Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kelainan refraksi merupakan suatu keadaan dimana bayangan tegas tidak dibentuk pada
retina (makula retina atau bintik kuning) melainkan di bagian depan atau belakang
bintik kuning dan tidak terletak pada satu titik yang tajam. Pada kelainan refraksi terjadi
ketidakseimbangan sistem optik / penglihatan pada mata sehingga menghasilkan
bayangan yang kabur. Pada penglihatan normal , kornea dan lensa mata membelokkan
sinar pada titik fokus yang tepat pada sentral retina. Bola mata manusia mempunyai
panjang kira-kira 2 cm, dan untuk memfokuskan sinar ke bintik kuning diperlukan
kekuatan 50 Dioptri. Kornea mempunyai kekuatan 40 dioptri dan lensa mata
berkekuatan 10 dioptri. Apabila kekuatan untuk membiaskan tidak sama dengan 50
Dioptri maka sinar akan difokuskan di depan retina seperti pada rabun jauh / miopia dan
dikoreksi dengan kacamata (-) atau di belakang retina seperti pada rabun dekat /
hipermetropia, yang membutuhkan kacamata (+). Apabila pembiasan tidak difokuskan
pada satu titik seperti pada astigmatisma maka diberikan kacamata silinder untuk
mengoreksinya. Kelainan refraksi dikenal dalam bentuk miopia, hipermetropia dan
astigmatisma.
Astigmatisma biasanya bersifat diturunkan ataua terjadi sejak lahir, dan biasanya
berjalan bersama dengan myopia dan hipermetropia dan tidak banyak terjadi perubahan
selama hidup. Letak kelainan pada astigmatisma terdapat di dua tempat yaitu kelainan
pada kornea dan kelainan pada lensa. Pada kelainan kornea terdapat perubahan
lengkung kornea dengan atau tanpa pemendekan atau pemanjangan diameter anterior-
posterior bola mata. Kelainan ini bisa merupakan kelainan kogenital atau di dapat
akibat kecelakaan, peradangan kornea atau operasi. Secara garis besar terdapat 3
penatalaksanaan astigmatisma, yaitu dengan menggunakan kacamata silinder, lensa
kontak dan pembedahan. Teknik pembedahan menggunakan metode LASIK,
photorefractive keratotomy, dan radial keratotomy.

1
1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa yang dimaksud dengan Astigmatisma ?


1.2.2 Apa saja yang menyebabkan terjadinya Astigmatisma?
1.2.3 Bagaimana pengklasifikasian Astigmatisma?
1.2.4 Bagaimana tanda dan gejala yang ditimbulkan oleh Astigmatisma ?
1.2.5 Bagaimana proses terjadinya Astigmatisma ?
1.2.6 Apa saja komplikasi yang dapat terjadi dari Astigmatisma?
1.2.7 Pemeriksaan apa yang dilakukan untuk menunjang diagnosa Astigmastisma ?
1.2.8 Bagaimana panatalaksanaan pada pasien dengan Astigmatisma ?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Astigmatisma


1.3.2 Untuk mengetahui apa saja yang menyebabkan terjadinya Astigmatisma
1.3.3 Untuk mengetahui bagaimana pengklasifikasian Astigmatisma
1.3.4 Untuk mengetahui bagaimana tanda dan gejala yang ditimbulkan oleh
Astigmatisma
1.3.5 Untuk mengetahui bagaimana proses terjadinya Astigmatisma
1.3.6 Untuk mengetahui apa saja komplikasi yang dapat terjadi dari Astigmatisma
1.3.7 Untuk mengetahui pemeriksaan apa yang dilakukan untuk menunjang diagnosa
Astigmastisma
1.3.8 Untuk mengetahui bagaimana panatalaksanaan pada pasien dengan
Astigmatisma

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
2.1.1 Astigmatisma
Astigmatisma adalah kelainan refraksi dimana sinar sejajar dengan garis
pandang oleh mata tanpa akomodasi di biaskan tidak pada satu titik tetapi
lebih dari satu titik. Astigmatisma adalah pembiasaan pada lebih dari satu titik
fokus berkas sinar yang sejajar yang masuk ke dalam mata pada keadaan tanpa
akomodasi. Astigmatisma diklasifikasikan berdasarkan bentuk dan tipe,
berdasarkan bentuk terbagi atas astigmatisma regular dan irregular. Pada
astigmatisma regular terdapat meridian utama yang saling tegak lurus yang
masing-masing memiliki daya bias terkuat dan terlemah, sedangkan pada
astigmatisma irregular didapatkan titik fokus yang tidak beraturan.
Astigmatisma merupakan kelainan refraksi yang menyebabkan penglihatan
menjadi kabur karena bentuk kornea atau lensa yang tidak teratur (American
Optometric Association, 2015). Astigmatisma adalah kelainan refraksi dimana
berkas sinar sejajar yang masuk ke dalam mata, pada keadaan tanpa
akomodasi, dibiaskan pada lebih dari satu titik fokus (Budiono, 2013).
Astigmatisma adalah sebuah gejala penyimpangan dalam pembentukkan
bayangan pada lensa, hal ini disebabkan oleh cacat lensa yang tidak dapat
memberikan gambaran/bayangan garis vertikal dengan horizotal secara
bersamaan, cacat mata ini dering di sebut juga mata silinder. Astigmatisme
adalah keadaan dimana terdapat variasi pada kurvatur kornea atau lensa pada
meridian yang berbeda yang mengakibatkan berkas cahaya tidak difokuskan
pada satu titik. Pada astigmatisma, mata menghasilkan suatu bayangan dengan
titik atau garis fokus multiple, dimana berkas sinar tidak difokuskan pada satu
titik dengan tajam pada retina akan tetapi pada 2 garis titik api yang saling
tegak lurus yang terjadi akibat kelainan kelengkungan di kornea (American
Academy of Opthlmology, Section 5, 2009-2010).
Definisi astigmatisme adalah cacat mata dengan gejala jika melihat sebuah
titik (bintik cahaya) akan terlihat garis terang menyebar. Hal ini terjadi karena
lensa mata (kornea) tidak mempunyai permukaan yang bulat benar. Kelainan
kornea ini mengakibatkan pembiasan sinar pada satu meridian berlainan
dengan meridian lain. Mata astigmat dapat ditolong dengan kacamata berlensa
silindrik negative, yang berfungsi melemahkan pembiasan terkuat pada satu

