Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pendekatan trait and factor dalam Bahasa Indonesia disebut
Pendekatan sifat dan faktor, juga dikenal sebagai konseling direktif atau konseling
yang berpusat pada konselor. Menurut teori ini, kepribadian merupakan suatu sistem
sifat atau faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya seperti kecakapan,
minat, sikap dan tempramen. Perkembangan kemajuan individu mulai dari masa bayi
hingga dewasa diperkuat oleh interaksi sifat dan faktor. Tujuan dari konseling sifat
dan faktor adalah membantu individu memperoleh kemajuan memahami dan
mengelola diri dengan cara menilai kekuatan dan kelemahan diri dalam kegiatan
dengan perubahan kemajuan tujuan-tujuan hidup dan karir. Konseling dilaksanakan
dengan membantu individu untuk memperbaiki kekurangan, ketidakmampuan,
keterbatasan diri, serta membantu pertumbuhan dan integritas kepribadian ( Mohamad
Surya, 2003:4)
Hasil pendidikan seseorang individu terletak pada pencapaian
prestasi yang telah dipelajari sehingga dapat membantu dalam menyesuaikan diri
dengan kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan pada tuntutan masyarakat. Individu
tersebut berusaha untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan jasmaninya dan juga
semua dorongan yang memberi peluang kepadanya untuk berfungsi sebagai anggota
kelompoknya, penyesuaian diri secara harmonis baik terhadap diri sendiri maupun
terhadap lingkungannya.
Individu yang mampu menangani masalah hidupnya dengan
baik dan berhasil mempertemukan tuntutan-tuntutan yang berasal dari lingkungan
dengan dirinya, dikatakan memiliki penyesuaian diri yang baik. Sementara individu
yang tidak mampu mempertemukan tuntutan-tuntutan dari lingkungan dengan
tuntutan-tuntutan dalam dirinya dikatakan gagal dalam penyesuaian diri. Siswa
dikatakan berhasil dalam melakukan penyesuaian diri apabila dapat memenuhi
kebutuhannya dengan cara-cara yang wajar atau apabila dapat diterima oleh
lingkungan sekolah tanpa merugikan atau mengganggu lingkungannya. Tidak
selamanya siswa berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, kadang-kadang ada
rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri.

1
Pada siswa SMA, sering ditemui anak yang murung, tidak
mau bergaul, terisolasi dari temannya, suka menyendiri, kurang percaya diri, susah
bergaul, tertutup serta muram karena kurang dalam penyesuaian diri. Masa SMA
adalah masa remaja maka banyak permasalahan yang terjadi dalam penyesuaian
dirinya.
Dalam mengatasi masalah penyesuaian diri siswa dapat
dilakukan dengan layanan konseling individu, salah satunya adalah konseling individu
dengan pendekatan trait and faktor diharapkan membantu menyelesaikan masalah
penyesuaian diri siswa agar siswa dapat menjalani kegiatan dengan normal sesuai
dengan lingkungan sekitarnya.
Berdasarkan pengamatan peneliti di SMA Negeri 1 Pengasih
Kulon Progo, layanan konseling individu trait and factor belum berjalan dengan baik,
hal ini disebabkan karena petugas bimbingan konseling diberi tugas diluar tugas
bimbingan konseling serta kurangnya kesadaran siswa dalam mengatasi masalah
melalui bimbuingan konseling sehingga belum mampu mengatasi masalah
penyesuaian diri siswa dengan tuntas. Kurang lengkapnya instrumen – instrumen
yang dimiliki sekolah menyebabkan layanan konseling individu jenis trait and factor
belum dilaksanakan secara optimal.
Dari uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian dengan
judul “Layanan Konseling Individu dengan Pendekatan Trait and Factor dalam
Mengatasi Masalah Rendahnya Penyesuaian Diri Siswa Kelas XI SMA Negeri 1
Pengasih Kulon Progo tahun pelajaran 2019/2020 “.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dapat diidentifikasi
beberapa masalah yaitu :
1. Masih adanya beberapa siswa yang kurang percaya diri, susah bergaul serta
tertutup.
2. Adanya siswa yg masih mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri.
3. Kurangnya kesadaran siswa dalam mengatasi masalah melalui bimbingan
konseling.
4. Petugas bimbingan konseling kurang dapat mengembangkan pendekatan
pendekatan konseling dalam memecahkan masalah.

2
C. Batasan Masalah
Agar bahasan menjadi lebih fokus dan dengan
mempertimbangkan segala keterbatasn penulis, maka penelitian ini dibatasi pada
salah satu masalah pokok yaitu layanan konseling individu dengan pendekatan trait
and factor dalam mengatasi rendaahnya penyesuaian diri siswa kelas XI SMA Negeri
1 Pengasih Kulon Progo Tahun Pelajaran 2019/2020.

D. Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini penulis merumuskan masalah sebagai
berikut “Bagaimanakah Pelaksanaan Layanan Konseling Individu dengan Pendekatan
Trait and factor dalam Mengatasi Masalah rendahnya Penyesuaian diri Siswa Kelas
XI SMA Negeri 1 Pengasih Kulon Progo Tahun Pelajaran 2019/2020?”

E. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk
menbgetahui seberapa jauh Pelaksanaan Layanan Konseling Individu dengan
Pendekatan Trait and factor dalam Mengatasi Masalah rendahnya Penyesuaian diri
Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Pengasih Kulon Progo Tahun Pelajaran 2019/2020

F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memenuhi kegunaan teoritis
dan kegunaan praktis.
1. Kegunaan teoritis
a. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk menambah wawasan
pengetahuan tentang layanan konseling individu dengan pendekatan trait and
factor di sekolah
b. Mengikuti bahan dasar kajian untuk penelitian lebih lanjut dan lebih
mendalam tentang permasalahn yang terkait.
2. Kegunaan praktis
a. Bagi sekolah
Hasil penelitian ini dapat memebrikan bahan masukan yang berarti, khususnya
dalam upaya meningkatkan kualitas dan mutu penyesuaian diri.

3
b. Bagi siswa
Hasil penelitian dapat memberikan informasi pada siswa mengenai layanan
konseling individu dengan pendekatan train and factor yang dapat membantu
mengatasi maslah penyesuaian diri siswa

4
BAB II
KAJIAN TEORI DAN PERTANYAAN PENELITIAN

A. Kajian Tentang Layanan Konseling Individu


1. Pengertian Layanan Konseling Individu
Menurut Sofyan S. Willis (2011 : 35) konseling individu yaitu
“bantuan yang diberikan oleh konselor kepada seorang siswa dengan tujuan
berkembangnya potensi siswa, mampu mengatasi masalah sendiri, dan dapat
menyesuaikan diri secara positif”. Menurut Tohirin, (2007 : 163) menyatakan
bahwa “konseling individu berlangsung dalam susana komunikasi atau tatap
muka secara langsung antara konselor dengan klien yang membahas berbagai
maslah yang dialami klien”.
Sedangkan menurut Saring Marsudi (2003 : 91) menjelaskan
bahwa : “layanan konseling individu dapat memungkinkan siswa mendapatkan
layanan langsung secara tatap muka dengan tenaga atau guru dalam rangka
pembahasan dan pengentasan masalahnya”.
Berdasarkan pengertian konseling individu yang dikemukakan
bebrapa tokoh ahli, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian konseling individu
adalah suatu proses dimana antara konselor dan konseli atau klien yang saling
berinteraksi dalam bentuk komunikasi langsung, mengemukakan dan
memperhatikan dengan saksama isi pembicaraan, gerakan-gerakan isyarat,
pandangan mata, dan gerakan-gerakan lain yang signifikan dengan maksud untuk
meningkatkan pemahaman dalam masalah klien.

