiliki
katup pembuka

19

Sky hook

Sebagai pengaman sementara dengan prinsip kerja menyisipkan ujung sky hook pada celah
bebatuan dan harus terbebani, usahakan meminimalkan gerak.

20

Hand Drill

Satu set peralatan dalam artificial climbing yg berfungsi untuk menanamkan bolt dan kemudian
digabungkan dengan hanger sehingga menjadi pengaman tetap.
21

Bolt Hanger dan Resin Anchor

Bolt Hanger adalah pengaman tetap yang dipasang pada permukaan tebing yang telah
dilubangi/dibor, diperkuat dengan baut tebing (bolt) sedang Resin Anchor dipasang pada
permukaan tebing yang telah dilubangi dengan bor dan diperkuat dengan lem (resin glue)

22

Peding
Berfungsi untuk mengurangi gesekan yang terjadi antara alat dengan alat, atau alat dengan tebing
/ wall. Biasanya digunakan untuk pembuatan top anchor.

1. Peralatan yang harus dibawa dalam melakukan pemanjatan

1. Panjat Tebing

Peralatan yang harus dibawa ketika melakukan panjat tebing adalah seperti disebutkan dibawah
ini, jumlah disesuaikan dengan rute pemanjatan, jumlah tim pemanjatan, dan karakteristik tebing
:

1. Tali carmantel
2. Webbing (tali pita)
3. Carabinner
4. Carabiner Screw ( menggunakan kunci pengaman )
5. Carabiner Snap (tidak berkunci )
6. Carabiner automatic, merupakan gabungan dari carabiner snap dan screw
7. Harness
8. Helm
9. Sepatu Panjat
10. Chalk bag
11. Prussik
12. Sling
13. Sling Webbing
14. Sling Prussik
15. Runner
16. Belay Device :

1. Figure of 8
2. Carabiner automatic
3. Grigri
1. Etrier / Stirrup
2. Piton (paku tebing)
4. Piton blade (pisau)
5. Piton Angel (memiliki sudut)
1. Hammer (palu tebing)
2. Chock
6. Hexa (berbentuk segi enam)
7. Stopper (berbentuk simetris)
8. Trieams (berbentuk paruh burung)
1. Friend
2. Sky hook
3. Pedding

Peralatan tambahan untuk pembuatan jalur :

1. Hand Drill
2. Bolt Hanger dan Resin Anchor
3.

2. Panjat Dinding

Peralatan yang dipakai ketika akan melaksanakan panjat dinding relativ lebih sedikit seperti
berikut :

1. Tali carmantel
2. Webbing (tali pita)
3. Carabinner

 Carabiner Screw ( menggunakan kunci pengaman )


 Carabiner Snap (tidak berkunci )
 Carabiner automatic, merupakan gabungan dari carabiner snap dan screw
1. Harness
2. Helm
3. Sepatu Panjat
4. Chalk bag
5. Sling (webbing dan prusik )
6. Runner
7. Pedding
8. Belay Device :
 Figure of 8
 Carabiner automatic
 Grigri

1. Peralatan Tambahan

Dalam poin ini akan dijelaskan beberapa peralatan tambahan yang sebenarnya wajib digunakan
ketika melaksanakan pemanjatan di tebing, hanya saja dibedakan dngan peralatan wajib yang
digunakan untuk tebing itu sendiri.

Peralatan yang dibawa disesuikan dengan lama pemanjatan, jumlah tim pemanjatan, dan daerah
tebing yang akan dipanjat. Peralatan tambahan, seperti berikut :

1. Dome (Tenda)

Ketika panjat tebing dilaksanakan di daerah tebing yang jauh atau dekat dengan pemukiman
warga atau basecamp panjat. Diusahakan membawa dome (tenda) dengan jumlah disesuaikan
dengan jumlah peserta yang ikut serta dalam tim pemanjatan.
Misalnya saja, bila tim berjumlah 3 orang (karena di Gitapala sendiri peserta kegiatan yang
dianjurkan minimal 3 orang), dibutuhkan minimal 1 dome, begitu pun kelipatannya.

Lebih baik lagi apabila antara orang dan alat-alat dipisahkan domenya. 1 dome untuk anggota
pemanjatan dan 1 dome lagi untuk peralatan.

2. Carrier (tas besar)

Sebenarnya penggunaan carrier disini tidaklah wajib, akan tetapi lebih baik bila tim
menggunakan carrier untuk membawa peralatan pribadinya ataupun peralatan kelompok. Karena
dikhawatirkan ketika menggunakan daypack akan tidak maksimal peralatan yang dibawa. Isi dari
tas carrier tersebut seperti di bawah ini :

1. Sleeping Bag / hamook, disesuaikan penggunannya dengan kebutuhan. Ketika dirasa


tidak dibutuhkan tidak perlu dibawa. Namun sangat dianjurkan untuk tetap membawa
peralatan ini untuk berjaga-jaga apabila terjadi perubahan cuaca secara tiba-tiba.
2. Pakaian, pakaian disini maksudnya adalah pakaian yang melekat di badan sebagai
komponen penutup tubuh ataupun aksesoris tambahan dan pakaian ganti. Termasuk juga
di dalamnya, sepatu, sandal, topi, kacamata, syal, jaket dsb. Walaupun kegiatan outdoor
akan tetapi harus tetap menjaga kebersihan diri dan keindahan serta tetap mengikuti
norma yang berlaku di tempat tersebut. Disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing
individu.
3. Alat mandi, juga disesuaikan dengan kebutuhan pribadi setiap masing-masing individu.
Alat mandi disini dapat ditambahkan pula tisu basah ataupun tisu kering di dalamnya.
4. Kotak P3K, sangat dibutuhkan untuk melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan-
kecelakaan ringan ataupun berat. Isinya dapat diisi obatan-obatan umum (dalam dan luar)
serta dianjurkan ditambahkan obat-obat pribadi.
5. Mantel atau payung, mantel sangat diperlukan terlebih ketika musim hujan. Bukan itu
saja, mantel dapat difungsikan sebagai penutup alat-alat panjat dari panasnya sinar
matahari dan bisa juga digunakan sebagai alas pengganti matras.
6. Senter atau sumber penerangan, senter sebagai sumber penerangan satu-satunya selain
api wajib dibawa saat melakukan perjalanan outdoor, baik jauh ataupun dekat, malam
ataupun siang. Sebagai antisipasi tentunya. Dianjurkan untuk menggunakan senter
dengan daya batere, bukan charger.
7. Peralatan survival, tidak saja di gunung ataupun hutan, barang yang satu ini wajib
dibawa. Karena alam yang tidak dapat diprediksi sedetik kemudian bagaimana
kondisinya. Peralatan survival (survival kit) ini terdiri dari ; lampu cadangan, batere
cadangan, senar pancing, silet / cutter, peniti, parafin, korek api 2 jenis, kail pancing,
kertas, bolpoin (alat tulis), serta Tramontina (parang).
8. Logistik (bahan makanan), terdiri dari beras, sayur mayur, lauk pauk, mie instan, bumbu-
bumbuan, air minum, vitamin, suplemen makanan, yang disesuaikan jumlah tim
pemanjatan dan lama waktu pemanjatan.

3. Perlengkapan memasak :

Perlengkapan memasak sangat dibutuhkan, tidak saja hanya ketika di Gunung atau hutan, akan
tetapi setiap perjalanan outdoor hendaknya selalu membawa peralatan ini untuk mengolah bahan
makanan yang sudah dibawa.

Perlengkapan memasak disini, antara lain :

1. Nesting

Nesting digunakan untuk memasak air atau memasak makanan, dapat juga digunakan sebagai
pengganti piring ataupun mangkok.

1. Kompor

Kompor yang digunakan dapat berbagai jenis, tergantung kebutuhan. Akan tetapi sangat
dianjjurkan bagi tim untuk membawa tidak hanya satu jenis bahan bakar. Seperti misalnya kalau
sudah membawa kompor berbahan bakar gas, harus menambahkan kompor berbahan bakar
parafin atau spiritus di dalam checklist alatnya.

1. Bahan bakar
Bahan bakar ada beberapa macam, diantaranya adalah gas, parafin, minyak tanah, briket, dan
spiritus. Namun yang lazim kita gunakan adalah gas, , minyak tanah, parafin dan spiritus, atau
bahkan kayu kering yang sudah tidak terpakai lagi. Bahan bakar sama seperti kompor,
dianjurkan pada setiap kegiatan tim tidak hanya membawa satu jenis bahan bakar.

1. Pisau, untuk memotong bahan makanan dan bumbu-bumbuan


2. Sendok, garpu, piring, gelas, diusahakan menggunakan bahan plastik dan ringan supaya
mudah di packing dan tidak membutuhkan ruang yang besar.

4. Perlengkapan dokumentasi :
1. Alat tulis,

Alat tulis digunakan untuk mencatat waktu pelaksanaan, informasi-informasi yang didapat di
sekitar area pemanjatan, dan juga mencatat evaluasi serta briefing.

1. Camera

Camera ini cukup penting sebenarnya untuk mengabadikan moment, dan juga tempat
pemanjatan, sehingga bisa menjadi referensi bagi pemanjatan selanjutnya dan kelengkapan
dokumentasi.

5. Alat komunikasi

alat komunikasi disini bisa berbentuk macam-macam, bisa Handphone, pager, ataupun handie
talki. Untuk daerah tebing yang susah sinyal provider kartu handphone sangat diannjurkan
membawa handie talki sebagai alat komunikasi. Alat komunikasi ini wajib dibawa karena untuk
berkomunikasi dengan tim basecamp atau kantor GITAPALA ketika terjadi suatu hal-hal
tertentu, baik yang sudah direncanakan ataupun yang tidak direncanakan.
1. Prosedur Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan panjat tebing sebagai kegiatan outdoor memerlukan safety yang baik dan persiapan
yang baik pula demi keberhasilan kegiatan tersebut. Diperlukan persiapan yang matang baik
individu ataupun tim.

1. Persiapan individu meliputi :


1. Latihan, tidak ada hal yang dapat diraih secara tiba-tiba, terlebih dalam dunia
panjat tebing. Semuanya membutuhkan latihan yang rutin dan berkala, demi
mendapatkan hasil yang maksimal. Latihan yang dilakukan secara rutin dapat
meningkatkan skill, endurance, power, dan proble solving pemanjat itu sendiri
ketika mengalami kondisi-kondisi tertentu di tebing.
2. Pematanngan teknik-teknik dan materi panjat tebing, ilmu yang sebagaimana
dijelaskan oleh Tuhan tidak akan pernah habis, dan seluruh individu yangs sadar
akan hal ini dianjurkan untuk terus mengasah kemampuan dan pengetahuan
kepanjat tebingannya.
3. Mental, pembinaan mental memang terkesan absurd dan bersifat kualitatif. Akan
tetapi mental yang baik sangat mempengaruhi keberhasilan pemanjat dalam
melakukan pemanjatan.

2. Persiapan tim

Persiapan tim sangat dibutuhkan untuk membangun chemistryi antar anggota tim, demi
keberhasilan sebuah agenda pemanjatan. Meliputi koordinasi yang baik, dan upgrading materi
serta informasi terkait tebing yang akan dipanjat.

Persiapan tim sebagai salah satu unsur penunjang keberhasilann suatu pemanjatan, dijabarkan
dibawah ini :
1. Pengumpulan informasi tentang tebing yang akan dipanjat, pengumpulan informasi ini
bisa didapatkan dari internet, bertanya ke senior, ataupun OPA lain, dan juga dari forum-
forum panjat tebing yang saat ini sudah ramai di kalangan kita. Tujuannya adalah
perkiraan peralatan yang akan dibawa, akses transportasi serta perkitaan dana yang akan
dikeluarkan.
2. Survey

Selain informasi kasar berupa gambaran umum diatas. Dibutuhkan juga survey, survey dapat
dilakukan dengan sedikitnya 2 cara, yaitu dengan hanya melihat tebing yang akan dipanjat dan
mengumpulkan informasi dari warga masyarakat sekitar dan dapat juga dengan mencoba
langsung tebing tersebut apabila dibutuhkan dan dimungkinkan.

1. Koordinasi

Koordinasi yang baik meliputi pembentukan kepanitiaan kegiatan dan pembagian tugas yang
jelas bagi setiap anggota tim.

1. Teknis pemanjatan
2. Panjat dinding

Panjat dinding adalah salah satu jenis pemanjatan sport dimana media yang biasa digunakan
berupa papan kayu atau fiber yang dibentuk sedekemian rupa sesuai bentuk kerangka paanjat.
Biasanya dalam pemanjatan ini yang digunakan model top ancoring, yaitu pengaman buatan
yang dibuat di bagian atas sehingga pemanjat hanya melakukan pemanjatan tanpa harus
melakukan pengamanan diri karena sudah di back up dari ancor dan belayer.

1. Teknik pembuatan top ancor


1. Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan (tali webbing min 2, carabiner oval screw
min 4, pedding, dan juga tali kermantel
2. Menyambung tali webbing, dan pastikan tersambung denganbaik
3. Pemasangan peding di dua sisi kerangka kanan dan kiri, fungsi dari ppeding ini
adalah untuk mencegah friksi antara webbing dengan kerangka papan wall
climbing. Pastikan kerangka yang menjadi tambatan benar benar kokoh dan bisa
menahan beban pemanjat
4. Mengikatkan tali webbing tersebut pada kerangka yang telah di beri peding,
sisakan sebagian tali untuk nantinya dijadikan sebagai tambatan dari tali
kermantel
5. Pasang carabiner screw ke lubang webbing yang ada, masing-masing dua buah
hal ini untuk dijadikan sebagai cadangan bla ccarabiner yang satu rusak atau
patah.
6. Pastikan screw terkunci kembalidan posisikan screw berlawanan dengan yang
satunya.
7. Masukan tali kermatel dari lubang carabiner screw tadi, dan beri tanda untuk tali
yang akan digunakan pemanjat dengan membuat simpul 8 pada ujung talinya
8. Perikas kembai carabiner screw, dan juga tali webbing telah terpasang dengan
baik dan benar
9. Ancor siap digunakan untuk pemanjatan
2. Persiapan pemanjatan
3. Meyiapkan alat yang dibutuhkan seperti harness, chalk bag, sepatu panjat dan kaus kaki
untuk tambahan bisa gunakan runner, dan tali prusik sebagai pengaman tambahan jika
diperlukan
4. Memasang sepatu panjat, gunakan sepatu dengan nomer sepatu 1 nomor lebih kecil dari
sepatu yang biasa dipakai. Jika nomer sepatu biasanya 40, maka gunakan nomor sepatu
panjat 39. Ini untuk meminimalkan cidera dan memudahkan pemanjatan.
5. Pasang harness dan juga chalk bag dengan baik dan benar pastikan harnest terkunci
dengan benar
6. Untuk seorang belayer

Belayer disini bertugas untuk mengamankan pemanjat dari kemungkinan terjatuh sehngga
diperlukan ekstra perhatian. Selain itu belayer juga bisa mengarahkan pemanjat mengenai jalur
pemanjatan. Komunikasi yang baik antar belayer dan pemanjat menjadi kunci kesuksesan
pemanjatan.

Yang harus disiapkan seorang belayer meliputi

1. Harnest, carabiner automatic/oval screw, dan figur 8. (untuk figur 8 bisa diganti dengan
grigri )
2. Memasang harnest dengan baik dan pastikan semua terkunci, selanjutnya baru pasang
carabiner automatic/oval screw di bagian depan tengah.
3. Masukan tali kedalam lubang figur 8 dengan cara membuat loop dan memasukanya dari
bagian bawah, posisikan tangan terkuat digunakan untuk menahan tali. Setelah itu baru
masukan lubang yang kecil kedalam carabiner automatic/oval screw. Pastikan friksi yang
terjadi benar benar bisa menghambat jatuhnya pemanjat.
2. Pemanjatan sport pada tebing alam

Pemanjatan ini biasa dilakukan pada tebing alam yang telah dibuat jalur sebelumnya, dimana
pada tebing tersebut sudah terpasang pengaman berupa hanger ( besi berlubang yang
ditancapkan pada dinding tebing dengan mur/baut ) jarak antar hanger biasanya antara 1-2 meter
. hanger ini yang nantinya bisa digunakan pemanjat untuk beristirahat dan juga melanjutkan
pemanjatan. Jenis tebing yang baiasa digunakan dalam pemanjatan ini biasanya tidak terlalu
tinggiatau tipe crag climbing dimana pemanjat dapat menyelesaikan seorang diri.