3
meridian, atau dapat juga dengan lensa silindris positif untuk memperkuat
pembiasan terlemah pada satu meridian
Astigmatisme adalah keadaan dimana terdapat variasi pada kurvatur kornea
atau lensa pada meridian yang berbeda yang mengakibatkan berkas cahaya
tidak difokuskan pada satu titik.
Astigmatisme adalah sebuah gejala penyimpangan dalam pembentukkan
bayangan pada lensa, hal ini disebabkan oleh cacat lensa yang tidak dapat
memberikan gambaran/ bayangan garis vertikal dengan horizotal secara
bersamaan.cacat mata ini dering di sebut juga mata silinder.
Mata astigmat atau mata silindris adalah suatu keadaan dimana sinar yang
masuk ke dalam mata tidak terpusat pada satu titik saja tetapi sinar tersebut
tersebar menjadi sebuah garis. Astigmatisma merupakan kelainan pembiasan
mata yang menyebabkan bayangan penglihatan pada satu bidang fokus pada
jarak yang berbeda dari bidang sudut. Pada astigmatisma berkas sinar tidak
difokuskan ke retina di dua garis titik api yang saling tegak lurus.

2.1.2 Refraksi
Kelainan refraksi merupakan gangguan pembiasan cahaya pada mata yang
mengakibatkan bayangan tidak jatuh tepat di retina, melainkan di depan, di
belakang retina, atau tidak terletak pada satu titik fokus sehingga penglihatan
menjadi kabur. Kelainan refraksi dapat diakibatkan karena kelainan
kelengkungan kornea dan lensa, perubahan indeks bias, dan kelainan panjang
sumbu bola mata (Launardo, et al., 2011). Jenis kelainan refraksi meliputi :
a. Miopia
Miopia adalah suatu kelainan refraksi dimana berkas sinar sejajar yang
masuk ke dalam mata dibiaskan pada suatu titik fokus di depan retina pada
keadaan tanpa akomodasi. Miopia disebut juga rabun jauh,
nearsightedness atau shortsightedness. Menurut derajatnya, miopia terbagi
atas myopia ringan (S-0,25 sampai S-3,00 dioptri), miopia sedang (S-3,25
sampai S-6,00 dioptri), miopia tinggi (S-6,25 dioptri atau lebih).
b. Hipermetropia
Hipermetropia adalah suatu kelainan refraksi di mana berkas sinar sejajar
yang masuk ke mata dalam keadaan tanpa akomodasi, dibiaskan
membentuk bayangan di belakang retina. Hipermetropia disebut juga
rabun dekat, hiperopia, farsightedness, atau longsightedness.
c. Astigmatisma
Astigmatisma adalah kelainan refraksi dimana berkas sinar sejajar yang
masuk ke dalam mata, pada keadaan tanpa akomodasi, dibiaskan pada
lebih dari satu titik fokus.

4
d. Presbiopia
Presbiopia menggambarkan kondisi refraksi yang berhubungan dengan
usia tua. Pada presbiopia, lensa dan muskulus siliaris kehilangan
fleksibilitasnya untuk mempertahankan akomodasi sehingga tidak dapat
melakukan fungsinya untuk melihat jarak dekat (Budiono, 2013).

2.2 Anatomi Fisiologi


2.2.1Anatomi Mata

Mata adalah sepasang organ


penglihatan dan terdiri dari bola mata dan saraf optik. Bola mata terdapat di dalam
orbita bersama dengan struktur visual lainnya. Wilayah orbital adalah area wajah
yang menutupi orbita dan bola mata, termasuk kelopak mata atas dan bawah serta
aparatus lakrimal (Moore dan Dalley, 2014). Bola mata berbentuk bulat dengan
panjang maksimal 24 mm (Ilyas, 2010).
Mata memiliki beberapa bagian, yaitu:
a. Palpebra
Anatomi palpebra atau kelopak mata dibagi menjadi tujuh struktur lapisan, yaitu: (1)
kulit dan otot orbikularis, (2) lempeng tarsal atau tarsus, (3) otot protraktor (otot
levator dan otot muller), (4) septum orbita, (5) lemak orbita, (6) otot retraktor (otot
kapsulo palpebra dan otot tarsal inferior), dan (7) konjungtiva palpebra (Budiono,
2013).
Palpebra berfungsi memberikan perlindungan atau proteksi mekanik pada bola mata
bagian depan dan mencegah mata dari kekeringan dengan berkedip (aktivitas otot
orbikularis okuli sebagai pompa air mata), mensekresi lapisan minyak pada air mata
yang diproduksi kelenjar Meibom, menyebarkan air mata ke seluruh permukaan
konjungtiva dan kornea serta melakukan proses drainase air mata melalui pungta ke
sistem drainase lakrimal (Budiono, 2013).

5
b. Konjungtiva
Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus
permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior
sklera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi
palpebra dan dengan epitel kornea di limbus (Riordan-Eva, 2009).

c. Sklera dan Episklera


Sklera adalah pembungkus fibrosa pelindung mata di bagian luar, yang hampir
seluruhnya terdiri atas kolagen. Jaringan ini padat dan berwarna putih serta berbatasan
dengan kornea di anterior dan duramater nervus optikus di posterior. Permukaan luar
sklera anterior dibungkus oleh sebuah lapisan tipis jaringan elastik halus yang disebut
episklera. Episklera mengandung banyak pembuluh darah untuk memperdarahi sklera
(Riordan-Eva, 2009).

d. Kornea
Kornea adalah jaringan transparan yang ukuran dan strukturnya sebanding dengan
kristal sebuah jam tangan kecil. Kornea dewasa ratarata tebalnya 550 μm di pusatnya
(terdapat variasi menurut ras), diameter horizontalnya sekitar 11,75 mm dan
vertikalnya 10,6 mm. Dari anterior ke posterior, kornea memiliki lima lapisan yang
berbeda yaitu lapisan epitel, lapisan Bowman, stroma, membran Descemet, dan
lapisan endotel. Stroma menyusun sekitar 90% ketebalan kornea. Transparansi kornea
disebabkan oleh strukturnya yang seragam, avaskular, dan deturgensinya (Riordan-
Eva, 2009).
Endotelium janin mulai terlihat bersamaan dengan epitelium tetapi berasal dari krista
neural. Lapisan ektoderm neural dan mesoderm tidak terlibat dalam pembentukan
kornea. Pada usia bayi dua tahun, diameter kornea sudah sama dengan kornea usia
dewasa, akan tetapi dengan kurvatura yang lebih datar (Ilyas dan Yulianti, 2014).
Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di
bagian depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dari 50
dioptri pembiasaan sinar masuk kornea (Ilyas dan Yulianti, 2014).