2. Tujuan Layanan Konseling Individu


Tujuan umum konseling individu adalah membantu
klien menstrukturkan kembali masalahnya dan menyadari life style serta
mengurangi penilaian negatif terhadap dirinya sendiri serta perasaan-perasaan
inferioritasnya. Kemudian membantu dalam mengoreksi presepsinya terhadap
lingkungan, agar klien bisa mengarahkan tingkah laku serta mengembangkan
kembali minat sosialnya. Lebih lanjut Prayitno mengemukakan tujuan khusus
konseling individu dalam 5 hal. Yakni, fungsi pemahaman, fungsi pengentasan,

5
fungsi mengembangan atau pemeliharaan, fungsi pencegahan, dan fungsi
advokasi.
Menurut Gibson, Mitchell dan Basile ada sembilan
tujuan dari konseling individu, yakni :
a. Tujuan perkembangan yakni klien dibantu dalam proses pertumbuhan dan
perkembanganya serta mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi pada proses
tersebut (seperti perkembangan kehidupan sosial, pribadi,emosional, kognitif,
fisik, dan sebagainya).
b. Tujuan pencegahan yakni konselor membantu klien menghindari hasil-hasil
yang tidak diinginkan.
c. Tujuan perbaikan yakni konseli dibantu mengatasi dan menghilangkan
perkembangan yang tidak diinginkan.
d. Tujuan penyelidikan yakni menguji kelayakan tujuan untuk memeriksa
pilihan-pilihan, pengetesan keterampilan, dan mencoba aktivitas baru dan
sebagainya.
e. Tujuan penguatan yakni membantu konseli untuk menyadari apa yang
dilakukan, difikirkan, dan dirasakn sudah baik
f. Tujuan kognitif yakni menghasilkan fondasi dasar pembelajaran dan
keterampilan kognitif
g. Tujuan fisiologis yakni menghasilkan pemahaman dasar dan kebiasaan untuk
hidup sehat.
h. Tujuan psikologis yakni membantu mengembangkan keterampilan sosial yang
baik, belajar mengontrol emosi, dan mengembangkan konsep diri positif dan
sebagainya.

3. Fungsi Layanan Konseling Individu


Bimbingan dan konseling berfungsi sebagai pemberi
layanan kepada peserta didik agar masing-masing peserta didik dapat
berkembang secara optimal sehingga menjadi pribadi yang utuh dan mandiri.
Adapun fungsi-fungsi bimbingan dan konseling dijelaskan sebagai berikut
(Hallen, 2003:60):
a. Fungsi Pemahaman
Fungsi pemahaman yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan
menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai

6
dengan kepentingan pengembangan peserta didik.

b. Fungsi Pencegahan
Fungsi pencegahan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan
menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai
permasalahan yang mungkin timbul yang akan dapat mengganggu,
menghambat ataupun menimbulkan kesulitan, kerugian-kerugian tertentu
dalam proses perkembangannya.

c. Fungsi Pengentasan
Melalui fungsi pengentasan ini pelayanan bimbingan dan konseling akan
menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang
dialami oleh peserta didik. Pelayanan bimbingan dan konseling berusaha
membantu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh peserta didik,
baik dalam sifatnya, jenisnya maupun bentuknya.

d. Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan


Fungsi pemeliharaan dan pengembangan adalah fungsi bimbingan dan
konseling yang akan menghasilkan terpeliharanya dan terkembangkannya
berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan
dirinya secara terarah, mantap dan berkelanjutan.

e. Fungsi Advokasi
Fungsi advokasi yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan
menghasilkan teradvokasi atau pembelaan terhadap peserta didik dalam rangka
upaya pengembangan seluruh potensi secara optimal.

4. Prinsip-Prinsip Konseling Individu


Prinsip merupakan hasil paduan teoritik dan telaah lapangan
yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan. Dalam
pelayanan bimbingan dan konseling prinsip-prinsip yang digunakan bersumber
dari kajian filosofis, hasil-hasil penelitian, pengalaman praktis tentang hakekat

7
manusia, perkembangan dan kehidupan manusia dalam konteks sosial budaya,
pengertian, fungsi, dan proses penyelenggaraan layanan bimbingan dan
konseling. Menurut Tohirin (2007 : 70) prinsip-prinsip umum yaitu :
a. Bimbingan harus berpusat pada individu yang dibimbingnya.
b. Bimbingan diarahkan kepada memberikan bantuan agar individu yang di
bimbing mampu mengarahkan dirinya dan mampu mengatasi kesulitan-
kesulitan dalam hidupnya.
c. Pemberian bantuan disesuaikan dengan kebutuhan individu atau siswa yang di
bimbing

Menurut M. Jumarin (1988 : 79) berpendapat bahwa “ prinsip-


prinsip bimbingan dan konseling harus mencakup seluruhan sistem bimbingan
konseling, seperti konsep dasar, tujuan, konselor, klien dan masalahnya, program,
teknik, dan evaluasi”.

Berdasarkan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling di atas


tersebut dapat disimpulkan bahwa meskipun layanan bimbingan dan konseling
melayani semua individu tanpa memandang umur, jenis kelamin, suku, bangsa,
agama, ras dan status sosial ekonomi. Untuk mengoptimalkan pelayanan
bimbingan konseling sesuai kebutuhan individu itu sendiri perlu dikenali dan
dipahami keunikan setiap individu dengan berbagai kekuatan, kelemahan, dan
permasalahannya.

5. Asas-Asas Layanan Konseling


Dalam menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling
disekolah hendaknya selalu mengacu pada asas-asas bimbingan dan konseling
dan diterapkan sesuai dengan asas-asas bimbingan konseling. Asas-asas ini dapat
dianggap sebagai suatu rambu-rambu dalam pelaksanaan bimbingan dan
konseling (Prayitno, 1983 : 6-12 dan 2004 : 114-120).
Keberhasilan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya
asas-asas berikut :
a. Asas Kerahasiaan
Rahasia, yaitu menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan tentang
peserta didik (klien), yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak

8
layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini, guru pembimbing berkewajiban
penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga
kerahasiaanya benar-benar terjamin ( Syamsu Yusuf & A. Juntika Nurihsan,
2006 :22)
b. Asas Kesukarelaan
Sukarela yaitu menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik
(klien) mengikuti/menjalani layanan/kegiatan yang diperlukan baginya. Dalam
hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan
kesukarelaan tersebut (Syamsu Yusuf & A.Juntika Nurihsan, 2006 :22)
c. Asas Keterbukaan
Dalam proses bimbingan dan konseling sangat diperlukan suasana keterbukaan
baik dari pihak konselor maupun klien. Asas ini tidak kontradiktif dengan asas
kerahasiaan karena keterbukaan yang dimaksud menyangkut kesediaan
menerima saran-saran dari luar dan kesediaan membuka diri untuk
kepentingan pemecahan masalah. Siswa yang dibimbing diharapkan dapat
berbicara secara jujur dan berterus terang tentang dirinya sehingga penlaahan
dan pengkajian tentang berbagai kekuatan dan kelemahannya dapat dilakukan
(Tohirin, 2009 : 89-90)
d. Asas Kekinian
Kini, yaitu menghendaki agar objek sasaran layanan bimbingan dan konseling
ialah permasalahan peserta didik (klien) dalam kondisinya sekarang. Layanan
yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat
dampak atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat
sekarang (Syamsu yusuf & A.Juntika nurihsan, 2006 :23)
e. Asas Kemandirian
Mandiri yaitu menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling. Yakni
peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan bimbingan dan konseling
diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal
dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan,
mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri.
f. Asas Kegiatan
Kegiatan yaitu menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran
layanan berpartisipasi secara aktif didalam penyelenggaraan layanan/kegiatan
bimbingan.

