Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Brunner dan Sudart (2001) ketidaksadaran adalah kondisi dimana
fungsi serebral terdepresi, direntang dari stupor sampai koma. Pada stupor, pasien
menunjukkan gejala mengabaikan stimulasi sesuatu yang tidak mengenakkan,
seperti cubitan atau tepukan tangan yang keras, dan dapat menarik atau membuat
kerutan wajah atau bunyi yang tidak dapat dimengerti. Koma adalah keadaan
klinnis ketidaksadaran dimana pasien tidak tanggap terhadap dirinya sendiri dan
lingkungan. Mutisme akinetik adalah keadaan tidak responsive pada lingkungan
dimana pasien tidak membuat gerakan atau bunyi tetapi kadang membuka mata
mereka. Keadaan vegetatif persisten adalah salah satu dimana pasien digambarkan
sebagai terjaga tetapi tidak adanya isi kesadaran tanpa fungsi mental atau kognitif
yang efektif.

B. Tujuan Intruksional Umum


Mahasiswa diharapkan mampu memahami dan mengaplikasikan
pembuatan asuhan keperawatan pada pasien dengan penurunan kesadaran dan
koma.

C. Tujuan Intruksional Khusus


1. Mahasiswa diharapkan mengerti dan memahami definisi dari penurunan kesadaran
dan koma.
2. Mahasiswa diharapkan mengerti dan memahami etiologi dari penurunan kesadaran
dan koma.
3. Mahasiswa diharapkan mengerti dan memahami manifestasi klinis dari penurunan
kesadaran dan koma.

1
4. Mahasiswa diharapkan mengerti dan memahami patofisiologi dari penurunan
kesadaran dan koma.
5. Mahasiswa diharapkan mengerti dan memahami pathway dari penurunan
kesadaran dan koma.
6. Mahasiswa diharapkan mengerti dan memahami komplikasi dari penurunan
kesadaran dan koma.
7. Mahasiswa diharapkan mengerti dan memahami penatalaksanaan dari penurunan
kesadaran dan koma.
8. Mahasiswa diharapkan mampu melakukan pengkajian dari penurunan kesadaran
dan koma.
9. Mahasiswa diharapkan mampu melakukan analisa data dari penurunan kesadaran
dan koma.
10. Mahasiswa diharapkan mampu melakukan diagnosa keperawatan dari penurunan
kesadaran dan koma.
11. Mahasiswa diharapkan mampu melakukan intervensi dari penurunan kesadaran dan
koma.
12. Mahasiswa diharapkan mampu melakukan implementasi dari penurunan kesadaran
dan koma.
13. Mahasiswa diharapkan mampu membuat evaluasi dari penurunan kesadaran dan
koma.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Pengertian kesadaran menurut Corwin Elizabeth ( 2009 ) adalah pengetahuan
penuh atas diri, lokasi, dan waktu di setiap lingkungan. Agar sadar penuh
diperlukan sistem aktivasi retikular yang utuh, dalam keadaan berfungsinya pusat
otak yang lebih tinggi di korteks serebri. Hubungan melalui talamus juga harus
utuh.
Perubahan kesadaran biasanya dimulai dengan gangguan fungsi diensefalon,
yang ditandai dengan kebuntuan, kebingungan, letargi, dan akhirnya stupor ketika
individu menjadi sulit terjaga. Penurunan kesadran yang berkelanjutan terjadi pada
disfungsi otak tengah dan ditandai dengan semakin dalamnya keadaan stupor.
Akhirnya dapat terjadi disfungsi medula dan pons yang menyebabkan koma.
Menurut Brunner dan Suddart ( 2001 ), ketidaksadaran adalah kondisi dimana
fungsi serebral terdepresi, direntang dari stupor sampai koma. Pada stupor pasien
menunjukkan gejala mengabaikan stimulasi sesuatu yang tidak mengenakkan,
seperti cubitan atau kepukan tangan yang keras, dan dapat menarik atau membuat
kerutan wajah atau bunyi yang tidak dapat dimengerti. Koma adalah keadaan klinis
ketidaksadaran dimana pasien tidak tanggap terhadap dirinya sendiri dan
lingkungan.
Menurut Aru W. Sudoyo, dkk ( 2007), koma adalah keadaan penurunan
kesadaran dan respons dalam bentuk yang berat, kondisinya seperti tidur yang
dalam di mana pasien tidak dapat bangun dari tidurnya.
Menurut Price Sylvia ( 2005 ) ada beberapa tingkat kesadaran antara lain:
1) Sadar
Karakteristik :
a. Sadar penuh akan sekeliling, orientasi baik terhadap orang, tempat dan
waktu.

