Anda di halaman 1dari 33

TUGAS TERSTRUKTUR I GEOLOGI INDONESIA ‘’POLA TEKTONIK PULAU SUMATERA’’

GEOLOGI INDONESIA ‘’POLA TEKTONIK PULAU SUMATERA’’ Oleh: Dalfa Fatihatussalimah (H1F012008) Satrio Budi

Oleh:

Dalfa Fatihatussalimah

(H1F012008)

Satrio Budi Harjo

(H1F012009)

Erzandy Eka Putra

(H1F012010)

Dwi Luthfiyah Nur

(H1F012012)

Shisil Fitriana

(H1F012013)

Enggar Shafira Agriska

(H1F012015)

Heru Dwi Saputra

(H1F012016)

KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK GEOLOGI PURBALINGGA

2015

GAMBARAN UMUM PULAU SUMATERA

Pulau Sumatra, berdasarkan luas merupakan pulau terbesar keenam di dunia. Pulau ini membujur dari barat laut ke arah tenggara dan melintasi khatulistiwa, seolah membagi pulau Sumatra atas dua bagian, Sumatra belahan bumi utara dan Sumatra belahan bumi selatan. Pegunungan Bukit Barisan dengan beberapa puncaknya yang melebihi 3.000 m di atas permukaan laut, merupakan barisan gunung berapi aktif, berjalan sepanjang sisi barat pulau dari ujung utara ke arah selatan; sehingga membuat dataran di sisi barat pulau relatif sempit dengan pantai yang terjal dan dalam ke arah Samudra Hindia dan dataran di sisi timur pulau yang luas dan landai dengan pantai yang landai dan dangkal ke arah Selat Malaka, Selat Bangka dan Laut China Selatan. Di bagian utara pulau Sumatra berbatasan dengan Laut Andaman dan di bagian selatan dengan Selat Sunda. Pulau Sumatra ditutupi oleh hutan tropik primer dan hutan tropik sekunder yang lebat dengan tanah yang subur. Gunung berapi yang tertinggi di Sumatra adalah Gunung Kerinci di Jambi, dan dengan gunung berapi lainnya yang cukup terkenal yaitu Gunung Leuser di Nanggroe Aceh Darussalam dan Gunung Dempo di perbatasan Sumatra Selatan dengan Bengkulu. Pulau Sumatra merupakan kawasan episentrum gempa bumi karena dilintasi oleh patahan kerak bumi disepanjang Bukit Barisan, yang disebut Patahan Sumatra; dan patahan kerak bumi di dasar Samudra Hindia disepanjang lepas pantai sisi barat Sumatra. Danau terbesar di Indonesia, Danau Toba terdapat di pulau Sumatra.

1.

PEMBENTUKAN PULAU SUMATERA

Pulau Sumatera pada dasarnya merupakan bagian dari benua Asia.namun karena pada Kapur Awal bagian timur benua Gondwana pecah dan India memisahkan diri dari Benua Antartika-Australia dengan pergerakan berarah Baratlaut yang kemudian berarah Utara-Selatan pada Kapur tengah yang akirnya menumbuk Benua Asia dan berdampak pada pergerakan beberapa bagian timur asia yang bergerak kearah tenggara dan timur serta menjadi dasar tatanan tektonik paparan sunda.

timur serta menjadi dasar tatanan tektonik paparan sunda. Gambar 1.1 Pergerakan bagian timur Asia Di utara,

Gambar 1.1 Pergerakan bagian timur Asia Di utara, pertemuan lempeng tersebut ditandai oleh daerah tumbukan antara india dengan asia sepanjang pegunungan Himalaya. Kearah selatan gerak antara bagian kerak samudra dari lempeng india Australia dengan kerak benua dari lempeng Eurasia ditentukan terbentuknya jalur subduksi spanjang 6500 km yang membentang dari laut Andaman di selatan Burma ke palung nikobar dan ke palung sunda di barat pulau Sumatra dan selatan Jawa.

Gambar 1.2 India menumbuk Benua Asia Gambar diatas merupakan proses dimana ketika India menumbuk benua

Gambar 1.2 India menumbuk Benua Asia Gambar diatas merupakan proses dimana ketika India menumbuk benua Asia dengan arah relatif Utara-Selatan.adanya bagian benua Asia yang bergerak kearah timur dan Tenggara merupakan dampak tumbukan tersebut.bagian benua Asia yang bergerak kearah tenggara itulah yang menjadi cikal bakal Paparan Sunda tempat pulau Sumatera berada. Dasar itu pulalah yang menjadi landasan bahwa tektonik sumatera di anggap sebagai produk interaksi konvergen antara lempeng india - australia dan asia, dan pola serta ragam tektoniknya dipengaruhi oleh besarnya sudut interaksi serta kecepatan dari pada konverggensi lempengnya. Gerak gerak tersebut menghasilkan bentuk gabungan subduksi dan sesar mendatar dextrral yang mantap tetapi bervariasi. Geologi tersier dan kuarter sumatera yang kita ketahui sekarang merupakan pencerminan dari gerak- gerak tersebut, meski ada beberapa aspek yang masih belum diketahui.

2.

POLA TEKTONIK PULAU SUMATERA

2.1 Sejarah Pembentukan Cekungan Sumatera

Cekungan Sumatera terbentuk pada kurun Eosen Tengah (45 Ma). Pada kurun waktu tersebut terjadi proses syn rift yang menyebabkan terbentuknya Pulau Sumatera. Proses syn rift tersebut terjadi akibat adanya pertumbukan antara lempeng India Australia dan Asia Tenggara, sekitar 45,6 juta tahun yang lalu menyebabkan deformasi di benua Asia. Bagian tepi dari Asia Tenggara bergeser

ke Tenggara. Akibatnya terbentuk sesar-sesar berarah Barat Laut Tenggara (termasuk sesar semangko). Sesar-sesar mendatar yang terus bergeser menyebabkan terbentuknya sesar-sesar normal yang menjadi cikal bakal cekungan-cekungan yang ada di Pulau Sumatera. Konfigurasi cekungan pada daerah Sumatra berhubungan langsung dengan kehadiran dari subduksi yang menyebabkan non-volcanic fore-arc dan volcano- plutonik back-arc. Sumatra dapat dibagi menjadi 5 bagian (Darman dan Sidi,

2000):

1. Sunda outer-arc ridge, berada sepanjang batas cekungan fore-arc Sunda dan yang memisahkan dari lereng trench. 2. Cekungan Fore-arc Sunda, terbentang antara akresi non-vulkanik punggungan outer-arcdengan bagian di bawah permukaan dan volkanik back-arc Sumatra. 3. Cekungan Back-arc Sumatra, meliputi Cekungan Sumatra Utara, Tengah, dan Selatan. Sistem ini berkembang sejalan dengan depresi yang berbeda pada bagian bawah Bukit Barisan. 4. Bukit Barisan, terjadi pada bagian axial dari pulaunya dan terbentuk terutama pada Perm-Karbon hingga batuan Mesozoik. 5. Intra-arc Sumatra, dipisahkan oleh uplift berikutnya dan erosi dari daerah pengendapan terdahulu sehingga memiliki litologi yang mirip pada fore- arc dan back-arc basin.

