Anda di halaman 1dari 45

Standard Operating Procedure (SOP) Greeting for Students’ arrival

Name of the Singapore Indonesian Code


Institute School Kindergarten
(SIS)

Program unit Kindergarten Standard Process

Date of Date of revision


agreement

1 Title Greeting for Students’ arrival

2 Purposes 1. To make students be comfortable


with teachers and environment

2. To build speaking ability

3. To teach how to be polite and


friendly

3 Reference 1. PERMENDIKBUD Number 137


year 2014 about national standard

2. Permendiknas number 146 year 2014

4 The involved parties Teachers, students’ assistant

5 Document Book of absence

6 Procedure 3. Teachers should be 10 minutes


earlier than students

4. Teachers greet and communicate


with students ( for example, “how
are you today ?” “what do you feel
today?”)

5. Teachers motivate students by


hugging them, shaking their students,
and doing high five

6. Teachers ask the parents or assistants


about students’ condition such as
medicine students should drink or
other students’ need

7. Teachers ask students to put their


bags and water bottle in the cabinet

POPULASI DAN SAMPEL

Sugiyono (1997: 57) memberikan pengertian bahwa: "Populasi

adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subyek yang

menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Nazir

983 327) mengatakan bahwa, "Populasi adalah berkenaan dengan

data, bukan orang atau bendanya." Nawawi (1985:141) menyebutkan

bahwa, Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, baik

hasil menghitung ataupun pengukuran kuantitatn maupun kualitatif

dan peda karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang

lengkap. "Sedangkan Riduwan dan Tita Lestan (1997:3) mengatakan

bahwa Populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau unit hasil

pengukuran yang menjadi objek penelitian."

Dan beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa

"Populasi merupakan objek atau subjek yang berada pada suatu

dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan

wilayah

masalah penelitian
Ada dua jenis populasi, yaitu: populasi terbatas dan populasi

tidak terbatas (tak terhingga).

a. Populasi Terbatas

Populasi terbatas adalah mempunyai sumber data yang jelas

batasnya secara kuantitatif sehingga dapat dihitung jumlahnya

Contoh:

1) Jumlah Penduduk Kota Bandung 2.500 000 jiwa

2) Jumlah 500 mahasiswa yang mendapat biasiswa program JPS di

Sumatera Barat

3) Jumlah 1.490 guru SD di Yogyakarta mengikuti prajabatan.

b. Populasi Tak Terbatas (Tak Terhingga)

Populasi tak terbatas yaitu sumber

datanya tidak dapat

ditentukan batas-batasannya sehingga relatif tidak dapat dinyatakan

dalam bentuk jumlah. Contoh: (1) Penelitian mencari logam mulia, a

suatu daerah ada beberapa warga mendulang emas diruangan

bawah tanah sebagai mata pencahariannya, kemudian mereka

mengambil beberapa logam yang mengandung emas sampai tak

terhingga kali pengambilan, maka setiap kali pengambilan batu akan

mendapatkan logam yang mengandung emas yang tak terhingga

banyaknya atau ukurannya. (2) Suatu percobaan seorang bandar

akan melemparkan sepasang dadu sampai tak terhingga kali

lemparan, maka setiap kali mencatat sepasang bilangan yang muncul

akan mendapatkan sepasang nilai yang tak terhingga pula. (3)

Meneliti berapa liter pasang surut air laut pada bulan pumama. dan

lain sebagainya

Berdasarkan sifatnya, populasi dapat digolongkan menjadi


populasi homogen dan populasi heterogen.

1) Populasi Homogen adalah sumber data yang unsurnya memiliki

sifat yang sama sehingga tidak perlu mempersoalkan jumlahnya

secara kuantitatif

2) Populasi Heterogen adalah sumber data yang unsurnya memiliki

sifat atau keadaan yang berbeda (bervariasi) sehingga perlu

ditetapkan batas-batasnya, baik secara kualitatif maupun

kuantitatif.

Subana (2000:25) mengatakan bahwa "Hasil dari objek pada

populasi yang diteliti harus dianalisis untuk ditarik kesimpulan dan

kesimpulan itu berlaku untuk seluruh populasi.

Dalam melaksanakan penelitian, walaupun tersedia populasi

yang terbatas dan homogen, adakalanya peneliti tidak melakukan

pengumpulan data secara populasi, tetapi mengambil sebagian dari

Soddlasi yang dianggap mewakili populasi (representatif). Hal ini

berdasarkan pertimbangan yang logis, seperti kepraktisan, keterba-

tasan biaya, waktu, tenaga dan adanya percobaan yang bersifat

merusak (destruktif)

Contoh (1) Untuk mengetahui kekuatan pisau baja pemotong kain,

Kla tidak perlu menerapkan setiap pabrik tekstil diteriksa dan diuji

kekuatan pisaunya (2) Untuk mengetahui daya tahan lampu piar

merek tertentu, kita tidak perlu menggunakan semua produk

keluaran pabrik lampu tersebut untuk ditunggui dan dicatat lamanya


nyala lampu tersebut

Dengan meneliti secara sampel diharapkan hasil yang telah

diperoleh akan memberikan kesimpulan dan gambaran yang sesuai

dengan karakteristik populasi. Jadi, hasil kesimpulan dari penelitian

sampel dapat digeneralisasikan terhadap populasi.

Suharsimi Arikunto (1998: 117) mengatakan bahwa: "Sampel

adalah bagian dari populasi (sebagian atau wakil populasi yang

diteliti). Sampel penelitian adalah sebagian da

populasi yang

diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi."

Sugiyono (1997 57) memberikan pengertian bahwa: "Sampel adalah

sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa

"Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri-ciri atau

keadaan tertentu yang akan diteliti. Karena tidak semua data dan

informasi akan diproses dan tidak semua orang atau benda akan

diteliti melainkan cukup dengan

menggunakan sampel yang

mewakilinya. Dalam hal ini sampel harus representatif disamping itu

peneliti wajib mengerti tentang besar ukuran sampel, teknik

sampling, dan karakteristik populasi dalam sampel.

Ada beberapa keuntungan menggunakan sampel, antara

lain:

1) Memudahkan peneliti karena

jumlah sampel lebih sedikit

dibandingkan dengan menggunakan populasi, selain itu bila

populasinya terlalu besar dikhawatirkan akan terlewati


S2) Penelitian lebih efisien (dalam arti penghematan uang, waktu dan

tenaga)

3) Lebih teliti dan cermat dalam pengumpulan data, artinya jika

subjeknya banyak dikhawatirkan adanya bahaya bias dari orang

yang mengumpulkan data, karena sering dialami oleh staf bagian

pengumpul data mengalami kelelahan sehingga pencatatan data

tidak akurat

4) Penelitian lebih efektif, jika penelitian bersifat destruktif (merusak)

yang menggunakan spesemen akan hemat dan bisa dijangkau

tanpa merusak semua bahan yang ada serta bisa digunakan

untuk menjaring populasi yang jumlahnya banyak. Sedangkan

besar kecilnya sampel yang diambil akan

dipengaruhi oleh

beberapa faktor antara lain: besar biaya yang tersedia, tenaga

(orang) yang ada, waktu dan kesempatan peneliti, serta peralatan

yang digunakan dalam pengambilan sampel.

Berkaitan dengan teknik pengambilan sampel Nasution

(1991: 135) bahwa, "Mutu penelitian tidak selalu ditentukan oleh

besarnya sampel, akan tetapi oleh kokohnya dasar-dasar teorinya,

oleh desain penelitian-nya, serta mutu pelaksanaan dan

pengolahannya."

a. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel atau teknik sampling adalah suatu

cara mengambil sampel yang representatif dari populasi. Pengambil-

an sampel ini harus dilakukan sedemikian rupa sehingga diperoleh

sampel yang benar-benar dapat mewakili dan dapat menggambarkan

keadaan populasi yang sebenarnya. Ada dua macam teknik


pengambilan sampling dalam penelitian yang umum dilakukan yaitu

0 probability sampling dan

e nonprobability sampling. Teknik

pengambilan sampling dapa di lihat pada Gambar 1, sebagai berikut

LL

b. Kesalahan Sampling dan Kesalahan Non-Sampling

Sudjana

(1992 176)

mengatakan

bahwa

"Berdasarkan

pengalaman waktu penelitian ada dua macam kesalahan pokok yang

perlu dicermati dan dapat terjadi, yaitu: kesalahan sampling dan

kesalahan non-sampling.