e. Traktus Uvealis
Traktus uvealis terdiri atas iris, korpus siliaris, dan koroid. Bagian ini merupakan
lapisan avaskular tengah mata dan dilindungi oleh kornea dan sklera. Struktur ini ikut
memperdarahi retina (Riordan-Eva, 2009).
1) Iris dan Pupil
Iris adalah perpanjangan korpus siliaris ke anterior. Iris berupa permukaan pipih
dengan apertura bulat yang terletak di tengah yang disebut pupil. Iris terletak
bersambungan dengan permukaan anterior lensa, memisahkan bilik mata depan
dari bilik mata belakang, yang masing-masing berisi humor akuos. Iris
mengendalikan banyaknya cahaya yang masuk ke dalam mata. Ukuran pupil pada
prinsipnya ditentukan oleh keseimbangan antara konstriksi akibat aktivitas
parasimpatis yang dihantarkan melalui nervus kranialis III dan dilatasi yang
ditimbulkan oleh aktivitas simpatis (Riordan-Eva, 2009).

6
2) Korpus Siliaris
Korpus siliaris berbentuk segitiga pada potongan melintang, membentang ke
depan dari ujung anterior koroid ke pangkal iris (sekitar 6 mm). Korpus siliaris
terdiri atas zona anterior yang berombak (pars plicata), dan zona posterior yang
datar (pars plana). Prosesus siliaris dan epitel siliaris pembungkusnya berfungsi
sebagai pembentuk humor akuos. Muskulus siliaris tersusun dari gabungan serat
longitudinal, sirkular, dan radial. Fungsi serat-serat ini adalah untuk mengubah
tegangan pada kapsul lensa sehingga lens dapat memiliki berbagai fokus baik
untuk objek berjarak dekat atau jauh (Riordan-Eva, 2009).
3) Koroid
Koroid adalah segmen posterior uvea, di antara retina dan sklera. Koroid tersusun
atas tiga lapis pembuluh darah koroid yaitu besar, sedang, dan kecil. Kumpulan
pembuluh darah ini berguna untuk memperdarahi bagian luas retina yang
menyokongnya.
4) Lensa
Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular, tak berwarna dan hampir
transparan sempurna. Tebalnya sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm. Lensa
tergantung pada zonula zinii di belakang iris. Zonula menghubungkannya dengan
korpus siliaris. Humor akuos terletak di depan lensa, dan di posteriornya terdapat
humor vitreus. Enam puluh lima persen lensa terdiri atas air, sedangkan 35%-nya
tersusun atas protein. Lensa tidak memiliki serat nyeri, pembuluh darah, atau saraf
(Riordan-Eva, 2009). Lensa mata mampu membiaskan cahaya karena memiliki
indeks bias sekitar 1,4 di tengah dan 1,36 di bagian tepinya, berbeda dengan
indeks bias humor akuos dan korpus vitreus yang mengelilinginya. Dalam
keadaan tanpa akomodasi, lensa memiliki kontribusi sekitar 15-20 dioptri,
sedangkan udara dan permukaan kornea memilki kekuatan refraksi kurang lebih
43 dioptri (Budiono, 2013).
5) Humor Akuos
Humor akuos diproduksi oleh korpus siliaris. Setelah memasuki bilik mata
belakang, humor akuos melalui pupil akan masuk ke bilik mata depan, kemudian
ke perifer menuju sudut bilik mata depan (Riordan-Eva, 2009).
6) Retina
Retina adalah lembaran jaringan saraf berlapis yang tipis dan semi-transparan
yang melapisi bagian dalam dua per tiga posterior dinding bola mata. Retina
mempunyai tebal 0,1 mm pada ora serrata dan 0,56 mm pada kutub posterior. Di
tengah retina terdapat makula lutea dengan diameter 5,5-6 mm.
7) Vitreus
Vitreus adalah suatu badan gelatin yang jernih dan avaskular yang membentuk
dua per tiga volume dan berat mata. Vitreus mengisi ruangan yang dibatasi oleh
lensa, retina, dan diskus optikus. Vitreus terdiri dari 99% air dan 1%-nya berupa
kolagen dan asam hialuronat (Riordan-Eva, 2009).