9
Pelayanan bimbingan dan konseling tidak akan memberikan hasil yang berarti
apabila klien tidak melakukan sendiri kegiatan untuk mencapai tujuan
bimbingan dan konseling.Hasil usaha yang menjadi tujuan bimbingan dan
konseling tidak akan tercapai dengan sendirinya, melainkan harus dicapai
dengan kerja giat dari klien sendiri. Guru pembimbing atau konselor harus
dapat membangkitkan semangat klien sehingga ia mampu dan mau
melaksanakan kegiatan yang diperlukan dalam penyelesaian masalah yang
menjadi pokok pembicaraan dalam proses konseling.
Asas ini juga bermakna bahwa masalah klien tidak akan terpecahkan apabila
siswa tidak melakukan kegiatan seperti yang dibicarakan dalam konseling
(Tohirin, 2009:91-92).

g. Asas Kedinamisan
Dinamis yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi
layanan terhadap sasaran layanan (klien) yang sama kehendaknya selalu
bergerak maju, tidak menoton, dan terus berkembang serta berlanjutan sesuai
dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu (Syamsu
Yusuf & A.Juntika Nurikhsan, 2006 :23)

h. Asas Keterpaduan
Individu memiliki berbagai aspek kepribadian yang apabila keadaannya tidak
seimbang, tidak serasi, dan tidak terpadu justru akan menimbulkan masalah..
Oleh sebab itu, usaha bimbingan dan konseling hendaknya memadukan
berbagai aspek kepribadian klien. Selain keterpaduan pada diri klien, juga
harus terpadu dalam isi dan proses layanan uang diberikan. Tidak boleh aspek
layanan yang satu tidak serasi apalagi bertentangan dngan aspek ;layanan yang
lainnya.
Aspek keterpaduan juga menuntut konselor memiliki wawasan yang luas
tentang perkembangan klien dan aspek-aspek lingkungan klien, serta berbagai
sumber yang dapat diaktifkan untuk menangani masalah klien (Tohirin, 2009
:92-93).
i. Asas Kenormatifan
Harmonis yaaitu menghendaki agar segenap layanan kegiatan bimbingan dan
konseling didasarkan pada nilai dan norma yang ada, tidak boleh bertentangan

10
dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan
peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan kebiasaan yang berlaku.
Seluruh isi dan proses konseling garus sesuai dengan norma-norma yang
berlaku. Demikian pula prosedur, teknik dan peralatan (instrumen) yang
dipakai tidak menyimpang dari norma-norma yang berlaku (Tohirin, 2009 :93)
j. Asas Keahlian
Ahli yaitu menghendaki agar layanan dan bimbingan dan konseling
diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para
pelaksana bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli
dalam bidang bimbingan konseling. Keprofesional guru pembimbing harus
terwujud baik dalam penyelanggaraan jenis-jenis layanan dan kegiatan
bimbingan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan
konseling (Syamsu Yusuf & A.Juntika Nurihsan, 2006 :23)
k. Ahli Tangan Kasus
Ahli tangan kasus yaitu menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu
menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas
atas tuntas atas suatu permasalahan itu kepada kepada yang lebih ahli. Guru
pembimbing dapat menerima ahli tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain,
atau ahli lain dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan
kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain.
Asas ini juga bermakna bahwa konselor dalam
memberikan pelayanan bimbingan dan konseling jagan melebihi batas
kewenangannya. Atau pelayanan bimbingan dan konseling hanya menangani
masalah-masalah individu sesuai dengan kewenangan petugas konselor atau
pembimbing yang bersangkutan.
Misalnya individu yang setres berat (gila) tidak lagi
menjadi kewenangan konselor sekolah atau madrasahmelainkan kewenangan
psikiater. Pembimbing atau konselor tidak boleh melaksanakan tugas melebihi
batas kewenangannya (Tohirin.2009 :94)

l. Asas Tut Wuri Handayani


Asas Tut Wuri Handayani yaitu asas bimbingan dan konseling yang
menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan
dapat menciptakan suasana yang mengayomi (memberikan rasa aman),

11
mengembangkan keteladanan, memberikan rangsangan dan dorongan serta
kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju.
Demikian juga segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling yang
diselenggarakan hendaknya disertai dan sekaligus dapat membangun suasana
pengayoman, keteladanan, dan dorongan seperti itu (Syamsu Yusuf &
A.Juntika Nurihsan, 2006 :23)

6. Teknik dalam Layanan Konseling Individu


Menurut Sofyan S. Willis (2010 : 160-173) ada beberapa
teknik konseling yang dapat digunakan dalam konseling individu, :
a. Perilaku attending
b. Empati
c. Refleksi
d. Eksplorasi
e. Menangkap pesan utama (paraphrasing)
f. Bertanya untuk membuka percakapan (open question)
g. Bertanya tertutup (closed encourragem)
h. Dorongan minimal (minimal encourragem)
i. Interprestasi
j. Mengarahkan (directing)
k. Menyimpulkan sementara (summarizing)
l. Memimpin (leading)
m. Fokus
n. Konfrontasi
o. Menjernihkan (clarifying)
p. Memudahkan (facilitation)
q. Diam
r. Mengambil inisiatif
s. Memberi nasehat
t. Informasi
u. Merencanakan
v. Menyimpulkan
7. Tahap-Tahap Konseling Individu

12
Di dalam proses konseling akan menempuh tahap-tahap
tertentu. Di dalam tahap-tahap tersebut konselor juga menggunakan teknik-teknik
tertentu pula. Menurut Sofyan S. Willis (2010 : 172) proses konseling terdiri atas
tiga tahapan yaitu :
a. Tahap Awal atau tahap mengidentifikasi masalah
Tahap awal ini terjadi sejak klien bertemu konselor hingga
berjalan proses konseling dan menemukan definisi masalah klien. Tahap awal
iniCaanagh (1982) menyebutkan dengan istilah introduction and
environmental support.
Adapun yang dilakukan oleh konselor dalam proses konseling tahapawal ini
adalah sebagai berikut :
1) Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien yang
mengalamimasalah. Pada tahap ini konselor berusaha untuk
membangun hubungandengan cara melibatkan klien dan berdiskusi
dengan klien
2) Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Jika hubungan konseling
sudahterjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri, maka
konselor harusdapat membantu memperjelas masalah klien, karena
sering kali klien tidakmudah menjelaskan masalahnya hanya saja
mengetahui gejala-gejalamasalah yang dialaminya
3) Membuat penjajakan alternatif bantuan untuk mengatasi
masalah.Konselor berusaha menjajaki atau menaksir kemungkinan
masalah danmerancang bantuan yang mungkin dilakukan, yaitu dengan
membangkitkan semua potensi klien, dan lingkungannya yang tepat
untukmengatasi masalah klien.
4) Menegosiasikan kontrak. Membangun perjanjian antara konselor
denganklien, berisi Kontrak waktu, yaitu berapa lama waktu pertemuan
yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan, kontrak
tugas,yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien; dan kontrak
kerjasama dalam proses konseling, yaitu terbinanya peran dan
tanggung
jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian
kegiatan konseling
b. Tahap Pertengahan

13
Tahap ini merupakan tahap utama di dalam proses konseling.
Di dalam tahap ini terdapat beberapa teknik yang harus dilakukan oleh
konselor, diantaranya menyimpulkan sementara, memimpin, memfokuskan,
konfrontasi, menjernihkan, memudahkan, mengarahkan, dorongan minimal,
diam, mengambil inisiatif memberi nasehat, informasi, dan menafsirkan.