Cekungan Depan-Busur

Rangkaian pulau-pulau yang berada di sebelah barat P.Sumatra, yang dikenal sebagai busur “non-volkanik”, merupakan titik keseimbangan antara pengangkatan yang diakibatkan oleh pergeseran (akrasi) jalur subdiksi, dan gejala penurunan, yang sebagian besar disebabkan oleh pembebanan pada bagian lempeng yang menyusup. Sebelah timur dari P. Nias, atau pulau-pulau lainnya yang tergabung sebagai “batas pemisah palung”, berada dalam keadaan mantap atau menurun. Jalur menurun yang berada pada lereng sebelah timur “jalur pemisah” itu merupakan bagian dari sistim “Palung-Busur” yang dinamakan Cekungan depan-busur. Namun di busur SUNDA ini, KARIG cenderung untuk menganggap

me’lange sebagai dasar cekungan muka-busur. Sebagai alasan adalah : seandainya

benar, seperti yang dikemukakan terdahulu, bahwa gejala penyusupan itu berlanjut sejak Kapur, maka bahan yang bergeser selama jaman Tersier bawah seharusnya berada disisi P. Sumatra, meskipun mengalami pergeseran atau penyesuaian melalui sesar mendatar

mengalami pergeseran atau penyesuaian melalui sesar mendatar Gambar 2.1 Posisi Cekungan Sumatra Stratigrafi Cekungan

Gambar 2.1 Posisi Cekungan Sumatra

Stratigrafi Cekungan Depan-Busur Cekungan depan-busur dengan pengendapan yang tebal merupakan bentuk yang penting didalam sistim-palung-busur pada tepi benua yang mempunyai tingkat sedimentasi yang cepat. Apabila dalam sistim ini terdapat suatu busur-luar (“outer-arc-risge”), maka sedimen-sedimen yang berasal dari busur volkanik akan tertahan dibelakang punggungan dan terkumpul dalam jumlah yang sangat tebal didalam cekungan-depan-busur. Ukuran dari cekungan-depan-busur seperti itu dapat mencapai lebar 50 - 100 KM, dan panjang hingga beberapa ratus Km, dengan terputus-putus menjadi beberapa sub-sub-cekungan olehtinggian-tinggian yang memotongnya. Seluruh wilayah cekungan muka-busur ini diisi oleh urutan-urutan lapisan yang hampir menerus berumur Miosen dan Pilosen. Pemboran-pemboran yang dilakukan didekat kepulauan Banyak (bor Palembak dan bor Ujung Batu) telah menembus lapisan-lapisan tebal endapan turbidit yang ditutupi oleh batugamping terumbu Plistosen hingga Resen.

Cekungan belakang busur.

Stratigrafi Cekungan-cekungan Tersier menempati bagian sebelah timur pulau Sumatra. Seluruhnya terdiri dari :

Cekungan Sumatra Utara,

Cekungan Sumatra Tengah,

Cekungan Sumatra Selatan

Cekungan-cekungan tersebut umumnya dicirikan oleh endapan tersiernya yang sangat tebal dan diendapkan dalam waktu yang relatif singkat.

Cekungan Sumatra Utara

Mempunyai bentuk segitiga yang membuka ke utara, dibatasi oleh tinggian ASAHAN disebelah tenggara dari Cekungan Sumatra tengah. Pengendapan Eosen sampai Oligosen dibagian barat cekungan dicirikan oleh sedimen klastis kasar (Fm. Meucampli) yang tidak mengalami deformasi,dan berubah secara berangsur ke timur menjadi endapan karbonat paparan (Fm. Tampur). Tidak dijumpainya endapan volkanik yang tersebar luas didalam Fm. Meucampil, mungkin merupakan indikasi bahwa busur luar yang berada disebelah barat Sumatra utara, sebagian besar adalah tidak bergunung-api, yang juga berarti bahwa tidak ada atau hanya sedikit saja terjadi proses subduksi pada kala itu.

ada atau hanya sedikit saja terjadi proses subduksi pada kala itu. Gambar 2.2 Cekungan belakang-busur Sumatra

Gambar 2.2 Cekungan belakang-busur Sumatra Timur

Struktur batuan dasarnya dikontrol oleh sesar-sesar yang berarah Utara Selatan, yang membaginya menjadi beberapa sub-cekungan dan tinggian

yang membaginya menjadi beberapa sub-cekungan dan tinggian Gambar 2.3 . Stratigrafi Cekungan Sumatra Utara 

Gambar 2.3. Stratigrafi Cekungan Sumatra Utara

Cekungan Sumatra Tengah

Dipisahkan oleh tinggian ASAHAN dari cekungan Sumatra Selatan disebelah tenggara. Dasar dari cekungan ini diperkirakan terdiri dari kerak benua yang tipis dan sangat terpatahkan (“fractured”)

benua yang tipis dan sangat terpatahkan (“fractured”) Gambar Tengah 2.4 Pola struktur dan pengendapan Cekungan

Gambar

Tengah

2.4

Pola

struktur

dan

pengendapan

Cekungan

Sumatra

Batuan berumur Paleogen terdiri dari endapan darat (Fm. Pematang), terutama terdiri dari lempung merah dan hijau dan serpih karbonan serta batupasir

berbutir sedang sampai halus. Setelah pengendapan ini disusul oleh pengangkatan, perlipatan, pensesaran dan erosi dari Fm. Pematang dan daerah-daerah tinggian lainnya. Fm. Menggala yang terletak tidak selaras diatas Fm. Pematang menunjukkan diawalinya proses transgresi yang terus berlanjut hingga Miosen Tengah, yakni saat terjadinya gejala tektonik. Batuan berumur Paleogen dan yang lebih tua lagi, diendapkan dadalam bentuk-bentuk “graben” dan “setengah graben” yang dibatasi oleh sesar-sesar yang sama yang mengontrol pengendapan sebelumnya. Gejala penurunan yang disusul oleh transgresi umum ini berlanjut sepanjang Miosen Awal dengan diendapkannya batuan klastik yang tergolong dalam Kelompok Sihapas, yang mencakup seluruh cekungan. Kelompok ini didominasi oleh batupasir dan konglomerat dibagian bawah (Fm. Menggala), dengan sisipan-sisipan terbatas batugamping dan serpih.

Cekungan Sumatra Selatan Cekungan Sumatra Selatan membentang mulai dari tinggian Asahan di baratlaut sampai ke tinggian Lampung yang terletak di bagian paling Selatan pulau.