7
2.2.2 Fisiologi Penglihatan
Penglihatan dimulai dari masuknya cahaya ke dalam mata dan difokuskan pada retina.
Cahaya yang datang dari sumber titik jauh, ketika difokuskan di retina akan menjadi
bayangan yang sangat kecil (Guyton dan Hall, 2008). Hasil pembiasan sinar pada
mata ditentukan oleh media penglihatan yang terdiri atas kornea, cairan mata, lensa,
badan kaca, dan panjang bola mata. Pada orang normal, susunan pembiasan oleh
media penglihatan dan panjang bola mata seimbang, sehingga bayangan benda setelah
melalui media penglihatan akan dibiaskan tepat pada daerah makula lutea. Mata yang
normal disebut mata emetrop dan akan menempatkan bayangan benda tepat di retina
pada keadaan mata tidak berakomodasi (Ilyas dan Yulianti, 2014). Dua struktur yang
paling penting dalam kemampuan refraktif mata adalah kornea dan lensa. Permukaan
kornea adalah struktur pertama yang dilalui cahaya ketika memasuki mata. Bentuk
permukaan kornea yang melengkung berperan paling besar dalam kemampuan
refraktif total mata karena perbedaan kepadatan pertemuan udara dengan kornea jauh
lebih besar dibandingkan dengan kepadatan antara lensa dan cairan yang
mengelilinginya. Tidak semua cahaya yang melewati kornea mencapai fotoreseptor
peka cahaya karena adanya iris. Cahaya masuk ke bagian dalam mata melalui lubang
di bagian tengah iris (pupil). Ukuran pupil tersebut dapat disesuaikan oleh variasi
kontraksi otot-otot iris untuk mengatur jumlah cahaya yang masuk. Berkas cahaya
akan diterima lensa mata yang bersifat bikonveks. Permukaan lensa mata yang
bikonveks (cembung pada dua sisi) akan menyebabkan konvergensi atau penyatuan
berkas cahaya yang merupakan syarat agar bayangan dapat jatuh pada titik fokus.
Akomodasi merupakan kemampuan menyesuaikan kekuatan lensa sehingga baik
sumber cahaya dekat maupun jauh dapat difokuskan di retina. Kekuatan lensa
bergantung pada bentuknya yang diatur oleh otot siliaris. Otot siliaris melekat ke
lensa mata melalui ligamentum suspensorium. Pada saat penglihatan jauh, otot siliaris
relaksasi, ligamentum suspensorium kontraksi dan menarik lensa, sehingga lensa
mendatar dengan kekuatan refraksi yang minimal. Pada saat penglihatan dekat, otot
siliaris berkontraksi, ligamentum suspensorium relaksasi, sehingga lensa menjadi
lebih cembung dan lebih kuat. Ketika cahaya sampai ke retina, maka sel fotoreseptor
retina yang terdiri dari sel batang dan sel kerucut akan mengubah energi cahaya
menjadi sinyal listrik untuk disalurkan ke sistem saraf pusat (Sherwood, 2009).
Bayangan yang tertangkap pada retina adalah terbalik, nyata, diperkecil. Namun,
persepsi otak terhadap benda tetap dalam keadaan tegak, tidak terbalik seperti
bayangan yang terjadi di retina. Hal tersebut terjadi karena otak sudah dilatih
menangkap bayangan yang terbalik itu sebagai keadaan normal (Guyton dan Hall,
2008).

8
2.3 Klasifikasi

9
10
11
Menurut Kaimbo (2012), astigmatisma diklasifikasikan menjadi beberapa jenis,yaitu :
Berdasarkan axis meridian utama :
1. Astigmatisma Reguler
Astigmatisma jenis ini memiliki dua meridian yang saling tegak lurus.
2. Astigmatisma Ireguler
Astigmatisma yang tidak mempunyai dua meridian yang saling tegak lurus.
3. Astigmatisma With-The-Rule
Meridian vertikal adalah bagian yang paling datar, sehingga kornea berbentuk
seperti bola rugby.
4. Astigmatisma Against-The-Rule
Astigmatisma jenis ini memiliki kelengkungan meridian horizontal yang paling
datar.
5. Astigmatisma Oblik
Lengkungan paling datar berada di antara sudut 120 dan 150 derajat serta 30 dan
60 derajat.

Berdasarkan titik fokus meridian utama dalam keadaan tanpa akomodasi,


astigmatisma dibagi menjadi:
1. Astigmatisma Simpleks
a. Astigmatisma Hipermetrop Simpleks
Titik fokus pertama berada tepat di retina, sedangkan titik fokus lainnya berada di
belakang retina.
b. Astigmatisma Miop Simpleks
Titik fokus pertama berada tepat di retina, sedangkan titik fokus lainnya berada di
depan retina.
2. Astigmatisma Kompositus
a. Astigmatisma Hipermetrop Kompositus
Semua titik fokus berada di belakang retina.
b. Astigmatisma Miopi Kompositus
Semua titik fokus berada di depan retina.
c. Astigmatisma Mikstus
Kedua titik fokus berada masing-masing di depan dan di belakang retina.

Menurut Ilyas (2010), astigmatisma dibagi menjadi dua, yaitu:


1. Astigmatisma Reguler
Astigmatisma reguler merupakan astigmatisma yang memperlihatkan kekuatan
pembiasan bertambah atau berkurang perlahan-lahan secara teratur dari satu
meridian ke meridian berikutnya. Bayangan yang terjadi pada astigmatisma
regular dengan bentuk yang teratur dapat berbentuk garis, lonjong, atau lingkaran.

12
2. Astigmatisma Ireguler
Astigmatisma ireguler merupakan astigmatisma yang terjadi tidak mempunyai 2
meridian saling tegak lurus. Astigmatisma ireguler dapat terjadi akibat
kelengkungan kornea pada meridian yang sama berbeda sehingga bayangan
menjadi ireguler. Astigmatisma terjadi akibat infeksi kornea, trauma dan distrofi
atau akibat kelainan pembiasan pada meridian lensa yang berbeda.

2.4 Etiologi
Etiologi kelainan astigmatisma adalah sebagai berikut:
1. Adanya kelainan kornea dimana permukaan luar kornea tidak teratur. Media refrakta
yang memiliki kesalahan pembiasan yang paling besar adalah kornea, yaitu mencapai
80% s/d 90% dari astigmatismus, sedangkan media lainnya adalah lensa kristalin.
Kesalahan pembiasan pada kornea ini terjadi karena perubahan lengkung kornea
dengan tanpa pemendekan atau pemanjangan diameter anterior posterior bolamata.
Perubahan lengkung permukaan kornea ini terjadi karena, kelainan kogenital,
kecelakaan, luka atau parut di kornea, peradangan kornea serta akibat pembedahan
kornea.
2. Adanya kelainan pada lensa dimana terjadi kekeruhan pada lensa. Semakin
bertambahumur seseorang, maka kekuatan akomodasi lensa kristalin juga semakin
berkurang dan lama kelamaan lensa kristalin akan mengalami kekeruhan yang dapat
menyebabkan astigmatismus.
3. Intoleransi lensa atau lensa kontak pada postkeratoplasty
4. Trauma pada kornea
5. Tumor

Penyebab umum astigmatisma adalah kelainan bentuk kornea. Lensa kristalina juga
dapat berperan untuk timbulnya astigmatisma (Vaughan, 2009). Astigmatisma paling
sering disebabkan oleh terlalu besarnya lengkung kornea pada salah satu bidangnya
(Guyton et al, 1997). Astigmatisma pasca operasi katarak dapat terjadi bila jahitan
terlalu erat (James et al,2003) (James B,2006) (Fitriani, 2002). Astigmatisma terjadi
akibat kelainan kelengkungan permukaan kornea. Bayi yang baru lahir biasanya
mempunyai kornea yang bulat atau sferis yang di dalam perkembangannya terjadi
keadaan apa yang disebut astigmatism with the rule (astigmat lazim) yang berarti
kelengkungan kornea pada bidang vertikal bertambah atau lebih kuat atau jari-jarinya
lebih pendek dibanding jari-jari kelengkungan kornea di bidang horizontal.