Teknis pemanjatan sport pada tebing sebagai berikut:

1. Pembuatan top ancor

Dalam tebing alam biasanya bagian top akan dibuat pengaman ganda yang saling sejajar. Ini
yang biasa digunakan untuk top ancor. Untuk membuatnya cukup dengan memasang 2 runner
pada masing masing hanger untuk kemudian disatukan dengan tali kermantel yang kita gunakan
untuk pemanjatan.

2. Persiapan pemanjatan
Untuk persiapan pemanjatan pada tebing alam tidak jauh berbeda dengan panjat dinding hanya
saja pemanjat diharuskan membawa runner (dua carabiner yang disatukan dengan sling atau
heroloop) sesuai dengan jumlah hanger yang ada pada dinding tebing.

Baru setelah top ancor terpasang pemanjatan sama dengan pada panjat dinding. Usahakan dalam
memasang runner dan tali kermantel tidak bergesekan dengan dinding tebing untuk mencegah
terjadinya pengelupasan pada tali kermantel.

3. Persiapan belayer

Untuk belayer mengenai alat dan tugas sama dengan pada panjat dinding.

3. Pemanjatan artivicial (artivisial climbing)

Pemanjatan artivicial iniadalah salah satu pemanjatan paling beresiko karena pengaman
yang digunakan harus dibuat sendiri sehingga peralatan yang dibutuhkan sangat banyak dan
beragam. Pemanjatan ini biasa dilakukan untuk pembuatan jalur baru atau dalam rangka
ekspedisi. pemanjatan artivicial ini bisa dilakukan sendiri atau lebih dari satu orang. Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemanjatan artivicial yang dilakukan lebih dari satu
orang.

1. Persiapan pemanjatan

Dalam pemanjatan artivicial multipicth peran leader sangat penting, karena dia yang bertugas
untuk membuka jalur dan memasang pengaman untuk pemanjat berikutnya. Seorang leader harus
mempunyai pengalaman dan juga skill yang baik, baik itu dalam pemasangan pengaman ataupun
pembuatan top ancor.

Dalam pemanjatan ini semua jenis alat sebisa mungkin dibawa karena kita tidak tau alat mana
nantinya yang bisa digunakan untuk pengaman buatan tersebut. Disinilah kejelian dan
pengalaman seorang leader diutuhkan.
2. Pembuatan top ancor
1. Pilihlah tebing yang nyaman untuk dijadikan top ancor (bisa mencari teras atau
tambatan yang bisa dijadikan pijakan pohon atau celah batu yang besar )
2. Pasang pengaman menggunakan costail
3. Mencari lubang tembus, celah tebing, atau pohon/akar pohon yang kuat yang bisa
dijadikan pengaman.
4. Memerikasa apakah tebing tersebut aman cara untuk memeriksanya adalah
sebagai berikut.

 Lubang tembus : memasukan sling kemudian dibebani


 Celah tebing : dengan memasang friends, chook atau piton kemudian dibebani
 Batang pohon / akar : dengan mengikat atau dibebani langsung.
5. Setelah dirasa aman baru memasang alat yang paling tepat untuk dibuat
pengaman, baru setelah itu membuat rangkaian untuk top ancor
6. Gunakan minimal 3 pengaman yang dapat mengamankan leader untuk membelay
pemanjat yang dibawah.
7. Dalam posisi ini leader beralih fungsi menjadi belayer karena pemanjat yang
dibawah harus (ketika 2 orang) bila lebih maka pemanjat nomor dua dan
seterusanya bisa menggunakan ascender untuk menuju leader atau pemanjat
pertama, begitu sterrusnya.
8. Semua pemanjat diwajibkan menggunakan peralatan lengkap baik itu ascender
taupun alat untuk belaying. Karena disini semua bisa berposisi sebagai pemanjat
ataupun sebagai belayer. Tergantung banyaknya pemanjat.

3. Untuk belayer

Belayer pada pemanjatan artivicial ini selain mempersiapkan alat untuk membelay juga alat
untuk pemanjatan karena dia nantinya juga akan ikut memanjat.

4. Teknik cleaning
Teknik cleaning adalah teknik untuk cleaning atau mengambil kembali alat / pengaman yang
digunakan pada saat pemanjatan. Secara garis besar Teknik Cleaning dapat dibagi menjadi 2 cara
yaitu dengan cleaning bersih atau dengan clim down.

1. Cleaning bersih

Untuk melakukan cleaning bersih, persiapan yang dilakukan cukup panjang,, terutama persiapan
alat. Dan alat yang digunakan cukup banyak. Namun tingkat keamanannya relatif lebih baik
dibanding cleaning climbdown. Secara umum teknik ini digunakan untuk melakukan cleaning
dengan cara rapling menggunakan figur 8. Dalam teknik ini diperlukan 2 tali dimana tali yang
satunya digunakan sebagai rangkaian untuk rapling.

Secara teknis dapat dilakukan sebagai berikut :

1. Mempersiapkan alat untuk cleaning meliputi (tali kermantel, figur of 8, sling prusik,
carabiner oval screw, harness, carabiner non screw dan costill)
2. Membuat double simpul 8 pada tali kermantel dan mengaitkan pada sling prussik yang
akan dibawa naik ke atas.
3. Pada harness bagian depan dipasang carabinner oval screw yang sudah diberi figure of 8
dan juga dipasang costill yang sudah dikaitkan tali kermantel yang sudah diberi carabiner
snap / non screw. Pada harness bagian samping dipasang sling prussik yang sudah
dikaitkan dengan double simpul delapan tali kermantel kedua, lalu dipasangkan ke
harness dengan carabinner snap / non screw pada sling prussik tadi.
4. Setelah persiapan alat sudah siap maka cleaning siap dilakukan, pemanjat naik ke atas
dengan menggunakan line tali pertama dan membawa tali kermantel kedua untuk line
repling.
5. Setelah pemanjatan sampai pada titik tertinggi pengaman atauanchor, dilakukanlah proses
cleaning
6. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memasang costill pada runner bagian atas yang
terpasang pada hanger (pemanjatan sport) atau pada lubang tembus / anchor alami
(pemanjatan artificial).
7. Setelah itu pemanjat akan mempunyai 2 pengaman jika jatuh, pertama pengaman pada
bellayer dan kedua pengaman pada costiil yang sudah dipasang tadi.
8. Hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah memasang line kedua, yaitu dengan
memasukkan sling prussik yang sudah dikaitkan dengan tali kermantel kedua pada
hanger (pemanjatan sport) atau lubang tembus / anchor alami (pemanjatan artificial),
kemudian kancing sling prussik yang sudah mengait di hanger / anchor alami tersebut
dengan carabiner snap / non screw. Hati-hati terhadap pemasangan costill, usahakan
sambungan costill yang mempunyai bentukan lebih besar tidak ikut masuk di hanger /
anchor alami, karena akan menyebabkan sling prussik tersebut tersangkut dan
mengabitkan cleaning bersih gagal dilakukan, dan harus diulangi lagi.
9. Kemudian tali kermantel yang kedua tadi dicari ujungnya, kemudian ujung tersebut
dimasukkan ke sling prussik yang sudah terpasang pada hanger / anchor alami tadi searah
dengan carabinner snap penguncinya. Lalu ulur tali tersebut sampai sama panjangnya
satu sisi dengan sisi yang lain (sampai kira-kira menyentuh bawah).
10. Setelah itu pasang tali kermantel kedua tadi pada figure of 8 seperti pengesetan pada
bellayer. Tali yang dipasang adalah tali yang mengunci sling prussik yang terpasang di
hanger / anchor alami tadi. Lalu tali yang sudah terpasang di figure of 8 tadi dipasang
pada carabinner oval screw yang terpasang pada harness beserta figure of 8 nya (seperti
pengesetan pada bellayer).
11. Jangan lupa untuk melepaskan carabinner snap pengunci sling prussing yang terpasang
pada hanger / anchor alami.
12. Lalu siapkan posisi seperti posisi akan melakukan reppeling, dan jangan lupa untuk
mengunci line tali yang digunakan turun dengan menguncikan pada figure of 8 dan
carabinner oval screw nya, usahakan double atau 2x, supaya tingkat keamanannya
maksimal. Usahakan posisinya lebih dekat dengan pengaman paling atas.
13. Lepaskan costill dengan posisi tangan kanan tetap siaga seperti ketika melakukan
reppeling.
14. Lepaskan runner.
15. Buka kuncian pada line kermantel untuk digunakan reppeling. Posisi tangan adalah salah
satu tangan mengunci tali (di bagian bawah tubuh) dan satu tangan yang lain digunakan
untuk membuka kuncian.
16. Reppeling bisa dilakukan.
17. Lepaskan runner / pengaman-pengaman yang ada di bawahnya. Bisa dengan mengunci
line seperti cara diatas tadi, bisa juga tidak perlu mengunci line apabila dirasa sudah
cukup aman. Usahakan melepaskan runer atau pengaman-pengaman yang terpasang tadi
dengan satu tangan, kalaupun tidak bisa berarti harus dikunci dulu line nya dan kemudian
memasang costill supaya lebih leluasa (biasanya terjadi pada pengaman sisip yang sulit
untuk dilepaskan)
18. Setelah sampai di bawah, tarik salah satu tali yang merupakan lawan dari ujung tali yang
digunakan untuk reppelingan tadi (tali pengunci sling prussik), sampai ujungnya. Secara
otomatis tali kermanel beserta prussiknya akan jatuh ke bawah.

2. Cleaning climb down

Cleaning climb down, biasa dilakukan untuk pemanjat yang memiliki stamina dan endurence
yang kuat, dan biasanya dilakukan di tebing yang relatif tidak terlalu tinggi, mengingat resikonya
cukup besar (resiko jatuh / benturan dsb). Cara melakukannya relatif sangat lebih sederhana
daripada teknik cleaning bersih, dan tidak memerlukan alat tambahan lain selain alat yang
digunakan untuk memanjat.

Cara melakukan cleaning climb down secara teknis dapat dijabarkan seperi di bawah ini :

1. Memanjat seperti biasa hingga sampai pengaman tertinggi.


2. Bila lelah / kecapaian bisa memasang costill kemudian istirahat sebentar.
3. Setelah itu lepas costill lalau dilakukan pelepasan pengaman dengan satu tangan, karna
tangan yang lain digunakan untuk mencengkeram tebing. Pada posisi ini siapkan diri
untuk kemungkinan jatuh sampai ke pengaman di bawahnya (biasanya tidak lebih dari 3
m)
4. Untuk pengaman yang susah dilepaskan seperti pengaman sisip, maka bisa dipasang
costill untuk mempermudah kerja (dapat menggunakan 2 tangan).
5. Begitu seterusnya dilakukan sampai ke pengaman terakhir, pastikan tidak ada pengaman
yang tertinggal atau terjatuh.

BAB III

FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU DIPERHATIKAN

1. Bahaya dalam melakukan kegiatan Panjat Tebing

Resiko setiap saat dapat menghampiri setiap pelaku kegiatan outdoor, meskipun sudah
melakukan segala prosedur seperti yang ditentukan. Namanya alam, tidak dapat benar-benar
diprediksi bagaimana alam itu akan memperlakukan pencintanya (dalam hal ini penggiat).

Beberapa bahaya yang dapat terjadi ketika melakukan kegiatan Panjat Tebing seperti berikut ini
:

1. Pemasangann alat yang tidak benar :

Pemasangan alat harus disesuaikan dengan fungsi dan caranya, serta tingkat keamanannya.
Pemasangan alat yang tidak benar sangat beresiko tehadap keselamatan pemanjat. Seperti
misalnya,

1. Harness yang tidak terkancing dengan baik, harness memiliki pengunci yang disebut
danger. Bagian ini sangat penting untuk diperhatikan sebelum melakukan pemanjatan,
baik itu di tebing ataupun di wall sekalipun. karena apabila hal ini tidak diindahkan bisa
fatal akibatnya. Pemanjat bisa jatuh bebas ke tanah, tertekuk badannya, terbalik posisi
jatuh sehingga terantuk ke tebing / wall dst.
2. Pelindung kepala yang satu ini harus memenuhi standar yang pasti yaitu pas di kepala,
keras sehingga tahan terhadap benturan dan ringan untuk mempermudah melakukan
pergerakan. Helm yang terlalu longgar / sempit dan tidak mempunyai tali pengikat sangat
tidak dianjurkan untuk digunakan.
3. Pengaman, pengaman sisip seerti chock dan piton juga pengaman sementara seperti
skyhook adalah pengaman buatan sementara yang kadang-kadang memiliki peranan yang
vital ketika terjadi kecelakaan dalam melakukan pemanjatan.

Pemasangannya yang kurang mantap, dan tidak sesuai dengan fungsi dan bentukan tebing hanya
akan menahan pemanjat sementara. Untuk kemudian pemanjat akan jatuh karena sudah berpikir
pengaman ini aman padahal belum. Ketika alat ini jatuh, tidak hanya memberikan efek yang
tidak baik bagi pemanjat, tetapi juga bagi orang lain yang berada di sekitar area pemanjatan.

Pengaman lain seperti runner juga harus diperhatikan, dipastikan sudah berbunyi klik maka
tingkat keamanannya maksimal.

1. Friksi, alat yang tidak dipasang dengan baik kadang-kadang menimbulkan friksi.
Bisaanya friksi ini terjadi pada tali dengan tebing. Friksi atau gesekan sedikit atau banyak
merupakan hal yang harus dihindari oleh pemanjat, utamanya bagi pembuat jalur. Karena
peralatan yang dipakai sangat kuat, tetapi juga rentan bila tidak benar pemakaiannya
maka hal-hal semacam ini harus diperhatikan.

2. Pemilihan Anchor alam yang tidak benar.

Pemilihan anchor alami seperti pohon, akar dan lubang tembus perlu diperhatikan. Ada beberapa
cara yang dapat digunakan pemanjat untuk memastikan tingkat keamanan suatu anchor alam.

 Untuk pohon atau akar, cara memastikan keamanannya adalah memilih pohon yang
masih hidup, jangan memilih pohon atau akar yang sudah mati. Pilih pohon atau akar
yang lentur, dan kayunya tidak rapuh, serta akarnya menghujam mantap di tebing.
 Untuk lubang tembus diketuk dahulu menggunakan hammer, pilih bagian tebing yang
apabila diketuk suaranya tidak nyaring, apabila diketuk suaranya tidak nyaring artinya
bagian tebing tersebut memiliki tinngkat kepadatan yang baik, sebaliknya apabila
suaranya nyaring maka tingkat keamanannya rendah, artinya bagian tebing tersebut
sangat kering dan berpotensi lemah untuk digunakan sebagai anchor. Langkah
selanjutnya adalah mengeceknya dengan menggunakan sling, atau sky hook, digoyang-
goyangkan ke segala arah apabila tidak ada tanda-tanda kerapuhan pada lubang tersebut,
maka lubang tembus tersebut siap untuk digunakan sebagai tambatan pengaman.

3. Cidera / kecelakaan (Luka pada bagian tubuh)

1. Luka ringan :
1. Terkilir / memar

Terkilir atau memar bisa saja terjadi pada otot manapun juga, biasanya terjadi karena pemanjat
kurang memperhatikan pemanasan secara serius.

2. Lecet

Luka lecet, atau luka luar sangat biasa ditemukan ketika melakukan kegiatan panjat tebing.
Karena dibutuhkan keberanian, bahkan seringkali kenekatan, kadang-kadang pemanjat harus
mengambil resiko ini demi keberhasilan suatu pemanjatan. Luka lecet ini biasa terjadi karena
gesekan dengan tebing, dengan wall, dengan alat dan lain-lain.

1. Luka berat
1. Patah tulang

Luka yang cukup berat adalah patah tulang, penyebab patah tulang sendiri bisa karena benturan,
jatuh, atau tertimpa sesuatu dari atas. Untuk mengurangi resiko yang fatal ini diharapkan bagi
setiap pemanjat untuk memperhatikan peralatan yang digunakan serta etika dan sikap
pemanjatan.

2. Pendarahan
pendarahan bisa saja terjadi kepada pemanjat ketika sedang melakukan pemanjatan. Biasanya di
daerah kepala karena benturan atau baretan di kulit.

1. Pencegahan yang dilakukan :

1. Berdoa

Sebenarnya hal ini adalah wajib dilakukaan, termasuk dalam poin pencegahan dan prosedur
kegiatan. Dalam melakukan sebuah usaha, tidak dipungkiri ada kekuatan lain yang selalu
menjaga setiap manusia berjalan pada trek yang benar. Yaitu kekuatan Tuhan. Sebagai manusia
Indonesia yang menganut ideologi Pancasila dan beriman, maka doa adalah faktor yang penting
dalam setiap keberhasilan. Tanpa berdoa, orang dikatakan sombong, bahkan inkar. Dalam dunia
panjat tebing hal tersebut diaplikasikan, seperti tertera dalam sebuah pepatah kuno “Tuhan selalu
bersama orang-orang yang pemberani”.