1) Kesalahan Sampling. Kesaiahan ini terjadi disebabkan oleh

tentang

populasi dan penelitian hanya dilakukan berdasarkan sampel.

diambil

kenyataan adanya pemenksaan yang tidak lengkap

Jelas bahwa penelitian terhadap sampel yang

populasi dan penelitian terhadap populasi itu sendiri, kedua

penelitian dilakukan dengan prosedur yang sama, tetapi hasilnya

akan berbeda. Perbedaan antara hasil sampel dan hasil yang

akan dicapai jika prosedur yang sama digunakan dalam sampling

juga digunakan dalam sensus (populasi) dinamakan kesalahan


sampling Para ahli statistika telah berusaha untuk mengukur dan

mempertimbangkan kesalahan ini supaya dapat dikontrol. Adapun

cara untuk dapat melakukannya ialah dengan jalan mengambil

sampel berdasarkan sampel acak (random sampling) dan

memperbesar ukuran sampel.

2) Kesalahan Non-Sampling

Kesalahan ini dapat terjadi dalam

setiap penelitian, apakah itu berdasarkan sampling ataukah

berdasarkan sensus. Beberapa penyebab terjadinya kesalahan

non-sampling adalah:

a) Populasi tidak diidentifikasi sebagaimana mestinya.

b) Populasi yang menyimpang dari populasi yang seharusnya

dipelajari.

c) Angket tidak dirumuskan sebagaimana mestinya yang

memenuhi standar validitas

d) Istilah-istilah telah didefinisikan kurang tepat atau tela

digunakan tidak secara konsisten (reliabel).

e) Para responden tidak memberikan jawaban yang akura.

menolak untuk menjawab

atau tidak ada ditempat keta

petugas (peneliti) datang untuk melakukan wawancara

Selain dani pada itu, kesalahan non-samping bisa terjadi

pada waktu mencatat data, melakukan tabulasi dan melakukan

uehongon Hon inounu

kesulitan-kesulitan pada penelitian. Oleh karena itu, cukup jelas

kesalahan
ul

dapat menimbulkan

bahwa kejadian tersebut periu dihindari.

4. DATA

a. Arti Data

Data ialah

bahan

mentah yang peru diolah sehingga

menghasilkan informasi atau keterangan, bak kualitatif maupun

kuantitatif yang menun

kan fakta. Sedangkan perolehan data

seyogyanya relevan artinya data yang ada hubungannya langsung

dengan masalah penelitian, mutakhir artinya data yang diperoleh

masih hangat dibicarakan, dan diusahakan oleh orang pertama (data

primer). Data yang sudah memenuhi syarat perlu dioleah. Pengolahan

data merupakan kegiatan terpenting dalam proses dan kegiatan

penelitian.

Kekeliruan memilih analisis dan perhitungan akan

berakibat fatal pada kesimpulan, generalisasi maupun interpretasi.

Hal ini perlu dikaji secara mendalam hal-hal yang menyangkut

pengolahan data, supaya bisa memilih dan menentukan secara tepat

dalam pengolahan data.

b. Jenis Data

Data menurut jenisnya ada dua yaitu data kualitatif dan data

kuantitatif

1) Data Kualítatif yaitu data yang berhubungan dengan kategorisasi,

karakteristik berwujud pertanyaan


berupa kata-kata

Contohnya: Wanita itu cantik, pria itu tampan, baik, buruk, senang.

sedin, harga minyak turun harga dolar naik, rumah itu besar

31

Jumlah anggota sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel

Jumlah sampel yang diharapkan 100% mewakili populasi sehingga

tidak terjadi kesalahan generalisasi adalah sama dengan jumlah

anggota populasi itu sendiri. Jadi bila jumlah populasi 1000 dan hasil

peneliian u akan diberlakukan untuk 1000 orang tersebut tanpa ada

kesalahan, maka jumlah sampel yang diambil sama

nopulasi tersebut yaitu 1000 orang. Makin besar jumlah sampel

mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi semakin

kecil dan sebaliknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi,

maka makin besar kesalahan generalisasi (diberlakukan umum).

dengan jumlah

Berapa jumlah anggota sampel yang paling tepat digunakan dalam

penelitian? Jawabannya tergantung pada tingkat ketelitian atau

kesalahan yang dikehendaki (sampling error). Tingkat ketelitian/

kepercayaan yang dikehendaki sering tergantung pada sumber dana,

waktu dan tenaga yang tersedia. Makin besar tingkat kesalahan maka

akan semakin kecil jumlah sampel yang diperlukan, dan sebaliknya,

makin kecil tingkat kesalahan, maka akan semakin besar jumlah

anggota sampel yang diperlukan sebagai sumber data

Berkut ini diberikan salah satu contoh menghitung jumlah sampel

dari populasi yang telah diketahui jumlahnya dengan rumus dari Isaac

dan Michael, dan pada tabel 4.1 telah diberikan hasil perhitungan
yang berguna untuk menentukan jumlah sampel berdasarkan tingkat

kesalahan 1%, 5%, dan 10%. Rumus Isaac dan Michael ditunjukkan

pada rumus 4.1

Cara menentukan ukuran sampel seperti yang dikemukakan di

atas didasarkan atas asumsi bahwa populasi berdistribusi normal. Bila

sampel idak berdistribusi normal, misalnya populasi homogen maka

cara-cara tersebut tidak perlu dipakai. Misalnya populasinya benda,

katakan logam dimana susunan molekulnya homogen, maka jumlah

sampel yang diperlukan 1% saja sudah bisa mewakili

Sebenamya terdapat berbagai rumus untuk menghitung ukuran

şampel, misalnya dari Cochran, Cohen d. Bila keduanya digunakan

untuk menghitung ukuran sampel, terdapat sedikit perbedaan

jumlahnya. Lalu yang dipakai yang mana? Sebaiknya yang dipakai

adalah jumlah ukuran sampel yang paling besar

Selanjutnya pada gambar 4.12 berikut ini diberikan cara

menentukan jumlah anggota sampel dengan menggunakan Nomogram

Herry King seperti berikut ini

Dalam Nomogram Herry King tersebut, jumlah populasi

maksimum 2000, dengan taraf kesalahan yang bervariasi, mulai 0,3%

sampai dengan 15%, dan faktor pengali yang disesuaikan dengan taraf

kesalahan yang ditentukan. Dalam nomogram terlihat untuk confident

interval (interval kepercayaan) 80% faktor pengalinya = 0,780, untuk

85% faktor pengalinya = 0,785; untuk 99% faktor pengalinya = 1,195

dan untuk 99% faktor pengalinya= 1,573

Contoh
Misalnya populasi berjumlah 200. Bila dikehendaki kepercayaan

sampel terhadap populasi 95% atau tingkat kesalahan 5%, maka

jumlah sampelyang diambil 0,58x 200 x 1,195) = 19,12 orang

(Tarik dari angka 200 melewati taraf kesalahan 5%, maka akan

ditemukan tiik di atas angka 60. Titik itu kurang lebih 58, untuk

kesalahan 5% berarti taraf kepercayaan 95%, sehingga faktor

pengalinya 1,195)

Populas

1000

Sampel

258

S1 50

S1-13

SM 300

SM-78

SMK 129

SMK 500

SMP-26

SMP-100

SD 13

SD 50

Gambar 4.13 Sampel yang Diambil dari Populasi

Berstrata dengan Kesalahan 5%


Roscoe dalam buku Research Methods for Business (1982: 253)

memberikan saran-saran tentang. ukuran sampel untuk penelitian

seperti berikut ini

. Ukuran sampcl yang layak dalam penelitian adalah antara 30

sampai dengan 500.