13
2.5 Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala astigmatisma berbeda manfestasinya antara satu orang dengan yang
lainnya. Tanda dan gejala astigmatisma menurut (Boyd, 2015) adalah sebagai berikut:
1. Pandangan kabur atau berbayang
2. Kelelahan mata
3. Nyeri kepala
4. Usaha menyipitkan mata untuk dapat melihat dengan jelas

14
2.6 Patofisiologis
Pada mata normal, permukaan kornea yang melengkung teratur akan memfokuskan
sinar pada satu titik. Pada astigmatisma, pembiasan sinar tidak difokuskan pada satu
titik. Sinar pada astigmatisma dibiaskan tidak sama pada semua arah sehingga pada
retina tidak didapatkan satu titik fokus pembiasan. Sebagian sinar dapat terfokus pada
bagian depan retina sedang sebagian sinar lain difokuskan di belakang retina
(American Academy of Opthalmology Section 5, 2009-2010).
Jatuhnya fokus sinar dapat dibagi menjadi 5 (Ilyas dkk, 2002), yaitu :
a) Astigmaticus miopicus compositus, dimana 2 titik jatuh didepan retina
b) Astigmaticus hipermetropicus compositus, dimana 2 titik jatuh di belakang retina
c) Astigmaticus miopicus simplex, dimana 2 titik masing-masing jatuh di depan retina
dan satunya tepat pada retina
d) Astigmaticus hipermetropicus simplex, dimana 2 titik masing-masing jatuh di
belakang retina dan satunya tepat pada retina
e) Astigmaticus mixtus, dimana 2 titik masing-masing jatuh didepan retina dan
belakang retina
Mata seseorang secara alami berbentuk bulat. Dalam keadaan normal, ketika cahaya
memasuki mata, itu dibiaskan merata, menciptakan pandangan yang jelas objek.
Astigmatisma terjadi akibat kelainan kelengkungan permukaan kornea. Bayi yang
baru lahir biasanya mempunyai kornea yang bulat atau sferis yang di dalam
perkembangannya terjadi keadaan apa yang disebut astigmatisme with the rule
(astigmat lazim) yang berarti kelengkungan kornea pada bidang vertikal bertambah
atau lebih kuat atau jari-jarinya lebih pendek dibanding jari-jari kelengkungan kornea
di bidang horizontal.
Mata seseorang dengan Silindris berbentuk lebih mirip sepak bola atau bagian
belakang sendok. Untuk orang ini, ketika cahaya memasuki mata itu dibiaskan lebih
dalam satu arah daripada yang lain, sehingga hanya bagian dari obyek yang akan
fokus pada satu waktu. Objek pada jarak pun dapat muncul buram dan bergelombang.
Pada kelainan mata astigmatisma, bola mata berbentuk ellips atau lonjong, seperti
bola rugby, sehingga sinar yang masuk ke dalam mata tidak akan bertemu di satu titik
retina. Sinar akan dibiaskan tersebar di retina. Hal ini akan menyebabkan pandangan
menjadi kabur, tidak jelas, berbayang, baik pada saat untuk melihat jarak jauh
maupun dekat.

15
2.7 Pathway
Kelainan refraksi

Keturunan

Kelainan kornea

Perubahan lengkung
kornea

Astigmatisma

Berkas cahaya masuk


pada berbagai bidang

Sinar masuk
dibiaskan pada
tempat yang berbeda

Diplopia

Perubahan sensori
perseptual (visual)

Hambatan Gangguan rasa Resiko Cedera


mobilitas fisik nyaman

16
2.8 Pemeriksaan Penunjang

17
18
Karena sebagian besar astigmatisma disebabkan oleh kornea, maka dengan
mempergunakan keratometer, maka derajat astigmatisma dapat diketahui (Istiantoro
S, Johan AH, 2004). Keratometer adalah alat yang dipergunakan untuk mengukur
jari-jari kelengkungan kornea anterior. Perubahan astigmatisma kornea dapat
diketahui dengan mengukur jari jari kelengkungan kornea anterior, meridian vertical
dan horizontal, sebelum dan sesudah operasi. Evaluasi rutin kurvatura kornea
preoperasi dan postoperasi membantu ahli bedah untuk mengevaluasi pengaruh tehnik
incisi dan penjahitan terhadap astigmatisma. Dengan mengetahui ini seorang ahli
bedah dapat meminimalkan astigmatisma yang timbul karena pembedahan. Perlu
diketahui juga bahwa astigmatisma yang didapat pada hasil keratometer lebih besar
daripada koreksi kacamata silinder yang dibutuhkan (Istiantoro S, Johan AH, 2004).
Cara obyektif semua kelainan refraksi, termasuk astigmatisma dapat ditentukan
dengan skiaskopi, retinoskopi garis (streak retinoscopy), dan refraktometri (Langston,
Deborah pavan, 1996).
a. Refraksi Subyektif
Alat :
- Kartu Snellen
- Bingkai percobaan
- Sebuah set lensa coba
- Kipas astigmat
Prosedur :
Astigmat bisa diperiksa dengan cara pengaburan (fogging technique of refraction)
yang menggunakan kartu snellen, bingkai percobaan, sebuah set lensa coba, dan
kipas astigmat. Pemeriksaan astigmat ini menggunakan teknik sebagai berikut
yaitu:
1. Pasien duduk menghadap kartu Snellen pada jarak 6 meter,
2. Pada mata dipasang bingkai percobaan,
3. Satu mata ditutup,
4. Dengan mata yang terbuka pada pasien dilakukan terlebih dahulu pemeriksaan
dengan lensa (+) atau (-) sampai tercapai ketajaman penglihatan terbaik,
5. Pada mata tersebut dipasang lensa (+) yang cukup besar (misal S + 3.00) untuk
membuat pasien mempunyai kelainan refreksi astigmat miopikus,
6. Pasien diminta melihat kartu kipas astigmat,
7. Pasien ditanya tentang garis pada kipas yang paling jelas terlihat,
8. Bila belum terlihat perbedaan tebal garis kipas astigmat maka lensa S( + 3.00)
diperlemah sedikit demi sedikit hingga pasien dapat menentukan garis mana
yang terjelas dan terkabur,
9. Lensa silinder (-) diperkuat sedikit demi sedikit dengan sumbu tersebut hingga
tampak garis yang tadi mula-mula terkabur menjadi sama jelasnya dengan garis
yang terjelas sebelumnya,
10. Bila sudah dapat melihat garis-garis pada kipas astigmat dengan jelas,lakukan
tes dengan kartu Snellen,