2. Latihan

Melakukan latihan untuk meningkatkan kemampuan memajat seperti menuangkan bumbu pada
sup. Tidak ada suatu keberhasilan yang tidak membutuhkan kerja keras. Termasuk di dalamnya
latihan, rutin ataupun tidak, sering ataupun jarang. Namun kemampuan dasar ada baiknya bila
terus diasah dengan latihan yang baik dan benar.

3. Meningkatkan pengetahuan tentang tebing yang akan dipanjat

Selain faktor-faktor yang ada di dalam diri pemanjat, faktor seperti ini sangat penting untuk
diperhatikan. Tidak mungkin seseorang yang tidak tahu medan, akan berhgasil ketika melakukan
kegiatan di medan tersebut. Untuk itu meningkatkan pengetahuan terhadap hal-hal penting
seperti ini wajib untuk dilakukan.

4. Pemanasan

Pemanasan sangat diperlukan untuk mempersiapkan otot dan tubuh sebelum pemanjatan
dilakukan.

5. Meningkatkan pengetahuan pengguanaan alat

Tidak mungkin seorang pemanjat dapat tiba-tiba menjadi bisa dan berhasil dalam melakukan
pemanjatan. Kecuali dalam dunia dongen, hal ini mustahil dilakukan bila tanpa pengetahuan.
Untuk itu, meningkatkan pengetahuan tentang alat dan penggunaannya sama kedudukannya
dengan usaha pemanjatan itu sendiri.

6. Menggunakan alat sesuai fungsinya

Alat-alat panjat berfungsi sangat baik untuk keselamatan pemanjat, akan tetapi apabila
penggunaan alat tersebut tidak tepat sesuai fungsinya maka tingkat keamanannya akan berkurang
atau bahkan tidak ada.

7. Menaati sikap dan etika pemanjat

Kadang-kadang apabila sudah larut dalam memanjat, karena senang atau lupa pemanjat sering
tidak mengindahkan etika dan sikap yang seharusnya ada pada diri pemanjat. Hal tersebut bisa
mengakibatkan kecerobohan dan menghasilkan sesuatu yang buruk yang tentu saja tidak
diinginkan.
1. Pertolongan pertama ketika terjadi kecelakaan

Jika terjadi kecelakaan, tentu saja hal tersebut adalah buruk dan tidak diinginkan bagi setiap
agenda pemanjatan. Akan tetapi jika hal tersebut terjadi maka seluruh anggota tim harus siap
untuk menghadapinya. Dalam prinsip penanganan kecelakaan yang harus diperhatikan adalah
penolong tidak boleh menjadi korban selanjutnya, dengan kata lain penolong yang diharapkan
mampu mengatasi masalah ini harus cekatan dan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam tindakan pertolongan pertama :

1. Memindahkan korban ke tempat yang aman.

Memindahkan korban ke tempat yang aman ini wajib dilakukan, supaya korban dan penolong
tidak mendapatkan ancaman kecelakan berikutnya.

2. Segera melakukan tindakan pertolongan

Syaratnya adalah tidak boleh gegabah, tangkas, cepat dan tepat dalam melakukan tindakan
pertolongan pertama ini. Pastikan korban merasa aman dan nyaman dengan pertolongan yang
kita lakukan. Kondisi psikologis korban juga harus diperhatikan sedemikian rupa. Biarkan
korban rileks terlebih dahulu dengan mengatakan hal-hal yang baik dan menentramkan, atau
memberikan minuman hangat.

3. Memberikan obat luka yang tepat

Dalam melakukan tindakan pertolongan harus tepat dalam memberikan obat luka.
1. Untuk luka ringan seperti lecet dibersihkan dulu lukanya, kemudian diberi alkohol
penyeteril luka, obat merah, dan kassa dan plester luka untuk menutup luka korban.
2. Untuk luka ringan lain seperti terkilir, bagian luka tidak boleh ditekuk, harus diluruskan,
dan jangan dipijat, karena salah memijat luka terkilir akan menyebabkan luka semakin
parah dan fatal akibatnya. Lebih baik untuk memberikan balsem otot kepada korban, dan
melakukan pembalutan agar luka tidak bertambah parah.
3. Untuk luka berat, seperti patah tulang termasuk luka yang serius, dan perlu untuk segera
diatasi. Pastikan pembidaian dilakukan dengan benar, pembidaian biasa dilakukan
dengan meletakkan bidai di daerah dua persendian, hal ini dilakukan untuk
meminimalisir akibat fatal yang bisa saja terjadi.
4. Untuk luka berat lain, seperti pendarahan. Hal yang harus dilakukan adalah
membersihkan luka, dan menghentikan sumber pendarahan dengan menekan sekitar area
pendarahan dengan mengikatkan mitela atau perban. Kemudian tutup luka tersebut
dengan pembalut luka, kassa dan plester luka.

https://gitapala.tp.ugm.ac.id/2014/09/19/standar-operasional-prosedur-divisi-panjat/

DEFINISI
Panjat tebing atau istilah asingnya dikenal dengan Rock Climbing merupakan salah satu dari
sekian banyak olah raga alam bebas dan merupakan salah satu bagian dari mendaki gunung yang
tidak bisa dilakukan dengan cara berjalan kaki melainkan harus menggunakan peralatan dan
teknik-teknik tertentu untuk bisa melewatinya. Pada umumnya panjat tebing dilakukan pada
daerah yang berkontur batuan tebing dengan sudut kemiringan mencapai lebih dari 45o dan
mempunyai tingkat kesulitan tertentu.

Pada dasarnya olah raga panjat tebing adalah suatu olah raga yang mengutamakan kelenturan,
kekuatan / daya tahan tubuh, kecerdikan, kerja sama team serta ketrampilan dan pengalaman
setiap individu untuk menyiasati tebing itu sendiri. Dalam menambah ketinggian dengan
memanfaatkan cacat batuan maupun rekahan / celah yang terdapat ditebing tersebut serta
pemanfaatan peralatan yang efektif dan efisien untuk mencapai puncak pemanjatan
Pada awalnya panjat tebing merupakan olah raga yang bersifat petualangan murni dan sedikit
sekali memiliki peraturan yang jelas, seiring dengan berkembangnya olah raga itu sendiri dari
waktu kewaktu telah ada bentuk dan standart baku dalam aktifitas dalam panjat tebing yang
diikuti oleh penggiat panjat tebing. Banyaknya tuntutan tentang perkembangan olah raga ini
memberi alternatif yang lain dari unsur petualangan itu sendiri. Dengan lebih mengedepankan
unsur olah raga murni (sport)

SISTEM PEMANJATAN
System pemanjatan dibagi menjadi dua :

* Himalayan system
Pemanjatan system Himalayan ini adalah pemanjatan yang dilakukan dengan cara terhubungnya
antara titik start (ground) dengan pitch / terminal terakhir pemanjatan, hubungan antara titik start
dengan pitch adalah menggunakan tali transport, dimana tali tersebut adalah berfungsi supaya
hubungan antara team pemanjat dengan team yang dibawah dapat terus berlangsung tali transport
ini berfungsi juga sebagai lintasan pergantian team pemanjat juga sebagai jlur suplai peralatan
ataupun yang lainnya

* Alpen system
Lain halnya dengan system diatas, jadi antara titik start dengan pitch terakhir sama sekali tidak
terhubung dengan tali transpot, sehingga jalur pemanjatan adalah sebagai jalur perjalanan yang
tidak akan dilewati kembali oleh team yang dibawah. Maka pemanjatan dengan system ini benar-
benar harus matang perencanaanya karena semua kebutuhan yang mendukung dalam pemanjatan
tersubut harus dibawa pada saat itu juga.
1. LEADER
a. Langkah - langkah awal untuk peletakan peralatan.
- Piton dijadikan satu dalam sebuah carabiner non screw sesuai dengan jenis piton dan diletakkan
di samping harnest.
- Untuk peralatan lainnya dijadikan satu (friend, chock stopper,cholk hexentrik) dalam sebuah
carabiner non screw sesuai dengan jenisnya dan diletakkan disamping harnest.
- Sling diselempangkan di badan.
- Hammer, untuk peletakan hammer pada harnest, bagian pangkal hammer menggunakan
carabiner screw dan di ikatkan sling atau tali prussik dengan panjang kurang lebih 1 M pada
harnest, sedangkan pada bagian atas hammer diberi carabiner non screw untuk menggantungkan
hammer di samping harnest.
- Stirup, bagian atas stirup memakai carabiner non screw dan di letakkan pada samping harnest.
- Cowstail sebanyak 2 buah dipasangkan pada harnest bagian depan dan pada kedua ujung
cowstail diberi carabiner non screw.
b. Setelah selesai memasang peralatan.
Pemanjat pertama menggunakan ujung tali utama yang di ikatkan pada harnest bagian depan
sebagai tali pengaman utama dan menggunakan simpul delapan tanpa menggunakan carabiner,
serta memasang tali transfer pada bagian belakang harnest dengan menggunakan simpul delapan.
pemanjat pertama memanjat dan memasang pengaman dan menggunakan salah satu teknik
pemakaian tali di atas teknik twin, double atau single-rope tehnique, lalu pemanjatan siap
dilaksanakan.

2. BELAYER
Belayer pada double, twin-rope tehnique dan single rope tehnique
Belayer memakai harnest lalu memasang carabiner screw dan figure of eight, kemudian ke dua
tali di pasangkan ke figur of eight pada bagian depan harnest. Ada hal yang harus di ingat
sebelum ke dua tali di pasangkan pada figur of eight yaitu kedua tali tersebut di pisahkan dengan
cara mengurai dan memisahkan kedua tali secara terpisah agar tali tidak sampai kusut, baik antar
tali atau pada bagian tali itu sendiri. (Teknik ini digunakan untuk double dan twin-rope tehnique)
untuk single rope tehnique talinya di uraikan Selanjutnya harnest bagian belakang di ikatkan
dengan cara mengikatkan ujung webbing ke bagian belakang harnest dan bagian pangkal
webbing di pasang ke pengaman, fungsi pentingnya sebagai pengaman belay bila si pemanjat
jatuh maka belayer tertahan oleh pengaman yang dipasang pada bagian belakang tadi.
Setelah pemasangan diatas selesai pemanjatan dapat dimulai, Leader mulai langsung memasang
pengaman pertama, pengaman kedua dan pengaman seterusnya dengan posisi tali tidak boleh zig
zag karena akan menyebabakan tali lebih panjang terulur dan juga beban hentakan pengaman
tersebut akan lebih besar diterima, untuk menghindari hal tersebut maka panjang sling dari
pengaman tersebut di sesuaikan agar posisi talinya tetap lurus .setelah sampai pada sebuah pitch
atau ketinggian yang di inginkan, Hanging belay, untuk lokasi, belayer harus mempunyai syarat :
Tempat pemasangan pengaman yang baik dan mencari teras untuk belayer itu sendiri agar dapat
leluasa dan tidak bosan
1. Belayer juga mencoba mencari tempat di mana belayer sendiri dapat melihat si pemanjat dan
si pemanjat dapat melihat si belayer.
2. Belayer sendiri menjaga mata dari jatuhnya batuan dari atas dan bila batu yang jatuhnya
sangat berbahaya kamu harus menggunakan helm atau meletakkan tas di atas kamu.
3. Antara belayer dan si pemanjat harus saling berkomunikasi untuk mengetahui posisi dan
keadaan dan juga menjaga kalau lagi ada kendala di antara keduanya.
Setelah melakukan itu semua, leader kemudian memasang minimal dua pengaman yang benar-
benar dapat menahan beban barang dan semua pemanjat, untuk pengaman pertama ini
menggunakan carabiner screw dan membuat simpul pangkal pada tali utama lalu memasang
pengaman kedua carabiner yang di gunakan carabiner screw dan membuat simpul delapan pada
sisa tali utama yang panjang dan satu pengaman lagi menggunakan carabiner bebas untuk alur
tali agar posisi yang membelay tetap ke atas, setelah itu memasang sisa tali utama yang panjang
pada figur of eight kemudian siap membelay pemanjat yang tadinya menjadi belayer dimana
sebelum melakukan pemanjatan memasang carabiner screw di bagian depan harnest lalu
membuat simpul delapan ganda untuk dipasang pada carabiner tersebut dan pemanjatan siap
dilakukan dengan memberi tanda kepada belayer dan leader pun siap membelay pemanjat ke
dua, setelah itu orang kedua dengan di belay oleh leader tadi memanjat dengan melewati
pengaman yang di pasang leader.
Setelah selesai membelay, pemanjat kedua melakukan pemanjatan dengan melewati pengaman
yang di pasang dengan dibelay oleh leader, setelah tiba pada posisi belayer tadi berada maka,
pemanjat tadi langsung membuat simpul sesuai dengan simpul pada pengaman pertama,
pengaman kedua yang di pasang dan untuk peletakan simpul dan carabiner yang di gunakan pada
posisi sama dengan belayer.

3. RECORDING
Bekerja sebagai pencatat segala kegiatan yang di lakukan oleh team dan catatan itu di sertai
waktunya, juga tidak lupa mencatat apa saja alat yang sudah di gunakan oleh leader dan juga
bertugas mencatat semua alat yang sudah di cleaning. Agar tidak terjadi hal yang tidak di
inginkan

4. CLEANING
Alat yang di pasang pada harnest :
a. Hammer : untuk melepaskan pengaman piton.
Hammer, untuk peletakan hammer pada harnest, bagian pangkal hammer menggunakan
carabiner screw dan diikatkan sling atau tali prussik dengan panjang kurang lebih 1 M pada
harnest, sedangkan pada bagian atas hammer diberi carabiner non screw untuk menggantungkan
hammer di samping harnest.
b. Chocker : untuk melepaskan pengaman sisip/chock
Chocker, untuk peletakkan pada harnest sama dengan cara peletakan hammer pada harnest.
Setelah semua selesai, cleaner melakukan pemanjatan sambil mengambil pengaman yang
dipasang oleh leader tadi sampai cleaner berada pada posisi belayer kemudian memasang simpul
,carabiner dan peletakannya sama dengan posisi belayer tadi.
c. Jumar : alat untuk melakukan ascending.
Adalah alat bantu untuk untuk naik melalui tali kernamantel.
>>Dilihat dari bentuk penggunaan peralatan panjat tebing terbagi menjadi 2 kelompok besar :

# Artificial climbing :
Merupakan pemanjatan yang mana didalam pergerakannya sepenuhnya didukung oleh alat dan
pemanjat tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan alat tersebut. Peralatan selain sebagai
pengaman juga sebagai tumpuan untuk menambah ketinggian dalam melakukan pemanjatan
tersebut. Perlu diingat bahwasannya untuk dapat bergerak cepat dan aman dalam melakukan
pemanjatan bukan disebabkan karena adanya peralatan yang super modern melainkan lebih
diutamakan pada penggunaan teknik yang baik.

# Free climbing :
Adalah pemenajatan yang mengunakan alat hanya semata-mata untuk menambah ketinggian dan
alat berfungsi sebagai pengaman saja tetapi tidak mempengaruhi gerak dari pemanjat. Walaupun
dalam pemanjatan tipe ini pemanjat diamankan oleh seorang belayer namun pengaman yang baik
adalah diri sendiri.

Sedangkan untuk pengembangan dari jenis pemanjatan free climbing itu sendiri dibagi menjadi
dua yaitu :
- Top rope : pemanjatan dimana tali pemanjatan sudah terpasang sebelumnya
- Solo : pemanjatan yang dilakukan seorang diri dengan merangkap fungsi sebagai Leade,
Cleaner dan Belayer.
Sedangkan solo sendiri juga dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu :
a. Solo artificial climbing
b. Solo free climbing

>>Berdasarkan sistem belay / fall protection, panjat tebing terbagi dalam beberapa ketegori :

• Gym Climbing

Pada tipe ini, belayer ada di bawah ( ground ) dengan tali dibelokan oleh sistem anchor (pullay
atau carabiner) diatas climber. Jika climber jatuh maka berat climber tadi akan dibelokan oleh
sistem anchor yang lalu ditahan oleh belayer.

• Top Roping

Pada tipe ini, belayer ada di atas ( top ) yang melakukan belay terhadap tali yang menuju climber
ke bawah. Untuk mengurangi beban yang ditahan belayer ketika climber jatuh, biasanya dibuat
sistem pengaman pembantu (pembelokan atau pengalihan beban).