3
b. Kooperatif
c. Dapat mengulang beberapa angka beberapa menit setelah diberitahu.
2) Otomatisme
Karakteristik :
a. Tingkah laku relatif normal ( misal : mampu makan sendiri )
b. Dapat berbicara dalam kalimat tetapi kesulitan mengingat dan memberi
penilaian, tidak ingat peristiwa-peristiwa sebelum periode hilangnya kesadaran;
dapat mengajukan pertanyaan yang sama berulang kali.
c. Bertindak secara otomatis tanpa dapat mengingat apa yang baru saja atau yang
telah dilakukannya.
d. Mematuhi perintah sederhana.
3) Konfusi
Karakteristik :
a. Melakukan aktivitas yang bertujuan ( misal : menyuapkan makanan ke mulut )
dengan gerakan yang canggung.
b. Disorientasi waktu, tempat dan atau orang ( bertindak seakan-akan tidak
sadar ).
c. Gangguan daya ingat, tidak mampu mempertahankan pikiran atau
ekspresi.
d. Biasanya sulit dibangunkan.
e. Menjadi tidak kooperatif.
4) Delirium
Karakteristik :
a. Disorientasi waktu, tempat dan orang.
b. Tidak kooperatif.
c. Agitasi, gelisah, bersifat selalu menolak ( mungkin berusaha keluar dan turun
dari tempat tidur, gelisah di tempat tidur, membuka baju).
d. Sulit dibangunkan.
5) Stupor
Karakteristik :
a. Diam, mungkin tampaknya tidur.

4
b. Berespons terhadap rangsang suara yang keras.
c. Terganggu oleh cahaya.
d. Berespons baik terhadap rangsangan rasa sakit.

6) Stupor dalam
Karakteristik :
a. Bisu.
b. Sulit dibangunkan ( sedikit respons terhadap rangsanag nyeri ).
c. Berespons terhadap nyeri dengan gerakan otomatis yang tidak
bertujuan.
7) Koma
Karakteristik :
a. Tidak sadar, tubuh flaksid.
b. Tidak berespons terhadap rangsangan nyeri maupun verbal.
c. Refleks masih ada : muntah, lutut, kornea.
8) Koma irreversibel dan kematian
Karakteristik :
a. Refleks hilang.
b. Pupil terfiksasi dan dilatasi.
c. Pernapasan dan denyut jantung berhenti.

B. Etiologi
Menurut Aru W. Sudoyo, dkk ( 2007) penyebab koma adalah :
1) Lesi besar pada serebral dan herniasi.
Lubang kranial dipisahkan menjadi kompartemen oleh lipaatan dura.
Herniasi adalah pergeseran jaringan otak ke kompartemen yang secara normal.
a. Herniasi transtentorial uncal.
Merupakan impaksi girus temporal media anterior ( uncus ) ke bagian
anterior bukan tentorial. Jaringan yang bergeser menekan saraf ketiga ketika ia
melalui ruang subarachnoid dan mengakibatkan pembesaran pupil ipsilateral (