Lampung yang terletak di bagian paling Selatan pulau. Pengendapan dalam cekungan ini diawali dengan endapan darat

Pengendapan dalam cekungan ini diawali dengan endapan darat pada jaman Eosen. Oligosen awal dengan diwakili oleh pasir kasar, kerakal dan tufa. Sedimen-sedimen tersebut diendapkan sebagai kipas-kipas aluvial, sungai bersirat dan “pledmont” (endapan lereng-lereng), diatas batuan pra-Tersier.Satuan batuan ini sekarang tersimpan dalam bentuk-bentuk “amblesan” atau “graben-graben” sebagai Formasi Lahat

Gambar 2.5 Litologi Formasi Lapisan di Sumatra Selatan Baru setelah menjelang akhir awal oligosen, terjadi

Gambar 2.5 Litologi Formasi Lapisan di Sumatra Selatan

Baru setelah menjelang akhir awal oligosen, terjadi permulaan gejala trasgresi dimana sedimen-sedimen lingkungan darat sampai delta diendapkan sebagai Formasi Talang Akar, yang terutama terdiri dari pasir, lanau dan lempung yang merupakan ciri khas daripada endapan paparan delta (“delta plain”) dan berangsur beralih ke bagian muka delta yang berupa pasir dan lempung marin serta lanau dibagian-bagian yang dalam. Dengan berlanjutnya masa transgresi pada awal Miosen, laut sudah mulai menutupi bagian-bagian yang tinggi daripada batuan dasar dengan disertai oleh bertambah kurangnya suplai bahan berukuran pasir dan lempung, dan kemudian diambil alih oleh paparan lamparan-lamparan karbonat dan terumbu. Satuan batuan ini dikenal sebagai Formasi Baturaja. Karbonat terutama berkembang, pada bagian-bagian yang rendah, tetap diendapkan lempung (Fm. Gumai)

2.2

Perkembangan Tektonik Pulau Sumatra Peristiwa Tektonik yang berperan dalam perkembangan Pulau Sumatra dan Cekungan Sumatra Selatan menurut Pulonggono dkk (1992) adalah:

Fase kompresi yang berlangsung dari Jurasik awal sampai Kapur. Tektonik ini menghasilkan sesar geser dekstral WNW ESE seperti Sesar Lematang, Kepayang, Saka, Pantai Selatan Lampung, Musi Lineament dan N S trend. Terjadi wrench movement dan intrusi granit berumur Jurasik Kapur.

movement dan intrusi granit berumur Jurasik – Kapur. Gambar 2.6 Fase Kompresi Jurasik Awal Sampai Kapur

Gambar 2.6 Fase Kompresi Jurasik Awal Sampai Kapur dan Elipsoid Model (Pulonggono dkk, 1992).

Fase tensional pada Kapur Akhir sampai Tersier Awal yang menghasilkan sesar normal dan sesar tumbuh berarah N S dan WNW ESE. Sedimentasi mengisi cekungan atau terban di atas batuan dasar bersamaan dengan kegiatan gunung api. Terjadi pengisian awal dari cekungan yaitu Formasi Lahat.

Gambar 2.7 Fase Tensional Kapur Akhir Sampai Tersier Awal dan Elipsoid Model (Pulonggono dkk, 1992).

Gambar 2.7 Fase Tensional Kapur Akhir Sampai Tersier Awal dan Elipsoid Model (Pulonggono dkk, 1992).

Fase ketiga yaitu adanya aktivitas tektonik Miosen atau Intra Miosen menyebabkan pengangkatan tepi-tepi cekungan dan diikuti pengendapan bahan-bahan klastika. Yaitu terendapkannya Formasi Talang Akar, Formasi Baturaja, Formasi Gumai, Formasi Air Benakat, dan Formasi Muara Enim. Fase keempat berupa gerak kompresional pada Plio-Plistosen menyebabkan sebagian Formasi Air Benakat dan Formasi Muara Enim telah menjadi tinggian tererosi, sedangkan pada daerah yang relatif turun diendapkan Formasi Kasai. Selanjutnya, terjadi pengangkatan dan perlipatan berarah barat laut di seluruh daerah cekungan yang mengakhiri pengendapan Tersier di Cekungan Sumatra Selatan. Selain itu terjadi aktivitas volkanisme pada cekungan belakang busur.

Gambar 2.8 Fase Kompresi Miosen Tengah Sampai Sekarang dan Elipsoid Model (Pulonggono dkk, 1992). 2.3

Gambar 2.8 Fase Kompresi Miosen Tengah Sampai Sekarang dan Elipsoid Model (Pulonggono dkk, 1992).

2.3 Pola Tektonik Pulau Sumatera

Pola tektonik yang berkembang di Pulau Sumatera dipengaruhi oleh aktivitas tektonisme yang bekerja yaitu subduksi. Ada 2 (dua) subduksi yang bekerja di Pulau Sumatera yaitu utara dan selatan. Sejak zaman Permian, terjadi interaksi

konvergen dari arah selatan (lempeng India-Australia) dan dari arah utara ke selatan (lempeng L. China selatan) membentuk jalur subduksi dan magmatik yang berkelanjutan dari zaman Permian yang semakin muda ke arah selatan dan utara. Ada 3 sistem tektonik yang terdapat di Pulau Sumatera yaitu sistem subduksi Sumatera, sistem sesar Mentawai (Mentawai Fault System) dan sistem sesar Sumatera (Sumatera Fault System).

Sistem Subduksi Sumatera Pada akhir Miosen, Pulau Sumatera mengalami rotasi searah jarum jam. Pada zaman Pliopleistosen, arah struktur geologi berubah menjadi barat daya- timur laut, di mana aktivitas tersebut terus berlanjut hingga kini. Hal ini disebabkan oleh pembentukan letak samudera di Laut Andaman dan tumbukan antara Lempeng Mikro Sunda dan Lempeng India-Australia terjadi pada sudut yang kurang tajam. Terjadilah kompresi tektonik global dan lahirnya kompleks subduksi sepanjang tepi barat Pulau Sumatera dan pengangkatan Pegunungan Bukit Barisan pada zaman Pleistosen. Pada akhir Miosen Tengah sampai Miosen Akhir, terjadi kompresi pada Laut Andaman. Sebagai akibatnya, terbentuk tegasan yang berarah NNW-SSE menghasilkan patahan berarah utara-selatan. Sejak Pliosen sampai kini, akibat kompresi terbentuk tegasan yang berarah NNE-SSW yang menghasilkan sesar berarah NE-SW, yang memotong sesar yang berarah utara-selatan. Di Sumatera, penunjaman tersebut juga menghasilkan rangkaian busur pulau depan (forearch islands) yang non-vulkanik (seperti: P. Simeulue, P.

Banyak, P. Nias, P. Batu, P. Siberut hingga P. Enggano), rangkaian pegunungan Bukit Barisan dengan jalur vulkanik di tengahnya, serta sesar aktif ’The Great Sumatera Fault’ yang membelah Pulau Sumatera mulai dari Teluk Semangko hingga Banda Aceh. Sesar besar ini menerus sampai ke Laut Andaman hingga Burma. Patahan aktif Semangko ini diperkirakan bergeser sekitar sebelas sentimeter per tahun dan merupakan daerah rawan gempa bumi dan tanah longsor. Penunjaman yang terjadi di sebelah barat Sumatra tidak benar-benar tegak lurus terhadap arah pergerakan Lempeng India-Australia dan Lempeng Eurasia. Lempeng Eurasia bergerak relatif ke arah tenggara, sedangkan Lempeng India- Australia bergerak relatif ke arah timurlaut. Karena tidak tegak lurus inilah maka Pulau Sumatra dirobek sesar mendatar (garis jingga) yang dikenal dengan nama Sesar Semangko. Penunjaman Lempeng India Australia juga mempengaruhi geomorfologi Pulau Sumatera. Adanya penunjaman menjadikan bagian barat Pulau Sumatera terangkat, sedangkan bagian timur relatif turun. Hal ini menyebabkan bagian barat mempunyai dataran pantai yang sempit dan kadang-kadang terjal. Pada umumnya, terumbu karang lebih berkembang dibandingkan berbagai jenis bakau. Bagian timur yang turun akan menerima tanah hasil erosi dari bagian barat (yang bergerak naik), sehingga bagian timur memiliki pantai yang datar lagi luas. Di bagian timur, gambut dan bakau lebih berkembang dibandingkan terumbu karang.