• Lead Climbing

Pada tipe ini, tali tidak menjulur ke jangkar pengaman di puncak tebing melainkan dari belayer
langsung ke climber . Pada saat climber mulai memanjat, belayer mengulurkan tali, kemudian
pada interval ketinggian tertentu (misalnya setiap 3 meter) climber terus memasang alat
pengaman, jika dia jatuh maka belayer akan mengunci tali pengaman dan climber akan
menggantung pada tali yang mengulur keatas ke alat pengaman terakhir yang dia pasang.
Terbagi 2 :

• Sport Climbing
Adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor olahraganya. Pemanjatan
dipandang seperti halnya olahraga yang lain, yaitu untuk menjaga kesehatan. Pada Sport
climbing rute yang dipanjat umumya telah bolted (pada interval ketinggian tertentu ada hanger
pada dinding tebing).

• Traditional / Trad / Adventure Climbing

Adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor petualangan. Pada Trad Climbing ,
dinding tebing bersih dari bolts dan hangers, tidak ada pengaman buatan yang dipasang pada
dinding. Biasanya dilakukan oleh dua orang. Climber harus membawa alat pengaman sendiri dan
memasangnya pada saat memanjat. Ketika tali sudah hampir habis Leader membuat stasiun
belay untuk membelay Climber kedua. Climber yang sebelumnya membelay pemanjat pertama
mulai memanjat tebing dan membersihkan (mengambil kembali) alat pengaman yang dipasang
di dinding tebing oleh pemanjat pertama.

TEKNIK DASAR PANJAT TEBING


Seorang pemanjat harus bisa memahami tebing yang akan dipanjat, bagaimana kontur tebing
tersebut, apa saja peralatan yang nantinya akan dipergunakan, dan kalau bisa tahu secara detail
bagaimana bentuk pegangan dan celah-celah yang ada pada tebing tersebut yang paling utama
pemanjat harus bisa menentukan jalur pemanjatan, cara pemasangan dan penggunaan peralatan
yang benar, hal itu akan menjadi safety standart prosedur dalam pemanjatan sehingga menjadi
support tambahan bagi kesuksesan dalam melakukan pemanjatan.
Teknik pemanjatan dikelompokkan sesuai bagian dengan tebing yang dimanfaatkan untuk
memperoleh gaya tumpuan dan pegangan, yaitu :
a. Face Climbing
Yaitu memanjat pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan atau rongga yang
memadai sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan

b. Friction / Slab Climbing


Teknik ini hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu

c. Fissure Climbing
Teknik ini memanfaatkan celah yang digunakan oleh anggota badan yang seolah-olah berfungsi
sebagai pasak

>>Dengan cara demikian dan beberapa pengembangan, dikenal teknik-teknik berikut ;

a. Jamming
Teknik memanjat dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu lebar. Jari-jari tangan, kaki atau
tangan dapat dimasukkan / diselipkan pada celah sehingga seolah-olah menyerupai pasak

b. Chimneying
Teknik memanjat celah vertical yang cukup besar. Badan masuk diantara celah dan punggung
menempel disalah satu sisi tebing. Sebelah kaki menempel pada sisi tebing depan, dan sebelah
lagi menempel ke sisi tebing belakang. Kedua tangan diletakkan menempel pula dan membantu
mendorong serta membantu menahan berat badan.

c. Bridging
Teknik memanjat pada celah vertikal yang lebih besar (gullies). Caranya dengan menggunakan
kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada kedua celah tersebut. Posisi badan mengangkang
kaki sebagai tumpuan dibantu juga tangan sebagai penjaga keseimbangan.

d. Lay back
Teknik memanjat pada celah vertical dengan menggunakan tangan dan kaki. Pada teknik ini jari
tangan mengait tepi celah tersebut dengan punggung miring sedemikian rupa untuk
menempatkan kedua kaki mendorong kedepan dan kemudian bergerak naik silih berganti.

e. Hand traverse
Teknik memanjat pada tebing dengan gerak menyamping (horizontal). Hal ini dilakukan bila
pegangan yang ideal sangat minim dan untuk memanjat vertukal sudah tidak memungkinkan
lagi. Teknik ini sangat rawan, dan banyak memakan tenaga karena seluruh berat badan tertumpu
pada tangan, sedapat mungkin pegangan tangan dibantu dengan pijakan kaki (ujung kaki) agar
berat badan dapat terbagi lebih rata.

f. Mantelself
Teknik memanjat tonjolan-tonjolan (teras-teras kecil) yang letaknya agak tinggi namun cukup
besar untuk diandalkan untuk tempat brdiri selanjutnya. Kedua tangan dgunakan untuk menarik
berat badan dibantu dengan pergerakan kaki. Bila tonjolan-tonjolan tersebut setinggi paha atau
dada maka posisi tangan berubah dari menarik menjadi menekan untuk mengngkat berat badan
yang dibantu dengan dorongan kaki.
Sebagaimana panjat tebing ialah memanfaatkan cacat batuan untuk menambah ketinggian
sehingga seorang pemanjat dituntut berani, teliti dan terampil juga dalam kemampuan berfikir
yang tepat dalam bertindak dengan keadaan yang terbatas untuk membuat keputusan menyiasati
dan memecahkan permasalahan yang dihadapi secara tepat, cepat dan aman.

PROSEDUR PEMANJATAN
Tahapan-tahapan dalam pemanjatan hendaknya dimulai dari langkah-langkh sebagai berikut :
a. mengamati lintasan dan memikirkan teknik yang akan dicapai.
b. Menyiapkan peralatan yang akan dibutuhkan
c. Untuk Leader, perlengkapan teknis diatur sedemikian rupa agar mudah untuk diambil /
memilih dan tidak mengganggu gerakan. Tugas dari Leader sendiri adalah membuat lintasan
yang akan dilaluinya dan pemanjat berikutnya.
d. Untuk Belayer, memasang ancor dan merapikan alat-alat. Tugasnya adalah membantu Leader
baik dengan aba-aba maupun dengan tali yang dipakai Leader, Belayer juga bertugas
mengamankan Belayer dari resiko jatuh atau yang lainnya, dengan langkah awal yaitu meneliti
penganman yang dipakai Leader.
e. Bila belayer dan Leader telah siap melakukan pemanjatan, segera memberi aba-aba
pemanjatan
f. Bila Leader sampai ketinggian 1 pitch (tali habis) ian harus memasang ancor.
g. Leader yang sudah memasang ancor diatas, selanjutnya berfungsi sebagai Belayer untuk
mengamankan pemenjat berikutnya.

PERALATAN PANJAT TEBING


Adapun jenis-jenis peralatan yang biasa digunakan untuk panjat tebing adalah :
1) Tali Karmantel
Tali dibagi 2 macam Tali serat alam (tali dadung) dan Tali serat sintetis.
Tali serat sintetis menjadi dibagi 2 yaitu
a. Tali Hawserlaid (terbuat dari nilon)
b. Tali Kern mantel, tali ini dibagi 2 bagian yaitu bagian mantel biasanya bagian ini terbuat dari
kain khusus dan bagian inti yang umumnya bagian ini terbuat dari serabut-serabut nilon.
Tali kern mantel ada 3 jenis yaitu:
a. Dinamis, tali ini lentur dengan daya regang sekitar 30 % biasa digunakan untuk climbimg
b. Statis, tali ini kurang lentur dan daya regang sekitar 15% biasa digunakan untuk rappelling.
c. Semi, daya regang antara dinamis dan statis dapat digunakan untuk climbing maupun
rappelling.

2) Carabiner
Carabiner adalah pengaman pemanjat berupa cincin kail yang meyambungkan raner dengan
badan climber yang dipasang pada harness.

Bahan-bahan carabiner:

a. Besi Baja
b. Campuran alumunium
Jenis pinti carabiner:

a.Memakai kunci (screw gate,), carabiner jenis ini lebih aman tapi sulit untuk dipasang atau
dilepas
b.Tanpa kunci, carabiner ini lebih mudah untuk dipasang dan dilepas tapi keamanannya tidak
seperti carabiner screw gate.

3) Harnes Yaitu pengaman yang dipakai oleh climber. Jenisnya yaitu:


-sit harness
-full boby (body harness)

4) SlinkSlink yaitu tali penggabung carabiner


Slink ada 2 macam yaitu:
a slink pita dapat digunakan untuk menyambung carabiner
b.slink prusik

5) Raner
Raner digunakan oleh pendaki untuk menghubungkan tali untuk jangkar baut, atau untuk
perlindungan tradisional lainnya, yang memungkinkan tali bergerak melalui sistem penahan
dengan gesekan minimal. QuickDraw terdiri dari dua non-penguncian carabiner terhubung
bersama-sama oleh loop, pendek sebelum dijahit anyaman. Atau, dan cukup teratur, anyaman
pra-dijahit digantikan oleh sling dari anyaman di atas Dyneema / nilon. Hal ini biasanya dari
sebuah loop cm 60 dan dapat meningkat tiga kali lipat antara carabiner untuk membentuk loop
cm 20. Kemudian ketika panjang lebih lanjut diperlukan sling dapat dikembalikan kembali ke
dalam lingkaran 60 cm menawarkan fleksibilitas lebih dari loop sebelum dijahit. Carabiner
digunakan untuk kliping ke dalam perlindungan umumnya memiliki gerbang lurus, mengurangi
kemungkinan carabiner sengaja unclipping dari perlindungan. Para carabiner ke tali yang
terpotong sering memiliki gerbang membungkuk, sehingga kliping tali ke carabiner ini dapat
dilakukan dengan cepat dan mudah.

6)Sepatu Panjat
Sepatu panjat biasanya terbuat dari karet mentah, bagian depan dari sepatu panjat ini lebih keras
agar kaki climber tidak sakit.

7) Webing
Webing biasanya digunakan untuk pengaman badan climber pengganti harness yang umumnya
terbuat dari nilon.
Kapasitas menahannya sekitar 4000 pon dan kekuatan menahannya tergantung dari simpulnya.

8). Piton
Piton biasanya digunakan pada saat memanjat tebing alam fungsinya sebagai pengaman
pemanjatan pengganti raner yang digunakan pada bongkahan-bongkahan batu. Ada dua tipe
yaitu piton bilah /pasak , piton siku. Bahannya dari baja kromoli

9) Chook
Cok bermacam-macam bentuknya, diantaranya bentuk persegi empat (Interlaph) dan persegi
enam (Exentric). Bentuk segi empat panjangnya dari ½ cm-1 ½ cm dipasang pada bongkahan-
bongkahan tebing, segienam ukuran panjangnya 2cm-5cm. Tali cok terbuat dari baja.
Keuntungan menggunakan cok sebagai raner pada bongkahan-bongkahan batu ditebing adalah
dapat dilepas kembali dengan menggunakan alat pembukanya.

10) Figure of eight Digunakan pada biley/ rappelin


Ini adalah aluminium (atau kadang-kadang baja) "8" perangkat berbentuk, tapi datang dalam
beberapa varietas. Keuntungan utama adalah pembuangan panas yang efisien. Sebuah persegi
delapan, digunakan dalam aplikasi penyelamatan, lebih baik untuk rappelling dari 8 tradisional.
Sebuah angka delapan descender.

11) Glops
Sarung tangan yang biasa dipakai oleh biley/ rappeling untuk menghindari gesekan langsung ke
tali.

12) Helmet
Helmet digunakan sebagai pelindung kepala climber

13)Chalk Bag
Digunakan sebagai pengemas chock(magnesium) yang fungsinya untuk tangan dan kaki agar
tidak licin ssat memanjat.

14) Stik Plan


Digunakan sebagai discander untuk menuruni tebing umumnya terbuat dari alumunium

15) Rock Bandering


Pada zaman dahulu sering digunakan untuk mengemas peralatan panjat, tapi sekarang sudah
tidak dipakai karena telah ditemukan harness untuk membawa peralatan panjat.

16)Ascander
Ascander digunakan untuk naik diudara(bukan pada tebing) dapat juga digunakan untuk menaiki
tebing yang posisinya vertical.

1 7)Discander
Discander digunakan untuk turun dengan menggunakan tali bukan pada tebing.

18) Pulley
Pulley digunakan untuk mengangkat peralatan dari bawah kepuncak tebing, bentuknya seperti
katrol kecil dan terbuat dari campuran beton dan alumunium.

19) Hammer
untuk melepaskan pengaman piton. Hammer, untuk peletakan hammer pada harnest, bagian
pangkal hammer menggunakan carabiner screw dan diikatkan sling atau tali prussik dengan
panjang kurang lebih 1 M pada harnest, sedangkan pada bagian atas hammer diberi carabiner
non screw untuk menggantungkan hammer di samping harnest.

20) Eterier (tangga tali)


Eterier atau yang biasa di sebut tangga tali ini biasanya terbuat dari webing yang berfungsi
membantu atau memudahkan pemanjat.

21) Sky Hook


Alat yang berfungsi untuk memudahkan pemanjat untuk free dari pemanjatan, dengan cara
bertumpu pada tebing.

Pada akhirnya suatu teori, teknik maupun alat yang mendukung akan tergantung pada
pemakainya. Semua perlu proses pembelajaran supaya kita bisa memaksimalkan ilmu yang kita
miliki, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan

http://baleadventure.blogspot.com/2012/09/mengenal-rock-climbing-panjat-tebing.html
A. DEFINISI PANJAT TEBING
Panjat Tebing adalah Seni olahraga atau Hobi yang dilakukan dengan mengandalkan kelenturan
dan kekuatan otot serta tekhnik tersendiri untuk memanjat mencapai Puncak Tertinggi.

B. ETIKA PEMANJATAN
Secara umum etika pemnjatan sama dengan etika – etika dalam penjelajahan alam lain :
1. Dilarang mengambil sesuatu kecuali gambar
2. Dilarang meninggalkan sesuatu kecuali jejak
3. Dilarang membunuh sesuatu kecuali waktu
Secara khusus ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam etika panjat tebing adalah
sebagai berikut :
1. Menghormati adat istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat.
2. Menjaga kelestarian alam.
3. Merintis jalur baru.
4. Memanjat jalur bernama.
5. Pemberian nama jalur.
6. Memberi keamanan bagi pemanjat lain

C. ALAT – ALAT PEMANJATAN


Alat-alat yang diguanakan dalam pemanatan artificial
1. Tali carmentel
Biasanya yang digunakan adalah tali yang memiliki tingkat kelenturan atau biasa disebut
dynamic rope. Secara umun tali di bagi menjadi dua macam yaitu :
– Static adalah tali yang mempunyai daya lentur 6% – 9%, digunakan untuk tali fixed rope yang
digunakan untuk ascending atau descending. Standart yang digunakan adalah 10,5 mm.
– Dynamic adalah tali yang mempunyai daya lentur hingga 25%, digunakan sebagai tali utama
yang menghubungkan pemanjat dengan pengaman pada titik tertinggi.

2. Harnest adalah alat pengikat di tubuh sebagai pengaman yg nantinya dihubungkan dengan tali.

3. Carabiner adalah cincin kait yg terbuat dari alumunium alloy sebagai pengait dan dikaitkan
dgn alat lainnya.
– Karabiner Skrup/carabiner srew gate
– Karabiner Snap/carabiner non screw gate

4. Helmet adalah pelindung kepala yg melindungi kepala dari benturan dari benda-benda yang
terjatuh dari atas.

5. Webbing, peralatan panjat yg berbentuk pipih tidak terlalu kaku dan lentur, biasa digunakan
sebagai harnest

6. Prusik, merupakan jenis tali carmentel yg berdiameter 5-6 mm, biasanya digunkan sbg
pengganti sling runner dan juga dpt digunakan untuk meniti tali keatas dengan menggunakan
simpul prusik, seperti pada SRT.
7. Sepatu Panjat, sbg pelindung kaki dan mempunyai daya friksi yg tinggi sehingga dpt melekat
di tebing. Jenisnya sendiri yang sering digunakan adalah soft (lentur/fleksibel) dan hard (keras)

8. Chock bag/Calk bag, sebagai tempat MgCo3 (Magnesium Carbonat) yg berfungsi agar tangan
tdk licin karena berkeringat sehingga akan membantu dalam pemanjatan.

9. Descender, peralatan yg digunakan untuk meniti tali kebawah serta mengamankan leader
disaat membuat jalur, biasanya yg sering digunakan adalah figure of eight dan auto stop.
10. Ascender, peralatan yg digunakan untuk meniti tali ke atas dan secara otomatis akan
mengunci bila dibebani. Jenis yang digunakan biasanya jumar dan croll

11. Grigri, alat ini digunakan untuk membelay, alat ini mempunyai tingkat keamanan yg paling
tinggi karena dapat membelay dengan sendirinya.

12. Hammer, berfungsi untuk menanamkan pengaman dan melepaskan kembali, biasanya yg
diapakai jenisnya ringan dan mempunyai kekuatan tinggi dan ujungnya berfungsi
mengencangkan mur pada saat memasang hanger.

