Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH FARMASI LINGKUNGAN

PENGOLAHAN PETERNAKAN LIMBAH MENJADI GAS

OLEH
Nurul Tiara Indah Pasaribu
NIM : D1A181699

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS AL-GHIFARI BANDUNG
2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Usaha peternakan mempunyai prospek untuk dikembangkan karena tingginya permintaan


akan produk peternakan. Usaha peternakan juga memberikan keuntungan yang cukup tinggi
dan menjadi sumber pendapatan bagi banyak masyarakat di perdesaan di Indonesia. Namnu
demikian, sebagaimana usaha lainnya, usaha peternakan juga menghasilkan limbah yang
dapat menjadi sumber pencemaran.

Oleh karena itu seiring dengan kebijakan otonomi, maka pengembangan usaha
peternakan yang dapat meminimalkan limbah peternakan perlu dilakukan oleh pemerintahan
kabupaten/kota untuk menjaga kenyamanan pemukiman masyarakatnya. Salah satu upaya
kearah itu adalah dengan memanfaatkan limbah peternakan sehingga dapat memberi nilai
tambah bagi usaha tersebut.

Sistem peternak terpadu merupakan sistem peternakan efektif yang dapat diterapkan di
lingkup masyarakat pedesaan sehingga menjadikan kegiatan beternak menjadi lebih efisien
dan menguntungkan bagi peternak.

Selama ini banyak keluhan masyarakat akan berdampak buruk dari kegiatan usaha
peternakan karena sebagian besar peternak mengabaikan penanganan limbah dari usahanya,
bahkan ada yang membuang limbah usahanya ke sungai, sehingga terjadi pencemaran
lingkungan. Limbah peternakan yang dihasilkan oleh aktivitas peternakan seperti feces, urin,
sisa pakan, serta air dari pembersihan ternak dan kandang menimbulkan pencemaran yang
memicu protes dari warga sekitar. Baik berupa bau tidak enak yang menyangat, sampai
keluhan gatal-gatal ketika mandi di sungai yang tercemar limbah petenakan.

Berkenaan dengan hal tersebut, maka upaya mengatasi limbah ternak yang selama ini
dianggap mengganggu karena menjadi sumber pencemaran lingkungan perlu ditangani
dengan cara yang tepat sehingga dapa memberi manfaat lain berupa keuntungan ekonomis
dari penanganan tersebut. Penanganan limbah ini diperlukan bukan saja karena tuntutan akan
lingkungan yang nyaman tetapi juga karena pengembangan peternakan mutlak
memperhatikan kualitas lingkungan, sehingga keberadaannya tidak menjadi masalah bagi
masyarakat di sekitarnya.

1.2. Rumusan Masalah

Bagaimana cara mengelolah peternakan dan limbahnya menjadi gas.


BAB II

PENGELOLAHAN PETERNAKAN DAN LIMBAHNYA

2.1. Pengertian Sistem Peternakan dan Limbah Peternakan

Sistem peternakan terpadu merupakan sistem peternakan efektif yang dapat diterapkan di
lingkup masyarakat pedesaan sehingga menjadikan kegiatan beternak menjadi lebih efisien
dan menguntungkan bagi peternak.

Definisi sistem peternakan adalah satu sistem yang menggunakan ulang dan mendaur
ulang menggunakan tanaman dan hewan sebagai mitra, menciptakan suatu ekosistem yang
meniru cara alam bekerja. Secara harfiah, peternakan dapat diartikan sebagai upaya budidaya
hewan ternak demi memenuhi kebutuhan pangan. Ditinjau dari komoditasnya, apabila
ditinjau dari ilmu yang membangunnya, peternakan dibangun dari ilmu-ilmu keras (hard
sciences) dan ilmu-ilmu lunak (soft sciences) baik pada kekuatan ilmu-ilmu dasar, terapan
dan lanjutan maupun ilmu-ilmu kawinannya.

Limbah ternak adalah sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha
pemeliharaan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produk ternak, dan sebagainya.
Limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses, urine, sisa makanan,
embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku, tulang, tanduk, isi rumen, dan lain-lain.

Menurut Soehadji (1992), limbah peternakan meliputi semua kotoran yang dihasilkan
dari suatu usaha peternakan baik berupa limbah padat, cairan dan gas maupun sisa pakan.
Limbah padat merupakan semua limbah yang berbentuk padatan atau dalam fase padat
(kotoran ternak, ternak yang mati, atau isi perut dari pemotongan hewan). Limbah cair adalah
semua limbah yang berbentk cairan atau dalam fase cairan (air seni atau urine, air dari
pencucian alat-alat). Sedangkan limbah gas adalah semua limbah berbentuk gas atau dalam
fase gas.

2.2. Sistem Pengolahan Limbah Peternakan

Keberhasilan pengelolaan limbah peternakan sanggat dipengaruhi oleh teknik


pengelolaan yang dilakukan.