Menurut Juntika Nurichsan (2005 : 14) tujuan tahap pertengahan adalah :


1) Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah serta keperdulian
klien.Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai
pemahamandan alternatif pemecahan baru terhadap masalah yang sedang
dialaminya
2) Menjaga agar hubungan konseling selalu terpelihara
3) Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak
4) Kontrak benar-benar dinegoisasikan agar dapat memperlancar proses
konseling
c. Tahap Akhir konseling (action)
Pada tahap ini konselor diharapkan membantu klien dalam
menyusun program untuk melakukan tindakan (action) guna menghadapi
masalah yang dihadapinya. Kemudian klien bersama konselor membuat suatu
kesimpulan yang menyangkut kecemasan akibat masalah yang dihadapinya,
memantapkan rencana klien serta pokok-pokok yang dibicarakan selanjutnya.
Apabila kesimpulan tersebut telah dibuat maka konselor dapat mengakhiri
proses konseling tersebut.
Menurut Tohirin (2007 : 344-345) ada beberapa cara yang
digunakan konselor dalam mengakhiri proses konseling yaitu :
1) Mengatakan bahwa waktu sudah habis.
2) Merangkum isi pembicaraan.
3) Menunjukkan kepada klien pertemuan yang akan datang.
4) Mengajak klien berdiri dengan isyarat gerak tangan.
5) Menunjukkan catan-catatan singkat hasil pembicaraan konseling.
6) Pemberian tugas-tugas tertentu kepada klien yang relevan dengan pokok
pembicaraan apabila diperlukan.

14
B. Kajian tentang Pendekatan Trait and factor
1. Pengertian Trait and factor
Menurut Mohamad Surya (2003 :3), kepribadian merupakan
suatu sistem atau faktor yang saling berkaitan satu dengan lainnya seperti
kecakapan, minat, sikap, dan temperamen. Hal yang mendasar bagi konseling
sifat faktor (trait and factor) adalah asumsi bahwa individu berusaha untuk
menggunakan pemahaman diri dan pengetahuan kecakapan dirinya sebagai
dasar bagi pengembangan potensinya.
Dari berbagai pendapat di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa teori trait and factor adalah pandangan yang mengatakan bahwa
kepribadian seseorang dapat dilukiskan dengan mengidentifikasi jumlah ciri,
sejauh tampak dari hasil testing psikologis yang mengkur masing-masing
dimensi kepribadian itu

2. Tujuan trait and factor.


Menurut Shertzer dan stone dalam Mohamad Surya (2003 : 4), tujuan
konseling trait and factor adalah membantu individu dalam memperoleh
kemajuan memhami dan mengelola diri dengan cara membantunya menilai
kekuatan dan kelemahan diri dalam kegiatan dengan perubahan kemajuan
tujuan hidup dan karir.
Secara ringkas tujuan konseling trait and factor menurut Lutfi
Fauzan (2004 : 91) yaitu :

a. Self-clarification (kejelasan diri)


b. Self-understanding (pemahaman diri)
c. Self-accelptance (penerimaan diri)
d. Self-direction (pengarahan diri)
e. Self-actualization (perwujudan diri)

3. Karakteristik Trait and Factor


Asumsi pokok yang mendasari teori konseling sifat trait and
factor menurut Mohamad Surya (2003 : 4-5) adalah :

15
a. Karena keunikan dari setiap individu dan kempuan kualitasnya yang
relatif stabil setelah remaja, maka tes obyektif dapat digunakan untuk
mengidentifikasi karakteristik-karakteristik tersebut.
b. Pola-pola kepribadian dan minat berhubungan dengan perilaku tertentu
c. Kurikulum sekolah yang sesuai akan mempermudah individu untuk
belajar dengan lebih mudah dan efektif.
d. Baik siswa maupun konselor hendaknya mendiagnosa potensi siswa untuk
mengawali penempatan dalam kurikulum atau pekerjaan.
e. Setiap orang mempunyai kecakapan dan keinginan untuk
mengidentifikasi secara kognitif kemampuannya sendiri.

4. Kelebihan dan Kekurangan trait and Factor


Kelebihan dan kekurangan teori trait and factor (Gudnanto, 2012 : FKIP
UMK) yaitu :
a. Kelebihan Teori Trait and Factor
1) Pemusatan pada klien dan bukan pada konselor
2) Identifikasi dan hubungan konseli sebagai wahana utama dalam
mengubah kepribadian
3) Lebih menekankan pada sikap-sikap konselor daripada teknik
4) Memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan
kuantitatif
5) Penekanan emosi, perasaan efektif dalam konseling
b. Kelemahan Teori Trait and Factor
1) Konseling terpusat pada pribadi dan dianggap sederhana.
2) Terlalu menekankan aspek efektif emosional, perasaan sebagai
penentu perilaku tetapi melakukan faktor intelektual, kognitif dan
rasional.
3) Penggunaan informasi untuk membantu klien tidak sesuai dengan
teori
4) Tujuan untuk sikap klien yaitu memaksimalkan diri dirasa terlalu luas
dan umum sehingga sulit menilai individu
5) Sulit bagi konselor untuk bersikap netral dalam situasi hubungan
interpersonal

16
5. Langkah-Langkah Trait and Factor
1) Analisis
Analisis merupakan langkah mengumpulkan informasi tentang diri klien
beserta latar belakangnya. Data yang dikumpulkan mencakup segala aspek
kepribadian klien, seperti kemempuan, minat, motif, kesehatan fisik, dan
karakteristik lainnya yang dapat mempermudah atau mempersulit
penyesuaian diri pada umumnya.
2) Sintesis
Sintesis adalah usaha merangkum, mengolong-golongkan dan
menghubungkan data yang telah terkumpul pada tahap analisis, yang
disusun sedemikian sehingga dapat menunjukkan keseluruhan gambaran
tentang diri klien. Rumusan diri klien dalam sistesis ini bersifat ringkas
dan padat. Ada tiga cara yang dapat dilakukan dalam merangkum data
pada tahap sistesis tersebut: cara pertama dibuat oleh konselor, kedua
dilakukan klien, ketiga adalah cara kolaborasi.
3) Diagnosis
Diagnosis merupakan tahap menginterpretasikan data dalam bentuk (dari
sudut) problema yang ditunjukkan. Rumusan diagnosis dilakukan melalui
proses pengambilan atau penarikan simpulan yang logis.
4) Prognosis (tahap ke-4 dalam konseling)
Menurut Williamson prognosis ini bersangkutan dengan upaya
memprediksikan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi
berdasarkan data yang ada sekarang. Misalnya: bila seorang klien
berdasarkan data sekarang dia malas, maka kemungkinan nilainya akan
rendah, jika intelegensinya rendah, kemungkinan nanti tdak dapat diterima
dalam sipenmaru.
5) Konseling (Treatment)
Dalam konseling, konselor membantu klien untuk menemukan sumber-
sumber pada dirinya sendiri, sumber-sumber lembaga dalam masyarakat
guna membantu klien dalam penyesuaian yang optimum sejauh dia bisa.
Bantuan dalam konseling ini mencakup lima jenis bantuan yaitu:
6) Follow Up
Tindak lanjut merujuk pada segala kegiatan membantu siswa setela
mereka memperoleh layanan konseling, tetapi kemudian menemui