13. Pulley, mirip katrol, kecil dan ringan tetapi memiliki kemampuan dalam beban yg berat.
Digunakan untuk perlengkapan evakuasi.
14. Handdrill, merupakan media untuk mengebor tebing secara manual, yg berfungsi untuk
menempatkan pengaman berupa bolt serta hanger.

D. SIMPUL YANG DIGUNAKAN DALAM PEMANJATAN

Simpul – simpul yang digunakan dalam pemanjatan


1. Simpul Delapan Ganda
Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan
tubuh atau harnest. Toleransi 55% – 59%.

2. Simpul Delapan Tunggal


Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan
tubuh atau harnest apabila carabiner tidak ada Toleransi 55% – 59%.
3. Simpul Pangkal
Untuk mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope) pada
anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 45%.
4. Simpul Jangkar
Untuk mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope) pada
anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 45%.
Simpul Jangkar

5. Simpul Kambing / bowline knot


Untuk pengaman utama dalam penambatan atau pengaman utama yang dihubungkan dengan
penambat atau harnest. Toleransi 52%.
6. Simpul Kupu – kupu / Butterfly knot
Untuk membuat ditengah atau diantara lintasan horizon. Bisa juga digunakan untuk menghindari
tali yang sudah friksi. Toleransi terhadap kekuatan tali 50%.

7. Simpul Nelayan / Fisherman Knot


Untuk menyambung 2 tali yang sama besarnya dan bersifat licin. Toleransi 41% – 50%
8. Simpul Frusik
Simpul yang digunakan dalam teknik Frusiking SRT

9. Simpul Pita
Untuk Menyambung Tali yang sejenis, yang sifatnya licin atau berbentuk pipih (umumnya
digunakan untuk menyambung Webbing)
10. Simpul Italy
Untuk repeling jika tidak ada figure eight atau grigri. Toleransi terhadap kekuatan tali akan
berkurang 45%.

o Overhand Knot
Untuk mengakhiri pembuatan simpul sebelumnya. Toleransi terhadap kekuatan tali akan
berkurang sebesar 40%.
o Clove hitch knot
Untu mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope) pada
anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 45%.
o Figure of eight knot
Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan
tubuh atau harnest. Toleransi 55% – 59%.
o Eight on bight knot
Untuk pengaman utama dalam penambat pada dua anchor. Toleransi 68%.
o Simpul two in one
Simpul ini biasanya digunakan sebagai penambat pada anchor natural saat cleaning, yaitu ketika
pemanjat selesai dan turun dari tebing tanpa meninggalkan alat.

E. BAGIAN – BAGIAN TEBING


– Poin : Bagian Pada Tebing yang bias dijadikan tempat Pegangan dan Pijakan
– Rekahan : Bagian Tebing Yang retak membentuk rekahan
– Rock : Bagian/ Poin tebing yang terjatuh kedasar tebing
– Roof : Bagian Tebing yang berbentuk Kursi terbalik.

F. JENIS ANCOR

– Natural Ancor/ Penambat Alami adalah penambat alamiah yang tersedia oleh alam,Contoh :
Batang pohon, Akar pohon, Batu besar yang dijamin kuat
– Artificial Ancor/ Penambat Buatan adalah Alat yang didesain secara khusus untuk digunakan
sebagai penambat, contoh : Piton, sky hook, Brigbo, ramset, hunger, stoper,
Contoh – contoh Artificial ancor:
1) Paku Piton
Merupakan pengaman sisipan yg berguna sebagai pasak.
2) Stopper
Digunakan untuk celah vertical yg menyempit kebawah dengan prinsip kerja menjepit celah
membentuk sudut atau menyempi
3) Sky Hook
Sebagai pengaman sementara dengan prinsip kerja menyisipkan ujung sky hook pada celah
bebatuan dan harus terbebani, usahakan meminimalkan gerak.
4) Ramset dan Hanger
Satu set peralatan dalam artificial climbing yg berfungsi untuk menanamkan bolt dan kemudian
digabungkan dengan hanger sehingga menjadi pengaman tetap.
5) Friend
Pengaman yg diselipkan pada celah batu dengan bermacam ukuran. Friend ada 2 macam :
– Regular Friend
Terbuat dari allumunium alloy dan mempunyai kelemahan yaitu berbentuk static/tidak
mempunyai kelenturan. Alat ini bekerja dengan baik dicelah overhang.
– Fleksibel Friend
Bentuknya sama dengan regular friend hnya mempunyai kelebihan terbuat dari kawat baja yg
menjadikan friend ini sangat fleksibel, dan dapat dipasang disemua celah dan segala posisi.
6) Hexa
Prinsip kerja sama dengan stopper hanya berbeda pada bentuk round (bulat) dan hexagonal (segi
enam).
7) Chocker
Alat bantu yg berfungsi untuk melepaskan hexa atau stopper yg terkait di celah batu.
8) Etrier/tangga gantung &daisy chain
o Etrier : alat yg terbuat dari webbing yg menyerupai tangga untuk membantu menambah
ketinggian.
o Daisy chain : terbuat dari webbing, berfungsi untuk menambah ketinggian serta menjaga
apabila etrier jatuh.

G. KODE – KODE YANG DIGUNAKAN DALAM PEMANJATAN

Kode – kode pemanjatan adalah sebagai berikut :


1. Climb : Pemanjat Menginstrusi kepada Pembilay bahwa pemanjat siap memanjat
2. Climbing : Pembilay Memberitahukan kepada pemanjat bhw dia siap mengamankan
pemanjat
3. On Belay : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay bahwa pemanjat memulai
memanjat
4. Belay On : Pembilay Memberitahukan kepada pemanjat bhw dia telah mengamankan
pemanjat
5. Full : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay agar tali dikencangkan
6. Slack : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay agar tali dikendorkan
7. Rock : Pemanjat Memberitahukan kepada orang yang berada dibawah bahwa ada
batuan tebing yang jatuh
8. Top : Pemanjat Memberitahukan bahwa dia telah sampai pada puncak
9. Belay of : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay bahwa dia tidak membutuhkan
lagi pengamanan
10. Of Belay : Pembilay Menginstrusi kepada pemanjat bahwa dia tidak mengamankan
lagi

H. JENIS PEGANGAN

1. Open Grip : Pegangan pada pemanjatan yang dilakukan dengan posisi tangan
terbuka,biasanya digunakan pada tebing – tebing datar
2. Cling Grip : Pegangan pada pemanjatan yang dilakukan degan menggunakan seluruh
jari tangan dan dan agak mirip mencubit biasanya digunakan pada tebing
yang permukaannya banyak tonjolan,
3. Pinch Grip : Pegangan pada pemanjatan yang mirip dengan mencubit,dan
mengandalkan kekuatan jempol dan telunjuk yang biasa digunakan untuk
memegang poin – poin kecil pada tebing
4. Poket Grip : Pegangan pada pemanjatan dilakukan dengan cara memasukkan jari – jari
kedalam celahan/ lobang tebing, biasanya digunakan pada tebing
limenstone ( kapur ) yang banyak memiliki poin lobang.
5. Vertikal Grip : Pegangan pada pemanjatan yang bertumpu pada poin tebing dengan
menggunakan kekuatan lengan untuk bertumpu dan menaikkan badan.

I. JENIS PIJAKAN

1. Frinction Steep : Pijakan dalam pemanjatan yang bertumpu pada kaki bagian depan
dan mengandalkan gesekan karet sepatu.
2. Eadging : Pijakan dalam pemanjatan yang menggunakan sisi luar kaki.
3. Mearing : Pijakan dalam pemanjatan yang menggunakan seluruh alas kaki
(Pijakan Biasa)
4. Hel Hooking : Pijakan dalam pemanjatan yang dilakukan untuk mengantisipasi
poin2 yang menggantung dengan menggunakan kekuatan kaki
untuk mengangkat badan keatas untuk menggapai poin selanjutnya.
J. JENIS – JENIS/ TEKHNIK PEMANJATAN

1. Artificial Climbing
Adalah olahraga yang dilakukan pada tebing-tebing dengan tingkat kesulitan yang tinggi dengan
bermodalkan alat yang diselipkan pada celah-celah batu atau memanfaatkan pengaman alam
(natural anchor).
Artificial climbing ini dimana alat benar-benar digunakan sebagai penambah ketinggian
disampin sebagai pengaman pemanjatan.
2. Soloing
Adalah Pemanjatan yang dilakukan dengan mengandalkan kekuatan tubuh untuk langsung
mencapai top tanpa menggunakan pengaman, biasanya dilakukan oleh pemanjat profesional
karna sangat berbahaya.

3. Boldering
Pemanjatan yang dilakukan untuk melatih kekuatan dan kelenturan badan yang biasanya
dilakukan secara enyamping pada tebing – tebing pendek atau tebing buatan.
4. Free Climbing
Pada prinsipnya hampir sama dengan pemanjatan artificial hanya dalam free climbing alat
digunakan hanya sebagai pengaman saja sedangkan untuk menambah ketinggian menggunakan
pegangan tangan dan friksi (gaya gesek) kaki sebagai pijakan.
5. Runer to runer
Pemanjatan yang dilakukan tahap demi tahap,dilakukan pada pemanjatan yang sudah memiliki
jalur yang berupa ancor/penambat, biasa juga diperlombakan pada wall buatan.

K. SISTEM PEMANJATAN PEMANJATAN

1. Alphine Tactis (Alpine Push)


Adalah system pemnjatan yang mana pemanjat melakukan pemanjatan sampai puncak tanpa
turun ke basecamp, jadi pemanjat selalu berada di tebing saat tidur sekalipun (tidur
gantung/hanging bivouak).
Didalam system pemanjatan ini segala aktifitas di luar pemanjatan akan dilakukan di tebing,
untuk ini segala peralatan dan perbekalan harus benar-benar diperhitungkan, misal kebutuhan
makan, minum dan lain-lain. Penggunaan sistem ini juga harus memperhitungkan personil yang
bertugas untuk mengangkat barang-barang yang banyak tersebut dengan teknik load carry
sehingga membutuhkan personil minimal tiga orang (1 orang leader, 1 orang bellayer dan 1
orang load carry).
2. Himalayan Tactic (Siege Tactic / Himalayan Style)
Adalah Pemanjatan hanya dilakukan hingga sore hari, kemudian pemanjat turun ke camp dasar
dan pemanjatan dilanjutkan keesokan harinya.
Tali yang digunakan sampai picht terakhir ditinggal untuk melanjutkan pemanjatan, Jadi sebelum
melanjutkan pemanjatan leader dan bellayer jumaring sampai picht terakhir, baru kemudian
melanjutkan pemanjatan. Kelebihan-kelebihan system ini adalah dalam pemanjatan cukup
dibutuhkan dua personil untuk membuka jalur (leader dan bellayer), tidak diperlukan load carry
dan hanging bivoak, walaupun hanya satu personel yang mencapai puncak pemanjatan sudah
dianggap berhasil, yang terakhir pemanjat dapat melakukan istirahat dengan nyaman dibase
camp. Kekurangan nya ialah membutuhkan banyak peralatan terutama tali, Panjang tali
disesuaikan dengan panjang lintasan yang akan dilakukan dalam pemanjatan, pemanjatan yang
menggunakan system ini membutuhkan waktu lebih lama.

L. MACAM – MACAM TEBING

Beberapa batuan yang sering dijumpai yang terutama lokasi dimana sering dijadikan ajang
pemanjatan di Indonesia.
1. Batuan Limenstone Batuan yang banyak memiliki lobang – lobang dan berwarna putih.
2. Batuan Beku- Andersit,berwarna hitam keabu-abuan massif dan kompak
– Lava Andersit,seperti andersit dan biasanya dijumpai lubang-lubang kecil bekas keluarnya gas
dan dijumpai dengan kesan berlapis
– Breksi lava,menyerupai batu breksi pada umumnya
– Granit,berwarna terang dengan warna dasar putih
3. Batuan Sedimen
– Batu Gamping,berwarna putih kekuningan,kompak,banyak dijumpai retakan atau lubang,dan
biasanya berlapis.
– Breksi Sedimen,seperti halnya breksi lava tapi batu ini biasanya berupa batu pasir.
4. Batu Metamorf
Hampir sama dengan batu gamping tapi disini sudah mengalami rekristalisasi dan warnanya
sangat beragam.

ROCK CLIMBING

Mendengar kata Rock Climbing (panjat tebing), kita seperti dikenalkan pada suatu jenis olahraga
baru. Benarkah kita belum mengenalnya? Barangkali kita masih ingat masa kecil dulu, alangkah
gembiranya kita bermain, memanjat tembok, pohon-pohon, atau batu-batu besar, di mana kita
tidak memikirkan resiko jatuh dan terluka, yang ada adalah rasa gembira.

Sebenarnya kegiatan Rock Climbing tidak jauh dari itu, cuma kali ini kita sudah
memilihmedantertentu dengan memikirkan resikonya. Pada dasarnya Rock Climbing adalah
bagian dari Mountaineering (kegiatan mendaki gunung, suatu perjalanan petualangan ke tempat-
tempat yang tinggi), hanya di sini kita menghadapimedanyang khusus. Dengan membedakan
daerah ataumedanyang dilalui, Mountaineering dapat dibagi menjadi : Hill Walking, Rock
Climbing dan Ice/Snow Climbing. Hill Walking merupakan perjalanan biasa melewati
serangkaian hutan dan perbukitan dengan berbekal pengetahuan peta/kompas dan survival.
Kekuatan kaki menjadi faktor utama suksesnya suatu perjalanan. Untuk Rock
Climbing,medanyang dihadapi berupa perbukitan atau tebing di mana sudah diperlukan bantuan
tangan untuk menjaga keseimbangan tubuh atau untuk menambah ketinggian. Ice/Snow
Climbing hampir sama seperti halnya dengan Rock Climbing, namunmedanyang dihadapi adalah
perbukitan atau tebing es/salju .

Kadang-kadang akan timbul pertanyaan pada kita, seperti ini : Kenapa sih naik gunung? George
L. Mallory (pendaki Inggris) menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan, Because it’s there..
Lalu pertanyaan lain, Apa yang kau dapatkan disana? Seorang pendaki akbar, Reinhold Messner
berkata : The mountains tell you, quite ruthlessly, who you are, and what you are.
Mountaineering is a game where you can’t cheat …, more than that, what’s important is your
determination cool nerves, and knowing how to make the right choice. Olahraga seperti ini
adalah nikmat, dan barangkali sedikit egois. Segala kenikmatan pada saat kita menyelesaikan
sebuahmedansulit adalah milik kita sendiri, tidak ada sorak sorai, apalagi kalungan medali.
Sebaliknya, adanya kecelakaan dalam suatu pendakian adalah karena kelalaian kita sendiri,
kurang hati-hati dan kurang memperhitungkan kemampuan diri. Banyak pendaki yang
melakukan turun tebing (rappeling / abseiling) dengan melompat dan sangat cepat, ini sangat
berbahaya. Untuk kita, sebaiknya menganggap kegiatan panjat tebing sebagai hobi, seperti hobi-
hobi lainnya. Sebagai gambaran bisa kita simak perkataan Walter Bonatti, seorang pendaki
kawakan dari Italia, saat melakukan pendakian solo pada dinding yang mengerikan di Swiss.
Ketika ia sedang menghadapi kesulitan melewati overhang (dinding menggantung dengan
kemiringan > 90 derajat), sebuah pesawat mengitarinya yang rupanya mencarinya. Kehadiran
pesawat menekan kesendiriannya : “ Siapa yang mengatakan bahwa mereka melihatku ?, aku
berfikir dan merasa bahwa pesawat tersebut adalah bagian dariku, yang kini meninggalkan dan
merobek hatiku. Aku mulai sadar bahwa aku lebih suka jika terdapat kesunyian yang mutlak.
Semua yang terjadi dalam waktu singkat tadi seakan-akan merupakan usaha akhir untuk
menghubungkan diriku dengan kehidupan yang tidak mempunyai arti lagi bagiku. Pesawat itu
berputar-putar kemudian meninggalkan diriku seperti mati.” Akhirnya, marilah kita mencoba
lebih mengenal panjat tebing yang nikmat itu. Pada tulisan ini, pembicaraan hanya terbatas pada
pembahasan panjat tebing, dengan tidak mengecilkan yang lain, Hill Walking dan Ice/Snow
Climbing.