5
kemungkinan karena serat para simpatetik fungsi pupil terletak pada daerah
peroperal saraf ). Koma yang terjadi merupakan akibat dari tekanan lateral dari otak
tengah yang berbenturan dengan sudut tentorial yang berseberangan karena
pergesseran gyrus parahipokampus.
b. Herniasi transtentorial sentral.
Merupakan gerakan simetik kebawah dari bagian thalamus atau melalui
bukan tentorial, tanda utama adalah pupil miotik dan drowsiness.
Herniasi temporal dan sentral dianggap sebagai penyebab tekanan progresif
batang otak dari atas : pertama otak tengah, kemudian pons dan terakhir medula.
Sehingga terjadi tanda neurologis yang berhubungan dengan tingkat yang terpapar.
2) Gangguan metabolik
Gangguan metabolik mengakibatkan koma dan mengganggu pengiriman
substrat energi ( hipoksia , iskemia, hipoglikemia ) atau dengan mengganti
eksitabilitas neuron.
3) Epileptik
Pengeluaran listrik menyeluruh dan berkelanjutan dari korteks
berhubungan dengan koma, walaupun tidak ada aktivitas motor epileptik. Koma
yang terjadi setelah kejang, merupakan tahap postical, yang disebabkan oleh
kekurangan persediaan energi atau efek molekul toksik lokal yang merupakan hasil
dari kejang.
4) Farmakologis
Ensefalopati jenis ini sangat reversibel dan tidak menimbulkan kerusakan
residual yang menyebabkan hipoksia. Overdosis beberapa obat dan toksin dapat
menekan fungsi sistem saraf. Ada pula yang menyebabkan koma dengan
mengganggu nukleus batang otak termasuk RAS dan korteks serebral.

C. Manifestasi Klinis
Menurut Corwin Elizabeth ( 2009 ), manifestasi klinisnya adalah :
1. Perubahan respons pupil
Perubahan pupil penting yang dijumpai pada kerusakan otak adalah pupil
pinpoint yang tampak pada overdosis opiat ( heroin ) serta dilatasi dan fiksasi pupil

6
bilateral yang biasanya dijumpai pada overdosis barbiturat. Cedera batang otak
memperlihatkan fiksasi pupil bilateral dengan posisi di tengah.
2. Perubahan gerakan mata
Pada cidera batang otak, terjadi gangguan gerakan mata, dan mata terfiksasi
dalam posisi ke depan langsung. Deviasi yang miring dengan satu mata
memandang ke atas dan satu ke bawah, menunjukkan cedera kompresif pada batang
otak. Gerakan siklik unvolunter normal pada bola mata ( respons nigtagmus )
sebagai respons terhadap pemberian air es ke telinga menghilang pada disfungsi
korteks dan batang otak.

3. Perubahan pola nafas


a. Kerusakan pada batang otak
Pusat pernafasan di batang otak bagian bawah mengontrol pernafasan
berdasarkan konsentrasi ion hidrogen dalam CSS yang mengelilinginya. Kerusakan
batang otak menyebabkan pola nafas yang tidak teratur dan tidak dapat
diperkirakan. Overdosis opiat merusak pusat pernafasan dan menyebabkan
penurunan frekwensi pernafasan secara bertahap sampai pernafasan terhenti.
b. Kerusakan serebral
Pernafasan cheynes-stokes juga merupakan pernafasan yang didasarkan pada
kadar karbondioksida. Pada kasus ini pusat pernafasan berespons berelebihan
terhadap karbondioksida yang menyebabkan pola nafas tenang meningkat
frekwensi dan kedalaman pernafasan kemudian turun dengan mudah sampai terjadi
apnea ( decrescendo breathing ). Pernafasan chynes-stokes mirip dengan apnea
pasca ventilasi, yang dijumpai pada kerusakan hemisfer serebri, dan sering
berkaitan dengan koma metabolik.
4. Perubahan respons motorik dan gerakan
Respons motorik abnormal meliputi tidak sesuainya atau tidak adanya
gerakan sebagai respons terhadap stimulus nyeri, refleks batang otak seperti
respons mengisap dan menggengam terjadi apabila pusat otak yang lebih tinggi
rusak.
5. Disfasia

