Anda di halaman 1dari 4

 Tuberculin Skin test (TST) atau Tes Mantoux

Tuberculin skin test (TST) positif menunjukkan kecenderungan terjadinya infeksi primer TB. Tes
ini merupakan metode standar dalam menentukan apakah seseorang terinfeksi
dengan Mycobacterium tuberculosis. Konversi TST biasanya terjadi 3-6 minggu setelah paparan
terhadap kuman TB. Sekitar 20% pasien-pasien dengan TB aktif, khususnya pada penyakit yang
sudah berlanjut, memiliki hasil TST yang normal.
Pembacaan hasil TST dilakukan antara 48 dan 72 jam setelah dimasukkan 0,1 ml suntikan
tuberkulin PPD secara intradermal. Suntikan yang benar akan menimbulkan gelembung kulit
kecil pucat berdiameter 6-10 mm. Reaksi terhadap suntikan akan teraba mengeras, atau
membengkak, disebut sebagai indurasi yang diukur diameternya dalam milimeter ke arah aksis
longitudinal pada lengan bawah bagian ventral. Eritema tidak ikut diukur sebagai
indurasi. [4,17,18]

Tuberculin skin test. Sumber: G Knobloch, G Benenson, PHIL CDC, 2004.

Hasil reaksi TST diklasifikasikan sebagai berikut:


1. Indurasi ≥5 mm, dianggap positif pada:
 Orang terinfeksi HIV
 Orang yang baru tertular kuman TB
 Seseorang yang hasil foto rontgen dadanya menunjukkan adanya perubahan fibrotik yang
konsisten dengan TB terdahulu
 Pasien dengan transplantasi organ
 Orang yang mengalami penurunan kekebalan tubuh karena misalnya mengonsumsi >15 mg/ hari
prednison selama satu bulan atau lebih, atau antagonis TNF alfa
2. Indurasi ≥10 mm, dianggap positif pada:
 Orang yang pernah bepergian ke negara-negara dengan prevalensi tinggi TB dalam waktu <5
tahun
 Pengguna obat-obat terlarang dengan cara suntikan
 Tempat-tempat yang padat penduduknya
 Pekerja di laboratorium mikrobiologi
 Orang-orang dengan kondisi klinis yang lemah, yang memudahkan mereka memiliki risiko
tinggi terkena TB
 Anak-anak usia <4 tahun
 Bayi, anak dan remaja yang terpapar oleh orang dewasa yang memiliki risiko tinggi terkena TB
3. Indurasi ≥15 mm, dianggap positif pada:
 Tiap orang, termasuk mereka yang tidak memiliki faktor risiko terkena TB
 Namun, program TST ini semestinya dilakukan hanya pada orang-orang dengan risiko tinggi
saja
Beberapa orang dapat bereaksi terhadap TST meski mereka tidak terinfeksi Mycobacterium
tuberculosis, hal ini disebut reaksi false-positif. Penyebab reaksi false positif di antaranya adalah:
 Infeksi dengan Mycobacterianon-tuberkulosis
 Riwayat vaksinasi BCG sebelumnya
 Cara penyuntikan TST yang tidak benar
 Intepretasi yang tidak benar terhadap reaksi TST
 Antigen yang digunakan tidak benar
 Pemeriksaan Bakteriologik
Pemeriksaan bakteriologik untuk menemukan kuman tuberkulosis mempunyai arti yang sangat
penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan untuk pemeriksaan ini dapat diambil dari dahak,
cairan pleura, cairan serebrospinal,bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan bronkoalveolar,
urin, feses, dan jaringan biopsi.
Umumnya, sampel yang digunakan adalah dahak karena lebih mudah untuk diambil. Dahak
dapat diambil dengan cara setiap pagi selama 3 hari berturut-turut, ataupun dengan pengambilan
dahak sewaktu-pagi-sewaktu.
Interpretasi hasil pemeriksaan mikroskopik dari 3 kali pemeriksaan ialah :
 Apabila didapatkan 2 kali positif, dan 1 kali negatif → dianggap basil tahan asam (BTA) positif
 Apabila didapatkan 1 kali positif, dan 2 kali negatif → BTA diulangi 3 kali, kemudian bila 1 kali
positif, dan 2 kali negatif maka dianggap BTA positif. Namun apabila 3 kali negatif maka
dianggap BTA negatif
Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TB paru dapat dibedakan menjadi TB paru BTA positif
dan BTA negatif.
Yang dimaksud TB paru BTA positif adalah :
1. Apabila sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif
2. Apabila hasil satu pemeriksaan spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan pemeriksaan
radiologik menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif
3. Apabila hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan hasil biakan
positif
Yang dimaksud TB paru BTA negatif adalah :
1. Apabila hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan hasil negatif , namun gambaran klinis dan
radiologik menunjukkan TB paru aktif, dan tatalaksana dengan antibiotik sprektum luas tidak
berespon
2. Apabila hasil pemeriksaan dahak 3 kali negatif, namun biakan positif

Pemeriksaan bakteriologik lainnya adalah pemeriksaan biakan kuman. Untuk Mycobacterium


tuberculosis media biakan yang digunakan adalah egg-base media seperti Lowenstein-Jensen,
ataupun agar media seperti Middle-Brook. Pemeriksaan ini merupakan baku emas dalam
diagnosis TB Paru.
Gambaran mikroskopis Mycobacterium tuberculosis. Sumber: anonim, PHIL CDC.

 Tes PAP (Peroksidase anti peroksidase)


Merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai alat histogen imunoperoksidase staning
untuk menentukan adanya igG spesifik terhadap basil TB