2. Bila sampel dibagi dalam kategori (misalnya: pria-wanita,

pegawai negeri-swasta dan lain-lain) maka jumlah anggota

sampel setiap kategori minimal 30.

3. Bila dalam penelitian akan melakukan analisis dengan

multivariate (korelasi atau regresi ganda misalnya), maka

jumlah anggota sampel minimal 10 kali dari jumlah variabel

yang diteliti. Misalnya variabel penelitiannya ada 5

(independen dependen), maka jumlah anggota sampel

x 5 50

10

sederhana

4. Untuk penelitian eksperimen

menggunakan kelompok ekspcrimen dan kelompok kontrol,

maka jumlah anggota sampel masing-masing antara 10 s.d 20

yang

yang

F. Cara Mengambil Anggota Sampel

Di bagian depan bab ini telah dikemukakan terdapat dua teknik

sampling, yaitu probability sampling dan nonprobability sampling.

Probability sampling adalah teknik sampling yang memberi peluang

sama kepada anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel


Cara demikian sering disebut dengan random sampling, atau cara

pengambilan sampel

Pengambilan sampel untuk penelitian kuantitatif pada umumnya

dilakukan secara random/ acak dapat dilakukan dengan bilangan

random, komputer, maupun dengan undian. Bila pengambilan

dilakukan dengan undian, maka setiap anggota populasi diberi nomor

terlebih dahulu, sesuai dengan jumlah anggota populasi

secara acak.

Karena teknik pengambilan sampel adalah random, maka setiap

anggota populasi mempunyai peluang sama untuk dipilih menjadi

anggota sampel. Untuk contoh di atas peluang setiap anggota populasi

1/1000. Dengan demikian cara

telah diambil, maka perlu dikembalikan lagi, kalau tidak dikembalikan

peluangnya menjadi tidak sama lagi. Misalnya

dikembalikan lagi maka peluang berikutnya menjadi 1: (1000 - 1) =

1/999. Peluang akan semakin besar bila yang telah diambil tidak

dikembalikan. Bila yang telah diambil keluar lagi, dianggap tidak sah

dan dikembalikan lagi.

pengambilannya bila nomor satu

nomor pertama tidak

c) Disproportionate stratified random sampling

Disproportionate stratified random sampling ialah pengamhi

an sampel dari anggota populasi secara acak dan berstrata tetapi

proporsional pembangiannya,

sebagaian ada

yang kurang
dilakukan sampling ini apabila anggota populasinya hiterogen (tidak

sejenis). Contoh:

(1) Jumlah pegawai pada Dinas Bangunan Kota Bandung 2000

(a) Kepala Dinas 1 orang

(b) Kasubag Tata Usaha

1 orang

(c) Kepala Seksi pada Dinas = 5 orang

(d) Kepala Sub Seksi pada Dinas

19 orang

(e) Kepala Urusan pada Dinas

4 orang

(f Kepala Cabang Dinas

6 orang

(g) Kepala Urusan pada Cabang Dinas

6 orang

(h) Kepala Sub Seksi pada Cabang Dinas 12 orang

(i) Pelaksana/Staf = 128 orang.

14

Dari jumlah pegawai yang berasal dari Kepala Dinas 1

orang dan Kasubag Tata Usaha =1 orang tersebut diambil

dijadikan sampel karena terlalu kecil bila dibandingkan dengan

staf lain

(2) Jumlah pegawai pada perusahaan mobil di Kota CJDW

(a) Direktur Utama 1 orang

(b) Kepala Departemen 5 orang

(c) Kepala Divisi 25 orang


(d) Kepala Bidang 250 orang

(e) Kepala Cabang 600 orang

Kepala Karyawan 9.500 orang.

Dari jumlah pegawai yang berasal dari Direktur Utama 1

orang dan Kepala Departemen

5 orang tersebut diambil

dijadikan sampel karena terlalu sedikit bila dibandingkan dengan

bagain lain

d) Area sampling (sampling daerah/wilayah)

Area sampling (sampling daerah/wilayah) ialah teknik

sampling yang dilakukan dengan cara mengambil wakil dari setiap

daerah/wilayah geografis yang ada. Contoh: Peneliti akan melihat

pelaksanaan imuninasi Vitamin A di seluruh wilayah Indonesia

Karena wilayah cukup luas terdiri dari 30 provinsi dan masing-

masing berbeda kondisinya, maka peneliti mengambil sampel dari

provinsi, provinsi terdiri dari kabupaten, kabupaten terdiri dari

kecamatan, kecamatan terdiri dari desa, desa terdiri dari Rukun

Warga (RW). RW terdiri dari Rukun Tetangga (RT) akhirnya RT

terdiri dari Keluarga-keluarga yang akan mendapat imunisasi

Vitamin A. Sudjana (1992:173-174)

Teknik untuk mendapatkan sampel klaster mula-muia secara

acak diambi sampei yang terdiri dari provinsi, dari tiap provinsi

dalam sampel, disebut provinsi sampel. dari tiap kabupaten dalam

sampel disebut kabupaten sampel, secara acak diambil kecamatan

Banyaknya kecamatan yang diambil dari tap kabupaten sampe!

mungkin sama banyak mungkin pula berbeda. Setelah didapat


kecamatan sampel. Kemudian dari tiap kecamatan sampel secara

acak diambil desa, untuk mendapatkan kelurahan/desa sampel

selanjutnya dari tiap desa sampel secara acak pula diambil Rukun

Warga (RW) sampel. Akhirnya dari tiap RW sampel secara acak

diambil Rukun Tetangga (RT) sampel. Keluarga-keluarga yang ada

di dalam RT sampel inilah, setelah semuanya digabungkan yang

menjadi anggota sampel kalster, yaitu kepada anak-anak yang

akan menerima imunisasi Vitamin A, dengan demikian hasilnya

akan mencerminkan pelaksanaan imuninasi Vitamin A seluruh

Indonesia

RW

KECAMATAN

PROVINSI

KELUARGA

YANG AKAN

DIMUNISASI

VITAMIN A

DESA

RT

KABUPATEN

Gambar 4 Teknik Sampling Klaster Berdasarkan Daerah/Wilayah

2) Non-Probability Sampling

Non-Probability Sampling ialah teknik sampling yang tidak

memberikan kesempatan (peluang) pada setiap anggota populasi

untuk dijadikan anggota sampel. Teknik non-probability sampling

antara lain
a) Sampling sistematis ialah pengambilan sampel didasarkan atas

urutan dari populasi yang telah diberi nomor urut atau anggota

sampel diambil dari populasi pada jarak interval waktu, ruang

dengan urutan yang seragam

(1) Jumlah populasi 140 pegawai diberi nomor urut No.1 s.d

No.140 Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan nomor

genap (2,4,6,8,10 sampai 140) atau nomor ganjil (1,3,5,7,9

sampai 140) Pengambilan sampel bisa juga dengan cara

mengambil nomor kelipatan (7, 14, 21, 28 sampai 140)

(2) Para pelanggan listrik nama-namanya suduh terdaftar di Bagian

Pembayaran Listrik berdasarkan lokasinya. Untuk pengambilan

sampel tentang para pelanggan listrik, secara sistematis dapat

diambil melalui rayon pembayaran listrik

(3) Pelanggan telpon yang namanya suduh terdapat dalam buku

telpon. Apabila peneliti ingin mengambil sampel tentang disiplin

pembayaran telpon, maka secara sistematis dapat mengambil

sumber data langsung di buku tersebut.