19
11. Bila penglihatan belum 6/6 sesuai kartu Snellen, maka mungkin lensa (+) yang
diberikan terlalu berat,sehingga perlu mengurangi lensa (+) atau menambah
lensa ( - ),
12. Pasien diminta membaca kartu Snellen pada saat lensa (-) ditambah perlahan-
lahan hingga ketajaman penglihatan menjadi 6/6 (Ilyas, 2003)
Sedangkan nilainya : Derajat astigmat sama dengan ukuran lensa silinder (-)
yang dipakai sehingga gambar kipas astigmat tampak sama jelas (Ilyas, 2003).

b. Refraksi Obyektif
Karena sebagian besar astigmatisma disebabkan oleh kornea, maka dengan
mempergunakan keratometer, derajat astigmatisma dapat diketahui. Cara obyektif
semua kelainan refraksi, termasuk astigmatisma dapat ditentukan dengan
skiaskopi, retinoskopi garis (streak retinoscopy), dan refraktometri (Ilyas et al,
2003).

2.9 Komplikasi
Komplikasi dari adanya astigmatisma ini dapat menimbulkan Myopia (Rabun jauh)
maupun Hypermetropia (Rabun dekat). Myopia disebabkan oleh lensa mata terlalu
cembung atau bola mata terlalu panjang sehingga bayangan benda jatuh di depan
retina. Myopia dapat ditolong dengan lensa cekung(divergen/negatif). Hypermetropia
disebkan oleh karena lensa mata tidak dapat mencembung atau bola mata terlalu
pendek sehingga bayangan benda jatuh di belakang retina. Hypermetropia dapat
ditolong dengan lensa cembung (konvergen/positif).

20
2.10 Penatalaksanaan

21
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

I. DATA DEMOGRAFI

- PASIEN

Nama, umur, Jenis kelamin, Agama, Suku/bangsa, Pendidikan, Pekerjaan, Status,


Alamat.

- PENANGGUNG JAWAB

Nama, Jenis kelamin, Pekerjaan,Hubungan dengan klien, Alamat

II. RIWAYAT KESEHATAN

A. Keluhan utama :

Biasanya klien mengeluhkan salah satu tanda gejala berikut :

- penglihatan yang kabur saat melihat objek jauh, dekat, atau keduanya,

- sakit kepala terutama di daerah tengkuk atau dahi,


- mata berair, cepat mengantuk, mata terasa pedas dan pegal pada bola mata.
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien datang biasanya setelah beberapa minggu merasakan keluhan rasa tidak
nyaman pada kedua matanya. Penglihatan yang kabur saat melihat objek jauh,
dekat, atau keduanya, sehingga biasanya klien sering memaksakan mata untuk
melihat dengan lebih jelas. Hal ini menyebabkan terjadinya iritasi mata, mata gatal,
mata lelah, sensasi terdapat benda asing, dan kemerahan, selain itu kedua mata
klien sering berair dan sakit kepala turut dirasaka namun keluhan ini biasanya
dirasakan hilang timbul.

22
C. Riwayat Kesehatan Terdahulu
Pada klien kaji adanya riwayat diabetes mellitus, pasca bedah kornea, defisit
vitamin A dan tanyakan apakah sebelumnya klien sudah pernah memakai kacamata
atau kontak lensa.
D. Riwayat Kesehatan Keluarga
Pada umumnya klien gangguan refraksi dengan miopi dan astigmatisma merupakan
kelainan karena faktor bawaan (keturunan atau genetik) selain itu adakah riwayat
buta warna pada keluarga.
E. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Keadaan rumah klien yang sempit dan lingkungan pekerjaan klien yang
mempengaruhi kerja mata.

III. PEMERIKSAAN FISIK


TANDA – TANDA VITAL
 TD : Normal ( 110-130 mmHg )
 Nadi : Normal ( 60-100 x/menit )
 Suhu : Normal ( 36.5 – 37.5 celcius )
 RR : Normal ( 16-24 x/menit )

IV. PEMERIKSAAN PER SISTEM


A. Sistem Pernafasan
Anamnesa : tidak ada keluhan dan kelainan pada system pernafasan
Hidung
Inspeksi : tidak ada pernafasan cuping hidung, tidak ada secret/ingus, tidak ada
pemberian O2 melalui nasal/masker.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan dan tidak ada fraktur tulang nasal
Mulut
Inspeksi : mukosa bibir pucat, tidak menggunakan alat bantu nafas ETT
Leher
Inspeksi : bentuk leher normal dan simetris
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa, tidak ada pembesaran kalenjer
tiroid

23
Faring
Inspeksi : tidak ada kemerahan dan tanda-tanda infeksi/oedem
Area Dada
Inspeksi : tidak ada penggunaan otot bantu pernafasan, pergerakan dada simetris,
bentuk dada normal.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan dan tidak ada kelainan pada dinding thorax.
Perkusi : bunyi paru sonor pada seluruh lapang paru.
Auskultasi : suara nafas bronkovesikuler

B. Kardiovaskuler Dan Limfe


Anamnesa : tidak ada keluhan dan kelainan pada system kardiovaskuler dan limfe
Wajah
Inspeksi : wajah simetris dan konjungtiva merah muda
Leher
Inspeksi : tidak ada bendungan vena jugularis
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Dada
Inspeksi : bentuk dada normal dan simetris dan tidak ada pulsasi dada
Palpasi : tidak ada pembesaran ictus cordis
Perkusi : Terdengar suara pekak pada jantung
Auskultasi : Bunyi jantung I tunggal di ICS IV linea mid clavicula sinistra.
Bunyi jantung II tunggal di ICS II linea stenalis kanan ( aorta ).
Bunyi jantung III tunggal tidak terdengar.
Bunyi jantung IV tunggal tidak terdengar.
Ekstermitas atas
Inspeksi : perfusi merah, tidak ada sianosis dan clubbing finger
Palpasi : suhu akral hangat
Ekstermitas bawah
Inspeksi : perfusi merah, tidak ada varises, clubbing finger
Palpasi : suhu akral hangat