Sistem Sesar Sumatra Di pulau Sumatera, pergerakan lempeng India dan Australia yang mengakibatkan kedua lempeng tersebut bertabrakan dan menghasilkan penunjaman menghasilkan rangkaian busur pulau depan (forearch islands) yang non-vulkanik (seperti: P. Simeulue, P. Banyak, P. Nias, P. Batu, P. Siberut hingga P. Enggano), rangkaian pegunungan Bukit Barisan dengan jalur vulkanik di tengahnya, serta sesar aktif ’The Great Sumatera Fault’ yang membelah Pulau Sumatera mulai dari Teluk Semangko hingga Banda Aceh. Sesar besar ini menerus sampai ke Laut Andaman hingga Burma. Patahan aktif Semangko ini diperkirakan bergeser sekitar sebelas sentimeter per tahun dan merupakan daerah rawan gempa bumi dan tanah longsor. Di samping patahan utama tersebut, terdapat beberapa patahan lainnya, yaitu: Sesar Aneuk Batee, Sesar Samalanga-Sipopok, Sesar Lhokseumawe, dan Sesar Blangkejeren. Khusus untuk Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar dihimpit oleh dua patahan aktif, yaitu Darul Imarah dan Darussalam. Patahan ini terbentuk sebagai akibat dari adanya pengaruh tekanan tektonik secara global dan lahirnya kompleks subduksi sepanjang tepi barat Pulau Sumatera serta pengangkatan Pegunungan Bukit Barisan. Daerah-daerah yang berada di sepanjang patahan tersebut merupakan wilayah yang rawan gempa bumi dan tanah longsor, disebabkan oleh adanya aktivitas kegempaan dan kegunungapian yang tinggi. Banda Aceh sendiri merupakan suatu dataran hasil amblesan sejak

Pliosen, hingga terbentuk sebuah graben. Dataran yang terbentuk tersusun oleh batuan sedimen, yang berpengaruh besar jika terjadi gempa bumi di sekitarnya. Penunjaman Lempeng India Australia juga mempengaruhi geomorfologi Pulau Sumatera. Adanya penunjaman menjadikan bagian barat Pulau Sumatera terangkat, sedangkan bagian timur relatif turun. Hal ini menyebabkan bagian barat mempunyai dataran pantai yang sempit dan kadang-kadang terjal. Pada umumnya, terumbu karang lebih berkembang dibandingkan berbagai jenis bakau. Bagian timur yang turun akan menerima tanah hasil erosi dari bagian barat (yang bergerak naik), sehingga bagian timur memiliki pantai yang datar lagi luas. Di bagian timur, gambut dan bakau lebih berkembang dibandingkan terumbu karang. Sejarah tektonik Pulau Sumatera berhubungan erat dengan dimulainya peristiwa pertumbukan antara lempeng India-Australia dan Asia Tenggara, sekitar 45,6 juta tahun lalu, yang mengakibatkan rangkaian perubahan sistematis dari pergerakan relatif lempeng-lempeng disertai dengan perubahan kecepatan relatif antar lempengnya berikut kegiatan ekstrusi yang terjadi padanya. Gerak lempeng India-Australia yang semula mempunyai kecepatan 86 milimeter / tahun menurun secara drastis menjadi 40 milimeter/tahun karena terjadi proses tumbukan tersebut. Penurunan kecepatan terus terjadi sehingga tinggal 30 milimeter/tahun pada awal proses konfigurasi tektonik yang baru (Char-shin Liu et al, 1983 dalam Natawidjaja, 1994). Setelah itu kecepatan mengalami kenaikan yang mencolok sampai sekitar 76 milimeter/tahun (Sieh, 1993 dalam Natawidjaja, 1994). Proses tumbukan ini, menurut teori “indentasi” pada akhirnya mengakibatkan terbentuknya banyak sistem sesar geser di bagian sebelah timur India, untuk mengakomodasikan perpindahan massa secara tektonik (Tapponier dkk, 1982). Keadaan Pulau Sumatera menunjukkan bahwa kemiringan penunjaman, punggungan busur muka dan cekungan busur muka telah terfragmentasi akibat proses yang terjadi. Kenyataan menunjukkan bahwa adanya transtensi (trans- tension) Paleosoikum tektonik Sumatera menjadikan tatanan tektonik Sumatera menunjukkan adanya tiga bagian pola (Sieh, 2000). Bagian selatan terdiri dari lempeng mikro Sumatera, yang terbentuk sejak 2 juta tahun lalu dengan bentuk, geometri dan struktur sederhana, bagian tengah cenderung tidak beraturan dan bagian utara yang tidak selaras dengan pola penunjaman.

2.4

Manifestasi Tektonik Pulau Sumatera

2.4 Manifestasi Tektonik Pulau Sumatera Gambar 2.9 zona penunjaman di selatan Pulau Sumatera Pulau Sumatera tersusun

Gambar 2.9 zona penunjaman di selatan Pulau Sumatera

Pulau Sumatera tersusun atas dua bagian utama, sebelah barat didominasi oleh keberadaan lempeng samudera, sedang sebelah timur didominasi oleh keberadaan lempeng benua. Berdasarkan gaya gravitasi, magnetisme dan seismik ketebalan sekitar 20 kilometer, dan ketebalan lempeng benua sekitar 40 kilometer (Hamilton, 1979).Sejarah tektoik Pulau Sumatra berhubungan erat dengan dimulainya peristiwa pertumbukan antara lempeng India-Australia dan Asia Tenggara, sekitar 45,6 juta tahun yang lalu, yang mengakibatkan rangkaian perubahan sistematis dari pergerakan relatif lempeng-lempeng disertai dengan perubahan kecepatan relatif antar lempengnya berikut kegiatan ekstrusi yang terjadi padanya. Gerak lempeng India-Australia yang semula mempunyai kecepatan 86 milimeter/tahun menurun menjaedi 40 milimeter/tahun karena terjadi proses tumbukan tersebut. (Char-shin Liu et al, 1983 dalam Natawidjaja, 1994). Setelah itu kecepatan mengalami kenaikan sampai sekitar 76 milimeter/ tahun (Sieh, 1993 dalam Natawidjaja, 1994). Proses tumbukan ini pada akhirnya mengakibatkan terbentuknya banyak sistem sesar sebelah timur India. Keadaan Pulau Sumatra menunjukkan bahwa kemiringan penunjaman, punggungan busur muka dan cekungan busur muka telah terfragmentasi akibat proses yang terjadi. Kenyataan menunjukkan bahwa adanya transtensi (trans- tension) Paleosoikum Tektonik Sumatra menjadikan tatanan Tektonik Sumatra menunjukkan adanya tiga bagian pola (Sieh, 2000). Bagian selatan terdiri dari lempeng mikro Sumatra, yang terbentuk sejak 2 juta tahun lalu dengan bentuk geometri dan struktur sederhana, bagian tengah cenderung tidak beraturan dan bagian utara yang tidak selaras dengan pola penunjaman.

a. Bagian Selatan Pulau Sumatra memberikan kenampakan pola tektonik:

terletak pada 100-135 kilometer di atas penunjaman.