Teknik pengelolaan limbah meliputi:

- Teknik pengumpulan (collections)


- Pengangkutan (transport)
- Pemisahan (separation)
- Penyimpanan (storage) atau pembuangan (disposal)
2.3. Teknik Pengumpulan

Arah kemiringan kandang dibuat agar pada saat dibersihkan dengan air, limbah mudah
mengalir menuju ke parit. Kemudian limbah ternak berbentuk cair tersebut dikumpulkan di
ujung parit untuk kemudian dibuang.

Pada kandang sistem feedlots terbuka, sebagian besar limbah ternak menumpuk di lokasi
yang terbuka di depan kandang, lantai pada lokasi ini biasanya ditutup dengan bahan yang
keras dan rata dengan kemiringan tertentu untuk mengalirkan limbah cairnya. Untuk
membersihkan lantai digunakan pipa semprot yang kuat agar limbah cair dapat didorong dan
mengalir ke tempat penampungan.

Ada 3 cara mendasar pengumpulan limbah:

- Scraping, yaitu membersihkan dan mengumpulkan limbah dengan cara menyapu atau
mendorong (dengan sekop atau alat lain) limbah.
- Free-fall, yaitu pengumpulan limbah dengan cara membiarkan limbah tersebut jatuh
bebas melewati penyaring atau penyekat lantai kedalam lubang pengumpul di bawah
lantai kandang.
- Flushing, yaitu pengumpulan limbah menggunakan air untuk mengangkat limbah tersebut
dalam bentuk cair.

1. Scraping

Scraping diduga merupakan cara pengumpulan limbah yang paling tua dilakukan oleh
para peternak. Scraping dapat dilakukan dengan cara manual ataupun mekanik. Pada
dasarnya, kedua cara tersebut menggunakan alat yang terdiri atas plat logam yang fungsinya
untuk mendorong atau menarik limbah sepanjang lantai dengan maksud agar limbah terlepas
dari lantai dan dapat dikumpulkan.

Cara manual, biasa dipakai pada kandang panggung (stanchions), yaitu untuk
membersihkan limbah yang melekat di jeruji lantai kanndang atau di tempat-tempat fasilitas
kandang yang lain. Cara ini juga dilakukan untuk membersihkan limbah padat yang melekat
di dinding dan sukar larut dalam air sehingga tidak dapat dialirkan. Cara ini digunakan
terutama untuk pekerjaan yang membutuhkan tenaga kerja banyak dan sebagai
penyempurnaan sistem pengelolaan limbah peternakan.

Sistem mekanik memiliki cara kerja yang sama dengan sistem manual, hanya saja pada
sistem ini menggunakan kekuatan traktor atau unit kekuatan tetap. Contoh alat yang
digunakan: Front-end Loader, yaitu mesin yang alat pembersih atau penyedoknya terletak di
bagian depan. Alat jenis ini biasanya digunakan untuk membersihkan dan mengumpulkan
limbah dari permukaan lantai kandang ketempat penampungan, untuk disimpan atau
diangkut dengan kereta dan disebar ke ladang rumput.

Keuntungannya dari cara ini adalah mempermudah pengumpulan limbah dan efisiensi
waktu, sedangkan kelemahannya diperlukannya tenaga operator dan selama digunakan sering
terjadi penimbunan limbah yang menempel di alat yang mengakibatkan pencemaran udara
dan sebagai tempat berkembangnya lalat.

2. Free-Fall

Pengumpulan limbah peternakan dengan sistem free-fall dilakukan dengan membiarkan


limbah melewati penyaring dan penyekat lantai dan masuk ke dalam lubang penampung.
Teknik ini telah digunakan secara ekstensif dimasa lampau untuk peternakan hewan tipe
kecil, seperti ayam, kalkun, kelinci, dan ternak jenis lain. Baru-baru ini juga digunakan untuk
ternak besar seperti sapi dan babi.

Ada dua sistem free-fall, yaitu:

- Penyaring lantai (screened floor)


Screened floor Lantai kandang sistem ini dapat dibuat menggunakan kawat kasa
atau besi gril yang berukuran mes lebih besar dan rata. Penggunaan kawat kasa sangat
memungkinkan untuk tempat pijakan hewan yang ada di dalamnya dan memudahkan
limbah dapat dikeluarkan. Digunakan pada kandang ayam sistem cage,babi dan pedet.
- Penyekat lantai (slotled floor)
Slotled floor Salah satu bentuk lantai bersekat (jeruji) yang dipasang dengan jarak
yang teratur dan rata sehingga ukuran dan jumlahnya mencukupi untuk keluarnya limbah
dari lantai. Lubang dibawah lantai merupakan tempat untuk pengumpulan dan
penampungan sementara untuk kemudian limbah diolah dan digunakan. Dapat dibuat dari
bermacam bahan, seperti kayu, beton atau besi plat.
Keuntungannya dari sistem ini adalah lantai sistem sekat dapat meningkatkan
sanitasi dan mengurangi tenaga kerja untuk membersihkan kandang. Penggunaan sekat
juga memisahkan ternak dari limbahnya sehingga lingkungan menjadi bersih.
Penggunaan sekat ini adalah mengurangi biaya gabungan antara pengadaan dan
penanganan alas kandang (litter).