II. KLASIFIKASI PANJAT TEBING


Dalam panjat tebing terdapat 2 klasifikasi pembedaan, yaitu :
1. Pembedaan yang pertama adalah antara Free Climbing dengan Artificial
Climbing.Free Climbing adalah suatu tipe pemanjatan di mana si pemanjat
menambah ketinggian dengan menggunakan kemampuan dirinya sendiri, tidak dengan bantuan
alat. Dalam Free Climbing, alat digunakan hanya sebatas pengaman, bukan sebagai alat untuk
menambah ketinggian. Bedanya dengan Artificial Climbing, di mana alat selain digunakan
sebagai pengaman, juga berfungsi untuk menambah ketinggian.
2. Pembedaan yang kedua adalah antara Sport Climbing dengan Adventure
Climbing.Sport Climbing adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor
olahraganya. Dalam Sport Climbing, pemanjatan dipandang seperti halnya olahraga yang lain,
yaitu untuk menjaga kesehatan. Sedangkan pada Adventure Climbing, yang ditekankan adalah
lebih pada nilai petualangannya.
III. KELAS DAN GRADE DALAM PANJAT TEBING
Kelas Seperti dalam olahraga lainnya, seseorang atlit dapat diukur kemampuannya pada suatu
tingkat pertandingan. Pemain catur dengan elorating dibawah 2000 tidak akan dapat mengikuti
turnamen tingkat Gand Master. Dalam panjat tebing terdapat klasifikasi tebing berdasarkan
tingkat kesulitannya, dengan demikian kita dapat mengukur sampai di mana kemampuan kita.
Kelas yang dibuat oleh Sierra Club adalah :

Kelas 1: Cross Country Hiking


Perjalanan biasa tanpa membutuhkan bantuan tangan untuk mendaki / menambah ketinggian.
Kelas 2:Scrambling
Sedikit dengan bantuan tangan, tanpa tali.
Kelas 3:Easy Climbing
Secara scrambling dengan bantuan , dasar teknik mendaki (climbing) sangat
membantu, untuk pendaki yang kurang pengalaman dapat menggunakan tali.
Kelas 4:Rope Climbing with belaying
Belay (pengaman) dipasang pada anchor (titik tambat) alamiah atau
buatan,berfungsi sebagai pengaman.
Kelas 5
Kelas ini dibagi menjadi 11 tingkatan (5.1 sampai 5.14), di mana semakin tinggi angka di
belakang angka 5, berarti semakin tinggi tingkat kesulitan tebing. Pada kelas ini, runners dipakai
sebagai pengaman.
Kelas A
Untuk menambah ketinggian, seseorang pendaki harus menggunakan alat. Dibagi menjadilima
tingkatan (A1 sampai A5). Contoh : Pada tebing kelas 5.4 tidak dapat dilewati tanpa bantuan alat
A2, tingkat kesulitan tebing menjadi 5.4 – A2.

Grade
Merupakan ukuran banyaknya teknik pendakian yang diperlukan. Faktor rute yang sulit dan
cuaca buruk dapat menambah bobot grade menjadi lebih tinggi. Sebagai contoh, tebing kelas 5.7
yang rendah dan dekat dengan jalan raya, mungkin akan mempunyai grade I (satu).
IV. ETIKA DAN GAYA DALAM PANJAT TEBING
A.ETIKA
Menurut KUBI, etika berarti nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau
masyarakat. Pelanggaran terhadap suatu nilai biasanya tak akan mendapatkan sanksi yang legal.
Dan antara suatu masyarakat dengan masyarakat lain sering kali mempunyai etika yang berbeda
terhadap suatu hal yang sama. Di antara masyarakat pemanjat, juga terdapat etika yang kerap
berbenturan. Suatu contoh adalah ketika Ron Kauk membuat suatu jalur dengan teknik rap
bolting di kawasan Taman Nasional Lembah Yosemite, Amerika Serikat. Kawasan pemanjatan
ini terkenal sebagai kawasan pemanjat tradisional dan mempunyai peraturan konservasi alam
yang ketat. Pembuatan jalur dengan cara demikian tak dapat dibenarkan oleh para pemanjat
tradisional di kawasan ini, di antaranya adalah John Bachar. Bachar menganggap bahwa semua
jalur yang ada di Yosemite harus dibuat dengan cara tradisional, yaitu sambil memanjat
(leading). Kasus ini menjadi besar karena sampai menimbulkan perkelahian di antara kedua
pemanjat
yang berlainan aliran itu. Kasus tersebut menggambarkan bagaimana etika sering menimbulkan
perdebatan. Kasus ini hanya salah satu dari berbagai masalah yang kerap timbul di sekitar
pembuatan jalur. Sebetulnya ruang lingkup etika dalam panjat tebing terdiri dari :

Masalah teknik pembuatan jalur

Secara umum ada dua aliran teknik pembuatan jalur yang dewasa ini banyak dianut, yaitu aliran
tradisional dan aliran modern. Pembuatan jalur secara tradisional pada prinsipnya adalah
membuat jalur sambil memanjat. Teknik ini cenderung bernilai petualangan karena lintasan yang
akan dilewati sama sekali baru, tanpa pengaman, tanpa dicoba terlebih dahulu. Teknik tradisional
ini berkembang di Eropa sampai tahun 70-an, namun kini masih dianut oleh pemanjat tradisional
Amerika. Sementara itu pembuatan jalur secara modern terdiri dari dua cara yang banyak
digunakan. Cara pertama adalah dengan teknik tali tetap (fix rope technique). Pada teknik ini,
pembuatan jalur dapat dilakukan dengan cara rappeling bolting atau ascending bolting pada fix
rope yang telah terpasang terlebih dahulu. Cara kedua mirip dengan cara pertama, tetapi tidak
dengan tali tetap melainkan menggunakan top rope. Kelebihan cara ini, pembuat jalur dapat
membuat perencanaan arah jalur dan penempatan pengaman lebih presisi karena gerakan
pemanjatan dapat diketahui terlebih dahulu.
Masalah penamaan jalur

Siapa yang berhak memberi nama pada suatu jalur, si pembuat jalur atau pemanjat pertama yang
menuntaskan jalur, juga tidak ada aturannya. Biasanya si pembuat jalur bersikeras untuk menjadi
orang pertama yang menuntaskan jalur tersebut. Kadang-kadang mencapai waktu berbulan-bulan
untuk membuat sekaligus menuntaskan suatu jalur baru. Tapi ada kalanya jalur yang dibuat
terlalu sulit dan jauh di luar kemampuan si pembuat jalur itu. Di Indonesia biasanya nama jalur
merupakan suatu kesepakatan saja dari seorang atau sekelompok pembuat jalur.

Masalah keaslian jalur


Masalah keaslian jalur biasanya dikaitkan dengan banyaknya jumlah pengaman tetap yang ada
dalam jalur tersebut. Suatu jalur, misalnya dengan jumlah bolt sebanyak 7 buah akan tetap 7 dan
tak boleh bertambah atau berkurang lagi karena dalam kode etiknya, ini sudah resmi menjadi
sebuah jalur. Yang menjadi masalah, apakah suatu jalur dengan jarak antar bolt yang sangat jauh
tak dapat ditambah dalam batas-batas yang wajar? Juga sebaliknya, apakah jalur yang jarak antar
boltnya terlalu rapat tak dapat dikurangi? Tradisi di Yosemite, bila seseorang berhasil memanjat
suatu jalur yang cukup mudah, katakanlah setinggi 15 meter, dengan hanya 2 bolt saja, hal ini
berlaku bagi semua pemanjat yang akan menggunakan jalur tersebut tanpa penambahan bolt lagi.
Tradisi ini memang mendapat protes dari banyak pemanjat pemula yang merasa sanggup
menuntaskan jalur tersebut, namun tak mau mengambil resiko dengan hanya menggunakan 2
bolt saja. Contoh lain adalah jika seseorang pemanjat merasa suatu jalur dengan
jumlah bolt yang wajar terlalu mudah, berhakkah ia mengurangi jumlah bolt yang ada? Sampai
sejauh mana kita bisa menghargai prinsip pemanjatan pertama? (sampai yang paling ekstrim)

Pengubahan bentuk permukaan tebing

Untuk masalah yang satu ini, hampir semua pemanjat sepakat bahwa hal itu
haram untuk dilakukan, baik itu menambah kesulitan maupun membuat jalur
tersebut menjadi lebih mudah. Walaupun begitu sebagian kecil dari seluruh
kawasan pemanjatan yang ada (hanya sebagian kecil) yang menerima hal ini,
namun hanya pada permukaan yang tanpa cacat sama sekali (blank/no holds) agar
kesinambungan jalur sebelum dan sesudahnya dapat terjaga.
B. GAYA
Pengertiangaya didalam panjat tebing menyangkut metode dan peralatan serta derajat
petualangan dalam suatu pendakian. Petualangan berarti tingkat ketidakpastian hasil yang akan
dicapai.

Gayaharus sesuai dengan pendakian.Gayayang berlebihan untuk tebing yang kecil, sebaik
apapungayatersebut akhirnya menjadigayayang buruk. Mendaki secara alamiah dengan bantuan
teknis terbatas adalahgayayang baik. Kita harus bekerja sama denga tebing, jangan memaksanya.
Kita dapat menggunakan pointpoint alamiah seperti batu, tanduk (horn), pohon, atau pada batu
yang terjepit didalam celah (Chockstone). Akhirnya kita sampai pada pendakian sendiri, tanpa
menggunakan tali, Maksudnya adalah menyesuaikangayadengan pendakian dan kemampuan
diri.Gayayang baik adalah persesuaian yang sempurna – penapakan dari dua sisi yang baik antara
ambisi dan kemampuan.

Tidak ada pendakian yang sama. Standar yang baik selalu dapat diterapkan dan juga
memungkinkan penyelesaian menjadi kepribadian masing-masing rute. Itulah prinsip pendakian
pertama kita tadi. Prinsip tersebut dapat membimbing kita dalam masalahgayadan etika. Kita
telah memiliki standar minimum yang telah siap dan tersedia untuk dijadikan sasaran.
Penerimaan terhadap prinsip ini memungkinkan kita untuk meniadakan pertentangan pendapat
tentanggayaumum. Keuntungan lain adalahgayadari pendakian pertama adalahgayayang layak,
dan memberikan keuntungan psikologis kepada pendaki-pendaki berikutnya bahwa rute tersebut,
paling tidak, pernah dicoba. Dengan menghargai orang-orang yang menyelesaikannya, dan
memperlihatkan bahwa kita paham akan nilainya, serta menganggap pendakian mereka sebagai
suatu hasil karya, maka pendakian meraka bukanlah sesuatu yang harus dikalahkan.

Dalam bukunya How to Rock Climb: Face Climbing, John Long menguraikan dan membuat
klasifikasi yang lebih sempit mengenai beberapa gayayang ada, di antaranya adalah :
Onsight Free Solo
Istilah onsight berarti memanjat suatu jalur tanpa pernah mencoba dan juga belum pernah
melihat orang lain memanjat dijalur tersebut. Jadi jalur tersebut dipanjat tanpa informasi apa-apa.
Sedangkan solo berarti tanpa tali. Jadi onsight free solo berarti pemanjatan tali untuk pertama
kali bagi seorang pemanjat tanpa informasi apa-apa.
Free Solo
Pemanjatan suatu jalur tanpa menggunakan tali, tapi pernah mencoba walaupun belum hapal
benar jalur tersebut.
Worked Solo
Pemanjatan tanpa tali dengan sebelumnya pernah mencoba berkali-kali sampai benar-benar hapal
mati seluruh bentuk permukaan tebing.
Onsight Flash / Vue
Memanjat suatu jalur tanpa pernah mencobanya, melihat pemanjat lain dijalur yang sama, juga
tak pernah mendapat informasi apa-apa. Memanjat dengan menggunakan tali sebagai perintis
jalur (leader) dan memasang pengaman (running belay). Pemanjat juga tidak sekalipun jatuh dan
tidak mengambil nafas/istirahat disepanjang jalur.
Beta Flash
Pemanjatan tanpa mencoba dan melihat orang lain memanjat dijalur tersebut, namun telah
mendapat informasi tentang jalur dan bagian-bagian sulitnya (crux). Pemanjat kemudian
memanjatnya tanpa jatuh dan tanpa istirahat sepanjang jalur.
Déjà vu
Seorang pemanjat sudah pernah memanjat suatu jalur sekian tahun sebelumnya dan gagal
menuntaskannya. Setelah sekian tahun itu, dengan kemampuan memanjat yang lebih baik , ia
kembali dengan hanya sedikit ingatan tentang jalur tersebut dan berhasil menuntaskan jalur pada
percobaan pertama.
Red Point
Memanjat suatu jalur yang telah dipelajari dengan sangat baik, tanpa jatuh dan memanjat sambil
memasang pengaman sebagai perintis jalur.
Pink Point
Sama dengan red point hanya semua pengaman telah dipasang pada tempatnya.
Brown Point
Ada beberapa macam untuk kategori ini, misalnya seorang pemanjat merintis suatu jalur, lalu
jatuh dan menarik tali, kemudian meneruskan pemanjatan dari titik pengaman terakhir ia jatuh
(hangdogging). Pemanjatan dengan top rope juga termasuk dalam kategori ini. Lalu ada lagi
pemanjatan dengan bor pertama dipasang terlebih dahulu. Sebenarnya masih banyak lagi yang
masuk dalam kategori ini. Seluruh kategori ini menceritakan berbagai taktik, strategi, atau trik
untuk mempelajari sekaligus mencoba menuntaskan suatu jalur. Setelah begitu banyak
melihatgaya pemanjat dalam menuntaskan jalur,kita dapat dapat membandingkan mana yang
lebih sulit. Dengan begitu dapat pula dibandingkan perbedaan kemampuan seorang pemanjat.

C. PERTIMBANGAN LAIN
1. Gunakan Chock dan Runners (titik pengaman) Alam. Pendakian tebing adalah sesuatu
kesatuan yang harus ditangani secara hati-hati. Yang harus diperhatikan adalah masalah
penggunaan runners alam dan chockstone buatan, karena alat tersebut membiarkan tebing tetap
utuh.
Pengunaan piton (paku tebing) dalam suatu pendakian masih menimbulkan cacat pada tebing.
Kerusakan yang ditimbulkannya adalah karena :
a. Mempersulit atau mempermudah rute dengan merubah sifatnya.
b. Menimbulkan noda-noda goresan yang tidak sedap dipandang.
c. Dapat melepas belahan batu besar atau serpihan-serpihan batu.
Jadi walaupun dalam kasus-kasus dimana pendakian pertama menggunakan piton, kita harus
berusaha memperkecil penggunaan piton karena sifatnya yang merusak
2. Sampah
Jika kita membawa kaleng makan dalam suatu pendakian, injak kaleng tesebut dan bawalah
keatas. Lebih baik lagi jika membawa makanan yang tidak dalam kaleng. Kulit jeruk sebaiknya
disimpan kembali karena tidak dimakan oleh binatang dan sangat lambat pembusukannya.