2. Lokasi gunung api umumnya sebelah timur-laut atau di dekat sesar.

3. Cekungan busur muka terbentuk sederhana, dengan ke dalaman 1-2 kilometer dan dihancurkan oleh sesar utama.

4. Punggungan busur muka relatif dekat, terdiri dari antiform tunggal dan berbentuk sederhana.

5. Sesar Mentawai dan homoklin, yang dipisahkan oleh punggungan busur muka dan cekungan busur muka relatif utuh.

6. Sudut kemiringan tunjaman relatif seragam.

b. Bagian Utara Pulau Sumatra memberikan kenampakan pola tektonik:

1. Sesar Sumatra berbentuk tidak beraturan, berada pada posisi 125-140 kilometer dari garis penunjaman.

2. Busur vulkanik berada di sebelah utara sesar Sumatra.

3. Kedalaman cekungan busur muka 1-2 kilometer.

4. Punggungan busur muka secara struktural dan kedalamannya sangat beragam.

5. Homoklin di belahan selatan sepanjang beberapa kilometer sama dengan struktur Mentawai yang berada di sebelah selatannya.

6. Sudut kemiringan penunjaman sangat tajam.

c. Bagian Tengah Pulau Sumatra memberikan kenampakan tektonik:

1. Sepanjang 350 kilometer potongan dari sesar Sumatra menunjukkan posisi memotong arah penunjaman.

2. Busur vulkanik memotong dengan sesar Sumatra.

3. Topografi cekungan busur muka dangkal, sekitar 0.2-0.6 kilometer, dan terbagi-bagi menjadi berapa blok oleh sesar turun miring

4. Busur luar terpecah-pecah.

5. Homoklin yang terletak antara punggungan busur muka dan cekungan busur muka tercabik-cabik.

6. Sudut kemiringan penunjaman beragam.

Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng aktif dunia, yaitu:

lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik dimana kepulauan di nusantara tersebut akan terus bergerak rata-rata 3-6 cm (bahkan 12cm) per tahunnya, yang saling bertumbukan/berinteraksi. Pulau sumatera sendiri berada pada zona wilayah tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia. Pegunungan Bukit Barisan adalah jajaran pengunungan yang membentang dari ujung utara (di Nangroe Aceh Darusalam) sampai ujung selatan (di Lampung) pulau Sumatra. Proses pembentukan pegunungan ini berlangsung menurut skala tahun geologi yaitu berkisar antara 45 450 juta tahun yang lalu. Teori pergerakan lempeng tektonik menjelaskan bagaimana pegunungan ini terbentuk.

Lempeng tektonik merupakan bagian dari litosfer padat yang terapung di atas mantel yang bergerak satu sama lainnya. Terdapat tiga kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila:

1] Kedua lempeng saling menjauhi (spreading) 2] Saling mendekati (collision) 3] Saling geser (transform).

Tumbukan lempeng tektonik antara indian-australian plate dengan eurasian plate terus bergerak secara lambat laun. Saat kedua lempeng bertumbukan, bagian dari indian-australian plate berupa kerak samudera yang memiliki densitas yang lebih besar tersubduksi tenggelam jauh ke dalam mantel dibandingkan dengan kerak benua pada eurasian plate. Zona gesekan akibat gaya tekan dari tumbukan tersebut menjadi begitu panas sehingga akan mencairkan batuan disekitarnya (peleburan parsial). Kemudian magma naik lewat/menerobos/mendesak kerak dan berusaha keluar pada permukaan dari lempeng di atasnya. Sehingga terbentuklah busur pegunungan bukit barisan di bagian tepi eurasian plate, di pulau Sumatera, Indonesia . Salah satu manifestasinya berupa puncak tertinggi pada gunungapi Kerinci, 3.805 mdpl, di Jambi.

berupa puncak tertinggi pada gunungapi Kerinci, 3.805 mdpl, di Jambi. Gambar 2.10 Gunungapi Kerinci 3.805 mdpl

Gambar 2.10 Gunungapi Kerinci 3.805 mdpl

3.

EVOLUSI TEKTONIK PULAU SUMATERA

Selama Zaman Karbon sampai Perm, terdapat subduksi di sebelah barat Sumatera yang menghasilkan batuan vulkanik dan piroklastik dengan komposisi berkisar antara dasit sampai andesit di daerah Dataran Tinggi Padang, Batang Sangir dan Jambi (Klompe et all., 1961; dalam Hutchison, 1973). Batuan intrusif yang bersifat granitik terbentuk di Semenanjung Malaysia, melewati Pulau Penang, dan diperkirakan menerus ke Kepulauan Riau.

Pulau Penang, dan diperkirakan menerus ke Kepulauan Riau. Gambar 3.1 Skema Paleo-tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya

Gambar 3.1 Skema Paleo-tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya dari Karbon Akhir sampai Perm Awal

Selama Zaman Perm, tidak ada perubahan penyebaran keterdapatan batuan plutonik dan volkanik dari Karbon Akhir. Sistem busur-palung yang bekerja di Sumatra masih tidak mengalami perubahan (Gambar 3.1 dan 3.2). Batuan volkanik dan piroklasik berkomposisi andesitik sampai riolitik menyebar di bagian barat dari Sumatera Tengah. Dari Trias Akhir sampai Jura Awal, subduksi di Sumatra terus berlangsung dan menghasilkan kompleks ofiolit Aceh di bagian utara dan kompleks ofiolit Gumai-Garba di selatan. Kedua ofiolit tersebut menurut Bemmelen (1949; dalam Hutchison, 1973) berumur Trias. Pada Jura Tengah sampai Kapur Tengah, terjadi pengangkatan di wilayah Semenanjung Malaysia, menyebabkan perubahan lingkungan sedimentasi pada daerah tersebut dari lingkungan laut menjadi lingkungan darat, ditandai dengan endapan tipe molasse dan sedimentasi fluviatil. Volkanisme di kawasan Sumatra dan sekitarnya kurang aktif pada selang waktu ini. Selama Jura dan Kapur, kawasan Sumatra dan

sekitarnya terkratonisasi, dan sistem pensesaran strike slip terbentuk (Tjia et. All, 1973; dalam Hutchison, 1973).

slip terbentuk (Tjia et. All, 1973; dalam Hutchison, 1973). Gambar 3.2 Skema Paleo-tektonik Pulau Sumatra dan

Gambar 3.2 Skema Paleo-tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya dari Perm ke Trias Awal

Pada Kapur Akhir, zona subduksi bergerak ke arah barat Sumatra, sepanjang pulau-pulau yang saat ini berada di barat Sumatra seperti Siberut. Ofiolit dari subduksi ini sendiri oleh Bemmelen (1949; dalam Hutchison, 1973) diperkirakan berumur Kapur Akhir sampai Tersier Awal. Di bagian utara Sumatra terdapat Intrusi Granitik Tersier sedangkan di selatan terdapat Adesit Tua dan Intrusi Granit Miosen Awal. Pola dari sistem palung busur di Sumatra pada saat itu digambarkan pertama kali oleh Katilli (1971; dalam Hutchison, 1973) seperti pada gambar 3.3. Subduksi yang berada di barat Sumatra menerus ke selatan Jawa Barat, lalu berbelok ke timur laut menuju arah Pegunungan Meratus di Kalimantan.