7
Disfasia adalah gangguan pemahamaan atau pembentukan bahasa. Afasia
adalah kehilangan total pemahaman atau pembenyukaan bahasa. Disfasia biasanya
disebabkan oleh hipoksia serebral yang sering berkaitan dengan stroke, tetapi dapat
juga disebabkan oleh trauma atau infeksi. Kerusakan otak yang menyebabkan
disfasia biasanya mengenai hemisfer serebri kiri.
6. Disfasia broca
Disfasia broca terjadi akibat kerusakan area broca di lobus frontalis. Individu
yang mengalami disfasia broca memahami bahasa, tetapi kemampuanya untuk
mengekspresikan kata secaara bermakna dalam bentuk tulisan atau lisan terganggu.
Hal ini disebut disfasia ekspresif.

7. Disfasia wernicke
Disfasia wernicke terjadi akibat kerusakan area wernicke di lobus temporalis
kiri. Pada disfasia wernicke, ekspresi bahasa secara verbal utuh, tetapi pemahaman
bermakna terhadap kata yang diucapkan atau tertulis terganggu. Hal ini disebut
disfasia reseptif.
8. Agnosia
Agnosia adalah kegagalan mengenali obyek karena ketidaknyamanan
memahami stimulus sensorik yang datang. Agnosia dapat berupa visual,
pendengaran, taktil, atau berkaitan dengan pengucapan atau penciuman. Agnosia
terjadi akibat kerusakan pada area sensorik primer atau asosiatif tertentu di korteks
serebri.
D. Patofisiologi
Menurut Corwin Elizabeth ( 2009 ) kesadaran adalah pengetahuan penuh atas
diri, lokasi dan waktu di setiap lingkungan. Agar sadar penuh diperlukan sistem
aktivasi retikular yang utuh, dalam keadaan berfungsinya pusat otak yang lebih
tinggi di korteks serebri. Hubungan melalui talamus juga harus utuh.
Perubahan kesadaran biasanya dimulai dengan gangguan fungsi diensefalon
yang ditandai dengan kebuntuan, kebingungan, letargi dan akhirnya stupor ketika
individu menjadi sulit terganggu. Penurunan kesadaran yang berkelanjutan terjadi
pada disfungsi otak tengan dan ditandai dengan semakin dalamnya keadaan stupor.

8
Akhirnya dapat terjadi disfungsi medula dan pons yang menyebabkan koma.
Penurunan progresif kesadaran ini digambarkan sebagai perkembangan rostal-
kaudal.
E. Komplikasi
Menurut Brunner dan Suddart ( 2001 ) komplikasi yang mungkin terjadi pada
pasien tidak sadar meliputi gangguan pernafasan, pneumonia, dekubitus, dan
aspirasi.
1. Gagal pernafasan dapat terjadi dengan cepat setelah pasien tidak sadar.jika pasien
tidak dapat bernafas sendiri, beri dukungan perawatan dengan memulai pemberian
ventilasi adekuat.
2. Pneumonia umumnya terlihat pada pasien yang menggunakan ventilator atau
mereka yang tidak dapat untuk mempertahankan jalan nafas.
3. Pasien tidak sadar tidak mampu untuk bergerak atau membalikkan tubuh, hal ini
menyebabkan dalam tetap pada posisi yang terbatas. Keadaan ini menyebabkan
pasien mengalami dekubitus, yang akan mengalami infeksi dan merupakan sumber
sepsis.
4. Aspirasi isi lambung atau makanan dapat terjadi yang mencetuskan terjadinya
pneumonia atau sumbatan jalan nafas.
F. Penatalaksanaan
Menurut Brunner dan Suddart ( 2001 ), prioritas pertama tindakan terhadap
pasien tidak sadar adalah memberikan dan mempertahankan jalan nafas paten.
Pasien dapat di intubasi melalui hidung atau mulut, atau dilakukan trakeostomi.
Sampai ditetapkan pasien mampu bernafas sendiri, maka mesin ventilator
digunakan untuk mempertahankan oksigenasi yang adekuat.
Pemasangan kateter intavena digunakan untuk mempertahankan
keseimbangan cairan dan pemberian makanan dilakukan dengan selang makanan
atau selang gastrostomi. Status sirkulasi pasien ( tekanan darah, frekuensi jantung
) dipantau untuk mengetahui perfusi tubuh yang adekuat dan perfusi otak dapat
dipertahankan