V. TEKNIK PANJAT TEBING


A. STRUKTUR GUNUNG
Dengan mengetahui struktur suatu gunung, akan lebih mudah bagi kita untuk
merencanakan sebuah rute yang akan didaki. Merencanakan tempat untuk
berhenti istirahat, dan sebagainya. Faktor lain yang memiliki kaitan erat adalah musim dan cuaca
terutama arah angin. Akan lebih sulit apabila kita mendaki dinding selatan pada saat angin
bertiup kencang dari arah selatan daripada kalau angin bertiup dari utara.
Sebelum seseorang memanjat tebing, seperti juga pada Hill Walking, maka
diperlukan pengetahuan rute yang akan diambil. Di negara-negara maju
disediakan buku petunjuk rute suatu tebing dengan tingkat kesulitannya. Pendaki dapat memilih
rute yang akan didaki dengan memperhitungkan kemampuannya.
B. PERALATAN PANJAT TEBING
1. Tali
Fungsi utama tali adalah untuk melindungi pendaki dari kemungkinan jatuh
sampai menyentuh tanah (freefall). Berbagai jenis tali yang digunakan dalam
Panjat Tebing adalah :
a. Tali serat alam
Jenis tali ini sudah jarang digunakan. Kekuatan tali ini sangat rendah dan mudah terburai. Tidak
memiliki kelenturan, sehingga membahayakan pendaki.
b. Hawser Laid
Tali sintetis, plastik, yang dijalin seperti tali serat alam. Masih sering digunakan terutama untuk
berlatih turun tebing. Tali ini relatif lebih kuat dibanding tali serat alam dan tidak berserabut.
Kelemahannya adalah kurang tahan terhadap zat kimia, sulit dibuat simpul dan mempunyai
kelenturan rendah serta berat.
c. Core dan Sheat Rope (Kernmantel Rope)
Tali yang paling banyak digunakan saat ini, terdiri dari lapisan luar dan dalam. Yang terkenal
adalah buatan Edelrid, Beal dan Mammut. Ukuran tali yang umum dipakai bergaris tengah 11
mm, panjang 45 m. Untuk pendakian yang mudah, snow climbing, atau untuk menaikkan barang
dipakai yang berdiameter 9 mm atau 7 mm. Tali ini memiliki sifat-sifat :
– Tidak tahan terhadap gesekan dengan tebing, terutama tebing laut (cliff). Bila dipakai untuk
menurunkan barang, sebaiknya bagian tebing yang bergesekan dengan tali diberi alas (pading).
Tabu untuk menginjak tali jenis ini.
– Peka (tidak tahan) dengan zat kimia.
– Tidak tahan terhadap panas. Bila tali telah dicuci sebaiknya dijemur di tempat teduh.
– Memiliki kelenturan yang baik bila mendapat beban kejut (karena pendaki jatuh, misalnya)
Pada umumnya tali-tali tersebut akan berkurang kekuatannya bila dibuat simpul. Sebagai contoh,
simpul delapan (figure of eight) akan mengurangi kekuatan tali sampai 10%.
Karena sifat tali yang demikian, maka dibutuhkan perawatan dan perlakuan yang baik dan benar.
Cara menggulung tali juga perlu diperhatikan agar tidak kusut, sehingga tidak mudah rusak dan
mudah dibuka bila akan digunakan. Ada beberapa cara menggulung tali, antara lain :
– Mountaineers coil
– Skein coil
– Royal robin style

2. Webbing (tali pita) dan Sling


Seringkali kita menyebut webbing sebagai sling atau sebaliknya. Webbing
memiliki bentuk seperti pita, dan ada dua macam. Pertama lebar 25 mm dan
berbentuk tubular, sering digunakan untuk :
– Harness (tali tubuh), swami belt, chest harness, atau
– Alat bantu peralatan lain, sebagai runners (titik pengaman), tangga (etrier) atau untuk
membawa peralatan.
Webbing yang lain memiliki lebar 50 mm dan berbentuk pipih, yang biasa
digunakan untuk macam-macam body slings. Webbing yang sering disebut juga sebagai flat rope
adalah produk sampingan perang dunia II.

3. Carabiners (snapring, snapling, cincin kait)


Secara prinsip, carabiner digunakan untuk menghubungkan tali dengan runners (titik pengaman),
sehingga carabiner dibuat kuat untuk menahan bobot pendaki yang terjatuh.
Persyaratan yang harus dibuat oleh assosiasi pembuat peralatan panjat tebing mengharuskan
carabiner dapat menahan bobot 1200 kilogram force (kp) atau sekitar 2700 pounds. Sedangkan
beban maksimum yang diperbolehkan adalah sekitar 5000 pounds.
Carabiner yang terbuat dari campuran alumunium (Alloy) ini sangat ringan dan cukup kuat,
terutama yang bebentuk D. Carabiner yang terbuat dari baja
mempunyai kekuatan yang sangat tinggi sampai 10.000 pounds tetapi relatif berat bila dibawa
dalam jumlah banyak untuk suatu pendakian.
Bagian yang paling lemah dari carabiner adalah pin, carabiner bentuk D
relatif lebih aman dibanding bentuk oval, karena terdapat cekungan yang memberi ruang bagi pin
saat carabiner mendapat beban. Kelebihan dari carabiner bentuk oval adalah relatif mudah
dikaitkan pada piton.
Ada carabiner yang dilengkapi tutup pada pintunya (screw gate). Hal ini
dimaksudkan agar carabiner tidak tebuka gatenya karena sesuatu hal. Tentunya carabiner ini
lebih berat dibandingkan yang tanpa tutup (non screw gate).
4. Piton (peg, paku tebing)
Terbuat dari bahan metal dalam berbagai bentuk. Berfungsi sebagai pengaman, piton ini
ditancapkan pada rekahan tebing. Sebagai kelengkapan untuk memasang atau melepas piton
digunakan hammer.
Pada umumnya piton dapat digolongkan dalam 4 jenis, yaitu Bongs, Bugaboos, Knife-blades dan
Angle. Piton jenis angle, knife-blades, dan bongs biasanya digunakan untuk rekahan horizontal
maupun vertikal. Sedangkan yang bugaboos biasanya dibuat khusus untuk horizontal atau
vertikal saja.
Cara pemasangan piton sangat sederhana. Setelah memeriksa rekahan yang akan dipasang piton,
kita memilih piton yang cocok dengan rekahan, lalu ditancapkan dan pukul dengan hammer.
Salah besar kalau kita memilih piton dulu baru memilih rekahan pada tebing. Untuk mengetahui
rapuh tidaknya rekahan yang akan kita pasang piton, adalah dengan memukulkan hammer pada
tebing sekitar rekahan. Suara yang nyaring menunjukkan rekahan tersebut tidak rapuh.
Adakalanya rekahan yang kita hadapi membutuhkan cara pemasangan yang berbeda dan atau
perlu dimodifikasi dengan alat lain, sehingga perlu beberapa cara khusus dalam pemasangannya.
Cara melepas piton adalah dengan menggunakan hammer yang kita pukulkan
pada mata piton searah dengan rekahan sampai pada akhirnya piton dapat ditarik.

5. Chock
Disamping piton, chock juga berfungsi sebagai alat pengaman (runners). Dibuat dalam beberapa
jenis dan ukuran, dapat dibagi menjadi : sling chock, wired chock, dan rope chock. Diantaranya
berbentuk hexentric dan foxhead.
Chock dibuat dari alumunium alloy sehingga sangat ringan. Cara memasang
chock adalah dengan menyangkutkan pada rekahan. Sangat disukai pemanjat yang
berpengalaman, karena mudah menempatkannya pada rekahan dan tidak memerlukan tenaga
serta waktu banyak seperti halnya memasang piton.

6. Ascendeur
Ascendeur digunakan sebagai alat bantu naik, merupakan perkembangan dari prusik, mudah
mendorongnya ke atas tapi dapat menahan beban. Dalam
menggunakan ascendeur sebaiknya menggunakan sling terlebih dahulu sebelum disangkutkan
pada carabiner. Ascendeur terbagi menjadi 2 jenis yaitu :
a. Jumar
Merupakan alat bantu naik pertama, terbuat dari kerangka alumunium dan baja. Alat ini dapat
dipakai untuk tali berdiameter 7 – 11 mm dan berkekuatan 1100 pounds. Jumar sendiri dapat
dibagi menjadi 3 macam :
– Standard jumar
– Jumar
– Jumar CMI 5000 (ColoradoMountains Industries). Jenis ini mempunyai
kekuatan sekitar 5000 pounds dan carabiner dapat langsung disangkutkan pada kerangkanya.
b. Clog
Alat naik mekanis yang lain, mempunyai prinsip kerja yang sama seperti jumar. Alat ini banyak
digunakan di Inggris.

7. Descendeur
Alat ini digunakan turun tebing (abseiling, rapeling). Pada prinsipnya untuk
menjaga agar pendaki tidak meluncur bebas. Keuntungan lainnya adalah tubuh tidak tergesek
tali, sehingga tidak terasa panas.
Beberapa jenis descendeur :
a. Figure of eight
b. Brake bar
c. Bobbin (petzl descendeur)
– single rope
– double rope
d. Modifikasi carabiner . Carabiner yang kita susun sedemikian rupa sehingga
berfungsi semacam brake bar.

8. Etrier (tangga)
Bila rute yang akan dilalui ternyata sulit, karena tipisnya pijakan dan pegangan, maka etrier ini
sangat membantu untuk menambah ketinggian. Pada Atrificial Climbing, etrier menjadi sangat
vital, sehingga tanpa alat ini seorang pendaki akan sulit sekali untuk menambah ketinggian.

9. Harness
Harness sangat menolong untuk menahan tubuh, bila pendaki terjatuh, Juga akan mengurangi
rasa sakit dibandingkan bila kita menggunakan tali langsung ke tubuh dengan simpul bowline on
a coil.
Harness yang baik tidak akan mengganggu gerak tubuh dari pendaki. Akan tetapi sangat terasa
gunanya bila pendaki dalam posisi istirahat.
Jenis – jenis harness :
a. Full body harness
Harness ini melilit di seluruh tubuh, relatif aman dan biasanya dilengkapi dengan sangkutan alat
disekeliling pinggang. Sering dipakai di medan salju/es.
b. Seat harness
Harness ini lebih sering dipakai, mungkin karena tidak begitu mengganggu
pendaki dalam bergerak. Seat harness dapat dibuat dari webbing (swami belt) dan diapersling
atau dengan menggunakan figure of eight sling.

10. Helm
Bagian tubuh yang paling lemah adalah kepala, sehingga perlu mengenakan helm untuk
melindungi dari benturan tebing saat pendaki terjatuh atau bila ada batu yang berjatuhan.
Meskipun helm agak mengganggu, tetapi kita akan terhindar dari kemungkinan terluka atau
keadaan fatal.

11. Sepatu
Sepatu sangat berpengaruh pada suatu pendakian, ini pun tergantung padamedan yang akan
dilalui. Untukmedan batu kapur yang licin dipakai sepatu yang bersol tipis dan rata. Sedangkan
untukmedan sand stone (batu pasir) ataumedan basah dipakai yang bersol tebal dan bergerigi.
Sepatu panjat biasa dibuat tinggi, untuk melindungi mata kaki.

C. PENGETAHUAN TALI-TEMALI
Tati-temali merupakan pengetahuan dasar penting untuk seorang pendaki.
Beberapa simpul yang perlu diketahui adalah:
1. Figure of eight knot (simpul delapan)
Paling sering dipakai, mudah dibuat serta melepaskanya setelah mendapat beban. Simpul ini
dipakai untuk menyambung tali.
2. Water knot (simpul pita)
Sering digunakan untuk menyambung webbing/sling/tali pita, meskipun dalam keadaan basah.
3. Bowline
Biasanya dipakai untuk anchor (titik tambat), karena sifatnya yang bila mendapat beban akan
semakin mengikat. Bowline terdiri dari :
a. Basic bowline
b. Bowline on the bight
4. Fisherman’s knot (simpul nelayan)
Simpul ini sangat baik untuk menyambung tali, baik tali dalam keadaan basah
ataupun bila dua tali yang disambung berbeda ukuran. Yang biasa digunakan :
a. Single fisherman’s knot
b. Double fisherman’s knot
5. Sheet bend
6. Prusik
7. OverhandLoop