Gambar 3.3 Skema Paleo-tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya dari Trias Akhir sampai Jura Awal

Gambar 3.3 Skema Paleo-tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya dari Trias Akhir sampai Jura Awal

Gambar 3.4 Skema Paleo-tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya dari Kapur Akhir sampai Tersier Awal Dari

Gambar 3.4 Skema Paleo-tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya dari Kapur Akhir sampai Tersier Awal Dari Tersier sampai sekarang, subduksi terus mundur ke arah barat melewati kepulauan yang terdapat di sebelah barat Sumatra dan menerus ke timur di selatan melewati Pulau Jawa (Gambar 3.4). Busur gunung api di sepanjang zona subduksi tersebut terdapat di Pegunungan Barisan di Sumatera dan menerus ke Pulau Jawa. Volkanisme basalt hadir di Sukadana, Sumatra Selatan dan diperkirakan berhubungan dengan pensesaran ekstensi dalam yang dihasilkan sebagai interaksi dari lempeng-lempeng Eurasia, Hindia-Australia, dan Pasifik.

Gambar 3.5 Skema Tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya saat ini

Gambar 3.5 Skema Tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya saat ini

4.

POLA STRATIGRAFI REGIONAL PULAU SUMATERA

4. POLA STRATIGRAFI REGIONAL PULAU SUMATERA Dari gambar diatas sebenanya kita sudah dapat merekontruksi pembentukan

Dari gambar diatas sebenanya kita sudah dapat merekontruksi pembentukan Cekungan Sumatra secara singkat berawal dari tebentukanya batuan-batuan dasar pada masa Pre-Tersier dimana tektonik yang berkembang gaya kompresi lalu terjadinya fase tektonik berupa gaya tension yang menyebabkan adanya fase syn- rift disini dimana dimulai fase pengisian material-material sedimen ke dalam cekungan akibat dari gaya tension yang terjadinya sebelumnya. Peristiwa ini terjadi pada kala Oligosen akhir-Miosen Awal. Dan diakhiri oleh adanya fase post-Rift yang diendapkan selaras diatasnya oleh formasi gumai. Kemudian terjadi kembali fase tektonik berupa gaya kompresi dimana fase terakhir dengan terendapkannya formasi Air Benakat, formasi Muara Enim, Formasi Kasai dan endapan alluvial diatasnya secara selaras.

1. Batuan Dasar, Batuan Pra-Tersier atau basement terdiri dari kompleks batuan Paleozoikum dan batuan Mesozoikum, batuan metamorf, batuan beku dan batuan karbonat. Batuan Paleozoikum akhir dan batuan Mesozoikum tersingkap dengan baik di Bukit Barisan, Pegunungan Tigapuluh dan

Pegunungan Duabelas berupa batuan karbonat berumur permian, Granit dan Filit. Batuan dasar yang tersingkap di Pegunungan Tigapuluh terdiri dari filit yang terlipat kuat berwarna kecoklatan berumur Permian (Simanjuntak, dkk., 1991). Lebih ke arah Utara tersingkap Granit yang telah mengalami pelapukan kuat. Warna pelapukan adalah merah dengan butir-butir kuarsa terlepas akibat pelapukan tersebut. Kontak antara Granit dan filit tidak teramati karena selain kontak tersebut tertutupi pelapukan yang kuat, daerah ini juga tertutup hutan yang lebat.Menurut Simanjuntak, et.al (1991) umur Granit adalah Jura. Hal ini berarti Granit mengintrusi batuan filit.

2. Formasi Lahat, Formasi Lahat diendapkan secara tidak selaras di atas batuan dasar, merupakan lapisan dengan tebal 200 m - 3350 m yang terdiri dari konglemerat, tufa, breksi vulkanik andesitik, endapan lahar, aliran lava dan batupasir kuarsa. Secara lebih rinci berikut adalah data mengenaipetroleum system dari formasi lahat.

3. Formasi Talang Akar, Formasi Talang Akar pada Sub Cekungan Jambi terdiri dari batulanau, batupasir dan sisipan batubara yang diendapkan pada lingkungan laut dangkal hingga transisi. Menurut Pulunggono, 1976, Formasi Talang Akar berumur Oligosen Akhir hingga Miosen Awal dan diendapkan secara selaras di atas Formasi Lahat. Bagian bawah formasi ini terdiri dari batupasir kasar, serpih dan sisipan batubara. Sedangkan di bagian atasnya berupa perselingan antara batupasir dan serpih. Ketebalan Formasi Talang Akar berkisar antara 400 m 850 m. Secara lebih rinci berikut adalah data mengenai petroleum system dari formasi Talang Akar.

4. Formasi Baturaja, Formasi ini diendapkan secara selaras di atas Fm. Talang Akar dengan ketebalan antara 200 sampai 250 m. Litologi terdiri dari batugamping, batugamping terumbu, batugamping pasiran, batugamping serpihan, serpih gampingan dan napal kaya foraminifera, moluska dan koral. Formasi ini diendapkan pada lingkungan litoral-neritik dan berumur Miosen Awal. Secara lebih rinci berikut adalah data mengenai petroleum system dari formasi Batu Raja.

5. Formasi Gumai, Formasi Gumai diendapkan secara selaras di atas Formasi Baturaja dimana formasi ini menandai terjadinya transgresi maksimum di Cekungan Sumatera Selatan. Bagian bawah formasi ini terdiri dari serpih gampingan dengan sisipan batugamping, napal dan batulanau. Sedangkan di bagian atasnya berupa perselingan antara batupasir dan serpih.Ketebalan formasi ini secara umum bervariasi antara 150 m - 2200 m dan diendapkan pada lingkungan laut dalam. Formasi Gumai berumur Miosen Awal-Miosen Tengah. Secara lebih rinci berikut adalah data mengenai petroleum system dari formasi Gumai.

6. Formasi Air Benakat, Formasi Air Benakat diendapkan secara selaras di atas Formasi Gumai dan merupakan awal terjadinya fase regresi. Formasi ini terdiri dari batulempung putih kelabu dengan sisipan batupasir halus, batupasir abu-

abu hitam kebiruan, glaukonitan setempat mengan dung lignit dan di bagian atas mengandung tufaan sedangkan bagian tengah kaya akan fosil foraminifera. Ketebalan Formasi Air Benakat bervariasi antara 100-1300 m dan berumur Miosen Tengah-Miosen Akhir. Formasi ini diendapkan pada lingkungan laut dangkal. Secara lebih rinci berikut adalah data mengenai petroleum system dari Air Benakat. 7. Formasi Muara Enim, Formasi Muara Enim mewakili tahap akhir dari fase regresi tersier. Formasi ini diendapkan secara selaras di atas Formasi Air Benakat pada lingkungan laut dangkal, paludal, dataran delta dan non marin. Ketebalan formasi ini 500 1000m, terdiri dari batupasir, batulempung , batulanau dan batubara. Batupasir pada formasi ini dapat mengandung glaukonit dan debris volkanik. Pada formasi ini terdapat oksida besi berupa konkresi-konkresi dan silisified wood. Sedangkan batubara yang terdapat pada formasi ini umumnya berupa lignit. Formasi Muara Enim berumur Miaosen Akhir Pliosen Awal. Secara lebih rinci berikut adalah data mengenai petroleum system dari Air Benakat. 8. Formasi Kasai, Formasi Kasai diendapkan secara selaras di atas Formasi Muara Enim dengan ketebalan 850 1200 m. Formasi ini terdiri dari batupasir tufan dan tefra riolitik di bagian bawah. Bagian atas terdiri dari tufpumice kaya kuarsa, batupasir, konglomerat, tuf pasiran dengan lensa rudit mengandung pumice dan tuf berwarna abu-abu kekuningan, banyak dijumpai sisa tumbuhan dan lapisan tipis lignit serta kayu yang terkersikkan. Fasies pengendapannya adalah fluvial dan alluvial fan. Formasi Kasai berumur Pliosen Akhir-Plistosen Awal. 9. Sedimen Kuarter, Satuan ini merupakan Litologi termuda yang tidak terpengaruh oleh orogenesa Plio-Plistosen. Golongan ini diendapkan secara tidak selaras di atas formasi yang lebih tua yang teridi dari batupasir, fragmen- fragmen konglemerat berukuran kerikil hingga bongkah, hadir batuan volkanik andesitik-basaltik berwarna gelap. Satuan ini berumur resen.