17
masalah-masalah baru atau munculnya masalah yang lampau. Tindak
lanjut ini juga mencakup penentuan keefektifan konseling yang telah
dilaksanakan.

C. Kajian Teori tentang Penyesuaian Diri


1) Pengertian tentang Penyesuaian Diri
Dalam istilah psikologi, penyesuaian disebut dengan istilah
adjusment. Adjustment merupakan suatu hubungan yang harmonis dengan
lingkungan fisik dan sosial (Chaplin, 2000: 11). Manusia dituntut untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, kejiwaan dan lingkungan alam
sekitarnya.
Berdasarkan beberapa definisi yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan
bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan
untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai
antara diri individu dengan lingkungannya.
Schneiders (1964: 51) mengungkapkan bahwa individu yang
memiliki penyesuaian diri yang baik (well adjustment person) adalah mereka
dengan segala keterbatasannya, kemampuannya serta kepribadiannya telah
belajar untuk bereaksi terhadap diri sendiri dan lingkungannya dengan cara
efisien, matang, bermanfaat, dan memuaskan. Efisien artinya bahwa apa yang
dilakukan individu tersebut dapat memberikan hasil yang sesuai dengan yang
diinginkan tanpa banyak mengeluarkan energi, tidak membuang waktu
banyak, dan sedikit melakukan kesalahan. Matang artinya bahwa individu
tersebut dapat memulai dengan melihat dan menilai situasi dengan kritis
sebelum bereaksi. Bermanfaat artinya bahwa apa yang dilakukan individu
tersebut bertujuan untuk kemanusiaan, berguna dalam lingkungan sosial, dan
yang berhubungan dengan Tuhan. Selanjutnya, memuaskan artinya bahwa
apa yang dilakukan individu tersebut dapat menimbulkan perasaan puas pada
dirinya dan membawa dampak yang baik pada dirinya dalam bereaksi
selanjutnya. Mereka juga dapat menyelesaikan konflik-konflik mental,
frustasi dan kesulitan-kesulitan dalam diri maupun kesulitan yang
berhubungan dengan lingkungan sosialnya serta tidak menunjukkan perilaku
yang memperlihatkan gejala menyimpang.
2) Jenis-jenis Penyesuaian Diri
18
Menurut Atwater (1983, p. 36) dalam penyesuaian diri harus dilihat dari tiga
aspek yaitu diri kita sendiri, orang lain dan perubahan yang terjadi. Namun
pada dasarnya 3 penyesuaian diri memiliki dua aspek yaitu: penyesuaian
pribadi dan penyesuaian sosial.
Untuk lebih jelasnya kedua aspek tersebut akan diuraikan sebagai berikut :
a) Penyesuaian Pribadi
Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya
sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan
lingkungan sekitarnya. Ia menyadari sepenuhnya siapa dirinya
sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dan mampu bertindak
obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut. Keberhasilan penyesuaian
pribadi ditandai dengan tidak adanya rasa benci, lari dari kenyataan atau
tanggungjawab, dongkol. kecewa, atau tidak percaya pada kondisi dirinya.
Kehidupan kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya kegoncangan atau
kecemasan yang menyertai rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas, rasa
kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya.Sebaliknya kegagalan
penyesuaian pribadi ditandai dengan keguncangan emosi, kecemasan,
ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya, sebagai
akibat adanya gap antara individu dengan tuntutan yang diharapkan oleh
lingkungan. Gap inilah yang menjadi sumber terjadinya konflik yang
kemudian terwujud dalam rasa takut dan kecemasan, sehingga untuk
meredakannya individu harus melakukan penyesuaian diri.
b) Penyesuaian Sosial
Setiap individu hidup di dalam masyarakat. Di dalam masyarakat tersebut
terdapat proses saling mempengaruhi satu sama lain silih berganti. Dari
proses tersebut timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai
dengan sejumlah aturan, hukum, 4adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi,
demi untuk mencapai penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup sehari-
hari. Dalam bidang ilmu psikologi sosial, proses ini dikenal dengan proses
penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan
sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan orang lain.
Hubungan-hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat di
sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman atau masyarakat luas
secara umum. Dalam hal ini individu dan masyarakat sebenarnya sama-

19
sama memberikan dampak bagi komunitas. Individu menyerap berbagai
informasi, budaya dan adat istiadat yang ada, sementara komunitas
(masyarakat) diperkaya oleh eksistensi atau karya yang diberikan oleh
sang individu.Apa yang diserap atau dipelajari individu dalam poroses
interaksi dengan masyarakat masih belum cukup untuk menyempurnakan
penyesuaian sosial yang memungkinkan individu untuk mencapai
penyesuaian pribadi dan sosial dengan cukup baik. Proses berikutnya yang
harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk
mematuhi norma-norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. Setiap
masyarakat biasanya memiliki aturan yang tersusun dengan sejumlah
ketentuan dan norma atau nilai-nilai tertentu yang mengatur hubungan
individu dengan kelompok.
Dalam proses penyesuaian sosial individu mulai
berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut lalu
mematuhinya sehingga menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada
dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok. Kedua hal tersebut
merupakan proses pertumbuhan kemampuan individu dalam rangka
penyesuaian sosial untuk menahan dan mengendalikan diri. Pertumbuhan
kemampuan ketika mengalami proses penyesuaian sosial, berfungsi
seperti pengawas yang mengatur kehidupan sosial dan kejiwaan. Boleh
jadi hal inilah yang dikatakan Freud sebagai hati nurani (super ego), yang
berusaha mengendalikan kehidupan individu dari segi penerimaan dan
kerelaannya terhadap beberapa pola perilaku yang disukai dan diterima
oleh masyarakat, serta menolak dan menjauhi hal-hal yang tidak diterima
oleh masyarakat.