D. PRAKTIK PANJAT TEBING


1. Bergerak
Bergerak pada tebing lebih menuntut perhatian kita dalam menggunakan kaki. Pijakan kaki yang
mantap akan lebih memudahkan kita dalam bergerak dan untuk memperoleh keseimbangan
tubuh. Seorang yang baru belajar panjat tebing biasanya akan memusatkan perhatian pada
pegangan tangan. Hal ini justru akan mempercepat lelah dan kehilangan keseimbangan.
Tangan sebenarnya hanya membantu kaki dalam mencapai keseimbangan
tersebut, kecuali untuk kasus-kasus tertentu, seperti melewati overhang, layback, dsb. Untuk itu,
bagi pemula sebaiknya memusatkan perhatian untuk mencari pijakan (foot hold). Dan
membisikkan pada dirinya sendiri “lihat ke bawah….!”.
Unsur terpenting dalam panjat tebing adalah keseimbangan; bilamana
menempatkan tubuh, sehingga beban tubuh dapat terpusat pada titik-titik pijakan.
Prinsip tiga point sangat baik untuk diterapkan. Yaitu hanya menggerakan satu anggota badan
saja (kaki kiri/kanan dan tangan kiri/kanan), sementara tiga anggota badan lain tetap pada
pijakan/pegangan.
Kesalahan lain yang biasa dibuat oleh seorang pemanjat pemula adalah
menempelkan tubuhnya rapat ke tebing. Hal ini justru merusak keseimbangannya.
Tubuh yang menempel pada tebing akan menyusahkan seorang pendaki dalam bergerak. Dalam
melakukan gerakan, tidak perlu mencari pegangan yang terlalu tinggi karena akan cepat
menguras tenaga. Seperti halnya bila kita berjalan dengan langkah lebar tentu akan cepat lelah.
Bergeraklah seperti ‘puteri solo’, melakukan langkah kecil, tenang tapi pasti.
Hal lain yang mendukung dalam setiap jenis olahraga adalah semangat. Dengan berlatih serius
tentu kita akan dapat bergerak dengan anggun. Ada perkataan seperti ini, “The best training for
rock-climbing is rock-climbing”, ya berlatih panjat tebing sebaiknya ditebing, melakukan panjat
tebing itu sendiri. Sekali lagi, cobalah untuk mengingatkan diri sendiri dengan membisikkan
katakata, “lihat ke bawah….”.
2. Menggunakan Kaki
Dalam setiap gerakan, pengerahan energi harus diperhitungkan, sehingga pada saat dibutuhkan,
energi tersebut dapat dikerahkan secara penuh. Konservasi energi dengan koordinasi antara otak
dengan tubuh adalah keseimbangan antara apa yang terpikir dan apa yang mampu dilakukan
tubuh kita. Posisi telapak kita jelas akan menentukan ketepatan titik beban pada kaki.
Menempelkan lutut pada tebing justru akan merusak keseimbangan. Usahakan untuk
merencanakan penempatan kaki dahulu sebelum mencari pegangan tangan.
3. Menggunakan Tangan
Setelah menempatkan posisi kaki dengan benar, tangan akan membantu dalam mencapai
keseimbangan tubuh seseorang pendaki dengan memanfaatkan rekahan atau tonjolan batu.
Rekahan tersebut bisa berupa rekahan kecil dan besar yang cukup untuk seluruh badan. Tonjolan
secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga macam, tonjolan tajam (incut), tonjolan datar (flat),
dan tonjolan bulat (rounded/sloping).
Berdasarkan retakan dan tonjolan tebing, maka pegangan dapat dibagi menjadi beberapa macam:
a. Pegangan biasa
Untuk tonjolan yang cukup besar (incut dan flat), seluruh tangan dapat digunakan, tapi ada
kalanya sangat kecil sehingga hanya jari yang dapat digunakan.
b. Pegangan Tekan (pressure push hold)
Pegangan ini diperoleh dengan cara mendorong tangan pada bidang batu yang cukup luas.
c. Pegangan Jepit
Jenis ini dipakai untuk tonjolan bulat (rounded atau slopping). Kalau tonjolan ini cukup besar
bisa seluruh tangan digunakan, tetapi bila kecil hanya jari saja yang digunakan.
d. Jamming
Pegangan ini dilakukan secara khusus, yaitu dengan cara menyelipkan tangan
sehingga menempel dengan erat. Sesuai besar kecilnya celah batu jamming dibagi atas beberapa
macam:
– jamming dengan jari atau tangan (finger and hand jamming)
– jamming dengan kepalan atau lengan (fist and arm jamming)
4. Gerakan Khusus Dalam Panjat Tebing
Dalam bergerak, sering dijumpai kondisi medan yang sulit dilewati dengan hanya mengandalkan
teknik pegangan biasa. Untuk itu, ada beberapa gerakan khusus yang penting diketahui.
a. Layback
Diantara dua tebing yang berhadapan dan membentuk sudut tegak lurus, sering dijumpai suatu
retakan yang memanjang dari bawah ke atas. Gerakan ke atas untuk kondisi tebing seperti itu
dengan mendorong kaki pada tebing di hadapan kita dan menggeser-geserkan tangan pada
retakan tersebut ke atas secara bergantian pada saat yang sama. Gerakan ini sangat memerlukan
pengerahan tenaga yang besar, karenanya gerakan harus dilakukan secara tepat sebelum tenaga
kedua tangan habis.
b. Chimney
Bila kita menemukan dua tebing berhadapan yang membentuk suatu celah yang cukup besar
untuk memasukkan tubuh, cara yang dilakukan adalah dengan chimney yaitu dengan
menyandarkan tubuh pada tebing yang satu dan menekan atau mendorong kaki dan tangan pada
dinding yang lain. Tindakan selanjutnya adalah dengan menggeser-geserkan tangan, kaki dan
tubuh sehingga gerakan ke atas dapat dilakukan. Berdasarkan lebar celah batu yang kita hadapi,
maka chimney dapat dibagi atas:
– Wriggling
Wriggling dilakukan pada celah yang tidak terlalu luas sehingga cukup untuk
tubuh saja.
– Backing Up
Backing Up dilakukan pada celah yang cukup luas, sehingga badan dapat
menyusup dan bergerak lebih bebas.
– Bridging
Bridging dilakukan pada celah yang sangat lebar sehingga hanya dapat dicapai apabila
merentangkan kaki dan tangan selebar-lebarnya.
c. Mantelshelf
Dilakukan bila menghadapi suatu tonjolan datar atau flat yang luas sehingga dapat menjadi
tempat untuk berdiri. Caranya yaitu dengan menarik tubuh dengan kekuatan tangan dan tolakan
kaki sehingga dapat melalui tonjolan tadi. Salah satu kaki kemudian menginjak dataran batu
tersebut sejajar dengan tangan, disusul dengan kaki yang lainnya.
d. Cheval
Cara ini dilakukan pada batu yang biasa disebut arete yaitu bagian punggung
tebing batu dengan bidang yang sangat tipis dan kecil.Pendaki yang menggunakan cara ini mula-
mula duduk seperti menungang kuda pada arete, lalu dengan kedua tangan menekan bidang batu
dibawahnya, ia mengangkat atau memindahkan tubuhnya ke atas.
e. Traversing
Adalah gerakan menyamping atau horisontal dari suatu tempat ke tempat lain. Gerakan ini
dilakukan untuk mencari bidang batu yang baik untuk dipanjat, untuk mencari rute yang
memungkinkan menuju ke atas. Karena gerakan ini horisontal, biasanya lebih banyak digunakan
tangan dari pada kaki (hand traveserse).
f. Slab Climbing / Friction Climbing
Dilakukan pada tebing yang licin dan tanpa celah atau rekahan serta kondisi tidak terlalu curam.
5. Leading and Runners
a. Leading (memimpin pendakian)
Umumnya dalam setiap pendakian, harus ada seorang yang menjadi pendaki
pertama (leader), biasanya dipilih seorang yang berpengalaman. Untuk menjadi leader
dibutuhkan pengetahuan yang cukup tentang panjat tebing. Ketenangan dalam menyelesaikan
rute-rute sulit, menempatkan piton-piton dan chock dengan tepat, keyakinan untuk bergerak ke
atas dengan mulus serta dengan keyakinan pula menempatkan diri pada posisi istirahat. Bila rute
tersebut masih asri / belum terjamah sebelumnya, maka menciptakan rute baru menurut seorang
pendaki terkenal merupakan karya seni yang luar biasa. Untuk mengamankan dirinya dari
kemungkinan jatuh, seorang leader akan menempatkan suatu rangkaian jalur pengaman pada
tempat-tempat yang tepat. Jalur pengaman (runners) yang dibuat selurus mungkin, ini
dimaksudkan untuk mengurangi gesekan antara karabiner
engan tali pengaman. Hal ini untuk mencegah copotnya runners.
b. Runners
Runners adalah tempat tumpuan tali pengaman yang dipasang oleh pendaki
pertama untuk memperkecil jarak jatuh yang mungkin timbul. Semakin banyak runners yang
dipakai, makin terjaga pula pengamanan untuk si pendaki. Akan tetapi banyak juga para pendaki
yang beranggapan bahwa pemakainan runners harus sesedikit mungkin, untuk menjaga
kelestarian tebing bersangkutan. Runners umumnya dipakai untuk proteksi pendaki pertama,
akan tetapi untuk kasus-kasus tertentu bisa juga dipakai untuk proteksi pendaki kedua. Sesuai
perkembangan peralatan panjat tebing, runners dapat dibentuk dari banyak alat. Akan tetapi pada
prinsipnya runners dapat dibentuk dengan piton, sling, dan chock.
6. Belaying dan Anchor
a. Belaying
Merupakan hal yang penting dalam suatu rangkaian panjat tebing (claimbing
chain). Belayer yang baik harus terlatih sehingga dapat menyelamatkan leader, bila leader
terjatuh. Untuk itu dibutuhkan latihan, disamping memahami cara-cara yang tepat. Komunikasi
antara belayer dengan leader harus jelas dan dimengerti oleh kedua belah pihak. Karena
adakalanya leader minta belayer untuk mengendorkan tali (slack) ataupun mengencangkan tali
(tension).
b. Anchor
Anchor (jangkar) adalah suatu titik keamanan awal dimana yang kita buat
disangkutkan di sana. Anchor berguna untuk mengikatkan tali yang telah
bersimpul tersebut dan dipakai untuk rappeling (turun), naik (memakai alat) atau untuk
mengikatkan seseorang bila ia menjadi seorang belayer. Ada anchor alamiah yang relatif kuat
dan ada pula anchor buatan dengan bantuan piton, bolt, chock, sling, dan etrier. Anchor buatan
umumnya dipakai bila sama sekali tidak ada anchor alamiah misalnya pada suatu pitch di tengah-
tengah tebing.
c. Belaying dan penggunaan Runners
Ada beberapa pendaki yang senang melakukan panjat tebing seorang diri, tetapi kebanyakan
kegiatan ini dilakukan oleh satu kelompok yang terdiri dari beberapa pendaki. Dalam ‘free
climbing’ beberapa alat pendakian juga digunakan, meskipun pemakaian terbatas untuk proteksi
saja. Tali misalnya, bukan untuk memanjat atau pegangan, tapi untuk tali pengaman (safety rope)
yang menghubungkan pendaki dengan pendaki lain yang menjadi belayer. Demikian halnya alat-
alat lain seperti karabiner, piton, chock atau sling yang semuanya digunakan untuk proteksi.
Pendakian oleh satu kelompok dipandang sebagai suatu hal yang menjamin keamanan para
pendaki. Pendaki pertama diikat dengan tali pengaman yang dihubungkan dengan pendaki kedua
yang melakukan belaying. Untuk menghindarkan akibat jatuh yang fatal, maka jarak jatuh si
pendaki dengan belayer harus dipersempit. Caranya yaitu dengan menempatkan runners (running
belay) pada jarak-jarak di tebing batu. Dengan menempatkan runners sebanyak mungkin,
diharapkan faktor kejatuhan (fall factor) dapat diperkecil.
Bila pendaki pertama berhasil mencapai tempat berpijak yang aman, maka
sekarang ia membantu mengamankan pendaki kedua dengan memberikan
belaying (upper belay). Jarak antara tempat pendaki pertama berpijak dengan pendaki kedua
yang menjadi belayer (low belaying) secara teknis disebut “pitch”. Jadi banyak pitch pada satu
tebing tergantung frekuensi belaying yang dilakukan.
7. Abseiling (Rapeling)
Setelah mencapai puncak tebing, persoalan berikutnya adalah bagaimana turun kembali. Pada
saat turun, pandangan pendaki tidak seluas atau sebebas ketika mendaki. Inilah sebabnya
mengapa turun lebih sulit dari pada mendaki.
Karenanya alat sangat diperlukan pada saat turun tebing (abseiling/rapeling). Cara turun dengan
menggunakan tali melalui gerakan atau sistem friksi sehingga laju luncur pendaki dapat
terkontrol.
Berdasarkan pemakaian alat maka abseiling dapat dibagi atas : teknik tanpa
karabiner (classic method) dan teknik dengan karabiner (crab method).
a. Teknik Dulfer
Cara klasik dalam turun tebing. Hanya menggunakan tali luncur (abseiling rope) yang diletakkan
diantara dua kaki lalu menyilang dada dan melalui bahu. Laju turun ditahan dengan satu tangan.
b. Teknik Modified Dulfer
Teknik semi klasik. Menggunakan karabiner tersebut tali luncur menyilang ke
salah satu bahu lalu dipegang oleh satu tangan untuk kontrol.
c. Teknik Komando
Di Indonesia, cara ini sering dipakai oleh para komando. Caranya dengan
melilitkan karabiner dengan tali sebanyak dua kali, dan dengan melewati antara kaki maka laju
badan dikontrol dengan gerakan tali luncur tersebut pada salah satu tangan. Adakalanya tali
luncur tersebut tidak melalui dua kaki tetapi hanya satu paha, lalu gerakan friksinya diatur oleh
tangan yang sejajar dengan paha tersebut.
d. Teknik Brake Bar
Empat buah karabiner disusun melintang sedemikian rupa sehingga merupakan sistem friksi
(lihat kembali: descendeur), lalu tali luncur melewatinya dengan dikontrol oleh satu tangan
pendaki. Sistem friksi kemudian dikembangkan dengan sistem descendeur khusus yang disebut
bar crab.
Abseiling dengan penggunaan karabiner atau tanpa karabiner dilakukan pada
tebing batu yang tidak terlalu tinggi. Bila kita berhadapan dengan satu tebing yang panjang atau
tinggi, maka cara ini tidak dianjurkan.Untuk kasus seperti itu dapat menggunakan descendeur,
seperti figure of eight, bobbin atau brake bar.
Karena abseiling sangat tergantung pada alat yang dipakai maka persiapan
penggunaanya harus betul-betul diperhatikan. Pastikan bahwa ikatan pada anchor benar-benar
kuat. Periksa kembali apakah ujung tali telah disimpul. Sebaiknya selain abseile rope persiapkan
juga safety rope yang diamankan oleh pendaki kedua.
Dengan memasang karabiner untuk meluncur, mutlak diperhatikan arah pintu (gate) karabiner
tersebut. Ingat prinsip friksinya jangan sampai terbalik tetap gate karabiner. Kalau perlu screw
gate karabiner.Tangan yang mengontrol laju tidak boleh dilepas, karena luncuran yang tidak
terkontrol dapat berakibat fatal.
Jangan memaksa untuk melakukan lompatan pada abseiling, kecuali pada tebing yang
menggantung (overhang). Turunlah perlahan-lahan, lompatan akan memberi tekanan pada tali
sehingga kemungkinan tali lepas atau aus lebih besar. Lagi pula, lompatan sering membuat
pendaki lepas kontrol dan mendarat kurang tepat.
8. Urutan Suatu Pendakian
a. Memilih rute
Pada umumnya dipilih berdasarkan data-data yang sudah ada, misalnya dari bukubuku panduan
atau dari para pendaki yang pernah melewatinya.
b. Mempersiapkan peralatan
Persiapkan peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan rute yang dipilih.
c. Menentukan leader
Leader dipilih oleh mereka yang dianggap lebih berpengalaman. Apabila dalam regu tersebut
kemampuannya sama, leader dapat bergantian.
d. Mempersiapkan pendakian
– Buat anchor pada posisi yang tepat.
– Leader mempersiapkan diri, yaitu seluruh peralatan pendakian yang ditempatkan pada
gantungan yang tersedia atau pada sekeliling harness.
– Belayer mempersiapkan diri, yaitu dengan mengikatkan diri pada anchor.
– Aba-aba. Apabila leader telah siap, dia akan berkata “ belay on” dan disahuti oleh belayer
dengan “on belay”.
e. Memulai pendakian
– Leader naik menuju pitch (belayer harus seksama memperhatikan seluruh
gerakan yang dilakukan oleh leader, cara memasang chock, melewati
overhang/tebing atap/tebing yang menggantung istirahat, memasang sling, dsb.
– Leader menyangkutkan tali pengaman pada runner yang dibuatnya.
– Berikutnya kadang-kadang leader melakukan gerakan khusus atau menggunakan tangga untuk
dapat terus naik.
– Bila leader jatuh akan tertolong oleh belayer bila runner telah terpasang kuat.
– Setelah cukup tinggi sekitar 40 meter lebih, leader akan mencari tempat yang cukup aman
untuk memasang anchor.
– Adakala sebelum setinggi itu terdapat teras lebih baik anchor dipasang di sini. Bila leader
merasa cukup aman terikat pada anchor yang dibuat dia akan berkata “belay off”
– Leader telah menyelesaikan pitch I
f. Belayer mempersiapkan diri untuk menyusul leader ke pitch I
– Langkah pertama ia akan membuat anchor
– Ujung tali yang dipakai untuk mem-belay disangkutkan pada tubuhnya
– Belayer melakukan cleaning up (membersihkan runner yang dibuat oleh leader). Biasanya ia
dilengkapi oleh hammer yang berguna untuk mencopot piton.
– Belayer sebagai pendaki kedua sampai di pitch I
g. Meneruskan ke pitch I
– Bila ada pendaki ketiga, leader akan memasang fixed rope (tali tetap) untuk
pendaki ketiga yang naik menggunakan ascendeur.
– Bila hanya berdua, akan dimulai proses pendakian seperti sebelumnya.
9. Artificial Climbing
Pada suatu keadaan tertentu dimana tebing tidak ada hold (tonjolan batu) tetapi hanya ada
rekahan kecil yang tidak dapat digunakan untuk pijakan dan pegangan, maka pendakian akan
menggunakan alat berupa piton, friend, chock serta etrier dalam menambah ketinggian.
Dalam hal ini etrier menjadi alat yang sangat vital sebagai pijakan. Dengan cara menempatkan
etrier pada chock/friend/piton yang terpasang pada rekahan.
Pendaki memasang lebih ke atas lagi chock/friend/piton, kemudian etrier
dipindahkan pada chock/friend/piton yang terpasang tersebut. Demikian
seterusnya berulang-ulang sehingga pendaki mencapai ketinggian yang
diinginkan.
Demikianlah ringkasan suatu pendakian pada umumnya. Akhirnya makalah ini kami cukupkan
sampai di sini. Untuk lebih jelas sebaiknya kita berlatih di
lapangan/tebing.

ALAT CLIMBING

Tali Pendakian

Fungsi utamanya dalam pendakian adalah sebagai pengaman apabila jatuh.Dianjurkan jenis-jenis
tali yang dipakai hendaknya yang telah diuji oleh UIAA, suatu badan yang menguji kekuatan
peralatan-peralatan pendakian. Panjang tali dalam pendakian dianjurkan sekitar 50 meter, yang
memungkinkan leader dan belayer masih dapat berkomunikasi. Umumnya diameter tali yang
dipakai adalah 10-11 mm, tapi sekarang ada yang berkekuatan sama, yang berdiameter 9.8 mm.
Ada dua macam tali pendakian yaitu :

 Static Rope, tali pendakian yang kelentirannya mencapai 2-5 % fari berat maksimum
yang diberikan. Sifatnya kaku, umumnya berwarna putih atau hijau. Tali static digunakan
untuk rappelling.
 Dynamic Rope, tali pendakian yang kelenturannya mencapai 5-15 % dari berat
maksimum yang diberikan. Sifatnya lentur dan fleksibel. Biasanya berwarna mencolok
(merah, jingga, ungu).
2. Carabiner

Adalah sebuah cincin yang berbentuk oval atau huruf D, dan mempunyai gate yang berfungsi
seperni peniti.Ada2 jenis carabiner :

 Carabiner Screw Gate (menggunakan kunci pengaman).


 Carabiner Non Screw Gate (tanpa kunci pengaman)

3. Sling

Sling biasanya dibuat dari tabular webbing, terdiri dari beberapa tipe. Fungsi sling antara lain :
– sebagai penghubung
– membuat natural point, dengan memanfaatkan pohon atau lubang di tebing.
– Mengurangi gaya gesek / memperpanjang point
– Mengurangi gerakan (yang menambah beban) pada chock atau piton yang terpasang.

4. Descender

Sebuah alat berbentuk angka delapan. Fungsinya sebagai pembantu menahan gesekan, sehingga
dapat membantu pengereman. Biasa digunakan untuk membelay atau rappelling.

5. Ascender

Berbentuk semacam catut yang dapat menggigit apabila diberi beban dan membuka bila
dinaikkan. Fungsi utamanya sebagai alat Bantu untuk naik pada tali.

6. Harnes / Tali Tubuh

Alat pengaman yang dapat menahan atau mengikat badan. Ada dua jenis hernas :

 Seat Harnes, menahan berat badan di pinggang dan paha.


 Body Harnes, menahan berat badan di dada, pinggang, punggung, dan paha.
Harnes ada yang dibuat dengan webbning atau tali, dan ada yang sudah langsung dirakit
oleh pabrik.
7. Sepatu

Ada dua jenis sepatu yang digunakan dalam pemanjatan :

 Sepatu yang lentur dan fleksibel. Bagian bawah terbuat dari karet yang kuat.
Kelenturannya menolong untuk pijakan-pijakan di celah-cleah.
 Sepatu yang tidak lentur/kaku pada bagian bawahnya. Misalnya combat boot. Cocok
digunakan pada tebing yang banyak tonjolannya atau tangga-tangga kecil.Gayatumpuan
dapat tertahan oleh bagian depan sepatu.

8. Anchor (Jangkar)

Alat yang dapat dipakai sebagai penahan beban. Tali pendakian dimasukkan pada achor,
sehingga pendaki dapat tertahan oleh anchor bila jatuh.Adadua macam anchor, yaitu :

 Natural Anchor, bias merupakan pohon besar, lubang-lubang di tebing, tonjolan-tonjolan


batuan, dan sebagainya.

Artificial Anchor, anchor buatan yang ditempatkan dan diusahakan ada pada tebing oleh si
pendaki. Contoh : chock, piton, bolt, dan lain-lain.