3. Flushing
Pengumpulan limbah dengan cara flushing meliputi prinsip kerja:
- Penggunaan parit yang cukup untuk mengalirkan air yang deras untuk mengangkut
limbah
- Kecepatan aliran yang tinggi
- Pengangkutan limbah dari kandang
Sistem flushing telah digunakan sejak tahun 1960-an dan menjadi cara yang makin
populer digunakan oleh peternak untuk pengumpulan limbah. Keuntungan cara ini adalah
biaya lebih murah, bebas dari pemindahan limbah dan sama sekali tidak membutuhkan
perawatan dan mudah dipasang pada bangunan baru atau bangunan lama.

Perlengkapan flushing harus kuat, sederhana, mudah dioperasikan dan tahan karat,
mudah pemasangannya pada bangunan, tidak memakan tempat, dan harus dapat dipakai juga
untuk mengangkut air pada kapasitas tertentu untuk setiap durasi flushing.

2.4. Pengangkut (Transport)

Cara pengangkutan limbah dari tempat pengumpulan bergantung pada karakteristik aliran
limbah. Karakteristik aliran limbah bergantung pada terutama umur dan jenis ternak dan juga
pada sistem pengumpulan limbah yang digunakan. Cara pengangkutan limbah yang
dikumpulkan menggunakan cara scraping berbeda dengan yang menggunakan flushing.

Sobel (1956) dan Merkel (1981) mengklasifikasikan cara pengangkutan limbah


berdasarkan karakteristiknya, yaitu:

- Semi solid (semi padat)

Limbah peternakan semi padat Limbah yang berbentuk semipadat tidak dapat dialirkan
tanpa bantuan penggerak secara mekanik. Limbah terletak kuat pada lantai (lengket) dan
sangat berat untuk dipindahkan dan membutuhkan periode waktu yang lama.

- Semi liquid (semi cair)

Limbah peternakan semi cair Limbah semi cair adalah limbah yang telah mengalami
pengenceran dengan air dan bertambahnya aktifitas mikroorganisme. Limbah dengan mudah
dialirkan tanpa bantuan mekanik yang dapat dengan mudah dilihat dengan mata telanjang.
Limbah semicair biasanya mengandung 5-15% bahan kering (total solid concentrations) dan
diklasifikasikan sebagai slurry.

- Liquid (cair)

Limbah peternakan cair Limbah peternakan yang cair adalah limbah yang sudah
berbentuk cairan yang pada umumnya mengandung bahan kering kurang dari 5% dan berasal
dari aliran kandang feedlot, efluen dari sistem pengolahan dan kamar susu. Karakteristik
alirannya hampir sama dengan aliran air dan susu.

Ada dua sistem pengangkutan limbah peternakan, yaitu:

- Pengangkutan secara mekanik untuk limbah padat dan semipadat


- Pengangkutan dengan air (hydraulic transport) untuk limbah cair dan semi cair
 Pengangkutan secara mekanik

Limbah peternakan yang berbentuk padat atau semipadat dapat diangkut secara mekanik
menggunakan alat konveyor atau pompa penyedot. Untuk tujuan pengangkutan limbah
peternakan pada umumnya menggunakan chain konveyor. Conveyor ini sangat cocok untuk
limbah peternakan karena selain biayanya yang murah juga sederhana, mudah dibuat, dan
sangat operasional untuk berbagai kondisi. Bentuk spesifik conveyor untuk penangnan
limbah ternak adalah scraper conveyor. Alat jenis ini sering digunakan untuk membersihkan
parit dan alley kandang. Sistem lain pengangkutan limbah peternakan secara mekanik adalah
menggunakan pompa penyedot yang terdiri atas pipa penghisap berukuran besar yang
digunakan untuk menggerakan cairan atau padatan melalui pipa ke kolam penampungan. Ada
dua tipe pompa penyedot, yaitu hollow piston pump, digunakan untuk mengangkut
(memindahkan) limbah peternakan cair, dan solid piston pump, digunakan untuk mengangkut
limbah peternakan semi padat. Pengangkutan limbah dengan sistem aliran Pada
pengangkutan sistem ini dikategorikan ada beberapa tipe aliran, yaitu: - Steady flow,
tipe aliran yang terjadi tidak mengalami perubahan karena waktu dan aliran relatif konstan. -
Varied flow, tipe aliran yang kecepatan berubah-ubah bergantung pada kondisi pada waktu
tertentu. - Uniform flow, tipe aliran ini terjadi apabila tidak ada perubahan kecepatan
pada arah aliran secara spontan. - Non-uniform flow, tipe ini terjadi apabila kecepatan
aliran bervariasi antara tempat yang satu dengan yang lain secara spontan. Bentuk saluran
pengangkutan limbah terdiri atas bentuk saluran terbuka yaitu saluran yang bagian
permukaanya tampak terlihat dan bentuk saluran yang tertutup. Bentuk saluran yang tertutup
pada umumnya menggunakan pipa yang terbuat dari bahan logam atau PVC.