(4) Peneliti akan mengadakan pemeriksaan metalorgi (ilmu bahan)

di perusahaan tertentu yang hasilnya menggunakan proses,

maka pengambilan sampel dapat dilakukan pada jarak interval

waktu tertentu, misalnya tiap 30 detik, 5 menit, 30 menit, 2 jam

5 jam dan seterusnya

(5) Peneliti menginginkan sampel 40 pegawai dari jumlah populasi

berukuran 400 pegawai. Caranya mula-mula setiap subjek dari

populasi diberi nomor urut yaitu :No 1 s.d. No.400, kemudian

jumlah populasi 400 dibagi 10 sehingga didapat 40 group

(subpopulasi) setiap groupnya berjumlah 10 pegawai


Subpopulasi ke-1 berisi nomor urut pegawai: No.1 s.d. No.10

subpopulasi ke-2 berisi nomor urut pegawai : No.11 s.d No.20,

dan seterusnya hingga subpopulasi ke-40 berisi nomor un

pegawai 391 s.d. 400.

b) Sampling kuota ialah teknik penentuan sampel dari populasi yang

mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (jatah) yang dikehendaki

atau pengambilan sampel yang didasarkan pada pertimbangan-

pertimbangan tertentu dari peneliti. Caranya menetapkan besar

jumlah sampel yang diperlukan, kemudian menetapkan jumlah

(jatah yang diinginkan), maka jatah itulah yang dijadikan dasar

untuk mengambil unit sampel yang diperlukan. Contoh:

(1) Peneliti ingin mengetahuii informasi tentang penempatan

karyawan yang tinggal di Perumahan Pondok Hijau, dalam

kategori jabatan tertentu dan pendapatannya termasuk kelas

tertentu pula. Dalam pemilihan orangnya (pengambilan

sampel) akan ditentukan pertimbangan oleh peneliti sendiri

atau petugas yang diserahi mandat

(2) Jemaah haji yang berangkat ke tanah suci sudah diberi jatah

oleh Persatuan Haji Indonesia (PHI) bekerjasama dengan

Pemerintah Arab Saudi, yaitu sebanyak 200.000 orang calon

haji dari populasi 200.000.000 jiwa penduduk Indonesia.

Artinya satu orang calon haji mewakili 1.000 jiwa penduduk

yang menyebar di wilayah Indonesia, tergantung kepada

jumlah penduduk setiap provinsi dan kabupaten. Jika peneliti

ingin meneliti kesehatan calon haji di tanah suci, maka sampel

yang dipakai sebanyak 200.000 orang yang menyebar d


embarkasi dan kloter masing-masing wilayah

(3) Diadakan penelitian prestasi kerja terhadap 1.250 orang

peserta Diklat Spama yang menjabat Eselon ll, penelil

dilakukan secara tim yang terdiri dari 25 orang. Caranya setiap

anggota peneliti dapat memperoleh jatah sampei secara bebas

sesuai dengan ciri-ciri dan prosedur yang ditentukan oleh 50

orang peserta.

c) Sampling aksidental ialah teknik penentuan sampel berdasarkan

faktor spontanitas, artinya siapa saja yang secara tidak sengaja

bertemu dengan peneliti dan sesuai dengan karakteristiknya, maka

orang tersebut dapat digunakan sebagai sampe! (responden)

Contoh:

(1) Peneliti ingin mengetahui sejauh mana fluktuasi pemasaran

parfum yang dipakai oleh pria dan wanita, peneliti mengambil

stan di Bandung Indah Plaza (BIP). Cara pengambilan sampe!

yaitu: membatasi jumlah sampel misalnya 100 orang, maka

setiap orang yang jalan-jalan di BIP dan yang berminat sesuai

dengan karakteristik penggunaan parfum dijadikan responden

(2) Seorang ahli ilmu falaq dan ahli pembuat ramuan obat

anglonubian multi farma yang tergabung dalam kelompok UD

Ainul Hayat ingin mengetahui sejauhmana efek dan reaksi

MILK NUBIAN EXTRACT CAPSULE diciptakannya yang bisa

menyembuhkan berbagai macam penyakit termasuk penyakit

kronis: Kanker, lever, hipatitis (A,B,C), HIVIAids, Bronchitis

kronis, TBC, asma. Maag, stress, penyakit infeksi karena usia

tua, penyakit jantung, stroke, alzhiemer/pikun, parkinson,


rematik, diabetis, darah tinggi, asam urat, kolestrol, dan lain

lain. Cara pengambilan sampel, yaitu: dibatasi jumlah

sampelnya misalnya 25 orang, setiap orang yang tidak sengaja

datang kerumahnya (para tamu jauh diberi informasi dan

apabila berminat sesuai dengan karakteristik penyakitnya

dijadikan responden). setelah meminum kapsul selama satu

Bulan, responden segera memberi kabar atas reaksi dan efel

obat yang diminumnya kepada pembuat ramuan kapsul.

d) Purposive sampling dikenal juga dengan sampling pertimbangan

ialah teknik sampling yang digunakan peneliti jika peneliti

mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu di dalam

pengambilan sampelnya atau penentuan sampel untuk tujuan

tertentu. Hanya mereka yang ahli yang patut memberikan

pertimbangan untuk pengambilan sampel yang diperlukan. Oleh

karena itu, sampling ini cocok untuk studi kasus yang mana aspek

dari kasus tunggal yang representatif diamati dan dianalisis.

Contoh:

(1) Peneliti ingin mengetahui model kurikulum SMU (plus), maka

sampel yang dipilih adalah para guru yang ahli dalam bidang

IPkurikulum pendidikan dan manajemen pendidikan, masyarakat

yang berpengalaman, dan para ahli di bidang pendidikan.

(2) Kasus bumbu masak yang pernah dinyatakan haram. Peneliti

ingin mengetahui penyebabnya dengan cara mencari sampel

(responden) yang ahli di bidang pembuatan bumbu masak, dan

mencari responden dari kalangan ulama yang ahli dalam

memberikan fatwa masalah tersebut.


(3) Peneliti ingin mengetahui sistem keamanan sekolah, karena

akhir-akhir ini banyak perkelahian antar sekolah. Kemudian

peneliti mencari lokasi kejadian yang menjadi penyeba

masalah tersebut, maka terdapat di sebuah wilayah Kanlo

Pendidikan Nasional tertentu didapat: dua Sekolah Menengah

Umum Negeri (SMUN) dan SMU Swasta, tiga Sekol

Menengah Kejuruan Negeri (STM, SMEA, dan SPK) dan sau

Madrasah Aliyah Negeri (MAN), kemudian banyaknya siswa

pada setiap tidak sama. Dengan demikian untuk menentukan

jumlah sampel, peneliti mengambil semua siswa dari sekolah

(SMUN, SMU Swasta, STM, SMEA, SPK, dan MAN). Maksud

peneliti adalah agar jumlah subjek dari keenam jenis sekolah

dapat sama. Pertimbangan lain adalah masalah lokasi/tempat

responden yang akan diteliti lebih mudah dikunjungi dan

efisiensi waktu penelitian.

e) Sampling jenuh ialah teknik pengambilan sampel apabila semua

populasi digunakan sebagai sampel dan dikenal juga dengan istilah

sensus. Sampling jenuh dilakukan bila populasinya kurang dari 30

orang. Contoh: Akan diadakan penelitian di laboratorium bahasa

inggris UPI Bandung mengenai tingkat keterampilan percakapan

para pegawai yang akan dikirim ke Australia. Dalam hal ini populasi

yang akan diteliti kurang dari 30 orang, maka seluruh populasi

dapat dijadikan sampel.

f) Snowball sampling ialah teknik sampling yang semula berjumlah

kecil kemudian anggota sampel (responden) mengajak para

sahabatnya untuk dijadikan sampel dan seterusnya sehingga


jumlah sampel semakin membengkak jumlahnya seperti (bola salju

yang sedang mengelinding semakin jauh semakin besar)

Contoh

Seorang Manajer di Perusahaan CJDW akan merekrut temanya

untuk menjadi anggotanya (down line), dengan berbagai pelatihan

yang dikutinya akhirnya temanya menjadi Ruby Agency Manager

(RAM). Seorang manajer ingin meneliti para anggotanya untuk

Proses

keberhasilanya tersebut

dimintai pendapat atas

penelitiannya dapat digambarkan seperti berikut.

diberikan setelah bab ini. Teknik Proportionate Stratified Random

Sampiing dapat digambarkan seperti gambar 4.8 berikut

SRS.