5.

PENGEMBANGAN POTENSI PULAU SUMATRA

5.1

Pengembangan Potensi Daerah Pesisir (marine) Potensi - potensi SDA di daerah pesisir yang dapat dimanfaatkan antara lain:

1. Estuaria (daerah pantai pertemuan antara air laut dan air tawar) berpotensi sebagai daerah penangkapan ikan (fishing grounds) yang baik.

2. Hutan mangrove (ekosistem yang tingkat kesuburannya lebih tinggi dari Estuaria ); untuk mendukung kelangsungan hidup biota laut.

3. Padang Lamun (tumbuhan berbunga yang beradaptasi pada kehidupan di lingkungan bahari) ; sebagai habitat utama ikan duyung, bulubabi, penyu hijau, ikan baronang, kakatua dan teripang.

4. Terumbu Karang (ekosistim yang tersusun dari beberapa jenis karang batu tempat hidupnya beraneka ragam biota perairan).

5. Pantai Berpasir (tempat kehideupan moluska) ; memiliki nilai pariwisata terutama pasir putih.

5.2.

Pengembangan Potensi Hidrologi Potensi - potensi yang dapat dikembangkan berkaitan dengan kondisi hidrologi antara lain:

1. Sumatera memiliki banyak teluk, dapat dimanfaatkan sebagai tempat pelabuhan.

2. Sungai yang banyak dan besar dapat dimanfaatkan sebagai alat transportasi sungai, pembangkit listrik dan juga industri perikanan.

3. Banyaknya danau-danau besar dapat dimanfaatkan sebagai empat rekreasi maupun pembangkit listrik.

5.3

Pengembangan Potensi Bentanglahan Vulkanis Potensi - potensi bentanglahan vulkanis yang dapat dimanfaatkan antara lain:

1. Adanya dereten Pegunungan Barisan berpotensi untuk lahan pertanian dan kehutanan, serta mempunyai keanekaragaman vegetasi yang banyak.

2. Vegetasi yang beranekaragam bermanfaat untuk peternakan.

5.4.

Pengembangan Potensi Geologi

Dengan berbagai kondisi geologi yang ada di Pulau Sumatera menyebabkan Pulau Sumatera meimiliki kandungan mineral yang banyak dan beraneka ragam. Berdasarkan pembagian hasil tambang di Pulau Sumatra meliputi batu bara, minyak, gas bumi, dan timah. Propinsi Riau adalah penghasil minyak bumi terbesar di Pulau ini dengan sumur minyak di Minas, Duri, Pedada, dan lirik (darat). Minyak bumi dihasilkan

oleh langsa (D.I Aceh), Pendopo Pribumulih (Sumatra Selatan), dan Jambi.

Penghasil gas alam adalah Arun (D.I Aceh) dengna tempat pengolahan di Lhokseumawe. Penghasil Batu Bara adalah Ombilin dan sawahlunto (Sumatra Barat) serta Bukit Asam, yang memiliki cadangan sekitar 10 miliar ton. Penghasil Timah adalah Bangkinan Riau daratan. Selain itu masih terdapat berbagai jenis bahan galian yang belum dikelola secara maksimum, seperti kaolin (Sawahlunto, dan Batang kapas di Sumatra Barat), Fosfat (Pasaran Bacang di utara Padang), Batu Gamping (Padang), tras (Sumatra Barat dan Utara), serta emas (Rejangleboh, Bengkulu). Pulau-pulau di sekitar Pulau Sumatra (Bangka, Belitung, Singkep, Karimun dan Kundur) juga menghasilkan timah dan Bintan menghasilkan bauksit. Berdasarkan potensi bahan galian tersebut, maka dapat di uraikan jenis bahan galian, letak dan kesampaian daerah, serta kegunaannya adalah sebagai berikut:

1. Marmer Batuan Marmer dalam istilah geologi adalah batu gamping atau dolomite yang mengalami metamorfosa kontak atau regional. Batuan Marmer di daerah ini, berwarna abu-abu gelap-agak kemerahan putih, keras, kompak, masif, sebagian terkekarkan kuat, terisi mineral kalsit, dan oksida besi, struktur laminasi masih nampak, berbutir kasar-halus, umumnya tidak menunjukkan suatu perlapisan. Batuan marmer di daerah ini membentuk perbukitan terjal, sebagian berupaya perladangan dan hutan semak belukar. Lokasi bahan galian marmer di Kecamatan Muara Sipongi, terdapat di Desa Ranjo Batu, Desa Hutatoras, Kecamatan Kotanopan terdapat di Desa Huta Pungkut dan dapat Kecamatan Panyabungan, terdapat di Desa Aek Banir dan Sipagapaga. Kegunaan marmer terutama untuk bangunan seperti ubin lantai, dinding, papan nama, dekorasi atau hiasan, monument, dan perabot rumah tangga seperti meja dan kap lampu, serta bahan baku pembuatan pupuk.

2. Andesit Bahan galian andesit, berupa lava andesit, berwarna abu-abu - gelap, kompak, keras, masif, rekah rekah, sedikit berpori, tekstur porphyritic, dan disusun oleh mineral utama plagioklas, hornblende, biotit dan piroksim, umumnya membentuk perbukitan menyebar ke arah barat dan timur meliputi daerah Panyabungan, Sipaga-paga dan Purba Lama, sebagian besar bersifat bongkahan-bongkahan, Bahan galian andesit ini umumnya menempati daerah pemukiman, perkebunan, dan perladangan serta aliran aliran sungai. Lokasi dan Kesampaian Daerah Bahan galian andesit dijumpai di Kecamatan Panyabungan, terdapat di daerah Aek Banir, Sipaga-paga, dan Purba Lama. Daerah tersebut dapat dijangkau dengan kondisi jalan beraspal. Penyebaran bongkahan bongkahan batuan andesit umumnya dapat diamati secara jelas pada aliran aliran sungai di daerah tersebut. Kegunaan bahan galian andesit ini terutama untuk bahan bangunan (agregat) dan batu hias (ornamental stone).