24
C. Persyarafan
Anamnesa : Sakit kepala terutama di daerah tengkuk atau dahi
Pemeriksaan nervus
- Nervus I olfaktorius (pembau)
Klien bisa membedakan aroma saat di beri minyak wangi dan minyak kayu
putih.
- Nervus II opticus (penglihatan)
*Luas Lapang pandang
V = 1/60 (miopia)
V = 1/300 (hipermetropia)
*Ketajaman Penglihatan
Penglihatan kabur saat melihat objek jauh, dekat, atau keduanya
- Nervus III oculomotorius
Pada miopia mata terkadang menonjol dan celah mata tertutup setengah
sedangkan pada hipermetropia terkadang bola mata relatif lebih kecil, begitu
juga dengan korneanya.
- Nervus IV toklearis
Pemeriksaan pupil : miosis pada hipermetropia, midriasis pada miopia.
- Nervus V trigeminus (sensasi kulit wajah)
Bisa merasakan tusukan jarum tajam dan tumpul pada wajah.
- Nervus VI abdusen
Gerakan bola mata tidak sama saat bergerak, pada astigmatisma terdapat
diplopia (penglihatan ganda) pada satu atau kedua mata, bola mata menonjol
(exophthalamus) pada miopia
- Nervus VII facialis
Klien dapat membedakan rasa asin dan manis dengan mata
tertutup, bentuk wajah simetris
- Nervus VIII auditorius/akustikus
Fungsi pendengaran baik

25
- Nervus IX glosoparingeal
Reflek menelan klien baik dan dapat membedakan rasa pahit
- Nervus X vagus
Uvula klien simetris terlihat ketika klien membuka mulut dan berkata“ah”.
- Nervus XI aksesorius
Klien tidak kesulitan untuk mengangkat bahu
- Nervus XII hypoglosal/hipoglosum
Bentuk lidah simetris, klien mampu menjulurkan lidah dan
menggerakkannya ke segala arah

D.Perkemihan-Eliminasi Uri
Anamnesa : Pada sistem perkemihan-eliminasi uri tidak ada gangguan pada
umumnya.
Genetalia Eksterna
Inspeksi : Tidak ada odem, tidak ada tanda – tanda infeksi
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan

E. Sistem Pencernaan-Eliminasi Alvi


Anamnesa : Pada sistem pencernaan-eliminasi alvi tidak ada gangguan pada
umumnya.
Mulut
Inspeksi : Mukosa bibir lembab
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada rongga mulut,
Lidah
Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada tremor dan lesi.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan edema.
Abdomen
Inspeksi : tidak terdapat pembesaran abdomen (distensi abdomen), tidak ada
luka.
Auskultasi : peristaltic usus
Perkusi : hipertympani
Palpasi
Kuadran I

26
Hepar tidak terdapat hepatomegali dan nyeri tekan
Kuadran II
Gaster tidak ada nyeri tekan abdomen dan tidak terdapat distensi abdomen
Kuadran III
Tidak ada massa dan nyeri tekan
Kuadran IV
Tidak ada nyeri tekan pada titik Mc Burne

F. Sistem Muskuloskeletal Dan Integumen


Anamnesa : Pada sistem musculoskeletal dan integumen tidak ada gangguan pada
umumnya.
Warna Kulit
Warna kulit tidak terdapat kelainan dan turgor kulit baik

G. Sistem Endokrin dan Eksokrin


Anamnesa : Pada system endokrin dan eksokrin tidak ada gangguan pada umumnya.
Kepala
Inspeksi : tidak terlihat moon face
Leher
Inspeksi : bentuk leher simetris.
Palpasi : tidak ada pembesaran kalenjar tyyroid, dan tidak ada nyeri tekan.
Ekstremitas bawah
Palpasi : tidak ada varises, oedem

H. Sistem Reproduksi
Anamnesa : Pada sistem reproduksi tidak ada gangguan pada umumnya.
Axilla
Inspeksi : tidak ada benjolan abnormal
Palpasi : tidak teraba adanya benjolan
Abdomen
Inspeksi : tidak terdapat pembesaran abdomen
Palpasi : tidak terdapat pembesaran (kontur,ukuran) tidak ada massa

27
I. Persepsi Sensori
Astigmatisme
Dasar pemeriksaan astigmatisme dengan teknik foging yaitu klien disuruh melihat
gambaran kipas dan ditanya manakah garis yang terlihat paling jelas. Garis ini sesuai
dengan meredian yang paling emetrop dan yang harus dikoreksi adalah aksis tegak
lurus, derajat bidang meredian tersebut dilanjutkan dengan pemeriksaan kartu snellen.
Anamnesa : Penglihatan yang kabur, sakit kepala, mata berair, mata terasa pedas,
pegal pada bola mata dan mata gatal. Terdapat penglihatan ganda (diplopia)

J. Mata
Inspeksi: Pada miopia bentuk mata terkadang menonjol sedangkan pada
hipermetropia terkadang bola mata relatif lebih kecil, presbiopi
Kornea : pada astigmatisma bentuk kornea oval seperti telur, pada
hipermetropia korneanya relatif lebih kecil
Iris dan pupil : uji reflek cahaya pupil miosis (hipermetropia). Pupil midriasis (miopia)
Lensa : pada prepobia terjadi penurunan elastisitas kapsul lensa dan klerosis
lensa
Sclera : putih
Palpasi: Teraba lunak, tidak ada nyeri dan pembengkakan kelopak mata.