-rororsio al 7mp

orc)

org

Diambil secara random

Populasi

Sampel yang

represeritatif

PSRS

proporsional

relnya idqur

xetistik

Gambar 4.8 Teknik Proportionate Stratified Random Sampling


Pemimpn vs StaPF

Disproportionate Stratified Random Sampling

Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi

berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari unit kerja

tertentu mempunyai; 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang

Si, 800 orang SMU, 700 orang SMP, maka tiga orang lulusan S3 dan

empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel, karena dua

kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok Si,

SMU, dan SMP

с.

d.

Cluster Sampling (Area Sampling)

Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila

objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misal penduduk

dari suatu negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan

penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan

sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan

Misalnya di ndonesia terdapat 33 propinsi, dan sampelnya akan

menggunakan 15 provinsi, maka pengambilan 15 provinsi itu

dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena provinsi-

Drovinsi di Indonesia itu berstrata (tidak sama) maka pengambilan

sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling. Propinsi

di Indonesia ada yang penduduknya padat, ada yang tidak; ada yang

mempunyai hutan banyak ada yang tidak, ada yang kaya bahan

tambang ada yang tidak. Karakteristik semacam ini perlu diperhatikan

sehingga pengambilan sampel menurut strata populasi itu dapat


ditetapkan

Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap,

yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya

menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara

juga. Teknik ini dapat digambarkan seperti gambar 4.9 berikut

sampling

Populasi daerah

Tahap

Tahap

Diambil dengan

Diambil dengan

random

random

Sampel Daerah

Sampel Individu'

Gambar 4.9 Teknik Cluster Random Sampling

2. Nonprobability Sampling

Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang

tidak memberi peluang/kesempatan sama


anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini

bagi setiap unsur atau

Sampling Purposive dan Snowball

e.

Bila penelitian menggunakan metode kualitatif, maka teknik

sampling yang sering digunakan adalah purposive sampling, dan

snowbalsampling. Seperti telah dikemukakan bahwa. purposive

sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan

pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang

tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan,

atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan

peneliti menjelajahi objek/ situasi sosial yang diteliti. Snowball

sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data, yang pada

awalnya jumlahnya sedikit, lama-lama menjadi besar. Hal ini

dilakukan karena dari jumlah sumber data yang sedikit itu tersebut

belum mampu memberikan data yang memuaskan, maka mencari

orang lain lagi yang dapat digunakan sebagai sumber data. Dengan

demikian jumah sampel sumber data akan semakin besar, seperti bola

salju yang menggelinding, lama-lama menjadi besar.

Lincoln dan Guba (1985) mengemukakan bahwa "Naturalistic

sampling is, then, very different from conventional sampling. It is

based on informational, not statistical, considerations. Its purpose is

to maximize information, not to facilitate generalization". Penentuan

sampel dalam penelitian kualitatif (naturalistik) sangat berbeda

dengan penentuan sampel dalam penelitian konvensional (kuantitatif)


Penentuan sampel dalam penelitian kualitatif tidak didasarkan

perhitungan statistik. Sampel yang dipilih berfungsi untuk

mendapatkan informasi yang maksimum, bukan untuk digenerali

sasikan

Oleh karena itu, menurut Lincoln dan Guba (1985), dalam

penelitian naturalistik spesifikasi sampel tidak dapat ditentukan

sebelumnya. Ciri-ciri khusus sampel purposive, yaitu 1) Emergent

sampling design/ sementara 2) Serial selection of sample units/

menggelinding seperti bola salju (snowball) 3) Continuous adjustment

or

Jocusing of the sample/disesuaikan dengan kebutuhan 4) Selection

to the point of redundancy/ dipilih sampai jenuh (Lincoln dan Guba,

1985)

Jadi, penentuan sampel dalam penelitian kualitatif dilakukan

saat peneliti mulai memasuki lapangan dan selama penelitian

herlangsung (emergent sampling design). Caranya yaitu, peneliti

memilih orang tertentu yang dipertimbangkan akan memberikan data

- yang diperlukan; selanjutnya berdasarkan data atau informasi yang

dineroleh dari sampel sebelumnya itu, peneliti dapat menetapkan

sampel lainnya yang dipertimbangkan akan memberikan data lebih

lengkap. Praktek seperti inilah yang disebut sebagai "serial selection

of sample units" (Lincoln dan Guba, 1985), atau dalam kata-kata

Bogdan dan Biklen (1982) dinamakan "snowball sampling technique"

Unit sampel yang dipilih makin lama makin terarah sejalan dengan

makin terarahnya fokus penelitian. Proses ini dinamakan Bogdan dan

Biklen (1982) sebagai "continuous adjustment of focusing' of the


sample"

Dalam proses penentuan sampel seperti dijelaskan di atas,

berapa besar sampel tidak dapat ditentukan sebelumnya. Seperti telah

dikutip di atas, dalam sampel purposive besar sampel ditentukan oleh

pertimbangan informasi. Seperti ditegaskan oleh Lincoln dan Guba

(1985) bahwa "if the purpose is to maximize information, then

sampling is terminated when no new

newly sampled units; thus redundancy is the primary criterion"

Dalam hubungan ini S. Nasution 1988) menjelaskan bahwa

penentuan unit sampel (responden) dianggap telah memadai apabila

telah sampai kepada taraf "redundancy" (datanya telah jenuh,

ditambah sampel lagi tidak memberikan informasi yang baru), artinya

bahwa dengan menggunakan responden selanjutnya boleh dikatakan

tidak lagi diperoleh tambahan informasi baru yang berarti.

information is forth-coming from

Dalam proposal penelitian kualitatif, sampel sumber data yang

dikemukakan masih bersifat sementara. Namun demikian pembuat

proposal perlu menyebutkan siapa-siapa yang kemungkinan akan

digunakan sebagai sumber data. Misalnya akan meneliti gaya belajar

anak jenius, maka kemungkinan sampel sumber datanya adalah orang-

orang yang dianggap jenius, keluarga, guru yang membimbing, serta

kawan-kawan dekatnya. Selanjutnya misalnya meneliti tentang gaya

kepemimpinan seseorang, maka kemungkinan sampel sumber datanya

Sampling Sistematis
Sampling Sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan

urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya

anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota itu

diberi nomor urut, yaitu

Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap

saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari

bilangan ima. Untuk ini maka yang diambil sebagai sampel adalah

nomor 1, 5, 10, 15, 20, dan seterusnya sampai 100. Lihat gambar 4.10

a.

nomor 1 sampai dengan nomor 100.

: b. Sampling Kuota

Sampling Kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi

yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang

diinginkan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian tentang

pendapat masyarakat terhadap pelayanan masyarakat dalam urusan

Iin Mendirikan Bangunan. Jumlah sampel yang ditentukan 500 orang.

Kalau pengumpulan data belum didasarkan pada 500 orang tersebut,

maka penelitian dipandang belum selesai, karena belum memenuhi

kuota yang ditentukan.

Bila pengumpulan data dilakukan secara kelompok yang terdiri

atas 5 orang pengumpul data, maka setiap anggota kelompok harus

dapat menghubungi 100 orang anggota sampel, atau 5 orang tersebut

harus dapat mencari data dari 500 anggota sampel

c. Sampling Insidental

Sampling Insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan

kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu

dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang


yang bersangkutan layak digunakan sebagai sumber data

d. Sampling Jenuh

Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota

populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila

jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian

yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil.