3. Batu Gamping Batu Gamping, berwarna abu-abu - keputihan, keras, kompak, struktur masif, tekstur kristalin dengan ukuran butir kasar, sebagian terkekarkan kuat, terisi mineral kalsit dan oksida besi, umumnya tidak menunjukkan suatu perlapisan, ketebalan bervariasi dari 4-10 meter. Batugamping ini tersusun oleh mineral kalsit (CaCo), terjadi secara organik, mekanik atau kimia. Batu gamping ini pada umumnya membentuk perbukitan merupakan areal perladangan dan semak belukar. Lokasi dan Kesampaian Daerah: Potensi bahan galian batu gamping di Kecamatan Muara Sipongi, terdapat di Kp. Hutalemba dan di Kecamatan Batang Natal, terdapat di desa Sopotinjak, Bangkelang dan Muara Soma, pada umumnya dapat di jangkau dengan kenderaan roda empat melalui jalan beraspal dengan kondisi jalan baik. Penggunaan batu gamping tergantung pada sifat-sifat fisik dan kimianya. Penggunaan sebagai bahan bangunan ditentukan oleh sifat fisiknya, sedangkan sebagai bahan industri di tentukan oleh sifat kimianya. Batu gamping banyak digunakan sebagai bahan baku semen, karbid, bahan pemutih, penetral keasaman, pupuk industri, keramik, bahan bangunan, bahan ornamen, pengembang dan pengisi dalam industri cat, kertas, karer, dan plastik serta dalam industri farmasi, kosmetik, dan industri kimia lainnya. Disamping itu, daerah yang mempunyai topografi karst dapat dikembangkan menjadi objek wisata.

4. Granit

Batuan granit pada umumnya berwarna abu-abu-putih bintik hitam, berbutir kasar, tekstur granitic, kompak, terkekarkan, bentuk kristal subhedral- anhedral, komposisi antara lain kuarsa, biotit dan plagioklas. Pada umumnya tubuh batuan granit di daerah ini telah mengalami tingkat pelapukan yang cukup tinggi sehingga batuan 5- 10 meter. Untuk mengetahui ciri litologi dan sifat fisik batuan ini beberapa bongkahan-bongkahannya yang terdapat di sungai masih menunjukkan aslinya. Batuan granit ini termasuk dalam

Batholith. Lokasi dan Kesampaian Daerah: Bahan galian granit terdapat di Kecamatan Muara Sipongi (Muara Sipongi), Kecamatan Kotanopan (Kotanopan), dan Kecamatan Panyabungan (desa padangluru dan Tebing Tinggi), pada umumnya dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat dan

selanjutnya berjalan kaki menuju lokasi bahan galian. Kegunaan Batuan granit yang berbutir kasar dan menengah dapat digunakan sebagai bahan bangunan, dermaga, pengeras jalan, dan bendungan. Batuan granit yang berbutir halus dapat diasah dan dipoles untuk penghias lantai dan rumah/gedung. Batuan granit yang berwarna pink, abu-abu bintik hitam, dapat dipoles untuk dinding rumah/gedung, dekorasi, dan alat rumah tangga seperti meja.

5. Kaolin

Kaolin adalah massa batuan yang tersusun dari material lempung dengan

kandungan besi rendah. Lokasi dan Kesampaian Daerah: Potensi bahan galian kaolin terdapat di daerah Sibanggor Tonga, Kecamatan Kotanopan, daerah tersebut dapat ditempuh dengan kenderaan roda empat melalui jalan beraspal, terdapat ditepi jalan. Kegunaan: Bahan galian kaolin umumnya digunakan dalam berbagai industri, baik sebagai bahan baku utama atau sebagai bahan pembantu. Fungsinya bisa sebagai pengisi (filler), pelapis (coater), bahan tahan api, atau penyekat (isolator). Penggunaan kaolin yang utama adalah dalam industri kertas, keramik, cat, karet/ban, dan plastik. Sedangkan penggunaan lainnya di antaranya untuk industri semen, pestisida, pupuk, kosmetik, farmasi, pasta gigi, tekstil, dan lain-lainnya.

6. Batumulia

Batumulia adalah semua jenis mineral dan batuan yang mempunyai sifat fisik dan kimia yang khas, serta digunakan untuk perhiasan dan bahan dekorasi atau hiasan. Lokasi dan Kesampaian Daerah: Bahan galian batumulia terdapat di daerah Muara Soma dan sekitarnya, Kecamatan Batang Natal, daerah ini dapat ditempuh dari kota Panyabungan dengan kenderaan roda empat melalui jalan beraspal sekitar 65 Km. Batu mulia umumnya dijumpai pada sungai- sungai di sekitar daerah tersebut dengan berbagi ukuran dari kerikil sampai kerakal. Kegunaan: Batumulia biasanya digunakan sebagai perhiasan oleh manusia dan penambah keindahan ruangan. Dalam industri pengolahan

batumulia antara lain pembuatan cincin, giwang, liontin, gelang, asbak, vas bunga, plakat, batu alam, dan lain-lain.

7. Phospat

Endapan posfat dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu endapan permukaan, endapan gua dan endapan bawah permukaan.

8. Secara umum endapan posfat berasal dari tumpukan kotoran burung dan

kelelawar yang terlarut dan bereaksi dengan batugamping karena pengaruh air

hujan dan air tanah. Endapan posfat di daerah penyelidikan, terdapat mudah digali. Endapan posfat pada daerah ini belum pernah diselidiki. Lokasi dan Kesampaian Daerah: Potensi endapan posfat terdapat pada Gua Soma di Desa Muara Soma, Kecamatan Batang Natal. Daerah tersebut dapat ditempuh kendaraan roda empat dengan kondisi jalan beraspal, selanjutnya menuju lokasi dengan berjalan kaki. Kegunaan: Kegunaan endapan posfat terutama sebagai pupuk, baik pupuk buatan maupun pupuk alam, dalam industri detergen, asam sulfat, dan industri kimia lainnya.

9. Pasir dan Batu

Pasir dan batu (sirtu) merupakan batuan hasil rombakan dari batuan asal yang

tidak terkonsolidasi. Sirtu ini pada umumnya ditemukan pada aliran sungai. Potensi bahan galian sirtu di daerah ini tersebar dan sebagian telah dimanfaatkan. Lokasi dan Kesampaian Daerah :Bahan galian sirtu (pasir dan batu) pada umumnya terdapat pada aliran-aliran sungai besar antara lain di Batang Angkola, Batang Natal, Batang Gadis, Aek Soma dan beberapa anak

sungainya dan sebagian telah diusahakan oleh penduduk setempat. Kegunaan: Sirtu dapat digunakan dalam sektor konstruksi, seperti perumahan, pertokoan, perkantoran, jembatan, dan jalan. 10. Serpentinit Batuan serpentinit merupakan batuan metamorf, pada umumnya berwarna kehijauan-gelap, berlaminasi, berbentuk lembaran, mudah terbelah melalui bidang-bidang belahan, ketebalan antara 2 -8 meter. Batuan serpentinit mempunyai komposisi utama serpentin yang paling dominan. Serpentin yang menunjukkan kandungan unsur MgO tinggi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alternatif.Lokasi dan Kesampaian Daerah Potensi serpentin di daerah Kecamatan Batang Natal, terdapat di Desa Muara Soma, dan sekitarnya. Daerah tersebut dapat di tempuh kendaraan empat dengan kondisi jalan beraspal, selanjutnya menuju lokasi dengan berjalan kaki.

DAFTAR PUSTAKA

sumatra/ (Diakses pada Kamis, 7 Mei 2015 pukul 08.35)

sumatera_19.html?m=1 (Diakses pada Kamis, 7 Mei 2015 pukul 09.00)