28
IV. ANALISA DATA

NO DATA ETIOLOGI MASALAH


1 DO: Mata pasien terlihat merah dan
berair
DS: Biasanya pasien mengeluh
penglihatan kabur saat melihat Gangguan sensori Hambatan
objek jauh, dekat, atau preseptual (visual) mobilitas fisik
keduanya, sakit kepala
terutama di daerah tengkuk
atau dahi, cepat mengantuk,
mata terasa pedas dan pegal
pada bola mata.
2 DO: Mata pasien terlihat merah dan
berair
DS: Biasanya pasien mengeluh
penglihatan kabur saat melihat Gejala terkait Gangguan Rasa
objek jauh, dekat, atau penyakit Nyaman
keduanya, sakit kepala terutama
di daerah tengkuk atau dahi,
cepat mengantuk, mata terasa
pedas dan pegal pada bola mata.
3 DO : Mata pasien terlihat merah dan
berair
DS :Biasanya pasien mengeluh
penglihatan kabur saat melihat Keterbatasan Resiko Cedera
objek jauh, dekat, atau penglihatan
keduanya, sakit kepala
terutama di daerah tengkuk
atau dahi, cepat mengantuk,
mata terasa pedas dan pegal
pada bola mata.

29
3.2 Diagnosa

1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan sensori preseptual (visual)

2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit

3. Resiko cedera berhubungan dengan keterbatasan penglihatan

3.3 Intervensi

NO DIAGNOSA TUJUAN & KH INTERVENSI & RASIONAL


1 Hambatan Tujuan : 1.Kaji tingkat mobilitas fisik
mobilitas fisik Ketajaman Penglihatan klien .
berhubungan klien meningkat dengan Rasional : mengetahui tingkat
dengan bantuan alat. mobilitas fisik yang dapat di
gangguan -Klien mengenal lakukan klien
sensori gangguan sensori yang 2.Jelaskan penyebab terjadinya
preseptual terjadi dan melakukan gangguan penglihatan.
(visual) kompensasi terhadap Rasional : Pengetahuan tentang
perubahan. penyebab mengurangi kecemasan
dan dalam tindakan keperawatan.
Kriteria hasil : 3.Lakukan uji ketajaman
-Ketajaman penglihatan penglihatan.
normal Rasional : mengetahui visus dasar
-Hambatan mobilitas klien dan perkembangannya
fisis teratasi setelah diberikan tindakan.
4.Kolaborasi dengan tim medis
dalam pemberian lensa kontak /
kacamata bantu.

2 Gangguan Tujuan : 1.Jelaskan kepada klien tentang


rasa nyaman Rasa nyaman klien penyakit yang di alami .
berhubungan terpenuhi. Rasional : mengurangi kecemasan
dengan gejala Kriteria hasil : dan meningkatkan pengetahuan
terkait - Keluhan klien gelisah klien sehingga klien kooperatif
penyakit dan takut berkurang / dalam tindakan keperawatan.
hilang. 2.Anjurkan agar klien cukup
- Klien mengenal gejala istirahat dan tidak melakukan
gangguan sensori dan aktivitas membaca terus menerus.
dapat berkompensasi Rasional : mengurangi kelelahan
terhadap perubahan mata .
yang terjadi. 3.Gunakan lampu/ penerangan
yang cukup (dari atas dan
belakang) saat membaca.
Rasional : untuk mengurangi silau

30
dan akomodasi mata yang
berlebihan.
4.Kolaborasi : pemberian
kacamata
Rasional :untuk meningkatkan
tajam penglihatan klien.
3 Resiko cedera Tujuan : 1.Sediakan lingkuman yang aman
berhubungan Setelah dilakukan untuk pasien
dengan tindakan keperawatan 2.Identifikasi kebutuhan
keterbatasan selama ...x 24 jam , keamanan pasien sesuai kondisi
penglihatan pasien akan : fisik
- Klien terbebas dari 3.Jelaskan tentang kemungkinan
cedera yang terjadi akibat penurunan
- Klien mampu tajam penglihatan.
menjelaskan cara 4.Anjurkan klien agar lebih
mencegah injury/cedera berhati-hati dalam melakukan
- Klien mampu aktivitas.
menjelaskan faktor 5.Batasi aktivitas seperti
resiko dari lingkungan mengendarai kendaraan pada
personal malam hari
- Mampu 6.Gunakan kacamata koreksi atau
memodifikasi gaya pertahankan perlindungan mata
hidup untuk mencegah sesuai indikasi untuk menghindari
injuri. cidera

31
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Astigmatisma adalah kelainan refraksi mata dimana di dapatkan bermacam-macam derajat


refraksi pada berbagai macam meridian sehingga sinar sejajar yang datang pada mata akan
di fokuskan pada berbagai macam astigmatisma, antara lain simple astigmatisma, mixed
astigmatisma dan compound astigmatisma. Terdapat dua etiologi, yaitu kelainan pada lensa
dan kelainan pada kornea. Adapun gejala klinis dari astigmatisma adalah penglihatan kabur
atau terjadi distorsi. Pasien juga sering mengeluhkan penglihatan mendua atau melihat
objek berbayang-bayang. Sebagian juga mengeluhkan nyeri kepala dan nyeri pada mata.

Koreksi dengan lensa silinder akan memperbaiki visus pasien. Selain lensa terdapat juga
pilihan bedah yaitu dengan Radial Keratotomy (RK) dan Photorefractive Karetotomy
(PRK).

32
DAFTAR PUSTAKA

Perdami. 2005. Strategi Nasional Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan


Kebutaan (PGPK) Untuk Mencapai Vision 2020. Jakarta: DEPKES RI

American Academy Of Ophthalmology. Fundamentals and Principles of


Ophthalmology. Basic and Clinical Science Course. Section 2. 20092010: 9799

Ilyas Sidarta. 2009. Kedaruratan Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Cetakan ketiga.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.hal 81-83.

Khurana, 2009. Diseases of the Conjunctiva. In:, Khurana KA, editors.


Comprehensive Ophthalmology 4th ed. New Delhi: New Age.

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol
3.Jakarta: EGC

Carpenito, L.J., 1995. Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.

Doenges, M.E., Moorhouse, M.F., Geisserler, A.C., 2000. Rencana Asuhan


Keperawatan, EGC, Jakarta.

Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition.
New Jersey: Upper Saddle River

Komite Medik RS Sardjito, 2000. Standar Pelayanan Medis, Medika FK UGM,


Yogyakarta.

Marlyn E. Doenges, 2002. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC

Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second


Edition. New Jersey: Upper Saddle River

33