Istilah lain sampel jenuh adalah sampel total atau sensus, dimana

semua anggota populasi dijadikan sampel. Sampel jenuh juga sering

diartikan sampel yang sudah maksimum, ditambah berapapun tidak

akan merubah keterwakilan kebetulan ditemui itu cocok sebagai

sumber data

METODE PENELITIAN SURVEI

3) Keterbatasan waktu. Dalam banyak kasus, peneliti perlu mengum

pulkan informasi pendahuluan dalam waktu terbatas. Biasanya

penelitian semacam ini dilakukan atas permintaan pihak tertentu

seperti sponsor, manajemen perusahaan, media massa dan

bagainya. Karena penarikan sampel probabilitas sering kali san

memakan waktu dalam pengerjaannya, maka suatu sampling nn

se-

probabilitas dapat memenuhi kebutuhan ini.

4) Nilai kesalahan yang dapat diterima. Dalam suatu penelitian pen-

dahuluan (pilot study) sering kali faktor error atau kesalahan tidal.

menjadi perhatian utama, maka penggunaan sampel nonprobabili


tas biasanya sudah cukup memadai

Walaupun sampel nonprobabilitas dalam beberapa kasus memilik

sejumlah keunggulan, namun

pada penelitian yang bertujuan untuk menerima atau menolak suatu

pertanyaan penelitian yang penting, atau menerima atau menolak

hipotesis yang hasilnya akan digeneralisasi kepada populasi. Teknik

sampling probabilitas pada umumnya menggunakan beberapa tipe

prosedur pemilihan sistematis seperti tabel nilai random untuk

memastikan bahwa setiap unit memiliki peluang yang sama untuk

terpilih. Namun demikian, cara ini tidak memastikan seratus persen

terpilihnya suatu sampel yang representatif dari populasi.

sampel probabilitas lebih dianjurkan

1. Sampel Nonprobabilitas

Teknik sampel probabilitas dinilai sebagai metode yang paling ungg

dalam memilih sampel karena sifatnya yang mewakili populasi (ref"

resentatif), dan hasil penelitian dapat digeneralisasi terhadap selur

populasi. Namun demikian, teknik probabilitas sering kali sulit dilak-

sanakan atau tidak sesuai untuk situasi penelitian tertentu karena, misal

tidak tersedianya daftar nama seluruh anggota populasi, atau jika dafar

nama tersedia, tetapi tidak tersedia cara untuk dapat menghubung

Sampel yang terpilih (misal, tidak tersedia alamat atau nomo

telepon

yang dapat dihubungi, atau sebagian besar responden tidak tinggal pads

daftar alamat yang tersedia).

Bab 2 Populasi dan Sampel

Jika teknik penarikan sampel probabilitas tidak memungkinkan


untuk dilakukan, maka peneliti dapat menggunakan teknik sampel

nonprobabilitas yang terdiri dari empat tipe penarikan sampel, yaitu:

sampel tersedia (available sampling)

(accidental sampling); sampel terpilih (purposive sampling),

juga judgemental sampling); sampel bola salju (snowball sampling), dan

sampel kuota (quota sampling).

atau disebut juga sampel kebetulan

atau disebut

Sampel Tersedia

a.

Salah satu cara yang banyak digunakan peneliti pemula dalam memilih

sampel adalah menggunakan apa yang disebut dengan sampel tersedia

(available sample) yang banyak menerima kritik dalam hal efektivitas

nya. Sampel tersedia atau sering disebut dengan sampel kenyamanan

(convenience sample) adalah kumpulan individu, elemen atau peristiwa

yang sudah langsung tersedia, dan dapat langsung digunakan untuk

penelitian, seperti pengunjung pusat perbelanjaan,

mahasiswa yang mendaftar pada suatu mata kuliah tertentu dan se-

bagainya. Walaupun sampel tersedia dalam kasus tertentu dapat

bantu peneliti dalam mengumpulkan informasi eksploratif, dan boleh

jadi dapat menghasilkan data yang berguna namun demikian sampel

semacam ini dapat menimbulkan masalah karena memiliki tingkat

kesalahan yang tidak diketahui. Peneliti perlu mempertimbangkan as-

pek positif dan negatif dari sampel tersedia sebelum menggunakannya

dalam suatu penelitian.

kelompok

atau
mem-

Penggunaan sampel tersedia telah menimbulkan perdebatan di

kalangan peneliti. Mereka yang menolak penggunaannya berpandangan

bahwa hasil yang diperoleh tidak dapat digunakan mewakili populasi

dan karenanya tidak memiliki validitas eksternal. Responden terpilih

sebagai sampel semata-mata karena ia kebetulan ada atau tersedia

saat itu. Misal, pemilihan responden di antara para pengunjung pusat

perbelanjaan banyak dikritik karena hanya mereka yang berada di

asaperbelanjaan yang akan terpilih sementara yang berada di luar

psat perbelanjaan tidak mungkin terpilih. Namun para pendukung

penggunaan sampel tersedia menyatakan bahwa jika suatu fenomena,

115

karakteristik, sifat itu memang ada, maka ke

ada pada setiap sampel.

Penggunaan sampel tersedia dalam penelitian sebaiknya dihindari

karena dapat menimbulkan bias yang disebabkan kedekatan respon

den terhadap situasi penelitian, namun demikian penggunaan sampel

tersedia masih dapat memberikan manfaat dalam suatu penelitian

pendahuluan (pilot study)

gunaan sampel tersedia sering kali membantu peneliti dalam mengatasi

hambatan dalam hal prosedur penelitian, pengujian (testing), dan me

todologi sebelum penelitian yang sesungguhnya dilaksanakan dengan

menggunakan sampel yang dipilih

Sampel Sukarela. Mereka yang terpilih sebagai sampel pada

penelitian yang menggunakan sampel tersedia pada umumnya adalah


orang-orang yang ditemui secara kebetulan oleh peneliti, dan bersedis

secara sukarela menjadi responden. Dalam hal ini, terdapat dua tipe

sampel sukarela (volunteer sample), yaitu:

1) Sampel sukarela yang tidak memenuhi kriteria, atau unqualified

volunteer sample (UVS).

2) Sampel sukarela yang memenuhi kriteria, atau

sample (QVS).

atau untuk menguji suatu kuesioner. Peng

secara lebih baik.

qualified volunteer

Sampel sukarela yang tidak memenuhi kriteria terdiri dari individu

responden yang setuju untuk secara sukarela berpartisipasi dalam

penelitian,

matematis, atau suatu panduan tertentu lainnya. Dalam hal ini, peneliti

tidak memiliki kontrol terhadap responden yang berpartisipasi dalam

penelitian karena siapa saja dapat ikut serta. Hal ini menimbulkan

potensi hasil penelitian menjadi tidak valid, dan tidak dapat diandalkan.

Sebaliknya, sampel sukarela yang memenuhi kriteria (qualified volunte

sample) merupakan sampel yang dipilih berdasarkan suatu pandu

matematis, atau suatu panduan tertentu lainnya.

namun mereka tidak dipilih berdasarkan suatu panduan

Walaupun sampel sukarela yang tidak memenuhi kriteria tidak

dianjurkan digunakan dalam suatu penelitian ilmiah, namun dalan

S Wimmer D. Roger, Joseph R. Dominick, Mass Media Research Ihid hlm 91

karakteristik, sifat itu memang ada, maka ke

ada pada setiap sampel.


Penggunaan sampel tersedia dalam penelitian sebaiknya dihindari

karena dapat menimbulkan bias yang disebabkan kedekatan respon

den terhadap situasi penelitian, namun demikian penggunaan sampel

tersedia masih dapat memberikan manfaat dalam suatu penelitian

pendahuluan (pilot study)

gunaan sampel tersedia sering kali membantu peneliti dalam mengatasi

hambatan dalam hal prosedur penelitian, pengujian (testing), dan me

todologi sebelum penelitian yang sesungguhnya dilaksanakan dengan

menggunakan sampel yang dipilih

Sampel Sukarela. Mereka yang terpilih sebagai sampel pada

penelitian yang menggunakan sampel tersedia pada umumnya adalah

orang-orang yang ditemui secara kebetulan oleh peneliti, dan bersedis

secara sukarela menjadi responden. Dalam hal ini, terdapat dua tipe

sampel sukarela (volunteer sample), yaitu:

1) Sampel sukarela yang tidak memenuhi kriteria, atau unqualified

volunteer sample (UVS).