3) Bentuk-bentuk Penyesuian Diri


Menurut Daeng AM penyesuaian diri yang positif ditandai dengan hal-hal
sebagai berikut:
a) Tidak menunjukkan adanya ketegangan emosional.
b) Tidak menunjukkan adanya mekanisme-mekanisme psikolagis
c) Tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi
d) Memiliki pertimbangan rasional
e) Mampu dalam belajar

20
f) Menghargai pengalaman
g) Bersifat realistik dan obyektif
Dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, individu
akan melakukannya dalam berbagai bentuk, antara lain :
a) Penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung
b) Penyesuaian dengan melakukan eksplorasi
c) Penyesuian dengan trial and error atau coba-coba
d) Penyesuian dengan substitusi
e) Penyesuaian diri dengan menggali kemampuan pribadi
f) Penyesuaian dengan belajar
g) Penyesuaian dengan inhibisi dan kontrol diri
h) Penyesuaian dengan perencanaan yang cermat.
i) Penyesuaian diri yang negatif
Adapun penyesuaian diri yang tidak sehat menurut Hurlock
(dalam Yusuf : 2000) ditandai dengan:
a) Mudah marah
b) Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan
c) Sering merasa tertekan
d) Ketidakmampuan menghindari perilaku menyimpang
e) Mempunyai kebiasaan berbohong
f) Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
g) Senang mencemooh orang lain
h) Kurang memiliki rasa tanggung jawab
i) Kurang memiliki kesadaran untuk mematuhi ajaran agama
j) Bersikap pesimis dalam meghadapi kehidupan

4) Faktor-faktor yang Mempengaruhi penyesuaian Diri


Menurut Schneiders (dalam Ali & Asrori, 2011, p. 181)setidaknya ada lima
faktor yang dapat mepengaruhi proses penyesuaian diri (khusus remaja)
adalah sebagai
berikut:
a. Kondisi fisik

21
Seringkali kondisi fisik berpengaruh kuat terhadap proses penyesuaian diri
remaja. Aspek-aspek yang berkaitan dengan kondisi fisik yang dapat
mempengaruhi penyesuaian diri remaja adalah sebagai berikut:
1) Hereditas dan kondisi
2) Sistem utama tubuh, Termasuk ke dalam sistem utama tubuh yang
memiliki pengaruh
3) Kesehatan fisik,
b. Kepribadian
Unsur –unsur kepribadian yang penting pengaruhinya terhadap penyesuaian
diri adalah sebagai berikut:
1) Kemauan dan kemampuan untuk berubah (modifiability), Kemauan dan
kemampuan untuk berubah.
2) Pengaturan diri (self regulation), Pengaturan diri sama pentingnya
dengan
3) Relisasi diri (self relization), \
4) Intelegensi
c. Proses belajar (Education)Termasuk unsur-unsur penting dalam education
atau pendidikan yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri individu
antara lain:
1) Belajar
2) Pengalaman
3) Latihan
4) Determinasi diri
d. Lingkungan
Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap penyesuaian diri meliputi :
1) Lingkungan keluarga
2) Lingkungan sekolah
3) Lingkungan masyarakat
e. Agama serta budaya
Agama berkaitan erat dengan faktor budaya. Agama memberikan
sumbangan nilai-nilai, keyakinan, praktik-praktik yang memberi makna
sangat mendalam, tujuan serta kestabilan dan keseimbangan hidup
individu

22
5. Lingkungan Penyesuaian Diri
Menurut Zainun Mutadin. (2002 : 1-2 ), pada dasarnya
penyesuaian diri melibatkan individu dengan lingkungannya, pada penulisan
ini beberapa lingkungan yang dianggap dapat menciptakan penyesuaian diri
yang cukup sehat bagi remaja, diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Lingkungan Keluarga
Dalam lingkungan keluarga masih banyak hal lain sangat berperan dalam
proses pembentukan kemampuan penyesuaian diri yang sehat, seperti rasa
percaya pada orang lain atau diri sendiri, pengendalian rasa ketakutan,
toleransi,kefanatikan dan rasa aman karena semua hal tersebut akaan
berguna bagi masa depannya.
b. Lingkungan Teman Sebaya
Begitu pula dalam kehidupan pertemanan, pembuktian hubungan yang
erat di antara kawan-kawan semakin penting pada masa remaja
dibandingkan masa-masa lainnya. Suatu hal yang sulit bagi remaja
menjauh dari temannya, individu mencurahkan kepada teman-teman nya
apa yang tersimpan didalam hatinya, dari angan-angan, pemikiran dan
perasaan.
c. Lingkungan Sekolah
Sekolah mempunyai tugas yang tidak hanya terbatas pada masalah
pengetahuan dan informasi saja, akan tetapi juga mencakup tanggung
jawab pendidikan secara luas demikian pula dengan guru, tugasnya tidak
hanya mengajar, tetapi juga berperan sebagai pendidik yang menjadi
pembentuk masa depan, ia adalah langkah pertama dalam pembentukan
kehidupan yang menuntut individu untuk menyesuaikan dirinya dengan
lingkungannya.

6. Ciri-ciri yang Mudah Menyesuaikan Diri


Menurut Elizabet Hurlock, (1978 : 258) , ciri-ciri orang yang
mudah menyesuaikan diri adalah :
a. Mampu dan bersedia menerima tanggung jawab yang sesuai dengan usia.
b. Tidak membesar-besarkan keberhasilan atau menerapkan pada bidang
yang tidak sesuai.
c. Dapat berkompromi ada kesulitan

23
d. Dapat menunjukkan kasih sayang secara langsung
e. Bersedia menerima tanggung jawab yang berhubungan dengan peran
mereka dalam hidup
f. Mengambil keputusan dengan senang, tanpa konflik dan tanpa banyak
minta nasehat.
g. Dapat memusatkan energi pada tujuan yang penting

D. Kerangka Berpikir.
Siswa dikatakan berhasil dalam melakukan penyesuaian
diri apabila ia dapat memenuhi kebutuhannya dengan cara-cara yang wajar atau
apabila dapat diterima oleh lingkungan sekolah tanpa merugikan atau
mengganggu lingkungannya. Layanan konseling individu trait and factor
bertujuan untuk membantu individu dalam memperoleh kemajuan memhami dan
mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan kelemahan diri
dalam kegiatan perubahan kemajuan tujuan-tujuan hidup dan karir, termasuk
penyesuaian diri siswa. Layanan konseling individu trait and factor juga memiliki
tujuan mengajak siswa ( konseling) untuk berfikir mengenai dirinya serta mampu
mengembangkan cvara – cara yang dilakukan agar dapat keluar dari masalah
penyesuaian diri yang dihadapinya. Anak yang ememliki penyesuaian diri yang
rendah diatasi dengan layanan konseling individu trait and factor.
Layanan konseling individu trait and factor adalah
pandangan yang mengatakan bahwa kepribadian seseorang dapat di lukiskan
dengan mengidentifikasi jumlah ciri, sejauh tampak dari hasil testing psikologis
yang mengukur masing-masing tingkat penyesuaian diri. Layanan konseling
individu trait and factor berpegang pada pandangan yang sama dan menggunakan
te-tes psikologis untuk mengalisis atau mendiagnosis seseorang mengenai
indikato-indikator penyesuaian diri, yang diketahui mempunyai relevansi
terhadap keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam menyesuaikan diri.

E. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimanakah proses analisis layanan konseling individu dengan pendekatan
trait and factor dalam mengatasi masalah rendahnya penyesuaian diri siswa
kelas XI SMA Negeri 1 Pengasih Kulon Progo Tahun Ajaran 2019/2020.