9
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
PENURUNAN KESADARAN DAN KOMA

A. Pengkajian
1. Pengkajian Primer
a. Airway
1. Apakah pasien berbicara secara bebas dan bernafas secara bebas.
2. Terjadi penurunan kesadaran.
3. Suara nafas abnormal: strider, wheezing, mengi.
4. Penggunaan otot-otot bantu pernafasan.
5. Gelisah.
6. Sianosis.
7. Kejang.
8. Retensi lender / sputum di tenggorokan.
9. Suara serak.
10. Batuk.
b. Breathing
1. Adakah suara nafas abnormal, strider, wheezing, mengi.
2. Sianosis.
3. Talipneu.
4. Dispneu.
5. Hipoksia.
6. Panjang pendeknya inspirasi-ekspirasi.
c. Circulation
1. Hipotensi / hipertensi.
2. Takipneu.
3. Hipotermi.
4. Pucat.
5. Ekstermitas dingin.

10
6. Penurunan capillary refill.
7. Produksi urin menurun.
8. Nyeri.
9. Pembesaran kelenjar getah bening.

2. Pengkajian Sekunder
a. Riwayat penyakit sebelumnya.
Apakah klien pernah menderita :
1. Penyakit stroke.
2. Infeksi otak.
3. Diabetes mellitus.
4. Diare dan muntah yang berlebihan.
5. Tumor otak.
6. Intoksiasi insektisida.
7. Trauma kepala.
8. Epilepsy.
b. Pemeriksaan fisik
1. Aktivitas dan istirahat
Gejala :
a. Kesulitan dalam beraktivitas.
b. Kelemahan.
c. Kehilangan sensasi / paralis.
d. Mudah lelah.
e. Kesulitan beristirahat.
f. Nyeri / kejang otot.
Tanda :
a. Perubahan tingkat kesadaran.
b. Perubahan tonus otot ( flasid / spastic ).
c. Paralysis ( hemiplegia ), kelemahan umum.
d. Gangguan penglihatan

11
2. Sirkulasi
Gejala :
a. Riwayat penyakit stroke.
b. Riwayat penyakit jantung.
c. Penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung, endokarditis bacterial.
d. Polisitemia.
Tanda :
a. Hipertensi arterial.
b. Disritmia.
c. Perubahan EKG.
d. Pulsasi = kemungkinan bervariasi.
e. Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka / aorta abdominal.
3. Eliminasi
Gejala :
a. Inkontinensia urin / alvi.
b. Anuria.
Tanda :
a. Distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ).
b. Tidak adanya suara usus ( ileus paralitik ).
4. Makan / minum
Gejala :
a. Nafsu makan hilang.
b. Nausea.
c. Vomitus menandakan adanya PTIK.
d. Kehilangan sensasi lidah, pipi, tenggorokan.
e. Disfagia.
f. Riwayat diabetes mellitus.
Tanda :
a. Obesitas.
5. Sensori neural

12
Gejala :
a. Syncope.
b. Nyeri kepala= pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid.
c. Kelemahan.
d. Kesemutan / kebas.
e. Penglihatan berkurang.
f. Sentuhan = kehilangan sensor pada ekstremitas dan pada muka.
g. Gangguan rasa pengecapan.
h. Gangguan penciuman.
Tanda :
a. Status mental.
b. Penurunan kesadaran
c. Gangguan tingkah laku ( seperti : latergi, apatis, menyerang ).
d. Gangguan kognitif.
e. Ekstermitas = kelemahan / paralysis genggaman tangan tidak imbang,
berkurangnya reflek teandom dalam.
f. Wajah : paralysis / parese.
g. Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa , kemungkinan ekspresif /
kesulitan berkata-kata, reseptif / kesulitan berkata-kata komprehensif, global /
kombinasi dari keduanya ).
h. Kehilangan kemampuan mengenal / melihat, stimuli taktil.
i. Kehilangan kemampuan mendengar.
j. Apraksia = kehilangan kemampuan menggunakan motorik.
k. Reaksi dan ukuran pupil = reaksi pupil terhadap cahaya positif / negative,
ukuran pupil isokor / anisokor, diameter pupil.
6. Nyeri / kenyamanan
Gejala :
a. Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya.
Tanda :
a. Tingkah laku yang tidak stabil.