2) Sampel sukarela yang memenuhi kriteria, atau

sample (QVS).

atau untuk menguji suatu kuesioner. Peng

secara lebih baik.

qualified volunteer

Sampel sukarela yang tidak memenuhi kriteria terdiri dari individu

responden yang setuju untuk secara sukarela berpartisipasi dalam

penelitian,

matematis, atau suatu panduan tertentu lainnya. Dalam hal ini, peneliti

tidak memiliki kontrol terhadap responden yang berpartisipasi dalam

penelitian karena siapa saja dapat ikut serta. Hal ini menimbulkan
potensi hasil penelitian menjadi tidak valid, dan tidak dapat diandalkan.

Sebaliknya, sampel sukarela yang memenuhi kriteria (qualified volunte

sample) merupakan sampel yang dipilih berdasarkan suatu pandu

matematis, atau suatu panduan tertentu lainnya.

namun mereka tidak dipilih berdasarkan suatu panduan

Walaupun sampel sukarela yang tidak memenuhi kriteria tidak

dianjurkan digunakan dalam suatu penelitian ilmiah, namun dalan

S Wimmer D. Roger, Joseph R. Dominick, Mass Media Research Ihid hlm 91

praktiknya sering kali digunakan khususnya oleh media massa (televisi, surat

kabar, majalah, dan internet) yang mengadakan kegiatan jajak pendapat

(polling) atau studi lainnya. Cara ini dipilih karena tidak membutuhkan

biaya besar dalam pelaksanaannya. Media massa sering kali melaporkan

hasil penelitian mereka berupa jajak pendapat terhadap pemirsa televisi,

pendengar radio, dan pembaca surat kabar dan majalah mengenai suatu

isu tertentu. Walaupun pihak media terkadang menyatakan bahwa jajak

pendapat yang dilakukan bukanlah suatu penelitian ilmiah, namun hasilnya

sering kali disajikan seolah-olah ilmiah dan sah (legitimate). Dalam hal ini,

media telah membohongi audiensi mereka yang tidak mengerti karena hasil

jajak pendapat tersebut sebenarnya hanya merupakan indikasi, dan bukan

merupakan bukti ilmiah. Kesimpulannya, penelitian yang menggunakan

UVS merupakan penelitian yang buruk karena tidak diketahui siapa yang

akan menjadi responden penelitian. Hasil penelitian yang menggunakan

UVS harus dipertanyakan keabsahannya.

b. Sampel Terpilih

Sampel nonprobabilitas lainnya adalah sampel terpilih atau purposive

sample yang mencakup responden, subjek atau elemen yang dipilih karena
karakteristik atau kualitas tertentu, dan mengabaikan mereka yang tidak

memenuhi kriteria yang ditentukan. Melalui teknik purposive sample ini,

sampel dipilih berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya

mengenai populasi, yaitu pengetahuan mengenai elemen-elemen yang

terdapat pada populasi, dan tujuan penelitian yang hendak dilakukan.

Sampel terpilih (sering pula disebut dengan judgmental sampling)

dapat didefiniskan sebagai tipe penarikan sampel nonprobabilitas

yang mana unit yang hendak diamati atau diteliti dipilih berdasarkan

pertimbangan peneliti dalam hal unit yang mana

bermanfaat dan representatif Dengan demikian, pada sampel purposive,

responden atau anggota sampel dengan sengaja dipilih tidak secara

acak. Penentuan sampel terpilih dilakukan dengan pengetahuan bahwa

sampel bersangkutan tidaklah representatif terhadap populasi. Dengan

dianggap paling

Earl Babbie, The Basic of Social Research, 4th Edition, Thomson Wadsworth, 2008,
hlm.

204

METODE PENE

kata lain, sampel purposive adalah sampel yang dipilih berdasarke

suatu panduan tertentu.

Panduan sampel yang digunakan akan menentukan batasan jumlah,

atau kategori responden yang boleh dipilih, dan diundang sebagai anggta

sampel. Misal, jika manajemen suatu stasiun radio ingin melakukan

penelitian terhadap target audiensi mereka, yaitu pria berumur 25.4

tahun untuk mengetahui tanggapan mereka terhadap program radio

bersangkutan, maka penelitian tersebut hanya ditujukan kepada siana

saja pria berusia 25-44 tahun. Calon responden yang memenuhi kriteria
tersebut kemudian dihubungi, dan diundang untuk bersedia menjadi

responden penelitian. Dalam penelitian semacam ini biasanya tidak

tersedia daftar lengkap

nama-nama pria berusia 25-44 tahun, sehingga

tidak dapat menggunakan panduan matematis, dan kalaupun ada belum

tentu tersedia daftar alamat atau telepon mereka. Namun demikian

kriteria atau panduan terhadap responden telah ditentukan, pria berusia

25-44 tahun, sebagai sampel yang memenuhi kriteria.

Sampel Kuota

C.

Pada sampel kuota (quota sample) individu atau responden dipilih

untuk memenuhi suatu persentase yang sudah diketahui atau sudah

ditentukan sebelumnya. Sampel kuota dapat didefiniskan sebagai

suatu tipe penarikan sampel nonprobabilitas di mana unit sampel

(responden) dipilih sebagai sampel berdasarkan karakteristik yang

ditentukan sebelumnya, sedemikian rupa sehingga total sampel akan

memiliki distribusi dengan karakteristik yang sama sebagaimana yang

diperkirakan terdapat dalam populasi yang tengah diteliti.

Untuk melakukan penarikan sampel dengan menggunakan sampel

kuota, peneliti harus mengawalinya dengan membuat suatu matriks

atau tabel yang menjelaskan karakteristik dari populasi yang akan

diteliti (lihat Tabel 2.1). Tergantung pada tujuan riset yang ingin dicapai,

peneliti terlebih dahulu harus mengetahui, misalnya, berapa jumlah

laki-laki dan perempuan yang terdapat pada suatu populasi, dan dari

telah

FF
ARGING

Earl Babbie, The Basic of Social Research, Ibid., hlm. 205.

119

Bab 2 Populasi dan Sampel

masing-masing kelompok laki-laki dan perempuan tersebut, berapa

jumlah anak-anak, remaja, pemuda, dewasa, dan orang tua; berapa

jumlah yang berpendidikan sarjana, sekolah menengah (SMP/SMA),

ta banya sekolah dasar. Begitu pula, berapa jumlah orang dengan latar

an

belakang etnis atau suku bangsa tertentu (suku Jawa, Sunda, Batak, dan

lain-lain) yang terdapat dalam suatu populasi. Pada sampel kuota, setiap

kelompok masyarakat tersebut harus memiliki wakilnya masing-masing

dalam jumlah yang proporsional. Pada tingkat nasional, penarikan

sampel kuota terkadang harus pula mempertimbangkan sampel yang

mewakili wilayah perkotaan, pedesaan, Jawa atau luar Jawa, kelas

menengah, pribumi atau keturunan

Pa

Tabel 1.1: Sampel Kuota Berdasarkan Karakteristik Populasi

Laki-laki

Perempuan

Anak-anak

Anak-anak

Remaja

Remaja

Muda

Muda
Usia

Dewasa

Dewasa

Tua

Tua

Sarjana

Sarjana

Pendidikan

SMP/SMU

SMP/SMU

SD

SD

Islam

Islam

Kristen

Kristen

Agama

Hindu

Hindu

Buddha

Buddha

Jawa

Jawa

Sunda

Sunda

Etnis/suku

Batak
Batak

Minang

Minang

Ketika matriks atau tabel yang tersusun dari sejumlah sel yang

mewakili kelompok-kelompok dalam masyarakat berdasarkan

karakteristiknya masing-masing tersebut telah dapat disusun, dan

Jumlah anggota masing-masing kelompok tersebut telah dapat diketahui,

aka peneliti dapat menentukan jumlah responden yang akan mewakili

masing-masing sel tersebut secara

dapat mulai melakukan pengumpulan data dari orang-orang yang

proporsinal. Selanjutnya, peneliti

119

An

METODE PENELITIAN SURVE

dari sampel secara proporsional maka kita dapat mengatakan bahwa

data yang kita peroleh adalah representatif terhadap populasi.