24
2. Bagaimanakah proses diagnosis layanan konseling individu dengan
pendekatan trait and factor dalam mengatasi masalah rendahnya penyesuaian
diri siswa kelas XI SMA Negeri 1 Pengasih Kulon Progo Tahun Ajaran
2019/2020
3. Bagaimanakah proses sintesis layanan konseling individu dengan pendekatan
trait and factor dalam mengatasi masalah rendahnya penyesuaian diri siswa
kelas XI SMA Negeri 1 Pengasih Kulon Progo Tahun Ajaran 2019/2020
4. Bagaimanakah proses prognosis layanan konseling individu dengan
pendekatan trait and factor dalam mengatasi masalah rendahnya penyesuaian
diri siswa kelas XI SMA Negeri 1 Pengasih Kulon Progo Tahun Ajaran
2019/2020
5. Bagaimanakah treatment layanan konseling individu dengan pendekatan trait
and factor dalam mengatasi masalah rendahnya penyesuaian diri siswa kelas
XI SMA Negeri 1 Pengasih Kulon Progo Tahun Ajaran 2019/2020
6. Bagaimanakah tindak lanjut layanan konseling individu dengan pendekatan
trait and factor dalam mengatasi masalah rendahnya penyesuaian diri siswa
kelas XI SMA Negeri 1 Pengasih Kulon Progo Tahun Ajaran 2019/2020

25
BAB III
METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan bagian kegiatan yang


dilakukan sebagai upaya atau cara untuk memehami dan memecahkan masalah secara
ilmiah sistematis dan logis dalam setiap penelitian ilmiah, masalah metode merupakan
faktor yang ikut menentukan berhasil tidaknya penelitian yang dilakukan, oleh karena itu
untuk menguji kebenaran hipotesis, maka dalam penelitian ini diperlukan data yang
obyektif. Hal-hal yang di bahas dalam metode penelitian meliputi pendekatan penelitian,
tempat dan waktu penelitian, variabel penelitian, populasi penelitian, sampel penelitian,
teknik pengambilan sampel, metode pengumpulan data, dan teknik analisis data.

A. Pendekatan Penelitian
Menurut Sudarsono (2000 :15) ada dua pendekatan
dalam penelitian, yaitu pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Bila dilihat
dari metode yang digunakan, penelitian ini termasuk penelitian kualitatif. Menurut
Basrowi dan Suwandi (2008 : 20 ) penelitian kualitatif merupakan penelitian yang
dilakukan berdasarkan paradigma, strategi, dan implementasi model secara kualitatif.
Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian yang
dilakukan termasuk dalam penelitian kualitatif. Adapun alasan peneliti menggunakan
pendekatan kualitatif :
1. Peneiliti dapat dengan mudah mendapatkan data-data yang diperlukan untuk
keperluan penelitian.

26
2. Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan
kenyataan yang ada.

B. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian akan dilaksanakan di SMA Negeri 1 Pengasih Kulon Progo dengan
mengambil subyek penelitian siswa kelas XI. Pemilihan tempat untuk penelitian ini
berdasarkan alasan bahwa lokasi penelitian tersebut sangat efektif dan efisien, artinya
relatif mudah di laksanakan serta efektif dalam penggunaan waktu, tenaga, dan biaya.
Pemilihan setting penelitian ini juga sesuai dengan kondisi masalah yang ada di
sekolah, yaitu di SMA Negeri 1 Pengasih Kulon Progo mengalami permasalahan yaitu
adanya beberapa siswa yang mengalami masalah dalam penyesuaiana diri. Melihat
kenyataan yang ada, peneliti berusaha mencari upaya untuk membantu menyelesaikan
masalah tersebut. Sedangkan waktu penelitian dimulai pada bulan Juli 2019 sampai
Noveember 2019.
C. Variable Penelitian
Pengertian variable penelitian menurut Sugiyono (2009 : 60) “Variabel Penelitian
adalah sesuatu yang berbentuk apasaja yang ditetapkan oleh seorang peneliti untuk
dipelajari sehingga diperoleh informasi mengenai hal tersebut, kemudian ditarik
kesimpulannya”. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (1988: 99) “Variabel
Penelitian adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu
penelitian”.Kerlinger (2006 : 49) menyatakan “Variabel Penelitian adalah konstruk
atau sifat yang akan dipelajari yang memiliki nilai yang bervariasi. Variabel juga
sebuah lambang atau nilai yang padanya kita letakkan sembarang nilai atau bilangan.”
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa variable penelitian adalah
gejala yang timbul yang menjadi pusat perhatian yang mendalam penelitian. Variable
dibagi tiga yaitu :
a. Variabel Bebas, Sugiyono (2009) menjelaskan bahwa variabel bebas merupakan
variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab-perubahannya atau
timbulnya variabel dependent.
b. Variabel Terikat, menurut Sugiyono (2009) variabel terikat merupakan variabel
yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.
Variabel ini disebut sebagai variabel terikat karena variabel ini dipengaruhi dan
terikat oleh variabel bebas.

27
c. Variabel Moderator. Varabel moderator merupakan variabel yang memperkuat
ataupun memperlemah pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikatnya.
Menurut Sugiyono (2010:39), variabel moderator ini disebut dengan istilah
variabel independent ke dua. Secara definisi hampir sama dengan variabel kontrol,
hanya saja di sini pengaruh variabel itu tidak ditiadakan atau dinetralisir
akantetapi bahkan dianalisis atau diperhitungkan.

D. Subyek dan Sampel Penelitian


1. Subyek penelitian
a. Karakteristik Subyek Penelitian
Sifat-sifat penelitian yang dimaksud adalah keadaan yang mencakup kondisi
subyek penelitian baik aspek fisik maupun aspek psikis siwa. Kondisi subyek
penelitian yaitu siswa yang memiliki masalah dalam penyesuaian diri. Aspek
fisik siswa dapat dilihat dan pertumbuhan fisik dan usia yang melekat pada
subyek penelitian, sedangkan aspek psikis dilihat dan perkembangan jiwa
siswa yang memiliki jiwa belum stabil karena masih berusia remaja.
b. Subyek Penelitian
Dalam penelitian ini, tidak semua siswa dilibatkan, tetapi berdasarkan tingkat
penyesuaian dirinya. Berdasarkan pengamatan awal, terdeteksi ada 2 (dua)
siswa yang memiliki tingkat penyesuaian diri yang rendah, akan tetapi yang
dijadikan sampe hanya satu orang.

E. Metode Pengumpulan Data


Metode atau teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah observasi dan wawancara. Pengumpulan data dalam penelitian ini
menggunakan metode atau teknik observasi langsung dan wawancara langsung.
Penjelasan masing-masing teknik adalah sebagai berikut :
1. Observasi
a. Pengertian
Menurut Subagyo (2006 : 63), observasi adalah pengamatan yang dilakukan
secara sengaja, sistematis mengenai fenomena sosial dengan gejala-gejala
psikis untuk kemudiam dilakukan pencatatan. S. Margono (dalam Zuriah, 2006

28
: 173), menyatakan bahwa observasi diartikan sebagai pengamatan dan
pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada obyek
penelitian.