13
b. Gelisah.
c. Ketegangan otot.
7. Respirasi
Gejala :
a. Perokok ( factor resiko ).
8. Keamanan
Tanda :
a. Motorik / sensorik= masalah dengan penglihatan.
b. Perubahan persepsi terhadap tubuh.
c. Kesulitan untuk melihat obyek.
d. Hilang kewaspadaan terhadap bagian tubuh yang sakit.
e. Tidak mampu mengenali obyek, warna, kata dan wajah yang pernah dikenali.
f. Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin / gangguan regulasi suhu tubuh.
g. Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan.
h. Berkurang kesadaran diri.
9. Interaksi social
Tanda :
a. Problem berbicara.
b. Ketidakmampuan berkomunikasi.

3. Menilai GCS
Menurut Brunner dan Suddart ( 2001 ), ada 3 hal yang dinilai dalam penilaian
kuantitatif kesadaran yang menggunakan Skala Koma Glasgow yaitu membuka
mata, respons motorik dan respons verbal.
a. Membuka mata ( E )
Spontan :4
Dengan perintah :3
Dengan nyeri :2
Tidak berespon :1
b. Respons motorik ( M )

14
Dengan perintah :6
Melokalisasi nyeri :5
Menarik area yang nyeri :4
Fleksi abnormal :3
Ekstensi abnormal :2
Tidak berespon :1
c. Respons verbal ( V )
Berorientasi :5
Bicara membingungkan :4
Kata-kata tidak tepat :3
Suara tidak dapat dimengerti :2
Tidak ada respons :1
4. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Brunner dan Suddart ( 2001 ), uji laboratorium digunakan untuk
mengidentifikasi penyebab kesadaran yang mencakup tes glukosa darah, elektrolit,
amonia serum, nitrogen urea darah ( BUN ), osmolalitas, kalsium, masa
pembekuan, kandungan keton serum, alkohol, obat-obatan dan analisa gas darah
arteri.
B. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan hipoksia jaringan

2. Nyeri berhubungan dengan peningkatan TIK

3. Pola nafas tak efektif berhubungan dengan adanya depresan pusat pernafasan

4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah

5. Perubahan persepsi sensori visual berhubungan dengan penurunan ketajaman


penglihatan

15
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesadaran adalah pengetahuan penuh atas diri, lokasi dan waktu. Penurunan
kesadaran merupakan keadaan dimana penderita tidak sadar atau tidak terbangun
secara utuh sehingga tidak mampu memberikan respons yang normal terhadap
stimulus. Penyebab penurunan kesadaran antara lain : gangguan sirkulasi,
ensefalitis, metabolic, elektrolit, neoplasma, intoksikasi, trauma, dan epilepsy.
Adapun gejala klilnik yang terkait dengan penurunan kesadaran : sakit kepala
hebat, muntah proyektil, papil edema, reaksi pupil terhadap cahaya melambat atau
negative, demam, gelisah, kejang, dll. Komplikasi yang sering muncul dapat
meliputi : aspirasi / pneumonia, hipostatik, dekubitus, dan infeksi saluran kencing.
B. Saran
Setelah mahasiswa memahami dan mengerti tentang asuhan keperawatan
penurunan kesadaran dan koma, maka mahasiswa harus bisa mengaplikasikan
dalam bidang keperawatan.

16
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Volume 3. Jakarta :
ECG
Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC
Doenges, Marillyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan: Jakarta : EGC
Sudoyo, Aru W, dkk. 2007. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.

17