Teknik penarikan sampel kuota ini mirip dengan sampel probabilitas,

mewakili masing-masing sel dalam jumlah yang ditentukan dulu

ps

secara proporsional. Jika semua data telah dapat diperoleh

sebelumnya

namun jika tidak dilakukan dengan cermat penarikan sampel kuota

memiliki potensi bermasalah. Pertama, jumlah anggota masing-masing sel

(kelompok) haruslah akurat, namun sering kali peneliti dalam menyusun

matriks atau tabel menggunakan data lama yang tidak menggambarkan

perkembangan masyarakat terbaru. Hal ini yang terjadi pada lembaga


survei terkenal di AS, Gallup, ketika pada 1948 mengumumkan hasil

survei yang menyatakan pemenang pemilu presiden AS tahun itu adalah

gubernur negara bagian New York, Thomas Dewey, yang mengalahkan

Presiden Harry Truman. Hasil survei ini keliru karena ternyata Trumanlah

yang menang. Gallup menggunakan teknik sampel kuota yang menuntut

peneliti mengetahui secara pasti mengenai data kependudukan (data

pemilih) yang biasanya diperoleh dari data sensus

ini, Gallup menggunakan data sensus

sejak Perang Dunia ke-2 meletus hingga tahun 1948 banyak penduduk

pedesaan (country) di AS pindah ke kota sehingga karakter penduduk

AS berubah secara

penduduk. Dalam hal

penduduk tahun 1940. Namun

signifikan, dari sebelumnya kebanyakan tinggal di

kawasan pertanian di desa menjadi lebih banyak tinggal di perkotaan.

Warga kota yang dinamis cenderung memilih Truman yang didukung

Partai Demokrat yang dipandang progresif sedangkan warga desa lebih

suka Partai Republik yang konservatif.

d.

Sampel Bola Salju

Metode sampel nonprobabilitas lainnya disebut dengan sampel

salju (snowball sampling) di mana

peneliti secara acak menghubung

beberapa responden yang memenuhi kriteria (qualified volunteer

Misal, seorang peneliti tertarik untuk mengetahui perbedaan penggunaan televisi


antara

mereka yang memiliki DVD player dengan mereka yang tidak memiliki DVD player.
Jika peneliti
mengetahui 40% penduduk dari suatu populasi tertentu memiliki DVD, maka sampel
yang

harus dipilih peneliti harus terdiri dari 40% pemilik DVD dan 60% mewakili mereka
yang tidak

memiliki DVD agar dapat mencerminkan karaktorill

Bab 2 Populasi dan Sampel

sample) dan kemudian meminta responden bersangkutan untuk

merekomendasikan teman, keluarga, atau kenalan yang mereka ketahui

vang memenuhi kriteria untuk dijadikan sebagai responden penelitian.

Deneliti kemudian menghubungi orang dimaksud untuk menentukan

apakah mereka memenuhi kriteria sebagai responden.

Istilah "bola salju" mengacu pada proses pengumpulan sampel

dengan meminta responden yang diketahui keberadaannya untuk

menunjukkan calon responden lainnya. Dengan demikian, sampel

bola salju dapat didefiniskan sebagai suatu metode penarikan sampel

nonprobabilitas di mana setiap orang yang diwawancarai kemudian

ditanyakan sarannya mengenai orang lain yang dapat diwawancarai.

Prosedur sampel ini dapat digunakan dalam hal anggota populasi

yang hendak diteliti sulit diketahui keberadaannya sehingga tidak mudah

untuk ditemui, misalnya, para pekerja migran, tunawisma, pekerja seks

komersial, atau tenaga kerja ilegal. Misal, suatu penelitian dilakukan

untuk mengetahui pola-pola rekrutmen anggota baru suatu organisasi.

Peneliti mewawancarai beberapa orang yang diketahuinya sebagai anggota

baru suatu organisasi, dan menanyakan kepada mereka siapa yang

memperkenalkan atau mengajak mereka bergabung ke dalam organisasi

bersangkutan. Peneliti kemudian menghubungi orang-orang yang disebut

namanya dan menanyakan pertanyaan yang sama begitu seterusnya.


Walaupun prosedur pengambilan sampel semacam ini sepertinya

valid, namun kurang memenuhi syarat bagi suatu penelitian ilmiah

(legitimate) karena sampel yang dihasilkan bisa menjadi sangat bias.

Peneliti bisa jadi menemukan sampel yang terdiri dari organisasi atau

kelompok tertentu saja. Prosedur semacam ini dapat menghasilkan

sampel yang diragukan keterwakilannya, karena itu sampel semacam

ini biasanya digunakan untuk penelitian eksploratif.

2. Sampel Probabilitas

ipe sampling probabilitas yang paling dasar adalah sampel random

sederhana (simple random sample) di mana setiap individu (subjek),

9 Earl Babbie, The Basic of Social Research, Op. cit, hlm. 205.

121

METODE PENELITIAN SURVE

elemen, peristiwa, atau unit dalam populasi memiliki peluang yang

sama untuk terpilih sebagai anggota sampel. Suatu prosedur penarikan

sampel yang paling banyak digunakan peneliti dinamakan penarikan

sampel tanpa penggantian (sampling without replacement) di mana

suatu subjek

populasi sehingga tidak memungkinkan mereka untuk terpilih kembali

Prosedur penarikan sampel lainnya dinamakan penarikan sampel

dengan penggantian (sampling with replacement) di mana responden

yang terpilih dikembalikan ke populasi sehingga berpeluang untuk

terpilih kembali

Pada sampel sukarela yang memenuhi kriteria, responden dipilih

secara sistematis dengan menggunakan metode tertentu termasul

teknik probabilitas. Namun demikian, mereka yang terpilih harus tetap


bersifat sukarela untuk menjadi responden, dengan kata lain mereka

tidak boleh dipaksa untuk berpartisipasi dalam proyek penelitian.

Teknik penarikan sampel semacam ini lebih sering digunakan pada

penelitian survei berskala nasional.

atau unit ditarik dari populasi, dan tidak dikembalikan ke

a. Sampel Acak Sederhana

Peneliti sering kali menggunakan suatu tabel nilai acak (random) untuk

menghasilkan suatu sampel random sederhana. Misal, seorang peneliti

ingin mengetahui bagaimana media televisi menggambarkan, atau

memotret kelompok masyarakat tertentu. Ia menarik suatu sampel yang

terdiri dari 10 program siaran televisi yang ditayangkan pada waktu

siaran utama (prime time) dari suatu populasi yang memiliki 100 saluran

siaran. Peneliti memberi nomor setiap saluran mulai dari 00 hingga 99

dan kemudian memilih 10 nomor dari tabel nilai random. Suatu titik

awal yang akan menjadi

ada satu cara tertentu dalam memilih nomor awal, semuanya tergantung

pada keinginan peneliti. Peneliti kemudian memilih sembilan nomor

sisanya dengan menelusuri tabel ke atas, ke bawah, ke kiri dan ke kan

tabel-atau bahkan memilih secara acak setiap nomor yang tersedia

permulaan dipilih

nomor

secara acak. Tidak

pada pada tabel.

Contoh lain, umpamakan kita hendak memilih suatu

sampel