b. Jenis-Jenis Observasi
Subagyo (2006 : 74) mengatakan bahwa menurut sifatnya teknik observasi
dibedakan menjadi teknik observasi langsung dan observasi tidak langsung.
1) Observasi langsung
Observasi langsung adalah observasi yang dilakukan dimana
observer berada bersama obyek yang di teliti. Pada observasi langsung ini,
peneliti secara langsung mengadakan pengamatan (tanpa alat) terhadap
gejala-gejala subyek yang diselidiki, baik pengamatan itu dilakukan dalam
situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan.
2) Observasi Tidak Langsung
Observasi tidak langsung adalah observasi atau pengamatan
yang dilakukan tidak pada saat berlangsungnya suatu peristiwa yang akan
di teliti. Dalam teknik pengumpulan data jenis ini peneliti mengadakan
pengamatan terhadap gejala-gejala subyek yang diselidiki dengan perantara
alat, baik alat yang sudah ada (yang tidak khusus dibuat untuk keperluan
tersebut) maupun alat yang sengaja dibuat untuk keperluan khusus itu.
Menurut Sanafiah Faisal (1990 ; 56) menhklasifikasikan observasi menjadi
tiga :
1) Observasi berpartisipasi (participant Observation). Dalam observasi ini,
peneliti terlibat dengan kegiatan orang yang akan di teliti / diamati atau
yang digunakan sebagai nara sumber dalam penelitian. Sambil
melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan
oleh sumber data dan ikut merasakan suka dukanya.
2) Observasi yang secara terang-terangan dan tersamar (overt Observation
dan Convert Observation). Dalam observasi ini, peneliti dalam
melakukan pengumpulan data menyatakan terus terangf kepada sumber
data, bahkan ia sedang melakukan secara tersamar apabila ingin
memperoleh data yang masih dirahasiakan oleh sumber data.

29
3) Observasi yang tidak terstruktur (Unstructured Obervation). Observasi
ini digunakan jiuka fikus penelitian belum jelas. Fokus penelitian akan
berkembang selama kegiatan observasi berlangsung.
c. Jenis Observasi yang Digunakan
Dalam penelitian ini, peniliti menggunakan teknik observasi langsung, karena
didasarkan pada keterlibatan peneliti yang ikut serta mengamati sekaligus
terlibat dalam kegiatan layanan konseling yang diselenggarakannya. Peneliti
bekerja sama dengan Wali Kelas dan Guru Pembimbing untuk melakukan
observasi pada subyek penelitian.
2. Wawancara.
Wawancara adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi
secara langsung mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan pada para responden.
F. Instrumen Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (2006 : 137 ) instrumen
merupakan alat pada waktu peneliti menggunakan suatu metode. Dengan demikian,
instrumen penelitian berfungsi sebagai alat bantu untuk mengumpulkan data atau
informasi yang diperlukan.
Instrumen yang digunakan adalah catatan observasi yang
digunakan untuk mencatat perkembangan yang dicapai oleh siswa.

No Butir
No Indikator Sub Indikator Jml
Positif Negatif
Disipin beribadah 1 2 2

Disiplin Belajar 3, 6 4,5 4


Kedisiplinan di
1
rumah Disiplin membantu Ortu 7 8 2

Disiplin Mengurus diri 9 10 2

Disiplin mengikuti
11, 13, 17 12, 14, 15, 16 7
Kedisiplinan di pelajaran
2
sekolah Disiplin mengikuti aturan 18, 19, 21,
20, 22 7
sekolah 23, 24
Disiplin Berlalulintas 25 26 2
Kedisiplinan di Disiplin dalam
3 27, 29 28, 30 4
masyarakat bermoral
Disiplin dalam bergaul 31 32 2

30
Disiplin dalam
33 34 2
bersopan-santun
34
Jumlah

G. Validitas Data
Untuk mendapatkan validitas data dalam penelitian,
peneliti menggunakan trianggulasi. Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan
keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar itu untuk keperluan
pengecekan atau sebagai pembanding data itu (moleong, 2000 : 93 ). Suharsimi (2006
:85) membedakan empat macam trianggulasi sebagai teknik pemeriksaan yang
memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan trianggulasi
dengan sumber. Menurut Patton (dalam Moleong, 2000 : 101), trianggulasi dengan
sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu
informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian
kualitatif. Hal itu dapat dicapai dengan :
1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hsil wawancara
2. Membandingkan apa yang dikatan orangf didepan umum dengan apa yang
dikatannya secara pribadi
3. Membandingkan apa yang dikatan orang-orang tentang situasi penelitian dengfan
apa yang dikatakannya sepanjang waktu
4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang
5. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentangf situasi penelitian
dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu
6. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan
pandangan orang.
7. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan
Dalam hal ini peneliti membandingkan data hasil pengamatan
selama proses konsultasi berlangsung dan data hasil wawancara konsultasi dengan
hasil pengamatan setelah diberikan layanan konsultasi.

H. Teknik Analisis Data


Berdasarkan pendekatan yang digunakan dalam
penelitian ini, maka dalam menganalisa data dilakukan secara induktif. Menurut

31
Noeng Muhadjir (1996 : 123) dikatakan bahwa yang dimaksud dengan analisis data
secara induktif adalah menganalisa spesifik dan lapangan menjadi unit-unit kemudian
dilanjutkan dengan kategorisasi.
Analisis data yang dilaksanakan sejak awal
pengumpulan data sampai akhir, pengumpulan data bersifat :
1. Terbuka : setiap hasil pengamatan dan wawancara masih mungkin berubah dalam
arti dapat diperbaiki dan disempurnakan berdasarkan data baru yang masuk.
2. Induktif : bertujuan agar informasi yang dihimpun akan menjadi jelas dan eksplisit
dengan memalui proses unitisasi dan kategorisasi. Unitisasi maksudnya
pengelompokkan ke dalam unit-unit yang diperoleh melalui pengamatan
wawancara yang masih berupa data mentah dengan reduksi data yang relevan dan
bermakna sehingga data yang inti akan tersusun secara sistematis dalam unit-unit.
Dalam penelitian untuk menganalisa data dengan menggunakan model interaktif
dengan langkah-langkah berikut :
a. Mereduksi Data
Yaitu proses pemelihan, pemusatan pada peyederhanaan, pengabstrakan, dan
transformasi data kasar yang muncul data catatan-catatan tertulis di lapangan.
Dengan kata lain, penelitian tidak hanya mengurangi data kasar tapi juga
melakukan seleksi, memelih data apa yang relevan dan bermakna yang
difokuskan pada pemecahan masalah, penemuan atau menjawab pertanyaan
penelitian, kemudian menyederhanakannya dan menyusunnya kembali secara
sistematis dengan menonjolkan pada hal-hal yang pokok atau penting.
b. Menampilkan Data
Yaitu proses penyampaian informasi tersusun yang memberikan kemungkinan
adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Ini berarti hasil dan
reduksi data disajikan dalam laporan secara sistematis yang mudah dibaca dan
dipahami baik secara keseluruhan mauoun bagian-bagiannya dalam konteks
kesatuan
c. Mengambil Kesimpulan dan Verifikasi
Sejak awalnya, peneliti berusaha untuk mencari makna data yang
dikumpulkannya untuk itu ia mencari pola tema, hubunganj persamaan, hal-hal
yang sering timbul dan sebagainya. Agar kesimpulan lebih terfokus pada
pemecahan masalah dalam menjawab pertanyaan peneliti, maka perlu adanya
verifikasi selama penelitian berlangsung. Verifikasi dengan melihat kembali

32
pada reduksi data maupun pada display data sehingga kesimoulan yang diambil
tidak menyimpang dari data yang dianalisis. Analisis dilaksanakan setelah
dilakukan penelitian kembali di lapangan.

33